Setelah aku selesai menceritakan semuanya, hatiku terasa lebih lega. Krista menatap gelasnya sebelum ia mulai berkata-kata. "Kalau melihat dari sisi gadisnya sih, mungkin benar seperti yang aku katakan tadi. Ia sudah paham kalau kamu akan meninggalkannya. Lalu apa salahnya denganmu? Kukira kamu hanya terlalu angkuh untuk melakukan sesuatu yang kamu anggap merendahkan martabatmu. Kamu itu dari dulu tetap saja bodoh. Heran aku." Aku menundukkan kepalaku saat mendengar kata-katanya. "Aku hanya takut, mungkin.""Iya..!" mendadak nada Krista terdengar...

Jupri melangkah memutar, lalu tanpa kusadari, ia sudah menarik kerah bajuku. "Bangsat kamu..!" sentaknya, "Apa sih yang ada dalam otakmu..!" Dengan gusar kutepis lengannya. Kubuka pintu dan melompat keluar. Jupri menggeram saat kutekan dadanya hingga punggungnya menempel di kap mobil. "Bangsat juga..! Kamu pikir aku apamu, heh..!" teriakku di wajahnya."Aku tahu kamu temanku," lanjutku dengan nada marah, "Tapi jangan seenaknya main tarik baju. Aku bisa membuatmu terkapar di sini karena itu, tahu..! Tahu tidak..? Aku tidak mau tahu tentang kamu dan...

Beberapa saat kemudian terlihat Adli keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Kuperhatikan setiap lekuk pada tubuh yang bagus dan tegap itu. Lalu kutersenyum padanya. "Kenapa Neng?" Tanya Adli. "Ah nggak, seneng aja ngeliat orang keren," kataku merayu.Wajah Adli terlihat senang. Kugamit lengannya agar ia lalu mendekat, setelah itu kutarik handuknya lepas. Batang kejantanan Adli terpampang di depanku, sudah tegang keras kembali. "Lho," tanyaku heran, "kok masih keras sih. Tersenyum Adli menjelaskan,...

"Huakk..!" Muntah, mungkin cara yang terburuk memulai sebuah hari baru. Namun itulah yang kulakukan ketika itu, saat matahari belum juga muncul. Gadis pirang di belakangku menekan-nekan leherku. "Pelan Ray, pelan..!" bisiknya berulang-ulang.Aku terengah, mataku berair. Saat itu aku merindukan belaian gadis 'itu'. Namun kutekan perasaanku kuat-kuat. Kuraih kepala shower dan menyalakannya. Air dingin segera membasuh kepalaku. "Kamu takut..?" gadis di belakangku berkata lirih, sementara jemarinya masih juga memijat tengkukku. "I'm fine," bisikku menundukkan...

"Je's ngga peduli. Itu pacar kamu, shit..!" aku mendengar Jessica mengumpat kalang kabut dengan logatnya daerahnya. Upay sudah pamit pulang sejak tadi. Aku merasa benar-benar sendirian. Aku hanya diam saat Jessica masih terus memaki. Akhirnya gadis pirang itu mengambil semua bajunya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia sudah keluar, dan langsung menuju ke pintu apartemen. "Ray..," kudengar ia hendak mengatakan sesuatu.Tapi ia tidak meneruskan, hanya mendengus, lalu keluar dan membanting pintu. Aku tidak perduli sama sekali....

Kunjungannya Di Kotaku Saat yang kunantikan tiba, Yonash datang dari Melbourne, aku menjemputnya dari Airport, bagai dua sejoli yang dimabuk asmara membara, kami saling mencium dan berpangutan menuju kemobilku, didalam mobil tangannya dia selalu membelai, cerita yang dituturkan seperti kita lama tak pernah berkomunikasi, terus sambung menyambung.Yonash selalu berdendang riang disetiap langkahnya, santai sekali, seperti orang tidak punya beban dalam kehidupannya, kadang aku sendiri bertanya, "Apakah yang membuat orang ini santai, periang sekali,...

Di Negeri Sakura December akhir 1998, Yonash harus pulang ke Indonesia, sebulan kemudian Yonash tulis surat bahwa dia sudah di Negeri 'Sakura', Negeri 'Terbitnya Matahari', Yonash akan mengundangku kesana dalam waktu dekat.Komunikasi antara aku dan Yonash 'intense' sekali, badanku selalu gemetar seolah gelombang listrik ribuan watt dikirimnya dari jauh menyeberangi lautan dan benua menerpa diriku, pikiranku tidak bisa focus menghadapi masalah kerjaan dan hidup keseharianku sendiri. Walau semuanya itu kutekan sebaik mungkin, namun arus Listrik ini...