Namaku Marini, berumur 33 tahun yang berprofesi seorang perawat rumah sakit swasta terkenal di Jakarta, dan aku kebetulan seorang wanita keturunan Chinese, sudah berkeluarga dengan suami seorang keturunan juga. Dia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran kecil milik keluarga. Aku tidak cantik menurutku, tapi aku dikaruniai kulit putih, bersih dan halus, walaupun aku hanya merawat seadanya, sedangkan tubuhku masih terawat, karena aku memang senang berolah raga sedari kecil.

Kehidupanku biasa biasa saja seperti layaknya keluarga menengah yang hidup di kota besar ini. Kami tinggal di daerah Jakarta Utara mempunyai seorang anak masih SD klas 1 saat itu.

Pengalaman sex saya biasa saja. Sebelum menikah dengan suamiku Satya, aku pernah melakukan hubungan sex dengan pacar pertamaku yang juga seorang keturunan. Karena aku seorang perawat RS, maka aku mempunyai pengalaman melihat dan memegang berbagai macam kemaluan lelaki, sebab saat aku memandikan pasien, maka mau tak mau dan suka tak suka aku membersihkannya. Dan kuakui sebenarnya aku mempunyai libido yang di atas rata rata, sebab kalau aku memandikan pasien, sering aku jadi terangsang sendiri.

Setelah menikah aku hanya berhubungan dengan Satya, namun kuakui, aku pernah melakukan beberapa kali bercumbu sampai dengan oral sex dengan 2 orang dokter yang baik dan kami saling bersimpati. Ada keinginan untuk sampai dengan hubungan sex sesungguhnya tapi sungguh aku dan kedua dokter itu hanya sampai dengan oral saja. Dengan oral kami sama-sama mencapai orgasme walaupun bukan orgasme genital, tapi cukup memberikan kepuasan bagi kami masing masing.

Keadaan berubah, saat aku bertugas di VIP dan mendapatkan seorang pasien yang sangat simpatik, walaupun sebenarnya awalnya aku kurang suka karena dia adalah seorang pria hitam asal Nigeria yang mondar mandir antara Jakarta dan Lagos. Orangnya pendiam tidak banyak bicara, mungkin karena banyak menahan sakitnya. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya hitam, tapi kelihatan terawat tubuhnya. Dia dirawat disebabkan terserang sakit radang usus yang cukup akut, sehingga selama lebih dari 2 minggu tidak diperkenankan dokter untuk turun dari bed dan dua minggu berikutnya setelah dioperasi baru dinyatakan sembuh total.

Selama 5 minggu lebih, hampir sepenuhnya aku yang merawat. Aku ditunjuk oleh dokter kepala untuk merawatnya karena dari semua perawat senior hanya aku yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Aku dibebaskan dari tugas-tugas lain dan berkonsentrasi sepenuhnya pada pasien VIP ini.

Pada awalnya tidak ada yang aneh, hubungan kami hanya sebatas antara perawat dan pasien. Pasien yang bernama Siof ini hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan dialek Afrika. Pada awalnya agak sulit juga aku menangkap maksudnya.

Singkat cerita aku merawatnya dengan tulus sebagai perawat. Selama minggu pertama tugasku tidak begitu banyak, hanya mencek selang infus, mengamati suhu tubuhnya, denyut dan tekanan jantungnya serta menyibin dengan pispot untuk buang air. Pada minggu kedua selang mulai dilepas, tugasku bertambah menyuapinya bubur sumsum cair dan membersihkan tubuhnya dengan memandikannya. Dia mulai agak banyak berbicara, bercerita tentang negerinya, bisnisnya dan keluarganya. Ternyata dia mempunyai seorang anak dan seorang istri. Dia pun menanyakan tentang aku. Tingkah lakunya benar benar kalem dan sopan, tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya bahwa orang Negro bertemperamen keras atau urakan.

Kejadian diawali ketika aku jaga malam saat Siof sudah dalam masa penyembuhan setelah operasi pemotongan usus. Aku diminta datang lebih awal seperti biasa untuk memandikan si Negro itu. Tidak seperti biasanya, kali ini penisnya sedikit ereksi saat aku bersihkan. Sebenarnya sudah terlalu sering aku melihat berbagai penis, tapi yang hitam legam baru kali ini. Apalagi ukurannya, saat tidak ereksi saja besarnya sudah melebihi punya Satya, malah sedikit lebih panjang. Saat aku perhatikan wajah Siof, dia tenang saja, tapi matanya terpejam seperti menikmati saat penisnya aku bersihkan.

"Thank's a lot Rin" katanya berterima kasih setelah selesai.

Dan aku cuma tersenyum, senang karena pekerjaanku dihargai. Malamnya setelah tugasku menyuapinya makan malam dan tugas lain selesai, seperti biasa aku menemaninya kalau sedang tidak ingin menonton TV. Saat aku masuk ke kamarnya, Siof sedang membaca pocket book. Buku itu langsung diletakkan sambil tersenyum, dan seperti biasa aku duduk di sofa, tapi kali itu Siof meminta aku duduk di kursi sebelahnya. Aku pindah dan kutanyakan keadaannya seperti biasa. (Percakapan kami untuk seterusnya langsung aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia).

"Saya merasa segar, tapi kadang-kadang masih sakit". ujarnya sambil berusaha mendekatkan tubuhnya ke arahku, tapi aku larang untuk bergerak.

Akhirnya kami mengobrol kesana kemari dan dia bertanya, mengapa aku baik sekali terhadapnya, sebab kalau di negaranya perawat tidak sebaik aku, menurutnya. Tentu saja itu adalah tugasku sebagai perawat, karena dengan merawatnya sebaik mungkin, pasien akan lebih tenang dan diharapkan akan cepat pulih.

"Terima kasih, kamu telah membuat aku cepat sembuh" katanya tanpa ekspresi.
"Bukan aku, tapi obat dan semangatmu yang membuat kamu cepat baik" sahutku.
"Setelah aku sembuh nanti, bisa kita berteman?".
"Apa mau kamu, orang kaya berteman dengan seorang perawat?". Kulihat dia terkejut dengan ucapanku yang sekenanya.
"Berteman tidak ada kata kaya atau miskin, atau dibatasi dengan suku atau bangsa" katanya lirih, sambil meraih tanganku. Kubiarkan tanganku dielus tangan besar dan hitam itu. Kontras sekali kulihat dengan tanganku yang termasuk putih.
"Boleh aku cium tangan yang telah merawatku selama ini?". Siof melirikku meminta persetujuan. Kubalas senyumannya dan mengangguk. Siof tersenyum dan mencium tanganku sambil memejamkan matanya.

Seterusnya kami teruskan mengobrol dan tanganku terus dibelainya. Jam 10.00 malam, kuanjurkan Siof tidur, dan dia mengerti. Tapi aku terkejut saat aku berdiri, ditariknya tanganku dan menarik wajahku. Aku terkejut dan jantungku serasa copot, tapi ternyata Siof tidak mengarah mencium bibirku, Siof mencium keningku sambil mengatakan terima kasih dan selamat malam. Kuucapkan selamat malam juga dan kubalas kutepuk-tepuk pipinya.

Dua hari setelah itu, ketika aku memandikan Siof pagi-pagi, saat aku masuk kamarnya ternyata Siof masih teridur. Sambil mempersiapkan peralatan mandinya, dia terbangun sambil mengucapkan selamat pagi. Dia bertanya, mengapa tadi malam tidak datang? Aku minta maaf, karena harus membuat laporan para pasien.

Seperti biasa kami mengobrol sambil aku memandikan raksasa ini. Tapi aku kembali terkejut, ternyata kali ini penisnya dapat eraksi penuh. Aku tercengang dengan ukurannya, dan saat aku bersihkan lipatan di 'kepala' (Siof tak disunat), terasa semakin keras, rupanya Siof menikmatinya. Kuperhatikan nafasnya semakin memburu karena terangsang, dan lirih kudengar tarikan panjang nafasnya sambil mendesah.

Setelah selesai dan aku akan keluar ruangan, diraih dan diciumnya tanganku serta sekali lagi aku ditarik dan kali ini selain keningku, pipiku juga diciumnya. Aku tersenyum dan kubalas ciuman di pipinya.

Setelah kejadian itu kami semakin dekat rasanya. Hari berikutnya sama seperti sebelumnya, tapi pada hari ketiga setelah kejadian itu, aku sengaja membawa penggaris, aku ingin mengukur panjangnya, penasaran rasanya. Penggaris aku siapkan dan aku masukkan pada buku status pasien.

Seperti biasa, pagi pagi jam 5.00 aku siap memandikan Siof. Dan kali ini dia sudah bangun dan sudah semakin sehat. Kembali saat aku bersihkan di balik kulit kepala penis yang tidak disunat itu, terasa semakin keras, sengaja aku kocok perlahan supaya lebih maksimal. Dan saat saat dia memejamkan matanya, diam-diam aku ambil penggaris yang sudah aku siapkan. Tapi rupanya Siof memperhatikan tingkahku, dia tersenyum lebar hingga aku sedikit malu dibuatnya.

"Berapa senti Rin..?" katanya masih tersenyum.
"23 senti" jawabku malu, aku benar benar malu.

Sambil meletakkan penggaris, tangan kananku tanpa sadar terus mengocok pelan-pelan, dan diremasnya lenganku sambil berdesis-desis menikmatinya. Ada rasa kasihan juga, setelah kurangsang ternyata dia terangsang berat. Maka tanpa pikir panjang, aku teruskan membelai dan mengocok dengan busa sabun yang semakin banyak. Dan hanya dalam beberapa detik, lenganku dicengkeram kuat dan menyemburlah sperma Siof sambil berdesis tertahan panjang menahan kenikmatan.

Banyak dan sangat kental sperma yang keluar. Melihat pemandangan itu aku jadi horny juga rasanya, dan aku merasakan celanaku basah. Cepat-cepat aku bersihkan semua, karena aku takut ada orang masuk ke kamar ini. Sebelum aku keluar, Siof sempat mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih Rin, kamu baik sekali" ujarnya sambil membelai-belai tanganku. Aku balas dengan anggukan dan senyuman. Diraihnya wajahku dan diciumnya pipiku dan kali ini bibirku dikecupnya, walaupun hanya ujung bibirku dan hanya sesaat.

Sempat dua kali lagi aku mengeluarkan spermanya sebelum akhirnya dia sudah dapat mandi sendiri. Namun kejadian berikutnya adalah dua hari sebelum Siof keluar rumah sakit.

Pada malam itu seperti biasa dan saat itu tidak banyak laporan yang kubuat saat aku jaga malam dan aku menemaninya sebelum tidur. Saat aku masuk kamarnya dia membaca buku di sofa panjang. Kami mengobrol banyak, tentang waktu dia kuliah di Inggris, tentang anaknya dan akhirnya obrolan sampai di momen saat aku mengeluarkan spermanya. Aku katakan bahwa aku kasihan dengannya saat terangsang berat saat itu dan sekali lagi dia mengucapkan terima kasih.

Setelah waktunya tidur, aku bimbing dia untuk ke tempat tidur. Namun dia tidak langsung ke tempat tidur, tapi malah hanya pindah duduk di sofa tunggal. Aku berdiri dihadapannya. Siof menengadah memandangku sayu. Dengan nada bergetar, dia memintaku untuk mencium, sambil menunjuk kemaluanku. Aku bingung untuk menolaknya, takut tersinggung, kalap dan marah. Belum aku menjawabnya, tangannya sudah menyusup ke dalam bajuku mengusap paha luarku. Dan makin ke atas akhirnya menurunkan CD-ku. Tersentak aku, tapi aku tanpa berpikir panjang malah membuka kancing baju seragamku bagian bawah, aku pikir dia hanya akan mencium sesaat saja.

Terlepaslah CD-ku dan disibakkannya bajuku. Aku terdiam mematung. Tapi aku pasrah saja dan saat bibir kemaluanku tersentuh, semakin bergetar tubuhku. Akhirnya aku malah merapatkan kemaluanku ke bibir Siof dan kuangkat satu kakiku di sandaran tangan sofa. Dan tanpa sadar aku mulai menggoyangkan pinggulku, supaya Siof lebih leluasa menciumi kemaluanku dan akhirnya aku pun malah dapat menikmati.

Semakin kuat kurasakan lidahnya menari dan menjelajahi seluruh lekuk kemaluanku. Aku merasakan cairan epirtelku semakin deras seiring dengan rangsangan yang semakin kuat, semakin nikmat lidah yang sesekali menyelinap ke dalam. Kuelus elus kepala Siof dan akhirnya tubuhku mengejang dan kurapatkan kepala Siof. Dan rupanya Siof tanggap bahwa aku akan mencapai puncak. Orgasm. Maka dihisapnya klit-ku kuat-kuat serta ujung lidahnya cepat sekali menggelitik klit-ku. Nikmat sekali rasanya.

"Uuhh." lenguhanku tertahan. Kurapatkan kakiku dengan tubuh mengejang.

Setelah Siof selesai mencumbu kemaluanku, aku lemas dan kurebahkan tubuhku sesaat di bed pasien. Aku minta supaya penisnya jangan dimasukkan, Siof memaklumi dan seluruh sisa cairan yang masih ada di sekitar kemaluanku dibersihkan dengan lidahnya. Oh enak sekali. Namun aku buru buru mengancingkan baju dan CD-ku kukantongi lalu aku segera meninggalkan ruangan inap Siof dengan lari-lari kecil.

Esoknya aku sulit melupakan peristiwa tersebut, tapi nikmat juga untuk dikenang. Paginya seperti biasa aku kontrol. Dan dia sudah kelihatan segar, walaupun tubuhnya masih agak lemah. Terus terang aku ada keinginan dalam hatiku untuk menikmati barang besar dan panjang tersebut. Tapi tidak tahu bagaimana mesti memulainya, malu juga untuk memulai.


Bersambung . . . .

Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, pelan-pelan penis yang telah menghantarkan aku ke awang awang itu dicabut sambil Siof menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya. Dibimbingnya aku ke kamar mandi. Saat aku berjalan rasanya masih ada yang mengganjal kemaluanku dan ternyata banyak sekali sperma yang mengalir di pahaku. Dan kami mandi bersama. Selesai kami ke tempat tidur dan Siof memutar lagu classic untuk menghantar kami tidur. Nyenyak sekali aku tidur dalam pelukannya, merasa aman, nyaman dan benar-benar malam ini aku terpuaskan dan merasakan apa yang selama ini hanya kubayangkan saja.

Pagi aku bangun masih dalam pelukannya. Ternyata Siof sudah bangun tapi tak mau mengusik tidurku. Katanya aku tidur nyenyak sekali, sambil membelai rambutku. Seterusnya kami bergegas ke kamar mandi, dan kulihat Siof langsung membuka kimono dan menghidupkan shower lalu mandi. Dia sudah tak tahan menahan pipis rupanya. Sambil badannya diguyur shower, dia juga pipis sambil nyengir setelah permisi. Aku cuma tertawa geli dan aku menggosok gigi dan ikut mandi juga.

Saat mandi kami saling menyabun dan bercumbu di bawah shower. Dan tak terlewatkan pula kami saling membersihkan kemaluan kami. Setelah selesai Siof keluar duluan, sedang aku masih menikmati shower dengan sedikit horny. Selesai dengan rambut yang sudah kering, aku masuk ke kamar, ternyata Siof sudah menyiapkan roti hangat dan kopi di meja dekat sofa, padahal masih belum jam enam. Hanya lampu duduk yang hidup, dan aku dipersilakan minum kopi dan makan roti sambil mengobrol, sarapan dan diiringi lagu lembut.

Setelah aku makan sepotong roti, dia lalu memintaku duduk di pangkuannya. Aku menurut saja. Terasa kecil sekali tubuhku. Sambil mengobrol, aku dimanja dengan belaiannya. Akhirnya setelah selesai makan, diraihnya daguku, dan diciumnya bibirku dengan hangatnya, aku mengimbangi ciumannya. Dan selanjutnya kurasakan tangannya mulai menyelinap di dalam kimonoku dan mulai meremas-remas lembut tetekku, diteruskan menarik tali kimonoku dan tangannya menelusuri antara dada dan pahaku. Nikmat sekali rasanya, tapi aku sadar bahwa sesuatu yang aku duduki terasa mulai agak mengeras. Ohh, langsung aku bangkit dan aku ingin melihat dengan jelas penisnya, selagi di bawah sinar lampu yang cukup terang. Aku bersimpuh di depan Siof dan kubuka tali kimononya dan kusibakkan.

Ohh, ternyata sudah mulai ereksi penisnya, walau masih belum begitu mengeras. Dan kepala penisnya sudah mulai sedikit mencuat keluar lalu aku raih dan aku belai dan kulupnya kututupkan lagi. Aku suka melihatnya dan sebelum penuh ereksinya langsung aku kulum penis Siof. Aku suka memainkan kulup penis yang tebal dengan lidahku saat penis belum sepenuhnya ereksi. Maka kutarik kulup ke ujung, membuat kepala penis Siof tertutup kulupnya dan segera kukulum sebelum ereksi penuh, kumainkan kulupnya dengan lidahku dan kuselipkan lidahku ke dalam kulupnya sambil lidahku berputar masuk di antara kulup dan kepala penisnya. Enak rasanya. Tapi hanya bisa sesaat, sebab dengan cepatnya penisnya makin membengkak dan Siof mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh.

Dan rupanya Siof makin tak tahan menerima rangsangan lidahku. Maka aku ditarik dan diajak ke tempat tidur. Sambil menarik tali kimonoku Siof mematikan lampu duduk dan menghidupkan lampu sorot di atas tempat tidur bagian bawah. Sebenarnya aku agak malu, tapi sudahlah, paling dia juga ingin gantian melihat dengan jelas kemaluanku. Dan ternyata benar, saat aku akan naik kakiku ditahannya sambil tersenyum. Manis juga, batinku, diteruskan dengan membuka kakiku dan Siof langsung menelungkup di antara pahaku.

"I love it and I like it Rin" ujarnya sambil membelai bulu kemaluanku yang jarang.
"Mengapa?"
"Sebab hanya sedikit bulu, dan bibir kemaluanmu bersih tak ada bulunya serta tebal bibirnya".

Aku merasakan Siof terus membelai bulu kemaluanku dan bibirnya. Kadang-kadang dicubit pelan, ditarik-tarik seperti mainan. Aku suka kemaluanku dimainkan berlama-lama, aku terkadang melirik apa yang dilakukan Siof. Seterusnya dengan dua jarinya membuka bibir kemaluanku, aku makin terangsang dan aku merasakan makin banyak keluar cairan epitelku.

Siof terus memainkan kemaluanku seolah tak puas-puas memperhatikan kemaluanku, kadang kadang disentuh sedikit klit-ku, membuat aku penasaran. Tak sadar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa penasaran. Maka saat aku mengangkat pinggulku, langsung disambut dengan bibir Siof. Terasa dia menghisap lubang kemaluanku yang aku yakini sudah penuh cairan. Lidahnya ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk kemaluanku, masing-masing bibir dihisap-hisap. Dan saat dihisapnya klit-ku dengan ujung lidahnya, cepat sekali menggelitik ujung klit-ku, benar benar aku tersentak. Terkejut kenikmatan, membuat aku tak sadar berteriak..

"Aauuhh!!". Benar benar hebat Siof merangsangku, dan aku sudah tak tahan lagi.
"Please.. Sioff.. please.. fuck.. mee.. again.." ujarku sambil menarik bantal.

Siof langsung menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan penis raksasanya ke arah kemaluanku. Aku masih sempat melirik saat dia memegang penisnya untuk diarahkan dan diselipkan di antara bibir kemaluanku. Kali ini aku berdebar karena berharap. Dan saat kepala penisnya telah menyentuh di antara bibir kemaluanku, aku menahan nafas untuk menikmatinya.

Dan dilepasnya dari pegangan saat kepala penisnya mulai menyelinap di antara bibir kemaluanku dan menyelusup lubang vaginaku hingga aku berdebar nikmat. Pelan-pelan ditekannya dan Siof mulai mencium bibirku lembut. Kali ini aku lebih dapat menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. Kurapatkan pahaku supaya penisnya tidak terlalu masuk ke dalam. Siof langsung menjepit kedua pahaku hingga terasa sekali kontol Siof menekan dinding vaginaku.

Penisnya semakin masuk. Belum semuanya masuk, Siof menarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulku naik mencegahnya agar tidak lepas. Beberapa kali dilakukannya sampai akhirnya aku penasaran dan berteriak-teriak sendiri. Setelah Siof puas menggodaku, tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan memompanya hingga aku kewalahan. Dan dengan hentakan keras dan dengan merapatkan serta digoyang goyangkan, tangan satunya meremas tetekku, bibirnya dahsyat menciumi leherku. Akhirnya aku mengelepar-gelepar. Dan sampailah aku kepuncak. Orgasme.

Tak tahan aku berteriak, terus Siof menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya aku melewati puncak kenikmatan. Lama sekali. Tak kuat aku meneruskannya. Aku memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras tenagaku dengan orgasme berkepanjangan.

Akhirnya Siof pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku terkulai lemas sekali, keringatku bercucuran. Hampir pingsan aku menerima kenikmatan yang berkepanjangan. Benar-benar aku tidak menyesal bercinta dengan Siof, dia memang benar-benar hebat dan mahir dalam bercinta, dia dapat mengolah tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara, atau memang aku yang kurang pengalaman dalam bercinta di tempat tidur, sebab pengalamanku tidur dengan dua lelaki sebelumnya, keduanya tak ada yang menandinginya.

Lamunanku lepas saat paha Siof mulai kembali menjepit kedua pahaku dan dirapatkan tubuhnya menindihku serta leherku kembali dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meremas tetekku. Pelan-pelan mulai dipompakan kontolnya. Kali ini aku ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di seluruh bagian tubuhku. Tangannya terus menelusuri permukaan tubuhku. Dadanya yang berbulu lebat merangsang dadaku setiap kali bergeseran mengenai putingku. Dan kontolnya dipompakan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirnya menjelajah leher dan bibirku. Ohh, luar biasa.

Lama kelamaan tubuhku yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Aku berusaha menggeliat, tapi tubuhku dipeluk cukup kuat, hanya tanganku yang mulai menggapai apa saja yang kudapat. Siof makin meningkatkan cumbuannya dan memompakan kontolnya makin cepat. Gesekan di dinding vaginaku makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak. Maka kali ini leherku digigitnya agak kuat dan dimasukkan seluruh batang kontolnya serta digoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di klit-ku. Maka jebol lah bendungan, aku mencapai puncak kembali. Kali ini terasa lain, tidak liar seperti tadi. Puncak kenikmatan ini terasa nyaman dan romantis sekali, tapi tiba tiba Siof dengan cepat memopakan lagi.

Kembali aku berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, aku meronta sekenaku. Gila, batinku, Siof benar-benar membuat aku kewalahan. Kugigit pundaknya saat aku dihujani dengan kenikmatan yang bertingkat-tingkat. Sesaat Siof menurunkan gerakannya, tapi saat itu dibaliknya tubuhku hingga aku di atas tubuhnya. Aku terkulai di atas tubuh Siof.

Dengan sisa tenagaku dan sisa rangsangan, aku keluarkan penis Siof dari vaginaku. Dan kuraih batang penis Siof. Tanpa pikir panjang, penis yang masih berlumuran cairanku sendiri kukulum dan kukocok. Dan pinggulku diraihnya hingga akhirnya aku telungkup di atas Siof lagi dengan posisi terbalik. Kembali kemaluanku yang berlumuran cairan jadi mainnanya, aku makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian kontolnya. Dipeluknya pinggulku hingga sekali lagi aku orgasme. Dihisapnya klit-ku sambil ujung lidah Siof menari cepat sekali. Tubuhku mengejang dan kujepit kepala Siof dengan kedua pahaku dan kurapatkan pinggulku agar bibir kemaluanku merapat ke bibir Siof.

Ingin aku berteriak tapi tak bisa karena mulutku penuh, dan tanpa sadar aku menggigit agak kuat penisnya dan kucengkeram kuat dengan tanganku saat aku masih menikmati orgasme. Tubuh Siof pun mengejang dan kulihat kakinya menggeliat-geliat serta pinggulnya bergoyang kuat. Aku masih menikmatinya saat seluruh bibir kemaluanku dihisapnya dan ujung lidahnya menyentuh klit-ku hingga aku tersentak.

Dengan pancaran kuat sperma Siof memenuhi dalam rongga mulutku, bahkan ke tenggorokanku. Belum sempat aku mengeluarkan penisnya dari mulutku, terjadilah semburan berikutnya. Dan selanjutnya terus kukocok kuat dan kuarahkan semburan maninya ke wajahku. Sebagian besar sperma yang keluar di mulutku masuk tertelan. Kulihat semburannya makin sedikit dan makin melemah pancarannya walau masih banyak dan kental sekali yang keluar. Terus kukocok dan kuperas-peras serta kembali kumasukkan penisnya ke mulut dan kuhisap kuat-kuat.

Siof menggelinjang dan berteriak keras. Rupanya dia menikmati apa yang aku lakukan. Aku ingin membalas kenikmatan yang telah diberikannya padaku. Akhirnya penisnya mulai melemas dan tetesan maninya habis. Baru kali ini aku sampai menelan sperma. Walaupun sebelumnya aku sudah sering melakukan oral, namun baru kali ini aku menelan sperma.

Wajahku penuh sperma Siof, dan sebagian dari mulut yang tak tertelan meleleh keluar. Tanpa sadar kuratakan sperma yang melekat di wajahku dan kukulum kembali penis Siof yamg sudah melemah, kuhisap sisa sisa sperma yang masih tersisa di dalam dan yang berceceran di kepala penisnya yang sudah mulai tertutup kulupnya.

Tubuh Siof melemah. Tangannya telentang, tapi bibirnya masih sesekali menghisap menempel di bibir kemaluanku. Aku pun terkulai lemas di atas tubuh Siof dengan tetap memainkan penisnya di wajahku sambil menikmati bibir Siof yang masih menempel di bibir kemaluanku. Nikmat luar biasa, lemas. Tapi sungguh kami mendapatkan kepuasan yang tiada tara khususnya aku.

Aku benar benar sudah dibuat gila oleh Siof, bau khas sperma yang biasanya kurang kusuka, kali ini kunikmati bahkan menelannya, baik yang memancar langsung ke tenggorokanku maupun saat aku menghisap habis sisa-sisa setelah penisnya melemas. Kuletakkan penis Siof yang telah lemas di bibirku dan kupeluk kedua pahanya. Akhirnya aku terlelap sesaat setelah kelelahan. Saat aku terbangun, ternyata wajahku terasa kaku karena sperma yang mengering dan kemaluanku masih menganga menempel di bibir Siof, karena saat tertidur posisi kakiku masih mengangkangi wajahnya.

Demikianlah pembaca, selama satu minggu paling tidak kami dua kali bertarung dalam sehari atau kadang bahkan empat kali, seperti tak ada puasnya. Setelah sembuh benar dia meneruskan bisnisnya dan bila Siof sedang di Jakarta, kami tak pernah melewatkan kesempatan untuk bercinta. Melampiaskan kangen? Ya, aku kangen dengan penisnya yang besar dan pemiliknya yang pandai mengolah tubuhku. Dan dia pun kangen dengan vaginaku yang katanya sempit dan menghisap kuat. Dan itu masih terus berlanjut sampai dengan aku menceritakan kisahku ini, dan entah sampai kapan aku pun tak pernah tahu.


Tamat

Pada hari berikutnya sebelum aku pulang dari tugas, aku dipanggil dokter kepala perawatan VIP. Jantungku berdebar kuat, dan aku pucat, takut dan malu bercampur aduk. Apakah ketahuan perbuatanku tadi malam? Benar-benar bingung aku saat itu, dan sambil berjalan gontai aku menuju ruangan dokter kepala. Sebelum masuk aku berusaha tenang, dan akhirnya aku ketuk pintu dan aku masuk.

"Se.. laammat Pagi Dok" sapaku bergetar.
"Oh kamu Rin, selamat pagi, duduklah, kamu sakit?"
"Tidak Dok, mung.. kin kurang tidur saja."
"OK begini Rin.. (jantungku makin berdebar serasa akan copot), Mr. Siof besok sudah bisa keluar, tapi rasanya perlu pengawasan sekitar 5 hari lagi sampai seminggu atas permintaanya" kata dokter kepala. Plong rasanya. Aku tahu maksudnya.
"Terus maksud Dokter bagaimana?" tanyaku.
"Kami sudah putuskan selama masih dalam pengawasan, Mr Siof minta untuk didampingi seorang perawat. Sebab saat ini adiknya tidak selalu berada di apartemennya".
"Nah, kalau kamu tidak keberatan, kamu yang aku tunjuk untuk mendampinginya selama masih dalam pengawasan" sambungnya.
"Dok, kalau boleh usul, mengapa tidak dirawat di sini saja?" usulku.
"Memang itu baik, tapi Mr. Siof bilang sudah bosan di ruang rawat dan ruang itu akan segera diisi pasien lain yang sudah menunggu. Bagaimana. Apa kamu sanggup?".
"OK dok, saya sanggup saja, tapi surat perintah untuk saya kapan?"
"Nanti siang juga sudah selesai, saya taruh di ruang ini. Untuk ijin suami ya. Beres deh, jangan kuatir, nanti aku call suamimu.." kata dokter sambil tersenyum, dan membuat aku malu sendiri. Takut jangan jangan dokter tahu kejadian tadi malam.
"OK Rin, mulai besok siang, tugasmu mengawasi kondisi pasien Mr. Siof di apartemennya sampai sembuh total" kata dokter kepala dan aku pun keluar mengikuti langkahnya.

Pikiranku kacau, campur aduk, dan terbayang apakah akhirnya aku akan ditiduri Siof? Ada rasa ingin merasakan, tapi juga ada rasa takut. Sampai aku pulang masih terbayang seandainya aku sampai tidur dengan Siof. Ohh, aku belum bisa membayangkannya. Esoknya aku datang agak siang dan langsung ke ruangan dokter kepala, langsung aku diberikannya surat tugas.

"Paling lima hari atau seminggu juga sudah sembuh Rin" katanya sambil menepuk pundakku. Padahal aku tahu Siof sebenarnya sudah sehat benar, paling hanya memulihkan tenaganya saja.

Dari situ aku langsung ke ruang rawat Siof. Aku dapati dia sudah siap untuk meninggalkan RS, semua barangnya sudah masuk dalam kopor dan dia bilang bahwa semua urusan administrasi sudah selesai, tinggal menunggu perawat yang akan merawat di tempat tinggalnya. Dan ternyata dia belum tahu bahwa aku lah yang akan merawatnya. Sambil memelukku dia menyambutku.

"Terima kasih Rin, kamu telah memperhatikan aku sepenuhnya.." Katanya dengan nada sedih. Aku mengerti, mungkin kalau bukan aku yang akan merawatnya, aku akan sedih juga.
"Tenang Siof, akulah yang akan menemanimu sampai kamu sembuh" kataku.
"Benar!!??" ujarnya surprise sambil badanku diguncang-guncang penuh gembira.

Seterusnya kami berkemas dengan dibantu office boy membawa barang Siof ke mobilku.

"Tidak naik taxi saja?" kata Siof.
"Lebih leluasa pakai mobilku yang jelek ini" jawabku sambil nyengir.
"Not too bad, aku suka dengan mobilmu"

Dalam perjalanan tidak terlalu banyak kami bicara. Sebelum ke apartemennya Siof minta diantar mampir ke salon untuk memotong rambutnya, dia minta dicukur habis. Aku perhatikan setelah selesai cukur plontos, mirip pemain bola dari Inggris yang aku kurang jelas namanya sebab bentuk kepalanya bundar sekali.

Setelah sampai di apartemennya, ternyata Siof tinggal di sebuah apartemen sangat mewah di bilangan Slipi. Apartemen dengan dua kamar tidur yang cukup besar, dua kamar mandi di dalam, satu dapur modern, ruang santai dan ada ruang tamu. Aku pikir Siof pasti orang berkecukupan, dengan menyewa apartemen besar dan mewah.

Setelah aku persilakan Siof istirahat, aku mulai membereskan semua kelengkapan Siof dan aku menyiapkan semua obat untuk selama seminggu. Dan rupanya Siof sudah memesan makanan untuk makan siang untuk diantar kekamar. Sebab tak lama aku selesai ada pelayan restoran membawa kereta dorong dengan penuh makanan.

Setelah kami makan siang, kusiapkan obat untuk Siof sambil kami mengobrol serta menonton TV. Kupersilakan dia tidur. Dan akhirnya dia tertidur dan aku juga tidur di sofa panjang. Sorenya seperti biasa saja, dia mandi dan aku bereskan tempat tidurnya, dan berikutnya aku gantian mandi.

Sebelum aku mandi, aku lihat Siof memakai kimono motif Jepang asli. Dan astaga, terlintas saat dia merapikan duduknya, Siof tak memakai CD. Aku berdesir melihat pandangan sepintas tersebut, tapi rasanya tak mungkin aku bisa menghindar lagi untuk bercinta dengan Siof. Maka dengan jantung berdebar, aku mandi dengan pikiran tidak tenang, tapi akhirnya kupasrahkan yang akan terjadi ya terjadilah, bukankah aku memang juga ingin merasakan penis raksasa itu.

Maka sehabis mandi sengaja kuusapkan pewangi hampir di seluruh tubuhku. Dengan jantung berdebar cepat aku tinggalkan kamar mandi mewah tersebut. Aku berusaha setenang mungkin, dan aku berusaha bercanda dengan Siof, untuk mengurangi ketegangan. Namun ternyata Siof sudah mengorder makan malam di kamar. Setelah aku selesai menyisir rambut, sebagian lampu telah dipadamkan, ternyata sudah ada dua lilin yang menyala di meja, romantis sekali batinku.

Setelah makan malam selesai, kami bersantai menonton TV dan Siof bergegas ke kamar mandi. Dia akan menggosok gigi dan pipis. Aku ikuti, karena aku juga akan menggosok gigi. Saat aku sedang menggosok gigi, Siof buang air kecil di belakangku, tapi tak sangka setelah selesai dia menyabun dan mengeringkan kemaluannya. Rasanya hal yang jarang dilakukan laki-laki.

Setelah selesai kami kembali ke kamar dan meneruskan menonton TV. Kami tidak banyak bicara, karena perhatian kami tertuju ke TV, namun batinku bekerja terus dengan denyut jantung yang memburu, dan akhirnya semakin cepat saat Siof bangkit dari sofa menghampiriku untuk mengajak menonton TV dari bed. Aku tahu, kami tak akan menonton TV lagi, maka aku benar-benar menyerah dan pasrah, walaupun dalam hati kecilku ingin juga. Hehehe.. Maka waktu aku merebahkan tubuhku di samping Siof, rasanya jadi berdebar namun penuh harap. Siof mulai membalik tubuhnya menghadapku dan tangan kanannya diletakkan di atas perutku.

"Rin, kamu sudah tahu maksudku kan?" katanya lirih di telingaku. Merinding aku mendengarnya, dan aku hanya menganguk.
"Yyes. I know, your.." Belum selesai aku menjawab, kurasakan bibirnya sudah menyentuh leherku, terus menyusur ke
pipiku.

Dengan tubuhnya bergeser merapat, bibirku dilumatnya dengan lembut. Ternyata dicium pria bibir tebal nikmat sekali, aku bisa mengulum bibirnya lebih kuat dan ketebalan bibirnya memenuhi mulutku. Sensasi nikmat yang belum pernah kudapat. Sedang kunikmati lidah Siof yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangan besarnya menyelusup dalam kimonoku dan meremas lembut payudaraku. Ohh.., payudaraku ternyata tercakup seluruhnya dalam tangannya. Dan aku rasanya sudah tidak kuat menahan gejolak birahiku, padahal baru awal pemanasan.

Bibir Siof mulai meneruskan jelajahannya, sambil menarik tali kimonoku, leherku dikecup, dijilat kadang digigit lembut. Sambil tangannya terus meremas-remas payudaraku. Tubuhnya sudah di atasku, bibirnya terus menelusur di permukaan kulitku. Dan mulai puting kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Kadang-kadang seolah seluruh payudaraku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai menjamah kemaluanku yang pasti sudah basah sekali. Dibelainya buluku yang hanya sedikit. Sesekali jarinya menyentuh klit-ku.

Bergetar semua rasanya tubuhku, dan jarinya mulai sengaja memainkan klit-ku. Dan akhirnya jari besar itu masuk ke dalam vaginaku. Oh, nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilati puting kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke kemaluanku yang seminggu yang lalu diciuminya sampai aku orgasme. Kali ini diciumnya bulu tipis kemaluanku dan aku rasakan bibir kemaluanku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali kemaluanku dibuat mainan oleh bibir Siof, kadang bibirnya dihisap, kadang klitku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua bibir kemaluanku sambil menghisap klit. Siof benar benar mahir memainkan kemaluanku. Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan..

Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan klitku dengan mulutnya, kuremas-remas kepalanya yang botak, untuk kedua kalinya aku orgasme hanya dengan bibir dan lidah Siof. Siof terus mencumbu kemaluanku, rasanya belum puas dia memainkan kemaluanku hingga kembali bangkit birahiku dengan cepat.

"Siiooff.., please fuck me, please.." kataku memohon sambil kubuka pahaku lebih lebar.

Siof pun bangkit membuka kimononya. Dan dengan berdebar menunggu dengan semakin berharap. Sepintas kulihat, kemaluan Siof sudah maksimal, tegak hampir menempel ke perut. Dan saat Siof pelan-pelan kembali menindihku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar vaginaku menunggu masuknya kemaluan raksasa itu. Aku pejamkan mata. Dan Siof mulai mendekapku sambil terus mencium bibirku lagi, kurasakan di antara bibir kemaluanku mulai tersentuh ujung kontol raksasa. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir kemaluanku terdesak menyamping. Terdesak benda besar itu. Ohh, benar benar kurasakan penuh dan sesak liang kemaluanku dimasuki kontol Nigeria itu. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Mili per mili. Pelan sekali terus masuk kemaluannya.

Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus.. Akhirnya ujung penis itu menyentuh bagian dalam kemaluanku, maka secara refleks kurapatkan pahaku, tapi betapa aku terkejut. Ternyata sangat mengganjal sekali rasanya, besar, keras dan panjang.

Siof terus menciumi bibir dan leherku. Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas tetekku. Tapi konsentrasi kenikmatanku tetap pada kontol besar yang mulai beraksi dipompakan halus dan pelan. Mungkin Siof menyadarinya, supaya aku tidak kesakitan. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat yang belum pernah kualami. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan kontol besar itu. Kenikmatan, keanehan, tidak bisa kutuliskan.

Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan Siof tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka makin gencar dia melumat bibirku, leherku dan remasan tangannya makin kuat. Dengan tusukan kemaluan Siof yang agak kuat dan dipepetnya klit-ku diteruskan dengan menggoyang goyangnya, aku menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. Vaginaku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang belum pernah kualami senikmat seperti sekarang. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan.

"Shiitt.. ooff.. off.. off, oohh.. hh, i.. i got it.."

Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku. Oh, setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku orgasme dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman sekali, Siof membelai rambutku yang basah keringat. Kubuka mataku, Siof tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti hentinya tetekku diremas-remas pelan.

Tiba tiba, serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya meremas-remas tetekku lebih kuat. Birahiku naik lagi dengan cepat, saat kembali Siof memompakan kontolnya semakin cepat. Uuhh, sekali lagi aku mencapai orgasme, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali aku berteriak lebih keras lagi.

Siof terus memompakan rudalnya dan kali ini Siof ikut menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram lenganku dan satunya menekan tetekku. Aku makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan diikuti semburan sperma yang kuat di dalam vaginaku, menyembur berulang kali, seperti yang pernah kulihat. Oh, terasa banyak sekali cairan kental dan hangat menyembur dan memenuhi vaginaku, hangat sekali dan terasa sekali cairan yang keluar seolah menyembur seperi air yang memancar kuat. Setelah selesai, Siof memiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meremas lembut payudaraku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

"Rin, kamu luar biasa, kemaluanmu pintar dan nikmat sekali, small hole but very strong" pujinya sambil membelai dadaku.
"Kamu juga. Kamu hebat. Bisa membuat aku orgasme beberapa kali, dan baru kali ini aku bisa orgasme beberapa kali dan merasakan penis raksasa. Hihi.."
"Jadi kamu suka dengan punyaku?" godanya sambil menggerakkan penisnya dan membelai belai wajahku.
"Yes Siof, you have very wonderfull penis, very big, hard and long" jawabku jujur dan memang sebelumnya aku hanya penasaran dan hanya bisa membayangkannya, tapi ternyata memang luar biasa.

Siof memang sangat pandai memperlakukan wanita. Dia tidak langsung mencabut penisnya, tapi malah mengajak mengobrol sembari penisnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai rambutku dan paling suka membelai tetekku. Aku merasakan cairan sperma yang bercampur cairanku mengalir keluar.


Bersambung . . . .

Aku adalah seorang tenaga marketing yang bekerja di sebuah perusahaan distributor parfum di Bogor. Sebenarnya aku juga merupakan perintis dari perusahaan itu, sebut saja CV. WIN. Namun karena andilku di perusahaan itu hanyalah Sumber Daya Manusia, dan bukannya ada hubungan dengan finansial, maka pendapatankupun tidak sama dengan teman-temanku yang lain yang juga ikut menjadi perintis. Ada lima orang termasuk aku yang pertama kali bergabung menjadi satu hingga terbentuklah CV. WIN. Adalah Pak Hendra, orang yang paling berperan di perusahaan itu, karena beliaulah yang menjadi pemegang modal dari segala sesuatunya. Beliau seorang Sarjana Ekonomi. Karena keakraban kami, maka kamipun memanggil beliau dengan sebutan Babe, sebutan khas orang Betawi. Karena lingkungan kami merupakan transisi antara Sunda dengan Betawi.

Empat orang yang lain bertugas untuk mengembangkan SDM, baik SDM masing-masing maupun dalam hal rekrutmen dan pengembangannya. Maka kami berempatpun bersaing untuk merekrut anak buah yang sebanyak-banyaknya, dan mengembangkan hingga menjadi sebuah tim yang integral dan solid. Dalam empat bulan saja, yang semula hanya berjumlah empat orang sudah menjadi lebih dari lima puluh orang. Dan timku menjadi tim yang paling solid dengan jumlah yang terbanyak.

Semua itu tak lepas dari kerja kerasku untuk mengembangkan mereka, mendidik mereka dan memotivasi mereka. Mereka memang tim yang kuat dan bermotivasi tinggi. Mereka semua sangat respek terhadapku. Itu semua karena aku hampir dikatakan sempurna dalam hal pembinaan dan approachmen. Aku selalu menghadapi mereka dengan sabar, meski sifat mereka tak sama. Aku menerapkan pendekatan yang berbeda-beda dari yang satu dengan yang lainnya. Aku selalu memuji mereka yang berprestasi, dan membangun semangat bagi mereka yang sedang down. Aku selalu sempatkan waktu sekitar dua sampai lima menit kepada masing masing individu untuk berbicara mengenai keluhan-keluhan mereka, kendala-kendala di lapangan, dan rencana-rencana mereka ke depan, sehingga mereka merasa benar-benar menjadi bagian yang penting dalam tim. Paling tidak aku menyapa mereka sekilas dengan mengucapkan selamat pagi penuh semangat, memuji penampilan mereka, atau hanya sekedar mengatakan, "Dasi kamu bagus"

Aku juga sangat antusias dengan mereka, karena sebagian besarnya adalah cewek. Dan bukan rahasia lagi jika cewek sunda terkenal dengan postur tubuh yang tak terkalahkan. Mereka rata rata berbadan segar dengan buah dada yang sekal dan menantang. Kulit mereka juga sangat bersih. Itu adalah keuntungan tersendiri bagiku karena pasti suatu saat nanti mereka (bahkan semuanya) bisa aku kencani satu persatu.

Dengan pendekatan setahap demi setahap salah satu diantara mereka, Febi, akan bisa aku nikmati tubuhnya. Kisah ini berawal ketika suatu hari aku tidak terjun ke lapangan karena badanku terasa tidak enak. Tapi karena aku harus memotivasi mereka, paginya aku sempatkan untuk ke kantor. Dan begitu mereka berangkat ke lapangan aku pulang ke kost untuk istirahat.

Namun paginya dikantor, Febi sempat curiga dengan kesehatanku dan bertanya, "Mas kenapa, sedang sakit ya?"
"Iya, Feb. Aku lagi nggak enak badan. Kayaknya aku nggak berangkat hari ini"
"Ya udah, entar habis meeting Mas pulang aja. Mas sudah makan?" tanya Febi penuh perhatian. Dia memang orangnya sangat perhatian.
"Udah sih, tapi cuman dikit. Nggak selera"

Dengan penuh kelembutan Febi meraba dahiku. Tangannya lembut dan wangi. Kalau aku diraba agak lama mungkin aku langsung sembuh, pikirku.

Pukul sembilan pagi semua karyawan sudah menyebar ke lapangan. Sementara aku masuk dan beristirahat di ruang rapat. Babe masuk dan bertanya, "Kenapa Yan, sakit?"
"Iya, Be," jawabku singkat.
"Ya udah, tiduran aja situ," kata Babe ramah.
"Nggak ah, Be. Aku mau pulang aja. Ntar sore balik lagi"
"Terserah deh"

Aku bergegas pulang ke kost. Kostku memang hanya berjarak tiga ratus meter dari kantor. Semua biaya kostku ditanggung oleh Babe. Ruangnya nyaman, besar dan bersih. Penjaganya yang bernama Pak Min itu juga ramah. Menurut Pak Min sebenarnya kamar itu khusus untuk tamu dan tidak disewakan, tapi entah mengapa aku diperkenankan menyewa kamar itu. Di kamar itu terdapat lukisan panorama yang sangan besar dan indah. Asli pula dan bukan reproduksi. Kata Pak Min posisi kamar itu boleh diubah sesuka penghuninya. Asal jangan kaget jika ada sensasi baru setelah itu. Apalagi dengan lukisan itu. Tapi aku menganggap itu hanya gurauan Pak Min dan aku tidak menanggapinya dengan serius.

Sebenarnya di kost itu tidak boleh membawa teman lawan jenis ke kamar, tapi sepertinya Pak Min, si penjaga itu tahu apa yang dibutuhkan penghuni kost, jadi peraturan itu diabaikan. Sehingga kamar sebelahku sering dipakai pesta seks oleh penghuninya. Aku pernah ikut sekali.

Sesampainya di depan kamar kost aku kaget karena Febi ternyata sudah berada di depan kamar kostku sedang membaca majalah kesukaannya.

"Lho Feb, kok kamu disini. Lagi ngapain?" tanyaku singkat.
"Lagi nungguin Mas Iyan. Kenapa, nggak boleh?" tanya Febi manja.
"Ya boleh sih, tapi kok tadi nggak ngomong dulu"
"Mau ngasih kejutan, biar Mas Iyan sembuh"
"Ah, bisa aja kamu," sahutku sambil mencubit dagunya yang mungil itu.

Setelah membuka pintu kamar aku mempersilakan Febi masuk. Dengan tanpa canggung Febi masuk ke kamarku dan melihat sekeliling, "Kok posisi kamarnya nggak diubah sih Mas. Emang nggak bosen gini-gini aja. Ubah dong biar ada perubahan. Biar selalu baru, jadi Mas nggak sakit-sakitan"
"Biarin, sakit kan karena penyakit. Bukan karena kamar. Eh ngomong-ngomong, sorry lho kamarku berantakan"
"Ah cowok mah, biasa," sahut Febi dengan sedikit logat sunda.

Setelah itu tangan mungil Febi memunguti benda-benda yang berantakan itu dan menatanya dengan rapi di tempatnya masing masing. Sementara aku pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.

Begitu masuk kamar, kamarku sudah kembali bersih dan rapi oleh tangan Febi. Aku lihat Febi sedang sibuk memencet-mencet tombol remote untuk mencari acara tv. Hari itu Febi mengenakan baju tipis putih dengan celana hitam panjang. Sangat terlihat profesional dia dengan pakaian itu. Juga seksi. Sambil tiduran Febi terlihat sangat menggoda. Payudaranya sangat terlihat mulus dengan bra yang tidak seukuran. Terlihat sekali bra itu tak sanggup memuat isi dari dada Febi.

Aku menelan ludah. Tiba tiba suhu badanku naik. Aku tahu ini bukan karena aku sakit, tapi lebih karena libidoku pasti sedang on. Si kecil juga ikut-ikutan bangun. Sialan. Aku menggerutu karena ketika si kecil bangun dengan posisi yang salah. Menghadap ke bawah. Sehingga bulu-bulunya yang semula sempat menempel jadi tertarik dan menimbulkan rasa sakit. Aku merogohnya dan menempatkannya dengan benar. Tentu ini tak sepengetahuan Febi. Malu aku.

"Mas punya CD lagu yang bagus, nggak?" tanya Febi mengagetkanku.
"Cari aja disitu, pilih sendiri. Ada lagu, ada film. Eh, aku kemarin sewa film bagus tapi belum sempat nonton. Tuh, yang bungkusnya dari rental"
"Film apa sih ini?"
"Action, tapi katanya sih, ada making love-nya"
"Hii. Coba ah, penasaran"

Sementara Febi memasukkan keping VCD, aku memperhatikan pinggangnya yang sedikit terbuka ketika dia sedikit menungging. Putih, mulus. Aku jadi teringat Dewi pemeran VCD Itenas yang heboh itu. Sementara aku duduk mengambil posisi bersandar di tembok dekat tempat duduk Febi sebelumnya. Aku berharap setelah selesai memasukkan keping VCD, Febi kembali ke tempat duduk semula, jadi aku berada disampingnya persis. Dan benar, kini Febi berada disampingku dengan posisi bersila, sementara kakiku aku selonjorkan. Kini kaki kiri Febi yang dilipat menumpang di kakiku.

Filmpun dimulai. Aku juga bersiap untuk memulai film panas siaran langsung tanpa penonton dan kamera. Aku mulai merangkul Febi. Mengelus rambutnya yang hitam itu, sambil sesekali membahas cerita film itu. Padahal sebenarnya aku tidak begitu memperhatikan alur cerita film itu. Aku hanya menjawab ya dan tidak atau tersenyum menanggapi Febi yang terlihat serius. Lalu badan Febi mulai bersandar di badanku. Akupun dengan mudah menciumi rambutnya, telinganya juga tengkuknya. Sementara tanganku yang sedari tadi bermain di daerah atas, kini mulai merosot. Menyentuh dada Febi, meremasnya hingga Febipun tak lagi memperhatikan film itu dan menikmati sentuhanku. Kini kami menjadi pemeran utama sebuah film panas. Apalagi ketika alur film itu tiba pada kisah make love, sesekali kami melihatnya sebagai pemanas.

Wajah Febi yang semula menghadap tivi kini mulai tengadah menghadapku. Bibir kamipun beradu. Febi terlihat sangat antusias. Napasnya sangat wangi menggairahkan. Aku yakin Febi mempersiapkan hal ini dengan makan permen wangi sebelumnya. Dia menjilati mukaku dengan buas. Sementara tanganku sibuk bergerilya mencoba melepas pakaian Febi. Tanganku yang berada di dalam baju Febi berhasil membuka pengait bra-nya. Gumpalan daging sekal itu kini longgar tanpa pembungkus. Sementara bibirnya sibuk menjilatiku, tangannya mulai menuju pakaianku. Akupun dilucutinya. Sekarang aku tak berbaju lagi. Bibir Febipun mulai bergerilya turun. Menjilati dadaku dan mengulum susuku. Badanku makin panas. Libidoku makin naik. Leher, perut, telinga, dan dadaku menjadi sasaran bibir Febi. Aku menikmatinya sambil terus memainkan payudaranya yang semakin menghangat.

Semakin lama Febi semakin mengganas, dilepaskannya celanaku luar dan dalam. Bibirnya yang kini sudah tak berlipstik itu terus menjamah semua sektor tubuhku. Lidahnya menjilat-jilat bulu kemaluanku. Juga buah zakarku. Aku sesekali menggelinjang menahan jilatannya. Apalagi ketika kemaluanku masuk kedalam mulutnya. Ah, hangat rasanya.

Febi berubah posisi. Yang semula berada tepat di depanku, kini beralih disampingku, sambil tetap menghisap kemaluanku. Perubahan posisinya bukan tanpa alasan. Ternyata Febi mengulum penisku dengan posisi dari samping sehingga lidahnya mengenai permukaan penisku bagian atas. Posisi ini sungguh sangat nikmat. Baru kali ini merasakan hisapan dan jilatan yang sangat hebat. Luar biasa.

Sementara itu tanganku terus mengelus tubuh Febi. Payudaranya yang kenyal selalu menjadi favorit tanganku. Juga pantatnya yang bulat mulus. Sungguh menggairahkan. Tapi ketika jemariku kutuntun untuk menuju liang vaginanya, Febi menolak. Akupun menurut saja. Aku tidak mau memaksakan kehendakku.

Sekitar sepuluh menitan Febi bermain dengan posisi itu. Selanjutnya penisku dikeluarkannya dari mulut. Lidahnya yang terus mengganas itu menjalar keseluruh permukaan badanku bagian depan. Naik, naik, dan terus naik. Kini bibir kami kembali beradu.

Kini posisi Febi tepat mendudukiku. Lalu perlahan-lahan Febi membimbing penisku untuk masuk kedalam liang vaginanya. Dan, bless.. hangat, nikmat.

Febi meringis menahan rasa. Entah apa yang ia rasakan. Setelah berkonsentrasi dengan penisku, kini Febi mulai memompa dengan posisi naik turun. Aku masih pada posisi duduk. Febi yang duduk dihadapanku terus naik turun hingga payudaranya terayun-ayun. Akupun tertarik dengan payudara itu. Kupegang, kuremas, kutekan lalu aku menundukkan kepalaku hingga bibirku mengenai payudara Febi. Dalam kesulitan karena posisinya yang terayun-ayun aku mengisap payudara Febi.

Febipun meraung-raung tak karuan.

"Ya Mas, terus Mas. Hisap terus, Mas"
"Augh, augh.. Mas aku mau keluar, augh, augh.. Ahh!!

Febi mengejang. Mukanya memerah. Lalu kami membalikkan tubuh kami. Untuk sementara kami juga melepaskan perabot kami yang tertancap. Akupun mulai bekerja. Kubimbing Febi untuk berjongkok. Akupun menyetubuhinya lagi dengan posisi dari belakang.

Bless.. Kemaluanku masuk lagi ke liang vaginanya. Dengan posisi doggystyle aku memompa pantat Febi berkali-kali hingga aku merasakan ada dorongan yang sangat kuat, hingga frekuensi doronganku semakin cepat. Aku meracau tak karuan. Febi tahu itu. Sebelum spermaku muncrat, dilepaskanlah pantatnya. Sekejap Febi sudah berbalik posisi. Tangannya langsung menangkap kemaluanku. Dibantu mulutnya, dikocoklah penisku sejadi-jadinya dan..

"Augh.."

Sperma hangat muncrat ke mulut Febi. Tanpa ragu dikulumlah penisku. Rasanya tidak karuan. Spermakupun habis ditelan Febi. Lalu kami berduapun roboh tak berdaya. Aku mencium Febi penuh kasih dan dengan senyum kepuasan. Wajahnya yang penuh keringat tetap manis dengan senyuman itu.

Sementara layar tv ku sudah menunjukkan display VCD. Entah duluan VCD atau aku selesainya.


Tamat

Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.

Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino" Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.

Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.

Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.

"San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak", bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
"Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi", jawabnya manja.
"Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang" jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
"Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak", air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
"Bapak tidak akan meninggalkan Santi", janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.

Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
"Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak.."
"Santi tidak mengerti, Pak!"
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
"Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?"
"Belum, Ppak.."

Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.

"Pak.. nikmat, teruskan.." erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
"Kenapa, Pak?" tanya Santi keheranan.
"Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja."
"Tidak mau! Santi takut."
"Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi", aku merayunya.
"Santi tidak akan mau, Pak!" tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
"Bapak marah ya sama Santi."
"Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing."
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang 'on', Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
"Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang" ajakku. Dia mengangguk.

Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami. Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. "Jangan berisik, Sayang" aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.

Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. "Jangan Pak, yang satu itu jangan.." Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
"Kenapa?" bisikku, "Santi tidak sayang sama Bapak?"
"Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!"
"Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman."
"Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak."
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
"Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?" aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
"Santi belum pernah, Pak!"
"Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak."
"Iya Pak"

Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
"Aw.. besar banget Pak."
"Nggak apa, sini" aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.

"Pak, tangan Santi capek, Pak!" tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi", sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
"Loh, Bapak kan lelaki"
"Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme" Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.

"Terus, San.. Bapak mau keluar" Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.

Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
"Sudah San, Bapak sudah keluar", aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
"Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan."
"Bapak lama sih keluarnya."
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju.
Buat cewek-cewek yang mau advise atau berkenalan kirim aja e-mail.

TAMAT