Aku Surti, masih muda, seorang istri dari suami yang sangat kucintai. Tetapi aku punya obsesi yang terus terang (sebagai istri menjadi kurang ajar dan tidak tahu diri) yang belum pernah terpenuhi hingga saat ini. Aku ingin seorang lelaki di luar suamiku, lelaki yang macam gimana tidak penting, tetapi penisnya besar dengan tubuhnya yang berotot. Aku ingin tidur dengannya. Itu obsesiku, hingga pada suatu sampai kejadian itu terjadi.

Karena ada sesuatu urusan, suamiku harus pergi ke Malang untuk 5 hari termasuk perjalanan. Aku tidak dapat ikut karena kebetulan ada perbaikan rumah, menambah ruang untuk gudang dan aku bertanggung jawab agar semuanya dapat berjalan sesuai rencana, termasuk mengawasi pekerjaan para tukangnya.

Setiap hari kusiapkan minuman dan makanan kecil untuk 3 orang tukang batu dan kayu. Mandornya Saridjo orang Tegal. Kebetulan Saridjo, kira-kira berumur 45 tahun, orangnya cekatan dan rajin. Dan kebetulan juga tanpa kusadari sebelumnya, orangnya besar dan berotot. Dengan kulitnya yang kehitaman, Saridjo bekerja ditimpa panas matahari dari pagi hingga sore hari. Oleh karenanya dia selalu hanya pakai celana kolor pendek dan kaos singlet untuk membungkus tubuhnya, agar mengurangi gerahnya selama bekerja.

Sore itu kira-kira pukul 15.00 pekerjaanku telah selesai, sehingga aku dapat sedikit beristirahat di kamar tidurku. Sementara itu para tukang di bawah mandor Kang Saridjo, bekerja di luar nampak dari jendela kamarku tanpa aku khawatir mereka dapat melihatku tergolek di tempat tidur karena memang demikian adanya. Pandangan dari luar sulit menjangkau ke dalam dengan adanya kaca pada jendela yang membuat silau.

Kuperhatikan Saridjo, setiap kali dia membungkuk mengambil semen untuk ditemplokkan ke dinding. Badannya basah mengkilat penuh keringat. Sebentar-sebentar tangannya menyeka keringatnya itu.
Ahh.., badan itu.. celana pendek dan ketat itu..
Obsesiku tiba-tiba menyeruak timbul dan jantungku berdegup keras.

Kepergian suamiku telah 3 hari, aku memang merasa mulai sepi. Dan 2 hari lagi suamiku akan sampai di rumah kembali. Ya, 2 hari lagi. Sementara di luar jendela ada lelaki berotot mengkilat penuh keringat sangat sesuai dengan obsesiku selama ini. Bagaimana bau keringatnya itu..? Ketiaknya..? Atau selangkangannya..? Aku tertegun. Ada rangsangan yang menyelusuri tubuhku dan mendesak kesadaran untuk meninggalkan ingatan pada suami. Aku terdorong untuk mengambil kesempatan yang tersisa 2 hari ini. Inilah kesempatan mewujudkan obsesiku, impian mengenai lelaki lain untuk teman tidurku.

Tiba-tiba kulihat tukang-tukang di luar beres-beres sebagai tanda selesainya jam kerja hari itu. Biasanya mereka membersihkan badan dan mandi sebelum pulang. Dan pikiranku berjalan cepat seperti kilat, jantungku berdegup semakin keras hingga terdengar dari telingaku. Aku gemetar, sejenis gemetar yang nikmat. Ahh.. ooh..

Aku keluar kamar dan, "Kang Saridjo sebelum pulang tolong saya sebentar..!"
"Ya, Bu.., apa Bu..? Saya mandi dulu sebentar."
"Nanti dulu.. Biar temennya saja mandi dulu, Kang Saridjo bantuin saya.. Sedikit koq..!"
Demikian peristiwa itu berjalan cepat. Aku menahan Kang Saridjo yang masih bau keringat untuk membantuku melakukan sesuatu yang dia belum tahu. Pokoknya aku harus dapat menahannya.

Aku pura-pura sibuk membongkar lemari dan menurunkan apa saja yang ada di dalamnya.
"Ini Kang banyak kecoaknya, tolong bantu dikeluar-keluarin dulu, saya mau ganti alasnya."
Dia mulai ikut membongkar isi lemari.
"Apa lagi, Bu..?"
"Ya, itu.. Ambil koran yang bersih.. eehh.., disapu dulu baru diganti alas korannya.." aku memberi tugas dan bersambung tugas hingga teman-temannya siap untuk pulang.

Aku berbisik, "Suruh mereka duluan..!" suatu omongan yang provokatif penuh menimbulkan tanda tanya bagi Kang Saridjo tentunya.
Dia melihat ke arah wajahku, dan aku berkedip sebelah mata. Dia senyum.., sepertinya mengerti.Aku sudah semakin nekat.
"Pulang duluan, geeh..! Aku masih bantuin Ibu, nih..!" katanya menyuruh teman-temannya pulang.
Aku tidak sabar dan semakin panas dingin.

Lima menit kemudian, kuperkirakan teman-teman Kang Saridjo sudah agak jauh. Intuisi dan reflek-reflekku mengalir. Dari sebelah dinding aku mengangkat bundelan buku dan aku menjatuhkan diri.
"Aduh.. duh.. duhh, achh.. Kakiku kesleo..!"
Buru-buru Kang Saridjo bangun menghampiriku, "Kenapa, Bu..?"
"Ini, nyandung buku.." aku menyalahkan buku sambil, "Aduuhh.. aacchh..!" dan mengurut-urut betisku.

"Tolong Kang..!" tanganku menggapai tangan Kang Saridjo, itu pertama kali aku menyentuhnya.
"Ibu istirahat saja.. Biar saya saja yang beberes.."
"Yaa.., tuntun aku ke kamar tidur..!" pintaku sambil terpincang-pincang memegangi betisku.
Kang Saridjo memapahku. Tangan dan bahuku menyentuh badannya yang masih lengket karena keringat. Saat itu sempat aku juga mencium bau badan Saridjo. Ooohh.. bau lelaki.

Aku kemudian telungkup berbaring di kasur.
"Tolong urut sini dong, Kang..!"
Mungkin dia menjadi bengong tetapi aku masa bodo, pura-pura tidak melihat, dan bergaya masalah demikian biasa, minta tolong karena kesakitan.

Dia mulai mengurut-urut betisku.
"Acch.. Oocchh.. Aaacchh..!"
"Sakit Bu..?"
"Ya.. iya to, kamu ini gimana sih..? Terus urut pelan-pelan..!"
Aacchh.., telapak tangannya yang kasar. Tapak tangan kuli, yang pada saat begini berubah menjadi tangan kasar penuh rangsangan.

Aku yang setengah tengkurap di kasur menggeliat-geliat pura-pura kesakitan.
"Hhaacch.. hacchh.. eecchh.." begitu aku merintih-rintih, makin membuat Kang Saridjo bingung tentunya.

Tangan Kang Saridjo terus mengurut-urut betisku dengan hati-hati. Sekali lagi reflek dan intuisiku mengalir. Rintihanku kusertai geliat tubuh. Terkadang pantatku yang mulus kuangkat, seakan dalam menahan sakit. Tetapi sementara itu rintihan yang keluar dari mulutku kusertai pula dengan meremas-remas bantal. Tentu ini menjadi pemandangan yang sangat erotis dan menggoda bagi lelaki. Dan Kang Saridjo, seperti yang kurasakan tidak banyak bertanya lagi, terus mengurut-urut betisku.

Makin lama rintihanku berubah nada, menjadi desahan. Aku tidak merintih sekarang. Aku mendesah sambil tanganku terus meremas-remas apa saja dengan maksud demonstratif agar didengar dan disaksikan Kang Saridjo. Dan.., rasanya ada hasil. Tangan Kang Saridjo terus mengurut lebih naik lagi hampir pada lipatan dengkulku. Kubiarkan dengan terus mendesah-desah secara erotis. Ya, erotis.

"Ahh.. aacchh..! Terus Kang, enaakk..! Ennaak Kangg..!" desahku lagi.
Tentu efeknya pada Kang Saridjo seperti pisau bermata dua. Enak apanya..? Enak bagaimana..? Sakitnya baikan atau..? Aku tidak perduli dan naluriku terus berjalan untuk membangkitan emosi Kang Saridjo.

Dan ketika tangan Kang Saridjo kurasakan makin berani ke atas hingga menyentuh ujung pahaku, aku sudah yakin, Kang Saridjo sudah masuk perangkapku. Aku terus mendesah-desah sambil meremas-remas apa saja. Ya bantal, kain sprei, selimut, yang kemudian bahkan kupeluki guling sementara pantatku bergoyang naik turun sebagaimana orang menahan sakit. Dan ketika tangan Kang Saridjo yang kasar itu meremas pahaku, darahku berdesir sangat kuat, jantungku berdegup, mataku mulai kabur. Yang kurasakan hanya kenikmatan sentuhan Kang Saridjo yang demikian kutunggu.

Kudorong lagi keberaniannya dengan desahan dan rintihan erotis.
"Yaa.. aacchh.. ennaakk.., terus Kang..! Yaahh..!"
Dan tangan Kang Saridjo tidak lagi menunjukkan keragu-raguan.

Ketika akhirnya jari-jari tangannya yang kasar dan kaku benar-benar menyentuh bibir vaginaku, aku tahu bahwa Kang Saridjo benar-benar telah siap memegang kendali untuk mengajakku menuju kenikmatan dahsyat yang akan sama-sama kami alami. Aku bergelinjang hebat saat jari tangannya menyibak CD dan merengkuh bibir kemaluanku yang sejak tadi telah membasah karena birahi. Aku mulai benar-benar merintih karena nikmat yang menerpaku.

Seluruh tubuhku menggelinjang. Vaginaku banjir oleh cairan birahi. Pantatku kuangkat sedikit naik untuk memberi kesempatan tangan Kang Saridjo leluasa meremasi kemaluanku. Ternyata perkembangan ini disergap cepat oleh Kang Saridjo.
"Oohh.., Bu.. Aku nggak tahan, Bu..!""Aachh.. eecchh.." jawabanku hanya rintihan dan desahan yang penuh kehausan dan kebuasan atau keliaran.
Begitu juga Kang Saridjo, keliarannya langsung muncul tidak dapat lagi terbendung.

Rokku disibakkan hingga seluruh paha dan pantatku terbuka. Badannya menindihku dan wajahnya langsung menubrukku, dan bibirnya langsung menyedot dan menjilati paha dan pantatku, sementara tangan kanannya meneruskan meremasi vaginaku. Tangan kirinya menyelusup ke bawah blus meraih buah dadaku, meremasinya dan mempermainkan puting susuku. Woowww.. Dahsyat..! Belum pernah aku merasakan gelinjang senikmat ini selama masa perkawinanku.

Bau badan dan kelaki-lakian Kang Saridjo itu yang membuat segalanya menjadi bergolak terbakar sangat dahsyat. Dia mulai mengerang seperti singa yang lapar. Kemudian dengan tangannya yang kekar, tubuhku dibalikkannya hingga telentang. Tiba-tiba tangan-tangannya meruyak dan merobek-robek rokku. Aku sangat kaget dan serem dengan adanya kejadian itu. Sesaat aku tersadar, tetapi keburu mulutku disumpal dengan lidahnya yang dengan menggila menghisapi lidah dan ludah di mulutku.

Untuk sesaat birahiku mau lenyap. Kecewa, marah, takut, seram, panik campur aduk, tetapi ternyata itu hanya sesaat. Sebuah sensasi erotik tiba-tiba menggelegak melalui darahku. Kekasaran itu menjadi berubah menjadi sensasi birahi yang dahsyat bagiku, melengkapi obsesiku mengenai seorang lelaki berotot untuk meniduriku. Aku sepertinya hendak diperkosanya. Aku harus melayani nafsu singa lapar.

Tangan-tangan yang meruyak ke atas dan merobek-robek rokku telah menemukan sasarannya. Susu-susuku diremasinya. Tubuhnya yang entah berapa beratnya menindihku. Susuku dicemolinya. Digigiti, dihisap-hisap. Wajahnya membenam ke dada dan ketiakku, lidahnya menjilat, bibirnya menyedot dan menggigiti ketiakku.
"Ohh.. Kang Saridjo jangan lepaskan.. aahh..! Teruuss. Djoo.. nikmatnya akan selalu terukir di hatiku.. Djoo..!"

Bersambung . . . . .

Rasanya berjam-jam dia melumpuhkanku. Dan aku menikmati dalam kepasrahan. Aku menikmati sebagai orang taklukkan. Ya, aku takluk kepadamu Djo.
"Kang.., aku nggak tahan Kang..!" erangku dalam kenikmatan.
Dan Kang Saridjo semakin menggila. Ketiakku pedih. Berikutnya wajahnya dari ketiak dan susuku turun ke perut, kemudian pinggul. Kecupan, sedotan dan jilatan terus bertubi mengiringinya membuat aku seperti kesetanan.

Sambil terus bergeser bibirnya turun ke perut, turun ke selangkangan, turun dan.. woohh.. Dengan giginya ditariknya dan robek lagi CD-ku. Aahh.., sungguh kekasaran yang nikmat dalam badai birahiku.

Lidah itu.., lidah Kang Saridjo menyentuhi bibir-bibir vaginaku. Lidahnya yang ternyata juga kasar (mungkin lidah kuli pula) seperti amplas menjilati klitoris terus ke lubang vaginaku. "Lidahmu itu.. Djo.. kenapa kamu terus menusuki lubang vaginaku Djoo. Ampuunn..!"
Aku merasakan kegatalan yang dahsyat dari lubang vaginaku. Pantatku menjadi menggelinjang naik turun tidak karuan. Kuterkam kepalanya. Kutekan wajahnya ke selangkanganku, ke lubang kemaluanku, rambutnya kujambak-jambak dan remasi sebagai pelampiasan kegatalan vagina. Kucabut-cabut rambutnya. Emosiku sangat galau.

Kegatalan itu sangat memuncak. Kegatalan itu membuatku hilang kesadaran akan sekeliling. Aku berteriak.., mengaduh-aduh menghadapi kenikmatan tidak terhingga. Dan Kang Saridjo tahu, aku tidak mau berhenti.
"Aku.. orgasmee.. ohh.. orgasme.. ohh..!"
Sangat jarang kudapatkan orgasme.

Aku menjadi sangat haus. Mulutku kering. Tenggorokanku kering.. Hauss.. tolong.. Ooohh.. hausnya.. Sementara itu Kang Saridjo masih terus menjilati kemaluanku. Seluruh cairan dari vaginaku dijilatinya dan diminumnya. Dan membayangkan hal itu membuat birahiku tidak luruh karena orgasme tadi. Dasar kemaluan yang selalu gatal. Milikku, vaginaku, kemaluanku belum terpuaskan juga. Seluruh peristiwa ini sangat sensasional hingga hausku menerjang lagi.

Kutarik dia ke atas, mulutku mencari sasaran. Mulut Kang Saridjo serasa ingin kukunyah. Bibirnya yang tebal kugigit keras hingga dia mengaduh. Aku sudah hanyut dalam nafsu hewaniah. Indraku tidak lagi berfungsi, pandangan kabur, telinga tersumpal. Yang kurasakan hanya gelinjang pada pori-pori di seluruh permukaan kulitku, di paha, di perut, di payudara dan puting-putingnya.

Kali ini Kang Saridjo memitingku, ototnya yang kuat menjepitku hingga sesak nafasku. Ada sedikit celah di antara ketiaknya. Aku dapat sedikit bernafas dan sekaligus menggigiti bahu, dada dan menjilati ketiaknya yang menebar bau kejantanannya itu.

Ternyata tanpa setahuku Kang Saridjo sendiri sudah telanjang bulat. Terasa ada sodokan-sodokan menimpa perutku dan kemudian turun ke selangkanganku dan mengarah ke lubang kemaluanku. Sodokkan itu seirama dengan naik turunnya pantat Kang Saridjo yang menindih seluruh tubuhku. Gerakkan memompa. Batang kejantanannya yang kurasakan panas dan bebal mengubek-ubek bibir kemaluanku yang 'mekrok' minta penis besar Kang Saridjo lekas menyuntiknya. Aku mulai menggoyang pantat untuk membantu kehausan dan kegatalan kemaluanku agar dapat selekasnya melahap batang kemaluan Kang Saridjo.

Terasa 'helm' penis Kang Saridjo seperti palu godam yang menonjok-nonjok untuk menghancurkan lubang sempit bibir vaginaku. Sesungguhnya bukan lubang itu sempit, tetapi nafsu birahilah yang membuat otot-otot bibir vagina mencengkeram dahsyat dan sulit untuk ditembus.
"Kasih ludah Kang..!" dengan penuh nafsu kusarankan Kang Saridjo agar selekasnya memasukkan meriamnya ke lubangku.
Dan kemudian, bless.. bless.. bless.. bless.., sungguh sempurna. Batang kejantanan itu telah mendapatkan sarangnya.

Aku bergoyang, Kang Saridjo memompa. Pelan.. bless.. Vaginaku menangkap dengan lahap senti demi senti batang kemaluan Kang Saridjo.
"Aacchh.. nikmatnyaa.. hoh.. Djoo.. Kang Djoo..!" aku terus meracau tidak tahan menanggung nikmat.
Kuku-kuku jariku menghunjam ke bahu Kang Saridjo, nafsuku benar-benar meledak tidak terkendali. Kerongkonganku kering dan terus terasa semakin kering."Djoo.., tolong.. Kang.. Ludahmu Kang.. Ludahmu Kang..! Aku mau ludahmu.. Tolong ludahmu Kang..! Ludahi aku.. ludahi mulutku.. ludahmu Kang.. Ludahi mulutku..! Aayyoo.. Kang aku hauss.." aku demikian ingin Saridjo meludahiku, meludahi mulutku, membuang ludahnya ke mulutku.
Ooohh.., bukankah aku telah menjadi taklukannya. Aku menjadi budaknya.. kan..?

"Ayoo Kang..! Ludahmu Kang..!" aku terus meracau.
Kang SariDjo heran, kenapa aku dapat menjadi begini. Tetapi kemudian melalui bibir tebalnya Kang Saridjo membuang ludah yang terkumpul di mulutnya ke mulutku. Aahh.. Kukenyam-kenyam kemudian kutelan. Kang Saridjo terus meludahi mulutku. Setiap kali dia mengumpulkan ludahnya dan membuang ke mulutku, birahiku semakin menggila.

Dan di bawah sana, batang kejantanan besar milik Kang Saridjo terus menghantam kemaluanku tanpa ampun. Genjotannya semakin kencang, semakin menghunjam, semakin dalam. Kegatalan kemaluanku juga semakin bertambah, hingga pantatku naik-naik seakan mengejar ujung batang kemaluannya untuk lebih dalam meruyak ke pintu rahimku.

Berkali-kali aku telah orgasme. Kemaluanku membanjir. Kalau kemaluan suamiku pasti sudah 'blonyoh' ngoplok-oplok, tetapi batang kejantanan besar milik Kang Saridjo tetap sesak dalam vaginaku. Aku yakin karena ukurannya yang besar itu. Dan itu pula yang membuat birahiku tidak padam-padam.

Kang Saridjo memang hebat. Terbukti pada saat mengayunkan pantatnya, tonjolan otot-otot pada lengannya keluar. Kulitnya yang mengkilat oleh keringat berminyak memperjelas anatomi tubuhnya. Setelah satu jam kami berasyik masyuk, Kang Saridjo sama sekali tidak menunjukkan kelelahan. Seakan kandungan energinya tidak terbatas. Mulutnya, lidahnya, tangannya, pantatnya hingga batang kejantanannya semua aktif belum sesaat pun istirahat. Usianya yang 45 tahun bukan menjadi hambatan, walaupun melayaniku yang jauh lebih muda.

Seperti saat ini, tembakkan batang kejantanannya pada vaginaku terus mencecar. Makin cepat dan dalam. Aku sendiri di antara rasa nikmat yang memang terus datang, sudah merasa payah. Udara kamar yang panas menambah rasa lelah tadi.
"Acchh.. uuhh.. oohh.. aacchh..!" kembali aku mendapatkan orgasmeku, kemaluanku makin banjir.Begitu bervariasi bunyi batang kejantanan dan kemaluanku yang saling interaksi, dan aku merasakan lelahnya. Aku ingin berhenti sebentar. Kudorong tubuh Kang Saridjo.
"Capee, Kang..!" kataku.

Tetapi kebuasan Kang Saridjo belum menunjukkan keredaan. Batang kejantanannya keluar masuk kemaluanku semakin cepat. Dia memiringkan tubuhku ke kanan. Kaki kiriku diangkatnya hingga membuat celah pahaku menjadi lebih luas. Batang kejantanannya jadi masuk lebih menghunjam lagi. Ahh.. enaknyaa.. Tetapi badanku tetap terasa lelah dan gairahku menurun.
"Capai, Kang..! Istirahat dulu.. Ahh..!"

Kali ini kupikir dia mengerti. Dia mencabut batang kejantanannya dari kemaluanku, dan dia menaruh bantal pada dinding dan diangkatnya aku untuk bersandar pada bantal tersebut. Jadi sekarang kepalaku lebih terangkat dan dapat menyender di dinding. Sepertinya memang aku disuruh istirahat dulu. Tetapi, diluar dugaanku, Kang Saridjo yang telanjang berdiri di tempat tidur, dengan batang kejantanannya yang tetap mengkilat, tegak dan kaku mengangkangiku, menghampiriku dan dengan setengah berjongkok, mengasongkan miliknya ke wajahku. Dia sentuhkan kepala penisnya ke bibir-bibirku.

"Isep, Bu.. Ayoo.. isep..!"
Aku belum lagi siap, kan..? Kutolak karena memang ingin berhenti dulu, tetapi.., "Ayoo, Bu..!Iseepp..! Saya nggak tahan lagi, nihh.., saya mau Ibu ngisep-isep, menjilat-jilat dan nanti minum pejuhnya.. Saya mau muncrat di mulut Ibu. Dan Ibu harus telan semua pejuh saya. Ayoo..!" katanya sambil tangannya meraih kepalaku mendekatkannya ke arah batang kejantanannya.

Ahh.., penaklukku benar-benar, nihh.. Dan aku heran, sensasi itu justru datang lagi. Gairah dan birahiku tiba-tiba menggelegak lagi. Nada omongan Kang Saridjo tadi seperti sihir. Seorang tuan yang menginjak-injak harga diri budaknya karena itu memang hak dia. Dan aku adalah budak yang boleh diapakan saja. Dan aku harus patuh, tanpa pilihan. Sihir itu betul-betul meluluhkan tetapi bukan melumpuhkan.

Karena sihir itu, tenagaku seakan pulih dan hadir lagi dengan birahi yang penuh. Kuraih batang kejantanan itu. Dalam genggamanku kuperhatikan kepalanya besar dan padat seperti jamur, dan terlihat mengkilat. Hoohh.., indahnya.

Belahan lubang kencingnya besar, seakan menyobek tepat di tengah seperti jamur yang merekah. Sangat menantangku. Woow.., sejak tadi aku memang belum secara langsung melihatnya. Kuelus kepala itu sesaat dan kemudian kedekatkan bibirku, lidahku. Hidungku menghirup aroma jantan dari kelamin Kang Saridjo. Dan lidahku mulai menjilat. Kujilat lubang kencingnya. Asin. Kujilati tepi-tepiannya. Kang Saridjo melenguh.

Lenguhan yang begitu nikmat merasuk ke telingaku.
"Kang.. apapun maumu. Aku budakmu Kang aacchh..!" desahku.
Kemudian batang kejantanannya mulai kukulum. Lahap seperti makan es mambo, setiap jilatan dan kuluman disertai bunyi. Aduuhh, sangat erotis.. eksotis.. Tidak pernah kudapatkan sebelumnya. Bahkan dengan suamiku pun tidak sejauh ini. Edan.

Rupanya cara ini yang akhirnya merontokkan pertahanan Kang Saridjo. Tidak terlalu lama, akhirnya dia mencapai pencak kenikmatannya dibarengi dengan rintihan, erangan dan racauan tidak karuanan yang keluar dari mulutnya.
"Bu.., budakku.., caboku.. uuhh.., isep teruuss..! Caboku.. Aku mau keluaarr.. Sayangku pelacurku.. zinahku.. cabokuu.. (gila, aneh, dampratan, makian, hinaan yang sangat merendahkan dan tidak terbayangkan olehku untuk seumur hidupku itu sekali lagi justru sangat memacu birahiku, nafsuku bergejolak) Ooohh.. oohh.. achh, Bu.. Aku keluar.., telenn..! Minum pejuhku..! Telen niihh..!" katanya sambil menekan kepalaku ke arah selangkangannya hingga aku gelagapan.

Ber'liter-liter' Kang Saridjo menyemprotkan spermanya ke mulutku. Hangat.., muncrat-muncrat memenuhi rongga mulutku. Kukecap-kecapi sebelum aku mulai menelannya (pada suamiku aku tidak akan mau begini, jijik, hii..!). Tapi sperma Kang Saridjo telah membasahi tenggorokkanku. Masih kuperas-peras batang kejantanannya hingga tidak ada yang tersisa.

Kujilati batang-batangnya hingga bersih. Rasanya sayang ada satu tetes pun yang tercecer. Terakhir, kulihat pula ada cipratan-cipratan sperma di bulu kemaluannya dan selangkangannya. Kudorong Kang Saridjo telentang, dengan lidahku kuhisap semuanya hingga benar-benar bersih. Ada banjir di kemaluanku dan gatal. Aku ingin disenggamai lagi.

Sementara itu Kang Saridjo jatuh lunglai. Keringatnya mengucur dari seluruh tubuhnya. Tangannya terentang mencari angin. Dan ketiaknya yang penuh bulu terbuka. Pelan-pelan kedekati, kubenamkan mulutku di ketiak itu. Hidungku menyergap bau ketiak. Aku menjilat-jilat. Kang Saridjo tertidur. Aku terus mencari kehangatan dan kenikmatan yang tersedia di tubuh Kang Saridjo yang tertidur lelap karena lelah.

Itulah kejadian yang menjadi kenangan bagiku bersama Kang Saridjo sebagai pengisi kekosongan dan perasaan birahiku. Akhirnya obsesiku tercapaikan dan aku puas.

Tamat

Sudah dua tahun aku bekerja di perusahaan swasta ini. Aku bersyukur, karena prestasiku, di usia yang ke 25 ini aku sudah mendapat posisi penyelia. Atasanku seorang wanita berusia 42 tahun. Walaupun cantik, tapi banyak karyawan yang tidak menyukainya karena selain keras, sombong dan terkadang suka cuek. Namun sebagai bawahannya langsung aku cukup mengerti beban posisi yang harus dipikulnya sebagai pemimpin perusahaan. Kalau karyawan lain ketakutan dipanggil menghadap sama Bu Melly, aku malah selalu berharap dipanggil. Bahkan sering aku mencari-cari alasan untuk menghadap keruangan pribadinya.

Sebagai mantan pragawati tubuh Bu Melly sangatlah bagus diusia kepala empat ini. Wajahnya yang cantik tanpa ada garis-garis ketuaan menjAdikannya tak kalah dengan anak muda. Saking keseringan aku mengahadap keruangannya, aku mulai menangkap ada nada-nada persahabatan terlontar dari mulut dan gerak-geriknya. Tak jarang kalo aku baru masuk ruangannya Bu Melly langsung memuji penampilanku. Aku bangga juga mulai bisa menarik perhatian. Mudah-mudahan bisa berpengaruh di gaji hahaha nyari muka nih.

Sampai suatu ketika, lagi-lagi ketika aku dipanggil mengahadap, kulihat raut muka Bu Melly tegang dan kusut. Aku memberanikan diri untuk peduli,
"Ibu kok hari ini kelihatan kusut? ada masalah?", sapaku sembari menuju kursi didepan mejanya.
"Ia nih Ndy, aku lagi stres, udah urusan kantor banyak, dirumah mesti berantem sama suaminya kusut deh", jawabnya ramah, sudut bibirnya terlihat sedikit tersenyum.
"Justru aku manggil kamu karena aku lagi kesel. Kenapa ya kalau lagi kesel trus ngeliat kamu aku jadi tenang", tambahnya menatapku dalam.
Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Melly bilang begitu? Batinku.
"Andy, ditanya kok malah bengong", Bu Melly menyenggol lenganku.
"Eeehh nggak, abisnya kaget dengan omongan Ibu kayak tadi. Aku kaget dibilang bisa nenangin seorang wanita cantik", balasku gagap.
"Ndy nanti temenin aku makan siang di Hotel (***) ya.. Kita bicarain soal promosi kamu. Tapi kita jangan pergi bareng , nggak enak sama teman kantor. kamu duluan aja, kita ketemu disana", kata Bu Melly.
Aku semakin tergagap, tidak menyangka akan diajak seperti ini.
"Baik Bu", jawabku sambil keluar dari ruangannya.

Setelah membereskan file-file, pas jam makan siang aku langsung menuju hotel tempat janji makan siang. Dalam mobilku aku coba menyimpulkan promosi jabatan apa yang akan Bu Melly berikan. Seneng sih, tapi juga penuh tanda tanya. Kenapa harus makan siang di hotel? Terbersit dipikiranku, mungkin Bu Melly butuh teman makan, teman bicara atau mudah-mudaha teman tidur.. upss mana mungkin Bu Melly mau tidur dengan aku. Dia itu kan kelas atas sementara aku karyawan biasa. Aku kesampingkan pikiran kotor.

Sekitar setengah jam aku menungu di lobby hotel tiba-tiba seorang bellboy menghampiriku. Setelah memastikan namaku dia mempersilahkanku menuju kamar 809, katanya Bu Melly menunggu di kamar itu. Aku menurut aja melangkah ke lift yang membawaku ke kamar itu. Ketika kutekan bel dengan perasaan berkecamuk penuh tanda tanya berdebar menunggu sampai pintu dibukain dan Bu Melly tersenyum manis dari balik pintu.

"Maaf ya Ndy aku berobah pikiran dengan mengajakmu makan di kamar. Mari.. kita ngobrol-ngobrol kamu mau pesen makanan apa?", kata Bu Melly sambil menarik tangan membawaku ke kursi. Aku masih gugup.
"Nggak usah gugup gitu dong", ujar Bu Melly melihat tingkahku.
"Aku sebetulnya nggak percaya dengan semua ini .aku nggak nyangka bisa makan siang sana Ibu seperti ini. Siapa sih yang nggak bangga diundang makan oleh wanita secantik Ibu?", ditengah kegugupanku aku masih sempat menyempilkan jurus-jurus rayuan. Aku tau pasti pujian kecil bisa membangkitkan kebanggan.
"Ahh kamu Ndy bisa aja, emangnya aku masih cantik", jawab Bu Melly dengan pipi memerah. Ihh persis anak ABG yang lagi dipuji.
"Iya Bu, sejujurnya aku selama ini memipikan untuk bisa berdekatan dan berduan dengan Ibu, makanya aku sering nyari alasan masuk keruangan Ibu", kataku polos.
"Aku sudah menduga semua itu soalnya aku perhatikan kamu sering nyari-nyari alasan menghadap aku. Aku tau itu. Bahkan kamu sering curi-curi pandang menatapku kan?", ditembak seperti itu aku jadi malu juga.
Memang aku sering menatap Bu Melly disetiap kesempatan, apa lagi kalau sedang rapat kantor. Rupanya tingkahku itu diperhatikannya.

Kami berpandangan lama. Lama kami berhadapan, aku di tempat duduk sedangkan Bu Melly dibibir tempat tidur. Dari wajahnya terlihat kalau wanita ini sedang kesepian, raut mukanya menandakan kegairahan. Perlahan dia berdiri dan menghampiriku. Masih tetap berpandangan, wajahnya semakin dekat.. dekat.. aku diam aja dan hup.bibirnya menyentuh bibirku. Kutepis rasa gugup dan segera membalas ciumannya. Bu Melly sebentar menarik bibirnya dan menyeka lipstik merahnya dengan tisu. Lalu tanpa dikomando lagi kami sudah berpagutan.

"Pesen makannya nanti aja ya Ndy", katanya disela ciuman yang semakin panas.
Wanita cantik betinggi 165 ini duduk dipangkuanku. Sedikit aku tersadar dan bangga karena wanita ini seorang boss ku, duduk dipangkuanku. Tangan kirinya melingkar dileherku sementara tangan kana memegang kepalaku. Ciumannya semakin dalam, aku lantas mengeluarkan jurus-jurus ciuman yang kutau selama ini. Kupilin dan kuhisap lidahnya dengan lidahku. Sesekali ciumanku menggerayang leher dan belakang telinganya. Bu Melly melolong kegelian.
"Ndy kamu hebat banget ciumannya, aku nggak pernah dicium seperti ini sama suamiku, bahkan akhir-akhir ini dia cuek dan nggak mau menyentuhku", cerocos Bu melly curhat.
Aku berpikir, bego banget suaminya tidak menyentuh wanita secantik Bu Melly. Tapi mungkin itulah kehidupan suami istri yang lama-lama bosan, pikirku.

Bu Melly menarik tangaku. Kutau itu isyarat mengajak pindah ke ranjang. Namun aku mencegahnya dengan memeluknya saat berdiri. Kucium lagi berulang-ulang, tangaku mulai aktif meraba buah dadanya. Bu melly menggelinjang panas. Blasernya kulempar ke kursi, kemeja putihnya kubuka perlahan lalu celana panjangnya kuloloskan. Bu Melly hanya terdiam mengikuti sensasi yang kuberikan. Wow, aku tersedak melihat pemandangan didepanku. Kulitnya putih bersih, pantatnya berisi, bodynya kencang dan ramping. Celana dalam merah jambu sepadan warna dengan BH yang menutupi setangkup buah dada yang walaupun tidak besar tapi sangat menggairahkan.
"Ibu bener-bener wanita tercantik yang pernah kulihat", gumamku.

Bu melly kemudian mengikuti aksiku tadi dengan mulai mencopot pakaian yang kukenakan. Namun dia lebih garang lagi karena pakaianku tanpa bersisa, polos. Mr. Happy yang sedari tadi tegang kini seakan menunjukkan kehebatannya dengan berdiri tegak menantang Bu Melly.
"Kamu ganteng Ndy", katanya seraya tanganya meraup kemaluanku dan ahh bibir mungilnya sudah mengulum.
Oh nikmatnya. Sentuhan bibir dan sapuan lidahnya diujung Mr.Happy ku bener-bener bikin sensasi dan membuat nafsu meninggi.

Aku nggak tahan untuk berdiam diri menerima sensasi saja. Kudorong tubuhnya keranjang, kuloloskan celana dalam dan BH-nya. Sambil masih tetap menikmati jilatan Bu Melly, aku meraih dua bukit kembar miliknya dan kuremas-remas. Tanganku merayap keselangkangannya. Jari tengahku menyentuh itilnya dan mulai mengelus, basah. Bu Melly terhentak. Sesekali jari kumasukkan kedalam vaginanya. Berusaha membuat sensasi dengan menyentuh G-spot-nya.

Atas inisiatifku kami bertukar posisi, gaya 69. Jilatan lidahnya semakin sensasional dengan menulur hingga ke pangkal kemaluanku. Dua buah bijiku diseruputnya Bener-bener enak. Gantian aku merangkai kenikmatan buat Bu Melly, kusibakkan rambut-rambut halus yang tertata rapi dan kusentuh labia mayoranya dengan ujung lidah. Dia menggeliat. Tanpa kuberi kesempatan untuk berpikir, kujilati semua susdut vaginanya, itilnya kugigit-gigit.
Bu melly menggelinjang tajam dan, "Ndy aku keluar lo.. nggak tahan", katanya disela rintihan.
Tubuhnya menegang dan tiba-tiba terhemmpas lemas, Bu Melly orgasme.

Aku bangga juga bisa membuat wanita cantik ini puas hanya dalam lima menit jilatan.
"Enak Ndy, aku bener-bener nafsu sama kamu. Dan ternyata kamu pintar muasin aku, makasih ya Ndy", ujarnya.
"Jangan terima kasih dulu Bu, soalnya ini belum apa-apa, nanti Andy kasi yang lebih dahsyat", sahutku.
Kulihat matanya berbinar-binar.
"Bener ya Ndy, puasin aku, sudah setahun aku nggak merasakan orgasme, suamiku sudah bosan kali sama aku", bisiknya agak merintih lirih.

Hanya berselang liam menit kugiring tubuh Bu melly duduk diatas pinggulku. Mr.Happy kumasukkan ke dalam vaginanya dan bless, lancar karena sudah basah. Tanpa dikomando Bu Melly sudah bergerak naik turun. Posisi ini membuat ku bernafsu karena aku bisa menatap tubuh indah putih mulus dengan wajah yang cantik, sepuasnya. Lama kami bereksplorasi saling merangsang. Terkadang aku mengambil posisi duduk dengan tetap Bu melly dipangkuanku. Kupeluk tubuhnya kucium bibirnya.
"Ahh enak sekali Ndy", ntah sudah berapa kali kata-kata ini diucapkannya.

Mr.Happyku yang belum terpuaskan semakin bergejolak disasarannya. Aku lantas mengubah posisi dengan membaringkan tubuh Bu Melly dan aku berada diatas tubuh mulus. Sambil mencium bibir indahnya, kumasukkan Mr.Happy ke vaginanya. Pinggulku kuenjot naik turun. Kulihat Bu Melly merem-melek menahan kenikmatan. Pinggulnya juga mulai bereaksi dengan bergoyang melawan irama yang kuberikan. Lama kami dalam posisi itu dengan berbagai variasi, kadang kedua kakinya kuangkat tinggi, kadang hanya satu kaki yang kuangkat. Sesekali kusampirkan kakinya ke pundakku. Bu Melly hanya menurut dan menikmati apa yang kuberikan. Mulutnya mendesis-desis menahan nikmat.
Tiba-tiba Bu melly mengerang panjang dan "Ndy, aku mau keluar lagi, aku bener-bener nggak tahan", katanya sedikit berteriak.
"Aku juga mau keluar nih.. bareng yuk", ajakku.
Dan beberapa detik kemudian kami berdua melolong panjang "Ahh..".
Kurasakan spermaku menyemprot dalam sekali dan Bu Melly tersentak menerima muntahan lahar panas Mr. Happyku. Kami sama sama terkulai.
"Kamu hebat Ndy, bisa bikin aku orgasme dua kali dalam waktu dekat", katanya disela nafas yang tersengal.
Aku cuma bisa tersenyum bangga.
"Bu Melly nggak salah milih orang, aku hebat kan?" kataku berbangga yang dijawabnya dengan ciuman mesra.

Setelah mengaso sebentar Bu Melly kemudian menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan shower. Dari luar kamar mandi yang pintunya nggak tertutup aku menadang tubuh semampai Bu melly. Tubuh indah seperti Bu Melly memang sangat aku idamkan. Aku yang punya kecenderungan sexual Udipus Comp-lex bener-bener menemukan jawaban dengan Bu Melly. Bosku ini bener-bener cantik, maklum mantan peragawati. Tubuhnya terawat tanpa cela. Aku sangat beruntung bisa menikmatinya, batinku.

Mr.Happyku tanpa dikomando kembali menegang melihat pemandangan indah itu. Perlahan aku bangun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Bu melly yang lagi merem menikmati siraman air dari shower kaget ketika kupeluk. Kami berpelukan dan berciuman lagi. Kuangkat pantatnya dan kududukkan di meja toalet. Kedua kakinya kuangkat setengah berjongkok lalu kembali kujilati vaginanya. Bu melly kembali melolong. Ada sekitar lima menit keberi dia kenikmatan sapuan lidahku lantas kuganti jilatanku dengan memasukkan Mr. Happyku. Posisiku berdiri tegak sedangkan Bu Melly tetap setengah berjongkok di atas meja. Kugenjot pantatku dengan irama yang pasti. Dengan posisi begini kami berdua bisa melihat jelas aktifitas keluarmasuknya Mr.Happy dalam vagina, dua-duanya memerah tanda nikmat.

Setelah puas dengan posisi itu kutuntun Bu Melly turun dan kubalikkan badannya. Tangannya menumpu di meja sementara badannya membungkuk. Posisi doggie style ini sangat kusukai karena dengan posisi ini aku ngerasa kalau vagina bisa menjepit punyaku dengan mantap. Ketika kujebloskan si Mr.Happy, uupps Bu Melly terpekik. Kupikir dia kesakitan, tapi ternyata tidak.
"Lanjutin Ndy, enak banget.. ohh.. kamu hebat sekali", bisiknya lirih.
Ada sekitar 20 menit dalam posisi kesukaanku ini dan aku nggak tahan lagi mau keluar.
"Bu.. aku keluar ya", kataku.
"Ayo sama-sama aku juga mau", balasnya disela erangan kenikmatannya.
Dan.. ohh aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam vaginanya yang diikuti erangan puas dari Bu Melly. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi orgasme ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang. Kulihat dicermin kupeluk Bu Melly dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua bukit kembarnya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indajh, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.

Selesai mandi bersama kamipun memesan makan. Selesai makan kami kembali kekantor dengan mobil sendiri-sendiri. Sore hari dikantor seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sebelum jam pulang Bu Melly memanggilku lewat sekretarisnya. Duduk berhadapan sangat terasa kalau suasananya berobah, tidak seperti kemarin-kemarin. Sekarang beraroma cinta.
"Ndy, kamu mau kan kalau di kantor kita tetep bersikap wajar layaknya atasan sama bawahan ya. Tapi kalo diluar aku mau kamu bersikap seperti suamiku ya", katanya tersenyum manja.
"Baik Bu cantik", sahutku bergurau.
Sebelum keluar dari ruangannya kami masih sempat berciuman mesra.

Sejak itu aku resmi jadi suami simpanan bos ku. Tapi aku menikmati karena aku juga jatuh cinta dengan wanita cantik idaman hati ini. Sudah setahun hubungan kami berjalan tanpa dicurigai siapapun karena kami bisa menjaga jarak kalau di kantor.

Tamat

Pertama-tama perkenalkan, aku adalah penggemar setia Rumah Seks. Sejak aku mengetahui alamat ini tujuh bulan lalu, hampir semua cerita aku baca, terutama yang merupakan kisah nyata. Karena itulah aku tergerak untuk mencoba menceritakan pengalamanku. Aku (sebut saja Aswin), umur hanpir 40 tahun, postur tubuh biasa saja, seperti rata-rata orang Indonesia, tinggi 168 cm, berat 58 kg, wajah lumayan (kata ibuku), kulit agak kuning, seorang suami dan bapak satu anak kelas satu Sekolah Dasar. Selamat mengikuti pengalamanku.

Cerita yang aku paparkan berikut ini terjadi hari Senin. Hari itu aku berangkat kerja naik bis kota (kadang-kadang aku bawa mobil sendiri). Seperti hari Senin pada umumnya bis kota terasa sulit. Entah karena armada bis yang berkurang, atau karena setiap Senin orang jarang membolos dan berangkat serentak pagi-pagi. Setelah hampir satu jam berlari ke sana ke mari, akhirnya aku mendapatkan bis.

Dengan nafas ngos-ngosan dan mata kesana kemari, akhirnya aku mendapat tempat duduk di bangku dua yang sudah terisi seorang wanita. Kuhempaskan pantat dan kubuang nafas pertanda kelegaanku mendapatkan tempat duduk, setelah sebelumnya aku menganggukkan kepala pada teman dudukku. Karena lalu lintas macet dan aku lupa tidak membawa bacaan, untuk mengisi waktu dari pada bengong, aku ingin menegur wanita di sebelahku, tapi keberanianku tidak cukup dan kesempatan belum ada, karena dia lebih banyak melihat ke luar jendela atau sesekali menunduk.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku sambil melirik jam tangannya.
"Mmacet sekali ya?" katanya yang tentu ditujukan kepadaku.
"Biasa Mbak, setiap Senin begini. Mau kemana?" sambutku sekaligus membuka percakapan.
"Oh ya. Saya dari Cikampek, habis bermalam di rumah orang tua dan mau pulang ke Pondok Indah," jawabnya.
Belum sempat aku buka mulut, ia sudah melanjutkan pembicaraan,
"Kerja dimana Mas?"
"Daerah Sudirman," jawabku.

Obrolan terus berlanjut sambil sesekali aku perhatikan wajahnya. Bibirnya tipis, pipinya halus, dan rambutnya berombak. Sedikit ke bawah, dadanya tampak menonjol, kenyal menantang. Aku menelan ludah. Kuperhatikan jarinya yang sedang memegang tempat duduk di depan kami, lentik, bersih terawat dan tidak ada yang dibiarkan tumbuh panjang. Dari obrolannya keketahui ia (sebut saja Mamah) seorang wanita yang kawin muda dengan seorang duda beranak tiga dimana anak pertamanya umurnya hanya dua tahun lebih muda darinya. Masa remajanya tidak sempat pacaran. Karena waktu masih sekolah tidak boleh pacaran, dan setelah lulus dipaksa kawin dengan seorang duda oleh orang tuanya. Sambil bercerita, kadang berbisik ke telingaku yang otomatis dadanya yang keras meneyentuh lengan kiriku dan di dadaku terasa seer! Sesekali ia memegangi lenganku sambil terus cerita tentang dirinya dan keluarganya. "Pacaran asyik ya Mas?" tanyanya sambil memandangiku dan mempererat genggaman ke lenganku. Lalu, karena genggaman dan gesekan gunung kembar di lengan kiriku, otakku mulai berpikiran jorok. "Kepingin ya?" jawabku berbisik sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. Ia tidak menjawab, tapi mencubit pahaku.

Tanpa terasa bis sudah memasuki terminal Blok M, berarti kantorku sudah terlewatkan. Kami turun. Aku bawakan tasnya yang berisi pakaian menuju kafetaria untuk minum dan meneruskan obrolan yang terputus. Kami memesan teh botol dan nasi goreng. Kebetulan aku belum sarapan dan lapar. Sambil menikmati nasi goreng hangat dan telor matasapi, akhirnya kami sepakat mencari hotel. Setelah menelepon kantor untuk minta cuti sehari, kami berangkat.

Sesampai di kamar hotel, aku langsung mengunci pintu dan menutup rapat kain horden jendela. Kupastikan tak terlihat siapapun. Lalu kulepas sepatu dan menghempaskan badan di kasur yang empuk. Kulihat si Mamah tak tampak, ia di kamar mandi. Kupandangi langit-langit kamar, dadaku berdetak lebih kencang, pikiranku melayang jauh tak karuan. Senang, takut (kalau-kalau ada yang lihat) terus berganti. Tiba-tiba terdengar suara tanda kamar mandi dibuka. Mamah keluar, sudah tanpa blaser dan sepatunya. Kini tampak di hadapanku pemandangan yang menggetarkan jiwaku. Hanya memakai baju putih tipis tanpa lengan. Tampak jelas di dalamnya BH hitam yang tak mampu menampung isinya, sehingga dua gundukan besar dan kenyal itu membentuk lipatan di tengahnya. Aku hanya bisa memandangi, menarik nafas serta menelan ludah.

Mungkin ia tahu kalau aku terpesona dengan gunung gemburnya. Ia lalu mendekat ke ranjang, melatakkan kedua tangannya ke kasur, mendekatkan mukanya ke mukaku, "Mas.." katanya tanpa melanjutkan kata-katanya, ia merebahkan badan di bantal yang sudah kusiapkan. Aku yang sudah menahan nafsu sejak tadi, langsung mendekatkan bibirku ke bibirnya. Kami larut dalam lumat-lumatan bibir dan lidah tanpa henti. Kadang berguling, sehingga posisi kami bergantian atas-bawah. Kudekap erat dan kuelus punggungnya terasa halus dan harum. Posisi ini kami hentikan atas inisiatifku, karena aku tidak terbiasa ciuman lama seperti ini tanpa dilepas sekalipun. Tampak ia nafsu sekali. Aku melepas bajuku, takut kusut atau terkena lipstik. Kini aku hanya memakai CD. Ia tampak bengong memandangi CD-ku yang menonjol. "Lepas aja bajumu, nanti kusut," kataku. "Malu ah.." katanya. "Kan nggak ada yang lihat. Cuma kita berdua," kataku sambil meraih kancing paling atas di punggungnya. Dia menutup dada dengan kedua tangannya tapi membiarkan aku membuka semua kancing. Kulempar bajunya ke atas meja di dekat ranjang. Kini tinggal BH dan celana panjang yang dia kenakan. Karena malu, akhirnya dia mendekapku erat-erat. Dadaku terasa penuh dan empuk oleh susunya, nafsuku naik lagi satu tingkat, "burung"-ku tambah mengencang.

Dalam posisi begini, aku cium dan jilati leher dan bagian kuping yang tepat di depan bibirku. "Ach.. uh.." hanya itu yang keluar dari mulutnya. Mulai terangsang, pikirku. Setelah puas dengan leher dan kuping kanannya, kepalanya kuangkat dan kupindahkan ke dada kiriku. Kuulangi gerakan jilat leher dan pangkal kuping kirinya, persis yang kulakukan tadi. Kini erangannya semakin sering dan keras. "Mas.. Mas.. geli Mas, enak Mas.." Sambil membelai rambutnya yang sebahu dan harum, kuteruskan elusanku ke bawah, ke tali BH hingga ke pantatnya yang bahenol, naik-turun.

Selanjutnya gerilyaku pindah ke leher depan. Kupandangi lipatan dua gunung yang menggumpal di dadanya. Sengaja aku belum melepas BH, karena aku sangat menikmati wanita yang ber-BH hitam, apalagi susunya besar dan keras seperti ini. Jilatanku kini sampai di lipatan susu itu dan lidahku menguas-nguas di situ sambil sesekali aku gigit lembut. Kudengar ia terus melenguh keenakan. Kini tanganku meraih tali BH, saatnya kulepas, ia mengeluh, "Mas.. jangan, aku malu, soalnya susuku kegedean," sambil kedua tangannya menahan BH yang talinya sudah kelepas. "Coba aku lihat sayang.." Kataku memindahkan kedua tangannya sehingga BH jatuh, dan mataku terpana melihat susu yang kencang dan besar. "Mah.. susumu bagus sekali, aku sukaa banget," pujiku sambil mengelus susu besar menantang itu. Putingnya hitam-kemerahan, sudah keras.

Kini aku bisa memainkan gunung kembar sesukaku. Kujilat, kupilin putingnya, kugigit, lalu kugesek-gesek dengan kumisku, Mamah kelojotan, merem melek, "Uh.. uh.. ahh.." Setelah puas di daerah dada, kini tanganku kuturunkan di daerah selangkangan, sementara mulut masih agresif di sana. Kuusap perlahan dari dengkul lalu naik. Kuulangani beberapa kali, Mamah terus mengaduh sambil membuka tutup pahanya. Kadang menjepit tangan nakalku. Semua ini kulakukan tahap demi tahap dengan perlahan. Pertimbanganku, aku akan kasih servis yang tidak terburu-buru, benar-benar kunikmati dengan tujuan agar Mamah punya kesan berbeda dengan yang pernah dialaminya. Kuplorotkan celananya. Mamah sudah telanjang bulat, kedua pahanya dirapatkan. Ekspresi spontan karena malu.

Kupikir dia sama saja denganku, pengalaman pertama dengan orang lain. Aku semakin bernafsu. Berarti di hadapanku bukan perempuan nakal apalagi profesional. Kini jari tengahku mulai mengelus perlahan, turun-naik di bibir vaginanya. Perlahan dan mengambang. Kurasakan di sana sudah mulai basah meski belum becek sekali. Ketika jari tengahku mulai masuk, Mamah mengaduh, "Mas.. Mas.. geli.. enak.. terus..!" Kuraih tangan Mamah ke arah selangkanganku (ini kulakukan karena dia agak pasif. Mungkin terbiasa dengan suami hanya melakukan apa yang diperintahkan saja). "Mas.. keras amat.. Gede amat?" katanya dengan nada manja setelah meraba burungku. "Mas.. Mamah udah nggak tahan nikh, masukin ya..?" pintanya setengah memaksa, karena kini batangku sudah dalam genggamannya dan dia menariknya ke arah vagina. Aku bangkit berdiri dengan dengkul di kasur, sementara Mamah sudah dalam posisi siap tembak, terlentang dan mengangkang. Kupandangi susunya keras tegak menantang.

Ketika kurapatkan "senjataku" ke vaginanya, reflek tangan kirinya menangkap dan kedua kakinya diangkat. "Mas.. pelan-pelan ya.." Sambil memejamkan mata, dibimbingnya burungku masuk ke sarang kenikmatan yang baru saja dikenal. Meski sudah basah, tidak juga langsung bisa amblas masuk. Terasa sempit. Perlahan kumasukkan ujungnya, lalu kutarik lagi. Ini kuulangi hingga empat kali baru bisa masuk ujungnya. "Sret.. sret.." Mamah mengaduh, "Uh.. pelan Mas.. sakit.." Kutarik mundur sedikit lagi, kumasukkan lebih dalam, akhirnya.. "Bles.. bles.." barangku masuk semua. Mamah langsung mendekapku erat-erat sambil berbisik, "Mas.. enak, Mas enak.. enak sekali.. kamu sekarang suamiku.." Begitu berulang-ulang sambil menggoyangkan pinggul, tanpa kumengerti apa maksud kata "suami".

Mamah tiba-tiba badannya mengejang, kulihat matanya putih, "Aduuh.. Mas.. aku.. enak.. keluaar.." tangannya mencengkeram rambutku. Aku hentikan sementara tarik-tusukku dan kurasakan pijatan otot vaginanya mengurut ujung burungku, sementara kuperhatikan Mamah merasakan hal yang sama, bahkan tampak seperti orang menggigil. Setelah nafasnya tampak tenang, kucabut burungku dari vaginanya, kuambil celana dalamnya yang ada di sisi ranjang, kulap burungku, juga bibir vaginanya. Lantas kutancapkan lagi. Kembali kuulangi kenikmatan tusuk-tarik, kadang aku agak meninggikan posisiku sehingga burungku menggesek-gesek dinding atas vaginanya. Gesekan seperti ini membuat sensasi tersendiri buat Mamah, mungkin senggamanya selama ini tak menyentuh bagian ini. Setiap kali gerakan ini kulakukan, dia langsung teriak, "Enak.. terus, enak terus.. terus.." begitu sambil tangannya mencengkeram bantal dan memejamkan mata. "Aduuhm Mas.. Mamah keluar lagi niikh.." teriaknya yang kusambut dengan mempercepat kocokanku.

Tampak dia sangat puas dan aku merasa perkasa. Memang begitu adanya. Karena kalau di rumah, dengan istri aku tidak seperkasa ini, padahal aku tidak pakai obat atau jamu kuat. Kurasakan ada sesuatu yang luar biasa. Kulirik jam tanganku, hampir satu jam aku lakukan adegan ranjang ini. Akhirnya aku putuskan untuk terus mempercepat kocokanku agar ronde satu ini segera berakhir. Tekan, tarik, posisi pantatku kadang naik kadang turun dengan tujuan agar semua dinding vaginanya tersentung barangku yang masih keras. Kepala penisku terasa senut-senut,
"Mah.. aku mau keluar nikh.." kataku.
"He.. eeh.. terus.. Mas, aduuh.. gila.. Mamah juga.. Mas.. terus.. terus.."
"Crot.. crot.." maniku menyemprot beberapa kali, terasa penuh vaginanya dengan maniku dan cairannya. Kami akhiri ronde pertama ini dengan klimaks bareng dan kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Satu untukku dan tiga untuk Mamah.

Setelah bersih-bersih badan, istirahat sebentar, minum kopi, dan makan makanan ringan sambil ngobrol tentang keluarganya lebih jauh. Mamah semakin manja dan tampak lebih rileks. Merebahkan kepalanya di pundakku, dan tentu saja gunung kembarnya menyentuh badanku dan tangannya mengusap-usap pahaku akhirnya burungku bangun lagi. Kesempatan ini dipergunakan dengan Mamah. Dia menurunkan kepalanya, dari dadaku, perut, dan akhirnya burungku yang sudah tegang dijilatinya dengan rakus. "Enak Mas.. asin gimana gitu. Aku baru sekali ini ngrasain begini," katanya terus terang. Tampak jelas ia sangat bernafsu, karena nafasnya sudah tidak beraturan. "Ah.." lenguhnya sambil melepas isapannya. Lalu menegakkan badan, berdiri dengan dengkul sebagai tumpuan. Tiba-tiba kepalaku yang sedang menyandar di sisi ranjang direbahkan hingga melitang, lalu Mamah mengangkangiku.

Posisi menjadi dia persis di atas badanku. Aku terlentang dan dia jongkok di atas perutku. Burungku tegak berdiri tepat di bawah selangkangannya. Dengan memejamkan mata, "Mas.. Mamah gak tahaan.." Digenggamnya burungku dengan tangan kirinya, lalu dia menurunkan pantatnya. Kini ujung kemaluanku sudah menyentuh bibir vaginanya. Perlahan dan akhirnya masuk. Dengan posisi ini kurasakan, benar-benar kurasakan kalau barang Mamah masih sempit. Vagina terasa penuh dan terasa gesekan dindingnya. Mungkin karena lendir vaginanya tidak terlalu banyak, aku makin menikmati ronde kedua ini. "Aduuh.. Mas, enak sekali Mas. Aku nggak pernah sepuas ini. Aduuh.. kita suami istri kan?" lalu.. "Aduuh.. Mamah enak Mas.. mau keluar nikh.. aduuh.." katanya sambil meraih tanganku diarahkan ke susunya. Kuelus, lalu kuremas dan kuremas lagi semakin cepat mengikuti, gerakan naik turun pantatnya yang semakin cepat pula menuju orgasme.

Akhirnya Mamah menjerit lagi pertanda klimaks telah dicapai. Dengan posisi aku di bawah, aku lebih santai, jadi tidak terpancing untuk cepat klimaks. Sedangkan Mamah sebaliknya, dia leluasa menggerakkan pantat sesuai keinginannya. Adegan aku di bawah ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Dan dalam waktu itu Mamah sempat klimaks dua kali. Sebagai penutup, setelah klimaks dua kali dan tampak kelelahan dengan keringat sekujur tubuhnya, lalu aku rebahkan dia dengan mencopot burungku. Setelah kami masing-masing melap "barang", kumasukkan senjataku ke liang kenikmatannya. Posisinya aku berdiri di samping ranjang. Pantatnya persis di bibir ranjang dan kedua kakinya di pundakku. Aku sudah siap memulai acara penutupan ronde kedua. Kumulai dengan memasukkan burungku secara perlahan. "Uuh.." hanya itu suara yang kudengar. Kumaju-mundurkan, cabut-tekan, burungku. Makin lama makin cepat, lalu perlahan lagi sambil aku ambil nafas, lalu cepat lagi. Begitu naik-turun, diikuti suara Mamah, "Hgh.. hgh.. " seirama dengan pompaanku.

Setiap kali aku tekan mulutnya berbunyi, "Uhgh.." Lama-lama kepala batanganku terasa berdenyut.
"Mah.. aku mau keluar nikh.."
"Yah.. pompa lagi.. cepat lagi.. Mamah juga Mas.. Kita bareng ya.. ya.. terus.." Dan akhirnya jeritan..
"Aaauh.." menandai klimaksnya, dan kubalas dengan genjotan penutup yang lebih kuat merapat di bibir vagina, "Crot.. crott.." Aku rebah di atas badannya. Adegan ronde ketiga ini kuulangi sekali lagi. Persis seperti ronde kedua tadi.

Pembaca, ini adalah pengalaman yang luar biasa buat saya. Luar biasa karena sebelumnya aku tak pernah merasakan sensasi se-luar biasa dan senikmat ini. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, meski aku tahu alamatnya. Kejadian ini membuktikan, seperti yang pernah kubaca, bahwa selingkuh yang paling nikmat dan akan membawa kesan mendalam adalah yang dilakukan sekali saja dengan orang yang sama. Jangan ulangi lagi (dengan orang yang sama), sensasinya atau getarannya akan berkurang. Aku kadang merindukan saat-saat seperti ini. Selingkuh yang aman seperti ini.

Tamat

Setelah sekian lama saya tak buka-buka internet, saya hampir lupa bahwa ada situs Rumah Seks, setelah saya baca beberapa cerita, membuat hati ini tergerak untuk menulis cerita yang pernah saya alami, yah sekedar membagi pengalaman siapa tahu ada yang respon dan saling tukar pikiran dan tukar pandangan apalagi tukar pengalaman siapa takut.. Berani mencoba. Inilah kisahku yang benar terjadi dan sedikit ditambahkan biar enak dibaca dan perlu dicoba.

*****

Dari beberapa teman saya yang sering memanfaatkan kebiasaan saya ada satu yang senantiasa selalu menghubungi saya diwaktu jam-jam istirahat. Namanya Tia, wanita karier, berumur kurang lebih 32 tahunan, pernah nikah kemudian cerai dan belum dikaruniaai anak. Soal materi Tia tidaklah kekurangan sebab dari pendapatan kerjanya sudah lebih dari cukup.

Awal pertemuan saya dengannya melalui teman wanita saya yang pernah saya terapi dan memberitahu kepada Tia bahwa saya bisa membantu membuat wanita merasa hidup kembali jauh dari stress dan kejenuhan keluarga.

Suaru sore saya mendapat SMS dari Tia yang mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan saya di salah satu kedai minuman di Mall, karena saya tak ada acara saya segera berangkat dan menunggu beberapa menit sambih menikmati jus mangga kesukaan saya.

Tak lama berselang ada wanita celingak celinguk mencari sesuatu, saya berpikir sejenak dan dengan berani saya beri kode, ternyata benar ia adalah Tia, wanita yang sedang saya tunggu. Dengan santai kami berbicara panjang lebar dan saya banyak mendengarkan beberapa keluhan yang belakangan ini menderanya. Setalah hidangan yang tersedia habis saya berinisiatif untuk mengajak Tia ketempat yang lebih privasi agar saya dapat konsentrasi terhadap apa yang menjadi ganjalan-ganjalan hidupnya.

Di suatu tempat dibilangan pinggiran Jakarta kami menyewa sebuah kamar mungil yang sangat bersih dan alami. Terapipun saya lakukan dengan tidak melakukan pelecehan-pelecehan, saya berusaha professional dalam melakukan kerjaan sampingan saya ini. Kurang lebih satu jam terapi saya lakukan kemudian kami beristirahat, tanpa sengaja Tia menyetel TV yang berada di kamar tersebut, setelah menganti beberapa canel ada satu canel yang menggambarkan adegan-adegan seks (Film Blue).

Tia tertegun sejenak tapi terus menatap dengan sedikit bernafsu hal itu saya bisa rasakan dari gerakkan matanya. Sebagai laki-laki normal saya tidak munafik saya genggam tangannya untuk meredam gelora nafsunya akan tetapi Tia memandang mata saya dengan penuh arti dan birahi, bibir kami bertemu saling mengisap, tangan saya mulai bergerilya mencari sasaran, buah dadanya yang masih sekel saya remas dengan penuh perasaan dan dengan sedikit keberanian saya susupkan melalui belahan baju dan BH, saya pilin-pilin putingnya sehingga Tia mendesis, dengan tenang saya buka satu persatu kemeja kerjanya yang tinggal hanya Cdnya yang berwarna pink.

Saya terus memilin-milin putingnya sambil sesekali saya rengkuh buah dadanya, sementara bibir saya terus saling berciuman dengan hotnya. Lidah saya mulai menciumi lehernya yang jenjang, terus turun ke buah dadanya bolak balik saya isap pentilnya satu persatu Tia semangkin mendesis..

"Teruss gigit Mass..."

Tangan saya mencari sasaran yang lain yaitu kemaluan yang indah yang dihiasi rambut yang tertata rapi kriting, tanpa dikomando Cdnya saya lepaskan dengan mengaitkan jempol kaki yang kemudian diperosotkan kebawah. Tia semakin mendesis,

"Mass puaskan Tia Mass... Tia sudah lama tidak merasakan kenikmatan seperti ini Mas.. Terus Mas masukan jarinya Mas.."

Jari saya menari-nari di bibir kemaluannya sehinga menimbulkan cairan bening yang hangat. Saya cari letak G-spotnya saya mainkan jari saya dengan mencubit-cubit kecil, tak lama kemudian Tia menggelepar seperti orang kejang, tangannya mendekap leher saya, sakit saya dibuatnya. Jari dan bibir saya terus menari-nari seolah-olah tidak kenal lelah.

Beberapat saat kemudian Tia membuka semua pakaian dan celana sehingga saya telanjang bulat, dilemparkannya satu persatu kelantai, bibirnya mulai mencari sasaran kebawah, setelah Tia melihat kemaluan saya.

"Waww.. Kok besar sekali"

Beberapa saat Tia terbengong-bengong dengan lembut saya dorong kepalanya sehingga bibirnya yang mungil menuju sarang yang diinginkannya, dijilatnya batang kemaluan saya dari ujung atas sampai kebuah pelir lalu diisapnya ujung batang sambil dikemot-kemot seperti makan es lilin dan tangannya mempermainkan biji pelr saya. Perasaan saya melayang-layang nikmat dan hampir lepas kontrol. Saya dorong kepalanya ke belakang, gantian saya menjilati kemaluannya, saya putari bongkahan luar sambil menggigit kecil lalu saya isap bibir kemaluan yang sedikit membengkak karena darahnya sudah turun ke bawah yang menandakan nafsu birahinya sudah memuncak, saya maikan ujung lidah didalam celah surgawi, oh indahnya, kepala Tia menggeleng-geleng sambil mendesis dan teriak kecil..

"Mas ayo Mas saya tak tahann.. Ayo Mas masukin Mas"

Melihat keadaan seperti itu lidah saya turun kebawah sampai ke duburnya saya jilati dengan penuh perasaan, mungkin saya juga sedang birahi sehingga tidak ada rasa jijik atau mencium bau yang tak sedap yang pasti uueennakk tenan. Tia mengalami orgasme yang ke dua, dijepitnya kepala saya dengan pahanya yang mulus dan terawat sambil tangannya menjambak rambut saya sambil bibirnya bersuara.

"Ohh... Ooh... Oohh my good.. ohh oohh my honey, my.. my.." Merancaulah dia dengan edannya.

Selang beberapa menit baru saya arahkan kemaluan saya keliang surganya dengan posisi kedua kakinya diletakkan dipundak saya sehingga bibir kemaluannya nongol dan menyempit sedikit-demi sedikit saya gerakkan betang kemaluan saya maju mundur sambil tangan saya meremas kedua belah buah dadanya yang semakin kencang.

Oh Mas.. Besar sekali Mas sesak rasanya punyaku ini"

Saya tetap melakukan kegiatan maju-mundur dan Tia berteriak-teriak kecil sambil tangannya menarik-narik ujung sprei. Kemudian saya balik tubuhnya yang indah agar tengkurap, saya angkat sedikit pantatnya agar nungging, karena bibir kemaluannya nongol saya jilat-jilat, pantatnya naik semangkin tinggi, barulah saya tembak dengan meriam si jagur yang menjadi idaman-idaman para wanita yang telah merasakan kenikmatan dengan saya karena kemaluan saya mempunyai ciri khas kepalanya besar kemudian ada sedikit urat-urat yang mengerut yang menimbulkan sensasi bila digesekkan didalam kemaluan wanita, itupun berdasarkan pengakuan mereka. Saya gerakkan maju mundur sambil sesekali saya tepok pantatnya saking nikmatnya. Napsu saya semakin bergelora terasa kedutan diujung batang kemaluan yang menandakan akan menumpahkan lahar yang panas.

"Ohh.. Tiiaa saya mau keluaarr"

Tanpa jawaban Tia semakin menggoyangkan pantatnya semakin kencang dan berputar-putar oohh.

Crot.. Crot.. Crot.. Crot.. Menyemprotlah lahar kenikmatan, dunia ini seolah-olah melayang-layang oh indahnya dunia, kudekap perutnya sambil kugigit punggungnya sehingga menimbulkan warna merah yang nyata. Beberapa saat kami ambruk ke samping sambil tetap memeluk erat Tia dari belakang. Tertidur sejenak.

Saya terbangun setelah terdengar suara gaduh yang ditimbulkan oleh seekor kucing yang melompat, mungkin kucing tersebut juga birahi kali. Kami membersihkan diri masing-masing, belum sempat saya memakai baju dan celana saya ditubruk kembali oleh Tia, batangku di oralnya dengan posisi jongkok dan saya berdiri, saya berpikir biarkan Tia mencari kepuasan sendiri agar menemukan jati dirinnya dan lepas dari segala beban dipikirannya, tangannya menari-nari di lubang anus dan seputar biji kemaluan yang mengakibatkan mata saya merem meleh tak tertahankan..

"Oohh, terus sayang terus sayang buat saya melayang jauh ke dunia lain, dunia yang penuh mesteri kenikmatan, oohh"

Semakin menjadi-jadi jilatannya di batang kemaluanku. Kujambak rambutnya yang terurai sambil meremas-remas menahan kenikmatan yang sangat, dikulumnya kedua biji saya smbil matanya menyorot sendu ke wajah saya, ooh bidadariku terasa ingin terbang. Posisi saya duduk karena tak tahan berdiri sambil menimati kenikmatan dengkul terasa lemas tak bertulang. Beberapa menit kemudian saya tak tahan dan kedutan diujung kemaluan saya mulai terasa dengan tenaga yang terkumpul di ujung kemaluan saya muntahkan lahar panas saya di dalam rongga mulutnya yang seksi, sampai semburan terakhir, ditelannya habis dan bersih, dan Tia berkata.

"Enak Mas, spermamu gurih biar saya awet muda.. Ohh my baby"

Memang sperma bisa menjadikan wanita awet muda dan dapat menghilangkan bercak-bercak pada kulit muka bila dilumuri bagian yang berbecak. Sperma tidak menjadi racun karena sperma adalah sama seperti telur ayam dengan kandungan protein yang tinggi, tapi untuk menikmatinya perlu birahi yang sedang naik agar tidak merasa jijik dan geli.

Dari pertemuan itu saya beberapa kali melakukannya, tapi sekarang Tia dipindahkan diseberang pulau sehingga kecil kemungkinan untuk bertemu. Yang pasti kunci dari kenikmatan bersetubuh adalah keiklasan satu sama lain jangan ada dusta diantara kita bila ingin ML yang indah.

Dari beberapa pertemuan yang telah saya lakukan selain Tia memang mempunyai ciri khas tersendiri, semua memang hampir sama tapi kenikmatan berbeda, saya lebih suka ML dengan wanita setengah baya, karena rata-rata mereka tidak tabu dan munafik, bila hasratnya ingin melakukan yah melakukan tanpa berpura-pura dan yang paling saya suka adalah kedewasaan jadi dapat menyimpan rahasia walaupun itu sulit dilakukan dan yang paling berkesan wanita setengah baya sudah tahu apa yang harus dia perbuat bila pasangannya sudah mulai naik, dan tak segan-segan melakukan oral bila perlu tanpa dipaksa atau disuruh.

Sampai saat ini kadang saya merasakan betapa nikmatnya wanita yang mengisi rongga dunia lelaki, dan yang pasti diucapkan wanita yang berkencan dengan saya berkomentar.. Waw besar bangett sih punyamu seperti terong jepang. Saya tidak keberatan bila ada yang ingin berkenalan dengan saya atau ada masalah dengan anda hubungi saya di email ini, setelah itu terserah anda..


Tamat