The Odd Triangle

Sabrina Yuzuki

Sayup-sayup terdengar suara rintihan seorang wanita dari balik salah satu pintu di koridor panjang yang remang-remang itu. Sabrina Yuzuki memperlambat langkahnya dan mencoba mendengar lebih jauh. Sejenak ia terbayang akan hantu-hantu dalam film horror Jepang tentang arwah wanita penasaran yang menuntut balas akan kematiannya. Namun jiwa ilmuwannya membuat wanita berusia 28 tahun itu justru makin ingin tahu. Ia menarik sebuah kursi yang terletak di samping pintu bertuliskan nama “Associate Professor Jayne Lee” itu, dan berdiri di atasnya. Pintu itu memiliki lubang angin di atasnya, namun sejak ruangan di dalamnya dipasangi AC, lubang angin itu ditutup kaca, dan dari situlah Sabrina mengintip. Ia belum menyadari bahwa apa yang akan diintipnya segera membuat kehidupannya berubah.

#######################################


Sabrina Yuzuki tergolong seseorang yang cukup beruntung. Wanita jangkung berusia 28 tahun berdarah campuran Jepang-Inggris dan berkewarganegaraan Indonesia itu memang memiliki minat yang cukup mendalam di bidangnya, psikoanalisis, sehingga ia menyambut baik tawaran dari universitas ternama di Malaysia. Betapa tidak, ia akan mendapat bayaran untuk melakukan sesuatu yang memang diminatinya, dan di akhir kontrak sepanjang tiga tahun itu ia akan mendapat gelar PhD. Meski demikian, sebagai orang Indonesia, ia memiliki perasaan kurang simpatik terhadap negara Malaysia, dan selama ini ia lebih memilih untuk hanya bergaul dengan sesama expat, dan sedikit warga Malaysia yang menurutnya ‘memenuhi syarat’ untuk diajak bergaul.
“I’m home.” Ujarnya sambil menutup pintu rumahnya.

Rumah yang menjadi bagian sebuah kondominium itu disewanya secara patungan dengan dua orang mahasiswa internasional dari universitas yang sama.
“Welcome.” Seorang wanita bertubuh langsing dan mungil muncul dari balik salah satu pintu kamar dan menyambut Sabrina. “Did you buy anything for dinner, Brina?” tanyanya dengan penuh harap.
“Not really.” Sabrina menjawab sambil melepaskan sandal Crocs yang dipakainya dan menatanya di rak sepatu. “But I’ve called Domino’s Pizza and ordered something for us tonight.”
“Cool!” Gadis bertubuh kecil itu melangkah ke kulkas dan meraih tiga kaleng Calsberg.

Saori Shimada, nama wanita itu, adalah seorang mahasiswi S1 di bidang Teknologi pendidikan. Sifatnya yang kekanakan dan murah senyum memang mudah membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama, didukung dengan wajahnya yang manis dan tubuh yang tergolong indah meski berukuran kecil. Berbeda dengan Saori, Sabrina mewarisi ukuran tubuh ayahnya yang berasal dari London. Dengan tinggi sekitar 175cm, wanita itu memang tergolong jangkung. Ia beruntung juga karena mewarisi warna kulit dan struktur tulang ibunya yang berasal dari Jepang, ramping, langsing, dan nyaris tanpa lemak. Bahkan dada dan pinggulnya pun berukuran sedang. Rambutnya yang lurus dan panjang sebahu itu memiliki warna alami cokelat, membingkai wajah cantiknya yang menunjukkan campuran Eropa-Asia; berkulit kuning, mata bulat kecil, dan hidung mancung serta bibir merah jambu yang tipis segaris.

“I’ll take a shower, please use the cash from the envelope to pay for the pizza.” Sabrina melepaskan T-shirt Escada yang dikenakannya dan berjalan masuk ke kamar tidurnya.
“Woohoo... I love that body.” Seorang gadis berwajah Eropa yang baru muncul dari ruang dapur mengomentari keindahan tubuh Sabrina yang kini hanya terbalut bra dan jeans.
Damiana Sanchez, gadis Spanyol berusia 26 tahun itu adalah seorang mahasiswi S2 di bidang kriminologi. Tubuhnya berukuran sedang, namun berotot liat dan atletis. Rambutnya yang pirang dipotong pendek menyerupai pria, sesuai dengan gerak tubuh dan perilakunya yang memang kepria-priaan. Sesuai dengan sifat tomboy-nya, gadis itu memiliki garis wajah yang tegas, namun mata biru, hidung mancung, dan bibir indahnya masih memancarkan pesona kecantikan. Namun demikian, tidak banyak pria yang berhasil berkencan dengannya, karena ia seorang pencinta sesama. Baginya, tinggal di sebuah kondo bersama dua orang wanita bertubuh dan berwajah sempurna memang bagaikan tinggal di surga.
“Gila!” Pikir Sabrina sambil menghempaskan tubuh jangkungnya di atas springbed.

Ia terpejam dan mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja diintipnya di salah satu pintu di kantornya... Ia melihat professor Jayne Lee, seorang wanita berusia kurang dari 40 tahun yang berprestasi amat brilyan hingga dua minggu lalu dilantik sebagai professor di fakultasnya. Dari lubang angin tertutup kaca itu ia melihat sang professor sedang duduk di kursi kerjanya dengan kemeja dan rok tersingkap kesana kemari... dengan satu tangan meremas payudara sendiri serta tangan yang lain terselip di balik celana dalam. Bukan hanya itu yang membuat Sabrina terkejut. Ia ingat dengan jelas bahwa di layar monitor PC professor Lee tampak slide-show powerpoint yang menayangkan foto-foto seorang wanita yang amat dikenalnya... yaitu dirinya sendiri! Sabrina membuka mata menatap langit-langit kamarnya,

“Professor Lee bermasturbasi sambil menatap foto-fotoku!” pikirnya.

Ia mengingat jelas bahwa foto-foto dirinya dalam slide-show itu diambil secara candid... foto saat ia melakukan presentasi di sebuah conference, foto saat ia sedang berjalan, foto saat ia sedang mewawancarai seorang klien, bahkan foto saat ia bercucuran keringat dengan wajah amat sensual dan mengenakan pakaian senam yang mungkin diambil ketika ia sedang melakukan olahraga rutin di gym universitas.

Apa aku harus bangga? Atau kuatir”

Sambil mencoba melupakan apa yang terjadi, ia membasahi tubuhnya dengan air dari shower di kamar mandinya. Di kondo itu, ia menempati ruang tidur utama, dengan kamar mandi di dalam, sementara Damiana dan Saori menempati kamar yang lebih kecil dengan kamar mandi di luar.

Sabun organik yang digunakannya terasa menyentuh tubuhnya secara berbeda... terasa seperti belaian hangat seseorang... Ngghh... Ia merintih kecil saat ia menyentuhkan sabun bertekstur kasar itu pada puting susunya. Nikmat sekali.. . Bagian itu memang bagian tubuhnya yang paling sensitif, sedikit sentuhan sudah membuat kedua tonjolan kecil berwarna merah jambu itu mengencang. Terbayang olehnya tubuh professor Jayne Lee yang ramping namun memiliki sepasang payudara yang penuh dan padat... terbayang juga geliatan tubuh sang professor serta mimik wajahnya yang mirip orang kesakitan namun justru menahan nikmat. Wajah cantik si professor saat itu sedang dibasahi butir-butir keringat dan berkonsentrasi penuh memandang monitor yang menayangkan foto-foto Sabrina.
“Ahh, stop it, Brina!” Sabrina berhenti merangsang dirinya sendiri dan melanjutkan mandi.

Namun demikian, kedua puting susunya masih mengacung tegang, menandakan sebuah rangsangan yang terhenti dan belum tertuntaskan. Kedua tonjolan kecil itu tercetak dengan jelas di kaos putih yang dikenakannya sehabis mandi.
“We left your part on the table.” Ujar Damiana saat Sabrina keluar dari kamarnya.
“Damiana, you will love what you’re gonna see!” Saori terdengar menggoda sambil menunjuk ke arah Sabrina yang sedang berjalan ke meja makan.
“The legs?” Damiana mengkonfirmasi, “Yeah, I love those pair of smooth things.”
“No... look at the tits!” Saori makin menjadi-jadi, “She got a hard on!”
“Here!” Dengan agak jengkel Sabrina membusungkan dada dan memamerkannya pada Damiana yang sedang duduk di sofa menghadap ke televisi. Dari balik kaos putih yang dikenakan Sabrina, tampak dua buah tonjolan mungil tercetak keluar di atas sepasang payudara berukuran sedang, “Have a clear look!”
“Hmm...” Damiana mengangkat alis kiri sambil bergaya menganalisis, “Somebody was lucky, eh?” Wanita Spanyol itu berdiri dan melangkah mendekat, “I wish I can do the follow-up... hahaha.”
“I’ll have my dinner first.” Jawab Sabrina sambil duduk di atas meja dan meraih selembar pizza dan menggigitnya. “Actually... I saw something before I got home.”
“You saw something that gave you a hard on?” Saori mengkonfirmasi dan segera bergabung dengan kedua roommatesnya di meja makan.
“Well... something like that.” Ujar Sabrina sambil membuka kaleng Calsberg dengan satu tangan, “Do you know Professor Jayne Lee, Saori?”
“Was she the lucky one?” Tanya Saori yang satu fakultas dengan Sabrina, hingga ia mengenal betul siapa professor Jayne Lee. Profesor muda itu memang menjadi idola mahasiswa pria S1 karena kecantikan dan keindahan tubuhnya, dan menjadi idola mahasiswi S1 karena mudah bergaul meski cerdas dan disiplin.

“Did she suck those tits?” Saori membumbui situasi sambil melirik ke arah Damiana yang tampak bersemangat memandangi payudara Sabrina.
“She wished.” Jawab Sabrina sambil duduk bersandar di kursi makan, membuat kedua tonjolan di dadanya kian terekspos, memanjakan mata Damiana yang terus menatapnya.
“OK, details please...” Damiana akhirnya tak tahan untuk mendengar cerita selengkapnya. “I’ll take the story to my dream tonite!”
Sabrina menceritakan apa yang baru saja diintipnya pada kedua teman serumahnya; bagaimana ia mengintip, bagaimana ia melihat pose si professor sedang bermasturbasi, sampai ke apa yang dilihatnya di layar monitor si professor. Juga tentang apa yang dirasakannya saat mandi, yang membuatnya cukup terangsang.
“Wait a second...” Damiana memotong cerita Sabrina, “So... are you a lezbo?”
“You wished!” Saori menampar bahu Damiana secara bercanda.

Kedua gadis itu tertawa-tawa sambil berpelukan. Sabrina tahu bahwa kedua roommate nya memang seringkali melakukan makeout satu sama lain, juga sesekali bercinta di ruang tamu atau kamar mandi, meski Saori bukan benar-benar lesbian, gadis Jepang itu tidak keberatan untuk bereksperimen dengan Damiana yang memang seorang lesbian.
“Well...” Sabrina terdengar ragu untuk sesaat, “I can go with girls too.” Lanjutnya. Damn! Apa yang kulakukan? Kenapa aku harus bercerita pada dua roommate-ku? Ia agak menyesal telah menceritakan tentang rahasia pribadinya, bahwa ia juga memiliki ‘crush’ pada wanita, meski pada dasarnya ia lebih menyukai membina hubungan dengan pria.
Kalimatnya membuat Saori dan Damiana berhenti tertawa dan ternganga untuk sesaat. Dalam otak Damiana, langsung terbayang bagaimana nikmatnya bergumul dengan tubuh jangkung Sabrina yang maha-indah itu... Sementara di kepala Saori, terbayang sensasi sebuah pesta seks di mana ia terbaring pasrah dan kedua roommate-nya itu sama-sama menggeluti badannya yang mungil.
“You gals are thinking about fucking me, arent cha?” Sabrina menatap kedua roommate-nya yang lebih muda itu dengan tatapan tajam, meski ia gagal menghentikan pesona natural dari kecantikan wajahnya itu.
Saori dan Damiana berpandangan, lalu kembali menatap Sabrina. “Well... at least we can give it a shot.” Usul Damiana sambil mengerdipkan mata kanannya.
“Yeah! Why not?” Saori menambahkan, “We have known each other for so long... so... well...”
“So what?” Sabrina tersenyum sambil pura-pura membentak, “So we can do the gangbang?”
Saori dan Damiana mengangguk-angguk dengan wajah gembira sambil menatap rekan seniornya itu.

Sabrina tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Beberapa menit kemudian, tubuhnya telah menelentang di atas karpet ruang tamu tanpa tertutup apa-apa. Di atas kedua payudaranya yang telanjang itu, mulut-mulut Saori dan Damiana mengulum kedua puting susunya. Nghh... Sabrina memejamkan mata dan menikmati rangsangan dari kedua roommate-nya. Biasanya, kedua gadis itu memperlakukannya dengan penuh respek, namun kali ini mereka seperti menganggapnya boneka pelampiasan nafsu.

Who cares?” Pikirnya, “I’m hot and I wanna cum tonite!”
“Uhkkk...” Sebuah erangan lirih akhirnya muncul dari bibir tipis Sabrina.

Damiana dan Saori dengan girang menatap ekspresinya. Tangan-tangan Sabrina bergerak menggerayangi tubuh kedua roommate-nya yang juga telanjang itu. Kulit putih mulus Saori dan kulit putih bersemu pink milik Damiana terasa begitu halus dan kontras, karena Saori memiliki tubuh lembut dan mungil sementara Damiana memiliki tubuh atletis dan berotot sedikit lebih keras daripada tubuh Sabrina yang memiliki six-pack samar di perutnya. Kini Saori memilin-milin kedua puting susu Sabrina yang sensitif dan telah mengencang itu sambil menjilati lehernya yang jenjang.

“Oooh, Brinaa... you are damn beautiful... like an angel!” Rayu gadis Jepang itu sambil menjilati tulang rahang Sabrina yang kini terpejam-pejam menahan nikmat.
Damiana membenamkan wajahnya di antara kedua paha Sabrina yang terkangkang lebar. Lidahnya yang ‘berpengalaman’ itu menjilati tempat yang tepat seputar bibir vagina Sabrina, membuat pemiliknya makin terangsang dan menggeliat-geliat. Bermenit-menit lamanya kedua gadis itu merangsang Sabrina. Sabrina merasakan tubuhnya melayang-layang dibuai kenikmatan. Di otaknya, terbayang professor Jayne Lee.

Inilah yang dirasakannya saat menyentuh dirinya sendiri”, pikir Sabrina. “Begitu nikmat dan menghanyutkan”.

Wanita itu memekik tertahan saat Damiana memasukkan jari ke dalam vaginanya.
“Ahkkk... Ohhh...” Sabrina mengerang-ngerang saat jemari Damiana bermain dengan lincah dalam tubuhnya dan mulut Saori dengan rakus mengisap-isap puting susunya. Kenikmatan terasa membelai sekujur tubuhnya. Ia menggelinjang-gelinjang tanpa arti karena Saori menindih tubuhnya. Akhirnya Sabrina pasrah, membiarkan kedua roommates nya mengantarnya ke puncak kenikmatan.

“I-I’m gonna... I’m gonna cumm...” Sabrina mendesah-desah dengan tubuh mengejang-ngejang.

Kedua gadis itu kian bersemangat merangsangnya... Ia mencoba bertahan... namun sesuatu terasa merenggut energinya, meledak dalam dirinya. Membuat tubuh indahnya mengejang keras sebelum akhirnya terkulai bermandikan keringat. Damiana dan Saori menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah ‘korban’ mereka. Tubuh telanjang Sabrina tergolek terengah-engah di atas karpet. Warna kulitnya yang putih bersih terlihat kontras di atas karpet berwarna biru tua itu. Kedua payudara dengan puting-puting kemerahan yang masih mencuat keras itu terlihat naik turun seiring nafasnya yang terengah-engah.
“Is she...still alive?” Tanya Saori sambil sesekali menyipit karena kini Damiana sedang meremas-remas kedua payudaranya dari belakang.
“She’s fine.” Jawab Damiana sambil terus meremas-remas payudara Saori dan menjilati tengkuknya,
“Maybe fainted, but she’s fine.”
“I’m not fainted.” Sabrina membuka mata dengan sayu. “It took a man to knock me out... but you gals knocked me down... that was great.”
“Oh, beautiful.” Komentar Damiana sambil terus merangsang Saori, yang kini tak lagi mampu berkomentar karena mengerang-ngerang keenakan.

Tangan kanan Damiana meremas salah satu payudaranya sementara tangan kiri gadis Spanyol itu ‘menjajah’ vaginanya, membuat cairan dari dalamnya terciprat-ciprat keluar membasahi karpet. Sabrina memiringkan tubuhnya memandangi Saori yang tengah menjadi ‘korban’ pelampiasan nafsu Damiana.

Kedua anak ini baru saja meniduriku”. Pikirnya. “There goes my virginity in this fuckin’ country”.

Ia tersenyum dan menonton adegan demi adegan berlalu, hingga ketiganya terlelap telanjang di atas karpet sampai keesokan harinya.

########################

Tatapan iri dan ucapan selamat datang silih berganti usai Jayne Lee membawakan kuliah umum pertamanya sebagai seorang professor. Meski pada awalnya banyak yang meragukan dirinya, namun wanita itu berhasil membuktikan bahwa dia bukan orang sembarangan. Birokrasi rasis di negaranya tidak mampu menutup fakta bahwa ia memang berkemampuan jauh di atas rekan sejawatnya. Namun di tengah kesuksesan itu, Jayne Lee menyimpan sebuah rahasia; pertama, ia meragukan orientasi seksualnya, apakah ia lebih suka pada pria atau wanita, dan kedua, ia menyadari bahwa dirinya memiliki gejala ‘ingin mendominasi’ yang cukup parah . Itu sebabnya ia memiliki seorang psikolog pribadi, dan sebagai seseorang yang cenderung ingin mendominasi, ia memilih seorang doktor berprestasi cemerlang di bidang psikoanalisis yang juga seorang koleganya.

###########################
Jayne Lee

Kerja keras dan semangat tinggi membuat Jayne Lee berhasil meraih gelar professor penuh setelah memegang gelar associate professor selama hanya dua tahun. Di usianya yang baru 35 tahun, itu adalah hal yang luar biasa, meski ia harus memalsukan umurnya empat tahun lebih tua. Usai menyelesaikan studinya di Amerika, sebenarnya Jayne tidak ingin pulang ke Malaysia. Ia tahu bahwa hidup akan lebih sulit di negara asalnya itu. Apalagi rezim pemerintahan rasis yang sok religious itu terus menghambat sukses orang-orang dari ras non-melayu. Dengan kerja kerasnya, ia berhasil menduduki posisinya sekarang, dimana proyek riset berbiaya tinggi akan dengan mudah mengalir padanya. Sejak tiga tahun lalu, fakultasnya membiayai sejumlah mahasiswa asing berprestasi tinggi untuk melakukan penelitian dan mengangkat nama universitas. Sebagai seorang oportunis, Jayne Lee memilih untuk memanfaatkan situasi. Ia bekerja sama dalam sebuah riset dengan seorang mahasiswa asing asal Indonesia yang cerdas, pekerja keras, dan berpikir out-of-the-box. Mahasiswa itu menyelesaikan PhD dalam waktu singkat, dan kini bekerja di universitas itu sebagai seorang post-doctoral researcher. Hubungan profesional mereka lambat laun berubah menjadi persahabatan, dan Jayne menjadikan pria itu sebagai psikolog pribadi, tempat berkeluh kesah. Ego dalam diri Jayne membuatnya tidak memilih sembarang orang untuk itu, dan sosok Dr Deetou Prihad sangat tepat baginya. Beberapa bulan lalu, ia duduk di kantin dengan pria bertubuh raksasa itu sambil mengamati gelombang baru penerima beasiswa khusus.
“Whoa, that one looks great!” Ujar Deetou, warga Indonesia berdarah campuran Afro-Asia itu saat melihat seorang mahasiswi S3 baru bertubuh jangkung berparas sangat cantik.
“Wow... you’re damn rite!” Jayne menimpali.

Pria berkulit gelap itu mengetahui sisi pribadi Jayne yang masih bingung akan orientasi seksualnya, dan sebagai seorang doktor di bidang psikologi, Deetou berusaha membantunya menemukan jatidiri.
“I wish I could be her supervisor.” Tambah Jayne. Hingga aku bisa sesekali berkencan dengannya.
“Hehe... Are you set for a competition with me?” Canda Deetou sambil mencolek lengannya.
“I bet she’ll be scared of you!” Balas Jayne sambil menatap tubuh Deetou dari atas ke bawah.

Pria itu memang memilih binaraga sebagai aktivitas sampingan, dan itu terlihat dari ukuran otot-ototnya yang sangat mengintimidasi. Percakapan beberapa bulan lalu itu masih terngiang di telinga Jayne hingga sore ini. Dibukanya sebuah file Power Point pada desktop di PC nya, dan ia menikmati slide-show berisi foto-foto gadis pujaannya itu. Sabrina Yuzuki... nama itu terdengar eksotis di telinga Jayne. Ia berterimakasih atas kerjasama Deetou dalam mengumpulkan foto-foto wanita cantik itu. Ia tahu bahwa Deetou dan dirinya memiliki minat yang sama pada Dr Sabrina Yuzuki, seorang mahasiswi PhD yang sudah harus dipanggil doktor karena sudah menyelesaikan proposal.

Awalnya ia berencana untuk meninggalkan kantor, namun niatnya terhenti setelah ia menatap foto-foto Dr Yuzuki. Tanpa sadar, ia mulai menyentuh dirinya sendiri. Perlahan-lahan dibukanya kancing kemejanya satu per satu... dibayangkannya tangan Dr Yuzuki terselip ke balik bra dan meremas-remas payudara... Uhh... nikmat sekali... Ia terus merangsang diri sendiri sampai akhirnya ia tak tahan untuk tidak menjejalkan jari pada vaginanya. Untuk beberapa saat ia terlena dalam permainan pribadinya... sampai ia mendengar suara sesuatu di luar kantornya... suara sebuah benda berat digeser di atas lantai.
“Ahh... who cares! I am making love with Dr Yuzuki” ia melanjutkan fantasinya hingga beberapa menit kemudian ia mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.
Dengan buru-buru ia merapikan pakaian dan membereskan rambut panjangnya yang kusut masai tadi, dan melangkah ke pintu.
“Oh, Deetou... what’s up?” Ujarnya saat membuka pintu.

Beberapa tahun tinggal di Amerika membuat bahasa Inggrisnya sudah tidak lagi terdengar seperti orang Malaysia yang beraksen ngawur. Ia agak kaget mendapati tubuh besar Deetou berdiri di depan pintunya dengan wajah girang yang aneh.
“May I come in?” Deetou melirik ke kiri kanan seolah memastikan koridor kosong.
“Sure, please do.” Jayne mempersilakan kolega favoritnya untuk masuk.
“Whoaa... enjoying your quality time alone again?” Goda Deetou saat melihat ke layar monitor di PC Jayne yang masih menayangkan slide-show Sabrina Yuzuki.
Jayne menghela nafas, “Well... old habit of mine.” Desahnya, “I can’t stand her... I wanna know her! I wanna get to know her better... in a project, or a research, or even a date!” Cerocos Jayne kekanak-kanakan.
“Wow... are you hot now?” Deetou meraih bra yang masih tergeletak di atas meja sambil tersenyum.
“Naughty boy! Givvit to me!” Jayne berusaha meraih bra nya dari tangan Deetou yang dengan lincah melemparkannya ke kiri kanan.
“I can see your titties harden! Ooooh...” Goda Deetou sambil menatap ke arah kemeja tipis Jayne yang tak becus menutup kedua puting susu di baliknya.

“Yes, I am hot now.” Bisik Jayne sambil duduk di atas meja kerjanya, di hadapan Deetou yang duduk di kursi. “...and I’m still confused about my orientation.”
“Oh well, what can this psychoanalyst do for his best client?” Tanya Deetou bercanda sambil meletakkan tangan di paha Jayne.

Hubungan kedua orang itu memang tampak sudah cukup jauh, lebih jauh dari sekedar kolega. Jayne malah melepaskan kancing kemejanya satu per satu di depan Deetou.

I want an orgasm, and I want it now!” Pikir Jayne. “Deetou... do you remember that night in Shanghai?”
Deetou teringat saat ia dan Jayne ditugaskan untuk sebuah konferensi ilmiah di Shanghai tahun sebelumnya, saat ia masih berposisi sebagai mahasiswa S3, dan Jayne masih berposisi sebagai associate professor. Saat itu keduanya memilih untuk sedikit bermewah-mewah dan menggunakan budget dua kamar hotel standard untuk menyewa sebuah kamar suite... dan malam itu juga mereka mengumbar nafsu satu sama lain, bercinta habis-habisan selama dua malam... untuk kemudian menjalin hubungan persahabatan dan tidak lagi mengulanginya.

Ya, aku ingat malam itu... mau lagi?” Pikirnya.
Jayne melemparkan kemejanya ke lantai, membiarkan tubuhnya yang berkulit kuning cerah itu kini terpampang di depan Deetou. Ia memiliki perut dan pinggang yang ramping dan sepasang payudara yang sebenarnya tidak terlalu besar namun padat dan kenyal. Lehernya yang jenjang menyangga wajah cantik berhidung cukup mancung dan bermata bulat, berbeda dengan wajah wanita oriental lainnya. Rambutnya lurus dan panjang sebahu dicat coklat, menambah eksotis penampilannya.
“I’m not confused now, Doc.” Goda Jayne sambil meraih tangan Deetou dari pahanya, “I’m sure that I want a man... a big muscular Afro-Asian dude now.” Ia meletakkan tangan pria itu pada payudara kanannya dan sedikit menyipit merasakan hangatnya.

Deetou bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah pintu. Ia mematikan lampu hingga ruang kerja Jayne menjadi temaram, hanya diterangi oleh lampu koridor yang masuk dari lubang angin tertutup kaca di atas pintu.

Tidak ada lagi yang bisa mengintip kemari”, pikirnya. Karena beberapa menit sebelumnya ia memergoki seseorang berdiri di atas kursi dan mengintip ke dalam ruang kerja Jayne. Dan ia tahu betul siapa si pengintip!
Jayne tidak melawan ketika Deetou melepaskan rok dan celana dalamnya. Ia hanya mengerang saat Deetou dengan ringan mengangkat dan menyandarkan tubuhnya di dinding... Ia merintih saat ciuman pria itu menghujani lehernya... bahunya... dan bukit-bukit payudaranya.
“Ohh... Deetou... m-my nipples...” Pinta Jayne saat lidah Deetou melingkar-lingkar di payudaranya, tanpa menyentuh puting susu sedikitpun. “Don’t tease me... Ahkkk....”
Jayne mengelinjang sambil menjerit tertahan saat merasakan puting susunya tertangkap oleh mulut Deetou.

Ahh, enak sekali... aku tidak peduli pria atau wanita... yang jelas ini amat nikmat”, pikir Jayne sambil mengerang-ngerang.

Kedua puting susunya kini mengacung tinggi dan berada dalam jemari Deetou yang memilin-milin lembut. Kepribadian Jayne yang cenderung dominan membuatnya merasa ‘tak berdaya’ saat Deetou merengkuh tubuhnya dari belakang dan memainkan puting-puting susunya dengan jari. Perasaan tak berdaya itu terasa amat merangsangnya. Berada dalam dekapan tubuh raksasa itu dalam posisi membelakangi memang terasa amat menantang. Ia tak tahu kapan dan dimana rangsangan akan datang, ia hanya menerima, menerima, dan menerima rangsangan yang nikmat. Deetou menjilati tengkuk indah Jayne dari belakang sambil memilin-milin puting susu dan meremas payudaranya yang kenyal dan padat. Rintihan dan erangan pasrah sang professor membuat ego lelakinya melambung tinggi.



Aku sedang mendominasi sang professor!” Pikir Deetou dalam khayalnya.
Setiap pria memiliki hasrat tersembunyi untuk menaklukkan seorang wanita berkedudukan tinggi, dan saat ini Deetou sedang mendapatkannya. Ia merangsang Jayne habis-habisan hingga terengah-engah dan vaginanya melelehkan cairan hingga membasahi paha.
“Ohh... Deetou... f-fuck me now...” Bisik Jayne tak tahan akan rangsangan itu.

Vaginanya yang berdenyut membuatnya makin penasaran ingin mendapatkan sentuhan di ‘dalam sana’. Namun Deetou tak kunjung menyentuhnya... pria itu hanya merangsang leher, pinggang, punggung, dan payudaranya... dan itu sudah cukup untuk membuatnya kewalahan menahan datangnya orgasme.

Deetou

Deetou melepaskan tubuh Jayne sejenak untuk membuka pakaian. Dengan mata sayu dan penuh nafsu, Jayne menatap betapa tubuh raksasa itu tertimpa cahaya dari luar ruangan, membuat otot-ototnya yang besar dan nyaris sempurna itu tampak makin merangsang. Aku dikagumi oleh seorang alpha-male! Pikirnya. Sisi lelaki dalam jiwa Jayne membuatnya suka mendominasi pria maupun wanita yang terlihat superior, lebih kuat, atau lebih berprestasi. Kedua insan dalam ruangan itu memiliki penyakit psikologis yang sama... keduanya adalah Alpha-Male dan Alpha-Female, kepribadian yang selalu ingin mendominasi ‘mangsa’ yang lebih kuat. Jayne setengah berbaring di meja kerjanya sambil mengangkangkan kaki, membiarkan vaginanya yang telah basah dan berdenyut itu tertimpa cahaya dari luar, berkilat-kilat dengan indahnya, terbingkai oleh sepasang paha mulus yang jenjang dan berlumuran cairan dari kemaluannya.

“Fuck me... here and now...” Bisik Jayne.

“I’m fucking you, Jayne Lee...” Jawab Deetou sambil membimbing penisnya ke arah vagina sang professor. Otot-otot dadanya yang keras mendapat jilatan-jilatan rakus dari lidah Jayne yang sedang dipenuhi nafsu birahi. Jemari lentik Jayne meraba otot-otot eight-pack di perut Deetou, biceps dan triceps yang terpahat jelas, dan penis yang tampak gagah dan besar itu.

“Ouhggggg....” Jayne memekik sambil mendongakkan wajah yang terpejam dan gigi yang menggeretak serta bibir ternganga. Ekspresinya seperti sedang menahan rasa sakit, meski yang ditahannya adalah nikmat yang amat sangat. Vaginanya terasa penuh terjejali kejantanan Deetou, tekstur penis yang agak kasar itu menggerus dinding dalam liang kemaluannya yang telah licin oleh cairan pelumas. Semua logika lenyap dari kepala Jayne, ia menggerakkan tubuhnya dengan liar memburu puncak kenikmatan.

“You are fucking me, Doc! Ahkkk... Ohhggg...” Erang Jayne sambil menahan nikmat yang berlebihan pada vagina dan payudaranya yang tak henti-hentinya dirangsang oleh Deetou. “You are fucking me, Big Man! Yesss, you fell for me and fucking me now!” Suara hati Jayne melambungkan egonya, menambah kenikmatan.
Deetou membuka mata lebar-lebar sambil terus menyodok-nyodokkan penisnya serta memilin-milin puting susu Jayne yang makin membengkak. Ditatapnya tubuh langsing dan wajah cantik Jayne menggeliat-geliat keenakan dengan ekspresi tak berdaya menahan nikmat.



“Profesor muda yang cantik dan berprestasi ini sedang menggelepar pasrah... pada AKU! Ya, AKU membuatnya pasrah! Tak berdaya!” Ego Deetou berbisik membuatnya kian bergairah membuat Jayne ‘tersiksa’ oleh perbuatannya... “dan struktur tubuh Jayne begitu mirip dengan 'dia'..hanya sedikit lebih pendek.” Bisikan ego Deetou kembali muncul, mengingatkannya pada seorang wanita yang selama ini dikaguminya.
Meski Jayne berusaha bertahan, masturbasi yang dilakukannya beberapa saat lalu membuat tubuhnya tak lagi mampu menahan orgasme. Wanita itu berusaha memegangi lengan Deetou untuk memperlambat gerakannya, namun ia gagal. Tak berdaya, ia membiarkan dirinya tersambar oleh orgasme dahsyat. Sangat dahsyat hingga ia merasakan energinya terpancar keluar lewat vaginanya yang tiba-tiba terasa kosong karena Deetou mencabut penisnya.
“Ohggg... why? Ahkkkk...” Jayne tampak bingung sedetik, namun kembali menggelinjang dan mengerang saat vaginanya memancarkan cairan bening. Semburan itu begitu kuat memancar cukup jauh hingga membasahi lantai. Jayne sempat melihat semburan itu sebelum tubuhnya terasa begitu lemas... ia berusaha untuk tetap sadar, namun Deetou kembali menancapkan penisnya, membuat Jayne kewalahan dan jatuh pingsan seketika itu juga. Melihat lawannya terkulai tak berdaya, Deetou tersenyum dan mengenakan kembali celananya, membiarkan penisnya yang tegar itu tetap tegar tanpa mengeluarkan apa-apa. Egonya telah terpuaskan melihat ‘air mancur’ itu memancar dari tubuh Jayne, seperti tahun lalu di Shanghai. Egonya telah terpuaskan karena berhasil ‘memukul KO’ lawan yang terkenal berkepribadian dominan itu. Ia duduk di kursi sambil memainkan Blackberry playbooknya, menunggu Jayne siuman. Cukup lama kemudian, Jayne telah pulih dan mulai mengenakan pakaiannya. Lampu ruang kerja telah kembali dinyalakan hingga Deetou bisa melihat keindahan gerak tubuh Jayne saat mengenakan pakaiannya.
“You knocked me out, eh?” Ujar Jayne sambil tersenyum, “Are you happy now?”
“Yes... But I need my own finishing touch now.” Bisik Deetou sambil mengecup kening Jayne.
“I can suck it out if you want.” Bisik Jayne menawarkan sebuah blowjob.
“Why not?" Jawab Deetou sambil membuka resleting celana dan mengeluarkan benda besar dari dalamnya.
Jayne berlutut di depan Deetou dan melakukan kerjanya, mengulum kejantanan besar itu... dengan niat untuk membalas kekalahannya. Jayne menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk ‘mengeluarkan’ isi kejantanan pria itu, dengan perasaan penuh kemenangan.

##################################

Tanpa terasa, matahari sudah tenggelam. Jam kerja sudah lama usai. Dr Deetou Prihad tampak tergesa-gesa menyimpan semua file risetnya dalam external hard-disc dan mengemasi meja kerjanya. Sesaat sebelum keluar, ia menatap berkeliling ke dalam ruang kerjanya yang serba putih. Sebuah kulkas menghiasi salah satu sudut, di atas kulkas itu berjajar botol-botol suplemen protein. Di samping kulkas itu berjajar rapi beberapa dumbbell berbagai ukuran, yang biasa digunakannya saat ia membaca artikel psikologi yang diproyeksikan ke dinding dengan sebuah proyektor. Pria berdarah campuran Afrika-Jawa itu membuka pintu untuk beranjak pulang, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah pemandangan tidak wajar. Di depan kamar kerja kolega terbaiknya, tampak seseorang sedang berdiri di atas kursi, mengintip ke dalam. Meski terlalu gelap untuk melihat dengan jelas siapa orang itu, namun ia hafal betul lekuk liku indah tubuh jangkung si pengintip. Dr Sabrina Yuzuki, sedang apa kamu? Pikir Deetou sambil terus mengamati. Setelah si pengintip beranjak pergi, ia mengetuk pintu yang baru saja diintip, untuk kemudian mendapatkan sesuatu yang amat melambungkan egonya.

####################################

Sebenarnya sudah sejak lama Deetou ingin meninggalkan negeri itu. Sikap sebagian orangnya yang cenderung rasis dan malas membuatnya gerah, dan gelar PhD yang baru saja diraihnya cukup menjanjikan untuk dipakainya mencari pekerjaan di negara lain yang lebih modern dan orang-orangnya berpikiran maju. Namun sesuatu menghalangi niatnya. Seseorang berkedudukan tinggi memintanya untuk menjadi rekan kerja, sekaligus psikolog pribadi. Orang itu jugalah yang meminta pada fakultas untuk memberikan kontrak pada Deetou selama 2 tahun sebagai post-doctoral researcher. Deetou tidak menyia-nyiakan peluang, apalagi dia mendapat bayaran cukup besar untuk itu. Ia menerima tawaran tersebut dan mulai melakukan riset-risetnya, baik secara profesional maupun 'pribadi'. Salah satu risetnya yang paling pribadi adalah observasi pada seseorang dengan kepribadian amat dominan yang mengalami kebingungan orientasi seksual. Orang itu jugalah yang meminta pihak universitas untuk mengontraknya... Professor Jayne Lee. Meski Deetou menganggap Jayne Lee sebagai sahabat dan klien, ia juga memperlakukan Jayne sebagai bahan penelitian. Ia mengamati serta mencatat perilaku, pola pikir, dan kebiasaan Jayne untuk dijadikan sebuah artikel penelitian yang akan bernilai tinggi nantinya. Ia baru saja bercinta dengan Jayne Lee saat itu , atau lebih tepat disebut sebagai 'membiarkan klien mengumbar nafsu padanya' sebagai bagian dari risetnya. Ia mengingat semua perilaku, sikap, dan kata-kata Jayne untuk kemudian dicatat dengan rapi pada Blackberry Playbook yang selalu dibawanya. Ia bahkan merekam video wanita itu tergolek lunglai dengan tubuh penuh peluh dan sesekali mengejang-ngejang setelah mendapatkan orgasme.
"Yo, Bro! Whatsup?" Sapa seorang bartender yang belakangan ini menjadi sering melayani Deetou di bar langganannya yang terletak di sebuah mall.
"Cool, as usual." Jawab Deetou singkat sambil memesan sebotol air mineral. Baginya minuman beralkohol memang menyenangkan, namun fokusnya pada binaraga membuatnya meninggalkan kebiasaan itu. “Anything new in life?”
“Seems that you're getting closer to the bitch, eh?” Jawab pemuda Nigeria itu. “Are you hooked up to her?”
“The bitch? Which one?” Jawab Deetou sambil tertawa. “She’s one of my colleagues, nothing special.”
“Many people want her down, you know that?” Si bartender berbisik waswas, “You better be careful, bradda!”
“Cool eyes, eh?” Deetou memuji 'hasil observasi' pemuda itu.
“Da boss wanna talk to ya, by da way!” Ujar si bartender dengan aksen Black English yang kental sambil menyodorkan sebuah ponsel dan mempersilakan Deetou masuk ke ruang kantor di belakang bar. “Looks like he’s into your bitch.”

Dengan rasa waswas Deetou memencet beberapa nomor di ponsel itu. Dia tahu betul, bahwa dia berada di negara ini tidak hanya untuk bekerja di universitas. Ada isu yang lebih penting dari sekedar ‘mengasuh’ seorang megalomaniak narsis yang mempertanyakan orientasi seksual... Singkatnya, Deetou bukan hanya seorang akademisi.
“Yo, Boss... you want me?” Deetou berbicara lewat ponsel itu.
“How's the babysitting job?” Tanya suara seorang pria beraksen British di sambungan telepon itu.
“She’s cool. I’m all over her.” Jawab Deetou, “You got another eyes in the office? The bartender told me that someone saw me with her.”
“We have more eyes than you know, Preehad.” Jawab lawan bicaranya, “Just make sure that you are still focused on the other part of the job.”
Tidak biasanya si ‘Boss’ menelepon dengan nada seperti ini, ada apa? “I can sense some escalation in this job, is that true?” Tanya Deetou mencoba menganalisis.
“Some local bigshots are trying to take your baby down.” Jawab suara itu lagi, “Because they want to inject some more bearded bros in your place.”
“Really?” Deetou terdengar ragu. Sekelompok orang lokal berkedudukan tinggi ingin menggeser posisi Jayne dan memasukkan lebih banyak orang timur tengah ke Malaysia lewat fakultasnya. Kepalanya yang licin tak berambut itu mulai bekerja lebih fokus, “What are their plan?”
Lawan bicaranya menjelaskan lebih jauh sebelum Deetou meninggalkan ruang di belakang bar itu dan mengembalikan ponsel pada si bartender. Pria bertubuh raksasa itu berjalan keluar bar dengan pikiran sibuk. Beberapa bulan sebelumnya, Deetou menyelesaikan risetnya bersama Jayne dan menunjukkan prestasi yang amat luar biasa, hingga Jayne mendapat kedudukan professor. Di balik proyek itu, sebenarnya ia memiliki tujuan lain, yaitu mengurangi jumlah ‘orang mencurigakan’ yang diselundupkan ke Asia Tenggara melalui jaringan universitas. Posisi Jayne sebagai professor membuatnya memiliki hak veto untuk menolak sejumlah calon mahasiswa S2 dan S3 yang dianggap tidak berprestasi, sulit berbahasa Inggris, dan berpotensi untuk menjadi ‘tidak berguna’ di fakultas. Di sisi lain, sejumlah petinggi fakultas berkebangsaan melayu adalah ‘pemuja jenggot’ yang berusaha menerima mahasiswa-mahasiswa berpotensi terorisme untuk masuk ke dalam fakultas. Merekalah yang kemudian menjadi pelatih militer teroris di Aceh dan otak serangan-serangan di Indonesia, Thailand, dan Filipina. Dan kini, dengan alasan ras dan religi, kelompok petinggi melayu itu berencana menggeser posisi Jayne agar ‘kelompok berjenggot’ lebih mudah masuk, dan para melayu itu melakukannya tanpa sadar akan bahaya yang mungkin dihadapi. Deetou sadar bahwa ia direkrut oleh MI6, dinas intelijen Inggris, untuk mencegah terjadinya pengulangan peristiwa seperti bom di Bali beberapa tahun silam, yang melibatkan sejumlah petinggi universitas di Malaysia. Sejak peristiwa itu, MI6 menempatkan banyak free-agents di universitas-universitas ternama di Malaysia, dan salah satunya adalah Deetou Preehad. Pikirannya melayang ke saat di mana ia menghadiri sebuah konferensi di Shanghai.

###########################
“Doctor Preehad, whatta tremendous presentation.” Sapa seorang wanita kaukasoid dengan aksen British saat Deetou usai mempresentasikan papernya. “May I have some words with you?”
Saat itu Deetou masih berkedudukan sebagai mahasiswa S3 yang sedang memburu karir untuk bekerja di universitas terkemuka di negara maju. Ia menurut saja saat wanita itu membawanya ke lobby hotel untuk bertemu dua orang pria lain, yang juga bicara dengan aksen Inggris kental.
Ketiga orang Inggris itu menyatakan kekaguman mereka pada prestasi Deetou, dan mengisyaratkan sedikit ‘tekanan’ dengan cara memberitahukan bahwa mereka mengenal dirinya sampai ke detail yang sekecil-kecilnya; kebenciannya pada orang melayu, ketertarikannya pada psikologi, nasionalisme yang tinggi terhadap Indonesia, sampai pada penyakit psikologis yang dideritanya.
“Obsessive-Compulsive, Narsisstic Behavioral Disorder.” Ujar wanita Inggris itu sambil tersenyum dan menatap mata Deetou dalam-dalam. “We knew a lot of thing about you, and we think that you are the perfect man for the job.”
“What do you want from me, and how much will I get paid?” Deetou langsung melakukan tawar menawar. Ia tahu bahwa ketiga orang ini bukan orang sembarangan, dan tugas yang akan dibebankan padanya bisa saja adalah tugas berbahaya ala James Bond.

#################################

Sejak malam itu, Deetou telah secara ‘resmi’ menjadi bagian dari dinas intelijen rahasia Inggris. Tugas utamanya adalah memantau dan membatasi gerak-gerik ‘orang-orang mencurigakan’ di lingkup pulau tempat universitasnya berada. Sekembalinya dari pertemuan kecil namun penting itu, Deetou mendapat ‘sambutan meriah’ di kamar suite tempat ia menginap di hotel itu. Dr Jayne Lee, rekan sekamarnya membukakan pintu dan langsung mendekap dan menciumi bibirnya dengan liar dan penuh nafsu.
“Hey, Doc... whats’ up? What’s up?” Ujar Deetou kebingungan saat ciuman Jayne terlepas.
“I...I...can’t hold it any longer, Deetou...” Jawab Jayne sambil tetap mendekap erat lengan-lengan Deetou yang besar itu. “Looking at you answering those questions successfully turned me on! I don’t know why....” Aku melihatmu mematahkan argument dari ilmuwan-ilmuwan kelas dunia, dan itu membuatku begitu bergairah... Pikir Jayne dalam hati. Aku harus memilikimu! Aku harus menundukkanmu, karena kamu seorang superior!
Kepala licin Deetou berpikir cepat dan langsung kembali mendekap tubuh ramping Jayne. Diciuminya leher dan pundak wanita itu, dijilatinya hingga berkilat-kilat. Deetou sadar sebuah gejala psikologis sedang kambuh dalam diri Jayne, gejala untuk ingin mendominasi. Kemampuan Deetou mematahkan sanggahan dari ilmuwan-ilmuwan kelas dunia membuat Jayne melihatnya sebagai seorang superior, dan kini Jayne ingin menaklukannya dengan cara merayunya hingga ke atas ranjang. Sambil terus berciuman, keduanya menelanjangi diri masing-masing, untuk kemudian saling memandang dengan mulut ternganga. Jayne mengagumi otot-otot Deetou yang terbangun dengan sempurna, nyaris tanpa lemak, dan simetris... Sementara Deetou mengagumi bentuk tubuh Jayne Lee yang langsing serba panjang dan wajah cantik serta leher dan payudara yang sangat indah. I want that body! Keduanya berpikir serentak. Keduanya bergumul di atas ranjang King Size sambil sesekali menatap ke arah cermin di atas plafon. Memang pemandangan di cermin itu tampak luar biasa. Seorang pria berkulit legam dengan otot-otot besar dan keras sedang menggumuli seorang wanita cantik bertubuh sempurna berkulit putih kekuningan. Warna kulit mereka yang kontras membuat pemandangan itu makin sempurna.
“Ahkkk...” Jayne mengerang saat mulut Deetou menangkap puting susunya. Tidak hanya itu, lidah pria itu menjilat dan membelai dengan cara yang tidak pernah dialami Jayne sebelumnya. Begitu kuat, namun juga lembut dan cepat. Sejenak wanita itu tak mampu bergerak untuk merangsang Deetou karena ia sendiri harus berjuang menahan rangsangan.

Melihat lawannya sedikit kewalahan, Deetou tahu apa yang harus dilakukan. Diangkatnya tubuh Jayne ke atas tubuhnya. Pria itu berbaring telentang di ranjang, sementara Jayne telentang di atas tubuhnya, membuat Jayne terekspos pada pemandangan di cermin langit-langit, di mana kepribadian dominannya membuat wanita itu lebih terfokus untuk melihat pada dirinya sendiri, bukannya bayangan si pria. Dalam posisi seperti itu, Jayne tak dapat mengantisipasi di mana rangsangan akan tiba, dan ia terpaksa melihat sendiri ekspresi wajahnya saat mengerenyit-ngerenyit menahan nikmat, plus tubuh telanjangnya yang menjadi bulan-bulanan rangsangan Deetou. Deetou menjilati tengkuk dan pundak Jayne tanpa terhalang rambut karena saat itu rambut Jayne masih pendek seleher. Kedua tangan Deetou mengepal-ngepal payudara Jayne sambil menjentik-jentik puting susunya, sementara kedua kaki-kaki berotot milik Deetou menjepit kedua tungkai jenjang milik Jayne hingga wanita itu tak mampu meronta melepaskan diri saat rangsangan yang diterimanya kian menjadi-jadi.

Beginilah rasanya didominasi!” Pikir Deetou seolah memberikan pesan telepatis pada Jayne.
Jayne menatap ke arah cermin dan mendapati kedua payudaranya yang kenyal itu teremas-remas oleh tangan legam, sementara puting susunya yang telah mengencang itu terjentik-jentik oleh jemari berukuran besar. Ia bahkan bisa melihat sendiri wajahnya menyatukan alis di kening, menyipitkan mata, dan bibirnya melenguhkan erangan pasrah. Ia tak mampu bergerak selain menggeliat kecil dan mendongakkan kepalanya. Kenikmatan itu kian menjadi-jadi saat penis Deetou menggesek bibir vaginanya dari belakang. Kemaluan Jayne langsung melelehkan cairannya. Lehernya terasa begitu kegelian mendapat jilatan-jilatan liar dari mulut Deetou pada tengkuknya, kedua puting susunya terasa amat nikmat saat berada dalam jemari Deetou yang memilin-milin. Sementara bibir vagina dan klitorisnya tergesek-gesek oleh paha Deetou yang diselipkan dari belakangnya. “

Ohh... Deetou... Ahhh.... Ahhhh.... Nghhhh...” Erangan dan desahan Jayne terdengar tak terhenti saat ia makin tak mampu menahan rangsangan yang mendera dirinya. Ia begitu ingin mendominasi permainan, namun Deetou tak memberinya peluang, sementara kenikmatan terus datang membuat Jayne merasa tubuhnya makin lemah.
“Ohh... D-Deetou... P-Pleaseee...” Akhirnya mulut Jayne mengucapkan kata yang paling jarang diucapkannya selain permintaan maaf.
“Please what, Doc?” Bisik Deetou pada telinga yang langsung dijilatinya hingga Jayne kian mabuk kepayang. “Say it clearly and loudly.”
“Please...d-do itt... Ahkkk.” Jayne mengerang tertahan saat salah satu tangan Deetou beralih ke vaginanya dan sebuah jari menyusup masuk ke dalam liang becek itu.

“Please do WHAT?” Deetou terdengar setengah membentak sambil menjilati leher dan rahang Jayne serta mempercepat gerakan jemarinya pada puting susu dan vagina wanita itu.
“F...Fuck me...” Rintih Jayne lirih sambil memejamkan mata menahan rasa malu.
“I can’t hear you?” Jawab Deetou, “Open your eyes and say it loudly!”
“PLEASE FUCK ME!” Akhirnya Jayne berteriak memohon, “I-I can’t stand it anymore... you... you had me... please fuck me nowww... pleaseee...” Erangannya tak lagi terkontrol. Egonya nyaris hancur berantakan karena ia telah memohon. Bagi orang dengan kepribadian seperti itu, memohon adalah hal yang tabu... namun kali ini Jayne harus tunduk pada tubuhnya yang telah terangsang hebat dan menginginkan penuntasan.
Deetou tidak langsung menuruti permintaan Jayne. Pria itu terus mengocokkan jari dalam vagina Jayne yang makin membanjir, terus menjilati wajah Jayne yang berusaha untuk tidak menatap cermin di langit-langit, dan terus merangsang kedua puting susu Jayne dengan satu tangan.

Rasakan, Jayne... Rasakan nikmatnya didominasi orang lain... rasakan ini!” Pikir Deetou.
Jayne merasa kian kewalahan. Segala logika dan refleksnya untuk mendominasi telah hancur berkeping-keping. Wajahnya bermandikan keringat dingin, mengekspresikan ketidak berdayaannya untuk menahan rangsangan yang berlebihan itu. Matanya menyipit dengan kening berkerut, bibirnya ternganga meski giginya terkatup, bahkan untuk mengerang pun ia seperti tak lagi memiliki tenaga. Tiap kali Deetou merangsang puting susu atau vaginanya, tubuh ramping itu mengejang dan menggelinjang keras... Akhirnya... sambil mengejang-ngejang, vaginanya menyemburkan cairan bening.
“Female ejaculation...I got a female ejaculation,” pikirnya pasrah sambil membiarkan diri terhentak-hentak disambar kenikmatan.

Semburan-semburan dari kemaluannya kian melemah... lalu tubuh indah yang langsing dan ramping itu lunglai seperti handuk basah, sambil sesekali mengejang mengikuti denyut vaginanya. Deetou menghentikan gerakannya. Ditatapnya cermin di plafon, diamatinya tubuh lemas milik ‘korban’ nya. Terkulai lemas bermandikan keringat, dua paha terkangkang dan vagina merekah membanjir, serta wajah lemas yang terpejam dan ternganga tak sadarkan diri... mengekspresikan kekalahan dan kepasrahan total. Sejenak ego lelaki Deetou mendapat guyuran puas.
Pria itu membimbing kejantanannya masuk ke dalam vagina yang telah licin dan becek, lalu dengan tenaganya yang luar biasa, ia menggunakan tubuh lunglai Jayne sebagai alat masturbasi. Usai menuntaskan hasrat, Deetou bangkit dari ranjang dan mengamati lebih jauh tubuh indah yang lemas itu. Associate Professor Jayne Lee... seorang wanita berprestasi tinggi yang dikenal begitu dominan dan sulit dipatahkan... di mana kejujuran, kecerdasan, dan etos kerjanya membuat siapapun akan tampak seperti pemalas yang bodoh... kini terkulai pasrah, setelah awalnya berusaha merayu dan mendominasi. Deetou tersenyum puas sambil merekam kondisi Jayne yang ‘terkalahkan’ itu dengan fasilitas video di Blackberry Bold nya. Saat itu, ia terpikir untuk ‘menjadikan’ Jayne orang penting di fakultas demi melakukan pembatasan masuknya ‘teroris potensial’ ke Asia Tenggara melalui tempat kerjanya. Hari berikutnya, ia menjelaskan rencananya pada pihak MI6 dan mereka setuju. Dalam waktu singkat, prestasi Jayne langsung meroket dan menduduki posisi penting saat ini, dengan Deetou sebagai tokoh di belakang layar yang dengan leluasa mengendalikan situasi, seperti keinginan para ‘boss’nya di MI6. Deetou mengakhiri lamunan masa lalunya saat tiba di rumah. Kondominium mewah plus sebuah mobil pribadi, adalah ‘hadiah’ dari MI6 atas kesuksesan prestasinya membatasi gerak-gerik organisasi Al-Qaeda di pulau tempat kerjanya... juga kesuksesannya dalam bekerjasama dengan Interpol Indonesia untuk ‘mengeliminasi’ tokoh-tokoh ekstrimis lewat beberapa ‘kecelakaan kapal laut’. Pria itu sadar, sebuah tantangan lebih besar sedang terbentuk. Beberapa figur berpengaruh di universitas sedang berencana untuk mengganjal kesuksesan Professor Jayne Lee, dan itu berpotensi untuk mengurangi efektivitasnya dalam meredam dan menekan gerakan organisasi bawah tanah para teroris. Ia harus mengidentifikasi, siapa tokoh-tokoh itu, dan secepatnya menghilangkan gangguan. Apapun resikonya. Dinyalakannya Blackberry Playbook dan ditatapnya monitor 7 inch itu lekat-lekat. Monitor itu sedang menayangkan slide-show foto-foto Sabrina Yuzuki.


To be continued....

By: Ginger Ale