Tubuhku di service teknisi - 4

"Halo siang, bisa bicara dengan Didit?"
"Iya saya sendiri, ini dengan siapa yahh?"
"Ini Tante, Dit"
"Eh Tante apakabar"
"Baik, katanya Didit mau temenin Tante ke mal hari ini, gimana bisa nggak?"
"Ehmm bisa-bisa Tante"
"Nanti dari mal langsung ke tempat Tante ya untuk instal komputer Tante"
"Iya Tantee, memang Om nggak ada Tante?"
"Om di rumah Dit, Didit lupa ya kalau ini apartment pribadi Tante"
"Oo..."
"Didit bisa langsung ke mal A dan tunggu di depan counter B"
"Bisa Tante, sekarang juga Didit siap-siap Tante"
"Ok ati-ati dijalan ya Dit" aku akhiri pembicaraan itu dan langsung segera berangkat.

Tak lama kemudian aku sudah tiba di cafe B dan mencari posisi yang sedikit gelap dan jauh dari keramaian karena khawatir ada yang mengenaliku. Aku mengenakan kemeja tanpa lengan dari bahan kulit dan rok mini kulit semua berwarna hitam. Bra dan CD ku juga terbuat dari bahan kulit dan berwarna hitam. Tidak lupa aku juga mengenakan kaca mata hitam agar tidak dikenali orang. Aku saat itu sudah duduk di kursi panjang cafe tersebut sambil menyulut rokok marlboro hijau. Tak lama kemudian Didit datang menghampiriku.

"Maaf ini Tante Eliza..?"
"Iya, silakan duduk Dit.." aku kembali menghisap rokok.

Tampaknya Didit tercengang melihat penampilanku yang sedikit berbeda.

"Iya Tante"
"Tante.. Kelihatan beda deh hari ini"
"Masa sih? Beda dimananya Dit?"
"Beda di pakaiannya yang sexy sekali dan..?"
"Ada apa Dit?"
"Tante berpakaian sangat menantang" katanya sambil tersenyum.
"Oh ya? Menantang apanya Dit? Kita jalan-jalan aja yuk Tante males duduk disini" aku bangkit berdiri dan berjalan menuju keluar cafe.
"Ayo.. Tante.." sambil berjalan di belakangku.

Tanpa menoleh ke belakang aku cubit kontolnya yang berada di sebelah kanan belakangku.

"Auww.. Sakit Tante.. Kalau minta ngomong donk" bisiknya sambil tersenyum.

Rupanya Didit tidak ingin kalah, dia meremas pantatku dari belakang.

"Ehmm nich.. Tante.." sambil tersenyum.

Akhirnya kita mulai mengitari mal, kita sambil melihat-melihat pakaian yang bagus-bagus yang ada di dalam counter.

"Tante mau beli yang mana sich.." dia bertanya.
"Ada yang Didit suka? Soalnya Tante nggak suka modelnya" aku menggendong tas dibahu kiri sedangkan Didit berada disebelah kananku.
"Kan Tante yang mau beli dan yang mau pakai masa Didit yang ditanyain suka apa nggaknya"
"Tante juga bingung Dit, rasanya nggak ada yang cocok deh"
"Ya sudah kalau nggak ada yang cocok kita istirahat saja yuk Tante.. Gimana mau nggak Tante?" ternyata Didit sudah mulai berani mengajakku.
"Tantee.." Didit kembali menyapaku karena pikiranku melayang-melayang mengingat kejadian kemarin.
"Tante masih ingin jalan-jalan Dit.."
"Tante belum capek nichh?"
"Kalau Tante capek kan ada Didit yang mijitin Tante" aku tersenyum menantang.
"Yah Didit sih mau saja asal yang dipijit-dipijit itu yang tertentu Tante" senyumnya mulai menggodaku.
"Yang tertentu itu bagian mana Dit" aku memancing arah pembicaraannya sambil terus melangkah dengan cuek.
"Ini Tantee.." tangannya sambil menunjuk ke tetek ku.
"Malu tuh Dit dilihatin orang.." tangan kananku meraih belahan pantat Didit dan meremasnya.
"Santai saja Tante nggak ada yang lihat kok, tuhkan malah mulai, katanya malu kok gitu Tante?" Didit berbalik memancingku.
"Kenapa nggak yang didepan ini saja Tante" senyum Didit terlihat senang sekali diperlakukan seperti itu.

Akhirnya langkahku langsung mengarah keluar mal dan langsung masuk ke dalam taksi dan duduk di belakang, karena saat itu aku enggan untuk membawa mobil.

"Loh kok naik taksi Tante.. Kenapa? Mobil Tante dimana..?" pertanyaannya bertubi-tubi.
"Di apartment Dit, Tante males bawa mobil" aku duduk menggeser ke dalam agar Didit bisa duduk di sebelah kananku.

Aku melihat supir taksi itu seorang pribumi yang begitu hitam legam.

"Pak tolong arah ke apartment C," setelah supir taksi itu mengiyakan, Diditpun hanya bisa diam. Namun matanya nggak lepas dari pahaku yang putih mulus itu. Aku merapatkan posisi duduk ke sebelah kanan sehingga bersentuhan dengan bahu kanannya, dan kepala Tante mengarah ke telinganya untuk berbisik.

"Apa yang Didit lihatin?"
"Itu loh yang putih-putih itu.." jawabnya menggoda.
"Apa Dit?" aku berpura-berpura tidak tahu.
"Paha cina.. Hehehehe" pembicaraan kami berbisik-berbisik supaya tidak didengar oleh supir tersebut.

Aku menyandarkan bahu kananku menindih bahu kirinya. Tangannya mulai mengelus perlahan pahaku. Aku mengangkat kaki kanan dan menumpangkan ke kaki kirinya, sehingga rok mini kulitku terangkat tinggi sekali, bibirku tetap berada di dekat telinganya.

"Suka sama paha cina Dit?" aku memancingnya.
"Wah suka sekali Tante.. Apalagi yang diatasnya paha Tante.." jawabnya dengan pelan.

Tangan kanannya masih mengelus-elus pahaku sedangkan tangan kanan aku meraih kepalanya sebelah kanan dekat pintu. Tangannya mengelus-elus pahaku, sesekali dia mengelusnya mendekati daerah yang berbulu lebat.

"Dit, sopirnya ngelihatin kita terus tuh.." aku berbisik malu.
"Makanya kita jangan terlalu banyak gerak Tante.. Pelan-pelan saja biar supirnya nggak lihat.."
"Dia lihat dari kaca tengah tuh Dit, pasti kelihatan.." dadaku sedikit membusung karena bersandar di setengah bagian dadanya.
"Dah kepalang tanggung Tante.. Cuek saja dechh.." jawabnya sambil senyum-senyum melihat tetekku yang ranum.

Posisiku yang masih berpakaian lengkap sangat menantang dan membuat nafsu semua orang yang melihat termasuk Didit dan supir taksi itu.

"Kalau dia minta gimana Dit" aku berbisik.

Didit rupanya sudah tidak peduli dengan si supir itu. Tangannya sudah sampai diatas CD ku itu sambil terus mengelus-elus CD ku. Model CD kulitku yang berwarna hitam itu terikat dengan simpul tali di bagian kedua pinggangku.

"Didit mau ngasih apa?" dengan suara setengah mendesah.
"Aku mau ngasih kepuasan yang lebih Tante.." tangannya sesekali menekan-nekan memek ku.
"Kepuasan apa Dit?" tangan kananku bergerak turun dari kepalanya dan mengelus-elus hidung dan bibir serta pipinya.
"Kepuasan ngentot Tante.."

Tangannya yang satu meraba-raba mencari tali CD ku. Sedangkan tangan kiriku bertumpu pada tempat duduk yang kosong disebelah kiriku. Tangan kirinya masih mengelus-elus dan sesekali menekan memekku yang lebat jembutnya. Sedangkan tangan kanannya melingkar di pinggulku berusaha untuk masuk ke rok ku yang mini sekali.

"Tante belum pernah diperlakukan seperti ini didepan orang lain Dit.. Mmhh," aku berbisik dan mendesah pelan sekali.
"Biarin Tante.. Dan ini saatnya Tante rasakan diperlakukan seperti ini didepan orang lain"

Tangan kanannya berhasil juga masuk kedalam rok mini ku dan mencoba menarik tali CD ku. Sedangkan tangan kirinya masih tetap mengelus-elus kadang menekan memekku. Dan dia berusaha agar jari tangan kirinya masuk ke CD ku supaya bisa menyentuh memekku yang mulai basah.

"Oogghh Ditt.. Buka aja cdnya sekalian" aku mendesah perlahan menahan rangsangan yang dilakukan Didit.
"Yupss.." akhirnya tangan kanannya dapat menarik tali CD ku..

Dan sret langsung lepas tali CD ku. Tangan kirinya bisa leluasa bermain dilubang memekku tidak hanya satu jari lagi. Tangan kiriku menarik CD yang sudah terlepas tetapi masih terduduki oleh pantatku dan melemparkannya ke bagian belakang dekat kaca belakang taksi. Tangan kananku berusaha meremas-remas kontol Didit yang masih berpakaian lengkap itu. Jari telunjuknya memainkan itilku dan jari tengahnya digoyang-goyangkan dipinggir-dipinggir memekku.

"Sshh Dit.. Nakal jarinya Didit.." aku mendesis perlahan.

Tak lama kemudian taksi berhenti di lobby apartment.

"Sudah sampai Dit"

Aku langsung membayar taksi itu.

"Iya Tante.."

Didit langsung mengikuti langkahnya dari belakang. Aku berjalan masuk ke lobby dan menuju ke lift yang kebetulan sudah terbuka dan kosong isi lift itu. Jantungku masih berdebar kencang karena rangsangan yang Didit lakukan di taksi. Setelah lift tertutup Didit memandangi tubuhku dan bergerak mendekat. Kedua tangannya memeluk kedua pantatku dan meremas-remasnya. Tangan kirinya bergeser kedepan untuk masuk ke memekku sambil mengelus-elus pahaku. Aku mundur selangkah mendapat serangan tiba-tiba darinya sehingga tubuhku tersandar di dinding lift.

"Mmhh," aku mulai mendesah seperti biasa karena tidak ada orang.

Jari telunjukku menekan tombol 26 dan lift mulai bergerak naik. Tangan kirinya sudah mulai bergerak naik mencapai memekku yang sudah tidak mengenakan CD lagi. Kedua jarinya mulai menggosok-menggosok memekku sambil sesekali mengelus-elus itilku.

"Sshh.. Nakal kamu Dit gituin Tante di depan orang.. Mmhh" mataku terpejam yang masih menggunakan kacamata hitam.
"Tapi Tante suka kan??"

Aku saat itu mengenakan sepatu model boot yang cukup tinggi hingga menutupi sebagian betis. Tangan kanannya tetap meremas-remas pantatku yang tergolong bahenol. Tangan kirinya tetap bermain di memekku dan sesekali jari tengahnya mencoba masuk ke memekku. Namun terus dia menarik lagi dan itu dilakukannya berulang-ulang kadang cepat kadang lambat.

"Sshh aahh Dit.. Kalau Tante dientot dia gimanaa sshh..."

Bersambung...