Malam tahun baru

Saat itu sore hari tanggal 31 Desember 1999. Suasana kantor kelihatan meriah menyambut malam tahun baru. Kuangkat gagang telepon dan kutekan beberapa nomor.
"Kringg.. kringg.. hallo", suara merdu yang sudah begitu hafal menyahut dari seberang sana.
"Hai manis.. kemana kita malam ini", tanyaku.
"Tahu nih bingung mau kemana, terserah kamu dech.."
Suasana hening sesaat hingga aku memutuskan untuk nonton saja.
"Ya sudahlah, berhubung kita sudah kemana-mana di Jakarta ini kita nonton aja dulu di TIM baru nanti pas keluar kita lihat keadaan gimana."

Jam sudah menunjukkan pukul 18:30 ketika kami keluar kantor menuju TIM. Setengah jam kemudian kami sudah ada di sana.
"Mau nonton apa nich?" tanyaku padanya yang terlihat memandang jalanan yang mulai ramai oleh bunyi terompet dan petasan silih berganti.
"Itu aja, World Not Enough, yang jam 19:45 selesainya 'kan, jam sepuluh terus kita lihat mau kemana nanti."
Jam sepuluh lewat kami keluar dari TIM. Jalanan sudah begitu ramai kendaraan roda dua dan empat saling membunyikan klakson.
"Kemana nich?" tanyaku memecah kebingungan di antara kami.
"Endak tahu.. kita ke Monas aja dech.." jawabnya kemudian.
Kuberhentikan bajaj. Setelah tawar menawar sebentar, kami sudah di atas bajaj menuju area Monas dan berhenti di Sabang. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir jam sebelas.
"Kita nyari penginapaan aja dulu baru nanti jalan-jalan, masa mau nggak tidur semalaman, nggak kuat aku", pintanya saat kami berjalan menyusuri jalan Sabang yang ramai.
"Mau nginap dimana?" tanyaku kemudian.
"Ya udah nginap aja di hotel itu", katanya sambil menunjuk salah satu hotel di situ.
"Ya udah", jawabku sambil berjalan ke arah hotel yang ditunjukkannya.

Setelah mengurus administrasi, sebentar kami sudah di dalam kamar sekarang. Jam saat itu kulihat masih pukul sebelas seperempat. Setelah menutup pintu kamar kulihat dia sedang di depan jendela memandang keluar. Perlahan kudekati dan kudekap dia dari belakang secara perlahan.
"Mau kemana sekarang sayang", tanyaku. Tanpa menoleh ia menjawab,
"Entahlah aku pusing kalau lihat banyak orang dan berjubel."
"Ya sudahlah, kita di sini sajalah", jawabku sambil merapatkan pelukkanku dari belakang.
Perlahan kucium tengkuknya terus merayap ke belakang telinganya. Kulihat di kaca ia memejamkan matanya menikmati ciummanku. Perlahan kuputar badannya hingga sekarang kami saling berhadapan. Kucium bibirnya perlahan sambil menunggu reaksi darinya dan saat ia mulai bereaksi membalas mengulum bibirku, dalam beberapa detik lidah kami sudah saling bergelut. "Mmmhh.. mmhh.. mmhh.." hanya itu yang bisa keluar dari mulut kami yang saling berpagut dengan rapat. Perlahan kuturunkan tanganku yang memegang kedua pipinya ke arah dadanya dan perlahan kuremas dengan lembut. "Aaahh", erangannya mengendurkan ciuman bibirnya menikmati remasanku di dada. Matanya terpejam dan nafasnya terlihat cepat saat tangan kananku beralih ke arah selangkangannya dan mengelusnya dari luar celana kainnya. Sementara tangan kirinya juga mengelus selangkanganku juga dari luar celana panjangku.

Sepuluh menitan kami hanya saling berciuman dan saling mengelus. Kemudian perlahan kubuka kaos dan tampaklah buah dadanya yang berukuran 34C. Sambil masih mencium bibirnya, perlahan kubuka kaitan BH di punggungnya dan bebaslah kedua buah dada itu dari tempatnya dan sudah kelihatan mengeras. "Aaahh.. oohh.." erangnya saat kedua tanganku meremas kedua buah dadanya yang telah mengeras itu. Beberapa menit kemudian kupindahkan ciumanku dari bibirnya perlahan melewati lehernya ke arah buah dadanya. "Oohh.. aahh.. ohh", dessahnya semakin keras ketika kukulum dengan keras puting susunya sebelah kanan, sementara tangan kiriku masih meremas yang sebelah kiri dan tangan kananku masih mengelus kemaluannya yang masih terbungkus celana panjangnya.

Kuhentikan kulumanku dan perlahan kubuka kancing celana panjangnya dan dengan cepat kutarik ke bawah sekalian celana dalamnya, sementara ia dengan cepat juga melepas baju dan celana yang kukenakan. Dalam sekejap kami sudah sama-sama telanjang. "Kamu cantik.." kataku saat kutatap tubuh telanjangnya sambil menarik tangannya dan dalam sekejap telah ada dalam pelukanku. "Aahh.." hanya itu yang keluar dari mulutnya saat kehangatan tubuh kami menyatu dalam pelukan. Perlahan kami berjalan menuju ranjang dan dalam beberapa detik kami sudah saling bergumul di atas ranjang. "Oohh.. terus.. Mass.. aahh", desahnya kembali ketika puting susunya kembali kukulum dan lubang kemaluannya yang telah terbuka kuelus. "Ya, remas terus sayang.. ohh enak sekali.. " kataku saat dia memegang batang kemaluanku dan mulai mengocoknya secara perlahan.

Perlahan kurubah posisiku di atasnya dan perlahan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, tapi kutahan agar tidak masuk, hanya menggeseknya saja. "Ooohh.. Maass.." desahnya saat perlahan sekali kugesekkan batang kemaluanku ke bibir kemaluannya yang sudah basah berdenyut -denyut. "Oohh enak sekali sayang", erangku mengikuti pinggulnya yang mulai bergoyang kenikmatan. Hanya beberapa menit kemudian kami memutar balik, giliran dia yang di atas, masih saling mengesekkan kemaluan masing-masing.
"Masukkin Mass.. aku udah nggak tahan", katanya memelas dengan mata setengah terpejam.
"Tahan dulu sayang.. aku belum begitu panas nich", jawabku ingin lebih lama pemanasannya, sementara ia terus menerus mengerang nggak tahan.
"Aduhh.. ohh jangan berhenti dong.." pintanya saat acara gesekkan itu kuhentikan karena ingin ganti yang lain.
"Aku haus nich.. mau minum cairan kewanitaanmu", perlahan ia memutar badannya yang masih di atas tubuhku.
"Hhmm", gumamku ketika aroma dari lubang kenikmatannya segera menyergap mukaku.
"Ssruupp.. mmhh.." suara mulutku yang mulai melumat bibir kemaluannya yang sangat merangsang.
"Oohh.. teruss.. yaa", erangku saat meyadari batang kemaluanku mulai dikulum olehnya. Oohh, sungguh nikmat.

Kulihat dia mungulum kepala kemaluan terus menjilati batangnya, mengulum lagi, menjilati lagi sambil tangannya mengelus buah zakarku yang menggembung.
"Terus sayang.. terus.. enakk.." bisikku disela-sela mengulum bibir kemaluannya dan menghisap cairan yang meleleh di sana.
"Aahh Mass.. terus Mass aku sudah mau nyampe", katanya sambil menekankan pinggangnya lebih rapat ke mukaku.
"Iya terus.. Maass.. ennaak Mass.." desahnya.
Kupercepat permainan lidahku sambil kedua tanganku mempermainkan klitorisnya.
"Aaahh.. " akhirnya sampai juga dia orgasme.
Kumainkan tanganku perlahan untuk memberi waktu ia menikmati orgasmenya. Perlahan kuubah posisiku di atas tubuhnya ketika nafasnya mulai normal dan perlahan sambil kucium dan kuremas buah dadanya. Kuarahkan kepala kemaluanku ke arah liang kemaluannya dan sedikit demi sedikit kudorong ke depan memasukinya.
"Oohh.. nikmat sekali.." batinku merasakkan nikmatnya gesekan pada batang kemaluanku.
"Aahh Maass.." erangnya lagi ketika seluruh kemaluanku telah amblas masuk ke dalam kemaluannya.

Nafasnya mulai memburu dan matanya mulai terbuka dan tertutup ketika batang kemaluanku mulai kumaju-mundurkan perlahan.
"Ohh.. yaa.. terus Mass.. teruss.. enak Mass.." ceracaunya menikmati setiap gerakan di liang kemaluannya.
"Enak sekali.. terus.. ya goyang terus sayang.. enak sekali", pintaku merasakan jepitan otot lubang kemaluannya yang masih sempit. Keringat semakin mengucur deras di tubuh kami yang sedang berpacu menikmati kenikmatan dunia.

Hampir setengah jam ketika kurasakan mulai terasa ada desakan dalam kemaluanku minta keluar.
"Aku mau keluar nich.. " sambil kupercepat sodokanku pada liang kemaluannya.
"Maass.. aku sudah nggak tahan.. terus Mass lebih cepat Mass.." desahnya sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sementara tangannya meremas seprei dengan kuat.
"Mass.. aku keluar.. aahh.." teriaknya sambil menekankan kedua kakinya di atas pinggangku, sementara kedua tangannya menarik tubuhku.
Kupercepat doronganku begitu merasakan jepitannya yang lebih kuat hingga..
"Aahh.. hh.." dengan cepat kutarik kemaluanku dan segera kuarahkan ke mulutnya dan dengan cepat dikulumnya bersamaan dengan keluarnya spermaku ke mulutnya.
"Oohh.. enak sekali.. ahh.. sudah sayang, aku nggak kuat lagi.." kataku ketika ia masih saja mengulum kemaluanku sambil menikmati cairan spermaku dan menelan semuanya.

Perlahan kugulingkan badanku ke samping badannya, keringat serasa membanjir di tubuh kami. Aku dan dia diam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang telah tercapai, hingga kami tertidur masih dalam keadaan telanjang dan berpelukan.

TAMAT