Dari tadi aku masih berpakaian lengkap, hanya jaketku kutinggalkan di ruang tamu. Matanya terlihat ragu walau nafasnya jelas masih keliatan naik-turun. Kurapatkan tubuhku, tapi sambil kubuka kancing kemejaku terburu-buru. Feel so horny, not gonna let him change his mind. Payudaraku biasa sekali, 34A, tapi bra putih yang kukenakan menaikkan payudaraku sedemikian rupa, dan aku tau dia selalu suka liat kulit sawo matangku memakai warna putih (walau aku lebih suka warna gelap). Katanya kontras dan sexy. Matanya terus menatapi kulit tubuhku yang kini mulai terpampang di hadapannya. Ga tau dia sadar atau ngga tangannya meremasi penisnya tanpa malu di hadapanku. Aku jadi ikut berani, tanpa membuka kancing bra kuremasi payudaraku sendiri dua-dua sampe bibirnya terlihat rada melongo menatapku dengan tatapan terangsang, dengan dua tangan diurutinya penisnya semakin intens. Kuturunkan cup braku ke bawah, masih melekat di dadaku tapi payudaraku kini terpampang jelas. Kuremasi payudaraku bersamaan, sesekali kucubiti puting susuku sendiri sambil mendesis kenikmatan.

"Duncan.. Duncan.. ough..", kubayangkan Duncan yang meremasi payudaraku.
Rasanya tubuhku melemas, supaya terdukung aku mundur bersandar ke meja kaca rias di belakangku. Kucubiti putingku semakin kuat dan kugigiti bibir bawahku. Mataku terpejam tapi aku tau Duncan bergerak mendekatiku, tangannya memeluk pinggangku, wajahnya terasa dekat sekali dan adduh, leherku diciuminya, dijilati enaak sekali. Mataku tetap terpejam asik meremasi payudara sendiri sekuat-kuatnya sementara jarinya mencari-cari retsleting rokku. Aku waktu itu mengenakan rok panjang hitam bahan lycra, panjang semata kaki dan sepatu boot heel langsing yang bahannya leather hitam tipis melekat erat di betisku sampai lutut, biar sopan maksudku kalau ketemu istrinya.

No zip on my skirt, akhirnya dia nyadar juga. Dicobanya menarik turun rokku ke bawah tapi mungkin repot, dari kiri kanan ditariknya rokku ke atas sambil merabai pahaku, digulung dan diselipkannya di waist band kiri kanan, masih menciumi leher dan bahuku jarinya merabai perutku dan turun ke selangkanganku, menekan kemaluanku dari luar. Malu juga, pasti celana dalam g-string yang kukenakan sudah basah! Untung aja warna putih. Tekanan-tekanan jarinya membuatku kegelian dan semakin terangsang. I really need more.
"Duncan I want you.. I need you.. please..", kudengar diriku memelas tergesa-gesa.
Duncan menaikkan tubuhku ke atas meja, kukangkangkan kedua pahaku lebar-lebar mengundangnya masuk, tapi dia malah merunduk sambil meremasi penisnya dengan sebelah tangan. Tangan kirinya menekan perutku. Kudengar diriku sendiri mengerang, "adduh.. oh please..", bener-bener aku lemes. Keterlaluan dia, g-stringku ditarikkan ke samping, dengan sebelah tangan bibir labium mayoraku dikuakkannya dan vaginaku dijilati perlahan-lahan. Lidahnya terasa kesat dan menyapu klitorisku yang sudah sensitif sekali.

"Duncan.. gosh.. don't stop.. please.."
Lidahnya bener-bener meraba seluruh daerah intimku, dari bawah ke atas ke ujung klitorisku.. rasanya enaak sekali, mataku terasa berat untuk dibuka.. vaginaku terasa basah sekali, ngga tau apa cairanku atau dia yang meludahinya. Kupejamkan saja mataku menikmati lidahnya. Sesekali klitorisku terasa seperti dihisap dan dijepit dengan bibirnya sampai tubuhku terasa lemas dan panas dingin. Kuangkat tanganku memegangi pinggiran bingkai kaca di belakangku waktu mulutnya ganti menghisap payudaraku kuat-kuat. Aku memang pernah cerita suka sekali waktu salah satu mantanku memperlakukan payudaraku kasar cenderung brutal. Mungkin dia ingat karena dia juga menggigiti putingku bergantian. Aduh, enak sekali, tapi rasanya nanggung..
"I need you in me..", pintaku pasrah.

Tapi bukannya memasukkan penisnya, dia malah menghisap putingku semakin kuat dan menusukkan jarinya ke dalam vaginaku keluar masuk satu jari lagi menggelitiki klitorisku. Adduh, kugigiti bibirku menahan jangan sampe aku njerit-jerit ribut, sampai sakit bibirku. Aku dimasturbasi sambil kulihat tangannya yang satu lagi semakin kaku mengonani penisnya. Kubuka pahaku semakin lebar, satu lagi jarinya ditambahkan masuk ke vaginaku. Rasanya enak sekali. Begitu saja sudah enak sekali. Kurasakan vaginaku yang sudah basah mencengkram kedua jarinya, terasa kenikmatan merambat di perut bawahku, panggulku kugerakkan naik turun. Nafasku semakin cepat.. Tidak! Kudorong dirinya menjauh sedikit.
"I want you..", terengah-engah kucoba mempengaruhinya. Aku tau dia ingin menghindari intercourse. Kuturunkan g-stringku cepat, kutarik dia mendekat Kupegang penisnya yang sudah keras sekali, kuarahkan ke klitorisku. Kami sama-sama memandangi penisnya waktu kepala penisnya kutekankan kuat-kuat ke klitorisku, mengoleskan cairan yang keluar dari kepala penisnya ke bagian lembut klitorisku. Nikmat sekali, kupejamkan mataku sambil terus menggerakkan penisnya menggaruki klitorisku atas dan ke bawah.

", Duncan please.. I need you..", aku sengaja merintih nikmat agak kuat.. berharap he'd fuck me there. Ditariknya aku turun dari meja rias. Belum sempat berpikir dicampakkannya tubuhku kembali ke meja itu menghadap kaca! Sekilas kukira dia marah atau gila. Kulihat sekilas wajahku sendiri di kaca sudah kusut, horny ngga keruan. Terasa dari belakang pinggang dan perutku ditahannya dengan satu tangan.. adduh, apa dia mau anal aku? Perutku ditopangnya, pantatku agak naik.. Ampun.. sudah terbayang sakit di benakku.. kupejamkan mataku sambil tanganku berpegangan pada tepi bingkai kaca di hadapanku. Terasa ujung penisnya di tepi luar anusku.. not there! Dalam hati aku sudah panik, kugigit bibirku bersiap menahan sakit.

"MEL!", kudengar dia menggeram tertahan, penisnya didorongkan masuk jauh dalam vaginaku, tapi dari belakang.. sakit minta ampun! Bagian tepi liang vaginaku terasa sakit waktu pertama-tama dia berusaha memasukkan penisnya--aku lega sekali ngga dianal tapi spontan kepalaku terdongak dengan dorongannya yang terlalu cepat dan penisnya terasa terlalu besar untukku.
"Adduh sakit! Duncan!", dahiku terjedut ke kaca di depanku.
Wajahku tertempel ke kaca tapi dia seperti tidak perduli! Sodokan penisnya ditarik dan malah didorongkan lagi lebih dalam kuat-kuat seperti dendam padaku. Dari kaca kulihat matanya merem melek, kedua tangannya menahan pinggangku, wajahnya merah sekali. Gerakan dorongan penisnya terasa sakit, tapi nikmat sekali. Tubuhku terguncang-guncang waktu aku mulai semakin menikmati penisnya. Kami sama-sama ngga sadar, tapi jelas kulihat pintu dibuka di belakang kami.. Jantungku berdegup makin kencang seiring dengan kenikmatan yang semakin menjadi di sekitar selangkangan dan seluruh tubuhku. Please.. not her? Sempat aku berdoa-doa dalam hati.. at least not now? Duncan tetap mencengkram pinggangku, pinggul dan pantatku ditariknya semakin menungging mempermudah kami semakin melekat, enak dan dalam sekali. No.. not her, not her wife. Tapi Sheila.. pacar saudara kembar Duncan. Sekilas dia terkejut dan cepat-cepat menutup pintu mengunci di belakangnya, menatap kami dari posisinya tertegun.

Duncan menatap Sheila dari cermin.
"Sheila..", di sela erangannya disebutnya juga nama Sheila. Aku tidak perduli.. terasa nikmat menjalar naik sepanjang paha ke selangkanganku. Kuangkat pinggulku..
"Oh Duncan.. Duncaan.. don't stop.. Im almost there!"
Kupejamkan mataku, cengkraman Duncan di pinggangku juga mengencang. Klitorisku terasa berdenyut-denyut, rasanya vagina membesar dan denyutan menjalar ke seluruh tubuhku. Penis dalam liang vaginaku semakin kuat dipompakan keluar masuk. Badanku terus terguncang-guncang dan wajahku menempel di kaca setiap kali dia mendorongkan penisnya. Dengan sebelah tangan kuraih klitorisku, kugosokkan jariku cepat-cepat..
"Duncan!", aku menjerit nikmat.. beberapa kali tubuh bawahku mengejang-ngejang kecil.. orgasmeku tak tertahan.. Sheila, dan keluarga Duncan yang mungkin bisa mendengar di luar benar-benar terlupakan.
"Ooh.. Duncan.." tubuhku mengejang sesaat sebelum mulai melemas kecapaian waktu ditariknya sedikit ke tepi meja, dan naik sampai kakiku tidak menyentuh lantai.

Kutekuk lututku supaya menyangkut di relief laci. Mendadak Duncan kasar sekasar-kasar yang ngga pernah kubayangkan sebelumnya. Skrotumnya terasa menepuk-nepuk dari belakang. Pahanya juga memukul-mukul bokongku. Bibirnya nyeracau ngga keruan dan dorongan penisnya bener-bener ngga pantas dibilang dorongan, gerakannya sungguh menyodok-nyodok.. "You're mine Mel! You're mine!", suaranya memakiku.
"Arghh..", Penisnya didorongkan kuat-kuat.

Dengan sisa tenagaku, kukontraksikan otot-otot vaginaku mencengkram penisnya, tubuh kami menyatu lekat sesaat. Bersamaan dengan erangan terakhirnya terasa ada yang hangat di bagian dalam tubuhku sekilas, his sperm shot mungkin. Gerakannya berubah pendek dan kaku.. terkilas di benakku dia ngga pakai kondom!! Tapi aku sudah lemas sekali, nikmat sekali. I don't love him as lover, tapi nikmat sekali! Pelan-pelan pelukannya di perutku melemah dan tubuhku kembali bertumpu ke meja. ereksinya melemah dalam liang vaginaku tapi dia malah sedikit bertumpu di punggungku.. sebentar.. dan menciumi leherku dari belakang. Kudengar nafasnya masih terburu bercampur bisikannya membisikkan namaku dan entah apa lagi. Ngga tau yang terengah-engah itu aku atau dia. Sedikit cairan kental turun ke paha dari sela vaginaku waktu penisnya yang sudah melemah ditarik keluar. Sekilas ada rasa kehilangan waktu dia sedikit menjauh. Pelan-pelan aku berbalik, masih bersandar ke meja. Rokku masih bersangkutan dan braku sudah ngga keruan.. Kami bertatapan sungguh ngga tau mau bilang apa. Dari pihakku.. duh capek. Sambil mikirin pakai apa mbersihin spermanya dan entah apa di selangkangan dan pahaku? Dan apa yang di pikiran kedua mata biru di bawah alis pucat berantakan itu? Apa dia menyesal?

"Horny dogs!", Hampir copot jantungku! Sheila melempar sapu tangan ke arahku. Refleks kutangkap.
"Are you mad? They're all in the kitchen!"
Cepat-cepat kulap selangkangan dan pahaku asal-asalan. Kami berdua buru-buru berpakaian agak risih dengan pandangan ipar ilegal Duncan. Sheila pacar kembaran Duncan, perempuan Amerika yang sudah menikah dan menetap di kota tempat tinggal Duncan sini. Maybe that's why dia tenang-tenang aja dengan tingkah kami.
"I thought you two were here..", disodorkannya jaketku. Kali ini aku benar-benar berterima kasih.
"She's still in the kitchen with everybody.. with the shopping"
"Good. I brought her Indo food I cooked myself.."
Kulirik Duncan yang termangu di pinggir meja rias. Sheila menggait pinggangku..
"Come on, leave him alone.. better for both of you if you're seen with me."

Kuikuti Sheila, kami memang berteman baik. Biarin, mungkin lebih baik begini. Everybodys happy and I get tokeep Duncan, my best friend. Sex? Sebodo. Siapa suruh istri begonya ngga ngeladenin? Mana jahat ke aku lagi? Kutinggalkan dia di kamarnya, where we used to play dan cekakakan. Now his room.. with his wife.

Tamat