Cerita ini ditulis berdasarkan pengalamanku dengan seorang pria yang sangat kucintai. Ada adegan sex vulgar dan ada juga detail non-sex dalam cerita ini, ditulis sebagai jawaban atas segelintir email yang mengeluhkan bahwa cerita-ceritaku vulgar dan terlalu banyak mengumbar seks.


Aan, cerita ini kutulis khusus untukmu, sayang. Saya tak mau kehilanganmu. Selamanya, di hatiku akan selalu ada sebuah tempat untukmu. Kuharap suatu hari nanti, kamu sudi menjadi pasangan hidupku. Semoga ceritaku ini dapat mengubah pikiranmu. Saya akan ada di sini untuk menunggumu, sayang. Dan saya akan selalu mencintaimu, sampai kapan pun juga..


*****


Malam itu, saya sengaja duduk berjam-jam di depan komputerku, mencoba untuk mengetik sebuah email untuk Aan-ku yang tersayang. Besok dia akan berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja selama 2 tahun. Dan saya merasa bahwa saya harus menumpahkan isi perasaanku sebelum dia pergi. Aan adalah teman gay-ku. Kami pernah beberapa kali memadu kasih, meskipun demikian, kami tidak terikat sebagai pasangan gay.


Kami hanyalah sepasang teman yang sangat akrab seperti sepasang kekasih. Tapi saya telanjur jatuh cinta padanya. Saya tak peduli bahwa kami berlainan ras dan agama. Saya juga tak peduli bahwa umur Aan enam tahun lebih tua dibanding umurku. Saya hanya tahu bahwa saya sangat mencintainya. Sesekali air mataku menetes saat kuketik setiap kata. Kenangan-kenangan indah bersamanya kembali membayangiku.


Ketika email itu sudah selesai kutulis, air mataku kembali menetes. Kubaca ulang emailku itu.


Dear Aan, Honey, tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Rasanya seperti baru kemarin saja kita bertemu, padahal kita sudah mengenal satu sama lain sejak awal Juli 2004. Jujur kuakui, saat pertama kali kudengar suaramu di telepon, kubayangkan kamu sebagai seorang bapak-bapak berkumis, bertubuh tambun. Tapi saat kita bertemu, saya kaget sekali. Kamu ternyata rupawan dan menawan. Percaya atau tidak, saya hampir pingsan karena senang. Sampai-sampai, saya hampir terjungkal saat melihat wajahmu menyembul dari balik pintu rumahku.


Saya masih ingat benar hari itu, hari di mana kita pertama kali bertemu. Saat itu hari Minggu, tepat 1 hari sebelum Pemilu, dan kamu mengajakku kencan di WTC Mangga Dua. Meskipun kita tak bisa berlaku seperti sepasang kekasih di situ, tapi saya sangat senang bisa jalan bareng denganmu. Saya masih bisa merasakan rasa manis dari es kelapa yang kamu belikan untukku. Kita ngobrol berjam-jam di food court sambil menunggu temanmu. Kamu, pada saat itu, memang ingin bersetubuh denganku. Dan saya pun tak menolaknya.


Saya tahu, saya mungkin terdengar murahan dan gampangan pada saat itu, tapi ada sesuatu dalam dirimu yang sangat kusuka. Sejak pandangan pertama, saya sudah telanjur jatuh cinta padamu. Bagiku, kamu sangat ganteng, meskipun perutmu agak berlemak. Saya tetap suka, kok:) Kegantengan memang subjektif; tak semua orang akan berpikir hal yang sama tentang dirimu. Kamu juga sangat baik, perhatian, dan penuh cinta kasih. Kamu bahkan rela datang jauh-jauh dari Bekasi hanya untuk menemuiku dan menghabiskan waktu sampai malam bersamaku. Memang kamu tak bisa datang setiap hari, tapi saya cukup tersentuh dengan perhatianmu. Karena itu, saya bersedia menyerahkan tubuhku padamu. Dan saya tak menyesal telah melakukannya pada malam itu..


Saya berhenti membaca di bagian ini, ingatan tentang Aan muncul dalam benakku. Saat itu kami memang terpaksa menghabiskan berjam-jam di WTC menunggu kepulangan temannya. Berhubung rumahku ramai, jika kami ingin ML, kami terpaksa harus numpang di kamar kost temannya yang kebetulan tak jauh dari tempatku. Selama di mall itu, Aan dan saya membicarakan banyak hal. Saya amat terbuka padanya, kuceritakan semuanya tentang diriku, kisah cintaku, dan kehidupanku.


Sesekali, saya memujinya karenaa saya terpesona akan ketampanannya. Tapi dia tak pernah percaya akan pujianku, katanya saya gombal:) Andai dia bisa melihat isi hatiku, dia akan tahu betapa saya memujanya. Kebetulan kami mendapat tempat duduk yang agak terpencil sehingga kami bisa pegang-pegangan tangan. Namun hal itu malah membuat kami semakin terangsang. Batang kemaluan kami menegang, berdenyut, dan basah. Kami terpaksa harus sabar menunggu sampai malam, menanti temannya.


Akhirnya, di dalam kamar kost teman Aan, kami dapat bercinta. Kamar itu memang kecil tapi bersih. Aan dan saya sudah tak sabar lagi, kami saling meraba dan mencium. Dengan tak sabar, Aan dan saya segera melolosi pakaian kami. Rasanya senang sekali saat saya dapat bertelanjang bulat di depannya. Saya ingin Aan melihat seluruh tubuhku; saya tak malu sama sekali. Penisku berdenyut-denyut, minta dipuaskan. Kulirik celana dalam Aan yang dilempar ke lantai. Celana dalam abu-abu itu basah dengan noda precum.


Aan pasti sudah tak sabar ingin memasuki tubuhku. Kusapukan pandanganku ke depan, dan kulihat Aan beridiri di depanku tanpa busana. Badannya yang telanjang bulat terpampang jelas untuk konsumsi mataku. Setetes precum mengalir keluar dari lubang penisku, menebarkan kenikmatan. Mataku tak bosan memandang dadanya yang padat berisi. Pada dasarnya, Aan mempunyai bakat untuk berbadan kekar. Bentuk dada, bahu, dan punggungnya lebar dan kuat. Tapi karena tidak dilatih, sebagian sudah didiami oleh lemak.


Namun, Aan tetap terlihat seksi dan merangsang bagiku. Sepasang puting kecoklatan yang agak besar dan lebar menjaga dadanya. Dengan gemas, kuremas-remas dadanya. Aan hanya menutup matanya sambil mendesah pelan. Penisnya sendiri berdenyut-denyut dengan liar. Semakin keras remasanku, semakin keras pula desahannya. Kedua tangannya terulur dan lalu memeluk tubuh telanjangku. Kami pun saling berpelukkan. Kulit tubuhnya menyentuh kulit tubuhku, dan kehangatannya menyelimutiku. Saya terlena seketika itu juga, larut dalam pelukannya.


"Kamu seksi sekali, Endy sayang. Saya jadi ngaceng berat, nih. Masih mau kan ML ama saya?" tanyanya seraya mendaratkan ciuman di pipiku, pelukannya mengencang.


Tanpa sengaja, penisnya yang tegang beradu dengan penisku. Precum kami terpercik ke lantai.


"Ya, sayang. Saya mau ML ama kamu. Please fuck me," jawabku, penuh gairah.


Suaraku agak mendesah, jelas terdengar bahwa saya sangat membutuhkan seks. Nafsu memang telah mengambil alih otakku. Yang dapat kupikirkan pada saat itu hanyalah seks, seks, dan seks. Dan saya yakin dalam pikiran Aan juga hanya ada seks saja. Tapi seks yang kami berdua pikirkan bukanlah seks semalam karena nafsu belaka, melainkan seks yang berdasarkan atas hubungan cinta. Aan dan saya saling mencintai, meskipun arti cinta kami agak berbeda.


Saya mengharapkan cinta yang berkepanjangan. Sementara Aan lebih suka cinta sementara. Saya tak menyalahkannya sebab Aan punya alasannya sendiri. Bibir kami lalu saling bertautan, terkunci oleh asmara dan nafsu. Kami terus berciuman tanpa mempedulikan kehadiran teman Aan. Saat ciuman kami selesai, Aan-ku yang tampan lalu duduk di lantai, menyandar ke tembok. Tanpa disuruh, dengan patuh, saya merangkak ke arahnya dan mengulum batangnya. Saya suka dengan bentuk kemaluan Aan, pas di mulutku. Arahnya yang agak miring ke kanan malah membuatnya semakin unik dan merangsang. Kepalanya agak kemerahan, berkilat dengan precum. Kujilat-jjilat dengan penuh semangat. Sesekali kukocok-kocok batang kejantanannya untuk mengeraskannya. Kudengar erangan erotis meluncur dari bibirnya.


"Oohh.. Yyeeaahh.. Hisap terus.. Oohh.. Hisap terus, sayang.. Hhoosshh.."


Teman Aan juga gay, maka dia tak keberatan dengan adegan panas yang kami mainkan di depannya. Namun sebagai seorang pecinta pria, tentunya dia pun ingin ikut serta. Berjongkok di belakangku, temannya itu sibuk memerah kemaluanku, seakan-akan saya sapi. Tangannya yang agak besar dan kapalan itu memerah-merah batang kemaluanku. Eranganku tertahan di dalam mulutku yang tersumbat penis Aan.


"Mmpphh.. Mmpphh.." Rasanya nikmat sekali.


Sedotanku pun makin keras dan Aan hanya dapat merem-melek saja. Kakinya terasa menegang, menahan gejolak nikmat yang memancar dari batangnya. Precumnya yang asin membanjiri mulutku, kuhabiskan semua tanpa sisa. Precumku sendiri menetes membasahi lantai kamar, tetap diperas oleh teman Aan itu. Tapi tiba-tiba temannya itu melepaskan perasannya. Berdiri menghadap Aan, temannya itu menyodorkan penisnya.


Aan tak menolak dan langsung mengulumnya dengan penuh kenikmatan. Jujur, saat itu saya agak cemburu sedikit, tapi saya sadar bahwa semua itu hanyalah seks demi nafsu birahi semata, dan bukan demi cinta. Maka kualihkan perhatianku kembali pada penis Aan yang menuntut untuk dipuaskan.


SLURP! SLURP! Ah, enak sekali. Penis Aan bukanlah yang pertama yang kuhisap. Sudah ada beberapa penis lain yang sempat singgah ke dalam mulutku. Dari semuanya, rasa penis Aan paling enak, apalagi bila dicampur saus precum. Selama beberapa menit, kami saling menghisap penis, tenggelam dalam nafsu birahi homoseksual. Bunyi hisapan mulut kami bergema dan memenuhi telinga kami sehingga nafsu birahi kami pun semakin terbakar.


Bersambung...

Ren baru saja selesai mandi dan berpakaian saat kepala Sho muncul di pintu kamarnya.


"Ren sayang," sapanya lembut.


"Sarapan, yuk."


"Hah?" balasnya bodoh.


"Oh, ok."


Mereka berdua duduk saling berhadapan. Ren menatap semua menu sarapan yang ada diatas meja.


"Ini kamu yang masak?" tanyanya tidak percaya saat melihat menu sarapan pagi lengkap yang tersedia diatas meja makan.


"Yup." Sho mengangkat bahu.


"Aku memasak dengan menggunakan bahan-bahan yang ada." katanya ringan


Ren menatap sekali lagi menu sarapannya pagi itu. Ren yang terbiasa menyantap Mi instan setiap paginya, merasa bahwa masakan lengkap untuk sarapan yang ada di depannya ini benar-benar 'wah'. Ren tidak pernah bisa memasak. Namun sang kekasih idamannya ini benar-benar ahli. Apa saja yang kira-kira Ren isikan kedalam kolom karakteristiknya selain ahli masak? Ren tidak begitu ingat.


"Aa.." Sho hendak menyuapkan makan paginya kearah Ren.


"Eh, Sho." Ren terlihat kikuk. Wajahnya membara.


"Tidak perlu seperti itu."


"Aa.." Sho tetap membandel. Senyum menawannya yang menjadi senjatanya kali ini.


Ren menyerah. Dia membiarkan Sho menikmati makan pagi mereka dengan kemesraan yang sangat. Tidak, sebenarnya Ren juga menikmatinya. Ren tidak pernah merasa dimanja hingga seperti ini. Sho benar-benar kekasih idamannya!


"Bagaimana kalo kita jalan keluar?" tanya Sho setelah mereka selesai beres-beres sesudah sarapan.


"Gak mood nih." kata Ren lemah.


"Gak mood, ya." Sho termangu. Lalu dengan cepat ia membuka seluruh pakaiannya di depan Ren.


"Kalau begitu, bercinta yuk." katanya ceria.


"Sapa tau Ren jadi lebih mood."


"Ok, ok." Ren menyerah kalah.


"Kita jalan."


Sepanjang jalan Ren di gandeng tangannya oleh Sho. Walau agak sedikit malu, biar bagaimanapun mereka kelihatan seperti Abang dan adik yang sangat akur. Banyak mata yang memperhatikan mereka, banyak mulut yang berbisik. Dalam hati Ren merasa sedikit tersanjung, Sho bukan saja idaman bagi setiap cewek yang melihatnya, tetapi mungkin saja bagi setiap cowok yang seperti Ren.


Mereka pergi ke taman bermain dan bermain sepuasnya seharian itu. Ren benar-benar merasa bahagia. Mungkin, walaupun hanya bisa memiliki Sho selama 3 hari, Ren tetap merasa bahagia. Sho benar-benar menyayanginya seperti mereka sudah menjalin hubungan yang sangat lama.


Keduanya terduduk di kursi taman sambil tertawa terengah-engah. Sepertinya mereka baru saja naik roller coaster. Sho menatap lekat Ren, tawanya yang renyah menjadi senyuman yang lembut.


"Pas waktu yang tadi itu seru juga ya, Sho?!" Ren yang masih tertawa menolehkan kepalanya. Ren langsung tertegun melihat reaksi Sho.


"Ren kelihatan senang sekali, ya?" kata Sho lembut.


"Eh, iya."


"Syukurlah."


Ren menyandarkan dirinya ke dada Sho.


"Aku masih tidak mengerti, tapi aku senang Sho ada disini.


Sho merengkuhnya dengan erat.


"Ya, Sho juga senang bisa ketemu ama Ren." tangannya membelai rambut Ren.


*****


Sho terbaring di tempat tidurnya malam itu. Matanya menatap lekat langit-langit. Ren, ia benar-benar tidak mengerti. Bukankah dia dipesan untuk bercinta dengannya? Sho benar-benar tidak mengerti. Dia memandang cincin yang dipakainya di jari tengah tangan kanannya. Ren masih belum menyadarinya kalau Sho bisa tahu perasaan Ren melalui cincin ini. Permukaan rata yang berwarna putih pada cincin ini akan berubah warna seiring dengan perubahan perasaan Ren. Yang Sho mengerti adalah, kadang-kadang Ren merasa sedih disaat cincinnya berwarna hitam. Atau kadang-kadang marah dengan kenakalannya disaat warnanya menjadi biru. Atau senang saat warnanya menjadi kuning. Namun ada pada saat-saat tertentu cincin tersebut berubah warna menjadi warna yang tidak pernah dicantumkan artinya kedalam otaknya, pink.


Pintu kamar Sho terbuka dan Ren ada disana. Sho memandangnya sesaat sebelum mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk, "Ada apa?"


Ren terlihat malu-malu.


"Malam ini, boleh tidur bersama?" Lalu wajahnya memerah.


"Tapi bukan bercinta." kata Ren cepat-cepat.


Sho tersenyum, lalu mengulurkan tangannya.


"Boleh."


Lalu Ren terbaring dalam dekapan Sho. Sho hangat, dan Ren merasakan kekuatan dalam Sho yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Aroma Sho sangat menyegarkan, dan memikat hatinya. Apakah aku sudah jatuh cinta?


Namun belum sempat Ren menjawab pertanyaan tersebut, dirinya telah jatuh kealam mimpi. Dirinya membawa Sho kedalam mimpinya.


*****


Ren terbangun saat tengah malam. Mimpinya yang indah yang membuatnya terbangun. Sesuatu perasaan basah yang mungkin membangunkannya dari mimpinya. Tubuhnya masih terasa gemetar. Belum pernah ia bermimpi seperti itu. Sho dan dia, bercinta yang.. Benar-benar tidak terkatakan.


Ia memandang wajah yang tertidur disebelahnya. Terlihat damai sekali wajah Sho. Keinginannya bertarung dengan ketakutannya. Namun suatu keberanian membuatnya melaksanakan keinginannya. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Sho, dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Sho. Hangat, lembut dan penuh pesona. Dan seperti pada saat Sho mendapatkan tenaga pembangkitnya, ia membalas. Ren yang terkejut tidak dapat menghindar saat Sho langsung membuat mereka berganti posisi. Tubuhnya yang lebih besar menindih Ren sehingga Ren terperangkap. Kali ini dia tidak akan membiarkan Ren lari, apalagi setelah kali ini, Ren yang menginginkannya sendiri.


Pada akhirnya Ren menyerahkan dirinya kedalam pelukan Sho. Ia membiarkan dirinya dibuai oleh ciumannya, belaian tangannya, dan kehangatannya. Sekali lagi Ren merasakan ketegangan menyakitkan yang bangkit didalam dirinya. Sho yang juga merasakannya tertawa pelan. Ia membawa dirinya kesana, lalu mencintai bagian itu dengan seluruh jiwanya. Ia mendengar Ren mengerang. Sho memberikan desahan menenangkan.


Beberapa saat kemudian Sho kembali mencium Ren. Sementara Ren secara naluri mencari ketegangan Sho. Dengan penuh rasa ingin tahu. Kedua tangannya beristirahat disana, atau bahkan seakan tidak ingin melepaskannya.


"Sho?" panggil Ren lirih.


"Ya?"


"Astaga."


"Astaga?"


Ren tersenyum, "Kamu memang menakjubkan."


Sho tertawa pelan, "Bukankah seperti yang Ren inginkan?"


"A-ku.." Ren merasakan gejolak di dadanya.


"Ya?" Sho mendorongnya.


"Aku ingin Sho tetap disini."


"Aku disini sekarang." Sho berbisik di telinganya, lalu ia menggigitnya kecil.


"Aku akan tetap disini."


Mereka kembali bercinta. Kedua tubuh itu menjadi satu. Dua menjadi satu. Saling mencumbu setiap bagian tubuh yang mungkin bisa dicapai oleh masing-masing dari mereka. Nafas yang seolah dipacu menuju sesuatu.


Sho menatap mata Ren dalam-dalam sebelum menciumnya lagi. Lidah bertemu dengan lidah. Saling membelit, membelai. Keduanya mengerang didalam tenggorokan mereka. Mereka berdua masih terbawa irama percintaan mereka. Lembut dan penuh pesona. Merasakan kekuatan mereka masing-masing. Dan sesaat kemudian, mereka terjebak dalam gelora keliaran naluri mereka sebelum akhirnya keduanya mencapai batas akhir, batas yang akhirnya terlampaui dengan kegilaan mereka yang memuncak, erangan yang lebih mengerikan dari binatang yang paling liar sekalipun.


Ren tertidur dalam dekapan Sho beberapa saat kemudian. Sho memeluknya dengan erat. Sho kembali memandangi permukaan putih cincinnya yang sekarang berwarna pink yang amat pekat dan cerah. Apa ini artinya?


*****


"Pagi, Ren sayang." sapaan hangat Sho, dan wajahnya yang tersenyum adalah hal pertama yang dilihat oleh Ren esok paginya.


Dengan wajah yang sedikit memerah, Ren menyembunyikan wajahnya di dada Sho.


"Pagi." balasnya lirih.


"Um.." Ren merasakan getaran di tenggorokan Sho.


"Aku tidak melakukan sesuatu yang menyakitkan Ren, kan?"


Ren semakin membenamkan kepalanya ke dada Sho.


"Tidak."


"Syukurlah."


Sho lalu menyandarkan dirinya dengan beralaskan beberapa bantal. Lalu ia membawa Ren yang masih tersipu malu kedalam pelukannya lagi. Entah perasaan apa ini. Sho sendiripun tidak mengerti. Ia merasakan sesuatu yang hangat didalam hatinya. Sepertinya saat ini hatinya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak dimengerti oleh dirinya sendiri. Cincinnya masih berwarna pink pekat yang cerah.


"Sho senang bisa bertemu dengan Ren." Ren mengangguk di dadanya.


Sho mengangkat wajah Ren, membuat mata mereka bertatapan.


"Ren akan lebih manis kalo Ren ngga murung melulu."


"Eh.." Ren menjadi salah tingkah.


"Senyumlah selalu, Ren. Bangkitkan keberanianmu"


Ren lalu memeluk Sho.


"Aku tidak ingin Sho pergi."


"Aku masih disini."


*****


Ren berjalan secepat mungkin untuk kembali ke apartemennya. Ia lupa bahwa ini sudah hari yang ketiga. Dan seperti yang disebutkan dalam promosi dari perusahaan tersebut, maka pada hari ketiga, Sho akan diambil kembali.


Sho akan pergi. Tidak. Jangan pergi secepat itu. Dan, Ren yang terlambat menyadarinya, bahwa ia telah jatuh cinta pada kekasih sempurnanya yang dipesannya lewat internet. Sungguh suatu kejadian yang amat lucu, jika dipikir.


Pintu apartemennya berdebam terbuka.


"Sho?" panggilnya. Tidak ada sahutan. Ren terus memanggil-manggil namanya dan mencari keseluruh bagian apartemen, namun Sho tidak ada disana. Ren menunggu dan terus mengunggu, namun Sho tidak pernah kembali lagi. Wajah Sho terbayang berulang kali dalam benaknya.


"Sho curang." Ren terisak.


"Pergi diam-diam."


Ucapan Sho yang terakhir kalinya terngiang di telinganya, "Senyumlah selalu, Ren. Bangkitkan keberanianmu". Apakah hanya ini yang didapatnya dari sosok seorang Sho? Kekasih sempurna impiannya?


Namun saat kedalaman makna ucapan Sho dimengerti oleh Ren, kepergian Sho yang seperti ini membuatnya merasakan sesuatu yang lebih baik dalam dirinya. Kekuatan dan keberaniannya bangkit. Ia mencoba untuk tersenyum saat mengatakan, "Makasih, Sho." dalam bisikan pelan.


TAMAT

Setelah setahun menjalani pendidikan, akhirnya tiba masa pengenalan dunia kapal, sekaligus membuat tugas akhir, semacam laporan setelah kegiatan permagangan, dan aku berlima memilih Tanjung Perak, sebagai tempat kuliah nyata. Kebetulan aku paling tua dari mereka, karena aku masuk ketika semester enam, sementara kebanyakan peserta didik lain jebolan SMU, sehingga aku yang ditunjuk jadi ketua.


Ternyata di tempat yang disediakan oleh yayasan adalah tempat yang jauh dari nyaman, yaah, maklumlah, kota pelabuhan. Kami harus satu kamar berlima, persisnya bangunan berlantai tiga berukuran 6x7 yang mempunyai empat kamar tidur dan dua kamar utama itulah yang menjadi tempat kuliah nyata kami. Aahh, tak apa-apa, toh rumah yang lain tidak lebih baik dari ini, pikirku.


Satu hari menjelang awal perkenalan, kami dikejutkan dengan kedatangan tujuh lelaki yang katanya lulusan lembaga di mana kami belajar. Merekalah yang sedikit banyak akan memberikan pengetahuan tentang dunia perkapalan untuk kami. Mereka khusus didatangkan dari kapal untuk membimbing kami. Setelah para senior memperkenalkan kami, mereka menempati tiga kamar lain. Entah mengapa, sejak awal aku sudah merasa tidak beres.


Benarlah dugaanku, senioritas telah menjadikan mereka sosok yang sangat menakutkan, di pertemuan berikutnya. Kesalahan kecil harus berujung dengan hukuman, yang terkadang kurasakan kelewatan. Tidak jarang pelecehan harus kami alami sebagai hukuman yang kami tidak tahu bentuk kesalahannya.


Aku tidak tahan dengan perlakuan mereka. Aku sadar, bahwa mereka tertekan, setelah selama lebih dari tiga bulan, baru merasakan daratan. Selama itu pula hanya berteman dengan laut, ikan, burung laut, tidak lebih. Tapi aku merasa tidak harus kepada kami perasaan tertekan itu dilampiaskan. Di minggu ketiga hari libur kami, akhirnya aku beranikan untuk protes, tanpa sepengetahuan teman-temanku. Tanggungjawab atas kepercayaan mereka yang telah menunjukku sebagai ketua, membangkitkan keberanianku. Tidak seperti hari libur sebelumnya, yang biasanya kami berlima menghabiskan malam di tepi laut, dan tidur di sembarang tempat, asalkan tidak di tempat kami karena muak dengan perlakuan senior kami yang memang jauh lebih tua, namun malam itu aku pamit pada mereka untuk menemui Pak Kasim, penjual nasi langganan kami untuk urusan penting.


Rasa tidak tahanku dengan perlakuan senior, telah membuat rasa takutku hilang. Aku bergegas pulang ke tempat kami. Aku yakin jam-jam begini, mereka biasanya sedang main kartu. Membuatku semakin yakin, bisa melunakkan hati mereka.


Hati-hati aku masuk, dan menuju kamar utama, namun begitu terkejutnya aku, karena kudengar dengusan dan suara-suara aneh. Aku terus melangkah, dan betapa terhenyaknya aku, ketika kudapati para seniorku tidak sedang main kartu, namun sedang bergumul dengan dua cewek yang entah dari mana. Mereka kaget, sama halnya aku yang baru pertama kali menemui perbuatan yang tak terbayangkan sedikitpun. Tujuh laki-laki dan dua perempuan yang semuanya telanjang bulat, sedang bergumul dirasuki setan.


"Biadab..". Teriakanku seolah membuat mereka semakin kesetanan.


"Oo, sudah jagoan yaa?, salah satu dari mereka mendekatiku dan mencengkeramku.


"Teman-teman, ada jagoan baru nih, ayo kita uji".


Setelah diberi aba-aba, serentak mereka mengerubungiku. Salah satu mulai membuka jaketku dengan paksa. Aku berontak, namun justru mereka semakin gemas. Tak urung kaosku pun harus lepas dari tubuhku. Menyusul celanaku harus lepas juga, dan akhirnya aku pun telanjang bulat sebagaimana mereka. Dengan ganas dipermainkannya penisku, aku berontak sekuatnya, aku tidak bisa teriak, karena mulutku dibekapnya. Yang kurasakan hanya rasa sakit di pangkal pahaku. Dan mereka terus merancapku. Rasa sakit mulai berubah rasa, ketika jilatan mendarat di sekujur tubuhku. Kenikmatan mulai menjalar, apalagi ketika dua perempuan itu juga ikut bereaksi. Lumatan dua bibir mereka di penisku yang sudah sangat tegang, memberiku pengalaman kenikmatan yang tiada tara. Aku justru mulai mengikuti permainan lidah mereka. Kulihat seniorku tertawa-tawa, bernada mencemooh.


Ketika memek mereka mulai disodorkan ke penisku, aku mengerang. Antara rasa bersalah dan nikmat telah mengajariku satu pengalaman mendebarkan. Aku justru beraksi memaju mundurkan pantatku. Akhirnya, kenikmatan itu berujung pada menyemburnya mani dari penisku. Aku mengerang, dan mulai melemas setelah itu.


Mereka tertawa demi melihat diriku yang di persimpangan segala rasa. Namun kejadian selanjutnya justru semakin membuatku tidak bisa berbuat banyak. Mereka menuntut lebih dari itu.


"Jangan bertingkah, dan ikuti mau kami, kalau kamu tidak ingin kejadian tadi tersebar ke kampusmu. Ke orang tuamu, dan habislah kau!".


Aku berpikir keras, dan baru sadar bahwa hanya aku yang tidak memakai kondom. Akhirnya aku mengangguk pelan, namun seolah anggukanku membakar gairah mereka. Aku dibaringkan seperti dua perempuan itu. Aku kaget, mau diapakan, pikirku. Kekagetanku semakin bertambah, ketika dua senior mendekapku. Bergantian mereka melumat bibirku. Aku mencoba berontak, tapi entah mengapa aku terngiang dengan ancaman mereka.


"Tenang, sayang.. Setelah di laut kau akan terbiasa dengan ini", bisikan itu seolah membiusku.


Sementara permainan lima senior yang lain pada perempuan itu sudah begitu membabi buta. Sedikit demi sedikit aku tersihir dengan aroma mesum itu. Aku mulai mengikuti permainan mereka. Antara jijik dan nikmat, aku balas lumatan dua bibir dari seniorku yang jauh dari seksi, bahkan terkadang kumis lebat mereka menusuk-nusuk hidungku. Mereka yang kesemuanya kekar, telah membelitku erat. Dua putingku habis dilumatnya. Kenikmatan luar biasa begitu mengalir dari ujung-ujung putingku di tengah lumatan lidah itu.


Ketika satu penis mulai disodorkan ke mulutku, aku terhenyak. Aku mencoba menepisnya. Namun ketidakberdayaanku membuatku menyerah. Dengan terpaksa kubuka mulutku. Dua tiga isapan telah membuatku tercekat. Rasa mual begitu menyerang. Aku tersedak dan muntah, tapi untungnya mereka sadar. Bahkan justru mereka yang kemudian menyerang penisku yang memang mulai bangkit setelah aku bebas dari mualku.


Di aksi berikutnya satu seniorku mulai membimbing penisku ke pantatnya. Dia menunging, dan memintaku untuk memasukkan penisku. Dibimbingnya penisku untuk menjalani pengalaman lain yang tak terbayangkan. Sedikit demi sedikit mulai kumasukkan penisku ke duburnya. Sempitnya lubang itu, telah memberiku sensasi lain, tidak sama ketika penisku kumasukkan ke vagina perempuan itu. Aku mulai menikmati sensasi itu, dan rasa itu bertambah, ketika seniorku yang lain, mulai mengelus pantatku. Jilatan lidahnya di pantatku sungguh menghadirkan satu buaian hebat. Terlebih setelah penisnya mulai beraksi di seputar pantatku. Antara sakit dan nikmat mengumpul di dua ujung kenikmatan bawahku. Penisku yang sedang membuai pantat seniorku, terpacu dengan sodokan mesra penis senior yang lain di duburku.


Dua kenikmatan ganda melambungkan aku. Aku serasa di awang-awang, dan sedang di surga. Sesekali kulirik arena pergumulan yang lain, dan betapa mani itu telah muncrat di sekujur tubuh perempuan itu, dan itu seolah memicu arena kami, sehingga pergumulan semakin memuncak. Sensasi di duburku, memicu penisku mengolah rasa yang sungguh nikmat. Maniku yang entah sudah di saluran apa, seolah membentuk sebuah gumpalan besar untuk sesegera mungkin muncrat sejauh-jauhnya.


Erangan mulai terlontar dari mulut seniorku. Maninya yang tak tahan untuk keluar, muncrat membasahai punggungku. Tak urung maniku pun sontak keluar. Sungguh sebuah kenikmatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.


Aku tertegun, setelah pergumulan berakhir. Segala rasa berkecamuk, manakala logikaku mulai muncul. Aku merasa telah terjebak namun sungguh aku menikmatinya. Mungkinkah ini akan menjadi biasa ketika aku harus berlama-lama di laut? Keraguanku mulai mengikis gambaran akan indahnya dunia kapal. Namun aku tetap bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Entah aku nantinya harus terdampar di mana, yang jelas, aku telah menemukan warna lain dalam hidupku.


Sejak kejadian malam itu, seniorku mulai mengurangi sikap buruk mereka. Entah aku harus bangga atau menyesal atas semua, namun satu rasa yang sempat muncul, bahwa aku merasa benar-benar bisa menjawab tanggung jawab yang telah dibebankan oleh teman-temanku.


Melalui ini, kudambakan, semoga teman-temanku Andi, Jhoni, Raka, dan Didit menjadi pelaut handal dan jangan arogan dengan siapapun, dan untuk para seniorku yang telah memberiku satu warna, yang bahkan kelabu buatku, kuucap trima kasih. Sebetulnya kalian baik, hanya keadaanlah yang membentuk dan mengharuskan kalian begitu.


Maaf kalau kuputuskan untuk mencoba jalan lain, karena aku merasa itu bukan duniaku. Aku lebih memilih daratan, karena aku punya tanggung jawab moral yang harus aku tunaikan. Good Luck for All.


TAMAT

Seorang pemuda sedang duduk di sebuah kafe dan sedang menikmati secangkir coffee mocca. Sebuah buku tergeletak terbuka di depannya. Dia tampaknya membaca dengan raut wajah yang sangat serius. Sepertinya bahan bacaan yang penting. Dilihat dari jas almamater yang dikenakannya berikut celana panjang berwarna putih dan buku-buku yang dibawanya, bisa dipastikan bahwa dia adalah seorang anak kuliahan.


Dia kembali menghirup coffee mocca-nya. Tiba-tiba seorang pria dengan dandanan aneh yang menyerupai tokoh-tokoh di salah satu komik mendekat ke mejanya dan berkata, "Boleh aku duduk disini?"


Si pemuda hanya menggumam pelan. Tidak jelas apakah dia setuju atau tidak. Dia terlihat masih berkonsentrasi pada bacaannya.


"Thank you." jawab si pria berdandanan aneh itu.


Mereka terdiam lama sekali hingga si pria tersebut memulai pembicaraan, "Hmm, sepertinya serius sekali. Apakah akan ujian?"


Si pemuda hanya menggumam pelan sekali lagi.


"Hmm, tapi buku itu bukankah 'Shakespeare'?" tanya si pria lagi.


"Kuliah di jurusan Sastra?"


Si pemuda akhirnya memandang si pria. Dia yang sedari tadi tidak memperhatikan si pria, terkejut melihat wajahnya yang tampan di balik dandanannya yang aneh.


"Gabungan antara baju Benimaru dan celana Iori dalam KOF. Lalu, apakah itu sarung tangan Kyo? Dan bukankah model rambutmu sama seperti Shingo?" ucapnya cepat.


"Gabungan yang agak aneh menurutku. Akan lebih bagus kalo memilih salah satu saja."


"Bagus sekali." ujar si pria sambil tersenyum manis. Namun senyumnya lenyap secepat angin berlalu.


"Akhirnya kita bisa bicara, Ren."


"Ada perlu apa?" dan si pemua tersadar, "Bagaimana kamu tahu namaku Ren?"


Si pria tidak menjawab pertanyaan Ren.


"Perkenalkan," dia mengambil sebuah kartu nama dari sakunya, "Aku Kyori Kusagami. Sales dari perusahaan Heavenly Tonight. Apa yang sangat kamu inginkan?"


"Sepertinya sales lepas." Ren tertawa sinis.


"Aku tidak tertarik."


Si sales menyodorkan kartu namanya kearah Ren.


"Aku tahu kau menginginkan seorang kekasih." katanya langsung.


"Kami dapat memberikannya." dia bersandar ke kursinya. Matanya tidak terbaca.


"Silakan cek website kami untuk keterangan yang lebih lanjut jika anda tertarik."


Ren mengabaikannya dan kembali ke bukunya. Pria itu berdiri, "Terima kasih atas waktumu, Ren. Semoga kamu akan menyukai produk kami." dan kemudia ia langsung beranjak pergi.


Ren berusaha untuk memfokuskan pikirannya kembali ke bukunya. Namun pertemuannya dengan si sales gila itu menghancurkan konsentrasinya seperti es yang di letakkan di bawah sinar mentari. Ren mengambil kartu namanya dan membacanya.


Kyori Kusagami


Telah dibuka Heavenly Tonight Co. Ltd.


Untuk info lebih lanjut, cek


heavenly-tonight.com


Ren memegang kartu nama tersebut beberapa lama sebelum ia memutuskan untuk mengambilnya. Bagaimana pria itu bisa tahu namanya? Dan juga tahu jurusan akademiknya? Dan bahkan keinginannya yang paling gila, yaitu memiliki seorang kekasih?


*****


'Heavenly Tonight'


'click here to continue'


Ren mengarahkan mouse-nya ke huruf 'here' dan meng-click untuk mendownload halaman selanjutnya. Situs ini benar-benar ada, dan yang lebih herannya lagi, Ren tidak pernah mendengar adanya situs seperti ini dan bahkan perusahaan yang menyediakan kekasih bagi mereka yang memerlukannya. Pada awalnya Ren mengganggap bahwa hal itu adalah kegilaan sesaat si sales itu.


Halaman berikutnya telah selesai didownload...


'Terima kasih atas kepercayaan anda kepada kami. Sebagai pengunjung pertama, kami akan memberikan promosi khusus kepada anda. Silahkan isi kolom-kolom dibawah ini untuk menentukan KARAKTER, BENTUK WAJAH & TUBUH, MODEL RAMBUT dan kelengkapan lainnya dari BONEKA PROTOTYPE yang akam kami kirimkan kepada anda. Silakan mencoba selama 3 hari GRATIS. Kami tidak akan memungut biaya apapun untuk masa promosi 3 hari tersebut.'


'Karakter Bentuk Wajah Bentuk Tubuh Model Rambut'


Ren menatap halaman web tersebut dengan tidak percaya. Website ini benar-benar ada dan isinya benar-benar gila. Apa maksudnya boneka prototype? Apakah itu maksudnya boneka untuk mainan seksual? Apakah ada di jaman sekarang ini pembuatan boneka tersebut terserah keinginan si pembeli? Walaupun aneh dan mencurigakan, Ren tetap mengisi kolom-kolom 'Karakter, Bentuk Wajah, Bentuk Tubuh, dan Model Rambut' dengan isian yang menjadi kekasih idamannya. Lalu Ren meng-click 'submit' untuk menyatakan bahwa ia telah menyelesaikan kolom-kolom isian tersebut.


Di halaman website berikutnya, setelah selesai di download, terlihat wajah tampan seorang pemuda. Benar-benar tampan dan keseluruhannya, maksudnya tubuhnya benar-benar ukuran ideal seperti yang diimpikan Ren. Ren membaca tulisan dibawahnya.


'Inilah prototype yang akan kami kirimkan ke rumah anda sebagai kekasih anda untuk 3 hari promosi GRATIS kami. Apakah semuanya telah sesuai dengan keinginan anda?'


'back' 'continue'


Ren menekan tombol 'continue'.


'Terima kasih atas pesanan anda. Prototype kami yang pertama ini, LOVER 1, akan sampai di rumah anda dengan kiriman kilat kami. Selamat mencoba dan bersenang-senang.'


Ren menatap website tersebut yang meng-off line secara otomatis. Masih ternganga tidak percaya, Ren terpaku di kursi komputernya selama beberapa saat sebelum tersadar bahwa mungkin ini adalah pekerjaan orang gila yang ingin website-nya dikunjungi. Tertawa perlahan, Ren beranjak ketempat tidurnya dan tidur.


*****


Ketokan di pintu membuat Ren terbangun esok paginya. Dengan keadaan setengah sadar Ren membuka pintu. Dua orang pria dengan pakaian aneh seperti si sales tersebut berdiri di depan pintunya dengan sebuah kotak setinggi 1,8 meter diantara mereka berdua.


"Ren?" tanya mereka berdua.


"Apartemen Lounge, FV Blok C-10?"


"Ya?" Ren menggosok kedua matanya.


"Mohon diterima kiriman ini."


Kedua pria tersebut membawa kotak besar itu kedalam ruang tengah, meminta Ren menandatangani sebuah slip tanda terima barang dan meninggalkannya. Ren sendiri dengan keadaan setengah sadar-setengah mengantuk kembali memandang kotak besar tersebut. Terdapat tulisan 'HEAVENLY TONIGHT Co. Ltd' di bagian atas kotak tersebut. Ren teringat kembali apa yang dilakukannya semalam di website mereka.


"Mereka beneran ngirim nih?" tanya Ren kepada dirinya sendiri setengah tidak percaya.


Ren langsung membuka kotak tersebut. Benar-benar packing yang rapi. Sepertinya ini sesuatu yang berharga. Ren telah membuka kardus luarnya. Tampak sesuatu yang di bungkus kertas pembungkus semi-plasik dengan bentuk seperti peti mumi. Ren mengambil cutter dan memotongnya. Dan tiba-tiba saja sesuatu yang besar jatuh menimpanya dari dalam bungkusan tersebut. Ren terpekik pelan, ternyata sesosok manusia! Ren mendorongnya dari atas tubuhnya dan mundur menjauh. Nafasnya terengah. Kekagetan masih menguasai dirinya.


Dalam kekagetannya Ren menyadari bahwa sosok tersebut dalam keadaan telanjang. Bahkan dalam keadaan tidak sadar, sosok tersebut sangat sangat sempurna. Wajahnya setampan yang terlihat di halaman website semalam. Tubuhnya terpahat sangat rapi, gagah dan kekar seperti dewa Yunani. Bahunya lebar dan kuat, lengannya yang kekar, dadanya yang bidang dan berbulu halus, perutnya yang rata dengan six-pack-nya, kakinya yang kekar dan kuat, dan kejantanannya.. Benar-benar sempurna.


Ia mendekat perlahan ke arah sosok tersebut. Jelas bukan boneka. Ren memeriksa denyut nadi dan detak jantungnya, sambil berusaha mengabaikan kondisi sosok tersebut yang telanjang. Tidak ada denyut nadi ataupun detak jantung. Dan sosok ini juga dingin dan pucat.


Detik berikutnya Ren menahan nafasnya. Ini jelas mayat! Apa mereka membuang mayat hasil pembunuhan dengan cara begini? Handphonenya yang berbunyi tiba-tiba membuatnya terperanjat.


"Ha-halo?"


"Hi, Ren!" sapa suara si sales dari handphonenya.


"Terima kasih sudah berbelanja. Sudah terima boneka prototypenya?"


"Boneka prototype apanya!?" bentak Ren.


"Ngapain kalian kirim mayat ke rumahku!"


"Wei, Pelanggan pertama," si sales terdengar kesal.


"Jangan ngomong sembarangan ya. Baca donk buku petunjuknya." Lalu dia tertawa riang lagi.


"Anyway, selamat mencoba ya. Tiga hari lagi aku akan datang mengambil prototype-nya sambil mendengarkan komentarmu, hei Pelanggan pertama." teleponnya terputus.


Ren masih terpaku tidak percaya. Mereka itu orang gila macam apa? Tapi mau tidak mau Ren mencari buku petunjuknya. Dan ternyata ada. Ren mencari-cari halaman demi halaman. Terbaca olehnya sub judul seperti 'Cara untuk bisa bercinta lebih dari 10x semalam bagi anda berdua', 'Cara untuk bercinta lebih HOT dan INTENS' sebelum akhirnya Ren menemukan 'Cara memulai'


Terpaku dan tidak percaya oleh apa yang dibacanya, Ren tidak bsia mengucapkan sepatah katapun. Lalu ia memandang sosok yang masih terbaring di lantai tersebut. Ren semakin mendekat, dan sekarang berada di atasnya. Dengan jantung yang berdetak lebih cepat, Ren menunduk memandangi wajah yang tertidur itu. Lalu lebih berfokus memandangi bibirnya yang sedikit terbuka.


Tertulis di buku petunjuk bahwa untuk mengaktifkan prototype ini, yang harus dilakukan olehnya adalah dengan memberikan sebuah ciuman yang 'panas', karena di dalam bibir prototype tersebut terdapat mesin reaksi yang akan langsung mengaktifkan prototype tersebut jika mendapat 'panas' dari si pembeli dan 'panas' tersebut akan langsung membuatnya menganggap si pencium adalah kekasihnya.


Dengan wajah yang panas, Ren semakin mendekatkan wajahnya ke wajah yang tertidur tersebut. Ia belum pernah melakukan hal ini, dan karena itulah Ren memiliki keinginan untuk memiliki seorang kekasih yang dapat mengajarkannya hal-hal seperti ini. Tapi untuk memulai sendiri? Karena itu, Ren membutuhkan keberanian yang besar. Jantungnya semakin berdetak cepat saat bibirnya semakin mendekati bibir si pangeran tidur ini.


Ren menyentuhkan bibirnya dengan gugup. Ia tidak pernah mencium sehingga tidak tahu caranya. Dia menjepit bibir bawah sang pangeran dan memberinya gigitan kecil. Beginilah salah satu cara mencium seperti yang pernah dibacanya dalam sebuah buku. Ren memiringkan kepalanya, dan memasukkan sedikit lidahnya diantara celah kedua bibir sang pangeran yang sedikit terbuka itu. Kepalanya serasa pusing.


Tanpa disadarinya, jantung sang pangeran mulai berdetak. Ujung jemarinya bergerak perlahan seperti seseorang yang sudah lama tertidur dan kemudian tersadar. Kedua matanya membuka, memandang wajah samar ren yang sedang menciumnya dengan mata tertutup. Kehangatan menyelimuti tubuhnya. Dia merasakan mulut dan lidah Ren pada dirinya sendiri.


Dan tanpa peringatan apapun, sang pangeran langsung bereaksi. Dia berguling dan langsung berada di atas Ren tanpa melepaskan ciumannya. Dia bahkan membalas ciuman Ren sekarang. Hangat, bahkan ciuman yang panas. Ren yang berada dibawahnya, dengan tubuh sang kekasih yang lebih berat daripadanya, tidak bisa bergerak. Atau bahkan tidak ingin bergerak karena ia mabuk oleh ciuman sang kekasih.


Tepat pada saat Ren merasakan ketegangan yang menyakitkan bangkit dalam dirinya, Ren langsung melepaskan diri dan mendorong sang kekasih menjauh. Nafas keduanya terengah-engah. Masih menatap sang kekasih dengan seluruh rasa ketidak percayaannya, Ren beringsut pelan, menuju dinding dan bersandar disana dengan kata 'astaga' yang tidak terucapkan.


"Pagi, Kekasih," sapa sang kekasih dengan senyuman yang lembut. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia tahu atau bahkan menyadari ketelanjangannya. Ia meregang tubuhnya untuk melemaskan dirinya. Ia menatap Ren dengan penuh minat, lalu merangkak mendekat.


Sang kekasih makin mendekat. Detak jantung Ren semakin cepat.


"Tu-tunggu!" serunya dengan seluruh suaranya yang tersisa. Sang kekasih berhenti tepat saat wajah mereka sudah beberapa senti lagi.


"Kenapa?" tanyanya dengan wajah keheranan yang polos.


"Bukankah aku adalah kekasihmu untuk 3 hari ke depan? Bukannya kita akan.."


Ren menahannya pada bahunya saat dia akan bergerak mendekat.


"Ti-tidak sekarang. Mungkin nanti." dan Ren menanyakan pertanyaan pertama yang terlintas di benaknya.


"Siapa namamu?"


Sang kekasih duduk didepannya dengan wajah keheranan.


"Nama? Ng.." dia terlihat sedang berpikir keras.


"Tidak tahu." putusnya.


"Bukankah Ren sayang yang akan menamaiku?"


"Hah?" kata Ren bodoh.


"Eh, kalau begitu.." katanya kebingungan.


"Bagaimana kalau Sho?"


"Sho." balasnya pendek. Lalu, "Wah! Bagus sekali." sang kekasih langsung memeluk erat Ren.


"Makasih."


"Ok." kata Ren kikuk. Saat ia tersadar bahwa Sho masih telanjang, "Kita lihat ada baju yang muat untukmu, gak."


"Ok," kata Sho sepatuh anak anjing.


"Eh," ia tersadar.


"Kita tidak bercinta."


"Tidak." Ren merasa aneh, karena sepertinya ia mengendalikan Sho, si boneka prototype.


"Ok." Sho kembali menjadi sepatuh anak anjing.


Bersambung...

Sejak masa puber, saya telah menyadari homoseksualitasku. Di mana saja dan kapan saja, saya selalu memuaskan pandanganku dengan menikmati tubuh indah para lelaki. Diam-diam saya berharap bakal ada pria homo yang menyadari keberadaanku dan mau ngentotin lubang pantatku yang ketat dan menikmati kulitku yang putih mulus. Kebetulan, orangtuaku sedang menyewa para tukang bangunan untuk meninggikan lantai.


Rumahku memang langganan banjir dan sudah saatnya untuk mengakhiri semua itu dengan meninggikan rumah. Maka sejak hari Senin, rumahku selalu penuh kesibukan. Berhubung orangtuaku kerja, maka saya selalu diminta menjaga rumah. Tentu saja saya setuju!


Sejak jam 8pagi, dua orang pekerja bangunan sedang sibuk memulai pekerjaannya. Tampang mereka jantan sekali. Meskipun kulit mereka agak gelap akibat sinar matahari, namun mereka terkesan macho sekali. Nama mereka Ujang dan Udin. Ujang lebih tua, sekitar tigapuluhan sedangkan Udin lebih muda. Nampaknya mereka teman baik. Diam-diam, saya sering mengintip mereka bekerja.


Kunikmati tubuh telanjang mereka yang berotot and berkilauan akibat keringat yang tertimpa cahaya matahari. Aahh.. Andai saja saya dapat meraba tubuh mereka. Lalu sebuah ide mesum muncul di benakku. Kebetulan, mereka sedang beristirahat di teras samping, tepat di luar kamarku sambil bercanda dan minum kopi. Tak susah bagi mereka jika mereka ingin mengintip jendelaku.


Maka saya pun menelanjangi diriku dan berbaring di ranjangku. Kontolku sudah menegang duluan, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Kuambil Men's Health Indonesia edisi Januari 2004 di mana aktor tampan Marcelino Lefrandt berpose telanjang dada. Sambil memandangi wajah Marcelino dan juga tubuhnya yang berotot, saya mulai memainkan kontolku. Sengaja kusuarakan erangan tertahanku agar Ujang dan Udin mendengarnya.


"Aahh.. Oohh.. Mm.. Uuhh.. Hhoohh.." Dan mereka mendengarnya!


Dari sudut mataku, saya mengintip ke arah jendela. Ujang dan Udin, dengan mulut ternganga, memandangiku lekat-lekat. Sengaja kumiringkan majalah Men's Health agar mereka dapat melihat objek fantasi mesumku. Kudengar Ujang berbisik.


"Gile banget! Dia homo, Din. Lihat aja, masak dia coli sambil liatin foto cowok."


Tapi beberapa saat kemudian, mereka menghilang. Saya kecewa sekali, tapi berhubung tanggung maka saya meneruskan masturbasi.


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar-lebar. Di sana berdirilah Ujang dan Udin. Keduanya telah bugil dengan tubuh masih bersimbah keringat. Untuk pertama kalinya, saya berkesempatan untuk melihat kontol mereka yang tegang berdiri. Panjangnya sekitar 15 cm, cukup lumayan untuk kontol cowok macho. Kepala kontol mereka yang ungu kemerahan menatapku dengan tajam. Tanpa bicara, mereka berdua mendekatiku dan naik ke atas ranjangku. Udin mengambil Men's Health dari tanganku dan membuangnya ke atas lantai sambil berkata.


"Loe gak butuh cowok di majalah buat muasin loe. Loe cuman butuh kami berdua."


Jantungku berdegup kencang, gugup sekali. Namun saya juga amat senang karena rencanaku berhasil. Ujang mengusap-ngusap dadaku dan meraba-raba tubuhku. Di matanya jelas terpancar nafsu birahi yang menggebu-gebu.


"Loe putih dan mulus. Gua paling suka cowok Cina."


Ujang memiringkan kepalanya lalu memaksakan sebuah ciuman pada bibirku. Tentu saja saya tak menolaknya. Dengan nafsu yang tak kalah besar, saya menciuminya. Berkat tontonan VCD gay porno, saya tahu cara mencium seorang pria. Dengan nafsu, kulumat bibir bawahnya dan kupaksakan lidahku masuk. Ujang pun nampaknya ahli dalam berciuman. Begitu bibirnya menangkap lidahku, tanpa ragu, dia langsung menyedotnya. Aahh nikmat sekali. Tidak ada rasa jijik sedikit pun meski saya harus bertukar air liur dengan Ujang.


Sementara itu, Udin memposisikan kepalanya agar dia dapat menghisap kontolku. Berhubung kontolku tak disunat, dia harus menarik kulupku ke bawah terlebih dahulu. Kepala kemerahan yang basah dengan precum pun muncul. Sebutir precum nampak menyembul keluar dari lubang kencingku yang sempit.


"Mm.. Seksi sekali," Udin berkomentar.


Lalu dengan lahapnya, kontolku ditelannya dalam-dalam. Saya hanya dapat mengerang keenakkan saat kurasakan kepala kontolku yang amat sensitive bergesekkan dengan dinding dalam mulutnya. Aahh.. Hangat dan basah.


Ujang menghentikan ciumannya. Dengan pandangan penuh nafsu, dia mengontrol kepalaku dan membimbingnya turun. Saya amat memuja tubuhnya. Cepat-cepat kujilati tubuh kekarnya yang penuh keringat itu. Benar-benar tubuh maskulin yang amat sempurna, bagaikan patung Yunani kuno. Sungguh sulit dipercaya tubuh indah seperti itu adalah milik seorang abang tukang bangunan. Dadanya kujilati dan sempat kukulum salah satu putingnya yang berwarna coklat tua. Dapat kurasakan bulu-bulu halus di putingnya menggelitik mulutku. Aahh.. Nikmat sekali.


Ujang nampak puas dengan servis jilatku. Tubuhnya berkilauan dengan air liurku, dan dia pun makin ngaceng. Kontolnya menusuk-nusuk tubuhku, seolah ingin melubanginya. Saya tahu apa yang dia mau. Maka tanpa ragu, saya pengulum kontolnya. Begitu bibirku mengatup di antara batang kontolnya, bau khas laki-laki menusuk hidungku.


Jelas sekali Ujang malas membersihkan kontolnya. Bau pejuh kering bercampur dengan keringat serta air kencing berpadu menjadi satu. Saya merasa seperti disihir. Tanpa takut dan ragu, saya mulai memompa kontolnya dengan mulutku. Kuberikan servisku yang terbaik. Kujilati kepala kontolnya, lalu lubang kontolnya, dan juga bagian bawah kepala kontolnya. Ujang mengerang-ngerang kenikmatan, sambil meremas-remas dadaku.


"AARRGH!! Ya, hisap terus kontol gua.. Hisap gue.. Kontol Ujang memang yang terbaik.. Ayo, hisap yang kuat.. Aarrgghh.."


Mendengar erangannya, saya menjadi semakin terangsang, apalagi Udin masih asyik menghisap kontolku. Ah, tak terbayang nikmatnya menghisap kontol cowok sambil dihisapin pula. Kontolku terus berdenyut, dan melelehkan cairan precum. Semuanya habis dijilat Udin yang haus akan cairan kelelakianku. SLURP! SLURP! Begitu bunyinya.


Semakin lama Udin menghisap kontolku, semakin besar keinginanku untuk ngecret di dalam mulutnya. Tekanan di dalam biji pelerku makin besar dan pelan-pelan pejuhku mulai mengalir naik. Astaga, sebentar lagi saya akan ngecret! Nafasku mulai memburu dan nampaknya Ujang dan Udin mengetahuinya. Dengan cekatan, Udin menekankan jari-jarinya tepat di bawah kontolku kuat-kuat. Dan pada saat itu pula, saya ngecret.


"MMPPHH!! UUGGHH!! MMPPHH!! MMPPHH!!" Orgasme mengguncang tubuhku.


CRROOTT!! CCRROOTT!! Kurasakan kontolku menembakkan pejuh berkali-kali, namun aneh, kenapa tak ada pejuh yang mengalir keluar. Setelah semuanya berakhir, saya terduduk lemas, tapi saya tetap menghisap kontol Ujang dengan semangat. Udin sibuk menjilati sisa precum pada kontolku. Erangan-eranganku tadi tertahan oleh kontol Ujang yang tersumpal di dalam mulutku. Erangan-eranganku bergetar-getar di dalam rongga mulutku dan merangsang kontol Ujang. Tak pelak lagi, kini giliran Ujang untuk menumpahkan cairan kontolnya.


"UUGGHH!! Bangsat! Gue mau ngecret.. Bersiaplah.."


Dengan penuh tenaga, Ujang memegang kepalaku lalu pinggulnya didorong maju sehingga kontolnya nyaris menyumbat kerongkonganku.


"AARRGGHH!!" Dengan jeritan yang memekakkan telinga, Ujang pun menumpahkan semua isi biji pelernya tepat ke dalam kerongkonganku.


CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Saya tak perlu menelannya sebab kepala kontolnya langusng menembakkan pejuhnya ke dalam perutku. Cairan hangat kental dari kontolnya meluncur turun kerongkonganku. Rasanya erotis sekali. Sambil mengejang-ngejang, Ujang menghentak-hentakkan pinggulnya dan tetap mengerang.


"UUGGHH.. AAGGHH.. OOHH.. AARRGGHH.." CRROTT!! CCRROOTT!! CRROOTT!! Dan akhirnya semuanya selesai. Tapi semua belum berakhir.


Udin memeluk tubuhku dan menggulingkannya. Dia lalu segera berbaring di samping tubuh telanjangku secara menyamping. Tubuhku menghadap ke arah lain dengan pantatku menghadap kontolnya. Tiba-tiba, dengan bernafsu, dia memelukku dan menarik tubuhku kuat-kuat.


"AARRGGHH!!" teriakku. Udin sendiri hanya menyuarakan "MMPPHH!!" saat kontol besar miliknya menghunjam masuk ke dalam lubang pantatku yang masih perjaka.


Tanpa ampun, kepala kontol itu menarik lubang anusku lebar-lebar. Kesakitan, saya meronta-ronta namun Udin memegangku dengan kuat. Ujang terangsang sekali melihat rasa sakit yang kualami; kontolnya kembali ngaceng.


"AARRGHH!! Sakit, Bang! Ampun," tangisku. Namun Udin tak mempedulikanku.


Sambil tetap menyodomiku, dia berusaha untuk berkata di antara helaan napasnya.


"Loe suka 'kan.. UGH! Kontol gue di dalam loe.. ARGH! OOHH! FUCK YOU! Gue ngentotin cowok Cina.. ARGh!"


Saya hanya dapat pasrah. Rasa sakit di anusku semakin bertambah parah saja. Kontol Udin menghajar pantatku tanpa ampun. Air mataku terus mengalir keluar, rasanya sakit tak terkira. Namun aneh, saya malah menyukainya. Udin sedang memakai tubuhku untuk kepuasan seksualnya. Entah kenapa, tapi pikiran itu malah membuatku semakin terangsang.


Selama beberapa saat, saya merasa seperti akan buang air besar. Tekanan dalam ususku bertambah besar. Lalu saya teringat akan sebuah artikel yang kubaca bahwa ketika pertama kali disodomi, perasaan palsu itu memang muncul karena usus tertipu dan mengira kontol yang sedang menyodomi itu adalah kotoran manusia.


Tiba-tiba kontol Udin mengenai sesuatu jauh di dalam tubuhku.


"AARGGHH!!" erangku.


Begitu organ itu tersentuh, tiba-tiba saya merasa 'kesetrum'. Gelombang orgasme yang luar biasa menyapu seluruh tubuhku, seakan-akan saya sedang orgasme. Ujang menatapku dengan mata berbinar-binar, ingin mencicipi pantatku, namun Udin tak mengizinkannya sebab dia sedang sibuk ngentotin saya. Maka Ujang pun menemukan ide hebat.


"Din, loe berbaring di bawah dan dia di atas. Lalu gue bakal bergabung dengan loe," katanya.


"Gue pernah liat adegan ini di film bokep homo. Dan keliatannya enak, tuh."


"Gile loe. Tapi boleh juga, tuh," sahut Udin terengah-engah.


Saya agak takut mendengar ide Ujang, namun saya juga terangsang. Doble-fuck terdengar erotis. Sakit tapi nikmat. Maka Udin pun berguling sambil tetap menyodomiku. Kini dia berada di bawah dan saya menimpa tubuhnya. Kontolnya masih tertanam di dalam lobang pantatku, memompaku tanpa ampun. Pada saat tulah, Ujang menimpa tubuhku.


Bibirnya menempel pada bibirku dan pria bejat itu kembali menciumiku. Sambil mencium, Ujang memposisikan kontolnya tepat di bawah kontol Udin yang sedang sibuk memompaku. Tiba-tiba Ujang memaksakan kontolnya masuk. Kontol itu, dibantu oleh cairan precum, mulai membuka luang anusku lebih besar lagi. Kurasakan lubangku tertarik semakin leabr, seakan ingin robek.


"AARRGGHH!!" erangku, sakit sekali.


Hal itu tidak mudah sebab lubangku ketat sekali. Ujang hampir frustasi namun dia pantang mundur. Pelan tapi pasti, kontolnya membor lubangku. Begitu ada celah, kepala kontol Ujang menyelip masuk dan terus memaksa masuk.


"AARRGGHH!! Ampun, Bang!" tangisku lagi.


"Sstt.. Diam aja. Nikmat sekali kok. Bayangkan dua kontol gede di lobang loe. Enak lagi," bujuk Ujang.


Namun saya tetap menjerit dan menjerit. Akhirnya PLOP! Kontol Ujang masuk! Kini lubangku terasa penuh sekali. Kedua kontol itu berebut tempat di dalam anusku, sesak sekali rasanya. Udin dan Ujang pun mendesah keenakkan. Kemudian, secara bergantian, mereka memompa pantatku. Ritme mereka adalah jika Udin menusuk masuk, maka Ujang akan menarik keluar; dan begitu sebaliknya. Mereka kompak sekali sampai-sampai saya terlena dibuatnya.


Rasa sakit itu pelan-pelan memudar. Sungguh nikmat sekali!! Satu lubang ketat diisi DUA KONTOL sekaligus! Bayangkan! Tubuhku terguncang-guncang, mengikuti irama sodokan kontol mereka. Tubuh Ujang yang besar dan berotot menimpa tubuhku dan menahannya di sana. Kira-kira setengah jam berlalu. Mereka memang sengaja menahan laju ejakulasi mereka untuk memperlama permainan. Oh, mereka sungguh tahu cara memuaskan sorang gay 'bottom' sepertiku. Namun, semua hal mesti berakhir, begitu pula permainan panas ini.


Kontol Udin mulai berdenyut-denyut tak karuan. Denyutannya menggesek-gesek kepala kontol Ujang dan memicu denyutannya. Berdua mereka mengerang-ngerang seakan-akan sedang dalam kesakitan yang teramat sangat. Ekspresi muka mereka pun menunjukkan rasa sakit. Namun mereka tidak kesakitan sama sekali. Sebaliknya, mereka sedang dilanda rasa nikmat yang amat teramat sangat. Rasa nikmat yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


"UGH! Oohh.. Hhoosshh.. Oohh.. Aahh.. Gue.. Oohh.. Mau kke.. Hhooshh.. Keluar," erang Udin, kedua tangannya mencengkeram pinggangku kuat-kuat.


"Aahh.. Gue juga.. Oohh.. Hhoosshh.. Uugh.." balas Ujang.


Semakin lama, tubuh telanjang Ujang yang menggairahkan itu semakin menekan tubuhku. Tak ayal lagi, perutnya yang kotak-kotak itu menggesek-gesek kontolku. Kontolku terperangkap dan tergesek-gesek mengikuti sodokan kontolnya. Secara tak langsung, Ujang sedang men-coli kontolku dengan perutnya!


"ARGh! Gue sampe," teriak Udin dan muncratlah pejuhnya. CRROTT!! CCROOTT!! CCRROOTT!


"AARRGGHH..!! Erangnya, panjang sekali seperti lolongan serigala.


Kepala kontolnya menggembung sedikit dan terus-menerus menembakkan pejuhnya. Kontan saja perutku dibanjiri cairan lava putih yang mendidih. Ejakulasi Udin memicu ejakulasi Ujang. Pria ganteng itu pun mulai mengejang-ngejang dan berteriak-teriak.


"UUGGHH!! OOHH!!" CRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Tubuhnya berguncang-guncang dan gerakannya memicu orgasmeku.


"AARRGGHH..!!" erangku saat kepala kontolku mulai menembakkan pejuh.


CCROOTT!! CCROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhku tersemprot mengotori tubuhku dan tubuh Ujang. Berhubung pejuhku amat banyak, sebagian mengalir turun dan mengotori ranjangku serta tubuh Udin yang berada di bawahku. Bertiga kami mengerang-erang, terguncang-guncang, dikuasai nafsu homoseksual.


"AAGGHH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH!!" Dan semuanya berakhir beberapa saat kemudian.


Tubuh kami basah dengan keringat bagaikan mandi uap, dan kami kesulitan menghela napas. Rasanya capek sekali, namun juga nikmat. Kami puas sekali. Terutama Ujang dan Udin, karena mereka akhirnya dapat mencicipi enaknya ngentotin cowok Chinese sepertiku.


Begitu Ujang mencabut kontolnya, pejuhnya meleleh keluar dari lubang pantatku. Dan saat saya mengangkat tubuhku, kontol Udin terlepas diikuti dengan lelehan pejuh yang jauh lebih banyak lagi. Perutku menggembung karena pejuh, rasanya penuh sekali. Ujang tersenyum nakal padaku.


Tanpa dikomando, Udin dan Ujang mengangkat tubuhku lalu mereka membawaku keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Di sana, saya terpaksa harus berjongkok bermenit-menit hanya untuk mengeluarkan pejuh mereka dari lubang pantatku. Setelah itu, kami mandi bertiga sambil saling meraba-raba. Tak ayal lagi, kontol kami pun ngaceng lagi.


"Waduh, tegang lagi nih," keluh Ujang, matanya mengerdip nakal padaku.


"Mau lagi?" Langsung saja, saya mengangguk.


Tanpa basa-basi lagi, mereka kembali menyodomiku. Masih dengan double fuck tapi kali ini smabil berdiri. Saya hanya dapat mengerang-erang, nikmat sekaligus keskitan, sambil berpegangan erat-erat pada tubuh Ujang ketika Ujang menancapkan batangnya ke dalam tubuhku. Sementara itu, Udin menyodok lubangku dari belakang. Aahh nikmatnya double fuck! Tak lama kemudian, kami pun mencapai klimak dan.. Pejuh mereka kembali membanjiriku. Oh sungguh hari yang tak terlupakan!


TAMAT