Selang beberapa saat ketika birahi sudah semakin menguasai kami berdua, kulepaskan ciumanku sambil berbisik untuk meneruskan percumbuan di rumah. Setelah merapikan pakaian kami dan membayar harga makanan, kujalankan mobil menuju rumah sambil sekali-sekali mencium Marni.

Dalam perjalanan pulang, Marni merapatkan duduknya ke tubuhku sambil mengusap-usap dadaku dan sekali-sekali mengecup leherku dari samping. Rasa geli yang timbul dari usapan tangan Marni di dadaku dan kecupannya di leherku kubalas dengan mengusapkan tanganku di paha Marni dan sedikit tersingkap gaunnya.

Ingin rasanya aku mengusapkan tanganku pada paha Marni yang mulus itu sampai ke pangkalnya, tapi masih kutahan untuk membuatnya penasaran dengan hanya sekali-sekali meremas paha bagian dalamnya saja.

Sesampainya di rumah kami kembali tenggelam dalam ciuman penuh nafsu sambil berdiri berpelukan dan kuremas bergantian dada serta pinggul Marni yang padat sampai akhirnya dia tak kuat berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dinding.

Sambil terus berciuman kubuka kancing gaun Marni dan memelorotkannya sampai di pinggang lalu kubuka kancing pengait BH Marni dan melepaskannya ke lantai. Kuremas dada Marni dan kumainkan kedua putingnya dengan jari-jariku membuat Marni makin ganas melumat bibirku.

Kulepaskan bibir Marni lalu perlahan kujelajahi leher dan dadanya dengan ciuman dan jilatan disertai gigitan lembut yang menyebabkan bekas berwarna merah. Tubuh Marni terus bergelinjangan merasakan kenikmatan dan desah serta rintihannya makin sering terdengar di sela nafasnya yang mulai memburu.

Dengan menyelipkan sebelah pahaku di antara kedua pahanya, dengan penuh nafsu kuhisap kedua puting susu Marni bergantian sambil menggelitikkan ujung lidahku dan meremasnya kuat-kuat.

Tak puas dengan meremas dada Marni, kuturunkan tanganku dan kusingkap gaunnya keatas sehingga dengan leluasa dapat kuremas kedua bongkah pinggulnya yang bulat dan padat. Marni tak kuasa menahan birahinya, dijepitnya sebelah pahaku dengan kedua pahanya dan digesek-gesekkannya kemaluannya.

Lalu kuarahkan ciumanku menurun menuju perut Marni dan menggelitiki pusarnya dengan lidahku sambil melepaskan gaunnya sehingga kini dia hanya mengenakan celana dalam putih yang membungkus kemaluannya yang menonjol dan telah basah.

Dengan berlutut di hadapan Marni, kuusapkan jariku di belahan kemaluannya dari luar celana dalamnya dan kuciumi pahanya yang mulus dan ditumbuhi bulu halus. Lalu kuangkat sebelah kaki Marni ke pundakku dan kusapukan lidahku menjilati bagian dalam pahanya.

Ketika kuarahkan bibirku ke tonjolan kemaluannya, Marni mencoba menahan kepalaku karena tidak ingin bagian yang paling pribadi itu kucumbu.

Kusibakkan kedua tangan Marni ke samping sementara bibirku meneruskan serangannya dengan mendaratkan ciuman di vagina Marni sambil menjilati belahannya dari luar celana dalam.

Keinginan Marni untuk menahan seranganku akhirnya hilang dan diapun menikmatinya dengan menekankan kepalaku ke pangkal pahanya yang tak henti-hentinya meliuk dan terlihat celana dalamnya makin basah oleh cairan birahi yang makin banyak keluar. Lalu dengan jariku kusibak pinggiran calana dalam Marni untuk dapat mengarahkan lidahku ke vaginanya yang ditumbuhi bulu yang tidak terlalu lebat.

Desah dan rintihan Marni makin sering keluar dari bibirnya dan kini diseling lengkingan kecil menandakan dia makin terangsang dengan cumbuanku di bagian paling pribadinya. Sampai suatu saat dengan menekan kepalaku dalam-dalam di selangkangannya, terasa tubuh Marni bergetar sambil mulutnya mengeluarkan rintihan panjang tanda telah dicapainya puncak kenikmatan dari cumbuan bibir dan lidahku.

Aku berdiri dan kutatap tubuh Marni yang bersandar lunglai di dinding lalu kucium bibirnya yang langsung dibalas dengan penuh gemas sambil meremas bajuku.

"Enak sayang?" bisikku di telinganya.

"Aaahh.." Marni hanya mendesah tak dapat menjawab pertanyaanku.

Lalu kubimbing Marni ke kamarku dan kududukkan dia di tempat tidur. Ketika aku tengah melepas baju sambil berdiri, Marni meraih penisku dan kurasakan kelembutan tangannya meremas dan mengurut penisku dari luar celana pendekku.

Kubiarkan hal itu beberapa saat lalu kuminta Marni untuk melepaskan celanaku yang dengan serta merta diturutinya sambil sekaligus melepaskan celana dalamku.

"Marni mau balas mencumbu bapak" kata Marni sambil kembali menggenggam dan mengurut penisku.

Kurasakan birahiku kian memuncak akibat melihat ekspresi Marni yang begitu terangsang ketika kucumbu ditambah rasa nikmat dari tangannya yang mempermainkan penis dan bijiku membuatku hampir tak dapat menahan keinginan untuk menuntaskan percumbuan ini.

Tapi aku tak mau cepat-cepat mengakhiri permainan. Aku ingin sekali lagi mencumbu Marni sebelum memasukkan penisku kedalam lubang kemaluannya. Kubaringkan Marni di pinggir ranjang, lalu kulepas celana dalamnya sambil jongkok berlutut di lantai.

Kuangkat kedua kaki Marni ke atas pundakku dan kubenamkan kepalaku di selangkangannya untuk kembali menyerang kemaluannya yang indah itu.

"Marni nggak tahan, pak.." rintih Marni sambil menjambak rambutku dan mencengkeram seprei tempat tidur dengan tangan yang satu lagi sementara mulutnya tak henti-hentinya mendesah. Tubuhnya berkelojotan menahan nikmat, pinggulnya tak henti meliuk-liuk sambil sesekali terangkat, sementara kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri seperti orang kesurupan.

Tanpa memperdulikan rintihan Marni, kuteruskan penjelajahan bibir dan lidahku mengeksploitasi bagian paling pribadinya. Kusibakkan bibir kemaluan Marni dengan dua jariku dan kusapu lubang kenikmatan serta klitorisnya dengan lidahku.

Sambil lidahku terus menjilati klitorisnya, kumasukkan satu jariku kedalam kemaluan Marni dan kuusap seluruh bagian dalam rongga kenikmatannya sementara tanganku yang lain merayap naik meremas dadanya.

Selang beberapa saat kembali tubuh Marni bergetar dan dia mengangkat pinggulnya sambil menekan kepalaku kuat-kuat ke selangkangannya pertanda pertahanan tubuhnya kembali bobol menghadapi serangan kenikmatan yang kuberikan. Aku lalu berbaring di ranjang dan kurengkuh tubuh Marni yang lunglai dan kutelungkupkan di atas tubuhku.

Sambil membelai punggung Marni, kami berpelukan cukup lama sampai terasa nafas Marni mulai normal kembali. Lalu kami kembali berciuman saling melumat bibir dan berpilin lidah sementara tanganku meremas kedua bongkah pinggul Marni yang kembali mulai bergoyang menggesek-gesekkan kemaluannya ke penisku.

Kutahan tangan Marni ketika dia ingin meraih penisku dan memasukkan ke vaginanya.

"Jangan dimasukin dulu sayang, gesek-gesekin aja dulu" bisikku di telinga Marni sambil memintanya menjepit sebelah pahaku dengan kedua pahanya.

"Bapak jahat, Marni sudah nggak tahan.." erang Marni.

Lalu kuminta Marni untuk mengangkat dadanya sambil terus menggesek-gesekkan vaginanya ke pahaku sehingga kedua tanganku dapat dengan leluasa meremas payudaranya dan mempermainkan putingnya serta melihat ekspresi wajahnya yang seksi ketika terangsang.

Tiba-tiba tanpa kusadari Marni menyelinapkan tubuhnya di antara kedua pahaku dan meraih penisku dengan tangannya. Diurutnya penisku sambil perlahan menjulurkan lidahnya menjilati batang penisku diseling dengan memutar-mutarkannya di sekeliling "kepala burung" ku.

Makin lama gerakan lidah dan tangan Marni di sekujur penisku makin intens, lalu dimasukkannya kepala penisku kedalam mulutnya. Sementara tangannya mengurut batang penisku, lidahnya bermain menjilati ujung penisku didalam mulutnya.

Luar biasa kenikamatan yang kurasakan saat itu. Mulut Marni menghisap ujung penisku dengan kuat sementara tangannya tak hentinya mengurut batang penisku dan meremas kedua bijiku. Lalu sambil menatap wajahku sejenak, dimasukkan seluruh batang penisku kedalam mulutnya dan mulai memaju-mundurkan kepalanya melakukan gerakan memompa.

Hampir tak tahan aku menerima rangsangan yang diberikan oleh Marni, kepala penisku mulai tersasa berkedut-kedut tanda puncak kenikmatanku hampir tercapai.

"Aku tak mau menyerah, aku harus merasakan puncak kenikmatanku bersama Marni" batinku dalam hati.

Kuputar tubuhku sehingga kini kami sama-sama menyamping dalam posisi "69". Kurengkuh pinggul Marni dan mendekatkannya ke wajahku lalu kusapu habis kemaluan dan klitorisnya dengan jilatan dan hisapanku. Marni pun tak mau kalah, diraihnya kembali batang penisku dan dimasukkan ke mulutnya. Kepala Marni kembali maju-mundur memompa sambil sekali-sekali dijilatinya bijiku dan dikocoknya penisku dengan tangannya.

Setelah sekian kali merasakan klitorisnya kujilati dan kuhisap, Marni lalu menelentangkan tubuhku dan menaikinya. Direnggangkan kedua kakinya dan perlahan-lahan ditekannya pinggulnya ke arah pinggulku sehingga penisku dengan sendirinya masuk kedalam kamaluannya yang telah basah kuyup dengan disertai lengkingan kecil yang keluar dari mulutnya.

Tubuh Marni rebah di atas tubuhku dan sejenak kami sama-sama diam meresapi perasaan yang timbul di saat bertemunya dua perlambang kenikmatan manusia menjadi satu. Lalu perlahan-lahan Marni mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun.

Makin lama gerakan tubuh Marni makin liar kurasakan. Dengan bertumpu pada sebelah tangan dilumatnya bibirku dan dipilinnya lidahku penuh nafsu sementara tangan yang satu lagi sibuk meremas-remas payudaranya sendiri secara bergantian kiri dan kanan lalu menyodorkannya ke mulutku memintaku untuk menghisapnya.

Kuminta Marni untuk merebahkan tubuhnya ke belakang bertumpu pada kedua kedua pahaku lalu kugosok-gosokkan klitorisnya dengan jariku untuk menambah daya rangsang terhadapnya. Desah dan rintihan Marni kini berubah menjadi lengkingan dan sekali-sekali dia memanggilku menyatakan kenikmatan yang dirasakannya.

Setelah lelah memompa penisku, Marni memelukku dengan kuat dan menggigit dadaku. Tubuhnya kembali bergetar, ditekannya pinggulnya kuat-kuat ke pinggulku. Puncak kenikmatan telah kembali dirasakannya.

"Marni nggak kuat lagi Pak.." rintihnya sambil memintaku untuk berguling berganti posisi.

Dengan penisku masih terbenam didalam vagina Marni, kuposisikan tubuhku berlutut di atas tubuh Marni dan kuangkat dadaku serta kugunakan kedua tanganku untuk menyangga tubuhku menciptakan jarak di antara wajah Marni dengan wajahku.

Marni berkali-kali mengangkat kepalanya mencoba untuk menciumku tetapi tak pernah berhasil. Kumaju-mundurkan pinggulku membuat gerakan keluar-masuk penisku dalam kemaluan Marni. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang kumasukkan seluruhnya, kadang hanya kumasukkan ujungnya saja sambil meliuk-liukkan pinggulku. Marni menjadi histeris dan lengkingannya makin keras keluar dari mulutnya.

Akhirnya kurasakan perjuanganku meraih puncak kenikmatan hampir tercapai. Kuminta Marni untuk merapatkan pahanya menjepit penisku dan dengan beberapa kali tusukan keras, kutumpahkan seluruh cairan birahiku dalam kemaluannya. Di saat yang bersamaan kurasakan tubuh Marni kembali bergetar ketika dirasakannya penisku berkedutan di dalam kemaluannya saat aku menumpahkan cairan birahiku. Sambil memelukku kuat-kuat, dilentingkannya pinggulnya menghantam pinggulku dan terasa otot-otot kemaluannya menjepit kuat penisku.

Beberapa saat kami terdiam menikmati kepuasan yang tak terkira, lalu kugulingkan tubuhku ke samping dan kurengkuh Marni kedalam pelukanku.

Seakan tak puas dengan kenikmatan yang telah didapatkannya, Marni kembali menggenggam penisku dan dengan lembut menyapukan lidahnya di sekujur batang penisku dan membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel bercampur dengan cairan kenikmatannya sendiri.

Lalu kami tertidur sambil berpelukan tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh sampai matahari bersinar terang di pagi hari.

Aku terbangun ketika merasakan geli di selangkanganku dan kudapati Marni telah bangun duluan dan sedang mengulum penisku. Lalu kamipun kembali bercinta di ranjang dan di kamar mandi ketika bersama-sama membasuh diri.

Setelah menganjurkan Marni untuk mengkonsumsi pil KB, kami makin sering melepaskan dahaga birahi di rumahku dengan berbagai gaya dan situasi. Kadang kami melakukannya semalaman bila keluarga Bapak Hendra sedang ke luar kota, tapi tak jarang pula kami melakukannya secara "instan" dengan mencuri-curi waktu di saat Marni sedang melaksanakan pekerjaannya di rumahku.

Hubunganku dengan Marni berakhir ketika masa tugasku di kota S berakhir, tapi kenangan bersamanya tak pernah hilang sampai sekarang karena merupakan salah satu yang terindah dalam petualangan cintaku.

Tamat