Bercinta dengan teman chatting 1

Kejadian ini terjadi bulan Febuari 2001, dan aku ingin sekali berbagi pengalaman pada para pembaca. Aku Nissa 22 tahun, ciri-ciri diriku mempunyai tinggi 165 cm dan berat 55 kg, kulit putih bersih, rambutku coklat ikal dan panjang. Kata teman-temanku wajahku mirip dengan seorang artis Hollywood Catherine Jetazones. Mereka bilang wajahku klasik dan tubuhku sexy, mungkin karena 4 darah campuran yang kudapat dari kakek dan orangtuaku. Aku masih kuliah di PTS Bandung dan mengontrak sebuah rumah di kawasan jalan Anggrek bersama seorang temanku yang bernama Lia.
Suatu hari tepatnya malam minggu aku pergi ke warnet untuk mengerjakan tugas mengetikku dan memeriksa email yang masuk. Teman sekontrakanku sudah dari siang pergi malam mingguan dengan pacarnya. Aku sendiri saat itu masih sendiri dan aku menikmatinya.
Selama hampir 3 jam aku mengetik, akhirnya selesai sudah tugas-tugasku, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah itu kubuka MIRC karena aku berniat chatting beberapa jam. Aku masuk chanel Bandung. Tiba-tiba sebuah nickname ‘ayah_bdg’ mengajakku untuk mojok, aku pun mengobrol dengannya, obrolan kami makin asyik, mulai dari kuliah, hobi, dan sebagainya. Hingga tidak terasa hampir 1 jam aku mengobrol dengannya.
Dari obrolan itu aku mengetahui kalau dia bernama Adit, usia 40 tahun, mempunyai perusahaan sendiri di Jakarta dan statusnya duda beranak satu, dan saat ini sedang ada di Bandung untuk refresing bersama anak dan baby sisternya. Pembicaraan kami pun berubah, dia menanyakan warnet tempat aku chatting. Tanpa curiga aku pun memberitahukannya. Lalu Adit meminta kami bertukar nomor telpon dan photo. Aku pun memberikannya dengan senang hati. Baru saja 5 menit berlalu, HP-ku berbunyi dan Mas Adit menelponku langsung.
“Hallo.. Nissa.”
“Hallo.. ayah_bdg, wah engga nyangka langsung telpon nih..” jawabku.
“Iya.. habis Nissa cantik sih.”
“Hmm.. gini deh.., kita jalan yuk..! Aku jemput kamu disana yah..?”
“Boleh.. aja.” jawabku lagi.
“Ok deh, tunggu 10 menit dan cari deh mobilku berplat B di depan warnet yah..!”
“Ok..” jawabku mengakhiri pembicaraan kami.
Setelah hampir 10 menit, HP-ku berbunyi dan Mas Adit telah menungguku di tempat parkir. Kubereskan tasku dan kusisir rambutku, lalu kubayar jasa warnet dan berjalan menuju tempat parkir. Kulihat sebuah mobil BMW hitam berplat B berwarna hitam, dan di dalamnya Mas Adit tersenyum. Aku pun tersenyum dan menghampiri mobilnya lalu kubuka pintu mobilnya dan duduk di sebelahnya.
“Hallo.. ayah_bdg.” ucapku malu-malu.
“Hallo juga Nissa.., kita makan yuk..?” ajaknya sambil menjalankan mobil.
Aku pun mengangguk. Selama diperjalanan kami cepat menjadi akrab, lagi pula kupikir Mas Adit ganteng juga, selain badannya tinggi besar dia juga kebapakan.
Kami makan di Haritage Banda sambil meneruskan perbincangan kami.
“Hmm… Mas, engga pa-pa kan kalo Nissa panggil ayah saja..? Seperti nickname Mas.” tanyaku padanya.
“Ah.. boleh saja, tapi khusus buat Nissa saja.” ucapnya tersenyum.
Setelah selesai makan, tiba-tiba ponsel ayah berbunyi, ternyata dari baby sitter anaknya.
“Nissa, mau ikut Ayah engga besok..?” tanya Ayah sambil mengajakku keluar dari Haritage menuju tempat parkir.
“Memangnya Ayah mau kemana..?” tanyaku sambil membuka pintu.
“Ayah mau ke Ciater dengan Deri juga Ina, baby sitter-nya.” jawab Ayah sambil menjalankan mobil keluar dari tempat parkir.
“Memangnya berapa hari di sana..?” tanyaku.
“Cuma dua hari.” jawab Ayah.
Akhirnya aku pun bersedia ikut, lalu Ayah mengantarku pulang ke kontrakanku.
Pagi-paginya Ayah sudah datang menjemputku. Aku pun berkenalan dengan Deri anaknya juga Ina baby sitter anaknya. Selama di perjalanan, Deri sudah dekat denganku, bahkan dia memanggilku Bunda Nissa, aku sih cuek saja. Deri anaknya manis dan cerdas, sungguh kasihan dia ditinggal oleh ibu kandungnya karena meninggal saat melahirkan Deri.
Akhirnya kami sampai di Ciater setelah memesan 2 kamar di sebuah hotel. Ayah, aku dan Deri pergi berenang dan bercanda bersama. Pada saat itu kurasa kami bertiga bagaikan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Setelah puas berenang, kami kembali ke hotel untuk makan, lalu aku menidurkan Deri di kamar bersama Ayah. Kami mendampinginya sampai Deri tertidur.
“Nissa.. terimakasih karena kamu sudah baik pada Deri.” ucap Ayah sambil bangkit berdiri di depan jendela.
Aku mengikuti Ayah dan berdiri di sampingnya.
“Tidak perlu berterimakasih.., Nissa sayang pada anak-anak, apalagi Deri anak yang lucu dan pintar.” jawabku tersenyum.
“Baiklah, jika mau istirahat, pergilah ke kamar sebelah..! Di sana Ina pasti sudah menunggu.” ucap Ayah.
“Ok.., kalau ada apa-apa, Ayah panggil Nissa ya..!” jawabku sambil berlalu dan pergi ke kamar sebelah.
Kulihat Ina sudah tertidur dengan pulas. Lalu aku mengganti bajuku dengan lingerie yang biasa kupakai. Aku melamun selama hampir 1 jam, dan anehnya aku mengkhayalkan bagaimana jika aku menjadi istri Ayah. Itu ide gila ya pembaca..? Tapi aku merasa sudah mengenal Ayah seperti bertahun-tahun. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk, Tok.. tok.. tok.
“Ina.., Nissa..!” kata suara di balik pintu.
“Iya.., sebentar..” jawabku sambil membuka pintu.
Ketika pintu kubuka, kulihat Ayah terkejut dan menatapku lekat-lekat.
“Nissa, kamu cantik sekali.” ucap Ayah sambil tersenyum.
“Ah.., bisa saja.” jawabku sambil merapikan lingerie yang kupakai.
“Kebetulan Ayah mau ngajak kalian makan, Ayah memesan pizza tadi.”
“Wah.. Nissa suka tuh, tapi Ina sudah tidur Yah..!” ucapku singkat.
Akhirnya aku dan Ayah pergi ke kamarnya. Kami duduk di sofa sambil menikmati pizza juga menonton televisi.
“Nissa.., Ayah sayang padamu.” kata Ayah tiba-tiba sambil menggenggam tanganku, aku tersenyum dan entah kenapa secara spontan kucium kening Ayah.
“Nissa juga.” ucapku.
Ayah memeluk tubuhku dan aku membiarkannya. Lalu kurasakan Ayah menatap mataku dalam-dalam.
“Kamu cantik sekali.” ucap Ayah lalu mengecup hidungku, aku diam saja dan menikmatinya.
Ayah semakin berani, diciuminya seluruh wajahku hingga kurasakan hembusan napasnya yang hangat. Aku pasrah karena menyukainya, lagi pula ada aliran aneh pada tubuhku yang menuntut lebih banyak lagi. Lalu Ayah mendaratkan bibirnya di bibirku, dilumatnya dan kubalas dengan mengulum lidahnya lembut. Kuluman Ayah membuatku mulai sulit bernapas. Sementara itu tangan Ayah mulai menurunkan tali lingerie-ku hingga payudaraku terlihat setengahnya.
Ditariknya tubuhku untuk berdiri dan aku menurutinya. Sambil terus melumat bibirku, kedua tangan Ayah menarik-narik lingerie-ku hingga akhirnya terjatuh di antara kakiku. Ayah mengelus-elus punggungku yang sudah telanjang dan mendorong tubuhku agar duduk di sofa. Kupandangi Ayah yang sedang membuka kimono-nya, luar biasa..! Aku menyukai badannya yang berbulu. Lalu Ayah membuka cd-nya, aku melongo karena kagum. Batang Ayah sangat panjang dan besar, belum lagi bulu-bulu di sekitarnya.
Ayah mendekatiku, kemudian berjongkok di antara kakiku. Dielus-elusnya vaginaku yang masih terbungkus g-string. Aku melenguh saat jari-jarinya mengelus belahan vaginaku. Kemudian Ayah menarik cd-ku hingga terlepas. Lalu Ayah tersenyum karena melihat vaginaku merekah di depan matanya. Ayah mencium bibirku dan aku membalasnya, kurasakan payudaraku tergesek-gesek bulu-bulu dadanya yang membuatku kegelian.
Ciumannya makin liar karena telah beralih ke telinga dan leherku. Aku mulai mendesah pelan, kuusap-usap rambut Ayah dengan lembut. Ayah meneruskan jilatannya pada puting payudara kananku, dijilatnya beruputar-putar dan berulang-ulang, membuatku semakin mendesah. Payudara kiriku diremas-remasnya dengan lembut. Napasku mulai memburu karena perlakuan Ayah pada kedua payudaraku. Selama beberapa saat aku hanya mendesa-desah.
“Ayahh.., ohhh.., ohhh..!”
“Ayah ingin menjadikanmu sebagai istriku, kamu mau Nissa..?” tanya Ayah menghentikan jilatannya di payudaraku.
Aku menatap matanya dan kuanggukkan kepalaku karena aku tidak dapat berpikir apa-apa lagi, karena nafsuku sudah tinggi. Ayah tersenyum dan melumat bibirku sambil mengelus-elus payudaraku yang sudah basah oleh air liurnya. Lalu Ayah menyuruhku mengangkat kedua kakiku ke atas sofa dan merengganggkannya lebar-lebar.
Kemudian Ayah mendekatkan kepalanya di vaginaku yang sudah basah, dan mulai menjilatinya. Aku mendesah saat ujung lidahnya menyentuh vaginaku, “Ohh..!”
Ayah terus menjilatinya secara teratur dan berulang-ulang. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku menahan kenikmatan. Ayah terus menjilatinya dan mulai menyedot-nyedot klitorisku. Aku meracau sambil menjambaki rambut Ayah.
“Ahhh… terusss… terusss, enak Yahhh..! Ohh..!”
Ayah terus menyedot-nyedot dan aku pun berteriak seiring dengan menjepit kepala Ayah kuat-kuat. Kusemburkan cairan kewanitaanku dan Ayah menjilati dan menghisapnya pelan sekali. Mungkin dia tahu aku menahan ngilu pada vaginaku. Ayah lalu mencium payudaraku dan menghisapnya cukup lama hingga aku terangsang kembali. Aku langsung menggenggam batangnya yang sudah tegang itu. Kuelus-elus, kemudian kumasukkan dalam mulutku. Kujilat-jilat, kugigit-gigit lembut kepala batangnya. Ayah melenguh mengusap-usap rambutku.
“Nissa… teruss… Sayangg..! Hisapp teruss Sayangkuu..! Ohh..!” desahnya.
Aku terus menghisap dan mengeluar-masukkan batang Ayah dalam mulutku semakin cepat, kukocok-kocok semakin cepat dan kuat. aurabokep.blogspot.com
“Akhh… Nissaa… Ayahhh.. mauuu… keluarr..!”
“Crot… crott.. crott..!” batang Ayah menembakkan spermanya ke dalam mulutku aku tersedak dan menelan sperma Ayah.
Kuhisap-hisap ujung penisnya sampai bersih, Ayah melenguh dan ambruk di sampingku. Kemudian kucium bibir Ayah.
“Nissa sayang Ayah..!” ucapku sambil membiarkan Ayah meremas payudaraku.
Lalu Ayah menggendongku sambil terus melumat bibirku, dibaringkannya tubuhku di samping Deri.
“Ayah.., nanti Deri bangun.” ucapku pelan.
“Sstt..!” guman Ayah sambil mengangkat Deri dan dibaringkannya di sofa.