Showing posts with label Pesta Seks. Show all posts
Showing posts with label Pesta Seks. Show all posts

Aku berkenalan dengan Yuni sekitar 2 bulan. Waktu awal kenalan,aku tidak pernah mampir kerumahnya. Kami hanya bertemu diluar saja dan ngobrol-ngobrol saja. Tapi lantaran perasaan kami yang semakin akrab,maka suatu kali aku mampir juga kerumahnya, sekaligus berkenalan dengan keluarganya. Yuni punya seorang ibu tiri yang umurnya sekitar 38 tahun dan dua orang kakak perempuan,yang tertua namanya Linda, umurnya 28 tahun dan yang nomor dua namanya Shinta umurnya 26 tahun. Walaupun ibunya ibu tiri,tapi sangat baik. Mereka tinggal 3 orang satu rumah. Sedang kakaknya yang pertama sudah menikah,belum punya anak dan tinggal ditempat lain. Hubungan mereka sekeluarga sangat akrab.

Waktu kedatanganku yang pertama aku cuma duduk diruang tamu.Kedatanganku yang selanjutnya aku sudah biasa aja dirumahnya. Aku sudah bisa masuk keruangan yang lainnya. Suatu kali aku masuk kekamar Yuni,didalam kami ngobrol-ngobrol aja. Jarak antara kami makin dekat. Kupegang tangannya,kemudian perlahan-lahan kudekatkan wajahku kepadanya.Kami saling berciuman.Kulumat bibirnya yang berwarna kemerah-merahan dan Yuni membalas ciumanku. Cukup lama kami berciuman dan aku tidak berani menyentuh bagian yang lain. Sehabis itu kami main Play Stasion.

Minggu berikutnya aku main lagi ke rumah Yuni. Waktu itu kakaknya yang no.2 yaitu Shinta ada dirumah.Dia tidak masuk kerja.Setelah basa basi dengan kakaknya aku masuk kekamar Yuni.Didalam seperti biasa setelah kami ngobrol-ngobrol sedikit aku mendekati Yuni. Kami kembali berciuman,aku meremas tangannya,kemudian ciumanku menyusuri lehernya yang putih bersih.Nafas Yuni terdengar agak terengah-engah.Aku meneruskan ciumanku dengan meremas dadanya yang indah.kemudian satu persatu kancing bajunya kutanggalkan,sampai dia hanya pakai BH saja. BH nya yang berukuran 36B itupun kutanggalkan.
Payudaranya yang sekal dan indah itu pun habis kuciumi.Sementara tanganku meremas-remas dengan lembut payudaranya itu.Kemudian puting payudaranya yang berwarna agak kecoklatan kuhisap dan kujilati.Yuni makin menderu nafasnya.Aku terus asyik menghisap payudaranya yang sekal itu.Tapi secara tiba-tiba aku melirik ke pintu yang sedikit terbuka,disitu kulihat shinta berdiri termangu.Aku segera menghentikan gerakanku.

Shinta kemudian masuk kekamar Yuni.Tapi Yuni cuek saja melihat kakaknya masuk kedalam kamarnya.Dia tidak berusaha menutupi tubuhnya.Malah membiarkan saja tubuhnya dalam keadaan terbuka.Aku tentu saja merasa grogi.Aku takut Shinta marah kemudian melarangku main kerumahnya lagi.Tapi Shinta tidak marah malah tersenyum melihat aku yang salah tingkah.Kemudian Shinta bicara:
“Kamu mau kubuatkan teh Andrie?”
“Ya mbak,boleh ….eh..terima kasih…”jawabku agak gugup.

Dalam hati aku merasa senang karena Shinta tidak marah padaku.Kemudian aku keluar dari kamar dan Yuni memakai bajunya tanpa mengenakan BH lagi.Masih kelihatan payudaranya yang montok itu dibungkus baju kaos yang tipis.Aku diruang tamu ngobrol-ngobrol saja bersama Yuni dan kakaknya.Shinta sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi,dan bicara hal-hal lain.

Minggu berikutnya aku kembali datang kerumah Yuni.Setelah ngobrol-ngobrol dengan kakaknya Shinta,aku kembali masuk kekamar Yuni.Didalam kami kembali berciuman.Aku mencium bibir Yuni yang harum.Yuni membalas ciumanku.Berbeda waktu kemarinnya,kali ini Yuni agak agresif.Dia mencium bibirku dengan ganasnya. Aku juga semakin berani membuka pakaian Yuni,sehingga dia hanya memakai celana dalam saja.Aku segera menyapu lehernya yang jenjang dan putih bersih.Yuni terlihat menggelinjang membuat aku semakin bersemangat.Nafasnya mulai terengah-engah.Ciumanku terus kearah dadanya yang montok.Aku menghisap puting payudaranya.Sungguh sangat enak rasanya.Aku menghisap puting payudaranya bergantian.Yuni makin terengah-engah.

Lalu aku membuka celana dalamnya,sehingga sekarang dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Aku menjilati pahanya yang putih mulus.Jilatanku terus naik kearah vagina Yuni yang memancarkan hawa harum dan wangi.Aku menjilat klitorisnya yang sebelumnya aku menyibakkan bulunya yang belum begitu lebat.Lama aku menghisap klitorisnya.Sampai aku merasakan cairan yang khas,mungkin dia sudah semakin teransang.
Yuni lalu mendorongku,sehingga aku berada dalam posisi telentang. Dia langsung mengarahkan bibirnya yang mungil ke penisku.Wahhh…enak sekali … Yuni mengulum dan menghisap penisku .Aku semakin terengah-engah.Yuni pun semakin semangat mendengar desahan nafasku. Lalu aku mendorong Yuni dengan lembut agar dia segera telentang.Yuni pun mengerti dengan keinginanku. Penisku kuarahkan kearah vagina Yuni dan memasukkannya dengan perlahan-lahan.Yuni menjerit tertahan begitu penisku masuk semua kedalam vaginanya.Aku mengangkat pantatku perlahan-lahan,dan memasukkannya.Begitu seterusnya aku lakukan,memaju-mundurkan pantatku.Yunipun kelihatan sangat menikmatinya.

Lalu aku mengangkat kaki kiri Yuni dan tetap aku menggoyang pantatnya yang montok.Sampai akhirnya dia menjerit dengan suara yang agak keras.Dan akupun merasakan cairan hangat yang membasahi penisku didalam vaginanya.Rupanya Yuni sudah keluar.Sementara aku nampaknya masih lama untuk mencapai puncak orgasmeku. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang sudah aku kenal.
“Wah..kamu kuat juga ya Andrie…”
Rupanya itu suaranya Shinta kakak Yuni.Rupanya dia sudah dari tadi berdiri dibelakangku memperhatikan apa yang kuperbuat bersama dengan adiknya.Aku sangat kaget sekali,dan mencabut penisku yang masih tegang dari vagina Yuni.Kupikir tadi Yuni sudah mengunci pintu kamar.
Shinta segera menghampiri kami berdua.Kulihat Yuni cuek saja dan masih menikmati puncak orgasmenya.
Shinta duduk disamping kami dan memperhatikan punyaku yang masih tegang.Sementara aku sendiri masih jauh dari puncak orgasmeku.Melihat situasinya seperti itu aku jadi memberanikan diriku meraih tangan Shinta.Kutarik lembut tangannya dan aku segera melumat bibirnya yang lembut.Sementara tanganku langsung meremas-remas payudaranya.Sekilas aku melirik Yuni dan kulihat dia tersenyum melihat yang kuperbuat dengan kakaknya.Dia bilang,
“Nah…sekarang giliran saya yang nonton kakak ya…?”
Shinta hanya menjawab dengan tersenyum saja.Nampaknya Yuni ingin aku berbuat yang sama dengan kakaknya.

Tanganku terus saja meremas-remas payudaranya dari luar.Aku segera melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuhnya,sampai dia tidak mengenakan pakaian selembar benangpun alias bugil,seperti Yuni. Aku terus melumat bibirnya. Shinta pun tidak kalah membalas ciumanku.Ciumanku terus turun kelehernya yang putih bersih.Shinta mengelinjang membuat aku semakin bersemangat saja.Aku terus menciumi payudaranya yang montok,mungkin ukurannya ada sekitar 36,aku tidak tahu persis tapi sama dengan ukurannya si Yuni.
Aku menghisap puting payudaranya dengan lahap.Aku kembali melirik Yuni dan melihat dia tersenyum manis padaku.Aku jadi semakin bersemangat saja.Sementara Shinta terus saja menggelinjang keenakan.Aku terus saja menghisap puting payudara Shinta.Sementara tangan kiriku meraba-raba selangkangan Shinta.Aku merasakan bulu-bulu vaginanya yang lembut.Ciumanku terus kuturunkan kedaerah vaginanya.Aku menjilati klitoris Shinta dan Shinta terus saja menggelinjang.Aku merasakan cairan yang khas dari vaginanya,tapi aku yakin dia belum orgasme.

Aku lalu mendekatkan penisku kedalam mulut Shinta dan diapun melumat penisku dan menghisapnya.Sungguh sangat enak sekali.Lama Shinta menghisap penisku yang sudah sangat tegang sekali.Aku hampir tidak tahan lagi. Aku menyuruh Shinta supaya menungging.Aku lalu mengatur posisiku di belakang Shinta.Perlahan-lahan aku memasukkan penisku kedalam vaginanya.Tapi sebelum aku memasukkan penisku,Yuni bergerak mendekatiku dan tangannya menggenggam penisku.
“Biar kumasukin Ndrie…,”katanya.

Tapi sebelum itu dia masih sempat-sempatnya menghisap penisku.Setelah itu dia mengarahkan penisku ke kemaluan kakaknya.Dia tersenyum padaku.Shinta juga tersenyum padaku.Aku semakin tidak tahan dan segera memasukkan penisku ke vagina Shinta.shinta menjerit tertahan,
“Ahh…Andrie…punyamu enak sekhali…shayang…”
Aku semakin bersemangat menggoyangkan pantatku.Sementara Yuni duduk disampingku.Aku segera meraih tangan Yuni dan aku bilang,
“Yun, sini payudaramu aku hisap…”

Yuni segera menyodorkan payudaranya kemulutku.Jadi sementara aku menggoyang Shinta,mulutku menghisap payudaranya Yuni.Shinta semakin histeris menjerit-jerit keenakan kugoyang vaginanya dari belakang.Aku lalu menyuruh Yuni berdiri dan mengarahkan selangkangannya ke mulutku.Aku kembali menjilati klitoris Yuni.Yuni terdengar menjerit-jerit keenakan seperti kakaknya.
Tak lama tubuh Shinta menegang.Agaknya dia sudah mau keluar.Benar saja tak lama aku merasakan cairan hangat membasahi penisku yang masih menancap di vaginanya.Yuni juga masih menjerit-jerit.Aku lalu berdiri dan mengarahkan penisku yang masih tegang ke kemaluan Yuni yang berada dalam posisi berdiri dari depan.Aku mengangkat kaki Yuni dan meletakkan kakinya di pinggir tempat tidur.Aku memasukkan penisku kedalam vagina Yuni dari depan dan kugoyang-goyang,maju mundur.
Yuni kembali mendesah-desah,
“…Ahh…Andrie…kamu pintar juga juga pake gaya berdiri seperti dalam film …ahhh…akh..”mulutnya terus saja menceracau.

Aku terus saja menggoyangnya,sementara mulutku tidak berhenti menciumi payudaranya yang montok kiri kanan bergantian dan juga menghisapnya bergantian.Yuni semakin melayang-layang kenikmatan saja.Tak lama aku juga sudah ingin keluar.Tapi sebelum aku keluar,Yuni sudah keluar duluan dan badannya mendadak jadi lemas.Aku segera mencengkram pantatnya dan memeluk tubuhnya.”Akh…”akhirnya kau keluar juga dengan perasaan yang melayang-layang. Spermaku membasahi vagina Yuni.Aku tidak kuat lagi menahan tubuh Yuni dan membiarkan dia terduduk dan akhirnya penisku pun tercabut dari vaginanya.

Shinta yang dari tadi memperhatikan,kembali mendekatkan kepalanya ke penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Yuni pun tidak ketinggalan,juga menghisap penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Kedua kakak beradik tadi masih dengan lahap menghisap penisku bergantian.
Akhirnya kami bertiga terbaring lemas.Aku berada ditengah-tengah mereka.Tanganku masih saja bergantian meremas-remas payudara Yuni dan Shinta bergantian.Mereka juga masih menikmati remasan tanganku di payudaranya.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Lama kami terdiam.
Tiba-tiba kami dikejutkan teriakan suara panggilan.
“Shinta,Yuni kalian dimana? Ini mbak Linda datang nih…kok nggak ada yang menyahutin?”
Rupanya kakaknya yang tertua datang.Shinta lalu berdiri dan berkata pada Yuni,
“Yun,biar mbak saja yang menemuin mbak Linda,kayaknya dia sendirian saja kesini.Suaminya kayaknya nggak ikut tuh…”
Lalu tanpa pakaian sehelai benangpun Shinta berdiri dan jalan keluar kamar.Aku kaget dan bertanya pada Yuni,
“Yun,kalau ketahuan mbak Linda bagaimana nih…?”kataku agak cemas.

Tapi Yuni hanya tersenyum saja dan mengecup bibirku sebagai jawabannya. Sementara diluar kamar,mbak Linda sangat terkejut melihat adiknya Shinta menyambutnya tanpa busana sehelai benangpun.
“Shinta…kamu ngapain..?Kok nggak pake pakaian…?”tanya mbak Linda.
Tapi Shinta cuma tersenyum saja dan berkata,
“Nggak apa-apa kok mbak…Mbak nggak usah banyak tanya deh…” sambil tangannya menggandeng tangan kakaknya kekamar Yuni.
Sesampai dikamar Yuni,mbak Linda kelihatan terkejut melihatku dan Yuni juga tanpa pakaian.Shinta segera menjelaskan,
“Mbak,itu Andrie pacarnya Yuni…Mbak udah kenal kan?”kata Shinta.
Sementara aku masih agak cemas,takut kalau-kalau mbak Linda marah besar.Tapi rupanya Yuni mengerti perasaanku.Dia berkata pada Linda,

“Mbak ayo duduk disini,ngapain berdiri disitu.Apa mbak nggak pingin merasakan punya Andrie yang perkasa ini..?Bukankah Mbak dulu bilang kalau nggak pernah puas kalau main sama suami mbak…?”
Mulanya mbak Linda ragu-ragu.Tapi Shinta segera menarik tangan kakaknya dan mengajaknya duduk didekatku yang juga sama-sama bugil dengan adik-adiknya.Akhirnya mbak Linda duduk juga didekatku.Shinta berkata,
“Ayo Andrie…kita teruskan,nih kakaknya Yuni yang paling tua udah datang.Dia nggak pernah puas kalau main.Mungkin kamu ketemu lawan tangguh…,”kata Shinta bercanda.
Mbak Linda dan Yuni kulihat hanya tersenyum saja.
“Sekarang aku dan mbak Shinta cuma nonton aja,kamu main sama mbak Linda…habis kami capek sih…”kata Yuni dengan manjanya.

Akupun nggak jadi takut dan ikut tersenyum.Aku jadi berani dengan situasi seperti ini.Aku merasa seperti diberi lampu hijau. Aku langsung saja mengarahkan tanganku ke payudara Linda dan meremas-remas payudaranya dari luar pakaiannya.Linda hanya tersenyum saja aku perlakukan begitu.Aku segera melumat bibirnya dan Linda membalasnya juga dengan ganasnya. Nampaknya dia benar-benar membutuhkan seks.Aku semakin senang.

Aku segera melucuti pakaian yang dikenakan Linda,sampai dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun seperti adik-adiknya. Aku merasa kaget juga,karena payudaranya mbak Linda lebih besar dibandingkan payudara adik-adiknya. Terus terang aku sangat senang dengan ukuran payudaranya yang besar itu.Aku segera menciumi payudaranya bertubi-tubi dan bergantian,maklum nafsu seksku mulai bangkit lagi.Linda sudah mulai terengah-engah menghadapi seranganku.Aku kembali melumat bibir mbak Linda yang indah.Mbak Linda juga kembali membalas ciumanku dengan bernafsu.

Sementara itu aku juga melirik Shinta dan Yuni dan mereka cuma tersenyum menatapku sambil mengelus-elus vaginanya masing-masing. Ciuamanku kembali kuarahkan keleher Linda yang putih bersih.Dan terus kuturunkan ke payudaranya yang montok. payudaranya kuciumi bergantian dan puting payudaranya kuhisap dengan lahap.Lama aku menghisap payudaranya.Linda berkata,
“akh…Andrie…terus hisap…sayhang..enakh..sekali.terus sayang…kamu sekarang jadi bayi…ya….terus hisap payudara Mbak…sayang…?”katanya menceracau.
Aku nggak peduli dengan rintihan dan erangan mbak Linda.Malah aku semakin bersemangat saja.Ciumanku kuturunkan keperutnya yang putih dan ramping dan terus turun kepahanya yang mulus.Pahanya kujilatin sampai basah semua.Jilatanku kunaikkan ke sela-sela pahanya yaitu ke vaginanya.
“Akh…apa ini Andrie…ohhh..terus Andrie…”kata mbak Linda.
Kayaknya dia juga tidak peduli lagi dengan sekitarnya.

Aku menjilati vaginanya.Aku mencari klitorisnya dan menghisapnya.Mbak Linda menjerit tertahan dan menekan belakang kepalaku,sehingga aku semakin mencium bau wangi dari vaginanya.Aku terus menjilati klitorisnya itu,sampai akhirnya aku merasakan cairan yang keluar dari vagina mbak Linda.Tapi mbak Linda sendiri belum keluar.Sementara punyaku sendiri sudah semakin tegang.Aku segera merubah posisiku dan menyodorkan penisku kemulut mbak Linda.Mbak Linda membuka mulutnya dan melahap penisku dan menghisap penisku dengan sangat bernafsu.Aku menyadari nafsu seks mbak Linda sangat tinggi.Tapi aku yakin bisa memuaskannya.

Akhirnya kusuruh mbak Linda telentang.Diapun menurut untuk telentang dan membuka kakinya lebar-lebar.Akupun segera mengatur posisiku untuk mengarahkan penisku kedalam lubang kemaluannya.Tapi sebelum aku memasukkannya,Yuni dan shinta mendekat dan berkata,
“Andrie…sebentar dulu..”kata Shinta.
Tanpa menunggu jawabanku dia langsung memegang penisku dan memasukkan kedalam mulutnya lalu menghisapnya. Setelah itu giliran Yuni yang menghisap penisku.Aku melihat mbak Linda sudah nggak sabaran untuk merasakan penisku.Akhirnya setelah Yuni menghisap penisku,dia membimbing penisku dan mengarah kan ke lubang vagina kakaknya.Setelah posisinya pas,aku segera menekan pantatku perlahan-lahan.
Terdengar desahan dan jerita kecil keluar dari mulut mbak Linda.Rupanya lubang vagina mbak Linda masih sempit seperti punya adik-adiknya.Aku sangat senang sekali.Aku segera menaik-turunkan pantatku ke vagina mbak Linda.Jeritan dan desahan nafas mbak Linda makin keras.Aku tidak peduli dan terus saja menggenjot dan menaik turunkan pantatku.Sama seperti vagina adik-adiknya,vagina mbak Linda seperti meremas-remas penisku.

Aku sudah hampir keluar,tapi aku berusaha bertahan selama mungkin.Dan kuperhatikan mbak Linda hampir mencapai puncak orgasmenya.
“…akh…akh..akh..terus andrie..akh…aku sudah mau keluar nih…akh..,”katanya terus menceracau.
” Aahh aku juga mau keluar mbak…”kataku sambil meremas dan menghisap payudaranya.
Akhirnya aku merasakan cairan hangat membasahi penisku.
“Ahh…Andriee..mbak sudah keluar…”kata mbak Linda.Rupanya dia sudah keluar.Bersamaan dengan itu akupun merasa sudah nggak kuat lagi.
“Mbak…akhu…jugha..mau keluar…h..”kataku dengan suara agak parau.
Akhirnya spermaku tumpah membasahi vaginanya.Aku tertelungkup lemas diatas tubuh mbak LInda.Kulihat Shinta dan Yuni tersenyum menatapku.Aku lalu mencabut penisku dari lubang vagina mbak Linda dan tidur menelentang.

Shinta dan Yuni segera mendekatkan melutnya dan kembali menghisap penisku bergantian.Begitu juga dengan mbak Linda bangun untuk menghisap penisku bergantian.Akhirnya kami kembali rebahan.Mbak Linda disebelah kananku,Shinta disebelah kiriku,sementara Yuni dengan manjanya telungkup diatas tubuhku.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Sementara tanganku kembali bergerilya seperti tadi meraba seluruh tubuh kakak-adik itu dan meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang mereka juga bangun sebentar hanya untuk menghisap penisku.Kami sama-sama terbaring lemas.
Tak lama Shinta membuka pembicaraan,

“Wah…Andrie…kamu memang kuat bisa mengalahkan mbak Linda.penismu juga besar dan kuat lho Andrie.”
Aku hanya tersenyum saja dan meremas payudara Shinta dengan lembut dan memainkan puting payudaranya dengan ujung jariku.
“Baru kali ini aku merasa puas kalo main gini Ndrie..”kata mbak Linda.
Aku hanya tersenyum saja mendengar pujian mereka dan tanganku semakin nakal dengan memasukkan jariku kelubang vagina mbak Linda.
“Aww…Andrie…tanganmu nakal..aku lagi capek nih…”kata mbak Linda manja.
Aku lalu berkata,”Wah…Yuni,Shinta,mbak Linda,kayaknya kita harus berpakaian nih sebelum ibumu datang.”
Yuni segera menjawab,
“Nggak apa-apa kok Andrie.Kalau ibu datang dan melihat kita begini nggak bakalan marah kok…ya kan mbak?”kata Yuni sambil bertanya pada kakaknya.
Kedua kakaknya tersenyum saja dan Shinta berkata,
“Kalau kamu mau,kamu juga boleh main sama ibu Andrie…”
“Iya…ibu pasti senang sekali ya kan mbak Linda?”tanya Yuni sama mbak Linda.

Mbak Linda menganggukkan kepalanya.Sekarang aku sudah mulai tenang.Sekarang tenagaku sudah mulai pulih.Lama kami terdiam,tapi tanganku tetap tidak bisa diam dan selalu menggerayangi tubuh ketiganya.Tapi mungkin karena kecapean,mereka bertiga cuma diam saja ketika tanganku menggerayangi tubuhnya,walaupun jari tengahku mengorek-ngorek vaginanya.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar,
“Shinta,Yuni..kalian dimana?”
Rupanya ibunya sudah datang.
“Kami disini Bu…”sahut Yuni.
Lalu Yuni berkata padaku,
“Ayo Andrie…kamu boleh coba ibuku..katanya tersenyum.
Aku cuma mengangguk saja dan sekarang tenagaku sudah benar-benar pulih lagi.
Tak lama kemudian ibunya Yuni sampai di kamar dan terkejut,
“hai…kalian lagi ngapain?”katanya sambil menutup mulutnya.

Ibunya Yuni masih melotot tidak percaya menatapku.Setelah dekat tanganku langsung memeluk ibu Yuni dan
langsung meremas-remas payudaranya.Sementara itu dia masih setengah tidak percaya,tapi dia membiarkan tanganku meremas-remas payudaranya.Sambil berdiri aku menciumi bibirnya dan sekarang dia mulai membalas ciumanku.Aku tidak menduga ciuman ibunya ganas juga.Sementara tanganku masih terus meremas-remas payudaranya.Aku segera melucuti pakaiannya satu demi satu.Kulihat dia sekarang sudah bisa tersenyum dan berkata,
“Linda,Shinta,Yuni…kalian bear-benar nakalya…?tapi kalian baik juga mau mengajak ibu main sama Andrie.”
Linda,Shinta dan Yuni hanya tersenyum saja dan berkata,
“ya Bu..jangan malu-malu ya…ya…penis Andrie enak lho Bu…”
Setelah pakaian luarnya kulucuti,hingga hanya tinggal BH dan CD aja.Tanganku masih saja meremas-remas payudaranya.Nafas ibu Yuni mulai naik turun.Dia membiarkan saja apapun yang kulakukan pada tubuhnya dan menikmatinya.Aku mulai melepaskan BH nya dan aku kaget juga payudara dia masih kencang,putih dan montok dan besarnya hampir sama dengan payudara mbak Linda.Aku segera menyerbu payudaranya dengan ciuman-ciumanku.Aku menghisap puting payudaranya sambil berdiri.

Dia hanya merintih-rintih saja.Aku meremas-remas pantatnya yang montok,sementara mulutku tidak berhenti menghisap puting payudaranya kiri kanan.Setelah puas dibagian payudara,ciumanku kulanjutkan ke bawah.Ciumanku kuarahkan ke pahanya yang putih mulus dan terus naik keselangkangannya.Aku melepaskan CD nya sehingga dia tidak mengenakan apa-apa lagi,bugil seperti aku dan anak-anak tirinya.
Aku lalu menjilati vaginanya.Sambil berdiri, dia membuka kakinya agar mulutku leluasa menjilati vaginanya.Sementara tangannya menekan belakang kepalaku.Aku terus saja menghisap klitorisnya. Dia menjerit-jerit kecil dan kakinya kulihat agak gemetaran. Setelah puas menjilati vaginanya,aku lalu menekan tubuhnya supaya duduk jongkok menghadapku.Dia mengerti dan langsung saja mulutnya melumat penisku.Aku merasa sangat enak.Kayaknya Dia lebih berpengalaman dalam hal menjilat penis.Dia terus saja menghisap penisku dengan penuh semangat.

Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi,aku lalu menyuruhnya membelakangiku.Aku lalu mengatur posisi dan mengarahkan penisku ke lubang vaginanya dari belakang dan menekannya pelan-pelan.Dia menjerit tertahan.Tapi aku tidak peduli. sementara Linda,Shinta dan Yuni hanya menonton dengan bersemangat dari samping.Aku menggoyang pantatku maju mundur sambil berdiri.Tangan kirinya kutarik kebelakang dan tangan kananku meremas-remas payudaranya yang sebelah kanan.Dia kembali menjerit-jerit dengan desahan nafasnya yang memburu.
“Andrie…kamu…punyamu sangat enakh…akh…akh..”katanya menceracau.
Aku semakin bersemangat mendengar rintihannya.Lalu aku menarik tangan kanannya sehingga kedua tangannya kutarik kebelakang.Sementara pantatku tetap maju mundur menggoyang pantatnya.payudaranya yang besar terus saja bergoyang-goyang ke bawah.
Aku lalu merubah posisi dan menyuruhnya telentang.Dengan nafas memburu dia menurut saja dan telentang dengan membuka kakinya lebar-lebar.Aku segera mengarahkan penisku ke vaginanya. Penisku pun segera menusuk vaginanya dan pantatku naik turun menghujam vaginanya.vaginanya tidak kalah rasanya dibandingkan vagina anak-anaknya. Masih menggigit dan meremas-remas penisku. Nafaskupun semakin cepat seperti nafasnya.

Sementara penisku menusuk-nusuk vaginanya,aku selalu menghisap payudaranya bergantian Sekitar hampir satu jam kami main,sampai akhirnya dia berkata,
“Andrie…ahh…penismu sangat enakh…kuat…lubang vaginau jadi penuh oleh penismu…ahh…ahhh..terus sayang..aku sudah hampir keluarhh..ahh..ahhh..”
Dan tak berapa lama akupun segera merasakan penisku jadi hangat karena cairan dari vaginanya sebagai tanda dia sudah sampai puncak orgasmenya.Badannya yang tegang tadi mulai lemas.Aku masih saja menggenjot vaginanya dan akhirnya akupun merasakan sesuatu yang hendak keluar.penisku kubenamkan dalam-dalam kedalam vaginanya.Dan spermaku pun keluar membasahi liang vaginanya.Aku tertelungkup lemas dengan nafas tidak beraturan.

Dia juga begitu lemas dan nafasnya juga tidak beraturan.Aku lalu mencabut penisku dari vaginanya dan telentang sambil menarik nafas panjang.Aku memejamkan mataku.Walaupun sudah keluar tapi penisku masih ngaceng.Mbak Linda,shinta dan Yuni mendekat dan mereka bergantian menghisap penisku dan menelan sisa-sisa spermaku.Aku merasakan nikmatnya hisapan mereka bergantian.
Mereka bertiga akhirnya merebahkan badannyadisampingku.Lama kami terdiam karena kelelahan.Akhirnya Yuni berkata,
“Gimana Bu..?Enakkan penisnya Andrie..?”

Ibunya berkata,”Wah..Andrie…kamu memang luar biasa.penismu besar,kuat…wah…enak sekali…”
Aku menjawab,”Kalian juga sangat enak sekali.vagina kalian terasa meremas-remas penisku.Aku juga sangat suka dengan payudara kalian yang montok-montok ini.”kataku sambil meremas-remas payudara mereka bergantian.

Akhirnya aku tidak diperbolehkan pulang dan harus menginap malam itu.Kami kembali main bergantian.Aku kembali main sama mbak Linda,Shinta ,Yuni dan ibunya.Sungguh aku merasa sangat terpuaskan saat itu.Aku bisa menikmati tubuh mereka,tubuh kakak Yuni,tubuhnya sendiri dan tubuh ibunya.Aduh sangat enak sekali.Apalagi kulit tubuh mereka putih semua,maklum karena mereka adalah orang cina turunan.Apalagi payudara mereka sangat montok dan vaginanya juga bisa memijit-mijit penisku.

Setelah hari itu,tiap kali aku main ke sana,kalau baru sampai di rumah Yuni,aku selalu meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang aku langsung melucuti pakaian mereka dan langsung menghisap payudara mereka bergantian.mereka pun sangat senang dengan caraku waktu aku datang itu.Kadang-kadang kalau baru datang,aku langsung membuka celanaku dan menyodorkan penisku kedalam mulut Yuni,Shinta ibunya atau mbak Linda.Mereka pun sangat senang sekali.Sehingga tiap kali aku datang kesana pasti main dengan mereka bergantian.

Kadang-kadang Yuni,Shinta,mbak Linda atau ibunya juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya dan akupun sering juga main dengan teman-teman mereka.Aku bilang pada mereka,kalau mau mengundang teman untuk main harus yang bersih.Rata-rata teman-teman mereka itu adalah wanita yang tidak bisa dipuaskan oleh suaminya.Ada salah satu temannya yang mau memberiku bayaran,tapi aku menolaknya karena aku melakukannya dengan suka sama suka.Karena aku sangat suka seks.

Pengalamanku yang satu ini terjadi ketika masih kuliah semester empat, kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu itu aku harus mengambil sebuah mata kuliah umum yang belum kuambil, yaitu kewiraan. Kebetulan waktu itu aku kebagian kelas dengan fakultas sipil, agak jauh dari gedung fakultasku, di sana mahasiswanya mayoritas cowok pribumi, ceweknya cuma enam orang termasuk aku. Tak heran aku sering menjadi pusat perhatian cowok-cowok di sana, beberapa bahkan sering curi-curi pandang mengintip tubuhku kalau aku sedang memakai pakaian yang menggoda, aku sih sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan liar seperti ini, terlebih lagi aku juga cenderung eksibisionis, jadi aku sih cuek-cuek aja.
Hari itu mata kuliah yang bersangkutan ada kuliah tambahan karena dosennya beberapa kali tidak masuk akibat sibuk dengan kuliah S3-nya. Kuliah diadakan pada jam lima sore. Seperti biasa kalau kuliah tambahan pada jam-jam seperti ini waktunya lebih cepat, satu jam saja sudah bubar. Namun bagaimanapun saat itu langit sudah gelap hingga di kampus hampir tidak ada lagi mahasiswa yang nongkrong. Keluar dari kelas aku terlebih dulu ke toilet yang hanya berjarak empat ruangan dari kelas ini untuk buang air kecil sejenak, serem juga nih sendirian di WC kampus malam-malam begini, tapi aku segera menepis segala bayangan menakutkan itu. Setelah cuci tangan aku buru-buru keluar menuju lift (di tingkat lima).
Ketika menunggu lift aku terkejut karena ada yang menyapa dari belakang. Ternyata mereka adalah tiga orang mahasiswa yang juga sekelas denganku tadi, yang tadi menyapaku aku tahu orangnya karena pernah duduk di sebelahku dan mengobrol sewaktu kuliah, namanya Adi, tubuhnya kurus tinggi dan berambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tebal dan mata besar. Sedangkan yang dua lagi aku tidak ingat namanya, cuma tahu tampang, belakangan aku tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Syaiful dan satunya lagi yang mukanya mirip Arab itu namanya Rois, tubuhnya lebih berisi dan kekar dibandingkan Adi dan Syaiful yang lebih mirip pemakai narkoba.
“Kok baru turun sekarang Ci?” sapa Adi berbasa-basi. “Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu?” jawabku. “Biasalah, ngerokok dulu bentar” jawabnya. Lift terbuka dan kami masuk bersama, mereka berdiri mengelilingiku seperti mengepungku hingga jantungku jadi deg-degan merasakan mata mereka memperhatikan tubuhku yang terbungkus rok putih dari bahan katun yang menggantung di atas lutut serta kaos pink dengan aksen putih tanpa lengan.
Walau demikian, terus terang gairahku terpicu juga dengan suasana di ruangan kecil dan dengan dikelilingi para pria seperti ini hingga rasa panas mulai menjalari tubuhku. “Langsung pulang Ci?” tanya Syaiful yang berdiri di sebelah kiriku. “Hemm” jawabku singkat dengan anggukan kepala. “Jadi udah gak ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini?” si Adi menimpali. “Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku lagi. “Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong!” sahut Syaiful.
“Eh.. Buat apa?” tanyaku lagi. Sebelum ada jawaban, aku telah dikagetkan oleh sepasang tangan yang memelukku dari belakang dan seperti sudah diberi aba-aba, Rois yang berdiri dekat tombol lift menekan sebuah tombol sehingga lift yang sedang menuju tingkat dua itu terhenti. Tas jinjingku sampai terlepas dari tanganku karena terkejut. “Heh.. Ngapain lu orang?” ujarku panik dengan sedikit rontaan. “Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit kenapa? Stress kan, kuliah seharian gini!” ucap Adi yang mendekapku dengan nafas menderu. “Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Rois. Srr.. Sesosok tangan menggerayang masuk ke dalam rok miniku.
Aku tersentak ketika tangan itu menjamah pangkal pahaku lalu mulai menggosok-gosoknya dari luar. “Eengghh.. Kurang ajar!” ujarku lemah. Aku sendiri sebenarnya menginginkannya, namun aku tetap berpura-pura jual mahal untuk menaikkan derajatku di depan mereka. Mereka menyeringai mesum menikmati ekpresi wajahku yang telah terangsang. Rambutku yang dikuncir memudahkan Adi menciumi leher, telinga dan tengkukku dengan ganas sehingga birahiku naik dengan cepat. Rois yang tadinya cuma meremasi dadaku dari luar kini mulai menyingkap kaosku lalu cup bra-ku yang kanan dia turunkan, maka menyembullah payudara kananku yang nampak lebih mencuat karena masih disangga bra.
Diletakkannya telapak tangannya di sana dan meremasnya pelan, kemudian kepalanya mulai merunduk dan lidahnya kurasakan menyentuh putingku. Sambil menyusu, tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa kusadari, celana dalamku kini telah merosot hingga ke lutut, pantat dan kemaluanku terbuka sudah. Jari-jari Syaiful sudah memasuki vaginaku dan menggelitik bagian dalamnya. Tubuhku menggelinjang dan mendesah saat jarinya menemukan klitorisku dan menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu. Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa sehingga pahaku merapat mengapit tangan Syaiful.
Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang sedang dijilati Adi, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku merinding. Tangannya menjalar ke dadaku dan mengeluarkan payudaraku yang satu lagi. Diremasinya payudara itu dan putingnya dipilin-pilin, kadang dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya hingga menyebabkan benda itu semakin membengkak. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku. Melihatku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Kini Rois memagut bibirku, bibir tebal itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya masuk ke mulutku dan menjilati rongga di dalamnya, kubalas dengan menggerakkan lidahku sehingga lidah kami saling jilat, saling hisap, sementara tangannya sudah meremas bongkahan pantatku, kadang jari-jarinya menekan anusku. Tonjolan keras di balik celana Adi terasa menekan pantatku.
Secara refleks aku menggerakkan tanganku ke belakang dan meraba-raba tonjolan yang masih terbungkus celana itu. Payudara kananku yang sudah ditinggalkan Rois jadi basah dan meninggalkan bekas gigitan kini beralih ke tangan Adi, dia kelihatan senang sekali memainkan putingku yang sensitif, setiap kali dia pencet benda itu dengan agak keras tubuhku menggelinjang disertai desahan. Si Syaiful malah sudah membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang.
Masih sambil berciuman, kugerakkan mataku memperhatikan miliknya yang panjang dan berwarna gelap tapi diameternya tidak besar, ya sesuailah dengan badannya yang kerempeng itu. Diraihnya tanganku yang sedang meraba selangkangan Adi ke penisnya, kugenggam benda itu dan kurasakan getarannya, satu genggamanku tidak cukup menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kira-kira dua genggaman tanganku. “Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong!” pintanya. “Ahh.. Eemmhh!” desahku sambil mengambil udara begitu Rois melepas cumbuannya.
“Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!” ujar Rois sambil membuka celananya. Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Syaiful tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm tentara. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya, berani taruhan punya si Adi juga pasti kalah darinya. Adi melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Rois menekan bahuku dan memintaku berlutut.
Aku pun berlutut karena kakiku memang sudah lemas, kedua penis tersebut bagaikan pistol yang ditodongkan padaku, tidak.. bukan dua, sekarang malah tiga, karena Adi juga sudah mengeluarkan miliknya. Benar kan, milik Rois memang paling besar di antara ketiganya, disusul Adi yang lebih berisi daripada Syaiful. Mereka bertiga berdiri mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.
Citra
“Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis” “Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!” “Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!” Demikian mereka saling menawarkan penisnya untuk mendapat servis dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah, hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan. “Aduh.. Iya-iya sabar dong, semua pasti kebagian.. Kalo gini terus gua juga bingung dong!” kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari mukaku.
“Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Citra yang milih aja, demokratis kan?” kata Syaiful. Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih penis Syaiful dan yang kanan meraih milik Rois lalu memasukkannya pelan-pelan ke mulut. “Weh.. Sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja!” gerutu Syaiful pada Rois yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan. “Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!” Adi protes karena merasa diabaikan olehku. Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku untuk menuntun penis Rois ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku meraih penis Adi untuk menenangkannya.
Kini tiga penis kukocok sekaligus, dua dengan tangan, satu dengan mulut. Lima belas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Adi dan Rois kini menerima tanganku. Tak lama kemudian, Syaiful yang ingin mendapat kenikmatan lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku. Kaitan bra-ku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih tersangkut di kaki ditariknya lepas. Lima menit kemudian tangannya menggerayangi payudara dan vaginaku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar. Pantatku dia angkat sedikit sampai agak menungging.
Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang vaginaku. Penis Syaiful telah menyentuh vaginaku yang basah, dia tidak memasukkan semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir vaginaku sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku. “Uhh.. Nakal yah lu!” kataku sambil menengok ke belakang. “Aahh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Syaiful mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.
Dengan tangan mencengkeram payudaraku, dia mulai menggenjot tubuhku, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku yang bergerinjal-gerinjal. Aku tidak bisa tidak mengerang setiap kali dia menyodokku. “Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih” sahut Adi seraya menjejalkan penisnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku. Aku semakin bersemangat mengoral penis Adi sambil menikmati sodokan-sodokan Syaiful, penis itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati ‘helm’nya. Jurusku ini membuat Adi blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya.
Kocokanku terhadap Rois juga semakin dahsyat hingga desahan ketiga pria ini memenuhi ruangan lift. Teknik oralku dengan cepat mengirim Adi ke puncak, penisnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan meremas rambutku.. “Oohh.. Anjing.. Ngecret nih gua!!” Muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati dengan rakusnya. Keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih menjilati sisa sperma pada batangnya. Rois memintaku agar menurunkan frekuensi kocokanku. “Gak usah buru-buru..” demikian katanya.
“Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain memeknya, kebelet nih!” kata Rois pada Syaiful. “Sabar jek.. Uuhh.. Nanggung dikit lagi.. Eemmhh!” jawab Syaiful dengan terengah-engah. Genjotan Syaiful semakin kencang, nafasnya pun semakin memburu menandakan bahwa dia akan orgasme. Kami mengatur tempo genjotan agar bisa keluar bersama. “Uhh.. Uhh.. Udah mau Ci, boleh di dalam gak?” tanyanya. “Jangan.. gue lagi subur.. Ah.. Aahh!!” desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.
“Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin memeknya!” tegur Adi. Syaiful menyusul tak sampai semenit kemudian dengan meremas kencang payudaraku hingga membuatku merintih, kemudian dia mencabut penisnya dan menumpahkan isinya ke punggungku. “Ok, next please” Syaiful mempersilakan giliran berikut. Adi langsung menyambut tubuhku dan memapahku berdiri.
Disandarkannya punggungku pada dinding lift lalu dia mencium bibirku dengan lembut sambil tangannya menelusuri lekuk-lekuk tubuhku, kami ber-french kiss dengan panasnya. Serangan Adi mulai turun ke payudaraku, tapi cuma dia kulum sebentar, lalu dia turun lagi hingga berjongkok di depan vaginaku. Gesper dan resleting rokku dia lucuti hingga rok itu merosot jatuh. Dia menatap dan mengendusi vaginaku yang tertutup rambut lebat itu, tangan kanannya mulai mengelusi kemaluanku sambil mengangkat paha kiriku ke bahunya.
Jari-jarinya mengorek liang vaginaku hingga mengenai klitoris dan G-spotku. “Sshh.. Di.. Oohh.. Aahh!!” desisku sambil meremas rambutnya ketika lidahnya mulai menyentuh bibir vaginaku. Aku mengigit-gigit bibir menikmati jilatan Adi pada vaginaku, lidahnya bergerak-gerak seperti ular di dalam vaginaku, daging kecil sensitifku juga tidak luput dari sapuan lidah itu, kadang diselingi dengan hisapan. Hal ini membuat tubuhku menggeliat-geliat, mataku terpejam menghayati permainan ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah gigitan pelan pada puting kiriku, mataku membuka dan menemukan kepala Syaiful sudah menempel di sana sedang mengenyot payudaraku. Rois berdiri di sebelah kananku sambil meremas payudaraku yang satunya.
“Ci, toked lu gede banget sih, ukuran BH-nya berapa nih?” tanyanya. “Eenngghh.. Gua 34B.. Mmhh!” jawabku sambil mendesah. “Udah ada pacar lo Ci?” tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng dengan badan makin menggeliat karena saat itu lidah Adi dengan liar menyentil-nyentil klitorisku. Sensasi ini ditambah lagi dengan Rois yang menyapukan lidahnya yang tebal ke leher jenjangku dan mengelusi pantatku. Sebelum sempat mencapai klimaks, Adi berhenti menjilat vaginaku. Dia mulai berdiri dan menyuruh kedua temannya menyingkir dulu.
“Minggir dulu jek.. Gua mo nyoblos nih! Walah.. Nih toked jadi bau jigong lu gini Ful!” omelnya pada Syaiful yang hanya ditanggapi dengan seringainya yang mirip kuda nyengir. Paha kiriku diangkat hingga pinggang, lalu dia menempelkan kepala penisnya pada bibir vaginaku dan mendorongnya masuk perlahan-lahan. “Ooh.. Di.. Aahh.. Ahh!” desahku dengan memeluk erat tubuhnya saat dia melakukan penetrasi. “Aakkhh.. Yahud banget memek lu Ci.. Seret-seret basah!” Kemudian Adi mulai memompa tubuhku, rasanya sungguh sulit dilukiskan. Penis kokoh itu menyodok-nyodokku dengan brutal sampai tubuhku terlonjak-lonjak, keringat yang bercucuran di tubuhku membasahi dinding lift di belakangku.
Eranganku kadang teredam oleh lumatan bibirnya terhadapku. Senjatanya keluar-masuk berkali-kali hingga membuat mataku merem-melek merasakan sodokan yang nikmat itu. Aku pun ikut maju mundur merespons serangannya. Saat itu kedua temannya hanya menonton sambil memegangi senjata masing-masing, mereka juga menyoraki Adi yang sedang menggenjotku seolah memberi semangat. Sementara dia berpacu di antara kedua pahaku, aku mulai merasakan klimaks yang akan kembali menerpa. Tubuhku bergetar hebat, pelukanku terhadapnya juga semakin erat.
Akhirnya keluarlah desahan panjang dari mulutku bersamaan dengan melelehnya cairan kewanitaanku lebih banyak daripada sebelumnya. Namun dia masih bersemangat menggenjotku, bahkan bertambah kencang dan bertenaga, nafasnya yang menderu-deru menerpa wajahku. “Uuhh.. Uuh.. Ci.. Yeeahh.. Hampir!” geramnya di dekat wajahku. Tubuhnya berkelojotan diiringi desahan panjang, kemudian ditariknya penisnya lepas dari vaginaku dan menyemprotlah isinya di perutku. Dia pun lalu ambruk ke depanku sambil memagut bibirku mesra.
Karena Adi melepaskan pegangannya terhadapku, pelan-pelan tubuhku merosot hingga terduduk bagai tak bertulang, begitu pun dengannya yang bersandar di lift dengan nafas ngos-ngosan. Aku meminta Syaiful mengambilkan tissue dari tasku, aku lalu menyeka keringat di keningku juga ceceran sperma pada perutku sambil menjilat jari-jariku untuk mendapatkan ceceran sperma itu. Hingga kini pakaian yang masih tersisa di tubuhku cuma sepatu dan kaos yang telah tergulung ke atas. Tenggang waktu ke babak berikutnya kurang dari lima menit, Rois setelah meminta ijin dahulu, memegangi kedua pergelangan kakiku dan membentangkannya.
Ditatapnya sebentar lubang merah merekah di tengah bulu-bulu hitam itu, kedua temannya juga ikut memandangi daerah itu. “Ayo dong.. Pada liatin apa sih, malu ah!” kataku dengan memalingkan muka karena merasa risi dipelototi bagian ituku, namun sesungguhnya aku malah menikmati menjadi objek seks mereka. “Hehehe.. Malu apa mau nih!” ujar Syaiful yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku. “Lu udah gak virgin sejak kapan Ci? Kok memeknya masih OK?” tanya Rois sambil menatap liang itu lebih dekat.
“Enam belas, waktu SMA dulu” jawabku. Kami ngobrol-ngobrol sejenak diselingi senda gurau hingga akhirnya aku meminta lagi karena gairahku sudah kembali, ini dipercepat oleh tangan-tangan mereka yang selalu merangsang titik-titik sensitifku. Rois menarikku sedikit ke depan mendekatkan penisnya pada vaginaku lalu mengarahkan benda itu pada sasarannya. Uuh.. Vaginaku benar-benar terasa sesak dan penuh dijejali oleh penisnya yang perkasa itu. Cairan vaginaku melicinkan jalan masuk baginya. “Aa.. aadduhh, pelan-pelan dong!” aku mendesah lirih sewaktu Rois mendorong agak kasar.
Sambil menggeram-geram, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit hingga terbenam seluruhnya dalam vaginaku. “Eengghh.. Ketat abis, memek Cina emang sipp!” ceracaunya. Dia menggenjot tubuhku dengan liar, semakin tinggi tempo permainannya, semakin aku dibuatnya kesetanan. Sementara Syaiful sedang asyik bertukar ludah denganku, lidahku saling jilat dengan lidahnya yang ditindik, tanganku menggenggam penisnya dan mengocoknya. Sebuah tangan meraih payudaraku dan meremasnya lembut, ternyata si Adi yang berlutut di sebelahku.
“Bersihin dong Ci, masih ada sisa tadi!” pintanya dengan menyodorkan penisnya ke mulutku saat mulut Syaiful berpindah ke leherku. Serta merta kuraih penis itu, hhmm, masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya, setelah beberapa jilatan baru kumasukkan ke mulut, aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku. Tak lama kemudian, Syaiful berkelojotan dan bergumam tak jelas, sepertinya dia akan klimaks. Melihat reaksinya kupercepat kocokanku hingga akhirnya cret.. cret.. Spermanya berhamburan mendarat di sekitar dada dan perutku, tanganku juga jadi belepotan cairan seperti susu kental itu. Saat itu aku masih menikmati sodokan Rois sambil mengulum penis Adi.
Kemudian Adi mengajak berganti posisi, aku dimintanya berposisi doggy, Rois dari belakang kembali menusuk vaginaku dan dari depanku Adi menjejalkan penisnya ke mulutku. Kulumanku membuat Adi berkelojotan sambil meremas-remas rambutku sampai ikat rambutku terlepas dan terurailah rambutku yang sebahu itu. Penis itu bergerak keluar-masuk semakin cepat karena vaginaku juga sudah basah sekali. Tidak sampai sepuluh menit kemudian muncratlah sperma Adi memenuhi mulutku, karena saat itu genjotan Rois bertambah ganas, hisapanku sedikit buyar sehingga cairan itu tumpah sebagian meleleh di pinggir bibirku.
Setelah Adi melepas penisnya, aku bisa lebih fokus melayani Rois, aku ikut menggoyang pinggulku sehingga sodokannya lebih dalam. Bunyi ‘plok-plok-plok’ terdengar dari hentakan selangkangan Rois dengan pantatku. Mulutku terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat, sampai beberapa menit kemudian tubuhku mengejang hebat yang menandakan orgasmeku. Kepalaku menengadah dan mataku membeliak-beliak, sungguh fantastis kenikmatan yang diberikan olehnya. Kontraksi otot-otot kemaluanku sewaktu orgasme membuatnya merasa nikmat juga karena otot-otot itu semakin menghimpit penisnya, hal ini menyebabkan goyangannya semakin liar dan mempercepat orgasmenya.
Dia mendengus-dengus berkelojotan lalu tangannya menarik rambutku sambil mencabut penisnya. “Aduh-duh, sakit.. Mau ngapain sih?” rintihku. Dia tarik rambutku hingga aku berlutut dan disuruhnya aku membuka mulut. Di depan wajahku dia kocok penisnya yang langsung menyemburkan lahar putih. Semprotan itu membasahi wajahku sekaligus memenuhi mulutku. “Gila, banyak amat sih, sampai basah gini gua!” kataku sambil menjilati penisnya melakukan cleaning service. Setelah menuntaskan hasrat, Rois melepaskanku dan mundur terhuyung-huyung sampai bersandar di pintu lift dimana tubuhnya merosot turun hingga terduduk lemas.
Dengan sisa-sisa tenaga aku menyeret tubuhku ke tembok lift agar bisa duduk bersandar. Suasana di dalam lift jadi panas dan pengap setelah terjadi pergulatan seru barusan. Aku mengatur kembali nafasku yang putus-putus sambil menjilati sperma yang masih belepotan di sekitar mulut, aku bisa merasakan lendir hangat yang masih mengalir di selangkanganku. Adi sudah memakai kembali celananya tapi masih terduduk lemas, dia mengeluarkan sebotol aqua dari tas lusuhnya, Syaiful sedang berjongkok sambil menghisap rokok, dia belum memakai celananya sehingga batang kemaluannya yang mulai layu itu dapat terlihat olehku, Rois masih ngos-ngosan dan meminta Adi membagi minumannya.
Setelah minum beberapa teguk, Rois menawarkan botol itu padaku yang juga langsung kuraih dan kuminum. Kuteteskan beberapa tetes air pada tissue untuk melap wajahku yang belepotan. Kami ngobrol-ngobrol ringan dan bertukar nomor HP sambil memulihkan tenaga. Aku mulai memunguti pakaianku yang tercecer. Setelah berpakaian lengkap dan mengucir kembali rambutku, kami bersiap-siap pulang. Adi menekan tombol lift dan lift kembali meluncur ke bawah. Lantai dasar sudah sepi dan gelap, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh.
Lega rasanya bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar gedung ini, kami pun berpisah di depan gedung sipil, mereka keluar lewat gerbang samping dan aku ke tempat parkir. Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum sendiri sambil mendengar alunan musik dari CD-player di mobilku, masih terngiang-ngiang di kepalaku kegilaan yang baru saja terjadi di lift kampus.

Cerita ini merupakan kelanjutan dari "Permohonan Seorang Teman dan Suaminya"

*****

Kisahku dengan Anna dan suaminya masih berlanjut. Sekali-sekali aku masih main ke rumah mereka dan melayani permintaan mereka untuk melakukan threesome.

Suatu sore, Anna meneleponku meminta datang ke rumah mereka, sebab ada Henny, teman kuliahnya dulu di Australia.

Aku ke sana dengan pakaian santai, hanya mengenakan kaus ringkas dan celana panjang.

Aku dikenalkan dengan Henny, perempuan Sunda. Lebih pendek daripada Anna, tapi orangnya manis. Kulitnya putih, bersih, hidungnya agak mancung, rambutnya panjang sebahu, lebih panjang daripada Anna yang potongan rambutnya pendek. Kami makan malam berempat dengan diterangi cahaya lilin.

''Agar romantis'' kata Anna.
''Ini untuk merayakan ulang tahun perkawinanku dengan Dicky'' tambahnya.

Usai makan malam, kami duduk di teras belakang rumah Anna dan Dicky. Ada taman kecil di situ. Cahaya lampu taman yang redup memberikan nuansa romantis. Kami duduk sambil menikmati white wine, kesukaan Henny.

''Untuk menghormati sahabat lama'' kata Anna sambil menuangkan white wine ke gelas kami masing-masing.

Kami minum setelah bersulang.

Dicky dan Anna saling memberi selamat sambil berpagutan bibir disaksikan olehku dan Henny.

Lama mereka berciuman barulah Henny memberi selamat kepada mereka. Henny menyalam Dicky dan menyalami Anna.

Waktu mereka bersalaman dan berciuman, aku sempat terkejut sebab ternyata mereka tidak berciuman pipi, melainkan berciuman bibir.

Kupikir Dicky tidak melihat hal itu, tetapi ia justru tersenyum menyaksikan mereka dan menatapku seolah-olah berkata tidak ada masalah dengan itu.

Aku menyalami Dicky dan Anna.

Waktu menyalam Anna, ia tidak mau hanya kusalam, ditariknya tubuhku rapat-rapat ke tubuhnya dan mencium bibirku.

''Cium dong, koq malu-malu gitu sih, Gus?'' pintanya.
Kurasakan wajahku memerah diperlakukan begitu di depan Henny.
''Nggak apa-apa koq, Henny bukan orang lain'' jelas Anna.

Kembali kami berempat duduk sambil bercakap-cakap. Mula-mula tentang hal-hal yang dialami Anna dan Henny waktu sekolah di Australia. Kemudian merembet ke masalah perkawinan. Henny bercerita bahwa suaminya seorang pengusaha setengah baya, yang sudah menikah dan menjadikan dirinya istri muda. Ia mengaku terjebak oleh ulah si pengusaha, tetapi demi kebutuhan ekonomi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya, ia terpaksa melakukan itu. Ia justru bersyukur tidak hamil hingga kini.

''Aku pernah minta cerai, tapi suamiku tidak mengijinkan'' katanya iba.
''Tapi aku juga mikir, kalau menjanda, apa ada jejaka yang masih mau padaku?'' katanya lagi.

Aku menatap jauh ke depan.

''Macam-macam saja kehidupan manusia ini. Ada yang sudah nikah, tidak bisa hamil oleh suaminya lalu aku yang jadi semacam pejantannya. Ini ada lagi yang jadi istri muda, mau cerai tapi tidak bisa dan hanya bermimpi bisa punya suami baik kelak'' pikirku.

''Gus, jangan ngelamun gitu dong!'' kata Anna sambil mencubit tanganku.
''Tuh, Henny nanya kamu!'' lanjutnya.

Aku gelagapan, ''Eh, maaf, nanya apa tadi Hen?''

''Waduh, payah deh ada orang bisa ngelamun di keramaian'' goda Henny, kemudian sambungnya, ''Tadi aku nanya kamu, koq belum kawin juga?''
''Dia mach sudah sering kawin, nikah yang belum'' sambut Anna menambah risih perasaanku.
''Ya deh, aku ngerti koq'' kata Henny.
''Banyak lelaki suka mikir-mikir cari jodoh, apalagi jika ketemu wanita sepertiku, takut terjerat ntar'' katanya seakan menyesali nasib.
''Jangan bicara gitu Hen. Masih ada laki-laki yang baik. Kalau suatu ketika kamu dapat lepas dari suamimu sekarang dan dipertemukan dengan pria demikian, pasti kamu bahagia'' kataku menghibur, walaupun tidak tahu arah kata-kataku.
''Daripada ngobrol tak tentu, kita ke dalam aja yuk!'' ajak Anna.

Kami masuk dan duduk di karpet sambil main kartu.

Mula-mula hanya iseng, tetapi kemudian Anna mempunyai ide aneh, siapa yang kalah wajib membuka bajunya sedikit demi sedikit.

Aku kaget dengan ide gilanya, tetapi suaminya dan Henny malah sebaliknya, mereka menyambut gembira usul tersebut.

Aku tak bisa berkutik, sebab kartu sudah dibagi.

Pertama-tama Anna kalah. Ia membuka baju bagian atasnya hingga kelihatan BH-nya yang berwarna merah marun.

Pada permainan berikut, suaminya Dicky kalah hingga membuka kausnya.

Selanjutnya aku yang kalah dan membuka kausku.

Henny masih beruntung belum kalah.

Kali berikut Dicky kalah lagi dan membuka celana panjangnya.
Ia kini bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek.
Berikutnya ia kalah lagi dan membuka celana pendeknya hingga hanya bercelana dalam.

Setelah itu barulah Henny kalah dan membuka gaunnya sebab ia mengenakan pakaian terusan.

Aku melihat sekilas ke arah tubuhnya.

Ia masih mengenakan pakaian dalam menutupi kutang dan celana dalamnya yang terlihat membayang di baliknya.

Berikutnya Anna kalah lagi dan membuka roknya.

Ia kini hanya mengenakan BH dan celana dalam berwarna merah marun.

Kali berikut Henny kembali kalah dan terpaksa membuka pakaian dalamnya yang berwarna kuning gading.

Sekarang Dicky yang hanya bercelana dalam ditemani dua perempuan yang sama-sama hanya berkutang dan bercelana dalam, sedangkan aku masih mengenakan celana panjang.

Kali berikut Anna kalah lagi dan melepaskan tali BH-nya, terlihatlah payudaranya yang indah.

''Wuihh, payudaramu masih cantik seperti dulu, An'' puji Henny sambil mengelus lembut payudara Anna.

Anna hanya tersenyum mendapat pujian dan perlakuan begitu dari temannya.

Kulirik Dicky, ia hanya menatap ke kartu yang dipegangnya sambil senyum-senyum.

Aku tidak beruntung, sehingga kalah dan terpaksa membuka celanaku.

Kini aku hanya bercelana dalam.

Anna menatapku sambil tertawa-tawa, ''Hitam nich yee'' godanya sambil menyebut warna celana dalamku.

Kali berikut Dicky kalah dan terpaksa membuka celana dalam putihnya. Ia duduk bertelanjang, tetapi tak risih ada Henny.
Aku heran juga, sebab kalau kami bertiga, sudah biasa kami main bertiga, tentu tak malu lagi, tetapi kini ada Henny, koq ia tidak malu.

Belakangan aku tahu bahwa Henny sudah sering menginap di rumah mereka dan tidur bertiga. Dari cerita Anna beberapa hari kemudian, kuketahui bahwa baik Anna maupun Henny adalah biseks. Memang mereka bulan lesbian murni, tetap menghendaki lelaki dalam hidup mereka, tetapi tak mampu melupakan teman intimnya dulu. Rupanya waktu di Australia mereka tinggal bersama di apartemen.

Giliran berikut Henny kalah dan membuka celana dalamnya.

Ia duduk dengan hanya mengenakan BH kuning gading, sedangkan celana dalamnya dilemparkan begitu saja entah kemana.

''Lho, koq itu dulu yang dibuka?'' tanya Anna.
''Biarin. Ntar kamu balas dendam megangin susuku'' katanya sambil membagi kartu.

Dicky dan Anna tertawa mendengar jawaban Henny, aku hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah paha Henny yang putih bersih, agaknya bulu-bulu kemaluannya dicukur bersih. Penasaran juga ingin tahu bagaimana bentuknya, apakah seindah vagina Anna, tapi walaupun penisku makin tegang melihat payudara Anna dan paha Henny, aku tak berani berharap macam-macam.

''Jangan bermimpi, ini kan hanya sebatas permainan kartu'' pikirku.

Aku tidak tahu bahwa diam-diam permainan ini sudah dirancang mereka bertiga secara cerdik untuk mengajakku masuk dalam permainan erotis berempat.

Kami kembali main kartu.

Di akhir permainan, Henny kembali kalah dan terpaksa membuka kutangnya.

''Horeee, kelihatan deh harta karunnya!'' sorak Anna seperti anak-anak mendapatkan hadiah dan mencubit puting payudara Henny.
''Nah, betul kataku, kan? Kamu emang usil deh, suka balas dendam'' kata Henny menjauhkan tubuhnya dari gangguan temannya.

Henny membagi kartu.

Kulirik ke arah tubuhnya.

Payudaranya lebih besar kurasa daripada Anna, kutaksir ukurannya 34 C, bentuknya masih seperti payudara gadis, dengan puting yang agak kehitaman, beda dengan Anna yang putingnya lebih coklat.

Kuamati lagi sekilas sekujur tubuh Henny, seakan memberi penilaian.

Henny menatapku sambil tersenyum penuh arti. Entah disengaja atau tidak ia memperbaiki letak duduknya, dan kini duduk bersila hingga sekilas nampak belahan vaginanya mengintip memperlihatkan labianya.

Penisku semakin tegang, sedangkan penis Dicky kulihat sudah sejak tadi tegang tanpa dapat dicegah.

Di akhir permainan, Anna kalah dan harus membuka celana dalamnya.

Kini mereka bertiga benar-benar telanjang bulat, tinggal aku yang masih mengenakan celana dalam.

''Wah, jagoan kita ini hebat benar, masih menguasai permainan dan jadi pemenang'' kata Henny memuji sambil melirik ke arah celana dalamku.

Pada permainan ini, kembali Henny kalah, hingga Anna berteriak, ''Wah, kamu tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibuka. Kita apain Henny, hai kaum Adam?''

Dicky memberi usul, ''Kalau gitu, ia harus mencium orang yang ia inginkan sebagai hukuman.''

''Baiklah, para juri sekalian, aku siap menjalani hukuman paduka'' guraunya sambil bangkit dari duduknya dan berdiri.
Tiba-tiba kedua tangannya memegang pipiku dan memagut bibirku tanpa kuduga.

Aku megap-megap diserang tiba-tiba.

Apalagi ciumannya begitu lama dan lidahnya masuk ke dalam rongga mulutku menggelitik langit-langit mulutku.

Darahku semakin terpompa ke ubun-ubun mendapat ciuman demikian.

Kubalas ciumannya dan lidah kami berpilinan.

''Udah, udah, jangan lama-lama, ntar ada yang cemburu tuh!'' kata Anna sambil menarik tubuh Henny duduk kembali ke tempatnya.

Henny membagi kartu lagi. Kali ini Anna yang kalah. Seperti yang terjadi pada Henny, ia diminta mencium orang yang ia sukai.

Tadinya kupikir ia akan mencium Dicky atau aku, ternyata dugaanku meleset.

Ia bangkit dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas tetek Henny.

Henny membalas ciuman Anna sambil tangannya bermain di sela-sela paha Anna.

Desahan mereka berdua terdengar di sela-sela ciuman terlarang yang mereka lakukan.

Dicky dan aku hanya dapat menonton perbuatan mereka.

Beberapa saat kemudian mereka kembali duduk dan Anna membagi kartu.

Giliran berikutnya suaminya Dicky kalah.

Dicky memilih Anna untuk dicium dan meremas tetek Anna, tapi herannya tangannya bermain di kedua tetek Henny.

Henny hanya tersenyum menatapku yang keheranan, bahkan tangan kirinya meraba-raba punggung dan pantat Dicky sedangkan tangan kanannya mengikuti tangan Dicky meremas tetek Anna. Setelah itu, mereka bertiga kembali duduk dan Dicky membagi kartu.
Kali ini aku yang apes, hingga harus mengikuti mereka bertiga, bertelanjang bulat! Wajahku agak memerah waktu kulepaskan celana dalam hitamku.

''Wow, indah nian. Benda apakah gerangan itu?'' Anna berkomentar, diikuti oleh Henny, ''Ah, betapa beruntungnya wanita yang berkesempatan berkenalan dengan benda itu?''

Aku hanya tersipu-sipu digoda kedua perempuan itu dan membagi kartu dengan tangan agak gemetar.

Rupaya Henny memperhatikan tanganku, ia pegangi tanganku sambil mengelus lembut punggung tanganku.

''Tenang aja Gus! Kamu ada di tengah para sahabat koq'' guraunya.

Kali berikut Anna kalah lagi.

Kini ia memilih aku untuk dicium. Namun entah meniru suaminya, sambil menciumi aku, tangannya bermain di tetek Henny, meremas dan memainkan pentilnya.

Henny mendesah mendapat serangan Anna.

Dicky mengelus-elus punggung Anna sambil ikutan meremas tetek Henny.

Aku melepaskan diri dari ciuman Anna.

Anna kembali duduk diikuti oleh Dicky dan Henny.

Permainan berikut Dicky kalah lagi dan kini ia memilih Henny untuk dicium, tetapi sebelah tangannya menarik tangan istrinya ikut mengambil peran mengeroyok Henny.

Henny membalas ciuman Dicky diikuti oleh ciuman Anna. Ketiganya terlibat dalam ciuman panas bertiga. Kulihat bagaimana lidah mereka saling bertemu dan melumat.

Kali berikut Henny kalah, tapi sebelum ia memilih orang yang disukainya untuk dicium, Anna berkata, ''Sekarang yang kalah harus mau diperlakukan apa saja, OK tuan-tuan?''

''Ya, ya, betul'' kata suaminya, sambil bertanya padaku, ''Gimana Gus, setuju?''
''Aku ngikut aja dech'' kataku sambil berharap akan sesuatu yang lebih erotis.

Henny kelihatan merengut, tapi tidak membantah.

''OK silakan, aku mau diapain nich?'' katanya pasrah.

Anna menarik kedua tangan Henny dan membaringkan tubuh Henny di karpet. Lalu ia mencium bibir Henny sambil meminta suaminya mengerjai bagian bawah tubuh Henny dengan isyarat tangan.
Suaminya memegangi kedua belah paha Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu mencium torok Henny yang bersih tanpa ditutupi rambut-rambut kemaluan itu.

Henny mengerang diperlakukan begitu oleh suami istri tersebut.
Aku hanya memandangi mereka.

Tak lama kemudian kudengar Anna berkata, ''Gus, kamu tidak ingin ikut menjatuhkan hukuman pada penjahat ini?''

Aku diam saja sambil menggelengkan kepala.

Anna kembali menciumi bibir Henny sambil meremas-remas tetek Henny, sedangkan Dicky sambil menciumi torok Henny, tangannya mencari tetek Henny yang sebelah lagi. Habislah Henny diserang oleh kedua orang itu. Lebih lama daripada yang tadi-tadi, ketiganya seakan tidak peduli atas kehadiranku, mereka terpaku pada apa yang ada di hadapannya.

Apalagi kulihat Anna sudah berganti posisi dengan suaminya, dan gilirannya mengerjai torok Henny, sedangkan suaminya kini menciumi tetek Henny, pentilnya dilumat hingga Henny semakin kuat merintih. Kedua tangan Anna kulihat memegang labia Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu dengan suatu gerakan lembut ia menjulurkan lidahnya menusuk liang torok Henny.

Henny merintih, ''Oooouhhhh Annnnn, terusin... yang dalam sayang!!!! Yahh gitu sayangggg......''

Remasan tangan Dicky pada tetek Henny berganti-ganti dengan gigitan lembut, membuat Henny semakin mengawang-awang menggapai kenikmatan.

Anna mendukung aksi suaminya dengan menjilati dan mengisap itil Henny.

Pantat Henny sesekali terangkat dan pinggulnya menggeliat-geliat diserang Anna.

Aku hanya melihat mereka sambil sesekali menelan ludah.

Anna menatapku dan menarik tanganku mendekati mereka. Ia mencium bibirku.

Kurasa aroma khas torok Henny pada ciuman Anna.

Kami berpagutan dengan erat.

Dicky masih terus mencium dan meremas tetek Henny.

Anna mengajakku bersama-sama mencium torok Henny.

Kuikuti ajakannya.

Tiba-tiba Henny berkata, ''Udah dulu dong! Masak aku diserang tiga orang sekaligus?''

Kami tertawa-tawa.

Anna kemudian berkata, ''Kita ke kamar aja yuk biar lebih enak pada permainan sesungguhnya?''

Dicky tidak menjawab, tapi mengikuti ucapannya.

Henny masih terbaring dengan napas tersengal-sengal menahan nafsu yang mendekati puncak.

Aku berdiri bergandengan dengan Anna mengikuti Dicky, tapi kutahan langkahku melihat Henny masih terbaring di karpet.
''Kenapa Gus? Yah udah, kalau kamu kasihan pada Henny, gendong aja dia, udah lemes tuh!'' katanya melepaskan tanganku.

Aku berlutut di samping Henny, kuletakkan tangan kiriku di bawah lehernya dan tangan kananku di bawah lututnya. Lalu tanpa meminta ijinnya, kugendong dia.

Kedua tangan Henny memeluk leherku seakan-akan takut jatuh.
Sambil menggendongnya kulangkahkan kaki ke kamar tidur Dicky dan Anna.

Henny sesekali mengangkat lehernya dan mencuri cium bibirku.
Aku membalas sambil membawa tubuhnya yang indah dan ketika tiba di kamar, tubuhnya kubaringkan di ranjang.

Anna sudah membaringkan tubuhnya lebih dulu di situ.

Begitu tubuh Henny terlentang di ranjang, Anna langsung memagut bibir Henny sambil jari-jarinya mengelus-elus sekujur tubuh Henny.

Dicky melihat mereka berdua sambil memberi isyarat padaku untuk menonton adegan yang dipertontonkan kedua perempuan itu.
Henny membalas ciuman Anna dan balas menciumi bibir Anna dan dengan ganas turun ke leher dan dada Anna.

Anna kini ada di bagian bawah, dengan Henny di atas tubuhnya menciumi leher, tetek, perut dan kini mengarah ke paha Anna. Ciuman Henny berhenti di paha Anna dan kedua tangannya menguakkan labia torok Anna serta mencari itil dan menjilati torok Anna.

Anna tidak mau tinggal diam diperlakukan seperti itu, pantat Henny ia tarik dan ia tempatkan paha Henny tepat di atas wajahnya, lalu ia melakukan hal yang serupa terhadap Henny. Kedua perempuan itu kini berada dalam posisi 69. Saling mencium, menjilat, sambil mendesah, mengerang dan merintih. Rintihan mereka semakin memuncak ketika keduanya kami perhatikan menusukkan jari ke dalam torok yang lain sambil menciumi torok dan itil. Dengan suatu jeritan panjang, keduanya mengalami orgasme bersama-sama. Lalu keduanya saling berciuman bibir, bersama-sama berbagi lendir birahi yang diperoleh. Keduanya berpelukan di ranjang.

Sedangkan aku dan Dicky mendekati mereka berdua. Ranjang itu kini dimuati empat orang dewasa sekaligus. Anna ada di dekatku, sedangkan Henny ada di dekat suaminya.

''Gus, Henny pengen sekali kenalan dengan penismu'' bisik Anna lembut di telingaku sambil menciumi dagu dan bibirku.
''Hmmm, makin gila aja kita ini'' kataku sambil membalas ciumannya.

Kulirik Dicky juga sedang berciuman dengan Henny.

Dicky semakin ganas menciumi bibir, leher dan dada Henny.
Mungkin ia masih terpengaruh oleh adegan lesbian tadi yang ditampilkan kedua perempuan itu.

Aku sendiri merasa hampir orgasme tadi, tetapi kutahan dengan mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain.

Dicky menciumi setiap liku-liku tubuh Henny hingga kembali Henny mendesah dan mengerang.

Anna menciumi tubuhku hingga kontolku mencapai ketegangan puncak.

Saat akan kumasukkan kontolku ke dalam torok Anna, ia justru menolak tubuhku, ''Ntar Gus, giliran Henny dulu. Sudah lama ia berharap.''

''Lho, dia kan sedang main dengan suamimu?'' protesku.
''Nggak apa-apa, kalian berdua kerjai dia dulu. Ntar baru giliranku. Sudah lama ia tidak dikunjungi suaminya. Haus banget tuh!'' katanya menjawab protesku.

Kulihat Henny mendesah-desah diciumi toroknya oleh Dicky. Kedua tangannya meremas-remas teteknya.

Anna mendekati mereka berdua dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas tetek Henny.

Kedua tangan Henny kini mengelus punggung Anna sambil sesekali meremas tetek temannya.

Anna memainkan lidahnya dan menggelitik leher Henny.

Henny menggelinjang.

Tanganku ditarik oleh Anna mendekat, sehingga aku kini ikut ke dalam kancah pertempuran. Pantatku ditarik oleh Anna mendekati wajah Henny hingga kontolku tepat berada di atas mulutnya.
Lidahnya mulai menjulur keluar dan menjilati kepala kontolku. Lalu ia mengangkat lehernya dan dengan bantuan tangan kirinya, dipegangnya kontolku memasuki mulutnya. Tak kalah dengan permainan lidah dan mulut Anna, Henny pun memainkan kontolku dengan hebatnya.

Aku merasakan darahku mengalir deras memasuki setiap sel di kontolku dan gelora birahi mencapai ubun-ubunku hingga rasanya sudah ingin mencapai orgasme. Tapi kutahan gelora tersebut.
Kudengar Anna berkata pada suaminya, ''Mas, kasih kesempatan pada Agus dong, biar mereka dulu yang main sayang!''

Suaminya bangkit dan memberi kesempatan padaku untuk mendekati bagian torok Henny.

Aku tidak lagi menciumi toroknya, kuatir pejuku muncrat. Kugesekkan kontol pada itilnya dan kemudian ke celah-celah toroknya.

Henny mengerang sambil menarik pantatku agar semakin dalam memasukkan kontol ke dalam toroknya.

Aku menancapkan kontol ke dalam toroknya dengan irama pelan namun teratur.

Henny semakin meracau mendapat perlakuan demikian, ''Gus, yang dalam dong. Cepetan, aku sudah nggak kuat nich?'' pintanya.

''Nggak ku ku nich yeee?'' goda Anna dan ditimpali suaminya dengan ucapan, ''Iya tuh Gus, masak tidak kasihan pada kaum yang lemah sich?''

Kupercepat gerakan pantatku menekan sambil melempar senyum pada Anna dan Dicky. Sambil memaju-mundurkan pantatku, dalam hati aku berterima kasih pada kedua suami istri ini, sebab mereka membuatku dapat merasakan torok perempuan Sunda seperti Henny.

Agak beda dengan Anna. Di bagian dalam toroknya seakan-akan ada mpot ayamnya.

Tak ingin menyerah padanya, kutarik kontolku keluar toroknya dan kupegang kontolku pada pangkalnya dengan tangan kananku lalu kugesek-gesekkan kembali pada itilnya.

Henny mendesah dan merintih semakin lirih, ''Gussss, ayooooo masukin lagi sayang! Aku mau sampai nich... Oooouggghhhh enak banget siccchhhh?''

Geliat pinggulnya semakin cepat.

Teteknya diciumi dan diremas oleh Dicky sedangkan bibirnya dilumat lagi oleh Anna.

Diserang bertiga begitu, tentu saja ia blingsatan.

Kembali kontol kumasukkan sedalam-dalamnya ke toroknya.

''Ahhhhhh, nikmaattttnya Gusss!!!'' rintihnya.

Gerakanku kini semakin kencang mengimbangi geliat tubuhnya, apalagi ketika pantatnya terangkat-angkat seakan-akan menginginkan kontolku masuk lebih dalam lagi. Kuletakkan kedua tanganku di bawah pinggulnya dan agak kuangkat pantatnya hingga hunjaman kontolku semakin dalam.

Kedua pahanya melingkari pinggulku dengan ketat.

''Kuat benar perempuan Sunda ini, jepitannya maut'' batinku.
''Ahhhh, Guss... Aku dapat...... oooooouuugghhhh... sshshhhhh'' jeritnya sambil menyorongkan pantat dan pinggulnya ke arah pahaku sehingga kedua kemaluan kami begitu rapat menyatu, seakan tak dapat dipisahkan lagi.
''Ya sayang, sama-sama, aku juga dapet niccchhh... Akkkkhhhh...'' geramku sambil menancapkan kontol hingga ke pangkalnya.

Kurasakan mpot-mpot ayam di dalam toroknya meremas-remas kepala kontol dan denyutan dinding toroknya begitu hebat menjepit kulit batang kontolku.

Kuhentakkan beberapa kali kontol sedalam-dalamnya ke dalam torok Henny.

Dicky meremas dan menggigit mesra tetek Henny bergantian kiri dan kanan, sedangkan Anna tak melepaskan bibir Henny dari pagutan mautnya.

Henny masih terengah-engah waktu kucabut kontolku.

Dicky yang melihat Henny terbaring mencoba mengarahkan kontolnya ke dalam torok Henny, tapi Henny menolak, ''Jangan dulu Dick, masih lemas nich! Kamu dengan Anna dulu dech!''
Dicky tampak agak kecewa, tapi Anna mencium bibir Dicky sambil menghibur, ''Benar sayang, kenapa kamu tidak denganku saja dulu, ntar kalau Henny sudah segar lagi, baru kau kerjai dia.''

Dicky tak menjawab. Setelah membalas ciuman Anna, ia menyuruh istrinya nungging dan menempatkan diri di belakang istrinya. Entah ia dendam atas kata-kata istrinya, ia tidak pakai aba-aba lagi, bukannya memasukkan kontolnya ke dalam torok, malah ia langsung mengarahkan kontolnya ke dubur Anna.

Anna yang juga sudah naik birahi melihatku main dengan Henny, menerima saja perlakuan suaminya. Namun ia menempatkan wajahnya di antara kedua pahaku yang berbaring di samping Henny. Sambil menikmati hunjaman kontol suaminya, ia mencium dan menjilati kontolku yang masih belepotan dengan lendir kawin temannya dan pejuku. Tanpa merasa jijik sedikit pun, ia melakukan hal itu, sambil menggenggam kontolku yang kembali tegang diperlakukan seperti itu.

Henny tersenyum melihat mereka dan melabuhkan ciumannya pada bibirku.

Aku meraba tetek Henny sambil menikmati kuluman bibir dan jilatan lidah Anna pada kontolku.

Henny kembali terangsang kuremas dan kurabai teteknya.

Tapi aku tidak memberikan peluang untuknya lagi, sebab sudah punya rencana sendiri. Kuangkat wajah Anna dari celah-celah pahaku dan kupindahkan ke torok Henny.

Semula Anna mau protes, tetapi ia mungkin belum mengerti apa yang akan kulakukan.

Aku bangkit dari posisi berbaring dan kutarik tubuh Anna agar berada pada posisi berlutut. Sambil tetap dikerjai suaminya dari belakang, aku ciumi bibir Anna dan kutempatkan tubuhku tepat di bawah tubuhnya. Kini toroknya tepat berada di atas kontolku. Kuarahkan kontolku ke toroknya sambil terus menciumi bibirnya.

Anna tersenyum, sekarang baru ia mengerti mengapa aku menaruh wajahnya tadi pada torok temannya.

Kini kontolku berada di dalam torok Anna, sedangkan kontol suaminya menancap di dubur Anna. Mulutku kuarahkan pada tetek Anna agar ia kembali dapat mencium dan menjilati torok temannya.

Henny kembali diserang oleh Anna yang mendapat keroyokan suaminya dan aku.

Anna semakin mendesah dan rintihannya seperti biasanya, yang cenderung ke arah jeritan, membahana ketika kontol suaminya semakin cepat masuk keluar duburnya, sedangkan kontolku masuk keluar ketika ia memaju-mundurkan tubuhnya di atasku.

''Aaaauuuuhhhhh, enakknnyaaa... Aduuuhhhh... nikmat !!!” keluar dari dalam mulutnya.

Suaminya memegang kedua pinggulnya sambil menghentakkan kontol sedalam-dalamnya sambil bertanya, “Mana yang paling enak, sayang? Punyaku di pantatmu atau punya Agus di torokmu?”

Anna menjawab di sela-sela rintihannya, “Ssshshh, aaaahhhhh... punyamu enak banget sayang, besar dan panjang, tapi jangan terlalu kuat, ntar pecah ususku, sayang! Ooouggghhhh, punyamu juga enak Gus, tidak terlalu besar, eeehhhsss, tapi mainnya lincah banget sichhhhh? Ohhhhhh...''

Dicky memperlambat laju pantatnya maju mundur di belakang pantat Anna.

Henny kudengar merintih makin kuat, mungkin sebentar lagi ia akan orgasme pula.

Dicky mengerang dan memeluk tubuh istrinya kuat-kuat dari belakang.

Ia rupanya sudah orgasme.

Anna, entah karena sudah sering kami kerjai berdua, semakin kuat melawan, agak lama baru orgasme.

Pada puncak orgasmenya, ia menggeram kuat-kuat dan memeluk punggungku dengan kuatnya sambil mencium bibirku dan menggigit lidahku, sementara teteknya diremas kuat-kuat oleh tangan suaminya dari belakang. Bersamaan dengan itu, jari-jarinya menekan itil dan torok Henny, dan kudengar Henny juga menjerit, ''Annnn, aduuhhhh aku dapet lagi sayang!!!!''

Aku sendiri, karena baru orgasme waktu dengan Henny, belum keluar lagi.

Dengan kontol yang mulai layu, Dicky menarik tubuhnya dari belakang tubuh istrinya.

Istrinya masih berbaring menelungkup di atas tubuhku sambil menikmati kontolku yang masih tegang dalam toroknya.

Dicky beringsut ke dekat Henny dan berciuman sambil berpelukan dengan Henny sambil menyaksikan istrinya masih menindih tubuhku di bagian bawah mereka

Torok Anna masih berdenyut-denyut menjepit kontolku. Tak lama kemudian ia mengangkat tubuhnya dari atasku dan menarik diriku berbaring di dekat suaminya dan Henny. Kami berempat berbaring bersisian sambil sesekali berciuman atau mengusap lembut tubuh yang lain.

Setengah jam kemudian Henny bangkit menarik tanganku dan Dicky dan mengajak kami berdua main lagi dengannya.

Rupanya ia penasaran melihat temannya kami serang berdua tadi.
Dicky tidak menolak. Ia berciuman dengan Henny sambil mengusap-usap tetek Henny dan merabai toroknya.

Aku masih berbaring menatap mereka berdua sambil mengelus-elus tetek Anna.

Kutoleh ke arah Anna seolah meminta persetujuan, Anna seakan mengerti maksud tatapanku, berkata, ''Ayo Gus, kamu ladeni lagi Henny. Ia juga kuat koq, jangan kuatir ia bakal pingsan ntar. Kamu udah tahu kehebatan memeknya tadi, kan?''

''Iya tuh, kayak ada cincin baja aja dalam memeknya, penisku hampir tak bisa bernafas dibuatnya'' kataku bercanda.
''Emangnya aku tukang besi, sampe memasukkan cincin baja ke dalam memekku?'' bantah Henny di sela-sela ciuman bibirnya dengan Dicky.

Kami berempat tertawa.

Aku masih berbaring ketika Dicky menempatkan tubuh Henny di atas tubuhku. Rupanya Dicky ingin aku mengerjai dubur Henny sambil ia memasukkan kontolnya ke dalam torok Henny.

Henny berjongkok di atas pinggangku, membelakangi wajahku dan perlahan-lahan menaruh kontolku tepat di atas duburnya.

Kurasa ia agak mengalami kesulitan, sebab agak lama barulah kontolku dapat memasuki duburnya.

''Aaauuuhhh, koq agak sakit An? Waktu kamu masukkan penis buatan koq tidak sesakit ini?'' tanyanya pada Anna.
''Penis buatan kan lebih kecil daripada kontol Agus, sayang! Coba kamu nikmati, ntar lagi bakalan enak deh, dijamin halal'' katanya.

Henny tidak menjawab, desah kesakitan yang keluar dari mulutnya berganti dengan rintihan nikmat, agaknya ia mulai merasakan kenikmatan akibat masuknya kontolku ke dalam duburnya. Sejenak kami berdua merasakan posisi tersebut.

Anna kulihat berlutut di sebelah kiri kepalaku, meremas-remas tetek Henny sambil memberikan toroknya kukerjai.

Dicky mendekati Henny dan menempatkan kontolnya ke torok Henny. Maka mulailah episode baru seperti yang dialami Anna tadi, dengan pemain utama yang berbeda, yaitu Henny.

Henny melenguh pelan waktu kontol Dicky yang agak besar melesak ke dalam toroknya.

''Ehssshhhh, pelan-pelan Dick, penismu jumbo sich!'' desisnya disertai tawa ringan Anna mendengar gurauan temannya terhadap kontol suaminya, ''Emangnya ikan lele, Hen?''

Desahan nikmat Henny bercampur erangan Dicky dan aku.

Anna belum terdengar mengerang, mungkin karena toroknya belum tuntas kukerjai.

Kedua tangan Henny bertumpu ke belakang menahan tubuhnya, sedangkan Dicky terus memasuk-keluarkan kontolnya ke dalam toroknya, sementara kontolku dari bawah berada pada posisi pasif bergantung pada kehendak Henny menaik-turunkan pantatnya agar duburnya masuk keluar menikmati hunjaman kontolku.

Kugeser letak kedua paha Anna agar berpindah tempat hingga kini posisinya berlutut tepat di atas wajahku, tubuhnya tepat berada di belakang Henny, menyangga tubuh Henny yang melengkung ke belakang di atas tubuhku.

Kulihat dari bawah, kedua tangan Anna meremas-remas tetek Henny.

Terangsang melihat ulahnya, kuarahkan kedua tanganku meremas-remas kedua tetek Anna.

Dicky kudengar semakin kuat menggeram, mungkin ia semakin dekat ke puncak kenikmatannya. Laju kontolnya kurasa semakin cepat di atas tubuhku, masuk keluar torok Henny. Desahan kami berempat bercampur, tetapi rintihan kedua perempuan itu mengalahkan suara Dicky dan aku.

Lendir kawin Anna semakin deras menetes ke dalam mulutku.
Apalagi sewaktu kujulurkan lidahku dalam-dalam ke liang toroknya atau ketika itilnya kuisap kuat-kuat.

''Sssshh, terusin Gus, yah, yahhhhh gitu sayang! Enakkkkhhh tuuuuhhh, ooouggghhh...'' rintihnya sambil meliuk-liukkan tubuh di atas wajahku.

Kupercepat isapan pada itilnya sambil memberi variasi dengan menjilat dan mengisap kedua labia toroknya bergantian, kiri kanan.

''Henn, aku mau keluar nih... Kamu sambut ya sayang?'' kudengar suara Dicky dan tiba-tiba ia mencabut kontolnya dan mengarahkannya ke mulut Henny.

Henny menyambut gembira kontol Dicky. Digenggamnya dengan tangan kanan batang kontol Dicky sedang tangan kirinya mengusap lembut buah pelir Dicky. Beberapa isapan mulutnya membuat Dicky tak kuasa lagi menahan semprotan pejunya dan ia mendorong kontolnya ke dalam mulut Henny.

Anna kulihat semakin kuat menggeliat dan mengerang.

Agaknya ia pun bakal menyusul suaminya.

''Ooohhh, Gus, aku orgasme sayang!'' erangnya sambil menggesek-gesekkan labianya ke wajahku.

Habislah wajahku dipenuhi oleh memeknya yang basah dengan sedikit rambut-rambut jembut halusnya. Kedua suami istri itu kemudian saling berpelukan dan berciuman sambil melihat kami berdua, Henny dan aku masih dalam posisi semula.

''Tukar posisi dulu Hen, biar kamu cepet sampai!'' saran Anna.

Henny bangkit berdiri hingga kontolku keluar dari dalam duburnya. Lalu ia menungging membelakangiku, berharap aku mengerjainya dengan doggy style.

Aku berdiri di belakang tubuhnya, mengusap-usap pahanya yang putih mulus dan dengan perlahan-lahan memegang kedua pangkal pahanya dengan kedua tanganku.

''Lho, mau pakai gaya apa Gus?'' tanyanya penasaran.
''Tenang saja, sayang, pokoknya nikmati saja!'' kataku sambil mengangkat kedua belah pahanya mendekati pinggangku dan kuarahkan kontolku ke dalam toroknya.

Diperlakukan begitu olehku, kedua tangannya hampir tak kuat menahan tubuhnya, ia menahan tubuh bagian atasnya dengan kedua siku tangannya sedangkan toroknya mulai disusupi oleh kontolku.

Dengan doggy style yang divariasi begini, membuat tusukan kontolku pada itil dan liang kawinnya semakin maksimal, dan desahan Henny berganti menjadi jeritan-jeritan kecil penuh kenikmatan, ''Ahhh, nikmat sekali An! Pinter banget temanmu ini memberi kenikmatan padaku?''

Anna hanya tersenyum memandangi Henny.

Suaminya Dicky duduk bersandar di punggung ranjang menatap kelakuan kami.

kontolku masuk keluar torok Henny semakin kuat. Kedua belah pahanya kutarik dan kudorong makin cepat hingga kontolku mendapat tekanan yang hebat ketika kutarik kedua pahanya, tetapi ketika kudorong ke depan, denyutan toroknya seolah-olah tak rela ditinggalkan kontolku. Dengan beberapa kali hentakan, kuhantarkan Henny ke puncak kenikmatan birahinya.
Teriakan panjangnya terdengar, tetapi dengan cepat mulutnya disumpal oleh mulut Anna yang begitu lincah memagut, ''Auuuggghhhh, mmmppppfff... Aaahhh.''

Kami berempat berbaring sambil meredakan nafas yang terengah-engah.

Aku masih belum orgasme lagi sementara mereka bertiga sudah mendapatkan orgasme barusan.

Rasa kurang puasku agaknya dipahami Anna yang tahu bagaimana daya tahanku, sebab ia selama ini sangat tahu bagaimana cara memuaskanku.

''Kalian berdua di sini dulu, ya? Aku mau berduaan dengan Agus dulu'' katanya sambil menarik tanganku dan turun dari ranjang.
''Wah, ada rahasia apa nih Dick, koq kita berdua tidak diajak ya?'' goda Henny sambil melihat ke arah Dicky.

Dicky hanya mengangkat bahu sambil menarik tangan Henny agar mendekati dia. Dicky memeluk tubuh Henny sambil mencium bibirnya dengan lembut.

Henny membalas dan mereka kembali terlibat dalam ciuman yang memabukkan, tak peduli lagi terhadap Anna dan aku.

Dengan bertelanjang, Anna menarik tanganku. Kami berdua melangkah ke ruang tengah. Anna mengajakku ke arah sofa, tapi tidak untuk duduk, melainkan menempatkan tubuhnya di atas sandaran sofa dengan kaki kanannya naik mengangkangi sandaran sofa, sedangkan kaki kirinya menapak ke lantai.

Ini salah satu variasi dari doggy style yang juga merupakan salah satu posisi favoritnya.

Perlahan-lahan kugesekkan kontolku ke toroknya dari belakang.
Masih lembab kurasakan toroknya.

''Masukin Gus, ayo!'' pintanya.

Kumasukkan kontolku makin dalam ke toroknya. Beberapa tusukan yang kulakukan membuat Anna merintih, tidak hanya mendesah. Itu akibat tekanan kontolku pada itil dan dinding toroknya.

''Lebih cepat lagi, sayang!!!'' rengeknya manja.

Kuikuti permintaannya dengan semakin mempercepat laju pantatku maju mundur, sehingga penisku makin cepat masuk keluar toroknya. Kedua tanganku kujulurkan ke depan merabai kedua teteknya, yang kiri berada di sebelah kiri sandaran sofa sedang tetek kanannya berada di sebelah kanan sandaran sofa. Remasan tanganku pada kedua teteknya ditambah tusukan kontolku membuatnya makin terangsang hebat. Apalagi ketika tubuhku kutempatkan tepat di atas punggungnya sambil meremas dan menusuk, kujilati punggungnya dan sesekali menggigit lembut pundaknya.

Rintihan Anna semakin menaik dan geliat pinggulnya semakin kuat, ''Guuusss... aaaahhhhh... enaknyaaa... Aku dapat lagiiiii sayangggg...''

Aku ingin bersamaan mencapai puncak persetubuhan, sehingga berusaha mengejar dirinya dengan semakin kuat menggerakkan kontolku di dalam toroknya yang semakin kuat menyedot kontolku. Denyutan dinding toroknya membuat kontolku sampai pada puncak aksinya dan dengan suatu erangan kenikmatan, kutusukkan kontolku sedalam-dalamnya sambil memeluk tubuh Anna dan meremas teteknya.

kontolku merasakan kenikmatan yang hebat sewaktu kepala kontolku kubenamkan dalam dan membiarkannya di dalam toroknya.
Kedutan-kedutan halus kurasakan pada kepala kontolku, hingga rasanya aku tak lagi menjejak bumi.

''Plok, plok, plok, plok'' kudengar suara tepukan dua pasang tangan.

Rupanya Dicky dan Henny sudah berdiri tinggal beberapa meter dari kami dan melihat kami berdua main.

''Ada acara nambah nich yee?'' gurau Henny sambil mendekati kami dan bersama-sama Dicky duduk di sofa dekat kami.

Aku tersenyum mendengar kata-kata Henny. Beberapa saat kemudian kucabut kontolku dan berdiri lalu mengambil tempat duduk di dekat mereka.

Anna lalu menyusul hingga kami berempat duduk di sofa dalam keadaan masih bertelanjang bulat.

''Aku jadi pengen lagi nih Dick. Gimana, bisa bantu aku nggak?'' tanya Henny pada Dicky.
''Sepanjang bisa kulakukan, silakan tuan putri'' sambut Dicky dengan gaya seorang hamba terhadap tuan putrinya.

Henny lalu berdiri dan mengalungkan kedua lengannya ke leher Dicky, sambil mencium bibir Dicky ia berbisik pelan tanpa dapat aku dan Anna dengar apa yang ia bisikkan.

Kami hanya tersenyum melihat ulah Henny.

Setelah beberapa saat mereka berciuman sambil berpelukan dalam keadaan berdiri, tiba-tiba kami amati Dicky berjongkok dan memegang pergelangan kaki Henny lalu membalikkan tubuh Henny hingga kini kedua tangan Henny bertumpu ke lantai sedangkan kedua kakinya berada di atas dipegangi oleh kedua tangan Dicky pada bagian pergelangan kakinya.

''Posisi 69 dimodifikasi'' bisik Anna perlahan.
''Asyik juga tuch. Kapan-kapan kita coba ya, Gus?'' sambungnya.

Aku mengangguk sambil menatap lekat-lekat pada Dicky dan Henny.

Sambil bertumpu pada kedua tangannya yang ada di lantai, kepala Henny bergerak-gerak mendekati pangkal paha Dicky mencari kontolnya. Lalu lidahnya mencium dan menjilati kontol Dicky.

Dicky sendiri tidak tinggal diam, diperlakukan demikian, ia tak kalah ganasnya, lidahnya terjulur ke torok Henny yang ada tepat di depan wajahnya. Keduanya saling mencium, menjilat dan mengisap kemaluan yang lain dalam posisi enam sembilan, namun dalam posisi si pria berdiri, sedangkan si perempuan berada pada posisi terbalik dengan kedua tangannya bertumpu di lantai.

Anna bangkit berdiri mendekati mereka berdua. Ia mendekati belakang tubuh Henny dan menciumi pantat Henny. Kadang-kadang mulutnya bertemu dengan mulut suaminya. Mereka berciuman dan sesekali sama-sama menjilat torok Henny. Lubang dubur Henny tak luput dari jilatan lidah mereka berdua. Henny benar-benar dikerjai habis-habisan oleh kedua suami istri itu. Rintihan Henny tak membuat mereka menghentikan aksinya, bahkan semakin liar mencium, menjilat dan jari-jari Anna turut bekerja masuk keluar torok dan dubur Henny, hingga tak kuasa lagi Henny pun meraung mencapai titik kenikmatan birahi tertinggi.

Entah bagaimana cara mereka mengerjai Henny, tapi aku terkejut juga sewaktu melihat Henny menjerit, sebab dari toroknya kulihat cairan muncrat beberapa kali.

''Mungkin karena ia benar-benar sampai kepada kenikmatan birahi yang tak terkira hingga air seninya turut keluar bersamaan dengan cairan kawinnya'' pikirku.

Dan kuingat kejadian yang suka dialami Anna kalau main sampai begitu hebatnya denganku.

Dicky mengangkat dan meletakkan tubuh Henny di sofa panjang tepat di samping kiriku.

Anna mengambil tempat di sebelah kananku, sedangkan Dicky duduk di sebelah kiri Henny. Beberapa ciuman didaratkan Dicky pada bibir Henny. Anna tak kalah buas dengan suaminya, memagut bibirku dengan lahapnya sambil jari-jarinya mengelus-elus dadaku.

Henny sendiri mengelus-elus kontolku sambil terus berciuman dengan Dicky.

Aku melirik ke jam dinding, menunjukkan pukul 02.30.

Tiga jam sudah kami berempat melakukan hubungan seks gila-gilaan sejak main kartu tadi.

Setelah mengaso beberapa saat, Dicky kembali terangsang sebab elusan jari-jari Henny pada kontolnya membuat kontolnya kembali tegang.

Bertelekan pada sofa kecil tanpa sandaran, dengan sebelah kaki menekuk, Henny dihajar dari belakang oleh Dicky.

Melihat mereka, Anna tak mau ketinggalan. Ia memintaku melakukan hal yang sama dalam arah yang berlawanan, sedemikian rupa hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Henny.

Aku menyetubuhi Anna dari belakang, sedang suaminya, Dicky, menancapkan kontolnya ke torok temannya, Henny.

Dicky dan aku makin terangsang dan mempercepat laju permainan kami manakala melihat Henny dan Anna berciuman dengan mesranya sambil tangan mereka bermain meremas-remas tetek satu sama lain.

Dicky tak lama kemudian orgasme dan menarik diri dari arena pertempuran, namun kedua perempuan itu belum mencapai puncak kenikmatan persenggamaan lagi.

Kubaringkan tubuhku di karpet dan meraih tubuh Henny agar menindih tubuhku.

Dengan posisi menduduki perutku berhadapan denganku, Henny memasukkan kontolku ke dalam toroknya lalu mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku.

Anna yang melihat permainan kami berlutut di samping kami berdua.

Kuraih pahanya agar mendekatiku, dan kutempatkan toroknya tepat di atas wajahku.

Dengan aku berbaring di bawah tubuh mereka berdua, kontolku menancap dengan mantapnya di dalam torok Henny, sedangkan torok Anna kucium dan jilat semakin gencar.

Permainan bertiga kami semakin hangat ketika kedua perempuan itu saling berciuman. Sambil berciuman, Henny meremas-remas tetek Anna dan mengelus-elus pentilnya.

Tak mau ketinggalan aksi, Anna pun meremas-remas tetek temannya, bahkan sesekali menarik-narik pentilnya hingga mata Henny membeliak-beliak menahan nikmat.

Gerakan Henny semakin buas naik-turun di atas perutku.
Kusambut gerakannya dengan sesekali menaik-turunkan pinggul hingga kontolku benar-benar masuk sedalam-dalamnya ke toroknya.

Anna membantu aksiku dengan merabai itil temannya pakai tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terus meremas tetek Henny dan memilin-milin pentilnya.

''Uuuhh, oooohh... Sssshhhh... Gila kamu An, diapain klitorisku?'' desahnya sambil terus menarik-turunkan tubuhnya dan meremas-remas tetek Anna.

Diserang dari dua jurusan seperti itu, membuat Henny makin kencang menggeliat-geliatkan tubuhnya dan dengan satu lengkingan kuat, ia mencapai orgasme.

Dengan lincahnya, Anna memagut bibir temannya kuat-kuat dan memegang kedua tetek Henny dengan remasan yang amat kuat, sehingga kedua pentilnya kulihat menyembul begitu indah dan runcing.

Lengkingan Henny berubah menjadi rintihan ketika Anna mencium bibirnya dan menyedot pentil teteknya secara bergantian dengan gerakan yang cepat, ''Ooohhhh, ssss... Ahhhhh... ooouuggghhhhh... Annnn......''

''Luar biasa kedua perempuan ini, tak kenal lelah. Pantas Dicky suka kewalahan melayani istrinya yang begini kuat main seks'' kataku dalam hati.

Anna kemudian menggeser tubuh Henny agar bangkit berdiri. Anna kemudian menempatkan tubuhnya di atas perutku, seperti posisi yang barusan dilakukan temannya dan menarik tubuh Henny agar berganti dengannya.

Diserang dari dua jurusan seperti itu lagi, membuat kontolku terus tegang dan kembali memasuki torok yang berbeda.

Kini torok Anna dengan sedikit rambut-rambut jembut halusnya mendapat giliran untuk kuhantarkan ke gerbang kenikmatan birahi. Torok Henny yang masih basah kuyup dan tetesan lendir kawinnya di sela-sela pahanya, kujilati dengan lembut dan kumasukkan lidahku ke dalam toroknya, menelan seluruh lendir birahi yang masih tersisa di dalam.

Anna bergerak naik turun di atas perutku, tak ingin kalah aksi dengan temannya barusan, ia pun menggeliat-geliatkan tubuhnya sedemikian rupa dengan gerakan erotis, hingga kontolku kurasa mendapatkan remasan yang kuat dan denyutan yang luar biasa di dalam toroknya. Sesekali ia menghentikan gerakannya dan berkonsentrasi pada toroknya yang melakukan gerakan menyedot dan mengisap kontolku.

Denyutan dinding toroknya begitu nikmat membuatku seakan-akan terbang di angkasa.

Rupanya ia ingin menunjukkan kebolehannya dibandingkan temannya tadi.

Henny tersenyum melihat aksi temannya dan meremas-remas tetek Anna. Sesekali Henny menampar ringan pantat Anna, sehingga Anna memekik-mekik, ''Ahhh... Ooohhh... terusin Hen...... oooohhh... ssssssshh... adddduuuhhhhh... nikmaatttt... aaahhhhh...''

Menyaksikan perbuatan kedua perempuan di atasku, membuatku tambah bersemangat.

Kuhentakkan pinggul dan perutku kuat-kuat ke atas, hingga tubuh Anna tersentak ke atas, ''Oooouuggghhh...... enak Gussss... Oooohhhh... sssshhh...'' desisnya seperti orang kepedasan.

Remasan Henny pada tetek Anna membuat Anna semakin kuat menggeliat-geliatkan tubuhnya dan kembali ia menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku.

Sementara itu, jilatan dan isapan bibir dan lidahku semakin ganas mengerjai torok dan itil Henny. Sesekali lubang duburnya kukait-kait dengan lidahku, hingga Henny pun kembali merintih.

Merasakan rangsangan pada toroknya, membuat Henny kembali menciumi bibir Anna dengan kuat. Henny dengan sisa-sisa kekuatannya mencoba bertahan, tetapi dengan isapan bibirku dan jilatan lidahku, membuatnya tak lama kemudian kembali orgasme.
''Aaaahhhh... Gus, aku dapat lagiiiii sayangggg!'' rintihnya.
''Hebat juga, bisa berturutan dalam waktu berdekatan, ia capai kembali puncak kenikmatan birahi'' batinku.

Ia mencoba menarik kedua pahanya dari serangan mulut dan lidahku, tetapi kutahan kedua pahanya dengan tanganku sambil meremas-remas teteknya.

Anna yang melihat temannya sudah orgasme lagi, membalas ciuman Henny dan membelai-belai punggung Henny, meremas-remas pantat dan juga tetek temannya.

kontolku yang dikerjai Anna semakin tak kuasa membendung aliran yang akan keluar.

''Ann... uuuuhhh... aku mau keluar, sayanggggg!!!'' erangku sambil menggerakkan pinggulku ke kiri dan kanan.
''OK sayang, kita bareng ya? Aku juga mau dapet nihhh... Ayo tancap yang kuat, oooohhhhh... uuuuhhh... mmmmfffhhhhhh...... Ooooouuugggghhhh...'' rintihan Anna berubah menjadi jeritan memenuhi ruangan itu.

Kurasakan aliran pejuku keluar dengan derasnya ke dalam torok Anna.

Anna pun mencapai kenikmatan hingga tubuhnya melengkung ke belakang disertai serangan bibir dan lidah Henny pada teteknya. Agak lama Anna melakukan itu, denyutan liang kawinnya meremas-remas kontolku masih terasa begitu kuat, ketika Henny menarik dirinya dari atas wajahku dan menciumi bibir temannya. Kedua perempuan itu berciuman dengan mesra sambil mengelus-elus tubuh yang lain secara serempak. Anna mangangkat tubuhnya dan mengeluarkan kontolku dari dalam toroknya, lalu seolah-olah sudah sepakat, keduanya menundukkan muka di pangkal pahaku dan menciumi kontolku. Jilatan lidah keduanya membuat aku semakin mengawang.

Kedua tanganku kugunakan untuk meremas-remas tetek kedua perempuan itu.

Rasa geli bercampur nikmat memenuhi diriku.

Lidah yang satu bergantian menjilati kepala kontolku. Batang kontolku tak luput dari sasaran mereka. Bahkan buah pelirku turut dikulum dimasukkan ke dalam mulut mereka secara bergantian. Henny yang pertama-tama kulihat memasukkan kontolku ke dalam mulutnya hingga masuk sedalam-dalamnya. Sekitar tiga menit ia melakukan itu, lalu menyorongkan kontolku ke mulut Anna.

Anna menyambut dan menciumi kepala kontolku, lubang kencingku dijilatinya dan dengan lahapnya ditelannya kontolku hingga ke pangkalnya, persis seperti yang dilakukan temannya barusan. Setelah puas menelan kontolku secara bergantian, mereka berciuman sambil memegangi kontolku.

Permainan itu mengakhiri sesi kami saat itu.

Sebab setelah sama-sama orgasme, kedua perempuan itu mengajak kami masuk kamar lagi dan akhirnya kami berempat tidur dalam keadaan telanjang hingga pukul 9 pagi.

Paginya kami mandi berempat dan sempat saling berciuman di kamar mandi, tetapi tak ada permainan panas lagi di situ, sebab perut kami sudah lapar minta diisi.

Anna hanya memanaskan nasi dan menggoreng telur mata sapi untuk sarapan kami berempat, lalu kami berempat duduk-duduk di teras belakang membahas permainan kami semalam sambil tertawa-tawa.

Begitulah pengalamanku main berempat dengan Dicky, istrinya Anna dan teman istrinya, Henny.

Sebelum hamilnya Anna, pernah ia mengajakku menginap di rumahnya waktu suaminya bertugas ke Hong Kong selama 2 minggu.
Waktu aku menginap itu, temannya Henny datang beberapa kali sehingga kami bertiga melakukan hubungan seks panas.

Dua hari menjelang pulangnya Dicky, Henny menginap lagi bersama kami, tetapi kali ini ia tidak sendiri, melainkan membawa seorang temannya, Arie, seorang gadis lajang peranakan Madura Ambon, orangnya tomboy, tidak cantik, tetapi dengan kulitnya yang hitam manis, dengan sedikit kumis tipis di atas bibirnya, membuat dirinya menarik, walaupun teteknya paling kecil dibandingkan Anna dan Henny.

Mula-mula aku tak begitu senang karena melihatnya ngomong ceplas-ceplos, tetapi begitu kenal semakin lama, enak juga ngobrol dengannya.

Malamnya ketika habis makan, ketiga perempuan itu mengajakku nonton film blue berempat.

Film yang mereka putar adalah film lesbi, tetapi menjelang akhir film tersebut, dipertunjukkan kehadiran seorang pria yang dikeroyok tiga orang perempuan.

''Wah, apa ini pertanda baik atau buruk?'' pikirku, harap-harap cemas.

Pengen main dengan Henny dan Anna seperti biasanya, tetapi malu ada teman mereka.

Lagi-lagi hal itu merupakan bagian dari rencana Henny dan Anna untuk mengerjaiku, sebab Arie adalah teman Henny, juga bukan lesbian tulen, tetapi berulang-kali patah hati oleh perlakuan pria, hingga tak pernah berniat lagi untuk menikah. Kehadiran Arie ini membuka babak baru petualangan seksku, sebab ternyata ia sangat ahli dalam bermain seks, bahkan dengan alat bantu kontol buatan, ia mampu membuat Henny dan Anna menjerit-jerit nikmat.

Hebatnya lagi, mereka bertiga berhasil memperdaya diriku untuk mengajak main seks misterius, di mana kedua mataku ditutupi kain hitam, lalu kedua kaki dan kedua tanganku dipentang lebar-lebar dan diikat dengan tali ke empat sudut ranjang.

Aku yang memang penasaran akan pengalaman baru, mau saja diperlakukan begitu.

Arie dengan kontol buatannya juga mampu menyetubuhi Henny dan Anna secara bergantian sambil memintaku merojok torok dan duburnya dari belakang.

Sayang, ketika Dicky pulang, Arie sudah kembali ke Australia, sebab ia mendapat kesempatan untuk meneruskan ke jenjang master, sehingga hanya cerita yang ia peroleh dari kami walaupun rasa penasaran membuatnya begitu ingin bertemu dan main bersama Arie.