Hujan rintik masih menghiasi langit malam itu. Seolah turut mendramatisir sebuah insiden yang terjadi di sebuah kamar hotel berbintang di ibukota ini. Beberapa pria berbadan tegap mengenakan seragam polisi terlihat sibuk di dalam ruangan itu. Sesosok pria terbaring tanpa nyawa-tanpa busana diatas ranjang kamar itu. Matanya melotot dan mulutnya menganga. Seorang pria berkumis samar mendekati mayat itu.
“pria yang beruntung...” ucap pria itu seraya melihat mayat yang tergeletak itu. Dia menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekatinya. Seorang pemuda berumur 22an mendekatinya, rambut belah samping tanpa poninya rapi menghias kepalanya.
“apa yang kita punya disini?” tanya pria yang baru saja masuk.
“tidak ada tanda-tanda kekerasan atau racun tertentu, sepertinya masa sewa pria ini memang sudah habis.. Hey!! Berapa kali kubilang jangan merokok di TKP!!”
“Ayolah Dean, kau sendiri kan yang bilang? Pria tua ini mati karena masa sewanya di dunia memang sudah habis... lantas apanya yang TKP??”. Sergah pemuda itu sambil meninju pundak rekannya.
“Paling tidak tunggu sampai tim forensik selesai” jawab Dean disusul tawa renyah sang pemuda.
Sang pemuda berjalan mendekati gagang telepon di samping mayat tersebut, gagang telepon itu terbuka, pertanda bahwa telepon itu baru saja digunakan. Pandangannya menyisir lampu meja berukiran bunga sakura dengan warna krem lembut hingga akhirnya pandangannya berakhir pada sebuah asbak berbentuk naga yang berisikan beberapa puntung rokok. Pemuda itu mendekati asbak tersebut.
“Dean, pinjamkan aku pinset” ujar pemuda itu pada Dean. Tanpa banyak bicara Dean menyerahkan pinset.
Pemuda itu memutar beberapa puntung rokok dalam asbak itu, beberapa diangkatnya lalu diperhatikan dengan seksama, satu demi satu puntung rokok itu diperiksanya. Beberapa petugas dari tim forensik mendekati Dean, mereka berbincang-bincang sebentar, Dean mengangguk dan petugas-petugas itu mulai membungkus sang mayat.
“ada yang kau temukan Rio?” tanya Dean sambil mendekati pemuda itu. Sang pemuda itu menggeleng. “kau tahu? Melihat keadaan dan semua kemungkinan... kau benar, mungkin aku berlebihan jika menyebut tempat ini sebagai TKP”. Kata Dean.
Rio meletakkan kembali asbak tersebut di tempatnya, lalu berbalik ke arah Dean. “aku harus ke kamar kecil” ujar Rio.
“gunakan kamar mandi umum di lobby!”sergah Dean.
Rio tetap saja bergegas masuk ke kamar mandi kamar hotel ini, Dean bergerak untuk mencegah rekannya yang suka ceroboh ini. KLONTANG!! Kaki Rio menabrak tempat sampah besi di dekat pintu kamar mandi, isinya berhamburan mengotori lantai.
“Bagus!! Sekarang kamu menyempurnakan TKP!!” teriak Dean kesal, “berapa kali kubilang agar kamu lebih hati-hati saat berada di TKP?!!”.
Dean menghentikan omelannya ketika melihat Rio berjongkok di dekat sampah-sampah yang keluar dari tempat sampah itu. Rio menyingkirkan tong sampah itu dengan ujung sepatunya, dikeluarkannya pinset dari sakunya untuk mengambil sesuatu yang tadinya terjepit di bawah tempat sampah plastik itu.
“kau tahu Dean...” katanya kemudian, “aku memang harus minta maaf padamu...” Rio bangkit dan menunjukkan benda diujung pinsetnya pada Dean. “ini memang TKP...” ujarnya.

------------------------------------
SILENT ROSE Case 01 : DEADLY SILENT

Pak Qadar

Pak Qadar Wijaya turun dari limousinenya tanpa ragu, 7 orang bodyguardnya selalu ada disamping dan mengawal langkahnya. Kehadirannya yang cukup eksentrik itu mau tidak mau menarik perhatian orang-orang yang ada disana. Dengan menghisap cerutunya Qadar Wijaya cuek bebek melenggang kangkung memasuki lobby hotel berbintang tersebut. Dua orang gadis muda dan cantik menyambutnya di lobby, Qadar Wijaya tersenyum dan menjabat tangan kedua gadis itu.
“Mana Anjar? Kenapa aku tidak melihatnya?”. Qadar bertanya pada salah satu gadis muda itu.
“bapak Anjar akan segera hadir, namun kami sudah membawa berkas-berkas yang diperlukan” ujar salah satu dari gadis itu. “ups! Maaf pak... perkenalkan saya Astri dan ini Misha... kami berdua asisten Pak Anjar”.
Gadis itu sedikit menunduk menunjukkan kesopanannya. Pak Qadar melihat gadis itu dari ujung sepatu, betis dan lutut, paha yang setengahnya tertutup rok mini polos berwarna coklat muda, dipadu dengan kemeja merah muda yang tidak mampu menyembunyikan lekuk pinggang dan dua buah dada yang disangga dengan baik oleh bra. Pandangan pak Qatar terus naik ke arah leher jenjang sang gadis yang putih mulus, dan berakhir di wajah manis yang menawan dengan polesan make-up berkesan natural, berpadu apik dengan rambut hitam yang disanggul menarik.
‘si Anjar memang jago kalo dalam hal cewek’ gumam Pak Qadar dalam hati.
“jadi kalian asisten Anjar untuk event kali ini?” tanya pak Qadar sambil terus menerus memandangi tubuh Astri. “kalo begitu ayo masuk ke ruangan sambil menunggu Anjar tiba”. Katanya sambil bergegas masuk ke sebuah ruangan private yang memang khusus disewa untuk pertemuan bisnis kali ini.
“maaf, untuk kenyamanan ruangan hanya bisa diisi maksimal 4 orang” ujar seorang pria petugas hotel berseragam biru yang bertugas menjaga pintu ruangan.

Pak Qadar terlihat terkejut, dua orang bodyguard pak Qadar langsung mendaratkan dua pukulan telak pada wajah dan perut petugas itu.
“Ough...!!” rintih petugas itu sebelum mulai tersungkur jatuh, dua bodyguard itu menahannya dan menyeretnya menyingkir. Petugas-petugas hotel yang lainnya tampak kaget namun tidak berani bereaksi, mereka diam tak bergeming menyaksikan dua bodyguard menyeret karyawan hotel itu keluar dari tempat kerjanya sendiri. Pak Qadar, Astri dan Misha memasuki ruangan. Namun tiba-tiba Pak Qadar menahan Misha, “kamu urus bodyguardku saja... sepertinya kamu belum begitu profesional, lagipula aku tidak suka amatir” ujar pak Qadar setengah tertawa. “Boshwa, Amang... temani Misha” kata Pak Qadar dingin, tanpa memperdulikan pandangan mata Misha yang memancarkan ketakutan dan kebingungan.
“dia memang masih magang, dan ini hari pertamanya Pak...” Astri berbisik pelan pada Pak Wijaya. “pak Anjar membawanya khus..”.
“aku tidak peduli, kamu mau masuk atau anak buahku yang menemanimu?”. Jawab pak Qadar dingin. Astri terdiam dan meneruskan langkahnya.
Beberapa meter dari hotel tersebut, sedikit jauh dari jalan terdapat sebuah semak-semak yang cukup tertutup. Dari luar tidak terlihat tanda-tanda keberadaan makhluk hidup di semak-semak itu, hanya saja, jika mau sedikit memicingkan mata, niscaya kita bisa melihat sebuah garis berkelok berwana putih ke abu-abuan melayang lembut dari balik semak-semak itu. Seorang pemuda menyeka darah yang sedikit keluar di ujung bibirnya kemudian menghisap kembali rokok ditangannya dalam-dalam. Pemuda yang mengenakan seragam petugas hotel berwarna biru itu tampak sibuk dengan smartphonenya sebelum akhirnya berdiri dan memandang dingin pada dua orang bodyguard Pak Qadar yang terpuruk di rerumputan tak sadarkan diri...

-------------------------------
<SEX SCENE 01 : MISHA VS BOSHWA & AMANG>

Misha

Suara isak tangis seorang gadis terdengar lirih dari sebuah mobil box hitam di sudut parkiran hotel, seorang gadis tampak ketakutan diapit dua orang pria kekar bersetelan jas hitam yang tampak seram, gadis itu adalah Misha, salah satu anak buah pak Anjar yang tadinya ditugaskan untuk memuluskan deal pak Anjar dengan pak Qadar, kancing kemeja coklat muda yang dikenakan gadis itu sudah tidak pada tempatnya, bra putih tipisnya telah tersingkap ke atas, senasib dengan rok pendek longgar berwarna merahnya. Make-up tipis yang tadinya rapi menghiasi wajah cantik sang gadis seolah raib tersembunyi oleh wajah ketakutan sang gadis, rambut panjangnya tergerai tak beraturan diatas jok mobil van itu, namun wajah cantik Misha malah terlihat makin menggairahkan dengan mata berkaca-kaca. Ironis dengan apa yang terlihat dari Misha, kedua lelaki yang mengapitnya, Boshwa dan Amang terlihat begitu menikmati apa yang mereka lihat, Boshwa yang merupakan penduduk asli Timor-timur, berkulit hitam, berwajah kasar dengan rambut gimbal dan badan kekar akibat rajin berolahraga itu terlihat sangat menikmati kulumannya pada buah dada ranum Misha yang tak lagi terhalang apapun. Dengan kasar dia menghisap dan memberikan gigitan-gigitan pada buah dada gadis muda itu. Misha tak bisa bergerak meski dia sangat ingin berontak, untuk bersuara saja dia hanya bisa mengeluarkan gumaman gumaman kecil. Amang, pemuda Papua yang berbadan tak kalah kekar dengan potongan rambut seperti tentara, kulit hitam dan wajah yang tidak lebih baik dari Boshwa menahan rintihan Misha dengan lumatan di bibir Misha, tangan kanannya menahan tangan Misha, sedang tangan kirinya aktif meremas-remas buah dada Misha. Sesekali tubuh Misha meronta, tapi tenaga mereka jauh lebih besar.
“baik banget si Bos ngasih kita daun muda seger gini...” celoteh Boshwa sambil melepaskan hisapannya sejenak, tangan kanan Boshwa yang tadinya mengelus dan meremas pantat sang gadis, berpindah ke selangkangan Misha yang masih tertutup celana dalam pink berbahan sutra, membelai-belai dengan kasar, membuat erangan tertahan Misha sedikit lebih keras dan tubuh Misha menggeliat meronta.
“Engggh......!!!” Misha melenguh saat jari Boshwa menggesek selangkangannya makin kasar, sebuah lenguhan kesakitan yang mampu menaikkan birahi kedua lelaki buruk rupa yang mengapitnya. Amang melepaskan ciumannya, dengan lidahnya dia menjilati leher jenjang Misha sebelum mengecup dan menghisapnya kuat-kuat.

Boshwa

“aAAhh... Hhh.. hiks... ampun... sudah... ampun...” Misha memohon sambil sesenggukan. Hisapan Amang turun lagi ke putingnya yang berwarna kecoklatan, meninggalkan bekas-bekas merah di leher Misha yang berkulit coklat terang. Tubuh Misha kembali meronta, namun tidak ada hasil.
“jjangan... nggh... ammphuunhh...” sedu Misha semakin kencang saat tangan Boshwa bergerak melucuti celana dalamnya... “janghaanhh... saya masih perawan..”Misha kembali mengiba. Boshwa hanya membalas pandangan sayu Misha dengan seringai melebar.
Derap langkah kaki terdengar mendekati  mereka, Amang menolehkan kepalanya, tiga orang satpam yang bekerja di hotel itu sedang berjalan mendekati mereka. Amang menghentikan aktifitasnya di buah dada Misha dan memberi kode pada Boshwa. Mereka bertatapan sejenak sebelum dengan sigap Amang beranjak mendekati ketiga satpam itu. Boshwa mendorong tubuh Misha ke dalam mobil, dan menutup pintu mobil, Misha dan Boshwa kini tinggal berdua di dalam mobil. Sambil mengunci tubuh Misha, Boshwa memperhatikan Amang dan ketiga satpam itu.
“semua aman disini, ga usah mendekati mobil, saya orang kepercayaan pak Qadar” Amang mencegah ketiga satpam yang tadi mendekati mobil.
“tadi kami mendengar suara cewek..,”seorang satpam tua berbadan ceking mencoba menjelaskan.
“itu hadiah bos kami... tidak ada masalah” Amang memotong sambil menyampingkan ujung jasnya, sengaja memperlihatkan pistol yang bersarang di pinggangnya. Ketiga satpam itu memperhatikan pistol itu dan mereka tampak ragu. Mereka diam sejenak.
“ya sudah tidak ada masalah...” jawab Satpam muda bergigi tonggos dengan tulisan “Tejo” terukir di badge nama seragamnya.
“bagus...” Amang tersenyum seram. Tiba-tiba matanya sedikit berbinar. “atau kalian mau ikut nonton bokep gratis?” Amang mengutarakan ide gila yang baru saja terlintas di benaknya.
“tidak terima kasih. Kami sedang bertugas” tolak satpam tua itu tegas sambil memberi kode pada dua satpam lainnya untuk kembali ke pos jaga.

Selagi Amang berbicara dengan para satpam ga mutu itu, Misha setengah menjerit memohon ampun, Boshwa telah menurunkan celananya dan mengeluarkan penis hitamnya, gadis muda itu mencoba berontak sebisanya, namun badannya tertindih oleh Boshwa dan mulutnya dibungkam oleh tangan kanan Boshwa, Boshwa menuntun penis hitamnya ke mulut vagina gadis cantik itu, Misha terisak sejadi-jadinya, badannya menegang kaku saat penis hitam itu membelah bibir vaginanya. Matanya terpejam menahan sakit yang luar biasa saat Boshwa menekan penisnya keras-keras tanpa ada belas kasihan. Tidak peduli vagina Misha belum cukup basah, tidak peduli bahwa Misha benar-benar masih perawan.
“Uooooghhh...” Boshwa melenguh kencang bebarengan dengan pekikan keras Misha yang menandai robeknya selaput dara gadis cantik itu.
“AAAAAAKKKHHH!!!.....” pekikan Misha mengalihkan perhatian Amang dan ketiga satpam yang hendak kembali ke posnya.
Sejenak mereka memperhatikan Boshwa yang terlihat dari kaca jendela mobil. Memperhatikan bagaimana tubuh Boshwa terlihat naik-turun dengan cepat membuat mobil van itu bergoyang lumayan kencang.
“ada masalah lagi?!” ucapan keras Amang membuat ketiga satpam itu tersadar dan berbalik meneruskan langkahnya sambil berbisik-bisik satu sama lain. Setelah memastikan para satpam itu menjauh, Amang kembali ke arah mobil yang bergoyang makin kencang.
“Haaahh... AAWWHH!! Hiks!...Sshaaakkii..hiiittt...!” jerit Misha berulang-ulang di bawah tindihan Boshwa yang menggenjotnya tanpa ampun.
“mantap banget perawan... uuhh.. uuh... meki kamu enak banget...” ceracau Boshwa menikmati jepitan vagina Misha yang (beberapa menit lalu) masih perawan.
Amang membuka pintu mobil, dan memperhatikan penis Boshwa yang keluar masuk sangat cepat di vagina Misha. Misha terpejam meringis menahan perih. Lenguhan nafasnya terdengar setengah menjerit. Siapapun dapat melihat bahwa persetubuhan yang terjadi kali ini adalah persetubuhan satu arah, dimana hanya Boshwa yang terlihat mengejar kenikmatannya dengan egois.Badan Boshwa semakin rapat menindih tubuh Misha, membuat buah dada gadis cantik itu tergencet, keringat Boshwa mulai bermunculan namun pompaan Boshwa tetap saja kencang tak beraturan, membuat ban mobil itu ikut naik turun tak beraturan. Amang duduk dan menyalakan rokoknya, sambil seksama menyaksikan gadis muda yang sedang dinikmati temannya menggeleng-geleng mohon ampun.
“terima nih!! Uooonngghhhh!!” Boshwa mengangkat tubuhnya sedikit dan membenamkan seluruh batang penisnya dalam vagina Misha sambil menghentak keras berkali-kali.

Amang

“AaaanNNGHH!!” Misha memekik setiap Boshwa menghujamkan penisnya dalam-dalam dengan hentakan-hentakan lambat namun keras. Dia dapat merasakan beberapa semprotan cairan benih Boshwa di setiap hentakan. Boshwa telah menodai dirinya, mengeluarkan benih di rahimnya, hal itu membuatnya putus asa.
Baru setelah beberapa hentakan keras Boshwa mencabut penisnya, nafas Boshwa masih berpacu, Gadis cantik bernama Misha itu terlihat tanpa daya terbaring di jok mobil dengan kemeja terbuka dan basah akibat keringat Boshwa, perutnya terasa hangat, begitupun air mata yang meleleh di pipinya, namun ini belum selesai, beberapa detik kemudian Amang menariknya keluar dari mobil, menelungkupkannya diatas kap sebuah kijang silver di sebelah mobil mereka yang entah milik siapa, Misha masih belum bisa bereaksi, badannya masih sangat lemas saat Amang melolosi kemejanya, diikuti bra, hingga akhirnya Misha dapat merasakan rok mini bergelombangnya jatuh ke lantai tempat parkir ini. Beberapa karyawan hotel melewati tempat parkir itu, jelas, mereka melihat apa yang terjadi disana, namun tidak berani bereaksi sama sekali. Beberapa malah memilih duduk agak jauh untuk menyaksikan pemerkosaan ini.
“ammpphuunnh..AAKKH...AA!!” Gadis cantik itu menjerit, tubuhnya terdorong ke depan, membuat payudaranya terayun menggesek kap mobil saat Amang melesakkan penisnya dari belakang. Tubuh telanjangnya yang berkilat menggeliat dan itu membuat beberapa karyawan hotel yang sengaja menontonnya bergumam-gumam, Amang justru menikmati disaksikan orang banyak seperti itu, Misha merintih sambil memejamkan mata, pasrah bersandar pada kap mobil saat Amang mulai menggenjot penisnya dari belakang.
“nggh.. aagh..ngg...ngeehh...” kepasrahan Misha ini ternyata malah menjalarkan rasa yang berbeda dengan saat keperawanannya dirobek oleh Boshwa tadi, rasa perih itu hanya ada sesaat, vagina Misha mulai berkedut, merasakan suatu kenikmatan sendiri. Misha hanya mendesah dengan mata terpejam dan bibir sedikit terbuka. Di belakangnya, Amang memompa penisnya dengan teratur, cepat, kasar, namun teratur. Kedutan di dinding-dinding vaginanya makin lama makin terasa dan makin kuat, membuat penis Amang juga makin terasa nikmat. Misha memejamkan matanya hingga akhirnya dia merasa seperti terdorong ke atas dan...
“NGGGGHHHHH AAAAGGGHHH!!!!...” Misha melenguh dan menjerit panjang, badannya mengejang ke depan, payudaranya makin berayun, Amang terdiam sejenak, dia merasakan ujung kepala penisnya disiram oleh sesuatu yang hangat. Amang tersenyum saat menyadari bahwa gadis muda yang tengah digenjotnya ini orgasme. Karyawan-karyawan yang menyaksikan semakin riuh bergumam.

Sesaat Misha seperti hilang keseimbangan, tubuhnya terjatuh melorot dari kap, Amang dengan sigap menahannya dan semakin merapatkan tubuh Misha ke kap mobil kijang itu, Amang meremas kedua payudara Misha sejenak sebelum mengalihkan pegangannya ke pinggang ramping gadis itu, dan menjadikan pinggang ramping gadis itu pegangan untuk memacu genjotan penisnya semakin dalam dan kencang hingga tubuh Misha terdorong-dorong dan kembali mendesah-desah lirih.
“HHHHH!!!” Amang mendengus keras sambil melesakkan penisnya dan berejakulasi di dalam vagina gadis cantik itu.
Misha kembali memejamkan mata merasakan semprotan-semprotan cairan hangat di dinding-dinding rahimnya. Tanpa menunggu lama, Amang mencabut kembali penisnya, merapikan celananya dan bergegas mengikuti Boshwa kembali menemui sang Bos. Meninggalkan Misha yang terkulai tanpa busana diatas kap mobil. Setelah dua bodyguard itu pergi, beberapa karyawan berjalan mendekati Misha, Misha menyadari itu, dia berusaha bangkit dan mencari pakaiannya, namun tidak ada!! Sepertinya Boshwa dan Amang membuang pakaian Misha entah kemana. Misha panik, tidak mungkin dia lari dalam keadaan telanjang bulat begini, sedang para karyawan yang tadi menontonnya sudah dekat, Misha tidak punya jalan keluar selain meringkuk sambil terisak di tepi mobil saat karyawan-karyawan itu mengitarinya.
“hot banget ngentotnya non? Cantik pula”  celoteh salah seorang dari mereka.
“sayang jadi perek” celoteh yang lain lagi
“mau dong ama kita?, boleh dong kita nyumbang sperma?” gurau yang lain.
“goblok loe! Ama orang-orang jelek item aja dia mau... apalagi ama kita ya ga??” seru yang lain diikuti tawa yang lainnya.
“jangan...” Misha mengiba saat dua orang dari mereka melonggarkan tangannya sehingga buah dadanya terlihat jelas.
“gua pake mekinya dulu, loe mulutnya, ntar gantian” ujar salah satu dari dua orang itu.
“HEY! SUDAH!! BUBAR!!” suara teriakan menghentikan aksi karyawan-karyawan mesum itu, tiga orang satpam yang tadi muncul. Para karyawan itu bubar seketika. Misha kembali meringkuk menutupi tubuhnya.
“tutupi pake ini aja non sementara”satpam tua menyodorkan jaket satpamnya ke Misha, gadis cantik itu menerimanya. “non ke pos jaga dulu aja, sambil kami cariin baju buat non”.
Misha tersenyum “makasih pak” lalu berdiri dan menggunakan jaket satpam itu untuk menutupi bagian depan tubuh telanjangnya. Kedua satpam yang lain berbaik hati membantu Misha yang terlihat sangat lemas. Untunglah di dunia ini masih ada orang-orang baik, gumam Misha dalam hati. Satpam bernama Tejo menutupi bagian belakang tubuh Misha dengan jaketnya
“mari non”. Misha dan ketiga satpam itu berjalan menuju pos jaga.
Dan beberapa menit kemudian pekikan Misha kembali terdengar dari dalam pos jaga itu.

-----------------------------------------
<SEX SCENE 01: MISHA VS BOSHWA & AMANG-END>

Sementara ketiga satpam brengsek itu tengah sibuk menancapkan penis-penis mereka di seluruh lubang di tubuh Misha, di sebuah kamar hotel, seorang pemuda menyalakan batang rokoknya dengan santai sembari mengutak-atik laptopnya. Seragam biru khas karyawan hotel itu tergeletak berserakan di tempat tidur, pemuda itu adalah karyawan hotel yang tadi menerima bogem mentah dari bodyguard pak Qadar. Yang tidak diketahui oleh siapapun di hotel itu, pemuda itu bukanlah karyawan hotel biasa, dia bahkan bukan karyawan hotel itu. Nama pemuda itu Christian D Ambaraksa, yang biasa dipanggil “ian”, berprofesi sebagai penulis lepas di salah satu majalah game milik asing yang baru enam tahun membuka cabangnya di Indonesia. Namun itu semua hanya kedoknya. Ian bukanlah penulis hebat, dia memang menelurkan beberapa tulsan tapi bukan tulisan yang hebat, dia lebih terkenal sebagai pembunuh bayaran yang memiliki codename : Silent Rose. Biasa menerima tawaran pekerjaan dari sebuah organisasi yang bernama ‘Asocciation’ (ASsasin-SOCial-Crime-In-All-naTION), sebuah organiasi besar yang tujuan sebenarnya belum juga diketahui. Meski dilatih dan dibesarkan oleh organisasi, hubungan Silent Rose dan Asocciation tidak lebih dari rekan kerja belaka. Ian tidak tahu-menahu masalah intern Association, siapa saja di belakang Association, atau apa tujuan dasar Association itu sendiri. Ian hanya meneruskan profesi Ayahnya yang gugur sebagai Silent Rose pertama. Saat Association mengajukan ‘case’(sebutan untuk misi dengan target pembunuhan), Silent Rose punya hak untuk menolak case tersebut tanpa harus menjelaskan alasan penolakannya. Sebaliknya, Association tidak memiliki kewajiban untuk memberikan informasi-informasi yang dapat membantu Silent Rose dalam menuntaskan case yang diambilnya. Silent Rose bergerak sendiri, dalam diamnya yang mematikan. Ian membuka berkas-berkas informasi yang dia miliki mengenai case kali ini. Qadar Wijaya, pemilik industri tekstil terbesar kedua di Asia Tenggara, produk-produk miliknya yang berlabel “Q-Touch”sudah menguasai pasar Asia, kegiatan eksport-import yang dijalankan menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Kampanye “Q-untuk semua” yang diselenggarakannya dengan membagi-bagikan pakaian pada kaum miskin Indonesia menggaet banyak simpati dari rakyat Indonesia, presiden bahkan menganugerahi gelar pahlawan kemanusiaan untuknya secara pribadi. Yang tidak diketahui khalayak umum adalah orang yang mereka sebut sebagai “Pahlawan Kemanusiaan” itu sendirilah yang menodai kemanusiaan di negeri ini.

Seminggu yang lalu ian menerima e-mail dari jaringan khusus Association tentang tawaran Case dengan target Mr, Qadar Wijaya, berikut dengan bukti-bukti lengkap mengenai kerjasamanya dengan Anjar Francois, importir elektronik yang merupakan gembong besar pemasokan narkoba di Indonesia. Sejak dua tahun terakhir, pihak intelejensi kepolisian telah mencium adanya penyelundupan narkoba melalui barang-barang elektronik yang diimpor oleh Anjar, oleh karena itu, Anjar memerlukan bantuan tangan ketiga untuk meneruskan bisnis haramnya, sosok Qadar Wijaya yang dinobatkan sebagai Pahlawan Kemanusiaan adalah sosok yang paling tepat, apalagi Q-Touch juga secara kontinyu mengimpor bahan dari luar negeri. Pilihan yang tepat, karena tak seorangpun yang akan mencurigainya, banyak orang indonesia yang “mendewakannya” menjadikannya sosok ideal sebagai panutan tanpa tahu apa yang ada di balik topeng kemanusiaannya itu. Qadar Wijaya bukan hanya pahlawan kemanusiaan tapi juga penjahat kemanusiaan. Disempurnakan dengan hobinya terhadap wanita yang membuatnya layak digelari penjahat kelamin. Hal-hal seperti inilah yang menjadi alasan ian menerima case. Ian kembali membuka e-mail yang diterimanya dari Association :

Name                       : Qadar Wijaya
Age                          : 48
Status                     : SOCial Crime
Deathline                                : 5th day of next moth
Proof file                                : attached
Case Class             : 20 STAR
-Case handled by Silent Rose-
           
Butuh waktu seminggu bagi Ian untuk menggalang informasi tambahan yang cukup dan mendukung untuk metodenya kali ini. Bukti-bukti yang dilampirkan Association memang cukup kuat, namun hukum adalah sesuatu yang patut dipertanyakan efektifitasnya. Ian mengumpulkan data statistik lima tahun terakhit tentang kematian dan kejahatan serta kesengsaraan yang dihasilkan oleh barang haram ini. Bagi Silent Rose, dirinya sendiri adalah sebaik-baiknya penghukum. Ian merapikan semua berkas itu, itu hanyalah hasil salinan. Berkas-berkas aslinya telah dia kirimkan ke satu deposite box di sebuah bank yang aman. Sementara itu, bukti baru mengenai tindakan asusila yang sering dilakukan oleh Qadar Wijaya, baru saja tersimpan di laptopnya.

-Private Meeting Room hotel yang sama, hari yang sama, 1 jam yang lalu-

-----------------------------------------
<SEX SCENE 02 : ASTRI  VS  QADAR WIJAYA>

“Silahkan duduk Pak...” Astri mempersilahkan Pak Qadar dengan ramah untuk duduk di kursinya, sedikit centil Astri menuangkan dua gelas wine dan memberikan satu ke pak Qadar. Pak Qadar tersenyum, mengambil segelas wine dan tiba-tiba menyiramkannya ke kemeja merah muda Astri, Astri terpekik kaget.
“waduh... kemeja kamu basah... terpaksa harus dibuka tuh” seringai Pak Qadar mesum. Astri sebenarnya sebal dengan perlakuan orang tua itu, namun dia tersenyum, menahan rasa sebalnya sendiri.
“kalau minta dibuka pasti Astri buka kok pak... tapi entar selesai bapak periksa dokumen-dokumen itu...” goda Astri sambil menunjuk dokumen yang tertata rapi di meja. Pak Qadar melirik dokumen itu, lalu membukanya. Tidak berapa lama kemudian dia terdiam dan meraba-raba saku jasnya seolah mencari sesuatu.
“ada apa pak?” tanya Astri keheranan melihat tingkah orang tua botak itu. Pak Qadar tidak menjawab, dia berdiri dan melepaskan jasnya, ditepuk-tepuk lalu dilemparkannya ke sofa sambil kembali meraba-raba kantung kemejanya sendiri.
“ada yang hilang pak?” tanya Astri sambil mencoba bersikap semanis mungkin. Pak Qadar kembali duduk.
“waduh saya lupa kacamata baca saya... ini tulisan-tulisan kecil disini saya tidak bisa baca..” ujar pak Qadar kemudian.
“biar saya bantu bacakan pak” Astri menawarkan bantuan.
“ya sudah sini kamu duduk di pangkuan saya” jawab Pak Qadar ringan.
Sebenarnya bukan itu maksud Astri, dia hanya ingin membantu membaca tanpa harus duduk di pangkuan si tua mesum ini, tapi bagaimanapun sudah jadi keharusan bagi dia, sesuai perjanjiannya dengan Pak Anjar, dia disewa untuk melayani Pak Qadar dalam satu ronde, apalagi menurut Pak Anjar, Qadar mengalami ejakulasi dini,
“paling lama 5 menit udah nyemprot”begitu kata Pak Anjar.
Astri bergerak pelan mendekati Pak Qadar, pelan-pelan dia berusaha duduk, namun si tua mesum ini benar-benar tidak sabaran, dengan kasar ia menarik Astri duduk di pangkuannya, membuat Astri memekik sekali lagi. Si tua mesum itu langsung memeluk tubuh langsing Astri dan meremas kedua buah dada Astri yang membusung.
“Ah! Pak... dokumennya dulu..” Astri berusaha mengarahkan Pak Qadar namun dia tidak berontak.
“kan sudah saya bilang, kemejamu basah harus dibuka...” celoteh Pak Qadar sambil tangannya mempreteli kancing kemeja gadis manis itu.

Astri

Astri tidak melawan, bahkan saat Pak Qadar menciumi leher jenjangnya Astri hanya mengeluarkan desisan menggoda, meski sulit, dia mencoba menikmati perlakuan si tua mesum ini. Kancing demi kancing lepas dari tempatnya, Pak Qadar segera melolosi kemeja Astri dari tubuh sang gadis manis ini, Astri mengangkat tangannya sedikit agar kemeja itu cepat lolos dari tubuhnya, Pak Qadar tersenyum melihat Astri yang mengenakan bra dengan kancing di depan, memudahkan jari jemari si tua mesum itu untuk melepaskan kancing bra Astri, buah dada Astri yang berukuran 34 C itu membusung kenyal dan segera menjadi bulan-bulanan tangan Pak Qadar.
“Ssshh... eenggh...” Astri melenguh manja mencoba menikmati remasan kasar Pak Qadar yang diluar perkiraannya, justru seperti remasan penuh nafsu bocah remaja, seharusnya Pak tua ini lebih berpengalaman, omel Astri dalam hatinya.
Dengan sengaja Astri meliukkan tubuhnya dan sedikit menggeser pantat sexynya, membuat penis Pak Qadar yang masih tertutup celana itu serasa seperti dipijat, namun hal ini buru-buru ditahan Pak Qadar, sepertinya Pak Qadar takut ejakulasi sebelum mencoblos vagina dara muda ini. Menyadari itu, Astri  tertawa geli dalam hati.
‘ah! Ini lawan main yang enteng’ gumamnya dalam hati. ‘umur aja tua, tapi kemampuan kayak bocah!’ pikirnya lagi.
Astri mengerjit sedikit jijik saat bibir pak Qadar memaksanya menerima ciuman-ciuman penuh ludah. Seolah anak kecil kehausan, lidah pak Qadar menjelajah seluruh rongga mulut Astri, Astri memejamkan mata dan berusaha mengimbangi lidah liar Pak Qadar, namun begitu Astri bisa mengimbanginya, lagi-lagi Pak Qadar menghentikan ciumannya dan langsung bermain di sasaran barunya ; dua bukit kenikmatan Astri.
“Aaaahhhh.....ouuhh..ssshhh...” Astri mendesah nikmat saat Pak Qadar melumat buah dadanya, lidah pak Qadar menyapu puting susunya, sesekali menghisapnya kasar, membuat Astri sedikit menggelinjang keenakan. Paling tidak hisapan orang tua mesum ini tidak seburuk penampilannya. Astri mengejan menikmati cumbuan Pak Qadar di kedua buah dadanya bergantian.
“Enggghhh.... OOHHH!!” Astri makin merintih saat dengan kasarnya Pak Qadar menyusupkan tangannya ke balik rok dan celana dalam Astri, jari pak tua mesum ini langsung masuk ke dalam vaginanya, Astri meringis menahan pedih akibat perlakuan kasar Pak Qadar, sebenarnya ingin marah, tapi dia bukan pada posisi yang berhak untuk marah.
‘sabar Astri... cuman 5 menit aja kok..’ gumamnya menenangkan hatinya sendiri.
“Ohh... ngghh.... ahh.. ah! Ah!..” Astri mulai menikmati kocokan jari Pak Qadar pada vaginanya, rasa pedihnya sudah hilang, vagina Astri mulai merespon Pak Qadar dengan mengeluarkan cairan-cairan pelumas.

Si Tua Mesum ini mengocok jarinya semakin kencang dengan nafasnya yang makin menggebu. Astri meliuk-liuk di pangkuan pak Qadar. Tiba-tiba, seolah sadar akan sesuatu, Pak Qadar menghentikan aktivitasnya dan memindahkan tubuh Astri ke samping, Astri yang sudah terangsang berat sedikit terkejut saat Pak Qadar mencabut jarinya. Pak Qadar bangun dari duduknya dan melolosi celana dalam Astri setelah sebelumnya menggulung rok mini Astri ke atas. Selanjutnya, dia membuka celananya sendiri. Penis keriput Pak Qadar tampak kaku dan keras, ukurannya tidak besar, tidak sebanding dengan perut buncitnya. Tanpa banyak bicara, Pak Qadar segera menindih tubuh Astri, dia menjatuhkan seluruh tubuhnya ke Astri, membuat Astri merasa sedikit terbebani, dengan nafas yang memburu, Pak Qadar mengarahkan penisnya ke bibir kenikmatan Astri, Astri membuka sedikit kakinya untuk memudahkan pak tua ini memasuki tubuhnya.
“Enggghh... Muantepp... memekmu enaaakk...”ceracau Pak Qadar saat penisnya membelah liang kenikmatan sang gadis. Astri melenguh pelan merasakan benda tumpul memasuki dirinya, vaginanya mecengkeram erat benda itu. Pak Qadar mendiamkan penisnya sejenak menikmati jepitan penuh kenikmatan dari vagina Astri. Meski basah, cairan pelumas di vagina Astri belum cukup banyak, sehingga masih terasa sedikit perih.
Setelah dirasa cukup, Pak Qadar melingkarkan tangannya ke punggung sampai ke pantat sexy Astri dan menggerakkan penisnya.
“hhhhe....ssshh...oohhh..ngghh...” Astri mendesah sexy menikati penis si tua mesum yang merojok vaginanya dengan teratur.
Permainan Pak Qadar tidak kasar, orang tua mesum itu bermain pelan sambil menikmati tiap senti dinding vagina Astri. Dalam hati, Astri memuji permainan lembut si tua mesum ini. Dan beberapa genjotan kemudian si tua mesum ini mengejang, penisnya berdenyut dan menumpahkan isinya ke dalam vagina Astri. Astri memekik kaget saat tiba-tiba isi vaginanya terasa hangat, bukan.... bukan kaget karena banyaknya sperma atau kuatnya semprotan sang kakek, tapi kaget karena dia baru menikmati permainan ini dan tidak menyangka Pak Qadar akan keluar secepat itu. Tapi dalam hati Astri bersyukur dia tidak harus susah-payah meladeni laki-laki yang sebenarnya masuk kategori “tak pantas menikmati lubang kenikmatannya”.

Pak Qadar segera bangun dan membersihkan penisnya dengan tissue lalu mengenakan pakaiannya kembali. Astri beranjak bangkit menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan untuk membersihkan sperma pak tua mesum itu di vaginanya. Setelah keduanya rapi Astri menanyakan perihal dokumen perjanjian bisnis antar pak Anjar dan Pak Qadar yang seharusnya menjadi topik meeting kali ini. Pak Qadar tersenyum jelek.
“tunggu disini sebentar ya?” ujarnya sambil beranjak menuju pintu. Tak lama kemudian Pak Qadar masuk bersama seorang yang juga seumur pak Qadar. “ini Darto, ketua para bodyguard saya” Pak Qadar menjelaskan. “sekaligus asisten saya” tambahnya.
Astri bersikap ramah dengan berdiri dan menjabat tangan Darto, Darto seumuran dengan Pak Qadar, namun badannya lebih kurus dari Pak Qadar, rambut panjangnya memutih, lebih cocok disebut tukang bajaj dibandingkan Asisten pribadi. Darto menerima jabatan tangan Astri, dan tidak segera melepaskannya, jari tengah Darto malah bermain menggelitik telapak tangan Astri.
“mulus banget tangannya... pasti kocokannya halus yah bos?” celoteh Darto, membuat Astri risih dan buru-buru menarik tangannya kembali.
Pak Qadar tertawa ringan. “Kau coba sendirilah!” ujarnya sambil membawa dokumen-dokumen yang ada di meja keluar ruangan.
“lho pak?” Astri terlihat bingung. Pak Qadar menghentikan langkahnya dan berbalik ke Astri.
“saya mau memeriksa dokumen dulu, kamu temani anak buah-anak buah saya ya?” ujarnya sambil tertawa dan melenggang.
Kata-kata Pak Qadar membuat Astri kaget setengah mati, dia sadar ini diluar perjanjiannya dengan Pak Anjar sebelumnya. Astri bergegas keluar ruangan, namun saat yang bersamaan, lima orang laki-laki bodyguard pak Qadar memasuki ruangan dan menahannya.
“oke... kita genjot semua lubang di cewek cantik satu ini!!” seru Darto riang diikuti riuh para anak buah Pak Qadar yang lain. Astri diseret ke sofa, dengan kasar Darto menarik robek kemeja Astri, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menelanjangi Astri, dan tidak butuh waktu lama juga bagi Astri untuk merasakan sebuah penis memasuki lubang kenikmatannya.

-----------------------------------------
<SEX SCENE 02 : ASTRI VS QADAR-END>

Ruangan itu jadi saksi pembantaian Astri, bagaimana dia mengiba-iba, menjerit kesakitan saat sebuah penis dipaksa masuk ke saluran pembuangannya, yang belum penah dimasuki apapun hingga saat itu. Dan tak satupun orang di ruangan itu menyadari cahaya merah berkelap-kelip pelan di sudut atas ruangan, yang merekam semua kejadian disana dan meneruskan gambar video langsung ke sebuah laptop di sebuah kamar hotel, tepat diatas ruangan meeting itu. Ian memandangi rekaman itu tanpa ekspresi, dia tahu, meski dia merasa iba pada Astri, melakukan sesuatu yang berpotensi menggagalkan Casenya bukanlah tindakan yang bijak dan bisa ditoleransi. Untuk mengambil sebuah nyawa, tentu nyawa sendiri menjadi taruhannya. Ian menekan tombol stop n save untuk menyimpan rekaman itu ke hard-disk laptopnya dan mematikan alat perekam dengan remote jarak jauhnya. Bukti kebejatan sang Pahlawan Kemanusiaan terbaru sudah dia dapatkan. Kini waktunya mengalirkan warna merah untuk sang mawar. Dengan sigap ian membereskan semua perlengkapan yang dia gunakan selama ini, membiarkan seragam karyawan hotel yang digunakannya untuk penyamaran tergeletak begitu saja di kamarnya, mengenakan T-shirt putih bermerek Q-Touch dibalik jaket merahnya dia bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya. Cukup lama dia tertahan di palang pintu parkir di samping pos jaga yang tidak segera dibuka oleh satpam yang bertugas.
“jangaan.... jang...Nggghh!!” sayup-sayup terdengar suara jeritan wanita dari dalam pos jaga ketika seorang satpam tua tergopoh-gopoh membuka pos jaga lalu berlari ke arahnya.
Suara itu mungkin nyaris tak terdengar orang biasa, tapi tidak bagi ian yang sudah terlatih, seluruh indera ian sudah sangat terlatih hingga nyaris tak ada suara sekecil apapun yang luput dari perhatiannya. Ian tetap memasang wajah tanpa ekspresi dan bersikap seolah tak mendengar apapun saat satpam tua itu mendekat, seragam satpamnya basah karena keringat, rambut putihnya juga acak-acakan dan nafasnya masih tersengal-sengal, seragamnya kusut dan yang juga tidak luput dari perhatian ian, resleting celana sang satpam itu setengah terpasang.
“maklum panas, pintu pos jaga juga sedikit macet” satpam itu beralibi, ian hanya tersenyum santai sambi menyerahkan karcis parkirnya dan STNK.
“nanti saya kembali lagi” ujar ian tenang, satpam tua itu hanya mengangguk.
Masih terdengar rintihan dan desahan berbaur dengan isak tangis dari dalam pos jaga saat ian memacu motornya meninggalkan tempat parkir itu. Ian bukan tidak tahu siapa gadis di dalam, dia menyadap semua kamera keamanan di hotel itu, dan tindak tanduk tiga satpam yang berjaga hari itu terekam jelas di dalamnya.
“untung kalian bukan targetku” ujar Ian dalam hati. “urusan kalian nanti dengan kepolisian, sama dengan anak buah Qadar” tambahnya.

Ian menghentikan laju motornya di sebuah tikungan tajam yang pagarnya rusak dan belum diperbaiki. Hati-hati dia meletakkan sekaleng oli di tepi jalan, jalan itu jarang sekali dilalui kendaraan. Di sisi tikungan itu adalah bukit, sedang di sisi lainnya adalah jurang, di bawah jurang itu terdapat rumpun bambu yang sudah tidak tumbuh lagi akibat kekeringan. Penduduk setempat memotong dahan bambu itu agar tidak menghalangi sinar matahari yang masuk ke sebagian kawasan pemukiman kumuh di lembah bawahnya. Dengan tali yang diikatkan pada tiang lampu tepi jalan ian turun ke bawah, mengamati dahan-dahan bambu kering itu beberapa saat lamanya sambil sesekali mendongakkan kepala ke jalan diatasnya. Setelah diam beberapa saat, ian menebas beberapa dahan bambu secara diagonal hingga terdapat sisi tajam di bagian atasnya. Setelah itu, Ian naik kembali ke atas dan memacu motornya ke sebuah pondok bambu di atas bukit.
“NGGGHHH!!! Jang...NGAAAANNN!!!” Astri menjerit saat Boshwa dan Amang melakukan double penetrasi pada dirinya.
Tubuhnya menegang sesaat sebelum terlonjak-lonjak mengikuti genjotan kasar Boshwa dan Amang. Vaginanya terasa panas dan perih saat penis Amang tanpa ampun melesak menggesek bibir-bibir vaginanya, sedang saluran pembuangannya terasa penuh oleh rojokan penis Boshwa. Untung bagi Astri, Boshwa dan Amang tidak lama melakukan double penetrasi, mereka berdua mengisi tubuh Astri dengan sperma dalam waktu yang nyaris bersamaan, namun keduanya memasukka seluruh batang kejantanan mereka di kedua lubang Astri saat berejakulasi, membuat  mata Astri terbelalak dengan mulut menganga yang tidak mengeluarkan suara. Boshwa dan Amang adalah yang terakhir, sesaat setelah mereka berdua selesai, Pak Qadar memerintahkan semua anak buahnya untuk mengawalnya meninggalkan hotel, sambil tertawa puas mereka meninggalkan Astri yang terkulai lemas di lantai ruangan. Wajahnya melukiskan apa yang baru saja dialaminya, adalah pengalaman seksual paling terburuk yang pernah dialaminya. Ketiga satpam hotel itu belum puas dengan Misha saat rombongan mobil Pak Qadar meninggalkan lahan parkir. Tejo yang membukakan palang pintu. Mereka yang di dalam mobil tentu tidak mengetahui bahwa di dalam pos jaga, Seorang gadis cantik sedang didoggy oleh seorang office boy yang tanpa sengaja memergoki para satpam itu sedang menggarap Misha.

Ian menyalakan rokok berstempel Silent Rose-nya sambil sesekali melirik ke jam tangan digitalnya. Sebentar lagi rombongan itu akan sampai di tikungan tempatnya meninggalkan sekaleng oli. Jarang ada yang melalui jalan itu, namun dia tahu, rombongan Pak Qadar pasti melewati jalan itu untuk menghindari sorotan publik. Dan perhitungannya tepat, pelacak kecil berupa jarum yang ia tusukkan ke jas yang dikenakan Pak Qadar juga yang ia masukkan ke saku bodyguard Pak Qadar saat dia menerima pukulan tadi menunjukkan kalau mereka melalui jalan itu. Ian bersiap pada sniper riffle keluaran Jerman milik Ayahnya. Dengan cermat dia membidik ke kaleng oli yang ia tinggalkan di tepi jalan aspal itu, menunggu beberapa saat dan.. ZZHHPPHH!!  ZHHPPHH!!. Dua tembakan ia lepaskan, tembakan pertama membuat kaleng terlempar ke tengah jalan dan menumpahkan isinya ke jalan, tembakan kedua mengenai sisi kaleng dan merubah arah jatuh kaleng tersebut. Kaleng oli itu lenyap ke bawah tebing. Tidak samai 2 menit kemudian sebuah SUV hitam diapit oleh dua mobil van hitam melewati jalan itu. Disinilah latihan yang ditempa ian selama bertahun-tahun dibuktikan, kredibilitas sebagai Silent Rose dipertanyakan. Untuk melewati tikungan yang cukup tajam, mobil-mobil itu harus melambat beberapa saat dan itulah saat-saat bagi Silent Rose. Ian terlihat tanpa ekspresi, pandangan matanya fokus pada satu titik...
ZHHHPPHH!!! Satu tembakan dilepaskan ian ke arah roda depan sebelah kiri SUV hitam itu tepat setelah roda itu terlumuri oleh oli.
DUARR!!KRIEEEETTTTT!!! Sepersekian detik kemudian terdengar suara ban yang meledak akibat perbedaan tekanan udara dan panas akibat gesekan dengan aspal, oli membuat roda itu tergelincir, oleng kehilangan keseimbangan, suara decitan rem akibat sang sopir panik terdengar menyayat keheningan sekitar. Bagian belaang mobil SUV itu sempat tergeser sebelum akhirnya menabrak pagar pembatas yang telah rusak dan jatuh bebas ke jurang disampingnya. Ian mengemasi senjatanya dan memacu motornya, mengambil rute memutar yang cukup jauh untuk membereskan sisa-sisa alat perekam di hotel tadi. Tidak perlu waktu lama bagi media untuk meliput berita besar itu, Surat kabar-surat kabar menuliskan besar-besar di halaman utamanya dengan tulisan “KECELAKAAN MAUT MENIMPA PAHLAWAN KEMANUSIAAN”, “INDONESIA KEHILANGAN PAHLAWAN KEMANUSIAAN”, “PRESIDEN MENYATAKAN BERBELA SUNGKAWA TERHADAP MENINGGALNYA SANG PAHLAWAN KEMANUSIAAN” hingga “ORMAS MENGUSULKAN HARI INI SEBAGAI HARI KEMANUSIAAN INDONESIA”. Ian membacanya dengan sinis.

_____________________________
Tengah hari, keesokan harinya.

Police line mengitari tempat terjadinya perkara tersebut, kerumunan orang terlihat tampak asyik bergumam diantara mereka. Beberapa diantaranya membawa karangan bunga sebagai tanda belasungkawa terhadap kecelakaan yang merenggut nyawa Qadar Wijaya, orang yang dianugerahi gelar Pahlawan Kemanusiaan. Beberapa petugas berseragam menjaga agar kerumunan itu tetap tertib. Seorang pemuda menyeruak di kerumunan dan langsung meloncati police line.
“Hey!!” sergah salah seorang petugas, namun dia langsung terdiam begitu tahu siapa pemuda itu. “eh.. maafkan saya detektif Rio..”.
“tidak apa sudah biasa” ujar Rio sambil nyengir. “Ooi Dean... lama amat kau!!”ujarnya menyoraki seorang pria yang tampak susah payah menerobos kerumunan. Mendengar nama Dean disebut, petugas itu langsung membelah kerumunan, membuka jalan untuk detektif Dean. Dean tampak berkeringat ketika berhasil menembus kerumunan.
“apa-apaan sih kerumunan ini?” Rio sedikit risih dengan kerumunan orang-orang disekitar.
“eeh.. mereka datang untuk berbelasungkawa atas meninggalnya Pahlawan Kemanusiaan” petugas itu menjelaskan,
“Pahlawan kemanusiaan dari hongkong??!! Cuma tukang kaos yang bingung mau buang kemana barangnya yang gak laku kok disebut Pahlawan Kemanusiaan?” Rio berucap setengah berteriak dan langsung disambut dengan pandangan tidak suka dari orang-orang yang berkerumun.
“hei... Rio, jaga ucapanmu, kalau masih ingin pulang sebagai manusia utuh..” Dean mengingatkan. Rio hanya mencibir pelan.
“jadi ban mobil Pak Qadar meledak di tikungan ini lalu jatuh ke jurang?” tanya Dean pada petugas setempat.
“Ya Pak, mobil itu jatuh ke jurang tepat ke atas rumpun bambu kering di bawah” jawab petugas itu.
“berapa korban jiwa?” tanya Dean lagi.
“satu, hanya Pak Qadar yang duduk di samping supir, sang Supir sendiri selamat, tapi belum siuman, masih di rumah sakit”.
“samping supir??, buat apa beliau duduk di samping supir? Bukannya biasa di jok belakang supir?”. Dean mengernyitkan dahinya, petugas itu mengangkat bahu tanda ketidaktahuannya.

“itu sudah kebiasaannya...” jawab Rio santai, Dean mengalihkan pandangannya pada Rio. “aku melihat dokumentasi sebelum korban dievakuasi dari mobil, lantas aku menanyai beberapa anak buahnya dan orang terdekatnya, Tukang kaos satu ini punya kebiasaan duduk disamping supir apabila tidak menyetir. Aku tadi juga sempat melihat rekaman liputan saat dia hadir di acara penganugerahan dirinya sebagai Pahlawan Kemanusiaan... dia turun dari pintu sebelah supir, kemungkinan akurasi data 99%”. Rio menjelaskan analisanya panjang lebar. Dean tersenyum dan manggut-manggut.
“rupanya kabar tentang kehebatan anda itu benar...” ujar petugas itu kagum. “beberapa penyidik dan tim forensik yang semalam mengolah tempat ini juga mengatakan ini adalah kecelakaan yang wajar, saya juga berpendapat begitu”.
“justru disini banyak keanehannya” ujar Rio sambil merentangkan tangannya. “apa yang dia lakukan disini? Di jalan ini? Aku sudah menanyai sekretaris pribadinya dan harusnya dia ada di kota sebelah untuk negoisasi bahan tekstil”.
“kalau kita lurus ke arah sana kan tembus ke kota sebelah?” jelas Dean.
“kenapa harus lewat jalan ini?, ini jalan memutar yang jarak tempuhnya dua kali lipat seharusnya. Lagipula bukan jalan utama, kenapa tidak lewat jalan tol yang hanya makan waktu 45 menit?”. Rio menyangkal.
Dean mengernyitkan dahinya sejenak. “mungkin menghindari kemacetan”
“Oh Ayolah Dean!, ini bukan lebaran... tidak ada kemacetan di jalan tol.. jalan tol ada bagi mereka yang benci kemacetan!”.
“mungkin menghindari sorotan publik?” Dean menjawab sekenanya.
“TEPAT SEKALI!! Tukang Kaos ini, memilih jalan ini untuk menghindari sorotan publik dan atau...”
“dan atau?” tanya Dean dan petugas bersamaan.
“dan atau ada tempat yang ingin dia singgahi sebelum ke kota itu. Sesuatu diluar agenda” Rio melihat sekeliling, “bangunan apa yang mencolok di sepanjang jalan menuju titik ini?”
Petugas setempat itu menggeleng. “tidak ada.. hanya tebing, beberapa pertenakan, pabrik rumahan dan sebuah hotel berbintang”.
“HOTEL!! Itu dia! Tukang Kaos itu mengambil rute ini, singgah dulu untuk menemui seseorang di hotel itu untuk berselingkuh deng..”
“CUKUP Rio!! Hati-hati ucapanmu bisa menimbulkan fitnah orang yang kita bahas ini Pahlawan kemanu..”
“Persetan dia itu Pahlawan Kemanusiaan atau apapun!! Di mataku dia tetap manusia! Dan semua manusia itu SAMA!” Rio membalas hardikan Dean dengan nada yang tak kalah tinggi. “kita harus bicara dengan pihak hotel itu”. Nadanya menurun.
“Err.. kami sudah melakukan itu, dan pihak hotel menyatakan bahwa beliau tidak singgah” jawab petugas setempat.
“mungkin mereka bohong” Rio berucap dengan nada datar. Rio merogoh tas jinjingnya mengeluarkan sebuah teropong binocular dan melihat ke bawah. “Dean, ini adalah TKP kita harus kebawah”.

Tanpa membuang banyak waktu, dengan bantuan petugas setempat Dean, Rio dan beberapa petugas turun ke bawah, mengelilingi bangkai mobil yang kacanya tertusuk bambu.
“lihat, kaca jendela supir retak tidak pecah, tapi kaca jendela disampingnya pecah tertusuk bambu” Rio mengulangi apa yang dilihatnya.
“bambu yang menusuk kaca samping supir ini terpotong...”. Dean menimpali.
“dipotong lebih tepatnya” tambah Rio. “bekas oli di aspal jalan atas terlalu banyak untuk dibilang akibat kebocoran, lagipula hanya ada di satu titik, kalau akibat kebocoran harusnya ada di sepanjang jalan...”. Rio menghentikan analisanya sesuatu menarik perhatiannya. Di saat yang sama sebuah e-mail masuk ke smartphone milik Dean.
“Dean, silent rose disini...” Rio menunjukkan  puntung rokok berstempel SR dengan lambang mawar yang ditemukannya.
Dean mengangguk “ya... sebuah email masuk ke emailku, subjeknya Silent Rose” jawab Dean getir.

Sore itu Dean dan Rio mendatangi sebuah bank internasional dan membuka isi otak deposit yang disebutkan Silent Rose di dalam e-mail, isinya adalah semua bukti kejahatan yang dilakukan Qadar, lengkap dengan rekaman persetubuhan dan salinan rekaman seksual yang dilakukan anak buah dan tiga orang satpam hotel tersebut. Hotel itu dituntut karena memberikan keterangan palsu pada kepolisian, seluruh pelaku dalam rekaman itu dijebloskan ke penjara. Keesokan harinya kasus ini dipublikasikan, beberapa surat kabar mengganti judul headline mereka dengan Pahlawan Kemanusiaan Palsu, Penjahat berkedok Pahlawan, dan semacamnya. Gelar Pahlawan Kemanusiaan pun dicabut dari nama Qadar Wijaya. Astri dan Misha dimintai saksi sebagai korban dan mendapat perlindungan hukum Dan kasus ini menambah arsip kasus-kasus sebelumnya yang berkaitan dengan Silent Rose. Anjar Francois yang berusia 54 tahun nyaris lolos dari jerat hukum, sebelum ditemukan tewas di sebuah hotel berbintang miliknya akibat serangan jantung, dan mati sesaat setelah menyemburkan sperma di dalam vagina seorang gadis cantik yang tengah mabuk berat, puntung rokok berlabel SR dengan cap mawar menjadi pertanda bahwa Silent Rose lah yang ada dibalik kematian Anjar Francois meski metode pembunuhannya masih belum terungkap. Detektif Rio, dan Wakil Kepala bagian Intelijensi Kepolisian Dean masih membuka mata dan berusaha menangkap sang pembunuh dalam diam... Silent Rose.

Dan ini bukanlah satu-satunya Case...

By: Rainmaker