Perjalanan berlanjut melewati jalan aspal yang berukuran pas untuk 2 kendaraan seukuran kijang, beruntunglah dalam perjalan ini cenderung sepi, tapi bila berpapasan dengan truk atau sesama bus maka salah satunya harus turun dari jalanan aspal. Hal ini membuat bus bergoyang keras kekiri dan kekanan. Kali ini teman dudukku sangat diam, tapi aku tidak tahu apakah dia tidur atau masih terjaga karena lampu didalam bus dimatikan. Setelah 2 jam berjalan bus mulai memasuki daerah tanjakan dengan jalan yang berlika-liku. Goyangan bus sangat keras sekali ketika menikung karena sopir tidak mengurangi kecepatan sama sekali. Barang-barang dibawah kursi penumpang mulai berserakan tak terkecuali sandal dan sepatu penumpang yang dilepas. Aku sama sekali tidak khawatir dengan hal itu karena sepatuku tidak pernah kulepas, tapi tidak bagi teman dudukku. Dia kelihatan bingung mencari sandal kanannya yang hilang entah kemana.

Aku mencoba menenangkan, "Mbak, nanti aja dicari kalau bus berhenti dan lampunya dinyalakan, pasti ketemu."
Bukannya tenang tapi dia malah marah, "Jangan bercanda, ayo bantuin cari."
"Percuma gelap Mbak, nggak kelihatan apa-apa", jawabku.
"Belum berusaha udah nyerah", bentaknya padaku sambil membungkukkan badannya.
"Bukannya menyerah, Mbak, tapi aku kan tidak ikut punya sandal, kalau kaki Mbak juga bisa dilepas mungkin juga ikut hilang ya, hehehe..", jawabku dengan bercanda.
Dalam remang-remang kulihat dia mendongkakkan kepala menghentikan pencariannya dan dengan cepat tangannya memegang bagian dalam pahaku lalu mencubitnya. Untung bisa kutahan jeritanku, tapi rasa cubitan itu benar-benar menyakitkan. Iswani ganti tersenyum dan tak melepaskan cubitannya berkata pelan, "Untuk tanganku ini nggak bisa dilepas, kalau bisa pasti sudah merah semua sekujur tubuhmu karena cubitannya".

Kupegang tangannya yang mencubit sambil memohon, "Maaf Mbak, tolong lepaskan cubitannya nanti aku bantuin".
"Kalau kamu bohong akan kucubit lagi ya", ancamnya sambil melepaskan cubitannya.
"Iya, iya", jawabku sambil menengok kebagian belakang bus kalau-kalau ada kursi kosong untuk pindah tempat dan menghindari cubitan berikutnya, tapi tak kutemukan.
"Cari apa Tok? Kursi belakang udah penuh tinggal sebelah sopir kalau mau pindah", bisik Iswani di telinga kiriku.
"Ah, nggak kok Mbak", sambil mengelus bekas cubitannya yang masih sakit padahal aku memakai celana jeans tebal. Ternyata siasatku sudah terbaca, "Sial", ungkapku dalam hati.
"Ayo cepat carikan sandalku sebelum benar-benar hilang", perintahnya padaku.
"Sebentar Mbak, cubitan Mbak masih sakit nih", jawabku tak mau kalah.
"Ooo, pingin dicubit lagi ya?", ancamnya lagi.
"Iya-iya", lalu kurogoh saku jaketku untuk mengambil senter kecil yang biasa kubawa dan menyalakannya. Kuarahkan senterku ke sandal kirinya untuk melihat bentuknya lalu kubungkukkan badan kebawah kursiku, dengan senterku akhirnya terlihat sandal kanan Iswani ada dibawah tempat duduknya terjepit oleh kaki belakang kursinya dan dinding bus.

"Sudah ketemu Mbak", kataku sambil menegakkan lagi punggungku.
"Mana?", tanyanya. "Kejepit dibawah kursi Mbak, dari bawah kursiku tanganku nggak sampai, coba Mbak rogoh sendiri, mungkin tangan Mbak sampai."
Belum selesai penjelasanku dia sudah membungkukkan badan dan berusaha mencari-cari dengan tangannya. Tapi usahanya gagal.
"Tok, coba kamu aja yang ambil tapi lewat sini", sambil menunjuk ruangan diantara kedua belah paha kakinya yang sudah dilebarkan.
"Yang bener Mbak?", meskipun dia memakai celana jeans tapi tetap aja rasanya nggak benar.

Dengan berbisik dia menenangkanku kalau hal itu nggak apa-apa karena lampu didalam bus gelap sehingga tidak akan ada yang melihat. Akhirnya kuturuti kemauannya, kubungkukkan badanku ke pangkuannya dan kumasukkan tanganku kebawah tempat duduknya untuk meraih sandal yang terjepit. Usaha pertama gagal karena tanganku tak sampai, lalu semakin kubungkukkan badanku lagi hingga mukaku hampir menyentuh resleting celananya. Tangan kananku sudah menyentuh sandal yang terjepit tapi masih belum dapat meraupnya. Semakin kubenamkan mukaku diantara kedua pahanya hingga daguku menggeser selakangannya dan tiba-tiba bus bergoyang agak keras sehingga aku hampir terjatuh, untungnya tangan Iswani dengan cepat menarik kepalaku dan kedua pahanya mengapit badanku sehingga kepalaku terhindar dari bagian belakang kursi didepan Iswani. Tapi akibatnya mulutku menyentuh daerah kemaluannya dan meskipun memakai celana jeans tapi aku yakin dia merasakan sentuhan tersebut karena tarikan tangannya pada bagian belakang kepalaku bertambah erat meskipun bus sudah tak bergoncang lagi. Dan akhirnya kudapatkan sandal yang terjepit itu. Dengan menopangkan tangan kiriku pada paha kanannya aku bersusah payah untuk berdiri dan akhirnya berhasil kembali ketempat dudukku kembali lalu keberikan sandalnya yang masih kugenggam dengan tangan kananku. Aku duduk lega sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya dan kulihat dia memakaikan sandal itu dikaki kanannya serta mengikatkan talinya dengan teliti sambil berbisik, "Terima Kasih, ya!"

Setelah minum dari botol aqua yang ada di tasku, tangan kananku kembali mengelus pahaku bekas kena cubitan Iswani yang masih sedikit perih.
Tanpa kusadari ternyata Iswani melihatnya dan berkata lirih, "Masih sakit ya, maaf ya!".
Tapi aku tetap diam.
"Aku elus nanti pasti sembuh", bisiknya sambil mengelus bagian dalam paha kiriku.
Burungku yang sedari tadi tidur tenang mulai menggeliat bangun terangsang oleh elusannya yang semakin lama semakin menuju pangkal paha. Elusannya sekarang berubah arah bagian celana tepat dimana burungku bersembunyi.

Malam semakin larut dan Iswani semakin berani, tubuhnya semakin mendekat ke tubuhku. Tangan kanannya yang sedari tadi diam mulai bergerilya membuka resletingku dan mulai memasuki celana dalamku. Kumiringkan tubuhku agak kekiri dan kutatap wajahnya. Kedua tangannya tetap menggenggam burungku sambil sesekali memainkan telornya. Tanganku tak mau kalah, kuletakkan tanganku diatas kaosnya dimana payudaranya berada dan kumainkan jari-jari menggoda daerah putingnya. Kulihat bibirnya mulai membuka karena mendesah lirih, tak kusia-siakan kesempatan ini untuk menyodorkan bibirku ke bibirnya dan melumatnya dengan dengan penuh semangat. Lidahku mulai bersentuhan dengan lidahnya, sesekali kusedot lidahnya dengan bibirku kedalam mulutku dan sebaliknya. Sementara itu tangannya memainkan burungku dengan gerakan mengocoknya. Tangan kiriku tetap menggosok-gosok payudaranya sedangkan yang kanan bergerak kebawah untuk membuka resleting celananya.

Setelah berhasil, kuraba bagian luar celana dalamnya tepat didaerah besarang kemaluannya dan sudah terasa agak basah. Kemudian kumasukkan tangan kananku kedalam celana dalamnya dan jariku mulai bermain-main dengan disekeliling vaginanya. Jari telunjukku mulai menemukan klistorisnya dan memejetnya dengan halus. Bersamaan dengan itu dia melepaskan ciuman dibibir serta melepas tangan kanannya dan tetap meninggalakan tangan kirinya di celana dalamku. Tangan kanannya mulai merangkul bagian belakang leherku hingga kepalaku tertarik ke bagian lehernya. Dengan cepat kusedot leher kirinya yang menghasilkan reaksi semakin liar. Jari jemariku tetap bermain didalam celana dalamnya hingga pantatnya terangkat sedikit yang merupakan tanda kalau vaginanya sudah tak sabar dimasuki jariku. Dua jariku langsung dengan mudah masuk kedalam vaginanya yang sudah licin dengan mudah.

"Ahh..", desahnya lirih
Desahannya bagaikan bensin yang membakar semangatku untuk memainkan 2 jemariku dalam liang kenikmatannya makin cepat dan cepat. Akhirnya 2 jariku merasakan banjirnya cairan hangat yang disertai dengan tarikan kedua tangannya pada pergelangan tangan kananku agar kedua jariku tetap menancap tak bergerak didalam liang kenikmatannya yang paling dalam. Dengan napas yang berat dan nada yang putus-putus, Iswani mendesah.
"Mmh.. Hmm.. Tok.. Makasih ya.."

Setelah melepaskan pergelangan tanganku, dia kembali tenang dan kutarik 2 jemariku yang masih basah meninggalkan vaginanya lalu keluar dari celana dalamnya. Aku kembali duduk dan menoleh kekanan melihat keadaan sekeliling dalam bus yang tetap melaju dengan kencang. Kulihat penumpang disekitarku masih terlelap. Kulihat jam di saku jaketku menunjukkan 01.00. Kurasakan ujung burungku yang masih tegang dan terjepit oleh karet celana dalamku merasa kedinginan oleh hawa AC bus. Berniat memasukkan burungku kedalam celana dalam kulihat Iswani tertlungkup lunglai membelakangiku.

Tiba-tiba bus berbelok ke kanan sehingga tubuhku mengayun kekiri dan merangsek ke tubuh Iswani. Toleh kanan-kiri serta dan sedikit berdiri untuk melihat keadaan penumpang sekelilingku masih terlelap bahkan bangku belakangku kosong tak berpenumpang. Keberanianku semakin bertambah. Kupelorot celana dalamku hingga seluruh batang kemaluanku dapat mendongkak dengan bebas. Bagian depan tubuhku sudah menggeser punggung Iswani, tapi dia masih tetap bereaksi, mungkin karena sudah lemas. Tanganku bergerak cepat, kurasakan resleting Iswani masih terbuka, tangan kananku kembali masuk celananya tapi tetap diluar celana dalamnya sambil menekan-nekan bagian celana dalamnya yang sangat basah tepat didepan lubang kemaluannya. Pantat Iswani mulai sedikit bergoyang dan menggeser batang kemaluanku. Sudah tak tahan lagi maka segera kutempatkan kedua tanganku di bagian pinggul celana jeansnya untuk melorotkannya. Usahaku ternyata tak dihalanginya malahan dia cukup membantu dengan sedikit menopangkan pantatnya pada kakinya hingga celananya tak terjepit oleh tempat duduknya.

Sekarang celana dalam dan jeansnya udah merosot sampai paha. Posisinya yang membelakangiku menyebabkan pergeseran nikamat antara batang kemaluanku dengan pantat dan selakangannya. Tubuhku terus merangsek ke tubuhnya dan kedua tanganku sudah berada dalam kaosnya meremas-remas kedua payudaranya meski masih dilindungi Bhnya. Kurasakan ujung burungku menggeser bagiannya yang sudah amat basah. Kukeluarkan tangan kananku dan memegang batang kemaluanku untuk kuarahkan ke target yang benar. Dengan posisi duduk membelakangi aku dia agak menelungkup bertopang sisi kiri tubuhnya, pantat kiri tetap diatas kursi, pantat kanan sedikit terangkat sehingga lubang vaginanya siap menjadi target misilku. Kudekatkan kepalaku pada telinga kanannya, kuciumi pangkal lehernya. Nafas beratnya makin terdengar seiring dengan desahan halusnya, "Akh.. Ayo Tok, masukin.."

Tanpa menunggu aba-aba ujung misilku yang sudang berada di ambang kenikmatan menerobos masuk. Sebuah jeritan lirih membuat tangan kananku langsung menutup mulutnya, untungnya suara mesin bus masih sangat mendominasi suasana. Misilku masih belum bergerak, 3/4 bagiannya sudah masuk, sisanya menunggu usahaku. Iswani sudah tak sabar, dia mulai memaju-mundurkan pantatnya tapi tak berhasil karena terhimpit badanku dan kursi. Tiba-tiba bus bergoncang setelah berpapasan dengan truk sehingga turun-naik dari aspal. Akibat goncangan, batang kemaluanku semakin dalam menancap kedalam liangnya dan kuteruskan dengan gerakan maju mundur. Kulepas tanganku dari mulutnya, terdengar desahan halus, "Hmm.. Akh.. ah.. Ah.." Kulihat samar-samar Iswani menggigit bibir bawahnya dengan gigi atas ketika bus melewati rumah-rumah yang berlampu. Tangan kanannya menggengam tangan kiriku.

Gerakanku semakin cepat seiring dengan semakin erat genggaman tangannya. AC bus yang dingin tak dapat menahan butiran keringatku. Sedikit demi sedikit Iswani merubah posisinya dan berusaha duduk diatas kedua pahaku. Kubantu dia dengan mengangkat pinggulnya hingga ia benar-benar mendudukiku, celana dalam dan jeansnya yang kupelorot tadi sudah turun sampai pangkal kaki sehingga bagian bawah kedua pahanya yang mulus saling bergeser dengan bagian atas pahaku yang berbulu. Sekarang aku tak dapat bergerak tertindih olehnya. Dengan berpegang pada kursi didepannya dia melakukan gerakan naik turun yang berirama seiring dengan goncangan bus. Kenikmatan yang kurasakan benar-benar tiada bandingannya. Cengkeraman dinding vaginanya memberikan sensasi yang luar biasa pada perasaanku. Setiap gerakan naik, kedua pahanya mengapit kedua pahaku, dan batang kemaluanku terasa disedot. Lalu gerakan turunnya mengakibatkan ujung kemaluanku terasa dipaksa membuka hingga bagian mulut ujung kemaluanku menempel pada organnya yang lembut dan basah, dan pangkal batang kemaluanku turut menikmati sentuhan bibir vaginanya.

Gesekan antara paha, pantat serta usapan-usapan telapak tanganku pada bagian depan daerah kemaluannya yang berambut mempercepat klimaksnya. Iswani mulai memperlambat gerakannya, menutup apitan kedua pahanya, merebahkan punggungnya pada dadaku dan menengadahkan kepalanya dipundak kananku. Karena letak mulutku pas pada telinga kirinya maka kuserobot telinganya dengan ciuman mulutku. Kedua tangannya menggennggam erat kedua tanganku. Seiring dengan desahan halus yang keluar dari mulutnya, kurasakan otot-otot pahanya mulai menegang, jepitan vaginanya pada batang kemaluanku memberikan denyutan-denyutan yang disertai rasa hangat keluarnya cairan yang membasahi seluru batang kemaluanku. Denyutannya bersambut dengan denyutanku hingga misilku memuntahkan semua amunisinya dengan tekananan yang hebat. Tiga sampai empat kali tembakan misilku didalam liang kenikmatannya dibalas dengan denyutan vaginanya seakan menyedot batang kemaluanku untuk menguras semua isi misilku. Batang kemaluanku kembali berdenyut dan mengeluarkan semua sisa amunisinya hingga benar-benar habis.

Berdua kami menghela napas panjang selagi penisku beristirahat dalam liang kenikmatan miliknya. Iswani kemudian menegakkan badannya dan mengambil beberapa lembar tissu lalu menarik tubuhnya dari pangkuanku ke samping kiriku, ke tempat duduknya. Sambil membersihkan kemaluannya dengan tissu dia mengulurkan sisa tissunya untukku. Setelah membersihkan dan mengenakan kembali celana kami, aku sempat melihat jam di sakuku, kulihat pk 02.51, sebelum akhirnya tertidur pulas. Terbangun oleh suara gaduh awak bus serta penumpang yang siap-siap turun kulihat jendela bus sudah terang benderang. Kuambil botol aqua dari tas dan minum sampai tak tersisa isinya. Kupandang Iswani yang duduk disebelah kiriku masih memejamkan mata dengan raut muka kepuasan yang melelahkan. Kulihat busku melewati kota Martapura dan jam disakuku menunjukkan pukul 07.26. Sisa perjalanan kuperkirakan tinggal 1 jam lagi.
"Jam berapa Tok?", tanya Iswani mengagetkanku.
"Setengah delapan", jawabku.
"Di Banjarmasin nanti kamu nginap dimana Tok?", tanyanya lagi.
"Nggak tahu Mbak, kalau udah nyampai baru cari penginapan", jawabku santai.
"Aku ikut kamu, ya?", tanya sambil tersenyum menggoda.

Pertanyaan Iswani tadi menutup cerita perjalananku Balikpapan-Banjarmasin dengan bus AC. Jawabanku akan pertanyaannya yang terakhir akan menentukan ceritaku selanjutnya di kota Banjarmasin nantinya.

TAMAT