Nightmare Campus 13: The Ungrateful


Marina

Sore jam setengah empat, Imron hampir menyelesaikan tugasnya hari itu dan sudah bisa pulang setelah membuang sampah yang sedang diangkutnya dengan troley. Saat itu dia sedang berjalan dengan santainya di parkir hendak menuju ke atas ke tempat pembuangan sampah. Tiba-tiba saja sebuah Karimun biru muncul dari tikungan dengan kecepatan cukup tinggi. ‘Niitt…niitt !!’ klakson itu mengenjutkan Imron, mobil itu mengerem mendadak dan menabrak tong sampah yang sedang didorongnya sehingga jatuh dan isinya sebagian tumpah. Pengemudi mobil itu, seorang pemuda tinggi besar berusia akhir 20an turun dengan membanting pintu.
“Heh…apa-apaan sih ini, jalan kok gak liat-liat !?” bentaknya pada Imron.
“Lho situ kan yang ga hati-hati, masa di tempat parkir ngebut gitu sih ?” jawab Imron santai sambil mengangkat tong sampahnya yang jatuh.
“Sialan, bukannya minta maaf malah belagu!” pemuda itu makin marah mendengar respon Imron yang cuek itu, dia menghampirinya dan mendorongnya di dada, “lu jangan macem-macem yah, baru jadi kacung aja udah ga sopan !”
“Ryan ! udah cukup, jangan ribut disini !” terdengar seruan dari belakangnya, seorang wanita muda berparas cantik turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka untuk merelai.
“Udah lu kenapa sih, kan gua udah bilang jangan kenceng-kenceng tadi juga !” wanita itu memegangi lengan si pemuda sebelum terjadi keributan lebih lanjut, “maaf yah Pak,  Bapak nggak apa-apa kan ?” wanita itu meminta maaf dan membantu memungut tutup tong sampah itu.
“Iyah ga apa-apa Non saya sih, lain kali hati-hati kalau disini jangan kenceng-kenceng, kan bahaya” Imron memperingati.
“Hee...awas lu yah lain kali berani lagi…” ancam pemuda sambil melotot padanya.
“Ayo ah, udah gua bilang, ayo pergi !” si wanita itu membentaknya dan segera menarik lengannya kembali ke mobil sambil beberapa kali meminta maaf pada Imron.
Si pemuda membanting pintu dan langsung tancap gas meninggalkan Imron.

“Mar ngapain sih lu tadi kok malah ngebentak gua buat belain si tua goblok itu !” kata Ryan penuh emosi dalam perjalanan.
“Gua bukan belain dia, tapi gua ga mau sampai harus ribut gara-gara masalah gini aja” balas Marina, “masa lu ga malu sih kalau sampai berkelahi diliatin orang banyak ntar, lu ga mikirin gua juga apa ?”
“Tapi kan dia yang nongol mendadak gitu, gimana gua ga kaget coba, lagian gaya bicaranya itu loh lu liat ga, nyepelein gua gitu !”
“Kan gua juga udah kasih tau sebelumnya jangan cepet-cepet, ngapain sih lu pake ngebut-ngebutan gitu, akhirnya bener kan !”
“Tapi kan Mar…” Ryan masih kukuh pada pendiriannya sambil meraih tangan Marina tapi langsung disentaknya, gadis itu menyandarkan diri pada pintu di sampingnya.
“Ya udah, ya udah, sori yah say…gua emang emosian tadi, sori yah !” Ryan akhirnya mengalah melihat Marina yang mulai naik darah.
Marina diam, masih tetap memalingkan wajah ke jendela tak mau memandang pacarnya itu. Ryan mengela nafas melihat reaksi pacarnya itu kalau sedang ribut. Keduanya berdiam diri selama beberapa menit perjalanan hingga di sebuah perempatan menunggu lampu merah. Ryan kembali meraih tangan Marina, kali ini gadis itu sudah melemaskan tangannya dan menerima. Ryan menggenggam tangan halus itu, mengetahui Marina sudah mulai mendingin, diraihnya bahu gadis itu dan dibawa ke dekapannya. Dielusnya rambut kekasihnya itu dan dikecupnya keningnya.
“Sori yah, gua tau lu sayang gua makannya ngelakuin seperti tadi” katanya.
Marina tersenyum dan mengecup pipinya, Ryan harus menjalankan kembali mobilnya karena lampu sudah hijau.

Marina (25 tahun) adalah seorang dosen muda di Universitas ******, ia telah mengajar di fakultas sastra Inggris selama dua tahun segera setelah kelulusannya dengan predikat Cum Laude. Selain memiliki otak yang cemerlang dan karakter yang lemah lembut, Marina juga dikaruniai kecantikan fisik yang menawan. Wajahnya yang manis dengan rambut pendek kecoklatan mengingatkan pada Sun Shangxiang, salah satu karakter dalam game Dynasty Warriors. Belum lagi tubuhnya yang langsing dan kulitnya yang putih mulus. Tinggi badannya 166 cm, termasuk sedang untuk standar Asia. Yang sering menjadi perhatian adalah payudaranya yang sedang tapi membusung indah dan lekuk pinggulnya yang indah sehingga bila memakai pakaian ketat mencetak lekuk-lekuk indah itu. Perkuliahan di sastra Inggris yang surplus wanita menjadi lebih semarak dengan adanya dosen cantik seperti dirinya, mahasiswa tidak akan ngantuk bila mengikuti kuliahnya, setidaknya begitulah kata beberapa mahasiswa. Pernah suatu ketika ia mengajar dengan rok yang agak pendek sehingga beberapa mahasiswa malah lebih konsen memperhatikan paha mulusnya daripada pelajaran yang disampaikan.

Sebenarnya penampilan Marina di kampus tempatnya mengajar masih tergolong sopan, tapi pikiran ngeres para mahasiswa yang melihatnya membuat Marina jadi perbincangan di antara mereka. Bahkan tak sedikit mahasiswi yang sirik pada kecantikan Marina, tapi mereka tentu saja tak berani menunjukkan secara terang-terangan. Sedangkan mahasiswanya condong mencari perhatian dari dosen baru yang cantik ini. Tapi Marina menanggapi semua itu dengan biasa saja. Ya, sebagai idola di sekolahnya dulu baik ketika SMA maupun kuliah, memang Marina sudah sering menghadapi lelaki iseng yang mencari perhatiannya, mencuri pandang pada dirinya dan bergenit ria ketika terlibat percakapan dengannya.

************************
Jam 19.13 (hari yang sama), mini teater, gedung fakultas sastra

“Aakkhh…aaww…udah Pak, jangan lagi!” rintih Jesslyn merasakan lecutan-lecutan sabuk Imron di punggung dan pantatnya.
Gadis berambut panjang kemerahan itu tergantung berdiri tanpa busana dengan kedua pergelangan tangan terikat jadi satu ke atas. Bekas-bekas lecutan memerah nampak pada beberapa bagian kulitnya yang putih mulus.
“Hihh…nih, mampus lu bangsat huh!” Imron memecut punggung gadis itu dengan sabuknya sambil memaki-maki melampiaskan kekesalannya tadi sore.
Penjaga kampus bejat itu sangat menikmati setiap jerit kesakitan yang keluar dari mulut mahasiswi cantik itu. Puas memecut Jesslyn hingga gadis itu terengah-engah dan air matanya keluar, ia mencampakkan sabuknya ke lantai lalu menghampiri gadis yang tergantung bugil itu sambil membuka celananya, penisnya yang sudah mengeras langsung mengacung dengan gagahnya begitu ia menarik turun celananya. Tangannya yang satu mendekap tubuh gadis itu dari belakang sementara tangan lainnya menggenggam penisnya untuk menuntunnya memasuki vagina gadis itu.
“Och…hhhaahh!” Jesslyn mendesis menahan nikmat yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka.
Imron mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan perlahan. Tubuh Jesslyn bergetar saat batang panjang berurat itu menggesek dinding vaginanya. Tangan pria itu yang tadinya memegang kedua sisi pinggulnya merambat naik dan meremas kedua payudaranya.
“Aauuhh…sakit Pak, jangan kasar gitu dong aaah!” erangnya dengan meringis karena Imron meremasi payudaranya dengan keras.

Sementara itu penisnya terus menghujam vaginanya tanpa ampun dengan frekuensi genjotan makin cepat. Amarah dan nafsu membuat Imron menjadi brutal terhadap budaknya ini.
“Ngentot lu…ngehek…uuuhh…huuhh!” ceracau pria itu sambil menyodok-nyodokkan penisnya dengan keras membuat tubuh gadis itu tersentak-sentak.
Jesslyn tak mampu menahan rintihannya apalagi terkadang tangan pria itu menampar pantatnya, untungnya ruang ini dindingnya berlapis kain sehingga suara di ruangan tempat mereka dapat diredam. Sambil terus menggenjot, Imron menyusupkan kepalanya menjilati ketiak Jesslyn menimbulkan sensasi geli pada gadis itu. Gadis itu merasakan otot-otot vaginanya semakin berdenyut-denyut mencengkram kuat penis Imron. Tak lama kemudian pria itu menggeram dan meremas payudaranya lebih keras. Dengan satu hentakan kuat, penis itu melesak sedalam mungkin hingga mentok. Saat itu lah benda itu memuntahkan lahar putihnya di dalam vagina gadis itu. Imron masih terus menggerakkan pinggulnya hingga akhirnya Jesslyn pun menyusul ke puncak tak lama setelahnya. Sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya, tubuhnya mengejang seperti tersengat listrik. Akhirnya keduanya sama-sama terdiam lemas tak berdaya, penis Imron mulai menyusut di dalam vagina gadis itu. Jesslyn merasakan cairan hangat itu meleleh ke paha dalamnya. Beberapa saat kemudian Imron baru melepaskan diri, diangkatnya dagu gadis itu yang kepalanya tertunduk lemas.

“Hehe…makasih Non, udah lega Bapak sekarang!” ucapnya lalu mengecup pelan bibir gadis itu sejenak.
“Tolong lepasin saya Pak!” pinta gadis itu lemas, “tangan saya sakit nih tergantung terus”
Imron pun melepaskan ikatan yang mengikat kedua pergelangan tangan Jesslyn. Gadis itu langsung ambruk ke lantai begitu ikatan dilepaskan. Ia mengelus-elus pergelangannya yang terasa panas.
“Sori Non agak kasar hari ini, tadi sore ada yang bikin saya kesal sih” ujarnya seraya melemparkan pakaian gadis itu pada pemiliknya.
“Whatever lah…lu yang BT kok gua yang jadi pelampiasan sih, dasar gila!” omel Jesslyn dalam hati sambil mulai memakai pakaiannya.
Setelah selesai berpakaian ia segera meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun lagi pada si penjaga kampus bejat itu. Ia masih merasakan nyeri akibat pecutan Imron tadi. Imron segera mematikan lampu ruangan itu dan menguncinya setelah membereskan perabot. Kemarahan di hatinya akibat insiden kecil sore tadi agak berkurang setelah melampiaskannya pada salah satu budak seksnya.

########################
Seminggu kemudian

Hari itu setelah selesai mengajar, beberapa mahasiswa bertanya soal tugas yang baru saja diberikan oleh Marina, yang menjelaskan tugas itu dengan detail walaupun ia menyadari ini cuma akal akalan dari para mahasiswa ini. Setelah selesai menjelaskan semuanya, Marina segera menuju ke parkiran mobil, dimana kekasihnya sedang menanti dengan wajah cemberut. “Kok sampai jam segini sih baru keluar Mar?”, tanya Ryan dengan kesal. “Sori deh”, jawab Marina. “Tadi waktu baru keluar kelas, banyak mahasiswa yang nanya tentang tugas…”

Belum selesai Marina bicara, Ryan memotong dengan bersungut sungut, “Mereka itu harusnya nanya waktu masih di dalam kelas! Sudah waktunya pulang ya pulang, Lu kan gak perlu ngelayanin mereka?”

“Lu kenapa sih Ryan? Lu tahu kan gua ini dosen? Masa pantas kalo ada mahasiswa yang tanya sama dosen, dan dosennya nggak menjawab malah pergi begitu saja?”, dengan sebal Marina pergi meninggalkan Ryan dan mobilnya.
Ryan langsung mengejar dan memegang pergelangan tangan Marina. Sekali ini Marina yang larut dalam emosinya, menyentakkan tangannya dan meninggalkan Ryan. Tanpa perduli pada Ryan yang masih terus memanggil manggil namanya, Marina menyetop taxi dan masuk meninggalkan Ryan. Marina berusaha menenangkan diri di dalam taxi, dan merenung tentang apa yang baru terjadi. Marina agak sedih akan sikap Ryan yang masih kekanak kanakan itu, dan mencoba untuk tak memikirkannya lagi. Tiba tiba handphonenya berbunyi, dan Marina menjawab handphonenya. “Maaf Marina, aku..”, baru Ryan bicara, Marina sudah memotong, “Sudalah Ryan, hari ini biarkan gua sendiri, capek gua ngadepin lu yang kekanak kanakan gitu. Lu coba pikirkan tadi mengapa gua sampai meninggalkan lu”. Marina memutus pembicaraan. Handphonenya kembali berbunyi, dan setelah Marina melihat nomer penelepon yang terpampang di layar handphonenya, Marina tak memperdulikan dan menerawang ke jendela.

Demikian, kadang Marina dan Ryan bertengkar, tapi Marina selalu memaafkan Ryan, karena Marina merasa Ryan mencintainya. Sungguhpun sebenarnya Marina ingin agar Ryan lebih dewasa. Sayangnya sifat Ryan yang kekanak kanakan itu sepertinya sudah mendarah daging. Bahkan Marina tak pernah bermimpi, Ryan yang sudah terbiasa arogan itu suatu saat akan menyeret Marina ke dalam malapetaka hebat. Suatu hari sepulang dari mengajar, Marina berjalan ke parkiran, dan melihat lagi lagi Ryan bermasalah dengan Imron.

“He bopeng! Lu itu goblok atau tolol? Atau lu sengaja ya menabrakkan bak sampahmu ke pintu mobil gue?” bentak Ryan pada Imron. Kali itu Imron menatap tajam pada Ryan, dan dengan nada tinggi Imron menjawab, “Salahnya siapa situ tadi buka pintu mobil gak lihat lihat? Sudah untung situ nggak saya suruh beresin sampah yang berantakan ini!”. Ryan yang merasa ditantang, makin menjadi, “Loh! Apanya yang beresin sampah itu? Itu sih sudah tugas kacung seperti kamu goblok! Sekarang ini pintu mobil gue yang penyok, urusannya… “. Belum selesai Ryan bicara, Marina yang sudah di situ membentak Ryan, “kamu ini kenapa lagi sih Ryan? Nggak bosen berantem sama orang?”.

Ryan yang masih emosi menjawab dengan nada tinggi “Kacung goblok ini, dorong bak sampah gak liat depan, pintu mobilku diterjang begitu sana…”, dan langsung dipotong Imron, “Situ kalo bicara yang betul ya! Pas saya sudah dekat situ kan yang sengaja buka pintu?”. Marina yang merasa tidak enak, mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dompetnya, dan memberikan pada Imron.”Pak, maaf ya. Ini bukan maksud saya ganti rugi, ini cuma buat pak Imron beli minum”. Imron menolak, “Saya gak perlu uang itu bu Marina. Cuma.. orang ini siapa sih? Tolong ajarin sopan santun bu. Beda sekali tata krama Bu Marina dengan orang brengsek ini ”, kata Imron dingin sambil menunjukkan tangannya ke arah Ryan.

“Kamu!!”, bentak Ryan sambil bersiap melayangkan kepalannya ke arah Imron. Marina langsung membentak Ryan, “Apa apaan kamu Ryan? Hentikan semua ini!”. Imron melenggang pergi setelah Ryan masuk ke mobilnya sambil membanting pintu. “Maafkan sekali lagi pak Imron”, kata Marina. “Nggak apa apa bu Marina”, jawab Imron tanpa menoleh.

Marina jengkel sekali pada Ryan yang tak memberinya muka di kampus. “Lu kalo ke sini kerjanya cuma marah marah sama pak Imron, lebih baik lain kali gak usah jemput gua Ryan!”. Ryan yang tak terima, setengah membentak berkata, ”Lu kok malah belain si bopeng itu sih? Yang jadi pacarmu itu gua atau si bopeng itu??”

‘PLAK!’. Marina menampar Ryan dengan keras. “Cukup! Minggirkan mobil ini! Gue mau turun!”, bentak Marina. Ryan langung surut, dan memohon pada Marina, “Mar, maafin gue.. gue lagi emosi tadi. Biarkan gue anter lu pulang ya..”. Marina tak perduli dan tetap meminta turun, dan sampai sekitar 5 menit Ryan memohon mohon baru akhirnya Marina luluh juga. Ryan tahu itu ketika Marina tak lagi menyentakkan tangannya ketika Ryan mencoba lagi untuk menggenggam telapak tangan Marina. Dengan tersenyum lega Ryan menjalankan mobil menuju ke rumah Marina…

*******************

Beda dengan Ryan yang sudah bisa tersenyum, Imron masih terbakar oleh amarah. Ia amat jengkel dengan kelakuan Ryan tadi. Duduk di depan gudang, mukanya yang masam terlihat oleh Encep. Dengan heran Encep bertanya, “Kenapa bos?”. Imron yang melihat Encep cengar cengir dengan jengkel membentak, “Lagi jengkel sama orang tau! Berani beraninya cari perkara sama gue, dua kali lagi!”. Encep bertanya, “Siapa bos? Sini gua hajar!”. Dengan sinis Imron berkata “Halah sok jago lu Cep!”.

“Bos, kalo ada yang macem macem, kita kasih pelajaran saja bos!”, kata Encep. Imron mulai setuju, dan menjelaskan kejadian tadi yang menyesakkan dadanya itu. “Untung gue masih bisa menahan diri, kalo tidak ..”, gerutu Imron. “Gini saja Cep, gue ada rencana untuk gebukin si brengsek itu”, kata Imron yang kini juga mulai tersenyum, senyum yang bengis. “Nghajar si Ryan saja bos? Gimana dengan bu Marina? Masa kita biarin aja, kan kesempatan nih!”, tanya Encep penuh harap. “Lu ini nafsu ya kalo liat bu Marina? Ya sudah kalo gitu bantuin gue ngurus si Ryan, nanti lu gue kasih hadiah bu Marina. Gimana?” tanya Imron yang tentu saja segera disetujui oleh Encep.

“Kalian lagi ngomongin apa?” tanya satpam kampus lain yang tiba tiba datang dan nimbrung. “Oh kamu Har. Begini…”, Imron menceritakan semuanya, termasuk rencananya menghajar Ryan, dan keinginan Encep tentang Marina. “Oh begitu toh ceritanya. Gue ada akal nih. Kalo kita lakukan itu di dalam kampus, bisa gawat, kita harus bisa bawa si pecundang itu ke tempatnya Gufron, tukang tambal ban yang setengah kilometer dari gerbang kampus ini. Inget? yang ada gubuknya itu?”, tanya Kahar. Imron dan Encep mengiyakan. Mereka segera berunding, menyusun rencana. Sesungguhnya,

Taring di mulut ular dan sengat di ekor kalajengking,
tak cukup berbisa untuk menandingi racun di hati mereka.

******************
Jam 18.45
Hari yang sama

“Jadi semua udah lu atur rapi Har?” tanya Imron pada Kahar melalui ponselnya.
“Beres Ron, tinggal jalanin…pokoknya lu tunggu aja tanggal mainnya!” kata Kahar di seberang sana, “pokoknya dijamin kunyuk itu pasti kena kali ini”
“Yakin nih si Gufron ga bakal ngecewain?” tanyanya lagi, “kalau gagal kita yang mampus soalnya.”
“Tenang aja Ron dah gua instruksiin semuanya ke dia, pasti beres, dijamin!” kata Kahar dengan penuh keyakinan, “lagian dia juga kan pengen icip-icip tuh, pasti hati-hati lah”
“Ya udah deh, gua percaya aja, jadi ga sabar nunggu lusa nih hehehe…oke gitu dulu yah!” Imron menutup pembicaraan dan mematikan ponselnya.
Di wajahnya tersungging sebuah senyum mesum dan licik, ia lalu bangkit dari toilet yang didudukinya. Toilet duduk itu tutupnya sejak tadi memang tertutup, Imron berada di kamar mandi itu memang bukan untuk buang air melainkan hanya untuk membicarakan rencana busuknya dengan si satpam bejat itu. Ia pun membuka pintu dan keluar setelah menyelesaikan pembicaraannya. Terdengar suara acara berita dari TV di ruang tengah apartemen itu dan suara memotong di dapur kecil yang letaknya menyatu dengan ruang tengah dan meja makan. Ketika sampai di ujung lorong ia melihat Megan, si gadis bule itu, sedang memotong-motong kol untuk membuat salad di dapur berbentuk mini bar itu.
“Oh…hai duduk dulu Pak sambil nonton tivi, ini sebentar lagi beres!” gadis itu membalikan kepala menyadari kehadiran Imron yang sudah keluar dari toilet.
Imron menjatuhkan diri di sofa empuk itu, sambil mendengarkan berita di TV ngobrol-ngobrol santai dengan gadis bule itu. Ya, mahasiswi Amerika yang sedang studi di universitas tempat Imron bekerja itu memang telah akrab dan menganggapnya teman, baik teman biasa dan juga partner seks. Hubungan itu telah berlangsung hampir sebulan lamanya sejak percintaan pertama mereka di apartemen ini dan tentu saja secara sembunyi-sembunyi.

Tiba-tiba ponsel Megan yang di atas meja ruang tengah berbunyi. Sebelum diminta, Imron sudah mengambil benda itu dan menyerahkannya pada gadis itu.
“Thank you” katanya lalu menerima panggilan itu.
Ia berbicara dengan bahasa Inggris dengan orang yang di telepon yang adalah rekannya sesama pengajar di tempat kursus Bahasa Inggris. Sementara Megan ngobrol dengan temannya, Imron memandangi tubuhnya yang dibungkus kaos tanpa lengan warna hijau dan celana pendek bercorak kamuflase yang satu stel dengan atasannya motif ‘army look’. Rambut pirangnya yang panjang saat itu diikat ke belakang sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kaosnya yang agak ketat tak mampu menyembunyikan keindahan payudaranya yang membusung padat itu, juga pahanya yang ramping dan mulus itu sungguh menggugah selera. Pemandangan itu memancing Imron mendekatinya. Ia pun memutar memasuki pintu dapur, berjalan pelan-pelan mendekati gadis itu yang membelakanginya.
“Ok, bye Sylvia....see you tommorow!” Megan menutup pembicaraan ketika Imron telah semeter di belakangnya, ia menaruh ponselnya dan meneruskan memotong sayuran.
Sebentar saja Imron telah berada di belakangnya, dekat sekali sehingga ia dapat mencium harum tubuhnya.
“Hei!” Megan menjerit kaget ketika merasakan sebuah tangan meremas pantatnya dan tangan yang lain merangkul pinggangnya yang ramping, “jangan sekarang Pak”
Imron tidak peduli, ia menciumi tenguk gadis itu yang ditumbuhi rambut-rambut pirang halus. Harum tubuh gadis itu membuat Imron makin terangsang, tangannya mulai merambahi payudara montok dara Amerika itu. Seperti yang telah diduga, Megan tidak memakai bra, sehingga jari-jari Imron dapat merasakan putingnya di balik kaos itu. Gadis itu menggeliat dan mencoba menghindar, tapi penolakannya tidaklah sungguh-sungguh sehingga malah membuat Imron semakin gemas. Imron semakin mendesaknya sehingga tubuh gadis itu kini terjepit antara tubuhnya dan meja dapur.

“Saya lagi kerja…lepaskan Pak!” desah Megan sambil menggerak-gerakkan bahunya untuk menghindari ciuman Imron di sekujur lehernya.
Sekilas memang Megan tampak menolaknya, namun dalam hati ia justru berharap pria itu tidak menghentikan aksinya. Nafasnya terasa semakin berat karena pria itu terus merangsangnya dengan memencet-mencet putingnya dari luar kaosnya, juga menciumi leher dan tenguknya secara intens.
“Non Megan, kan tinggal sebulan kurang lagi Non pulang ke Amerika…saya ntar kangen banget lho!” kata Imron di telinga gadis itu sambil menjilat daun telinganya.
“Hhssshh….but Pak, jangan sekarang!” desisnya lirih.
Imron meneruskan aksinya dengan memeloroti celana pendek gadis itu, pemandangan indah langsung terpampang karena ia tak memakai celana dalam. Pantatnya yang bulat padat membuat Imron tidak tahan untuk tidak meremasnya.
“Oooww!” jeritnya pelan ketika Imron dengan gemas menampar pantatnya tidak terlalu keras.
Megan tidak bisa lagi melanjutkan membuat saladnya, ia meletakkan pisaunya dan kedua tangannya berpegangan di pinggir meja dapur. Tubuhnya bergetar ketika tangan Imron mulai menyusuri celah sempit diantara kedua bongkahan pantatnya yang seksi itu. Jari-jari itu semakin ke bawah, lalu ke depan, menyelinap ke bibir vaginanya dari belakang.
“Hehehe…dicukur yah Non, jadi licin gini?” kata Imron merasakan vagina gadis itu bersih tak berbulu karena memang baru dicukur dua hari sebelumnya.
Megan menggelinjang merasakan kenikmatan mulai terbangun dari bawah sana, apalagi jari-jari pria itu mulai menyusup ke vaginanya serta mulai mengorek-ngoreknya Gadis bule itu menggigit bibir bawah dan mendesah lirih meresapi kenikmatan yang semakin menjalar ke sekujur tubuhnya.

Sementara itu tangan Imron yang lain mulai menyusup masuk lewat bawah sehingga kaos hijau itu pun tersingkap. Megan merasakan telapak tangan kasar dan hangat itu merayapi perutnya yang rata, naik ke bagian bawah payudaranya hingga akhirnya hinggap di salah satu puncaknya. Imron merangsangnya sedemikian lihai sampai gadis bule itu menggeliat dan mendesah nikmat. Rambut Megan yang terikat ke belakang mempermudah bibir tebal Imron menjalari lehernya dan mengendusi tenguknya membuatnya itu kegelian.
“Pak Imron….oowwhh!” desahnya  pasrah.
Kemudian Imron membalik tubuh Megan,dan dengan cepat mengangkat tubuhnya serta mendudukkannya di tepi meja dapur. Tangannya menarik lepas celana pendek gadis itu yang masih menyangkut di pahanya lalu melemparnya ke belakang. Megan membuka bajunya sendiri hingga telanjang bulat di depan pria itu. Birahinya sudah cukup tinggi sehingga ia mulai agresif dengan menarik pria itu dan mereka terlibat percumbuan yang panas. Terlintas di ingatannya, di tempat yang sama pula mereka memulai affair ini beberapa waktu yang lalu. Di tengah percumbuan itu, Megan merasakan suatu benda tumpul yang keras menekan vaginanya.
“Eemmhh….mmmhhh!” erangnya tertahan ketika benda itu menekan masuk ke vaginanya.
Ia sangat menyukai milik Imron itu, penis Indonesia satu-satunya yang pernah mampir di vaginanya. Setiap gesekan permukaan batangnya yang keras dan berurat itu dengan dinding vaginanya sungguh mendatangkyan sensasi yang luar biasa. Mereka melepas cumbuan ketika Imron mulai menggerak-gerakkan penisnya maju-mundur. Genjotan Imron membuat gadis itu terbuai dalam arus birahi dan menyerahkan diri sepenuhnya tanpa memandang perbedaan apapun di antara keduanya. Wajah Megan nampak lebih menggairahkan pada saat terangsang seperti ini, matanya yang hijau semakin sayu seakan memohon kepuasan, bibir tipisnya yang basah membuka dan mengeluarkan erangan erotis. Sambil menggenjot Imron mengambil seiris tomat dari piring di sebelah lalu meletakkanya di payudara gadis itu. Megan kegelian merasakan potongan tomat yang basah dan dingin itu di permukaan kulitnya. Sensasi itu semakin nikmat ketika Imron mengunyah tomat itu sehingga sesekali putingnya tergigit.

Kemahiran Imron dalam bercinta mengantarkan dara Amerika itu ke puncak kenikmatan dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tubuh gadis itu mengejang dan mulutnya mengeluarkan desahan panjang menyongsong orgasme pertamanya. Imron mempercepat sodokannya tanpa mempedulikan Megan yang masih didera orgasmenya. Cairan orgasme gadis itu menyebabkan vaginanya makin licin sehingga penis Imron semakin lancar keluar-masuk di lubang itu. Akhirnya tak lama kemudian, Imron pun menyusul ke puncak. Dengan sebuah erangan panjang, ia menuntaskan nafsunya, penisnya menumpahkan banyak sekali lahar putih kental ke vagina gadis itu.
“Ohh…he really knows to satisfy me!” kata Megan dalam hati.
Selama beberapa saat, Imron membiarkan penisnya menancap dalam-dalam di vagina gadis itu hingga benda itupun menyusut di dalam sana. Mereka berpelukan dan berciuman ringan menikmati sisa-sisa orgasme. Makan malam jadi tertunda akibat pergumulan kecil itu. Imron membantu gadis itu membereskan dapur dan menyiapkan makan malam, setelahnya mereka makan bersama sambil ngobrol-ngobrol tentang kegilaan yang mereka lakukan tadi. Empat puluh menit kemudian pergumulan itu berlanjut di kamar dalam waktu yang lebih lama hingga akhirnya Megan tertidur dalam kelelahannya. Malam itu Imron kembali menginap di apartemen gadis itu, di ranjang empuk, kamar ber-AC dan ditemani gadis cantik. Seringai jahat tergurat di bibirnya sambil memeluk gadis bule yang telah tertidur di sebelahnya itu, tak lama kemudian ia pun turut terlelap bersamanya.

**********************************
Dua hari kemudian

Suatu hari, seperti biasanya, Ryan sedang menunggu Marina di tempat parkir. Suasananya lagi sepi seperti biasanya. Selagi menunggu, medadak Ryan mendengar suara gerobak sampah yang biasanya didorong Imron. Ryan dengan angkuh memandang dari spion mobilnya, dan Imron lewat di sebelah mobilnya. Tak ada yang aneh, sampai ketika di depan Imron menggebrak kap mesin mobil Ryan. Dengan marah Ryan turun hendak menghadang Imron, tapi “BUKK!!”, sebuah kayu besar dipukulkan oleh Encep ke kepala Ryan dari belakang, dan Ryan pingsan. Imron segera mengembalikan bak sampah ke gudang, dan ketika kembali ia melihat Kahar sudah datang dengan Gufron yang membonceng di sepeda motornya. Imron merogoh semua kantong baju dan celana Ryan, dan kunci mobil, dompet serta handphonenya disimpan oleh Imron. Kemudian dengan cekatan Gufron yang memang tukang ban itu melepas ban serep mobil Ryan, dan dengan dibantu Encep, Imron menaikkan Ryan yang tentu saja masih belum sadar itu ke sepeda motornya Kahar. Encep naik ke sepeda motor juga di belakang Ryan, dan memegangi Ryan. Kahar segera melajukan sepeda motornya ke gubuk Gufron, tempat yang sudah direncanakan kemarin.

Imron mengunci pintu mobil Ryan, dan bersama Gufron ia pergi ke gubuknya Gufron. Situasi yang sepi memuluskan rencana mereka. Sampai di dalam, Ryan didudukkan di sebuah kursi, dan diikat erat. Lalu bersama Kahar, Encep kembali ke kampus, dan bersandar di belakang mobil Ryan, menunggu Marina datang. Sedangkan pak Kahar duduk di posnya seolah olah tak ada kejadian apa apa. Sementara itu, di gubuk Gufron, Imron bersiap melakukan pembalasannya terhadap Ryan. Gufron menyiramkan air dari tempat yang biasanya digunakan untuk memeriksa titik kebocoran ban dalam ke muka Ryan. Gelagapan Ryan tersadar, dan setelah menyadari keadaannya, dimana ia melihat Imron yang menyeringai dengan sinis ke arahnya, Ryan menjadi ketakutan. “Apa yang lu lakuin? Lepaskan gua!” bentak Ryan dengan tidak yakin. Imron dan Gufron saling pandang, dan tertawa terbahak bahak. Lalu Imron segera memberikan bogem mentahnya pada ulu hati Ryan, yang langsung terbatuk batuk. Dan setelah Gufron memberikan satu dua pukulan pada Ryan, Gufron segera keluar, berjaga di tempatnya seperti biasa, menunggu orang yang membutuhkan jasa pompa ban ataupun tambal ban. Di dalam, Imron terus menghajar Ryan dengan penuh dendam, sehingga keadaan Ryan sudah babak belur. Terdengar beberapa kali Ryan mohon ampun, tapi tentu saja Imron tak mau melepaskan kesempatan ini begitu saja.
“Ini pelajaran untuk orang orang yang biasa sok jago seperti loe!”, bentak Imron sambil terus melayangkan pukulannya. “Mana kesombongan loe hah? Kok sekarang malah nangis minta ampun?”, bentak Imron. Ia memukul, menampar dan menendang Ryan sesuka hatinya.

Selagi Imron melampiaskan dendamnya, Marina yang sudah selesai mengajar, berjalan ke arah parkiran, dan ia agak heran melihat Encep yang bersandar di belakang mobil kekasihnya. Lebih heran lagi, ia tak melihat keberadaan Ryan. “Pak, bapak lihat teman saya yang punya mobil ini?” tanya Marina pada Encep, yang segera menjawab, “Iya bu, tadi pak Rian titip pesan pada ibu, kalo pak Rian menambalkan ban mobil ke tempat tambal ban yang di sebelah timur itu bu..”. Marina bertanya lagi, “Jauh nggak pak dari sini?”. Encep menjawab, “Nggak bu, Cuma setengah kilometer kira kira. Ibu mau ke sana? Perlu saya antar? Kalo tidak saya mau melanjutkan pekerjaan saya bu, saya masih…”. Marina langsung memotong, “Iya pak, tolong antar saya ke sana bentar pak”. Marina melihat jam tangannya, sekarang pukul 2 siang.
“Baik bu, ikuti saya”, kata Encep dan membalikkan badan, berjalan menuju ke gubuk si Gufron tadi. Ketika melewati pos satpam, Kahar sesuai rencana, menyapa Marina, “Bu, itu tadi ban mobil pak Ryan kempes, itu lagi nambal di sana bu”. Kahar menunjuk ke arah gubuk Gufron, dan Marina menganggukan kepalanya dan berkata, “terima kasih pak”.
Maka dengan diantar Encep, Marina yang makin percaya kalo Ryan memang sedang menambal ban, pergi menuju ke tempat itu. Marina sama sekali tak pernah membayangkan apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Ia tak tahu Encep sedang tersenyum lebar, dan Gufron yang melihat kedatangan mereka berdua dari jauh, segera masuk dan memperingatkan Imron. Imron segera menyumpal mulut Ryan, dan bersembunyi di balik pintu. Dan Gufron kembali keluar, pura pura baru selesai memompa ban serepnya Ryan.

Marina yang tahu itu memang ban mobil Ryan, segera mendekat dan bertanya, “Pak, mana pemiliknya ban ini? Sudah dibayar belum pak?”. Lagi lagi Marina agak heran karena tak melihat Ryan. “Oh, bapak yang punya itu ada di dalam bu, lagi istirahat. Katanya kepalanya agak sakit. Belum dibayar bu, tapi ya orangnya ka nada di dalam”, kata Gufron. Marina lega sekaligus kuatir. Lega karena sudah tahu dimana Ryan, kuatir karena jarang ia mendengar Ryan sakit kepala. “Boleh saya masuk pak?”, tanya Marina. “Oh boleh boleh, mari silakan masuk!”, kata Gufron sambil membuka gubuknya.
Begitu Marina melangkah masuk, Marina merasa pinggangnya ditekan sesuatu, dan terdengar suara Encep, “Bu Marina, jangan berteriak kalo mau selamat!”. Marina terkejut sekali, selain dirinya ditodong, ia melihat kondisi Ryan yang sudah babak belur. Encep mendorong Marina masuk, sedangkan Gufron kembali menjaga tempatnya, sehingga tidak akan ada orang yang curiga. Toh Imron sudah berjanji, ia akan mendapat bagiannya, yaitu tubuh Marina. Gufron amat tergiur melihat cantiknya Marina sehingga ia memandangnya terus sampai wanita itu masuk.

Di dalam, Marina tahu mereka berdua dalam masalah besar setelah Marina mendapati Imron ada di situ juga. “Ryan… lu gimana… makanya Ryaan.. lu kok selalu cari perkara? Minta maaflah Ryan pada pak Imron…”, kata Marina sambil menangis. “Pak Imron.. maafkan Ryan pak.. saya bersedia mengganti kerugian bapak… “, dan langsung dipotong Imron, “Diam! Saya tak butuh uang ibu!”. Marina tercekat, tak tahu harus bagaimana. Tapi sejenak kemudian Marina kembali memohon, “Pak, tolong lepaskan Ryan pak, maafkanlah dia..”, kata Marina, air matanya berderai. “Enak saja bu, Ibu kan tau orang ini berkali kali menghina saya. Tapi.. kalo ibu ingin saya melepaskan orang ini, saya punya tawaran untuk bu Marina..”, kata Imron. Sebuah pepatah mengatakan,

Jangan menciptakan musuh bagi dirimu sendiri,
Karena sekali permusuhan dimulai, tidak akan berakhir.
Mengganggu orang lain mengakibatkan dirimu diganggu juga,
Kau membawa kesusahan bagi dirimu dan orang yang kau cintai.

“Apa itu pak? Bapak boleh minta apa saja pak, asal lepaskan Ryan”, kata Marina penuh harap. “Apa saja bu?”, tanya Imron dengan menyeringai. “I.. Iya pak”, kata Marina dengan tak yakin. Marina mulai merasa tak enak.
 “Hahaha…itulah yang saya harapkan!” Imron tertawa penuh kemenangan, ia maju selangkah dan mengelus pipi wanita itu, “Ibu memang cantik dan penuh pengertian”
“Kurang ajar!” Marina menepis tangan pria itu dengan kesal, ia ingin berteriak namun tidak sanggup karena situasi ini, “Bapak…bapak mau apa?!”
“Semua orang di kampus juga tau Ibu ini dosen favorit, cowok mana yang gak pengen ngerasain ngentot sama Ibu, masa Ibu belum tau apa mau kita sih?” Encep menimpali.
“Aa…apa? Tidak…saya nggak mau!” Marina tertegun, wajahnya memucat mendengar ucapan Encep yang tidak senonoh dan sangat merendahkannya itu, ia mengerti apa yang diinginkan mereka sehingga secara refleks ia menyilangkan tangan di dadanya seolah menutupi tubuhnya dari tatapan mata mereka yang menelanjanginya.
“Jadi Ibu lebih memilih kekasih Ibu ini saya hajar lagi lalu saya kebiri dia hah?” ancam Imron seraya menjambak rambut Ryan yang terikat tak berdaya itu.
“Jangan, lepaskan dia!” Marina hendak merangsek ke depan dengan berlinang air mata, namun Encep dengan sigap mendekapnya dari belakang.
“Eeeiitt…awas Bu, jangan sampai teriak kalau mau semua baik-baik aja!” kata satpam itu.
“Jadi gimana Bu? Pilihannya ada di tangan Ibu” Imron mendekati Marina dan mengangkat dagunya.
“Baik…baik, saya mengerti apa yang kalian mau…tolong jangan sakiti dia lagi” ucapnya sambil terisak.
“Oke kalau gitu Bu, sekarang buka bajunya, ayo jangan malu-malu!” perintah Imron.

Marina tertegun dan menelan ludah mendengar perintah itu, ia memang sudah pernah telanjang di depan Ryan walau tidak sampai berhubungan seks. Kali ini ia harus membuka baju di depan dua pria bertampang sangar ini, sungguh suatu hal yang berat baginya, namun tidak ada jalan lain selain menuruti mereka karena ia tidak ingin pria yang ia cintai dipukuli lagi. Perlahan-lahan, ia pun mulai melucuti pakaiannya sendiri, mulai dari setelan luar, lalu satu persatu baju dan roknya berjatuhan ke lantai.
“Bener-bener mantep, ternyata body bu dosen kita ini seksi juga ya!” kata Imron menatapi tubuh Marina yang tinggal mengenakan bra dan celana dalamnya dengan pandangan nanar, “sisanya buka juga Bu!”
Sambil terisak wanita itu pasrah meraih kait bra nya di belakang, dengan ragu-ragu ia meloloskan bra krem itu melalu kedua lengannya, air matanya nampak semakin meleleh.
“Satu lagi Bu!” sahut Encep yang semakin bernafsu melihat kemolekan tubuh Marina, ia terlihat seperti binatang buas yang sudah tak sabar memangsa buruannya.
Marina membungkuk dan tangannya gemetaran melepas lembaran terakhir yang melekat di tubuhnya. Keduanya berdecak kagum dan jakun mereka naik turun melihat tubuh Marina yang sudah polos itu. Lelaki normal mana tak tergiur dengan tubuh semolek itu dengan payudara 34B yang montok, paha yang mulus dan ramping yang keatasnya membentuk lekukan pinggul yang indah dan pinggang yang ramping. Kini ia hanya bisa menggunakan tangannya untuk menutupi payudara dan vaginanya.
“Dibuka dong Bu, gak usah malu-malu gitu!” Encep menarik lengan Marina yang menutupi payudara dan kemaluannya serta menguncinya di belakang.
“Wehehe…bener-bener pas susunya, liat nih Man montok banget, bulat gini!” kata Imron sambil meremasi payudara kirinya.
“Aahh…jangan Pak!” erang Marina sambil meronta, ia sungguh tak kuasa menahan malu dilecehkan seperti ini apalagi di depan kekasihnya sendiri.

Tangan-tangan kasar mereka mulai bergerilya di sekujur tubuh Marina yang sudah polos itu. Darah dosen muda itu berdesir dan tubuhnya bergetar merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhnya.
“Kalau gua suka memeknya…gondrong banget, demen gua yang kaya gini!” kata Encep merabai vagina Marina yang ditumbuhi bulu-bulu lebat.
Jari-jari pria itu mengeseki bibir vaginanya sehingga nafasnya semakin memburu dan tak sanggup lagi menahan desahannya. Tiba-tiba Imron memagut bibirnya, mata Marina terbelakak kaget, ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha lepas dari cumbuan Imron, namun pria itu memegangi erat kepalanya.
“Ayo Bu, jangan dingin gitu…kalau Ibu gak bersikap manis jangan salahkan saya ya!” ancam Imron dengan suara pelan di dekat wajah Marina, “ayo bersikap manis layani kita!”
Posisi Marina sangat terpojok, ia bingung harus bagaimana. Kekasihnya disandera dan ia sendiri dipaksa kedua bajingan ini untuk menikmati perkosaan atas dirinya. Beberapa saat kemudian, ia pun menghela nafas dan menguatkan tekad.
“Maafin gua, Ryan, gua gak ada pilihan lain!” jeritnya dalam hati seraya memeluk leher Imron dan menarik wajah bajingan itu ke arahnya.
Dengan menahan rasa jijik ia mencium bibir tebal pria itu. Kali ini ia membuka mulutnya membiarkan lidah Imron bermain-main di dalamnya. Ia pasrah saja mengikuti irama tarian lidah Imron sambil memejamkan mata. Tubuh telanjangnya dihimpit dari depan dan belakang, ia dapat merasakan suatu benda keras menonjol di balik celana Encep bergesekan menyentuh pantatnya. Selama beberapa menit Imron memagut bibirnya sambil tangannya meremas-remas payudaranya. Setelah mulut mereka berpisah, Marina merasa mulutnya sangat kotor.
“Gitu Bu, mulai nikmatin ya…asyik kan!” ejek Imron, “dijamin kita pasti muasin Ibu”

Marina merasa hati dan telinganya sangat panas mendengar cemoohan itu, namun ia telah bertekad untuk melayani nafsu bejat mereka demi keselamatan kekasihnya. Ia menurut saja ketika Imron menyuruhnya duduk di dipan.
“Bukain celana saya Bu…terus sepong kontol saya, biar pacar Ibu liat!” perintah Imron.
Ia melakukan apa yang diperintahkan, jari-jari lentiknya bergerak membuka celana Imron. Tangannya merasakan benda keras dibalik celana itu, ia sempat ragu namun kembali melanjutkan aksinya. Mata Marina terbelakak melihat penis Imron mengacung tegak ke arahnya begitu ia menurunkan celana dalam pria itu. Penis itu terlihat begitu kokoh dengan urat-urat di sekujur batangnya dan kepalanya yang memerah. Belum habis rasa kagetnya Encep juga telah membuka celana dan mengeluarkan penisnya sehingga Marina kini seperti ditodong dua batang penis.
“Jangan bengong, pegang Bu, masukin mulut!” Imron meraih tangan wanita itu dan meletakkan di penisnya.
“Nggak Pak…saya mohon, saya nggak pernah melakukan ini!” Marina memohon sambil meneteskan air mata, baginya oral seks sangat menjijikkan bahkan pada kekasihnya pun ia menolak.
“Oke deh kalau gitu, Cep…coba patahin satu-dua gigi si pecundang itu!” kata Imron menoleh pada Ryan yang terikat tak berdaya.
“Jangan…baik…saya bersedia!” Marina secara refleks meraih penis Encep sebelum pria itu hendak mendekati kekasihnya.
Dosen muda itu terpaksa mengeluarkan lidah dan mulai menyapukannya perlahan ke kepala penis Imron sambil tangan yang satunya mengocok penis Encep. Kedua pria tak bermoral itu tertawa-tawa melihat takluknya mangsa mereka.

“Nah gitu dong Bu…kita juga ga mau main kekerasan…uuh sedapnya!” kata Imron sambil sedikit mendesah karena jilatan Marina, “sekarang emut Bu, lidahnya mainin!”
Imron mendorong penisnya hingga masuk ke mulut Marina.
“Eemmmmhh!” desahnya tertahan dengan mata membelakak kaget.
Benda itu terasa sangat menyesakkan di mulutnya, belum lagi aromanya yang tidak sedap itu. Marina menggerakkan lidahnya dan melakukan hisapan-hisapan kecil seperti yang diinstruksikan pria itu.
“Jangan pake gigi Bu…awas kalau kegigit!” kata Imron, “eeemm…ya gitu Bu bener…enak…yah terus gitu!” tangannya memegangi kepala wanita itu dan membelai rambut pendeknya.
“Masih amatiran yah Ron nyepongnya?” tanya Encep melihat Marina yang masih canggung dan tersiksa melakukan oral seks.
“Iya sih…tapi kalau dilatih pasti lama-lama bisa muasin!” jawabnya, “kayanya si goblok itu belum pernah ngapa-ngapain Ibu yah, makannya sekarang kita ajarin Bu hahaha!”
“Heh…goblok, makannya punya pacar cantik gini ajarin dong, jadi aja keduluan kita!” ejek Encep pada Ryan disambut gelak tawa mereka.
Marina sudah sedikit beradaptasi dengan penis Imron yang telah bertengger sekitar lima menitan di mulutnya. Ia mulai mengulum dan menjilati benda itu serta mengesampingkan rasa jijiknya. Matanya melirik sejenak pada kekasihnya yang terikat di pojok sana, namun ia tidak sanggup memandangnya lama-lama karena malu yang teramat sangat harus melakukan seperti itu di depan pacarnya. Mulanya, Imron memaju-mundurkan penisnya di mulut Marina seperti menyetubuhinya, namun kini Marinalah yang malah memaju-mundurkan sendiri kepalanya sambil menghisap penis pria itu.
“Pinter…ibu memang cepat belajarnya yah…hhhhmm!” gumam Imron.

“Emmhh!” desah Marina tertahan ketika merasakan pahanya dibuka dan disusul rasa geli pada vaginanya.
Ternyata Encep yang sudah telanjang bulat tengah berjongkok diantara kedua pahanya. Pria kurus itu membenamkan wajahnya pada selangkangan Marina dan mulai menjilatinya. Dengan rakus Encep menjilati vagina yang masih rapat dan berbulu lebat itu. Kedua jarinya merenggangkan bibir vaginanya sehingga terkuaklah bagian dalamnya yang merah dan berlendir itu. Tubuh Marina makin bergetar merasakan lidah pria itu mengais-ngais vaginanya terlebih ketika lidah itu menyentuh klitorisnya. Encep membuka paha wanita itu lebih lebar sehingga ia makin leluasa menjilat dan menghisap wilayah sensitif itu. Marina semakin larut dalam birahi akibat perlakuan Encep, tanpa disadari ia semakin asyik menikmati tugasnya mengoral penis Imron. Encep bukan saja memainkan lidahnya di liang kenikmatan itu, jari-jarinya pun ikut bermain disana. Ia menyentil-nyentilkan lidahnya pada daging kecil sensitif itu menyebabkan pemiliknya menggelinjang nikmat.
“Hhhmm…wangi...lebat, masih perawan lagi! bener-bener memek yang mantap!” sahut pria itu menghirup aroma vagina Marina yang terawat baik.
Marina merasakan orgasme mulai melandanya, vaginanya makin berdenyut-denyut hingga akhirnya sssrrrr…keluarlah cairan bening yang hangat diiringi menegangnya tubuhnya. Ia ingin mendesah sejadi-jadinya melepaskan perasaan itu, namun mulutnya terganjal penis Imron sehingga hanya mengeluarkan erangan tertahan. Encep menjilati cairan kewanitaan Marina dengan rakusnya.
“Ssslllrrpp…ssrrrpp…heh gurih banget nih memek pacar lu!” pria itu menoleh ke Ryan dan mengejeknya, “pernah nyoba ga lo!”

Ryan yang terikat di sudut sana merasa geram melihat apa yang mereka lakukan pada kekasihnya. Berbagai perasaan bercampur baur di hatinya, mulai dari rasa bersalah karena telah menyeret kekasihnya dalam kesusahan seperti ini, kemarahan pada kedua orang itu, juga terangsang melihat adegan panas di depan matanya itu. Tanpa dapat dicegah penisnya pun mengeras.
“Tidak apa yang gua pikirin, pacar gua diperkosa…masa gua malah terangsang, sori Mar…ini salah gua!” sesalnya dalam hati tanpa dapat berbuat apapun.
Saat Ryan termenung itu, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dua orang dari luar sana. Gufron si tukang tambal ban itu, seorang pria setengah baya yang kurus dan agak pendek, tampangnya lusuh tidak terawat dengan kulit hitam terbakar matahari dan jenggot pendek yang kelihatan jarang dicukur. Di belakangnya nampak seorang satpam bertubuh besar dan berkumis yang tak lain adalah Kahar. Gufron meletakkan kotak peralatannya di sebuah rak, ia baru saja membereskan barang-barangnya sambil menunggu kedatangan Kahar. Baru setelah itu ia masuk ke dalam untuk bergabung dengan Imron dan Encep yang sudah mulai sejak tadi.
“Walah…kita keduluan nih, kok pada udah mulai duluan?” kata Kahar.
“Iya lu sih datengnya lama juga, gua daritadi nunggu di luar udah konak, tapi cuma bisa ngintipin” kata si tukang tambal ban itu sambil menyikut pelan Kahar.
Kedatangan mereka membuat Marina terkejut, ia buru-buru melepaskan emutannya pada penis Imron dan menyilangkan tangan menutupi dadanya secara refleks. Ia panik dan air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya membayangkan dirinya akan segera diperkosa empat orang bertampang mengerikan itu. Kedua pria yang baru datang itu mendekatinya tanpa menghiraukan permohonan Marina yang mengiba-iba.

“Tolonglah Pak, jangan perkosa saya!” Marina memelas sambil menggeser tubuhnya di dipan menjauhi mereka.
“Hehehe…harusnya Ibu salahin si pecundang itu dong, dia yang duluan cari gara-gara jadi Ibu terseret” kata Imron meraih lengan kiri wanita itu yang menutupi dadanya.
“Lagian kita udah keburu konak ngeliatin body Ibu jadi harus tanggung jawab dong bikin kita puas” timpal Encep.
Mereka menatapi tubuh telanjang Marina seperti orang kerasukan, tawa dan celoteh mereka membuat wanita cantik itu semakin merinding ketakutan. Ia semakin tersudut hingga tidak bisa mundur lagi. Tanpa perlawanan berarti, mereka menarik tangan dan kakinya lalu membentangkan tubuh bugilnya di dipan itu. Sebentar saja, empat pasang tangan kasar itu sudah menggerayangi tubuhnya.
“Aahhh…jangan!” erangnya dengan tubuh menggeliat saat merasakan jari-jari menyusup ke vaginanya dan bergerak keluar masuk.
“Wuii…becek banget!” sahut Gufron, si tukang tambal ban itu sambil memainkan jarinya di vagina Marina, “mmmm…gurih, bener-bener memek yang mantep!” katanya lagi setelah mengemut jarinya yang berlumuran cairan kewanitaan.
Belum cukup rangsangan dari bawah sana, Encep melumat payudaranya yang sebelah kiri. Pria itu mengisapi daging kenyal itu dan lidahnya menyapu permukaannya. Putingnya yang berwarna coklat mengeras dengan cepat, dari sana juga mengalir sensasi nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh ketika pria itu menghujaninya dengan gigitan-gigitan ringan. Si satpam Kahar juga sedang asyik menggerayangi tubuhnya, ia mengecupi dan menjilati paha mulus Marina, kumisnya menyapu kulitnya yang halus sehingga menimbulkan sensasi geli.

“Aahh…jang…mmmhh!” Imron melumat bibir Marina sehingga desahannya terhambat, tangannya meremasi payudaranya yang kanan.
Penjaga kampus itu mencumbunya sambil membelai rambutnya dengan lembut, remasan tangannya pada payudaranya pun demikian erotis dan membangkitkan gairah. Entah bagaimana, pria ini benar-benar membuatnya takluk dan bereaksi di luar kesadarannya. Lidahnya secara refleks saling belit dengan lidah kasap pria itu serta mengesampingkan rasa jijik menelan ludahnya. Selama beberapa menit ia membalas cumbuan pria itu dengan gairah yang tak bisa dikontrolnya. Sementara itu kroni-kroni Imron lainnya terus melancarkan aksinya dalam melampiaskan nafsu binatang mereka. Gufron nampak begitu bernafsu melumat vagina Marina, lidahnya menyusup dalam-dalam ke vaginanya menggelitik seperti ular membuat pemiliknya menggelinjang tak karuan. Imron melepas cumbuannya dari bibir Marina, mata dosen muda itu pun membuka.
“Ayo…ayo misi dulu, waktunya ngejos nih! Kita kasih liat ke kunyuk itu gimana perkasanya kita hahaha!” kata Imron menyuruh Gufron yang sedang menjilati vagina Marina untuk menyingkir dulu.
Imron mengambil posisi di antara kedua belah paha Marina dan menggenggam batang penisnya yang diarahkan ke vagina wanita itu. Marina tahun sebentar lagi keperawanannya akan direngut paksa, namun ia tidak berdaya, selain karena sudah mulai dikuasai birahi, ini adalah keharusan demi menyelamatkan kekasihnya.
“Ya Tuhan, apakah benar pilihan yang harus kuambil !?” jeritnya dalam hati
Ia menggeliat merasakan kepala penis Imron menyentuh bibir vaginanya. Dengan perlahan tapi pasti pria itu menekan penisnya hingga menyeruak masuk membelah bibir vagina wanita itu.

Marina meringis menahan sakit pada vaginanya yang terlalu sempit untuk dijejali penis Imron yang besar dan keras itu. Imron juga merasakan jepitan vagina itu masih sangat ketat seperti melawan penisnya walaupun sudah becek setelah orgasme tadi.
“Aakhh!” erang Marina dengan mata membelakak dan tubuh menggeliat.
Ia merasakan perih pada vaginanya begitu Imron melesakkan penisnya dalam-dalam dan merenggut keperawanannya. Ketika Imron mulai menggerakkan penisnya, ia pun tak kuasa menahan rintihannya. Imron ingin agar wanita ini takluk padanya daripada merintih-rintih kesakitan sehingga ia membiarkan penisnya tertancap dulu selama beberapa saat agar Marina dapat beradaptasi dulu.
“Uuuhh…akhirnya gua perawanin juga nih!” kata Imron penuh kemenangan.
“Sempit toh Ron?” tanya Gufron.
“Lha iya lah…legit banget pasti sip nih…mmmhh!” jawab Imron sambil mulai menggenjotnya pelan.
Tak lama kemudian Imron sudah bergerak maju mundur menggenjot vagina Marina dengan berpegangan pada kedua betis wanita itu. Tiga orang lainnya juga tidak mau ketinggalan menjarah tubuh mulus Marina. Gufron dan Encep masing-masing mengenyot payudaranya sambil tangan mereka menggeyarangi tubuhnya. Marina merasa tangannya ditarik lalu digenggamkan ke sebuah benda keras. Ia menolehkan wajahnya melihat ternyata dirinya telah menggenggam penis si satpam Kahar yang berlutut di sebelah kepalaya.
“Dikocok Bu, tangan Ibu halus sekali nih hehe!” perintahnya.
Tanpa disuruh dua kali, Marina menggerakkan tangannya mengocok penis itu. Jilatan dan rabaan pada sekujur tubuhnya kian membangkitkan libidonya.

Marina mendesah-desah dan menggelinjang liar akibat sentakan-sentakan Imron.
“Aaahhh…aahh…mmhh!” desahannya tersumbat ketika Kahar menjejalkan penisnya ke mulut dosen cantik itu.
Penis Kahar yang besar itu membuat Marina kembali merasakan sesak pada mulutnya, apalagi aromanya yang tidak sedap itu sungguh membuatnya tersiksa. Ia berusaha keras mengeluarkan penis itu dari mulutnya namun satpam itu menahan kepalanya.
“Isep Bu…seperti ke Pak Imron tadi!” perintahnya, “nah gitu…yahhh…pinter Bu!” satpam bejat itu mengerang nikmat merasakan lidah Marina menyapu kepala penisnya.
Pada saat yang sama ia juga merasakan ada yang hangat-hangat basah menyentuh lehernya. Dilihatnya Gufron, si tukang tambal ban itu kini sedang menjilati dan mencupangi lehernya sambil tangannya memilin-milin putingnya.
“Ayo Ron…semangat, dia mau keluar tuh!” Encep menyemangati melihat tubuh Marina yang semakin menggeliat tak terkendali.
Tubuh Marina semakin basah oleh keringat, ia semakin tak sanggup menahan sensasi nikmat yang melanda tubuhnya sedemikian hebat hingga membuat wajahnya memerah. Akhirnya pertahanannya bobol setelah sekitar seperempat jam disetubuhi oleh Imron.
“Mmhhh…eemm….ookkhh!!” erang Marina begitu Kahar menarik lepas penisnya dari mulutnya.
Tubuhnya mengejang dahsyat selama beberapa saat hingga akhirnya terkulai lemas di atas dipan itu. Keempatnya tersenyum senang melihat korban mereka takluk dan mengalami orgasme yang begitu hebat.

“Enak kan Bu?” ejek Imron, “goyangannya liar juga ya kalau lagi ngecrot!”
“Baru pernah ngerasain yang gini ya Bu ya? Hehe!” Gufron menimpali sambil meremas payudara Marina.
“Seperti yang gua bilang Ron…kalau lagi konak semua cewek ya gini, gak perek gak dosen!” sahut Kahar.
Marina hanya bisa terdiam saja memendam kegeraman dalam hatinya, lagipula tubuhnya terasa luluh lantak setelah orgasme pertamanya tadi. Secara jujur, ia pun menikmati orgasme itu, sungguh memalukan, mereguk kenikmatan terlarang dari orang yang memperkosa di depan kekasihnya pula, tapi mengapa…mengapa justru malah muncul semacam dorongan dalam dirinya yang merasa ingin merasakannya lagi, itulah yang berkecamuk di pikirannya.
“Nah sekarang gua Ron, udah kebelet nih!” Kahar menagih jatahnya dan menyuruh Imron menyingkir.
“Weit…sabar Har, nafsu amat, kasih kesempatan ke tuan rumah dulu dong!” kata Imron menoleh ke Gufron.
“Hehehe…akhirnya gua bisa juga ngerasain yang bening gini!” tukang tambal ban itu kegirangan dan segera mengambil tempat di antara kedua paha Marina.
Matanya seperti mau lepas melihat selangkangan Marina yang sudah benar-benar basah. Darah keperawanannya yang baru saja bobol masih nampak meleleh di wilayah tersebut, sebagian menetes ke dipan di bawahnya. Tanpa basa-basi lagi, Gufron yang sudah bernafsu sejak tadi langsung melesakkan penisnya ke vagina wanita itu.
“Eeggh…aahh!” Marina mendesah panjang dan tubuhnya mengejang.
“Uuuhh…ini baru sip…wuihh legitnya!” ceracau si tukang tambal ban itu menikmati jepitan vagina Marina menghimpit penisnya.

Dengan ganas Gufron menggenjot vagina Marina sampai menimbulkan bunyi berdecak. Sementara Imron yang penisnya masih menegang naik ke dada Marina dan menjepitkan penisnya dengan kedua gunung kembar wanita itu. Kemudian mulailah ia memaju-mundurkan penisnya yang licin itu disana. Marina dapat melihat jelas kepala penis yang seperti helm itu maju-mundur seolah hendak menghantam wajahnya.
“Wuehehe…emang kalau toked montok paling enak dipake gitu yah Ron!” kata Encep.
“Iyah…wuih paling seneng gua mainin yang kaya gini, empuk!” kata Imron makin bersemangat.
Tak sampai lima menit, Imron sudah melenguh dan meremas kuat-kuat kedua payudara itu sehingga membuat Marina meringis kesakitan. Cret…cret…beberapa kali kepala penisnya menyemprotkan cairan putih kental mengenai wajah Marina sehingga ia menjerit kecil. Terasa sekali aroma cairan itu yang tajam, ia menutup rapat-rapat bibirnya agar cairan menjijikan itu tidak masuk ke mulut.
“Walah…ngotorin lu Ron, gua belum ngapa-ngapain udah lu semprot peju gitu!” sahut Kahar.
“Wehehe…tenang Har, ntar dibersiin kok” kata Imron, “ayo Bu, ditelan!” ia menyuapkan cipratan spermanya di bibir Marina dengan jari telunjuknya.
Marina menggelengkan kepala dengan wajah memelas, ia sangat jijik dengan cairan kental itu. Namun Imron dan yang lain terus memaksanya membuatnya tak punya pilihan lain, ia pun mengendurkan mulutnya sehingga jari Imron yang berlumuran sperma dapat masuk. Cepat-cepat ditelannya cairan itu agar tak terlalu terasa dimulut.
“Iya gitu Bu…enak ga Bu pejunya?” tanya Encep.
“Aakkhhh…iii…iya, enak!” jawabnya disertai desahan karena Gufron terus menggenjotnya.
“Wahaha…hoi jing…denger ga tuh, pacar lu ternyata suka minum peju!” ejek Imron pada Ryan disusul gelak tawa yang lain.

Pemuda itu yang melihat kondisi pacarnya yang sudah sedemikian kacau semakin tak dapat menahan emosinya. Ia meronta sekuat tenaga namun ikatannya terlalu kuat sehingga ia tetap tak bisa melepaskan diri, malah pergelangan tangannya yang terasa sakit karena terus memberontak. Mulutnya menggumam tak jelas yang agaknya berisi makian. Mereka menyorakinya setiap kali Marina melahap sperma yang disuapkan oleh Imron padanya. Lama-lama ia pun mulai terbiasa dengan rasanya, demi pacarnya ia rela menahan rasa jijik dan penghinaan ini.
“Hiya…telen terus, sehat itu Bu!” kata Kahar.
“Hhhuuhh…oohhh…ngentot…enaknya!!” tiba-tiba terdengar Gufron mengerang semakin tak karuan, nampaknya ia akan segera orgasme, “Uuu….uuhhh…yaahh….keluar Buuu!!” tukang tambal ban setengah baya itu pun menancapkan penisnya dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana, matanya membelakak menikmati klimaks yang luar biasa itu.
Giliran ketiga segera diambil oleh Kahar yang sejak tadi memaksa Marina mengocok penisnya. Satpam kekar itu membalikkan tubuh Marina dan mengangkat pinggulnya sehingga dosen cantik itu bertumpu dengan kedua lutut dan sikunya.
“Ayo Bu…emut yang saya!” tiba-tiba sebatang penis yang menegang ditodongkan di depan wajahnya.
Marina mengangkat wajahnya melihat Encep yang menyeringai sambil mengarahkan penis itu ke wajahnya. Dengan pasrah ia menuruti saja perintah satpam itu ketika ia menyuruhnya membuka mulut.
“Eemmhh…yeah…udah pinter ya Ibu nyepongnya uuuhhh…mantep!” Encep mengerang-ngerang menikmati servis oral Marina.

Pada saat yang sama, Kahar sedang melesakkan penisnya ke vagina Marina. Ukuran penisnya yang besar terasa sangat sesak pada vagina Marina yang baru saja diperawani sehingga tidak heran mata wanita itu membeliak-beliak dan mulutnya mengeluarkan erangan-erangan tertahan karena menahan sakit proses penetrasi itu.
“Sedap kan Har?” tanya Imron sambil meremasi payudara kanan Marina yang menggelantung.
“Sama perawan ayu gini emang beda sedapnya…masih sempit banget memeknya!” jawab Kahar.
“Pantatnya juga gua suka...padat gini liat!” sahut Gufron yang sedang beristrirahat sambil mengelusi pantat Marina yang membulat sempurna dan kencang itu.
Kahar semakin cepat memompa vagina Marina dengan penisnya membuat tubuh wanita itu tersentak-sentak keras. Encep yang penisnya sedang dikulum Marina pun terpaksa mengalah karena tidak ingin penisnya tergigit dan ia juga agak kasihan melihat Marina yang nampak kewalahan.
“Aahh…aahh!” Marina menceracau tak terkendali, tangannya mengocoki penis Encep semakin cepat.
Setiap mata melotot dan terangsang hebat melihat bagaimana seorang pria setengah baya bertampang sangar menyetubuhi seorang wanita muda yang sangat cantik dan terpelajar, termasuk juga Ryan yang juga ikut terangsang melihat adegan perkosaan atas kekasihnya itu walau bercampur dengan kemarahan dan kesedihan. Marina merasakan penis besar Kahar memenuhi liang senggamanya serta menjelajahi bagian dalamnya tanpa ada yang terlewat. ‘Plok…plok…plok!’ suara benturan pantat Marina dengan selangkangan Kahar memenuhi gubuk kecil itu. Akhirnya Marina harus takluk pada orgasme yang kembali melandanya. Mulutnya mengeluarkan erangan nikmat tanpa tertahankan ketika mencapai klimaks, tubuhnya yang dikerubuti keempat pria itu berkelejotan melepaskan kenikmatan yang luar biasa. Jamahan tangan-tangan kasar itu juga jilatan mereka pada tubuhnya makin menambah kenikmatan di puncak birahinya.

“Ohh…tidak kenapa aku malah menikmatinya?” keluh Marina dalam hati, “tapi…tapi…nggak bisa!”
Dosen cantik itu semakin tak sanggup mengendalikan diri, ia turut menggoyangkan tubuhnya mencari kenikmatannya. Tanpa perlu disuruh atau diarahkan ia mengocoki penis di genggamannya dan sesekali memasukkannya ke mulut. Tak lama setelahnya, Kahar pun tak tahan dengan himpitan kerasa vagina yang baru diperawani itu. Penisnya menyemburkan banyak cairan sperma ke dalam rahim wanita itu. Marina merasakan rahimnya sudah begitu penuh dengan sperma, yang meleleh di sela-sela vaginanya pun cukup banyak.
“Whhuah…bener-bener yahud memek bu dosen ini, siapa nih mau nyicipin…legit banget coy!” celotehnya mengomentari persetubuhannya barusan.
Setelah si satpam berkumis itu mencabut penisnya, bawahannya, si Encep yang sejak tadi menunggu buru-buru meminta jatahnya. Ia segera menaikkan tubuh Marina yang masih lemas ke pangkuannya dengan posisi memunggungi, dipeluknya dan dirasakan kehangatannya.
“Hehehe…emang sip tuh pacarlu…memeknya bikin gua ketagihan!” ejek Imron sambil menjenggut rambut Ryan.
“Jangan…jangan sakiti dia lagi Pak!” Marina memelas melihat perlakuan Imron itu.
Dosen cantik itu meronta dan melepaskan diri dari dekapan Encep lalu menghambur ke arah Imron. Tanpa menghiraukan rasa malu, ia memeluk Imron dan menciumi bibirnya agar pria itu tidak menyiksa kekasihnya lagi. Kontan adegan itu pun disoraki oleh yang yang lain.

“Wuhui…tuh liat pacarlu yang mau loh, dia emang gatel pengen dientot tapi sayang lu pecundang, ga bisa muasin dia hahaha!” sahut Encep.
Betapa panas hati Ryan melihat kekasihnya bercumbu panas dengan pria lain tepat di depan wajahnya sendiri. Ketika Encep menghampiri dan mendekapnya dari belakang Marina bahkan menengok dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu sementara tangan satunya meraih penisnya. Ia melakukan semua ini agar mereka tidak lagi menyiksa kekasihnya, keadaan memaksanya memberanikan diri bertingkah binal agar perhatian mereka lebih kepada dirinya.
“Eemmmhh…Pak!” erangnya merasakan sapuan lidah Encep telak pada leher naik ke telinganya dan elusan tangan pria itu pada vaginanya.
Imron pun tak tinggal diam, tangannya meremasi payudara wanita itu seakan memamerkannya pada Ryan yang terikat tak berdaya. Tak lama kemudian Encep menjatuhkan diri pada sebuah bangku kayu sehingga otomatis Marina yang sedang didekapnya pun naik ke pangkuannya.
“Masukin Bu!” perintahnya dekat kuping Marina.
Tanpa diperintah lagi, Marina segera meraih penis Encep yang telah menegang dan mengarahkan ke vaginanya.
“Aakkhh!” erang Marina karena penis itu mulai menusuk dan membelah liang vaginanya.
Tanpa terasa ia menggeliat keenakan seiring semakin melesaknya penis itu.
“Hhhmm…enak kan Bu?” goda Encep.
“Iyahh…Pak!” jawab Marina yang nafasnya semakin memburu karena gairahnya mulai bangkit kembali.

Marina semakin tak kuasa menahan erangannya ketika Encep menyentakkan tubuh sehingga penisnya mengaduk-aduk dinding vaginanya. Tubuhnya terlonjak-lonjak mengikuti irama sentakan pria itu. Imron mendekati Marina yang sedang naik turun di pangkuan Encep dan menempelkan kepala penisnya di mulut wanita itu yang pasrah membiarkan mulutnya dijejali benda itu. Gufron dan Kahar yang baru memulihkan tenaga pun turut mendekatinya. Kini Marina kembali dikerubuti pria-pria bejat yang bernafsu melahapnya. Tubuhnya mulai bergetar karena rangsangan bertubi-tubi pada sekujur tubuhnya. Cret…cret…penis Gufron yang sedang dikocok dengan tangannya, memuntahkan sperma yang membasahi wajahnya, agaknya tukang tambal ban setengah baya itu memang tidak sanggup bertahan lama dalam seks. Selama beberapa saat lamanya Encep menyetubuhinya dengan gaya berpangkuan hingga akhirnya klimaks. Imron dan Kahar membawa tubuh Marina kembali ke dipan. Sebelumnya si satpam berwajah sangar itu berbaring di atasnya baru menaikkan tubuh wanita itu ke atas badannya.
“Sekarang kita coba dua lubang Bu!” kata Imron dari belakang.
“Jangan Pak…jangan lewat situ….ahhhkk…aahhh…sakit!” erang Marina merasakan penis Imron melesak ke duburnya.
Sementara di bawahnya penis Kahar juga membelah bibir vaginanya dan menerobos masuk ke dalamnya. Air matanya meleleh menahan sakit pada kedua lubangnya. Setelah memberi waktu sejenak untuk beradaptasi keduanya mulai menggenjotnya. Kedua penis itu keluar masuk vagina dan duburnya seperti mesin pompa. Rasa sakit bercampur nikmat membuatnya mendesah tak karuan. Arus kenikmatan ini kembali menyeretnya sehingga Marina pun mulai menikmatinya.

Keempat pria tak bermoral itu terus menggarapnya selama beberapa waktu ke depan, ludah mereka belepotan di sekujur tubuhnya yang mulus, sperma mereka terciprat baik di dalam maupun di tubuhnya. Imron merekam beberapa adegan perkosaan itu dengan ponselnya, mereka bersorak seperti menonton pertandingan setiap kali temannya menggarap hingga mencapai klimaks. Setelah puas melampiaskan nafsu binatangnya mereka meninggalkan tubuh telanjangnya yang awut-awutan di atas dipan. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, rambutnya sudah berantakan dan nampak sperma meleleh dari vagina dan anusnya. Keempat pria bejat itu mulai berpakaian, ada juga yang minum dan mengisap rokok. Dari mulut mereka mengalir komentar-komentar tentang persetubuhan tadi yang mungkin lebih tepat disebut perkosaan.
“Oke, sekarang seperti yang sudah kita janjikan, kalian boleh pulang, tapi awas jangan macam-macam, ingat gua udah ngerekam yang tadi itu disini” ancam Imron menunjukan ponsel berkameranya lalu melepaskan penutup mulut pemuda itu.
“Bangsat!!” maki Ryan begitu mulutnya terlepas.
“Ryan…Ryan udah…sudahlah…yang penting kita selamat!” Marina tanpa mempedulikan kondisinya yang masih lemas dan belum berpakaian menghampiri kekasihnya dan mendekapnya seolah melindunginya kalau-kalau mereka menghajarnya lagi.
Ia terisak-isak memeluk pemuda itu dan memohon pada mereka agar melepaskannya.
“Baik…Ibu boleh pulang sekarang dan bawa pecundang itu, mending Ibu cepat berpakaian sebelum kita nafsuan lagi hehehe!” kata Imron
“Rekaman itu Pak…tolong…!” Marina memelas dengan suara lirih.
“Minggu depan saya hapus di depan Ibu, soalnya seminggu ini saya masih pengen nyicipin Ibu” jawab Imron santai.
“Apa…hhhrrhh!” Ryan sangat geram mendengarnya namun segera dicegah Marina agar tidak bertindak gegabah.

Marina pun sebenarnya amat marah dengan permintaan yang keterlaluan itu, ia mengepalkan tangan kuat-kuat dan matanya memandangi keempat pemerkosanya itu dengan penuh kebencian. Namun, demi kekasihnya, ia dapat segera menguasai diri dan menyanggupinya dengan berat hati. Setelah berpakaian, Marina membebaskan Ryan dari ikatannya.
“Ryan…kamu…kamu gak apa-apa kan?” tanyanya gugup karena ia masih ingat bagaimana ia telah bersikap binal bak pelacur di hadapan pemuda itu.
Ryan hanya menggelengkan kepala menjawabnya. Dengan langkah tertatih-tatih mereka pun angkat kaki dari gubuk si tukang tambal ban diiringi ejekan para bajingan itu. Saat itu langit sudah gelap, mereka naik ke mobil yang telah diperbaiki dan segera tancap gas. Sepanjang perjalanan keduanya membisu dan tidak berani melihat wajah masing-masing, Marina masih terisak meratapi dirinya.
“Gua tau…gua udah gak pantes lagi buat lu, gua udah terlalu kotor!” ucap Marina dengan suara bergetar, “kalau lu mutusin gua, gua juga udah pasrah”
Ryan tidak menjawab selama beberapa detik, lalu tangannya menggenggam tangan kekasihnya.
“Mar…jangan omong gitu, ini semua emang salah gua sampai lu harus berkorban kaya gini…gua…gua masih pengen sama lu!” jawab pemuda itu, ia juga tak bisa menahan air matanya menetes.
Ryan lalu menepikan mobil yang dikemudikannya dan langsung memeluk Marina. Keduanya berpelukan erat sambil menangis.
“Gua masih harus jadi budak seks…apa lu masih mau nerima gua Ryan?” tanya Marina dalam pelukan pemuda itu.
“Gua terima Mar…gua gak akan ninggalin lu sampai kapanpun” jawab Ryan mengelus rambut Marina.
Ucapan pemuda itu sungguh bagaikan seteguk air di tengah gurun pasir yang memberinya kesejukan dan harapan. Marina lalu mengutarakan rencananya untuk berhenti mengajar di universitas tempatnya bekerja setelah Imron menghapus rekamannya nanti.

Hari-hari ke depan, Marina masih harus melayani Imron dimanapun dan kapanpun diminta. Tak jarang Kahar dan Encep si satpam kampus pun meminta jatah. Perbuatan terkutuk itu biasa terjadi di toilet kampus, gudang, kelas kosong dan lain-lain. Bahkan pernah ketika Ryan menelepon Marina melalui ponselnya diterima oleh Imron yang saat itu sedang menyetubuhinya di toilet.
“Hahaha…halo, nyari pacarlu yah…sori bentar ya, lagi gua pake nih!” ejek Imron dengan penuh kemenangan.
“Lu emang bangsat…hati-hati lu nanti!” balas Ryan lalu memutus hubungan dengan marah.
Tanpa terasa seminggu telah berlalu namun Imron masih belum menghapus rekaman itu dan melepaskan Marina seperti janjinya dulu. Ia masih menunda-nunda dan tetap memakai Marina sebagai pemuas nafsunya. Sementara itu Ryan mulai bersikap dingin dan sulit dihubungi oleh Marina. Beberapa kali ia menghubungi Ryan, namun seringkali telepon tak diangkat atau SMS tak dibalas, kalaupun dibalas hanya berisi jawaban singkat alakadarnya saja. Hingga akhirnya 12 hari setelah perkosaan yang menimpanya, ketika Marina sedang berbelanja di mall sendirian, ia melihat sebuah pemandangan yang membuat hatinya serasa diiris-iris, ia tidak ingin percaya pada pandangannya, namun itu semua nyata. Dilihatnya di sebuah meja food court, Ryan sedang berduaan dengan seorang gadis lain. Mereka terlihat sedang makan dan ngobrol mesra, sesekali Ryan menyuapi makanannya pada gadis itu dan memegang tangannya. Dengan hati hancur ia menghampiri keduanya.

Ryan begitu gugup dan salah tingkah melihat Marina berdiri di samping mejanya, wajahnya menunjukkan kekecewaan dan kesedihan yang amat dalam.
“Lu…lu bener-bener keterlaluan…kenapa lu ga putusin gua dari waktu itu aja?” katanya dengan suara bergetar.
“Ehh…Mar…gua…gua bisa jelasin ini” kata Ryan terbata-bata.
“Cukup…gua ga butuh penjelasan!” Marina begitu emosi sampai tak tahan untuk tak menjerit sehingga mengundang perhatian orang sekitarnya.
Sebelum Ryan berkata lebih lanjut ia langsung membalikan badan dan pergi dari tempat itu dengan menyentakkan kaki. Para pengunjung berkasak-kusuk melihat kejadian itu sehingga Ryan merasa tidak nyaman di tempat itu. Tanpa menghabiskan makannya ia segera beranjak bersama gadis itu. Marina pulang dengan hati hancur, pemuda yang dicintainya hingga demi dirinya ia rela berkorban sedemikian besar itu ternyata hanya bisa memberi harapan palsu padanya. Kalau saja hari itu Ryan memutuskannya lukanya tidak akan sedalam sekarang. Kini ia merasa dunia sepertinya sudah hancur, direnggut paksa keperawanannya lalu dikhianati oleh orang yang dicintainya. Pengorbanannya sungguh merupakan kesia-siaan terbesar dalam hidupnya. Sebuah puisi klasik memberi sindiran pada orang-orang seperti Ryan,

Melihat kematian tuannya,
kuda Raja Chu* melompat ke Sungai Wu.
Tak rela melayani musuh,
Si Rambut Merah** memilih mati kelaparan.
Kalau binatang saja memiliki kesetiaan,
betapa rendah mereka yang tak tahu balas budi

Sejak itu Ryan tidak pernah menghubunginya lagi, bahkan SMS atau telepon permintaan maaf pun tidak pernah ada. Tanpa sadar ia kini mulai menikmati tugasnya sebagai budak seks. Sakit hati dan frustasinya mendapat tempat pelarian melalui kepuasan terlarang bersama Imron dan kroni-kroninya. Ia semakin tidak ragu-ragu atau terpaksa lagi melayani nafsu setan mereka, ia tidak pernah lagi mengungkit-ungkit janji Imron menghilangkan rekaman perkosaannya. Wanita cantik dan terpelajar itu kini telah menjadi budak seks Imron cs. walaupun dalam kesehariannya ia terlihat tanpa cela.

Keterangan:
* Raja Chu adalah gelar Xiang Yu (232-202 SM), seorang panglima perang pemberontak pada akhir Dinasti Qin. Setelah kalah dalam pertempuran terakhirnya ia terdesak hingga ke pinggir sungai. Seorang tukang perahu menawarkan jasa untuk melarikan diri dengan menyeberangi sungai. Namun ia bertekad untuk bertempur hingga akhir daripada kembali ke kampung halaman sebagai pecundang. Ia hanya menyerahkan kudanya yang telah menemaninya berperang selama bertahun-tahun pada si tukang perahu dan meminta agar merawatnya dengan baik. Musuh-musuh Xiang menyusulnya ke tepi sungai itu dan mengepungnya, di tengah keterpojokannya, ia menggorok lehernya dengan pedangnya sendiri. Saat itu perahu yang membawa kudanya telah di tengah sungai dan kuda itu melompat ke air dan mati tenggelam menyusul tuannya.

** Si Rambut Merah adalah nama kuda kesayangan Guan Yu, jenderal legendaris Zaman Tiga Negara. Setelah Guan Yu kalah dalam sebuah pertempuran dan dihukum mati Sun Quan,  raja Wu Timur, ia diserahkan pada Ma Zhong, salah seorang jenderal Wu, sebagai hadiah. Namun, di tempatnya yang baru kuda itu tidak mau makan maupun minum hingga akhirnya mati kelaparan tak lama kemudian.