Aku seorang pemuda yang bercita-cita tinggi namaku paulus 24 tahun. Waktu itu aku masih kuliah di semester 2 ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di kota ini. Aku tinggal di kota medan yang penuh dengan kesibukan orang yang bermacam-macam pekerjaan dari kerja kuli, pegawai, sampai pejabat pemerintahan. Aku tinggal di sebuah pondok yang hanya di tempati oleh seorang nenek dan cucunya yang manis, aku di situ mengontrak (kost) perbulan. Kisah ini aku angkat sekalian untuk mengenang kekasihku itu.

Awal kisah ini terjadi waktu aku jalan-jalan di sekitar tempat kostku. Aku berjalan tidak tentu arah karena masalah keuangan membuatku bingung untuk membayar uang kost. Karena aku masih mengharapkan kiriman uang dari orang tuaku yang tinggal di kota Palembang, kota tempatku di lahirkan. Aku terus berjalan tidak tentu arah, menundukkan kepala ke bawah sakin bingungnya hingga aku tidak melihat sekelilingku. Rasa bingung sempat tertunda sejenak karena rasa lelah berjalan seharian. Dan kisahku pun bermulai dari situ.

Karena rasa lelah, akupun mencari tempat duduk yang menurutku nyaman. "Hmm.. taman bunga," gumamku dalam hati melihat taman bunga yang ada di seberang jalan kota. Singkat cerita, aku menemukan tempat duduk yang biasa ada di taman pada umumnya, menghela napas dan menikmati tiupan angin sambil menghilangkan rasa lelahku. Belum sempat rasa lelahku kabur, dan di saat rasa bingung itu mulai menghantuiku kembali, aku mendengar teriakan seorang wanita yang kecopetan. Bertambah lagi suatu rasa dalam hatiku waktu itu. Dengan rasa kaget dan bingug karena terus terang, aku tidak tahan mendengar suara teriakan, apalagi teriakan seorang wanita, karena aku biasanya hanya suka mendengar suara desahan dari seorang wanita.. hehe. Dengan rasa yang bergelimang itu, akupun mulai mencari dari mana suara itu datangnya. Dan benar, aku melihat seorang gadis kira-kira berumur 20 tahun sedang histeris karena kecopetan. "Hmm .. lumayan juga ni cewek," sekilas terlintas di pikiranku. Sementara dia sendiri sedang panik sambil menunjuk seorang pria berlari menjauhi, yang pasti dia adalah pencopet itu. Ego kejantanan dan heroikku timbul, tanpa memikirkan lelah dan lain-lain, aku lari mengejar si pencopet. Lumayan lelah mengejar pencopet itu ditambah rasa lelahku tadi yang tidak sepenuhnya hilang, aku berhasil memojok kan si pencopet, itu juga karena dia sedang sial jalannya buntu terhalang tembok.

"Hehe.. pencopet baru dan ngga kenal lokasi ni orang," pikirku dalam hati sambil mendekati.
"Ayoo.. mau lari kemana kau!?" gertakku membuat dia panik.
"Mau apa kau?" katanya balik bertanya.
"Ehh.. kembalikan itu dompet yang kau copet!" bentakku lagi.
Mungkin karena memang bandel, dia balik bertanya "Lah, kau siapa?" tidak kalah keras suaranya sambil mengucapkan kata-kata kotor.
"Hahaha.." aku tertawa sok jagoan.
"Kembalikan tidak dompet itu!" ancamku mulai tidak sabar.
"Enak aja kau bilang kembalikan," katanya sambil mengeluarkan pisau dari balik bajunya.

Aku kaget dan aku mundur 2 langkah ke belakang, "Oic," kataku tenang sambil senyum aku dan memperhatikan tingkahnya. Singkat cerita, kamipun terlibat duel. Dia menyerang dengan ganas, sedangkan aku berusaha terus menghindar untuk membuat dia lelah. Dengan bermodalkan ilmu silat yang aku pelajari waktu di kampung kelahiranku, akupun berhasil membuat si pencopet pingsan tak sadarkan diri. Aku mengambil dompet yang ada di kantongnya. Aku cari wanita tadi bermaksud mengembalikan dompetnya. Wanita itu senang karena dompetnya telah kembali. Dia ulurkan tangannya mengambil dompetnya yang di copet tadi, dan Dia tertegun menatap aku, aku jadi salah tingkah, dan Dia mengucapkan terimakasih. Dia membuka dompetnya dan mengambil uang Rp50.000 untuk diberikan kepadaku sebagai tanda terimakasih, aku menatapnya tidak berkedip sampai Dia heran.
"Maaf mbak, bukannya aku menolak pemberian mbak, tapi aku tidak bisa menerima karena aku tadi ihklas kok membantu," kataku.
Dari sorotan matanya nampak Dia kecewa sekali karena kutolak pemberiannya. Kemudian Dia mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya.
"Saya Wati.." dengan mengulurkan tangannya, lalu aku sambut uluran tangannya dan memperkenal kan diriku.

Dia memberikan kartu namanya kepadaku dan aku menerimanya.
"Bang.. ini kartu namaku kalau Abang ada perlu, ada apa-apa, kalau bisa aku bantu datanglah," pintanya.
"Hmm.. iya," kataku.
Tetapi tiba-tiba Dia memasukkan uang Rp 50.000 ke saku bajuku, aku terkejut.
"Mbak Wati.." aku gagap jadinya, mau bilang apa, tiba-tiba saja Dia pergi dan menuju sebuah mobil sedan.
Kalau tidak salah mobilnya Genio merah, karena aku melihat dari kejauhan saja dan Dia menjalankan mobilnya melaju, menghilang di tikungan jalan. Aku menarik napas panjang, "Hupp.. huhh.." suara napasku. Lalu aku melihat sekelilingku dan melihat orang-orang memperhatikan aku dengan heran, lalu aku melihat jam tanganku telah pukul 3 sore. Aku bergesan meninggalkan tempat itu sambil melihat kartu nama yang dia berikan kepadaku. Aku baca nama dan alamatnya dan aku ambil uang pemberiannya tadi.
Di dalam hatiku, "Hmm.. lumayan bisa bayar uang kost," lalu aku pulang kembali ke tempat kostku.

Itu awal aku bertemu dengan dirinya. Pertemuan kedua terjadi di kampus, aku melihat Dia berjalan dengan temanya. Aku heran ternyata Dia satu kampus denganku. Selidik punya selidik aku mengetahui dari temanku bahwa Dia anak fakultas sastra, lalu kuberanikan diri untuk menjumpainya tapi ada rasa ragu dan bimbang. Karena sudah niat, aku terus berjalan menuju ruang fakultas sastra, sebelum sampai pintu aku terkejut, Dia keluar dari ruang itu dan aku terkejut mau mengelak tidak sempat lagi.
"Heii.." katanya.
"Heii juga," balasku.
"Abang kok disini?" tanyanya.
Dan akupun tersenyum, "Iya.." jawabku singkat.
"Ngapain abang disini?"
Aku jawab, "Aku kuliah disini mbak."
"Hah?" Dia heran.
"Jadi abang kuliah disini yah?"
Aku hanya bisa senyum saja melihat Dia heran.
"Abang di fakultas apa?"
"Aku di ekonomi."
Lalu kami bercanda tentang kuliah dan Dia mengajak aku ke kantin untuk minum dan sekalian curhat. Setelah di kantin kami bicara tidak tentu arah dan Dia bilang, "Bang.. jangan panggil mbak.." pintanya.
"Kenapa?" kataku.
"Malukan.. aku kan belum tua,"
Aku hanya tersenyum saja. Dia tersenyum dan manis sekali.
"Panggil aja wati, bang, Oke..?"
Lalu aku jawab, "Oke."
Disinilah awal butir-butir cinta bersemi. Kami saling bertemu dan selalu bercanda, tertawa gembira dan saling terbuka.

Suatu hari, Dia ungkapkan isi hatinya kepadaku bahwa Dia suka kepadaku, dan aku pun membalas cintanya juga. Hari demi hari kami lalui hingga pada hari libur kuliah. Kami jalan-jalan menggunakan Genio merahnya. Aku yang mengendarai mobilnya. Dalam perjalan, kami mesra, di sandarkan kepalanya di bahuku, aku belai rambutnya dengan tangan kiriku. Dia makin mesra dan Dia mencium bibirku. Aku balas ciuman bibirnya. Udara dingin yang keluar dai AC mobil terasa panas rasanya karena kami sudah HOT. Aku dekap kepalanya, aku remas dada yang terbungkus Bra, dan Dia menikmati remasan tanganku.

Kami sampai di puncak, yaitu di sebuah kawasan wisata terkenal di Medan, namanya Brastagi yang berhawa dingin dan sejuk. Karena kami sudah HOT, Dia berbisik ketelingaku, "Bang.. kita nginap aja yah?" pintanya.
"Di mana?" kataku heran.
"Di Hotel aja."

Aku tidak tahu Hotel apa yang di maksudkan, aku hanya menurut saja. Dia yang membawa jalan.
"Terus aja Bang, nanti sampai di tikungan belok kanan Bang." pintanya.
Aku lihat memang di sebelah kanan ada Hotel yang megah. Dia menyuruh belok. Maklumlah, aku baru dua kali ke daerah yang kami tuju. Waktu itu aku bersama temanku mendaki gunung yang namanya gunung Sibayak. Aku belokkan mobil, aku cari tempat parkir yang aman, kami turun dan masuk ke Hotel itu. Kalau tidak salah, Hotel itu namanya Hotel Sibayak karena jelas terpampang papan nama Hotel itu. Setelah kami masuk dan pesan kamar, kami diantar room-man. Karena bangkit lagi napsu yang tertunda itu, begitu masuk kamar, aku kunci pintu. Kudekap dan kupeluk Dia. Kami berciuman dan berguman di ranjang.

"Hemm.. ouuhh.." desisnya, dan aku buka perlahan-lahan baju serta BH-nya hingga polos.
Aku kulum dan kuremas buah dadanya yang lumayan gede dengan pucuk yang berwarna merah muda, terus aku kulum kiri dan kanan.
Dia berdesis seperti ular, "Uhh.. ahh.. ouuhh.."
Dari lehernya, aku jilatin, terus turun ke perut dan makin ke bawah perlahan-lahan. Aku buka celana jeans yang dia pakai hingga lepas dan aku lihat Dia memakai celana dalam berwarna putih. Perlahan-lahan, aku buka hingga terpampang di depanku sebuah bukit yang di tumbuhi hutan yang begitu lebat. Aku sibak hutan itu, kuciumi dan kujilat.
"Ouuhh.. ahh.. yahh.. ouugg.." desisnya.
Aku semakin nafsu dan aku buka baju serta celanaku sehingga kami sama-sama bugil.

Batang kejantananku yang sudah dari tadi tegang makin keras tegangnya ingin mencari sasaran. Dan kujilat lubang surganya dan kelentitnya yang timbul dengan tiba-tiba akibat napsunya makin memuncak.
"Ahh.. ouugg.. ahh.. yaahh.." desisnya terus.
Aku jilat terus kelentitnya.
"Bangg.. akuu.. gak.. tahann.. mauu.."
Dia mencapai klimaks, aku jilat terus. Terasa asin air yang keluar dari lubang surganya. Aku buka pahanya lebar-lebar dan perlahan-lahan aku bimbing batang kejantananku ke lubang surganya. Kuarahkan pas di lubang surganya, aku dorong perlahan-lahan.
Dia kesakitan, "Aduhh.. bangg sakit.."
Aku berhenti sejenak karena Dia kesakitan. Kuulangi lagi doronganku dengan perlahan dan pasti.

"Slupp.." sempit sekali lubang surganya hingga batang kejantananku tidak bisa masuk. Aku dorong kedua kalinya, "Slupp.." hanya ujung kepala batang kejantananku saja yang masuk. Aku dorong terus tapi kali ini lebih kuat.
"Slupp.. slupp.. bluss..plopp.." masuk batang kejantananku semua ke lubang surganya.
Aku melihat darah keluar dari lubang surganya. Ternyata Dia masih "virgin" (perawan).
Dia kesakitan, "Aduhh.. bangg.. sakitt.. bangg.."
Aku diamkan sejenak batang kejantananku di dalam lubang surganya dan aku kulum buah dadanya yang menjulang karena nafsunya. Aku maju-mundurkan lagi batang kejantananku perlahan-lahan aku mendengar Dia mengaduh lagi, "sakit bang.. pedih.. tapi enak bang.." gumannya.
Terus aku maju-mundurkan batang kejantananku.
"Auoo..ahh.. yahh.. aoouupp.. yaa.. terus bang.. enak bangg.. yahh.." Dia klimaks kedua kalinya.
Aku terus menyodok lubang surganya maju mundur.
"Ohyahh.. ouhh.. yahh.." desisnya.
Seperti ada yang meyedot batang kejantananku dari dalam lubang surganya. Aku makin cepat menyetubuhinya, hingga ada yang mengalir di dalam batang kejantananku sampai ke ujung batang kejantananku. Aku dorong terus.
"Yahh.. aouuhh.. yaa.." desisku, karena tiba-tiba alirannya semakin kuat naik ke kepala batang kejantananku, aku pacu terus.
"Yahh.. aouuhh.. yess.. ouugg.. yahh.. aku mauu.." tak sempat kulanjuti lagi kata-kataku, tiba-tiba, "Croott.. croott.. croott.." maniku keluar banyak, aku tembakkan di dalam lubang surganya.
Dia berdesis, "Ouhh.. yahh.. uugghh.. ouhh..," ternyata Dia mau klimaks lagi.
Dan Dia pegang erat leherku, Dia mencengkram erat sekali sampai ada bekas kukunya di leherku.
"Yahh.. ouhh.. ya.. yaee.. yaa.." Dia klimaks lagi ketiga kalinya.

Kubiarkan batang kejantananku di dalam lubang surganya. Aku berbaring di atas tubuhnya sejenak. Karena kelelahan, kami istrahat sejenak. Aku kecup kening dan bibirnya dan aku balikkan badannya sehingga Dia ada di atas dadaku dan batang kejantananku tidak aku cabut dari lubang surganya. Kami tertidur karena lama kami bergelut, kira-kira 2 jam lamanya sampai jam 3 pagi. Aku terbangun dan tiba-tiba batang kejantananku bangkit kembali. Aku balikkan tubuhnya tepat di bawah aku. Aku sodok lagi lubang surganya. Dia terbangun dan aku sodok terus lubang surganya.
"Slupp.. slup.. slupp.."
Tidak lama, "Ouuhh.. yahh.. croott..croott..crott," maniku keluar lagi, aku lemas dan tertidur di sebelahnya sapai pagi.

Aku terbangun pada jam 9 pagi. Aku bangunkan Dia dan kami mandi bersama. Kami melakukan lagi di kamar mandi sampai puas. Setelah itu kami bersiap-siapa untuk keluar dari hotel itu dan kami bayar uang sewa hotel.

Kami jalan-jalan di sekitar daerah kota Brastagi. Kami sampai di daerah yang belum pernah aku kesana, kalau tidak salah namanya Kaban jahe. Kami keliling-keling kota dan kami pulang ke Medan. Kami terus bermesraan, Dia merangkulkan tanganya di leherku, dia cium mesra bibirku sampai aku tidak bisa bernafas. Tiba-tiba di depan ada mobil yang berlawanan arah mau nabrak mobil kami. Aku banting setir ke kiri sehingga kami selamat dari maut. Setelah itu Dia tidak berani menciumi aku lagi karena takut. Kemudian kami berhenti di daerah yang kalau tidak salah namanya Penatapan. Orang-orang di daerah sana meyebutnya begitu karena banyak orang di sana melihat-lihat. Setelah kami puas melihat-lihat kami melanjutkan perjalan kembali ke Medan dan mobil kami terus meluncur mulus sampai di Medan.

Aku berhentikan mobil kami di depan tempat kostku. Aku membawa Dia masuk ke dalam dan aku perkenalkan kepada nenek serta cucu pemilik kost. Mereka menyambut dengan ramah. Aku membawa masuk ke kamar kost aku yang berukuran 3x4 luasnya. Aku kunci pintu kamar. Aku peluk Dia, kucium, dan kuremas dadanya yang menantang.
Dia membalas dengan desis suara nafsunya, "Aouuhh..ahh..," kami bergumul selama 20 menit.
Kubuka semua pakainya, Dia juga membuka pakainku hingga kami sama-sama polos. Batang kejantananku yang sudah tegang dari tadi kuarahkan ke lubang surganya yang masih sempit, maklum karena baru hilang perawanya.
Aku arahkan batang kejantananku tepat di lubang surganya, "Slupp.. slerr.. slupp.. blees.." masuk sudah batang kejantananku. Aku sodok terus.
Dia berdesis lagi, "Aouhh.. yahh.."
Karena aku takut terdengar sama nenek dan cucu yang punya rumah, aku sumbat mulutnya pakai mulutku hingga Dia tidak bisa bersuara. Terus aku sodok lubang surganya, "Auohh.. ahh.. ahh.. Bangg.. aku mau keluar nih.."
Aku pacu terus sampai Dia klimaks, "Serr.." Dia kelimax terasa di kepala batang kejantananku. Aku masuki terus lubang surganya tampa henti sampai klimaks.
"Aouh.. yaa.. ouh.." suara desisan nafsuku.
Aku pacu terus batang kejantananku sampai, "Croott..croott.." Aku keluarkan maniku di dalam lubang surganya.
Kami sama-sama puas dan tertidur sejenak Kemudian aku berbenah diri, Dia juga. Aku antar Dia pulang kerumahnya dan aku kembali ke tempat kostku.

Hatiku gembira dan senang dapat kekasih yang selama ini aku dambakan. Hari-hari aku lalui hingga aku menamatkan kuliah ke meja hijau. Aku mendapat nilai 'A'.

Aku dapat kabar bahwa kekasihku telah menikah dengan orang lain karena di paksa kawin oleh orang tuanya. Dia tidak memberi kabar kepadaku. Aku mendengar dari teman-temanku kalau Dia sangat malu padaku sehingga Dia tidak memberi kabar apapun padaku. Dia hanya memberikan sebuah bingkisan dalam kotak yang ternyata sebuah kenang-kenang. Sebuah jam yang indah berukir emas dan sapu tangan putih serta alamat Dia sekarang. Aku kecewa, tapi apa boleh buat, karena bukan jodoh. Aku memutuskan pulang ke kampung. Kini hanya tinggal kenangan yang kubawa. Oh.. kasihku betapa sedih hati ini, begitu tega engkau hingga tidak sempat memberikan kabar apa pun padaku. Biarlah cintamu aku pendam selamanya dan akan kukenang selamanya. Hanya Doa dan kata-kata saja yang dapat aku panjatkan kepadamu.

TAMAT

Setelah masuk ruang tamu, langsung aku jatuhkan Siska di sofa dan langsung aku serang dia. Aku cium bibirnya dan dia membalas dengan ganasnya, lidah kami saling berbelit dan menimbulkan suara menambah terangsangnya kita berdua. Siska mulai mendesah akibat rangsangan yang diterimanya.

"Aahh.. Dre slurrp.. Slurrp"

Kemudian ciumanku beralih ke lehernya dan terus ke belakang telingganya dan terakhir berhenti di lubang telinganya, dan ternyata Siska menyukai apa yang aku lakukan. Terbukti nafas Siska mulai tidak beraturan dan meracau.

"Say.. Lidahmu kerasa enak banget.. Aah.. Shh.. Shh.."

Tangan Siska tidak tinggal diam, langsung menyerang ke kontolku dan mengelus-elus dibalik celana jeansku. Sedangkan tanganku membuka bajunya dan bhnya, maka tampaklah susu 36b dengan puting merah merekah dengan lingkaran puting yang tidak terlalu besar. Langsung saja aku menjilat puting susu sebelah kanan secara lembut dan aku berikan gigitan ringan pada putingnya.

"Aah.. Aahh.. Say kamu nakal, masak kamu nenennya kayak gitu?" kata Siska memohon ke aku.

Sedangkan susu yang sebelah kiri aku remas pelan-pelan dengan tangan kiriku. Susu Siska kenyal dan padat membuat aku suka untuk berlama-lama di susunya. Kemudian gantian susu yang sebelah kiri aku manjakan dengan lidahku dan yang sebelah kanan aku remas-remas dengan lembut.

Siska kemudian membuka celana jeansku dan langsung memeloroti cdku dengan ganasnya, lalu Siska minta untuk bermain 69, tetapi aku enggak menghiraukan permintaannya, yang kemudian aku lanjutin jilatanku turun kebawah sambil membuka roknya yang super mini.

Setelah roknya aku buka tampak G-String hitam dengan renda dipinggirannya membuat aku semakin horny. Bau tempek khas wanita tercium olehku, tapi bau tempek Siska bercampur seperti bau buah strawbery. Aku sempat bengong dengan keindahan yang aku lihat. Siska berkata.

"Kok dilihat saja sih, ayo aku sudah enggak tahan nih.." dengan berkatanya Siska, langsung aku jilatin disekitar selangkangannya sampai benar-benar basah oleh air liurku.
Kemudian Siska memohon, "Say.., ayo masukkan saja kontolmu aku sudah enggak tahan ini" tetapi aku tetap tidak menghiraukan omongannya.

Lidahku kemudian mulai menjilati labia mayoranya, pelan kemudian aku tarik hingga bunyi slurrp..

"Aah.. Shhs.. Sshhs.." desahan Siska akibat perbuatanku.

Perhatianku kini tertuju pada klitorisnya yang sudah menonjol besar, langsung aku jilat pelan-pelan dan agak kusentil-sentil klitorisnya.

"Say, enaak.. Terus.. Lebih Ken.. Ceng lag aah.. Aah."

Siska memohon ke aku sambil tangannya menekan kepalaku sudah lebih menempel pada tempeknya. Tapi aku tetap menahan kepalaku, biar sensasinya semakin membuat Siska mengawang-awang. Kemudian lidahku mulai menusuk-nusuk tempeknya sambil tanganku memainkan klitorisnya, dan enggak lama Siska mengejang sambil berteriak.

"Say.. Ak.. Keluar.. Aah.. Sshsh.. Oohhohh.. Kaa.. Mu naakkal"

Cairan yang keluar banyak banget sampai meleleh keluar dan langsung aku jilat habis semuanya. Belum sempat Siska beristirahat langsung aku tusuk-tusuk lagi tempeknya dan aku sentil-sentil klitorisnya dengan tanganku, sampai Siska memohon.

"Ampun say.. Ak.. Istrirahat dulu.. Lemes aah.. Aah.. Badanku"

Tetap aku tidak menghiraukan permohonannya, aku jilat tempeknya hingga batas lubang anusnya, sedangkan tanganku meremas-remas susunya. Hal ini membuat Siska ON lagi dan langsung berontak dan tangannya memegang kontolku dan memasukkan ke mulutnya, mengerti akan keinginannya maka posisiku aku ubah menjadi 69. Siska di bawah dan aku di atas. Lama style ini kami pakai, lalu aku mulai ambil inisiatif untuk memulai permainan ini.

Aku suruh Siska terlentang dan secara otomatis Siska mengkangkangkan kedua kakinya selebar-lebarnya, dan tampak tempek Siska yang sudah merah merekah serta basah oleh cairanya sendiri dan air liurku. Langsung dengan pelan-pelan aku masukkan kontolku dan ternyata tidak mengalami kesulitan, dengan perlahan aku maju-mundurkan kontolku dan diimbangi oleh Siska yang menggoyang pantatnya kekanan dan kekiri. Gerakan ini kita lakukan semakin lama semakin cepat.

"Say.. Ak.. u mau ke.. luaar.." kata Siska.

Aku mengetahui bahwa Siska mau sampai ke puncak klimaksnya, langsung aku keluarkan kontolku, kontan Siska langsung bengong dan cemberut.

"Kok dikeluarkan Dre..? Aku sudah mau keluar nih.." kata Siska.
"Sebentar.. Entar pasti lebih enak kok.." kataku.

Kemudian aku mengangkat kedua kakinya ke depan lalu menyilangkannya, setelah itu aku masukkan kontolku lagi dan..

"Say.., kontolmu nggaruk tempekku.. Enaak.. Men." Siska meracau.
"Aahh.. Sshshss.. Sis tempekmu benar-benar enaa.. kk" desahku mulai tidak karuan.

Walaupun villa kita udaranya benar-benar dingin, tetapi keringat kita semakin banyak dan saling bercampur, kemudian kaki Siska aku tahan dengan tubuhku dan tanganku meraba susunya yang bergoyang kanan-kiri seirama dengan gerakan tubuh Siska.

"Say.. Genjot yan.. g keraas.. Sampai men.. Tok" Siska semakin menjadi.
Kuremas-remas susu Siska dengan keras, "Aahh.. Say shshssh sakit tapi ennaak" kata Siska.
"Say.. Sayy.. Saay aak.. u keluuaar" jerit Siska dibarengi dengan menjepitnya tempeknya, membuat aku semakin kelojotan.
"Aahh.. Sis jepitan tempekmu enaak bangeet" kataku.

Jepitan tempek Siska tidak berhenti-henti sampai sekitar 2 menitan dan Siska langsung terkulai lemas. Karena aku belum keluar, langsung aku tarik Siska ke pingiran sofa dan aku suruh dia untuk menungging. Tapi Siska sudah lemas dan berkata.

"Say.. Aku nyerah seluruh tenagaku habis"

Enggak perduli akan keadaan Siska, maka aku pegangi tubuhnya supaya agak nungging dan kemudian aku masukkan kontolku yang masih menegang, Siska menjerit.

"Aah.. Say ampun-ampun kakiku sudah tidak kuat lagi".

Melihat hal itu aku jadi iba dan akhirnya aku duduk di sofa dan Siska aku pangku sambil memasukkan kontolku ke tempeknya. Ternyata style ini membuat Siska menjadi ON lagi dan langsung meggoyang dan memutar. Bunyi "cplok-cplok" antara pantat Siska dan kontolku semakin kencang membuat aku semakin terangsang. Putaran Siska membuat kontolku serasa di peras dan semakin terasa spermaku semakin menuju pada titiknya dan siap untuk disemburkan.

"Say.. Ak.. u mau keluar, keluarin dimana?" tanyaku.
"Di dalam saja, sebentar lagi aku juga keluaar.. Barengan ya" jawab Siska.

Tidak lama Siska mengejang sambil menjerit.

"Kelu.. aar aku say.. Aahaahh.. Shssh aahh"

Tak lama aku pun memuntahkan spermaku "Crot.. Crot.. Crott"

Saking banyaknya cairan Siska dan spermaku sampai keluar dari tempeknya Siska dan meleleh di lubang anus Siska dan ada yang jatuh ke sofa. Kami berdua pun langsung lemas dengan posisi aku memangku Siska, dan kami pun tertidur disofa dengan posisi bugil serta tidak memperhatikan keadaan sekitar.

Begitu hawa semakin dingin dan menusuk tulang, akupun terbangun begitupun juga dengan Siska dan kita langsung mandi air hangat. Malam itu kita main sampai 5 kali dan kita pulang pada hari esoknya pukul 10 pagi..

*****

Mungkin buat pembaca kisah nyataku kurang begitu menarik, apabila ada saran atau kritik untuk ceritaku silakan email aku. Masih banyak cerita kehidupan sexku, baik dengan anak SMA sampai dengan Tante girang pun aku pernah, nantikan kisahku selanjutnya.

Buat cewek-cewek, Tante-Tante yang mau kenalan, curhat, atau sekedar jalan-jalan (not for sex) silakan email aku, pasti akan aku bales.


Tamat

Aku ucapkan terima kasih kepada Rumah Seks yang telah mau memuat cerita kehidupan sex ku, yang dimana Rumah Seks sudah aku kenal lama dan baru kali ini aku dapat menceritakannya. Nama, alamat dalam cerita ini telah aku samarin, supaya menjaga privasi dari para pelaku yang ada dalam cerita ini.

*****

Cerita ini bermula ketika aku berumur 21 tahun, oh ya namaku Andre dengan ciri-ciri fisik, tinggiku 169 cm dan beratku 65 kg. Aku keturunan chinese dan belanda. Sekarang umurku 25 tahun.

Waktu itu aku mau berenang dengan temanku di Water Park Kenjeran (masih baru buka, jadi masih bersih). Kita berlima berangkat pakai mobilku, setiba di sana kita langsung ganti pakaian dan senam-senam dikit biar enggak kram. Setelah itu kita langsung berenang dan lomba kecepatan, tiba-tiba aku kaget banget sewaktu lomba secara enggak sengaja aku menyenggol orang dan kontan saja aku berhenti lalu minta maaf. Tetapi waktu aku sadar ternyata yang aku senggol ternyata cewek cakep dan seksi pula.

Usut punya usut akhirnya aku kenalan dengan cewek itu dan namanya Siska, teman-temanku yang tahu kalau aku lagi ngobrol dengan siska, langsung saja datang ke tempat aku dan siska ngobrol. Dan mereka minta dikenalin dengan siska. Tapi yang mengejutkan ternyata siska enggak mau kenalan dengan teman-temanku ( dalam batinku berkata "Kaciaan deh lu").

Ciri-ciri siska membuat semua mata laki-laki pasti tertuju dengan dia, gimana nggak pakaian renang yang dipakai bikin jakun pria pasti naik turun. Siska pakai pakaian renang model ikat leher, terus bhnya hanya menutupi pentil serta lingkaran disekitar pentilnya. Sedangkan celana renangnya model "One Slice Cut", gimana enggak bikin kontol cowok jadi ngaceng melihat pemandangan bukit gundul dan menggunung. Setelah lama berenang dengan siska, akhirnya aku tukeran no HP dengan siska.

Besoknya aku telpon siska dan ngajak dia jalan-jalan, siska setuju dengan ajakanku. Dan aku janjian dengan dia jam 4 sore untuk jemput dia dirumahnya didaerah Dharmawangsa. Jam 3 aku sudah siap-siap untuk jemput siska, setiba dirumahnya aku langsung telpon hpnya dan ia bilang akan segera turun, sedangkan aku disuruh masuk dulu. Enggak seberapa lama aku melihat siska turun dan langsung aku bengong melihat dandanannya yang membuat kontolku menjadi berdiri. Pakaiannya putih tipis model turtle neck dan dipadu dengan rok mini (mini sekali) warna putih, sehingga aku bisa melihat celana dalam serta bhnya dia pakai. Oh ya ukuran bhnya adalah 36b, tinggi 165 dan siska memiliki kaki yang panjang (kata orang, kalau kakinya panjang nafsu sexnya tinggi). Akhirnya kita masuk mobilku dan langsung aku tanya.

"Mau jalan kemana"
"Terserah kamu Dre.. Yang penting kita seneng," kata siska.
"Gimana kalau ke Tretes?" kataku.
"Enak juga, boleh deh," kata siska.

Langsung saja aku tancap gas dan masuk tol jurusan Malang. Selama perjalanan kita bercanda dari yang ringan sampai yang berbau sex, ternyata dia suka banget kalau ngomongin yang berbau sex.

"Hehehehe bisa ni anak aku pakai" dalam hati aku berkata.

Dalam perjalanan Siska sudah mulai berani cubit-cubit pahaku dan puting susuku, terus aku bilang.

"Wah curang masak aku dicubitin melulu, mentang-mentang aku lagi nyetir," kataku.
"Kalau mau bales siapa takut, palingan enggak berani"kata siska menantang aku.

Langsung saja aku cubit pentil susunya yang masih terbungkus BH berwarna hitam dan berenda. Begitu aku cubit, ternyata siska tidak ada penolakan dan langsung saja aku mencoba untuk meraba pahanya yang keliatan putih mulus, karena roknya yang super mini. Sewaktu aku meraba pahanya, ternyata siska langsung mendesah "Aah.. Ssh", dalam hatiku wah siska sudah horny.

Ternyata siska cukup berani, dia langsungnya meraba kontolku yang masih terbungkus celana jeans dan CD. Enggak lama dia meraba, langsung celana jeansku dibuka dan ditariknya CD ku sampai sebatas paha. Begitu tangannya menemukan kontolku, dia langsung mengelus-elus dengan lembutnya.

"Oogh.. Enak Sis, lebih enak lagi kalau pakai mulut kamu Sis, mau enggak?" kataku.

Siska diam saja dan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan, Siska kemudian tiduran di pahaku dan langsung memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Gerakan lidahnya cukup lincah dan mahir dalam memanjakan kontolku, sampai buah zakarku pun dia emut dengan lembutnya, seperti sedang makan pentol bakso dengan saos ABC (hehehe). Kegiatan siska membuat aku hampir kewalahan, lalu aku menyuruh dia untuk menaikkan kakinya sehingga aku dapat meraba tempiknya, siska pun menuruti dan tanpa dikomando dia mengkangkangan kakinya selebar-lebarnya. Begitu indah pemandangan yang aku lihat, CD model G-string yang dipakai membuat aku semakin horny.

Tanganku ternyata enggak mau ketinggalan, langsung saja tanganku mengelus-elus gundukan yang merekah itu. Klitorisnya yang sudah tegang tak lupa aku raba dan aku jepit dengan dengan 2 jariku, kontan siska berteriak.

"Aah.. Dre terus puter yang kenceng, puaskan aku Dre.."

Kemudian aku masukkan jari tengahku ke dalam tempeknya, yang ternyata sudah basah kuyup oleh cairannya sendiri, terus aku keluar masukkan dan sekarang 2 jari yang masuk, dan siska semakin meracau tidak karuan.

"Dre.. Yang kenceng sayang, masukkan sampai njedokk aahh.. Ohh god"

Untung saja jalan di tol arah ke Malang enggak macet sehingga aku enggak perlu bingung untuk gonta-ganti perseneling mobilku. Kuluman siska tidak mau kalah, kontolku sudah mengkilat oleh ludahnya serta cairan kontolku, secara otomatis bunyi kulumannya membuat aku hampir keluar.

"Slurrp.. Slurrp cepok.. Cepok.., enak banget kontolmu Dre kayak pisang raja nangka" kata siska, memang sih bentuk kontolku agak melengkung seperti pisang dengan panjang sekitar 16 cm dengan diameter 3 cm (kira-kira).

Sedangkan tanganku terus mengocok tempeknya, dan 2 menit kemudian tempeknya menjepit 2 jariku dan badannya mengejang dengan kencang, membuat mobilku agak sedikit oleng, untung jalan tol enggak terlalu ramai. Siska menjerit.

"Dre.. Aku keluaar.. Aah.. Aah.. Uuuh"

Jepitan tempeknya kenceng banget dan cairannya keluar, dan langsung aku seka dengan tanganku dan tubuh siska lemas setelah 3 menitan dia mengejang. Sisa cairan yang menetes keluar langsung aku masukkan kemulutnya dan ia membersihkan semuanya dengan lahap dan sampai bersih. Kemudian siska berkata.

"Andre sayang.. Makasih ya.. Enak banget kocokan jarimu di tempekku, jarang aku bisa keluar kalau dengan jari saja, biasanya aku pakai kontol-kontolan baru bisa keluar"
"Sekarang aku yang puasin kamu ya.." kata siska.

Siska langsung memegang kontolku dan dikulumnya kontolku dengan ganas, beda dengan tadi yang lemah lembut.

Aku mendesah, "Sis.. Enak sayang, aah.."

Kontolku yang dari tadi sudah tegak berdiri, mendapat serangan beruntun dari mulut siska membuat aku kewalahan, dan langsung aku minggirkan mobilku ke bahu jalan dan aku menyalakan lampu hassard. Begitu mobilku sudah di bahu jalan, langsung saja kursiku aku mundurkan dan aku tidurkan, biar posisinya lebih enak. Siska mengerti kondisiku yang sudah hampir sampai puncaknya, maka semakin dikencangkannya kulumannya ke kontolku.

Bunyi "Ceplok-ceplok, Slurrp.. Slurrp" dari gerakan siska membuat aku kewalahan. 2 menit kemudian aku mengerang.

"Siiss, aah.. Eh. Eh.. Ak.. Kelua.. R"

Spermaku langsung ditelan habis dengan siska, kepala kontolku dijilatin terus oleh siska, membuat aku kegelian tidak karuan dan aku menyuruh Siska.

"Stop Sis, stop Sis geli banget"
Kemudian siska tertawa, "Hahahaha tapi enakkan"
"Ya enak, tapi nanti saja enaknya dilanjut" kataku sambil mengedipkan mata.
"Ye, ya harus dilanjutin kalau enggak aku bisa marah dengan kamu sayang.." kata siska, sambil mencium pipiku.

Tak terasa aku sudah mau keluar tol arah Malang, kemudian aku lihat jam sudah 5.30.

"Gila 1 jam setengah, biasanya cuman 3/4 jam," kataku ke Siska.
"Kan kita ada perjalanan tambahan.. Hihi" kata siska, sambil membersihkan mulutnya yang belepotan dengan cairannya sendiri sama spermaku serta membetulkan rok serta pakaiannya yang awut-awutan akibat "perjalanan tambahan" tadi.

Pintu tol keluar jurusan Malang sudah di depan mata, kemudian aku membayar 400 ribu. Setelah keluar pintu tol, kita bercanda-canda lagi dan kita semakin mesra saja. Sesampai di Tretes, seperti biasa orang-orang pada nawarin villa "Villa villa, villa Mas". Sebenarnya aku punya villa di daerah tretes, cuman aku enggak mau ke sana entar ketahuan penjaga villaku dan cerita dengan ortu ku kalau aku bawa cewek ke villa, bisa runyam enggak karuan.

Setelah kita sudah dapat villa 1 rumah (plus ruang tamu dan halaman bermain), kita langsung duduk-duduk di bungalow sambil nikmatin pemandangan. Siska aku pangku dan dia duduk membelakangi aku, sambil bercanda dan cubit-cubitan membuat kontolku berdiri lagi, karena gesekan antara pantatnya dengan kontolku. Siska terasa sekali kalau ada perubahan pada kontolku, kemudian dia berbalik dan berbisik dengan aku.

"Gimana kalau main lagi, soalnya aku juga sudah ingin ngerasain kontolmu kalau masuk ke tempek ku"

Langsung saja aku gendong dia di belakang punggungku dan dia pun bergelayutan layaknya orang yang sedang honey moon. Selama aku gendong dia ke dalam villa, siska menjilati leher dan belakang telingaku hingga aku kegelian dan terangsang berat. Lalu aku bilang.

"Awas ya nanti kalau sudah di dalam, aku bikin kamu sampai minta ampun-minta ampun"
"Hehehheheh, macak cih takuut" katanya.


Bersambung . . . . .

Tanggung jawabku sebagai seorang Shipping Manajer menyebabkan aku punya banyak relasi bisnis dari perusahaan perusahaan pelayaran maupun perusahaan angkutan lainnya. Namun ada satu rekanan bisnisku yang akan kuceritakan dalam kisah ini. Sebut saja Susi, begitu nama sales executive dari sebuah pelayaran di kota S, bertinggi badan kurang lebih 165 cm, dengan postur tubuh proporsional dan busung dada 36. Hidungnya mancung dan rambut hitam ikal sebahu. Perusahaannya memang bonafide, sehingga beberapa pekerjaan skala besar dapat terkirimkan dengan baik. Jujur saja dalam hati kecil ini juga kagum pada kecantikan Susi dan sebagai lelaki normal yach secara tak sengaja melihat sisi dalam pahanya saat disilangkan yang membuat seonggok daging kenyal disela-sela pahaku, "unjuk diri".

Sebagai relasi yang baik Susi terkadang mengajak lunch di luar ataupun hanya memberiku cindera mata atau selepas kerja kami nongkrong di kafe musik. Pada saat itulah Susi bertanya banyak tentang diriku dan kujawab semua dengan benar, aku memang suka berterus terang termasuk keadaan diriku yang sudah berkeluarga yang mempunyai seorang putra 2,5 tahun dan istriku sedang mengandung 8 bulan. Akhirnya aku pun tahu bahwa Susi adalah menjadi simpanan boss-nya bule asal Amerika yang bernama Richard, namun kini telah meninggalkan Indonesia karena sudah diganti oleh GM baru asal Indonesia. Mata Susi tampak menerawang jauh dan angannya terbang ke Amerika sana namun dia tersadar itu tak mungkin lagi menikmati kebersamaan mereka lagi.

Tepat liburan umum di bulan Januari lalu Susi meneleponku dan mengajak ke Batu, katanya sich dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-29 dan untuk menemaninya (biasanya Susi menghabiskan weekend di sana bersama Richard).

"Mas Sony mau nggak temenin aku ke Batu nanti di acara ultah-ku?" tanya Susi di telepon.
"Emang acaranya apaan?" selidikku.
"Ah.. udah dech pokoknya temenin aku yach, please.." rengeknya setegah memohon.
"Ini khan ultah-ku yang ke-29, please Mas Bram please.. kali ini saja!" pintanya.

Lelaki mana yang sanggup menolak kamu Sus, wajahmu yang cantik, bodi kamu punya, bibir tipis nan sensual waah segalanya deh, bathinku dalam hati. Aku tersadar saat Susi menyambung pembicaraannya lagi.
"Atau aku mesti bilang ke Mbak Santi istri Mas.." imbuhnya.
"Ngg.. nggak usah dech, oke.. oke.."
Buru-buru aku menyergahnya. Sabtu malam ini kami ngobrol berdua dengan istriku dan aku bohong padanya kalau aku besok malam harus menemani tamu Technical Advisor-ku dari Jepang termasuk mencarikan hiburan buat tamuku juga.

Sabtu pagi aku berpamitan pada istriku dan memacu Capella kesayanganku ke arah Malang, aku sendiri sekarang tinggal di Gresik. Namun sebelum itu aku menjemput Susi di rumah kontrakannya di kawasan Surabaya Barat. Selang lima menit aku pencet bel keluarlah Susi mengenakan stelan span deep marine dan atas you can see biru muda, sebuah pemandangan yang amat serasi dan indah.

Sepanjang perjalanan kami hanya ngobrol ringan soal pekerjaan dan kami bersenda gurau di antaranya. Aku tahu Susi adalah wanita yang amat kesepian, aku juga terkadang kasihan melihatnya. Meski dia sukses di kariernya tapi di lain pihak di juga butuh pendamping yang mengisi kekosongan jiwanya.

"Mas Sony, sebelumnya aku minta maaf kalo permintaanku kali ini menyita waktu untuk keluarga Mas," Susi mulai membuka pembicaraan.
"Aku sukses dalam berkarierku dan hidup mewah karena support besar company Mas Sony, khususnya Mas Pribadi dari Mas," kata Susi, (ini karena perusahaanku merupakan big customer bagi dia)."It's OK," jawabku.
"Mas Sony kali ini aku meminta kepada Mas, buatlah dua hari ini berarti buat kekosongan hidupku," pinta Susi.
"Hiburlah aku yang kesepian Mas," pinta Susi lagi.
Cihuy.. sorak aku dalam hati.

Setelah check in kami lantas menuju ke paviliun paling ujung yang mempunyai view sangat indah berpagar bukit dan taman anggrek nan segar dipandang mata. Hawa dingin ini membuatku sedikit malas untuk melakukan aktivitas dan kami menghabiskan kurang lebih satu setengah jam untuk ngobrol. Yach hitung-hitung sekaligus pendekatan kepada Susi karena selama ini hanya sebatas hubungan kerja atau formal bukan suasana privacy seperti saat ini.

Jam tiga sore badanku mulai gerah dan rasanya ingin mengajak Susi berenang di kolam air hangat di Hotel tersebut. Kami pun berenang bersama dan rasanya sungguh nikmat, hangat dan segar.
"Mas Sony masih kelihatan gagah yach," puji Susi saat aku istirahat sebentar dan duduk di tepian kolam.
"Ah Masak sich?" sahutku.
Sepintas aku menangkap gerakan bahwa matanya tertuju pada selangkanganku yang memang sudah hampir 1,5 bulan tidak pernah lagi bersarang. Meski lagi mengkerut akan tetapi dengan celana renang ketat ini pastilah menonjol testisku. Kulihat Susi sedikit menahan nafas karenanya.

Kami lantas berenang dan berenang lagi sampai badanku terasa sedikit capai. Aku lantas berhenti dan melilitkan handukku menuju ke kursi di pinggiran kolam, lalu kuteguk air mineral ukuran setengah liter itu sampai habis. Susi sendiri masih asyik berenang dan tak kusangka tubuhnya yang biasa dibalut jas kerjanya itu kelihatan ramping dan mulus sekali. Aku berdiri melakukan gerakan pelemasan kecilku sambil menikmati tubuh mulus Susi dan Susi semakin merasa aku perhatikan semakin terkesan dibuat-buat gerakannya memancing birahiku.

Aku kemudian rebahan kembali di kursi dam melemaskan ototku, Susi sebentar kemudian naik menyusulku mengambil tempat di sampingku.
"Sus.." panggilku yang aku buat-buat semesra mungkin.
"Hem.." sahut Susi yang ternyata masih menyedot orange juice dan bibirnya itu wah tidak dibayangkan dech kalau lagi menghisap punyaku ini.
Dan perlahan namun pasti penisku mengeras menyembul di bawah belitan handukku, lalu aku sedikit naikkan pinggulku agar Susi juga dapat menikmati apa yang ia inginkan sesaat lagi.
"Ada apa Mas..?" tanya Susi sedikit serius namun matanya melirik ke arah penisku yang sudah setengah mengeras.
"Enggak, cuman aku melihat hari ini kamu lebih seksi," rayuku.
"Emm.. gimana yach kalo si kekar dan si seksi bersatu yach.." tanya Susi mengerlingkan mata kirinya.
"Pengin tau jawabnya? Hayo kita ke markas," ajakku seraya membimbingnya berdiri.

Kami lantas berjalan bergandengan menuju paviliun kami menginap.
"Emh belum-belum khok udah loyo," ejekku kepada Susi dan berlari kecil meninggalkannya.
"Eh sialaan.." teriak Susi lalu mengejarku yang berlari ke arah Paviliun itu.
"Mas Sony, gandeng doong.." rengek Susi manja disela-sela nafasnya yang terengah-engah.
Kami pun bergandengan mesra bak orang pacaran dan semua terjadi spontan. Aku tak ingat lagi istri dan anakku di rumah saat ini, yang kuinginkan hanyalah kenikmatan dan kehangatan tubuh Susi untuk melampiaskan libidoku.

Kami memasuki paviliun itu dan duduk di sofa besar menghadap ke arah bukit indah. Matahari serasa mengintip kami dari balik bukit itu dan enggan menutup tirai hari ini dan dilain pihak kami sudah ingin segera menikmati malam indah nanti. Kami duduk berdampingan menikmati alunan musik lembut dan pemandangan yang mempesona di bukit sana.
"Lis, aku sebenarnya.. sedikit.. emmhh.." kataku ragu.
"Mas Sony, aku adalah wanita normal dan punya hasrat seks akan tetapi Mas Sony jangan khawatir padaku, aku nggak bakal minta macam-macam dari Mas Sony dan kita hanya bersenang-senang saja, just fun," kata Susi semakin memantapkan rasa hatiku.
"Lagian nggak mungkin karena aku tahu Mas Sony punya keluarga yang bahagia," imbuh Susi.
"Bukankah istri Mas juga tidak boleh melayani lagi karena bahaya bagi usia kandungannya," bela Susi seraya melingkarkan kedua lengan rampingnya ke leherku.

Aku kemudian mendekap Susi, terasa hangat dan lembut tubuh indah ini lalu kudekatkan wajahku ke arah wajahnya. Kami bertatapan cukup lama dan penuh arti, kulihat dari tatapan matanya Susi sudah betul-betul horny demikian pula aku yang sudah 2 bulan lalu tidak mengasah batang pejal kebangganku. Sekejap bibir kami mulai menyatu dalam alunan kemesraan berselimut hasrat bergelora. Ujung lidah kami bergantian menggelitik rongga mulut kami masing-masing.
"Mass.. oohh puaskan aku yach sayang," rengek Susi di sela-sela desah nafasnya yang memburu deras.
"Segera sayang, saatnya sebentar lagi tiba. Aku akan membawamu ke langit tujuh," bisikku sambil melepas satu persatu kain di tubuhnya.

Udara dingin yang bersentuhan langsung dengan pori-pori Susi menambah sensasi dan rindu akan sentuhan dan juga rabaan-rabaan maupun jilatan sekujur tubuhnya. Kali ini aku akan memperlakukannya bak seorang putri maka akan berbahagialah Susi dalam dua hari ini. Setelah memakaikan dia sleeping jas, aku kemudian mengajaknya berdiri di dekat jendela menikmati senja nan indah dan syahdu ini, aku mendekapnya dari belakang dan belakang telinganya mulai kusentuh dengan ujung lidahku.

"Mass.. oogghh.." Susi hanya bisa mendesah dan mengesek kedua pahanya.
"Sudah Berapa lama Say.." bisikku di sela-sela permainanku di belakang telinga dan tengkuknya.
"Tiga bull.. aa.. aahh.. gellii," pekik Susi sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.
Wajah penuh gairah itu mendongak ke arahku dan kulumat bibirnya sementara tanganku mulai menanggalkan semua yaang tersisa di tubuhnya.
"Masshh.. oogghh.. mmpphh," Susi menceracau sambil melucuti pakaianku.
Kami sudah telanjang bulat bersama sambil berdansa seirama alunan musik hotel, tubuh kami menyatu dan saling dekap dalam kelembutan dan kehangatan birahi dan tetap berdansa dalam irama kelembutan.

Tangan Susi melingkar di tengkukku dan kulingkarkan tanganku di pinggangnya, namun kemudian kuturunkan ke arah bongkahan pantatnya dan meraba serta meremas lembut. Pada saat itulah Susi melepaskan bibirnya untuk melenguh sejenak menikmati rabaan serta sentuhanku. Penisku sedari tadi mengeras tegak itu menempel di perut Susi membuat sensasi kehangatan di antara kehangatan tubuh kami.

Bersambung . . . . .

Cukup lama kami berdansa dan entah sudah berapa lagu kami lewati bersama namun aku tidak ingin segera mengakhiri foreplay ini karena aku ingin Susi lebih dapat menikmati keromantisan ini lebih lama lagi. Aku membimbingnya ke arah Sofa dan kududukkan Susi di pangkuanku, kami pun semakin tenggelam dalam suasana, namun aku tetap berusaha menguasai diri. Pangkal penisku tepat bersentuhan dengan vaginanya yang terasa sudah amat merekah karena rangsangan hebat dan lelehan mani Susi semakin deras terasa menetes ke "telor"-ku. Cumbuan demi cumbuan dan rabaan serta sentuhan sudah kulakukan terhadap Susi. Bibirku sudah pindah ke arah dada Susi kukulum payudara yang kiri dan tangan kananku memilin puting yang kanan, punggungnya aku beri sentuhan dengan tangan kiriku. Susi semakin tak mampu menguasai birahinya yang sudah di ubun-ubun tubuhnya menggelinjang hebat.

"Ooogghh.. aahhkkhh.. please.. masukin.. mass.. sshh," desis Susi sambil menjambak rambutnya sendiri. Bibirnya mendesis tubuhnya ia jatuhkan ke belakang dan bertumpu pada lenganku. Kesempatan itu kugunakan untuk melirik ke arah vaginanya yang merekah menebar bau semerbak, aku tertegun sejenak karena sebelumnya aku belum pernah melakukan ini terhadap istriku atau wanita lainnya. Namun aku yakin (seperti di cerita-cerita situs ini) jika kujilat vagina Susi hal ini akan mampu membuat Susi menggapai orgasmenya lewat hisapanku nanti.

"Soonnhh.. cepp.. peethh.. issepphh.." rengek Susi terengah-engah saat aku mulai mencumbui bagian bawah perutnya yang indah.
Aku tak menjawab namun segera kududukkan Susi di sofa, kedua pahanya kuletakkan di pundak dan mulailah aku dengan jilatanku di vagina Susi. Vaginanya harum bentuknya pun begitu indah dan masih sempit rambutnya tercukur bersih.
"Ssshh.. oouuwww.. aagghh.. pleasee.." pinta Susi diikuti penekanan kepalaku ke arah selangkangannya.
Sekejap kemudian aku memainkan kasarnya permukaan lidahku untuk menjilat bibir minoranya yang merekah dan Susi hanya bisa menjerit lirih menahan orgasmenya yang begitu cepat datang. Sudah tiga bulan, pantas saja sekejap sudah mencair birahi wanita ini, bathinku dalam hati. Aku menyambutnya dengan patukan dan juluran lidahku di dinding rahimnya lalu kukeluar-masukkan lidahku bak penis selagi memompa vagina secara teratur dan lembut.

"Aaawwuughh.. aaghh.. aaghh.. sshh.. Maasshh.." Susi mengawali orgasmenya dengan jeritan panjang.
Aku menyambutnya lagi dengan menghisap vaginanya dalam-dalam, aku sundut-sundut dengan interval yang lembut teratur. Dan benar dugaanku kali ini, orgasmenya yang kedua segera menyambung membuatnya semakin ngilu dan geli yang amat sangat.
"Aaagghh.. kuu.. llaaghh.. gii.. aakkhh.." Susi mendongak, kedua tangannya mencengkeram erat sofa.
"Ogghh.. Masshh.. aaghhghh.. aakkhh.. aahhghh.." Susi mendesah mengakhiri orgasmenya.

Aku berhenti untuk membersihkan mukaku dan menjilat sisa-sisa mani Susi yang terlihat meleleh menetes hingga anusnya.
"Mass.. aakhh.. please," pinta Susi kegelian saat aku membersihkan sisa maninya di sela-sela labia minora-nya. Aku kembali duduk di sofa dan mendudukkan Susi di pangkuanku, dan sebelum duduk Susi ambil ancang-ancang untuk menancapkan penisku.
"Slerrphh.. aakgghh.. hangatthh.." suara penis membongkar vagina dan desahan Susi bersamaan 3/4 penisku dengan mudah tenggelam menjejali vagina Susi.

Susi duduk tegak, kedua tangannya membelai rambutnya, matanya terpejam menggigit bibir bawahnya, kemudian ia buka mulutnya saat mendesah bergantian, pinggulnya digoyangkan perlahan sesekali dan pada saat yang tepat ia hentakkan ke pangkal penisku. 16,5 cm penisku telah masuk mengisi rongga rahimnya membuat sensasi kehangatan dan nikmat bercampur jadi satu.
"Oookkhh.. hangatthh.. aakkhh.. Masshh.. puassinnhh.. aku.." pinta Susi diiringi dengan gerakan naik-turun pinggulnya seperti seorang joki.

15 menit berlalu, tampaknya Susi masih tenggelam dalam alunan sorgawinya dan kuperhatikan dari tadi matanya tampak terpejam menikmati sensasi ini. Aku sendiri mengimbangi goyangan Susi dan menunda ejakulasiku, karena aku amat kasihan melihat Susi yang haus akan kenikmatan birahi.Aku berusaha menambah rangsangan dengan menggesekkan telunjukku ke anus Susi yang sebelumya kubasahi dengan ludahku. Tepat saat ujung telunjukku memasuki anus Susi, Susi tampak sedikit terkejut dengan membuka matanya lebar-lebar dan sekejap kemudian terpejam dan tubuhnya menegang.

Wajahnya menyeringai, kedua tangannya mencengkeram punggungku erat-erat dan menarik tubuhnya menjauh dariku, tampaknya moment inilah yang Susi tunggu sejak tadi.
"Ngghh.. aagghh.. aakhh.. aakkh aahhgghh.." Susi mulai mendapatkan orgasmenya yang nyata yang ia pendam selama tiga bulan.
Pinggulnya ia goyangkan keras tak beraturan demikian pula hentakan pinggulnya dan beruntung rambut kemaluanku sudah aku cukur bersih sehingga terbebas dari rasa sakit akibat himpitan saat vagina menghujamnya. Lelehan maninya sampai ke pangkal telunjukku yang diam di anusnya kemudian telunjukku yang sudah licin tadi kutusuk-tusukkan lebih keras dan dalam di rongga anusnya. Susi semakin menghentak dan bergelinjang tak karuan menyambut orgasmenya yang keempat.

"Aaargghh.. aagghh.. oohhgghh.. aakk.. akkhh.. kell.. luaarr aaghh.." Susi menjerit keras menggapai orgasmenya kali ini.
Vaginanya terasa hangat dan terasa lebih menggelembung dari pada tadi.
"Ooghh.. oommpphh.. aagghh.." desah Susi tampak lega mengakhiri orgasmenya.
Aku sengaja menunda orgasmeku agar weekend kali ini betul-betul lain dari yang lain bagi Susi. Lalu kurengkuh kepalanya, kemudian kukecup mesra bibirnya, kulepas, lalu kutatap lembut wajahnya, ekspresi kepuasan terpencar dari sudut matanya yang bening. Masih tetap menancap penisku di rahimnya, kemudian kami berdekapan mesra lama sekali.

"Sus.." tanyaku.
"Hem eemhh.. makasih Mas Sony," jawab Susi puas.
Karena capek Susi melepas gigitan vaginanya dan menghempaskan dirinya di sofa.
"Aahgghh.." lega dan tiga menit Susi pun tertidur di sofa lalu aku mengambil selimut hangat untuk Susi.
Setelah mengambil handuk dan mencuci penisku dengan shower hangat di kamar mandi, aku mengambil sleeping jas-ku, kemudian menghampiri Susi di sofa. Kubelai lembut Susi dan kuletakkan kepalanya di pahaku. Aku terdiam menikmati senja yang mulai gelap, tak kulihat lagi indahnya bukit di seberang hotel yang tampak hanya lampu kerlap kerlip di kejauhan. Karena udara semakin dingin menusuk ke tulang rasanya maka aku menggotong Susi ke tempat tidur dan kudekap hangat ia di dadaku di balik kehangatan selimut kami.

Tiga puluh menit Susi terlelap, belum ada tanda-tanda ia terjaga membuatku sedikit gelisah karena penisku kembali tegak berdiri.
"Mmmpphh.. ooaakhh ampph.. hahh.." Susi tampaknya terjaga dan ia kaget mendapati penisku mengeras.
"Sebentar Yach Mas, aku ke kamar mandi dulu, entar gantian Mas aku puasin," kata Susi datar seraya berlari kecil ke kamar mandi.

Aku kemudian melepas sleeping jas-ku dan mengelus-elus penis kebanggaanku yang kokoh berdiri tegak. Dari kamar mandi Susi menghampiriku dan menepis tanganku dari penisku dan kini mulut mungil Susi mulai mengulum kepala penisku. Batang penisku ia kocok-kocok lembut terkadang ia remas hingga ke kedua biji kemaluanku.
"Oookhh Suss.. sshh.." aku hanya dapat mendesis menikmati kocokan tangan lembut ini.
"Oookkhh.. lebih kerass.. ssaayy.." ceracauku tak karuan karena ejakulasiku tertunda.
Susi lebih keras lagi mengocok dan diselingi kuluman-kuluman di sepanjang batang penisku.

Kulihat Susi menggengam batangku dan terlihat kepala penisku menyembul di antara genggaman tangannya. Ujung lidah Susi beradu dengan ujung kemaluanku tepat di lubang sperma penisku dan Susi mematuk-matukkan lidahnya tepat di situ, rasanya badan ini bergetar hebat dan ngilu yang amat sangat. Kedua pahaku otomatis terbuka lebar dan Susi menempatkan tubuh rampingnya di antara kedua pahaku. Aku semakin tak tahan dengan permainan Susi, kucengkeram erat rambutnya menahan rasa geli.
"Suusshh.. ooghh.. Suss.." aku mendesis berusaha menahan laju spermaku.
"Bocorin saja Mas.. ayo sayang..!" kata Susi sambil melihat ke wajahku yang sedang kelojotan kemudian meneruskan patukan lidahnya yang semakin nakal dipadu dengan kocokannya yang lembut.

Aku melirik ke arah Susi, tampak wajahnya puas mengerjaiku kali ini.
"Aaakhh.. Susshh.. mmpphh.." desahku menikmati permainan oral Susi.
Aku semakin tak tahan dengan sensasi yang dibuat Susi apalagi ia melakukannya juga dipadu dengan pilinan lembut jemari kirinya di puting susuku. Aku berusaha mati-matian menahan laju spermaku, namun usahaku itu sia-sia, tiga detik kemudian aku melenguh panjang menyambut sensasi yang segera datang.
"Suuss.. hisapphh.. Sayy.. aku mauu.. kell.." pintaku tak sabar.
Susi tanggap, kemudian menghisap dalam-dalam kepala penisku, sedetik kemudian.. "Arr.. aakhh.. aakkhh.. aakhh.." aku terpekik melepas semburan maniku di mulut mungil Susi.

Ditelannya semua spermaku hingga ke tetes terakhir dan penisku semakin terasa kasat dibuatnya. Masih tetap ia kocok penisku sehingga tetap pada kondisi tegang terus meski sudah menyemburkan mani kental. Apalagi sudah dua bulan tidak bersarang, pastilah burungku akan menegang sampai menemukan sarangnya.

Aku kemudian mengulum bibir Susi sementara Susi masih mengelus penisku dengan lembut. Susi rupanya ingin menikmati seks ini dengan alami karena ia merebahkan dirinya di sampingku, lalu aku melingkarkan pahaku di atas kedua pahanya. Bibirku kini sudah berada di puting kiri Susi untuk mengerjakan tugas berikutnya, yaitu menggigit-gigit kecil disertai remasan-remasan.
"Mpphh.. oowwghh.. mm.. Maashh.." tampaknya birahi Susi mulai bangkit dari tidurnya.
Tangan Kiriku juga tak tinggal diam untuk memilin puting kanannya.
"Aaaww mmpphh.. sshh.. Mass.. kamu hangat sayang.." puji Susi ketika aku mulai menindih tubuhnya dan mencumbui kedua ketiaknya secara bergantian.
"Oooghh.. aahhgghh.. kamu jantan Sayangg.. aku mencintaiimu," Susi terus memujiku, tampaknya permainan lembutku membuatnya lupa diri.

Dari rabaan telunjukku tampaknya Susi sudah siap jika penisku membongkar rahimnya lagi karena sudah lembab.
"Aku masukin yach Say.." tanyaku.
Susi lalu mencumbui aku dengan lembut namun telapak tangan kanannya meremas pantatku lalu menekannya.
"Blesshh.." dengan mudah masuk seluruh batang penisku karena vagina Susi sudah lembab dan licin akan sisa-sisa spermaku sore tadi.
"Maasshh.. aakk," Susi mendesah panjang menyambut kehangatan yang mulai menjalar ke semua rongga rahimnya.

Kami bercumbu bersama tanpa melakukan goyangan, namun sesekali aku memainkan otot penisku di liang vagina Susi membuat Susi kelojotan menahan geli bercampur nikmat.
"Aaahh mmphh.. aah sshh.. aaghh.. ooghh.. nikmath.." desah Susi.
Kami masih bergumul dalam irama syahdu diiringi desah kelembutan nafas, entah nafsu atau cinta aku pun tidak peduli. Badan Susi semakin menghangat tanda-tanda ia menjelang puncak nafsunya. Aku mulai memompa penisku lembut dalam irama teratur semetara kedua tanganku memilin dan meremas kedua bukit indahnya.

Tubuh Susi semakin terhentak kala tempo permainan hentakanku semakin kutambah, hal ini karena sensasi yang aku rasakan juga semakin nikmat. Penisku terasa tergigit oleh labia minora-nya kala aku menusukkan penisku dalam-dalam dan terasa terhisap kala aku menarik penisku. Pompaan penisku semakin kencang sampai badan Susi terhentak, namun Susi hanya merengek manja, melenguh, mendesah dan menjerit lirih kala sedikit gesekan penisku membuat vaginanya ngilu.

15 menit berlalu, kepalanya kulihat mulai menoleh ke kiri dan ke kanan tak beraturan, wajahnya memerah oleh birahi, tubuhnya terasa lebih hangat dan vaginanya mengempot teratur. Tubuhnya lalu menegang, kedua tangannya lantas dibuka lebar-lebar ke atas, berpegangan pada sisi tempat tidur untuk bersiap-siap melepas orgasmenya yang akan dahsyat. Aku membantu menstimulasi gesekan penisku dengan klitorisnya yang kenyal di bagian tubuh lain, aku mencumbui kedua ketiak Susi bergantian. Susi merasakan terbang di langit yang tinggi beralaskan putihnya mega yang menyelimutinya dan shatin tempat tidur ini memberi inspirasi seolah kami bercumbu di awan yang lembut.

"Sus.. I love you.." bisikku spontan kala mendapati wajahnya yang cantik rupawan, memang dia adalah tipeku, tipe-tipe wanita langsing seperti dia.
"Ahhghhku.. juhhggaa.. Masshh," Susi membalas cumbuanku dengan buas.

Kali ini Susi diam membisu dan tubuhnya mulai menegang, diam dan matanya terpejam memancarkan ekspresi mendalam. Aku lalu melesakkan dalam-dalam penisku terasa mentok sampai ke dasar dan aku diamkan di sana sambil aku mainkan otot-otot penisku. Sedetik kemudian datanglah apa yang Susi rindukan, "Maasshh.. aagghh aaghh aakkhh.. aahkkuu.. ssaamm.." Susi mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang. Putingnya kini aku gigit-gigit kecil dan lereng bukit payudaranya aku remas lembut dan tampak Susi masih mendesah meregang orgasmenya yang pertama.

Stimulasi di putingnya membuatnya menggapai orgasmenya yang kedua dan ketiga secara bersamaan.
"Ooouugghh.. aakku.. lahhggi.. aagghh.." Susi menggelinjang tak karuan.
Tangannya mencakar punggungku menahan geli bercampur yang amat sangat kala aku semakin cepat memompa lagi penisku. Cairan mani Susi yang banyak menyebabkan bunyi-bunyi saat penisku menghujam vagina Susi dan semakin melicinkan tusukanku saja, dan yang kutunggu segera tiba.

"Susshh.. aahku.. mmpphh.." gumamku sambil menggenjot penis dan meremas puting Susi.
"Masshh.. aagghku.. jugaa.." balas Susi.
"Oouumpphh.. aa.. aa.. aaghh," teriak kami bersamaan, persetan dengan orang lain yang mendengarnya.
Maniku mengalir deras bersamaan dengan Susi yang kurasakan hangat di sepanjang batang penisku. Kami pun terbawa arus orgasme bersama yang sensasional bergumul, mencumbui, menggigit kecil bergantian dan nikmat "langit tujuh" bagi Susi sudah ia dapatkan dan juga aku.

Susi masih tetap dalam dekapanku dan tak ingin kulepaskan untuk selamanya saat penisku terlepas dari gigitan vaginannya. Aku melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 09:00 malam dan itu berarti kami sudah bercinta lebih kurang 5 jam sejak sore tadi. Kami lalu berendam di bath tub hangat dan tidak melewatkan satu ronde di sana sebelum kami keluar bersama mencari makan dan minuman energy serta gingseng.

Setelah itu kami kembali ke hotel lagi dan menghabiskan malam dengan berbagai gaya bercinta seperti yang kami lihat di channel video kamar kami sampai jam 03:00 pagi, setelah itu kami tertidur karena lelah. Dua hari kami habiskan menguras mani kami masing-masing sebelum akhirnya kami berpisah di Surabaya.

Para pembaca, nafsu memang bukanlah cinta karena seseorang bisa bilang cinta saat diselimuti nafsu, demikian pula sebaliknya. Salam bagi semua dan semat beraktivitas apa saja, mau diteruskan beronani atau bermasturbasi ria silakan.

TAMAT