Bulu-bulu tangannya sempat menyentuh tanganku. Aku langsung merinding. Aku tidak mampu berpikir apa-apa lagi. Otakku langsung tumpul oleh darahku yang sudah dikuasai birahi pula. Kurasakan mata Pak Anggoro tak sedetikpun melepaskan pandangan hausnya dariku. Ada sedikit rasa kikuk pada diriku. Adakah yang salah? Atau semata pandangan penuh kekaguman? Tetapi aku berusaha yakin bahwa yang kedualah penyebabnya. Untuk sore ini aku memang sangat hati-hati dalam menjaga penampilanku. Aku memilih dengan cermat apa-apa saja yang akan kupakai. Bagaimanapun aku adalah seorang perempuan yang selalu merindukan kehormatanku. Setidak-tidaknya mata lelaki yang terpesona akan kecantikanku pasti akan sangat membahagiakanku.

Setelah mandi air panas dengan segala pewangi alami yang biasa kugunakan, aku menyiapkan pakaian, aksesori, parfum yang tepat dan make up. Beberapa pilihan dan model baju, rok dan sepatu kupertimbangkan masak-masak. Aku ingin tampil sebagai wanita yang cantik, penuh percaya diri, sensual dan seksi namun anggun. Terakhir, ada 2 baju yang harus kupilih, modelnya hampir sama. Hanya warnanya yang berbeda, yang satu merah muda, dan yang lainnya ungu tua.
Akhirnya kupilih yang ungu tua. Ini cocok dengan deskripsiku tadi, penuh percaya diri, sensual dan seksi namun anggun. Model ini mirip dengan yang kupakai saat berjalan bersama Rendi. Dengan tali kecil tipis pada bahuku yang akan sangat menawan para lelaki, begitu komentar suamiku saat aku memakai baju ini, kain sutra Thailand yang mahal, membuat lekuk tubuhku membayang dengan sangat lembut. Bagi pria penuh selera, begitu kubayangkan lelaki seperti Pak Anggoro ini, penampilanku akan sangat menyentuh selera birahinya. Aku tersenyum sendiri membayangkan kepuasan yang akan kuraih, demi melihat Pak Anggoro yang bersimpuh memujaku.

Untuk bibirku yang tak perlu diragukan lagi mirip bibir Sarah Ashari ini, kulekatkan lipstick Margo yang membuat kesan wet look hingga seakan bibirku basah dan mencuat siap menerima lumatan bibir lelaki manapun. Aku juga memakai parfum La Roche yang sangat lembut tetapi tak akan pernah terlupakan selama bertahun-tahun oleh siapapun yang sempat menyentuhnya. Mengenai rambutku, aku paling senang melepas urai rambutku. Aku merasa kesan kewanitaanku akan sangat nyata karena rambutku ini. Saat terkena angin, kunikmati geraiannya yang sesekali terbang menutupi mukaku, dan saat tanganku menyibakkannya akan menunjukkan pesona diriku bagi lelaki yang berada di dekatku. Dan sesekali kusibakkan rambut ke belakang dengan leherku, yang merupakan pesona sensual sendiri yang terpancar dari gayaku.
Aku juga memakai sepatu warna ungu tua bertali dengan hak tinggi. Warnanya kebetulan pas dengan warna gaun yang akan kupakai. Ini sesungguhnya sepatu murah. Tetapi aku memang tidak gila merk berkat kesadaran dan pengetahuanku tentang desain yang baik. Kuperoleh sepatu ini dari sebuah boutique kecil di Pondok Indah. Dengan sepatu ini nampak tumitku yang lembut mirip telur ayam kampung dan betisku yang sangat aduhai, begitu kata Indri tetanggaku, istri pelaut yang lesbi dan sangat suka menggigiti betisku ini.

Makanan pesanan Pak Anggoro datang. Pelayan menurunkan makanan tersebut dari meja dorongnya. Kusaksikan surprise Pak Anggoro untukku. Pertama, tiram rebus yang diimpor khusus dari Laut Tengah dengan kaviar ikan sturgeon dari sungai Mekong. Disuguhkan di atas kulit tiram keperakan yang cukup besar. Kedua, salad mangga dengan lemon yang dibubuhi prosciutto atau ham Itali. Kemudian segelas red wine. Pak Anggoro sangat tepat dalam membaca selera makan impianku. Semua makanan itu sangat ideal bagiku yang selalu mempertimbangkan bobot tubuhku. Makanan-makanan pilihannya itu tepat energi dan tidak mengancam kolesterolku. Aku tidak tahu berapa harga untuk semua makanan super mahal itu. Dan untuk Pak Anggoro sendiri, dia hanya minum teh Assam dari India dengan gula batu.

"Silakan, Bu Adit. Ini sekedar apetizer. Nanti makan besarnya di kamar saja. Saya sudah atur".
Sekali lagi dia meremas jari-jari kiriku. Selangit rasanya aku tersanjung.
"Aku memang hanya minum teh seperti ini, dimana saja, kapan saja".
Diam-diam setiap kali kulirik Pak Anggoro. Dia terus menerus menatapku bak serigala yang benar-benar lapar. Tetapi dengan usianya yang sudah cukup sepuh, walaupun birahinga datang memacu, dia adalah serigala yang bijak dengan ketenangannya yang luar biasa. Dia sangat menguasai medan dan iramanya yang terus mengalir penuh improvisasi. Dan dia selalu memiliki jalan keluar untuk menghindarkan suasana kebisuan. Sambil meremas jari-jariku, dia menanyakan cat kukuku, gaun sutraku, warna lipstick-ku, aksesorisku dengan penuh antusias.

Setelah aku menikmati hidangan hebat ini, Pak Anggoro mengajakku beranjak. Pada billingnya kulirik tagihan makannya, US$ 250. Wow, paling tidak hanya dalam tempo 5 menit telah kutelan Rp. 1,5 juta masuk ke perutku.
President Suite Pak Anggoro berada di lantai 7. Dari tempat ini nampak panorama malam Jakarta yang penuh lampu-lampu. Begitu memasuki kamar, kuperhatikan ruang tamunya yang besar dengan sofa-sofanya yang mewah. Tempat tidurnya King Size yang mewah pula. Pak Anggoro duduk di salah satu sofa yang tersedia, kemudian memanggilku, memintaku duduk di pangkuannya. Dengan kesadaran birahi seorang perempuan taklukan dan budak yang harus patuh pada tuannya, aku mendekat. Bukankah aku tawanannya, kini?

Belum pernah seumur-umur aku mengalami tremor hingga gigiku menggerutuk menggigil seperti ini. Seorang bapak, boss yang sangat gentleman, kharismatik, memanggilku dan memintaku duduk di pangkuannya. Dia begitu percaya diri, bahwa semuanya pasti akan beres. Sikapnya itulah yang membuatku langsung bertekuk lutut. Dan saat telah berada di dekatnya, tangan kanannya menjemput, meraih pinggulku dan dengan penuh kelembutan ditariknya aku ke pangkuannya. Sambil membenamkan wajahnya ke leherku, Pak Anggoro berbisik.
"Bu Adit, kamu sangat mempesonaku. Bu Adit sangat cantik. Sangat seksi".
Tangan kananku secara otomatis merangkul bahunya agar aku tidak terjatuh. Sementara itu tangan kanan Pak Anggoro meraih paha kiriku agar posisi dudukku lebih ke tengah pangkuannya. Mendengar bisikannya, semangat birahiku langsung hadir. Aku ingin mendapatkan lebih dari sekedar bisikan di leherku. Tangan kiriku kurangkulkan ke lehernya hingga kedua tanganku saling berpegangan di belakang kuduknya. Posisi seperti itu menggiring wajah Pak Anggoro lebih bergeser ke dadaku. Tenggelam ke bukit-bukit ranumku yang sudah setengah terbuka karena model gaunku yang memang menampilkan belahan payudaraku. Pak Anggoro menyapukan wajahnya pada dadaku. Menghirup aroma dari dadaku itu.

"Paakkhh.., hh..".
Kurasakan tangan Pak Anggoro mulai menyingkap gaunku. Tangannya mengelus pahaku yang sintal ini. Aku semakin merinding. Akhirnya kami saling melumat. Ciuman Pak Anggoro sungguh maut. Ciuman seorang pria yang telah matang dan penuh perasaan serta penghargaan pada lawan mainnya. Dari sebuah ciuman, kurasakan bahwa Pak Anggoro bukanlah lelaki egois. Dia mau menerima dan sekaligus juga menikmati saat memberi. Lidahnya yang besar menyeruak ke rongga mulutku, mengorek dan mengisap ludahku sambil tangan kanannya mulai menelusuri celah selangkanganku. Aku mulai menggelinjang dan serasa terbakar darahku. Birahiku mulai memanas dan menanjak.

Ciuman Pak Anggoro membuatku benar-benar terhanyut. Mau tak mau aku tergerak untuk memberikan respons dengan penuh perasaan juga. Aku menyedot lidahnya, juga ludahnya. Dan Pak Anggoro memberikannya untukku. Aku rasakan kini, bahwa dengan ciuman saja kita bisa mendapatkan ribuan warna dan nuansa, dimana setiap warna dan nuansa itu benar-benar memiliki bentuk kenikmatan yang berbeda-beda. Dan itu berkat pemahaman akan makna ciuman dengan gerakan anggota tubuh yang lain yang sama-sama menggiring sensasi kita dalam menapaki birahi yang diharapkan akan terus memuncak.
Saat menyedot lidah dan ludah itulah, tangan Pak Anggoro menelusuri tepian celana dalamku di celah selangkanganku. Paduan kerja lidah dan tangan seperti inilah yang membuatku terbawa melayang-layang dalam langit penuh kenikmatan. Dan aku harus belajar menyelami irama dan makna dalam menapaki birahi ini. Saat aku harus melakukan balasan ciuman atau sedotannya, aku mulai dengan sedikit menggoyang pinggulku, untuk menunjukkan pada Pak Anggoro betapa nikmat sentuhan yang dilakukannya pada tepian celana dalamku itu.

Tidak keliru jika dikatakan bahwa seks itu sesungguhnya merupakan suatu seni. Ciuman, rabaan, desahan, rintihan, goyangan bahkan sibakan rambut atau cubitan kecil di pinggul atau jambakan rambut hingga lawan cumbunya merasakan pedihnya kulit kepalanya atau cakaran kuku-kuku pada punggung. Hal seperti itulah yang harus dimiliki oleh para suami dan istri. Dan hal seperti itulah yang kuanggap tidak pernah secara serius diusahakan oleh suamiku sendiri, Mas Adit. Dia hanya seorang egois yang hanya asyik dengan pekerjaannya. Dia tak pernah mengusahakan bagaimana agar istrinya juga mendapatkan kepuasan. Bukan sekedar kepuasan materi. Dia sama sekali tidak pernah merasakan apa sesungguhnya yang kubutuhkan. Lembutnya bercumbu dalam ciuman, nikmatnya sapuan lidah yang sesekali merambah ke daguku, gigitan bibirku pada bibirnya atau sebaliknya, erangan dan desahan kecil dari mulut-mulut kami, remasan-remasan jari-jari lentikku pada kuduk Pak Anggoro, rabaan jari-jari Pak Anggoro pada tepian celana dalamku yang sesekali melewati batas tepian itu dan menyentuh atau mengusap atau bahkan memilin bibir-bibir vaginaku telah menggiring semakin jauh dan tingginya nafsu birahi kami.

Kurasakan Pak Anggoro semakin terbakar hingga panasnya juga langsung membakar diriku. Nafsu ini setapak-setapak menanjak. Dan rasanya pada saatnya akan meroket. Aku sudah dapat merasakan kalau pangkuan yang sedang kududuki menggelembung. Kontol Pak Anggoro sudah mengganjal di bokongku. Setiap kali aku harus memepetkan tubuhku agar lebih mepet ke tubuhnya. Sekali lagi Pak Anggoro menunjukkan improvisasi matangnya. Dia raih kaki kananku dan diangkatnya hingga kini aku setengah miring dan setengah membelakangi tubuhnya. Kakiku di sandarkannya ke sandaran jok sofa. Dan akibatnya selangkanganku menjadi terbuka dan gaunku melipat ke pinggulku hingga celana dalamku langsung tampak.
Kini tangan kananku yang tidak lagi menggelayut pada lehernya kuangkat ke atas belakang jatuh ke tangan sofa kiri tanpa pegangan. Ketiakku terbuka lebar, demikian pula dada dengan belahan payudaraku.

Bibir Pak Anggoro lepas dari bibirku. Pagutan dan ciumannya berubah menjadi sedotan dan jilatan pada ketiakku. Sementara tangan kanannya mulai meliar meremas memekku dan jari-jarinya mulai menembus lubang vaginaku. Aku mulai mendesah histeris. Tangan kiriku serta merta meraih rambutnya yang setengah botak itu dan meremasnya dengan penuh kegatalan birahi. Betapa kenikmatan birahi dalam kualitas yang sangat tinggi tengah menyeruak dalam relung tubuhku dan terus memacu libidoku untuk terus menapaki ke jenjang puncaknya. Kegatalan pada liang vaginaku memaksaku untuk menjerit lembut sembari mengangkat pantatku untuk menjemput jari-jari Pak Anggoro yang telah menari-nari dalam liang surgaku.

Tiba-tiba aku ingin sekali meraba dan mengelus dada Pak Anggoro yang tentu bulunya lebat sebagaimana yang kulihat pada tangan-tangannya. Tangan kiriku melepaskan remasan rambutnya menuju ke kancing-kancing kemejanya untuk melepaskannya. Walau hanya 2 atau 3 kancing yang terlepas, telah cukup bagi tanganku untuk menyeruak masuk mencapai dadanya yang gempal penuh bulu itu. Perasaan merinding kembali menyergap nafsuku saat tapak-tapak tanganku merasakan lebatnya bulu dada Pak Anggoro. Kuraba tubuhnya lebih ke dalam seakan hendak memeluknya. Lagi-lagi aku mendesah hebat.

Goyangan pinggul serta gerakan pantatku untuk menahan kegatalan serta menjemput tusukan jari-jari Pak Anggoro dalam liang vaginaku membuat ciuman dan jilatannya semakin meliar pada seluruh wilayah dadaku. Dengan bantuan tanganku, Pak Anggoro kini juga sudah menyedot putingku yang semula masih tersembunyi dalam BH-ku. Kenikmatan ciuman dan jilatan Pak Anggoro telah mendorong tanganku untuk merogoh payudaraku keluar dari gaun dan BH-ku.

Bersambung ...

Kini irama percumbuan sudah berganti menjadi upaya intensif untuk secepatnya meraih puncak kenikmatan. Mulutku meracau hebat menahan derita dan sekaligus siksaan yang nikmat. Pantatku naik turun menjemput jari-jari Pak Anggoro agar lebih intens mengocok nonokku. Tangan kiriku meremas belikat dan ketiak Pak Anggoro yang penuh bulu. Dan Pak Anggoro dengan tenang dan dinginnya terus melahap dadaku, payudaraku, puting-puting payudaraku sekaligus jari-jari tangan kanannya merogoh liang vaginaku dan mengorek-orek saraf-saraf pekaku di dalamnya.

Tiba-tiba perasaan ingin kencing-ku hadir. Ini hebat sekali. Kami belum melepas selembar pakaianpun dari tubuh. Tanda-tanda aku akan kembali meraih orgasmeku dimulai dengan perasaan kencingku yang seperti ini. Seperti perasaan yang sama saat aku disetubuhi Rendi, Burhan, Wijaya dan Basri kemarin, rasa ingin kencingku ini sangat mendesak-desak datang dari dalam vaginaku. Mungkinkah aku akan meraih orgasme hanya dengan ciuman dan permainan jari-jari tangan Pak Anggoro?

Pak Anggoro sangat pengertian akan apa yang sedang berlangsung pada diriku. Dan beliau pasti juga sangat tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Beliau biarkan tangan-tanganku yang liar mencubit dan mencakar-cakar tubuhnya. Beliau bebaskan aku untuk mendesah dan merintih sekeras-kerasnya. Beliau penuhi keinginanku akan jari-jarinya agar lebih menembus lagi dalam-dalam ke liang vaginaku. Beliau tingkatkan sedotan, ciuman dan jilatannya ke ketiakku, ke dada ranumku, ke payudaraku, ke puting-putingku. Dan aku kini bak kuda betina yang penuh kelaparan dan kehausan.

Sampai dengan saat, yang pada akhirnya, orgasmeku datang, kuangkat pantatku tinggi-tinggi. Kakiku bergerak kesana kemari merangsek apapun yang bisa kujadikan tempat pijakan agar cairan birahiku bisa tumpah tanpa hambatan. Tangan kananku meraih, meremas dan nyaris merobek kemeja Pak Anggoro. Aku berteriak sekeras-kerasnya dalam kamar President Suite yang sangat mewah dan kedap suara itu. Dan akhirnya, cairanku, cairan birahiku, air mani keperempuananku meledak, membanjir panas membasahi tangan-tangan Pak Anggoro, tanpa lagi ada yang mampu membendungnya.

Yang kuingat setelahnya hanyalah aku merasakan tubuhku diangkat ke kasur dan di telentangkannya dengan kaki-kakiku tetap terjuntai ke karpet kamar mewah ini. Kulihat sepintas Pak Anggoro menjilati tangan kanannya yang basah oleh cairan birahiku. Kemudian beliau membungkukkan tubuhnya, kepalanya dia benamkan ke selangkanganku dan tenggelam ke celana dalamku. Aku rasakan kemudian mulut Pak Anggoro menyedoti basahnya celana dalamku dan menjilati cairan-cairanku. Aku biarkan, sementara sambil menikmati derasnya cairan yang belum kunjung habis, terasa nonokku mengempot-empot memompa dan memeras cairanku agar keluar dengan tuntas. Aku menarik nafas panjang. Kumaklumi bahwa Pak Anggoro masih menapaki nafsunya dan masih jauh dari puncak kenikmatannya. Aku juga ingat kata seorang temanku bahwa perempuan seperti aku bukan tidak mungkin meraih orgasme secara berturut-turut berkesinambungan, multiple orgasm.

Saat darahku sudah sedikit mereda, kesadaranku akan kehadiran Pak Anggoro telah pulih secara utuh, sementara aku yakin dengan kemungkinan multiple orgasm itu, kuraih bahu Pak Anggoro ke atas tubuhku. Kuraih tubuhnya agar menindih tubuhku. Kucoba kuraih celananya, kulepas ikat pinggang dan kancing-kancingnya. Pak Anggoro tahu keinginanku yang juga memang keinginannya pula. Dengan celananya yang masih setengah merosot hingga ke pahanya, dia mengeluarkan kontolnya dari celah celana dalamnya. Aku sempat sekilas melihatnya. Ukurannya tidak luar biasa. Biasa-biasa saja. Sedikit lebih kecil daripada kontol Basri tetapi yang pasti lebih besar daripada kontol Mas Adit suamiku. Kontol Pak Anggoro sangat tegang dan keras. Dalam usia beliau, mungkinkah dia menggunakan obat-obatan khusus agar kontolnya bisa ngaceng sebegitu rupa?

Aku merenggang melebarkan pahaku. Nonokku telah siap menerima tusukan kontol Pak Anggoro. Setelah beliau menempelkan kepalanya tepat pada lubang vaginaku dari celah celana dalamku yang sebelumnya dikuaknya, direbahkannya tubuhnya ke tubuhku. Tubuhku menggeliat hebat saat disentuh bulu-bulu yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Tubuhku yang lembut dan halus serta relatif kecil ditindih dengan tubuh Pak Anggoro yang putih gempal penuh bulu-bulu. Perasaan merinding langsung merasuki sanubariku. Gelombang nafsu birahiku dengan cepat kembali melandaku. Kontol yang mulai didesakan ke memekku terasa menembus lubang vaginaku. Aku menjerit kecil. Selanjutnya Pak Anggoro mulai mengayun.

"Jeng Marinii.., Jeng Marinii, Jeng Marinii, Jeng Marinii..", dia mendesah dengan memangil-manggil nama asliku.
Begitu terus berkepanjangan setiap kali kontolnya dengan pelan masuk dan dengan pelan pula ditariknya keluar. Cara seperti itu terus terang sangat menyiksa birahiku. Aku meracau. Mataku membeliak-beliak. Kepalaku menggoyang ke kanan dan ke kiri menahan nikmatnya tusukan. Dan rasanya aku kembali ingin kencing. Kuisyaratkan pada Pak Anggoro agar ayunannya dipercepat. Pantatku menggelinjang-gelinjang naik turun ingin mempercepat ayunan dan pompaan kontol Pak Anggoro ke memekku. Apakah aku akan merasakan yang namanya multiple orgasm?

Genjotan Pak Anggoro semakin dipercepat. Bibirnya langsung mencaplok bibirku. Aku kembali menikmati ciuman hebat Pak Anggoro. Lidahnya yang besar itu menyeruak ke rongga mulutku, mencari ludahku, mencari lidahku. Aku berikan semuanya. Aku mengimbangi genjotannya dengan memutar-mutar pantatku dengan bayangan dan harapan bahwa kontol Pak Anggoro akan lebih menghunjam dan menikam memekku dengan lebih keras. Keinginan dan desakan kencing dari dalam vaginaku tak mampu lagi kutahan. Aku menjadi sangat haus.

"Aaahh, Pak Anggoroo.., ludahi mulutku Paakk, aku hauuss, oohh.."
Setelah sadar nanti aku tidak habis heran, dari mana keinginan mulutku untuk diludahi Pak Anggoro. Aku terus mengangakan mulutku. Aku lihat di bibirnya, Pak Anggoro membuat gumpalan-gumpalan air liur untuk diludahkan ke mulutku. Dan setiap gumpalan yang jatuh kukecapi kemudian kutelan. Berkali-kali gumpalan itu jatuh dari mulutnya dan kutelan. Birahiku meledak, meletup-letup dan mendongkrak seluruh tubuhku. Genjotan kontol Pak Anggoro serta ludah-ludahnya yang dijatuhkan ke mulutku membuatku kehilangan kendali. Orgasmeku telah kembali muncul di ambangnya. Dan Pak Anggoro sendiri kurasakan juga sudah mencapai ambangnya. Kontolnya terasa semakin sesak memenuhi rongga vaginaku. Saraf-saraf pekaku pada dinding vaginaku terus memijat dan meremas batangan kontol itu. Dan isyarat terakhirpun akhirnya muncul.

Dengan pagutan keras serta jambakan pedih pada rambutku, kontol Pak Anggoro menyemburkan lahar panas di dalam vaginaku. Kedutan-kedutan besar kurasakan memompa keluar seluruh cadangan air mani dari kandungannya. Air mani Pak Anggoro terasa sangat kental dan legit. Entah sebanyak apa yang tumpah ke kemaluanku itu. Dan yang kemudian aku rasakan sangat luar biasa hebat adalah, pada saat bersamaan, multiple orgasm-ku juga muncrat tak tertahan. Berjuta rasanya. Lebih dalam dan lebih memeras nikmat daripada yang pertama, dengan tanpa mengurangi kenikmatan yang pertama tadi.

Kukuku menancap dan telah membuat punggung Pak Anggoro sedikit terluka. Pak Anggoro tidak mempersalahkan nafsuku yang menggila itu. Kami berpacu dalam dera nikmat tak terhingga hingga nafas kami mereda. Keringatku bersimbah walaupun AC kamar mewah ini sangat dingin. Kami langsung rebah. Sepi. Kecuali nafas-nafas panjang kami.
Untunglah, akhirnya suhu dingin AC kamar mewah ini menyelimuti tubuh-tubuh kami yang baru saja terbakar, hingga dengan cepat kami merasakan kesegaran kembali. Keringatku akhirnya hilang. Kami terlelap dalam nafas dan jiwa yang sangat lega. Hening.

Aku terbangun saat kurasakan ada yang menyibakkan wajahnya di selangkanganku, di nonokku. Rupanya Pak Anggoro sedang menjilati kemaluanku. Dia menyedot cairan-cairan di dalamnya. Kali ini cairan campuran antara milikku dan miliknya sendiri. Rupanya hal demikian bukan jadi masalah bagi Pak Anggoro yang nampaknya termasuk kategori "pengejar kenikmatan" ini. Dan kulihat juga, ternyata kontolnya belum juga surut dari ereksinya. Aku jadi teringat, mungkin itu karena pengaruh obat perangsang seperti Viagra, barangkali.

Dia tahu bahwa aku terbangun. Aku mengelus kepalanya. Kubiarkan dia memuaskan dirinya. Bahkan aku membantunya dengan cara mengeluarkan desahan-desahan. Orang seusia Pak Anggoro akan peka terhadap desahan perempuan seperti aku yang usianya sama dengan usia anaknya. Itu memang fantasi seks orang-orang seumurnya. Menyetubuhi daun-daun muda dan masih mampu menunjukkan kejantanannya dan bahkan masih mampu membuat perawan mudanya blingsatan menahan nikmat.
Aku lihat kini tangannya meremas kontolnya sendiri. Ah.., aku jadi iba. Aku tiba-tiba merasa bersalah. Apakah aku belum sepenuhnya memberikan kepuasan padanya. Sementara dia telah memberikan kepuasan padaku. Aku telah dibuatnya orgasme berturut-turut sebanyak 2 kali, sesuatu yang tak pernah kudapatkan dari Mas Adit suamiku. Aku harus menolongnya. Aku mencoba beringsut menjangkau tubuhnya, kakinya. Tanpa melepas sedotan bibirnya pada vaginaku, aku berusaha menindihkan tubuhku dan mendekatkan wajahku ke selangkangannya. Aku mainkan hubungan gaya 69 untuk Pak Anggoro.

Nampaknya Pak Angoro langsung menikmati apa yang kulakukan padanya. Desahannya langsung kudengar. Desahan yang tersendat-sendat, setiap kali aku melakukan jilatan ataupun isapan pada kontolnya, pelirnya, jembutnya atau yang lain lagi di sekitar selangkangannya. Aku lakukan dengan sepenuh nikmat yang bisa kurasakan dan kudapatkan. Selangkangan Pak Anggoro yang sangat bersih, putih dengan bulu-bulu di pahanya, aromanya, sangat merangsang birahiku. Aku menciumi dan menjilati selangkangan dan kontol Pak Anggoro dengan nafsu binalku. Dan ketika saatnya datang, Pak Anggoro bangkit. Tubuhku dibangunkannya dan disenderkannya ke "back-drop" tepian ranjang hotel itu. Diberikannya bantal pada punggungku. Kemudian dia turun ke lantai mendekatkan selangkangannya kepadaku. Tepat di wajahku. Dengan kaki kirinya naik ke kasur dan kaki lainnya tetap di lantai, dia sorongkan ujung kontolnya ke bibirku. Dia menginginkanku mengulum kontolnya. Dia ingin memompa mulutku. Aku langsung melahap kontolnya. Aku ingin Pak Anggoro mendapatkan kepuasan dari layananku. Aku ingin tunjukkan padanya bahwa aku juga mampu memberikan yang terbaik dari yang terbaiknya yang pernah dia dapatkan dari orang lain.

Aku terus mengulum sambil menggenggam kontolnya agar tetap pada lubang mulutku. Kemudian sesekali kukeluarkan dan kusapu kepalanya dengan lidahku. Dengan membeliak sambil mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar mewah ini serta menikmati kulumanku, pantat Pak Anggoro maju mundur mendorong kontolnya untuk merespons pompaan mulutku. Desahan nikmatnya terus datang bertubi. Tangannya meraih kepalaku untuk memastikan bahwa mulutku selalu mengulum kontolnya. Tangan kananku berpegang pada pahanya yang berbulu lebat itu. Aku masih merinding setiap kali tanganku menyapu bulu-bulu itu.

Aku merasakan betapa Pak Anggoro sangat menikmati posisi ini. Beberapa kali jari-jari tangannya mengelus bibirku yang monyong karena kontolnya yang menyesaki mulutku. Dia elus-elus bibirku. Mungkin dia melihat dan menikmati keindahan yang kontras dari sebuah bibir cantik, lembut dan mungil milikku ini dengan kontol miliknya yang kaku penuh urat-urat yang dengan kasarnya menyesaki mulut itu. Akhirnya kurasakan kedutan besar dari kontol Pak Anggoro. Spermanya memancar dari kantongnya. Aku akan selalu mengenang saat-saat seperti ini. Kedutan inilah yang selalu kunantikan dan kurasakan nikmatnya pada tanganku yang menggenggamnya. Kedutan ini berasal dari saluran besar berupa pipa urat spermanya yang terpompa keluar dikarenakan desakan birahi yang sudah sampai di puncaknya. Kedutan pertama disusul dengan kedutan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam sampai ke tujuh.

Bersambung ...

Mulutku sengaja diam untuk menampung semua cairan kental yang tumpah ini. Pada kedutan yang ketujuh, mulutku sudah penuh. Aku menganga dan menunjukkannya pada Pak Anggoro. Dia meraih kepalaku, mengelus dan mencium sedikit bibirku. Dia menginginkanku menelan seluruh spermanya. Dan hal itu langsung kulakukan sekaligus untuk membasahi tenggorokanku yang selalu haus sperma ini.

Pak Anggoro langsung rubuh ke ranjang. Tangan-tangan dan pahanya terentang seluas ranjang King Size itu. Sepertinya aku sedang menyaksikan beruang putih yang kelelahan setelah menyetubuhi betinanya. Bulu-bulu dadanya itu, aku sedemikian terobsesinya, bahkan setelah orang ini menumpahkan demikian banyaknya lendir kontolnya ke mulutku.
Sementara Pak Anggoro masih tergolek, aku menyiapkan air panas untuk mandi. Kini jam menunjukkan pukul 10 malam. Kami telah berasyik masyuk tanpa jeda selama hampir 2 jam. Dan kepuasan orgasme yang telah kuraih, benar-benar karena pasanganku, Pak Anggoro yang sangat mengenal seninya bercinta. Dia sungguh menikmati setiap detail cinta yang kupersembahkan padanya. Entah itu berupa sentuhan, pijitan, kecupan, jilatan, sedotan dan gigitan yang telah kulakukan pada lembah dan bukit-bukit tubuhnya ataupun yang sebaliknya dia lakukan pada tubuhku.

Aku juga sangat kagum betapa semua ulahnya langsung mendongkrak saraf-saraf erotisku. Hanya dengan permainan jarinya pada klitoris serta dinding-dinding dalam vaginaku, Pak Anggoro telah melemparkanku ke langit kenikmatan yang sangat tinggi, hingga aku bisa meraih orgasmeku. Aku sangat puas. Aku jadi teringat Mas Adit. Kamu juga bisa Mas, pasti bisa kalau kamu tidak egois. Aku sudah membuktikan, bahwa kepuasan bukan semata-mata diperoleh karena ketampanan atau kecantikan, muda, besar ataupun panjangnya ukuran, tetapi lebih kepada wawasan, kecerdasan, sikap toleransi untuk tidak egois, selera dan kepekaan, daya imajinasi, kreatifitas dan kemauan yang serius. Aku ingin berterus terang Mas, kalau saja aku diberikan kesempatan, aku selalu siap menolongmu.

*****

Segarnya air panas. Aku membersihkan semua sisa-sisa persetubuhanku tadi. Lendir mani dalam vaginaku belum sepenuhnya bersih, walaupun Pak Anggoro sudah menyedotnya tadi. Dengan kimono lembut yang tersedia untuk sepasang tamu kamar mewah itu, aku keluar dari kamar mandi. Pak Anggoro sudah bangun, sedang duduk setengah telanjang di sofa. Lagi-lagi aku tetap tergetar menyaksikan bulu-bulu dadanya itu. Mungkin karena baru kali ini aku mendapatkan dan merasakan nikmat birahiku pada saat tersentuh bulu-bulu itu. Pak Anggoro bangkit untuk mandi setelah sebelumnya dia menelepon room service untuk menghidangkan makan malam yang menunya telah dia pesan bersamaan dengan kedatangannya sore tadi.

Aku mengeringkan rambutku. Beberapa saat setelah kami mandi dan sama-sama memakai kimono lembut hotel ini, terdengar bel pintu yang lembut. Pak Anggoro membukanya. Dia persilakan para pelayan menyiapkan perjamuan malam di ruang yang tersedia. Aku beranjak ke beranda menyaksikan lampu-lampu Jakarta. Aku tidak ingin bertemu dengan orang lain. Siapa tahu saja di antara mereka ada yang mengenalku. Sekitar 10 menit kemudian Pak Anggoro menjemput dan menggandengku menuju perjamuannya. Wah, kulihat kemewahan Resto Grand Hyatt pindah ke ruang kamar mewah Pak Anggoro. Dengan lampu ruang yang cahayanya difus (buram temaram), nampak lilin-lilin di meja perjamuan menjadi sedemikian romantisnya. Aku sepintas ingat kemewahan suasana makan di kapal Titanic yang tenggelam itu.

Dengan latar belakang desah nyanyian Julio Iglesias, penyanyi Latin yang seksi dan lembut pujaan jutaan wanita itu, suasana dalam ruangan ini menjadi sedemikian fantastik dan eksotik. Aku merasa Pak Anggoro sungguh-sungguh ingin memanjakanku. Aku merasa sangat tersanjung juga terharu. Sedemikian hebatnya dia menghargaiku. Entah benar atau tidak kesanku ini. Atau mungkin juga sekedar pernyataan kepuasannya pada kesediaanku untuk mengulum kontolnya tadi. Ah, tentu saja bukan. Bukankan makanan ini sudah dia pesan sejak awal kedatangannya tadi. Pak Anggoro menarikkan kursi untukku. Kusaksikan makanan serba laut yang mahal terhidang berlimpah di meja. Rasanya ini makanan yang cukup untuk orang se-RT. Demikian banyak dan beragam. Ini semua dimaksudkan untuk memicu dan memacu selera makan kami berdua.

Aku lihat ada lobster dalam "chinese cuisine" yang ditampilkan utuh dengan cangkangnya di atas dagingnya yang telah diiris-iris. Ada kakap yang diiris tipis-tipis untuk dicelupkan dalam saus yang spesial. Ada tumis sirip hiu yang dimasak dalam saus tomat dan arak china. Ada tim kerapu yang pasti masih segar karena berasal dari aquarium restoran hotel ini, dengan daun bawang, seledri dan arak China juga. Di samping kananku, yang juga sebelah kanan Pak Anggoro, kulihat sup kepiting Alaska dengan abalone dan jamur China. Ah, akau tidak tahu lagi dengan yang lain. Aku banyak tidak tahu masakan apa saja ini. Tetapi aromanya yang merebak memang langsung membuat perut kami jadi terasa sangat lapar.

Dibuka dengan minum teh cina yang pahit, Pak Anggoro di seberang meja sana mengajakku untuk mulai melahap hidangan perjamuan di meja. Di akhir perjamuan kulihat Pak Anggoro meraih sebuah botol berisi anggur, menuangnya satu sloki dan menenggaknya. Dia bilang itu adalah anggur tua asli yang dicampur ramuan sehat dari China. Untuk menghargai tawarannya, aku minum satu sloki. Kurasakan nikmat dan sangat segar. Terasa sedikit keras, tetapi lebih tepat jika disebut lembut. Badanku langsung merasa hangat.

Selesai makan yang berlangsung hampir 1,5 jam karena juga diisi obrolan santai sana sini hingga makanan benar-benar turun ke perut, kusampaikan pujian kepada Pak Anggoro akan selera pilihannya yang hebat pada jamuannya malam ini. Kusampaikan kagumku mengenai lilinnya, Julio Iglesias-nya, lobsternya, kepiting Alaskanya, tumis sirip hiunya, minuman anggur Chinanya dan sebagainya. Dia hanya tersenyum. Kedua tangannya meraih kedua bahuku yang kemudian bergeser turun menyusup masuk ke kimonoku, yang memang tanpa kancing kecuali tali pinggang yang kuikat kendor. Dia meraih dan merangkul pinggulku hingga membuatku langsung merinding oleh sentuhan bulu-bulu tangannya itu. Kemudian dengan pandangan yang penuh makna dan dalam, dia berbisik kepadaku.
"Bu Adit, semua ini tak ada artinya dibandingkan keindahan dan kenikmatan yang telah dan akan saya rengkuh kembali darimu. Rekah bibirmu, ranum payudaramu, puting-putingmu, wangi ketiakmu, lembut bokongmu, lembut lubang pantatmu, getas betismu, wangi pahamu, wangi selangkanganmu, legit memekmu, keras itilmu, gurih cairan birahimu. Bu Adit, sungguh-sungguh kenikmatan surgawi yang aku telah temukan di dunia. Saya, Bu Adit, akan terus menerus memendam hasrat birahi pada Ibu Adit sepanjang hayat saya. Akan selalu merindukan indah dan nikmatnya celah, lembah dan bukit-bukit yang Bu Adit miliki ini. Tak ada kata-kata yang sepadan untuk mengucapkan kenikmatan yang kurasakan selama 2 jam terakhir bersama Bu Adit ini".
Kemudian dia mencium dan melumat lidahku sambil tangannya meremas bokongku.

Wow, aku mabuk kepayang oleh romantisnya Pak tua ini. Nafasku seketika terasa sesak. Aku berada dalam keadaan antara tersipu, terharu dan tersanjung. Kalau toh ini semua semata sikap emosi romantisnya Pak Anggoro, bagaimanapun ia telah mengucapkannya secara langsung dan lugas kepadaku hingga pantaslah apabila membuatku yang saat ini bagai tawanannya bertekuk lutut padanya. Aku sungguh-sungguh sangat tersipu, sangat terharu dan sekaligus sangat tersanjung.

Selepas mencium dan melumat bibirku, tanganku beranjak menyusup ke celah kimononya. Aku memeluk tubuhnya. Kusandarkan kepalaku pada dadanya yang penuh bulu itu. Saat bibirku menyentuh puting susunya, secara refleks aku mencium kemudian mengulum dan menggigit kecil putingnya itu. Bulu-bulu tubuhnya yang lekat pada tubuhku semakin membuat mabuk kepayangku tak tertolong lagi. Aku menciumi dada Pak Anggoro sambil merintih lembut. Demikian pula Pak Anggoro mengeluarkan desahan beratnya sambil tangannya menyapu rambutku. Masih kudengar samar-samar rayuan Julio Iglesias tadi.

Pelan, sambil terus saling berpelukan dan melumat, kami beringsut menuju peraduan. Begitu melewati ambang pintu ruang makan, Pak Anggoro merengkuh punggung dan pahaku kemudian mengangkatnya, menggendongku. Dibawanya aku dan direbahkannya ke ranjang. Aku merasa, sekaranglah perjamuan besar yang sesungguhnya bagi Pak Anggoro. Akulah yang akan jadi santapan utama perjamuannya. Dan yang 2 jam pertama tadi hanyalah "apetizer" atau makanan pembuka bagi beliau untuk mengawali jamuan besarnya sekarang ini. Bagai kijang yang telah lumpuh oleh panah beracun cinta yang dilepaskan Pak Anggoro, aku sepenuhnya menjadi tawanan birahinya. Dan aku sendiri memasuki ambang kenikmatan penyerahan diri. Suatu bentuk kenikmatan nafsu birahi yang hadir karena ketidak mampuan untuk berkata "tidak" karena dengan penyerahan diri tersebut aku sedang menyongsong pucuk-pucuk birahiku yang penuh kenikmatan.

Tanpa ada yang dilepaskan dari tubuh-tubuh kami, aku dan Pak Anggoro kembali bercumbu. Ternyata dia tidak langsung menindihku sebagaimana yang kubayangkan sebelumnya. Aku diseretnya ke tepian ranjang hingga setengah kakiku terjuntai. Pak Anggoro bersimpuh di lantai meraih kakiku dan mulai mencium. Mulai dengan kaki kiriku, bibir dan lidah Pak Anggoro menyisiri telapak kaki, betis dan jari-jari kakiku. Lidahnya menari di antara celah-celah jari kakiku dan bibirnya mengulum. Gelinjang yang sangat dahsyat langsung menerpaku. Aku tak bisa menghindar untuk tidak menggeliat-geliat. Kegelian yang amat sangat menyerangku pada setiap jilatan dan sedotan bibir Pak Anggoro. Puas menggauli telapak, tumit dan jari kaki kiriku, ganti tangannya meraih kaki kananku. Dia melakukannya seperti yang sebelumnya dilakukannya pada kaki kiriku. Dan kembali aku menggeliat menahan kegelihan yang amat sangat. Aku juga mendesah dan merintih, meminta agar Pak Anggoro menghentikan manuver bibir dan lidahnya. Tapi tentu saja tidak bisa, kenikmatan yang demikian saja dipotong di tengah jalan. Justru desahan dan rintihan serta gelinjang kaki-kakiku memacu nafsu Pak Anggoro naik semakin menggila. Entah berapa kali aku dengan tanpa sengaja menendang mukanya.

Setelah puas menciumi dan menjilati kakiku, bibir dan lidahnya merambat ke kedua betisku. Betisku yang getas (keras tetapi mudah patah, atau pecah, sebagai gambaran tentang betisku yang sekal tetapi sangat peka terhadap berbagai sentuhan lelaki) dia lumat hingga kuyup oleh ludahnya. Kegelian yang amat sangat segera menyerangku setiap kali lidahnya yang terasa sedikit kasar itu menyapu pori-pori betisku. Ketika dia terus naik menuju ke nonokku sebagai pusat kenikmatan dunia digigitnya lututku. Langsung kakiku berontak kegelian. Tangan-tangannya yang kuat menahan kakiku, sementara bibir dan lidahnya terus melumat lututku. Aku sangat tersiksa rasanya. Seluruh punggungku seperti dirambati jutaan semut, bulu kudukku berdiri. Perasaan sangat merinding merata pada bagian belakang tubuhku. Kini tangankulah yang kuharapkan bisa melepaskanku dari siksaan yang nikmat ini. Aku bangkit setengah duduk. Kurenggut kepala Pak Anggoro dan menolaknya dari ciuman di lututku. Tetapi aku tidak cukup kuat, perempuan ringkih lemah seperti aku ini melawan ganasnya beruang yang menancapkan rahang-rahangnya pada lututku ini. Tapi aku terus melawannya, berusaha menendangnya, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.

Setelah dari lututku, wajah Pak Anggoro merangsek ke atas lagi. Dengan tangan-tangan kuatnya yang memegang erat-erat kedua pahaku, kembali bibir dan lidah Pak Anggoro melumat pahaku.
"Ooouuhh, jangan, jangan! Aku bencii, aku benci kamuu Anggoroo! Setaann kamu Anggoroo!".
Aku melupakan rasa hormatku pada Pak Anggoro, mengumpat sambil berontak sejadi-jadinya. Aku mengumpat meracau layaknya perempuan kemasukan jin. Suaraku menjadi parau kehabisan suara. Untunglah, Pak Anggoro tenang saja. Sangat paham dan tenang. Hebat. Terus saja dia melakukan hal tersebut. Dia menjadikan dirinya seorang sadistis yang menikmati penderitaan dan kesakitan orang lain. Dan disinilah aku menemukan apa yang disebut sebagai "sensasi birahi". Mungkin bagi Pak Anggoro yang sudah matang dalam petualangan seksnya, dia tahu persis dan sering mengalami reaksi lawan cumbunya seperti begini. Sikapnya yang tenang merupakan bentuk toleransi birahinya agar lawan cumbunya berkesempatan meraih sensasi erotiknya.

Bagiku sendiri, dalam instingku yang sangat jauh, semua upaya perlawananku sebenarnya bukan untuk membuat lawanku menyerah. Semua perlawananku itu adalah merupakan ungkapan kenikmatan tak terhingga yang disebabkan nafsu birahi yang melemparkanku jauh ke langit, ke bintang-bintang nikmat tak terperi. Kenikmatan yang menghempaskanku, jiwaku, saraf-saraf pekaku, darahku hingga ke titik yang paling ekstrim.

Bersambung ...

Aku berdiri di belakang Mbak Eliz, sepertinya dia belum menyadari kehadiranku, kupeluk dari belakang, kudekap erat dan kuremas buah dadanya sambil menciumi tengkuknya, dia menggelinjang hebat, apalagi bersamaan dengan kuluman suaminya pada putingnya, desahannya berubah menjadi jeritan liar nan nikmat menggairahkan.
"Aaagghh..sshh..ehhmm" sambil menggoyang goyangkan kepalanya, rambut indahnya tergerai menutupi wajahnya yang kemudian disibakkan suaminya.

Aku berdiri di atas sofa, posisi penisku sejajar kepala Mbak Eliz, kusodorkan penisku yang tegang ke mulutnya, dia meraih dan mengocoknya, kulihat Mbak Eliz memandang ke arah suaminya sebelum akhirnya memasukkan penisku ke mulutnya, tanpa mengentikan goyangan pinggulnya. Penisku segera keluar masuk mulut Mbak Eliz, tepat di muka suaminya yang sedang meremas remas kedua buah dadanya, kini Mbak Eliz mendapat dua penis di atas dan dibawah. Istriku hanya berdiri tersenyum melihat kami bertiga dan memandangku saat merasakan nikmatnya kuluman Mbak Eliz.
Kupegang rambut indah Mbak Eliz yang tergerai di mukanya dan kukocokkan penisku ke mulutnya membuat dia tidak bisa bebas bergerak kecuali hanya bergoyang pinggul. Aku sudah tak mempedulikan lagi suaminya, yang hanya menonton bagaimana penisku mengisi mulut istrinya tercinta.

Hanya beberapa menit kami mengeroyok Mbak Eliz, ternyata sensasinya terlalu tinggi baginya, tak lama kemudian kurasakan cengkramannya pada penisku mengeras menegang, gerakannya tidak beraturan dan,
"Ooouugghh..yess..yaa..yaa.. oh Mass" jeritnya orgasme, dia menggeliat di pangkuan suaminya sambil tetap mencengkeram penisku. Tubuh Mbak Eliz melunglai memeluk suaminya, aku turun dan kucium pipinya yang masih bersandar di bahu sang suami, napasnya masih menderu, sempat kudengar dia berucap "terima kasih Mas", entah ditujukan ke aku atau suaminya.

"Giliranku" kata Lily, aku duduk di samping Mas Surya yang masih memangku istrinya. Lily berlutut di selangkanganku dan memasukkan penisku ke mulutnya, Mbak Eliz turun dari suaminya, menggenggam dan mengocok penisnya yang masih tegang dan basah karena vaginanya, dikulumnya penis itu seakan membersihkan dari cairannya. Istriku sambil mengulumku meraih penis Mas Surya yang masih dalam kuluman istrinya, lalu mengocoknya setelah ditinggalkan Mbak Eliz ke kamar mandi.

Mas Surya beralih ke belakang istriku, mengatur posisinya bersiap untuk doggie. Tak lama kemudian istriku sudah menerima kocokannya dari belakang, dengan liarnya menghentakkan tubuhnya ke tubuh istriku yang masih bergairah mengulumku, sesekali kulumannya terlepas karena sodokan keras Mas Surya. Desahannya tertahan penisku yang ada di mulutnya, gerakan Mas Surya makin ganas, ditariknya rambut istriku dan menyodoknya dengan keras, tubuh istriku terdongak karena sodokannya, tapi dia tidak pedulikan, sodokan kerasnya tidak melemah, semakin istriku menggeliat nikmat membuatnya semakin bersemangat.

Sambil mengocok, tangannya tak pernah lepas dari tubuh istriku, dielusnya punggung dan pantatnya lalu diremasnya kedua buah dadanya yang menggantung bebas. Dengan cepat istriku sudah bisa menyesuaikan dengan gaya permainan liar Mas Surya, kembali dia mengulum penisku, kupegang dan kuelus rambutnya, sesekali kutekan ke arah penis supaya masuk ke mulutnya sebanyak mungkin, meski dia tidak pernah bisa memasukkan semuanya.

Kami berganti posisi, istriku duduk di pangkuanku, tapi sebelum dia memasukkan penisku ke vaginanya, Mas Surya sudah mendahului menyapukan kepala penisnya, dan melesak kembali ke vaginanya. Istriku menoleh ke Mas Surya, dia hanya membalas dengan senyuman, kini Mas Surya mengocok istriku yang duduk di pangkuanku. Dia mendesis di pelukanku menerima kembali kocokan Mas Surya.

"Mbak suaminya nakal nih, merebut jatah suamiku" teriak istriku sambil mendesah ketika melihat Mbak Eliz keluar kamar mandi. Mbak Eliz terlihat makin cantik dengan rambutnya yang tergerai basah dan hanya berbalut handuk, buah dadanya makin kelihatan montok berisi tertutup handuk putih.
"Biarin aja, itulah balasan kalau kalian menggoda istri orang, tetangga lagi, bikin mereka kapok mas" jawab Mbak Eliz mencium suaminya lalu duduk di sampingku. Tak kuperhatikan buah dada istriku yang berayun-ayun di mukaku, kutarik tubuh Mbak Eliz mendekat, kulempar handuk penutup tubuhnya, aroma wangi tercium dari tubuh segarnya ketika kucium leher dan bibirnya, kami saling mengulum sambil aku memangku istriku yang menerima kocokan Mas Surya.
"Pindah ke kamar yuk, disini kurang bebas" usul Mbak Eliz
Tanpa menunggu jawaban, kudorong istriku turun dari pangkuanku lalu kutuntun Mbak Eliz menuju kamar, sekilas masih kulihat Mas Surya meneruskan kocokannya terhadap istriku, dia menyetubuhi istriku dari belakang sama sama berdiri, berpelukan dan berciuman.

Sesampai di kamar, kurebahkan tubuh telanjang Mbak Eliz dan langsung kutindih, kususuri tubuhnya yang segar sehabis mandi, terasa lebih menggairahkan, aku paling menyukai membenamkan mukaku di antara kedua bukit di dadanya yang montok. Tak lama kemudian istriku dan Mas Surya masuk kamar, ketika kami sedang ber-69 dengan Mbak Eliz di atas, mereka langsung mengambil posisi doggie. Istriku mengatur posisi tubuhnya hingga kepalanya di antara kakiku dan bisa mengulumku bergantian dengan Mbak Eliz ketika suaminya mengocoknya dari belakang, aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi bisa merasakan ketika dua mulut dan dua lidah sedang berada di kejantananku baik secara bersamaan maupun bergantian, terasa kenikmatan yang berlebihan.

Ranjang serasa bergoyang ketika kudengar jeritan nikmat istriku akibat hentakan kuat dari Mas Surya, kulihat dari celah paha Mbak Eliz, Mas Surya menjambak rambut istriku hingga dia terdongak ke belakang dan menyodoknya dengan keras, buah dada istriku berayun-ayun tak beraturan karena sodokan itu.

"Mas, gantian dong" pinta Mbak Eliz pada suaminya, tanpa menunggu jawaban dia langsung turun dan nungging di samping istriku. Mas Surya melepaskan istriku dan bergeser di belakang istrinya, langsung penisnya melesak ke vagina Mbak Eliz dengan kecepatan tinggi seperti yang dia lakukan pada istriku, kontan Mbak Eliz menjerit seperti terkaget menerima perlakuan suaminya yang kasar itu, tapi tak ada tanda protes, justru kulihat expresi kenikmatan di wajahnya yang cantik. Kuraih buah dadanya yang montok berayun ayun dan kuremas sambil kupermainkan putingnya, membuat Mbak Eliz makin histeris dalam desahannya.

Istriku yang ditinggal Mas Surya, beralih ke atasku, mengatur posisinya sebelum akhirnya melesakkan penisku ke liang vaginanya. Jeritan nikmat keluar dari mulutnya saat penisku menerobos masuk. Setelah terdiam sesaat, mulailah goyangan pinggulnya di atasku, penisku terasa di remas remas, gerakan istriku semakin liar, kunikmati sambil meremas remas buah dada Mbak Eliz yang sedang mendapat kocokan dari suaminya.

Melihat istriku bergoyang liar dan menggairahkan, Mas Surya rupanya tergoda juga untuk kembali menikmati istriku yang memang lebih liar dibandingkan istrinya, ditinggalkannya istrinya yang sedang mendesah nikmat, tak dipedulikannya suara protes dan kecewa dari Mbak Eliz. Dia berdiri di samping Lily yang sedang terbakar kenikmatan, menyodorkan penisnya yang masih basah dari Mbak Eliz ke mulutnya, istriku segera meraih penis itu dan langsung mengulumnya sambil tetap bergoyang pinggul dan turun naik di atasku.

Penis Mas Surya yang tidak terlalu besar segera masuk semua ke mulutnya tanpa hambatan, dia tidak mengalami kesulitan meng-handle dua penis secara bersamaan. Kedua penis mengocoknya di atas dan dibawah secara bersamaan, Mbak Eliz yang cemberut segera kutarik dalam dekapanku, dia merebahkan kepalanya di dadaku sambil memandangi penis suaminya meluncur di mulut istriku. Mbak Eliz berlutut di sisi istriku, kedua wanita itu bergantian mengulum dan menjilati penis Mas Surya dengan rakusnya.

Kami berimprovisasi dengan berbagai gaya dan posisi di semua tempat di kamar itu, sepertinya sudah menjadi kodrat bahwa aku lebih sering menikmati Mbak Elis dan Mas surya lebih menyukai istriku.
Tak ada aturan, yang capek boleh berhenti yang masih kuat silahkan melanjutkan, permainan selalu bervariasi, kadang MMF, FFM atau MMFF. Anehnya, Mas Surya yang tadi cepat orgasme, dengan berame rame seperti ini justru bisa bertahan lebih lama, bahkan istriku sempat dibuat kewalahan.

Kami saling mereguk dan memberi kenikmatan yang seolah tak pernah habis dinikmati. Selama di kamar tak seutas benang menutupi tubuh kami, bahkan ketika Room Boy mengantar makan malam, hanya Mas Surya yang berbalut handuk yang menerimanya, karena aku lagi sibuk mereguk kenikmatan dengan istriku dan istrinya.

Setelah memberi tahu teman teman di Villa bahwa mungkin kami pulang pagi karena terjebak kemacetan di Cianjur, malam itu kami habiskan dengan pesta penuh nafsu seakan there is no tomorrow. Kami bebas melakukan dengan siapa saja, dimana saja, posisi apa saja, its wild sex, meski cuma kami berempat.

Yang paling mengesankan adalah bercinta bertukar pasangan di keremangan malam yang dingin di udara terbuka, karena tempat kami memang jauh di pojok yang jarang dilewati orang. Dinginnya angin malam tak mampu mengusir gairah nafsu kami yang memang sedang memuncak.

Keesokan harinya kami kembali ke Villa pukul 11 pagi, beberapa pertanyaan muncul mengiringi kedatangan kami, karena memang HP kami matikan untuk menghindari gangguan. Tak ada yang curiga dengan apa yang telah kami lakukan semalam, bahkan beberapa ibu ibu kasihan melihat kami yang kelihatan kurang tidur dan capek, mereka mengira kita kecapekan karena terjebak macet sehingga menginap di Cianjur, padahal itu jauh dari realita, justru kami kurang tidur dan capek karena nikmat.

Akhirnya kami kembali membaur dengan tetangga lainnya, terhadap Mas Surya dan Mbak Eliz kami bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi apa apa, begitu juga mereka, tidak ada perubahan sikap kami pada mereka, paling tidak didepan banyak orang.

Sesekali aku masih bisa mencuri cium ataupun pelukan ataupun rabaan dari Mbak Eliz saat berdua, istriku hanya tersenyum saja melihat tingkah lakuku itu.

Kami masih berkeinginan untuk melakukannya lagi di lain waktu dan kesempatan, tak perlu menunggu liburan atau di puncak.

Tamat

Kisah ini adalah merupakan lanjutan rangkaian pengalamanku sebagaimana yang telah kuceritakan dalam Serigala Lapar, Trilogi 1: The Clan, yang mengungkapkan bahwa selama ditinggal suamiku tugas ke luar kota, ada temannya yang menjadikanku sebagai istri yang suka menyeleweng, dan penyelewenganku itu menjadi berantai. Dan kini aku sedang menghadapi teman-teman Mas Adit yang bak serigala lapar yang berusaha untuk bisa membawaku ke tempat tidur.
Semuanya ingin merasakan bercumbu denganku. Dari Rendi, kemudian beralih ke Burhan dan Wijaya, kemudian Basri petugas Satpam yang suka mengantar Mas Adit suamiku. Aku tak bisa mengelak, karena aku takut kalau di antara mereka ada yang kecewa dan kemudian melaporkanku pada suamiku. Tetapi kuakui bahwa semua hal yang berlangsung itu kulakukan dengan penuh kesadaran dan bahkan kunikmati.

Pada malam setelah Basri si Satpam yang terpaksa kuterima untuk menyetubuhiku di atas ranjang pengantinku, aku akhirnya jatuh tertidur pulas kelelahan. Pukul 9 pagi esoknya, terdengar tukang koran membangunkanku. Dia menagih rekening bulanan koranku. Dengan daster tidur, aku keluar menemuinya dan kusodorkan bayarannya. Kemudian aku mandi dengan air panas hingga kesegaranku pulih kembali.

Mas Adit akan pulang ke Jakarta 2 hari lagi. Mudah-mudahan aku sudah sepenuhnya segar dan tak ada sisa-sisa apapun yang bisa dibaca pada tubuhku atau mengundang kecurigaan akan penyelewenganku. Pukul 10.30 setelah sarapan pagi, aku menyempatkan diri menyiangi dan menyiram tanaman kembangku. Ini merupakan acara rutinku dalam rangka mengisi kegiatan di rumah. Sekitar pukul 12 siang, setelah mengurus tanaman, terasa perutku sangat lapar. Dari lemari es kuambil persediaan sirloin steak 200 gram di chiller. Dalam 20 menit aku sudah menghadapi seporsi besar steak lengkap dengan tumis buncis dan kentang goreng. Dengan penutup orange juice dan segelas besar air mineral, aku makan besar siang ini hingga kekenyangan. Kubaca koran pagi yang belum sempat kubuka lembaran-lembarannya.

Pukul 3 siang, tetanggaku, Bu Tommy mampir ke rumahku untuk meminjam alat pemotong bunga. Di halaman, kami mengobrol tentang berbagai tanaman yang kurawat hingga selalu nampak sehat dan berbunga indah. Pada pukul 4 sore terdengar dering teleponku. Bu Tommy pamit, kemudian aku masuk mengangkat telepon itu.

"Selamat sore, Bu Adit", kudengar suara bariton di ujung telepon.
"Masih ingat saya..,?"
Aku ingat, itu Pak Anggoro, boss di kantor suamiku. Ada apa ini? Pikiranku dipenuhi tanda tanya.
"Selamat sore Pak Anggoro, apa kabar?".
"Baik, Bu. To the point saja ya. Ada dua hal yang ingin saya sampaikan, Bu".
Aku langsung jadi deg-degan nih, ada apa. Tumben-tumbenan seorang boss besar seperti Pak Anggoro meneleponku, kok langsung berbicara serius seperti ini.
"Pertama, saya dapat laporan dari Pak Samin penjaga villa saya di Bogor".
Degg, rupanya rahasiaku petualanganku dengan teman-teman suamiku terbongkar. Matilah aku, pikirku.
"Kedua, saya barusan menelepon Pak Adit".
Wah, benar-benar celaka, kiamat, pikirku.
"Saya minta Pak Adit menyelesaikan tugasnya hingga mendapatkan Surat Ijin Prinsip dari Pak Bupati Kalimantan. Itu artinya Bu, Pak Adit baru bisa sampai Jakarta hari Rabu, 2 hari mundur dari rencananya yang harusnya Senin besok sudah pulang".
Aku mencoba mencari kaitannya antara hal pertama dengan hal yang kedua. Ah, aku mulai curiga. Aku membaca ada tanda-tanda yang tidak benar dari Pak Anggoro. Rupanya serigala-serigala kelaparan terus berkeliaran mencari mangsanya.

"O iya Pak. Ya bagaimana lagi, khan Mas Adit memang harus menyelesaikan tugasnya", aku berusaha menanggapinya dengan ringan dan tenang.
"Benar Bu, dan saya sudah merencanakannya, apabila Pak Adit berhasil menyelesaikan tugasnya, akan mendapatkan surprise dari perusahaan, kami sudah sepakat untuk mengangkatnya jadi Wakil Direktur. Itu artinya dia akan mendapat loncatan promosi 2 kali. Hal tersebut belum pernah kami berikan kepada karyawan lain sebelumnya. Tetapi tolong untuk hal ini menjadi rahasia kita dulu ya Bu, biar Pak Adit merasakan surprisenya itu".
"Ooo, baik, Pak. Terimakasih, Pak".
Wah, Pak Anggoro berusaha memamerkan kebaikan hatinya.
"Tt.., tte.., tapi.., B.., Bbu.., ini berkaitan dengan hal yang pertama tadi. Saya rasa kita perlu membicarakannya berdua, Bu".
"Maksud Bapak?", aku menempatkan diri seakan aku tidak tahu apa-apa dengan yang dimaksudkannya laporan Samin.
"Begini Bu Adit, Ibu sudah tahulah. Samin bilang bahwa selama 2 hari berturut-turut karyawan saya yang teman-teman Pak Adit datang bersama Ibu di villaku. Jadi.., yy.., ya.., inilah yang saya maksud dengan kita perlu membicarakan berdua, agar Pak Adit tidak tersendat promosinya di kantor".
"Saya sudah booking President Suite Grand Hyatt di jalan Thamrin, jam 5.30 sore ini. Bu Adit saya tunggu di Dome Coffee Shop. Jangan dilewatkan ya Bu. Saya tunggu lho", nadanya memerintah, seakan aku bawahannya dan dia bisa seenaknya memerintahku.

Aku masih bengong saat Pak Anggoro menutup teleponnya tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berbicara. Dara serigala kelaparan bermental pemeras, umpatku dalam hati. Yang satu ini adalah serigala tua yang sangat kelaparan sehingga begitu mendengar kasusku saat berada di villanya di Bogor, dia merasa mendapat kesempatan. Dia pikir bisa seenaknya memilih dan menetapkanku sebagai mangsanya. Pak Anggoro itu adalah boss suamiku yang walaupun fisiknya masih gagah, sehat dan segar tetapi usianya telah gaek, mendekati 60 tahun.

Bagaimana lagi ini. Gara-gara Rendi, aku dibuatnya super sibuk selama beberapa hari ini. Tetapi kalau masalah ini sampai pada Pak Anggoro, terus terang sama sekali tak pernah kuperhitungkan sebelumnya. Dengan mendengar pembicaraannya di telepon tadi, kalau kuabaikan akan bisa mengancam posisi suamiku di kantor. Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Dengan penuh tanda tanya, ragu, takut, khawatir, kesal karena orang-orang mendekatiku dengan cara memeras, akhirnya aku pergi mandi dan bersiap-siap memenuhi panggilan Pak Anggoro.

Di atas taksi yang menuju ke Grand Hyatt Hotel di Thamrin, aku mencoba membayangkan sosok Pak Anggoro. Menurut Mas Adit, walaupun lahir di Jawa dan Bapaknya orang kraton Solo, tetapi dia masih memiliki darah keturunan dari timur tengah. Memang dari profil wajahnya, cukup nampak garis-garis Semitnya. Kalau sedang berkumpul, Ibu-ibu para istri teman-teman Mas Adit sering berbisik-bisik bahwa Pak Anggoro mirip Omar Syarif, bintang film Mesir yang memang tampan. Dalam beberapa kali kesempatan mendampingi Mas Adit, kuperhatikan mata Pak Anggoro yang tak lepas-lepasnya memandangiku walaupun istrinya, Bu Retno yang terkenal cantik pula di masa mudanya, yang katanya juga masih keturunan raja Solo itu selalu berada di sampingnya. Aku sudah tahu dan terbiasa akan hal seseperti itu. Para lelaki memang selalu haus. Apa lagi kalau mendengar perkataan Rendi, menurut istri-istri teman sekantor Mas Adit, akulah yang paling cantik dan sensual. Bibirku mengingatkan para lelaki itu pada bibir Sarah Ashari. Demikian pula rambutku yang panjang yang lebih suka kulepas terurai.

Dengan kepalaku yang hanya setinggi dadanya, aku perkirakan tingginya mendekati 180 cm. Tetapi dengan badannya yang cukup gemuk, aku kira bobotnya tak kurang dari 75 kg, dengan tangan-tangannya berbulu lebat. Seperti lebatnya orang timur tengah pada umumnya. Kulitnya yang putih, membuat bulu-bulu itu nampak kontras tumbuh di atas kulitnya. Aku sering tergetar kalau melihat lelaki berbulu seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa bulu-bulu yang ada di bagian tubuh lainnya. Suaranya yang bariton, menambah wibawa kepemimpinannya selaku Direktur Utama perusahaan tempat Mas Adit bekerja. Dia juga nampak sangat matang, baik sebagai pimpinan, maupun sebagai pribadi. Pak Anggoro, orangnya nampak sangat "gentleman". Beberapa kali dia membukakan pintu mobilku saat aku sedang bertandang ke rumahnya dalam rangka kegiatan antar para istri karyawan perusahaannya, di mana Ibu Anggoro selaku ketuanya.

Sedikit banyak aku juga tahu, "booking" President Suite Grand Hyatt itu, setidaknya sekitar US$ 2.500 yang harus dia keluarkan dari koceknya. Itu artinya tidak kurang dari Rp. 20 juta semalam atau 4 bulan gaji Mas Adit yang penuh kerja keras itu. Dan pengeluaran sebesar itu hanya untuk bisa "ngeloni" aku, istri Mas Adit, bawahannya.
Ada juga terselip sedikit rasa tersanjung di hati kecilku dengan apa yang telah Pak Anggoro lakukan untukku itu.
Persis di depan pintu kaca besar di Dome Coffee Shop Grand Hyatt, Pak Anggoro menjemput dan membukakan pintu Dome untukku.

"Selamat sore, Bu", ucapannya yang bariton dan begitu "gentleman" itu sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Dia telah "reserve" meja persis di depan kaca lebar yang menghadap ke patung Selamat Datang yang terkenal itu. Kepada pelayan dia memesan sesuatu. Dia tersenyum kepadaku.
"Bu Adit, jangan tanya pesanan saya ya. Ini sengaja tidak saya tawarkan pada Ibu. Ini surprise dari saya untuk Ibu karena Ibu sangat cantik malam ini, eh, sore ini", dan tanpa ragu, tangannya yang berbulu lebat itu meraih tanganku dan meremasnya. Ah.., Bapak ini PD-nya kelewatan, begitu bathinku.
"Dan maaf, saya telah merepotkan Bu Adit", lanjutnya berkaitan dengan pemerasan lewat telepon yang dia lakukan sore tadi padaku.

Dia perhatikan aku sepenuh mata dan hatinya. Dia juga perhatikan aku sepenuh laparnya seekor serigala lapar. Aku merasa seakan hendak dikunyah-kunyahnya. Seakan hendak dia telan bulat-bulat. Aku merasa dia seakan mendapatkan makanan yang terlezat dengan mendapatkanku sekarang ini. Kurasa air liurnya tak lagi tertahankan untuk mulai merobek-robek diriku. Aku berusaha tenang, walaupun sesungguhnyalah aku merasa "nervous", agak takut, agak gemetar. Tetapi, tidak tahu juga, hatiku sekaligus juga tergetar. Bahkan gigiku terasa gemerutuk saling beradu karena gemetarku.

Aku merasakan seperti ada birahi yang menjalar pada diriku. Birahi selaku perempuan yang harus menyerahkan diri dan menyerahkan tubuhnya ke meja altar untuk dijadikan korban nafsu dan mangsa serigala yang lapar. Tetapi anehnya, situasi yang harusnya menyeramkan itu justru menyimpang menjadi sensasi erotik yang membakar darahku. Dan sensasi erotik itu menimbulkan perasaan nikmat penuh birahi yang terasa mulai merambati libidoku. Kenikmatan birahi karena aku telah ditaklukkan, dikalahkan, ditawan, ditundukkan, diinjak-injak, diperbudak dan dimusnahkannya harga diriku. Penyelewenganku di villa Bogor itu telah membangunkan Pak Anggoro, serigala tua yang kelaparan ini.

Sepintas kuperhatikan dia. Nampak sangat segar dan penuh percaya diri. Yang pasti, kecukupan dan kesenangan duniawinya tak akan pernah kekurangan. Tubuhnya yang besar tetap nampak serasi, tidak terlampau gemuk dan sedap dipandang mata, khususnya oleh orang yang sedang dilanda birahi sebagai orang taklukan seperti aku sekarang ini. Gerakannya lincah, tanpa nampak adanya kendala usia pada tubuhnya. Dengan "trengginas" dia tarik kursi dan membimbingku untuk duduk. Senyumannya menebar keluar dari wajahnya yang memancarkan nuansa rasa tenteram dan terlindungi bagi siapapun yang dekat dengannya.

Kulitnya yang putih, dengan wajah sedikit mengingatkan wajah-wajah timur tengah seperti Omar Syarif itu, memancarkan kesan sebuah pribadi yang anggun dan penuh kharisma. Dengan brewok dan kumis yang selalu tercukur licin hingga menyisakan bayangan keunguan dari akar rambutnya pada dagu dan sekitar mulutnya, wajah Pak Anggoro nampak sangat jantan. Sangat macho. Alisnya yang tebal dan matanya yang nampak tajam seperti elang gurun terasa menusuk langsung ke jantungku. Kembali aku tergetar hingga gigiku bergemerutuk. Aku menggigil, tetapi bukan oleh dinginnya ruang AC Coffee Shop Dome ini. Sedikit botak di kepalanya justru menunjukkan daya tarik seksualnya. Para perempuan akan membayangkan alangkah indahnya apabila botak seperti itu berkesempatan bersandar pada buah dada mereka. Giginya yang putih dan sangat terawat nampak membuat gaya bicara maupun senyumannya menjadi simbol keramahan, kesantunan dan penuh sensualitas.

Sore ini beliau memakai kemeja lengan pendek dengan gambar bunga-bunga yang menunjukkan bahwa dia sangat santai, tak ada beban, tak ada masalah-masalah yang menggelayutinya. Tercium sedikit semburat parfum khusus untuk pria. Tidak dominan, sehingga bau keringat alaminya masih bisa tercium lewat hidungku.
"Bu Adit sungguh sangat cantik. Sangat mempesona", begitu dia mengawali pembicaraannya sesaat setelah membisikan pesanan rahasianya pada pelayan Dome.
Matanya tak pernah melepaskan pandangannya padaku, pada bagian-bagian tubuhku. Aku tersenyum dan hatiku membumbung ke langit penuh bunga-bunga. Diraihnya tanganku dan diremasnya dengan penuh keyakinan bahwa aku telah menyerah menjadi tawanannya. Aku tidak mampu lagi berkutik, dan siap menjadi budaknya untuk dikorbankan pada meja altar nafsu lapar birahinya.

Bersambung ...