Cerita ini merupakan kejadian yang aku alami diawal tahun 2000 pada saat aku masih menganggur dan belum bekerja. Cerita ini berdasarkan kejadian yang benar-benar aku alami dan aku hanya ingin berbagi cerita saja.

*****

Sore hari waktu menunjukan pukul 4, aku sedang mengitari Gelora Senayan, memang itu sudah menjadi kebiasaanku setelah lulus kuliah dan dalam rangka mencari pekerjaan. Setelah aku lari beberapa putaran, aku beristirahat di sebuah warung yang telah menjadi langgananku setiap aku lari di senayan. Aku selalu menitipkan tas disitu karena pemilik warung tersebut adalah salah satu mantan penjaga sekolah waktu aku sma.

Aku beristirahat sambil membereskan membereskan tasku, memang aku berencana menuju Plaza Senayan untuk membeli keperluan rumah yang diminta oleh ibuku. Ketika aku berjalan hendak ke Plasa Senayan di dekat patung panah tampak sebuah mobil Mercedez hitam membunyikan klakson
"OVI..!"suara perempuan memanggilku dari dalam mobil.
Aku menengok dan tampak wajah artis perempuan senior. Kita sebut saja Mbak Amy, Mbak Amy ini kira-kira berumur 36 tahun berbeda 9 tahun denganku.

Aku mengenal Mbak Amy ini dari mantan pacarku yang dulu pernah menjadi asistennya
"Apa kabar Mbak?" sapaku
"Mau kemana kamu Vi? "tanyanya
"Mau ke Plaza Senayan Mbak.. aku mau ke hero mau beli keperluan rumah"jawabku lagi
"Ya udah bareng aja yuk.. Mbak juga mau belanja sekalian temeinin aku belanja aja ya" ajaknya.
Aku mengangguk dan membuka pintu kiri mobil aku letakkan tasku di jok belakang.
"Bagaimana kabarnya Mbak?" aku mulai pembicaraan
"Baik.. kamu sendiri gimana? Kemana aja nih.. sombong amat gak pernah kerumah Mbak lagi.. mentang-mentang Ririn ngga kerja ama Mbak lagi" balasnya
"He he he.. abis Mbak sibuk sih.. aku ngga anak kalo ganggu" ujarku lagi.
Ririn itu mantan pacarku yang dulu pernah menjadi asisten pribadinya Mbak Amy ini
"Mbak Amy dari mana? koq lewat sini?" tanyaku lagi
"Aku dari rumah.. abis di depan hotel M macet banget jadi deh aku lewat sini terus ketemu kamu" jawabnya.

Mbak Amy ini kira-kira tingginya sekitar 167 cm, kulitnya putih bersih, rambutnya lurus panjang & hitam. Amemperhatikan Mbak Amy, hari ini dia memakai rok berbahan katun yang strect warna abu-abu baju kemeja hitam kontras dengan warna kulitnya serta rambutnya dibiarkan tergerai panjang dan sepatu hak tinggi warna hitam. Rambut panjang sampai ke punggung. Aku memang senang memperhatikan penampilan orang. Setelah mendapat parkir kita berdua turun dan langsung menuju Supermarket yang terdapat di basement Plaza Senayan.

Setelah membeli beberapa keperluan dan menemani Mbak Amy berbelanja, kita berdua menuju kasir
"OVi.. udah nanti belanjanya kamu biar Mbak aja yang bayar" kata Mbak Amy sambil tersenyum
"Gak usah Mbak.. nanti aku bayar sendiri.. lagian juga dikit koq.. kalo banyak ngga pa pa deh Mbak yang bayar" jawabku jahil sambil nyengir
"Bisa aja kamu.. udah biar Mbak aja yang bayar" katanya sambil mencubit pinggangku.
Aku tidak bisa menolak karena keranjang belanjaku diambilnya dan ditaruh di trolly belanjanya.

Setelah membayar, Mbak Amy mengajak aku makan tapi sebelum itu kita menaruh belanjaan ke mobil terlebih dulu. Mbak Amy dan aku makan di sebuah caf B di lantai 3 mall tersebut
"Kamu mau makan apa? Pesen aja jangan malu-malu.. ini Mbak yang traktir" ujarnya
"Oke Mbak.. kalo ditraktir sih aku gak nolak.. namanya juga rejeki" jawabku.
Mbak Amy mencubit tanganku sambil mengatakan, "Kamu ini masih aja usil"
Aku dan Mbak Amy memesan makanan dan minuman. Kami ngobrol dan mengobrol tentang keluarganya juga hubunganku dengan tentang mantan pacarku.

Jam menunjukan pukul 18. 30, aku dan Mbak Amy keluar dari caf B dan berjalan menuju dept. store yang tidak jauh dari caf B
"OVi.. temenin Mbak beli pakaian dulu ya.. kata Ririn kamu pinter milih baju"
"Ah.. bo'ong tuh.. percaya aja di bo'ongin" Balasku.
Kita berdua jalan menuju satu butik ternama. Setelah menbayar, Mbak Amy membawa 2 kantong kertas besar berisi pakaian baru. Rupanya Mbak Amy telah memesan pakaian tersebut jadi kami berdua tidak terlalu lama di dalam butik tersebut. Aku membantu Mbak Amy membawa belanjaannya yang lumayan banyak, sesampainya di mobil aku meletakkan belanjaannya di dalam bagasi mobil.

Jam menunjukkan pukul 19. 30, "Mbak aku mau ambil tas.. aku pulang naik bis atau taxi aja deh" kataku
"eeH.. jangan! Mbak anter kamu pulang ya" jawabnya
"Ngga usah deh Mbak.. khan rumah Mbak ama aku ngga searah" jawabku menolak secara halus
"Pokoknya Mbak anter kamu pulang! sekarang naik ke mobil" sergahnya.
Aku tidak bisa menolak ketika aku didalam mobil
"Nah gitu dong.. namanya juga rejeki jadi gak boleh ditolak ya" kata Mbak Amy sambil tersenyum manis, menampakan sederet gigi putih terawat
"Iya deh.. aku ngga nolak dianterin ama cewe cakep" jawabku sambil mengambil rokok dari kantongku
"Mbak, aku boleh ngerokok ngga dimobil?" tanyaku
"Ngerokok aja Vi.. aku juga mau ngerokok.. tolong ambilin rokokku di tas trus tolong nyalain ya.. susah nih sambil nyetir" jawabnya.

Aku mengambil sebatang rokok Capri dan menyalakan untuknya
"Makasih ya Vi.. kita mampir dulu ya ke apartement Mbak.. soalnya udah lama gak ditengokin"
"Iya deh.. terserah Mbak aja" jawabku
"Tapi kamu ngga ada janji khan ama teman-teman kamu?"tanyanya
"Aku bebas koq Mbak" jawabku lagi.
Mbak Amy memarkir kendaraan di basement apartement. Apartement tersebut terletak dipusat kota dekat sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Aku mengikuti Mbak Amy menuju lobby dan langsung masuk lift. Aku berdiri di belakang Mbak Amy, ternyata sexy juga Mbak Amy ini
"Ayo kamu ngelamunin apa? koq diem aja?"
"Eh.. ngga ngelamunin apa apa koq" jawabku setengah kaget.
Mbak Amy mengeluarkan ikat rambut dan menyanggul rambutnya yang panjang itu dengan rapih.

Tampak lehernya yang putih mulus, membuat 'adik'ku sedikit berontak di dalam CD-ku. Sampai di lantai 32 pintu lift terbuka dan kita berjalan menuju apartement Mbak Amy
"Ayo masuk dong.. jangan didepan pintu.. emang kamu mau jadi satpam?"
"Oke bu.. saya masuk ya" kataku sambil menundukan badan dan memberi hormat
"Kamu ini masih aja usil sama Mbak" balasnya sambil menepuk bahuku.
Aku masuk dan memperhatikan apartement yang mewah menurutku. Tampak pesawat teleVisi 34 inch lengkap dengan home theater. Dapurnya tampak tertata apik dan bersih tidak seperti dirumahku. Cat tembok dan perabotan yang ada merupakan kombinasi warna yang bagus.

"Ayo duduk dong.. jangan kaya patung gitu.. anggap aja rumah sendiri"
Aku duduk dan Mbak Amy memberikan segelas coca cola dingin. Ketika aku hendak menerima gelas minuman, gelasnya tergelincir dan isinya mengenai kaos dan celana jeansku
"Ya.. sorry Mbak kursinya jadi basah deh.. gara-gara aku" kataku sambil menyesal
"Ngga pa pa koq.. khan gampang dibersihin, tinggal di lap juga kering" jawabnya.
Bodohnya aku ini masa megang gelas aja tumpah.

Mbak Amy menuju dapur dan mengambil lap untuk membersihkan sofanya
"Mbak.. biar aku aja deh.. khan aku yang numpahin" pintaku
"Ngga usah.. gak pa pa koq.. mending kamu ganti baju nanti kamu masuk angin lho" balasnya
"Tasku dimobil.. aku ambil dulu deh" jawabku lagi
"Ya udah kamu tolong bersihin ini khan tinggal sedikit lagi.. nanti aku ambilin baju ganti di kamar"
Tidak lama kemudian Mbak Amy keluar dengan membawa kimono merah dan menyerahkan kepadaku
"Nih ganti sana! buka aja baju kamu nanti Mbak panggil orang laundry untuk cuci baju kamu.. 1 jam juga selesai"

Aku kekamar mandi dan ganti pakaian dengan kimono yang diberikan Mbak Amy kepadaku. Ternyata CD-ku juga basah, terpaksalah aku telanjang hanya dibalut kimono merah bergaris hitam. Aku keluar dari kamar mandi dan tidak lama kemudian datang orang laundry, Mbak Amy meminta pakaianku dan memberikan kepada orang laundry yang menunggu di depan pintu. Bahan kimono yang yang terbuat dari kain sutera halus terasa dingin dan bertambah dingin karena ac. 'Adik'ku yg langsung kena bahan mendadak berontak secara pelan-pelan. Kita berdua ngobrol didepan TV sambil menikmati kue-kue yang dibeli Mbak Amy di Plaza Senayan tadi.

Posisiku saat itu duduk diatas karpet dan Mbak Amy duduk disebelah kiriku diatas sofa. Sambil menonton aku membayangkan tubuh Mbak Amy sehingga 'adik'ku berdiri tegang. Aku menutupinya dengan melipat kedua kakiku. Mbak Amy mengambil rokok diatas meja dan tanpa sengaja buah dadanya menyentuh pundak kiriku. Duh.. kenyal tapi padat
"Kamu gak ngerokok Vi?" tanyanya
"Nih aku lagi nyari rokokku Mbak.. aku lupa aku taro dimana"
Aku mencari rokokku dan ternyata ada di meja di samping Mbak Amy
"Permisi ya Mbak" kataku sambil berdiri untuk mengambil rokok.
Tanpa sengaja 'adik'ku yang sudah tegang menyenggol tangan kanan Mbak Amy yang hendak mengambil gelas minuman.

"EH.. sorry Mbak gak sengaja"
"Gak pa pa koq Vi" katanya, sambil meletakan gelas minuman dimeja.
Aku berdiri dan tanpa sadar kimonoku tersingkap dan 'adik'ku keluar dari tempat persembunyiannya
"iihh.. OVi.. kontol kamu koq ngaceng?" tegurnya.
Aku buru-buru menutupinya lagi sambil nyengir malu
"Ngga pa pa koq" jawabku malu.

"Koq kontol kamu ngaceng sih? kamu bayangin apa hayo" kata Mbak Amy.
"Ngga bayangin apa apa koq" sambil malu-malu.
Aku menyalakan rokok dan duduk di kursi bar tinggi yang ada dekat dapur. Mbak Amy menghampiriku dan menyentuh 'adik'ku dari luar kimono
"EH.. ss" gumamku.
"Kenapa sih Vi?" tanyanya sambil memijat halus 'adik'ku
"Cuma lagi ngabayangin Mbak Amy aja.. abis sexy sih" jawabku sekenanya, sementara tangan Mbak Amy mengelus 'adik'ku yang satu lagi mengambil rokokku dan mematikannya di asbak.
Aku mencoba memeluknya dan dia tidak menolak. Aku mengecup bibir merahnya dan memainkan lidahku didalam mulutnya
"mm.. ss.. ssrrpp.. mmhh" desisnya.
Mbak Amy menarik tali kimonoku dan melepaskan ciuman serta pijatannya. Mbak Amy mengikat kedua tanganku dan menarik aku ke tempat tidur. Mbak Amy melepas kimonoku sehingga aku telanjang, kemudian Mbak Amy menidurkan aku dan mengikat tanganku di salah satu tiang tempat tidurnya.

Mbak Amy masih berpakaian lengkap dengan sepatunya sementara rambutnya masih tersanggul rapih. Mbak Amy mencium bibirku terus ke kupingku
"aahh.. sshh" aku mendesis geli tapi Mbak Amy tetap terus menjilat dan mencium
"sshh.. terus Mbak.. aahh" aku keenakan.
Mbak Amy menjilati kedua kakiku dan seluruh badanku tanpa terlewat satu sentimeterpun kecuali 'adik'ku yang belum tersentuh dengan tangan atau mulutnya. Aku tidak bisa berbuat apa apa karena kedua tanganku terikat diatas kepalaku dan diikatnya pula ke tiang tempat tidur
"Sial nih.. aku gak bisa gerak" pikirku..

Mbak Amy mulai menyentuh dan mengelus 'adik'ku
"sshh.. mmpphh.. yyaa.. pegang Mbak" desisku.
Mbak Amy tersenyum dan membungkuk, Mbak Amy mulai menjilati batang 'adik'ku
"Kontol kamu gede Vi.. bersih lagi.. baru kamu cukur ya.. Mbak suka ini" katanya sambil terus mengocok 'adik'ku dengan tangannya
"Kamu nurut aja ya Vi.. jangan banyak gerak" suruhnya.
Aku mengangguk pasrah, Mbak Amy meludahi 'adik'ku dan mengolesi 'adik'ku dengan tangannya. Matanya terkonsentrasi pada juniorku dan sekali-sekali melihat kearahku sambil tersenyum manis. Posisiku terlentang dan Mbak Amy duduk persis disamping paha kiriku sementara kedua tangannya sibuk memijat, mengelus dan mengocok 'adik'ku serta buah zakarku.

"Mbak Amy isep ya kontol kamu ini.. gede banget sih" kata Mbak Amy sambil menurunkan kepalanya dan membuka mulutnya.
Tampak kepala 'adik'ku masuk ke mulut Mbak Amy
"Ohh.. yyeess.. sshh" aku mengerang sementara lidah Mbak Amy terlihat terus berputar diantara 'helm' dan bibirnya yang masih berlipstick merah nyala
"Ohh.. mmbbaak.. yyeess.. enak banget" kataku setengah berteriak..
"Mmpphh.. slluurrpp.. sshh.. mm.. mm" Mbak Amy hanya bergumam dan terus menhisap dan mengocok 'adik'ku.
Sesekali batangku dimasukan full kedalam mulutnya
"Oohh.. yyeeaa.. yyess" teriakku keenakan.
Mbak Amy berhenti menghisap tapi tangannya terus mengocok batangku.

"Kamu mau apalagi Vi? Mbak suka ama kontol kamu.. gimana isepan Mbak?"
"Isep lagi Mbak.. isep lagi.. enak banget" jawabku.
Kembali Mbak Amy membasahi batangku dengan ludahnya dan tangannya terus mengocok sambil dipelintir halus..
"sshh.. Oohh.. yyeeaahh.. eennaakk bbannggett Mbak. enak banget.. terus Mbak" desisku.
Mbak Amy terus melakukan aktiVitas tangannya dan matanya terus melihat ekspresi mukaku yang keenakan
"Mbak isep lagi donngg.. jangan masa pake tangan aja.. ayo donk Mbak.. please" pintaku memohon.

Mbak Amy tersenyum melihat aku memohon tak berdaya, Mbak Amy membungkuk dan mencium kuping kiriku
"KenapA Vi.. kamu mau apa? mau Mbak isep lagi?" bisiknya
"Isep donk Mbak isep lagi.. abis isepan mabk enak.. please dong Mbak.. please.. please" kataku memohon lagi.
Mbak Amy tersenyum dan mulai menghisap lagi. Kali ini benar benar hot isapannya, kepalanya bergoyang kekiri kanan dan naik turun berkali kali sementara tangannya terus mengocok dan memutar di batangku
"Mbak aku mau keluarr.. aku mau keluar nih" kataku, badanku mulai menegang.
Mbak Amy menghisap 'helm'ku dan lidahnya menari diantara bibir dan 'helm'ku sementara tangannya terus memutar dan mengocok batang 'adik'ku yang makin menegang keras.
"Oohh.. yyeess.. aarrgghh.. aahh.. aahh.. TERUS MBAK ISEP TERUS.. Oohh.. yyeess.. aarrgghh" jeritku
"Keluarin Vi.. keluarin" katanya sambil kembali menghisap 'adik'ku lagi.
"ccrreett.. ccrreett.. ccrreett..", air maniku keluar di dalam mulut Mbak Amy, dan Mbak Amy terus menghisap.
Terasa aku menembak hampir 5 kali didalam mulut Mbak Amy. Mbak Amy menelan air maniku dan membersihkan sisanya dengan lidahnya.

Bersambung . . . .