Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada Rumah Seks, dengan dimuatnya beberapa cerita saya, pelan tapi pasti saya menerima banyak e-mail dari wanita baik yang hanya ingin berkenalan, kirim cerita yang lain sampai minta dilayani. Dan tidak sedikit dari mereka tercapai keinginannya. Tetapi beberapa yang lain justru tidak dapat dilacak keberadaannya karena e-mail yang diberikan eror, padahal diantara mereka ada yang ingin sekali berkenalan dan berlanjut ke permainan ranjang, berhubung e-mail yang mereka berikan salah hingga kini kehilangan kontak. Semoga saat ini mereka membaca, seperti Mbak Heny 36 tahun, Cornelia di Bali, Yuni, Nela, tolong berikan e-mail yang bener dong.

Mungkin cerita ini jauh dari seks yang menggairahkan, tetapi buatku ini adalah pengalaman yang baru. Tante Ana adalah seorang ibu rumah tangga berumur 35 tahun, untuk seusianya masih dapat dikatakan cantik walaupun tidak seksi. Kulitnya kuning langsat (rajin luluran katanya), ukuran fisik tinggi 165 cm, payudara 34 cup B, berat 58 kg, rambut hitam pendek, beranak dua, yang terbesar 8 tahun.

Saya mengenal Tante Ana dari e-mail yang dikirim setelah membaca kisahku di Rumah Seks. Disitu ia ingin berkenalan, setelah saya beritahu no HP saya, maka diaturlah pertemuan yang singkat di hari Kamis. Sengaja saya mengambil hari kerja, supaya tidak mengganggu rumah tangga Tante Ana.

Kami bertemu di restoran yang terkenal dengan menu steak-nya, dari pertemuan tersebut sepertinya Tante Ana kaget juga, dengan terus terang dia berkata bahwa tampangku sangat tidak meyakinkan dan jauh dari tampan. Body-ku pun juga tidak seatletis yang dibayangkannya. Tapi aku senang dengan keterbukaannya. Dan memang bukan di"sana"lah kelebihanku. Akhirnya suasana mencair seiring waktu.

Kami ngobrol panjang lebar dan ditutup dengan sebuah pujian yang kupikir jujur keluar dari mulutnya.
"OK Sakti, Tante sekarang tahu kenapa banyak cewek yang mau sama kamu, cara kamu memperlakukan wanita sangat gentle, cara kamu berbicara supel dan mudah bergaul, dan yang terpenting kamu punya brain, sehingga wawasan kamu luas. Aku suka gaya kamu bersikap dan berbicara walaupun awalnya sulit. Maklumlah namanya juga baru kenal. Oh ya, ini no HP Tante.."
Akhirnya dia mengerti juga dimana kelebihanku. Ini juga diakui wanita-wanita yang pernah bercinta denganku.

Selang seminggu tepatnya hari Selasa, kutelepon Tante Ana.
"Siang Tante, sedang apa nih, sibuk ya?" sapaku basa basi.
"Ah nggak kok Sakti, eh di mana kamu sekarang?"
"Di kantor, Tante"
"Kok Tante nggak pernah kirim e-mail lagi sih, atau sudah lupa ya?"
"Oh ya sorry, Tante nggak sempet ke warnet, sibuk ngurus Tomy kenaikan kelas nih, besok deh Tante buka e-mail, emang Sakti kirim e-mail ya, apa sih isinya, sekalian aja ngomong sekarang?"
"Ah nggak kok, cuma kangen aja, boleh kan?" ceplas-ceplos kuucapkan, terkesan kurang ajar memang, tapi buat apa ditutupi.
"Kangen apa kangen.." Tante Ana mulai nakal menggodaku.
"Kalau kangen kok beraninya cuma telepon."
"Abis Tante juga sih yang nggak mulai, kalau ditawarin yang lain masak iya Sakti nolak, gimana?"
"Emang lagi kosong ya, ha.. ha.." Tante Ana menggoda.
"Gini aja deh.. sorry Tante belum terpikir ke "arah" sana untuk saat ini, tapi jujur saja Tante termasuk orang yang open mind dan bukan sesuatu yang tidak mungkin untuh hal itu.. Sakti tahu maksud Tante kan? Dengan berani ketemu Sakti saja itu sudah kemajuan buat Tante, dan butuh keberanian lho, artinya kemungkinan ke "arah" itu masih terbuka kok.. kita tunggu saja kapan Tante siap, OK."

Tiba-tiba pada hari Kamis Tante Ana bell ke HP-ku, "Sakti, sedang ngapain? Bisa ketemu nggak hari ini? Tante ada yang mau dibicarakan nih."
"Saya selalu ada waktu untuk Tante." gombalku, "Kapan, dimana, Tante yang tentuin deh."
"Di restoran kita dulu, jam dua sore ini bagaimana.." balas Tante Ana.

Beberapa jam kemudian..
"Maaf aku terlambat Tante, habis nggak punya mobil sih, jadi pakai angkutan umum, ini aja bajuku sampai basah oleh keringat, bagaimana Tante, tumben kok buru-buru ingin ketemu?"
"Begini Sakti, sekali lagi aduh.. Tante malu mau ngomongnya, sebenarnya sampai saat ini Tante belum siap untuk selingkuh, tapi memang libido Tante sebenarnya berlebih, cuma takut untuk mencoba dengan orang lain."
"Suami Tante bagaimana?"
"Sebenarnya nggak masalah dengan seks suami, kita selalu enjoy saja, dan orgasme setiap main dengan suami, demikian juga suami.. Cuma ya itu tadi.. mungkin ini gila, karena dorongan seks Tante yang besar.. seperti ada perasaan yang luar biasa untuk mencoba dengan orang lain, karena Tante nggak tahu harus bagaimana, jadi selama ini ya hanya baca-baca cerita porno saja sampai ketemu kamu, begini saja.. untuk permulaan karena Tante takut sekali, kita cukup petting saja bagaimana? sorry lho aku sudah nggak tahan nih untuk mencoba.. gila ya.. ha.ha?"
"OK," jawabku singkat, tetapi aku masih tidak mengerti maksudnya. Pokoknya tempat dan waktu sudah diatur, hari Rabu jam 4 sore kami janjian di sebuah hotel, setelah ketemu Tante Ana sudah menyiapkan laptop dan beberapa keping VCD porno.

Pertama Tante Ana minta ijin untuk membersihkan badan dulu, sementara aku menikmati tayangan VCD porno tersebut, beberapa diantaranya aku sudah hapal ceritanya karena pernah kutonton, apalagi bintangnya pasaran.

Tiba-tiba Tante Ana keluar hanya dengan handuk dibelit saja.
"Lho kok belum dibuka bajunya, Sakti?"
"Ah Tante saja dong yang bukain." Aku coba memulai merangsang daya keinginannya.
Pelan-pelan Tante Ana meraih kepalaku dan mula-mula sambil memejamkan mata dia bilang, "Sakti coba kiss Tante dong."
Dan pelan-pelan kubelai rambutnya sambil mengarahkan bibirnya ke bibirku, terasa hangat saat bibir kami bersentuhan. Inisiatif datang dari Tante Ana, dia coba memainkan lidahnya di rongga mulutku, aku juga mencoba mengimbangi. Sambil tannganku melepas handuk yang melilitnya. Tante Ana sekarang sudah dalam kondisi polos, rambut kemaluannya tipis, menandakan rajin dicukur, bibir vaginanya rapat dan kecil.

Kami berciuman cukup lama, kadang-kadang saling menggigit ringan, aku dan Tante berlomba untuk saling memainkan lidah kami. Dalam hal berciuman, Tante Ana cukup hot juga, dan aku kadang-kadang kehabisan napas karena tidak dibiarkan melepaskan lidahnya. Hangat dan sensual.

Aku merengkuh payudaranya sebelah kiri, dan terasa sudah mengeras. Aku baru sadar kalau puting Tante Ana sangat seksi, bahkan terseksi yang pernah kulihat. Aku sempat heran, untuk seusia Tante, puting payudaranya masih kencang dan berwarna merah, tidak hitam atau coklat tua. Betul, Tante Ana mengakui kalau dia jarang bermain di sekitar puting. Dan dia ingin sekali dimainkan dengan mulutku. Tapi ciuman kami belum berakhir, maka tanganku dengan aktif meraba dan membelai puting Tante Ana, refleks Tante Ana mulai mendesah, "Aaakkhh.. terus Sayang.. ucchh, nikmat Sayang, uh.. uh.. uh.." nafasnya tersengal-sengal.

Bibirku terlepas dari bibir Tante Ana, tampak sekali bibirnya basah dan memerah, ciumanku berlanjut ke lehernya.. lembut sekali, terdengar desahan yang tertahan tanda nafsunya mulai tidak dapat dikendalikan. Sementara aku baru mulai pemanasan.

Tante Ana mulai berani dan nakal dengan melepas pakaianku satu persatu hingga polos, "burung"ku sudah tegang karena bersentuhan dengan bulu-bulu di bibir vaginanya. Tangan Tante Ana meraih batang kemaluanku. Tangannya yang mungil terasa penuh menggenggam batang kemaluanku. Padahal ukuran burungku biasa saja. Tetapi cukup buat Tante Ana.

Jemarinya mengelus kepala penisku yang besar dan mulus. Memang kepala penisku berdiameter besar. Ternyata Tante Ana sudah pandai memainkan kemaluanku. Dengan gerakan yang teratur, ia dengan bersemangat mengocok batang kemaluanku.

Sementara itu ciumanku sudah mendarat di puncak payudaranya. Nikmat sekali.. payudaranya sudah mengeras dengan puting yang juga mengeras dan merekah. Pertama kugigit kecil putingnya sebelah kanan. Sementara puting sebelah kiri kupilin-pilin dengan jariku.

Tante Ana bergetar dan bibir vaginanya sudah mulai basah. Aku meneruskan dengan mulai menghisap keras payudaranya dan Tante Ana menjerit, "Sayang.. aku mau klimaks niihh.. oohh.. aku nggak kuat Sayang.. oohh.. akuu kliimmaaks Sayaagg ukkhh.."

Aku tidak berhenti, penisku yang sudah tegak kuarahkan ke bibir vaginanya yang sudah basah, tetapi sejenak Tante Ana berhenti dan memohon untuk tidak dimasukkan. Maka perlahan kubimbing Tante Ana ke ranjang dan kuarahkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana.

Kugesek-gesekkan kemaluanku ke bibir vagina Tante Ana, terasa licin, dan kupercepat gesekan kemaluanku, kadang-kadang kutekan supaya menyentuh klitorisnya. "Ukkhh.. terus Sayang.. terus sayang.. ookkhh.. aauucchh.. aku mau dapat lagi nih, aduh sayang please jangan dimasukin ya.." Aku mencoba menghormatinya, maka secara perlahan gesekan kemaluanku, tetapi menambah tekanan ke bibir vaginanya, pantatnya kuganjal dengan bantal supaya agak terbuka dan memudahkan gerakanku.

Sebenarnya aku cukup terganggu dengan suasana ini, tapi aku mencoba untuk tidak melanggar. Maka dengan gerakan yang pelan dan keras gesekan antara kemaluanku dan bibir vaginanya akhirnya membangkitkan nafsuku, memuncak dan menuju ke klimaks.

Aku menyuruh Tante Ana di atas, dengan begitu ia bisa dengan mudah mengatur seberapa penetrasi yang dibutuhkan untuk memuaskannya. Tante Ana dengan gerakan yang sudah tidak teratur menggesek-gesekkan bibir vaginanya yang sudah basah dan licin dengan cepat. Dan untuk yang ketiga kalinya Tante Ana berteriak tanda orgasme, sedang aku terus mengatur napas untuk memacu pikiran supaya permainan ini segera tuntas.

Tiba-tiba Tante Ana berhenti dan membalikkan arah. Posisi 69 yang diharapkan, tentu saja aku harus menerimanya. Bau anyir vaginanya yang sudah basah sesaat membuatku terhenti, tetapi penisku yang dilumatnya masuk semua ke rongga mulut membuatku berani menjilat bibir vaginanya. Aku menyedot sisa cairan vagina yang ada dan kuusap dengan lidahku menelusuri setiap dinding vagina serta memainkan dengan ujung lidah di sekitar klitorisnya.

Sementara itu penisku terus dikulum seperti sedang menikmati ice cream. Aku sempat heran dengan hisapannya yang kuat, penisku siap meledak memuncratkan air mani, sementara desahan Tante Ana menambah nafsuku, sementara klitorisnya hangat dan basah terus kuusap dengan lidah. Gerakan mulut Tante Ana semakin tidak karuan, dan jilatan lidahku semakin penuh ke seluruh bagian bibir luar dan dalam vaginanya.

Tiba-tiba tante Ana berkata lirih, "Sayang keluarin di mulut Tante ya, semuanya ya Sayang.."Dengan mantap dan nafsu yang sudah tidak tertahan kugesek kencang penisku di mulut Tante Ana, sepertinya Tante Ana mengerti, dan lidahnya membantu mengusap penisku menambah semangat.

Saat yang ditunggu tiba, air maniku tumpah di rongga mulut Tante Ana, dan dengan sigap disedotnya air maniku, ditelan lalu sisa-sisanya tidak dibiarkan keluar dari mulut dan batang kemaluanku. Seluruhnya dibersihkan dengan lidahnya dan ditelan seperti menelan ice cream. Sebuah pemandangan yang sensual. Dan aku berhenti memainkan lidahku di klitorisnya, karena aku pun harus mendesah menahan klimaks.

Sejak permainan itu, kami rutin melakukan petting, karena Tante Ana masih takut untuk lebih dari itu. Sampai saat ini Tante Ana masih rajin berkirim e-mail, dan biasanya isinya jorok-jorok yang mengundang kami untuk janjian di sebuah hotel atau kadang-kadang kami main di mobil Tante Ana.

Kadang untuk mengobati rasa penasaranku, Tante Ana menyewa gadis panggilan yang seksi dan cantik untuk meneruskan keinginanku. Tetapi Tante Ana tidak ikut dan tidak berada dalam satu ruangan. Sehingga sehabis petting dengan Tante Ana, aku melanjutkan dengan bercinta dengan cewek yang disewa Tante Ana.

Demikianlah petualanganku yang menarik, hingga saat ini aku belum merasakan nikmatnya memasukkan penisku ke lubang vagina Tante Ana. Demikian juga Tante Ana belum merasakan nikmatnya permainan penisku di lubang vaginanya.

Pembaca tentu penasaran? Sama, sampai saat ini pun aku masih penasaran dengan Tante Ana, sementara itu, aku sudah berpetualang dengan wanita-wanita yang mengirimkan e-mailnya, Tante Ana masih tetap seperti yang dulu.

Cerita ini kupersembahkan buat Tante Heny, Cornelia, Yuni, dan semua yang ingin berkenalan dengan mengirimkan e-mailnya. Buat Tante Ana, kalau membaca kisah ini semoga suatu saat berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk memasukkan penisku ke vagina Tante Ana.


Tamat

Saya mau memperkenalkan diri, nama saya Rudiono, saat ini berusia 34 tahun dan telah berkeluarga, memiliki seorang istri dan dua orang anak laki-laki. Saya ingin membagi kisah saya disaat waktu masih bujangan dulu.

Saya lahir di Jakarta, tapi dari kecil saya dibesarkan bukan oleh orang tua saya melainkan oleh abang angkat saya, dikarena sejak usia 7 tahun saya sudah menjadi anak yatim.

Abang saya itu adalah salah satu paranormal hebat yang ada di Indonesia, merupakan salah satu pegangan dari mantan presiden kita dan saat ini masih menjadi salah satu pegangan dari keluarga presiden kita. Beliau juga salah satu pemandi pusaka dibeberapa keraton yang ada di Indonesia disaat Bulan Muharam dan Maulud. Hanya sedikit sekali orang yang kuat dan sanggup merawat serta memandikan Pusaka-Pusaka milik Keraton.

Dari waktu masih sekolah dasar dulu, saya sudah banyak melihat dan membuktikan kehebatan doa-doa atau ilmu-ilmu dari Agama Islam, dimana sesuatu hal yang tidak mungkin menurut logika orang pintar, tapi oleh abang saya bisa dibuat menjadi mungkin. Tentunya atas izin dari Allah SWT.

Saya banyak melihat pasien abang saya yang sewaktu datang ke rumahnya digotong oleh keluarganya, karena menurut dokter ahli yang menanganinya penyakitnya sudah tidak mungkin disembuhkan lagi dan umurnya mungkin sudah tinggal beberapa bulan lagi, karena sakit jantung, stoke atau kanker yang sudah parah, tetapi setelah diobati oleh abang saya ternyata bisa sembuh dan pulangnya bisa jalan sendiri, setelah beberapa kali datang menjalani pengobatan dengan abang saya tersebut.

Oleh karena itu saya lalu mulai belajar dengan tekun dan serius dengan abang saya, supaya bisa memiliki kemampuan seperti abang saya tersebut. Saya mulai tekun menjalankan wirid tengah malam, puasa dan lelaku lainnya agar bisa memiliki kemampuan seperti abang saya itu.

Saya bukan hanya mempelajari ilmu untuk mengobati penyakit alami saja, tetapi juga untuk mengobati penyakit buatan seperti misalnya teluh atau santet, asihan, pelet, gendam, penunduk penurut, pelaris usaha, ilmu penerawangan dan lain-lain.

Untuk membuktikan bahwa saya sudah berhasil membeli atau menguasai ilmu tersebut, biasanya saya memprektekannya langsung dengan mengobati pasiennya abang saya tersebut.

Tetapi ketika saya sudah duduk dibangku SMP, saya mulai menyelewengkan pemakaian ilmu-ilmu tersebut. Hal ini pada awalnya tidak saya sadari karena mungkin saat itu bawaan dari pengaruh masa puber saya tersebut.

Jadi sebetulnya semua Agama itu baik, doa-doa dan ilmunya juga baik, akan tetapi manusia yang memakainya itu sendiri yang tidak baik karena manusianyalah yang menyelewengkan dan menyalahgunakan pemakaian doa-doa atau ilmu-ilmu itu sendiri.

Seperti ibarat pisau kalau dipakai didapur itu baik, tapi kalau dipakai untuk nodong yah jadi tidak baik. Jadi sekali lagi ini adalah masalah manusianya, bukan masalah agamanya atau doa-doanya.

Dimasa muda atau bujangan saya dulu, saya benar-benar berkelakuan buruk dan sangat berdosa sekali. Saya sudah pernah terjerumus dan menyalahgunakan doa atau ilmu yang telah saya kuasai beberapa kali.

Hingga sekarang ini hanya tinggallah penyesalan yang ada di dalam diri saya, karena telah banyak korban akibat perbuatan saya tersebut dan saat ini saya berusaha menebusnya dengan bertobat serta membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari saya.

Saya akan mencoba menceritakannya pengalaman saya tersebut satu per satu, dengan harapan agar orang yang membaca cerita saya ini, tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat.

Kejadian itu dimulai ketika pada suatu pagi saya melihat seorang gadis yang menurut saya saat itu sangat cantik dan manis sekali, berjalan memakai seragam SMP melewati depan rumah saya.

Tubuhnya tinggi, ramping dan sangat ideal sekali. Kulitnya putih mulus dengan dada dan pinggul yang tidak terlalu besar, akan tetapi kelihatan sexy sekali karena memakai seragam sekolah yang cukup ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang saat itu baru mulai berkembang.

Spontan timbul rasa sir dalam diri saya dan ingin sekali berkenalan bahkan menjadikan gadis itu sebagai pacar saya. Saya lalu menerapkan ilmu pengasihan yang pernah saya pelajari dan telah saya kuasai, lalu saya lari mengejar gadis itu. Setelah berhasil mengejar dan berada disebelahnya, saya lalu menyapa gadis itu dan berkenalan dengannya.

"Hai." sapa saya.

Gadis itu lalu tersenyum melihat saya. Wow benar-benar cantik dan manis sekali gadis itu rupanya.

"Mau berangkat sekolah?" tanya saya.

"Ya." jawab gadis itu sambil tetap tersenyum manis pada saya.

"Oh ya kenalkan, nama saya Rudiono, saya tinggal di rumah nomor 34 yang telah kamu lewati tadi." kata saya.

"Boleh saya berkenalan dengan kamu?" tanya saya sambil menyodorkan tangan saya untuk mengajaknya bersalaman.

"Boleh." jawab gadis itu dengan senyum yang masih tetap menghiasi bibirnya yang mungil dan menggemaskan itu.

"Nama kamu siapa dan kamu tinggal dimana?" tanya saya yang sudah tidak sabar ingin mengetahui gadis itu tinggal dimana.

"Lusiana, saya tinggal dijalan ini juga dinomor 2." jawabnya kembali sambil tersenyum.

"Hari ini kamu pulang jam berapa? Boleh kita ketemu lagi nanti setelah kamu pulang sekolah?" tanya saya lagi. Lalu di dalam hati saya menerapkan ilmu pelet yang telah saya kuasai dan tanpa sepengetahuan gadis itu, saya meniupkan ilmu tersebut kearahnya.

"Boleh saja, saya pulang sekolah jam 12.00 lalu ada pelajaran ektra kurikuler sampai jam 15.00 dan setelah itu saya tidak ada acara lagi." jawab gadis itu.

"Bagaimana kalau kita ketemu siang ini jam 12.00? Bagaimana kalau kamu tidak usah ikut pelajaran ektra kurikuler aja?" tanya saya yang saat itu sudah tidak tahan lagi ingin segera bisa mendapatkan gadis itu.

"Oke deh, nanti setelah pulang sekolah jam12.00, saya langsung kerumah kamu saja yah." jawab gadis itu. Wah betapa senangnya hati saya karena apa yang saya harapkan telah terjadi.

"Oke, saya tunggu didepan rumah yah, jangan lupa rumah saya yang nomor 34 yah." kata saya. Sambil bercakap-cakap disepanjang perjalanan itu, akhirnya sampailah kita disekolahan gadis itu. Setelah Lusi panggilan dari Lusiana itu masuk ke dalam halaman sekolahnya, saya langsung pulang kembali kerumah saya.

Sesampai dirumah saya langsung masuk kekamar tidur saya, kebetulan kamar tidur saya berada dipaling depan, dulunya bekas garasi mobil tapi telah dirubah menjadi kamar tidur saya dan memiliki pintu sendiri yang bisa langsung keluar rumah.

Saya membaringkan tubuh diatas tempat tidur saya. lalu menghayal yang jorok dengan gadis itu, maklumlah saat itu mungkin hormon saya lagi sedang tinggi-tingginya karena sedang dalam masa puber.

Karena tidak sabar menunggu Lusi pulang sekolah, saya lalu menerapkan ilmu penerawangan saya yang fungsinya untuk bisa melihat menembus penghalang, melihat jarak jauh atau melihat kealam gaib. Saya lalu menggunakan ilmu itu untuk melihat Lusi yang saat itu sedang berada di sekolah, saya perhatikan dia yang saat itu lagi duduk belajar di kelas, akan tetapi kelihatan sekali bahwa Lusi sering ngelamun, gelisah dan rasanya hampir tidak tahan untuk bisa segera pulang, rupanya ilmu yang saya gunakan kepadanya itu sudah mulai terlihat reaksinya.

Lalu saya perkuat dosis ilmu penerawangan saya, sehingga saya bisa melihat tubuhnya yang indah itu menembus ke dalam pakaian seragam sekolah yang dikenakannya. Padahal ilmu penerawangan itu tidak boleh digunakan untuk sengaja melihat hal-hal seperti itu karena dosa. Akan tetapi saat itu rupanya setan sudah terlalu kuat mempengaruhi saya, sehingga saya tetap saja mempergunakan ilmu tersebut untuk menikmati keindahan tubuh bugilnya Lusiana.

Wah luar biasa sekali indahnya tubuh Lusiana, tubuhnya betul-betul mulus sekali dengan buah dadanya yang baru tumbuh, dimana kedua ujungnya dihiasi dengan puting kecil yang berwarna coklat kemerahan. Kemaluannyapun baru sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang sangat menggemaskan sekali dan membuat saya yang melihatnya terangsang sekali.

Akhirnya jam di rumah sayapun menunjukkan juga pukul 12.00. Saya lalu bergegas membuka pintu kamar langsung menunggu didepan rumah.

15 menit kemudian akhirnya Lusianapun tiba di depan rumah saya, setelah sedikit berbasa basi dan melihat situasi rumah sudah aman, sayapun mengajak Lusiana masuk ke dalam kamar saya melalui pintu depan yang dulunya bekas pintu garasi.

Setelah berada di dalam kamar, saya lalu menawarkan minuman dingin yang telah saya siapkan sebelumnya. Sambil ngobrol ngalor ngidul, di dalam hati saya kembali menerapkan ilmu asihan, pelet, penunduk penurut, gendam, ajian jaran goyang, semar mesem, pembangkit sir atau nafsunya dan sebagainya, setelah itu lalu saya tiupkan kearah Lusi yang lagi duduk diatas tempat tidur disamping saya.

Luar biasa sekali hasilnya, kelihatan sekali bahwa si Lusi itu sudah kena dalam pengaruh ilmu saya tersebut. Duduknya mulai gelisah, sebentar-sebentar sambil tersenyum dia melirik kearah saya dan menunduk malu bila ketahuan dia sedang melirik saya. Rupanya ajian atau ilmu pembangkit sir, jaran goyang dan semar mesem yang saya gunakan kepadanya mulai menunjukan reaksinya, sehingga Lusipun mulai merasa kepanasan atau kegerahan.

"Panas sekali rasanya hari ini yah?" kata Lusi sambil mengipasi dirinya dengan buku pelajaran sekolahnya yang diambilnya dari tasnya. Padahal kamar tidur saya tidak terlalu besar dan memakai AC 1 PK. Rupanya pengaruh ilmu itu lebih kuat dari dinginnya AC sehingga membuat panas tubuhnya Lusi meningkat dan menaikan gairah nafsunya Lusi.

"Kalau mau mandi silahkan, tuh ada kamar mandi disana." kata saya sambil menunjuk kamar mandi yang ada dipojok di dalam kamar tidur saya.

"Mungkin kamu masih kepanasan karena tadi habis jalan kaki dari sekolah kerumah saya." kata saya lagi sambil mulai merangkulnya.

"Iya deh, saya mandi dulu yah." kata Lusi kemudian sambil berdiri mau berjalan kearah kamar mandi.

Sayapun ikut berdiri, lalu saya menahan tubuhnya dan berkata, "Boleh saya ikutan mandi bareng sama kamu? Sayapun juga merasa gerah sekali." Lusipun tertunduk malu, tapi dia menganggukan kepalanya dengan perlahan.

"Kamu tidak usah malu sama saya, sini saya bantu bukain baju kamu." kata saya kemudian sambil tangan saya bergerak membuka kancing bajunya satu persatu mulai dari atas dan Lusipun yang sudah terpengaruh oleh ilmu-ilmu yang saya gunakan tersebut hanya diam saja.

Wah indah sekali tubuhnya, benar-benar mulus sekali dan terlihat buah dadanya yang baru tumbuh serta belum terlalu besar masih tertutup dalam BHnya yang berwarna krem. Lalu sambil memeluk tubuhnya dari depan, tangan saya lalu bergerak kebelakang tubuh Lusi dan mulai membuka resluiting rok seragam SMPnya dan menurunkan ke bawahnya.

Benar-benar indah sekali tubuhnya Lusi, kulitnya putih dan mulus sekali tidak ada cacatnya. Saat ini Lusi berdiri sambil menundukan kepalanya malu berhadapan dengan saya dengan hanya memakai BH dan CD yang berwarna kremnya saja.

Lalu saya peluk erat sekali tubuh Lusi dan mencium bibirnya karena saya sudah tidak tahan ingin memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya yang mungil menggemaskan itu. Tangan sayapun lalu bergerak kebelakang tubuh Lusi, membuka kaitan BHnya dan melepaskan BH itu dari dadanya. Indah sekali buah dada Lusi tersebut. Putih mulus, baru mulai tumbuh, tidak terlalu besar tapi padat dan kedua putingnya masih kecil berwarna coklat kemerahan.

Lalu tangan sayapun kembali bergerak ke bawah, menurunkan CD krem yang merupakan pakaian terakhir yang dipakai Lusi tersebut. Bagai mimpi rasanya, saat ini ada seorang gadis cantik dan manis berdiri dihadapan saya dengan tubuh polos telanjang tanpa memakai pakaian selembarpun.

Dengan kulit yang putih mulus dengan buah dada yang baru tumbuh, tidak terlalu besar tapi padat, menggantung indah didadanya, kemaluannyapun baru ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuat saya semakin terangsang melihatnya.

Tak lama kemudian akhirnya Lusipun tidak tahan lagi, dia langsung memeluk saya dan menyembunyikan wajahnya didada saya. Terdengar suaranya yang lirih bertanya, "Kakak benar-benar sayang sama Lusi?"

"Tentu saja sayang, saya sangat sayang sekali sama Lusi." jawab saya.

"Saya sudah pasrah bila kakak mau memiliki diri Lusi seutuhnya." kata Lusi kemudian.

Sayapun memeluk tubuhnya dengan erat sekali, lalu mencium bibirnya yang mungil itu dan Lusipun membalas ciuman saya tersebut. Cukup lama kami berciuman dan berpagutan bibir, lidah kamipun saling bermain di dalam mulut Lusi, sambil tangan saya mengusap-usap punggung Lusi, turun kepinggulnya dan tangan sayapun meremas-remas pelan pinggul Lusi yang masih belum terlalu besar juga namun padat sekali. Lusipun juga memeluk tubuh saya dengan erat sekali.

Lalu ciuman sayapun mulai turun kelehernya Lusi, tampak terlihat Lusi memejamkan mata sambil mendongakan wajahnya, terdengar mulutnya mendesah menikmati ciuman saya yang sedang bermain dilehernya tersebut, lidah sayapun bermain-main ditelinganya dan akhirnya ciuman sayapun turun kedadanya.

Mulut sayapun mulai menciumi buah dadanya, lalu menjilati puting buah dadanya yang sebelah kiri sambil tangan saya meremas lembut buah dadanya yang sebelah kanan. Terlihat tubuh Lusi bergelinjang seperti terkena strum disaat lidah saya menyentuh putingnya.

Bahkan tubuh Lusipun semakin bergelinjang-gelinjang dan mendesah-desah ketika lidah saya mulai bermain-main diputing buah dadanya, sambil mencium dan menghisap-hisap puting buah dadanya itu serta meremas-remasnya. Lusipun kelihatannya sudah tidak tahan lagi, tangannya bergerak memegang penis saya dan meremas-remasnya dengan keras. Ah rupanya Lusi belum berpengalaman dan belum mengerti bagaimana caranya membuat pasangannya merasakan nikmat.

Sambil memeluk dan meremas buah dadanya, saya berbisik ditelinganya mengajarinya memegang, mengusap-usap lembut dan memperlakukan batang kemaluan saya agar saya juga bisa merasakan nikmat seperti yang sedang dirasakan oleh dirinya.

Lalu saya merebahkan tubuh Lusi ditempat tidur, lalu membuka kedua kakinya kemudian menindihnya diantara kakinya tersebut. Lalu kembali kami berciuman bibir dan bermain lidah, lalu ciuman sayapun turun kelehernya dan terus turun sampai kedadanya sambil tangan saya meremas-remas lembut buah dadanya.

Lusi kelihatannya sudah tidak tahan lagi, tubuhnya sudah tegang bergelinjang-gelinjang, sambil memeluk tubuh saya erat sekali, Lusipun mengeluarkan desahan yang semakin keras karena pengaruh ilmu pembangkit sir yang saya gunakan kepadanya mulai bereaksi mencapai klimaks.

Lusi merasakan nafsunya sudah semakin meledak dan naik keubun-ubun, dimana pada saat itu batang kemaluan saya sudah menempel dikemaluannya dan menggesek-gesek belahan kemaluannya. Lusi semakin menggoyang-goyangkan pinggulnya agar batang kemaluan saya bisa segera menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya, Rupanya dia sudah ingin sekali lubang kemaluannya dimasuki oleh batang kemaluan saya.

Bersambung . . . .

Akan tetapi dikarenakan saya masih belum mau segera menyelesaikan permainan ini, karena saya masih belum puas bermain dengan buah dadanya Lusi, maka sayapun berusaha mengimbangi goyangan pinggulnya Lusi agar batang kemaluan saya tidak berhasil dibuat masuk olehnya ke dalam lubang kemaluannya dan hanya menggesek-gesek belahan kemaluannya saja.

Karena Lusi tidak berhasil membuat batang kemaluan saya masuk ke dalam lubang kemaluannya dengan goyangan pinggulnya yang semakin hebat, akibatnya malah membuat kepala penis saya menyundul-nyundul lubang kemaluan dan dan menggesek-gesek clitorisnya, sehingga akhirnya nafsunya memuncak dan dipengaruhi reaksi ilmu pembangkit sir yang juga sudah mencapai klimaksnya, akhirnya dengan desahan yang cukup keras dan pelukan yang sangat kencang, dengan tubuh yang tegang bergelinjang-gelinjang, sambil kedua kakinya mengapit pinggul saya dengan kerasnya, Lusipun akhirnya mencapai orgasme. Terlihat tubuhnya teregang beberapa saat. Terasa cairan hangat meleleh keluar dari kemaluannya membasahi batang kemaluan saya yang menempel di belahan kemaluan Lusi.

Setelah beberapa saat memejamkan matanya, dengan tubuh yang meregang, pelan-pelan terasa pelukan Lusi mulai mengendor dan kedua kakinyapun turun ke bawah, terbuka mengangkang lemas dengan tubuh saya ditengah-tengahnya.

Sayapun mencium keningnya dan membisikan kata-kata bahwa saya sayang sekali padanya. Setelah itu saya mencium bibirnya kembali, kami berciuman dan bermain lidah kembali sambil berpelukan, masih tetap dalam kondisi saya menindih tubuhnya Lusi.

"Gimana rasanya sayang? Enak?" tanya saya kepada Lusi. Sambil tersenyum dan memandang saya, Lusipun menganggukkan kepalanya.

"Mau ngerasain yang lebih nikmat dan lebih dahsyat lagi?" tanya saya kembali.

"Terserah kakak, saya akan melakukan apa yang kakak mau." jawab Lusi kemudian.

"Bagaimana kalau sekarang gantian kamu yang membuat saya merasakan nikmat?" tanya saya lagi. Lusipun tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Tanpa membuang waktu lagi, saya langsung membaringkan diri terlentang di tempat tidur. Lusipun lalu naik keatas badan saya dan merebahkan dirinya tertelungkup di atas badan saya. Lalu kami berciuman, bermain lidah dan berpelukan kembali dengan panasnya.

Lusipun mulai mencumbu saya menciumi leher saya, terus turun kedada saya. Lidahnya bermain-main di puting dada saya yang sebelah kiri sambil sesekali dihisap-hisapnya, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap puting dada saya yang sebelah kanan. Tangan kirinyapun bergerak turun ke bawah, memegang batang kemaluan saya dan meremas-remasnya dengan lembut.

Ah luar biasa sekali nikmatnya, saya hanya bisa memejamkan mata merasakan betapa nikmatnya dicumbu oleh Lusi sambil tangan saya meremas-remas lembut buah dada dan putingnya. Lalu ciuman dan lidah Lusipun mulai bergerak turun ke bawah sampai akhirnya wajah Lusi tepat berada di depan batang penis saya.

Lalu lidahnya menjilat-jilat batang kemaluan saya dengan pelan sekali dan oh.. Nikmat sekali rasanya ketika Lusi memasukan kepala penis saya ke dalam mulutnya yang mungil itu, mengulumnya, menghisap-hisapnya dan nikmat sekali ketika bibirnya yang lembut bergerak keatas ke bawah, mengocok-ngocok batang penis saya sehingga keluar masuk dari mulutnya.

Akhirnya setelah 20 menit kemudian saya tidak tahan lagi, terasa ada sesuatu yang mau meledak dan keluar dari batang penis saya, lalu saya memegang kepala Lusi dan sambil meremas rambutnya, saya menggerak-gerakan kepala Lusi naik turun semakin cepat, semakin cepat dan semakin cepat.

Akhirnya dengan tubuh yang menegang kencang sekali, saya tekan kepala Lusi ke bawah sehingga batang kemaluan saya yang panjangnya 17 cm dengan diameter 3 cm itu tertelan masuk semua ke dalam mulutnya dan saya menyemprotkan cairan kenikmatan saya itu berkali-kali ke dalam mulutnya.

Karena saya tahan kepalanya disaat saya mengalami orgasme yang luar biasa tersebut, menyebabkan hampir semua cairan kenikmatan saya tertelan oleh Lusi dan hanya sedikit yang meleleh keluar dari sela-sela bibirnya.

Lalu Lusipun membersihkan batang kemaluan saya dengan menjilat-jilatinya sampai bersih. Kemudian saya tarik tubuh Lusi keatas menindih tubuh saya, kami berpelukan dan berciuman mesra sekali.

Berhubung hari sudah menjelang sore dan sudah waktunya pulang, dimana Lusipun belum minta izin orang tuanya mau pulang terlambat, maka kami segera mandi berdua dan akhirnya Lusipun saya antar keluar rumah agar dia bisa segera pulang.

Tak lupa kami janjian kembali, dimana Lusi akan datang kembali kerumah saya besok siang setelah pulang sekolah jam 12.00 dan sudah terlebih dulu izin pada orang tuanya akan pulang terlambat.

Ternyata benar, Lusi menepati janjinya. Setelah selesai sekolah Lusi langsung kerumah saya. Ah betapa bahagianya hati saya karena kekasih yang sangat saya sayangi telah datang untuk menemui saya, telebih lagi Lusi sudah meminta izin terlebih dulu kepada orang tuanya akan pulang terlambat. Jadi kami punya waktu yang cukup banyak untuk melepas rindu dan memadu kasih.

Tak membuang waktu lagi. Pintu pagar langsung saya bukain dan saya langsung menarik tangan Lusi untuk mengajaknya masuk kekamar saya. Setelah berada di dalam kamar dan mengunci pintunya, saya langsung memeluk Lusi erat-erat dan mencium serta melumat bibirnya. Lusipun yang telah mulai berpengalaman dalam berciuman, langsung membalas ciuman saya dan juga melumat bibir saya, sampai akhirnya kitapun bermain lidah.

Kali ini saya sudah berencana untuk bisa menikmati tubuh Lusi habis-habisan karena saya sudah tidak tahan lagi melihat bodynya yang luar biasa. Lalu Lusipun saya suruh berbaring di ranjang agar bisa tidur dan beristirahat sebentar barangkali dia hari ini lelah sekali belajar di sekolahnya. Lalu sayapun membaringkan tubuh saya di samping tubuh Lusi tersebut sambil memeluknya.

Tanpa sepengetahuan Lusi, pelan-pelan tangan saya mengeluarkan biji lada dari saku celana pendek saya yang sudah saya siapkan dari tadi pagi sebelumnya. Saya ingin mencoba ilmu yang pernah saya pelajari akan tapi belum pernah saya berkesempatan untuk mengetes kemampuannya. Biji lada tersebut baru bisa digunakan dan berfungsi apabila kita mengambilnya dari dapur rumah orang lain yang bukan tempat tinggal kita dan harus tanpa sepengetahuan orang-orang yang tinggal di rumah itu, apa lagi sampai kepergok.

Lalu apabila kita memilin-milin biji lada tersebut dengan ibu jari dan jari tengah kita, sambil menerapkan ilmu memindahkan rasa tersebut sambil ditujukan pada seorang wanita, maka wanita yang kita tuju tersebut akan merasakan klitorisnya seperti dipilin-pilin, semakin cepat dan keras kita memilin biji lada tersebut, maka wanita itu juga akan merasakan klitorisnya semakin cepat dan keras dipilin-pilin.

Sambil menunggu beberapa saat sampai Lusi mulai tertidur dalam pelukan saya, sayapun mulai menerapkan ilmu memindahkan rasa yang ditujukan kepada Lusi binti pulan sambil jari tangan saya mulai memilin-milin biji lada tersebut. Ternyata hasilnya luar biasa sekali, pertama saya merasakan tubuh Lusi tersentak dalam pelukan saya.

Rupanya Lusi kaget karena dia merasa kok aneh klitorisnya seperti ada yang menyentuh dan memilin-milinnya, sedangkan dia melihat tangan kiri saya sedang memeluk tubuh dia dan ada di punggungnya, tangan yang kanan sedang ada di samping tubuh saya sebelah kanan lurus di atas tempat tidur. Posisi saya tidur terlentang dan Lusi ada di sebelah kiri saya setengah tertelungkup memeluk tubuh saya.

Dalam keadaan setengah bingung dan heran, Lusipun lalu mencoba tidur kembali sambil memeluk tubuh saya dan ketika saya lihat Lusi mulai hampir tertidur kembali, saya mulai memilin-milin biji lada itu kembali. Kali ini walaupun dalam keadaan setengah bingung dan heran, Lusi diam saja dan tetap memejamkan matanya.

Pada awalnya Lusi berusaha mencoba untuk melawan perasaan "aneh" tersebut, akan tetapi akhirnya lama-lama dia terlihat mulai menikmatinya juga. Saya mulai merasakan tubuh Lusi mulai bergelinjang-gelinjang pelan dan kaki kirinya yang berada di atas kaki kiri saya juga mulai terasa sebentar-sebentar menegang. Sambil meram pura-pura tidur, saya mempercepat pilinan biji lada tersebut sambil sesekali saya memencet biji lada tersebut dengan agak keras.

Luar biasa sekali, saya merasa tubuh Lusi mulai semakin bergelinjang-gelinjang dan tangan kirinya yang berada di dada saya mulai terasa memeluk saya erat sekali. Dari mulutnyapun mulai terdengar desahan-desahan halus yang lirih sekali. Lalu sayapun mulai menambah kecepatan pilinan pada biji lada tersebut lagi, semakin cepat dan semakin cepat lagi sambil sesekali memencetnya dengan agak keras.

Setelah beberapa saat tubuh Lusi bergelinjang-gelinjang dengan kencang disertai dengan pelukannya yang juga sudah semakin erat pada tubuh saya, diiringi dengan suara desahan yang cukup keras dan disertai dengan tubuh yang tegang sambil memeluk tubuh saya erat sekali, akhirnya Lusipun mencapai puncak orgasmenya yang luar biasa.

Setelah tubuhnya tegang beberapa saat sambil memejamkan matanya, akhirnya tubuh Lusipun pelan-pelan terasa mulai mengendur. Lusipun kembali memeluk tubuh saya dengan tubuh yang basah kuyub dengan keringat sambil memejamkan mata dan tersenyum penuh kepuasan.

Lalu saya membangunkan Lusi dan menyuruhnya membuka baju karena bajunya telah basah kuyup oleh keringat. Lusipun lalu bangun dan membuka baju serta rok seragam sekolahnya, kali ini rupanya Lusi sudah tidak malu-malu lagi pada saya dan diapun juga membuka BHnya sekalian.

Luar biasa sekali, tubuhnya yang putih mulus kembali terpampang di depan mata saya dengan buah dadanya yang masih baru mulai numbuh dihiasi dengan puting kecil berwarna coklat kemerahan terlihat menggantung indah di dadanya. Wah rupanya Lusi tadi mengeluarkan cairan yang cukup banyak waktu orgasme karena saya melihat CDnya yang berwarna krem ada bercak-bercak cairan yang tembus dari dalam CDnya.

Sekalian saja saya suruh buka CDnya dengan alasan agar cepat kering bila disampirkan di atas kursi. Dengan wajah yang memerah karena merasa agak malu ketahuan tadi habis orgasme, pelan-pelan Lusi menurunkan CDnya dan melepaskannya lalu menaruhnya di atas senderan kursi dalam kamar saya. Supaya Lusi tidak malu telanjang polos sendirian, lalu sayapun membuka seluruh pakaian yang melekat pada tubuh saya sampai telanjang polos juga seperti halnya dengan Lusi saat itu.

Timbul niat saya untuk isengin Lusi sekali lagi, karena saya ingin hari itu Lusi benar-benar merasakan kepuasan yang tiada tara sampai saya bisa merasakan tubuhnya sepenuhnya. Kembali saya bilang padanya agar lebih baik kita sama-sama coba tidur untuk beristirahat sebentar dulu, agar kita nanti bisa melepaskan rindu habis-habisan dengan tubuh yang segar. Lusipun menganggukan kepalanya tanda mengiyakan.

Akhirnya saya merebahkan diri kembali terlentang ditempat tidur dan Lusipun berbaring di sebelah kiri saya setengah tertelungkup sambil memeluk saya dengan tangan kirinya di atas dada saya dan kaki kirinyapun ditaruhnya di atas kaki kiri saya. Sekilas saya cium keningnya dan Lusipun lalu menyelusupkan wajahnya kedada saya. Sayapun juga memeluk tubuhnya dengan erat dan mengusap-usap rambutnya.

Akhirnya sayapun mulai mengisenginnya kembali dengan memilin-milin biji lada itu kembali. Kali ini Lusi memberi respon kepada saya, sambil bergelinjang-gelinjang secara perlahan, tangan kirinya mulai mengusap-usap dada saya juga puting dada saya. Ahh.. nikmat sekali rasanya, sayapun lalu mencium bibirnya sambil tak lupa tangan saya tetap terus memilin-milin biji lada tersebut.

Kali ini saya memilinnya pelan-pelan berirama diselingi dengan pijitan yang agak keras pada biji lada tersebut. Saya tidak ingin buru-buru memilinnya dengan cepat karena saya ingin agar Lusi merasa nafsunya sangat membara dan meledak-ledak namun tak kunjung menyampai puncak.

Luar biasa sekali, saya merasa tubuh Lusi mulai semakin bergelinjang-gelinjang dan tangan kirinya yang berada di dada saya mulai terasa memeluk saya erat sekali. Dari mulutnyapun mulai terdengar desahan-desahan yang cukup keras, akhirnya saya lumat bibirnya. Kami saling melumat bibir dan lidah kami saling berkaitan didalam mulutnya Lusi, kelihatannya Lusi sudah mulai tidak tahan dan akhirnya dia mulai merangkak menaiki dan menindih tubuh saya.

Lusipun mulai mencumbu saya, menciumi leher saya, terus turun kedada saya. Lidahnya bermain-main diputing dada saya yang sebelah kiri sambil sesekali dihisap-hisapnya, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap lembut puting dada saya yang sebelah kanan. Tangan kirinyapun bergerak turun kebawah, memegang batang kemaluan saya, meremas-remasnya dan mengocok-ngocoknya dengan lembut. Ah, sudah mulai pintar dia rupanya..

Benar-benar luar biasa sekali nikmatnya, saya hanya bisa memejamkan mata merasakan betapa nikmatnya dicumbu oleh Lusi sambil tangan saya meremas-remas buah dadanya yang lembut tapi padat dan mengusap-usap puting buah dadanya yang sudah mulai membesar dan mengeras.

Jari tangan kiri saya lalu memilin-milin puting buah dadanya yang sebelah kanan sambil jari tangan kanan saya masih tetap memilin-milin biji lada secara teratur. Lalu ciuman dan lidah Lusipun mulai bergerak turun kebawah sampai akhirnya wajah Lusi tepat berada di depan batang penis saya.

Lalu lidahnya menjilat-jilat batang kemaluan saya dengan pelan sekali dan Oh, Nikmat sekali rasanya ketika Lusi memasukan kepala penis saya kedalam mulutnya yang mungil itu, mengulumnya, menghisap-hisapnya dan Luar biasa sekali nikmatnya ketika bibirnya yang lembut bergerak keatas kebawah, mengocok-ngocok batang penis saya sehingga keluar masuk dari mulutnya.

Setelah hampir 15 menit lamanya penis saya diberikan kenikmatan oleh mulut Lusi yang mungil tersebut, akhirnya saya mulai merasakan ada sesuatu yang ingin meledak dan keluar dari penis saya. Akan tetapi dikarenakan saat itu saya benar-benar ingin bisa membuat Lusi merasakan kenikmatan orgasme yang luar biasa dan terbang kelangit yang ketujuh, lalu saya mulai menerapkan ilmu supaya penis saya agar bisa bertahan lama.

Setelah itu saya minta agar Lusi membalikan badannya sehingga kami lalu mempraktekan gaya 69 dikarenakan saya masih belum puas diberikan kenikmatan oleh mulutnya Lusi. Tak lupa tentunya jari tangan kanan saya memilin-milin biji lada tersebut.

Rupanya Lusi sudah sangat basah sekali, belahan kemaluannya sudah dibasahi oleh cairan yang dikeluarkan oleh vaginanya sendiri. Aromanyapun harum dan membuat saya semakin terangsang. Langsung saja saya jilati semua cairan yang ada di vagina Lusi.

Terlihat Lusipun semakin bergelinjang-gelinjang merasakan kenikmatan disaat lidah saya menjilati belahan kemaluannya, terlebih lagi disaat lidah saya bermain-main pada klitorisnya. Terasa Lusi menggigit penis saya dan mulai menghisap penis saya semakin kuat. Benar-benar nikmat rasanya.

Setelah lidah saya bermain-main cukup lama dibelahan kemaluannya terutama pada klitorisnya, Lusipun akhirnya tidak tahan lagi karena nafsunya sudah naik sampai keubun-ubun, dengan tubuh yang menegang dengan kencang dibarengi desahannya yang cukup keras Lusipun mencapai orgasme yang luar biasa.

Terasa di lidah saya lubang vaginanya berdenyut-denyut dan mengeluarkan cairan kental yang cukup banyak. Gurih dan harum rasanya. Langsung saja semua cairannya yang keluar banyak sekali dari lubang vagina Lusi tersebutpun saya jilati sampai bersih dan saya telan sampai habis.

Beberapa saat kemudian terasa tubuhnya mulai mengendur tergeletak pasrah di atas tubuh saya dengan nafasnya ngos-ngosan. Saya rasa sudah cukup sampai di sini saya isengin Lusi, lalu tanpa sepengetahuan Lusi saya buang biji lada tersebut ke bawah ranjang. Lalu saya bangunkan Lusi dan saya ajak dia untuk mandi agar tubuhnya terasa segar kembali.

Akhirnya saya berpacaran dengan Lusi kurang lebih selama 4 tahun, walau hampir tiap hari kita bertemu secara sembunyi-sembunyi dan hampir setiap hari kita memadu kasih, akan tetapi saya tetap berusaha menjaga kesuciannya dan tidak menyetubuhinya.

Tamat

Cerita saya ini hanyalah fiktif belaka, bila ada kesamaan, itu hanyalah kebetulan. Pada saat itu, aku sedang mengendarai motor di jalan Soekarno-Hatta. Aku tidak memakai helm karena aku terburu-buru pergi ke tempat pacarku. Apesnya, aku dicegat sama polisi. Polisi itu naik mobil, tiba-tiba memotong jalanku, aku kaget hampir saja kutabrak mobil polisi itu. Aku rem motorku, karena terjadi hentakkan, jadi tubuhku hilang keseimbangan lalu aku jatuh dari motorku. Aku terguling-guling di jalan. Tapi syukurlah hanya lecet biasa.

Pada saat aku masih dalam keadaan telungkup, aku lihat pintu mobil polisi itu terbuka. Tapi anehnya, aku sepertinya kok melihat kaki seorang wanita. Kakinya yang putih mulus dan indah itu kini berada tepat di wajahku, kutegakkan kepalaku. Betapa kagetnya aku, mataku seperti melihat "hutan belantara" di antara kedua kaki yang jenjang itu. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia seorang polisi wanita, pangkatnya Letnan Dua dan di dada kirinya tertulis namanya, LILIS. Dia sangat cantik dan ohh.., body-nya mirip gitar Spanyol.

Aku jadi bengong, dan, "Plaakk..!" sebuah tamparan mendarat di pipiku.
"Hei, apa yang Kamu lihat..? Ayo sekarang serahkan SIM dan STNK cepet..!" bentaknya.
Aku jadi kaget dan segera kuambil dompetku, lalu kuambil SIM dan STNK, lalu kuserahkan padanya. Sementara dia melihat suratku, aku pandangi lagi dia ohh.., betapa cantik polisi cewek ini. Aku duga umurnya paling masih sekitar 25 tahun, seumur dengan kakakku. Samar-samar di dalam mobil ada cewek satu lagi, dia seumur dengannya tetapi pangkatnya lebih rendah, kalau tidak salah sersan dua. Kakinya putih tetapi tidak semulus polwan yang tadi.

Lalu tanpa kusadari, Letnan Lilis mengambil sesuatu dari dalam mobil, dia berjalan menuju hidung mobil, lalu dia membungkukkan badannya untuk menulis sesuatu. Pada posisi nungging, aku lihat lagi body-nya yang wuih selangit deh.. Tanpa kusadari, "adik kecilku" membengkak perlahan.
Setelah itu dia tegakkan badannya, terus berkata, "Eee.. saudara Sony, Anda Kami tilang karena Anda tidak memakai helm dan ngebut. Sidang akan dilaksanakan besok lusa. Jangan lupa Anda harus hadir di persidangan besok. Oke..?"
"Tapi Bu, besok lusa Saya tidak bisa hadir, soalnya pada hari itu Saya harus mengantar pacar yang akan diwisuda. Jadi Saya minta tolong sama Ibu, bagaimana dech baiknya agar persoalan ini selesai..?"

Lalu dia bilang, "Do you have some money..?"
"Aduh, maaf sekali Bu, Saya sama sekali tidak membawa uang sepeser pun." jawabku.
"Baiklah, kalau gitu SIM-mu Aku tahan untuk sementara, tapi nanti malam Kamu harus pergi ke rumah Saya. Dan ingat..! Kamu harus datang sendiri. Oke..? Ini alamatku. Jangan lupa lho, Aku tunggu jam 19:00."
Dia pergi sambil mengerdipkan matanya kepadaku. Aku kaget, tetapi happy banget, pokoknya senang dech.

Aku sampai di rumahnya sekitar jam 19:00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci. Tidak lama kemudian, Ibu Lilis muncul dari dalam dan sudah tahu aku akan datang malam itu.
"Ayo Son.., masuk. Aku sudah lama nunggu lho, sampai basah dan bau keringat pantatku duduk terus dari tadi.." sapanya.
"Akkhh.. Ibu bisa saja.." jawabku.

"Sorry.., pintunya sudah digembok, soalnya Aku tinggal sendiri, jadi harus hati-hati." sambutnya.
"Oh.., jadi Ibu belum menikah too..? Sayang lho..! Wanita secantik Ibu ini belum menikah.." kataku merayu.
"Aaa.. Kamu merayu ya..?" tanyanya.
"Enggak kok Bu, Saya berkata begitu karena memang kenyataannya begitu. Coba Ibu pikir, Ibu sudah mapan hidupnya, cantik luar-dalam, dan sebagainya dech.." jelasku.
"Ehhkk.. Aku cantik luar-dalam, apa maksud Kamu, Aku cantik luar-dalam..?" tanyanya lagi.
"Waduh.., gimana ya, malu Aku jadinya..?" jawabku.
"Kamu nggak perlu malu-malu mengatakannya, Kamu ingin SIM Kamu kembali nggak..?" ancamnya."Eee.. sekarang gini aja, Kamu udah punya pacar khan..? Sekarang Saya tanya, kenapa Kamu memilih dia jadi pacar Kamu..?" tanyanya lagi.
"Eee.. jujur aja Bu, dia itu orangnya cantik, baik, setia dan cinta sama Saya, that's all.."

"Kalau seumpama Kamu disuruh milih antara Saya dan pacar Kamu, Kamu pilih Saya atau pacar Kamu sekarang..? Bandingkan aja dari segi fisik, Oke.. Saya atau Dia..?" tanyanya memojokkanku.
"Eee.. Anu.. anu.. ee..," aku dibuat bingung tidak karuan.
"Ayo.. jawab aja..! Kalau Kamu tidak jawab, SIM Kamu tidak kukembalikan lho..!" ancamnya lagi.
"Waduhh.., gimana ya..? Ehmm.., baiklah, Saya akan jawab sejujurnya. Saya tetap akan memilih pacar Saya sekarang." jawabku.

"Wow.., kalau begitu dia lebih cantik dan semok dong dari Saya..?" jawabnya lirih.
"Eee.. bukan begitu Bu, Saya memilih pacar Saya walaupun Dia sebetulnya kalah cantik dari Ibu, dan segalanya dech..!" jawabku. "Akhh.. yang benar, jadi Aku lebih cantik dan semok dari Dia..?" tanyanya lagi.
"Jujur saja.., ya.. ya.. ya.." jawabku mantap.
"Ohh.., Aku jadi tersanjung dan terpikat dengan jawabanmu tadi..," katanya girang, "Wah.. jadi lupa Aku, Kamu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mau ambil SIM Kamu di kamar.., Oke..?" pintanya.

Lalu aku menuju ke ruang tengah, kuputar TV. Secara tidak sengaja, aku melihat tumpukan VCD. Aku tertarik, lalu kulihat tumpukan VCD itu, lalu, ohh astaga, ternyata tumpukan VCD itu semuanya film "XX", aku terkejut sekali melihat tumpukan film "XX" itu. Sebelum aku melihat satu-persatu, terdengar bunyi pintu dibuka. Lalu, ohh, aku terkejut lagi, Ibu Lilis keluar dari kamarnya hanya menggenakan daster pink transparan, di balik dasternya itu, bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul bak gunung Semeru.

Begitu ia keluar, mataku nyaris copot karena melotot, melihat tubuh Ibu Lilis. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.
"Kenapa..? Ayo duduk dulu..! Ini SIM Kamu.. Aku kembalikan.." katanya.
Wajahku merah karena malu, karena Ibu Lilis tersenyum saat pandanganku terarah ke buah dadanya.
"SIM Kamu, Aku kembalikan, tapi Kamu harus menolong Saya..!"
Ibu Lilis merapatkan duduknya di karpet ke tubuhku, aku jadi panas dingin dibuatnya.
"Sonn..?" tegurnya ditengah-tengah keheninganku.
"Ada apa Bu..?" tubuhku bergetar ketika tangan Ibu Lilis merangkulku, sementara tangannya yang lain mengusap-usap daerah "XX"-ku. "Tolong Ibu Lilis ya..? Dan janji, Kamu harus janji untuk merahasiakan hal ini, kalau tidak aku DOR Kamu..!" pintanya manja.
"Tapi.. Saya.., anu.., ee.."
"Kenapa..? Ooo.. Kamu takut sama pacar Kamu ya..?" katanya manja.
Wajahku langsung saja merah mendengar perkataan Ibu Lilis, "Iya Bu.." kataku lagi.
"Sekarang Kamu pilih disidang atau pacar Kamu..?" ancamnya.

Dia kemudian duduk di pangkuanku. Bibir kami berdua kemudian saling berpagutan. Ibu Lilis yang agresif karena haus akan kehangatan dan aku yang menurut saja, langsung bereaksi ketika tubuh hangat Ibu Lilis menekan ke dadaku. Aku bisa merasakan puting susu Ibu Lilis yang mengeras. Lidah Ibu Lilis menjelajahi mulutku, mencari lidahku untuk kemudian saling berpagutan bagai ular. Setelah puas, Ibu Lilis kemudian berdiri di depanku yang dari tadi masih melongo, karena tidak percaya pada apa yang sedang terjadi. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos tanpa sehelai bnenangpun seakan akan menantang untuk diberi kehangatan olehku.

"Lepaskan pakaiannmu Sonn..!" Ibu Lilis berkata sambil merebahkan dirinya di karpet.
Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.
"Ayoo.. cepat dong..! Aku udah gatel nich.. ohh.." Ibu Lilis mendesah tidak sabar.
Aku kemudian berlutut di sampingnya. Aku bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena malu.
"Sonn.. letakkan tanganmu di dadaku, ayo ohh..!" pintanya lagi.
Dengan gemetar aku meletakkan tanganku di dada Ibu Lilis yang turun naik. Tanganku kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Ibu Lilis yang super montok itu.
"Oohh.. enakk.., ohh.. remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." desahnya.
Dengan semangat aku melakukan apa yang dia katakan.

Lama-lama aku jadi tidak tahan, lalu, "Ibu.. boleh Saya hisap susu Ibu..?"
Ibu Lilis tersenyum mendengar pertanyaanku, dia berkata sambil menunduk, "Boleh Sayang.. lakukan apa yang Kamu suka.."
Tubuh Lilis menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulutku yang sekarang mulai garang itu di susunya.
"Oohh.. jilat terus Sonn..! Ohh.." desah Ibu Lilis sambil tangannya mendekap erat kepalaku ke payudaranya.
Aku lama-lama semakin buas menjilati puting susunya, mulutnya tanpa kusadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapanku semakin keras, bahkan tanpa kusadari, aku menggigit-gigit ringan putingnya yang ohh.

"Mmm.. nakal Kamu.." Ibu Lilis tersenyum merasakan tingkahku yang semakin "Jozz" itu.
Lalu aku duduk di antara kedua kaki Ibu Lilis yang telah terbuka lebar, sepertinya sudah siap tempur. Ibu Lilis kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangya.
"Ayo, sekarang Kamu rasakan memekku..!" ia membimbing telunjukku memasuki liang senggamanya.
"Hangat, lembab, sempit sekali Bu.." kataku sambil mengucek kedalaman liang kenikmatannya. "Sekarang jilat 'kontol kecil'-ku..!" katanya.
Pelan-pelan lidahku mulai menjilat klitoris yang mulai menyembul tinggi sekali itu.

"Terus.. oohh.. ya.. jilat.. jilat. Terus.. ohh.." Ibu Lilis menggerinjal-gerinjal keenakan ketika kelentitnya dijilat oleh mulutku yang mulai asyik dengan tugasnya.
"Gimana.., enak ya Bu..?" aku tersenyum sambil terus menjilat.
"Oohh.. Soonn.." tubuh Ibu Lilis telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.

Lidahku semakin berani mempermainkan kelentit Ibu Lilis yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanannya akan segera jebol. Dan aku akan unggul 1-0, ee.. emangnya main bola.
Lalu, "Oooaahh.. Soonn..!"
Tangan Ibu Lilis mencengkeram pundakku yang kokoh bagaikan tembok raksasa di China, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya mulai menegang, dan muncratlah 'lahar'Ibu Lilis di mulutku. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah kuberikan.

Bersambung . . . .

"Hmm.. Kamu sungguh lihai Soonn.. Sekarang coba gantian Kamu yang berbaring.." katanya.
Aku menurut saja. Batang kejantananku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Ibu Lilis yang mulai mempermainkan senjata keperkasaanku.
"Wah.. wahh.. besar sekali. Oh my god.. Ohh.." tangan Ibu Lilis segera mengusap-usap batang keperkasaanku yang telah mengeras tersebut.
Segera saja benda besar dan panjang itu mulai berdenyut-denyut dan dimasukkan ke mulut Ibu Lilis. Dia segera menjilati batang kemaluanku itu dengan penuh semangat. Kepala kejantananku itu dihisapnya keras-keras hingga aku jadi merintih keenakan.
"Ahh.. enakkee.. rekk..!" aku tanpa sadar menyodokkan pinggulku untuk semakin menekan senjata keperkasaanku agar makin ke dalam mulut Ibu Lilis yang telah penuh oleh batang kejantananku. Gerakanku makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Ibu Lilis.

"Ooohh Bu.. oohh.. mulut Ibu memang sakti.. ohh.. I'm coming.. ohh.."
Muncratlah laharku di dalam mulut Ibu Lilis yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.. tas.. tas.. plass.
"Hmm.. agak asin rasanya Son punyamu.., tapi enak kok.." Ibu Lilis masih tetap menjilati kemaluanku yang masih tegak bagaikan tugu Monas di Jakarta, menara Piza di Italy, menara Eiffel di Paris.
"Sebentar ya.., Aku mau minum dulu.." katanya setelah selesai menjilati batang kejantananku.

Ketika Ibu Lilis sedang membelakangiku sambil menenggak air putih dari kulkas. Aku melihat body yang wuih dan itu ohh, pantat yang bulat. Aku memang suka pantat yang bulat dan menantang. Aku tidak tahan cuma melihat dari jauh, lalu aku berdiri dan berjalan menghampirinya, lalu mendekapnya dari belakang.
"Sonn.. jangan nakal dong, biar Ibu minum dulu..!" katanya manja.
"Aku tidak tahan melihat pantat ibu yang bulat dan menantang itu." kataku tak sabaran.
"Kamu suka pantatku, kalau gitu Kamu tentu mau kalau nanti pantatku mendapat giliran untuk Kamu obok-obok, bagaimana Son..? Mau ngobok-ngobok pantat Ibu..?" tanyanya.

Aku terima tantangannya.
"Ohh.., memang benar-benar wuihh.." aku berkata sambil mengelus-elus pantat Ibu Lilis.
Lalu aku jongkok agar dapat jelas melihat, kusentuh lembut pantat itu dengan tanganku. Terus kucium, kuelus lagi, kucium lagi terus kujilat, lalu kubuka belahan pantat itu. Ohh.., terhampar pemandangan indah dengan bau yang khas, lubang yang sempit, lebih sempit dari yang di depan dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu yang lumayan lebat. Lalu kujulurkan jari telunjukku ke lubang yang sempit itu. Waktu aku coba memasukkan jariku ke lubang itu, terdengar jeritan kecil Ibu Lilis.
"Son.., jangan keras-keras ya, nanti sakit.. lho.."

Lalu aku mulai memasukkan step by step. Waktu jariku menembus lubang itu sepertinya tanganku mau disedot masuk ke dalam.
"Lubang Ibu nakal juga ya, masa jariku mau dimakan juga..?"
"Akhh.. Kamu nakal dech.., ohh Son.. coba sekarang Kamu jilat ya..?" pintanya.
Lalu kutarik jariku dari dalam lubang itu, lalu aku mulai menjilati lubang itu ehhmm.., lumayan juga rasanya, asin-asin gurih.

Sementara itu, Ibu Lilis terdengar merintih keenakan. Lama-lama aku tidak sabar, dan terus kuberdiri dan tanpa basa-basi, aku langsung membalikkan badannya. Terus kulahap gundukan-gundukan daging di dada Ibu Lilis dengan nikmat. Sementara itu, Ibu Lilis mulai mendesah-desah dan menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Goyangan-goyangan lidahku yang terus menjilati puting susu Ibu Lilis yang tinggi dan lancip begitu bertubi-tubi tanpa henti. Ibu Lilis menggerinjal-gerinjal dengan keras.
"Aaahh.. uuhh.. uuhh.." desahan-desahan kenikmatan semakin banyak bermunculan dari mulut Ibu Lilis.
Geliat-geliatan tubuhnya semakin menjadi-jadi karena merasa sensasi yang luar biasa akibat sentuhan-sentuhan mulut dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di payudaranya. Urat-urat membiru pun mulai menghiasi dengan jelas seluruh permukaan payudara yang super montok itu.

Masih dengan mulutku yang tetap berpetualang di dada Ibu Lilis yang juga masih menggelinjang, aku membopong Ibu Lilis ke kamar. Kujatuhkan tubuh Ibu Lilis di atas kasur spring bed yang sangat empuk. Saking keras jatuhnya, tubuhnya yang aduhai itu sempat terlontar-lontar sedikit sebelum akhirnya tergolek pasrah di atas ranjang itu. Setelah itu, Ibu Lilis tetelentang di kasur dengan kaki-kakinya yang jenjang terjulur ke lantai. Tubuh bugilnya yang putih dan mulus beserta payudara yang montok dengan puting susu nan tinggi yang teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah pemandangan yang amat menawan hati.

Lalu aku berlutut di lantai menghadap selangkangan Ibu Lilis. Kurenggangkan kedua kakinya yang menjejak di lantai. Dengan begitu aku dapat memandang langsung ke arah selangkangannya itu. Bulu-bulu kemaluan yang tumbuh di padang rumput tipis yang menghiasi wilayah sensitif itu begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yang segar dan harum membuat nafsuku itu kian meninggi. Kudekatkan mulutku ke bibir vaginanya dan kujulurkan lidahku untuk mencicipi lezatnya lubang itu. Tubuh Ibu Lilis terlonjak keras ketika kucucukkan lidahku ke dalam liang senggamanya. Kukorek-korek seluruh permukaan lorong yang gelap itu. Begitu hebat rangsangan yang kubuat pada dinding lorong kenikmatan tersebut, membuat air bah segera datang membanjirinya.

"Ooohh.. uuhh.. aahh.." terdengar rintihan Ibu Lilis dari mulutnya yang megap-megap setengah membuka.
Kemudian aku berdiri. Dengan tangan bertumpu ke atas kasur, kucoba mengarahkan ujung penisku ke lubang vagina yang lumayan sempit yang tampak licin dan basah milik Ibu Lilis. Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggama itu. Tubuh Ibu Lilis berkejat-kejat dibuatnya merasakan nikmat penetrasi yang sedang kulakukan saat ini.
"Aaahh.. oohh.." tak ayal jeritan-jeritan mengalir dari mulutnya.
Akhirnya batang keperkasaanku amblas semua ke dalam liang gelap yang berdenyut-denyut milik Ibu Lilis diiringi dengan jeritannya.

Kenikmatan ini kian bertambah menjadi-jadi setelah aku melakukan penetrasi lebih dalam dan intensif lagi. Gerakan memompa dari batang kejantananku di dalam kemaluan Ibu Lilis semakin kupercepat. Terdengar suara kecipak-kecipak dan lenguhan kami berdua karena terlalu asyiknya kami bersenggama. Seiring dengan tangan yang kembali meremas-remas perbukitan indah yang menjulang tinggi di dada Ibu Lilis, batang kejantananku terus melakukan serangan-serangan yang tanpa henti di dalam lubang senggamanya yang bertambah kencang denyutan-denyutannya. Vagina memerah yang terus berdenyut-denyut dan amat licin akibat begitu membanjirnya cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalamnya, terasa menjepit bnatang kejantananku. Demikian sempitnya ruang gerak penisku di dalam lorong gelap itu, menjadikan gesekan-gesekan yang terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi sendiri bagiku yang merasakan batang keperkasaanku seperti merasa diurut-urut oleh seluruh permukaan dinding vaginanya. Mulutku pun tak henti-hentinya menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa dihalangi lagi.

"Oiihh.. Soonn.. ohh.." Ibu Lilis menjerit-jerit tidak karuan, sementara tubuhnya juga melonjak-lonjak dengan keras.
Sekuat tenaga kuhujam-hujam penisku dengan lebih ganas lagi ke dalam liang senggamanya. Rasanya hampir habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi nafsu birahi yang begitu menggelora tampaknya membuatku lupa pada kelelahanku itu. Ini dibuktikan dengan sodokan kejantananku yang berusaha menusuk sedalam-dalamnya. Bahkan berkali-kali ujung batang kejantananku sampai menyentuh pangkal liang tersebut, membuat Ibu Lilis menjerit keenakan.

"Soonn.. Soonn.. Aku.. mau.. keluar.." Ibu Lilis melenguh kencang.
Ia merasakan sudah tidak bisa menahan klimaksnya lagi. Akan tetapi, aku belum merasakan klimaks sedikit pun. Langsung kutambah kecepatan genjotan-genjotan batang kejantananku di dalam liang senggamanya. Begitu buasnya sodokan-sodokanku itu, membuat tubuh Ibu Lilis bergoyang-goyang hebat, dia merintih.. merintih.. dan merintih. Akhirnya saat yang diharapkan itu tercapai. Aku melenguh panjang merasakan laharku muncrat, menyusul Ibu Lilis yang sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya. Begitu nikmatnya orgasme yang kurasakan itu sehingga membuat laharku bagaikan air bah menerjang masuk ke dalam liang senggama Ibu Lilis. Kami berdua mengejang kencang saat titik-titik puncak itu tercapai. Tapi kenapa batang kejantananku tidak mau istirahat, dan masih terlihat perkasa.
Dengan segera aku berlutut di atas ranjang. Kuminta Ibu Lilis untuk berlutut juga membelakangiku dengan tangan bertumpu di kasur, jadi dalam posisi doggy style. Kemudian Lilis kudorong sedikit ke depan, sehingga pantatnya agak naik ke atas, yang lebih memudahkan batang kejantananku untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang senggamanya. Setelah itu langsung kusodok kemaluan yang sekarang sudah terlihat agak merekah itu dengan batang keperkasaanku dari belakang. Tubuh Ibu Lilis terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokanku itu, sementara mulutnya menjerit keenakan. Dalam sekejap, senjata-ku itu seluruhnya ditelan oleh vagina itu dan langsung menjepitnya. Jepitan liang senggama Ibu Lilis yang berdenyut-denyut menambah gairah birahiku yang memang sudah menggelora.

Dengan cepat, kutarik kejantananku sampai hampir keluar dari dalam liang senggamanya, lalu kutusukkan kembali dengan cepat. Kemudian kutarik dan kusodok lagi, seterusnya berulang-ulang tanpa henti. Doronganku yang keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat Ibu Lilis beberapa kali nyaris terjerembab. Namun itu tidak menjadi masalah sama sekali. Bahkan sebaliknya, membuat permainan kami berdua menjadi kian panas.

Lalu, "Aah.. ah.. ah.. ah.." nafasku terengah-engah.
Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga. Tenagaku sudah begitu terkuras, tetapi aku belum mau berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang masih ada semampuku. Dengan sedikit mengejang, kugenjot batang kejantananku kembali ke dalam luabng kenikmatannya sekuat-kuatnya. Ibu Lilis pun tidak mau kalah, dia maju-mundurkan tubuhnya dengan ganasnya. Akhirnya, Ibu Lilis melenguh panjang, muncratlah lahar-nya, disusul beberapa detik kemudian oleh kemaluanku.

Lalu secepat kilat kukeluarkan penisku dari dalam lubang kenikmatan Ibu Lilis dan langsung jatuh terkapar di kasur. Lalu, Ibu Lilis langsung meraih batang kejantananku itu dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Ibu Lilis mengocok penisku itu di dalam mulutnya yang memang agak kecil. Namun Ibu Lilis berhasil melumat batang keperkasaanku dengan nikmatnya. Gesekan-gesekan yang terjadi antara kulit kemaluanku yang sensitif dengan mulut Ibu Lilis yang basah dan licin ditambah dengan gigitan-gigitan kecil yang dilakukan oleh giginya yang putih karena pakai "Smile-Up Man", membuat aku tidak dapat menahan diri lagi. Muncratan-muncratan lahar kenikmatan yang keluar begitu banyaknya dari batang keperkasaanku langsung ditelan seluruhnya, hampir tanpa sisa oleh Ibu Lilis. Sebagian meleleh keluar dari mulutnya dan jatuh membasahi kasur. Belum puas sampai disitu, ia masih menjilati sekujur batang kejantananku sampai bersih total seperti sediakala. Bukan main!

Lalu kami berdua tergolek di atas tempat tidur dengan tubuh telanjang yang dibasahi oleh keringat dan lahar kami. Kemudian aku tertidur.
Tiba-tiba, "Aaauuwww..," kepalaku sakit sekali, terus aku terbangun tetapi samar-samar aku melihat 3 orang sudah berada di sekelilingku. Semuanya memakai seragam putih-putih. Satu cowok dan 2 cewek. Setelah itu penglihatanku mulai jelas, dan benar dugaanku, aku sekarang berada di rumah sakit. Tapi bagaimana bisa..? Terus apa yang kulakukan tadi itu gimana..?

Agar aku tidak penasaran, kubertanya pada dokter. Lalu dia menerangkan bahwa aku mengalami kecelakaan, terus terjadi gegar otak ringan di kepalaku. Jadi apa yang kulakukan tadi itu hanyaMIMPI. Ohh.. betapa malangnya nasibku, ya nasib, ya nasib.


Tamat