Mbak Tia

Aku kenal Mbak Tia kira-kira 15 tahun yang lalu, ketika sama-sama diterima di perusahaan tempat kami bekerja hingga sekarang. Kupanggil Mbak karena memang usianya dua-tiga tahun di atasku. Tapi hubungan kami biasa-biasa saja karena kebetulan kami berbeda divisi dan ditempatkan di kota yang berbeda pula. Ketika masih "on the job training" kurang lebih enam bulan memang sempat bersama-sama. Sebetulnya aku mengaguminya, dia cantik dan seksi, dan yang paling kusuka adalah rambutnya yang sepunggung dan matanya yang sendu. Tapi aku tak berani terlalu akrab. Yang mengelilinginya terlalu banyak dan aku harus tahu diri. Setelah berpisah aku pun lupa, hanya kadang-kadang kalau bertemu di kantor pusat saling berhalo basa-basi.

Sampai "krismon" ini menerjang, termasuk perusahaan tempatku bekerja, ketika terjadi PHK aku sudah pasrah. Setelah PHK, beberapa cabang ditutup dan pegawai yang masih dipakai ditarik ke pusat, dan diadakan pembenahan. Yang bikin surprise, sekarang aku satu divisi dengan Mbak Tia. Bayangkan, setelah 15 tahun. Dan aku semakin terpesona, di mataku dia semakin dewasa dalam usianya yang mendekati 40 tahun.

Tapi tentu saja perasaanku kusembunyikan. Hanya saja aku sering mencuri pandang. Aku semakin kagum dengan kematangannya. Rambutnya tetap sepunggung, agak pendek sedikit memang, tapi masih di atas bahu. Matanya masih tetap sendu. Kulitnya tetap kencang. Senyumnya tetap manis. Badannya, yang aku heran, masih kencang. Buah dadanya tak terlalu besar tapi masih terlihat membusung ke depan. Aku tahu masih membusung karena jenis BH-nya bukan yang pakai penyangga. Aku tahu karena suatu kali ketika menunggu dia mengetik dan kuperhatikan dari belakang, di balik baju putihnya yang tipis tercetak jelas BH Mbak Tia. Aku paling senang dengan BH hitam. Entah mengapa, kupikir itu merangsang. Selain itu, pinggulnya masih tetap kecil dengan pinggul dan pantat yang proporsional. Aku sekarang jadi sering membayangkan yang bukan-bukan. Padahal kami sama-sama sudah punya keluarga.

Tapi pekerjaan akhirnya memang harus mendekatkan kami yang akhir-akhir ini harus sering pulang larut malam, dengan senang hati aku mengantarkannya pulang. Kadang aku takut kalau melihat matanya, takut ketahuan kalau aku mengaguminya. Entah perasaanku saja mungkin, agaknya dia tahu juga kalau aku sering memandangnya penuh pesona. Tapi selama ini dia diam saja. Dan selama itu pula kami bergaul biasa, kadang guyon, bahkan suka nyerempet yang jorok. Dan dia biasa saja bahkan bisa mengimbangi. Tapi tetap saja aku tidak berani lebih dari itu.

Sampai suatu hari seperti biasa kami harus pulang malam. Dalam perjalanan pulang kami tak banyak berbicara, mungkin capai. Aku melamun sendiri.
"Di."
"Dias."
"Di!"
Aku kaget, lamunanku terlalu jauh.
"Eh, sori, apa Mbak?"
"Kamu nglamun apa sih?"
"Eh.. ngngng."
"Mampir ke rumah sebentar ya."
Biasanya aku mengantar cuma sampai depan pintu dan begitu dia turun aku terus pulang. Ada angin apa sekarang menawariku mampir, tentu tak kusia-siakan, sambil mau kenalan dengan suami dan anaknya, aku mengiyakan. Sampai akhirnya kami sampai dan turun. Gelap? aku heran, dia mengambil kunci dari tasnya dan membuka pintu depan.
"Lho, pada kemana Mbak?"
"Mas Tri dan anak-anak sedang ke Bandung, ada perlu. Kamu tungguin sebentar ya aku nyalain lampu."
Kami masuk. Aku duduk sementara dia menyalakan lampu-lampu rumah dan setelah kelihatan semuanya beres, aku mau pamit tapi dicegah.
"Minum dulu, Di, mau apa? Dingin apa panas?"
"Dingin saja Mbak."
Mbak Tia masuk, agak lama, kemudian keluar sambil membawa es jeruk.
"Sori ya lama, aku ganti baju dulu, risi rasanya"

Aku agak melotot melihat Mbak Tia muncul dengan daster pendek putih agak tipis dengan potongan dada rendah. Ketika menunduk untuk meletakkan minuman di depanku aku tak bisa mengalihkan mataku dari belahan dada yang aduhai. Dan ketika dia ke belakang mengembalikan baki, kulihat dari belakang bentuk tubuh yang demikian matang, masih bagus, kelihatan benar celana dalam dan behanya yang berwarna hitam itu. Ketika ngobrol aku sudah tidak bisa berkonsentrasi karena berusaha untuk tidak melihat belahan buah dada dan paha yang tersibak dari belahan dasternya.
"Di, kamu bisa pijit?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh.. nggak, kenapa?"
"Pijit sebentar dong kepalaku, agak pusing nih."
"Coba ya." dan aku berdiri di belakangnya, meraih kepalanya dan mencoba memijit pelan. Tapi mataku terus tertanam ke payudara Mbak Tia yang semakin jelas terlihat di balik daster dan dibungkus beha hitam itu. Pembicaraan kami sudah berhenti ketika tanganku mulai lancar memijat. Dan tak terasa dari kening turun ke kuduk. Mbak Tia menengadahkan wajah dan merem ketika tanganku turun ke pundaknya.
"Enak Di."

Aku semakin kacau. Kuturunkan pelan-pelan jari-jari tanganku ke depan, menyentuh pangkal buah dadanya. Terasa lembut. Mbak Tia diam saja. Aku semakin berani. Jariku menekan pangkal susunya. Mbak Tia masih diam, bahkan kudengar napasnya memburu sementara matanya tetap terpejam. Aku nekat, kuselipkan jari-jariku ke balik dasternya itu. Kusentuh BH yang tipis tapi terasa benar daging di dalamnya yang kenyal. Karena Mbak Tia tetap diam, aku mengambil kesimpulan semuanya oke. Segera saja kuraih buah dadanya itu, kuusap dan kuremas-remas.
"Dii.."
Kutarik Mbak Tia berdiri, aku masih di belakangnya. Kupeluk Mbak Tia dengan erat, kuremas-remas buah dadanya yang ternyata kenyal sekali. Dia berbalik sehingga kini kami berhadapan. Aku kaget, kukira dia marah.
"Di.. aku tahu kamu suka samaku."
"Ngngng."
"Sudah lama kamu perhatikan aku."
Aku tergugu, kulihat mata yang sendu itu, sekarang terpejam lagi, dan bibir yang indah itu sedikit terbuka. Aku tak menunggu lama, kukecup bibirnya. Mbak Tia membalas ganas. Dikulumnya bibirku, lidahnya menjalar di dalam mulutku sementara tangannya langsung turun mencari penisku yang dari tadi sudah tegang. Diusap-usapnya kemaluanku. Kami terus sibuk melepas pakaian. Dia melucuti pakaianku hingga yang terakhir, sementara aku hanya membuka dasternya saja. Mataku terbelalak melihat pemandangan di depanku. Tubuh Mbak Tia yang dibalut BH dan celana dalam hitam mini betul-betul merangsangku. Aku senang melihat wanita dengan pakaian dalamnya, entah kenapa, lebih daripada yang telanjang.

Kami segera bergelut. Kuremas-remas buah dada itu sementara tangan Mbak Tia dengan lihai mempermainkan penisku yang semakin tegang. Mbak Tia kemudian berjongkok dan menciumi penisku. "Aahh.." nikmat sekali rasanya ketika bibir dan lidah Mbak Tia mempermainkan penisku, dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya, dikulum, dihisap, dan dijilat. Sementara tanganku tetap meremas-remas buah dadanya. Sampai akhirnya aku tak tahan. Kurebahkan Mbak Tia di sofa besar panjang itu, perlahan kulepaskan BH-nya, kupandangi sepuasnya buah dada yang lembut itu, terus tanganku turun ke perut dan menyusup ke balik celana dalam Mbak Tia, terasa rambutnya yang lebat. Kubuka celana dalamnya itu sehingga kini Mbak Tia telanjang bulat.
"Dii.. cepaatt.. aahh.."
"Mbaakk.."
Kutindih tubuh hangat Mbak Tia, Mbak Tia merengkuh tubuhku dan terasa hangat buah dadanya menekan dadaku. Kuarahkan penisku ke lubang vagina Mbak Tia yang sudah basah. Blleess.. hangat sekali rasanya penisku di dalam lubang kemaluan Mbak Tia.
"Dii.. sshshh.. aahh.. enaakk.. teruuss.."
"Mbaak.. uuhh.."
Tubuh kami bergerak liar. Pinggul Mbak Tia berputar dan vaginanya terasa menjepit dan meremas kemaluanku. Tak terkatakan nikmatnya..
"Oohh.. Dii.. sshshshshsh.. mmhmhh.. teruuss Dii.. iyaa.. gituu teruuss.. aahh enaak sekalii.."
"Mbaakk.. nikmat sekali mbaak.. uhh.."
"Dii.. aku mau keluar nih.. sama-sama yaa.. sshh.."
Kami bergoyang semakin cepat dan semakin cepat, sampai akhirnya kami berdua berteriak bersama-sama ketika air maniku muncrat banyak sekali di dalam liang vagina Mbak Tia yang juga mencapai orgasmenya.
"Dii..!"
"Mbaakk..!"

Malam itu kami melakukannya tiga kali. Dan sejak itu setiap ada kesempatan. Satu hal lain yang kuperoleh dari pengalaman itu. Ternyata aku sekarang pandai menyenangkan ibu-ibu yang berusia 30-an yang masih menginginkan kepuasan seks berdasarkan suka sama suka. Karena kemudian Mbak Tia memperkenalkan aku dengan teman-temannya yang masih membutuhkan seks yang tak diperoleh dari suaminya. Kami termasuk kelompok yang tidak suka "belanja", jadi tetap bersih sementara kebutuhan terpenuhi tanpa melibatkan uang, karena aku bukan gigolo. Aku akan senang kalau ada Mbak/ibu yang ingin berbagi pengalaman.

TAMAT