Selama perjalanan menjalani kehidupan sebagai seorang Call Girl, banyak kualami bermacam perilaku sexual, banyak kupelajari kehidupan yang sama sekali tak pernah terlintas sebelumnya, mungkin sebagian besar masyarakat menyebut kelainan sexual, sebagian lagi menyebut gaya hidup bahkan sebagian lainnya menyebut petualangan, terserah dari sudut mana mereka memandang, tapi bagiku semua itu adalah expresi naluri liar yang ada dalam diri manusia. Sudah beberapa kali aku melayani tamu yang mempunyai fantasi sexual yang liar, mereka minta dilayani 2-3 wanita, meskipun sebenarnya kebanyakan dari segi fisik tidak mampu, tapi fantasi untuk diperlakukan bak raja mengalahkan logika mereka.



Sore itu seperti biasa aku sudah meluncur dari satu hotel ke hotel lainnya, dari satu ranjang ke ranjang lainnya, dari pelukan satu laki laki ke laki laki lainnya. Sebenarnya tamuku kali ini bukanlah seperti umumnya, dia mengaku bersama istrinya ingin main bertiga, katanya, ini adalah kali kedua aku melayani suami-istri (baca: "Ada Apa Dengan Cinta?").



Meskipun aku sudah 'kebal' dengan perilaku aneh, tapi aku masih belum bisa mengerti mengapa seorang istri membiarkan suaminya bercinta dengan wanita lain, di hadapannya pula, bahkan ikutan terlibat, tapi apa peduliku sejauh mereka membayar sesuai kesepakatan bagiku tidak ada salahnya.



Aku bukanlah seorang bi-sexual yang bisa melayani laki laki dan perempuan, aku juga cukup sering melayani seorang laki laki bersama gadis lainnya, tapi dengan sepasang suami istri sebenarnya memberikan sensasi yang jauh lebih tinggi daripada sekedar permainan bertiga umumnya.



Ketika sampai di kamar yang kutuju, istrinya, seorang wanita berkulit putih yang tidak terlalu cantik menyambutku di pintu kamar hotel di jalan Basuki Rahmat, usianya kutaksir awal 40-an tapi bodynya masih bagus seperti layaknya gadis 20-an, suaminya kelihatan acuh menyambut kedatanganku, mungkin berusia 50 tahunan, cukup jauh perbedaan mereka.



"Mas, ini Lily sudah datang nih", kata si istri pada suaminya yang hanya melirikku sambil nonton TV.

"Hmm.., langsung aja suruh dia mandi", perintahnya dengan angkuh tanpa melihatku.

Agak ragu juga aku melihat penerimaan suaminya seperti itu, mungkin dia tidak cocok denganku atau bagaimana, aku nggak tahu. Istrinya hanya melihat dan tersenyum ke arahku seraya menggandengku ke kamar mandi.

"Mandi dulu lalu kenakan ini" kata si istri menyerahkan piyama batik yang di ambil dari lemari.

"Bapak baik baik saja Mbak? kalau dia nggak cocok sama aku, lebih baik nggak jadi aja deh daripada dipaksain, ntar nggak bisa enjoy", tanyaku melihat keangkuhan suaminya.

"Dia emang begitu, dingin dingin mau, lihat aja nanti, percaya deh sama aku", jawabnya meyakinkan.

Si istri ternyata tidak keluar ketika aku mulai melepas kaos dan celana jeans-ku, dia malah ikutan melepas pakaiannya sambil melihatku mandi.

"Maaf Mbak, aku nggak bisa melayani Mbak", kembali aku menegaskan posisiku ketika kulihat dia sudah hampir telanjang.

"Huss, aku juga nggak mau, jangan pikirkan itu, yang penting suamiku puas"

"Maass, mau ikutan mandi bareng nggak", teriak istrinya dari kamar mandi, namun tak ada jawaban dari suaminya, bahkan sampai teriakan ketiga juga tidak terdengar jawaban.

"Body kamu bagus, pasti dia cepat mabok kepayang", komentarnya saat melihatku mandi.



Selesai mandi aku tak jadi mengenakan piyama, aku dan si istri hanya berbalut handuk di dada, kami keluar bersamaan. Ternyata si suami sudah berbaring di atas ranjang, hanya mengenakan celana dalam, si istri memandangku penuh arti lalu menganggukkan kepala, aku segera mengerti. Tanpa rasa segan pada istrinya, aku menyusul suaminya ke ranjang, tapi sebelum sampai ke ranjang, si istri menarik lepas handukku hingga aku telanjang di depan suaminya.

"Wow, kamu cantik dan sexy dengan payudara yang indah", komentar suaminya melihat tubuh telanjangku.

Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya, langsung berjongkok di antara kedua kakinya, kuraba raba pahanya, terlihat

kejantanannya yang menonjol dari balik celana dalamnya, sengaja kuperlambat irama permainan, tidak segera menyentuh

kejantanannya.

"ciumi dadanya Ly, dia senang diperlakukan seperti itu", bimbing istrinya yang duduk di samping suaminya.

Segera kunaiki tubuh si suami, kuciumi pipi dan lehernya, kujilati putingnya, lidah dan bibirku turun terus menyusuri dada dan perutnya, tanganku mulai meraba dan meremas remas kejantanan yang semakin keras.



Mereka berciuman ketika kulepas celana dalamnya, langsung keluarlah penisnya, tidak terlalu istimewa, biasa saja. Langsung kugenggam dan kuremas remas, kukocok kocok, mereka masih berciuman bibir sambil tangan si suami meremas remas buah dada istrinya.

"Kulum dan lumat dia", perintah istrinya saat melihatku sudah mulai menciumi kejantanan suaminya.

Ketika lidahku mulai menyentuh kepala penisnya, kulihat sesaat suaminya melihat ke arahku.

"Uff.., ya terus sayang", komentarnya, entah ditujukan padaku atau pada istrinya.



Kami segera kembali saling melumat bibir, kusapukan lidahku ke seluruh kepala dan batang penisnya, bahkan hingga kantong bola, desahannya tertahan di mulut istrinya. Mereka menghentikan ciumannya ketika kumasukkan kejantanannya ke mulutku, keduanya melihat bagaimana penis itu menerobos masuk di sela sela bibir manisku lalu meluncur keluar masuk dengan cepat, tangan si suami memegang kepalaku dan mendorongnya lebih dalam.

"Ssshh.., kamu pintar manis.., teruss.., yaa" desahnya kembali.

Tak lama saat si istri menyodorkan putingnya ke mulut suaminya, bergantian mereka mendesah. Aku masih menjalankan tugasku, menjilat dan mengulum saat suami istri itu berganti posisi, mereka membentuk 69, ke empat tangan bergantian mengocok penis itu diselingi jilatan dan kulumanku. Beberapa kali jeritan si suami terucap disertai pujian saat penis itu meluncur di mulutku, istrinya hanya tersenyum dan menatapku tajam setiap kali kulumat ataupun kusapukan lidahku pada kejantanannya, dia seperti menikmati, namun tak sekalipun bibirnya menyentuh penis suaminya, apalagi menjilati atau mengulum, entahlah.



Si istri memutar tubuhnya, dia mengatur posisi di atas suaminya, perlahan tubuhnya turun diiringi desahan nikmat, aku yang masih berada di selangkangan dengan jelas melihat bagaimana penis itu pelan pelan menguak liang kenikmatannya sambil kuelus elus kantong bolanya. Tubuh si istri langsung turun naik ketika berhasil melesakkan semua penis si suami, seperti naik kuda dia menghentakkan tubuhnya dengan kuat diiringi desahan desahan erotis.

Aku berpindah ke atas, kuciumi pipi si suami, dia langsung meraih kepalaku dan melumat bibirku dengan penuh gairah, lidah kami saling beradu, tangannya menggerayangi kedua buah dadaku, meremasnya agak kuat, sekuat goyangan istrinya di atas. Vaginaku terasa semakin basah melihat permainan liar istrinya, ingin segera merasakan kenikmatan yang di dapat si istri, tinggal tunggu kesempatan, pikirku.



Sambil mendapat kuluman bibir dan remasan, tanganku tanpa sedar mulai mempermainkan klitorisku sendiri, kusodorkan putingku ke mulut si suami, disambutnya dengan kuluman kuluman liar pula, dan akupun ikut mendesah. Ketika kulihat jeritan orgasme dari si istri, aku merasa giliranku segera tiba, kugeser tubuhku di belakang si istri, seperti

orang yang sedang mengantri. Meskipun sebenarnya penampilan maupun wajah si suami tidaklah menarik perhatianku, tapi melihat permainan mereka aku jadi ikutan terbawa suasana, dan lebih lagi sensasi bercinta dengan laki laki di depan istrinya sungguh tak pernah kulupakan.

"Aduh Mas, enak banget, lebih asyik dari pada di rumah", kudengar bisikan istrinya di sela sela sengalan napasnya, mereka berpelukan beberapa saat.



Aku masih di belakang si istri sambil mengelus elus kantong bola suaminya, berharap dia segera turun. Setelah istrinya turun, si suami menarikku dalam pelukannya, kami kembali berciuman dan bergulingan, dia mencumbui sekujur

tubuhku, menjilati leherku, melumat kedua putingku. Vaginaku yang sudah basah semakin basah, ingin segera kumasukkan kejantantan itu, tapi rupanya dia masih ingin mempermainkanku lebih lama, padahal aku yakin penis tegangnya hanya beberapa mili dari liang kenikmatanku, bahkan sesekali kurasakan gesekan keras di bibir vaginaku, tapi belum juga terjadi penetrasi, aku makin tersiksa seperti cacing kepanasan, berulang kali permintaanku untuk segera melesakkan penisnya hanya ditanggapi dengan senyuman.



Istrinya yang dari tadi hanya melihat suaminya mencumbuiku, mulai ikutan, dia mengelus elus punggungnya, menciumi pantatnya lalu mengocok penisnya dengan tangannya, sesekali diusapkan ke vaginaku tanpa memasukkan. Kupeluk erat tubuh si suami di atasku, ingin rasanya segera mendapat kocokan di vagina, ciumannya turun hingga mencapai

selangkanganku, lidahnya menjelajah seluruh daerah intim kenikmatan yang sudah basah, aku semakin mendesah terbakar birahi.



Tiba tiba si istri telentang di sampingku, menarik tubuh suaminya dari selangkanganku dengan paksa, tentu saja aku kecewa tapi apa dayaku, aku tak berhak untuk menuntut apa lagi menuntut layanan atas suaminya. Dengan hati dongkol aku terpaksa tersenyum saat si suami mengecup bibirku dan berpindah dari tubuhku ke atas tubuh istrinya. Aku masih telentang terdiam dengan perasaan dongkol, napasku yang mulai menderu semakin kencang saat melihat pantat si suami

mulai turun naik dengan cepat di atas tubuh istrinya, diiringi desahan desahan nikmat mereka berdua.



Permainan mereka sungguh menggoda, aku jadi terbawa untuk ingin ikutan bermain bertiga, berulang kali kugoda mereka untuk mengalihkan perhatiannya padaku tapi sepertinya si istri selalu menghalangi ketika suaminya hendak beralih padaku, kecuali hanya sebatas cumbuan dan rabaan. Sambil mengocok istrinya, tangan si suami menggerayangi tubuhku, aku hanya mendesah sambil mempermainkan klitoris dengan jariku sendiri, tak kupedulikan lagi mereka, kini akupun ikutan mendesah dengan caraku sendiri, dibantu rabaan si suami.



Mereka bercinta dengan liar, berganti ganti posisi, aku selalu menempatkan diri supaya tubuhku terjangkau dari rabaan si suami, terkadang secara demonstratif kupermainkan klitorisku di depan si suami. Namun semua usahaku untuk merengkuh orgasma sia sia belaka, aku memang tak pernah melakukannya sendiri sampai orgasme dan memang tak inging karena selalu ada laki laki yang memenuhi hasrat ini, mana bisa dibandingkan kenikmatan kocokan penis dengan permainan jari di klitoris.



Ketika mereka berposisi doggie, aku berdiri di depan suaminya, kusodorkan vaginaku ke mukanya, dia menyambut dengan jilatan lidahnya di klitoris tanpa menghentikan kocokannya, kuremas remas rambutnya. Bahkan ketika aku ikutan nungging di atas tubuh istrinya, dia hanya menciumi vagina dan pantatku, aku hanya berharap dia memenuhi hasratku segera, paling tidak dengan kocokan jari jari tangannya sudah cukuplah saat itu, tapi tidak terjadi.



Entah sudah berapa kali kudengar teriakan orgasme dari si istri, tapi dia selalu menghalangi setiap kali suaminya berusaha menghentikan kocokannya dan beralih padaku. Akhirnya aku menyerah pasrah, mungkin nanti setelah babak ini tiba gilirannya. Kupeluk si suami dari belakang, yang mengocok istrinya, buah dadaku menempel rapat pada punggungnya yang berkeringat, terasa hangat, kugesek gesekkan sambil meraba raba dada dan perut yang agak buncit itu, sesekali kuciumi tengkuknya, dia menggeliat geli. Tangannya kubimbing ke selangkanganku, namun dia hanya mengusap usap klitoris dan menggesek bibir vaginaku tanpa berusaha memasukkannya, bahkan ketika kupaksa memasukkan jari jarinya, dia malah menariknya, aku semakin hopeless. Mereka bersetubuh dengan liar seakan melupakan keberadaanku di kamar itu.



Harapanku semakin terbang menjauh saat kudengar teriakan kenikmatan puncak mereka berdua secara bersamaan. Si suami segera menarik keluar kejantanannya, membalik tubuh istrinya lalu menjepitkan penis yang masih basah karena cairan kenikmatan itu di antara kedua buah dadanya. Kulihat berulang kali si istri menghindar dan menutup rapat bibirnya saat kepala penis mengenai mulutnya. Si suami melihat ke arahku, seperti baru sadar aku ada, ditariknya tubuhku lalu ditelentangkan di samping istrinya, dia beralih menaiku tubuhku dan menjepitkan penisnya ke buah dada sambil memainkan putingku hingga akhirnya melemas beberapa menit kemudian, diakhiri dengan kocokan di mulut. Kurasakan aroma sperma yang kuat menyengat memenuhi rongga mulutku, pasti sudah berampur dengan cairan istrinya. Dia tersenyum puas, tanpa kata meninggalkanku sendirian di ranjang, menyusul istrinya ke kamar mandi. Tak lama kemudian

kususul mereka yang sedang mandi, berdua dengan istrinya kami memandikannya.



Babak selanjutnya ternyata tak lebih baik, sepertinya mereka memang menyewaku hanya untuk menambah sensasi, perananku sebagai foreplay dan penutup tanpa aku bisa merasakan permainan yang sebenarnya, seperti layaknya figuran yang hanya numpang lewat penambah indahnya permainan.



Pukul 23:30, setelah membersihkan diri dan mandi, aku pamit pulang, sebenarnya mereka masih mengharapkanku untuk menginap, melanjutkan permainannya, namun meskipun statusku dibayar tapi kalau berperan seperti itu tentu merupakan siksaan yang berat. Dengan alasan aku sudah ada janjian dengan orang lain, maka mereka tidak bisa menahanku lebih lama lagi karena memang sebelumnya tidak ada permintaan untuk menginap.Akhirnya mereka melepaskan kepergianku, mungkin dengan kecewa. Hingga keluar kamar meninggalkan mereka berdua, aku tidak tahu nama suami istri tersebut, hal ini bukan pertama kali terjadi, bahkan terkadang meskipun kami tidur dan bercinta semalaman tak jarang aku tidak tahu nama orang yang telah meniduri dan menikmati tubuhku.



Bersambung . . .

Aku seorang IT manager di sebuah perusahan swasta di Bali, umurku 32 thn dan istriku 29 thn, kami sudah lima tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Enam bulan lalu aku memutuskan pisah ranjang dengan istriku karena sudah tidak ada kecocokan lagi.Rencananya dalam waktu dekat aku akan mengurus perceraian kami. Tapi karena terbentur waktu jadi urusannya terkatung-katung.



Istriku memilih tinggal sendirian kost di dekat Hotel tempat dia bekerja sebagai Public Relation Manager. Minggu pagi aku berniat mengunjungi dia, kangen juga sih, sudah 3 bulan aku tidak pernah ketemu dia.



Di depan pintu aku kaget melihat seorang bule keluar dari kamarnya, aku menunggu sebentar sampai si bule pergi dan nyelonong masuk kamar istriku, aku pura-pura tidak tahu tentang si bule yang barusan keluar. Kulihat istriku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Tubuhnya masih tetap seperti dulu padat dan sintal, mungil tapi proporsional, Dia keget melihatku sudah duduk di atas tempat tidurnya.



Kutanya kabarnya namun tidak dijawab, dengan santai dia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, buah dadanya dipamerkan begitu saja, membuat aku jadi bernafsu. Ukuran buah dada istriku memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, yah.., sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil, bentuknya sangat menggiurkan mata laki-laki yang memandangnya, bulat, padat dan tidak melar. Melihat itu penisku langsung berdiri, apa lagi melihat bekas gigitan si bule di pundak dan buah dadanya.



Kupeluk dia dari belakang, kucium lehernya dan kubisikkan ajakan untuk bersetubuh, namun dia menolak dengan alasan ada janji dengan teman pagi ini. Selesai berpakaian dia langsung ngeloyor pergi meninggalkan aku sendirian. Lama aku berpikir, dan terlintas dibenakku untuk mengintai hubungan intim mereka. Aku tanyakan ke ibu kost untuk menyewa kamar sebelah, kutahu kamar sebelah tidak ditempati. Setelah dealt dengan ibu kos aku langsung balik ke rumah mengambil peralatan spy-ku yang dulu kubeli dari internet. Aku mempunyai dua buah pinhole video camera yang bisa ngintip lewat lubang kecil. Dulu alat ini aku gunakan untuk mengintip anak-anak kost di rumahku. Balik lagi ke tempat kost istriku dan langsung memasang peralatan spy-ku.



Aku buat lubang kecil tepat di atas temat tidur dan satu lagi di kamar mandi. Selesai pasang kamera lewat plafon, aku coba connect ke TV-monitor yang kupersiapkan di kamar sebelah, hampir 70% dari ruangan tidur bisa kumonitor dan selanjutnya beralih ke channel di kamar mandi, di sini aku harus naik lagi ke plafon karena lokasi cameranya kurang tepat, kugeser sedikit agar tepat di atas bath tub.



Jam 12.00 aku selesai setup video spy-ku, lalu mandi sebentar membersihkan debu yang melekat di tubuhku setelah naik ke langit langit kamar kost. Sambil tiduran menunggu istriku kembali ke kostnya. Kira-kira jam 20.00 kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata istriku dan si bule yang datang. Kunyalakan TV-monitor, kulihat si bule menunggu istriku yang sedang menutup pintu kamar, istriku tampak tidak sabaran, langsung menubruk si bule dan mereka berpagutan sambil saling melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, istriku jongkok di hadapan si bule yang penisnya setengah ereksi dan melahap penis besar di hadapannya. Mulut istriku tidak bisa menampung seluruh penisnya.



Perlahan tapi mantap penis si bule ereksi penuh karena permainan lidah istriku. Kutahu ini adalah keahlian istriku, dulu aku sampai merem melek dibuatnya. Si bule yang tinggi besar mengangkat tubuh mungil istriku ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Dengan sangat bernafsu si bule melahap buah dada kenyal milik istriku. Dari TV-monitor aku dengan jelas sekali melihat wajah istriku yang lagi merem melek menikmati permainan lidah si bule.



Puas menikmati kedua gunung kembar istriku, si bule beralih turun ke perut lalu ke bukit yang ditumbuhi bulu jarang-jarang. Desahan istriku sangat jelas kudengar lewat earphone karena sebelumnya sudah kupasangi wireless microphone di belakang head board-nya. Tangan istriku menarik kuat-kuat sprei sewaktu lidah si bule mulai menyusuri lubang vaginanya.



Selang berapa menit si bule merubah posisinya untuk ber'69'. Desahan istriku langsung hilang bersamaan dengan disumbatnya mulut istriku dengan penis besar si bule. Dengan sangat bernafsu istriku memainkan penis di mulutnya, sedangkan si bule sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris istriku, kulihat kaki istriku mulai menegang dan paha istriku menjepit kepala si bule.



Setelah puas ber-'69', si bule duduk bersandar di head board dan istriku duduk di pangkuannya dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan istriku memasukan penis besar si bule ke lubang vaginanya. Istriku menjerit kecil ketika penis si bule mulai menerobos masuk. Dia mendongak ke atas sambil meringis menahan sakit saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis si bule masuk lebih dalam.



Setelah diam beberapa saat untuk melumasi penis si bule, istriku mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan si bule melahap dan mejilati buah dada istriku. Ini adalah gaya yang paling disukai istriku. Gerakan istriku maju mundur makin lama makin cepat dan tidak beraturan, selang 5 menit tubuh istriku bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut si bule.



Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui istriku agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah dada istriku yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Istriku lalu mengangkangkan pahanya lebar-lebar, dari TV-monitor aku bisa lihat vagina istriku yang kemerah-merahan akibat gesekan penis besar si bule. Dia menusukkan senjatanya ke vagina istriku dan mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara, "Plak! plok.., plak! plok!", dari benturan paha mereka.



Istriku mendesah hebat setiap kali si bule menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Rasa cemburuku timbul saat melihat perlakuan kasar si bule terhadap istriku, tetapi aku menikmatinya, penisku rasanya sudah tidak kuat menahan sakit karena tegang sejak tadi. Posisi ini tidak bertahan terlalu lama, si bule minta istriku nungging dan dia menusukkan senjatanya dari belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis si bule keluar masuk menusuk vagina istriku.



Lima menit berlalu si bule menunggangi istriku, perlahan-lahan dia mulai kesetanan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi istriku juga ikut menggoyangkan pantatnya dengan kesetanan. Akhirnya si bule memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina istriku. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya. Kulihat istriku mencium mulut si bule mesra sekali, dari slang English-nya kutahu dia adalah orang Italy.



Berdua mereka ke kamar mandi, aku cepat-cepat mencolokkan cable RCA dari camera yang di kamar mandi ke TV-monitor. Di kamar mandi kulihat istriku jongkok memutar kran shower sementara si bule memegang shower head-nya. Lalu mereka saling menggosok dengan sabun. Si bule lama sekali membersihkan vagina istriku sampai dia merem melek. Bath tub mereka isi setengahnya lalu tiduran berdua di dalamnya dengan si bule di bawah dan istriku di atas pelukan si bule. Mereka saling berpagutan mesra. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, aku buru-buru pulang karena besok senin pagi aku harus kerja. Terpaksa aku kehilangan adegan hot selanjutnya. Dulu aku berniat membeli alat perekam VCR 24 jam, namun tidak jadi karena harganya mahal. Sesampainya dirumah mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot istriku dengan si bule. Coba aku punya perekam, aku bisa melihat adegan mereka selanjutnya. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.



Senin malam jam 20.00, sepulang dari tempat kerja aku langsung meluncur ke tempat kost istriku, suara desahan terdengar dari kamar istriku, "wah telat aku". Cepat-cepat kubuka pintu kamarku yang ada di sebelah kamar istriku, TV-monitor kunyalakan, namun mereka tidak kelihatan di kamar tidur, terlihat tempat tidur yang acak-acakan dan pakaian berserakan di mana-mana. Kucoba colokkan monitor yang di kamar mandi, dan "astaga!" Mereka bertiga, istriku, si bule dan temanya bule satunya lagi, yang ini bentuk penisnya lucu, bagian bawah kecil namun kepalanya sebesar bule satunya lagi. Sekarang kutahu nama bule yang menyetubuhi istriku kemarin namanya Jullio, itu aku dapat dari teman istriku di tempatnya bekerja.



Jullio adalah tamu yang sering menginap di hotel tempat istriku bekerja dan dia mempunyai business di Indonesia. Di kamar mandi, istriku kulihat sedang nungging sedangkan Jullio memompa vagina istriku dari belakang, tangan istriku berpegangan ke pinggir bath tub sambil melumat penis anehnya milik si bule satunya yang duduk di ujung bath tub. Aku baru tahu kalau istriku bisa sebuas ini sama cowok bule. Wah ini adegan yang sungguh sangat menyesakkan dadaku, rasa iri, cemburu, marah, menyesal, birahi, sedih bercampur aduk, pokoknya tidak bisa dijelaskan. Keadaan tempat tidur yang acak-acakan menandakan merekan sebelumnya bergumul di sana dan pergumulan mereka di kamar mandi saat ini mungkin babak kedua atau mungkin ketiga. Aku telah kehilangan adegan tersebut. Kalau kubayangkan mungkin lebih seru dari yang di kamar mandi.



Jullio mencabut penisnya dari vagina istriku dan menancapkanya lagi ke lubang pantat istriku, seumur-hidup aku belum pernah menikmati lubang istriku yang satu ini, setiap aku minta dia selalu menolak dengan alasan sakit lah, tidak enak lah, Namun dengan si bule ini kenapa dia berikan. Ini tidak adil!, Jullio nampak mulai kesetanan, semetara istriku berteriak kecil setiap penis besar ini masuk lebih dalam.



Dalam 5 menit Jullio mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh air maninya di punggung istriku. Sementara bule satunya lagi asyik menikmati permainan mulut istriku, karena sudah bernafsu si bule satunya lagi langsung menggendong istriku ke tempat tidur. Istriku di tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara si bule berdiri di lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat istriku. Goyangan pantat si bule menimbulkan suara, "Ceplak.., ceplok..!",.



penis si bule yang bentuknya aneh itu makin keras menghunjam pantat istriku sambil tangannya meremas keras pantat bahenol istriku. Datang dari kamar mandi si Jullio langsung ikutan nimbrung, dia menyusup ke bawah tubuh istriku dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke vagina istriku lalu menurunkan badan istriku, si bule satunya lagi tetap berdiri dengan penis menancap ke pantat istriku, dia agak membungkuk karena badan istriku merendah dan nempel ke tubuh Jullio. Mereka mulai bergoyang, mulut istriku dengan lahap menjilat dada bidang si Jullio yang di penuhi dengan bulu.



Si bule satunya sudah mulai kesetanan, pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, "Cret.., cret.., cret", spermanya tumpah di punggung istriku, sementara si Jullio masih asyik menikmati goyangan istriku dari atas, karena si bule satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, istriku lalu duduk bersimpuh di penis si Jullio dan bergoyang maju mundur. Tangan si Jullio meremas buah dada kenyal milik istriku, desahan istriku makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas tubuh Jullio.



Jullio bangkit dan mulai menyodok lubang pantat istriku yang lagi tengkurep lemas. Plok.., plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si Jullio menumpahkan spermanya di atas punggung istriku dan terkulai lemas di sebelah istriku. Si bule satunya datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka. Sempat-sempatnya dia melumat mulut istriku sebelum pergi. Jullio menggendong istriku ke kamar mandi. Setelah saling membersihkan di kamar mandi, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.



Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.00, aku putuskan untuk tidur di sini dan besok aku akan bolos kerja. Sampai jam 02.00 di kamar istriku tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.



Jam 04.00 aku terbangun dan melihat ke monitorku. Kulihat tangan istriku mengocok penis si Jullio yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala istriku dituntun paksa oleh si bule untuk melakukan blow job. Mulut istriku yang mungil tampak mengembung akibat sumbatan penis si Jullio. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut istriku, si Jullio akhirnya tertidur pulas lagi, sementara istriku ke kamar mandi membersihkan mulutnya.



Jam 07.00 si bule bangun, berpakaian dan pamitan ke istriku yang bermalas-malasan di tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si Jullio pergi, aku menyerbu masuk ke kamar istriku, dia kaget sekali melihat aku datang, aku langsung membuka pakaianku dan menindihnya. Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, "Lis.. kamu jangan munafik, si bule dua orang itu kenapa kamu kasih..ah?", aku keceplosan ngomong. Dia terheran-heran dan menanyakan dari mana aku tahu hal itu. Akhirnya aku menjelaskan aktivitas spy-ku di kamar sebelah. Wajah istriku tampak merah padam antara malu dan marah, apalagi kujelaskan secara detil pergumulannya yang hot dan binal dengan si bule. Dia memintaku agar cepat-cepat mengurus perceraian kami, karena dia akan segera menikah dengan si Jullio dan pergi ke Italy. Aku menyanyakan apakah dia benar-benar mencintai si bule namun tidak dijawabnya. Aku memberi tahu bahwa hidup di luar negeri itu susah dan budaya mereka beda. "Aku takut nanti di sana kamu dijadikan budak nafsu mereka", saranku.



Setelah kejadian itu, mereka selalu berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya untuk bercinta. Aku jadi kehilangan objek spy-ku karena ketololanku sendiri. Aku tidak bisa menaklukkan rasa cemburuku. Setelah kami resmi bercerai, istriku diboyong si bule ke Italy. Sampai sekarang aku tidak pernah terima kabar darinya.



TAMAT

QUICKIE



Akupun langsung naik ke lantai 9, karena memang sudah janjian untuk menemani menginap dengan tamuku yang lain.

Dengan tamuku inilah aku berharap bisa menumpahkan segala birahi yang tertahan sejak tadi, ingin kuberikan servis yang sepenuhnya, bercinta hingga pagi, nonstop.



Pak Beni, nama tamuku berikutnya, ternyata sudah menungguku, terlihat sinar kelelahan di matanya.

"Ah akhirnya kamu datang juga, hampir kutinggal tidur", sambutnya ketika membukakan pintu kamar.

"Maaf Pak, habis tadi teman teman ngundang pesta ulang tahun dulu, untung aku bisa ngabur nemuin Bapak", jawabku berdalih.

Mana mungkin aku berterus terang kalau sedang menemani tamu lainnya. Sudah menjadi watak dasar manusia, meskipun statusku hanyalah gadis panggilan tapi kalau mendengar aku sedang bersama laki laki lain selalu timbul rasa cemburunya, ini berdasarkan pengalamanku.



Aku langsung mandi, dua kali dalam waktu tidak lebih 10 menit, di kamar yang berbeda dan dengan orang yang berbeda pula, sekedar meyakinkan bahwa tidak ada lagi sisa sisa dari tamuku sebelumnya. Selesai mandi kukenakan piyama yang ada di lemari dan kutemani Pak Beny yang sedang tiduran di ranjang menungguku.

"Bapak capek ya, sini aku pijitin", aku menawarkan diri.

"Pijit beneran ya, kebetulan aku lagi capek dan ngantuk, dari Jember tadi, jalanan macet lagi", jawabnya sambil langsung tengkurap.

Sepuluh menit aku memijit kakinya, kudengar dengkur kelelahan dari Pak Beni, rupanya dia sudah tertidur kelelahan,

meninggalkanku seorang diri dalam keadaan masih terbakar gairah. Tak tega rasanya membangunkannya, dan tidaklah etis kalau aku memaksa dia untuk melampiaskan nafsuku, maka akupun kembali "menganggur" mendengarkan dengkurannya.

"sungguh malam yang sial" pikirku, baru kali ini aku dibooking oleh 2 laki laki dalam semalam tanpa merasakan penis di vaginaku. Dengan susah payah akhirnya akupun tertidur di sampingnya dalam keadaan birahi yang masih menggantung tinggi.



Keesokan paginya saat aku terbangun, kulihat Pak Beny sudah rapi bersiap untuk pergi.

"Pagi Pak, maaf aku baru bangun, abis Bapak nggak ngebangunin sih", sapaku lemah.

"Sorry, semalam aku tertidur, habis pijitanmu enak sih, dan lagi badanku terasa capek banget", jawabnya sopan.

Kulihat dia meletakkan amplop putih di atas meja.

"Aku ada rapat nanti jam 9 ini, kalau kamu pulang titipkan saja kuncinya di receptionist dan ini uang kamu", lanjutnya.



Pak Beny adalah pelanggan tetapku, setiap kali ke Surabaya dia selalu mem-booking-ku, biasanya kami bercinta hingga pagi, tapi kali ini lain. Mungkin karena sudah "akrab" dia tetap membayarku meskipun dia tidak menerima servis atau menikmati tubuhku, aku jadi nggak enak dibuatnya.

"Ah nggak usah Pak, toh kita nggak ngapa ngapain, lagian aku sudah numpang tidur di sini", aku menolak pembayarannya.

"Jangan begitu, kamu toh sudah meluangkan waktumu menemaniku tidur, jadi sudah hak kamu untuk mendapatkannya"

"Tapi aku kan tidak berbuat apa apa untuk Bapak", aku masih bersikeras

"Itu salahku dan aku tidak mau kesalahan itu merugikan kamu"

Aku terdiam sesaat.

"Aku tidak bisa terima pemberian tanpa mengerjakan apa-apa"

"Ya udah kalo begitu bersihkan kamar sebelum pergi", katanya sambil tertawa.

"Bapak kan rapat jam 9, sekarang masih jam 8, jadi ada waktu 30 menit kan", bujukku sambil mendekatinya.

Kupeluk tubuhnya yang setinggi telingaku itu, sambil tanganku meremas remas selangkangannya.

"Kamu memang pintar ngerayu, maumu apa" tanyanya pura pura

"Paling 10 menit aja" jawabku meyakinkan sembari membuka resliting celananya, dia diam saja.

"Mana bisa 10 menit, paling tidak 30 menit"

"Percaya aku deh, 10 menit tidak lebih, bahkan mungkin kurang", tantangku sambil mengeluarkan dan mengocok penisnya.



Kuciumi lehernya, aroma parfumnya terasa lembut menyengat, kukeluarkan kejantanannya, dia mulai mendesis dan menjamah dadaku, tangannya diselipkan di balik piyama, meremas remas lembut bukit ranum di dadaku. Aku merosot turun dari pelukannya, berlutut di depannya, penisnya tepat di depanku, sedetik kemudian kulahap habis dan keluar masuk ke mulutku. Pak Beny mendesis, meremas remas rambutku dan mulai menggerakkan pinggulnya mengocok mulutku.

Lidah dan bibirku bergerak lincah sepanjang penis yang makin keras menegang, sesekali kuselingi dengan gigitan ringan menggoda. Aku lalu duduk di atas meja menghadapnya, piyama sudah melayang dari tubuhku, kusapukan penis tegangnya, tanpa menunggu lebih lama, dia mendorong masuk melesakkannya ke vaginaku, terasa sedikit sakit dan perih karena vaginaku masih kering, hanya air liurku yang ada di batang penis menjadi pelumas, dengan sedikit usaha akhirnya bisa tertanam semuanya. Terasa begitu nikmat setelah tersiksa semalaman, seperti biasa, Pak Beny langsung mengocokku dengan cepat dan keras, permainannya memang cenderung kasar namun menimbulkan kesan erotis.



Dia meremas remas kedua buah dadaku dengan keras, tiba tiba secara kasar dicabutnya penis itu, tubuhku dibalik, aku menungging di depannya, tanganku bersandar pada meja, detik berikutnya dia mulai memompaku dari belakang, tepat menghadap cermin di atas meja. Aku terdongak merasakan sodokan demi sodokan, ditariknya rambutku ke belakang, lalu pegangannya beralih ke buah dadaku dan meremasnya kuat. Aku menjerit antara sakit dan nikmat, Pak Beny tak mempedulikan jeritanku, semakin kuat dia membenamkan ke vaginaku, sesekali diiringi tamparan ringan pada pantatku, terasa agak panas, semakin aku mendesah semakin kuat tamparannya, kutoleh wajahnya menyeringai menikmati permainan ini, pantatku sudah agak memerah.



Permainan kasarnya membawaku melayang mengarungi lautan kenikmatan, aku mengimbangi dengan goyangan pantat, meremas remas kejantanannya yang berada di vaginaku, akhirnya kurasakan tubuhnya menegang, cengkeraman di buah dadaku makin kuat dan menyemburlah cairan nikmat memenuhi celah celah kenikmatanku, terasa hangat, seiring dengan denyutan denyutan kuat menghantam dinding-dinding kewanitaanku. Pak Beny menjerit keras dalam kenikmatan bercinta saat kuremas remas dengan otot otot vaginaku.



Meskipun aku belum orgasme tapi aku sudah puas melihat tamuku mendapat kenikmatannya. Segera kucabut penisnya, kuraih dan kugenggam, ternyata masih cukup keras. Aku mengambil piyama yang tergeletak di lantai untuk membersihkan penis itu, tapi Pak Beny mendorong tubuhku turun, mengerti maksudnya, maka kukulum kembali penisnya sambil

kusapu-sapukan ke wajahku, bau sperma sangat kuat, lebih tajam dari punya tamuku tadi malam.



"8 menit, ternyata kamu memenuhi janjimu, tak lebih dari 10 menit", katanya saat aku "mencuci" penisnya dengan mulutku.

Dia langsung memasukkan kejantanannya kembali ke 'sarang'nya setelah dirasa cukup bersih.

"Kuncinya kasih aja ke receptionist kalau kamu pulang nanti", katanya sambil menutup resluiting celananya.

"Nanti siang kalo Bapak masih mau ngelanjutin, HP aja ya", kataku sebelum dia meninggalkan kamar.

Aku tahu bagi dia tentu belum cukup kalau hanya permainan cepat seperti itu dan aku yakin uang yang dibayarkan adalah untuk tarif menginap seperti biasanya, meskipun aku belum membuka amplop itu.

"Tergantung nanti", jawabnya seraya menutup pintu kamar.



VAGINA MONOLOG



Sepeninggal Pak Beny, aku kembali rebahan di ranjang, ingin melanjutkan tidurku yang tidak terlalu nyenyak, kunyalakan HP dan membaca SMS yang masuk, tidak ada booking-an yang masuk, semua SMS hanyalah ajakan hura hura nanti malam.



Aku kembali terlelap dalam pelukan ranjang hangat nan empuk, tiba tiba HP-ku berbunyi, agak malas juga menerimanya, ternyata Pak Indra, salah satu tamu langgananku yang unik.

"Haloo, pagi Bapak", suaraku agak parau.

"Pagi Non, baru bangun rupanya ya", suara dari seberang sana.

"Ih Bapak sok tahu deh", jawabku manja

"Dari suaranya emang kelihatan kok, masih parau"

"Ah udah lama kok, tapi tidur lagi, abis cuacanya ngajak tidur sih", aku memberi alasan karena diluar memang mendung.

"Ya udah, kalo nggak ada acara kita ketemu yuk, gimana?", ajaknya

"Kapan dan dimana?", aku mulai antusias mendengarnya.

"Gimana kalo sekarang aja, aku lagi ada seminar di hotel xx, giliranku nanti setelah makan siang, jadi kita bisa ketemu sebelumnya, kalo sesudahnya nggak bisa, gimana?"

Aku terdiam kaget, entah kebetulan macam apa ini, ketiga tamuku berturut turut berada di hotel yang sama, tinggal naik atau turun lantai.

"Haloo, gimana Ly, bisa nggak?"

"Pagi ini? Kasih aku satu jam deh, mandi dulu, sarapan dulu, dan pagi gini biasanya kan macet, Bapak di kamar berapa sih?"

Dia menyebutkan nomor kamarnya, berarti aku harus naik lagi 2 lantai, sengaja aku minta waktu lebih lama supaya tidak curiga kalau kami berada di hotel yang sama.



Kumanfaatkan waktu yang tersisa dengan mandi dan berendam di bathtub, air hangat serasa melemaskan otot ototku dan meredakan ketegangan yang ada dalam diriku, begitu relax dan santai. Lebih 30 menit kuhabiskan dalam nikmatnya pelukan air panas di pagi hari, segera aku berpakaian, pakaian yang semalam terpaksa kukenakan kembali untuk menemui tamuku ketiga dengan pakaian yang sama, make up tipis kusapukan ke wajahku dan tak lupa Issey Miyake menambah semarak aroma tubuhku. Setelah mengemasi barangku dan memastikan tak ada yang tertinggal, kupanggil Room Boy untuk menitipkan kunci ke receptionist dengan diselipi selembar 20 ribuan, kulihat dia begitu gembira menerima rejeki di pagi hari. Kususuri koridor menuju Lift, beruntunglah sepanjang jalan menuju kamar Pak Indra tak kujumpai orang yang kukenal (hal ini sering terjadi, terutama di hotel ini yang merupakan favorit tamuku setelah Shangri La).



Pak Indra menyambutku dengan ciuman di pipi, penampilannya masih seperti biasanya, tenang, lembut, ganteng dan elegant di usianya yang sudah pertangahan 40 tahun. Dia seorang dokter, katanya sih spesialis tapi aku tak tahu spesialis di bidang apa. Kumis dicukur rapi dengan dasi pink menghiasi stelan kemeja yang berwarna sama.

"Udah lama nunggu Dok?", sapaku setelah melepaskan diri dari pelukan dan ciumannya.

"Jangan panggil gitu ah, kayak pasien aja, aku baru datang, belum juga duduk kamu udah nongol"

Pak Indra adalah salah satu tamu yang terbilang unik, dia lebih suka mengobrol dan curhat dari pada harus bercinta, entah kenapa, tak jarang dia memuji muji kecantikan dan kebaikan istrinya, toh meskipun begitu dia nyeleweng juga, secara garis besar aku jadi tahu kehidupan pribadi keluarganya, baik itu istri maupun anak anaknya secara mendetail, mulai namanya, kerjanya, umurnya, bahkan aku juga tahu dimana anak anaknya sekolah. Dia begitu terbuka padaku, tapi aku tak pernah tahu alasan dia berselingkuh.



Seperti kebiasaannya, kami duduk berseberangan di sofa, seperti orang yang lagi bicara bisnis, tak ada pembicaraan yang menjurus ke sex ataupun porno, semua hanyalah masalah ringan tentang politik, film, TV, musik dan untunglah aku yang sering nonton TV maupun baca majalah bisa meladeni pembicaraannya, jadi nggak timpang. Cangkir Chinese Tea dan snack yang ada di meja di depan kami sudah habis, mungkin sudah lebih setengah jam kami ngobrol tapi tak ada tanda tanda untuk mulai permainan panas, aku sudah mahfum akan kebiasaannya, jadi tak perlu buru buru.



Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10:47 ketika dia menggandengku ke ranjang, kami saling melepas pakaian, menyisakan celana dalam dan bra hitam berenda putih, kontras dengan kulitku yang putih mulus, dia memandangiku sejenak.

"Kamu makin cantik dan sexy", komentarnya.

Dengan sopan Pak Indra merebahkan tubuhku di atas ranjang. Bibir lembutnya menyapu kening, pipi dan bibirku, aku terpejam menikmati sentuhan lembutnya menyusuri wajahku. Sapuannya perlahan menjelajah turun, leher dan dada adalah favoritnya, masih dengan lembut dia mengeluarkan kedua bukitku dari 'sarang'nya. Lidahnya langsung mendarat di puncak bukitku dan menari nari mempermainkan puting yang merah kecoklatan, aku mendesah merasakan kenikmatan yang mulai menjalar ke sekujur tubuhku. Tangan Pak Indra berpindah dari remasan di dada ke selangkangan, diselipkannya di antara celana dalamku, dia menggesek-gesekkan jarinya di bibir liang kenikmatan, masih kering. Bibirnya bergerak turun ke perut dan berhenti di antara kedua kakiku, dengan kedua giginya dia melepas celana dalam yang menghalangi gerakannya.



Aku menjerit tertahan saat lidahnya mulai menyentuh klitorisku, ada kekhawatiran kalau dia, seorang dokter, masih bisa mendeteksi sisa sisa sperma yang ada di rongga kewanitaanku, meskipun aku sudah berusaha untuk membersihkannya sejauh mungkin. Kecemasanku perlahan hilang saat bibirnya mulai mempermainkan bibir vaginaku, dengan gerakan yang kurasa indah disusurinya celah celah kewanitaan di selangkanganku, sungguh terasa kenikmatan yang berbeda dari jilatan lainnya, aku semakin mendesah nikmat sambil meremas remas kedua buah dadaku, sesekali kujepit kepalanya dengan pahaku dan meremas remas rambutnya.



Pak Indra hanya tersenyum melihat kenakalanku tapi dia terus melanjutkan permainan lidah dan mulutnya. Puas bermain di selangkangan, ciumannya kembali naik ke perut, dada dan untuk kesekian kalinya kami saling melumat dan

bermain bibir, lidah beradu lidah. Pak Indra membalik tubuhku, dijilatinya telinga, tengkuk dan sekujur punggungku hingga ke pantat, aku menggelinjang geli apalagi tangannya tak henti mempermainkan vagina dan klitoris. Memang kegemaran dan keahlian Pak Indra adalah melumat seluruh tubuh pasangannya, mungkin ini adalah kompensasi atas

kelemahan yang dia miliki. Entah berapa kali vaginaku mendapat sedotan dan kuluman nikmat darinya. Kami berpelukan mesra dan bergulingan, giliranku untuk memuaskannya, ciumanku turun ke lehar dan dada, kukulum dengan gigitan

ringan di putingnya, Pak Indra menggelinjang, lidahku menyusuri perutnya yang rata seolah tanpa lemak. Akhirnya kulepas celana dalamnya, tampaklah kejantanan yang masih tergolek lemas, inilah ke-unikan dari Pak Indra, dia

menderita impotensi ringan (menurutnya sih), laki laki normal pasti sudah tegang setelah cumbuan cumbuan seperti itu, tapi ini kasus lain, karena aku sudah berulang kali melayani dia, akupun sudah mempersiapkan mental untuk itu.



Kugenggam penisnya yang lemas, ingin ketawa rasanya melihat penis yang begitu tidak berdaya, padahal masih relative muda, tapi tentu saja kusimpan rasa itu beralih ke rasa kasihan. Kuciumi dengan penuh kasih sayang pada penis yang tidak pernah memberiku kepuasan itu, seperti menciumi mainan anak anak, tak ada sama sekali kesan kalau penis itu merupakan alat kejantanan dan kebanggaan laki laki. Begitu bersih dan kemerahan seperti penis anak anak, mungkin karena tidak pernah dipakai, karena itu tanpa ragu dan ada perasaan jijik kujilati dan kumasukkan dalam mulutku, semua bisa kulahap masuk, hidungku menyentuh rambut kemaluannya. Pak Indra mulai mendesis saat kupermainkan lidahku pada penisnya yang masih berada di mulutku, ingin kugigit karena gemas.



Beberapa menit penis itu mulai sedikit menegang, tapi masih jauh dari memenuhi syarat untuk bisa penetrasi, kombinasi kuluman dan kocokan tangan disertai elusan lembut di kantong bola membuatnya mekin mendesah desah dalam irama kulumanku.

"Kita coba Ly", katanya, seperti kebiasaannya.

Aku telentang di sampingnya, kubuka kakiku lebar lebar, dia mengambil posisi di atas seperti layaknya laki laki siap bersetubuh, kubantu menggesekkan penisnya ke vaginaku, belum berhasil, beberapa kali kucoba tetap saja masih kurang perkasa menembus liang kenikmatanku, malahan semakin melemas. Terpaksa kuambil inisiatif lain, kuminta dia telentang, kukulum dan kupermainkan sejenak seperti tadi, sedikit menegang, segera kunaiki tubuhnya dan kuusapkan ke bibir vaginaku, namun kembali tidak membuahkan hasil.



Setelah beberapa kali usaha dengan bermacam cara akhirnya kami menyerah, terpancar sinar kekecewaan di wajahnya meskipun senyuman menghiasi wajahnya. Aku merasa gagal untuk memuaskannya, meskipun hal itu terjadi setiap kali kami bertemu, terkadang hanya sekali penetrasi tapi begitu ditarik tidak bisa masuk lagi, namun kali ini gagal total. Akhirnya kuputuskan memuaskannya dengan cara lain seperti yang biasa kulakukan pada Pak Indra. Aku berlutut di antara kakinya, dia hanya telentang menunggu permainanku. Menit pertama hanya kuciumi seluruh batangnya, menit selanjutnya jilatanku merambah ke daerah kantong bola, menit selanjutnya penis lemas itu sudah keluar masuk mulutku diiringi permainan lidah dalam rongga mulut. Pak Indra mendesah kenikmatan dengan caranya sendiri, basah seluruh selangkangannya karena ludahku yang bercecer di daerah itu, kombinasi antara jilatan, kuluman dan kocokan cukup membuatnya terbuai dalam gelombang kenikmatan yang kuberikan.



Kami berubah posisi 69, dengan posisi ini kami bisa saling memberikan kenikmatan, harus kuakui kepiawaiannya bermain oral ikutan membawaku melayang, meskipun sangat jarang aku bisa orgasme hanya dengan oral, tapi saat ini kenikmatan seperti itu sudah cukup bagiku, dari pada tidak sama sekali. Tak lama kemudian kudengar teriakan keras disusul sedotan kuat pada vaginaku, sedetik kemudian kurasakan sperma meleleh pelan keluar dari kejantanannya, segera kumasukkan penisnya ke dalam mulutku dan kurasakan spermanya yang asin gurih membasahi lidahku, aromanya masih keras kurasa. Dan penis yang lemas itupun semakin melemas dalam mulutku.

"Uff, kamu memang pintar membuat orang puas", komentarnya setelah aku turun dari tubuhnya.

Kusapukan penis lemas itu ke wajahku.

"Ah, Bapak juga pintar mempermainkan orang kok", pujiku jujur.



Pukul 11:30 aku sudah keluar dari kamar Pak Indra setelah mandi membersihkan tubuhku dari sisa sisa ludahnya. Meskipun tujuan kami sama sama ke lobby tapi demi keamanan kami harus jalan sendiri sendiri seolah tidak saling mengenal. Sesampai di Lobby kucoba menghubungi HP Pak Benny, tapi tidak aktif, aku belum mendapat keputusan apakah dia akan melanjutkan atau tidak siang ini.



Beberapa saat kemudian kulihat Pak Indra sudah di lobby diiringi beberapa rekannya menuju ruang seminar, aku yakin mereka adalah sesame dokter. Pak Indra terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan setelan jasnya, pasti tak seorangpun menyangka kalau dia menderita secara psikis sejak terjadinya kecelakaan lalu lintas yang membuatnya impotent, dia hanya melirikku penuh arti ketika kami bertemu pandang, senyumnya hanya bisa diartikan antara aku dan dia.



Kutunggu Pak Benny yang belum juga ada kepastian. Setelah 20 menit tak ada juga kepastian dari Pak Benny, kutinggalkan hotel itu menuju hotel lain yang sudah menunggu kedatanganku dengan tipe dan bentuk permainan yang berbeda.



E N D

Namaku Deny, aku seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak memiliki tampang yang cukup tampan atau badan yang atletis. Tetapi aku cukup lumayan untuk seorang cowok tidak terlalu jelek dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan. Tetapi yang sangat menarik dari diriku adalah kekayaan yang orangtuaku miliki. Setiap hari aku selalu berpergian dengan mengendarai Honda Estillo yang sangat gaul karena modifikasi yang aku lakukan, aku juga selalu mambawa HP Nokia 8250. Belum lagi sifatku yang royal terhadap setiap cewek cantik dan sexy, semakin membuatku dikejar cewek terutama para cewek matre.



Di sekolahku terdapat berbagai macam ekstra kurikuler yang menarik, tetapi yang paling menarik untuk para cewek centil di sekolahku adalah ekstra kurikuler cheerleader, karena untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang dapat masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut adalah cewek-cewek yang memiliki tubuh seksi, tampang yang cantik dan keberanian dalam memakai baju minim di depan umum, karena para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas. Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak langsung hal ini membuat para cewek yang dapat masuk memiliki kebanggaan tersendiri karena berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang cantik dan seksi.



Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah mudah bagiku untuk mengajak mereka jalan dan "bermain" dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat "perek" cukup melekat dalam setiap anggota cheerleader, walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya karena menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang.



Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota baru ini memiliki payudara dan pantat yang besar. Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok seperti hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang membuat payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menunjukkan pantat mereka yang besar.



Melihat para perawan baru yang tersedia aku menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota baru yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka memiliki payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Melati adalah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat. Cewek ini adalah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang baru maupun yang lama. Mawar adalah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya bila dibanding Melati. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik adalah wajahnya yang manis dan cantik. Ia adalah cewek keturuna Jawa.



Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi aku belum akrab dengan mereka. Sehingga aku meminta bantuan salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang bernama Rani yang sebelumnya sudah sering aku nikmati tubuhnya, bahkan aku secara teratur berhubungan dengannya karena memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing.



Tanpa pikir panjang aku mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang aku untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ini memang sensani yang belum pernah aku lakukan hanya sering aku bayangkan. Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh aku datang ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam minggu itu juga tetapi dengan syarat aku tidak pernah membahas kesepakatan ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan aku juga tidak boleh mengatakannya kepada siapapun.



Akhirnya sampai juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 aku segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat aku tetap terjebak kemacetan dan aku sampai di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya bila tidak macet aku hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk sampai ke villa tersebut. Sampai di sana, aku disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan mobil Rani.



Di sana aku langsung masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada saat itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah lama kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih. Melati dan Mawar langsung mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan mengatakan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja karena sudah sibuk dengan Melati dan Mawar.



Pada saat itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, aku menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan aku mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya. Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, lalu aku mulai memuntir putingnya. Setelah itu aku juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya seperti halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka.

"Ahh.. ahh.." mereka berdua mulai mendesah saat puting mereka kuhisap.

"Isep terus Den toked gue!" kata Melati.

Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan aku semakin bersemangat menghisap puting mereka.



Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan.

"Ahh," aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara.

Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya.

"Ahh.. ahh.." tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan.. "Ahh, ahh.." keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama.



Aku kembali mencium bibirnya dengan ganas dan melahap kedua putingnya, sambil aku gesek-gesekkan batang kemaluanku di atas liang kemaluannya, "Ahh, Ahh.." tubuh Melati mulai kembali menegang.

"Den Ayo masukin batang kemaluan loe, gue udah nggak tahan," aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan memasukkannya pelan-pelan, aku keluar-masukkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya, "Bless," dan "Ackhh.. Akchh.." Melati berteriak keras sekali karena kesakitan.

Kudiamkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya sebentar dan mulai aku goyangkan pelan-pelan.

Lama-lama Melati mulai tampak nikmat sambil terus mendesah, "Ahh.. Ahh.."

Aku pun berganti gaya dengan Melati di atas, tanpa disuruh Melati mulai memompa naik-turun batang kemaluanku dengan semangat, aku pun menggerakkan pantatku naik-turun sehingga terdengar bunyi "Cleb.. cleb.." yang cukup keras pada saat batang kemaluanku masuk ke liang kemaluannya dengan full-nya.

"Ahh, ahh, ahh.." Melati mendesah-desah sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.



Sekitar 7 menit kemudian Melati kembali meminta posisi kembali di bawah. Aku menyetubuhinya dengan sangat bernafsu, dan sektar 6 menit kemudian, "Ahh, ahh.. gue mau keluar Den.."

"Tahan sedikit! gue juga.." kataku.

Kupercepat gerakanku dan akhirnya,

"Akhh.. ahh.."

Melati keluar duluan, dan tidak lama kemudian aku semakin mempercepat gerakanku, aku bertanya,

"Mel, mau di luar apa di dalem?"

"Di dalem aja," jawabnya.

Dan, "Crott.. crott.." aku ejakulasi di dalam liang kemaluannya.



Aku berpelukkan sesaat dengan Melati dan melap keringat di sekujur tubuhnya dengan tanganku, Melati tampak sangat kelelahan. Tapi tiba-tiba Mawar membuatku telentang di atas ranjang, dengan ganasnya ia mulai membersihkan sisa sperma yang ada di ujung batang kemaluanku, dan terus menghisapnya dengan ganasnya. Tak lama kemudian batang kemaluanku kembali bangun dan siap tempur, staminaku tiba-tiba kembali pulih dan nafsuku kembali menggebu. Aku segera meremas pantat Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit aku habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, aku juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah karena foreplay yang kulakukan.

"Masukkin kontol loe dong Den! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan.."

Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir tempat tidur dengan posisi seperti mau merangkak. Aku mau melakukan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus.



Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan aku masukkan sedikit, aku pegang dengan kuat kedua pahanya, dan secara tiba-tiba "Bless.." aku memasukkannya secara mendadak dan langsung seluruhnya, "Akhh.. akhh.." Mawar berteriak dengan sangat keras karena selaput daranya robek mendadak. Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, karena pahanya telah aku tahan dengan kuat. Tidak lama kemudian Mawar mulai tenang, dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa lama kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, aku pun semakin mempercepat gerakanku.

"Ahh, ahh, ahh.." Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari kaca besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku.

Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari kaca besar tersebut.



Semakin lama aku semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang aku lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, "Bless, bless.." aku dan Mawar sangat menikmatinya. Setelah melakukan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, aku mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara aku berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar dapat melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya.

"Ahh, ahh, ahh," Mawar terus mendesah selama aku setubuhi.

Tidak lama kemudian, "Ahh," Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, "Ahh," ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya.



Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian,

"Ahh, ahh.. Den gue udah mau keluar lagi.."

"Tahan sebentar! gue juga," kataku.

Kupercepat gerakanku dan, "Ahh, ahh.." aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan.

"Ahh, ahh.." Mawar mendesah panjang, dan aku pun mengeluarkan batang kemaluanku.



Tapi Rani yang sejak tadi diam langsung menghisap batang kemaluanku dan membuka bajunya. Setelah agak lama aku kembali "on", aku kembali bernafsu dan menelanjangi Rani dengan ganasnya. Kuhisap payudaranya dengan ganas dan kugigit lehernya sampai tampak merah-merah. Tanpa membuang waktu aku langsung memasukkan batang kemaluanku dan mulai menyetubuhinya dengan kedua pahanya di atas kedua pundakku.

"Ahh, ahh," Rani terus mendesah dan terasa olehku liang kemaluannya sudah basah, mungkin ia dari tadi sudah terangsang.

Rupanya kamera yang tadi ia pegang telah diambil alih oleh Melati untuk merekam semua kegiatan kami berdua.



Setelah 6 menit menyetubuhi Rani, aku mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali.

"Ahh, ahh," Rani terus mendesah, sementara itu aku menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya.

"Ahh, ahh," Rani terus mendesah, dan setelah menyetubuhinya selama 15 menit, "Den, gue mau keluar," dan.. "Ahh, ahh," Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya.

Ia tidak sanggup meneruskan gaya tersebut, ia memilih melakukan doggy style.



Setelah 5 menit melakukannya, ia kembali mengalami orgasme yang kedua, sementara aku terus menggenjotnya. Tidak lama kemudian aku juga mau keluar,

"Ran, mao dimana?" tanyaku.

"Di mulut gue saja!"

Ia langsung menghisap batang kemaluanku sambil mengurut-ngurut batang kemaluanku dengan jarinya dan "Ahh.." aku keluarkan semua spermaku di mulutnya dan ia menelan seluruhnya. Ia terus menghisap batang kemaluanku hingga bersih dari sisa sperma.



Kami semua kelelahan dan tertidur sebentar. Saat bangun, aku kembali bernafsu karena melihat 3 tubuh seksi tergeletak. Aku mulai kembali merangsang mereka dan mereka juga mulai merangsang diriku. Tubuh mereka kembali menegang dan aku pun mulai tambah bernafsu. Mereka bertiga berposisi seperti akan malakukan doggy style. Rani berada paling depan, Mawar di belakangnya, dan Melati berada di belakang mawar, sedangkan aku berada paling belakang dan mulai menyetubuhi Melati dari belakang, sedangkan Melati menjilat liang kemaluan Mawar, dan Mawar menjilat liang kemaluan Rani, sehingga semua dapat menikmati kenikmatan duniawi.

"Ahh, ahh," terdengar mereka bertiga mendesah dan suara batang kemaluanku ketika memesuki liang kemaluan Melati yang basah.



Sekitar 10 menit kemudian Rani mengalami orgasme disusul dengan Mawar. Tinggallah aku dan Melati meneruskan permainan kami.

Tapi tak lama kemudian, "Ahh, ahh," Melati pun mengalami orgasme, ia merasa kesakitan pada liang kemaluannya.

Tapi karena aku berum mengalami ejakulasi, Mawar berinisiatif dengan menggosokkan kedua payudaranya dengan baby oil sehingga tampak mengkilat batang kemaluanku dijepit di tengah kedua payudaranya dan aku bergerak maju-mundur dengan cepatnya.

Sekitar 5 menit aku mau mengeluarkan spermaku dan, "Crott.. crott.." spermaku keluar di wajah Mawar tapi Rani segera memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan menelan seluruh spermaku walau agak terlambat karena sudah ada yang mengenai wajah dan rambut Mawar.



Malam itu kami menginap di villa itu, pada pagi harinya kami melakukannya lagi sampai 6 kali. Sungguh pengalaman ini sangat mengesankan dan terkadang sampai sekarang kami masih sering meneruskannya, walaupun berganti orang.



TAMAT

Hai.. Namaku Dewi, umur 26 tahun. Aku termasuk cewek yang punya tingkat libido yang tinggi. Aku nggak pernah lama pacaran, karena aku orangnya nggak pernah puas ngesek sama pacar-pacarku dan cepat bosan. Bahkan sampai sekarangpun aku sering mencari kepuasan sendiri. Dan itupun nggak terbatas, cowok bahkan cewek sekalipun aku doyan.



Yang paling ngedukung adalah wajahku yang lumayan dan bodiku yang nggak ngecewain. Hanya dengan modal senyum dan baju sexy, banyak cowok yang pengin berbagi kenikmatan denganku. Kebayakan mereka nggak tahan kalau melihat dadaku yang padat membusung atau pahaku yang sekal. Aku juga nggak perlu capek cari partner cewek, karena aku mengenal betul siapa cewek-cewek yang bisa diajak main.



Aku bekerja sebagai asisten akuntan di sebuah Jasa Akuntan Publik yang cukup terkenal di Surabaya. Pekerjaan yang melelahkan dari jam delapan pagi sampai delapan malam itu terkadang memerlukan refresing juga. Bahkan hari ini aku lembur sampai jam setengah sebelas. Makanya ketika Kristin, teman kerjaku ngajakin dugem, aku langsung mengiyakan. Aku tahu Kristin nggak mungkin hanya mengajak dugem aja. Karena aku tahu Kristin itu penganut paham lesbisme. Tapi tak apalah, aku juga ketagihan digerayangin jemari lentik cewek. Apalagi Kristin sangat menggairahkan. Dadanya montok sedikit tak serasi dengan tubuhnya yang agak kurus, tapi kencang banget. Sudah lama aku pengin meremas-remas payudaranya bahkan mengemut puting payudaranya itu.



Dengan naik mobilnya, kami segera meluncur ke sebuah diskotik yang tak terlalu besar tapi cukup ramai. Sesampainya di diskotik kami segera mencari meja kosong di sudut diskotik. Walaupun di pojok tapi cukup mudah memandang ke arah floor dance. Lalu kami memesan minuman beralkohol ringan untuk menghangatkan badan. Ketika si pelayan beranjak pergi setelah mengantarkan pesanan kami, Kristin mulai merapatkan tubuhnya kepadaku. Aku pura-pura tak peduli sambil terus mengobrol dengannya. Tapi makin lama jemari Kristin mulai berani meraba-raba pahaku yang masih terbalut span ketat. Rangsangan itu mengena padaku hingga aku balas dengan makin memperdekat jarak duduk kami. Tapi belaian Kristin makin panas menyusup ke balik rokku. Karena tak tahan dan malu jika harus dilihat orang, aku segera mengajak Kristin melantai.

"Kita turun yuk?" kataku.

"Enak disini aja ah," jawabnya menolak.

"Ayo dong Kris."



Aku menarik tangannya untuk turun ke floor dance. Kami ngedance mengikuti hingar bingar musik diskotik. Dalam keremangan dan kilatan lampu, aku lihat keayuan wajah Kristin yang nampak lugu. Melihatku tersenyum-senyum kearahnya, Kristin meliuk-liukkan tubuhnya erotis. Daya rangsang yang dinampakkannya dari gerakan tubuhnya dan senyuman nakalnya semakin membuatku mabuk. Sambil bergoyang aku peluk tubuhnya hingga kedua payudara kami saling berbenturan. Sesekali tanganku dengan nakal meremas bokongnya yang masih tertutup celana panjang. Tangannya mendekap erat tubuhku bagai tak ingin terlepas. Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas kedua payudaranya yang masih terbalut BH. Ooohh.. begitu halusnya payudara Kriswin, halus dan kenyal banget. Lalu tanganku bergerak melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku dapat membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku telah membekap kemaluannya yang masih terlindung celana panjangnya.



Sementara Kristin memejamkan matanya meresapi setiap sentuhanku sambil terus bergoyang mengikuti musik yang menghentak-hentak. Tubuhnya bergerak merapat ke tubuhku.

"Kamu ganas juga, ya?" bisiknya.

"Tapi kamu suka kan?"

Kristin merapatkan tubuhnya sambil menciumi belakang telinga kananku. Hembusan hangat nafas Kristin membuat gairahku bagai dipacu. Jemariku segera mencari-cari puting susunya lalu memelintirnya sampai membuat Kristin mengikik kegelian.



Satu jam kemudian Kristin mengajakku pergi dari diskotik itu. Kami telah sama-sama sepakat akan meneruskan gairah kami hingga terpuaskan. Kami menuju ke sebuah hotel terdekat lalu segera menuju kamar yang telah kami pesan. Setibanya di kamar Kristin melucuti pakaiannya sambil menirukan gaya penari stripis. Secara halus, perlahan demi perlahan dilucutinya pakaiannya satu persatu dengan gerakan yang membuat air liurku hendak nenetes. Tinggal CD-nya saja yang masih melekat. Dengan kedua payudara yang menggantung indah Kristin mendekatiku perlahan sambil mempermainkan CDnya yang sudah basah. Akupun ikut melucuti pakaianku dengan gerakan-gerakan yang juga aku buat seerotis mungkin. Mata Kristin berbinar-binar ketika BH-ku menghilang dari kedua payudaraku.

"Wowww.. besar dan kencang sekali.. buat aku ya.." kata Kristin sambil membelai pinggiran buah dadaku, kemudian Kristin mengulum putingnya yang sudah mengeras sejak tadi.

"Ooogghh.. sshh.. enak banget," rintihku.

Diisapnya dalam-dalam putingku itu dengan keahliannya. Sambil mengisap jemarinya terus menari-nari di payudara kiriku. Tanganku meremas-remas rambutnya yang mulai kucal sambil meremas-remas payudara kirinya yang sempat aku gapai.



Lidah Kristin yang sudah terlatih menyapu seluruh permukaan payudaraku dan melumat putingku secara bergantian. Desahan kami berpacu diantara nafas-nafas kami yang sudah tak teratur lagi. Kemudian Kristin mencumbui perutku dan terus kebawah ke arah pusat kenikmatanku yang sebelumnya telah ditelanjanginya.

"Bukit venusmu indah banget Wi.." pujinya membuatku tersanjung.

Otot-otot vaginaku terasa menegang ketika jari-jari Kristin merenggangkan labia mayoraku. Lalu jari tengahnya mengorek-ngorek klitorisku dengan penuh perasaan.

"Aaahh.. sshh.. mmhh.." desahku untuk kesekian kalinya. "Jilatin say.. aku paling suka.."

Kristin menjilat klitorisku yang terasa tegang. Lalu menghisapnya kuat-kuat. Uaahh.. rasanya nikmat banget.. bahkan ketika lidahnya mulai turun menyusuri daerah sekitar lubang kawinku. Rasanya ingin mengeluarkan semua lava kenikmatanku yang menggedor-gedor ingin keluar.



Akhirnya Kristin menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku. Aku lorot CD-nya yang sudah basah benar. Lalu aku menindihnya hingga tubuh dan payudara kami saling berimpitan, bibirku dilumatnya dengan liar. Vagina kami saling bergesekan hingga menimbulkan rasa panas di masing-masing vagina kami. Suara srek.. srek.. akibat gesekan rumput vagina kami menambah nikmat sensasi yang tercipta.

"Ooohh.. Wi.. sudah lama banget aku naksir kamu.. aahhgghh.."

"Malam ini aku milikmu Kriiss.."



Setelah sepuluh menit kami saling berpagutan lidahku bergerak menuruni leher jenjang Kristin sampai bibirku hinggap di payudaranya yang kencang dan ramun. Aku hisap puting susunya yang keras dan coklat. Akhirnya tercapai juga keinginanku untuk mengganyang pentilnya yang besar itu.

"Wii.. terus aachh.. ehmm.." desahnya keenakan.

Kemudian aku semakin turun dan menghisap pusarnya, Kristin tidak tahan diperlakukan demikian. Erangannya semakin panjang.

"Aaach.. geli aach.. Wii.."

Aku terus menghisap-hisap pusarnya lalu aku turun dan saat sampai di Vaginanya. Aku sibak rumput-rumput liar di bukit belahnya itu kemudian mulai menjilatinya dan sesekali menghisap klitorisnya yang menyembul sebesar kacang.

"Aaacchh.. Wii terus achh.. enak.."

Kristin semakin menggelinjang tangannya menarik-narik sprei kamar hotel itu dan beberapa saat kemudian dia menjerit kuat. Aaacchh..!! Dan dari vaginanya menyembur lendir kenikmatan yang cukup banyak. Sruupp.. langsung aku hisap habis. "Aaach Wii.. acchh.." jeritnya untuk kesekian kalinya.



Setelah mengalami orgasme yang pertama itu, Kristin tergeletak di atas ranjang. Aku segera meraih HPku di dalam tas. Lalu segera mengirim SMS buat Eric, temanku ngewe. Kristin yang tahu kalau aku menghubungi seseorang berlagak cemburu. Dia segera duduk tepat di depanku.

"Sms siapa sih say?" tanya Kristin cemberut.

"Ada deh.." jawabku sambil tersenyum padanya.

"Ah, nggak asyik. Katanya kamu malam ini milikku?" rajuk Kristin yang kemudian mengutak-utik vaginaku.

Birahiku kembali bergelora. Aku biarkan saja Kristin mempermainkan daerah tersensitifku itu dengan jari-jari lentiknya. Nafasku memburu ketika ujung jari telunjuk Kristin masuk ke dalam lipatan vaginaku yang berair kemudian mengelus-elus lipatan dalamnya.

"Hoohh.. baby swety.. enak banget.." rintihku.

Payudaraku yang telah bengkak dijilatnya dengan lidahnya kemudian dilumatnya putingku yang sudah sangat keras itu. Sedangkan telunjuknya terus memilin-milin clitorisku.

"Aaaghh.. terus.. yeaahh.. jilatin say.."



Kristin berganti menjilati vaginaku sedangkan tangannya beralih meremas-remas payudaraku yang sudah sangat bengkak dan berwarna merah oleh hisap-hisapannya. Rasanya kakiku tak kuat menyangga tubuhku yang terasa berat oleh birahi yang telah sampai di ubun-ubun. Maka aku menghempaskan tubuhku diatas kasur dan Kristin meneruskan permainannya yang membawaku ke awang-awang. Kini kami melakukan 69 style. Saling hisap, saling jilat dan terkadang aku menekan lubang kenikmatannya dengan jempolku. Lubang asyiknya yang merah merona aku tusuk dengan jari telunjukku berkali-kali, begitu pula yang dilakukannya terhadapku. Berkali-kali klitorisku dihisap oleh Kristin kuat-kuat. Berkali-kali Kristin mengalami orgasme, tapi aku masih bisa bertahan. Hingga kemudian pintu kamar dibuka dari luar dan Eric muncul dari balik pintu.

"Hallo gadis-gadis! Sedang asyik nih?" sapanya.

"Ric, cepat sodokin aku dengan penismu!" teriakku pada Eric.



Kristin segera minggir ketika Eric melucuti seluruh pakaiannya. Sepintas kulihat roman muka Kristin yang sedikit cemberut. Tapi aku nggak peduli yang penting Eric segera memuaskan birahiku dan membawaku ke pucuk-pucuk kenikmatan. Eric tersenyum lebar memandangi bibir kemaluanku yang semakin basah. Aku enggak tahan lagi, segera aku arahkan penis Eric yang sudah mengacung-acung keras itu ke lubang kemaluanku.

"Aaaggh!" pekikku saat Eric menekan penisnya agar masuk semua ke dalam lubang kemaluanku.

Blees!! Akhirnya seluruh batang penis Eric mampu menjebol lubang kenikmatanku. Rasa perih bercampur nikmat jadi satu ketika Eric mulai mengocok liang kawinku keluar masuk.



"Aaawww.. enak banget vagina kamu Dewi.. seret.. tapi siip.." bisik Eric menyanjungku.

Eric terus memompa vaginaku sampai kami tak sadar mengeluarkan desahan dan rintihan birahi yang membuat Kristin terangsang banget. Rasa cemburunya hilang bahkan Kristin mendekatiku lalu mengenyot payudara kiriku, sedangkan Eric juga mengenyot payudara kananku. Segala kenikmatan syahwat aku rasakan dengan mata tertutup dan bibir yang menganga mendesah-desah. Hingga kemudian aku merasakan lava kenikmatanku yang menggedor-gedor.

"Aaahh aku mau keluar.. aahh.. sshh.. aahh.." pekikku.



Eric memompa penisnya semakin cepat hingga aku kesulitan untuk mengimbanginya. Sedangkan lidahnya maupun lidah Kristin semakin liar menjelajahi payudaraku. Lalu.. aahh.. Lendir kenikmatanku menghangat basah dan licin menyembur hingga membecek di sekitar selakanganku. Eric terus memompa dengan liar hingga kemudian dia berteriak tertahan,

"Aaagghh!!" Croot..croot.. spermanya muncrat tertelan lubang kenikmatanku hingga menghangat di dalamnya.

"Riic.. keluarin penismu itu biar Kristin ngerasain nikmatnya pejuhmu. Kriiss.. hisap vagina aku say.." kataku kemudian.



Kristin menjilat dan menghisap tandas semua cairan di vaginaku setelah Eric mencabut penisnya dari Vaginaku. Tapi tiba-tiba saja Kristin terpekik keras,

"Aaacchh!!"

Ternyata Eric menusukkan penisnya ke vagina Kristin yang cantik kalau menungging. Kristin misuh-misuh tapi kemudian ikutan ngerasain nikmatnya sodokan Eric yang sudah sangat berpengalaman ngentotin cewek-cewek dari berbagai usia. Sambil mengocok maju mundur, Eric berpegangan sambil meremas-remas payudara Kristin yang sudah keras banget. Aku sendiri menjilati vagina dan klitoris Kristin dan sekali-sekali menjilat buah pelir Eric hingga membuat mereka sampai di pucuk-pucuk asmara.

"Aduuh sayang.. terus.. ah.. enak say.., nikmat sekali.. rasanya ingin keluar say, aduuh.. nikmatnya, terus.. yang cepat.. say.. aduh aku nggak tahan ingin keluar.." Kristin menceracau tak karuan beberapa saat kemudian tubuh Kristin menegang dan sur.. suurr croot.. croot.. Kemudian kami bertiga terkulai lemas bersimbah keringat yang membanjir.



"Makasih ya say.. kalian berdua memang hebat," gumamku penuh kepuasan.

"Aku juga. Aku kira paling enak itu jadi lesbian, ternyata aku butuh variasi juga," sambung Kristin.

"You're welcome. Kapan-kapan aku bersedia di episode berikutnya..," ujar Eric. Lalu kami tertidur kelelahan tapi penuh kepuasan.



E N D