Perkenalkan namaku Anton ( nama samaran ) umurku 22 th wajahku biasa-biasa saja aku tinggal di Situbondo. Asal mulanya cerita begini saat itu aku sedang main kerumah pamanku yang ada di Blitar entah mengapa tiba-tiba aku kepengen main kesana atau mungkin sudah lama aku ngga main ke rumah pamanku ya kira-kira 5 tahunan kalo ngga salah.

Aku berangkat dari rumah pk 09.00 dan tiba disana pk 17.50 kemudian aku disambutnya oleh tanteku dan bersama putranya.

Nama tanteku Miranda yang umurnya kira-kira 30 th masih saja dia tetap cantik, putih bersih dengan rambut sebahu, postur tubuhnya ideal tidak terlalu gemuk. Tepat jam 18.00 di tanganku karena badanku sudah bercampur keringat gerah lagi langsung aku bergegas mandi dan ketika mau mandi hujan deras mengguyur kota ini dan hawanya mulai terasa dingin. Setelah selesai mandi aku ditanya oleh tanteku
Anton kamu mau minum apa..?? kopi atau the ..!!
kopi saja tan dan jangan terlalu manis ( jawabku sambil bercanda ). Jam mulai pk 19.30 menit aku langsung ngobrol dengan tante dan bersama putranya pula sambil nonton televisi saat ditengah obrolanku aku menanyakan pamanku soalnya tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali semenjak aku datang
oom kemana tante..??
oh.. oommu dia kerja keluar kota,
dimana ? ( tanyaku biar tambah jelas ).
di Bandung perusahaan Textil
loh jarang pulang ?
ya paling pulang 4 bulan sekali tapi akhir-akhir ini dia ngga pulang udah hampir 7 bulan loh
sibuk kali tante
iya kali ya..!!. Hari udah mulai larut malam tak terasa obrolanku udah sampai jam 21.30 karena putranya yang masih sekolah ( dia duduk di bangku dasar kelas II ), dia langsung beranjak dari depan TV dan masuk kamar kemudian langsung tanteku menyusul putranya lalu berkata
Rudy saya mau keloni anak saya dulu ya..??
ia tante kataku.

Tak terasa sudah malam semakin larut dan hawanya makin tambah dingin karena hujan masih tetap mengguyur kota ini tepat jam 21.50 menit di dinding lalu tiba-tiba tanteku keluar dari kamar tidur dan kembali duduk bersamaku didepan TV lalu tante bertanya
udah punya pacar belum..??
belum tante..!! tak lama kemudian sudah jam 22.30.
matikan saja TV nya toh acaranya juga jelek bukan, tuh puter saja VCD nya kemudian tanteku masuk kamar dan keluar membawa kaset VCD. aku kira tante sudah mau tidur ? lalu tante bertanya padaku.
umur kamu sekarang berapa..??
ada apa tante..!!
tanya saja
22 tante jawabku,
ooo.. berarti sudah boleh lihat kemudian tanteku langsung memberikan kasetnya padaku dan kulihat film TARZAN X setelah diputernya aku duduk dekat tante. Tak terasa sudah jam 12 malam dan filmnya juga sudah habis lalu kumatikan VCDnya kemudian tante berkata di dekatku sambil memelukku dari belakang
Anton mau aku ajari tidak seperti di film tadi saat ku menoleh kearah tante dia langsung menciumku lalu aku balas ciumannya dan dia mulai mengajak ke kamar yang satunya untung kamarnya ada dua saat kami masuk kamar aku bertanya pada tanteku
putra tante gimana ?
yach jangan dipikirin dia sudah tidur pulas yang penting malam ini kita nikmati berdua OK
OK deh..!!, kami saling berciuman lagi melanjuti yang di luar tadi dan saling membuka baju satu sama lain dengan cara berciuman kemudian saat kupandang tubuh tanteku aku melihat buah dada tanteku persis seperti dua buah gunung kembar yang akan aku daki yang ukurannya kira-kira 36b kenceng lagi dan montok enak nih kalau di hisap ( pikirku ) tiba-tiba penisku berdiri dan tangan tante mulai meraihnya lalu di isepnya penisku, dijilatinya buah pelerku.

Hhm. terus tante enak. oh.. agak keras tante. Setelah 5 menit menjilati penisku, aku tidak diam juga kusuruh dia rebahan kubuka kakinya lebar-lebar tercium aroma yang lezat banget.

Mau diapain Anton ?

Tante diam aja yang penting tante puas. Anton udah ngga sabar pingin jilati vagina tante kayak di film tadi habis cewek yang jilatin laki-laki kemudian laki-laki yang jilatin punya cewek.

Dia hanya bisa melenguh.
oh. ssht. Anton tanganku tidak tinggal diam juga kumainkan itilnya dia melenguh lagi
oh ah yes, kemudian vaginanya mengeluarkan cairan kental yang lumayan banyak dan desahannya bertambah jadi
terus.disitusayang.oh. god. sayang. oh. enak sekarang dia tidak memanggilku Anton tapi dengan kata sayang aku semakinliar menggerakkan lidahku berputar-putar di klitorisnya dan menyedotnya dengan keras, beberapa detik kemudian tanpa sadar dia berteriak
ah. sayang. tante. mau. keluar. a. ada cairan lagi yang keluar dari vaginanya itu yang ke dua kalinya.

Lalu aku bangun kulihat dia tersenyum puas, Makasih sayang sekarang masukin penismu tante sudah tidak tahan.

Ok tante di bimbingnya penisku menuju lubang tempat dimana adik sepupuku di lahirkan.

Begitu masuk enak, hangat rasanya dan tidak pernah kubayangkan ternyata vagina tante masih keset.
kayak prawan aja kataku mendengar kata-kataku dia tersenyum.

Sekarang puas-puasin ngentot tante yach !

Aku mulai memaju mundurkan pantatku sleph. sloph.. slep slop bunyi diantara selangkangan kami, tante semakin mendesah.
kontol enak sodok yang keras lagi sayang. tante mau keluar lagi ah kuturuti saja kemauannya hinnga penisku terasa mentok diperutnya lalu yang ke tiga kalinya tante mengeluarkan cairan kental di vaginanya setelah 25 menit penisku kelur masuk di dalam vaginanya, penisku terasa geli nikmat aneh pula saya merasakan penisku di isep-isep oleh vagina tanteku tanpa sadar gerakan badanku semakin cepat.

Tante.. saya. mau. keluar. ah
keluarin saja didalam sayang.

Tangannya menahan gerakan pantatku, akhirnya crot.. crot. crot.. penisku terasa meledak.

Lalu kita rebahan sambil berpelukan dan berciuman beberapa menit
makasih ya sayang, udah puasin tante ini rahasia kita berdua OK ?.

Saya juga seneng banget bisa puasin tante.

Kami melakukannya 6 kali dan aku tinggal di sana hanya 12 hari saja kemudian aku langsung pamitan pulang lalu tante berkata
kapan-kapan main kesini lagi dan main itu-itu yach..
OK deh tante

Tamat

Selama satu minggu Ibu Mertuaku berada di Jakarta, hampir setiap hari setiap ada kesempatan aku dan Ibu Mertuaku selalu mengulangi persetubuhan kami. Apalagi setelah Indri istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantor istriku.

Aku dan Ibu mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua semakin lupa diri. Aku dan Ibu mertuaku tidur seranjang, layaknya suami istri, ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertuaku langsung menuntaskan hasrat kami berdua. Kusirami terus menerus rahim Ibu Mertuaku dengan spermaku, akibatnya fatal.

Setelah istriku kembali dari Medan Bapak mertuaku minta agar Ibu mertuaku segera pulang ke Gl, dengan berat hati akhirnya Ibu mertuakupun kembali ke desa Gl. Setelah Ibu mertuaku kembali kedesa GL hari hariku jadi sepi Aku begitu ketagihan dengan permainan sex Ibu Mertuaku aku rindu jeritan jeritan joroknya, saat orgasme sedang melandanya.

Pertengahan juni lalu Ibu mertuaku menelponku ke kantor, aku begitu gembira sekali Kami berdua sudah sama sama saling merindukan, untuk mengulangi persetubuhan kami, tapi yang paling membuatku kaget adalah saat Ibu mertuaku memberikan kabar, kalau beliau terlambat datang bulan dan setelah diperiksa ke dokter, Ibu mertuaku positip hamil. Aku kaget sekali, aku pikir, Ibu Mertuaku sudah tidak bisa hamil lagi.

Aku minta kepada Ibu mertuaku, agar benih yang ada dalam kandungannya dijadikan saja, namun Ibu mertuaku menolaknya, Ibu mertuaku bilang itu sama saja dengan bunuh diri, karena suaminya sudah lama tidak pernah lagi menggaulinya, tetapi masih bisa hamil. Baru aku tersadar, yah kalau Bapak mertuaku tahu istrinya hamil, pasti Bapak mertuaku marah besar apalagi jika Bapak mertuaku tahu kalau yang menghamili istrinya adalah menantunya sendiri.

Juga atas saran Dokter, menurut dokter di usianya yang sekarang ini, sangat riskan sekali bagi Ibu mertuaku untuk hamil atau memiliki anak lagi, jadi Ibu mertuaku memutuskan untuk mengambil tindakan.

"Bu, apa perlu aku datang ke desa Gl?"
Ibu mertuaku melarang, "Tidak usah sayang nanti malah bikin Bapak curiga, lagipula ini hanya operasi kecil".
Setelah aku yakin bahwa Ibu mertuaku tidak perlu ditemani, otak jorokku langsung terbayang tubuh telanjang Ibu mertuaku.
"Bu aku kangen sekali sama Ibu, aku kepengen banget nih Bu"
"Iya Mas, Ibu juga kangen sama Mas Pento. Tunggu ya sayang, setelah masalah ini selesai, akhir bulan Ibu datang. Mas Pento boleh entotin Ibu sepuasnya".

Sebelum kuakhiri percakapan, aku bilang sama Ibu mertuaku agar jangan sampai hamil lagi, Ibu mertuaku hanya tersenyum dan berkata kalau dia kecolongan. Gila.., hubungan gelap antara aku dengan Ibu mertuaku menghasilkan benih yang mendekam di rahim Ibu mertuaku, aku sangat bingung sekali.

Saat aku sedang asyik asyiknya melamun memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Ibu mertuaku, aku dikagetkan oleh suara dering telepon dimejaku.
"Hallo, selamat pagi".
"Pento kamu tolong ke ruang Ibu sebentar".

Ternyata Bos besar yang memanggil, akupun beranjak dari tempat dudukku dan bergegas menuju rangan Ibu Mila. Ibu Mila, wanita setengah baya, yang sudah menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun payung di Sawangan. Aku taksir, usia Ibu Mila kurang lebih 45 tahun, Ibu Mila seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun namun Ibu Mila tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Ibu Mila agak gemuk.

"Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya".
"Oh nggak.., Ibu cuma mau Tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan sama Bp. Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?".
"Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya serahkan, biar tidak ada kesalahan". Jawabku.
"Oh.. ya.. sudah kalau begitu, Kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?". Tanya Ibu Mila.
"Oh nggak Bu Saya tidak apa-apa".
"Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti malah tambah parah penyakit mu".
"Ah.. nggak apa-apa Bu saya sehat kok". Jawabku.
Saat aku hendak meninggalkan ruangan Ibu Mila, aku sangat terkejut sekali, saat Ibu Mila berkata, "Makanya kalau selingkuh hati hati dong Pen Jangan terlalu berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil".

Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali, aku sungguh-sungguh mendapatkan malu yang luar biasa.
"Dari mana Ibu tahu?" tanyaku dengan suara yang terbata bata.
"Maaf Pen Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon kamu kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu. Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu sendiri".

Aku marah sekali, tapi apa daya Ibu Mila adalah atasanku, selain itu Ibu Mila adalah saudara sepupu dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja, bisa bisa malah aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah
"Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu"
"Terima kasih Bu", jawabku lirih sambil menundukkan mukaku
"Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu bicarakan dengan kamu, OK".
"Tentang apa Bu?" tanyaku.
"Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu dan jangan menolak" pintanya tegas.

Akupun keluar dari ruangan Ibu Mila dengan perasaan tidak karuan, aku marah atas perbuatan Ibu Mila yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu mertuaku diketahui oleh orang lain.
"Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya", Tanya Wilman sohibku.
"Ah, nggak ada apa apa Wil Aku lagi capek aja".
"Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu".
"Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Ibu Mila denger mati kamu".

Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku Aku hanya melamun dan memikirkan Ibu mertuaku, kasihan sekali beliau harus dikuret sendirian, terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertuaku kekasihku, rasanya aku ingin terbang ke desa GL dan menemani Ibu mertuaku, tapi apa daya Ibu mertuaku melarangku. Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Ibu Mila, dan aku harus menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertuaku, uh.. rasanya mau meledak dada ini

Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima. Ya aku hanya bisa pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.

"Kring.. ", kuangkat telepon di meja kerjaku.
"Gimana? Sudah siap", Tanya Ibu Mila.
"Ya Bu saya siap".
"Ya sudah kamu jalan duluan tunggu Ibu di ATM BNI pemuda".
Ternyata Ibu Mila tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain. Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni, dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku, akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti biasanya.

Kurang lebih lima belas menit aku menunggu Ibu Mila, tapi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, saat kesabaranku hampir habis kulihat mobil Mercedes hitam milik Ibu Mila masuk ke halaman dan parkir. Ibu Mila pun turun dari mobil dan berjalan kearah ATM.

"Hi.. Pento ngapain kamu disini?", sapa Ibu Mila.
Aku jadi bingung, namun Ibu Mila mengedipkan matanya, akupun mengerti maksud Ibu Mila, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang sedang antri mengambil uang.
"Oh nggak Bu, saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga", sahutku.
Ibu Milapun bergabung antri di depan ATM.
"Gimana, temenmu belum datang juga?" Saat Ibu Mila keluar dari ruang ATM.
"Belum Bu".
"Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah".
Aku pun berjalan kearah mobil Ibu Mila, aku duduk di depan disamping supir pribadi Ibu Mila sementara Ibu Mila sendiri duduk dibangku belakang.
"Ayo, Pak Bari kita pulang"
"Iya Nya.. ", sahut Pak bari
"Untung aku ketemu kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman temanmu kamu udah pulang".
Uh.. batinku Ibu Mila mulai bersandiwara lagi.
"Memangnya ada apa Ibu mencari saya?".
"Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu OK".

Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai sampai aku tidak tahu kalau aku sudah sampai dirumah Ibu Mila.
"Ayo masuk", ajak Ibu mia.
Aku sungguh terkagum kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan megah. Aku dan Ibu Mila pun masuk kerumahnya semakin kedalam aku semakin bertambah kagum melihat isi rumah Ibu Mila yang begitu antik dan mewah.

"Selamat sore Nya",
"Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar Bapak Pento bekerja disana".
"Baik Nya".
Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem pembantu di rumah Ibu Mila.
"Silakan Den, ini kamarnya".
Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem. Sebuah kamar yang besar dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar.

"Kring.., kring.. ", kuangkat telepon yang menempel di dinding.
"Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut".
"Oh.. iya Bu terimakasih".
Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.

Sudah hampir jam tujuh malam tapi Ibu Mila belum muncul juga, yang ada malah Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku. Saat aku sedang asyik menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan kulihat ternyata Ibu Mila yang masuk, aku benar benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Ibu Mila tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Ibu Mila datang menghampiri dan ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Ibu Mila, walaupun gendut tapi Ibu Mila tetap cantik.

Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku Ibu Mila berkata kepadaku, "Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua pakaian yang kamu kenakan".
"Tapi Bu", protesku.
"Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu".
Aku benar benar sudah tidak punya pilihan lagi, kulepas kaos yang kukenakan, kulepas juga celana pendek berikut CD ku, aku telanjang bulat sudah. Karena malu kututup kontolku dengan kedua tanganku.
"Sial!", makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Ibu Mila saat itu.
"Lepas tanganmu Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu", bentak Ibu Mila.
"Mm.., lumayan juga kontolmu".
Malu sekali aku mendengar komentar Ibu Mila tentang ukuran kontolku, yang ukurannya hanya standar Indonesia.
"Nah, sekarang ceritakan semuanya".

Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Ibu Mertuaku, mau tidak mau burungkupun bangun dan tegak berdiri, karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami. Kulihat Ibu Mila mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Ibu Mila menarik napas panjang. Tiba tiba Ibu Mila bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang dia kenakan, aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling berpengaruh dikantorku, sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku. Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Ibu Mila membuat jakunku turun naik.

"Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu", bentaknya lagi.
"Baik Bu", akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Ibu Mila menghampiri dan membuka kakiku kemudian mengelus elus dan mengocok ngocok kontolku, aku sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.
"Ahh.. ", jeritku tertahan saat mulut Ibu Mila mulai mengulum kontolku.
"Ahh.. Bu.., nikmat sekali".
Kuangkat kepala Ibu Mila, kamipun berciuman dengan liarnya, kupeluk tubuh gendut bossku.
"Bu.. kita pindah keranjang saja", pintaku,
Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang. Kurebahkan tubuh Ibu Mila, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami.
"Ahh.. ", Jerit Ibu Mila saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya.
"Uhh Pento.. enak.. sayang".
Ketelusuri tubuh Ibu Mila dan jilatan lidahkupun menuju memek Ibu Mila yang licin tanpa sehelai rambutpun. Kuhisap memek Ibu Mila dan kujilati seluruh lendir yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Ibu Mila sudah sangat terangsang mendengar ceritaku.
"Ahh", jerit Ibu Mila saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku yang satu lagi meremas-remas teteknya.

Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai orgasmenya, aku makin beringas lidahku terus menjilati memek Ibu Mila yang sedang dikocok kocok dua jari tanganku. Usahaku berhasil, Ibu Mila memohon agar aku segera memasukan kontolku le lubang memeknya, tapi aku tidak mengindahkan keinginannya, kupercepat kocokan jari tanganku dilubang memek Ibu Mila, tubuh Ibu Milapun makin menegang.
"Aaarrgghh.. Pento", jerit Ibu Mila tubuhnya melenting, kakinya menjepit kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya,

Aku puas sekali melihat kondisi Ibu Mila, seperti orang yang kehabisan napas, matanya terpejam, kubiarkan Ibu Mila menikmati sisa sisa orgasmenya. Kucumbu kembali Ibu Mila kujilati teteknya, kumasukan lagi dua jariku kedalam memek nya yang sudah sangat basah.
"Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu", pintanya.
Aku tidak memperdulikan permintaannya, kubalik tubuh telentangnya, tubuh Ibu Mila tengkurap kini.
"Jangan.. dulu Pen.. too.. Ibu lemas sekali".
Aku angkat tubuh tengkurapnya, Ibu Mila pasrah dalam posisi nungging. Matanya masih terpejam. Kugesek gesekan kontolku kelubang memek Ibu Mila. Kutekan dengan keras dan.. Bless masuk semua batang kontolku tertelan lubang nikmat memek Ibu Mila.
"Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat".
Akupun mulai mengeluar masukan kontolku ke lubang memek Ibu Mila, orang yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku. Aku puas sekali, kupompa dengan cepat keluar masuknya kontoku di lubang memek Ibu Mila, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Ibu Mila dengan tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku.

"Uhh.. ", jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut.
Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku. Kupompa dengan cepat kontolku, Ibu Milapun makin belingsatan kepalanya bergerak kekiri dan kekanan.
"Ahh Ibu.. aku mau.. keluar.. ".
Dan cret.. cret, muncrat sudah spermaku masuk kedalam Memek dan rahim Ibu Mila, beberapa detik kemudian Ibu Mila pun menyusul mendapatkan orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Ibu Mila tidak peduli apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.

Ibu Mila rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk tubuh gendut Ibu Mila. Nikmat sekali.., Orgasme yang baru saja kami raih bersamaan, kulihat Ibu Mila sudah lelap tertidur, dari celah belahan memek Ibu Mila, air manyku masih mengalir, aku benar benar puas karena orang yang telah melecehkanku sudah kubuat KO. Kuciumi kembali tubuh Ibu Mila, kontolkupun tegak kembali, ku balik tubuh Ibu Mila agar telentang, kuangkat dan kukangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Ibu Mila.
"Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang", Lirih sekali suara Ibu Mila.

Aku sudah tidak peduli, langsung kutancapkan kontolku ke lubang nikmat Ibu Mila, Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Mila terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku, rasanya saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan Ibu Mila hanya memejamkan matanya. Kukocok dengan cepat dan keras keluar masuknya kontolku di lubang memek Ibu Mila.., dan langsung ku cabut kontolku dan kumuncratkan air maniku diatas perut Ibu Mila.

Karena lelah akupun tertidur sisamping tubuh telanjang Ibu Mila, sambil kupeluk tubuhnya, saat aku terbangun kulihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, buru buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan mengenakan pakaian kerjaku.
"Bu.. Bu.. Mila bangun Bu.. ".
Akhirnya dengan malas Ibu Mila membuka matanya.
"Sudah malam Bu saya mau pulang".
"Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi".
Ibu Milapun bangkit mengenakan pakaiannya, kami berdua berjalan keluar kamar.
"Tunggu sebentar ya Pento, kemudian Ibu Mila masuk kekamarnya, beberapa saat kemudian Ibu Mila keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang menawan.
"Ini untuk kamu".
"Apa ini Bu?", Tanyaku, saat Ibu Mila menyodorkan sebuah amplop kepadaku.
Aku menolak pemberian Ibu Mila, namun Ibu Mila terus memaksaku untuk menerimanya. Terrpaksa kukantongi amplop yang diberikan Ibu Mila lalu kembali kami berciuman dengan mesranya.

Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja bersetubuh dengan Ibu Mila. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku benar benar menikmatinya.

Tamat

Aku Surti, masih muda, seorang istri dari suami yang sangat kucintai. Tetapi aku punya obsesi yang terus terang (sebagai istri menjadi kurang ajar dan tidak tahu diri) yang belum pernah terpenuhi hingga saat ini. Aku ingin seorang lelaki di luar suamiku, lelaki yang macam gimana tidak penting, tetapi penisnya besar dengan tubuhnya yang berotot. Aku ingin tidur dengannya. Itu obsesiku, hingga pada suatu sampai kejadian itu terjadi.

Karena ada sesuatu urusan, suamiku harus pergi ke Malang untuk 5 hari termasuk perjalanan. Aku tidak dapat ikut karena kebetulan ada perbaikan rumah, menambah ruang untuk gudang dan aku bertanggung jawab agar semuanya dapat berjalan sesuai rencana, termasuk mengawasi pekerjaan para tukangnya.

Setiap hari kusiapkan minuman dan makanan kecil untuk 3 orang tukang batu dan kayu. Mandornya Saridjo orang Tegal. Kebetulan Saridjo, kira-kira berumur 45 tahun, orangnya cekatan dan rajin. Dan kebetulan juga tanpa kusadari sebelumnya, orangnya besar dan berotot. Dengan kulitnya yang kehitaman, Saridjo bekerja ditimpa panas matahari dari pagi hingga sore hari. Oleh karenanya dia selalu hanya pakai celana kolor pendek dan kaos singlet untuk membungkus tubuhnya, agar mengurangi gerahnya selama bekerja.

Sore itu kira-kira pukul 15.00 pekerjaanku telah selesai, sehingga aku dapat sedikit beristirahat di kamar tidurku. Sementara itu para tukang di bawah mandor Kang Saridjo, bekerja di luar nampak dari jendela kamarku tanpa aku khawatir mereka dapat melihatku tergolek di tempat tidur karena memang demikian adanya. Pandangan dari luar sulit menjangkau ke dalam dengan adanya kaca pada jendela yang membuat silau.

Kuperhatikan Saridjo, setiap kali dia membungkuk mengambil semen untuk ditemplokkan ke dinding. Badannya basah mengkilat penuh keringat. Sebentar-sebentar tangannya menyeka keringatnya itu.
Ahh.., badan itu.. celana pendek dan ketat itu..
Obsesiku tiba-tiba menyeruak timbul dan jantungku berdegup keras.

Kepergian suamiku telah 3 hari, aku memang merasa mulai sepi. Dan 2 hari lagi suamiku akan sampai di rumah kembali. Ya, 2 hari lagi. Sementara di luar jendela ada lelaki berotot mengkilat penuh keringat sangat sesuai dengan obsesiku selama ini. Bagaimana bau keringatnya itu..? Ketiaknya..? Atau selangkangannya..? Aku tertegun. Ada rangsangan yang menyelusuri tubuhku dan mendesak kesadaran untuk meninggalkan ingatan pada suami. Aku terdorong untuk mengambil kesempatan yang tersisa 2 hari ini. Inilah kesempatan mewujudkan obsesiku, impian mengenai lelaki lain untuk teman tidurku.

Tiba-tiba kulihat tukang-tukang di luar beres-beres sebagai tanda selesainya jam kerja hari itu. Biasanya mereka membersihkan badan dan mandi sebelum pulang. Dan pikiranku berjalan cepat seperti kilat, jantungku berdegup semakin keras hingga terdengar dari telingaku. Aku gemetar, sejenis gemetar yang nikmat. Ahh.. ooh..

Aku keluar kamar dan, "Kang Saridjo sebelum pulang tolong saya sebentar..!"
"Ya, Bu.., apa Bu..? Saya mandi dulu sebentar."
"Nanti dulu.. Biar temennya saja mandi dulu, Kang Saridjo bantuin saya.. Sedikit koq..!"
Demikian peristiwa itu berjalan cepat. Aku menahan Kang Saridjo yang masih bau keringat untuk membantuku melakukan sesuatu yang dia belum tahu. Pokoknya aku harus dapat menahannya.

Aku pura-pura sibuk membongkar lemari dan menurunkan apa saja yang ada di dalamnya.
"Ini Kang banyak kecoaknya, tolong bantu dikeluar-keluarin dulu, saya mau ganti alasnya."
Dia mulai ikut membongkar isi lemari.
"Apa lagi, Bu..?"
"Ya, itu.. Ambil koran yang bersih.. eehh.., disapu dulu baru diganti alas korannya.." aku memberi tugas dan bersambung tugas hingga teman-temannya siap untuk pulang.

Aku berbisik, "Suruh mereka duluan..!" suatu omongan yang provokatif penuh menimbulkan tanda tanya bagi Kang Saridjo tentunya.
Dia melihat ke arah wajahku, dan aku berkedip sebelah mata. Dia senyum.., sepertinya mengerti.Aku sudah semakin nekat.
"Pulang duluan, geeh..! Aku masih bantuin Ibu, nih..!" katanya menyuruh teman-temannya pulang.
Aku tidak sabar dan semakin panas dingin.

Lima menit kemudian, kuperkirakan teman-teman Kang Saridjo sudah agak jauh. Intuisi dan reflek-reflekku mengalir. Dari sebelah dinding aku mengangkat bundelan buku dan aku menjatuhkan diri.
"Aduh.. duh.. duhh, achh.. Kakiku kesleo..!"
Buru-buru Kang Saridjo bangun menghampiriku, "Kenapa, Bu..?"
"Ini, nyandung buku.." aku menyalahkan buku sambil, "Aduuhh.. aacchh..!" dan mengurut-urut betisku.

"Tolong Kang..!" tanganku menggapai tangan Kang Saridjo, itu pertama kali aku menyentuhnya.
"Ibu istirahat saja.. Biar saya saja yang beberes.."
"Yaa.., tuntun aku ke kamar tidur..!" pintaku sambil terpincang-pincang memegangi betisku.
Kang Saridjo memapahku. Tangan dan bahuku menyentuh badannya yang masih lengket karena keringat. Saat itu sempat aku juga mencium bau badan Saridjo. Ooohh.. bau lelaki.

Aku kemudian telungkup berbaring di kasur.
"Tolong urut sini dong, Kang..!"
Mungkin dia menjadi bengong tetapi aku masa bodo, pura-pura tidak melihat, dan bergaya masalah demikian biasa, minta tolong karena kesakitan.

Dia mulai mengurut-urut betisku.
"Acch.. Oocchh.. Aaacchh..!"
"Sakit Bu..?"
"Ya.. iya to, kamu ini gimana sih..? Terus urut pelan-pelan..!"
Aacchh.., telapak tangannya yang kasar. Tapak tangan kuli, yang pada saat begini berubah menjadi tangan kasar penuh rangsangan.

Aku yang setengah tengkurap di kasur menggeliat-geliat pura-pura kesakitan.
"Hhaacch.. hacchh.. eecchh.." begitu aku merintih-rintih, makin membuat Kang Saridjo bingung tentunya.

Tangan Kang Saridjo terus mengurut-urut betisku dengan hati-hati. Sekali lagi reflek dan intuisiku mengalir. Rintihanku kusertai geliat tubuh. Terkadang pantatku yang mulus kuangkat, seakan dalam menahan sakit. Tetapi sementara itu rintihan yang keluar dari mulutku kusertai pula dengan meremas-remas bantal. Tentu ini menjadi pemandangan yang sangat erotis dan menggoda bagi lelaki. Dan Kang Saridjo, seperti yang kurasakan tidak banyak bertanya lagi, terus mengurut-urut betisku.

Makin lama rintihanku berubah nada, menjadi desahan. Aku tidak merintih sekarang. Aku mendesah sambil tanganku terus meremas-remas apa saja dengan maksud demonstratif agar didengar dan disaksikan Kang Saridjo. Dan.., rasanya ada hasil. Tangan Kang Saridjo terus mengurut lebih naik lagi hampir pada lipatan dengkulku. Kubiarkan dengan terus mendesah-desah secara erotis. Ya, erotis.

"Ahh.. aacchh..! Terus Kang, enaakk..! Ennaak Kangg..!" desahku lagi.
Tentu efeknya pada Kang Saridjo seperti pisau bermata dua. Enak apanya..? Enak bagaimana..? Sakitnya baikan atau..? Aku tidak perduli dan naluriku terus berjalan untuk membangkitan emosi Kang Saridjo.

Dan ketika tangan Kang Saridjo kurasakan makin berani ke atas hingga menyentuh ujung pahaku, aku sudah yakin, Kang Saridjo sudah masuk perangkapku. Aku terus mendesah-desah sambil meremas-remas apa saja. Ya bantal, kain sprei, selimut, yang kemudian bahkan kupeluki guling sementara pantatku bergoyang naik turun sebagaimana orang menahan sakit. Dan ketika tangan Kang Saridjo yang kasar itu meremas pahaku, darahku berdesir sangat kuat, jantungku berdegup, mataku mulai kabur. Yang kurasakan hanya kenikmatan sentuhan Kang Saridjo yang demikian kutunggu.

Kudorong lagi keberaniannya dengan desahan dan rintihan erotis.
"Yaa.. aacchh.. ennaakk.., terus Kang..! Yaahh..!"
Dan tangan Kang Saridjo tidak lagi menunjukkan keragu-raguan.

Ketika akhirnya jari-jari tangannya yang kasar dan kaku benar-benar menyentuh bibir vaginaku, aku tahu bahwa Kang Saridjo benar-benar telah siap memegang kendali untuk mengajakku menuju kenikmatan dahsyat yang akan sama-sama kami alami. Aku bergelinjang hebat saat jari tangannya menyibak CD dan merengkuh bibir kemaluanku yang sejak tadi telah membasah karena birahi. Aku mulai benar-benar merintih karena nikmat yang menerpaku.

Seluruh tubuhku menggelinjang. Vaginaku banjir oleh cairan birahi. Pantatku kuangkat sedikit naik untuk memberi kesempatan tangan Kang Saridjo leluasa meremasi kemaluanku. Ternyata perkembangan ini disergap cepat oleh Kang Saridjo.
"Oohh.., Bu.. Aku nggak tahan, Bu..!""Aachh.. eecchh.." jawabanku hanya rintihan dan desahan yang penuh kehausan dan kebuasan atau keliaran.
Begitu juga Kang Saridjo, keliarannya langsung muncul tidak dapat lagi terbendung.

Rokku disibakkan hingga seluruh paha dan pantatku terbuka. Badannya menindihku dan wajahnya langsung menubrukku, dan bibirnya langsung menyedot dan menjilati paha dan pantatku, sementara tangan kanannya meneruskan meremasi vaginaku. Tangan kirinya menyelusup ke bawah blus meraih buah dadaku, meremasinya dan mempermainkan puting susuku. Woowww.. Dahsyat..! Belum pernah aku merasakan gelinjang senikmat ini selama masa perkawinanku.

Bau badan dan kelaki-lakian Kang Saridjo itu yang membuat segalanya menjadi bergolak terbakar sangat dahsyat. Dia mulai mengerang seperti singa yang lapar. Kemudian dengan tangannya yang kekar, tubuhku dibalikkannya hingga telentang. Tiba-tiba tangan-tangannya meruyak dan merobek-robek rokku. Aku sangat kaget dan serem dengan adanya kejadian itu. Sesaat aku tersadar, tetapi keburu mulutku disumpal dengan lidahnya yang dengan menggila menghisapi lidah dan ludah di mulutku.

Untuk sesaat birahiku mau lenyap. Kecewa, marah, takut, seram, panik campur aduk, tetapi ternyata itu hanya sesaat. Sebuah sensasi erotik tiba-tiba menggelegak melalui darahku. Kekasaran itu menjadi berubah menjadi sensasi birahi yang dahsyat bagiku, melengkapi obsesiku mengenai seorang lelaki berotot untuk meniduriku. Aku sepertinya hendak diperkosanya. Aku harus melayani nafsu singa lapar.

Tangan-tangan yang meruyak ke atas dan merobek-robek rokku telah menemukan sasarannya. Susu-susuku diremasinya. Tubuhnya yang entah berapa beratnya menindihku. Susuku dicemolinya. Digigiti, dihisap-hisap. Wajahnya membenam ke dada dan ketiakku, lidahnya menjilat, bibirnya menyedot dan menggigiti ketiakku.
"Ohh.. Kang Saridjo jangan lepaskan.. aahh..! Teruuss. Djoo.. nikmatnya akan selalu terukir di hatiku.. Djoo..!"

Bersambung . . . . .

Rasanya berjam-jam dia melumpuhkanku. Dan aku menikmati dalam kepasrahan. Aku menikmati sebagai orang taklukkan. Ya, aku takluk kepadamu Djo.
"Kang.., aku nggak tahan Kang..!" erangku dalam kenikmatan.
Dan Kang Saridjo semakin menggila. Ketiakku pedih. Berikutnya wajahnya dari ketiak dan susuku turun ke perut, kemudian pinggul. Kecupan, sedotan dan jilatan terus bertubi mengiringinya membuat aku seperti kesetanan.

Sambil terus bergeser bibirnya turun ke perut, turun ke selangkangan, turun dan.. woohh.. Dengan giginya ditariknya dan robek lagi CD-ku. Aahh.., sungguh kekasaran yang nikmat dalam badai birahiku.

Lidah itu.., lidah Kang Saridjo menyentuhi bibir-bibir vaginaku. Lidahnya yang ternyata juga kasar (mungkin lidah kuli pula) seperti amplas menjilati klitoris terus ke lubang vaginaku. "Lidahmu itu.. Djo.. kenapa kamu terus menusuki lubang vaginaku Djoo. Ampuunn..!"
Aku merasakan kegatalan yang dahsyat dari lubang vaginaku. Pantatku menjadi menggelinjang naik turun tidak karuan. Kuterkam kepalanya. Kutekan wajahnya ke selangkanganku, ke lubang kemaluanku, rambutnya kujambak-jambak dan remasi sebagai pelampiasan kegatalan vagina. Kucabut-cabut rambutnya. Emosiku sangat galau.

Kegatalan itu sangat memuncak. Kegatalan itu membuatku hilang kesadaran akan sekeliling. Aku berteriak.., mengaduh-aduh menghadapi kenikmatan tidak terhingga. Dan Kang Saridjo tahu, aku tidak mau berhenti.
"Aku.. orgasmee.. ohh.. orgasme.. ohh..!"
Sangat jarang kudapatkan orgasme.

Aku menjadi sangat haus. Mulutku kering. Tenggorokanku kering.. Hauss.. tolong.. Ooohh.. hausnya.. Sementara itu Kang Saridjo masih terus menjilati kemaluanku. Seluruh cairan dari vaginaku dijilatinya dan diminumnya. Dan membayangkan hal itu membuat birahiku tidak luruh karena orgasme tadi. Dasar kemaluan yang selalu gatal. Milikku, vaginaku, kemaluanku belum terpuaskan juga. Seluruh peristiwa ini sangat sensasional hingga hausku menerjang lagi.

Kutarik dia ke atas, mulutku mencari sasaran. Mulut Kang Saridjo serasa ingin kukunyah. Bibirnya yang tebal kugigit keras hingga dia mengaduh. Aku sudah hanyut dalam nafsu hewaniah. Indraku tidak lagi berfungsi, pandangan kabur, telinga tersumpal. Yang kurasakan hanya gelinjang pada pori-pori di seluruh permukaan kulitku, di paha, di perut, di payudara dan puting-putingnya.

Kali ini Kang Saridjo memitingku, ototnya yang kuat menjepitku hingga sesak nafasku. Ada sedikit celah di antara ketiaknya. Aku dapat sedikit bernafas dan sekaligus menggigiti bahu, dada dan menjilati ketiaknya yang menebar bau kejantanannya itu.

Ternyata tanpa setahuku Kang Saridjo sendiri sudah telanjang bulat. Terasa ada sodokan-sodokan menimpa perutku dan kemudian turun ke selangkanganku dan mengarah ke lubang kemaluanku. Sodokkan itu seirama dengan naik turunnya pantat Kang Saridjo yang menindih seluruh tubuhku. Gerakkan memompa. Batang kejantanannya yang kurasakan panas dan bebal mengubek-ubek bibir kemaluanku yang 'mekrok' minta penis besar Kang Saridjo lekas menyuntiknya. Aku mulai menggoyang pantat untuk membantu kehausan dan kegatalan kemaluanku agar dapat selekasnya melahap batang kemaluan Kang Saridjo.

Terasa 'helm' penis Kang Saridjo seperti palu godam yang menonjok-nonjok untuk menghancurkan lubang sempit bibir vaginaku. Sesungguhnya bukan lubang itu sempit, tetapi nafsu birahilah yang membuat otot-otot bibir vagina mencengkeram dahsyat dan sulit untuk ditembus.
"Kasih ludah Kang..!" dengan penuh nafsu kusarankan Kang Saridjo agar selekasnya memasukkan meriamnya ke lubangku.
Dan kemudian, bless.. bless.. bless.. bless.., sungguh sempurna. Batang kejantanan itu telah mendapatkan sarangnya.

Aku bergoyang, Kang Saridjo memompa. Pelan.. bless.. Vaginaku menangkap dengan lahap senti demi senti batang kemaluan Kang Saridjo.
"Aacchh.. nikmatnyaa.. hoh.. Djoo.. Kang Djoo..!" aku terus meracau tidak tahan menanggung nikmat.
Kuku-kuku jariku menghunjam ke bahu Kang Saridjo, nafsuku benar-benar meledak tidak terkendali. Kerongkonganku kering dan terus terasa semakin kering."Djoo.., tolong.. Kang.. Ludahmu Kang.. Ludahmu Kang..! Aku mau ludahmu.. Tolong ludahmu Kang..! Ludahi aku.. ludahi mulutku.. ludahmu Kang.. Ludahi mulutku..! Aayyoo.. Kang aku hauss.." aku demikian ingin Saridjo meludahiku, meludahi mulutku, membuang ludahnya ke mulutku.
Ooohh.., bukankah aku telah menjadi taklukannya. Aku menjadi budaknya.. kan..?

"Ayoo Kang..! Ludahmu Kang..!" aku terus meracau.
Kang SariDjo heran, kenapa aku dapat menjadi begini. Tetapi kemudian melalui bibir tebalnya Kang Saridjo membuang ludah yang terkumpul di mulutnya ke mulutku. Aahh.. Kukenyam-kenyam kemudian kutelan. Kang Saridjo terus meludahi mulutku. Setiap kali dia mengumpulkan ludahnya dan membuang ke mulutku, birahiku semakin menggila.

Dan di bawah sana, batang kejantanan besar milik Kang Saridjo terus menghantam kemaluanku tanpa ampun. Genjotannya semakin kencang, semakin menghunjam, semakin dalam. Kegatalan kemaluanku juga semakin bertambah, hingga pantatku naik-naik seakan mengejar ujung batang kemaluannya untuk lebih dalam meruyak ke pintu rahimku.

Berkali-kali aku telah orgasme. Kemaluanku membanjir. Kalau kemaluan suamiku pasti sudah 'blonyoh' ngoplok-oplok, tetapi batang kejantanan besar milik Kang Saridjo tetap sesak dalam vaginaku. Aku yakin karena ukurannya yang besar itu. Dan itu pula yang membuat birahiku tidak padam-padam.

Kang Saridjo memang hebat. Terbukti pada saat mengayunkan pantatnya, tonjolan otot-otot pada lengannya keluar. Kulitnya yang mengkilat oleh keringat berminyak memperjelas anatomi tubuhnya. Setelah satu jam kami berasyik masyuk, Kang Saridjo sama sekali tidak menunjukkan kelelahan. Seakan kandungan energinya tidak terbatas. Mulutnya, lidahnya, tangannya, pantatnya hingga batang kejantanannya semua aktif belum sesaat pun istirahat. Usianya yang 45 tahun bukan menjadi hambatan, walaupun melayaniku yang jauh lebih muda.

Seperti saat ini, tembakkan batang kejantanannya pada vaginaku terus mencecar. Makin cepat dan dalam. Aku sendiri di antara rasa nikmat yang memang terus datang, sudah merasa payah. Udara kamar yang panas menambah rasa lelah tadi.
"Acchh.. uuhh.. oohh.. aacchh..!" kembali aku mendapatkan orgasmeku, kemaluanku makin banjir.Begitu bervariasi bunyi batang kejantanan dan kemaluanku yang saling interaksi, dan aku merasakan lelahnya. Aku ingin berhenti sebentar. Kudorong tubuh Kang Saridjo.
"Capee, Kang..!" kataku.

Tetapi kebuasan Kang Saridjo belum menunjukkan keredaan. Batang kejantanannya keluar masuk kemaluanku semakin cepat. Dia memiringkan tubuhku ke kanan. Kaki kiriku diangkatnya hingga membuat celah pahaku menjadi lebih luas. Batang kejantanannya jadi masuk lebih menghunjam lagi. Ahh.. enaknyaa.. Tetapi badanku tetap terasa lelah dan gairahku menurun.
"Capai, Kang..! Istirahat dulu.. Ahh..!"

Kali ini kupikir dia mengerti. Dia mencabut batang kejantanannya dari kemaluanku, dan dia menaruh bantal pada dinding dan diangkatnya aku untuk bersandar pada bantal tersebut. Jadi sekarang kepalaku lebih terangkat dan dapat menyender di dinding. Sepertinya memang aku disuruh istirahat dulu. Tetapi, diluar dugaanku, Kang Saridjo yang telanjang berdiri di tempat tidur, dengan batang kejantanannya yang tetap mengkilat, tegak dan kaku mengangkangiku, menghampiriku dan dengan setengah berjongkok, mengasongkan miliknya ke wajahku. Dia sentuhkan kepala penisnya ke bibir-bibirku.

"Isep, Bu.. Ayoo.. isep..!"
Aku belum lagi siap, kan..? Kutolak karena memang ingin berhenti dulu, tetapi.., "Ayoo, Bu..!Iseepp..! Saya nggak tahan lagi, nihh.., saya mau Ibu ngisep-isep, menjilat-jilat dan nanti minum pejuhnya.. Saya mau muncrat di mulut Ibu. Dan Ibu harus telan semua pejuh saya. Ayoo..!" katanya sambil tangannya meraih kepalaku mendekatkannya ke arah batang kejantanannya.

Ahh.., penaklukku benar-benar, nihh.. Dan aku heran, sensasi itu justru datang lagi. Gairah dan birahiku tiba-tiba menggelegak lagi. Nada omongan Kang Saridjo tadi seperti sihir. Seorang tuan yang menginjak-injak harga diri budaknya karena itu memang hak dia. Dan aku adalah budak yang boleh diapakan saja. Dan aku harus patuh, tanpa pilihan. Sihir itu betul-betul meluluhkan tetapi bukan melumpuhkan.

Karena sihir itu, tenagaku seakan pulih dan hadir lagi dengan birahi yang penuh. Kuraih batang kejantanan itu. Dalam genggamanku kuperhatikan kepalanya besar dan padat seperti jamur, dan terlihat mengkilat. Hoohh.., indahnya.

Belahan lubang kencingnya besar, seakan menyobek tepat di tengah seperti jamur yang merekah. Sangat menantangku. Woow.., sejak tadi aku memang belum secara langsung melihatnya. Kuelus kepala itu sesaat dan kemudian kedekatkan bibirku, lidahku. Hidungku menghirup aroma jantan dari kelamin Kang Saridjo. Dan lidahku mulai menjilat. Kujilat lubang kencingnya. Asin. Kujilati tepi-tepiannya. Kang Saridjo melenguh.

Lenguhan yang begitu nikmat merasuk ke telingaku.
"Kang.. apapun maumu. Aku budakmu Kang aacchh..!" desahku.
Kemudian batang kejantanannya mulai kukulum. Lahap seperti makan es mambo, setiap jilatan dan kuluman disertai bunyi. Aduuhh, sangat erotis.. eksotis.. Tidak pernah kudapatkan sebelumnya. Bahkan dengan suamiku pun tidak sejauh ini. Edan.

Rupanya cara ini yang akhirnya merontokkan pertahanan Kang Saridjo. Tidak terlalu lama, akhirnya dia mencapai pencak kenikmatannya dibarengi dengan rintihan, erangan dan racauan tidak karuanan yang keluar dari mulutnya.
"Bu.., budakku.., caboku.. uuhh.., isep teruuss..! Caboku.. Aku mau keluaarr.. Sayangku pelacurku.. zinahku.. cabokuu.. (gila, aneh, dampratan, makian, hinaan yang sangat merendahkan dan tidak terbayangkan olehku untuk seumur hidupku itu sekali lagi justru sangat memacu birahiku, nafsuku bergejolak) Ooohh.. oohh.. achh, Bu.. Aku keluar.., telenn..! Minum pejuhku..! Telen niihh..!" katanya sambil menekan kepalaku ke arah selangkangannya hingga aku gelagapan.

Ber'liter-liter' Kang Saridjo menyemprotkan spermanya ke mulutku. Hangat.., muncrat-muncrat memenuhi rongga mulutku. Kukecap-kecapi sebelum aku mulai menelannya (pada suamiku aku tidak akan mau begini, jijik, hii..!). Tapi sperma Kang Saridjo telah membasahi tenggorokkanku. Masih kuperas-peras batang kejantanannya hingga tidak ada yang tersisa.

Kujilati batang-batangnya hingga bersih. Rasanya sayang ada satu tetes pun yang tercecer. Terakhir, kulihat pula ada cipratan-cipratan sperma di bulu kemaluannya dan selangkangannya. Kudorong Kang Saridjo telentang, dengan lidahku kuhisap semuanya hingga benar-benar bersih. Ada banjir di kemaluanku dan gatal. Aku ingin disenggamai lagi.

Sementara itu Kang Saridjo jatuh lunglai. Keringatnya mengucur dari seluruh tubuhnya. Tangannya terentang mencari angin. Dan ketiaknya yang penuh bulu terbuka. Pelan-pelan kedekati, kubenamkan mulutku di ketiak itu. Hidungku menyergap bau ketiak. Aku menjilat-jilat. Kang Saridjo tertidur. Aku terus mencari kehangatan dan kenikmatan yang tersedia di tubuh Kang Saridjo yang tertidur lelap karena lelah.

Itulah kejadian yang menjadi kenangan bagiku bersama Kang Saridjo sebagai pengisi kekosongan dan perasaan birahiku. Akhirnya obsesiku tercapaikan dan aku puas.

Tamat

Sudah dua tahun aku bekerja di perusahaan swasta ini. Aku bersyukur, karena prestasiku, di usia yang ke 25 ini aku sudah mendapat posisi penyelia. Atasanku seorang wanita berusia 42 tahun. Walaupun cantik, tapi banyak karyawan yang tidak menyukainya karena selain keras, sombong dan terkadang suka cuek. Namun sebagai bawahannya langsung aku cukup mengerti beban posisi yang harus dipikulnya sebagai pemimpin perusahaan. Kalau karyawan lain ketakutan dipanggil menghadap sama Bu Melly, aku malah selalu berharap dipanggil. Bahkan sering aku mencari-cari alasan untuk menghadap keruangan pribadinya.

Sebagai mantan pragawati tubuh Bu Melly sangatlah bagus diusia kepala empat ini. Wajahnya yang cantik tanpa ada garis-garis ketuaan menjAdikannya tak kalah dengan anak muda. Saking keseringan aku mengahadap keruangannya, aku mulai menangkap ada nada-nada persahabatan terlontar dari mulut dan gerak-geriknya. Tak jarang kalo aku baru masuk ruangannya Bu Melly langsung memuji penampilanku. Aku bangga juga mulai bisa menarik perhatian. Mudah-mudahan bisa berpengaruh di gaji hahaha nyari muka nih.

Sampai suatu ketika, lagi-lagi ketika aku dipanggil mengahadap, kulihat raut muka Bu Melly tegang dan kusut. Aku memberanikan diri untuk peduli,
"Ibu kok hari ini kelihatan kusut? ada masalah?", sapaku sembari menuju kursi didepan mejanya.
"Ia nih Ndy, aku lagi stres, udah urusan kantor banyak, dirumah mesti berantem sama suaminya kusut deh", jawabnya ramah, sudut bibirnya terlihat sedikit tersenyum.
"Justru aku manggil kamu karena aku lagi kesel. Kenapa ya kalau lagi kesel trus ngeliat kamu aku jadi tenang", tambahnya menatapku dalam.
Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Melly bilang begitu? Batinku.
"Andy, ditanya kok malah bengong", Bu Melly menyenggol lenganku.
"Eeehh nggak, abisnya kaget dengan omongan Ibu kayak tadi. Aku kaget dibilang bisa nenangin seorang wanita cantik", balasku gagap.
"Ndy nanti temenin aku makan siang di Hotel (***) ya.. Kita bicarain soal promosi kamu. Tapi kita jangan pergi bareng , nggak enak sama teman kantor. kamu duluan aja, kita ketemu disana", kata Bu Melly.
Aku semakin tergagap, tidak menyangka akan diajak seperti ini.
"Baik Bu", jawabku sambil keluar dari ruangannya.

Setelah membereskan file-file, pas jam makan siang aku langsung menuju hotel tempat janji makan siang. Dalam mobilku aku coba menyimpulkan promosi jabatan apa yang akan Bu Melly berikan. Seneng sih, tapi juga penuh tanda tanya. Kenapa harus makan siang di hotel? Terbersit dipikiranku, mungkin Bu Melly butuh teman makan, teman bicara atau mudah-mudaha teman tidur.. upss mana mungkin Bu Melly mau tidur dengan aku. Dia itu kan kelas atas sementara aku karyawan biasa. Aku kesampingkan pikiran kotor.

Sekitar setengah jam aku menungu di lobby hotel tiba-tiba seorang bellboy menghampiriku. Setelah memastikan namaku dia mempersilahkanku menuju kamar 809, katanya Bu Melly menunggu di kamar itu. Aku menurut aja melangkah ke lift yang membawaku ke kamar itu. Ketika kutekan bel dengan perasaan berkecamuk penuh tanda tanya berdebar menunggu sampai pintu dibukain dan Bu Melly tersenyum manis dari balik pintu.

"Maaf ya Ndy aku berobah pikiran dengan mengajakmu makan di kamar. Mari.. kita ngobrol-ngobrol kamu mau pesen makanan apa?", kata Bu Melly sambil menarik tangan membawaku ke kursi. Aku masih gugup.
"Nggak usah gugup gitu dong", ujar Bu Melly melihat tingkahku.
"Aku sebetulnya nggak percaya dengan semua ini .aku nggak nyangka bisa makan siang sana Ibu seperti ini. Siapa sih yang nggak bangga diundang makan oleh wanita secantik Ibu?", ditengah kegugupanku aku masih sempat menyempilkan jurus-jurus rayuan. Aku tau pasti pujian kecil bisa membangkitkan kebanggan.
"Ahh kamu Ndy bisa aja, emangnya aku masih cantik", jawab Bu Melly dengan pipi memerah. Ihh persis anak ABG yang lagi dipuji.
"Iya Bu, sejujurnya aku selama ini memipikan untuk bisa berdekatan dan berduan dengan Ibu, makanya aku sering nyari alasan masuk keruangan Ibu", kataku polos.
"Aku sudah menduga semua itu soalnya aku perhatikan kamu sering nyari-nyari alasan menghadap aku. Aku tau itu. Bahkan kamu sering curi-curi pandang menatapku kan?", ditembak seperti itu aku jadi malu juga.
Memang aku sering menatap Bu Melly disetiap kesempatan, apa lagi kalau sedang rapat kantor. Rupanya tingkahku itu diperhatikannya.

Kami berpandangan lama. Lama kami berhadapan, aku di tempat duduk sedangkan Bu Melly dibibir tempat tidur. Dari wajahnya terlihat kalau wanita ini sedang kesepian, raut mukanya menandakan kegairahan. Perlahan dia berdiri dan menghampiriku. Masih tetap berpandangan, wajahnya semakin dekat.. dekat.. aku diam aja dan hup.bibirnya menyentuh bibirku. Kutepis rasa gugup dan segera membalas ciumannya. Bu Melly sebentar menarik bibirnya dan menyeka lipstik merahnya dengan tisu. Lalu tanpa dikomando lagi kami sudah berpagutan.

"Pesen makannya nanti aja ya Ndy", katanya disela ciuman yang semakin panas.
Wanita cantik betinggi 165 ini duduk dipangkuanku. Sedikit aku tersadar dan bangga karena wanita ini seorang boss ku, duduk dipangkuanku. Tangan kirinya melingkar dileherku sementara tangan kana memegang kepalaku. Ciumannya semakin dalam, aku lantas mengeluarkan jurus-jurus ciuman yang kutau selama ini. Kupilin dan kuhisap lidahnya dengan lidahku. Sesekali ciumanku menggerayang leher dan belakang telinganya. Bu Melly melolong kegelian.
"Ndy kamu hebat banget ciumannya, aku nggak pernah dicium seperti ini sama suamiku, bahkan akhir-akhir ini dia cuek dan nggak mau menyentuhku", cerocos Bu melly curhat.
Aku berpikir, bego banget suaminya tidak menyentuh wanita secantik Bu Melly. Tapi mungkin itulah kehidupan suami istri yang lama-lama bosan, pikirku.

Bu Melly menarik tangaku. Kutau itu isyarat mengajak pindah ke ranjang. Namun aku mencegahnya dengan memeluknya saat berdiri. Kucium lagi berulang-ulang, tangaku mulai aktif meraba buah dadanya. Bu melly menggelinjang panas. Blasernya kulempar ke kursi, kemeja putihnya kubuka perlahan lalu celana panjangnya kuloloskan. Bu Melly hanya terdiam mengikuti sensasi yang kuberikan. Wow, aku tersedak melihat pemandangan didepanku. Kulitnya putih bersih, pantatnya berisi, bodynya kencang dan ramping. Celana dalam merah jambu sepadan warna dengan BH yang menutupi setangkup buah dada yang walaupun tidak besar tapi sangat menggairahkan.
"Ibu bener-bener wanita tercantik yang pernah kulihat", gumamku.

Bu melly kemudian mengikuti aksiku tadi dengan mulai mencopot pakaian yang kukenakan. Namun dia lebih garang lagi karena pakaianku tanpa bersisa, polos. Mr. Happy yang sedari tadi tegang kini seakan menunjukkan kehebatannya dengan berdiri tegak menantang Bu Melly.
"Kamu ganteng Ndy", katanya seraya tanganya meraup kemaluanku dan ahh bibir mungilnya sudah mengulum.
Oh nikmatnya. Sentuhan bibir dan sapuan lidahnya diujung Mr.Happy ku bener-bener bikin sensasi dan membuat nafsu meninggi.

Aku nggak tahan untuk berdiam diri menerima sensasi saja. Kudorong tubuhnya keranjang, kuloloskan celana dalam dan BH-nya. Sambil masih tetap menikmati jilatan Bu Melly, aku meraih dua bukit kembar miliknya dan kuremas-remas. Tanganku merayap keselangkangannya. Jari tengahku menyentuh itilnya dan mulai mengelus, basah. Bu Melly terhentak. Sesekali jari kumasukkan kedalam vaginanya. Berusaha membuat sensasi dengan menyentuh G-spot-nya.

Atas inisiatifku kami bertukar posisi, gaya 69. Jilatan lidahnya semakin sensasional dengan menulur hingga ke pangkal kemaluanku. Dua buah bijiku diseruputnya Bener-bener enak. Gantian aku merangkai kenikmatan buat Bu Melly, kusibakkan rambut-rambut halus yang tertata rapi dan kusentuh labia mayoranya dengan ujung lidah. Dia menggeliat. Tanpa kuberi kesempatan untuk berpikir, kujilati semua susdut vaginanya, itilnya kugigit-gigit.
Bu melly menggelinjang tajam dan, "Ndy aku keluar lo.. nggak tahan", katanya disela rintihan.
Tubuhnya menegang dan tiba-tiba terhemmpas lemas, Bu Melly orgasme.

Aku bangga juga bisa membuat wanita cantik ini puas hanya dalam lima menit jilatan.
"Enak Ndy, aku bener-bener nafsu sama kamu. Dan ternyata kamu pintar muasin aku, makasih ya Ndy", ujarnya.
"Jangan terima kasih dulu Bu, soalnya ini belum apa-apa, nanti Andy kasi yang lebih dahsyat", sahutku.
Kulihat matanya berbinar-binar.
"Bener ya Ndy, puasin aku, sudah setahun aku nggak merasakan orgasme, suamiku sudah bosan kali sama aku", bisiknya agak merintih lirih.

Hanya berselang liam menit kugiring tubuh Bu melly duduk diatas pinggulku. Mr.Happy kumasukkan ke dalam vaginanya dan bless, lancar karena sudah basah. Tanpa dikomando Bu Melly sudah bergerak naik turun. Posisi ini membuat ku bernafsu karena aku bisa menatap tubuh indah putih mulus dengan wajah yang cantik, sepuasnya. Lama kami bereksplorasi saling merangsang. Terkadang aku mengambil posisi duduk dengan tetap Bu melly dipangkuanku. Kupeluk tubuhnya kucium bibirnya.
"Ahh enak sekali Ndy", ntah sudah berapa kali kata-kata ini diucapkannya.

Mr.Happyku yang belum terpuaskan semakin bergejolak disasarannya. Aku lantas mengubah posisi dengan membaringkan tubuh Bu Melly dan aku berada diatas tubuh mulus. Sambil mencium bibir indahnya, kumasukkan Mr.Happy ke vaginanya. Pinggulku kuenjot naik turun. Kulihat Bu Melly merem-melek menahan kenikmatan. Pinggulnya juga mulai bereaksi dengan bergoyang melawan irama yang kuberikan. Lama kami dalam posisi itu dengan berbagai variasi, kadang kedua kakinya kuangkat tinggi, kadang hanya satu kaki yang kuangkat. Sesekali kusampirkan kakinya ke pundakku. Bu Melly hanya menurut dan menikmati apa yang kuberikan. Mulutnya mendesis-desis menahan nikmat.
Tiba-tiba Bu melly mengerang panjang dan "Ndy, aku mau keluar lagi, aku bener-bener nggak tahan", katanya sedikit berteriak.
"Aku juga mau keluar nih.. bareng yuk", ajakku.
Dan beberapa detik kemudian kami berdua melolong panjang "Ahh..".
Kurasakan spermaku menyemprot dalam sekali dan Bu Melly tersentak menerima muntahan lahar panas Mr. Happyku. Kami sama sama terkulai.
"Kamu hebat Ndy, bisa bikin aku orgasme dua kali dalam waktu dekat", katanya disela nafas yang tersengal.
Aku cuma bisa tersenyum bangga.
"Bu Melly nggak salah milih orang, aku hebat kan?" kataku berbangga yang dijawabnya dengan ciuman mesra.

Setelah mengaso sebentar Bu Melly kemudian menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan shower. Dari luar kamar mandi yang pintunya nggak tertutup aku menadang tubuh semampai Bu melly. Tubuh indah seperti Bu Melly memang sangat aku idamkan. Aku yang punya kecenderungan sexual Udipus Comp-lex bener-bener menemukan jawaban dengan Bu Melly. Bosku ini bener-bener cantik, maklum mantan peragawati. Tubuhnya terawat tanpa cela. Aku sangat beruntung bisa menikmatinya, batinku.

Mr.Happyku tanpa dikomando kembali menegang melihat pemandangan indah itu. Perlahan aku bangun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Bu melly yang lagi merem menikmati siraman air dari shower kaget ketika kupeluk. Kami berpelukan dan berciuman lagi. Kuangkat pantatnya dan kududukkan di meja toalet. Kedua kakinya kuangkat setengah berjongkok lalu kembali kujilati vaginanya. Bu melly kembali melolong. Ada sekitar lima menit keberi dia kenikmatan sapuan lidahku lantas kuganti jilatanku dengan memasukkan Mr. Happyku. Posisiku berdiri tegak sedangkan Bu Melly tetap setengah berjongkok di atas meja. Kugenjot pantatku dengan irama yang pasti. Dengan posisi begini kami berdua bisa melihat jelas aktifitas keluarmasuknya Mr.Happy dalam vagina, dua-duanya memerah tanda nikmat.

Setelah puas dengan posisi itu kutuntun Bu Melly turun dan kubalikkan badannya. Tangannya menumpu di meja sementara badannya membungkuk. Posisi doggie style ini sangat kusukai karena dengan posisi ini aku ngerasa kalau vagina bisa menjepit punyaku dengan mantap. Ketika kujebloskan si Mr.Happy, uupps Bu Melly terpekik. Kupikir dia kesakitan, tapi ternyata tidak.
"Lanjutin Ndy, enak banget.. ohh.. kamu hebat sekali", bisiknya lirih.
Ada sekitar 20 menit dalam posisi kesukaanku ini dan aku nggak tahan lagi mau keluar.
"Bu.. aku keluar ya", kataku.
"Ayo sama-sama aku juga mau", balasnya disela erangan kenikmatannya.
Dan.. ohh aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam vaginanya yang diikuti erangan puas dari Bu Melly. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi orgasme ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang. Kulihat dicermin kupeluk Bu Melly dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua bukit kembarnya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indajh, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.

Selesai mandi bersama kamipun memesan makan. Selesai makan kami kembali kekantor dengan mobil sendiri-sendiri. Sore hari dikantor seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sebelum jam pulang Bu Melly memanggilku lewat sekretarisnya. Duduk berhadapan sangat terasa kalau suasananya berobah, tidak seperti kemarin-kemarin. Sekarang beraroma cinta.
"Ndy, kamu mau kan kalau di kantor kita tetep bersikap wajar layaknya atasan sama bawahan ya. Tapi kalo diluar aku mau kamu bersikap seperti suamiku ya", katanya tersenyum manja.
"Baik Bu cantik", sahutku bergurau.
Sebelum keluar dari ruangannya kami masih sempat berciuman mesra.

Sejak itu aku resmi jadi suami simpanan bos ku. Tapi aku menikmati karena aku juga jatuh cinta dengan wanita cantik idaman hati ini. Sudah setahun hubungan kami berjalan tanpa dicurigai siapapun karena kami bisa menjaga jarak kalau di kantor.

Tamat