Showing posts with label Cerita Dewasa Pesta Seks. Show all posts
Showing posts with label Cerita Dewasa Pesta Seks. Show all posts

Hallo para mania seks, sebelumya saya ucapkan selamat datang di blog Cerita Dewasa ini. Posting blog Cerita dewasa ini diawali dengan judul Berbagi ngentot dengan sahabat, ilustrasi nya tentang dua orang cewek usia kuliah aktif berpesta seks di sebuah kamar kontrakan. Yu, kita baca sama sama Cerita Dewasa | Berbagi Ngentot Dgn Sahabat, Kategori : Cerita Pesta Seks.

Di sebuah kamar kontrakan yang terlihat cukup lebar, seorang cewek cantik nampak sedang terduduk di atas ranjang. Tangan kanannya nampak sedang meraba-raba memeknya sendiri yang permukaannya tertutupi oleh bulu-bulu tipis berwarna hitam. Memang saat ini bagian bawah tubuh cewek tersebut tidak tertutup apapun lagi, karena celana pendek coklat maupun celana dalam putih polos yang semula dikenakannya kini tergeletak di entah ada dimana. Sedangkan tangan kiri cewek tersebut juga terlihat sibuk memilin-milin sendiri puting payudara kirinya. Tubuh atas cewek tersebut memang saat ini masih terbalut kaos ketat berwarna kuning, namun posisi bra putih yang dikenakakannya kini sudah bergeser dari posisinya semula.

Cewek cantik itu bernama Reina. Ia berumur 18 tahun dan baru saja menginjak semester 1 di salah satu perguruan tinggi yang cukup TOP di kota tersebut. Saat ini Reina memang sedang dilanda horny berat karena memang sebentar lagi dirinya akan mendekati masa menstruasi. Masa-masa seperti ini bagi seorang cewek seperti Reina memang menjadi saat dimana libido sedang tinggi-tingginya. Sebagai seorang jomblo, tentunya Reina tidak memiliki pasangan yang bisa ia ajak menyalurkan hasrat birahinya. Maka dari itu masturbasi pun menjadi satu-satunya cara yang paling efektif sebagai penyaluran birahinya saat ini.

Kedua mata Reina nampak terpejam mencoba untuk menghayati rabaan demi rabaan yang ia lakukan sendiri pada tubuhnya. Sesekali desahan kecil terdengar dari mulut cewek cantik tersebut, ketika rabaannya menyentuh puting dan klitorisnya sendiri. Namun ketika semua usahanya ini hampir memperoleh” hasil”, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan pintu kamar kontrakan Reina.


“Tok… tok… tok…!”.
“Sial!”, runtuk Reina di dalam hati. “Kenapa mesti di saat seperti ini ada tamu yang datang ke kontrakanannya, benar-benar sial!”, runtuk cewek itu lagi.
“Tok… tok… tok…! Rei…!!”, suara ketokan di pintu kenbali terdengar, kini ditambah dengan suara teriakan seorang cewek.
“Sebentar…!”, teriak Reina.
Dengan segera cewek cantik tersebut mengancingkan kembali kaitan branya dan mengenakan celana dalamnya.
“Ya, sebentar!”, teriak Reina lagi sambil merapikan posisi celana pendek dan kaosnya.
Setelah merapikan pakaian dan sedikit mengusap-usap wajahnya di depan cermin yang terlihat sedikit memerah akibat menahan nafsu, cewek itu pun kemudian membuka pintu.
“Haii… lama amat sih bukanya?”, di depan pintu berdiri seorang cewek yang tak kalah cantik jika dibandingkan dengan Reina. Cewek itu seumuran dengan Reina dan merupakan temen satu kampusnya. Cewek itu bernama Evi.
“Eh iya, sorry tadi lagi di kamar mandi sih”, Reina mencoba menutupi aktifitas yang tadi ia lakukan di dalam kamar.
Ternyata Evi tidak sendiri. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berwajah tampan. Rambut laki-laki itu tercukur rapi. Dari penampilannya terlihat ia cukup perlente. Mungkin ia adalah pacar Evi, pikir Reina dalam hati.
“O iya, ini Rico cowok gue”, Evi memperkenalkan laki-laki yang berada di belakangnya tersebut.
“Rico”, laki-laki itu kemudian menyodorkan tangan kanannya.
Reina pun membalasnya, “Reina”. Kedua tangan mereka pun saling berjabatan tangan.
“Kok tumben nih? Ada apa Vi?”, tanya Reina kepada sahabatnya.
“Gue mau ngomong bentar ama lu dong”.
Reina mengerutkan keningnya.
“Ric, lu tunggu di sini aja dulu ya”, Evi berucap ke arah laki-laki tersebut. Laki-laki itu pun hanya mengangguk.
Lalu Evi menarik tangan Reina untuk masuk ke dalam kamar kontrakannya. Di dalam mereka duduk di atas ranjang.
“Ada apa sih Vi?”, Reina kembali mengulangi pertanyaannya.
Evi menetakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menandakan agar Reina menurunkan volume suaranya. Ia pun kemudian berbisik, “Gini Rei, gue mau pinjem kamar lu bentar dong”.
“Ah? Buat apa?”, bisik Reina penuh kecurigaan.
“Gue mau gituan ama cowok gue”, Evi berkata sambil memberikan isyarat tangan dengan memasukkan ibu jarinya diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Reina benar-benar tersentak melihat isyarat tangan sahabatnya tersebut. Tanda tersebut sering ia lihat setiap kali Evi ingin menyamarkan kata “making love”. Bukan tanda itu yang mengejutkan Reina, karena ia tahu benar kalau memang sahabatnya ini sudah sering melakukan perbuatan terlarang tersebut dengan pacar-pacarnya. Yang membuatnya terkejut adalah kenapa ia memilih kamar kontrakannya ini untuk berbuat mesum.
“Gila lu ya? Nggak boleh!”, bentak Reina sambil tetap berbisik.
“Please Rei, gue udah nggak tahan nih, memiaw gue udah basah banget”.
“Ngapain lu nggak cari hotel aja?”.
“Nggak sempet, ntar lagi cowok gue musti ke bandara, ini juga sama sekali nggak direncanain kok tiba-tiba dateng gitu aja waktu dia grepein gue di bioskop”.
“Aduh gimana ya?”, sebenarnya Reina ingin mengatakan tidak, namun melihat ekspresi wajah Evi yang begitu memelas ia pun menjadi bingung harus memberi jawaban apa.
“Please Rei, cowok gue cuma sehari ini aja bisa transit di sini, ntar malem dia musti keluar kota lagi jadi waktu gue ama dia cuma bentar banget nih”.

“Kalau ntar ada yang liat gimana? Kan gue malu juga tiba-tiba di kamar kontrakan gue ada cowoknya?”, tempat kontrakan Reina ini memang hanya menerima penghuni kontrakan wanita, sehingga aturan tentang menerima tamu laki-laki memang diatur sedikit ketat.
“Sepi gini kok? Lagian gue nggak bakal lama kok, sueeer!!!”, Evi mengacungkan jari tengah dan jadi telunjuknya bersamaan.
Reina tambah bingung mendengar kata-kata sahabatnya ini.
“Lu tu bener-bener gila tau nggak?”, ucap Reina masih tetap berbisik.
“Please Rei, please…”.
Reina kembali mengerutkan keningnya, menandakan kebingungan yang sedang melanda dirinya saat ini.
“Please Rei”, kembali Evi memelas.
“I… iya deh”, ucap Reina ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa kata-kata persetujuan tersebut bisa keluar dari mulutnya.
“Thanks Rei, lu emang temen gue yang paling baik”.
Evi langsung memonyongkan bibirnya hendak mencium sahabatnya ini, namun dengan segera Reina menghentikan perbuatannya tersebut. “Horny sih horny, tapi lu jangan sosor gue kayak gitu dong!”.
“Hehehe… sorry abis kalo lagi horny gue emang suka lupa diri sih”.
“Trus gue musti kemana dong?”, Reina kembali bingung. Tentu saja ia harus bingung, karena jika kamarnya sedang “dipakai” oleh sahabatnya ini tentunya ia tidak bisa berada di tempat yang sama juga bersama mereka.
“Lu kemana kek, makan kek, nonton kek, nih gue kasi lu ongkontrakan deh”.
Evi mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya. Cewek cantik ini memang tergolong cukup beruntung untuk bidang keuangan. Memiliki orang tua seorang pengusaha sukses tentunya membuat isi dompetnya hampir tidak pernah kontrakanong, bahkan kalau tidak boleh dibilang berlebih.
“Hhhmm… kemana ya?”.
Reina nampak mengerutkan dahinya.
Melihat sahabatnya belum juga beranjak dari tempatnya, langsung saja Evi mengajukan protes, “Udah ah lu pikirin sambil jalan aja! Dah kebelet nih!”.
“Eh… iya… iya…”, Reina langsung beranjak dari atas ranjang, disusul kemudian oleh Evi.
Mereka berdua kemudian melangkah menuju pintu.
“Ya udah kalo gitu gue keluar bentar ya Vi”, Reina melambaikan tangan ke arah sahabatnya yang kini terlihat berdiri di depan pintu kamar kontrakannya.
“OK, ati-ati ya Rei”, Evi melempar sebuah senyum penuh makna, yang mana hanya mereka berdua yang mengerti.
Sebelum beranjak, Reina melempar senyum kecil juga ke arah laki-laki yang diakui sebagai pacar oleh sahabatnya tersebut. Laki-laki itu pun kemudian membalas dengan senyuman kecil pula. Lalu Reina berjalan menuju tempat parkir dimana semua sepeda motor para penghuni kontrakan terparkir
Setelah tiba di samping sepeda motornya, sekilas cewek cantik itu menengok kembali ke arah kamar kontrakannya. Tidak terlihat lagi Evi dan cowoknya disana. Bahkan kini pintu kamar kontrakannya sudah tertutup rapat. Evi memang pernah bercerita tentang cowok barunya, namun ia belum bertemu dengan pacar baru sahabatnya tersebut secara langsung. Apakah cowok ini yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut? Ia sama sekali tidak tahu.
Hampir beberapa menit Reina berdiri disamping sepeda motornya. Mengetahui kalau saat ini mungkin sahabatnya sedang bercinta di dalam kamar kontrakannya, justru membuat gairah di dalam dirinya yang tadi sempat muncul kini kembali bergejolak. Tak terasa vaginanya kembali berdenyut-denyut dan payudaranya terasa mengeras seperti yang ia alami beberapa menit yang lalu ketika melakukan masturbasi. Tiba-tiba di saat itu pula di dalam otak cewek cantik itu terbersit sebuah ide gila untuk mengintip kegiatan sahabatnya tersebut di dalam kamar. Tidak etis memang mengintip sahabat sendiri yang sedang bercinta, namun gejolak nafsu Reina yang sudah tidak bisa tertahan lagi menghilangkan semua pikiran waras di dalam otaknya.
“Rei, lu nggak boleh ngelakuin itu, itu sama aja lu itu mempermalukan sahabat lu sendiri!”, suara kata hati malaikat di dalam diri Reina berteriak-teriak di telinga kanannya.
“Halah… liat dikit emang kenapa? Itu juga kan kamar lu Rei? Siapa suruh ngent*t di kamar orang!”, di saat yang sama suara kata hati iblis di dalam dirinya pun juga tidak mau kalah terdengar menggema di telinga kirinya.
“Tetep nggak boleh Rei, lu harus menghargai privasi orang dong!”.
“Tai kucing tuh privasi! Sedeng asyik ngent*t gitu paling juga mereka nggak bakal sadar lu intipin Rei!”.
“Nggak boleh!”.
“Boleh!”.
Nggak bisa!”.
“Bisa!”.
Suara hati malaikat dan iblis kini terus menggema di dalam kepada Reina, seakan-akan mencoba memberikan “nasehat” jalan terbaik yang harus ia lakukan saat ini.
“Udah… udah… udah… pada bisa diem nggak sih?”, Reina menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berteriak di dalam batinnya. Kepalanya terasa mau pecah mendengar kata hatinya sendiri yang terus berteriak-teriak di dalam kepalanya secara bergantian. Setelah suara-suara itu tidak terdengar lagi di kepalanya, Reina menarik nafasnya panjang dan berdiam diri sesaat. Akhirnya cewek cantik itu pun memilih untuk mengendap-endap menuju kamar kontrakannya sendiri. Saat ini sisi iblis Reina pastilah sedang tertawa lantang penuh kemenangan.
Jika saja ada yang melihat Reina sedang berjalan mengendap-endap menuju kamar kontrakannya sendiri seperti saat ini, tentu akan menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan. Bersyukur sore ini tempat kontrakan Reina nampak begitu sepi, karena memang diakhir pekan rata-rata penghuni kontrakan kembali ke rumah mereka masing-masing untuk bersua dengan keluarga. Sedangkan untuk penghuni kontrakan yang tidak kembali ke rumah seperti Reina kini sebagian besar sedang melaksanakan aktifitas mereka masing-masing di luar kontrakanan. Reina sendiri masih berada di kontrakanannya karena kebetulan siang tadi ia harus mengambil kuliah tambahan sehingga akhirnya memilih tetap tinggal di kontrakanan.
Di depan jendela kamarnya, Reina mencoba mencari celah yang terbuka diantara tirai yang tertutup. Memang ada sedikit celah yang tersisa, namun tidak cukup lebar untuk bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Beberapa kali dari dalam kamar terdengar tawa cekikikan kecil dan suara desahan manja. Suara tawa itu pastilah suara Evi bersama pacarnya. Reina masih terus beruRei mendongak-dongakkan kepalanya di depan jendela, sampai tiba-tiba…
“Duaar!!!”, tirai penutup jendela tersebut tersibak dan muncullah wajah Evi dari balik jendela.
Wajah Reina langsung terlihat merah padam karena ketahuan mengintip.
Belum hilang rasa terkejut Reina, dengan santainya Evi menutup kembali tirai tersebut dan kemudian cewek cantik itu keluar dari kamar dengan tubuh hanya berbalut handuk hijau milik Reina.
“Daripada lu ngintipin gue, mending lu gabung aja”.
Reina begitu tersentak mendengar kata-kata sahabatnya tersebut. Saat ini ia merasa seperti tersambar petir puluhan ribu volt.
“Vi, nggak! Jangan!”, Reina berusaha bertahan ketika Evi menarik tangan kanannya untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar.
“Udah… hayo!”.
“Nggak Vi!”.
“Hayo dong…!”, Evi terus memaksa.
Setelah cukup lama saling menarik tangan masing-masing akhirnya Reina pun tidak kuat lagi melawan tarikan sahabatnya itu. Ia pun tertarik masuk ke dalam kamar.
“Aaakkhh…!”, begitu masuk ke dalam kamar Reina langsung berteriak dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Bagaimana tidak berteriak. Di atas ranjangnya kini terlihat seorang laki-laki sedang terduduk santai dengan hanya mengenakan kaos tanpa tambahan apapun lagi sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. Di bagian selangkangan laki-laki tersebut mengacung tegak sebuah batang yang berukuran sangat besar.
“Halah, gaya lu tu kayak baru pertama kali aja ngeliat tongkol hehe…”, Evi dengan santainya berkata seronok kepada sahabatnya tersebut setelah menutup pintu kamar.
Wajah Reina semakin memerah mendengar kata-kata Evi tersebut. Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya ini, karena penis bukanlah hal asing bagi mereka berdua. Namun dalam hal ini jelas berbeda. Laki-laki yang kini terbaring di ranjangnya jelas-jelas baru saat ini ia jumpai untuk pertama kalinya. Tentu akan sangat aneh apabila tiba-tiba saja di saat itu juga ia harus melihat penis laki-laki yang baru saja ia kenal tersebut.
Evi dengan santainya berjalan mendekati ranjang kemudian naik ke atasnya. Ia lalu mencium bibir laki-laki tersebut sambil memeluknya.
“Ric, Reina mau gabung bareng kita nih, boleh ya?”.
Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, “Boleh kok”.
Evi membalas dengan senyuman pula. Dikecupnya sekali lagi bibir pacarnya tersebut, kemudian beranjak turun dari ranjang dan kembali mendekati Reina. Reina sendiri masih terlihat berdiri mematung dengan ekspresi penuh kehampaan.
“”Ayo dong!”, kembali Evi menyeret tangan Reina mendekat menuju ranjang.
“Nggak Vi, gue nggak mau”.
“Halah, jangan malu-malu gitu ah! Norak tau…”.
“Nggak Vi, bener gue nggak bisa”, Reina terus berusaha bertahan.
Evi pun akhirnya hanya melengos dan melepaskan tangan Reina setelah tidak mampu memaksa kembali sahabatnya tersebut untuk mendekati ranjang.
“Ya udah, kalo gitu lu disini aja”.
Evi kembali berjalan menuju ranjang. Sebelum naik ke atas ranjang ia melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. Terlihatlah kini tubuh sintal itu hanya terbalut celana dalam putih beraksen garis-garis pink. Rupanya sebelum memergoki Reina tadi, mereka berdua sudah sempat melepaskan beberapa lembar pakaian yang mereka kenakan. Pakaian-pakaian tersebut kini ada yang tergeletak di atas ranjang ataupun di lantai kamar. Cewek cantik itu lalu merangkak naik ke atas ranjang dan kembali memeluk tubuh pacarnya.
“Lanjut yuk!”.
Mereka berdua pun berciuman panas sambil beradu lidah. Tangan Rico pun dengan cekatan meremas-remas payudara montok Evi. Keduanya begitu menikmati percumbuan mereka seolah-olah di dalam kamar hanya ada mereka berdua, tanpa memperdulikan kehadiran Reina di sana. Tak hanya meremas, kini puting payudara kanan Evi sudah berada sepenuhnya di dalam kuluman Rico. Evi pun akhirnya terpaksa remas-remas sendiri payudara kirinya karena tangan Rico saat ini sibuk mengobok-obok selangkangannya yang masih tertutupi celana dalam. Selangkangan yang sebelumnya telah basah itu pun kini nampak semakin basah.
“Aaahh… oooh…”, Evi sengaja mendesah sesensual mungkin sambil menatap ke arah Reina yang masih berdiri di dekat pintu. “Ooohh… aaah…”, kini Evi memasang ekspresi wajah penuh kenikmatan seolah-olah menikmati betul kuluman di payudaranya dan permainan tangan Rico di selangkangannya. Evi tersenyum kecil ketika melihat Reina yang sudah mulai nampak berdiri gelisah sambil menggesek-gesekkan kedua pahanya.
“Ntar Ric, gue mau ngelepas CD dulu nih”.
Rico pun menghentikan remasan tangannya, namun tidak kuluman mulutnya.
“Udah dong, berhenti bentar aja”, Evi berusaha melepaskan kuluman Rico di payudaranya yang sudah terlihat dipenuhi beberapa bercak-bercak merah.
Rico pun menurut, namun bukan berarti payudara montok itu bisa terbebas begitu saja. Di saat Evi berusaha melorotkan celana dalam yang dikenakannya, remasan tangan kanan Rico masih tetap bertengger di gundukan daging kenyal tersebut.
“Udah!”, ucap Evi setelah meletakkan kain mungil penutup selangkannya tersebut di sampingnya. Cewek cantik itu pun kini yang ganti angresif memeluk tubuh Rico dan mencium bibir laki-laki tersebut dengan ganas. Tak hanya itu kini jari-jari mungil Evi juga secara bersamaan dengan telaten mengocok-ocok batang penis Rico yang telah menegang.
Evi memang sengaja mengatur posisi tubuhnya agar menghadap ke arah Reina. Sambil berciuman dan bermain lidah, Evi tetap intens sesekali melirik ke arah sahabatnya tersebut. Kini Reina sudah tidak mampu lagi menutupi gairah birahi yang menyerangnya akibat melihat live show yang terjadi di hadapannya. Tangan Reina mulai bergerak merabai dadanya sendiri, sambil tetap menggesek-gesekkan kedua pahanya. Senyum Evi pun semakin lebar karena berhasil memancing gairah Reina.
“Ric, lu ML ama Reina dulu ya, ntar baru ama gue”, bisik Evi di telinga pacarnya.
“Dia kan tadi udah nggak mau Vi?”, sahut Rico ditengah remasan tangannya di payudara pacarnya tersebut.
“Udah, ntar gue yang ngatur deh”.
“Emang lu nggak cemburu Vi, gue ML ama temen lu?”.
“Nggaklah, kan gue yang nyuruh, lagian itung-itung sekalian gue ngasi bonus ke lu juga ke Reina”.
“OK deh, asal lu nggak apa-apa aja”.
Evi pun membuka kaos Rico sehingga kini mereka berdua pun telah benar-benar dalam keadaan telanjang. Kemudian setelah mencium bibir pacarnya tersebut, Evi pun beranjak turun dari ranjang dan kembali menghampiri Reina. Rico sendiri terlihat mengambil posisi terbaring santai di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
“Rei, ayo dong kita bareng yuk”.
“Nggak Vi”, kembali Reina menolak.
“Ayo dong, gue tau lu sekarang udah horny kan?”, desak Evi lagi.
“Gue malu Vi”.
“Napa musti malu? Kan ada gue disini?”.
“Iya sih…”.
“Rei, gue tau lu udah lama banget nggak ML sejak lu putus ama cowok lu, gue cuma mau bantu lu nyalurin birahi lu”.
“Tapi itu kan cowok lu Vi?”.
“Halah, lu nggak enak ama gue? Kan gue yang nyuruh lu? Cowok gue juga asyik-asyik aja kok, lagian kucing mana sih yang nolak kalo di kasi ikan? Hehe”.
Reina tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang dikatakan Evi tadi memang benar adanya. Sudah hampir setahun ia tidak lagi bisa merasakan hangatnya persetubuhan. Apalagi kini mendekati tanggal-tanggal krusial menjelang menstruasi, dimana gairah dan hormon kewanitaannya mulai memuncak tak terkendali. Ingin sekali rasanya ia melepaskan semua beban birahi di dalam dirinya ini dengan bercinta bersama seorang laki-laki. Tapi kalau dia harus menyalurkannya dengan cara bersetubuh bersama pacar sahabat baiknya sendiri, hal ini tentu sesuatu yang benar-benar di luar akal sehat. Namun di sisi lain, bukankah justru sahabat baiknya inilah yang memintanya untuk melakukan persetubuhan? Jadi siapakah sebenarnya yang gila dalam hal ini?
“Ayo Rei…”, Evi menarik tangan Reina dan kali ini cewek cantik itu nampak tidak melakukan perlawanan lagi.
Ketika kedua cewek itu berdiri di pinggir ranjang, Rico hanya tersenyum kecil ke arah Reina. Di dalam hati kecilnya, laki-laki tersebut cukup mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Reina. Dalam hal ini tentu ia sangat mensyukuri karena bisa memacari Evi yang memiliki fantasi sensual yang liar, sehingga sebentar lagi mungkin ia akan segera bisa menikmati tubuh sahabat pacarnya ini tanpa perlu melakukan perselingkuhan di belakang pacarnya.
“Ric, lu rangsang dikit Reina gih!”.
Rico pun berdiri dan mendekati Reina. Tubuh Reina terlihat bergetar ketika seorang laki-laki dalam keadaan telanjang bulat kini berlahan mendekatinya. Reina sempat melirik nakal ke arah batang penis Rico. Batang tegang itu terlihat sangat besar untuk membuatnya bergidik dan membuat selangkangannya terasa senut-senut. Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang akan menyerangnya jika batang besar itu harus masuk ke dalam dirinya.
“Vi…”, Reina memegang tangan sahabatnya, ketika Rico semakin mendekat.
“Udah, anggep aja Rico itu cowok lu”.
“Tapi Vi…”, belum sempat Reina melanjutkan kata-katanya Rico sudah keburu memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya.
Reina pun gelagapan dibuatnya, walaupun ia sama sekali tidak menolak bibir Rico yang kini terus menyerang bibirnya. Awalnya Reina terlihat kikuk, namun beberapa saat kemudian ia pun mulai membalas pagutan bibir Rico. Apalagi ketika kemudian cewek cantik itu merasakan sentuhan lembur Evi di pundaknya, Reina pun tidak malu lagi membalas permainan lidah Rico di mulutnya. Reina yang memang sejak semula telah terbakar nafsu birahi membuat Rico tidak perlu terlalu bekerja keras untuk membangkitkan sisi liar cewek cantik tersebut.
Evi sendiri kini masih berdiri di belakang Reina sambil meremas-remas payudara sahabatnya tersebut dari balik kaos. Kemudian dengan cekatan kedua tangan cewek tersebut masuk ke dalam kaos Reina. Berlahan jari-jari Evi bergerak membuka kaitan bra berwarna putih tanpa renda yang dikenakan sahabatnya. Kini remasan tangan Evi pun dapat langsung merasakan kelembutan dan kekenyalan payudara Reina.
Diserang dari dua arah seperti ini membuat Reina kian melambung. “Aaah… oooh…!”, cuma lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut cewek cantik tersebut, ditengah lumatan bibir Rico.
Saking terbelenggunya oleh nafsu membuat Reina sama sekali tidak melawan ketika Rico menggiringnya berbaring di ranjang. Bahkan saking terbuainya oleh cumbuan pacar sahabatnya tersebut, Reina sama sekali tidak menyadari kalau kini tubuh atasnya saat ini sudah sama sekali tidak tertutup apapun. Evi melemparkan kaos berikut dengan bra milik Reina sehingga kedua potong pakaian tersebut kini tergeletak di lantai. Hal ini membuat Rico menjadi leluasa mengulum dan menghisap kedua payudara milik Reina. Payudara cewek cantik itu memang tidaklah terlalu besar, tidak sebesar milik Evi, namun ukurannya pas untuk tubuhnya yang berukuran cukup mungil.
Ketika kedua payudara Reina kini sepenuhnya berada di dalam “kekuasaan” Rico, maka bibir lembut cewek cantik itu pun kini berganti menjadi milik Evi. Kedua cewek cantik tersebut terlihat begitu eksotis ketika saling mengulum, menjilat dan bertukar air liur. Mereka berdua sesungguhnya bukanlah lesbian, namun desakan birahi yang kini menguasai kedua cewek tersebut membuat mereka lupa kalau mereka sesungguhnya adalah makhluk sejenis.
Ketika kedua cewek itu terlihat asyik saling kulum dan saling jilat, di bawah sana ciuman Rico sudah merambat turun sampai ke perut Reina yang rata. Sambil tetap mencium pusar Reina, kedua tangan laki-laki tersebut terlihat memegang ujung celana pendek cewek cantik tersebut. Sesaat kemudian celana pendek itu telah melorot turun dan akhirnya terlepas. Rico kemudian menciumi kedua paha mulus Reina dan akhirnya ciuman tersebut bermuara di celana dalam putih cewek tersebut yang sudah terasa basah. Kain mungil tipis menerawang itulah yang kini hanya menjadi pembatas antara lidah Rico dengan vagina Reina.
“Hhhmm… hhmm…!”, hanya itu yang keluar dari mulut Reina yang kini sedang dicumbui oleh Evi. Cewek cantik itu harus beberapa kali menggerakkan pantatnya menahan geli akibat permainan lidah Rico yang beberapa kali menyentuh klitorisnya. Ini berarti celana dalam Reina sudah berhasil dienyahkan oleh laki-laki tersebut.
Reina benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bibir dan payudaranya terus menerus dipermainkan oleh Evi, sementara di saat yang bersamaan vagina dan klitorisnya jura terus dipermainkan oleh Rico. Terasa sekali kalau di bawah sana sudah semakin basah dan becek, sedangkan payudara dan putingnya sendiri terasa demikian menegang. Permukaan kasar lidah Rico begitu nikmat dirasakan Reina ketika menari-menari bebas diantara bulu-bulu tipis basah yang ada disana. Saat ini cewek cantik itu sudah benar-benar melayang akibat gelora nafsu birahinya sendiri.
Melihat Reina yang sudah siap tempur, Rico lalu menghentikan jilatannya. Laki-laki itu beranjak dari posisinya samping mengocok-ngocok batang penisnya sendiri yang sudah semakin menegang. Laki-laki itu merasa batang penisnya belum cukup tegang untuk memberikan kenikmatan kepada dua orang cewek yang bersamanya saat ini. Ia pun menyuruh Evi menghentika ciuman bibirnya dan lalu mengarahkan batang penisnya ke dalam mulut Reina yang masih terbaring pasrah. Kini batang penis tersebut udah terkocok keluar masuk ke dalam mulut mungil Reina. Reina nampak cukup gelagapan menerima kocokan penis besar Rico di dalam mulutnya. Ujung penis laki-laki tersebut terasa beberapa kali menyentuh kerongkongannya. Karena takut tersedak, cewek cantik itu pun memilih untuk mengganti posisinya menjadi terduduk.
Posisi ketiga insan yang sedang dimabuk birahi itu pun berganti. Kini Rico duduk di ujung ranjang, dimana batang penisnya nampak sedang dijilati oleh dua orang cewek cantik. Rico saat ini benar-benar merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani dengan penuh cinta oleh selir-selirnya. Ketika batang penis itu amblas ke dalam mulut Reina, Evi pun kemudian mencium bibir Rico sambil merabai dada bidang pacarnya tersebut. Cukup lama keduanya saling lumat, sebelum ciuman Evi mulai turun ke leher dan dada Rico. Lalu Evi pun menyorongkan payudara kanannya ke mulut Rico untuk dilumatnya. Rico pun dengan senang hati melumat dan menjilati payudara montok milik pacarnya tersebut. Memang payudara Evi lebih besar ukurannya dibandingkan milik Reina, namun kedua payudara cewek cantik tersebut sama-sama memiliki daya tarik mereka sendiri.
“Aaah…!”, Evi mendesah pelan ketika Rico sedikit menggigit puting payudaranya, setelah pacarnya tersebut kembali membuat beberapa cupangan dipemukaan daging montok tersebut.
Kini terlihat kedua cewek itu telah berganti posisi. Kini Evi yang nampak mengulum batang penis Rico sedangkan Reina bergantian mencumbu bibir dan dada Rico. Laki-laki tersebut benar-benar tidak percaya kalau Reina ternyata begitu liar ketika terbakar birahi. Jika dilihat sekilas tadi, dari segi penampilan luar semula Rico melihat Reina seperti seorang cewek lugu dan polos. Sama sekali tidak terlintas di benaknya tadi kalau cewek cantik, sahabat pacarnya ini pernah memiliki pengalaman bercinta sebelumnya. Namun kini Rico begitu terbuai dengan permainan Reina yang tak kalah menggairahkan dengan permainan cinta pacarnya, Evi.
“Ooohh… ooohh…”, Rico hanya bisa mendesah penuh kenikmatan mendapatkan pelayanan dari kedua cewek cantik tersebut.
“Ric, mulai masukin ya? Udah tegang banget nih”, Evi menghentikan kuluman dan kemudian memelas ke pacarnya untuk mulai melakukan penetrasi.
“OK deh, siapa duluan nih?”.
“Reina aja deh”.
Reina sama sekali tidak berkomentar mendengar percakapan pasangan kekasih tersebut. Yang dia tahu saat ini dirinya memang sangat ingin segera disetubuhi, entah duluan atau belakangan sama sekali tidak masalah baginya.
Rico pun menuruti kata-kata pacarnya. Laki-laki itu pun membaringkan tubuh Reina di ranjang dan kemudian membuka kedua paha cewek tersebut lebar-lebar. Sejenak Rico menelan ludah. Di hadapannya kini terpampang indah sebuah vagina cewek muda yang begitu mempesona. Entah berapa penis yang pernah memasuki lubang kenikmatan tersebut, Rico sama sekali tidak ambil pusing. Yang jelas sebentar lagi batang penisnya akan bisa menikmati vagina ranum milik sahabat pacarnya tersebut. Wajah Reina terlihat memerah karena malu melihat tatapan nanar Rico ke arah vaginanya.
Tak sabaran merasakan nikmatnya vagina Reina, dengan segera Rico menghujamkan batang penisnya ke dalam lubang kenikmatan tersebut.
“Aaaahhh…!!”, baik Rico maupun Reina memiawik penuh kenikmatan.
Rico merasakan sensasi kenikmatan yang dasyat ketika memasukkan batang penisnya ke dalam vagina Reina. Memasukkan penis ke dalam vagina seorang cewek yang belum pernah kita setubuhi sebelumnya memang selalu membawa sensasi tersendiri. Begitu pula dengan Reina, yang memang sudah sekian lama tidak dapat lagi merasakan hujaman penis di dalam vaginanya. Lesakan penis Rico terasa seperti siraman air ditengah kegersangan hidupnya selama ini. Rico pun tak membuang-membuang waktu untuk secepatnya menghujam-hujamkan batang penisnya. Batang penis Rico mengocok vagina Reina dengan kencang, sedangkan Reisaha sendiri terlihat begitu menikmati kocokan tersebut.
Evi yang harus menunggu giliran untuk disetubuhi, terlihat mencium bibir Reina yang kini terguncang-guncang hebat. Evi juga meraba-raba payudara Reina yang nampak terguncang tak kalah hebat.
“Gimana Rei? Enak?”, bisik Evi nakal di telinga sahabatnya.
“Aaah… e… enak Vi”, ucap Reina gemetar.
“Nikmat kan tongkol cowok gue? Hehe”.
“I… iya”.
Evi tersenyum kecil mendengar kata-kata Reina. Cewek itu pun lalu melumat payudara Reina sambil tangannya merabai klitoris sahabatnya, membantu Rico yang semakin gencar menghujam-hujamkan batang penisnya.
“Vi lu nunging gih, giliran lu yang gue ent*t sekarang”.
Evi pun menurut. Ia lalu mengambil posisi nunging di samping Reina yang terbaring terlentang. Rico lalu mencabut batang penisnya dari dalam vagina Reina dan ganti memasukkannya ke dalam vagina pacarnya.
“Aaakkhh…!”, Evi melenguh kencang. Cewek itu memejamkan matanya sambil meremas erat sprei.
Batang penis Rico yang langsung menghujam kencang ke dalam vaginanya cukup memberikan rasa sakit yang luar biasa. Tapi di satu sisi sensasi yang ditimbulkan antara campuran rasa sakit dan kenikmatan justru semakin membangkitkan birahinya. Lubang kenikmatan yang semula sempat mengering, kini mulai basah kembali dialiri cairan cinta. Ditengah genjotan Rico, Evi menggigit bibirnya. Cewek itu begitu merindukan genjotan penis besar pacarnya ini. Hampir dua minggu lamanya mereka harus berpisah karena Rico harus tugas ke luar daerah. Kali ini pun mereka hanya bisa bertemu sehari sebelum malam nanti Rico harus berangkat kembali ke tempat tugasnya.
Ketika Evi mendapat giliran disetubuhi, Reina giliran merabai tubuh Evi. Payudara, paha, pinggang dan bagian-bagian tubuh sensitif lainnya secara bergiliran menerima rabaan dan sentuhan Reina. Bahkan tidak hanya menyentuh, Reina juga menciumi dan menjilati sekujur tubuh Evi, guna membantu sahabatnya ini menikmati persetubuhan yang kini ia lakukan bersama pacarnya.
“Giliran lu lagi Rei”, ucap Rico ditengah genjotannya di vagina Evi.
Seperti layaknya Evi tadi, Reina pun begitu saja menuruti kata-kata Rico. Apakah ini bertanda kalau kedua cewek cantik tersebut telah sepenuhnya ditaklukkan oleh Rico dengan kocokan penis besar dan panjangnya? Mungkin saja, karena kedua cewek cantik itu terlihat bak budak seks yang sedang melayani majikannya. Kini Reina pun menungging di samping Evi, seakan-akan menyerahkan sepenuhnya vaginanya untuk pacar sahabatnya tersebut. Rico meremas-remas pantat sekal Reina sebelum melepaskan penisnya dari dalam vagina Evi.
“Aaakhh…”, kini penis Rico kembali menghujam-hujam kencang ke dalam vagina Reina.
Evi pun kembali mencium bibir Rico sambil merabai lembut tubuh pacarnya tersebut. Rico pun harus membagi konsentrasi antara menggenjoti vagina Reina dengan permainan lidah Evi di dalam mulutnya. Keduanya memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagi Rico.
Gaya doggie ini tidak berlangsung lama karena Evi menyuruh Reina untuk mengambil posisi woman on top. Kini Rico berbaring di atas ranjang, dimana Reina berada di atas tubuhnya dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Hal ini membuat batang penis Rico yang menancap di dalam vagina Reina terasa terjepit dengan kencang. Posisi seperti ini memudahkan Evi untuk bergantian mengulum bibir Rico maupun Reina. Tak hanya bibir mereka, Evi juga bergantian menjilati dada keduanya. Sambil bergoyang kini Reina pun harus membagi konsentrasi antara kuluman bibir Evi dan remasan tangan Rico di kedua payudaranya.
“Hhhmm… hhmmm… hhhmmm…”, desahan tertahan keluar dari kedua mulut cewek cantik tersebut yang kini terlihat masih berciuman panas. Sedangkan Rico ditengah dera rasa nikmat akibat jepitan vagina Reina, terlihat begitu kagum melihat pemandangan dua cewek cantik yang kini sedang bercumbu ria di hadapannya. Sungguh fenomena yang sangat eksotis dan indah.
Ketika tiba giliran kembali untuk berganti posisi, Evi pun agaknya memilih untuk menggunakan gaya woman on top juga. Begitu batang penis tersebut terlepas dari vagina Reina, Evi langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Cairan cinta Reina begitu terasa di lidahnya ketika Evi mengulum dan mengocok batang penis Rico dengan mulutnya. Sedangkan Reina hanya meremas-remas pantat sekal Evi.
Kemudian Evi mengambil posisi mengangkang diatas tubuh pacarnya. Sejenak cewek manis itu mengatur posisi penis Rico, agar pas ketika terhujam nanti. Setelah merasa pas Evi pun menurunkan tubuhnya dan batang penis itu pun menghujam kencang masuk ke dalam duburnya. Evi memang tidak mengarahkan batang penis Rico ke dalam vaginanya, namun ke dalam duburnya. Rupanya cewek cantik itu ingin memberikan pelayanan anal seks untuk pacarnya.
“Oooohh…!!!”, Rico berteriak merasakan penisnya melesak masuk ke dalam pantat pacarnya tersebut. Jepitan dubur memang berbeda dengan jepitan vagina. Sensasi yang ditimbulkannya pun jauh berbeda. Sebuah variasi yang luar biasa dalam percintaan mereka saat ini.
“Aaaahh… aaahh…”, Evi dan Rico sama-sama mendesah, berteriak dan melenguh secara bergantian. Mereka seakan-akan lupa kalau mereka kini sedang bercinta di kontrakanan Reina, dimana kemungkinan ada penghuni kontrakan yang akan mendengar teriakan mereka.
Reina sendiri kini nampak meraba-raba vagina dan klitoris Evi. Sejenak ia membasahkan tangan kanannya dengan liur kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya mengobok-obok vagina Evi. Vagina Evi memang saat ini sedang menganggur karena yang sedang sibuk menerima genjotan penis Rico adalah duburnya. Sedangkan Rico yang terlihat begitu menikmati aksi Evi yang terlihat turun naik di atas tubuhnya, kini sibuk pula memainkan vagina Reina yang juga menganggur dengan jari-jarinya. Beberapa kali jari-jari tangan Rico menghujam-hujam masuk ke dalam lubang vagina Reina, sehingga membuat pemiliknya juga mendesah-desah penuh kenikmatan.
Menerima genjotan penis di duburnya serta permainan jari-jari Reina di vagina dan klitorisnya, membuat Evi terlihat segera akan mencapai klimaks. Dan benar saja tak lama kemudian Evi melenguh kencang, menandakan pencapaian puncak permainan. “Aaaakkhh…!!!”, lenguh Evi sambil mendongakkan kepala dan memejamkan matanya.
Evi pun mencabut batang penis Rico dari dalam vaginanya dan sejenak berbaring di ranjang menikmati sensasi kenikmatan yang baru saja menderanya. Kesempatan ini digunakan Rico untuk kembali menghujamkan batang penisnya ke dalam vagina Reina. Laki-laki itu pun membaringkan Reina di ranjang dan dengan segera mengocok kembali lubang kenikmatan milik cewek cantik tersebut. Kini Rico nampak semakin kesetanan mengocok vagina Reina, karena ia ingin betul-betul menikmati saat-saat dimana ia bisa menyetubuhi sahabat pacarnya ini mumpung dirinya masih memiliki kesempatan. Vagina Reina seolah-olah menjadi selingan yang begitu indah, diantara persetubuhan yang biasa ia lakukan bersama Evi, pacarnya.
“Aaaahh…. Ahhh…”.
“Oooohh… ooohh…”.
“Rei… memiaw lu nikmat banget!”, rancau Rico.
“tongkol lu juga enak Ric”, balas Reina.
Evi yang saat ini sudah pulih dari deraan birahinya dan nampak memeluk serta merabai tubuh Rico, cukup merasa cemburu mendengar kata-kata pacarnya tadi. Namun Evi segera mengusir jauh-jauh perasaan tersebut, karena baik pacar maupun sahabatnya ini kini sedang dilanda birahi menjelang klimaks sehingga wajar kalau mereka mengeluarkan kata-kata yang seronok.
“Ric… gue keluar… aaakkhh…!!!”.
Tubuh Reina nampak mengejang. Ini adalah klimaks pertamanya sejak putus dengan pacar lamanya beberapa bulan yang lalu. Klimaks yang sangat dinanti-nantinya. Klimaks yang terasa jauh lebih nikmat daripada saat ia mencapai klimaks karena melakukan masturbasi.
Rico pun mencabut batang penisnya dan membiarkan Reina terbaring di ranjang menikmati momen puncaknya. Rico yang kini berdiri di atas ranjang lalu memandang sayu ke arah Evi yang sebelumnya telah mencapai klimaks terlebih dahulu. Evi pun mengerti makna tatapan pacarnya tersebut. Ia pun kemudian bersimpuh dihadapan Rico dan mulai memasukkan batang penis Rico ke dalam mulutnya. Evi pun dengan telaten mengocok-ngocok penis Rico dengan mulut dan jari-jari lentiknya. Rico yang sebelumnya memang sudah hampir sampai di ujung klimaks, benar-benar menikmati kuluman pacarnya tersebut.
“Vi, gue keluar nih!”.
Evi pun melepaskan kulumannya dan hanya melakukan kocokan tangan pada batang penis Rico. Kocokan tangan Evi nampak semakin kencang ketika Rico mulai memejamkan matanya.
“Aaaahh…!!!”.
“Crroooot… crooot… crooot…”, beberapa kali cairan sperma muncrat dari ujung penis Rico. Cairan putih kental itu pun ditampung oleh Evi di dalam mulutnya.
Setelah semprotan terakhir keluar, mulut Evi sudah dipenuhi oleh cairan sperma pacarnya. Cewek cantik itu pun kemudian menelan cairan tersebut sampai tetes terakhir. Lalu dengan telaten Evi kembali mengulum batang penis pacarnya tersebut. Ia pun menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel pada ujung kepala batang kokoh yang kini mulai mengendur tersebut dan menelannya.
“Thanks ya Vi”, Rico ikut bersimpuh dan mendaratkan ciuman mesra bibir Evi.
Evi pun hanya tersenyum kecil.
“Gimana enak? Hehe…”, goda Evi.
“Enak banget!”, ucap Rico mantap.
Kemudian Rico menatap ke arah Reina yang masih tergolek telanjang di atas ranjang. Ia hanya tersenyum melihat tubuh indah cewek cantik yang baru saja ia nikmati kehangatannya tersebut. Kembali rasa cemburu mengalir di dalam hati Evi melihat tatapan nanar pacarnya terhadap tubuh sahabatnya. Dengan segera ia mengambil selimut dan menutup tubuh telanjang Reina. Seolah mengerti maksud yang tersirat dari tindakan pacarnya, Rico pun kemudian mengajak Evi turun dari ranjang. Ia lalu memeluk mesra tubuh telanjang pacarnya tersebut dan kemudian mencium bibirnya mesra. Keduanya pun cukup lama saling mengulum bibir masing-masing.
“Kita langsung cabut yuk”.
“Musti sekarang ya?”.
“Iya nih, klo nggak ntar terlambat lagi”.
“Hhhm… masih kangen!”, ucap Evi manja.
“Kan cuma 3 hari, abis itu gue nggak perlu keluar kota deh, OK?”.
“OK deh”.
“Cium lagi dong”.
Keduanya kembali berciuman mesra. Setelah itu Rico pun mengenakan kembali pakaiannya sedangkan Evi sendiri hanya membalutkan handuk milik Reina guna menutupi ketelanjangan tubuhnya.
“Lo lu kok nggak pake pakaian? Kan gue harus nganter lu pulang dulu”, ucap Rico heran.
Evi menggeleng. “Nggak usah deh, biar ntar gue pulang dianter Reina aja, kasihan ntar lu telat lagi kalo pake nganterin gue dulu”.
Sekilas Evi melirik ke arah Reina yang masih terbaring di ranjang. Entah Reina saat ini tertidur akibat kelelahan atau pura-pura tidur karena tak ingin menganggu dirinya bersama Rico. Evi sama sekali tidak tahu.
“Ya udah kalo gitu, gue langsung cabut ya”.
“OK deh, ati-ati di jalan ya”.
“Ntar begitu landing gue telpon lu deh”.
“OK!”.
Lalu Evi mengantar Rico sampai di depan pintu. Di luar suasana sudah terlihat gelap, tidak seperti saat mereka berdua datang tadi. Rupanya mereka bertiga cukup lama bermain cinta di dalam kamar. Mereka kembali berciuman sampai akhirnya Evi melambaikan tangannya melepas kepergian Rico. Evi lalu menutup pintu kamar kontrakan tersebut. Cewek cantik itu lalu beranjak menuju ranjang dan duduk di pinggirnya.
“Rei, lu tidur?”, Evi menyibak rambut Reina yang menutupi wajahnya.
Reina hanya menggeleng dari balik selimut.
“Kok dari tadi lu diem aja sih?”.
“Gue malu Vi”.
“Halah, kayaknya tadi kita udah ngebahas masalah ini deh”.
“Iya, tapi tetep aja gue malu”.
“Ya udah gini aja deh, kalo ntar lu udah punya cowok lagi, lu bagi juga ama gue jadi kita impas, gimana? Hehe”.
“Dasar! Gila lu ya!”.
Keduanya pun tertawa cekikikan.
“Udah ah, pake baju gih, trus anterin gue cari makan, gue laper banget nih!”.
Lalu kedua cewek cantik itu pun membersihkan diri dan mengenakan pakaian mereka kembali. Entah apa yang sebenarnya melintas di otak Evi ketika mengajak Reina melakukan threesome dengan pacarnya, namun yang jelas semua pihak yang terlibat kini merasa bahagia. Evi bisa melepaskan kangen dengan pacarnya Rico sekaligus memberikan “bonus” ekstra. Begitu pula dengan Reina yang “dahaga”-nya yang sudah lama tertahan akhirnya bisa tertuntaskan dengan sempurna. Apa yang terjadi nanti biarlah terjadi, yang penting kegilaan ini bisa membawa kenikmatan yang luar biasa bagi mereka semua.

Aku berkenalan dengan Yuni sekitar 2 bulan. Waktu awal kenalan,aku tidak pernah mampir kerumahnya. Kami hanya bertemu diluar saja dan ngobrol-ngobrol saja. Tapi lantaran perasaan kami yang semakin akrab,maka suatu kali aku mampir juga kerumahnya, sekaligus berkenalan dengan keluarganya. Yuni punya seorang ibu tiri yang umurnya sekitar 38 tahun dan dua orang kakak perempuan,yang tertua namanya Linda, umurnya 28 tahun dan yang nomor dua namanya Shinta umurnya 26 tahun. Walaupun ibunya ibu tiri,tapi sangat baik. Mereka tinggal 3 orang satu rumah. Sedang kakaknya yang pertama sudah menikah,belum punya anak dan tinggal ditempat lain. Hubungan mereka sekeluarga sangat akrab.

Waktu kedatanganku yang pertama aku cuma duduk diruang tamu.Kedatanganku yang selanjutnya aku sudah biasa aja dirumahnya. Aku sudah bisa masuk keruangan yang lainnya. Suatu kali aku masuk kekamar Yuni,didalam kami ngobrol-ngobrol aja. Jarak antara kami makin dekat. Kupegang tangannya,kemudian perlahan-lahan kudekatkan wajahku kepadanya.Kami saling berciuman.Kulumat bibirnya yang berwarna kemerah-merahan dan Yuni membalas ciumanku. Cukup lama kami berciuman dan aku tidak berani menyentuh bagian yang lain. Sehabis itu kami main Play Stasion.

Minggu berikutnya aku main lagi ke rumah Yuni. Waktu itu kakaknya yang no.2 yaitu Shinta ada dirumah.Dia tidak masuk kerja.Setelah basa basi dengan kakaknya aku masuk kekamar Yuni.Didalam seperti biasa setelah kami ngobrol-ngobrol sedikit aku mendekati Yuni. Kami kembali berciuman,aku meremas tangannya,kemudian ciumanku menyusuri lehernya yang putih bersih.Nafas Yuni terdengar agak terengah-engah.Aku meneruskan ciumanku dengan meremas dadanya yang indah.kemudian satu persatu kancing bajunya kutanggalkan,sampai dia hanya pakai BH saja. BH nya yang berukuran 36B itupun kutanggalkan.
Payudaranya yang sekal dan indah itu pun habis kuciumi.Sementara tanganku meremas-remas dengan lembut payudaranya itu.Kemudian puting payudaranya yang berwarna agak kecoklatan kuhisap dan kujilati.Yuni makin menderu nafasnya.Aku terus asyik menghisap payudaranya yang sekal itu.Tapi secara tiba-tiba aku melirik ke pintu yang sedikit terbuka,disitu kulihat shinta berdiri termangu.Aku segera menghentikan gerakanku.

Shinta kemudian masuk kekamar Yuni.Tapi Yuni cuek saja melihat kakaknya masuk kedalam kamarnya.Dia tidak berusaha menutupi tubuhnya.Malah membiarkan saja tubuhnya dalam keadaan terbuka.Aku tentu saja merasa grogi.Aku takut Shinta marah kemudian melarangku main kerumahnya lagi.Tapi Shinta tidak marah malah tersenyum melihat aku yang salah tingkah.Kemudian Shinta bicara:
“Kamu mau kubuatkan teh Andrie?”
“Ya mbak,boleh ….eh..terima kasih…”jawabku agak gugup.

Dalam hati aku merasa senang karena Shinta tidak marah padaku.Kemudian aku keluar dari kamar dan Yuni memakai bajunya tanpa mengenakan BH lagi.Masih kelihatan payudaranya yang montok itu dibungkus baju kaos yang tipis.Aku diruang tamu ngobrol-ngobrol saja bersama Yuni dan kakaknya.Shinta sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi,dan bicara hal-hal lain.

Minggu berikutnya aku kembali datang kerumah Yuni.Setelah ngobrol-ngobrol dengan kakaknya Shinta,aku kembali masuk kekamar Yuni.Didalam kami kembali berciuman.Aku mencium bibir Yuni yang harum.Yuni membalas ciumanku.Berbeda waktu kemarinnya,kali ini Yuni agak agresif.Dia mencium bibirku dengan ganasnya. Aku juga semakin berani membuka pakaian Yuni,sehingga dia hanya memakai celana dalam saja.Aku segera menyapu lehernya yang jenjang dan putih bersih.Yuni terlihat menggelinjang membuat aku semakin bersemangat.Nafasnya mulai terengah-engah.Ciumanku terus kearah dadanya yang montok.Aku menghisap puting payudaranya.Sungguh sangat enak rasanya.Aku menghisap puting payudaranya bergantian.Yuni makin terengah-engah.

Lalu aku membuka celana dalamnya,sehingga sekarang dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Aku menjilati pahanya yang putih mulus.Jilatanku terus naik kearah vagina Yuni yang memancarkan hawa harum dan wangi.Aku menjilat klitorisnya yang sebelumnya aku menyibakkan bulunya yang belum begitu lebat.Lama aku menghisap klitorisnya.Sampai aku merasakan cairan yang khas,mungkin dia sudah semakin teransang.
Yuni lalu mendorongku,sehingga aku berada dalam posisi telentang. Dia langsung mengarahkan bibirnya yang mungil ke penisku.Wahhh…enak sekali … Yuni mengulum dan menghisap penisku .Aku semakin terengah-engah.Yuni pun semakin semangat mendengar desahan nafasku. Lalu aku mendorong Yuni dengan lembut agar dia segera telentang.Yuni pun mengerti dengan keinginanku. Penisku kuarahkan kearah vagina Yuni dan memasukkannya dengan perlahan-lahan.Yuni menjerit tertahan begitu penisku masuk semua kedalam vaginanya.Aku mengangkat pantatku perlahan-lahan,dan memasukkannya.Begitu seterusnya aku lakukan,memaju-mundurkan pantatku.Yunipun kelihatan sangat menikmatinya.

Lalu aku mengangkat kaki kiri Yuni dan tetap aku menggoyang pantatnya yang montok.Sampai akhirnya dia menjerit dengan suara yang agak keras.Dan akupun merasakan cairan hangat yang membasahi penisku didalam vaginanya.Rupanya Yuni sudah keluar.Sementara aku nampaknya masih lama untuk mencapai puncak orgasmeku. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang sudah aku kenal.
“Wah..kamu kuat juga ya Andrie…”
Rupanya itu suaranya Shinta kakak Yuni.Rupanya dia sudah dari tadi berdiri dibelakangku memperhatikan apa yang kuperbuat bersama dengan adiknya.Aku sangat kaget sekali,dan mencabut penisku yang masih tegang dari vagina Yuni.Kupikir tadi Yuni sudah mengunci pintu kamar.
Shinta segera menghampiri kami berdua.Kulihat Yuni cuek saja dan masih menikmati puncak orgasmenya.
Shinta duduk disamping kami dan memperhatikan punyaku yang masih tegang.Sementara aku sendiri masih jauh dari puncak orgasmeku.Melihat situasinya seperti itu aku jadi memberanikan diriku meraih tangan Shinta.Kutarik lembut tangannya dan aku segera melumat bibirnya yang lembut.Sementara tanganku langsung meremas-remas payudaranya.Sekilas aku melirik Yuni dan kulihat dia tersenyum melihat yang kuperbuat dengan kakaknya.Dia bilang,
“Nah…sekarang giliran saya yang nonton kakak ya…?”
Shinta hanya menjawab dengan tersenyum saja.Nampaknya Yuni ingin aku berbuat yang sama dengan kakaknya.

Tanganku terus saja meremas-remas payudaranya dari luar.Aku segera melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuhnya,sampai dia tidak mengenakan pakaian selembar benangpun alias bugil,seperti Yuni. Aku terus melumat bibirnya. Shinta pun tidak kalah membalas ciumanku.Ciumanku terus turun kelehernya yang putih bersih.Shinta mengelinjang membuat aku semakin bersemangat saja.Aku terus menciumi payudaranya yang montok,mungkin ukurannya ada sekitar 36,aku tidak tahu persis tapi sama dengan ukurannya si Yuni.
Aku menghisap puting payudaranya dengan lahap.Aku kembali melirik Yuni dan melihat dia tersenyum manis padaku.Aku jadi semakin bersemangat saja.Sementara Shinta terus saja menggelinjang keenakan.Aku terus saja menghisap puting payudara Shinta.Sementara tangan kiriku meraba-raba selangkangan Shinta.Aku merasakan bulu-bulu vaginanya yang lembut.Ciumanku terus kuturunkan kedaerah vaginanya.Aku menjilati klitoris Shinta dan Shinta terus saja menggelinjang.Aku merasakan cairan yang khas dari vaginanya,tapi aku yakin dia belum orgasme.

Aku lalu mendekatkan penisku kedalam mulut Shinta dan diapun melumat penisku dan menghisapnya.Sungguh sangat enak sekali.Lama Shinta menghisap penisku yang sudah sangat tegang sekali.Aku hampir tidak tahan lagi. Aku menyuruh Shinta supaya menungging.Aku lalu mengatur posisiku di belakang Shinta.Perlahan-lahan aku memasukkan penisku kedalam vaginanya.Tapi sebelum aku memasukkan penisku,Yuni bergerak mendekatiku dan tangannya menggenggam penisku.
“Biar kumasukin Ndrie…,”katanya.

Tapi sebelum itu dia masih sempat-sempatnya menghisap penisku.Setelah itu dia mengarahkan penisku ke kemaluan kakaknya.Dia tersenyum padaku.Shinta juga tersenyum padaku.Aku semakin tidak tahan dan segera memasukkan penisku ke vagina Shinta.shinta menjerit tertahan,
“Ahh…Andrie…punyamu enak sekhali…shayang…”
Aku semakin bersemangat menggoyangkan pantatku.Sementara Yuni duduk disampingku.Aku segera meraih tangan Yuni dan aku bilang,
“Yun, sini payudaramu aku hisap…”

Yuni segera menyodorkan payudaranya kemulutku.Jadi sementara aku menggoyang Shinta,mulutku menghisap payudaranya Yuni.Shinta semakin histeris menjerit-jerit keenakan kugoyang vaginanya dari belakang.Aku lalu menyuruh Yuni berdiri dan mengarahkan selangkangannya ke mulutku.Aku kembali menjilati klitoris Yuni.Yuni terdengar menjerit-jerit keenakan seperti kakaknya.
Tak lama tubuh Shinta menegang.Agaknya dia sudah mau keluar.Benar saja tak lama aku merasakan cairan hangat membasahi penisku yang masih menancap di vaginanya.Yuni juga masih menjerit-jerit.Aku lalu berdiri dan mengarahkan penisku yang masih tegang ke kemaluan Yuni yang berada dalam posisi berdiri dari depan.Aku mengangkat kaki Yuni dan meletakkan kakinya di pinggir tempat tidur.Aku memasukkan penisku kedalam vagina Yuni dari depan dan kugoyang-goyang,maju mundur.
Yuni kembali mendesah-desah,
“…Ahh…Andrie…kamu pintar juga juga pake gaya berdiri seperti dalam film …ahhh…akh..”mulutnya terus saja menceracau.

Aku terus saja menggoyangnya,sementara mulutku tidak berhenti menciumi payudaranya yang montok kiri kanan bergantian dan juga menghisapnya bergantian.Yuni semakin melayang-layang kenikmatan saja.Tak lama aku juga sudah ingin keluar.Tapi sebelum aku keluar,Yuni sudah keluar duluan dan badannya mendadak jadi lemas.Aku segera mencengkram pantatnya dan memeluk tubuhnya.”Akh…”akhirnya kau keluar juga dengan perasaan yang melayang-layang. Spermaku membasahi vagina Yuni.Aku tidak kuat lagi menahan tubuh Yuni dan membiarkan dia terduduk dan akhirnya penisku pun tercabut dari vaginanya.

Shinta yang dari tadi memperhatikan,kembali mendekatkan kepalanya ke penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Yuni pun tidak ketinggalan,juga menghisap penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Kedua kakak beradik tadi masih dengan lahap menghisap penisku bergantian.
Akhirnya kami bertiga terbaring lemas.Aku berada ditengah-tengah mereka.Tanganku masih saja bergantian meremas-remas payudara Yuni dan Shinta bergantian.Mereka juga masih menikmati remasan tanganku di payudaranya.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Lama kami terdiam.
Tiba-tiba kami dikejutkan teriakan suara panggilan.
“Shinta,Yuni kalian dimana? Ini mbak Linda datang nih…kok nggak ada yang menyahutin?”
Rupanya kakaknya yang tertua datang.Shinta lalu berdiri dan berkata pada Yuni,
“Yun,biar mbak saja yang menemuin mbak Linda,kayaknya dia sendirian saja kesini.Suaminya kayaknya nggak ikut tuh…”
Lalu tanpa pakaian sehelai benangpun Shinta berdiri dan jalan keluar kamar.Aku kaget dan bertanya pada Yuni,
“Yun,kalau ketahuan mbak Linda bagaimana nih…?”kataku agak cemas.

Tapi Yuni hanya tersenyum saja dan mengecup bibirku sebagai jawabannya. Sementara diluar kamar,mbak Linda sangat terkejut melihat adiknya Shinta menyambutnya tanpa busana sehelai benangpun.
“Shinta…kamu ngapain..?Kok nggak pake pakaian…?”tanya mbak Linda.
Tapi Shinta cuma tersenyum saja dan berkata,
“Nggak apa-apa kok mbak…Mbak nggak usah banyak tanya deh…” sambil tangannya menggandeng tangan kakaknya kekamar Yuni.
Sesampai dikamar Yuni,mbak Linda kelihatan terkejut melihatku dan Yuni juga tanpa pakaian.Shinta segera menjelaskan,
“Mbak,itu Andrie pacarnya Yuni…Mbak udah kenal kan?”kata Shinta.
Sementara aku masih agak cemas,takut kalau-kalau mbak Linda marah besar.Tapi rupanya Yuni mengerti perasaanku.Dia berkata pada Linda,

“Mbak ayo duduk disini,ngapain berdiri disitu.Apa mbak nggak pingin merasakan punya Andrie yang perkasa ini..?Bukankah Mbak dulu bilang kalau nggak pernah puas kalau main sama suami mbak…?”
Mulanya mbak Linda ragu-ragu.Tapi Shinta segera menarik tangan kakaknya dan mengajaknya duduk didekatku yang juga sama-sama bugil dengan adik-adiknya.Akhirnya mbak Linda duduk juga didekatku.Shinta berkata,
“Ayo Andrie…kita teruskan,nih kakaknya Yuni yang paling tua udah datang.Dia nggak pernah puas kalau main.Mungkin kamu ketemu lawan tangguh…,”kata Shinta bercanda.
Mbak Linda dan Yuni kulihat hanya tersenyum saja.
“Sekarang aku dan mbak Shinta cuma nonton aja,kamu main sama mbak Linda…habis kami capek sih…”kata Yuni dengan manjanya.

Akupun nggak jadi takut dan ikut tersenyum.Aku jadi berani dengan situasi seperti ini.Aku merasa seperti diberi lampu hijau. Aku langsung saja mengarahkan tanganku ke payudara Linda dan meremas-remas payudaranya dari luar pakaiannya.Linda hanya tersenyum saja aku perlakukan begitu.Aku segera melumat bibirnya dan Linda membalasnya juga dengan ganasnya. Nampaknya dia benar-benar membutuhkan seks.Aku semakin senang.

Aku segera melucuti pakaian yang dikenakan Linda,sampai dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun seperti adik-adiknya. Aku merasa kaget juga,karena payudaranya mbak Linda lebih besar dibandingkan payudara adik-adiknya. Terus terang aku sangat senang dengan ukuran payudaranya yang besar itu.Aku segera menciumi payudaranya bertubi-tubi dan bergantian,maklum nafsu seksku mulai bangkit lagi.Linda sudah mulai terengah-engah menghadapi seranganku.Aku kembali melumat bibir mbak Linda yang indah.Mbak Linda juga kembali membalas ciumanku dengan bernafsu.

Sementara itu aku juga melirik Shinta dan Yuni dan mereka cuma tersenyum menatapku sambil mengelus-elus vaginanya masing-masing. Ciuamanku kembali kuarahkan keleher Linda yang putih bersih.Dan terus kuturunkan ke payudaranya yang montok. payudaranya kuciumi bergantian dan puting payudaranya kuhisap dengan lahap.Lama aku menghisap payudaranya.Linda berkata,
“akh…Andrie…terus hisap…sayhang..enakh..sekali.terus sayang…kamu sekarang jadi bayi…ya….terus hisap payudara Mbak…sayang…?”katanya menceracau.
Aku nggak peduli dengan rintihan dan erangan mbak Linda.Malah aku semakin bersemangat saja.Ciumanku kuturunkan keperutnya yang putih dan ramping dan terus turun kepahanya yang mulus.Pahanya kujilatin sampai basah semua.Jilatanku kunaikkan ke sela-sela pahanya yaitu ke vaginanya.
“Akh…apa ini Andrie…ohhh..terus Andrie…”kata mbak Linda.
Kayaknya dia juga tidak peduli lagi dengan sekitarnya.

Aku menjilati vaginanya.Aku mencari klitorisnya dan menghisapnya.Mbak Linda menjerit tertahan dan menekan belakang kepalaku,sehingga aku semakin mencium bau wangi dari vaginanya.Aku terus menjilati klitorisnya itu,sampai akhirnya aku merasakan cairan yang keluar dari vagina mbak Linda.Tapi mbak Linda sendiri belum keluar.Sementara punyaku sendiri sudah semakin tegang.Aku segera merubah posisiku dan menyodorkan penisku kemulut mbak Linda.Mbak Linda membuka mulutnya dan melahap penisku dan menghisap penisku dengan sangat bernafsu.Aku menyadari nafsu seks mbak Linda sangat tinggi.Tapi aku yakin bisa memuaskannya.

Akhirnya kusuruh mbak Linda telentang.Diapun menurut untuk telentang dan membuka kakinya lebar-lebar.Akupun segera mengatur posisiku untuk mengarahkan penisku kedalam lubang kemaluannya.Tapi sebelum aku memasukkannya,Yuni dan shinta mendekat dan berkata,
“Andrie…sebentar dulu..”kata Shinta.
Tanpa menunggu jawabanku dia langsung memegang penisku dan memasukkan kedalam mulutnya lalu menghisapnya. Setelah itu giliran Yuni yang menghisap penisku.Aku melihat mbak Linda sudah nggak sabaran untuk merasakan penisku.Akhirnya setelah Yuni menghisap penisku,dia membimbing penisku dan mengarah kan ke lubang vagina kakaknya.Setelah posisinya pas,aku segera menekan pantatku perlahan-lahan.
Terdengar desahan dan jerita kecil keluar dari mulut mbak Linda.Rupanya lubang vagina mbak Linda masih sempit seperti punya adik-adiknya.Aku sangat senang sekali.Aku segera menaik-turunkan pantatku ke vagina mbak Linda.Jeritan dan desahan nafas mbak Linda makin keras.Aku tidak peduli dan terus saja menggenjot dan menaik turunkan pantatku.Sama seperti vagina adik-adiknya,vagina mbak Linda seperti meremas-remas penisku.

Aku sudah hampir keluar,tapi aku berusaha bertahan selama mungkin.Dan kuperhatikan mbak Linda hampir mencapai puncak orgasmenya.
“…akh…akh..akh..terus andrie..akh…aku sudah mau keluar nih…akh..,”katanya terus menceracau.
” Aahh aku juga mau keluar mbak…”kataku sambil meremas dan menghisap payudaranya.
Akhirnya aku merasakan cairan hangat membasahi penisku.
“Ahh…Andriee..mbak sudah keluar…”kata mbak Linda.Rupanya dia sudah keluar.Bersamaan dengan itu akupun merasa sudah nggak kuat lagi.
“Mbak…akhu…jugha..mau keluar…h..”kataku dengan suara agak parau.
Akhirnya spermaku tumpah membasahi vaginanya.Aku tertelungkup lemas diatas tubuh mbak LInda.Kulihat Shinta dan Yuni tersenyum menatapku.Aku lalu mencabut penisku dari lubang vagina mbak Linda dan tidur menelentang.

Shinta dan Yuni segera mendekatkan melutnya dan kembali menghisap penisku bergantian.Begitu juga dengan mbak Linda bangun untuk menghisap penisku bergantian.Akhirnya kami kembali rebahan.Mbak Linda disebelah kananku,Shinta disebelah kiriku,sementara Yuni dengan manjanya telungkup diatas tubuhku.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Sementara tanganku kembali bergerilya seperti tadi meraba seluruh tubuh kakak-adik itu dan meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang mereka juga bangun sebentar hanya untuk menghisap penisku.Kami sama-sama terbaring lemas.
Tak lama Shinta membuka pembicaraan,

“Wah…Andrie…kamu memang kuat bisa mengalahkan mbak Linda.penismu juga besar dan kuat lho Andrie.”
Aku hanya tersenyum saja dan meremas payudara Shinta dengan lembut dan memainkan puting payudaranya dengan ujung jariku.
“Baru kali ini aku merasa puas kalo main gini Ndrie..”kata mbak Linda.
Aku hanya tersenyum saja mendengar pujian mereka dan tanganku semakin nakal dengan memasukkan jariku kelubang vagina mbak Linda.
“Aww…Andrie…tanganmu nakal..aku lagi capek nih…”kata mbak Linda manja.
Aku lalu berkata,”Wah…Yuni,Shinta,mbak Linda,kayaknya kita harus berpakaian nih sebelum ibumu datang.”
Yuni segera menjawab,
“Nggak apa-apa kok Andrie.Kalau ibu datang dan melihat kita begini nggak bakalan marah kok…ya kan mbak?”kata Yuni sambil bertanya pada kakaknya.
Kedua kakaknya tersenyum saja dan Shinta berkata,
“Kalau kamu mau,kamu juga boleh main sama ibu Andrie…”
“Iya…ibu pasti senang sekali ya kan mbak Linda?”tanya Yuni sama mbak Linda.

Mbak Linda menganggukkan kepalanya.Sekarang aku sudah mulai tenang.Sekarang tenagaku sudah mulai pulih.Lama kami terdiam,tapi tanganku tetap tidak bisa diam dan selalu menggerayangi tubuh ketiganya.Tapi mungkin karena kecapean,mereka bertiga cuma diam saja ketika tanganku menggerayangi tubuhnya,walaupun jari tengahku mengorek-ngorek vaginanya.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar,
“Shinta,Yuni..kalian dimana?”
Rupanya ibunya sudah datang.
“Kami disini Bu…”sahut Yuni.
Lalu Yuni berkata padaku,
“Ayo Andrie…kamu boleh coba ibuku..katanya tersenyum.
Aku cuma mengangguk saja dan sekarang tenagaku sudah benar-benar pulih lagi.
Tak lama kemudian ibunya Yuni sampai di kamar dan terkejut,
“hai…kalian lagi ngapain?”katanya sambil menutup mulutnya.

Ibunya Yuni masih melotot tidak percaya menatapku.Setelah dekat tanganku langsung memeluk ibu Yuni dan
langsung meremas-remas payudaranya.Sementara itu dia masih setengah tidak percaya,tapi dia membiarkan tanganku meremas-remas payudaranya.Sambil berdiri aku menciumi bibirnya dan sekarang dia mulai membalas ciumanku.Aku tidak menduga ciuman ibunya ganas juga.Sementara tanganku masih terus meremas-remas payudaranya.Aku segera melucuti pakaiannya satu demi satu.Kulihat dia sekarang sudah bisa tersenyum dan berkata,
“Linda,Shinta,Yuni…kalian bear-benar nakalya…?tapi kalian baik juga mau mengajak ibu main sama Andrie.”
Linda,Shinta dan Yuni hanya tersenyum saja dan berkata,
“ya Bu..jangan malu-malu ya…ya…penis Andrie enak lho Bu…”
Setelah pakaian luarnya kulucuti,hingga hanya tinggal BH dan CD aja.Tanganku masih saja meremas-remas payudaranya.Nafas ibu Yuni mulai naik turun.Dia membiarkan saja apapun yang kulakukan pada tubuhnya dan menikmatinya.Aku mulai melepaskan BH nya dan aku kaget juga payudara dia masih kencang,putih dan montok dan besarnya hampir sama dengan payudara mbak Linda.Aku segera menyerbu payudaranya dengan ciuman-ciumanku.Aku menghisap puting payudaranya sambil berdiri.

Dia hanya merintih-rintih saja.Aku meremas-remas pantatnya yang montok,sementara mulutku tidak berhenti menghisap puting payudaranya kiri kanan.Setelah puas dibagian payudara,ciumanku kulanjutkan ke bawah.Ciumanku kuarahkan ke pahanya yang putih mulus dan terus naik keselangkangannya.Aku melepaskan CD nya sehingga dia tidak mengenakan apa-apa lagi,bugil seperti aku dan anak-anak tirinya.
Aku lalu menjilati vaginanya.Sambil berdiri, dia membuka kakinya agar mulutku leluasa menjilati vaginanya.Sementara tangannya menekan belakang kepalaku.Aku terus saja menghisap klitorisnya. Dia menjerit-jerit kecil dan kakinya kulihat agak gemetaran. Setelah puas menjilati vaginanya,aku lalu menekan tubuhnya supaya duduk jongkok menghadapku.Dia mengerti dan langsung saja mulutnya melumat penisku.Aku merasa sangat enak.Kayaknya Dia lebih berpengalaman dalam hal menjilat penis.Dia terus saja menghisap penisku dengan penuh semangat.

Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi,aku lalu menyuruhnya membelakangiku.Aku lalu mengatur posisi dan mengarahkan penisku ke lubang vaginanya dari belakang dan menekannya pelan-pelan.Dia menjerit tertahan.Tapi aku tidak peduli. sementara Linda,Shinta dan Yuni hanya menonton dengan bersemangat dari samping.Aku menggoyang pantatku maju mundur sambil berdiri.Tangan kirinya kutarik kebelakang dan tangan kananku meremas-remas payudaranya yang sebelah kanan.Dia kembali menjerit-jerit dengan desahan nafasnya yang memburu.
“Andrie…kamu…punyamu sangat enakh…akh…akh..”katanya menceracau.
Aku semakin bersemangat mendengar rintihannya.Lalu aku menarik tangan kanannya sehingga kedua tangannya kutarik kebelakang.Sementara pantatku tetap maju mundur menggoyang pantatnya.payudaranya yang besar terus saja bergoyang-goyang ke bawah.
Aku lalu merubah posisi dan menyuruhnya telentang.Dengan nafas memburu dia menurut saja dan telentang dengan membuka kakinya lebar-lebar.Aku segera mengarahkan penisku ke vaginanya. Penisku pun segera menusuk vaginanya dan pantatku naik turun menghujam vaginanya.vaginanya tidak kalah rasanya dibandingkan vagina anak-anaknya. Masih menggigit dan meremas-remas penisku. Nafaskupun semakin cepat seperti nafasnya.

Sementara penisku menusuk-nusuk vaginanya,aku selalu menghisap payudaranya bergantian Sekitar hampir satu jam kami main,sampai akhirnya dia berkata,
“Andrie…ahh…penismu sangat enakh…kuat…lubang vaginau jadi penuh oleh penismu…ahh…ahhh..terus sayang..aku sudah hampir keluarhh..ahh..ahhh..”
Dan tak berapa lama akupun segera merasakan penisku jadi hangat karena cairan dari vaginanya sebagai tanda dia sudah sampai puncak orgasmenya.Badannya yang tegang tadi mulai lemas.Aku masih saja menggenjot vaginanya dan akhirnya akupun merasakan sesuatu yang hendak keluar.penisku kubenamkan dalam-dalam kedalam vaginanya.Dan spermaku pun keluar membasahi liang vaginanya.Aku tertelungkup lemas dengan nafas tidak beraturan.

Dia juga begitu lemas dan nafasnya juga tidak beraturan.Aku lalu mencabut penisku dari vaginanya dan telentang sambil menarik nafas panjang.Aku memejamkan mataku.Walaupun sudah keluar tapi penisku masih ngaceng.Mbak Linda,shinta dan Yuni mendekat dan mereka bergantian menghisap penisku dan menelan sisa-sisa spermaku.Aku merasakan nikmatnya hisapan mereka bergantian.
Mereka bertiga akhirnya merebahkan badannyadisampingku.Lama kami terdiam karena kelelahan.Akhirnya Yuni berkata,
“Gimana Bu..?Enakkan penisnya Andrie..?”

Ibunya berkata,”Wah..Andrie…kamu memang luar biasa.penismu besar,kuat…wah…enak sekali…”
Aku menjawab,”Kalian juga sangat enak sekali.vagina kalian terasa meremas-remas penisku.Aku juga sangat suka dengan payudara kalian yang montok-montok ini.”kataku sambil meremas-remas payudara mereka bergantian.

Akhirnya aku tidak diperbolehkan pulang dan harus menginap malam itu.Kami kembali main bergantian.Aku kembali main sama mbak Linda,Shinta ,Yuni dan ibunya.Sungguh aku merasa sangat terpuaskan saat itu.Aku bisa menikmati tubuh mereka,tubuh kakak Yuni,tubuhnya sendiri dan tubuh ibunya.Aduh sangat enak sekali.Apalagi kulit tubuh mereka putih semua,maklum karena mereka adalah orang cina turunan.Apalagi payudara mereka sangat montok dan vaginanya juga bisa memijit-mijit penisku.

Setelah hari itu,tiap kali aku main ke sana,kalau baru sampai di rumah Yuni,aku selalu meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang aku langsung melucuti pakaian mereka dan langsung menghisap payudara mereka bergantian.mereka pun sangat senang dengan caraku waktu aku datang itu.Kadang-kadang kalau baru datang,aku langsung membuka celanaku dan menyodorkan penisku kedalam mulut Yuni,Shinta ibunya atau mbak Linda.Mereka pun sangat senang sekali.Sehingga tiap kali aku datang kesana pasti main dengan mereka bergantian.

Kadang-kadang Yuni,Shinta,mbak Linda atau ibunya juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya dan akupun sering juga main dengan teman-teman mereka.Aku bilang pada mereka,kalau mau mengundang teman untuk main harus yang bersih.Rata-rata teman-teman mereka itu adalah wanita yang tidak bisa dipuaskan oleh suaminya.Ada salah satu temannya yang mau memberiku bayaran,tapi aku menolaknya karena aku melakukannya dengan suka sama suka.Karena aku sangat suka seks.