Terima kasih kepada pembaca setia Rumah Seks, cerita ini merupakan benar-benar pengalaman saya sendiri. Saya adalah Adri seorang pria yang sudah berkeluarga dengan seorang istri dan dua orang anak yang lucu-lucu, dan cerita berikut adalah pengalaman seks saya bersama ipar saya yang bernama Milky (bukan nama sebenarnya).

Saya termasuk yang mempunyai nafsu besar dan cepat terangsang melihat cewek-cewek cantik dan seksi serta terobsesi dengan perempuan yang sudah bersuami. Kejadian ini bermula dari abang istri saya atau ipar saya dapat tugas keluar negeri untuk waktu yang cukup lama yaitu 6 bulan (akhir tahun 2003). Ipar saya ini mempunyai istri yang bernama Milky dan seorang anak yang berumur satu tahun. Sejak dulu (waktu abang istri saya kawin) saya memang sudah tertarik sama Milky karena selain orangnya cantik, badannyapun seksi dan walaupun sudah punya anak badannya tetap terawat bagus serta mempunyai bulu yang banyak ditangan dan dikakinya (mungkin didalam juga ya..).

Waktu ipar saya ini kawin waktu itu saya dan istri saya serta anak saya masih tinggal dirumah mertua. Karena obsesi saya terhadap Milky besar sekali saya pernah mengintip dia waktu sedang pakaian sehabis mandi di kamarnya. Badan saya langsung bergetar begitu menyaksikan tubuhnya yang aduhai dan setelah itu saya selalu membayangkan dia dalam berhubungan dengan istri saya. Sejak kepaergiaan ipar saya ini saya berusaha mencari-cari kesempatan untuk dapat menikmati tubuh Milky karena saya pikir pasti dia akan kesepian ditinggal suaminya.

Hingga suatu saat dimana mereka harus pindah rumah ke rumah yang baru (bulan Maret), saya pikir inilah kesempatan saya bisa lebih dekat lagi sama Milky karena ipar saya sedang berada diluar negeri dan sudah pergi empat bulan maka tidak ada yang membantu mereka pindah. Saya selalu menawarkan diri saya untuk membantu mengangkat barang-barang yang akan dipindahkan dan untuk tidak mencolok saya bilang ke istri saya bahwa kasihan mereka kalau tidak dibantu. Waktu itu hari Sabtu saya akan mengangkat barang yang masih ada dari rumah lama ke rumah baru. Milky dan anaknya serta pembantunya memang sudah tinggal dirumah baru mereka. Setelah barang-barang saya masukin ke dalam mobil saya segera bergerak ke rumah ipar saya yang baru.

Waktu saya tiba Milky yang mengenakan daster sedang membenahi lemari pakaian mereka di kamar sementara anaknya sedang di temani pembantu di halaman belakang. Setelah barang saya turunkan, saya coba untuk berlama-lama di rumah itu dengan ikut membenahi barang-barang. Waktu itu saya membersihkan kipas angin yang sudah kotor dan tidak ada salahnya saya bersihkan. Setelah saya bersihkan debu-debu yang ada dikipas angin maka saya pikir lebih bersih lagi kalau dicuci. Saya memanggil Milky dari arah pantry (karena ada pintu yang langsung kekamar mandi yang terdapat dalam kamar ipar saya, kamar mereka cukup luas dan ada kamar mandi didalamnya serta dari kamar mandi bisa langsung ke pantry) untuk menanyakan kepada Milky dimana saya bisa menyiram tutup kipas angin dengan air keran yang ada selangnya. Milky menyuruh saya membersihkan di kamar mandi dengan menggunakan shower. Saya membersihkan kipas angin sambil terus berpikir bagaimana caranya saya bisa menikmati tubuh ipar saya yang seksi ini.

Akhirnya saya dapat ide, saya akan berpura-pura jatuh karena lantai kamar mandi yang licin karena kena cipratan dari shower. Setelah saya selesai, akhirnya saya pura-pura jatuh dan menghempaskan kaki saya ke lantai sehingga menimbulkan bunyi jatuh. Saya kemudian merintih kesakitan dan minta tolong, dengan harapan didengan Milky. Dengan tergopoh-gopoh Milky datang menghampiriku yang terduduk di kamar mandi.

"Kenapa Dri," tanya Milky kepadaku dengan cemas.
"Aduh.. Mil, sakit nih, aku kepeleset," kataku sambil memegang pantatku seolah-olah kesakitan karena jatuh.
"Mana yang sakit" kata Milky kemudian.
"Ayo coba berdiri, Dri" kata Milky sembari membantuku berdiri dengan setengah memelukku.

Akhirnya aku berdiri dengan dibantu oleh Milky dan sewaktu dia membopongku masuk ke kamarnya kurasakan payudaranya yang montok sesak di tangan kananku. Kemudiaan Milky membaringkan aku ditempat tidurnya untuk dapat mengobatiku. Akhirnya dengan susah payah Milky membaringkanku di tempat tidurnya. Namun karena dengan setengah memelukku akhirnya Milky ikut terjatuh juga ketempat tidurnya dengan posisi menindihku, sehingga kurasakan tubuh seksinya diatasku dan muka kami saling berhadapan dengan sangat dekat sekali bahkan hembusan napasnya terasa hangat dimukaku.

Milky langsung malu melihat posisi kami itu dan tanpa membuang waktu aku memeluk Milky sambil mengusap rambut panjangnya. Milky pun terbuai dengan perlakuanku itu dan segera kudekatkan bibirku ke bibitnya yang terbuka merekah. Aku melumat bibirnya dengan lembut dan ternyata Milky membalasnya pula. Sambil melumat bibirnya aku meremas pantatnya yang montok dan nafasnya kelihatan semakin memburu. Namun tiba-tiba Milky tersadar dan seolah menarik dirinya dariku tetapi agak kutahan tarikan tubuhnya.

"Adri, kita tidak boleh melakukan ini" Milky berkata kepadaku.
"Mil, sudah lama aku menantikan saat-saat begini" kataku kepadanya.
"Dari dulu aku sudah tertarik sama kau dan aku selalu memikirkan kau" sahutku kepadanya sambil terus memeluknya.
"Kau pasti kesepian ditinggal suamimu.., aku akan memuaskan kau.. Mil.." Kataku kemudian.

Milky hanya terdiam saja mendengar perkataanku, Ia kelihatan bimbang dan ragu. Sambil membelai lembut aku kemudian mencium bibirnya lagi dan kami kembali bergumul.

"Oh.. Adri.. Beri aku kepuasan.." kata Milky kepadaku.
"Tentu.. Sayang.. Aku akan memuaskan kau.." sahutku.

Kami berguling-guling saling pagut dan aku meremas payudaranya dengan bernafsu sekali.

"Tunggu dulu sayang.." Milky berkata kepadaku sambil melepaskan dirinya dan merapikan daster dan rambutnya yang sudah acak-acakan.
"Kenapa Mil.." sahutku kemudian
"Martin dan Ipah ada di belakang, ntar aku suruh dulu mereka pergi ke minimarket" imbuh Milky mengingatkan anak dan pembantunya yang bermain di halaman belakang.

Kemudian Milky pergi menyuruh mereka pergi membeli sesuatu di minimarket supaya kami bisa melanjutkan hasrat birahi kami yang sudah tidak tertahankan. Setelah mengunci pintu rumah Milky segera kembali ke kamar dan aku sudah siap menunggunya.

"Sudah pergi mereka sayang..?" kataku dan tanpa menjawab Milky segera menyumpal mulutku dengan mulutnya. Kami saling mencumbu dan saling meremas.

Segera aku menarik ke atas daster yang dikenakannya dan tampaklah tubuh seksi dan menggairahkan yang benar-benar sempurna. Kulepas pengait BH nya dan benar-benar takjub aku menyaksikan payudaranya dan munjung dan montok dengan puting yang coklat dan bulu-bulu halus disekelilingnya. Aaku tidurkan Ia ditempat tidur dan segera saja aku menerkamnya. Ku melumat puting kanannya dan tangan kananku meremas payudaranya yang kiri.

Sementara tangannya meremas ramburku dan mengusap-usap punggungku. Bergantian aku mengulum dan menjilat puting kiri dan kanannya, terus jilatanku turun keperutnya yang rata walaupun sudah punya anak satu. Kelihatan sekali Milky sudah sangat bernafsu karena celana dalamnya sudah basah dari luar. Aku turunkan celana dalamnya dengan bantuannya mengangkat pantatnya. Tampaklah pemandangan yang luar biasa yang belum pernah aku saksikan. vagina yang indah dengan bulu yang sangat lebat hampir sampai ke pusarnya dan menutup lubang memeknya. Memang Milky termasuk yang mempunyai bulu banyak, tangan dan kakinya mempunyai bulu yang banyak namun tetap seksi, inilah salah satu yang membuat aku sangat menginginkannya.

Aku segera menjilati dan melahap memeknya, klitorisnya aku gigit kecil dengan gemas.

"Oh.. Dri.. Enak banget sayang, kau tahu membuatku enak" Milky mulai merintih.
"Terus.. Sayang.. Akh.. Aku hampir tidak kuat.." erang Milky.

Aku menyibakkan bulu memeknya dan terus menjilati memeknya dan sesekali aku masukkan lidahku ke dalam memeknya dan kugoyang-goyangkan sehingga Milly semakin merintih keenakan. Namun aku ingin membuat Milky penasaran dan segera menghentikan aksiku. Kemudian aku berdiri dan segera melepaskan baju dan celanaku. Kulihat Milky begitu penasaran melihat aku membuka pakaianku. Begitu aku menurunkan celanaku, tampak matanya terbelalak melihat celana dalamku, karena kontolku yang sudah tegang sekali sehingga sampai keluar dari CD-ku. Kulepas celana dalamku dan tampaklah kontolku mengacung dengan tegang dan keras.

Aku kemudian menghampiri Milky dan menciumnya, Milky segera menangkap kontolku, rupanya Ia sudah tidak sabar lagi untuk memegang kontolku.

"Akh.. Adri.. Besar banget kontolmu sayang.., aku suka sekali.." imbuh Milky kepadaku.
"Ayo dong sayang.. Masukin kontolmu.. Ngentotin memekku.. Please.. Aku sudah nggak tahan.." Milky berkata kepadaku dengan tidak sabar lagi, rupanya kesepiannya selama ini membuat Dia tidak tahan lagi.

Akupun segera memasukkan kontolku ke memeknya dengan diarahkan oleh tangannya. Segera aku tekan kontolku dan masuk ke memeknya, terasa sempit juga memeknya.. Dan bless.. Amblaslah kontolku ke dalam memeknya.

"Oh.. Oh.. Sayang.." desah Milky.
"Mil, memekmu enak sekali" imbuhku.
"Dri.. Goyang terus sayang.. entotin terus" erangnya.
"Akh.. Ohh.. Kamu hebat sayang.." hanya itu yang keluar dari mulut kami Milky sangat pintar memainkan pantatnya, diangkat.. diputar.. bergantian. Hampir 30 menit kami mengentot sampai akhirnya sudah hampir puncaknya.

"Dri.., aku mau keluar.. Mau puas.." teriak Milky.
"Genjot terus sayang.. Akh.. Akhh.." desah Milky.

Crop.. Crop.. Kecrop.. bunyi persetubuhan kontolku dan vagina Milky yang sudah becek.

"Aku juga sudah hampir keluar.. Mil.." imbuhku.

Kugenjot terus vagina Milky sementara kakinya menjepitkan pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.

"Ooo.. Ahh.. Hmm.. Ssshh.. Aku keluarr.." erangnya dengan tubuh menggelinjang menahan puncak kenikmatan yang diperolehnya.

Kurasakan air maninya yang hangat membasahi kontolku didalam memeknya. Akupun sudah tidak tahan lagi untuk mencapai puncak kenikmatan.

"Mil.. Aku juga mau keluarr.. Keluarin dimana sayang.." kataku kepada Milky.
"Di dalam aja.. Yang paling dalam.. Ugh.." sahut Milky.

Crett.. Crett.. Crett.. Crett.. akhirnya spermaku keluar dengan derasnya sampai-sampai memeknya tidak cukup menampung air kenikmatanku, tampak spermaku keluar dari memeknya. Akhirnya tubuhku roboh menindih tubuh Mlky sambil berpelukan sementara kontolku masih di dalam memeknya menumpahkan sisa spermaku.

"Mil.. Kau puas sayang..?" kataku kepada Milky sambil kukecup lembut bibirnya.
"Puas sekali sayang.. Belum pernah aku sepuas ini.. Apalagi sudah 4 bulan aku sudah tidak ngentot.." katanya.
"Aku akan selalu memuaskanmu dalam kesepianmu.." kataku
"Kenapa kita tidak dari dulu bisa merasakan kenikmatan ini" desahnya kepadaku.
"Iya.. sayang.. Tapi hari ini aku bahagia sekali.." sahutku sambil memeluk dan mencium bibirnya yang basah.
"Ayo.. cepat bangun, sebentar lagi Martin dan Ipah pulang.." sergah Milky sembari berdiri dan menarikku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Mulai hari itu aku dan Milky selalu membuat janji untuk dapat mengulangi kembali persetubuhan kami yang nikmat. Aku dan Milky selalu bersikap biasa diantara ipar maupun istriku. Kadang kami bertemu ditempat yang telah kami tentukan bahkan kadang Milky membawa anak dan pembantunya ke rumah kakaknya kemudian Ia kembali kerumah sambil menjemput aku terlebih dahulu untuk melewatkan nafsu kami yang sudah memuncak. Kejadian ini terus berlangsung sampai sekarang.

Demikian pengalamanku dengan iparku Milky, sebelumnya dengan kerendahan hati saya mohon maaf akan ketidaksempurnaan tata bahasanya dan alur cerita, lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya yang lain. Mohon komentar dan tanggapan atas cerita saya ini ke email.

Tamat

Agustus 2001

"Oke semuanya, pasang taruhannya."
Kalimat itu membawa Dedi kembali ke malam tahun baru saat ia masih di SMA. Dibiarkannya pikirannya melayang, mengacaukan konsentrasinya pada permainan yang tengah berlangsung.

Malam Tahun Baru - Desember 1997

"Oke, Dedi. Pasang taruhanmu."
Dedi menoleh dari kartu-kartu di tangannya ke arah Icha yang duduk di depannya. Teman-teman mereka sudah terkapar akibat terlalu banyak minum. Tubuh-tubuh mereka tersebar di setiap penjuru ruangan. Tinggal Dedi dan Icha berdua yang masih bertahan. Melihat senyum penuh percaya diri yang terukir di wajah Icha, Dedi tahu bahwa Icha yakin sekali kartunya akan menang. Tapi bukan Dedi namanya kalau menyerah sebelum bertanding.

"Bagaimana kalau kita buat permainan ini jadi sedikit lebih menarik?"
"Kau ada ide?" Icha mengangkat gelas birnya dan meminumnya sedikit.
Sejak tadi, Icha dan Dedi memang menahan diri mereka untuk tidak minum terlalu banyak. Namun sedikit banyak pengaruh alkohol mulai mempengaruhi mereka berdua.

"Aku mau lihat seberapa jauh kau berani." Dedi melempar dompetnya ke atas meja.
"Kita naikkan taruhan kita, menjadi.. satu ciuman."
"Ciuman?" Alis Icha terangkat dan ia menyeringai. "Denganmu?"
"Yaa, terserah padamu jika kau lebih suka nyepok anak-anak lain yang sudah pada teler, tetapi kupikir mungkin kau lebih suka melakukannya dengan.. sukarelawan."
"Kau mau jadi sukarelawan? Menciumku?"
Dedi meringis, sadar kalau tertangkap basah.

Icha mempertimbangkan sejenak tantangan Dedi.
"Okelah, Dedi. Kau pikir kau bakal menang? Baik, kita lihat nanti keahlianmu mencium gadis. Dan kunaikkan lagi taruhannya."
"Aah.." Seringai Dedi melebar.
"Kunaikkan menjadi.." Icha berhenti sebentar, melirik sebentar kartunya kemudian pandangannya kembali ke wajah Dedi, dan melanjutkan, "Raba-rabaan."

Dedi berpura-pura gemetar ketakutan.
"Maksudmu, aku kau izinkan meraba tubuhmu? Di balik bajumu? Di luar beha? Atau di dalam beha?"
"Bagus, sekarang kau membuatnya jadi terdengar menyeramkan."
"Lho, aku kan cuma menggambarkan detilnya."

Icha menoleh ke arah Ronald yang sedang telentang tidak sadar di sofa dengan botol bir yang kosong di tangannya.
"Pokoknya siapa pun yang menang dia yang akan menentukan bagaimana nantinya."
"Oh, jadi.. misalkan aku yang menang," Dedi meletakkan kartu-kartunya dalam keadaan tertutup di atas meja dan mengangkat gelasnya.
Tanpa melepaskan tatapannya pada Icha, ia meminum seteguk.

"Jika kubuka kartuku, dan ternyata aku yang menang, aku boleh pilih bagian tubuh mana yang ingin kuraba?" rasa kurang percaya mewarnai suaranya.
"Marisa Haryanto, putri es dari Bandung, akan membiarkan jari-jariku menyelip ke balik beha-nya?"
"Itu kan kalau kau yang menang." Icha mengangguk dengan yakin dan membuat Dedi jadi penasaran, sudah berapa banyak Icha minum dan sudah seberapa mabukkah ia.
"Kalo aku yang menang.."
"Mmm hmm?"
"Kulakukan dengan caraku sendiri."
"Terserah kau." Dedi mengangkat bahu dan mengambil kembali kartu-kartunya dari atas meja. "Kau siap? Buka."

Agustus 2001

"Dedi? Hey, apa yang sedang kaulamunkan? Bangunlah!"
Dedi tersadar dari lamunannya dan mengembalikan perhatiannya ke permainan yang sedang berlangsung.
"Aku pusing nih. Cukuplah untukku malam ini."
"Lho? Kau mau ke mana?"
Dedi segera menghabiskan minumannya dan meletakkan kartu-kartunya. "Pulang."
"Dedi!"
"Yuk, aku duluan."

Malam Tahun Baru - Desember 1997

Icha menempelkan kartunya di bibirnya sambil memperhatikan Dedi ketika Dedi membuka kelima kartunya. Empat kartu as. Ia menyeringai lebar kepada Icha.
"Ayo, Icha. Kau mau ke tempat yang lebih.. 'private'? Atau kau lebih suka melakukannya sekarang di sini?"
Icha menggigit bibir bawahnya, salah satu kebiasaan khususnya yang membuat Dedi jungkir balik dilanda cinta tak berbalas. Lidah Icha terjulur membasahi bibirnya. Ia membuka kelima kartunya satu per satu.

"Delapan hearts. Sembilan hearts. Sepuluh hearts. Jack hearts. Queen hearts. Apa yang barusan kau bilang tadi?"
"Aargh!" Dedi mengerang sementara Icha tersenyum penuh kemenangan.
"Sialan kau! Sejak kapan kau pandai bermain poker?"
Icha bangkit dan merentangkan tangannya untuk melemaskan otot-ototnya. Kelenturan tubuhnya membakar setiap penghujung syaraf Dedi.
"Seingatku kau yang mengajariku dulu. Kau kan paling hobi mengajariku segala macam yang tak ada gunanya."

Dedi ikut berdiri, kegugupannya membuat nafasnya sedikit tersengal.
"Jadi.. taruhan yang tadi?"
Icha mengangguk dan meraih tangan Dedi. Dedi mengikutinya ke kamar mandi. Setelah mereka berdua masuk, Icha mengunci pintu kamar mandi dan kemudian berbalik menghadap wajah Dedi.
"Bisakah kau mulai dengan menciumku dulu?"
Icha melingkarkan tangannya di bahu pemuda itu dan mendorongnya ke tepi bak mandi. Bibirnya melayang di dekat bibir Dedi, menggodanya. Dedi sekali ini tidak mampu berkata-kata.

"Icha?"
"Dedi, tidak bisakah kau diam untuk sekali ini saja?"
Icha bergerak maju dan Dedi segera menciumnya. Lidah mereka bergerak bersama. Dedi menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Icha dan membiarkan lidahnya bergerak di dalamnya, menjilat dan mengecap setiap permukaan di bagian dalam mulut Icha. Icha menahan lidah pemuda itu dengan giginya, dan menghisapnya dengan lembut sebelum melepaskannya. Sebuah ciuman sudah terbayar, namun Icha bergerak maju kembali, kali ini untuk melancarkan beberapa ciuman berturut-turut, setiap ciuman lebih panas dan bergairah daripada ciuman sebelumnya.

"Setengah dari hutangmu sudah kau bayar. Masih ada sisa setengah lagi."
Icha sebenarnya sudah tahu ia akan memenangkan permainan tersebut ketika menerima tantangan Dedi, dan sudah merencanakannya hal ini sejak tadi. Ia tahu Dedi menginginkan dirinya, dan bercinta dengan Dedi adalah salah satu hal yang ingin dicobanya. Icha selama ini hanya bercinta dengan Ronald, tetapi ia sering membayangkan bagaimana rasanya jika ia melakukannya dengan Dedi.

"Kita selesaikan sekaligus saja." Dedi berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Aku paling tidak suka berhutang terlalu lama."
Icha mengangguk. "Setuju. Aku pun menolak menerima cicilan."
Tangan Icha meraih pinggang Dedi dan menarik keluar ujung-ujung kemeja Dedi dari pinggang celananya. Dedi sebenarnya masih belum sempat memikirkan bagian mana dari tubuhnya yang akan diraba oleh Icha, namun tubuhnya sudah bereaksi mendahului pikirannya. Icha tersenyum melihat tonjolan di depan celana Dedi, tahu bahwa kemaluan pemuda itu sudah mengeras di balik celananya akibat ciuman-ciuman yang ia lancarkan kepadanya tadi. Dan kini tonjolan itu semakin membesar menantikan sentuhannya tangannya.

Tangan Icha bergerak membuka kancing dan ritsluiting celana Dedi, kemudian menariknya turun sekaligus beserta celana dalamnya sampai sebatas pahanya. Pandangan Icha terpaku pada kemaluan Dedi yang kini berdiri tegak dan keras sepanjang 14 sentimeter. Dedi tahu bahwa Icha sedang membandingkan dirinya dengan Ronald, dan ini membuatnya merasa agak malu karena ia tahu Ronald memiliki ukuran penis beberapa sentimeter lebih panjang darinya.

Icha mengerti kekhawatiran Dedi dan tersenyum padanya.
"Hmm, paling tidak kau memang punya cukup modal untuk taruhan."
Digenggamnya batang kemaluan Dedi dengan tangannya, diusapnya dengan satu gerakan yang lembut dan perlahan. Dedi mendesah nikmat dan memejamkan matanya, sementara tangan Icha terus bergerak naik turun di sepanjang batang kemaluannya. Tangan Dedi mencekal sekuat-kuatnya pada tepi bak mandi, menahan keinginannya untuk menyentuh Icha. Ia tidak ingin sampai dirinya berbuat terlalu jauh terhadap Icha, sebab Icha masih kekasih sahabatnya sendiri.

"Dedi?" Icha masih berbisik.
Ia mulai merasa ragu apakah akan meneruskan permainan ini atau tidak.
"Kau tidak mau..?"
Dedi memaksakan diri menatap wajah Icha.
"Icha, perjanjian kita hanya.."
Tangan Icha berhenti bergerak dan dengan lembut diusapkannya ibu jarinya pada lekukan kecil di ujung penis Dedi, menimbulkan desiran kenikmatan yang hampir tak tertahankan.

Dedi mengerang dan melepaskan cekalannya pada tepi bak mandi, kemudian meraih kedua payudara Icha. Kedua puting susu Icha sudah mengeras, agak menonjol di balik baju kaosnya yang tipis. Diusapnya dengan jari-jarinya kemudian dicondongkannya kepalanya dan dimasukkannya puting susunya yang masih terbungkus pakaian itu ke dalam mulutnya. Permukaan pakaiannya yang agak kasar terasa amat merangsang saat lidah Dedi menari-nari di atasnya. Kemudian Dedi menarik pakaian Icha ke atas dan melepaskannya dari tubuhnya.

Tidak ingin menunggu lama lagi, Dedi melepaskan sekaligus bra-nya, kemudian dibiarkannya tangannya menjelajahi kedua gundukan di dada Icha yang selembut sutra. Tangan Icha kembali berada di selangkangan Dedi, mengusap batang kemaluannya ke atas dan ke bawah sedikit lebih cepat daripada sebelumnya sementara Dedi menciumi leher Icha dan meremas kedua payudara 34C-nya.

Dedi menjauhkan bibirnya dari leher Icha yang kini basah oleh ciuman dan hisapannya. Nafasnya memburu. Diraihnya tangan Icha untuk menghentikan gerakannya.
"Icha. Kita tidak bisa.."
Icha menarik tangannya dari genggaman Dedi. Matanya melebar, terkejut setelah baru saja menyadari bahwa mereka sudah berbuat terlalu jauh.
"Maafkan. Aku.." Icha berhenti berbicara dan kembali melancarkan ciuman-ciuman ganas pada bibir Dedi.
Dedi melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Icha, memeluknya. Diangkatnya tubuh Icha dan memutar, dan kini giliran Icha yang menyandar pada tepi bak mandi.

Icha mendorong Dedi menjauhinya dan memandang wajah pemuda itu dengan penuh nafsu. Kemudian ia melepaskan kancing celana jeansnya dan menurunkannya sekaligus bersama celana dalamnya. Dedi tidak mampu berpikir atau menahan diri lagi. Diangkatnya tubuh Icha dan didudukkannya pada tepi bak mandi, dan ia menyelipkan tubuhnya di antara kedua kaki Icha. Penisnya yang tegang bersentuhan dengan bibir kemaluan Icha. Namun ia berhenti lagi, masih penuh keraguan akan apa yang mereka lakukan.

Icha menggigit pundak Dedi dan mendorong pinggulnya ke depan dengan tidak sabar. Dedi mengerang, mengakui kekalahannya dan membiarkan kemaluannya memasuki lubang vagina Icha. Ia mendorong pinggulnya ke depan, membiarkan keseluruhan batang penisnya masuk sedalam-dalamnya. Mereka berdua bergerak bersama-sama, memompa keluar masuk dengan penuh nafsu dan terburu-buru.

Kaki Icha melingkari pinggang Dedi dan ia mempercepat gerakannya, merasakan dirinya hampir mencapai orgasme. Gerakan Icha semakin cepat sampai akhirnya Dedi kehilangan kendalinya dan menyerah. Digigitnya pundak Icha saat puncak kenikmatan menyerangnya, menahan dirinya untuk tidak berteriak dan membangunkan teman-teman mereka di luar. Semprotan cairan mani dalam vaginanya membuat Icha serasa melayang tinggi melewati puncak kenikmatan. Icha menggigit bibirnya. Otot-otot vaginanya mengencang saat gelombang orgasme melanda dirinya.

Mereka berhenti bersamaan, saling menghindari tatapan mata masing-masing. Dedi mengusap perlahan bekas gigitannya pada pundak Icha.
Icha menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa kok, sebentar juga akan hilang."
Dedi melepaskan diri dari pelukan Icha dan mundur perlahan, masih belum berani menghadapi tatapan mata Icha.

"Aku mau mandi." Icha memungut pakaiannya dari lantai kamar mandi yang setengah kering. "Kau mau ikut?"
"Sebaiknya tidak. Kau masih pacarnya Ronald."
"Dedi?" Icha menggantungkan pakaiannya di balik pintu kamar mandi. "Kau selalu saja membantahku. Apa salahnya sih sekali-sekali setuju denganku?"

Agustus 2001

"Katamu kau ke tempat Ronald bermain kartu. Kenapa ada di sini?"
"Aku berhenti bermain. Sudah kalah terlalu banyak malam ini."
"Masa sih?"
Dedi mengangguk dan menyodorkan sebungkus martabak manis keju kacang kepada Icha.
"Kurang bisa konsentrasi."
"Siapa yang menang malam ini?"
"Ronald."
"Makin pintar dia sekarang?"

Dedi dan Icha sudah memberitahu Ronald tentang kejadian pada malam tahun baru tersebut. Ketika itu Icha sudah putus dengan Ronald. Karena semuanya bermula dari permainan poker, Ronald menantang Dedi bermain poker untuk menentukan nasib mereka selanjutnya, siapa yang berhak mendapatkan Icha. Permainan itu bukan pertandingan yang seimbang sebetulnya, sebab Dedi pandai sekali menggertak, sedangkan wajah Ronald terlalu polos dan terbuka, dan Dedi selalu tahu kapan kartunya baik, kapan kartunya buruk. Tapi itu tidak penting sama sekali, karena tidak peduli siapa pun yang menang, Dedi tahu Icha tetap memilihnya.

TAMAT

Hollywood Hills, 4 Juni 1999.

Hari Jum'at ini saya harus bangun pagi-pagi, padahal belum juga saya bisa tidur nyenyak, karena saya baru saja tiba di LA hari Kamis malam dari Jakarta naik pesawat Eva Air. Pasti siang-siang saya bakalan mengantuk karena jet-lag. Tapi apa boleh buat, kan saya ke LA untuk urusan kantor di Pasadenna.

Selesai mandi dan minum air putih, langsung saya ke garasi untuk pasang kabel accu dan memanasi mesin Grand Cherokee warna Hitam yang sudah beberapa bulan nggak dihidupkan. Untung accu-nya sudah kuat setelah beberapa jam disetrum, jadi bisa langsung meluncur ke daerah Sunset Blvd untuk cari sarapan yang melayani drive thru.

McDonald memang pilhan yang pas, karena "egg mcmuffin"-nya nggak terlalu besar, jadi biar enteng-enteng saja, yang penting perut nggak kosong, sambil menyiapkan perut untuk lunch besar yang biasanya disiapkan sama kantor di Pasadenna.

Ternyata macet di freeway memperlambat perjalanan ke Pasadenna, ada sekitar 1 jam lebih saya baru sampai. Terlihat sebuah gedung berwarna biru dan abu-abu bertingkat 6 dengan luas kavlingnya sekitar 3000 M2. Langsung kuarahkan mobil masuk ke halamannya dan parkir di bagian reserved.

"Selamat pagi tuan Coki, apa kabar", kata Brown si satpam perusahaan yang tinggi besar. "Kabar baik", kata saya sambil tersenyum. Saya naik lift ke lantai 6 tempat si Presdir kantor di Pasadena ini, dan begitu lift terbuka di lantai 6, sudah terlihat Natasya Public Relation-nya si Harry yang cantik sedang duduk di meja reception. Tingginya 5'7" alias sekitar 170 cm, rambutnya hitam kecoklatan, wajahnya sensual dan menarik, dengan garis wajah yang memang khas orang Eropa Timur. Badannya tegak atletis dan buah dadanya terlihat bulat menonjol, serta kakinya yang terlihat indah.

"Harry da di dalam?" tanya saya ke Natsya, "Dia sedang menunggu anda tuan", jawabnya sambil tersenyum menggoda. Begitu pintu saya buka, ternyata di dalam sudah ada 4 orang termasuk Harry. "Hei lihat, teman yang bujangan itu baru datang" teriak Harry sambil tertawa bersama-sama orang kantornya.

Sial dalam hati saya mengumpat, tapi apa mau dikata. Saya memang sudah cukup gaek tapi sampai hari ini belum juga punya pendamping resmi. "Selamat pagi semuanya, apa yang dikatakan Harry tentang iri saya memang benar, Hingga kini saya masih sendiri tapi teman cewek sih banyak", jawab saya balik. Setelah bersapa-sapa dan saling menggoda, akhirnya kita terlibat dalam pembicaraan serius tentang proyek yang sedang kita garap di Brazil dan Argentina untuk telekomunikasi satelit. Juga ada satu proyek perencanaan untuk stasiun peluncuran satelit dari Irian Jaya (jangan pikir KKN dulu, karena proyek ini bukan punya Indonesia dan bukan pakai duit orang Indonesia).

Pendek kata, setelah kita selesai meeting, kita berlima pergi makan siang di restoran masakan Meksiko "Manjana". Di restoran yang sangat penuh itu kita duduk di samping meja serombongan cewek-cewek yang bukan main indahnya, terus terang kalau mereka mau, saya sih merem dan yang mana saja juga mau. Kebetulan salah satu dari kita ada yang memang bisa bahasa Spanyol, dan si Enrico ini memang nekat juga. Setelah menyamperi meja mereka ternyata para wanita itu malah ngobrol panjang lebar sama Enrico. Ternyata mereka dari Venezuela, ya pantes kalau gitu, sebab melihat mereka itu seperti nonton telenovela di TV kita di Indonesia, dan ada satu yang wajahnya campuran antara bekas miss world Catherine Herera dan salah satu bintang yang main Rosalinda (iklannya kan di TV gencar banget, walaupun saya nggak pernah liat TV soap opera).

Setelah Enrico kembali ke meja dia bilang bahwa nanti malam mau janjian pergi ke bar. "Okey, Tuan bujangan kita lanjutkan ntar malam aja pembicaraan kita", kata Enrico kepada saya.

Sepulangnya makan siang saya balik ke kantor untuk meneruskan pembicaraan tentang hal-hal lainnya. Siang-siang terasa mengantuk banget gara-gara jetlag, tapi karena sibuk banget jadi agak terbantu, dan tidak terasa ternyata sudah jam 4 sore. Harry pulang duluan mau menemani istrinya ke dokter, tinggal saya sendirian masih di depan komputer liat file-file dan hitungan-hitungan yang memusingkan. Karena capai akhirnya saya log on ke internet, tentunya mau lihat site favorite saya, kali-kali ada cerita baru. Eh, ada sih yang baru, tapi agak kurang seru.

"Hai Coki, Lagi ngapain?" tiba-tiba suara Natasya mengagetkan saya. Rupanya begitu serunya saya baca cerita sampai dia datang saja nggak tahu. "Emm.. sedang melihat home page temanku", jawab saya agak terbata-bata sambil malu. "Home page temanmu kayaknya menarik deh, sehingga kamu berlama-lama di depan, hey kok serius sekali.., apaan sih yang kamu lihat", katanya. "Lihat nih, gambar gadis telanjang". Akhirnya saya terpaksa kasih tahu bahwa ini emang site cerita-cerita dewasa, dan termasuk yang paling banyak didatangi orang, terutama yang mengerti bahasa Indonesia sih.

Setelah ngobrol-ngobrol ternyata Natasya minta tolong diantarkan ke Pasadenna Mall untuk mencari bacaan, karena mobil dia sedang di bengkel. Tentu saja tanpa berpikir panjang saya mau menemani cewek cakep. Saya dan Natasya setelah dari toko buku makan es di food courtnya sambil ngobrol ngalor ngidul tentang kehidupan saya yang masih juga single. Ternyata si Natasya ini anak paling bungsu, dan dia bilang bahwa minggu depan dia akan off 1 bulan untuk ke Thailand liburan.

(biar gampang percakapannya selanjutnya saya tulis bahasa Indonesia campur Inggris saja)

"Nanti malam ngapain kamu?" tanya saya ke Natanysa. "Kok tanya-tanya sih, kamu kan tahu saya baru saja beli buku, maksudnya ya karena nggak ada acara mending baca-baca saja di rumah."

"Ah bisa saja kamu, saya serius lho tanyanya", kata saya, "Eh saya lebih serius ini, emang saya nggak kemana-mana nanti malam", jawab Natasya agak cemberut.
"Kalau nggak kemana-mana mau nggak nanti ikut saya dan Enrico ke bar?"
"Wah jangan deh Enrico suka galak kalau di kantor."
"Eh itu kan cuma akting dia supaya sok wibawa, tapi dia itu ok banget ngobrolnya."
"Saya mau kamu ajak pergi tapi asal jangan sama Enrico."
Wah payah nih cewek pikir saya, gimana ya enaknya. Pilih Venezuela atau pilih Eropa Timur. Nggak mau rugi saya ajak saja Natasya makan malam, dan malamnya janjian sama Enrico di bar.
"Ya ok, kalau gitu nanti malem kita pergi makan, mau nggak?"
"Asal nggak sama Enrico boleh saja, ok jadi nanti jemput saya di apartment jam 7 ya!" kata Natasya.

Di rumah saya mandi buru-buru dan pakai minyak si nyong-nyong biar percaya diri, dan tidak lupa saya juga sudah janjian sama Enrico jam 11 malam untuk ketemu di bar. Setelah siap, mobil saya kebut ke rumah Natasya, takut jalanan macet karena hari Jum'at. Saya pencet apartemen no.508,
"Siapa?" terdengar dari speaker,
"Saya, Coki"
"Okey deh, tunggu sentar lagi ya.." jawab Natasya dari speaker.
Saya lihat dia berlari kecil menuju pintu di mana saya menunggu.
"Maaf, lama nunggunya ya.."
"Ah, biasa aja.."
"Kita makan apa malam ini, kamu dong kasih suggestion, kan kamu yang di LA", kata saya sambil mencuri pandang ke dadanya yang menonjol hingga terlihat belahannya.
"Gimana kalau kita makan santai saja, nggak usah restoran formal?" tanya Natasya,
"Boleh, boleh saja, saya juga nggak suka yang rapi-rapi kok."
Karena saya juga hanya pakai jeans dan jacket santai, dan Natasya juga hanya mengenakan rok terusan warna hitam yang agak ketat, sehingga terlihat bentuk tubuhnya yang bagaikan gitar Spanyol, roknya panjang tapi belahannya sampai hampir ke pangkal pahanya yang mulus.

Akhirnya kita makan di restoran Hide Sushi, di jalan Sawtelle, West LA. Setelah memesan saya membuka pembicaraan,
"Kamu kok malam sabtu nggak nge-date sama pacar kamu."
"Saya nggak punya pacar kok."
"Kamu pinter, cantik, karir bagus, masak nggak ada yang mau sama kamu", tanyaku heran.
"Bukan GR sih, tapi kalau yang ngejar saya sih banyak, hanya saja saya belum tertarik untuk lebih serius. Ada sih satu cowok yang deket sama saya, tapi akhir-akhir ini saya merasa lebih senang sendiri saja."
Saya mendengarkan dan mengiyakan saja apa yang dikatakan Natasya, namun diam-diam saya tertarik akan prinsip-prinsipnya yang diutarakan dalam pembicaraan saat itu.
"Kamu tadi bilang mau ke Thailand, emang ada teman kamu di sana?" tanyaku.
"Iya di Thailand ada teman baik saya, dia dipekerjakan di kantor cabang American Investment Bank di Bankok. Kok tanya-tanya emang mau nemenin saya?"
"Kamu benar ngajak saya ke Bangkok, nanti cuma jadi kambing congek", tanyaku agak kaget.
"Iya benar saya ngajak kamu, dan lagi teman saya yang di Bankgok itu perempuan."
"Ok, kalau gitu saya akan coba atur untuk bisa bareng kamu."

Setelah ngobrol cukup lama, ternyata kita berdua mulai akrab dan tidak canggung lagi. Buktinya keluar restoran malah dia yang peluk saya menuju mobil. Sesampai di apartement-nya awalnya saya bermaksud untuk mampir, tapi akhirnya saya langsung saja menuju tempat pertemuan dengan Enrico, yaitu "Warehouse" di Marina del Rey. Rupanya Enrico memang tahu kalau saya sangat menyukai music lounge di Marina del Rey ini, makanya dia pilih pergi ke Warehouse. Dari depan pintu masuk sudah saya denger lagu-lagu berirama samba dan bunyi steel drum yang begitu khas. Ternyata Warehouse masih juga penuh sesak seperti dulu-dulu. Dari jauh saya lihat Enrico sendirian dikelilingi 3 cewek latin. Karena meja dan kursinya yang tinggi, terlihat rok cewek-cewek itu tersingkap agak tinggi, wah kelihatan kaki mereka semuanya sangat indah.
"Heeii.. Coki kenalin nih pacar saya, Nina, ini Veronica, dan ini Nikita", kata Enrico yang sepertinya sudah cukup mabuk, sambil memeluk Nina.
"Hai apa kabar, kenalin saya Coki", kata saya.
"Hii Coki", jawab mereka berbarengan seperti koor.
Wah gawat nih, kayaknya mereka juga sudah agak mabuk, padahal saya lagi mikir untuk nggak minum kebanyakan malam ini. Lagu-lagu jazz dan samba terus dialunkan oleh grup yang terlihat sangat professional, apalagi pemain steel drumnya, orang hitam botak dan gendut banget, terlihat sangat kontras dan menarik perhatian.

Setelah beberapa saat ngobrol dan minum sambil makan makanan kecil, terasa ruangan semakin pengap oleh pengunjung yang semakin padat.
"Nikita, mau kan menemani saya keluar", kata saya mengajaknya ke luar ruangan.
"Ayo kita keluar deh, di sini musiknya juga keras sekali", kata Nikita.
Saya jalan di depan Nikita, dan dia memeluk saya dari belakang dan berjalan seperti ular-ularan menerobos kerumunan orang yang menikmati grup band itu. Wah, terasa daging kenyal menekan di punggungku dan jari Nikita yang lentik melingkar di perutku mendekapku dari belakang.
"Ahh seger deh udara di luar ini, di dalem penuh banget sih", kata Nikita.
"Emang di dalem penuh banget ya", kata saya sambil memperhatikan kapal-kapal boat yang parkir rapih di marina. Dan di kejauhan terlihat bulan bulat penuh bersinar terang di atas horizon laut Atlantik.

Di luar ternyata tidak ada orang, dan hanya ada 1 kursi pendek yang santai.
"Coki lu duduk saja di situ, terus lu pangku saya, Oke" kata Nikita. Siapa yang nggak mau memangku cewek kayak Nikita, wajah kayak pemain telenovela. Badannya sekitar 167 cm, buah dadanya nggak usah diceritakan lagi, kira-kira lihat saja di telenovela itu, dia benar-benar mirip sekali tapi lebih langsing dan kencang.
"Coki, kamu tinggal di LA ya?" tanya Nikita.
"Nggak saya hanya ada kerjaan di kantor LA, saya tinggal di Jakarta, Indonesia."
"Di mana tuh Jakarta?" tanyanya bingung.
"Wah jauh dari sini, tau Bali nggak?"
"Iya tau Bali."
"Nah Bali itu adanya di negara Indonesia."
"Oh gitu, kapan-kapan saya ke Bali deh, katanya bagus sekali ya?" kata Nikita sambil merebahkan badannya ke dada saya.
Tercium bau wangi parfumnya yang sudah bercampur bau badannya. Tak tahan, tangan saya mulai memeluk dan meraba daerah perutnya di bawah buah dadanya yang menantang.
"Iya kapan-kapan pergi ke Bali, nanti saya anterin keliling Indonesia", jawab saya sudah mulai nggak konsentrasi.

Tiba-tiba si Nikita bangun dan duduk di atas paha saya menghadap ke saya, kakinya yang panjang menjepit perut saya, dan selonjor melalui celah samping kursi di bawah sandaran tangan. Tentu saja roknya terangkat sampai ke atas dan terlihat celana dalamnya yang hitam berenda. Lalu buah dadanya disorongkan menempel di dada saya, sambil dia bertanya, "Kalau orang Indonesia suka seks nggak?" Mendengar kata-katanya, terasa batang saya mulai menegang. Apalagi tertekan pantatnya dan tergesek daerah kemaluan Nikita.
"Tentu, siapa sih yang nggak suka seks", jawab saya sok masih sopan.
"Lalu kenapa kamu kelihatannya cuek, ayo pelik aku, peluk tubuhku, Saya amat gerah deh malam ini pingin merasakan pelukanmu", katanya mendesah-desah.Karuan saja jantung saya berdetak semakin kencang. Dengan perlahan saya usap-usap punggungnya, dan saya remes pantatnya yang kencang. Nikita pun mulai menciumi leher saya, dan terasa hembusan nafasnya di leher saya. Segera saya eratkan pelukan saya ke badannya. Karena di luar ini tidak ada orang lagi, maka saya beranikan tangan saya mengusap buah dadanya. Dengan membuka dua buah kancing bajunya, maka terlihat belahan dadanya yang menonjol akibat bra yang dipakainya pas menopang buah dadanya yang besar dan padat. Dengan satu tangan, saya raba branya dan saya usap-usap dan remas buah dada Nikita.

Saya rasakan pinggulnya bergerak maju mundur menggesek batang kemaluan saya. Nggak tahan lagi menahannya, saya arahkan tangan saya ke sela-sela celana dalamnya yang berenda. Dengan menyelipkan jari-jari saya ke dalam celana dalamnya, bisa saya raba bulu-bulu halus yang tebal menutupi vaginanya. Dengan jari tengah saya sibakkan bulu-bulu yang menutupi clitoris dan lubang vagina Nikita.
"Aghh.. terus, yang mesra dong Coki, yah begitu.., aughh!", rintih Nikita. Lalu tetap menggunakan jari tengah saya, bisa saya rasakan clitoris Nikita sudah mulai menegang dan sedikit basah karena terangsang. Segera saya usap-usap clitorisnya, dan ketika sudah semakin basah, saya coba untuk menusukkan jari telunjuk bersama jari tengah saya ke dalam vagina Nikita.

Perlahan tapi pasti, jari-jari saya bisa masuk ke dalam vaginanya yang terasa hangat menjepit. Nikita sudah tidak berkonsetrasi lagi dengan ciuman ke leher dan dada saya, dia menikmati sentuhan, rabaan, dan gerakan jari-jari saya di sekitar clitoris dan liang vaginanya. Kepala Nikita digeleng-gelengkan menikmati gerakan jari-jari saya, rambutnya yang panjang menyabet-nyabet muka saya, sambil sesekali tercium bau harum dari tubuhnya.
"Ooohh.. uughh.." lenguh Nikita tertahan. Dengan kedua tangannya dibuka baju saya dan digigitnya puting saya, sambil mendesah, "Cepat Coki.., yang keras.. ehh.. ehh.. augh auwww.."
Dengan tanganku yang lain, kutarik bra yang masih menutupi buah dada Nikita. Kucium dan kuhisap putingnya. Buah dadanya terasa keras dan kenyal ditangan.

Sambil terus menggosok-gosokkan tanganku di sekitar kemaluan Nikita, tiba-tiba dia menggelinjang keras dan berkata,
"Oh.., aku mau keluar.., aughh.."
Mendengar erangan Nikita sebagai tanda orgasmenya, jari-jari saya tetap saya keluar-masukkan ke liang vaginanya dengan lebih perlahan, sambil tetap mengusap-usap clitrorisnya yang sudah terasa sangat basah.
"Uuuhh.. ahh.. ahh, nikmat sekali", rintih Nikita kelelahan menahan luapan emosinya yang tertahan karena tidak berani berteriak takut kedengaran orang. Badan Nikita terkulai lemas menyandar di dada saya.

Setelah beberapa saat, Nikita bangun dan terlihat matanya masih sayu, lalu berkata sambil tersenyum, "Terima kasih Coki, aku telah merasakan orgasme yang sangat dahsyat malam ini.."

"Ayo, sekarang giliranmu!" kata Nikita sambil meraba-raba kemaluan saya dari luar celana. Dengan cepat ditariknya ritsleting celana jeans saya, dan dibukanya juga sabuk serta kancing atas celana saya. Ditariknya keluar batang kemaluan saya yang sudah tegang, dan dengan perlahan dihisapnya ujung batangnya. Dijilat, dan dikulum ujung batangnya, sambil di kocok secara perlahan.
"Ahh, nikmat-nikmat Nik, terus!" kata saya.
"Apa?" tanya Nikita sambil tiba-tiba melepaskan hisapannya di ujung batang saya.
"Oh maaf maksud saya yang keras.., nikmat banget deh!" kata saya menjelaskan.

Nikita meneruskan gerakan tangannya di batang kemaluan saya, sambil menjilati batangnya dengan lidahnya. Dihisapnya lagi batang saya, dan dimasukkan full sampai semua tertelan habis di mulutnya. Disedotnya dengan keras sambil memaju mudurkan mulutnya di batang kemaluan saya.
"Uuhh, nikmat sekali", kataku.
Nikita semakin mempercepat gerakannya dan hisapannya juga semakin keras.Dan tidak terlalu lama, terasa cairan sperma dari pangkal batang kemaluan saya seakan-akan terkumpul dan mau meledak. Dan juga di ujung batang kemaluan terasa semakin ngilu-ngilu nikmat. Nikita tidak sedikitpun mengurangi kecepatan gerak hisapannya, dan "Uuhh, ahh", erang saya menikmati puncak ejakulaiku. Terasa mulut Nikita tetap menancap dan menghisap batang kemaluan saya. Dihisapnya habis semua sperma yang keluar dari batang saya. Dan karena Nikita tidak berhenti setelah segalanya berlalu, terasa batangku berdenyut-denyut, sangat ngilu dan geli sekali.Tapi ejakulasi karena dihisap memang terasa lain dan sangat mengasyikkan."Coki spermamu yang keluar banyak sekali, tapi nggak apa lah.. saya malah senang kok", kata Nikita. Pikirku, "Ya syukurlah kalau lu seneng sih, yang pasti malam itu gue sudah lemas banget. "Dan rasanya malas mau ngapa-ngapain lagi.

Setelah kita merapikan pakaian, kita berdua kembali ke meja Enrico yang masih asyik mendengarkan kemahiran para musisi jazz itu.
"Enrico saya rasa saya akan duluan ya, karena saya harus ke Kedutaan Indonesian dulu untuk mengurus surat Pemilu", kataku.
"Kalau mau duluan silakan, tapi besok telepon saya ya!" katanya cuek. Saya cium Nikita sebagai tanda perpisahan, dan saya juga catat alamat dan teleponnya, kalau-kalau besok bisa ketemu lagi.

Bersambung . . . .

Pagi ini aku duduk di depan rumah ketika tiba-tiba lewat di depanku Siska, seorang cewek yang bekerja sebagai penjual kosmetik di sebuah supermarket. Ia tersenyum manis melihatku, aku hanya bisa mengangguk saja ketika ia menyapaku. Padahal sebenarnya aku sangat tertarik sekali kepadanya. Siska benar-benar cewek yang seksi sekali, badannya tidak terlalu tinggi, tetapi kulitnya putih dan montok. Keberaniannya untuk memakai rok mini membuatku selalu ingin mengetahui apa yang ada di balik roknya yang sangat minim itu. Namun semuanya hanya menjadi lamunanku saja, karena selama ini kami hanya bertegur sapa di jalan saja. Namun saat ini, ketika isteriku tidak di rumah dan keadaan benar-benar sepi, keberanianku mendadak muncul.

Saat itu Siska yang sudah berjalan agak jauh melewati rumahku aku kejar dan aku panggil, dia menoleh. Mulanya dia agak ragu, namun ketika aku memanggilnya lagi, ia segera kembali dan mendatangiku. Di depan pintu pagar ia bertanya sopan.
"Ada apa Oom, kok tumben manggil".
Aku hanya tersenyum dan membalasnya, "Kamu mau masuk kerja ya, kok udah rapi jam berapa sih masuknya.., mampir dulu dong".
Saat itu memang dia sudah sangat rapi dan cantik sekali, wajahnya yang putih tidak terlalu kena make up namun justru memancarkan keseksiannya sebagai akibat dari rok mini serta blouse yang dipakainya. Dia tersenyum dan mengatakan kalau memang dia berangkat agak pagi karena mau mampir ke rumah temannya untuk suatu keperluan.

Aku mempersilakan dia masuk dan dia menurut saja, bahkan dia tanya, "Ibu dimana.., kok sepi..", Aku jawab dengan ringan kalau isteriku sedang keluar kota. Kulihat dia hanya mengangguk-angguk saja, kugiring dia duduk di teras samping rumahku yang lebar dan rimbun itu.
"Kita duduk di sini saja ya, biar santai, sambil saya ganti pakaian dulu". Dia segera duduk disofa sambil tangannya meraih majalah yang ada di situ. Aku jadi agak senang, karena majalah yang diraihnya itu adalah majalah porno yang aku dapat dari luar negeri. Di dalam aku segera mengganti piyamaku dengan kaos dan celana pendek tanpa celana dalam, karena aku berniat memanfaatkan saat ini untuk menikmati keseksiannya.

Ketika aku keluar, kulihat dia masih asyik memperhatikan majalah porno itu, dari belakang kuperhatikan gambar apa yang menjadi perhatiannya, ternyata gambar cewek yang sedang dijilati vaginanya. Dengan bergaya tidak tahu aku segera duduk di depannya.
Siska tertawa menyeringai sambil berkata: "Aduh Oom majalahnya kok serem sekali ya".
Aku tidak menanggapi, tetapi aku hanya tersenyum saja. Aku membuka omongan dengan menanyakan di mana dia bekerja sebenarnya, lalu produk apa saja yang kira-kira bisa aku pakai dari omong-omong itu aku tahu kalau dia bekerja di Sarinah dicounter kosmetik mahal untuk pria. Dalam sekejap aku sudah menghabiskan uang 800 ribu untuk memesan kosmetik pada dia. Siska sangat senang karena aku demikian boros membelanjakan uangku untuk kosmetik itu, entah disengaja entah tidak, duduknya mulai tidak rapi sehingga pahanya agak renggang. Saat itu aku sekilas melihat celana dalamnya yang berwarna kuning, penisku langsung bergetar karena pemandangan yang sekilas itu.

Ketika kurasakan sudah cukup aku membuat dia masuk dalam pengaruhku, akupun mulai melaksanakan jebakan yang aku rencanakan tadi.
"Siska, kamu suka berenang nggak?, Dia menjawab spontan.., suka sekali Oom kenapa ya?
Aku menjawab lagi, "Enggak Oom punya baju renang yang bagus sekali yang Oom beli di Amerika, tetapi Tante tidak berani memakainya, kamu mau ya?".
"Mau saja Oom, asalkan tante nggak marah kan?".

Aku segera mengambil pakaian renang yang aku maksudkan itu, memang aku pernah membeli beberapa baju renang yang seksi dan kuberikan kepada beberapa kenalanku yang berani memakainya, saat ini aku masih mempunyai beberapa buah dan kupilih yang paling seksi buat Siska. Meskipun pakaian renang ini bukan bikini, tetapi potongannya benar-benar akan membuat tubuh yang memakainya jadi menonjolkan keseksiannya.

Ketika kutunjukkan pada Siska, matanya berbinar-binar.., "Aduh Oom bagus sekali ya, tetapi ini pasti mahal sekali harganya".
Aku hanya mengangguk kataku, "Biar mahal kalau yang memakai pantas kan jadi tambah bagus. Kalau Siska nggak keberatan, Oom kepengen lihat Siska pakai pakaian renang ini mau kan?"

Siska pertamanya agak ragu-ragu mendengar tawaranku itu, tetapi akhirnya dia bertanya, dimana saya bisa ganti Oom. Di sini saja di ruang tamu, aku sengaja menunjuk ke dalam ruang tamuku.
"Oom tunggu disini ya", katanya. Aku hanya mengangguk dan Siska masuk ke ruang tamuku untuk mencoba pakaian renang itu. Aku menahan diriku untuk tidak masuk ke dalam melihat Siska ganti, karena aku kuatir dia lepas dari perangkapku itu. Dengan hati berdebar-debar aku menunggunya keluar, namun ternyata ia tidak kunjung keluar juga.

Tiba-tiba kudengar Siska memanggilku, "Oom, Oom ke sini saja Siska malu keluar". Aku tergesa-gesa masuk ke ruang tamuku. Kulihat pakaian Siska bergeletakan di lantai sementara tubuhnya sudah dibalut pakaian renang yang aku berikan itu. Benar-benar pas buat Siska, buah dadanya yang besar itu menggantung manja di balik pakaian renang itu dan dari samping sebagian buah dadanya menyembul keluar. Secara tiba-tiba Siska mengangkat kedua tangannya untuk membetulkan letak rambutnya yang kacau, saat itu aku melihat kerimbunan bulu ketiaknya. penisku langsung tegak penuh melihat ketiak Siska ini, Tetapi aku masih coba menahan nafsuku dulu, dengan tenang kutarik ia keluar ruang tamuku agar keluar keteras.

"Di sini lebih jelas Siska, kan pakaian renang memakainya di luar ruangan bukan di dalam". Ia hanya tertawa tetapi menurut saja ketika kutarik itu. Diluar kubiarkan ia berdiri sambil bersandar ditembok sementara mataku menatap keindahan tubuhnya yang hanya dilapisi pakaian renang itu. Ternyata pakaian renang itu tidak dapat menyembunyikan puting susunya yang tampak menonjol itu dan juga potongannya yang berani menyebabkan sebagian bulu kemaluan Siska yang hitam keriting itu keluar di sisi paha tanpa disadari oleh pemiliknya.
Aku tertawa sambil berkata, "Aduh Siska.., bulumu luar biasa ya.., sampai keluar semua tuh!". Siska agak terkejut dan melihat kearah yang kutunjuk, tangannya berusaha menutupi bagian itu tetapi aku segera mendekatinya dan kupegang bahunya sambil bertanya lagi.
"Memangnya lebat ya Sis kok sampai keluar semua.
Siska menjawab enteng juga, "Habis pakaian renangnya seksi sih jadi ya mestinya di cukur sedikit biar nggak keluar semua".
Aku bilang pada Siska, "Sudah Sis sana kamu ganti saja dengan pakaianmu sendiri".

Kalau tadi aku tidak mengikuti ketika Siska mencoba pakaian renang, saat ini aku ikut masuk dan menunggunya ganti.
Siska berkata, "Lho Oom kenapa kok di sini.., Oom keluar dulu dong Siska mau ganti", katanya manja.
Aku diam saja, "Sudahlah apa bedanya telanjang dengan pakai pakaian renang ini, toh Oom sudah bisa membayangkan di dalamnya".
Siska memang berani sambil menyeringai dia segera melepas pakaian renang itu semuanya sehingga tubuhnya jadi telanjang bulat. Mataku terbelalak melihat buah dadanya yang montok dan bulu vaginanya yang lebat itu, benar-benar di luar ukuran, super lebat dan gondrong.

Aku sudah tak tahan lagi dengan sigap aku berdiri dan mendekati Siska, kuremas payudaranya dan kucium bibirnya. Siska hanya pasrah saja, tanpa tunggu komando lagi celanaku langsung kulepaskan dan kusuruh Siska memegang penisku. Siska langsung menggenggamnya dengan halus, aku yang sudah bernafsu segera menarik Siska pelan-pelan ke sofa sambil tetap berciuman dan Siska masih menggenggam penisku. Ketika aku sudah berhasil duduk di sofa, kusuruh Siska duduk di pangkuanku dan kuselipkan penisku di bibir vaginanya. Dengan sekali tekan, penisku amblas di liang vagina Siska.

Ternyata Siska memang betul-betul sudah tidak perawan, tetapi vaginanya masih terasa seret.., mungkin masih jarang dipakai. Gerakan pantat Siska cepat sekali naik turun sementara ia mencium dan memelukku erat-erat. Kurasakan hangatnya liang vagina Siska yang masih peret itu, geseran buah dadanya di dadaku membuatku makin bernafsu. Merasakan ganasnya Siska yang menduduki penisku, aku kuatir kalau aku akan cepat ambrol, dengan tergesa gesa kudorong Siska sehingga ia berdiri dan terlepaslah penisku dari liang vaginanya.

Aku mendudukkan dia di atas sofa dan kuangkat kakinya keatas sehingga membuat vaginanya terkuak lebar dengan bibirnya yang berwarna merah muda sudah mulai berkilat oleh lendir dari vaginanya sendiri. Langsung saja lidahku menjilati clitoris Siska yang membengkak seperti kacang tanah itu. Siska menggeliat sambil merintih, bulu vaginanya yang lebat kusisihkan ke samping sehingga lidahku makin leluasa menyusuri tepi bibir vagina Siska untuk kemudian ujung lidahku kumasukkan ke liang vaginanya yang menganga itu. Siska betul-betul tidak tahan dengan jilatanku ini, tangannya meremas-remas payudaranya sendiri, sedang mulutnya merintih-rintih.

Ketika kulihat lendir vagina Siska sudah membanjir, aku berdiri untuk segera menyetubuhi Siska, saat itu tiba-tiba saja Siska menangkap penisku dan langsung di masukkannya ke dalam mulutnya, dihisapnya penisku kuat kuat. Kuluman Siska tidak terlalu nikmat, tetapi aku tertegun melihat Siska yang begitu rakus. Aku memuaskan mataku dengan pemandangan yang indah sekali buah dada Siska berjuntai montok dan kenyal sementara bibirnya yang dipulas lipstick tipis mengulum penisku. Tak tahan dengan semua ini segera kucabut penisku dari bibir Siska dan kudorong Siska hingga terbaring, pelan-pelan kuletakkan penisku di bibir vaginanya yang berbulu lebat itu, Siska membantuku dengan menyibakkan bulu vaginanya serta menguakkan vaginanya, pelan-pelan aku menusukkan penisku untuk merasakan liang vagina Siska yang hangat itu sampai akhirnya penisku mencapai dasar vagina Siska. Siska mengangkat kakinya tinggi tinggi dan pantatnya mulai diputar ke kiri dan berganti ke kanan. Aku tidak sempat merojokkan penisku, karena goyangan Siska yang alami membuat aku tidak mampu menahan rasa nikmat yang luar biasa ini, aku hanya mampu menghisap puting susunya sementara air maniku menyembur keluar oleh sedotan dan goyangan Siska itu. Aku tahu kalau Siska belum mencapai kepuasan, tetapi aku tidak peduli, yang penting aku puas dan aku sudah membayarnya.

Benar saja, setelah beberapa lama aku terhanyut oleh rasa nikmat yang diberikannya, Sisca segera mendorongku dan mengatakan kalau dia mau segera pergi, bahkan dia minta ijin padaku untuk mandi terlebih dahulu. Aku hanya mengiakan apa yang diminta Siska, rasanya aku masih terbius oleh semua ini. Satu kalimat yang aku pesankan pada Siska, sering-seringlah mampir, pasti ada bonus yang menarik untuknya bila selalu membuatku puas seperti pagi ini

TAMAT

Saturday, 5 Juni 1999.

Lagi-lagi malam itu susah banget mau tidur, mungkin jet-lag belum selesai. Tapi karena kehabisan energi disedot habis Nikita, akhirnya saya bisa tertidur juga. Dan sekitar jam 9 pagi weker saya berbunyi, dengan susah payah saya matikan. Pagi itu saya buru-buru mandi biar nggak tidur lagi, dan sebelum pergi ternyata saya baru tahu kalau di telepon saya ada message yang belum saya dengarkan.

Saya tekan tombol di mesin penjawab telepon dan terdengar,
"Halo Coki, ini Ibumu di Jakarta, kamu ke mana kok jam 1.30 pagi belum di rumah, segera telepon jam 7 pagi waktu Jakarta!"
Tuut, terdengar lagi suara lain,
"Hi, ini saya, Natasya, saya tidak menemuimu hari ini. Saya kira kamu masih tidur, atau kamu masih bersenang-senang bersama Enrico. Ntar saya hubungi lagi."

Wah ngapain tuh anak telepon sekitar setengah dua pagi, ya nanti ditelepon deh pikirku. Dan sesampainya di konsulat di Wilshire Blvd, ternyata banyak orang-orang yang sedang mencari tahu tentag jadwal Pemilihan Umum tanggal 7 Juni 1999 mendatang. Eh lagi celingukan tiba-tiba punggungku dicolek seseorang.
"Mas kalau mau daftar untuk ikut nusuk hari Senin nanti gimana caranya?"
"Eh emm maaf Mbak, saya juga lagi bingung nih", kataku.
"Sorry deh kalau gitu",
"Nggak apa-apa kok, saya juga lagi cari tahu gimana daftarnya. Yuk deh barengan saja kalau mau!" tawarku padanya.
"Kenalin dulu ya, saya Coki."
"Oh iya sampai lupa, nama saya Widi", katanya sambil tersenyum manis.
"Mas sekolah di LA ya?", tanyanya lagi.
"Nggak saya sudah nggak sekolah lagi, saya hanya ada urusan saja di sini, dulu sih saya emang sekolah di sini. Kalau kamu sekolah disini ya?" tanyaku semangat.
"Nggak, saya juga nggak sekolah di LA. Saya kuliah di Malang, dan sekarang saya hanya nemenin nenek saya yang lagi berobat"

Pembicaraan kita pun menjadi panjang lebar dan mengasyikkan. Dan setelah kurayu-rayu akhirnya Widi baru mau kuajak naik mobilku. Tadinya dia bersikeras naik taksi saja, padahal kalau naik taksi di LA sih sama juga bohong, sebab kemana-mana jauhnya bukan main. Tapi kenapa harus kurayu-rayu, karena Widi ini benar-benar bisa bikin orang ngiler kalau melihatnya. Wajahnya ayu, matanya besar berkilau, bibirnya seksi, dan kulitnya kuning bersih. Badannya tidak terlalu tinggi, sekitar 165 cm. Tapi badannya sangat proporsional, kakinya indah berisi, perutnya datar, pantatnya terlihat menonjol, dan buah dadanya pas dipandang. Pendek kata pasti tidak ada orang yang tidak senang melihatnya.

Siang itu Widi kuajak makan di Kuisimbo, masakan fastfood ala Jepang dekat Konsulat Indonesia.
"Mas Coki sering makan di restoran ini ya, itu si kokinya sampai sudah kenal."
"Iya, dulu sih sering banget karena harganya kan kamu lihat sendiri nggak mahal untuk ukuran LA, padahal masakannya nikmat banget."
"Mas Coki di LA tinggal sama siapa dan di mana?"
"Saya tinggal sendiri saja, kan saya hanya ke LA kalau lagi ada urusan saja."
"Wah nikmat dong kalau gitu, sebab Widi sekarang tinggal ber-3 di apartemen, sama saudara-saudara lainnya, tapi sayang jauh dari rumah sakit tempat nenek dirawat."
Eits, apa maksudnya nih anak ngomong begitu, pikirku.
"Kamu mau tinggal di apartment saya, boleh saja kalau mau. Toh saya hari Selasa sudah mau pulang ke Jakarta naik Eva Air."
"Lho kok bisa sama sih, Widi juga Selasa naik Eva Air."
"Ah kalau gitu kita bisa bareng dong Wid, eh tapi saya masih dari Taiwan nyambung ke Bangkok dulu", kataku teringat janji dengan Natasya.
"Yah kita hanya bisa bareng sampai Taiwan dong, tapi nggak apa-apa deh, nanti di Indonesia kita juga bisa ketemu lagi kan?"

Setelah makan, saya antarkan Widi pulang ke apartmentnya di daerah West Wood dekat UCLA Hospital tempat neneknya dirawat. Dan saya bikin janji hari Senin untuk bersama-sama ke konsulat untuk nyoblos Pemilu. Di jalan saya telepon apartment Natasya menggunakan handphone AMPS pinjaman dari kantor.
"Hallo, apa kabar?" sapaku.
"Baik, Kamu sendiri gimana?", tanya Natasya.
"Saya dalam perjalanan pulang ke apartment, kok kamu nggak ke mana-mana?"
"Iya nih, saya belum bisa pergi-pergi. Sebab mobil saya belum selesai dari bengkel."
"Wah kasihan banget kamu."
"Benar nih kacau semuanya acara saya."
"Emang kamu mau ke mana."
"Tadinya saya mau fitness dan berenang di Holiday Spa, tapi sekarang ya batal."
"Pergi lagi ke Holiday Spa sama saya mau nggak?" tanyaku.
"Boleh saja, tapi kamu ngapain di sana?"
"Saya kan juga punya member Bally Total Fitness induknya Holiday Spa, jadi kita bisa bareng. Ya sudah deh sekarang saja saya langsung ke apartment kamu."

Di mobil memang selalu saya sediakan tas yang berisi pakaian ganti, pakaian olah raga, dan celana renang. Ini sudah menjadi kebiasaan saya karena di LA jaraknya jauh-jauh, dan kalau tiba-tiba mau ada acara tidak perlu pulang ke apartment dulu.

Sesampainya di apartment Natasya, ternyata dia sudah menunggu di pintu depan. Dia mengenakan jaket dan celana training serta baju fitnes di dalamnya. Wow, benar-benar terlihat keindahan tubuh Natasya, di balik baju fitness-nya tersembul buah dadanya yang membetuk belahan dada merangsang, rambutnya diikat ke belakang sehingga terlihat sangat segar dan menarik.
"Kamu sangat cantik hari ini Nat", sapaku.
"Terima kasih, kamu kelihatannya kecapekan Coki."
"Iya nih saya emang capek banget, mungkin perbedaan jam di Jakarta masih berpengaruh. Tapi mudah-mudahan dengan berenang badan saya akan lebih fit."
Kita berdua pilih ke Holiday Spa yang di Montebello, memang jauh dari apartement Natasya. Tapi Holiday Spa di Montebello punya indoor heated pool, tempatnya besar, jogging tracknya juga indoor, dan biasanya siang begini nggak terlalu ramai. Perjalanan sekitar 40 menit ke Montebello dari West LA. Dan sesampainya di sana, Natasya mau jogging dulu, baru latihan beban. Saya sendiri memutuskan untuk berenang saja. Waktu ganti pakaian saya agak canggung juga, melihat cowok-cowok bule berkeliaran telanjang. Maklum sudah lama di Indonesia jarang ketemu yang begitu.

Setelah berenang mondar-mandir hampir 30 menit, saya akhirnya nyemplung di whirlpool air panas. Eh, lagi ngantuk-ngantuk tiba-tiba leher saya dicekik dari belakang, nggak tahunya Natasya sudah berpakaian renang. Sekali lagi saya melotot melihat lekuk indah serta tonjolan tubuh Natasya yang terlihat sangat terawat. Lekuk tubuhnya terlihat jelas karena pakai baju berenang hitam garis putih yang potongan pahanya tinggi, dan potongan punggungnya rendah sekali.
"Katanya mau berenang kok nikmat-enakkan ngantuk di whirlpool?"
"Tadi sudah berenang, tapi sekarang capek dan ngantuk. Apalagi semburan airnya keras pas kena di punggung saya, rasanya nikmat banget nih", kataku seraya mengarahkan punggungku ke semburan air panas itu.
"Kamu tunggu dulu di sini ya, saya mau berenang dulu", kata Natasya sambil berjalan meninggalkanku. Dan dari belakang semakin terlihat jelas pantatnya yang padat, bulat berisi, serta kakinya yang panjang. Setelah beberapa saat mengantuk di whirlpool, Natasya akhirnya kembali lagi ke tempatku.
"Saya sudah capek berenang, tapi sekarang kita ke sauna saja yuk!" ajaknya.

Kitapun berdua berjalan menuju ruang sauna, dan begitu pintu kubuka langsung terasa uap panas menerpa muka dan badanku. Seketika kantukku hilang digantikan rasa segar dan semangat.
"Hey sini dong kok jauh-jauhan gitu!" panggilku.
"Kenapa sih kok mau dekat-dekat saja?"
Sementara satu orang yang sedari tadi sudah di dalam ruang sauna pergi meninggalkan saya dan Natasya berdua saja.
"Nat, kamu dengan pakaian berenang dan peluh yang mengucur di tubuhmu terlihat sangat seksi dan merangsang deh", kataku.
"Kamu ngerayu terus sih, saya kan nanti lama-lama nggak tahan lho."
"Terus kalau nggak tahan memang bisa gimana?"
"Ya kamu tahu dong gimana kelanjutannya."
"Hi.. hi.. hi.. hi, saya kan bilang seperti apa adanya. Kamu memang terlihat cantik dan pinter, tapi selain itu juga sangat seksi", jawabku.
"Sini kamu di depan saya pijat pundakmu", kata Natasya.
Wah nikmat juga punya teman kayak dia, sudah cantik, pinter, eh meladeni banget. Eh jangan-jangan dia cuma mau cari muka sama saya, mentang-mentang saya salah satu boss-nya.

Ternyata jari-jari lentik Natasya tidaklah seperti yang terlihat halus lembut gemulai. Karena begitu jari-jarinya memijat pundakku, terasa tangannya sangat kuat dan mahir memijat otot-ototku yang pegal dan kejang karena waktuku terlalu banyak di pesawat.
"Coki, otot-oto di pundakmu terlihat tegang sekali."
"Ya, saya juga merasakannya", jawabku pendek.
"Okay, tenang aja.., saya akan mencoba melemaskan otot-ototmu", kata Natasya.
Pijatan Natsya baru berlangsung sekitar 5 menit, namun akibat rabaan jari jemarinya, rupanya naluri kelaki-lakianku mulai terangsang.
"Nat, seandainya saja kamu.."
"Kok kenapa kamu bilang 'seandainya', kenapa nggak bilang to the point saja?" jawab Natasya agak ketus.
"Maaf, saya hanya takut nanti kamu pikir saya sebagai atasan kamu memanfaatkan kedudukan saya. Tapi saya sangat mencintaimu, emphh."
Belum sempat saya menyelesaikan kalimat, bibrku sudah disergap oleh Natasya dengan ganas.

Langsung kubalas ciuman Natasya yang sudah mulai membara, terdengar napasnya juga memburu. Diantara kepulan uap air yang menutupi ruang sauna, kita berdua asyik masyuk berciuman, saling peluk dan raba. Kucium leher Natasya yang basah oleh peluh bercampur uap air, terasa aneh dan mengasyikkan. Kuraba buah dadanya yang keras di balik baju renangnya yang masih basah, kuusap putingnya yang terlihat agak menonjol dari balik baju renangnya. Sehingga kurasakan putingnya semakin mengeras, dan kuremas buah dadanya yang terasa pas sebesar telapak tangan dan jari-jariku. Tali pengikat baju renangnya kuturunkan dari pundaknya, dan tersingkap buah dadanya yang sangat indah. Langsung kuciumi dan kujilati putingnya yang sudah mengeras, sambil terus kuraba dan kuremas di sekelilingnya.
"Coki, tunggu dulu, eh.. eh.. sebentar aja!" pintanya sambil terengah-engah.
"Ada apa sayang?" tanyaku.
"Kita sebaiknya jangan melakukannya di sini.., di tempat lain aja."
Ooops, saya juga baru tersadar bahwa kita melakukannya di ruang sauna di Holiday Spa.

Saya dan Natasya segera masuk ke ruang bilas masing-masing, dan segera mandi untuk berganti baju. Di mobil kita berdua tertawa riang seperti sepasang merpati yang dimabuk asmara atas pengalaman kita di ruang sauna itu. Lalu kita memutuskan untuk makan masakan chinese di daerah Monterey Park, karena ternyata kita berdua sudah cukup lapar.

Setelah makan kita menuju ke daerah Beverly Hills, karena kita putuskan untuk nonton film "Black Mask" bintangnya Jet Lee. Seperti biasa, saya senang nonton di Beverly Connection.

Setibanya di bioskop, ternyata filmnya baru saja mulai, lalu kita langsung berlarian supaya jangan terlambat. Ternyata filmnya seru banget, tentang Jet Lee yang membantu membongkar komplotan penjahat. Dan sepanjang film Natasya terus menyender di bahu saya sambil sesekali berciuman.
"Oke, lalu kita ntar mau ke manaw Nat?"
"Ntar malam, milik kita berdua", kata Natasya manja sambil gelendotan di bahuku.
"Uh asyik dong", kataku dalam hati.
"Biklah, kita belanja dulu.., setalah itu langsung aja ke tempatku?"
Ternyata di supermarket di Beverly Connection ketemu bekas bintang cilik yang sudah besar, yang sekarang main Melrose Place, Alyssa Milano.
"Hey, lihat itu!" kataku pada Natasya.
"Yeah, dia kelihatan jauh lebih cantik daripada di bioskop."
"Tapi saya rasa dia tidak bisa dibandingkan kecantikannya dengan kamu"
"Wow Coki, kamu merayu saya terus sih!" jawab Natasya
Emang sih betul kok, overall Natasya lebih segala-galanya dari si Alyssa, cuma buah dada si Alyssa Milano ini terlihat sangat besar untuk ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar. Dan yang lebih pasti, saya nggak nolak kalau diberi.

Setibanya di apartmentku, Natasya terpesona melihat keindahan kota LA di malam hari melalu jendela apartmentku.
"Oh God, sungguh indah sekali pemandangan dari kamarmu, seluruh LA kelihatan indah dimalam hari."
"Ya, saya sangat beruntung sekali dapat menempati kamar apartement ini."
"Saya rasa kamu telah membawa banyak gadis ke tempat ini?", godanya.
"mm.. belum pernah kok.., baru kamu gadis yang saya bawa ke sini"
"Seandainya seringpun nggak apa-apa kok, saya akan tetap mencintaimu", potong Natasya sambil terus memeluk dan menciumku.
Langsung kubimbing dia menuju tempat tidurku. Kurebahkan dia sambil terus kuciumi lehernya. Jantungku berdebar hebat menahan gelora nafsu birahiku yang tadi tertahan di ruang sauna. Kudengar juga desah nafas Natasya terdengar memburu.

Tanganku langsung kucengkeramkan melingkari buah dadanya yang indah, kuraba dan kuremas dengan menggebu. Satu persatu kancing baju Natasya kulepas hingga terlihat bra yang menutupi buah dadanya. Tanpa kulepas pengaitnya langsung kugeser turun, dan kujilat putingnya serta kuhisap. "Eghh.. ohh.." erang Natasya.

Kurasakan tangan Natasya menggerayangi ikat pingganku utk melepaskannya. Dengan segera kubantu melepaskan celana jeansku. Kemudian kita masing-masing segera melepaskan baju dan pakaian dalam, sehingga kita berdua menjadi dua anak manusia yang mabuk birahi tanpa sehelai benang pun di badan.

Kulanjutkan jilatan dan hisapanku di buah dadanya, tanganku meraba dan meremas buah dada dan badannya. Lalu dengan perlahan kuarahkan kepalaku menuju perutnya, kucium daerah perut dan sekitar pusarnya, sehingga terlihat badan Natasya menggelinjang. Dengan lebih perlahan kuarahkan ciumanku semakin menurun mendekati bulu-bulu halus yang menutupi vaginanya.
"Oh.. ohh, terus sayang!", erang Natasya.
Bau badan Natasya tercium sangat harum, bahkan mendekati kemaluannya bau harum semakin tercium. Dengan perlahan kusibakkan bulu-bulu halus itu, sehingga terlihat bibir clitorisnya yang indah. Dengan lidahku kujilat dan kusibakkan perlahan, terlihat tonjolan kecil di tengah clitorisnya. Kuarahkan ujung lidahku menyentuh tonjolan itu.
"Uuuhh.. oohh.." erang Natasya berkelanjutan.
Kuhentikan sesaat sentuhan lidahku di tonjolan itu, lalu terlihat pinggulnya bergerak maju untuk mengikuti ujung lidahku yang menjauh. Lalu kusentuh lagi tonjolan itu. Terdengar erangan Natasya semakin menjadi-jadi.Kutusukkan ujung lidahku memasuki lubang vaginanya, terasa pinggulnya bergerak mengikuti gerakan lidahku. Tiba-tiba kedua kaki Natasya menjepit kepalaku dan tangannya menekan kepalaku.
"Oh.. cepat dong.. yang keras!", pekik Natasya.
Tapi kuhentikan kegiatanku di sekitar kemaluannya.
"Oh.. ayo.. terus!", kata Natasya sambil menarik pinggulku dan mengarahkan batang kemaluanku yang sudah sangat tegang menuju kemaluannya.Dengan pasti kuarahkan ujung batangku memasuki vaginanya. "Bless", kurasakan batangku memasuki lubang vaginanya yang sudah basah. Terasa lubangnya menjepit batangku dari ujung hingga pangkalnya.

Belum sempat aku menggerakkan pinggulku, badanku dibalikkan oleh Natasya sehingga sekarang aku telentang di tempat tidur dan dia berada di atasku.Lalu dengan ganasnya digoyangkan pinggulnya maju mundur dan digesekkan clitorisnya yang tertutup bulu kemaluannya ke daerah tulang kemaluanku. Kurasakan kenikmatan yang tiada taranya bersetubuh dengan Natasya. Kuraih badannya, dan kuciumi buah dadanya, kujilat dan kuhisap putingnya yang mengeras.

Setelah puas menciumi dan meremas buah dadanya, kubalikkan badan Natasya terlungkup di tempat tidur. Lalu dengan perlahan kuarahkan batangku memasuki vaginanya dari belakang. Kuayun maju mundur dengan perlahan, terlihat tonjolan pantatnya yang berisi. Kuremas pantatnya dan kugoyangkan pinggulku semakin cepat.
"Erghh.. ehh.. ehh.. uuhh", erangan Natasya terdengar semakin gencar dan keras.
Kupeluk badannya dan kuraih buah dadanya dengan kedua tanganku, sambil terus kuayun batangku keluar masuk vaginanya.
"Ohh.. ohh.. ohh.. nikmat sekali.. uuhh", teriak Natasya.
"Ahh.. ohh.." erangku juga merasakan denyutan yang memuncak di ujung batangku.

Tepat pada saat aku hampir mencapai puncaknya, tiba-tiba Natasay menggeliat dan terlepaslah batangku dari lubang vaginanya. Dengan gesit ditelentangkannya badanku di tempat tidur, lalu dengan segera dinaikinya badanku dan dipegangnya batangku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya.Lalu dengan gerakan yang membabi buta, dia menunggangiku dengan histeris."Ah.. auw.. ohh.. yeah.. ohh.." teriaknya menikmati orgasme.
Akupun mengalami ejakulasi yang sangat hebat, "Uuhh.. ohh.. saya mau keluar.. aughh."
"Yah, keluari aja di dalam.. uuhh", teriak Nat sambil terus menggeliat-geliat. Lemas rasanya badanku karena gerakan pinggul Natasya tidak berhenti setelah ejakulasiku, bahkan pinggulnya bergerak terus dan terus, sehingga terasa sangat ngilu di ujung batangku.

Akhirnya Natasya berhenti juga, dan jatuh terlungkup di atas badanku. Kucium bau harum badannya, dan kurasakan buah dadanya yang menonjol menempel di dadaku. Terasa batangku masih keras di dalam lubang vaginanya, dan terangsang oleh tonjolan buah dadanya, sebenarnya birahiku bangkit lagi. Namun badanku rupanya terasa terlalu lemas untuk mengikuti perasaanku yang masih membara.

Kutarik napas panjang dan kutahan sesaat, lalu kulepaskan semua oksigen dari dadaku secara perlahan. Perlahan-lahan ternyata aku mulai mengantuk dan akhirnya kita berdua tertidur pulas kecapaian.

TAMAT