Aku laki laki, tapi dari kecil aku memiliki tubuh sintal, kulit halus dan bersih, serta bibir merah merekah seperti perempuan. Meskipun aku tidak kebanci bancian. Di antara para wanita, dari kecil aku sudah jauh lebih laku diantara teman teman laki laki ku. Tidak tahu kenapa, tapi gadis gadis disekitarku selalu langsung dekat dan tidak segan bermain, dan bercanda denganku seolah olah aku adalah bagian dari mereka, sementara kawan laki lakiku tentu selalu iri dengan kedekatanku dengan semua gadis gadis yang tersedia.

Ada beberapa gadis yang terbuka menyukaiku dengan tendensi sexual. Tapi banyak juga yang menyukaiku cuma sebagai kawan, rekan, dan teman bermain.

Perasaanku sendiri terhadap mereka? Tidak tahulah, tapi memang ada beberapa yang saya suka kalau kita berpelukan, atau berciuman, atau sekedar dekat dan merasakan hangat. Tapi selebihnya.. Rangsangan sexual kayaknya tidak pernah ada yang begitu menggebu gebu terhadap mereka. Kecuali keinginan untuk dekat, atau berdekapan, atau berciuman bibir, tidak ada lagi keinginan lebih yang ingin saya teruskan.

Itu mungkin sebabnya pula, gadis gadis itu juga suka saya dalam sekali dan bahkan sampai sekarang, ketika beberapa dari mereka sudah berkeluarga. Mata mereka bersinar sinar begitu melihat saya, dan mereka tidak segan memeluk dan bercerita tentang rahasia rahasia mereka, karena diantara kita memang tidak pernah terjadi apa apa.

Ini pelAjaran buat semua laki laki. Kalau kamu ingin dihargai dan disayangi semua wanita, jangan langsung berpikir betapa enaknya vagina dia!! karena wanita itu makhluk dengan rasa. Ok, ada saat saat wanita lebih gila daripada pria, karena mereka gatal dan ngangkang dan nggak puas puas juga meski kita sudah tusuk vagina mereka lama lama.. Tapi masih sAja itu vagina terbuka dan meminta.. Tapi pada umumnya.. Semua wanita akan senang, bahagia, dan jatuh cinta kalau kita bisa memberi kedamaian, rasa hangat, dan sedikit cinta. Dengan hanya mendekapnya hangat. Mencumbunya mesra. Bermain main dengan bibir kita diujung ujung belahan bibirnya. Tanpa tangan atau kemaluan kita menyentuh vagina atau payudaranya.. Sang wanita akan gila!! gila oleh cinta..!! Percaya saya sudah..!! Soalnya saya sudah sering bikin wanita jatuh cinta.. Meski sebenarnya saya tidak menginginkannya. Ok.. Kadang saya menginginkannya.. Karena wanita kadang sungguh makhluk mulia. Dan dengan wanita.. Jiwa kita tentram dan.. Kita bias hidup terbuka.

Tapi apalah daya.. Kalau saya memiliki lain rasa? Saya laki laki, tapi saya butuh kekuatan, cinta, dan gairah dari makhluk yang lebih kuat dari saya!! Itu sebabnya pula saya tidak bahagia.. Meski sekarang saya punya pendamping setia yang mencintai saya dan.. Cantik luar biasa.

Dari kecil, saya sedikit lain dari anak anak lain didesa saya, karena kulit saya yang halus dan bersih. Juga karena tubuh saya yang sintal dan terawat. Tentu juga karena bibir saya yang manis dan merah, alami. Membuat saya kadang jauh lebih memikat dari beberapa wanita.

Di kota kecil saya, kadang saya suka ikut bergabung dengan pemuda pemuda yang suka berkumpul di pos ronda. Mereka kadang bermain kartu, atau bahkan sembunyi sembunyi minum minuman alcohol, sampai larut, larut malam. Saya suka diantara pemuda pemuda itu. Karena kebanyakan dari mereka suka mendekap saya. Mengelus elus tubuh saya. Dan memuja. Mereka memuja kulit saya yang halus. Mereka memuja bibir saya yang sexy. Dan sebagainya.

Kalau malam jadi larut, dan beberapa dari mereka tiduran. Mereka masih suka mendekap saya seperti boneka dalam tidurnya. Kadang tanpa sadar atau tidak. Mereka menciumi leher saya dari belakang, dan menekan nekankan kemaluan mereka ke pantat saya. Semula saya tidak berpikir apa apa. Kecuali senang karena rasa geli geli nikmat dan karena tubuh mereka yang hangat menyelimuti saya.

Tapi lama lama, seiring waktu, dan bertambahnya umur. Saya semakin mengerti akan gairah yang tumbuh ditubuh saya, ketika merasakan kehangatan mereka. Ketika mereka menekan nekankan kemaluan mereka ke pantat saya, dan bibir mereka mengigit gigit leher belakang saya. Tanpa sadar lama lama saya berani melenguh, dan membalas menekan pantat saya ke arah kemaluan mereka, sampai saya merasakan keras dan besarnya kemaluan di dalam celana mereka.

Ritual seperti ini berlangsung cukup lama sampai satu saat saya tidak tahan dan tangan saya melanglang ke belakang dan mengenggam kemaluan mereka dari balik celananya. Tidak tahan, satu saat akhirnya tangan saya juga menyelusup masuk ke dalam celana mereka dan menggenggam kemaluan laki laki yang tegang, keras, panas, dan.. Ohh menggelora!!

Tidak tahu kenapa, tapi pertama kali saya memegang kemaluan laki laki lain yang sudah dewasa, ada dunia baru yang terbuka dihadapan saya. Darah saya bergejolak. Tubuh saya meleleh bagai lilin. Dan bibir saya? rasanya jadi semakin tebal dan merah.. Mendidih. Membuat saya haus.. Haus.. Haus..

Dan satu jalan untuk menghilangkan rasa haus saya, saya beranikan diri mendekatkan mulut saya ke kemaluan mereka. Saya cium harumnya. Saya rasa nikmatnya. Saya hisap daya tariknya. Sampai air saya meleleh dan perlahan saya jilati kepala kemaluannya. Sang pemuda mendelik dan mengeluh tak percaya. Lalu tidak tahu dari mana datangnya ide itu tapi kemudian, saya masukkan kepala kemaluan sang pemuda ke dalam mulut saya, dan saya benamkan perlahan lahan di ke dalaman nikmat dan basahnya mulut saya. Lebih dalam lagi menyentuh tenggorokkan. Lebih dalam lagi lewat kerongkongan. Ohh.. Saya pintar sekali mengatur nafas saya dan kemaluannya melesak masuk semua didalam mulut saya. Sampai bibir saya terbenam di kelebatan bulu bulu kemaluan sang pemuda.

"Ohh Aj.. Enakk sekalli.. Ohh.. Mulut kamu gila.. Enakk.. Dan dalamm sekali.. Aj.." sang pemuda merintih, dan aku jadi semakin panas membenamkan kemaluannya di ke dalaman tenggorokan saya. Ohh, nikmat sekali rasanya ketika kepala kemaluannya terasa berdenyut denyut di dinding dinding tenggorokan saya.

Perlahan lahan, sang pemuda menarik kemaluannya keluar dari tenggorokkan dan mulut saya. Melewati lidah, dan akhirnya kembali kepala kemaluannya menyentuh bibir saya yang merah dan basah. Wow.. Kemaluannya keras, tegang, dan mengkilat basah oleh cairan mulut saya. Gagah sekali.. Indah sekali.. Dan ohh.. Terlihat nikmat.. Nikmat sekali.. Tanpa sabar aku kembali meraih kemaluannya dengan bibir mulut saya dan sang pemuda menggeram nikmat.. Pinggulnya sekarang meliuk liuk mendesak desakkan kemaluannya ke dalam mulut saya yang lapar, dan dahaga.

Dengan tidak sabar, sang pemuda berguling dan kini posisiku dibawahnya. Kemaluannya masih menancap dalam di mulutku dan sekarang dengan posisi tubuhnya diatas dengan mudah ia menarik turunkan pinggulnya dan mendesak desakkan kemaluannya di dalam mulutku. Dan aku menikmatinya. Aku menikmatinya ketika kemaluannya dalam menyentuh dinding dinding tenggorokanku. Aku menikmatinya ketika mulut dan tenggorokanku terasa sesak, penuh oleh batang kemaluannya yang keras dan nikmat.

"Ohh Aj.. Nikmatt.. Nikmatt sekali rasanya mengentot mulutmu.. Ohh.. Kamu pintar sekali Aj.. Tenggorokanmu panas dan basahh.. Ohh.. Nikmat sekali Aj.." sang pemuda terus menyetubuhi mulutku dengan kemaluannya yang kencang dan makin keras. Gerakannya semakin cepat. Bibir ku semakin basah dan terasa tebal. Sementara cairan di dalam mulutku semakin licin memudahkannya mengeluar masukkan kemaluannya didalam mulutku.

"Ohh.. Aj.. Aku tidak tahann.. Ohh Aj.. Aku keluarr.. Keluarr Aj.. Ohh.. Ohh.. Ohh.."

Dan sang pemuda membenamkan kemaluannya sedalam dalamnya di mulutku. Hidungku susah bernafas karena bulu bulu kemaluannya menekan keras ke dalam mulut dan hidungku. Lalu aku merasakannya.. Aku merasakan bagaimana kemaluannya berkejat kejat didalam mulutku. Lalu tenggorokanku terasa panas. Dan basah.. Nikmat sekali rasanya.. Tapi tekanan yang luar biasa di tenggorokanku juga sedikit menyiksaku.. Membuat ku seolah ingin batuk.. Atau muntah.. Tidak tahu. Tapi aku menikmatinya.. Jadi aku biarkan sang pemuda menyemprotkan cairan nikmatnya didalam mulutku. Dalam.. Dalam sekali di tenggorokanku sampai aku tidak bisa merasakan rasa dari cairan kemaluannya. Karena di dalam tenggorokanku sana, sudah terlalu dalam untuk bisa mengetauhui apa rasa spermanya.. Tapi untunglah, ketika sang pemuda pada akhirnya mendesah dan menarik keluar kemaluannya dari dalam tenggorokanku melalui lidahku.. Masih ada beberapa tetes sperma tersisa diatas lidahku untuk aku nikmati rasa dan aromanya. Ohh nikmat.. Nikmatt sekali.

Lalu sang pemuda lunglai dan tertidur dengan kedua tangannya mendekapku dari belakang seperti biasa. Dan aku baru tersadar, kita melakukan itu semua didalam pos ronda!! Tapi untungnya pos ronda di kota kecil kita letaknya tinggi sekitar 3 meter diatas tanah. Jadi tidak ada orang yang bisa melihat dan ketika teman temannya berdatangan ke pos ronda, kita bisa dengan jelas mendengarnya karena mereka harus memasang tangga ke posisinya sebelum naik ke atas.

Malam itu, aku tetap tidur terlelap di dalam pelukan Ruga, pemuda gagah yang sudah menikmati nikmatnya tenggorokanku. Esok paginya, ketika aku terbangun. Ruga sang pemuda, kembali menekan nekankan kemaluannya ke pantatku dan bibirnya menggigit gigit leherku. Aku kembali terbakar dan tanganku menyelinap ke dalam celananya menikmati hangat dan kerasnya kemaluannya. Tapi karena di dalam pos ronda ada beberapa pemuda lain, kita tidak berani mengulang kejadian semalam. Tapi Ruga berani menurunkan celananya sehingga kemaluannya bebas aku genggem dan mainkan. Tangannya Ruga tidak tinggal diam. Ia mengelus elus pantatku dan pada akhirnya celanaku juga diturunkannya.

Diselipkannya kemaluannya di sela sela pahaku dan ruga meneken nekan seperti belahan pahaku adalah mulutku. Dibasahinya kemaluannya dengan ludahnya dan pahaku lama lama jadi terasa panas dan merasa aku punya lubang kenikmatan juga disana. Kadang, kemaluan keras Ruga terselip dan menyentuh lubang pantatku, dann.. Ohh.. Aku bergidik nikmat. Tapi aku belum berpikir apa itu. Sampai pada akhirnya Ruga mendesis dan pahaku basah oleh cairan spermanya. Ruga membersihkannya dengan sarungnya. Lalu berdri, turun, dan pulang. Pagi masih gelap, jadi rumahku juga pasti masih terkunci. Maka aku bergeser dan mendempetkan tubuhku ke arah Parma. Entah dia terbangun atau tidak, tapi segera pula ia memeluk tubuhku dari belakang seperti boneka. Aku tidak bisa tidur karena masih berpikir tentang apa yang telah aku lakukan dengan Ruga, sementara Parma tetap terlelap meski tangan dan kakinya melingkari tubuhku. Sampai Pagi berubah menjadi terang dan aku bangun, untuk sekolah. Beberapa pemuda di pos ronda terus tidur karena beberapa dari mereka sudah lulus SMA dan tidak punya kegiatan apa apa.

Beberapa hari setelahnya aku tidur dirumah karena sekolah banyak kegiatan. Tapi Malam minggu, aku kembali bermain bersama para pemuda. Cuma Ruga tidak ada disana. Jadi, ketika yang lainnya pergi berkeliling meronda, aku di pos jaga bersama Dada. Dia tinggal beberapa rumah dari rumahku. Dia juga sudah lulus SMA, dan yang utama, dia sudah sering mendekapku dan aku suka tubuh gagah dan rambut panjangnya. Bagiku dia berkesan seperti anak Amerika. Disaat yang lain rata rata berpenampilan normal, dada berambut panjang dan berwarna. Di lengannya dia juga bertato naga. Aku suka ada dalam pelukannya. Karena aku merasa seperti menang, menaklukan Dada yang berkesan serigala.

Beberapa hari ini pengalaman bersama Ruga terus bermain main di dalam kepalaku. Dan setelah beberapa hari aku tidak ketemu ruga dan tidak punya aktivitas apa apa, membuatku seperti sedikit gila. Maka begitu yang lainnya pergi dari pos jaga, aku segera mendekat ke Dada dan merebahkan kepalaku diatas pangkuannya. Dada tersenyum. Lalu dia menyulut rokok dan telentang. Kepalaku kini rebah di perutnya. Aku ingin sekali menyentuh kemaluannya. Tapi takut maka aku pura pura menyanyi sambil menggeleng gelengkan kepalaku yang tersandar di perut bagian bawahnya. Semakin lama aku semakin tak tahan, dan tangan Dada sudah berada di tubuhku dan mengusap usap bagian pinggang.

Aku terbakar, maka aku berbalik terlentang ke arah tangga yang berarti aku membelakanginya sementara kepalaku menghadap kemaluannya!! Tangan Dada otomatis juga sekarang tidak dibagian pinggangku tapi diatas bongkahan pantatku. Dan dada bermain main dengannya!! Maka aku semakin berani dan pipiku kini bisa merasakan kehangatan kemaluannya. Aku menyanyi dengan nada di serak serakkan, hingga hembusan hembusan nafasku terasa keras menerpa arah kemaluannya. Semakin lama, semakin terasa efeknya. Aku mulai merasa kemaluannya semakin membesar dan menegang. Dan tangan dada semakin hangat mengelus elus pantatku. Pada satu saat, aku beranikan pura pura menggigit bagian ujung kemaluannya yang menonjol jelas dari balik celananya dan dada melenguh nikmat dan tangannya mencengkeram pantatku kuat. Maka ohh.. Aku tidak sabar. Tanganku meraih kemaluannya dan mengelus elusnya. Lalu perlahan tanganku aku selipkan kebalik celana dalamnya. Aku elus elus. Ohh.. Kemaluan Dada lebih besar dari kemauan Ruga!! Aku tidak tahan dan aku keluarkan kemaluannya dan langsung aku lahap ke dalam mulutku dan dada menjerit nikmat tak percaya..

"Aj.. Ohh.. Ohh.." dada tidak lagi bersuara selain merintih setelah kemaluannya masuk dalam di kehangatan nikmat mulutku. Dan aku segera berusaha menikmati kemaluan dada dalam, sedalam dalamnya di mulutku, melewati tenggorokanku sampai.. Ohh.. Bulu bulu kemaluannya menyentuh bibirku.

Bersambung . . . . .

Dan dada semakin merintih rintih. Tangannya memijat mijat pantatku kasar dan pinggangnya ia tekan tekan ke atas berusaha semakin dalam memasukkan kemaluannya lebih dalam lagi ke mulutku. Meski sudah tidak mungkin karena seluruh batang kemaluannya sudah masuk tenggorokanku. Tangan Dada makin liar di pantatku begitu juga gerakan naik turun pinggangnya. Sodokan sodokan kemaluannya di tenggorokanku terasa nikmat sekali. Tapi sodokan sodokan jari tangannya yang kini diarahkan ke lobang pantatku juga terasa aneh sekali.. Dan makin lama makin jelas bahwa kini bukan hanya mulutku sAja yang merasa lapar dan dahaga tapi juga lubang pantatku..

Maka aku juga membalas sodokan jari jari tangan dada di lubang pantatku dengan gerakan pinggangku yang memutar mutar. Ini membuat dada makin bernafsu. Maka Dada dengan cepat dan tergesa menurunkan celanaku. Dan ia bergerak merubah posisi dengan berbaring menyamping. Kemaluannya yang keras tersu Ia sodok sodokkan ke dalam mulutku sementara Ia kini menggigit gigit bongkahan pantatku dan membasahi lobang pantatku dengan ludahnya. Aku semakin belingsatan dengan sensasi rasa nikmat didalam tubuhku.

Mulutku sibuk dan menggeram dangan setiap sodokan yang kemaluan Dada berikan, sementara pinggangku berputar putar liar karena sentuhan sentuhan panas yang Dada berikan.

"Ohh Aj.. Aj.. Aku akan memasukkan kemaluanku di lobang pantatmu ya? Ohh Aj.. Lobang pantatmu indah dan halus sekali.. Aj.. Aj.. Biarkan aku menyetubuhimu seperti wanita ya? Biarakan aku membuat mu menjadi wanitaku yang cantik dan aku puji.. Ohh Ajj.. Aku ingin menyetubuhimu.. Ajj.." Dan dada menarik kemaluannya dari mulutku. Ohh.. Kemaluannya basah dan berkilap indah sekali.. Basah oleh lendir lendir nikmat dari mulutku.. Aku ingin kemaluan Dada kembali masuk mulutku dan berusaha meraihnya.. Tapi dada menekan tubuhku yang berbaring tertelungkup dengan pantatku diatas.

Dada lalu berbaring di atas tubuhku. Kemaluannya yang keras dan tegang menyodok nyodok belahan pahaku ketika Ia berusaha mengatur posisinya diatas tubuhku. Aku masih belum mengerti benar dengan apa yang Dada maksud bahwa Ia ingin menyetubuhiku seperti wanita.. Tapi ketika ia membasahi lubang pantatku dengan ludahnya dan mengarahkan kepala kemaluannya di atas lubang pantatku, aku mulai sadar.. Ohh.. Tidak mungkin.. Tidak mungkin bakal bisa.. Aku panik. Dan takut karena kemaluannya yang besar dan aku yang belum tahu apa itu persetubuhan..

Tapi jujur, rasa panas kemaluannya di pantatku terasa nikmat sekali, tapi.. Aku masih takut, jadi aku berontak. Dan kemaluan dada meleset. Tapi Dada terus menekan tubuhku dengan tubuhnya yang besar dan kuat.. Sementara kemaluannya tetap tegang dan keras membAja menyodok nyodok belahan pahaku mencari sasarannya..

Lama dada berusaha menekan masuk kemaluannya ke lubang pantatku tanpa hasil, karena setiap kali kepala kemaluannya sedikit masuk, aku merasakan sakit dan berontak sehingga kemaluan dada kembali meleset. Lama lama Aku dan dada basah oleh keringat. Pantatku terasa basah dan licin oleh keringat dan juga oleh cairan kemaluan Dada yang meleleh banyak karena nafsu, tanpa berhasil membenamkan kemaluannya dalam dalam di lubang pantatku yang masih sempit sekali. Tapi karena semakin lama lubang pantatku dan kemaluan dada semakin basah dan licin.. Perlahan lahan dada berhasil menemukan targetnya.. Dan menekan tubuhku kuat kuat kebawah.

"Akh!!," Aku menjerit kuat ketika kepala kemaluan Dada berhasil masuk menembus halangan utama. Dan dada meringis nikmat dan menengadahkan wAjahnya ke atas, menatap syurga. Melihat ini aku mencoba menahan rasa sakit. Tapi ketika dada menekan pinggangnya dan kemaluannya melesak masuk menembus lubang sempit pantatku, aku tidak kuat" Akhh.. Da.. Dada.. Sakkiitt.. Addhhuhh.. Adhhuhh.. Da.. Keluarin.. Keluarin da.. Akhh.. Akhh.. Akhh.. Daa.." Aku menjerit kuat dan mengepal ngepalkan genggaman tanganku ketika Dada tanpa mendengar keluhanku terus menekan kemaluannya masuk sampai buah zakar dan bulu kemaluannya menyentuh kulit pantatku.

"Ahh.. Ohh.. Ajj.. Nikmat sekali.. Nikmat sekali lobang pantatmu.. Ohh.. Sempitt.. Hangatt.. Dann.. Ohh Ajj.. Ohh Ajj.." dada merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Punggungnya membungkuk seperti udang merasakan nikmat kemaluannya terbenam dalam dilubang pantatku yang muda dan sempit. Lama Dada diam dalam posisi seperti ini. Tangannya mendekapku kuat. Birinya menciumi wAjahku. Dan dadanya yang kuat dan basah oleh keringat melekat di punggung ku. Sementara pinngangnya.. Menekan kebawah ke arah pantatku mencoba mebidik lebih dalamm.. Lebihh dalamm lagi..

Lalu perlahan ditariknya pinggangnya ke atas" Akhh.." aku kembali merintih, merasakan perih di lobang pantatku yang kini terasa sesak, sesak sekali terjejal kemaluan dewasanya yang besar..

"Ohh Ajj.. Aku belum pernah merasa nikmatt seperti ini.. Ohh.. Kamu hebatt.. Kamu hebatt.. Ohh Ajj.. Ohh Ajj.." dan Dada kini dengan cepat menaik turunkan pantatnya mengeluar masukkan kemaluannya dilubang pantatku.. Menyodok nyodok dalam dinding dinding perutku.. Dan aku berusaha kuat menahan rasa sesak dilubang pantatku oleh sesaknya kemaluan Dada. Lambat laun lobang pantatku jadi licin dan becek oleh cairan bening dari kemaluan Dada dan juga oleh cairan alami yang keluar dari dinding dinding lobangku yang kini mulai terasa nikmat..

"Aj.. Ohh Aj.. Enak sekali.. Ohh enak sekali.. Kamu kini akan aku jadikan gadis kesayanganku.. Dan Aj.. Aku akan memenuhi nikmatmu dengan kerasku setiap saat.. Ohh Ajj.. Ajj.." Dada kini sudah tidak tentu omongannya. Di benamkannya dalam dalam kemaluannya dilobang pantatku, di gesek geseknya, diputar putarnya.. Dibenamkannya dalamm dalamm..

"Ohh dada.. Dada.." Aku mulai merasa terbang ke angkasa. Nikmat. Nikmat sekali rasanya gesekan gesekan kemaluan besarnya di dalam lobang pantatku. Dan lobang pantatku semakin becek berdecak decak. Dada kini mengubah posisi dengan aku mengangkang dan kedua kakiku diletakkan diatas pundaknya. Lalu perlahan diarahkannya kepala kemaluannya ke arah lobang pantatku, dan ketika kepala kemaluannya menyentuh targetnya, Dada menekan kuat kuat," Bless.. Ss.. Sseekk" "Akh.. Akhh.. Dadaa.." aku menjerit sakit sakit nikmat. Kedua kakiku turun melingkar di pinggang Dada dan Dada kini rebah diatas tubuhku.

Digoyangnya aku, diayun ayunkan, sementara kemaluannya tak pernah berhenti menggesek gesek dinding dinding lobang pantatku nikmatt.. Nikmaatt sekali.." Ohh Dada.." Aku menggigit lehernya. Dan Dada mencengkeram rambutku.

"Brett Brett Brett.." Suara suara aneh jadi musik irama birahi kita. Aku sudah tidak merasakan sakit sama sekali di lobang pantatku. Yang ada hanya nikmat.. Hangat.. Dan sumpalan keras kemaluan dada dilobangku.. Ohh.. Nikmat sekali.. Nikmat sekali..

Dan dada semakin keras menerjang nerjangkan kemaluannya didalam tubuhku. Tanganya gemas dan erat mencengkeram rambutku. Bibirnya menggigit gigit leherku, pipiku, sebelum akhirnya melumat bibirku basah dan kasar.

"Ohh Ajj.. Aj ku sayang.. Nikmat sekali lobang paramex mu.. Ohh.. Aku cinta paramex mu.. Ohh.. Aj.. Aj.. Paramex ini milikku.. Dan aku akan menyumpal paramex ini dengan nikmat kemaluanku setiap malam.. Setiap waktu.. Ahh Aj.. Aku cinta paramex mu.. Yang nikmatt.. Ohh Ajj.." Dan dada kembali menyodok nyodokkan kemaluannya ke dalam lobang pantatku.. Tapi aku kali ini hanya mengernyitkan dahi.. Paramex Dada bilang? Apa itu?

"Ohh Aj.. Paramex mu enak sekali.. Oohh.. Ajj.. PA ntat mu benar benar benar RA sa me MEX.. Ohh Aj.. Aku cinta paramex mu.. Pantat rasa memex.. Ohh.. Ohh.. Ajj.. „

Hi hi hi.. Aku tertawa geli mendengar itu semua, paramex, paramex, kirain apaan.. Ternyata pantat rasa memex. Tapi aku tidak bisa lama tertawa geli. Karena kemudian Dada brutal sekali menghujam hujamkan kemaluannya ke dalam paramex ku. Sampai suaranya terasa gaduh sekali.

"Aj.. Aku mau keluar.. Aku mau keluarr Aj.. Ohh.. Aku mau keluar di dalam lobang paramex mu.. Aku ingin membuat lobang paramex mu banjir oleh cairan laki laki ku Aj.. Ohh.. Ohh.. Ohh.. Ajj..!!"

Dan dada menghentak hentak kuat sekali. Membuat tegang kemaluannya keras menonjok nonjok lobang nikmatku yang basah dan licin. Nikmat sekali. Nikmat sekali.. Dan.. Ohh.. Lalu terasa kepala kemaluan Dada berkejat kejat didalam lobang nikmatku dan meledak.. Ohh.. Begitu hangatt.. Begitu nikmatt..

"Aj.." Dan dengan lenguhan terakhir. Dada lunglai diatas tubuhku. Basah kita berdua oleh keringat. Dan selangkanganku basah oleh spermanya. Ketika kemaluan dada keluar dari lobang pantatku,"PLOP"begitu bunyinya. Dan Dada menyeka kemaluan dan lobang pantatku yang basah dengan sarungnya. Lalu diciumnya sarungnya.

"Aj.. Lobang pantatmu benar benar paramex.. Nikmat sekali menjepit jepit kemaluanku.. Dan bersih!! Lihat sarung ini.. Cuma basah oleh sperma tanpa kotoran lain.. Pantatmu benar benar paramex super Aj.." Lalu dada mendekapku dan mencium bibirku mesra. Tangannya kembali menyelinap ke arah pantatku. Dan 2 jari tanganya menyelip masuk. Bermain main dengan lobangku yang kini terasa lebar dan kesepian. Tapi tidak lama. Karena kemudian datang pemuda pemuda yang lain dan dada turun kebawah menemui mereka dan seseorang naik ke atas. Ruga!! Maka ketika yang lain dibawah sibuk membakar ubi dan bercakap, segera aku sambut Ruga dengan mulutku Dan ruga membalasnya senang.

Tidak lama Kemaluan Ruga ada dimulutku, karena aku segera berbaring membelakanginya menyamping dan mengangkat satu kakiku ke atas dan memasukan kemaluan Ruga dalam di lobang pantatku. Ruga sedikit heran dengan kelakuanku, tapi begitu kemaluannya menembus lobang pantatku Ruga segera bergerak mAju mundur menyodok nyodokkan kemaluannya. Kali ini Ruga bermain lama lama dengan kemaluannya di dalam tubuhku sampai pemuda pemuda yang lain naik ke atas dan tidur di satu dan lain sisi, kemaluan ruga masih terbenam dalam di lobang nikmatku. Keadaan diatas lumayan gelap, jadi, hanya dengan bertutup sarung, tidak akan ada yang tahu dan curiga. Karena mereka terbiasa melihat aku tidur didalam pelukan salah satu dari mereka.

Cuma Dada mungkin sedikit curiga. Atau karena mungkin Dia ingin aku tidur dalam dekapannya maka Dada mengambil tempat dan berbaring di depanku dan Ruga. Ketika dada diam seolah tertidur, ruga kembali mengeluar masukkan kemaluannya mAju mundur di lobang pantatku, sampai Ruga mendesis dan lobang pantatku kembali dapat semprotan cairan hangat penuh nikmat.

Setelah perlahan Ruga membersihkan kemaluan dan pantatke dengan sarungnya aku pura pura menggeliat dan berpindah ke arah Dada. Dengan tangannya, dada memintaku untuk membelakanginya. Tangannya langsung ke arah pantatku dan ketika jarinya merasakan cairan nikmat Ruga mengalir disana, dada mencubit ku disana dan menggigit leherku keras sambil lalu mengarahkan kemaluannya kelobang pantatku dan langsung melesakkan seluruh batangnya ke dalam. Aku sudah merasa sedikit kebal disana jadi aku hanya menjawab dengan berusaha menunggingkan pantatku lebih dalam, sehingga kemalua Dada lebih cepat amblas ke pangkalnya. Dan malam itu Dada mendekapku erat erat sampai pagi. Dan kemaluannya.. Tidak pernah lepas dari lobangku meski beberapa kali Ruga memberi isyarat agar aku datang ke dekapannya.

Sejak malam itu, karena dada marah pada malam yang sama aku membagi lobang nikmatku dengan Ruga, dada menceritakan nikmatnya paramex ku ke beberapa pemuda lain, dan pada hari malam kedua sejak lobang paramexku diambil dan digunakkan untuk kenikmatan Dada dan Ruga, aku harus Juga melayani Parma, seda, dan beberapa pemuda lain. Bahkan beberapa bapak bapak yang kalau kebagian jatah ronda ingin juga mendapatkan aku dalam dekapannya.

Sekarang setiap ada pemuda yang mendekatiku dan berbisik paramex, aku harus siap menurunkan celanaku dan menikmati kejantanan mereka yang menghujam dalam di belahan pantatku. Dan aku siap, selalu siap melayaninya.

Lobang pantatku mungkin memang ditakdirkan untuk jadi paramex. Karena anehnya, lobangku menikmati sodokan sodokan kemaluan laki laki sedemikian dalam. Dan laki laki yang pernah menyodokku pasti ketagihan. Bukan cuma orang kampung sAja. Tapi kemudian aku ke kota. Bahkan keluar negeri dan menikmati beraneka ragam sodokan laki laki di belahan pantatku.

Tapi umurku semakin matang, aku kini menikah dengan seorang gadis yang cantik dan muda dan mencintaiku. Aku tidak mencintainya tapi.. Ahh, dia tidak mau laki laki lain dan bahagia menjadi milikku jadi.. Aku mau bagaimana?

Aku sekarang sebenarnya jatuh cinta dengan laki laki kurdi yang meninggalkan negaranya karena alasan politik. Dan laki laki kurdi ini mencintaiku juga. Terutama lobang pantatku yang siap digempur oleh kemaluan turki-kurdi nya yang dahsyat. Tapi.. Dia juga takut ketahuan suka menyodok pantatku. Jadi.. Kita hati hati sekali dan ketemu 1 bulan sekali.

Ohh, mulutku lapar ingin disodok kemaluan laki laki dalam dalam. Dan ohh.. Pantatku juga dahaga ingin dimasuki banyak laki laki sejati.

Tamat

Kisah yang betul-betul nyata ini aku alami kira-kira pada tahun 1996, ketika aku masih umur 16 tahun dan aku masih duduk di kelas 3 SMP di kotaku. Waktu itu aku sudah bergabung dengan salah satu klub senam yang memang menjadi salah satu olahraga favorit anak-anak seusiaku, selain sepak bola dan bulu tangkis tentunya. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku dimasukkan ke klub senam, kok bukan yang lainnya, karena aku masuk bukan karena kehendakku tapi kehendakorangtua dan aku sendiri tidak bisa menentang dan membantah, karena disamping aku harus patuh sama orangtua dan lagian aku tahu kalau setiap orangtua pasti memilih yang terbaik untuk putranya.

Tiap hari sehabis pulang sekolah aku musti latihan dengan baik dan giat, karena kalau tidak latihan satu hari saja, maka orangtuaku pasti mendanpratku habis-habisan dan besoknya aku pasti mendapat hukuman dari pelatihku. Mulai disuruh push up, set up, scot jump dan lain-lain. Tapi hasil didikan yang begitu keras dan melelahkan itu cukup bagus, terbukti kami selalu dikirim ke kejuaraan baik tingkat desa, kecamatan atau kabupaten bahkan tingkat propinsi pun pernah kami rasakan. Dan itu semua tidak lepas dari sistem pembinaan di tubuh klub yang aku tempati.

Bayangkan saja tiap kelompok (1 kelompok terdiri dari 10 anak) mempunyai 1 palatih yang tentunya sangat profesional dan tidak diragukan lagi kemampuannya. Dan aku pun beserta 9 anak lainnya, juga dilatih oleh seorang pelatih yang profesional. Om Ferdy begitu biasanya dia di panggil. Sedangkan nama lengkapnya **** (edited). Dia seorang laki yang kira-kira umur 32 tahun, bertubuh tinggi tegap, agak gempal, berbulu lebat baik di dada, tangan dan ketiaknya. Walaupun wajahnya biasa-biasa saja tapi tidak mengurangi ke-macho-an dan keperkasaannya. Apalagi tatapan mata dan senyumnya, aku yakin dapat meruntuhkan semua gadis-gadis di dunia ini. Walaupun dia agak dingin tapi hatinya baik dan sopan sekali. Malah kadang-kadang dia suka humor. Karenanya banyak anak-anak yang ingin dilatihnya. Mungkin karena dia teman dekat ayahku sehingga aku sangat beruntung dilatih oleh Om Ferdy. Seorang pelatih tampan, gagah, macho dan profesional tentunya. Pada mulanya aku tidak menghiraukan semua itu. Biar dia macho kek, tampan kek aku tidak perduli, toh dia laki-laki aku pun laki-laki memang mau apa pikirku kala itu. Mungkin karena faktor usiaku yang masih anak-anak dan belum mengenal dunia yang macam-macam, hingga aku tidak tertarik sedikitpun padanya.

Akhirnya aku hanya berlatih, berlatih dan berlatih. Dan Om Ferdy aku anggap sebagai ayahku sendiri, karena dia begitu sayang dan perhatian padaku ketimbang pada yang lainnya. Waktuitu aku tidak mengerti kenapa dia seolah-olah menganak-emaskan aku dan selalu lebih dekat pada diriku ketimbang pada anak-anak yang lainnya. Sehingga tak heran jika banyak teman-temanku yang iri melihat perhatiannya Om Ferdy padaku yang melampui batas. Hingga suatu hari ketika kami sedang latihan, "Aldy, kakinya kurang lurus!" instruksinya ketika aku kurang sempurna dalam melakukan teknik trampolin (salah satu teknik dalam senam dengan posisi kaki di atas dankepala di bawah). Sejurus kemudian dengan ketelatenannya dia meluruskan kakiku. Tapi tegangannya kali ini terasa aneh sekal. Dia tidak hanya memegang betisku yang perlu diluruskan tapi pahaku juga ikut-ikutan dipegang dan agak mengelus-elus daerah yang merangsangkan itu, hingga akhirnya aku tidak konsentrasi lagi dan posisiku langsung rusak, karena merasa geli sekali diraba-raba begitu rupa. "Lho kok berhenti, ayo ulangi lagi," katanya. Tanpa menugguperintah yang kedua kalinya aku pun mengulangi teknik trampolin. Tapi kali ini salah lagi katanya, aku pun mencobanya lagi tapi salah lagi, begitu seterusnya hingga aku mengulangi teknik ini berpuluh-puluh kali tapi selalu kegagalan yang aku dapatkan.

Aku sendiri tidak tahu mengapa teknikku salah terus katanya, padahal bagiku sudah benar dan tidak ada yang salah.
"Sudah Aldy, nanti kamu cedera," katanya.
"Tapi aku belum bisa Om," bantahku.
"Oke, karena waktunya sudah habis kamu boleh istirahat. Tapi oh ya nanti kamu bolehke rumahku untuk menambah porsi latihan, bagai mana mau?"
"Hmm.. oke," jawabku enteng.
Memang aku sering menambah porsi latihan apalagi kalau ada teknik yang belum aku kuasai, tanpa disuruHPun aku pasti menambah porsi latihanku di rumah Om Ferdy. Dan memang, di rumah kontrakannya ada ruangan khusus untuk menambah porsi latihan.

Setelah aku pamitan sama orangtua, kira-kira jam 19:00 WIB aku berangkat ke rumah Om Ferdy. Sesampainya di sana aku merasa heran, yang ada kok cuma aku yang lainnya mana? pikirku. Karena kalau menambah porsi latihan itukan biasanya sama teman-teman satu kelompok. Tapi kali ini kok aku sendirian. Tapi akhirnya aku tidak mengacuhkan keadaan ini. Mungkin Om Ferdy ingin memberiteori khusus pada diruku, pikirku kala itu. "Oke, ganti baju dan segera kita mulai," katanya. Aku pun langsung ganti baju (cuma pakali celana pendek dan telanjang dada). Tapi anehnya matanya yang tajam itu selalu menatapku bagai burung elang yang mau menangkap mangsanya. "Gila! kenapa dia?" gerutuku dalam hati. Tapi aku tak menggubris semua itu. "Oke kita mulai Al!" suruhnya. Dengan gerakan yang sangat lincah bagai burung walet aku pun memperagakan satu persatu teknik yang aku pelajari. Mulai teknik trampolin, pommel horse dan lain-lain. "Coba kamu ulangi lagi teknik trampilon!" suruhnya. Tanpa ba-bi-bu aku pun mengulangi teknik itu.
"Tangannya kurang lurus!"
"Begini Om?"
"Bukan, begini lho.."
Dia memegangi tanganku untuk diluruskan. Tapi anehnya dia tidak meluruskan tanganku malah mengelus-elus tangan yang masih dalam posisi tegak itu, hingga membuatku tidak konsentrasi lagi dan aku hampir jatuh kalau tidak ada tangan kekar dan hangat menangkap pinggangku. Ternyata tangan yang hangat dan kekar tadi itu tangannya Om Ferdy, yang tahu-tahu sudah membopongku.
"Terima kasih Om."
"Are you welcome."
"Turunkan aku Om!" pintaku, karena aku malu dibopong lama-lama dengan cuma pakai celana pendek dan telanjang dada.
Tapi bukan jawaban yang aku terima tapi sebuah kecupan lembut dan hanagat sekali tiba-tibamendarat dikeningku.
"Apa maksud Om?"
"Nanti kamu akan tahu," katanya, sembari membawaku ke tempat tidurnya.
Entah mengapa aku tidak berontak waktu itu. Padahal aku ingin menolak tapi bagai terhipnotis diriku menurut saja ketika aku dibawa ke kamar yang harum sekali dan dipenuhi gambar-gambar cowok. Dengan lembut sekali dia membaringkan aku seiring kecupan yang mendarat dikeningku dengan sangat mesra sekali.

Oh nikmatnya kecupan yang membuatku terlena, pikirku kala itu. Entah mengapa aku ingin diperlakukan yang lebih dari sekedar kecupan dari laki-laki yang menjadi pelatihku ini. Kemudian bibirnya yang hangat itu mencium pipiku dengan beringasnya, dengan sesekali menjilati pipiku yang masih ranum itu. Sejurus kemudian bibirnya memagut bibirku. Oh.. betapa nikmatnya pertemuan dua bibir itu, membuat aku mabuk kepayang. Apa lagi ketika dia menyuruh mengeluarkan lidahku, lalu lidah yang aku julurkan itu disedotnya dalam-dalam penuh arti sejuta nikmat. Sedangkan tangan Om Ferdy tak tinggal diam. Dengan pengalamannya dia mengelus-elus pahakuyang lembut dan lunak itu dengan sangat mesra sekali. Dibelainya pahaku yang segar itu, hinggamembuat darah mudaku mendesir tak karuan. Setelah puas menjilati dan mengecup wajahku, kini giliran ketiakku yang mendapat jilatan dan kecupan yang sangat hangat oleh lidahnya yang sesekali dikeluarkannya. Baik ketiak kanan dan kiri tak luput dari incarannya. Lalu susuku yang mendapat giliran berikutnya. Kadang dihisap, kadang ditarik, kadang digigit dan kadangdengan lidahnya dia memutar-mutar puting susuku searah bentuknya.

"Oh.. enaak.." rintihku.
"Kamu suka Aldy," katanya, sambil tangannya melepaskan celana pendek dan CD yang aku pakai.
"Teruskan Om!" pintaku.
Medapat permintaan seperti itu langsung saja dia memburu perut dan pusarku yang merangsangkan sekali. Sedang aku sendiri pun tidak tinggal diam. Merasakan Om Ferdy mempermainkan gairahku, dengan pengalamanku yang tergolong minim, kupreteli semua busana yang melekat pada tubuhnya. Mungkin dia mengerti yang aku mau hingga dia tidak memberontak tatkala kulepas busana yang dipakainya. Sempat kaget aku melihat dzakar yang sudah menantang di depan mata.
"Wow besar sekali."
"Kamu pasti suka, cobalah!"
"tidak ah aku tidak bisa Om."
"Coba dulu!"
Dengan agak memaksa dia menyuruhku untuk mengoral zakarnya yang belepotan prescum itu. Agak tersedak kerongkonganku ketika zakar yang berukuran kira-kira 21 cm itu masuk ke mulutku sampai pangkalnya. Sedangkan dengan pengalamannya dia mencoba membantuku dengan memaju-mundurkan kemaluannya yang besar itu. Oh.. enaak sekali rasanya. Sedangkan tanganku pun tidak tinggaldiam. Dengan tangan kiriku, kupermainkan buah zakarnya yang agak kemerah-merahan itu. Kuelus dengan hati-hati sekali dan penuh pengertian, lalu benda yang ada telurnya itu aku tarik perlahan-lahan. "Oh enaak teruskan Al!" rengeknya, sambil menggelinjang tidak karuan.

Sedangkan tangan kananku kugunakan untuk mengocok zakarku sendiri yang sudah berdiri daritadi. Rupanya dia betul-betul pengalaman sekali, terbukti jika aku mempercepat kulumanku padadzakarnya dia mempercepat gerakannya, begitu juga sebaliknya bila aku memperlambat gerakanku dia pun memperlambat gerakannya. "Oh enaak.." rancaunya, tatkala lidahku memainkan lubang kecil yang berada di ujung benda yang kenyal itu. Aku memeng paling suka mempermainkan lubang kecil itu. "Hmm.. lezaat.." mungkin begitu pikirku kala itu. Setelah agak lama aku mengulumpisang ambon Om Ferdy, rupanya dia dikuasai oleh nafsu birahi yang tak tertahankan, hingga wajahnya bersih itu makin lama makin memerah bak kepiting di rebus. "Aku mau keluar Al.." rintihnya, seiring dengan cepatnya gerakan Om Ferdy dan akhirnya, "Crott.. crott.. crott.." Kami mengeluarkan mani hampir beesamaan. Kutelan semua sprema Om Ferdy yang walaupun agak asin itu tapi nikmat sekali, lalu kujilati sisinya. Begitu pula dia, dijilatinya spermaku yang muncrat kemna-mana, di jilatinya satu persatu, mulai mani yang ada di zakarku, lalu di pahakusampai di ubin pun di lahapnya habis. Tidak ada kata-kata yang dari keluar dari mulut kamiberdua, karena kenikmatan dan kebahagian dan kenikmatan yang kami rasakan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Bersambung . . . .

Kami cuma saling pandang, dengan pandangan yang penuh arti. Ya aku telah menjadi pacarpelatihku. Lalu dengan perlahan Om Ferdy mendekap diriku, dibelainya rambutku dengan sesekalimendaratkan ciuman di pipiku sampai akhirnya aku tertidur pulas dalam pelukannya. Setelah kejadian di malam yang indah itu Om Ferdy tambah perhatian sama aku. Kalau dulu aku berangkat sekolah sendirian kini tidak lagi karena ada Om Ferdy yang selalu setia mengantarku dan menjemputku jika aku pulang sekolah. Malah kadang-kadang dia memberiku uang untuk sekedar beli jajan atau buku pelajaran, maklum sebentar lagi sebentar lagi aku akan Ebtanas jadi aku harus giat belajar disamping latihan yang tidak boleh kutinggalkan. Malahan dia memasukkan aku kePrimagama untuk persiapan Ebtanasku. Apalagi kalau habis gajian aku ditraktirnya makan di restoran yang menjadi favoritnya, lalu aku di ajak ke mall untuk beli macam-macam yang sebenarnya aku tidak butuh. Habis itu lalu kita chek-in di hotel. Walaupun kami sangat akrab sekali tapi keluargaku tak menaruh curiga yang macam-macam, karena keluargaku tahu kalauOm Ferdy itu kan pelatihku. Lagian dia jugakan teman akrab ayahku, jadi pantas kalau keluargaku termasuk ayah tidak pernah curiga sedikitpun kalau aku sudah menjadi "isteri" Om Ferdy tersayang. Pokoknya kami berdua melewati hari-hari indah ini tanpa terganggu dan menggangu pekerjaan lain, latihan misalnya.

Walaupun aku berhubungan dengan Om Ferdy, latihanku tetap tidak dikurangi malah aku sering manambah porsi latihan di rumahnya. Seperti malam itu aku manambah porsi latihanku di rumah kontrakan Om Ferdy yang memang tinggal sendirian. Setelah aku selesai berlatih kami duduk santai di ruangan tengah. Aku menyandarkan kepalaku pada dada Om Ferdy yang bidang itu.
"Om mungkin aku tidak ikut kejuaraan," kataku membuka pembicaraan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku tidak enak badan Om," jawabku.
Memang akhir-akhir ini aku tidak enak badan. Mungkin karena di samping aku harus berlatih kerasaku juga harus melayani kebuasan pelatihku itu. Apa lagi akhir-akhir ini Om Ferdy selalu minta jatah lebih. Yang asalnya 3 kali sehari, kini menjadi 5 kali sehari. Memang aku akui Om Ferdy memang laki-laki yang sangat jantan dan perkasa. Jadi bukan cuma tubuhnya saja yang bikin birahiku naik, tapi permainannya yang oke selalu membuat aku jadi ketagihan. Entah dia pakaiobat kuat atau tidak aku kurang tahu. Padahal 2 hari lagi aku harus ikut kompetisi.

"Aldy kamu harus ikut kompetisi ini sayang!" katanya sambil membelai rambutku.
"Aku tidak enak badan Om," bantahku manja.
"Aldy asal tahu saja ya, hanya kamu satu-satunya harapan Om pada kompetisi kali ini."
"Kan masih banyak yang lainnya Om? ada Hasan, Heru, Agus dan Rudy," kataku lagi.
"Kamu betul Al, tapi Hasan dan Heru kan cedera sedangkan Agus dan Rudy masih payah. Lagian teknik keduanya tidak sebagus kamu lho."
"Jangan terlalu memuji nanti tidak aku kasih jatah lho," ancamku main-main.
"Oh ya, kalau Om maksa bagaimana?"
"Ya tidak mau."
"Kalau maksa terus."
Itulah kata-kata terakhirnya. Karena sejurus kemudian tangannya yang kekar dan berotot itu membelai rambutku dengan sangat mesra. Lalu tangannya yang banyak ditumbuhi lebat itu mengelu-elus keningku, lalu ciuman hangat mendarat di keningku, "Oh nikmatnya kecupan Om Ferdy ini," pikirku kala itu, apalagi waktu kumisnya yang tipis itu sedikit menusuk kulitku yang lembut itu, "I love you," bisikku. Tanpa mengiraukan kata-kataku lagi Om Ferdy langsung mengecup bibirku dengan mendatangkan nikmat tiada tara. Bibir kami pun saling beradu, saling memberidan menerima serta saling mengulum lidah. Oh, hangat sekali aku rasa tatkala ludahnya yang bercampur ludahku itu kutelan. Sedangkan tangannya sibuk membuka resliting celana pendekku.

Setelah dia berhasil membukanya, dia langsung mencari "tongkat" panjangku yang sudah tegang dari tadi. Tidak begitu lama dia sudah menggenggam dzakarku yang sudah mengeluarka prescum. Kemudian satu jarinya memainkan lubang kecil yang ada di ujung dzakarku itu, karuan saja prescumkutambah banyak keluar dan aku manggelinjang tidak karuan. Sedangkan bibirnya beraksi di bibirku. Berulang kali dia menelan ludahku yang sudah bercampur dengan ludahnya. Rupanya dia sudah dirasuki nafsu yang membara, hingga dia langsung mempreteli busana yang aku pakai, hingga aku bagai bayi yang siap untuk dimandikan. Mendapat perlakuan seperti itu, aku pun tidak tinggal diam, kugusur pakaian yang dipakainya hingga tak terhalang oleh sehelai benang pun. Oh.. betapa gagah dan macho-nya pangeranku ini. Dadanya yang bidang di tumbuhi bulu-bulu yangagak lebat dengan dilengkapi perut yang berkotak-kotak. Demikian juga pahanya di tumbuhibulu-bulu yang sangat lebat dengan dzakar menggantung yang agak besar menurut ukuran orang Asia, serta di tumbuhi bulu-bulu yang lebat juga. Kulabuhkan diriku pada dada yang bidang itu dan kurasakan kedamaian serta kehangatan yang tiada tiara. Sedangkan Om Ferdy mulai labih bringas. Setelah puas melumat bibirku lalu di menyedot ketiakku dalam-dalam, baik yang kiri maupun yang kanan mendapatkan giliran semua secara bergantian. Setelah puas menyedot ketiakku dia langsung mengulum susuku dan memelintir putingnya baik yang kanan maupun yang kiri seiring bentuknya. "Oh.. hangatnya," desahku, mengeluarkan rasa nikmat yang terpendam di dalam dada.

Apalagi waktu ludahnya yang hangat itu membanjiri puting susuku, oh.. nikmat sekali. Kemudian Om Ferdy menelusuri lekuk-lekuk tubuhku mulai pusar, perut hingga paha, tidak sedikitpun terlewat olehnya. Sampai dia berada tepat di dzakarku yang mulai menegang sejak tadi. Tapi diatidak langsung mengulum kemaluanku yang sudah banyak mengeluarakan banyak perscum, tapi dia hanya memainkan buah dzakarku saja. Dielus-elusnya buah dzakarku itu, lalu dengan manja sekali dia menarik-narik rambut dzakarku. Kemudian dengan kedua tangannya dia menggenggam benda yang ada di sekitar dzakarku itu. Mendapat perlakuan super dahsyat itu, aku menggelinjang tak karuan, aku menggelinjang sekuat tenaga, sampai spreinya sudah tidak karuan bentuknya. "Oh.. kulum Om! aku tidak tahan nih!" rengekku. Tapi dia tak menghiraukan rengekanku, padahal aku sudah betul-betul tidak kuat, malah dengan enjoinya dia menggosok-gosok benda di sekitar dzakarku dengan kedua tangannya, karuan saja aku tambah blingsatan dan prescumku tambah banyak keluar. Karena aku sudah tidak kuat lagi maka akupun melingkarkan kakiku di pinggangnya dengan sangat rapat sekali. Dan diapun agaknya mengerti maksudku, lalu dia membalikkan tubuhnya dengankaki di atas dan kepala di bawah. Dan kami pun melakukan gaya "69". Aku masukkan semua dzakarku yang agak besar dan panjang itu ke mulut Om Ferdy mulai ujung sampai pangkal tanpa tersisa. Demikian pula Om Ferdy, dia memasukkan dzakarnya yang besar itu mulai ujung sampai pangkal.

Seperti biasa kalau pertama hubungan aku merasa tersedak dengan zakarnya Om Ferdy yang besar itu, tapi aku tahu akhirnya ini semua mendatangkan kenikmatan yang tiada tara. Setelah kamiagak lama saling mengulum, saling memberi dan saling menerima maka, "Crott.. crott.. crott.." Kami keluar hampir bersamaan. Lalu kami menelan sperma yang lain. Setelah itu tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami berdua. Karena kami tahu hanya bahasa hatilah yang mampu mengungkapkan kebahagian dan kenikmatan yang baru saja kami rasakan. Hanya keringat yang bercucuran dan desah nafas kami yang menjadi saksi bisu cinta kami berdua di malam itu.

Akhirnya dengan saran dan nasehat Om Ferdy yang menggebu-gebu dan tak kenal lelah, aku pun ikut kompetsi tahun itu, dan hasilnya diluar dugaan kami semua, karena akun akhirnya lomba senam tahun ini. Aku sungguh sangat bahagia sekali, sampai aku meneteskan air mata. Karena di antara teman-temanku yang berlaga dalam lomba itu hanya aku yang menjadi kampium. Semua anggotatim pun menyambutnya dengan sangat gembira. Dan untuk menyambut kemenanganku ini clubku mengadakan acara tasyakuran. Setelah acara tasyakuran selesai aku dan Om Ferdy melanjutkan pesta di hotel berbintang. Tak sedikitpun sempat terlintas dalam benakku, kemungkinan Om Ferdy akan meninggalkanku jika kontraknya dengan clubku berakhir. Hal ini dikarenakan Om Ferdy sudah berjanji sehidup semati seia sekata. Pernah satu kali kegamangan tiba-tiba menggoyang hatiku, tapi segera aku tepis mengingat perhatian Om Ferdy yang sanagt tulus dan ikhlas. Kurasakan kira-kira 5 tahun kebahagiaan menyelimuti hidupku. Tapi kini tiba-tiba saja keadaan telah merenggut habis kebahagiaanku, menghempaskanku hingga berkeping-keping, tak secuilpun tersisamasa-masa indah dulu yang kulewati dengan Om Ferdy. Semua suram, semua buram seperti kaca jendela bekas rumah kontrakan Om Ferdy yang hampir satu bulan lupa untuk dibersihkan. Om Ferdy yang menjadi tumpuan harapan-harapan dan mimpi-mimpiku kini telah pergi. Dan yang lebih menyakitkan hatiku, kepergian Om Ferdy untuk kembali ke kampung halamannya (di provinsi "L")tidak dikatakan terus terang padaku. Sehingga paling tidak aku bisa mempersiapkan segalanya baik kebutuhannya di jalan atau mempersiapkan perasaan yang akan segera ditinggal pergi ini.

Saat pergi dulu Om Ferdy hanya mengatakan hanya pergi ke kota "T" karena ada urusan pekerjaan. Tapi setelah hampir 3 minggu tidak ada kabar tentang Om Ferdy. Aku mencoba untuk tanya pada pimpinan club. Bagai petir yang menyambar pucuk kelapa, begitu juga perasaanku kala itu. Akhirnya kuketahui kalau Om Ferdy telah pulang ke kampung halamannya. Selama beberapa minggu aku menangis memaki nasibku yang tidak berpihak lagi padaku. Om Ferdy, Om Ferdy teganya kamumeninggalkan diriku terpuruk seorang diri, jatuh terkapar seperti helai-helai daun kelapa yang terpaksa runtuh ke bumi tak berdaya. Malam semakin kelam, kelelawar sesekali lewat di depan kaca jendela rumah kontrak Om Ferdy dulu. Kota "L", kota dimana aku dilahirkan telah menjadi bayangan hitam tertutup oleh awan. Dan tanpa aku sadari aku meringkuk di kamar yang biasa kami pakai untuk bercinta dulu. Di kamar ini aku mengalirkan air mata seperti hari-hari sebelumnya. Dadaku turun naik oleh kenangan manis bersama Om Ferdy. Lama aku meringkuk dalam kebekuan yang mengharu. Tapi tiba-tiba saja sebuah kekuatan telah membangkitkan aku, "Aku harus bangkitkembali. HARUS!" pikirku. Kepergian Om Ferdy tidak boleh menghancurkan masa depanku. Aku masih muda dan masih punya secercah masa depan yang cerah. Besok aku akan meniggalkan kota "L" untuk menghilanghkan kenangan kelam bersama Om Ferdy. Dan aku harus melanjutkan kuliah yang terbengkalai gara-gara cinta butaku pada Om Ferdy.

Om Ferdy, mudah-mudahan kamu membaca kisah cinta kita berdua ini. Dan aku selalu berdoa mudah-mudahn kau bahagia di sana, di sisi orang-orang yang mencintai dan dicintai. Dan harapanku, adakah para pembaca yang budiman mau menggantikan posisi Om Ferdy. Kalau ada salah satu daripembaca yang serius bisa pembaca hubungi e-mailku.

Tamat

Budi setelah memarkir sedannya di garasi lalu menarik lenganku ke ruangan tengah dan langsung menciumiku. Aku yang belum terbiasa melakukannya di tempat terbuka agak kaget juga.
"Bud.., Bud, sabar.., ntar ketahuan orang lho..", ujarku.
Budi cuma tersenyum dan bilang, "Her.., ini rumah gue sendiri, dan gue cuman tinggal sendiri di sini.., nggak ada orang lain selain pembantu doang". Sambil mulai membuka bajuku. Budi menciumi leherku dengan nafsu yang membara. Lidahnya yang licin dan lincah itu menari-nari di seputar leher dan telingaku. Membuatku langsung terangsang dan tanpa sadar aku merintih, "Ahh.., hh.., ss.., Bud.., yes.., nikmat Bud", tangankupun tak mau kalah dengan membuka kancing demi kancing kemeja Budi. Kami telah bertelanjang dada, aku mulai menciumi leher Budi juga. Budi kelihatannya memberiku kesempatan untuk menjelajahi badannya yang sempurna itu.

Aku angkat badan Budi dan kubopong ke ruangan kamar tidur yang tak jauh dari ruang tengah itu. Kutidurkan Budi perlahan-lahan di atas spring bed. Lalu kututup pintu kamar dan kuredupkan lampu kamarnya. Aku mulai membuka sepatu dan celana jeansku. Budi memperhatikan gerakanku ini dan juga ikut membuka sepatu dan celananya. Saat aku mau membuka celana dalamku, Budi menarik tubuhku dan menindihnya. Rupanya Budi telah telanjang bulat dan penisnya telah begitu keras menekan perutku. Budi memandangiku", Herry, gue sukai loe saat pertama gue masuk gym itu!", katanya dengan lembut.

Tangannya dengan lembut membelai rambutku dan mengusap wajahku sambil masih menindih tubuhku. Baru ini aku tertegun, Budi yang selama beberapa menit yang lalu begitu kasar dan nafsu, kini begitu lembut. Budi lalu menundukkan kepalanya dan mendekatkan mulutnya ke mulutku. Sentuhan bibirnya yang basah membuatku otomatis membuka dan meyambut dengan ciuman. Lidahnya mulai menjelajah mulutku dan akupun tak mau ketinggalan. Kami berciuman dengan mesranya dan tanganku mengusap dan meraba punggung Budi.

Ciuman mesra berubah menjadi nafsu yang membara, dengan merenggut rambutku, Budi menciumi wajahku dan leherku penuh nafsu. Jilatan lidahnya begitu maut, membuatku seakan berada di awan.., melayang. Hembusan nafasnya yang panas di telingaku membuat buluku berdiri.., merasakan nikmat yang sangat. Tangan Budi yang lain dengan nafsunya meremas-remas paha dan buah pantatku sambil tetap menekan nekankan penis tegangnya ke penisku yang juga telah mencapai ketegangan yang sangat keras sekali.

Budi dan aku merintih kenikmatan. Hampir semua bagian wajah dan leherku telah dijelajahi oleh ujung lidahnya yang basah itu, menimbulkan suara-suara yang merangsang.
"Ohh Bud.., nikmat Bud.., teruskan yeeaahh.., hh.., Bud.., teruskan Bud..", rintihku.
"Ohh ok Her.., gue bikin eloe nikmat ntar.., sabar.., hh.., yess.., oohh", rintih Budi sambil terus menjilati leherku. Budi makin bernafsu mendengar rintihanku.

Kini jilatan Budi telah mulai merambah dadaku.. Puting kiriku telah dikulumnya dan yang kanan diremas-remasnya dengan lembut. Jilatan lidah Budi membuatku menggerinjal tak karuan.., rasa geli dan nikmat menjadi satu. Goyangan pantat Budi yang makin keras membuatku tambah terangsang. Budi lalu menjilati dadaku dengan lidah yang basah Budi mulai menaik-turunkan wajahnya dengan lidah menyentuh dadaku ke arah lenganku. Seluruh dada dan ketiakku yang berbulu dijilati Budi dengan nafsunya.
"Her.., ahh ketiak loe baunya merangsang sekali.., gue suka.., aa.., hh.., hmm.." ujar Budi sambil terus menjilati ketiakku sebelah kiri. Tak puas dengan sebelah kiri, bagian kananpun tak luput dari rambahan lidahnya itu. Aku benar-benar tak sangup bernafas dengan sempurna saat itu. Budi begitu berpengalaman melakukan "foreplay".

Jilatan Budi kini mulai menjajah puting kananku. Dengan sedikit mengigit putingku yang sudah mengeras itu, Budi semakin memompa nafsuku ke tingkat yang di luar kemampuanku. Jilatan demi jilatan telah membuat seluruh sarafku tak befungsi dengan semestinya. Aku cuman pasrah saja. Budi mulai menurunkan kepalanya di areal perutku yang keras itu. Jilatan lidahnya membuatku menggeliat-geliat tak karuan. Hal ini membuat Budi semakin bernafsu dan menggelitik enam kotak di perutku itu. Rupanya Budi sangat terangsang dengan bentuk perutku yang rata, padat dan keras membentuk 6 kotak itu. Kadang-kadang Budi menggigiti perutku dengan lembutnya.

Setelah selesai bermain dengan perutku, Budi mulai menciumi tonjolan di celana dalamku yang belum sempat kubuka. Gesekan lidah budi dengan kain celana dalam telah menimbulkan gesekan pula pada permukaan penisku. Rasa nikmat menjalari dari ujung sampai ke pangkalnya yang ditumbuhi rambut lebat. Budi lalu menjilati selangkanganku pula dengan jilatan-jilatan mautnya yang membuatku meracau tak karuan lagi.
"Ohh Budd.., teruskaan.., sayy.., teruss.., enakk.., ohh.., hh..", rintihku meminta Budi untuk terus melakukan jilatannya.
Budi mulai pula menciumi pahaku. Ciuman disertai sedotan yang menimbulkan rasa geli plus nikmat itu dia lalukan mulai dari selangkanganku mengarah ke bawah. Aku semakin tidak bisa berpikir apa-apa hanya kenikmatan yang aku pikirkan saat itu.

Budi benar-benar ahlinya merangsang orang pikirku. Begitu beruntungnya cowok yang menjadi pacarnya, Budi yang bagitu tampan dan macho bertubuh atletis dan berbulu serta pintar dalam bermain seks. Siapapun tak akan menolak untuk menjadi cowoknya. Budi bahkan mengulum pergelangan jari kakiku ke mulutnya dan memainkan tiap jariku dengan lidahnya.
"Ahh.., oohh" rintihku.

Budi lalu menaikkan lagi wajahnya mendekati penisku. Dengan giginya ditariknya celana dalamku dan dalam tempo singkat, akupun sudah tak ubahnya bayi baru dilahirkan, telanjang bulat telentang pasrah. Budi tersenyum melihatku dalam posisi seperti sekarang. Aku memejamkan mataku dan pasrah akan tindakan Budi selanjutnya. Budi rupanya mengerti reaksi ini.

Budi mengambil guling dan meletakkan di bawah pantatku sehingga posisi pantatku sedikit lebih tinggi dari badanku. Lalu tanpa membuang sedikit waktu, Budi mulai menjilati ujung penisku yang mulai mengkilat oleh liurnya. Rasa nikmat benar-benar telah memenuhi benak dan otakku saat itu. Budi mengulum penisku dengan nikmatnya. Budi dengan perlahan namu pasti mulai memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit penisku tenggelam ke dalam kerongkongannya. Semua batang kotolnya sepanjang 7 inch telah terbenam dalam mulutnya. Budi lalu mengeluarkannya lagi dan memasukkan perlahan lagi, makin lama makin cepat dan makin banyak liurnya yang menetes.
"Ahh.., oohh.., hh.., Budii.., aku tak kuat lagi Bud", Budi lalu menurunkan aktivitasnya. dan melepas penisku. Budi melihat adanya air semen (precum) yang keluar dari lubang pada ujung penisku. Dengan tersenyum dijilatnya cairan itu.
"Herr.., ouuhh nikmat banget rasanya." Lalu Budi mulai mengulum penisku lagi. Akupun mulai menggoyang goyangkan pantatku ke atas dan ke bawah untuk mengimbangi gerakan naik turun mulut Budi.

Aku lalu berusaha juga memegang penis Budi. Mengocoknya pelan-pelan. Budi yang menyadari itu lalu mengarahkan penisnya ke wajahku. Tanpa tunggu komando, semua batang penis 7,5 inch kutelan dan kubiarkan di dalam mulut tembus kerongkonganku sambil kumain mainkan lidahku. Budi giliran merintih, "Ahh.., ohh.., oughh.., Herr.., loe pinter juga tuh.., teruskan.., kulum terus Herr.., yes.., gituu.., ahh", rintih Budi memelas. Budi mulai menusuk-nusukan penisnya yang indah penuh dengan otot-otot itu keluar masuk mulutku. Posisi 69 ini berlangsung sekitar 15 menit dan Budi tiba-tiba menarik penisnya dari mulutku dan juga melepas penisku dari mulutnya.

Budi lalu menyuruhku membalikkan badanku. Dengan pantat yang masih menindih guling, posisi pantatku nungging ke atas. Rupanya Budi memang menginginkan hal ini. Dengan mesranya Budi mulai menciumi punggungku dengan jilatan dan ciuman mautnya. Mulutnya menurun terus sampai ke kedua bongkahan pantatku. Budi menggigiti pantatku dengan gemasnya, dan tangannya berusaha menyentuh lubang pantatku yang nungging itu. Jilatan Budi tiba-tiba saja menyentuh lubang pantatku.
"Auuhh.., Buddii.., apa yang kau lakukan say? Enak banget!", teriakku. Budi tak menghiraukan jeritanku ini. Dengan rakusnya lubang pantatku kini jadi sasaran lidahnya. Gerakan lidah naik turun di pantatku benar-benar membuat mani di dalam penisku mendesak minta keluar. Aku tak kuat lagi, Budi dengan lincahnya masih menjilati lubang pantatku itu.
"Budd.., aku mo muncrat nih.." teriakku.

Budi lalu berhenti. Memandangku dengan nafas tersengal-sengal kseperti abis lari 100 meter.
"Ok say.., kita mulai permainan kita ini." ujarnya sambil turun dari tempat tidur menuju ke laci di samping. Budi lalu mengeluarkan semacam pasta atau jelly dan kembali mendekatiku.

Aku mengerti bahwa Budi akan melakukan penetrasi ke dalam pantatku. Aku diam saja dan pasrah untuk di "fuck" oleh cowok setampan dan sekekar Budi. Budi mengeluarkan jelly dari tempatnya dan mengolesnya ke seluruh batang dan kepala penisnya yang sudah benar-benar tegak dan keras sekali itu. Lalu dia mendekatiku dan menindihku dengan mesranya.
"Her.., gue nafsu banget nih.., gue masukin loe boleh khan?" pinta Budi dengan lembutnya. Aku cuman mengangguk saja tak kuat untuk bersuara saking nikmatnya permainan pendahuluan yang dilakukan Budi.

Budi mulai menciumiku lagi dan kini lebih cepat mengarah ke penisku. Dengan tetap mengulum penis dan buah pelerku, Budi mulai mengusapkan jelly ke sekitar lubang pantatku yang memang menunggu ditusuk oleh kejantanannya. Belaian tangan dengan jelly di pantatku menimbulkkan rasa nikmat yang tiada tara bagiku, aku memejamkan mataku dan merintih meminta Budi segera menusukku. Tapi Budi lebih memilih untuk membuatku relax dahulu dengan tetap membelai buah pelerku dan menjilati penisku. Tiba-tiba saja satu ujung jarinya mulai menusuk ke lubangku dengan amat lembut dia memasukkan jarinya yang telah dilumuri jelly ke lubang pantatku. Rasanya benar-benar nikmat sekali. Budipun dengan bersemangat mulai mengeluar masukkan jarinya ke dalam pantatku.

Setelah beberapa detik, Budi mulai menambah jarinya sehingga kini 2 jari yang ditusukkan ke pantatku. Dengan masih menciumi dan menjilati buah pelirku, Budi mulai melakukan aksi tusukannya. Sampai akhirnya kulihat Budi sudah tidak tahan lagi. Dia mencabut jarinya dan mulai menindih tubuhku. Dengan ciuman mesranya Budi mulai menuntun penisnya yang berdenyut-denyut dan mengkilat itu ke arah pantatku. Kubantu dengan mengarahkan ke lubanganya.

Begitu ujung penisnya menyentuh lubang pantatku, aku mengangguk ke arah Budi.
"Bud.., udah.., pelan-pelan ya.." pintaku. Budi mengangguk dan mulai menggerakkan pantatnya ke arahku. penis yang begitu besar dan mengkilat oleh jelly itu mulai menyentuh pantatku dan dengan hebatnya menerobos pertahanan di ujung lubangku. Masuk dengan indahnya meluncur perlahan meninggalkan gesekan-gesekan nikmat di seluruh dinding pantatku. Budi merintih kenikmatan saat separuh penisnya telah terbenam di dalam hangatnya pantatku.
"Ohh.., Her.., nikmat banget pantat loe.., yeahh.., yess.., oohh". Budi terus menusuk pantatku dengan gagahnya. Saat semua penisnya terbenam di pantatku, Budi melenguh keras, "yess.., nikmatt Herryy.., sayangkuu".

Budi terdiam sesaat merasakan nikmatnya kehangatan pantatku. Lalu di mulai menggerakkan pantatnya yang indah itu keluar masuk lubang pantatku. Besarnya penis Budi membuat lubang pantatku benar-benar seret dan menimbulkan bunyi yang merangsang. Budi makin mempercepat gerakannya. Akupun tak tinggal diam dengan ikutan ngocok penisku yang sudah dari tadi kepingin memuncratkan mani. Budi menggerakkan pantatnya dengan indahnya, meliuk-liuk dan kadang-kadang melakukan sentakan-sentakan nikmat yang memacuku untuk mencapai puncak kenikmatan.

Budi rupanya juga kepengin merasakan keperkasaan penisku. Budi lalu mencabut penisnya dari lubang pantatku dan melumuri penisku dengan jelly dan juga lubang pantatnya. Budi lalu mengambil posisi nungging dan menyuruhku untuk memasukkan penisku ke dalam pantatnya. Dengan posisi yang nungging, penisku begitu mudah masuk dan langsung menghunjam sampai seluruhnya terbenam masuk dan menikmati kehangatan lubang pantat Budi. Aku lalu mulai menggoyangkan pantatku keluar masuk dengan lincah.
"Ahh Budd.., nikmat banget pantat kamu ini.., nikmat sekali", rintihku. Budi juga mengimbangi goyanganku dengan goyangannya yang tak kalah menimbulkan nikmat juga. Sambil ngocok penisnya Budi merintih-rintih. Aku semakin mempercepat gerakannya dan Budipun juga.
"Herr.., gue pengin keluar di pantat loe.., boleh?" tanya Budi tiba-tiba. Aku setuju dan mencabut penisku segera. Budipun mengambil alih dengan memasukkan lagi penisnya ke pantatku. Gesekan yang nikmat melandaku lagi. Budi lalu dengan cepatnya merojok pantatku dan kulihat dia mulai meracau.

Aku merasakan bahwa Budi sudah mendekati puncak karena gerakannya semaik cepat dan denyutan penis di pantatku makin cepat.
"Bud.., kita keluar bareng ya..", pintaku.
"Ok Herr.., kita muncratkan bareng", ujarnya diantara nafasnya yang tersengal-sengal oleh nafsu membara. Budi mengangkat pahaku dan sedikit mengangkat pantatku naik ke atas dengan tusukan yang semakin menggila cepatnya. Akupun merasakan bahwa maniku sudah mulai mendesak desak mau keluar.
"Bud aku mau keluar nih.., kamu gimana?", tanyaku.
"Herr.., aku juga mau keluar nih.., cepetan kita keluarin bareng" balas Budi.
Budi tiba-tiba melenguh keras sekali dan menghentak hentakkan pantatnya ke lubangku dengan kerasnya, akupun mengocok dengan cepatnya. Saat itu maniku meluncur dengan cepatnya di dalam batang penisku, "Budd.. akuu keluarr" jeritku.
"Her.., gue juga.., aahh", teriak Budi. Dengan hentakan terakhir yang sangat keras, Budi menembakkan mani banyak sekali di dalam lubang pantatku dan akupun memuncratkan mani di atas perutku dan sebagian muncrat ke dada dan wajahku.
"Ahh.., yes.., nikmat sekalii", hampir berbarengan aku dan Budi mengucapkan kata itu. Budi masih sempat memberikan beberapa kali gerakan tusukan sebelum akhirnya lemas lunglai di atas tubuhku. Maniku yang tersebar di atas perut dan dadaku kini mencampur dengan keringat di dadanya. Budi menciumku dengan mesranya.
"Her, thanks ya". Akupun mengangguk.

Setelah beberapa menit kami terdiam, akhirnya Budi mengajakku untuk mandi bareng di kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga. Sambil berpelukan kami masuk ke kamar mandi dan mandi bareng. Kita saling menggosokin badan masing-masing dan berpelukan.
Setelah selesai mandi dan mengenakan baju, Budi tiba-tiba saja memelukku dan membisikan kata-kata yang memang menjadi angan-anganku, "Her, gue minta eloe jadi cowok gue, mau ya". Dengan wajah meminta dan memang akupun kepengin mengucapkan kata-kata itu, aku menganggukan kepala mengiyakannya. Budi langsung tertawa dan menciumiku lagi dan memelukku serasa mau meremukkan. Malam aku menginap di rumah Budi.
Maka sejak saat itulah aku dan Budi selalu fitness bareng, mandi bareng dan jalan kemanapun bareng.., sampe sekarang!

Tamat