Damned true story - 3

Kulangkahkan kakiku mendekat, dan kuraih kertas itu.
'AKU DI KANTOR, INI (tanda panah besar) UNTUK MENGHANGATKANMU'
Aku tersenyum geli, lalu melirik ke arah termos air panas. Kuletakkan kertas itu, lalu meraih termos. Asap mengepul saat teh panas itu mengalir ke dalam cangkir. Memandang kepulan asap itu membuatku menggigil, seolah tubuhku benar-benar kedinginan dan butuh kehangatan. Sambil menjepit telinga cangkir dengan jemariku, aku mendekat ke jendela. Kusingkap tirainya, dan memandang jauh ke luar.

"Apartemen siapa ini?" tanyaku sesaat sebelum melangkah masuk siang tadi.
Dan lagi-lagi ia hanya nyengir dan berkata, "Ngga usah ditanya."
Tapi bagaimana aku tidak bertanya? Semula kukira ia akan membawaku ke rumahnya, seperti hari-hari biasa. Namun ternyata ia malah membawaku ke tempat ini. Sebuah apartemen mewah pinggir kota yang bahkan aku tidak pernah membayangkan untuk masuk ke dalam salah satunya.

Saat pertama aku masuk, kesan yang kutemui adalah, rapi. Jauh lebih rapi daripada kondisi rumah kontrakan yang (setahuku) dihuninya selama ini. Semua perabotan ditata dengan dekorasi yang menarik, menimbulkan rasa nyaman. Sebuah lemari besar dengan rak penuh buku berdiri di ruang tamu, di sampingnya terdapat satu meja besar, dengan TV dan stereo-set yang tertata apik. Vas berukuran setengah meter menjaga lorong menuju dapur (mungkin dapur), sebab aku tidak punya waktu untuk pergi ke sana. Dan di ujung terdalam sebelah kanan, terletak dalam posisi menantang sebuah grand piano berwarna hitam.

Aku mengira-ngira saat itu, apakah pemuda ini dapat memainkannya? Alangkah romantisnya apabila seseorang memainkan tuts-tuts itu untukku, sementara aku sendiri duduk di sebelahnya, memperhatikan dengan penuh cinta. Lalu kamar itu, tempat ia mencumbuku. Sebuah tempat tidur besar di tengah ruangan, sebuah meja rias, satu televisi kecil, dan.. Kerlap-kerlip lampu kota di bawahku seketika mengabur saat mataku menatap pantulan dari kaca. Sebuah komputer!

Napasku terasa mau berhenti. Jantungku berdebar. Aku terpaku beberapa saat lamanya, sebelum aku meletakkan cangkir di tanganku dan berbalik menatap benda itu. Komputer itu tampak menggoda. Layar hitamnya seolah menjanjikan sesuatu yang aku sendiri tidak sadar apa. Lama aku termenung di dekat jendela. Berbagai pertanyaan (yang kurasa sudah nyaris melupakannya) muncul kembali di benakku.

Ia sama sekali tidak pernah membawa pulang kerjaannya ke rumah. Itu setahuku. Tidak bahkan satu zip disk pun yang dibawanya pulang. Hanya tas hitam lusuhnya, itu pun aku sudah hapal benar isinya, sebuah handphone, headset, walkman, novel (entah novel siapa saja, yang pasti selalu dibacanya sambil minum kopi di kantor), dan sebuah organizer kulit. Kadang-kadang satu Pak rokok 'serep' (istilahnya sendiri). Lalu kira-kira apa isi komputer itu, tanyaku dalam hati. Ah, aku jadi terlalu penasaran, pikirku sambil tersenyum.

Aku melangkah menuju ke arah pintu, hendak keluar kamar, ketika aku melirik lagi ke arah layar kelam itu.
Dan kembali layar itu menggodaku, seolah berkata, "Kamu tak ingin menjengukku? Tak mau tahu.., apa yang ada di dalamku?"

***

"Halo? Halo?"
Lama tidak ada jawaban di seberang. Semula aku ragu untuk menggunakan telepon di samping tempat tidur itu. Tapi bagaimana lagi, hanya itu sarana komunikasi yang bisa kudapatkan saat itu.
"Halo..?" ulangku sekali lagi.
Lalu sebuah suara terdengar, "Apa, Honey? Kamu bangun?"
Aku tersenyum. Suaranya terdengar hangat. Sekejap aku merindukannya.
"Iya. Aku sendiri. Kamu tega," ucapku berbisik manja. Kudengar ia tertawa.

"Kan aku sudah sediakan teh manis."
"Kamu.. kapan pulang?" tanyaku memberanikan diri.
Ia diam sesaat, hanya gumaman panjang, "Eee.. mungkin aku tidak pulang."
"Lalu aku?" sahutku sebal.
Saat itu aku sudah lupa tujuanku meneleponnya. Yang ada di pikiranku, lalu aku pulangnya bagaimana? Perihal aku saat ini di daerah mana saja, aku kurang paham. Tapi kudengar ia tertawa lagi.

"Jangan sewot dong, Say. Aku sudah siapkan itu untuk kamu. Besok pagi, kamu tinggal.. begini.. lalu begini.." ia memberitahukanku (seperti seorang bapak mengajari anaknya) tentang dimana harus menaruh key card, lalu taksi menunggu di mana, dan beberapa pernik tidak penting lainnya.
"Sudah? Kamu ngga apa-apa kan?"
Aku melongo, kuakui itu.

Aku tidak pernah mendengarnya berbicara panjang lebar dengan begitu serius. Dan gayanya itu, sama sekali tidak mirip seorang bengal yang sering kujumpai sehari-hari. Malah lebih mirip seorang eksekutif muda kaya raya dengan anak dua. Tegas, memerintah, dan nada arogan.
"Iya. Aku tau. Tapi sedikit sebal," ucapku dengan nada protes.
Suara kecupan terdengar dari seberang, menghapus kesebalanku seketika.

Hal yang pertama kulakukan adalah membuka lemari kayu di samping kiri tempat tidur. Ternyata memang ada beberapa setel pakaian wanita di situ dan (astaga), termasuk pakaian dalam juga! Aku memicingkan mata. Punya siapa itu, tanyaku dalam hati, sedikit cemburu. Namun setelah aku melihat price-tag yang terkait di benda-benda itu, aku tersenyum. Pemuda gila, pikirku dalam hati. Kututup lemari itu dan kembali terpaku saat menatap komputer di atas meja.

Perasaan bersalah semakin kental saat aku melangkah mendekat. Dan dering telepon itu nyaris membuatku melompat.
"Honey? Honey?" aku mendengar ia memanggilku.
"Apa?" tanyaku, berusaha menekan suaraku yang sedikit bergetar. Hening sejenak. Aku masih berusaha menenangkan diriku sendiri.
"Jangan terlalu larut saat membaca, oke?"
Aku membelalakkan mata. Wah, pikirku, apa maksudnya?

"Yap, jangan terlalu larut. Dan jangan lupa matikan komputernya kalau selesai."
Eh? Aku lalu tertawa terbahak-bahak, sampai air mataku nyaris keluar. Ia juga tertawa, tapi nadanya serius saat ia berkata, "Aku sayang kamu, M."
"Aku juga," sahutku, merasakan kehangatan dalam nada suaranya.

Semua orang pasti dapat menebak apa yang kulakukan selanjutnya. Benar! Aku langsung menuju ke arah komputer itu tanpa ragu. Dan menyalakannya. Yang kutemukan di explorer adalah puluhan berkas, dan itu semua menjadi pengiringku melalui hari itu.

***

Aku, Ray, 20 tahun saat aku menuliskan semua ini. Sebuah jurnal tentang hidup yang berliku, tentang hasrat yang tiada habisnya. Dari masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Dan keseluruhan dari semua ini, seperti yang akan kalian baca, hanyalah implementasi dari tiga bagian hidupku: Cinta; Kebencian; dan Pengkhianatan.

Aku terlahir saat subuh menjelang. Kesakitan ibuku membuatnya acap kali mengumpat seperti apa yang pernah diceritakan ayah padaku, "Anak ini jahat!" begitu rintihnya. Dan siapa pun hanya tersenyum. Dua belas bulan dalam kandungan, dan bobot 6,5 kilogram saat lahir. Semua orang membelalakkan mata. Seekor singa kecil keluar tanpa menangis. Mata hitamnya menatap jingar (istilah orang-orang Batak untuk 'sangar' dalam bahasa Jawa). Rambut memenuhi sekujur kepalanya. Rambut-rambut panjang berwarna kemerahan.

Ibu menangis saat aku lahir. Jelas ia merasa kesakitan. Tapi kesakitan itulah yang membuatnya begitu sayang padaku.
Hanya satu yang selalu diucapkannya saat bercerita kembali, "Aku memimpikan seekor kepiting bersurai, berjalan miring keluar jalur."
Siapapun yang mendengar itu akan mengerti mengapa bayi yang lahir itu, kelak akan menjadi seorang manusia yang tanpa aturan. Masa kecilku kuawali dengan hidup susah. Rumahku hanya sebuah bangunan kecil dengan lantai tanah. Mandi di tepi sumur menjadi sesuatu yang tidak memalukan. Begitu juga dengan bermain pasir bersama anak-anak kampung.
"Cino..! Londo..!" begitu acap kali mereka mengejekku.
Pertengkaran dan perkelahian kecil acap kali terjadi karena fisikku yang berbeda. Tapi namanya anak kecil, semuanya selalu diakhiri dengan canda tawa.

Sahabatku satu-satunya di rumah hanyalah kakak perempuanku, yang dua tahun lebih tua daripadaku. Aku sering memperhatikannya setiap saat. Dan itu menjadi sesuatu yang mempengaruhi pertumbuhan jati diriku. Di sisi lain, ayahku berada tiga ratus kilometer dari rumah.

Aku dibesarkan di rumah di tengah komunitas wanita. Aku satu-satunya makhluk laki-laki di rumah, kecuali saat ayahku datang. Dan itu semua membentuk diriku menjadi seorang yang paham betul akan sesuatu, wanita. Apa yang mereka mau. Apa yang mereka butuhkan. Aku tahu semua itu.

Cinta monyet pertamaku saat aku kelas nol besar, di sebuah taman kanak-kanak pinggir kota. Seorang gadis keturunan berkulit mulus, aku ingat betul. Wajahnya tirus dengan gigi gingsul. Aku ingat saat itu, bagaimana aku memetik kembang sepatu di halaman, lalu memberikan bunga itu padanya. Wajahnya merah betul saat itu. Dan itulah kali pertama aku mengecup bibir lawan jenisku. Kenangan itu masih ada sampai sekarang. Terkadang aku geli, bagaimana mungkin anak sekecilku dapat mengetahui caranya berciuman. Namun itulah yang terjadi.

***

Aku tertawa geli membaca cerita itu. Di benakku terbayang seorang anak laki-laki yang tidak punya malu. Aku terus membaca dan terus membaca. Kata demi kata. Dan ada kalanya aku tersenyum sendiri. Ada kalanya aku terenyuh. Membaca tentang kisah hidup seseorang merupakan sesuatu yang menarik, apalagi bagiku. Karena rasa ingin tahuku begitu besar akan dia. Bagi orang lain ia mungkin bukan selebritis yang harus diselidiki, tapi bagiku, ia menempati posisinya sendiri. Dan semua sifatnya mengundang rasa penasaran. Apa yang membuatnya menjadi sosok yang begitu 'berjalan miring'?

Aku tahu setelah satu jam empat puluh lima menit kemudian. Saat ceritanya menginjak masa dewasanya. Dan di lembar kesekian itulah aku melihat sebuah nama, Enni. Jantungku berdebar saat aku mulai menelusuri ceritanya.

***

"Perek! Perek!" begitu mereka memaki-maki gadis itu setiap kali ia melintas.
Pandangan mereka selalu dipenuhi dengan bayangan-bayangan mesum. Tapi saat itu, yang kusadari hanya keberadaanku yang berjalan di sisinya. Wajah gadis itu sendiri terlihat tanpa ekpresi. Dingin dan menakutkan. Bagiku, seolah aku dapat melihat bayangan sedih dan malu di situ.

"Kamu jangan dengar apa omongan mereka," senyumku kepadanya. Tapi ia malah menggelengkan kepala.
"Aku tidak bisa untuk tidak," katanya, "Itu sudah menjadi terlalu biasa."
Hatiku terenyuh. Entah mengapa, aku mulai merasakannya lagi. Sebuah rasa yang sering muncul tatkala aku bertatapan dengan seseorang yang penuh derita di hatinya. Aku lalu seolah melupakan tujuanku semula, yaitu mengembalikan tasnya, setelah tadi Nia melemparkannya padaku. Yang kuinginkan saat itu adalah, memeluk.

Bersambung . . . .