Showing posts with label cerita bokep. Show all posts
Showing posts with label cerita bokep. Show all posts




The Serial Rapist Gang 2


Hana

Kadang hidup secara berlebihan membuat kita tidak bisa melihat sisi yang berbeda. Hana, sebagai contohnya, hidup secara berlebihan. Dia tidak datang dari keluarga yang kaya raya, tetapi didikan orang tuanya membuat dirinya menjadi berpikiran sempit. Orang tuanya sangat berlebihan dalam memproteksi anak-anak mereka. Hal-hal yang umum bagi remaja, seperti pacaran, bolos sekolah, ataupun pergi main di malam minggu, sangat dibenci Hana. Dia berpikir bahwa hal-hal seperti itu buang-buang waktu dan berpengaruh buruk bagi remaja seusianya. Dunia dipandang oleh Hana dengan cara hitam dan putih. Memang dengan didikan seperti itu Hana menjadi anak yang baik, dan berprestasi di SMAnya, sebuah SMA Katolik swasta yang cukup mentereng di kota Bandung. Gadis keturunan Palembang – Batak ini cukup menonjol di tengah lingkungan yang didominasi oleh siswa keturunan Tionghoa. Namun karena ibunya Palembang – Tionghoa, maka dari segi fisik Hana tidak terlalu berbeda, namun warna putih kulitnya yang kuning langsat berbeda dengan putih kulitnya kebanyakan keturunan Tionghoa. Tinggi badannya 169 cm, rambut lurus panjang sepunggung, dengan muka yang selalu tersenyum manis. Dan karena Hana memiliki muka yang manis, dan juga badan yang tinggi dan bagus, banyak lelaki ingin memacarinya. Tetapi Hana selalu menolak lelaki-lelaki yang mendatanginya. Dia menganggap berpacaran adalah hal bodoh yang bisa merusak prestasi sekolahnya. Bagi gadis berusia 17 tahun itu, belajar dan les segala macam hal seperti bahasa asing dan pelajaran sekolah lebih berguna. Alhasil Hana tidak mempunyai banyak teman karena sifatnya yang sangat naïf. Teman-temannya yang membawa majalah remaja ke sekolah ataupun berhandphone ria dikala jam pelajaran, sering menjadi sasaran omelannya.


Hana sebenarnya ingin mempunyai teman yang banyak, namun tingkahnya yang sangat naïf dan memandang dunia ini hitam putih menyebabkan dirinya dijauhi teman-temannya. Tetapi dia selalu saja optimis bahwa orang yang pintar dan berprestasi akan disenangi semua orang. Tak heran dia selalu ceria dan menganggap semuanya baik-baik saja. Bisa dibilang di setiap harinya dia selalu berada dalam suasana yang ceria. Tetapi itu semua akan berubah. Kehidupan Hana akan berubah malam ini. Sepulang dari les Bahasa Inggris, Hana teringat kalau dia lupa membeli sesuatu yang dipesan oleh ibunya. Ibunya menitip agar Hana mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga sebelum pergi les. Dan tentunya Hana panik. Sebagai anak yang selalu menurut kepada orang tuanya, Hana bergegas pergi ke supermarket yang dekat dengan tempat les bahasa inggrisnya. Namun ketika sedang memasuk-masukkan barang ke dalam keranjang, hujan turun dengan derasnya. Hana menjadi makin panik karenanya, karena bisa-bisa dia terlambat pulang ke rumah. Sambil membawa kantong belanjaan, ia dengan cemas berdiri di depan pintu pusat perbelanjaan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, tetapi hujan belum juga reda. Handphone Hana belum berbunyi, mungkin orang tuanya mengira dia masih di jalan pulang. Perjalanan ke rumahnya dengan menggunakan angkutan umum kira-kira sekitar sejam jika jalan tidak macet. Itu karena rumah hana jauh dari pusat kota. Jika hujan begini, pasti jalanan menjadi macet, apalagi bercampur dengan jam orang pulang kerja. Dan Hana pun tidak membawa payung. Karena tidak tahan menunggu, Hana berlari menerjan hujan mencari kendaraan umum, di tempat mangkalnya yang terletak di jalan samping supermarket yang agak sepi.

Hana berlari di bawah terjangan hujan. Namun sungguh sial, dia tidak bisa menemukan kendaraan umum yang biasa dinaikinya sepulang les bahasa Inggris. Tetapi dia melihat sebuah taksi sedang berhenti di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, Hana segera berlari ke arah taksi. Supir taksi dengan sigap keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuknya. Setelah menyapa Hana, supir taksi segera melaju sembari menanyakan tujuan Hana. Hana menjawab sambil agak heran. Supir taksi yang satu ini agak beda dengan supir taksi kebanyakan. Supir taksi ini potongannya tidak tampak seperti supir. Dilihat dari dandanannya, dia lebih cocok menjadi eksekutif muda atau yang setingkat. Tapi Hana tidak ambil pusing, supir taksi mungkin saja ada yang ganteng, begitu pikirnya. Karena jalanan agak macet, sang supir mengusulkan untuk lewat jalan kecil yang lebih sepi. Hana setuju saja dengan usul tersebut, yang penting cepat pulang, begitu pikirnya. Taksi pun berbelok ke arah jalan yang sepi. Hana menghela nafas dan berharap dia segera sampai di rumah agar orang tuanya tidak terlalu marah. Ini pertama kalinya dia terlambat pulang. Dan memang benar saja, tak berapa lama handphonenya berbunyi. Rupanya ibunya menelpon sambil marah-marah. Ia berusaha menjelaskan keadaannya tetapi tetap saja disemprot, ia terdiam mendengarkan omelan ibunya di telepon. Ketika akan membantah, Hana kaget karena tiba-tiba mobil berhenti dan pintu penumpang terbuka. Dua orang laki-laki asing masuk dan langsung merebut handphone Hana dan membuangnya ke luar mobil. Lelaki yang masuk dari pintu sebelah kanan langsung menyergap Hana dan menelikungnya, sementara lelaki satunya lagi menyiapkan seutas tali untuk mengikatnya. Hana berteriak keras-keras tetapi mobil tiba-tiba berjalan dan melaju kencang. Lelaki pertama dengan erat memegangi tangannya dan temannya dengan susah payah mencoba mengikat Hana yang tidak bisa diam. Namun akhirnya Hana takluk. Kekuatan remaja perempuan umur 17 tahun tidak bisa mengalahkan kekuatan dua pria dewasa.

Hana yang tangannya sudah terikat ke belakang, rambutnya dijambak dan dia diperintah untuk kembali memposisikan badannya duduk di tengah kedua laki-laki itu. Hana bingung apa yang akan terjadi pada dirinya. Lelaki yang duduk disebelah kanan mulai merabai pahanya.

“Jangan… jangan… “ Hana memohon kepada orang tersebut.

Namun orang tersebut malah terlihat semakin bernafsu dan tangannya menyelusup masuk ke dalam rok abu-abu yang dipakainya. Hana semakin takut. Dia ingat berita pemerkosaan yang akhir-akhir ini sering muncul di koran regional. Korban diantaranya adalah dua orang siswi smp yang pulang kemalaman setelah membolos sekolah. Hana pikir, karena dia tidak mungkin pulang kemalaman, dia tidak akan menjadi korban dari komplotan pemerkosa itu. Dan dia semakin takut ketika mobil taksi itu malah berjalan menuju daerah pegunungan.

“Pak ! jangan… mau dibawa kemana saya !?!? Argh…..”

Lelaki satu lagi menjambak rambut Hana yang panjang dan dalam posisi kepala Hana mendongak ke atas, dia menciumi leher Hana. Baju seragam sma Hana yang basah membuatnya semakin terlihat menggairahkan. Lelaki yang duduk di kanan sudah mulai meraba vaginanya. Sementara Hana tidak berhenti berteriak dan meminta tolong

“TOLONG !!!! LEPAS !!! LEPASIN SAYA!!! PEMERKOSA!!! TOLONG!!! Ugh…” Hana berhenti berteriak ketika ulu hatinya ditinju dengan keras.

Tidak jelas siapa yang meninjunya. Yang pasti setelah itu Hana menjadi mual dan susah untuk berteriak. Lelaki yang tadi meraba-raba vaginanya kini mengambil segumpal kain dan menyumpalkannya ke mulut Hana agar Hana diam.

“Mmmpph… Mppph.. Mmmm. “ Hana merasa ngeri ketika lelaki yang satunya lagi mulai membuka kancing seragam SMAnya.

Di balik seragam putihnya Hana memakai BH berwarna biru muda, warna yang cocok dengan kulit yang putih. Sementara lelaki yang tadi menyumpal mulutnya sekarang mulai merobek rok abu-abunya dengan gunting. Walaupun Hana meronta dan berontak, namun tetap saja tenaganya masih kalah kuat. Apalagi dalam posisi terikat. Ditambah lagi suarah lenguhan dan erangan tertahan dari Hana membuat kedua orang itu semakin bernafsu.

Selama 17 tahun hidupnya, Hana tidak pernah mengenal laki-laki. Ia tidak ingin pacaran dulu karena dia khawatir hal tersebut akan mengganggu studinya. Pacaran saja tidak pernah, apalagi seks diluar nikah, dan Hana selalu mengecam perbuatan itu. Selain daripada itu Hana rajin ke gereja dan aktif di organisasi kepemudaan gereja. Tetapi lihat sekarang, Hana diikat dan disumpal mulutnya dalam kondisi setengah telanjang, di dalam taksi palsu yang membawanya ke sebuah villa terpencil. Kedua orang yang duduk di bangku belakang bersama Hana hanya meraba-raba badannya dan menciumi badan Hana. Setelah tiba di villa, mereka memaksa Hana berjalan kedalam dengan menjambak rambut Hana. Hana sudah berlinang air mata ketika mereka tiba di villa itu. Hana digirng masuk kedalam sebuah kamar yang rapih, dan ada springbed ukuran besar di tengahnya. Dan yang membuatnya kaget, banyak laki-laki yang sedang duduk di kamar tersebut sembari menonton sebuah film porno. Dan yang lebih mengejutkan lagi, film porno itu menayangkan seorang ibu muda yang tengah diperkosa oleh beberapa lelaki, yang dimana laki-laki yang ada di dalam film itu, adalah orang-laki yang sedang menonton. Hana kaget saat ia memperhatikan lubang anus ibu muda itu sedang dimasuki penis. Hana mendelik ketika dia melihat ibu muda itu berteriak-teriak kesakitan sambil menangis. Seumur hidupnya Hana tidak pernah melihat hubungan seks dilakukan lewat anus. Dia hanya tahu hubungan seks konvensional, melalui pelajaran biologi dan pendidikan bahaya seks bebas di kegiatan gerejanya. Hana digiring dan disuruh duduk di kasur itu. Hana sangat merasa ketakutan ketika semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Para pemerkosa itu sudah mulai menghina Hana dengan sebutan-sebutan yang tidak pantas, seperti perek, pelacur, dan sebagainya, sebutan yang belum pernah ia dapatkan selama ini. Dia merasa masa depannya yang sedang ia bangun sekarang akan hancur jika dia diperkosa orang-orang ini. Apalagi jumlahnya sepuluh orang. Seorang lelaki langsung menyergapnya, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dia menggesekan batang penisnya ke vagina Hana. Gesekan antara kain celana dalam dan vagina Hana membuat Hana merasa sensasi yang aneh. Sumpal mulutnya dibuka oleh orang yang lain. Pipi Hana langsung ditampar oleh seseorang. Dia ditampar berkali-kali dan diperintahkan untuk membuka mulutnya agar bisa melakukan oral seks.



Hana diposisikan tengkurap di tengah tempat tidur. Seorang lelaki tiduran didepan wajahnya, dan memaksa memasukkan penisnya ke mulutnya. Karena ia terus-terusan menghindar, orang yang lain menimpa badan Hana dari belakang dan mencekik lehernya, memaksanya membuka mulut. Hana terpaksa membuka mulut karena lehernya amat sakit.

“Mmmph… Mmmpphh… Ahh…” Hana meracau tidak jelas ketika penis tersebut menghunjam masuk mulutnya.
Sementara ketika dia mengoral penis secara paksa, celana dalamnya dilepas dengan dirobek. Dua orang lelaki memegangi dan merentangkan kaki Hana. Lelaki yang mencekik Hana kini tidak menimpanya lagi, tetapi menduduki punggung Hana. Hana merasakan sebuah tangan mengelusi vaginanya. Jari tangan tersebut masuk2 ke dalam lubang vagina Hana. Badan Hana tampak kejang-kejang mencoba berontak, tetapi dalam keadaan berat karena diduduki oleh seorang laki-laki dan kakinya dipegangi, Hana tidak bisa melawan. Sang pemilik tangan menggesek-gesekkan jarinya dengan kasar. Hana tampak memejamkan matanya, menahan diri agar dia tidak menikmati apa yang dilakukan para pemerkosa itu kepadanya.
“Eh anjrit !” lelaki yang sedang dioral penisnya oleh Hana tiba-tiba berteriak. “ Eh perek ! beraninya lo gigit penis gw ! “ pria itu mencabut penisnya dari mulut Hana karena tampaknya Hana tidak sengaja menggigit penis pria tersebut.

“Uhuk… Uhuk.. huk” Hana mengambil kesempatan itu untuk batuk dan menarik banyak nafas.
“Balikin badannya, harus gw yang pertama ngewe ni cewek ! “ perintahnya dituruti teman2nya. Pria yang menduduki punggung Hana bangkit, dan orang-orang yang tadi memegangi kaki serta meraba-raba vagina Hana membalikkan badannya dengan paksa. “Jangan ! Jangan ! Saya masih perawan… lepasin saya ! “ tangis Hana sambil berteriak-teriak. Dia meronta sejadi-jadinya tetapi apa daya badannya dipegangi oleh para pemerkosa itu. Disaat orang yang akan mengambil keperawanannya bersiap untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina Hana, teman-temannya menggunting BH Hana. Sekarang Hana telanjang bulat di depan 10 pemerkosa itu
“Aaaaaaaaaaaaaah !” Hana berteriak dengan keras ketika vaginanya dihunjam oleh penis. “Aah.. Mmmh.. Aaah.. Ngggh…” ia mengerang seiring dengan irama gerakan maju mundur penis pemerkosanya. Pemerkosa-pemerkosa yang lain ada yang mengabadikan adegan perkosaan itu dan beberapa dari mereka meremasi buah dada Hana.
“Gw keluarin di dalem ya !”
“Ah ! Jangan ! Nanti saya hamil ! “ Hana berusaha berontak dengan menendang-nendangkan kakinya, tetapi kakinya dipegangi dengan kuat oleh yang lain.

“aaahhh… “ sang pemerkosa mengeluarkan spermanya sampai habis di dalam vagina Hana.

Hana menggelinjang karena geli oleh hangatnya sperma di dalam vaginanya.



“Eh liat tuh cewek kayaknya keenakan juga” ejek yang lain.
Pemerkosa pertama dengan bangga mencabut penisnya yang sudah lemas dan berlumuran darah perawan. Pemerkosa kedua mengambil posisi yang ditinggalkan oleh pemerkosa pertama. Hana hanya bisa pasrah sekarang. Dia tahu kalau dia sudah tidak mungkin diselamatkan. Pemerkosa kedua duduk dan mengangkat badan Hana ke pangkuannya. Dia memeluk Hana dan melepas ikatannya.

“Sekarang gw mau lu kocokin kontol temen gua sementara gua perkosa elu” perintah pemerkosa kedua.

Hana tidak menjawab. Matanya basah oleh air mata dan pandangannya kosong. Dia yang menjaga keperawanannya dengan tidak melakukan seks bebas ternyata harus kehilangan keperawanannya dengan menjadi mainan seks 10 lelaki yang tidak ia kenal. Sejujurnya para pemerkosa ini senang mendapatkan korban seperti Hana. Ada beberapa korban yang harus disiksa sedemikian rupa hingga mau menurut. Beberapa korban yang lain ada yang meronta sampai akhir, sehingga harus menggunakan kekerasan dalam memerkosanya. Sedangkan yang seperti Hana ini cenderung untuk pasrah ketika keperawanannya terenggut. Dan untuk tipe yang terakhir ini biasanya sang korban adalah perawan, jadi mereka merasa sudah tidak patut untuk berontak lagi karena keperawanan mereka sudah hilang, jadi sama saja. Sementara korban yang sudah tidak perawan relatif sering melawan. Sambil duduk di pinggiran kasur spring bed itu, pemerkosa kedua menggerakkan penisnya naik turun, karena Hana tidak bergerak sama sekali. Hana konsentrasinya terfokus pada penis yang ada di kedua buah tangannya. Karena dia tidak pernah memasturbasikan penis sama sekali, maka rasanya aneh. Genggamannya tidak erat dan iramanya kocokannya kacau balau.

“Amatiran banget ni perek” kata salah satu pemerkosanya.

“Gw mau keluar “ kata pemerkosa kedua.

“mmmmhh” Hana melenguh merasakan hangatnya sperma di dalam rahimnya.
“Cepet banget lu keluar “ kata pemerkosa yang lain
“Abisnya enak banget ni cewek rapet abis “ jawab pemerkosa kedua

Dua pemerkosa yang sedang dimasturbasikan oleh Hana terpaksa menunggu untuk memnucratkan spermanya karena pemerkosa ketiga akan menikmat vagina Hana. Ketika pemerkosa ketiga akan sudah memangku Hana dan bersiap untuk menikmati vaginanya, pemerkosa yang lain memotong aksinya.

“Eh gw mau dong make pantatnya” pemerkosa ketiga setuju dan segera tiduran sembari memasukkan penisnya ke vagina Hana yang sudah agak longgar dan licin karena sperma.

Pria ke 4 mengambil ancang-ancang dan dengan pelan-pelan memasukkan penisnya ke anus Hana yang rapat.

“UH…. SAKIT !!.... LEPAS !.... AAAH….” Hana berteriak ketika lelaki itu memasukkan penisnya ke lubang anusnya.
“HAhaha.. katanya sakit kok ga berontak sih ? “ Ejek yang lain ketika melihat badan Hana lemas lunglai di atas badan pemerkosa ketiga. Pemerkosa keempat menarik tangan Hana kebelakang agar badan Hana tegak dan dia mudah melakukan anal seks.
“Tunggu gw ikutan “ Pria satu lagi mengambil posisi berlutut di depan muka Hana. “Buka mulut lo ! Awas jangan digigit ya “ katanya sambil memegangi kepala Hana dan memasukkan penis ke dalam mulutnya. Pada saat ketiga pria itu menggerakkan penis mereka, Hana merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia harus berjuang melawan sakit yang luar biasa akibat lubang anus dan vaginanya dimasuki penis secara bersamaan.

“mmmmmpph… ahh…. Mmmm” Hana hanya bisa meracau tak jelas.
“Haha.. liat tuh dia malah keenakan sekarang” Ejekan demi ejekan kembali dilontarkan pada Hana.

“Ahh… Enak banget… telen semua sperma gw..” Kata pemerkosa yang sedang dioral oleh Hana. Ketika sperma itu muncrat di mulutnya, Hana terbatuk dan berusaha memuntahkan sperma itu, tetapi pemerkosa itu malah memaksa Hana melelan spermanya dengan terus menyodokan penisnya ke mulut Hana. Adegan-adegan selanjutnya dapat dibayangkan. Kesepuluh pemerkosa itu menggilir ketiga lubang Hana, mulut, vagina dan anus.



Karena Hana tidak memberontak, maka mereka memutuskan tidak akan menyiksa Hana lebih hebat lagi. Mereka mengurungkan niat mereka untuk memasukkan dua penis sekaligus dalam vagina Hana. Pemerkosaan itu berlangsung berjam-jam. Ketika sedang diperkosa dalam posisi misionaris dan seorang lagi menggesek2an penisnya pada belahan dada Hana, seseorang dari mereka melontarkan sebuah ide.

“Gimana kalo kita simpen ni cewek beberapa hari, sumpah belum ada yang seenak ini” Hana kaget tetapi dia tidak mampu melawan. Dia takut dipukul, ataupun disiksa oleh para pemerkosa itu.
“Gua setuju, kita simpen ni cewek dan kita ubah dia dulu jadi maniak seks, baru dilepasin” jawab yang lain.

Perkosaan malam itu selesai. Semua orang menikmati mulut, vagina, dan anus Hana. Seseorang memapah Hana yang lemas lunglai dengan badan basah penuh sperma dan keringat ke kamar mandi. Orang tersebut memandikan Hana dengan air hangat di bawah shower. Tapi lama-lama nafsu orang itu kembali.

“Eh, kamu coba nungging dan pegangan ke bak mandi” perintahnya.

Hana tidak menjawab tapi dia dengan gerakan lambat melakukan apa yang disuruh. Orang itu memasukkan penisnya dari belakang dan mulai menggerakannya maju mundur. Tangannya nakal meremasi buah dada Hana.

“Uuhh…. Ah…..” Hana mengerang, entah mengapa sepertinya dia agak menikmati perbuatan yang satu ini. Tiba-tiba pintu kamar mandi digedor.

“WOI ! jangan dipake lagi tuh perek. Besok aja, dah malem, mendingan kita istirahat !” akhirnya dia mengurungkan niatnya dan kembali memandikan Hana.
Keesokan paginya Hana tidak diberi pakaian apapun. Dia dibiarkan telanjang bulat seharian. Hana disuruh menonton rekaman adegan-adegan pemerkosaan pagi itu. Hana takut dan ngeri melihat adegan-adegan itu. Hana melihat ada dua orang remaja putri yang tampaknya dibawah umur diikat ke kursi dan diperkosa secara bergiliran, vagina dimasuki dua penis bersamaan, dan juga ada korban mereka yang sedang mens, sehingga hanya lubang anus dan mulutnya yang dipakai. Jam-jam selanjutnya sungguh tidak tertahankan. Hana terus-terusan dipakai oleh kesepuluh pemerkosa itu. Semua posisi yang mungkin dalam seks dicoba, dan sudah tak terhitung berapa sperma yang Hana telan. Lucu mengingat kemarin Hana adalah siswi kuper yang kolot dan sekarang dia seperti pelacur professional yang siap dipakai kapan saja oleh siapa saja. Dan tidak ada yang tahu kapan Hana akan dilepas oleh kelompok pemerkosa itu….

----------------------------------------------------------
Ifa

Ifa


Tidak seperti biasanya, kali ini tersangka pelaku pemerkosaan beramai-ramai bukanlah geng pemerkosa itu lagi. Geng pemerkosa masih aktif menjalankan rutinitasnya, setelah menjadikan Hana sebagai sex toy mereka, mereka tampaknya bosan, dan membuang Hana begitu saja di tempat umum. Mereka masih senang menculik wanita muda dan memperkosanya beramai-ramai. Cerita tentang mereka masih akan dilanjutkan nanti, yang pasti mereka ber10 siap untuk menyiksa dan menggagahi wanita-wanita yang ada. Ifa tidak sabar menunggu jam 4 sore ini. Rangga akan menjemputnya. Mereka baru saja berpacaran 1 minggu. Rangga, adalah kakak kelas Ifa waktu SMP dulu. Sekarang Rangga sudah kelas 1 SMA. Sedang Ifa, duduk di kelas 3 SMP. Rangga yang masih sering main ke bekas SMPnya itu memang sudah lama menaruh hati kepada Ifa. Berawal dari curi-curi pandang, lalu memberanikan diri untuk kenalan, akhirnya mereka resmi berpacaran seminggu yang lalu. Orang tua Ifa biasa-biasa saja menghadapi kejadian ini. Toh sudah waktu nya juga anak gadis mereka akan berpacaran. Mereka juga tahu kalau Rangga dan Ifa akan pergi nonton sore ini, dan akan melakukan hal-hal biasa seperti makan bareng dan jalan-jalan. Orang tua Ifa sudah menitip pesan, agar mereka pulang sebelum pukul 10 malam. Waktu yang dinantikan akhirnya tiba. Motor bebek keluaran baru Rangga akhirnya datang menghampiri rumah Ifa. Setelah berbincang-bincang dan berkenalan dengan orang tua Ifa, Rangga dan Ifa akhirnya berangkat ke sebuah mall di daerah yang terkenal dengan toko jeansnya di Bandung.
“Fa, kita nonton dulu ya, baru pulangnya makan…” ajak Rangga sesaat sebelum motor melaju.
“Terserah deh, yang penting hari ini kita seneng-seneng kan ?” Ifa tampak berseri-seri.
Sehabis menonton film, mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan sejenak di mall itu. Sekilas memang mereka tampak bahagia, bergandengan tangan malu-malu dan bercanda layaknya pasangan biasa. Namun siapa tahu itulah awal petaka bagi mereka berdua. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Masih pagi untuk ukuran malam minggu. Apalagi malam ini masih ramai. Jalan masih padat dipenuhi mobil-mobil wisatawan lokal yang umumnya berasal dari Jakarta. Tak puas berjalan-jalan di mall tersebut, mereka meluncur ke sebuah tempat makan di bandung selatan. Sekitar jam 9 malam akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Agar bisa berduaan di atas motor tanpa terganggu arus lalu lintas yang padat dan riuh rendahnya malam minggu, mereka memutuskan untuk melewati jalan-jalan kecil yang sepi. Namun siapa sangka keputusan ini adalah keputusan yang akan merubah hidup mereka, terutama hidup Ifa.

Pada awalnya jalan yang hanya berjarak 4 km itu biasa-biasa saja, namun beberapa saat kemudian, 3 buah motor mengepung motor Rangga. Sudah jelas ini pasti adalah geng bermotor yang marak di kota Bandung. Rangga berusaha kalem dengan mengendarai motor lambat-lambat. dia berharap ada mobil muncul sehingga perhatian para anggota geng motor itu teralihkan.
“Eh !! Motor kamu bagus ya ! boleh ga kalo kita ambil !” Teriak salah satu pengendara motor.
“Wah bawa cewek nih… mau indehoi ya ? Boleh dong kita dapet bagian !” teriak pengendara yang lain. Total ada 5 orang yang mengepung Rangga dengan 3 motor. Rangga berharap itu hanya gertak sambal saja. Rangga berusaha tetap tenang sambil melihat ke ujung jalan. Ada angkutan kota sedang berhenti disana. Dia agak tenang karena angkutan kota itu tampaknya akan lama berada disana. Tiba-tiba “Duak !!” seseorang menendang motor Rangga. Rangga dan Ifa terjatuh dari motor. Malang bagi Ifa, dia kaki kanannya tertimpa motor. Sehingga sulit untuk berdiri. Rangga dengan panik segera bangkit. Dia tidak melihat Angkutan Kota itu lagi. Rangga yang bingung ternyata segera lari menuju arah jalan besar.
“RANGGA!!!” Ifa berteriak sekuat tenaga memanggil Rangga. Tapi Rangga terus saja berlari.
“yah, pacarnya pengecut tuh…” ledek salah seorang dari mereka.
“Woi ! jangan !” tiba-tiba yang lainnya berteriak. Rupanya seseorang lagi menyingkirkan motor Rangga dan tampak memeluk Ifa dan meraba-raba buah dadanya yang kecil dengan kasar.

“Tolong !” Ifa berteriak.
Walaupun beberapa dari mereka tidak setuju untuk melecehkan Ifa, namun mereka berpikir cepat, daripada ditangkap polisi dan dipukuli warga, mereka melepas sepatu Ifa dan mengikat tangannya dengan tali sepatu tersebut. Salah seorang dari mereka lalu mencopot slayer mereka dan menyumpal mulut Ifa. Ifa pun dipakaikan jaket tudung mereka agar ikatan tangan dan mulutnya yang tersumpal tidak dilihat orang.

Ifa lalu dinaikkan ke salah satu motor mereka dan didempet dari belakang oleh orang lainnya. Jadi mereka tampak seperti naik motor bertiga, dengan Ifa ada di tengah. Motor-motor tersebut melaju dengan kencang menuju sebuah pabrik di daerah Soekarno Hatta, yang tidak berpenghuni dan beroperasi lagi. Biasanya di tempat ini mereka memreteli motor jarahan mereka, sekedar untuk dikanibal dengan motor mereka atau untuk menjual sparepartnya. Disana ada dua orang lainnya yang sedang duduk-duduk merokok sambil minum dari botol bir murah yang sama.
“Eh… apaan nih ?” mereka kaget waktu lima orang temannya bukannya membawa motor jarahan, malahan membawa cewek ABG yang tangannya terikat dan mulutnya tersumpal.
Ketujuh orang itu adalah pemuda-pemuda tanggung yang tampaknya berusia 20an awal ataupun baru lulus SMA. Mereka penganggur, kecuali satu yang masih duduk di kelas 3 SMA. Dan mereka bergabung di sebuah geng motor yang terkenal di kota Bandung. Mereka biasanya, demi balapan liar, merampas motor orang lain dan memreteli sparepartnya untuk diuangkan ataupun dikanibal ke motor mereka. Walaupun kedua orang itu kaget, mereka mengerti dan membuka pintu yang menuju ruangan dalam pabrik itu. Mereka membawa Ifa ke sebuah ruangan yang tadinya adalah ruangan mandor. Entah darimana mereka memiliki kunci ruangan tersebut. Kamar itu penuh dengan puntung rokok mereka, sebuah pesawat TV bermerek tidak jelas, satu unit playstation 1 milik mereka dan beberapa kasur tempat mereka biasa tidur-tiduran atau membawa pelacur kesana. Singkat cerita ruangan ini sudah menjadi basecamp mereka.
“Gila apa ?!? gw ga mau kalo merkosa anak orang !” Tiba-tiba salah satu dari mereka angkat bicara.
“Eh ! Udah kagok. Memek gratis nih !” Ifa dipegangi oleh dua orang. Ifa masih berusaha berontak, meracau sekenanya walaupun itu semua tidak berguna. Mereka diam untuk beberapa detik. Ifa berharap mereka sadar dan melepaskannya. Tapi tiba-tiba lima orang dari mereka segera membuka baju mereka. Ifa kaget dan makin meronta.

“Sini lu” Seseorang menarik Ifa dan menjatuhkannya di atas kasur itu. Mereka lalu mengelilingi Ifa dan meraba-raba buah dadanya dan vagina Ifa. Ifa ngeri dan memberontak sejadi2nya, dia tidak bisa membayangkan dirinya diperkosa 7 orang lelaki. Sementara kedua orang lainnya membuka baju mereka dan mengambil sebuah pisau.
Dengan paksa mereka merobek T shirt dan celana jeans Ifa. Ifa memakai BH dan celana dalam Putih.

“Wih… wangi… mulus lagi…”

Mereka semakin bernafsu meraba-raba badan Ifa dan menciumi badannya. Bahkan Seseorang dari mereka berusaha mencupang leher Ifa. Ifa jijik, walaupun mereka tidak dekil dan tidak berbadan bau.
“Buka dong sumpelan mulutnya, gua pingin denger dia teriak-teriak, kayak di film-film bokep, ga akan ada yang denger dia teriak-teriak juga kan ?” salah satu dari mereka menyuruh temannya membuka sumpalan mulut Ifa.
“AAAAH….. TOLONG !!! LEPAS !!!!! “ Namun mereka malah memelorotkan celana dalam gadis itu.

“Wah kayaknya enak nih memeknya” salah satu dari mereka mulai berjongkok dan menciumi vagina Ifa.

“UUUHHHH !!! GA MAU !!! AHH!!!” Ifa berusaha memberontak. Tapi orang tersebut makin bernafsu menciumi vagina Ifa. Dia bahkan menjilatinya dengan penuh nafsu.
“Duh ga tahan nih pengen ngewe, ada yang bawa kondom ga ?” tanya seseorang.
“GA usah lah… langsung aja, keluarin aja di dalem semua….” Ifa makin kaget dan makin berontak. “JANGAN !!! GA MAU !!!! LEPASIN !!!!” teriaknya sambil mencucurkan air mata.
“Lah ribut nih perek abege… udah diem aja, sumpel kontol nih biar ga ribut” Salah satu dari mereka berlutut di atas muka Ifa. Dia mencekik Ifa agar Ifa membuka mulutnya. IFa berontak dan terus menutup mulutnya. Beberapa tamparan di pipinya membuatnya tak tahan lagi. Dia membuka mulutnya. Dan kemudian penis itu masuk ke dalam mulutnya.

“Awas kalo digigit !” Ancam orang yang memaksa Ifa melakukan oral seks tersebut. Dia menggerakan penisnya maju mundur.

“Mmmphhh… mmmmppphh” Ifa bergumam tertahan. Salah seorang dari mereka malah mengeluarkan hape berkamera, dan memfoto-foto kegiatan pemerkosaan ini.
“Wah enak nih mulutnya” ujarnya
“Crotin di dalem dong !” yang lain memberi semangat.

Cukup lama oral seks paksa tersebut berlangsung. Selain harus mengulum penis, vagina Ifa juga dijilati oleh orang kedua. Dia tidak tahan sensasi aneh yang ada dalam tubuhnya.
“Ahhh…” Akhirnya spermanya muncrat di mulut Ifa.

“Uhuk… Uhuk… Ahhh..” Ifa terbatuk dan berusaha memuntahkan sperma yang ada di mulutnya. “Nggg… Udah… lepasin saya….” Ifa menangis. Dia takut diperkosa dan dirusak masa depannya.
“Cengeng nih perek… cepetan, perkosa….”
Orang pertama membalikkan badan Ifa. Dia memaksa Ifa menungging .

“Nih gua dapet perawan nih..” yang lainnya hanya tertawa, bahkan ada yang masih meraba-raba badan Ifa.
“UHHH…… Arrggghhhhhh” Ifa berteriak sejadi-jadinya ketika penis itu memaksa masuk vagina perawannya.

“Buset sempit banget…” dan orang itu mulai menggerakkan penisnya maju mundur.

“Eh buka tuh BH nya” dan mereka merobek BH Ifa dengan cepat.

“Haha.. toketnya kecil !! Gila ya.. masih kecil dah jadi perek !!” buah dada Ifa memang kecil.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menciumi putting Ifa. Salah seorang lagi menahan badan Ifa agar yang lainnya leluasa menyetubuhi dan meraba-raba Ifa.
“Mulutnya nganggur tuh !” Dan tiba-tiba sudah ada penis yang memaksa masuk ke mulut Ifa.

Lehernya kembali dicekik agar penis tersebut bisa leluasa masuk ke dalam mulutnya.

“haha.. kayak di film bokep nih !” Ejek seseorang.

“hmmpph… Mmmm….” Ifa hanya bisa melenguh dan menangis tertahan. Dia sudah tidak berontak lagi. Sudah tidak ada gunanya karena keperawanannya sudah hilang dan dia dalam kondisi telanjang terikat. Tidak bisa kemana-man lagi.
“Eh pantatnya nganggur tuh !” celetuk salah seorang dari mereka.

“MMmmmm!!!! MMmmmm !!!” Tiba-tiba Ifa bergumam tidak jelas.

“haha.. pereknya ga mau… tapi kita paksa ya neng…” ledek salah seorang dari mereka.
“Gua mau keluar” ujar orang yang sedang memperkosa Ifa. Orang itu lalu mencengkram pantat Ifa sambil menampar2nya.

“Ahhhh” Sperma muncrat di vagina Ifa. Dari vaginanya menetes cairan percampuran sperma dan darah perawannya. “Wah enak banget nih perek perawan..”

”Sini” Seseorang yang duduk mengangkat dan memangku Ifa.

Tubuh kecil ABG itu tidak ada apa-apanya bagi mereka. Dia berusaha memasukkan penisnya ke lubang vagina Ifa.

“uhhh….udah…….. sakit….” Ifa tetap berusaha berontak.

“Daripada ribut, nih lubang pantatnya dipergunain” ejek salah seorang dari mereka.
“Mmmhhh.. jangan…. “Ifa memohon saat seseorang menusuki lubang pantatnya dengan jari.

“Sakit….” Ifa menolak dengan lemasnya.

Beberapa saat kemudian, Ifa merasa ada sesuatu yang lebih besar akan memasuki lubang pantatnya.

“IHHH!!! JANGAN!!!! AAAHHHH!!!!” Ifa kembali berontak saat penis seseorang masuk pelan-pelan ke dalam lubang pantatnya.
“Jangan ada yang minta dia nyepong ya, gua mau liat reaksinya !” perintah salah seorang dari mereka sambil mengarahkan kamera hape video ke arah Ifa.
“UUUGGGHH!!!! AAAHHHH!!! UDAH ! UDAH!” Ifa merengek kesakitan ketika dua buah penis maju mundur di lubang pantat dan vaginanya. Air matanya terus keluar, mukanya merah dan mulutnya terus meracau. Air liur dan sperma yang ada di mulutnya menetes melalui bibirnya.
“Enak banget nih pantatnya perek abege” ledek orang yang sedang menyodomi Ifa.

“UH !UH! UDAH !!! TOLOOONGG!!! AAARRRGGGHHHH !!!!! UUUHH!!!!” Ifa terus meracau. Dia menyeringai menahan sakit di lubang pantat dan vaginanya.
“Eh gua pernah liat di bokep, ada yang masukin dua kontol sekaligus di memek, tar kita cobain ke cewek ini ya !” tiba-tiba seseorang memberi usul lain.

“Oke, tapi kita longgarin dulu lubang memeknya “ jawab yang lain.
“JANGAN !!!! sakit !!!! uuuuuhh….. mmmmmmhhh… Augh….. Sakit !!! Udah ! Lepasin! Uuuuh…. AAAAAHH…” Ifa terus merengek tak henti-henti.

“Kita keluar bareng ya” ujar orang yang memperkosa Ifa.

“Ahhh… enak…” Ifa terkulai lemas ketika kedua batang penis itu dicabut. “Oke, gentian”

Ifa lalu disetubuhi dalam posisi misionaris dan seseorang memaksa Ifa mengoral dirinya.

“Asik nih perek… sering-sering apa ya kita kayak gini” rupanya mereka merasakan sensasi liar pemerkosaan, pemaksaan dan penyiksaan.

Air mata Ifa sudah kering. Badannya merah-merah penuh bekas tamparan dan cupang.

“Genjot terus nih ABG sampai pagi” salah seorang dari mereka mengejek Ifa sambil memuncratkan spermanya di muka Ifa.

Selesai disetubuhi dalam posisi misionaris, Ifa dipaksa berdiri, walaupun dia lunglai. Lagi-lagi dia disetubuhi sambil berdiri dan mulutnya pun dipaksa untuk lagi-lagi menelan sperma. Setelah itu Ifa Disodomi berurutan oleh dua orang. Ifa yang berontak lagi dipegangi dan ikatan tangannya diperkuat.

“Udah…… Mau pulang….. Udah….” Ifa merengek seperti anak kecil.

Dia tidak tahan lagi diperkosa dan semua lubangnya dipakai secara paksa. Ifa sedang dalam posisi doggy style, seseorang menggaulinya dari belakang dan Ifa hanya bisa melenguh pelan.

“Abis dia crot, kita cobain ya masukin dua kontol sekaligus di lubang memeknya”

Ifa ngeri mendengarnya. Dia tidak bisa membayangkan rasa sakitnya. Setelah sperma orang terakhir keluar, Salah seorang dari mereka duduk dan memangku Ifa. Tetapi Ifa memunggungi orang tersebut. Kaki Ifa direntangkan lebar-lebar. Orang yang duduk itu memasukkan penisnya ke vagina Ifa.

“Uhhh…” Ifa sudah tidak bisa menghitung lagi kali keberapa vaginanya dimasuki penis.

“Eh… AARRGGHHHHH!!!!” Ifa kaget ketika ada penis lain yang masuk ke vaginanya. Rupanya orang lain berlutut dan memasukkan penisnya dengan paksa ke lubang yang sudah terisi itu.
“AAAAHHH !!!! SAKIIIIIIIIITT !!!! MAU ROBEK!!! JANGANN!!!!! “ Ifa terus merengek saat lubang vaginanya dimasuki dua penis.

“Unnnnggggghhh Unggghhh Aaaaahh..” Ifa terus meracau dan berteriak-teriak tak jelas sepanjang proses itu. Ifa kembali menangis dengan air mata yang kering. “Ampuuuun…. UDAH!!....” Ifa terus-terusan merengek dan memohon seiring dengan gerakan kedua penis tersebut.

“Wih mantap… kayak di bokep !” komentar yang menonton.

“Euuughhhh” Ifa berteriak melengking ketika kedua penis itu menyentakkan dirinya pertanda orgasme.
Selanjutnya bisa dibayangkan. Ifa kembali mengalami double penetration. Baik dobel lewat vagina maupun lewat vagina dan pantat. Ifa hanya bisa melenguh dan berteriak setiap prose situ terjadi. Malah kadang-kadang ketika dia dipaksa melakukan oral seks, dia hanya bisa diam dan menangis.
“Dah nih… capek” kata seseorang dari mereka

“Bentar !” Ifa sedang mengalami triple penetration sekaligus.

Pantat, Vagina, dan mulutnya sibuk menservis penis-penis para pemerkosanya. Pantatnya merah penuh bekas tamparan. Matanya sudah sayu dan ada jejak air mata. Mukanya merah dan pasti perasaannya tidak karuan serta mual.
“Uhhh,,, Uhh….. “Ifa terus melenguh tak jelas. Tiap penis memasuki vagina, pantat dan mulutnya.
“Sini, minum dulu”, salah seorang menenggakkan botol bir ke mulut Ifa. Cairan alcohol itu masuk menyiram keronkongan Ifa, sampai ifa tersedak dan batuk.
Setelah puas, ketujuh orang itu lalu memuncratkan sperma mereka di wajah Ifa. Mereka memakai baju lagi dan keluar ruangan, mereka lalu merokok dan minum-minum. Ifa ditinggalkan sendiri dalam keadaan amburadul. Tubuhnya penuh sperma, lubang2nya juga penuh sperma. Ifa mulai menangis terisak….

By: Racebannon



© Karya Pengarang Lain





From McD with Victim
Malam itu kami berempat, para pemuda berandalan, sedang makan di McDonalds Thamrin sebelum ikut balapan liar malam nanti. Kulihat seorang gadis Chinese sedang makan sendirian di sebuah meja, sepertinya ia baru pulang dari kantor terlihat dari setelan blazer dan rok mini biru yang dikenakannya yang sangat serasi dengan kulitnya yang putih mulus, ditunjang lagi dengan tubuhnya yang tinggi langsing sekitar sekitar 170an. Beberapa saat kemudian ia memanggil seorang karyawan yang baru saja mengantar pesanan,

"Mbak tolong jangan dikemasi dulu saya mau ke toilet sebentar" katanya sambil berlalu menuju toilet.

"Oh ya Mbak silahkan",jawab karyawan tersebut kemudian diapun kembali ke counter kasir.

"Eh kesempatan tuh" kataku pada Ikram temanku.


"Lu bawa gak obat tempo hari?".

"Oh pasti dong" jawabnya sambil mengeluarkan plastik kecil berisi beberapa butir pil kecil di dalamnya


Diambilnya satu kemudian dia menuju wastafel. Ketika lewat di meja gadis itu, dengan cepat dimasukannya sebutir pil ke dalam gelas gadis itu sehingga langsung larut dalam Coca Cola

di dalamnya. Ketika gadis itu kembali, kami cepat-cepat menyelesaikan makan karena dia ternyata hampir selesai makan dan setelah menghabiskan minumnya dia segera keluar. Kami mengikutinya ke tempat parkir. Ketika dia hendak masuk mobilnya, pil itu mulai bekerja membuatnya terhuyung hendak jatuh. Aku segera beraksi, kuhampiri dia

"Hei kamu tidak apa-apa?" tanyaku sambil membopongnya berdiri tapi tubuhnya yang telah lemas karena obat tidur langsung ambruk dlm pelukanku sebelum sempat berkata apapun.

Tubuhnya yang terkulai lemas itu langsung kubaringkan di jok belakang Civic hitamnya lalu kubawa keluar diikuti mobilku yang dikendarai Ari, temanku yang lain. Kularikan mobil ke rumah nenekku di pinggiran Depok, sebuah rumah kuno dengan halaman luas yang kudapat setelah beliau meninggal delapan bulan yang lalu. Kubopong tubuhnya ke kamar di bawah tanah yang dulunya adalah gudang tapi telah kurombak menjadi ruang santai lengkap dengan peredam suara untuk home teaterku.


Cynthia

Kubaringkan tubuhnya di ranjang, lutut dan paha yang menjuntai di tepian ranjang membuat roknya tertarik ke atas sehingga terlihat sedikit satin biru muda yang membungkus selakangannya.

"Wah nih cewek lebih yahud dari yang kita kerjain tempo hari Sir" kata Tomy padaku

Oh ya namaku Yasir, salah satu dedengkot pemuda brandalan di wilayahku, wajahku terbilang sangar dengan anting besar di telinga kiriku dan tato di sekujur kedua lengan. Sebelumnya kami pernah membawa dua mahasiswi UI Depok, yang mobilnya terjebak demo, ke rumahku. Mereka akhirnya menjadi mangsa kami, selama tiga hari kami menyekap dan memperkosa keduanya beramai-ramai

"Ok Sir karena lo yang punya ide, lo dapat giliran pertama ok, cepetan tuh ntar keburu siuman repot lo ha ha haa..." kata Ikram

Kami lalu memakai topeng yg menutup wajah atas kami. Aku melepas semua pakaianku kecuali celana dalam lalu kutarik tubuhnya ke tengah ranjang. Kulepas blazernya lalu kubuka satu-satu kancing blus tanpa lengannya. Saat kusibak ke samping aku terpesona melihat kulitnya yang putih mulus dengan payudara yang tidak begitu besar, kira-kira 34B, putingnya yang mungil berwarna merah muda terlihat di balik bra transparan biru mudanya. Kedua tangannya kuborgol pada tiang ranjang karena tubuhnya mulai mengeliat lemah. Ari segera menyalakan DVDcamnya untuk mensyuting adegan panas yang akan segera terjadi.

"Eh namanya Chintya Halim, wow rumahnya di Green Garden coi, pasti anak orang kaya nih!" sahut Tomy yang lagi asik membongkar tas gadis itu.

Saat itu ia mulai mengedip-ngedipkan matanya mulai siuman. Kubelai pipinya yang lembut

"Hei Chintya sayang!" bisiku di telinganya, dia langsung terkesiap kaget tapi tak dapat bergerak karena kedua tangannya terikat.

"Eegh di mana gue? Si..siapa lu semua?!" pekiknya panik, dia meronta-ronta, kakinya menendang-nendang tapi hal itu justru membuat roknya tersingkap sehingga aku semakin horny,

"Hei sia-sia lu meronta, sebentar lagi lu juga akan menikmatinya kok" kataku sambil merengut bh nya hingga robek,

"ouch jangaaaan!!" pekiknya sambil meronta makin keras sehingga buah dadanya berguncang bebas,

Aku segera meremas kedua payudaranya sambil kukulum bibir tipisnya dengan ganas "mmmpphh..mmpph."rintihnya,

Kudesak lidahnya dengan lidahku hingga dia sesak nafas, lama-lama perlawanannya pun melemah, lalu kulepas pelukanku dan turun ke bagian bawah tubuhnya. Kuraba bagian dalam pahanya hingga masuk ke dalam rok mininya. Ketika kuraih tepian celana dalamnya dia meronta lagi,

"Aaaahh aaauuh jja..ngaaan aaaahhh!!" pekiknya tapi gerakannya malah memudahkanku untuk menarik lepas kain berbentuk segitiga itu.

"Hei guys help me, ok!" pintaku pada mereka, lalu Tomy dan Ikram segera memegang kedua paha Chintya dan menariknya hingga mengangkang lebar di depanku,

"aauch aaahh baaji..ngaaaan aaahah aaahh aampuuuun!!" rintihnya ketika kujilat klitorisnya disusul ke labia mayoranya hingga akhirnya kumasukan lidahku ke liang vaginanya sehingga basementku dipenuhi jeritan dan rintihannya



Setelah lima menitan aku bermain lidah di liang vaginanya, perlawanannya mulai lemah, malah kurasakan vaginanya berdenyut-denyut menerima rangsanganku dan semakin basah oleh cairan vaginanya. Memang sekuat apapun dia berontak lama-lama dia tidak akan sanggup menahan rangsangan yang diterimanya terus-menerus. Tubuhnya yang terkulai lemas kutindih dan kulumat lagi bibirnya sambil tanganku meremas lembut payudaranya. Dia hanya mengeliat-geliat lemah,

"Mmph mmph" rintihannya terpendam kuluman bibirku.

Kemudian kuposisikan penisku di depan vaginanya. Melihat hal itu dia kembali meronta tapi dengan cepat kucengkram pinggangnya sementara kakinya tetap dipegang kedua temanku. Kumasukan penisku yang berukuran 22cm dengan diameter 5cm ke liang vaginanya pelan-pelan tapi hanya ujungnya karena vaginanya sempit sekali

"aaaaahhh aaaaucchh…sssaakiiiitt!!"rintihnya, dia menangis keras menyadari dirinya sebentar lagi akan diperkosa empat orang asing

Jeritannya makin keras saat kudesak lagi vaginanya dengan penisku. Akhirnya dengan satu sentakan keras penisku berhasil masuk 1/3nya. Dia menjerit keras dan tubuhnya menegang dengan kepala mendongak ke atas, matanya terbelalak menahan sakit yang amat sangat di dalam liang vaginanya. Kudiamkan sesaat gerakanku sampai dia lemas lalu kutarik penisku, dia memekik

"aauuhhh sakiiiit hhuu hhuuu jangaaan maaas!! jaangaan perkosa sayaa!!" ia memelas dengan bercucuran air mata

Dari vaginanya keluar darah segar yang cukup banyak karena perawannya baru saja kujebol. Rintihannya makin membuatku horny dan segera kemasukan lagi penisku pelan-pelan tapi terus kutekan hingga masuk hampir semua. Ketika kurasakan mentok, Chintya menjerit lebih keras karena besarnya penisku membuat liang vaginanya terkuak dengan maksimal dan saat kupompa maju mundur dia menjerit dan merintih sampai kehabisan tenaga. Aku terus menggenjotnya sekitar 20 menit hingga kulihat dia mulai merasa keenakan di antara rasa sakitnya karena vaginanya mulai menyesuaikan dengan besar penisku. Dia terus merintih-rintih dan tanpa sadar pinggulnya terangkat ke atas menyambut hujaman penisku berkali-kali. Tak lama kemudian dia pun orgasme akibat hujamanku yang tiada henti ditambah gerayangan temanku pada tubuhnya. Setelah kira-kira empat pulun menitan kurasakan denyutan keras dalam diriku, segera kucengkeram pinggulnya dan kutekan penisku dalam-dalam. Aku pun mencapai orgasme dan menyemburkan sperma dengan keras dan banyak dalam liang vaginanya,



“Aaaaaaahhh!!"jeritnya histeris, tangannya mencengkram sprei lalu tubuhnya terkulai lemas

Kucabut penisku yang telah menciut dan keluarlah cairan spermaku bercampur darah perawannya yang meleleh ke sekujur pahanya dan membasahi sprei. Kucium bibirnya dengan lembut, tubuhnya yang berkilat bermandikan keringat berguncang lemah karena menangis sesegukan. Ketika aku bangkit untuk istirahat, temanku segera meminta jatah menikmati tubuh mulus Chintya. Begitu aku selesai, Ikram yang sudah bugil mendapat giliran berikutnya, ia langsung menindih Chintya dan tanpa buang waktu segera memasukan penisnya yang tak kalah besar. Chintya yang masih lemah tak kuasa melawan, dia hanya merintih lemah sebelum beberapa saat kemudian kehilangan kesadaran selama digenjot temanku yang berambut mohawk itu selama kira-kira setengah jam. Saat siuman Ikram telah menyemburkan sperma dalam liang vaginanya. Chintya sudah tidak kuat melawan dia hanya telentang lemah dengan tubuh seperti huruf x karena tangan dan kakinya terpentang ke empat arah. Kulepas borgol tangannya, kulihat tubuh telanjangnya telentang lemah di ranjang. Kututupi selimut karena kami akan meninggalkannya sebentar ke atas. Dua temanku yang lain tidak mau menyetubuhinya saat ini karena dia terlalu lemah. Kami takut dia tak kuat dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti Rini mahasiswa UI tempo hari, tubuhnya tak kuat digilir tujuh orang berturut-turut hingga harus dirawat di rumah sakit.

"Ntar kita tunggu dia pulih dulu aja biar lebih ok" kata Tomy.

Kami pun naik ke ruang atas untuk makan. Sejam kemudian kami turun untuk melihat keadaan Chintya, dia masih tergolek lemah di ranjang lalu kubangunkan dia;

"Bangun sayang, ini ada minuman aku yakin kamu haus!" kataku sambil membantunya bangkit

Rupanya dia memang haus karena itu segera direguknya minuman di tanganku sampai habis.

"Tolong lepasin gue, please…tangan gue sakit banget nih" rengeknya padaku, "apa salah gue sihh?".

"Ah gak sayang, cuma kamu berada di tempat yang salah aja, tapi kami akan memberi pengalaman yang tak terlupakan padamu hehehe" kataku sambil mencium bibirnya dan mengelus payudaranya dengan lembut sehingga dia mendesah kegelian, putingnya yang mungil itu kupilin-pilin sehingga ia mendesah pelan karena mulai terangsang



Tak lama kemudian dia mulai mengeliat tanda obat perangsang di minuman yang kuberikan tadi mulai bekerja. Tomy yang melihat hal itu segera membopongnya ke kamar mandi lalu memandikannya di bawah shower air hangat. Seluruh bagian tubuh Chintya digosoknya dengan lembut tanpa ada yang terlewat, terutama bagian-bagian sensitifnya, sehingga gadis itu menggelinjang kegelian dalam pelukan Tomy. Kulit wajahnya yang putih kini memerah karena dia telah terangsang hebat akibat belaian-belaian Tomy pada tubuhnya. Tubuhnya yang basah dan berbalur busa sabun itu nampak sangat menggairahkan, apalagi melihat kontrasnya dengan Tomy yang berkulit sawo matang dengan hidung pesek dan wajahnya jauh dari tampan. Temanku itu juga menciumi leher jenjangnya, tangannya meremasi payudaranya dan tangannya yang satu menggerayangi vagina gadis itu. Tubuh Cynthia sedikit bergetar karena perlakuan Tomy, desahan lirih terdengar dari mulutnya.

"aahh aahh gelii" dia berusaha berontak tapi dia akhirnya pasrah saat dibaringkan di ranjang dan langsung digumuli Tomy

Chintya membalas memeluk erat Tomy, kedua kakinya melingkari tubuh temanku itu dan ketika vaginanya mulai dimasuki penis Tomy ia mendesah lirih. Tomy menggumulinya dengan cukup lembut sehingga gadis itu menikmati permainannya, penisnya yang panjang itu keluar masuk mengeluarkan bunyi berdecak dari vagina Chyntia yang basah.

"aauuh aahh aahh" rintihannya memenuhi ruangan, dia mulai bisa mengimbangi permainan Tomy yang menyerangnya dengan kasar

Setelah beberapa saat, Tomy berganti gaya dengan doggie style. Sambil menggenjot, tangan Tomy bergerilya meremas-remas pantat serta kedua payudara Chintya yang bergelantungan di dadanya. Desahan mereka sahut menyahut memenuhi ruangan ini. Sudah lewat 40 menit digenjot Tomy, Chintya memekik keras tanda dia orgasme, disusul Tomy yang mengerang keras. Ia menekan penisnya pada vagina Chintya dan menyemburkan spermanya dalam vagina gadis cantik itu. Begitu Tomy menarik lepas penisnya, Ari yang sudah tak sabar langsung menerkam Chintya yang telah mandi keringat. Tanpa pemanasan apapun ia langsung menggenjotnya sehingga gadis itu melenguh dan merintih-rintih keras akibat sodokan penis Ari yang begitu brutal. Beberapa kali Chintya orgasme karena Ari terus memompanya memompanya tanpa henti selama kira-kira setengah jam nonstop. Derai air mata yang membasahi kedua belah pipi dari wajah nan cantik ini telah mengering dan kini yang ada hanyalah wajah seorang gadis belia yang tengah melawan birahi yang menuntut untuk dituntaskan dari seorang lelaki yang tak pantas meraih kenikmatan bersamanya itu. Tubuh telanjangnya melejang-lejang menawan bagi setiap lelaki yang menyaksikannya, terlebih-lebih aku yang terus melihat adegan itu tanpa berkedip sambil memegangi penisku yang telah tegang lagi seraya mengocok-ngocoknya dengan penuh nafsu, betapa aku juga terbawa arus permainan birahi paksa tersebut. Saat Ari membalikan tubuhnya untuk berganti gaya ke anal seks, dia hanya melenguh lemah karena sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Melihat itu segera kubalik tubuh Ari sehingga dia menyodomi Chintya dari bawah dan aku segera menindih Chintya dari atas. Aku langsung menusukan penisku yang telah mengeras ke vaginanya yang terbuka bebas di depanku. Jeritan disertai tangisannya keras memenuhi ruangan itu akibat dua lobang tubuhnya dimasuki bersamaan. Setengah jam kemudian kami sama-sama orgasme. Ketika Ari dan aku mencabut penis masing-masing dari vagina dan duburnya mengalir keluar cairan sperma bercampur darah yang lumayan banyak, tubuhnya tergolek pingsan karena kelelahan. Kamipun tidur di kamar itu di sekitar 'korban' kami. Kira-kira jam lima pagi aku dibangunkan Ikram,

"Sir kita pulang dulu deh, capek nih. Ntar malam aja kita balik buat urusin tuh amoy sambil gua mau edit hasil shuting semalam ok" katanya lalu berlalu dengan kedua temanku yang lain.

Aku lalu tidur lagi sambil memeluk Chintya yang masih telanjang di ranjangku, kuciumi leher dan pipinya serta kuremas payudaranya, dia hanya mengeliat tapi tetap tidur sehingga akupun tidur sambil memeluknya.



Aku bangun ketika kedengar dia menangis di pelukanku

"Hei Cyn ngapain kamu?" tanyaku.

"Jahat sekali kalian! kenapa kalian perkosa aku sampai seperti ini? aauuhh ssakiiiit huu hhuu hhuuu..!!!" tangisnya sambil memukul-mukul dadaku dan berusaha melepas dekapanku.

"Cyn kami menyukaimu habis kamu sexy sih, udahlah gak usah nangis toh kamu juga menikmatinya semalam, lihat aja ntar filmnya" kataku sambil melepas dekapanku

Dia bangun dari ranjang berusaha lari tapi langsung terjatuh karena kakinya masih lemas

ditambah rasa sakit di vaginanya sehingga dia tertelungkup di karpet sambil menangis tersedu-sedu. Kugendong tubuhnya dan kubaringkan lagi di ranjang, aku begitu terpesona dengan tubuhnya yang semampai dengan buah dada yang indah dan sejumput rambut halus di selakangannya. Bekas darah dan sperma yang telah mengering belepotan di paha dan betisnya yang jenjang. Kubiarkan dia

menangis hingga dia agak tenang.sementara itu aku menyiapkan kamera dvdku di kamar mandi. Kuarahkan ke bathtub besar di situ. Setelah Chintya bangun, kugendong tubuhnya yg lemah ke kamar mandi, dia tidak melawan, lalu kami berendam di bathtub dengan air hangat. Kugosok seluruh bagian tubuhnya hingga bersih,

"Cyn kamu cantik sekali, gimana? masih sakit kah?" tanyaku sambil menciumi lehernya dan mengelus lembut payudaranya, dia mengeliat geli

"emh sakit sekali mas, kakiku gak kuat buat jalan tolong lepasin aku dong" rengeknya padaku.

"Cyn aku menyukai tubuhmu, lihat payudaramu kenyal dan indah gitu, juga bodymu begitu

sexy", kataku sambil tanganku turun ke perut lalu mengusap dan menggosok klitoris dan liang vaginanya

Dia meronta tapi tubuhnya yang masih lemah ditambah air hangat membuat rasa sakit di vaginanya jauh berkurang sehingga pelan-pelan dia pasrah menerima rangsanganku padanya,

"eegh ssakkiit mas, udah jangan terusin aku gak kuat aahh aahhh aaahhh" rintihnya ketika

tanganku menggosok liang vaginanya sehingga sisa sperma dan darah keluar dari vaginanya tapi kemudian dia agak tenang.

Saat ia mulai keenakan karena gerakan jari telunjukku kubuat selembut mungkin di dalam liang vaginanya, walaupun dia menolak tapi seorang wanita tidak akan bisa menolak gairah sex yang timbul dalam tubuhnya.



Chintya merintih-rintih dan mengelinjang keenakan. Kulumat bibir tipisnya dan dia menyambut kulumanku dengan sedikit membuka bibirnya sehingga lidahku bebas masuk mengait lidahnya dan bermain di langit-langit mulutnya. Dia memelukku dengan erat dan kugumuli dalam bathtub hingga beberapa saat sampai nafasnya terengah-engah. Tanpa sadar kuposisikan tubuhnya yang memeluku di bawah lalu pelan-pelan kumasukan penisku ke dalam vaginanya,

"aaarggh jangan maas aakkuu gak mauuu, aaauuuh aahh aahhhh!!" dia tersentak dan meronta tapi dekapanku yang rapat membuat penisku langsung masuk vaginanya ditambah tenaganya yang belum pulih benar membuatnya tak dapat menolak, jeritan dan rintihannya terdengar keras ketika mulai kugenjot tubuhnya kurasakan vaginanya berdenyut-denyut tanda dia mulai bisa menerima penisku dalam vaginanya. Kugenjot tubuhnya pelan-pelan sehingga dia makin merasakan rangsangan sex yang hebat hingga akhirnya Chintya memekik keras dilanda orgasme

"aaauuuhh aaaahhhh aaaahhhh!" jeritnya sambil mencengkeram erat punggungku dan kakinya melingkar erat di pinggangku hingga aku hampir tidak bisa bernafas

Saat itu aku masih belum orgasme maka terus kupompa penisku di vaginanya sehingga dia terus menjerit keras karena tak tahan rangsangan yang begitu hebat diterimanya sampai ketika aku orgasme dan menyemprotkan spermaku dalam vaginanya dia menjerit keras karena dia juga orgasme yang kedua kalinya,

"Gimana Cyn? kamu ngerasa apa? enak kan?" tanyaku.

"He eehh tapi kakiku lemas" rintihnya pelan

Kemudian kami membasuh diri di shower lalu kugendong dia ke kamar setelah sebelumnya kukeringkan tubuhnya dengan handuk. Chintya diam saja ketika kupakaikan lingerie dan celana dalam yang selalu kusiapkan dalam lemariku karena bra, celana dalam dan blousenya telah sobek akibat kurenggut semalam, begitu juga ketika kusuapi makan dilahapnya sampai habis, maklum tenaganya banyak terkuras karena perkosaan yg kami lakukan semalaman. Setelah itu diapun tertidur dalam pelukanku hingga sore hari.



Jam lima sore teman-temanku datang lalu kami pun ke ruang basement tempat Chintya kusekap,

"apa mau kalian? belum puaskah kalian perkosa aku kemarin hah? ingat aku akan laporkan kalian ke polisi" sergah Chintya ketika kami masuk kamar.

"tenang cantik gimana polisi percaya kamu kami perkosa bila melihat rekaman ini” kata Tomy sambil memutar film hasil shutingnya

Terlihat Chintya yang telah terpengaruh obat perangsang disetubuhi bergantian tanpa perlawanan dan bahkan terlihat membalas rangsangan-rangsangan kami. Diapun terduduk lemas menyadari posisinya yg lemah dan langsung menangis tersedu-sedu.

"Udahlah kau nikmati aja, toh gak ada orang lain yang tahu ok, atau kami sebarkan filmmu ke kantor dan keluargamu" ancam Ari "sekarang lepasin bajumu pelan-pelan manis, terus layani kami tanpa melawan ok".

Chintya berdiri sambil menangis dia melepas satu persatu tali lingerienya. Tak lama kemudian lingerie itu meluncur turun melewati tubuh mulusnya yang putih itu disusul celana dalam renda putih yang tadi kuberikan. Dia tak melawan ketika tubuhnya ditarik ke ranjang dan langsung digumuli Ari. Selanjutnya yang kudengar hanya rintihan dan desahan gadis itu yang disetubuhi Ari dan selanjutnya malam itu Chintya kembali melayani kami berempat. Kelihatannya dia sadar percuma melawan sehingga diapun memutuskan untuk menikmati perkosaan yang dialaminya, hal itu terlihat dari desahan dan rintihannya yang keras sampai kami berlima sama-sama terkulai puas. Air mani dan keringat berceceran membasahi tubuh gadis itu. Ia kami perkosa bergantian selama tiga hari sejak kami culik sampai akhirnya hari minggu malam saat dia pingsan kami tinggalkan tubuhnya dalam mobilnya di depan rumahnya, tak lupa surat peringatan dari kami agar tidak menceritakan kejadian yang menimpanya pada siapapun karena kami rekaman adegan perkosaannya.



By: Yasir




© Karya Yasir





Lust Inc. 2: Company's Asset

Lusi

Seminggu telah berlalu semenjak aku mengalami perkosaan oleh atasanku, Pak Herman, di kantornya dan ia mengungkapkan rahasia sensual di balik perusahaan ini. Kejadian tersebut membuat aku merasa jijik dengan perusahaan ini dan juga diriku sendiri. Aku merasa malu terhadap suamiku yang telah memberikan aku kepercayaan untuk menjaga kesucian pernikahan kami, tapi aku malah tidak sanggup untuk menjaganya dari atasanku sendiri Pak Herman. Seperti yang pernah dikatakan Pak Herman pada episode sebelumnya, bahwa di perusahaan ini profesionalisme dan nafsu menjadi satu. Memang di jam kerja setiap orang wajib dan dituntut mengerjakan tugas-tugasnya secara profesional dan dengan semaksimal mungkin, siapapun yang ketahuan bermalas-malasan apalagi ngeseks dijam-jam kerja akan dikenai sanksi tegas berupa teguran hingga pemecatan, tapi di jam-jam bebas misalnya jam istirahat siang atau juga jam-jam lembur jika sudah tidak ada pekerjaan, sex is totally free. Semua boleh bermain seks dengan siapapun di kantor ini. Seks juga sangat berperan penting dalam pengambilan lobi-lobi bisnis di perusahaan Lust Inc. ini, misalnya dalam negosiasi, para karyawati atau staff wanita sering berperan sebagai alat untuk memenangkan tender atau menghibur para klien dengan tubuh mereka, termasuk para klien dari luar negeri maupun aparat pemerintah. Pernah sekali aku melewati ruang meeting dan mendengar suara-suara desahan dari dalam sana. Aku tahu apa yang terjadi, tapi aku ingin tahu siapa yang di dalam sehingga tidak bisa menahan diri mengintip melalui melalui daun jendela yang agak terbuka.
 
Aku menelan ludah melihat Lydia dari bagian humas sedang bergumul dengan panas dengan dua orang klien dari Timur Tengah. Saat itu Lydia tengah duduk di kursi sementara mengulum penis besar kedua pria Timur Tengah yang berdiri berkacak pinggang di sisi kanan dan kirinya. Kemeja kerja Lydia telah terbuka seluruh kancingnya dan payudaranya yang sedang tapi montok itu telah menyembul dari balik branya yang tersingkap ke atas. Tak lama kemudian salah satu dari pria itu yang jenggotnya lebat menaikkan tubuh Lydia ke atas meja rapat dan menyingkap roknya hingga ke pinggang. Ia memposisikan diri di antara kedua paha jenjang gadis itu dan hhhhkkkkhh…Lydia menjerit kecil merasakan vaginanya diterobos penis besar pria itu. Pria itu menyetubuhinya di atas meja sementara pria yang satunya menciumi dan melumat payudara gadis bertampang Indo itu.




“Kita baru deal soal ekspor kayu ke negara mereka, mereka lagi merayakannya bareng Lydia” sebuah suara dari belakang membuatku terkejut.

Willy, si gay, telah berdiri di belakangku dengan memegang gelas kopi.

“Kamu ga mau ikut ngeramein Lus?” tanyanya lagi, sepertinya dia santai saja dengan kejadian di dalam.

“Eh…nggak…nggak Wil, Cuma kebetulan lewat aja, permisi!” aku meninggalkan tempat itu dengan bingung.

Dalam kesempatan lain ketika jam makan siang, aku pernah memergoki di ruang loker, Felia dari bagian treasury sedang digenjot dari belakang oleh Pak Muhdi, salah seorang satpam di sini. Felia, yang atasnya tinggal memakai bra yang tersingkap dan rok serta celana dalamnya sudah melorot di bawah kakinya itu, menumpukan kedua lengan pada lemari loker, sementara si satpam bertubuh kekar itu sedang menusuk-nusukkan penisnya sambil meremas payudara Felia yang berayun-ayun. Saat itu pintu pintu depan membuka, Bu Selvi, pegawai senior berumur pertengahan 40an, masuk hendak mengambil barang dari lokernya, tapi ia tidak kaget dengan adegan mesum Felia dan Pak Muhdi.

“Waktu istirahat dah mau selesai, jangan lama-lama gituannya, kalau sudah cepat balik!” hanya itu yang dikatakannya pada mereka, lalu dengan santai menutup kembali lokernya dan keluar meninggalkan mereka.

“Gila perusahaan ini benar-benar gila”, pikirku, “tapi aku tidak bisa pergi begitu saja, si jahanam Herman itu memiliki rekaman perkosaanku yang akan tersebar bila aku melawannya.”

Satu malam setelah lembur, begitu keluar pintu toilet aku dikejutkan oleh Pak Mamat, si pembersih WC bangkotan yang muncul di pintu depan.

“Apain Pak? Ini toilet perempuan!” suaraku agak terbata-bata

“Ehehehe…si Non, kaya gak tau aja perusahaan ini kaya apa, ayo sini Bapak ajarin Non!” katanya terkekeh menjijikkan, langkahnya semakin mendekatiku sementara aku sendiri mundur hingga terdesak ke tembok.

Melihatku sudah tersudut, pria itu merangsek maju dan mendekap tubuhku. Aku jelas meronta-ronta berusaha lepas, tangannya terus menggerayangi tubuhku, rok kerjaku berhasil disingkapnya ke atas, tangan keriput itu sempat merabai paha dan pantatku sebelum aku akhirnya berhasil mendorong tubuhnya dan menghambur keluar dari toilet itu. Aku berlari ke basement dan langsung menjalankan mobilku. Di tengah jalan aku terisak-isak, kali ini aku dapat lolos darinya, tapi cepat atau lambat si tua tidak tahu diri itu pasti akan menikmati tubuhku juga. Terhitung semenjak hari itu aku belum pernah masuk kerja lagi, awalnya suamiku banyak bertanya karena aku sering bolos kerja.



########################

Tiga hari kemudian


 

Helen
 
Pagi itu seperti biasanya aku duduk santai sambil menikmati secangkir susu, saat itu aku hanya mengunakan daster krem tipis yang memperlihatkan bentuk tubuhku. Celana dalamku yang berwarna merah sedikit terlihat. Aku merenung, bagaimana nasibku setelah ini, apakah Lust Inc. membiarkanku kabur begitu saja? ‘Tingtong…tingtong!’ lamunanku buyar saat mendengar bel rumahku berbunyi. Dengan bermalas-malasan kulangkahkan kakiku menuju pintu. Treaakkk (bunyi pintu digeser)….aku sangat kaget saat pintu itu terbuka melihat sesosok perempuan yang berparas cantik yang sangat kukenal. (tapi masih cantikan aku donk… ya ga? He..he…)

“Ngapain kamu ke sini?” dengan mata melotot aku menatap wajah Helen yang membawaku ke perusahaan tempatku bekerja, Lancar Usaha Sentosa atau Lust Inc. yang menjijikkan itu.

Sejak perkosaan oleh Pak Herman ia terlihat menghindar dariku, dan keesokan harinya ia dikirim perusahaan menangani urusan di luar kota. Baru kali ini aku bertemu lagi dengannya.

“Lus…gua tau lu pasti marah banget ke gua, kita perlu ngobrol, denger dulu penjelasan gua” sebelum Helen sempat melanjutkan kata-katanya dengan cepat aku mendorong pintu rumahku, tapi aku kalah cepat, ia berusaha mendorong pintu itu agar tidak tertutup.

“Lus… please… kita kan masih friend” Helen terus memelas, perlahan air matanya mulai membasahi pipinya, tapi aku pura-pura tidak mendengar kata-katanya, “oke, oke…aku ngaku salah, tapi please kasih kesempatan gua jelasin dulu…yah Lus?“ kata terakhir itu membuat hatiku luluh juga, perlahan aku melepaskan tanganku dari gagang pintu,

“Ya sudah silakan masuk” kata-kataku agak ketus, sengaja aku tidak menutup pintunya, agar dia tidak berani macam-macam padaku dan juga dapat lebih cepat pergi bila kuusir.

Helen terlihat senang setelah aku akhirnya mempersilakannya masuk, ia tersenyum dengan manis sambil mengusap air matanya, lalu duduk persis di sebelahku, dia tampak anggun menggunakan kemeja putih dan rok hitam di atas lutut,

“Ada perlu apa kamu ke sini?“ aku bertanya dengan muka jutek, lagi-lagi dia membalasnya dengan senyuman manis semanis gula.

“Lus…tolong yah, maafin gua sekali lagi, sebenernya gua…mmm…”

Aku melihatnya ragu meneruskan perkataannya sehingga membuatku juga terbengong hingga akhirnya beberapa detik kemudian aku merasa ada dekapan dari belakangku. Kontan aku pun meronta, namun tangan itu membekap mulutku dengan sebuah sapu tangan yang dicelupkan pada eter. Sebentar saja nafasku mulai sesak, aku berusaha berontak tapi apa daya tubuhku terasa lemas, semua pandanganku pun akhirnya gelap…



######


Pak Herman & sopirnya
Aku mulai memperoleh kembali kesadaranku walau kepalaku terasa agak berat, perlahan kelopak mataku terbuka. Mataku langsung melotot kaget dan jantungku berdetak kencang melihat orang di di hadapanku. Pria gemuk dengan kepala hampir botak dengan senyum mesumnya yang khas. Pak Herman…ia telah berada di samping ranjangku, bukan hanya dia, di sebelah kiriku juga ada Pak Salik, sopir pribadi Pak Herman, orangnya tinggi kurus, berambut cepak dan berkumis tipis, ia juga tersenyum menjijikkan memandangi dan menggerayangi tubuhku.

“Apa….apaan…. ini!!?” aku berusaha berontak tapi apa daya kedua tanganku terikat di sisi ranjang sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa, berteriak pun tidak mungkin karena jarak rumahku dengan tetangga cukup jauh, ditambah lagi kamarku kedap suara, selain itu pembantuku juga sedang tidak di rumah.

Aku hanya bisa meronta-ronta dan menjerit. Tapi mereka malah menyeringai semakin lebar melihat reaksiku

“Mampus dah gua!” pikiranku makin kacau, perlahan air mataku mulai menetes membasahi pipiku yang putih mulus tanpa noda, “Maafkan aku suamiku”, jeritku dalam hati, kini aku hanya bisa meratapi nasibku.

Tangan Pak Herman yang lebar dan kasar mulai membelai pipiku. Aku hanya bisa memalingkan mukaku,

“Kamu kemana aja sih sayang? kok gak pernah kelihatan lagi sih? Kamu harus tau yah manis…kalau sudah masuk Lust Inc. gak bisa sembarangan keluar gitu aja” katanya dengan santai namun bernada mengancam.

Terdengar pintu kamar dibuka, aku melihat ke arah Helen yang masuk dan dengan santai meminum segelas wine di tangannya. Ia lalu duduk di sebelah Pak Herman dan tersenyum padaku sambil mengelus rambut indahku,

“Dasar perempuan murahan!! Jahanam, tuuuuuuutttttt…..(di sensor)” aku langsung mencaci maki Helen dengan kata-kata kasar, air mataku semakin tak terbendung, betapa sedih hatiku karena dipermainkan oleh sahabatku sendiri (catatan: hati-hati, teman dekatmu adalah orang yang paling potensial menjatuhkanmu jika berkhianat)

“Sori yah Lus, gua cuma jalanin tugas dari perusahaan! Yang kaya gini biasa kok buat pegawai baru, gua juga dulu sama kaya lu gini, tapi gua yakin lu bakal nikmatin semua ini kok dan gak akan marah ke gua lagi!” katanya dekat wajahku, “okay say…sekarang enjoy aja dulu yah”



Perlahan tangan kasar Pak Herman mulai menyingkap dasterku hingga pahaku tersingkap dengan indahnya. Ia lalu menjamah betisku yang jenjang membuat tubuhku merinding, “Pak….ooohhkk…. cukup Pak….aku mau keluar saja…uuuhhhkk…!!” kakiku berusaha menendang-nendangnya.

Pak Herman tersenyum lalu berkata “Iya boleh…Bapak paham Lus, kamu bisa bukan bawahan saya lagi, kamu cuma…” dengan cepat tangannya masuk ke dasterku dan meremas-remas vaginaku dari luar celana dalam membuatku merintih, “mulai sekarang kamu menjadi budak seks saya, kamu mengertikan?” katanya dengan nada ancaman

Ooohhh…remasannya semakin kasar, sedetik kemudian dia melepaskan tangannya dari bawah sana dan pindah ke bawah, dibentangkannya pahaku dan ia mengambil posisi berlutut di antaranya. Aku terdiam menatap si sopir, Pak Salik yang mulai mengerjaiku juga, perlahan dia mengelus belahan dadaku yang montok.

“Tetek Non Lusi montok banget, pantasan Pak Herman tergila-gila ke Non, saya juga sama Non, dari pertama liat udah gak sabar pengen ngentot ama Non heheheh” celotehnya

“Kamu beruntung Lus, Pak Herman senang sama kamu, karir kamu di perusahaan pasti prosepeknya cerah” sahut Helen yang kini duduk sambil memegang gelas wine yang tinggal terisi setengahnya, ia remas-remas payudaraku dengan lembut, sekali-kali putingku di pelintir pelan membuat aku tidak sanggup untuk tidak mendesah

“OoHhkk….. Len…jangan!” mataku terpejam saat jari-jari itu memelintir pelan puting susuku yang mulai mengeras, tonjolannya semakin terlihat jelas di balik dasterku yang tidak memakai BH,

Aku sudah terangsang semakin terangsang saat tangan kasar Pak Herman mengelus-elus pahaku. Perlahan dasterku terangkat hingga sepinggang, gundukan kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam merah tersingkap. Sambil tersenyum mesum Pak Herman mengelus-elus wilayah sensitif itu yang telah basah sehingga aku tak tahan untuk mengerang

“OoHkk… Pak….hhhmmm” sambil menggeleng-gelengkan kepala, untuk pertama kalinya aku dikerjai oleh tiga orang sekaligus sehingga menimbulkan sensasi yang berbeda



Perlahan tangan Helen mengeluarkan payudaraku dari balik daster yang berpotongan dada agak rendah. Kini payudaraku yang membusung itu terlihat jelas oleh mereka. Celana dalamku yang sudah basah menambah keseksianku, terutama saat jari-jari gemuk Pak Herman meraba selangkanganku, reflek kakiku menjepit tangannya

“Sudah…Pak… saya mohon….. tolong….ooHkk….” rintihku dalam kenikmatan

Perlahan tapi pasti, kini aku mulai pasrah apa yang telah menimpa diriku, tak ada lagi air mata, yang tersisa hanya rintihan kenikmatan dan dengusan nafas yang semakin memburu. Tanpa sadar kini dasterku sudah terangkat hingga ke atas memperlihatkan sepasang payudara yang sudah tidak berbungkus lagi, putingku yang berwarna pink terus dijamah oleh Helen dan Pak Salik.

“Len…. ooHkk….hhhmmm……aaammm….pun…. ooHkk…..yyeeahh!!” Helen tersenyum melihatku yang semakin tenggelam ke dalam jurang kenikmatan

Pak Salik melumat payudara kiriku dengan gemas, tangannya terus bergerilya menjelajahi tubuhku. Sementara jari-jari Pak Herman berusaha menarik celana dalamku. Dengan sengaja aku meliuk-liukkan kakiku dan merapatkan pahaku agar pria gemuk itu sedikit kesulitan membuka celana dalamku. Namun, sia-sia, tenagaku kalah darinya, celanaku makin tertarik lepas olehnya, sedikit demi sedikit rambut kemaluanku terlihat dan akhirnya mahkotaku pun terlihat dengan jelas. Mata yang sama saat melihatku bugil kembali terlihat.

“Kamu memang pelacur yang tokcer…hehehe” sahut Pak Herman dengan tertawa terkekeh-kekeh dan tatapan penuh napsu.

“Wuih gurih banget tetek Non Lusi, sekarang Bapak cium yah…mmmm!” Pak Salik melepaskan kenyotannya pada payudaraku dan lalu mendekatkan mukanya ke mukaku hingga…Slupsss…..hhhmm……..ssssllllll…bibir kami berdua beradu. Dengan ganas sopir itu melumat bibirku yang mungil, beberapa kali aku harus menelan air ludahnya,



Saat sedang melayani Pak Salik bercumbu, tiba-tiba aku merasakan panas dan geli melanda kemaluanku. Aku tidak bisa melihat ke bawah karena terhalang wajah Pak Salik, tapi aku tahu pasti Pak Herman sedang asyik melahap vaginaku. Lidahnya yang mengais-ngais vaginaku itu sungguh membuatku semakin menggelinjang, bukan itu saja, tangan itu juga mengelus-elus paha dan pantatku. Tidak ada lagi bagian tubuhku yang terlewatkan oleh mereka. Belaian, jilatan, hisapan dan ciuman semua kuterima dengan pasrah, libidoku menggelegak tanpa dapat tertahankan lagi. Beberapa menit kemudian Pak Salik melepaskan lumatannya pada bibirku, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil udara segar.

“Non bener-bener bikin gak tahan, sekarang Non puasin saya yah!” katanya dekat telingaku sehingga hembusan napasnya terasa menggelitik daun telingaku.

Pria berkumis itu berlutut di sebelahku, ia membuka celananya sendiri dan mengeluarkan penisnya yang telah ereksi dari baliknya. Penis itu ia dekatkan pada wajahku, bau sedikit pesing langsung tertangkap oleh indera penciumanku sehingga aku mengernyit menahan jijik. Pria itu menggenggamkan tanganku pada batang penisnya, sungguh keras dan berurat sekali dengan kepalanya yang bersunat berwarna kemerahan itu. Aku sungguh enggan bila harus menggoral benda itu, aku menoleh ke sebelahk. Aku terhenyak saat melihat Helen yang sudah telanjang bulat tanpa memakai apa-apa lagi. Ia pasti membuka bajunya sendiri ketika aku sedang berciuman dengan Pak Salik tadi. Tubuhnya masih mulus dan langsing, tidak berubah sejak kami kuliah bersama dulu, bulu kemaluannya tumbuh dengan lebat membentuk segitiga hitam yang menyelubungi kemaluannya. Rambut hitam panjangnya diikat ke belakang sehingga lehernya yang jenjang itu terlihat. Ia tersenyum dan mengangguk padaku sambil membelai rambutku.

“Iyah Lus…emut kontol itu, santai pakai perasaan!” katanya dengan lembut.

Entah mengapa aku merasa sedikit tenang oleh perlakuannya yang lembut, aku seolah rela diperintah olehnya. Perlahan aku pun mendekatkan wajahku pada penis itu, kukeluarkan lidahku menjilati kepala penis itu walau masih agak ragu.



Oouuuhh…aku melenguh saat lidah Pak Herman menyapu vaginaku yang sangat basah itu menyentuh dan menjilati klitorisku. Sensasi itu seakan menambah semangatku untuk tidak ragu lagi mengoral penis Pak Salik yang sedang menunggu untuk itu. Aku pun memasukkan penis itu ke mulutku dan mulai mengulumnya. Pria itu melenguh nikmat merasakan sapuan lidahku pada kepala penisnya. Sementara itu Helen terus merangsangku dengan mengulum dan meremas payudaraku secara bergantian

“MMhh…sssllrrppp….ssluurrpp….nyam!” bukan hanya menghisapi vaginaku, sekali-kali Pak Herman juga memainkan jari telunjuknya untuk mengobok wilayah intimku

“Memek mu bener-bener seret Lus….hhhmmm…. wanginya menggoda banget” sahut Pak Herman di sela-sela menjilat vaginaku

Tak lama kemudian, aku merasa ada sesuatu benda tumpul mencoba menerobos lobang kenikmatan ku…

“Aaaakkhhh!” aku kembali menjerit, kulumanku pada penis Pak Salik kulepaskan sejenak untuk menjalani proses penetrasi pada vaginaku

Perlahan benda itu terus menerobos masuk ke vaginaku.

“Ga…bukan ini! Punya bandot ini gak sebesar ini deh”, kataku dalam hati, karena penasaran, kucoba untuk mencoba mencari celah untuk melihat ke bawah karena kepala Helen agak menghalangi pandangaku. Kulihat ke bawah sana dan ternyata yang mengobok vaginaku bukanlah penis Pak Herman melainkan penis mainan yang berukuran besar.

“OooHHkk….sakit…jangan pake itu Pak!!” aku merintih saat dildo itu masuk semuanya, menyentuh dinding rahimku, dengan cepat pak Herman memainkan dildo tersebut,

“Plok….plopss….pplloookk….uuhhkk…. Pak…Hhhmmhh!” rintihan demi rintihan terus terlontar dari mulutku

“Nikmat kan sayang…. jawab…. nikmat ga?” tanyanya dengan suara keras,

“oohhkk…Pak…..eeee…hhhmm…..enak…Pak…..uuhhkk….eeemmm” jawaban itu terlontar begitu saja dari mulutku lalu tersumbat karena Pak Salik kembali menjejali mulutku dengan penisnya.



Sekali-kali aku menggoyangkan pinggulku, aku merintih layaknya seorang pelacur.

Vaginaku terasa makin berdenyut-denyut seiring dengan getaran dildo itu. Tak lama kemudian tubuhku bergetar sangat hebat, otot-otot vaginaku semakin menjepit dildo tersebut

“Ppaakkk… ooooooohkkk…Serrrr…ssssseeeerrrrrrrr!” cairan cintaku mengalir dengan derasnya membasahi selangkanganku.

Pak Herman menatap wajahku penuh dengan kepuasan, ia lalu menarik lepas dildo itu dari vaginaku. Nampak cairan orgasemeku menjuntai seperti benang ketika benda itu ditarik lepas dari vaginaku. Pria gemuk itu menjilat juntaian cairan kewanitaanku dan beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak membuatku semakin jijik melihat mukanya

“Udah puas ngecretnya?“ lagi-lagi kata yang menjijikan itu keluar dari mulutnya, mukaku memerah karena malu terhadap diriku sendiri, aku harus menikmati orgasme dan perkosaan dengan orang yang kubenci, sungguh ironis.

“Pak, udah Pak…..saya mohon….uuuhhkk…” napas ku terengah-engah setelah menarik kepalaku dari pegangan Pak Salik dan melepas penisnya dari mulutku, namun tanpa henti-hentinya, mereka terus mengerjaiku,

Helen berdiri dan menaiki wajahku, terlihat jelas vaginanya yang merah merekah di tengah kerimbunan bulu-bulu kemaluannya, perlahan-lahan digesekannya ke wajahku

“Ayo say, dijilatin ya, enak kok” katanya dengan nafas yang memburu, sedangkan tangannya aktif membelai-belai payudaranya sendiri

Awalnya aku agak ragu tapi akhirnya aku memberanikan diri untuk menjulurkan lidahku meyapu bibir vagina temanku itu.

“Sslluupsss…sslluuppss…hhhmm!” aku mulai menjilati vagina Helen dan menikmatinya, vaginanya begitu terawat dan sedikit wangi, sepertinya ia baru mencucinya sebelum ke rumahku.

“ooohhkk… Lush hmmm…. terus…oohhkk….lidahmu enak Lus….uuuhhkk…..” sekali-kali pantatnya terangkat

Pak Salik menggengamkan tanganku pada penisnya dan langsung kukocok tanpa diperintah lagi. Ia mendekap tubuh Helen dan melumat payudaranya dengan rakus. Helen memeluk kepala pria itu seakan memintanya terus mengenyoti payudaranya dan tidak ingin melepaskannya



Sementara di antara kedua belah pahaku sana, Pak Herman sekarang sudah bugil dan bersiap menyetubuhiku, kini penisnya tepat menempel di bibir vagina ku dan siap untuk masuk ke sarangnya. Sekali lagi aku meringis kesakitan saat kepala penis itu masuk ke vaginaku

“Bener-bener memek yang hebat Lus…padahal tadi udah dibobol pake dildo super tapi tetep saja seret kaya memek perawan..hak…hak…hak (ups…sory Sis Diny, belum minta lisensinya ya)” katanya sambil mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur.

“Ohkk… Pak pe…pe..lan….pelan!” rintihku saat penis itu memaksa masuk ke vaginaku yang terasa nyeri, tapi Pak Herman tidak mendengar kata-kataku, malahan semakin brutal menyetubuhiku.

“Hhhhmm….uuuhh, Lus, memekmu luar biasa sayang…oooh….aahhkk…..bener-bener kaya perawan aja, aku pasti betah di rumah kalau kamu jadi istri mudaku

Tiba-tiba…crett…cret…srrr…cairan orgasme Helen yang bening dan hangat mengucur ke wajahku diiringi erangannya. Saat itu Pak Salik yang sedang asyik melumat payudaranya langsung berpindah melumat bibirnya yang indah. Helen menikmati orgasmenya sambil berpelukan dan berciuman panas dengan sopir itu. Ia juga makin menempelkan vaginanya ke wajahku. Aku tahu apa yang harus kulakukan, maka kujilati vagina Helen yang berleleran cairan kewanitaannya itu hingga menimbulkan bunyi menyeruput. Sekitar tiga menitan baru Helen bangkit berdiri dan Pak Salik menggantikanku menjilati sisa-sisa cairan orgasmenya. Maka kini aku fokus melayani Pak Herman yang tengah asyik menyodok-nyodok vaginaku.

“Lus…uuhh…uhh!” ceracaunya saat otot-otot vaginaku makin berdenyut menjepit kontolnya.

“Pak….oohhkk….udah….dong Pak…hhhmmm!!” dengan tangan terikat, aku hanya bisa berteriak histeeris saat penis Pak Herman menusuk lebih dalam ke vaginaku, dengan sangat kasar pak Herman terus mengenjot vaginaku yang semakin basah oleh lendir vaginaku

“Len tolong kamu…..hhhmm… lepasin ikatan Lusi!” perintahnya pada temanku

Helen hanya mengangguk, dengan cekatan ia melepaskan ikatan di tanganku sehingga aku merasa sedikit lega karena terbebas, pergelangan tanganku masih agak sakit karena bekas ikatan itu menarikku setiap kali aku meronta dan menggeliat. Tetapi ternyata aku salah, Pak Herman bukan menyuruh Helen untuk membebaskanku, ia hanya menyuruhnya untuk mengikat tanganku ke belakang supaya dia bisa berganti gaya.



“Nah sekarang kamu dudukin ni kontol Bapak!” suruhnya sambil mengambil posisi tiduran

Aku dibantu oleh Helen dan Pak Salik untuk menduduki penis Pak Herman. Kuturunkan tubuhku perlahan-lahan sambil membuka bibir vaginaku. Setelah penis itu masuk sebagian, dengan sekali sentakan Pak Herman memasukkan semua batang kemaluannya hingga terbenam ke lubang surgaku, tubuhku pun menggeliat dan menjerit karenanya.

“OOkk…….nikmaat sekali Lus….hhhmmm!” perlahan-lahan aku menaik turunkan tubuhku, “ooHHkk…..hhhhkkkk…. uuuuhhh yyeeaa…terus Lus!”

Sekali-kali aku maju mundurkan pantaku, dengan semangat 45 Pak Herman terus menggenjot vaginaku tanpa ampun, sangat terasa kalau vaginaku semakin basah oleh cairan cintaku karena setiap alat kelamin kami bertumbukan terdengar bunyi kecipak yang nyaring. Saat itu Helen sedang mereguk kenikmatan bersama Pak Salik. Pria itu menindih tubuh mulusnya dan menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Helen. Kedua tangan Helen melingkari tubuh Pak Salik, sepasang pahanya juga mengapit erat pinggul sopir itu. Ia nampak sangat menikmati sekali persetubuhan itu, suara desahan-desahan liar keluar dari bibirnya yang basah menggairahkan. Sungguh tak kusangka, Helen, temanku yang dulu di kampus terkenal sebagai gadis baik-baik ini dapat berubah sedemikian liar bak pelacur kelas atas. Perusahaan ini benar-benar gila, semua tidak lepas dari seks, sungguh tidak habis pikir aku dibuatnya.

“Pak….aku…oohhkk!” belum sempat aku berkata, Pak Herman menarik pundakku sehingga tubuhku menindih tubuhnya yang gendut, “ayo sayang terus digoyang!” suruhnya dengan nada yang sedikit bergetar bertanda bahwa dia sudah hampir klimaks.

“Aku harus cepat menyelesaikan permainan ini” gumamku dalam hati karena aku takut pembantuku pulang dan melihat aku yang lagi disetubuhi Pak Herman, maka aku pun semakin cepat menggoyang pantatku, makin cepat dan makin cepat. Sesekali aku berciuman dengan atasanku yang bejat ini, lidah kami saling beradu hingga erangan kami agak tersendat. Tangan pria itu membelai punggungku yang basah berkeringat dan tangan satunya meremasi pantatku. Aku dapat merasakan putingku menggesek dadanya yang sedikit berbulu itu. Erangan kenikmatan sahut-menyahut memenuhi kamarku ini dari dua pasangan yang sedang bercinta di dalamnya. Aku menoleh ke arah Helen yang saat itu sedang memandangiku sehingga pandangan kami saling bertemu. Ia tersenyum nakal sambil sesekali mendesah di tengah genjotan Pak Salik.



Setelah lima belas menit disenggamai, aku merasa akan segera orgasme, vaginaku semakin erat meremasi pernis pria itu dan seperti ada gelombang dahsyat yang menerpa tubuhku hingga akhirnya….

“Ooohhhhhkkkssss!! aku orgasme berbarengan dengan Pak Herman

Ia menekan penisnya dalam-dalam dan menyemprotkan isinya di dalam rahimku. Cairan kental dan hangat itu terasa sekali mengisi vaginaku. Tubuhku luluh lantak menerima perkosaan yang brutal barusan. Pak Herman menarik lepas penisnya dari vaginaku. Aku mengira semua ini sudah selesai, tapi ternyata belum, ia kini membalikkan tubuhku.

“aahh…aahh…..uuuu…. cu…cukup Pak… saya capek” aku memelas padanya

“Belom sayang, bentar lagi ya!” katanya sambil mengelus rambutku, “nah, sekarang kamu nungging ya”

Tubuhku terasa semakin lemas saat mendengar perkataan Pak Herman. Dengan sedikit kasar ia membalikkan tubuhku dan memposisikannya nungging. Perlahan tangan kasarnya mulai mengelus belahan pantat ku dan berhenti di lubang kenikmatanku, sekali-kali dia tusuk dengan sangat lembut,

“oohhkk… pak…hhmm!!” rintihku saat jari itu menembus vaginaku

“Memek kamu bener-bener enak Lus“ katanya sambil mendekatkan mukanya ke pantatku, “hhmm….pantatnya juga montok banget, Bapak suka banget Lus….”

Dengan lembut lidah pak Herman menyapu lubang anusku, slups…slupss…kocokan jarinya di vaginaku semakin menjadi-jadi.

“Pak, jangan pak….hhhmm….”

“Jangan kenapa Lus” katanya masih dengan mempermainkan anus dan vaginaku

“janggan…ooohhkk…cukup Pak, geli banget,“

“apanya yang geli Lus?” kocokannya makin cepat sehingga aku semakin menggeliat tak terkendali

“Bagaimana kalau kita pake ini lagi” katanya sambil menancapkan dildonya,

“Aaaakkhhh!” aku sedikit menjerit saat dildo itu kembali membelah vaginaku,



“Pak…hhhmm…. jangan disitu Pak!” aku kembali terpekik saat jari tengahnya menerobos anusku yang masih virgin,

Terlihat senyum mesum Pak Herman yang semakin mengembang, ia semakin bernafsu mempermainkan kedua lubangku. Sementara aku sendiri juga sudah tak mampu lagi menutupi diriku yang semakin terangsang. Semakin lama semakin cepat kocokannya di anus dan vaginaku. Perlahan aku mangangkat wajah dan melihat ke sebelah, kali ini Helen sedang naik turun di pangkuan Pak Salik yang duduk bersandar pada kepala ranjangku. Sangat kontras sekali tubuh mereka yang sedang berpelukan erat dan menyatu itu, Helen begitu langsing dan putih, kulitnya pun kencang dan halus, sedangkan Pak Salik kurus, dekil dan kulitnya mulai berkerut termakan usia. Mereka bersetubuh dalam tempo lambat dengan disertai sesekali beradu lidah, pantas suaranya tidak terlalu ribut seperti aku dan Pak Herman.

“ohhkk…. Pak!” lagi-lagi mataku membeliak dan kepalaku terangkat saat kedua lubangku dikerjai dengan bersamaan

“Lubang belakangmu bener-bener mantep sayang, Bapak jadi kepingin menikmatinya, boleh kan?“ tanyanya yang tanpa menunggu jawaban dariku langsung mempersiapkan penisnya di depan lubang anusku.

“Tidak Pak, jangan…saya belum pernah” mohonku dengan suara yang sedikit bergetar, tapi ia tidak peduli dan dibukanya lebar-lebar belahan pantatku

“Makanya dibikin pernah biar terbiasa, kamu sudah siap kan sayang?“ perlahan kepala penis itu ditekannya hingga melesak masuk ke anusku,

“Sudah Pak, cukup…oohhkk… perih!!“ aku merintih sampai air mataku keluar.

Perlahan anusku mulai terbelah sebesar kepala penis Pak Herman,

“Sakit pak…ampun…cukup jangan di situ lagi Pak” isak tangisku kembali meledak saat penis itu terus merangsek masuk hingga akhirnya amblas ke lubang anusku

Dengan sekuat tenaga Pak Herman mendorong penisnya lebih dalam lagi sampai mentok hingga aku pun tak sanggup untuk tidak menjerit



“Gila…hhhmmm…..ssss…seret banget Lus, dua-duanya bener-bener nikmat Lus” katanya sambil meremas pantatnya, ia mendiamkan dulu penisnya menancap pada anusku untuk meresapi jepitannya sekaligus beradaptasi.

Rasanya bener-bener sangat sakit, aku tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi padaku. “Tidak, ini pasti cuman mimpi, bangunkan aku Tuhan dari mimpi ini!” doaku dalam hati.

Semenit kemudian, Pak Herman mulai menggerakkan pinggulnya menyodomiku. Terkadang ia memukul pantatku hingga bongkahan pantatku perih. Mula-mula genjotan itu dilakukannya dengan tempo pelan sehingga aku dapat beradaptasi. Gesekan-gesekannya memberi rasa nyeri namun juga tak dapat kusangkal akupun mulai keenakan karenanya.

“Pak….uuuhhkkk….sakit Pak, jangan terlalu keras!” teriakanku semakin kencang saat penis itu menyodok anusku dengan sangat kuat,

“Tenang Lus kamu nikmatin aja ya!“ katanya sambil terus menyodok anusku yang semakin lama semakin nikmat.

Sementara di sebelah, Helen semakin menceracau, gerak naik-turunnya pun semakin liar dan menimbulkan bunyi bertepukan dari kontak alat kelamin mereka. Pak Salik pun aktif menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas sambil mulutnya menghisapi payudara Helen.

Akhirnya Helen mencapai orgasme terlebih dulu, tubuhnya melenting ke belakang sehingga payudaranya makin membusung ke depan. Selama beberapa saat tubuhnya yang telah berkeringat berkelejotan dalam dekapan si sopir itu sebelum akhirnya melemas. Pak Salik membaringkan tubuh Helen yang terkulai lemas pasca orgasme. Kemudian perhatiannya langsung tertuju padaku. Deg…jantungku berdebar-debar ketika pria itu mendekatiku sambil memegang penisnya yang masih tegang.

“Diemut Non, dibersihin juga!” perintahnya sambil menjenggut rambutku dan menempelkan kepala penisnya pada bibirku.

Aku tidak punya pilihan lain dan terpaksa membuka mulutku lalu mulai mengulum penis yang masih basah oleh cairan kewanitaan temanku. Aku menjilati batangan itu dan mulai memaju-mundurkan kepalaku mengoralnya dengan harapan pria itu cepat orgasme. Aku kini melayani dua pria, atasanku, Pak Herman, menggarap anusku dari belakang, tangannya tidak pernah diam, selalu menggerayangi lekuk-lekuk tubuhku terutama payudaraku yang paling sering diremasnya, sementara di depan aku harus melayani sopirnya, Pak Salik, yang penisnya sedang kukulum dan kuhisapi.



Pak Salik bergetar menahan nikmat saat lubang kencingnya kusapu dengan lidahku. Aku tahu ia akan segera orgasme karena sudah cukup lama menggarap Helen tadi sehingga aku pun mempergencar serangan mulutku. Akhirnya Pak Salik pun orgasme di mulutku, ia melenguh panjang dan menyiramkan spermanya di dalam mulutku, kepalaku dipeganginya sambil meremas-remas rambutku. Cairan seperti susu kental itu banyak sekali dan baunya sungguh menusuk, aku tidak sanggup menelan semuanya sehingga banyak yang meleleh di pinggir bibirku. Ia akhirnya mencabut penisnya dan ambruk di sebelahku. Sekarang tinggal Pak Herman, aku juga menggoyangkan pinggulku turut berpacu dengannya. Sesuai harapanku, yang ditunggu-tunggu tiba juga, penis Pak Herman dalam anusku bergetar hebat dan siap menumpah kan laharnya.

“Oohhhkkk….. nikmat sekali…anus mu Lus, uuuhhh!!” erangnya melepas orgasme, spermanya menyembur membasahi anusku.

Tubuhnya langsung roboh di sampingku. Empat tubuh telanjang bergelimpangan di ranjangku, nafas yang menderu-deru terdengar jelas di kamar ini. Aku memejamkan mataku cukup lama sambil mengatur nafas dan beristirahat. Tubuhku terasa remuk dan hancur berkeping-keping, anusku juga sangat perih sekali, begitu juga dengan vaginaku.

Aku terbangun ketika merasakan pantatku diangkat, mataku membuka dan melihat Pak Salik telah mengambil posisi di antara pahaku. Tanpa basa-basi ia menempelkan kepala penisnya ke vaginaku dan menekannya hingga masuk.

“oohhkk” aku merintih saat vaginaku kembali dimasuki penis

“Sekarang sama saya Non, kan saya belum rasain memek Non!” katanya

Aku melihat Pak Herman yang tersenyum puas padaku,

“Nah Lus, mulai sekarang kamu sudah menjadi asset perusahaan seutuhnya, minggu depan ada arisan perusahaan di villa saya, kamu wajib datang!” katanya.

“Iyah Lus…bakal banyak yang lebih seru di sana, kamu bintang baru, jadi semua orang sangat berharap kamu datang” timpal Helen tersenyum padaku.

Aku tidak sanggup berkata apapun lagi karena sudah terlalu lelah, sementara Pak Salik semakin ganas menggenjotku. Pandanganku semakin kabur…makin kabur dan akhirnya gelap sama sekali.



####

Aku menggerakkan jariku, mataku membuka perlahan. Kudapati diriku tengah terbaring tanpa busana di ranjangku sendirian, ini bukan mimpi, vagina dan anusku masih terasa nyeri walau agak mendingan, aroma sperma pun masih terasa di mulutku. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, sepertinya cukup lama karena langit sudah gelap dan jam di bufet sebelah ranjang menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Aku juga tidak lagi melihat Pak Herman, sopirnya dan Helen, mungkin mereka sudah pulang saat aku tertidur tadi.

‘Ting tong…. Ting tong!’ bel rumahku berbunyi tanda ada yang datang.

“Siapa sih?” gumamku dalam hati, setelah mengenakan pakaian, dengan tertatih-tatih aku melangkah membukakan pintu

“Ke mana sih si mbok? udah tau ada tamu bukanya dibukain”

Saat pintu itu terbuka aku melihat seseorang yang kucintai namun telah kukhianati, suami ku! Betapa aku merindukan kehadirannya sehingga aku langsung memeluknya begitu ia muncul di ambang pintu.

“Tumben cepet pulang Ko” sapaku

Hari ini suamiku terlihat sangat lemas, tampaknya dia sangat lelah atau mungkin ada masalah di kantornya. Aku duduk di sebelahnya,

“Aku ambilin minum ya Ko“ tawarku sambil tersenyum dan bangkit hendak mengambilkan teh hangat, namun belum sempat aku berdiri tiba-tiba tanganku dicengkram dengan kuat sehingga terasa sakit, akhirnya kuurungkan niat untuk mengambil minum dan kembali duduk,

“Ada masalah apa Ko?” aku sedikit gugup menatap wajahnya yang kusut

“Lus…aku…aku…” suaranya terputus-putus “hhhmm….aku diberhentikan dari kantor.”

“Diberhentikan gimana Ko…emang apa yang sebenernya terjadi?” aku mencoba menghibur suamiku, namun dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kembali

“Pak Herman, hhhmmm…beliau tidak puas dengan kinerjaku, katanya pekerjaanku tidak becus”

Betapa shocknya aku setelah mengetahui bahwa perusahaan tempat suamiku bekerja ternyata merupakan salah satu anak perusahaan Pak Herman, entah apa maunya pria tak bermoral itu dengan sembarangan mem-PHK suamiku, tentu ada yang dia inginkan dariku. Apa lagi yang akan terjadi pada diriku setelah ini, Lust Inc. kian menjerumuskanku hingga seperti ini.



BERSAMBUNG…



Apa yang akan terjadi dengan kehidupan Lusi?

Apa maksud kata-kata Pak Herman dengan asset perusahaan?

Pengen tau kelanjutannya?

Tunggu di cerita Lusi yang akan datang, mohon kritik dan sarannya agar next time better.



By: Lusi Genit




© Karya Lusi Genit