Aku mulai secara khusus memperhatikan pria yang ingin tidur denganku ini. Kali ini dia datang tanpa seragam satpamnya. Wow, ternyata kharisma kelelakiannya tak kalah dari penampilan Rendi maupun Burhan dan Wijaya. Dengan T-shirt Polo (mungkin merk imitasi) dan celana Valentinonya (barangkali juga imitasinya), di mataku Basri jadi tampak sangat tampan. Posturnya yang di atas 175 cm, membuatku hanya setinggi bahunya. Kekesalanku akan teleponnya tadi seketika lenyap. Bahkan kelelahanku dari perjalanan ke Bogorpun ikut lenyap. Dan untuk tetangga-tetangga sekitar yang kemungkinan usil karena aku telah menerima tamu pria di malam hari sementara suamiku berada di luar kota, persetan! Tidak akan semudah itu menuduhku berbuat macam-macam.

Dengan membiarkan semua pintu tetap terbuka lebar-lebar, pelan-pelan aku mengajak Basri menuju ruang makan yang tak nampak dari halaman depan dan jalanan. Di situ Basri langsung menubrukku. Dia langsung mencium kudukku dan tangannya memeluk dadaku, meremas payudaraku. Berani benar dia, batinku. Dan terus terang aku jadi sangat bernafsu menjalani sandiwara ini. Ini merupakan skandal terbesar sejak aku selingkuh dengan Rendi. Ini merupakan pertaruhan dengan risiko terbesar selama aku berani berkhianat pada Mas Adit, suamiku. Darahku terasa menggelegak. Jantungku berdegup keras. Aku gemetar sejadi-jadinya. Perasaan birahi yang menggelegak campur aduk dengan rasa takut tertangkap orang di kampungku, bercampur aduk.

"Bu Adit, kita keluar yuk".
"Nggak, ah. Di sini saja. Aman, deh. Tenang saja..", aku menjawab sambil tersenyum dan mendekatkan bibirku ke bibirnya.
Kami berpagutan dengan penuh nafsu. Aku sudah tidak tahan untuk tidak meraba selangkangannya. Aku mendesah. Tangan kiri Basri memeluk pinggangku, sementara tangan kanannya mulai bermain meremas-remas payudaraku yang masih terbungkus dalam blusku. Kuraba selangkangan itu.
"Waduuhh.. pentungan Satpam benaran nih..", batinku.

Aku meraba daging panas yang sangat besar dan panjang di balik celananya. Kuremas. Pantat Basri langsung menekan tanganku menahan gelinjang kontolnya.
"Jangan lebih dari 1 jam yang Mas Basri",
"Uuhh, cukup Bu, cukup Bu, cc.. cukkupp.. Bb.. Bu.. Jangan-jangan Ibu yang kurang nanti", mendengar jawabannya yang nakal aku tertawa geli sambil mencubit pantatnya.
Dia mengaduh, manis. Cukup lama kami saling berpagut dan meremas apa saja. Kubimbing Basri menuju kamar tidur pengantinku, tempat yang biasanya hanya aku dan Mas Adit -bossnya- yang tidur di atasnya.

Dan saat sampai di tepi ranjang, kudorong tubuhnya hingga telentang di ranjang. Aku menyusul menindihnya. Kami bergulingan. Dan dengan penuh ketidaksabaran kami saling melucuti pakaian. Aku melucuti pakaiannya, dia melucuti pakaianku. Kami telah siap untuk langsung menuju kenikmatan tak terhingga. Aku telentang di kasur dengan pahaku yang terbuka menjepit tubuhnya. Dia bergerak sedikit mengangkat pantatnya, tangan kirinya menggenggam kontolnya untuk diarahkannya ke memekku. Aku lebih melebarkan pahaku untuk bersiap menerima kontol itu menembus kemaluanku.
Saat bibir vaginaku tersentuh ujung kontol yang mirip pentungan itu, aku langsung memejamkan mataku dan jiwaku seakan melayang ke langit. Aku bergetar. Pantatku kuangkat-angkat sedikit kerena sangat merindukan kontol itu untuk secepatnya terbenam ke kemaluanku.

Seperti biasanya, Basri sangat ahli, ujung kontol itu dimainkan terlebih dulu di gerbang vaginaku untuk memancing cairan birahiku. Tetapi tak perlu memakan waktu lama, karena cairan itu sebenarnya telah mulai keluar sejak aku meremas celananya tadi. Dan tak ayal lagi, kurasakan betapa batangan besar dan hangat itu akhirnya tertelan seluruhnya hingga ke akar-akarnya, masuk dan menembus vaginaku. Seketika itu pula saraf-saraf peka pada dinding vaginaku bekerja menyambut batang itu. Diremas-remasnya kontol Basri. Mengencang dan mengendor bergantian.

"Dduhh, Ibuu.. Bu Aditt.. ennhakk bBHhaanngett.. Bbuu..".
Basri langsung memompakan kontolnya, suara pelirnya yang terayun-ayun memukuli akar kontolnya sendiri, akibat dari ayunan pompa kontol besarnya itu ke lubang memekku. Dan aku sendiri yang mendapat landa kenikmatan tak terhingga ini hanya bisa mendesah dan merintih sambil kepalaku bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti menggeleng-geleng, karena nikmat yang tak mampu kutahan itu.

Kami bersanggama penuh irama dan improvisasi yang mengalir. Sungguh hebat si Basri ini. Tubuhnya di jatuhkan miring. Tanpa mencabut kontolnya, dia angkat kaki kiriku melintasi tubuhnya dan tetap dipegang dengan tangan kirinya. Aku dientotnya dari arah belakang punggungku. Kemudian dengan posisi strategis itu yang membuat ketiakku tepat berada di dekat wajahnya, dia peluk tubuhku dengan tangan kanannya dan lebih didekatkannya ketiakku dan di ciuminya.

Paduan entotan pada vaginaku dan ciuman pada ketiakku ini benar-benar membuatku terlempar jauh melayang dalam gelombang nikmat tak terperikan. Pantatku langsung bergoyang-goyang untuk mempercepat tusukan kontol nikmat milik Basri itu. Aku berteriak kecil dan merintih.
"Mas Basrii.. Mas Basrrii.. Mas Bassrrii..", tidak tahu lagi aku mesti bicara apa.
Setelah posisi itu kami nikmati beberapa saat, Basri membisiki telingaku.
"Bu, nungging donk..", dan segera kurespon.
Aku bergerak menungging, mulai dengan tengkurap, kemudian pelan-pelan kunaikkan pantatku, kemudian lututku mengambil alih peran sebagai tumpuan pantatku. Hebatnya si Basri tetap tidak mau melepaskan kontolnya yang telah menancap pada vaginaku. Itu berarti dia harus mendukung tubuhnya hanya pada dengkulnya. Dan saat akhirnya sepenuhnya aku berhasil menungging, Basri sudah setengah bangkit, seperti anjing jantan, kontolnya masih menancap pada betinanya. Wow..

Kurasakan posisi ini membuat kontol Basri main merangsek dan meruyak kedalaman vaginaku. Titik-titik saraf peka birahiku mengelinjang. Ujung kontol itu mendesak gerbang rahimku. Aku, dengan kepalaku yang bertumpu pada bantal, jari-jari tanganku meremasi tepian bantal-bantalku. Aku merasakan kenikmatan itu seakan air bah yang menghanyutkan seluruh haribaanku. Kenikmatan ini sungguh tak bertara.

Aku mulai merasakan ada desakan ingin kencing dari dalam vaginaku. Ini bukan lagi untuk yang pertama kalinya. Sejak dua hari yang lalu aku sudah merasakan hal seperti ini 4 kali. Dan ini adalah untuk yang ke lima kalinya. Aku akan menyongsong kenikmatan tertinggi seorang wanita dari sanggamanya. Aku akan meraih orgasmeku.
"Acchh.. Mass Basrii.. tolonng akuu.. Basrii.. tolongg..".
Kontol Basri makin cepat memompa. Pantatku berusaha bergoyang untuk menangkap nikmat pompaan Basri. Kami mulai merasakan berada di gerbang kenikmatan puncak. Basri melepas payudaraku yang sejak aku menungging tadi diremas-remasnya. Kini dia bangkit dengan tangannya menekan pinggulku. Itu artinya nafsu Basri sudah tak mungkin dia bendung lagi.

Kocokan kontolnya makin cepat, "in & out" ke lubang vaginaku. Aku sendiri tak mampu menahan keinginan rasa ingin kencingku. Aku menggoyang-goyangkan pantatku dengan memepertegas desahan dan rintihanku untuk memacu nafsu Basri.
Dan akhirnya.. Bertetes-tetes sperma Basri terasa menghangatkan memekku. Sedetik berikutnya, orgasmeku datang. Cairan birahiku membanjir. Pompaan kontol Basri tidak langsung berhenti saat menembak lubang vaginaku dengan spermanya. Dan akibatnya dari celah ketat antara batang kontol dan bibir vaginaku nampak busa-busa cairan birahiku bercampur sperma Basri muncrat dan meleleh setiap kali kontol Basri masuk maupun keluar dari lubang kemaluanku.

Kemudian lama-lama melambat dan akhirnya diam. Kami bersama-sama rebah di ranjang. Kecuali nafas-nafas panjang yang terdengar, yang lainnya sepi. Terdengar anjing tetangga menyalak, seakan ada yang lewat. Terdengar kucing mengejar betinanya di genting. Terdengar tukang mie menawarkan dagangannya. Aku melirik ke Basri dan saling bertemu pandang. Kami masing-masing meraih kepuasan. Untuk sementara rasa penasaran Basri telah reda.

Jam menunjukkan pukul 10.40 malam. Basri bangkit dari ranjang dan turun ke kamar mandi. Kubiarkan saja dia, mungkin dia perlu buang air kecil. Aku masih menginginkan ada lanjutannya. Aku selalu belum tuntas kalau mulutku belum dientot lelaki yang mengencaniku. Dan Basri harus menyelesaikannya. Aku yakin dia akan menyelesaikannya dengan baik dan aku akan meraih kepuasan darinya untuk yang kedua kalinya.

Ternyata memang sekembalinya dari kamar mandi, kontolnya sudah terlihat tegak kembali. Aku yakin, lelaki seperti Basri ini tidak akan cukup dengan hanya sekali spermanya muncrat pada setiap bersetubuh dengan perempuan. Dia kembali mendekat ke ranjang. Aku cepat meraih kontolnya yang sebesar pentungan satpamnya. Kuelus dengan jari-jariku dan kulihat wajahnya. Dia menutup matanya menikmati sentuhan jari-jari lembutku. Aku senang dia menutup matanya itu. Bibirku mendekat, kuulurkan lidahku ke belahan lubang kencingnya. Kurasakan, lidahku merasakan sebagian air kencingnya yang masih tertinggal di belahan lubang itu. Aromanya mendekati bir yang baru terbuka botolnya. Keras dan ada sedikit pesingnya. Kujilati hingga bersih dari sisa-sisa tetesan air kencingnya. Aku sangat menikmati kesempatan langka ini.

Kulihat kembali wajahnya. Ternyata dia telah membuka matanya dan memperhatikan lidahku yang sedang menjilat-jilat.
"Bu Adit, enak banget ketika bibir Bu Adit menyentuh kontol saya. Dan ketika lidah Ibu menjilat.. aku tidak pernah membayangkan ada wanita secantik Ibu mau menjilat kontol saya. Bahkan sisa-sisa kencing saya, Bu", kata Basri sambil tangannya mengelus rambutku yang terurai panjang.

Mendengar pembicaraannya itu, terbit kenakalanku. Aku ingin melihatnya benar-benar blingsatan, ingin mendengar rintihan nikmatnya yang luar biasa, ingin melihat bagaimana jika tubuhnya menggeliat-geliat dengan penuh gelinjang karena merasakan jilatan dan kuluman nikmat dari mulutku. Kugenggam kontolnya, kunaikkan dan kupepetkan ke perutnya. Wow, panjangnya adalah hingga ujungnya menyentuh pusarnya.

Saat itu pelirnya berada tepat di depan bibirku. Tentu saja lidahku langsung bekerja dipadu dengan bibirku yang menyedot-nyedot biji pelirnya itu. Dia mulai gelisah. Pantatnya bergoyang, ingin menekankan pada mulutku. Kemudian aku mengubah posisi dengan turun dari ranjang. Dan Basri kudorong hingga telentang di kasur dengan kedua kakinya tetap terjuntai ke lantai. Kini aku sepenuhnya memegang 'komando'. Dengan tetap kugenggam kontolnya, lidahku mulai menjilat selangkangannya.

Bau keringatnya yang sangat alami karena telah seharian terjemur dalam tugasnya, sangat merangsang libidoku. Bau alami seperti ini terkadang jauh lebih merangsang dari pada para pria pesolek seperti Rendi dan teman-temannya yang suka dengan parfum, bedak atau pewangi lainnya. Benar juga. Lidahku di selangkangannya membuat Basri seperti orang tenggelam di laut, gelagapan dengan nafasnya yang terputus-putus memburu. Tangannya terus mengacak-ngacak rambutku yang istri bossnya ini.

Saat aku menjilat lebih ke bawah lagi dan mengarah ke anusnya, pantatnya dia angkat-angkat sambil kakinya di tekankan ke pinggiran ranjang menahan kegelian yang amat sangat. Ah, tanggung.. kubalik saja badannya hingga posisinya tengkurap, kemudian tanganku memberi isyarat agar Basri sedikit menungging. Dia patuh. Dengan lututnya sebagai tumpuan dia bukan lagi sedikit, tetapi benar-benar menungging. Inilah saatnya Basri akan merasakan bagaimana aku, istri Pak Adit atasannya akan menjilati duburnya.

Kusapu dulu bukit pantatnya dengan lidahku sambil hidungku berusaha menangkap aroma anusnya. Wow, dia langsung menggelinjang dengan suara rintihan yang menimbulkan rasa horny. Tangannya menggapai-gapai untuk berusaha meraih kembali rambutku. Dan lidahku tak lagi berputar-putar, tetapi langsung kubenamkan pada analnya. Basri benar-benar blingsatan. Kini tangannya yang telah meraih rambutku menariknya kencang-kencang hingga kulit kepalaku terasa pedih. Aku sangat menikmati hal ini. Aku semakin bersemangat menjilat dan menyedot-sedot pantatnya, sementara tangan kiriku meraba dan kemudian meraih kontolnya yang bergelantungan di bawah perutnya dalam keadaan ngaceng berat. Tanganku mengocok lembut kontol itu.

Setelah beberapa saat hal itu berlangsung, terdengar desahan dan rintihan Basri yang menandakan bahwa spermanya akan muncrat. Cepat kudorong kembali tubuhnya untuk telentang. Kucaplok kontolnya, kukulum dan kupompa dengan mulutku. Basri ingin aku memompa dengan cepat. Dan dengan lolongan seperti serigala di malam hari, Basri menjerit kecil dengan disertai tumpahnya sperma ke mulutku. Aku merasakan kehangatan adanya lendir-lendir yang menyemprot dan memenuhi mulutku. Aku kecap sperma Basri dan kutelan. Tak setetespun yang tercecer. Kami kembali rubuh ke kasur. Aku teramat sangat lelah. Ini mungkin adalah akumulasi kelelahan yang tak begitu kurasakan sejak kepergianku dari Bogor tadi. Aku terlena sesaat.

Saat Basri membangunkanku untuk pamit pulang, kulihat dia sudah rapi dengan pakaiannya kembali. Aku bergegas berpakaian. Aku sengaja tidak ke kamar mandi dulu. Nanti saja. Ada kenikmatan erotis tersendiri untuk menahan sperma yang masih mencemari tubuhku. Kuantarkan Basri ke pintu. Dia harus cepat pergi dari rumahku. Saat telah siap semuanya, aku mendekat dan memagutnya dalam-dalam. Sesaat kami saling bertukar ludah dan lidah.
"Mas Basri, ntar kita cari waktu lagi, ya. Aku ingin dientot terus menerus sama Mas Basri. Kontolmu ini sangat membuatku mabuk. Aku masih belum puas".

Kontol Basri yang masih kugenggam langsung berdiri kembali. Aku tahu, kalau saja kutahan dia, Basri akan dengan senang hati tinggal. Mungkin sampai pagi. Tetapi kubimbing saja dia ke pintu, karena dia memang harus pergi dari rumahku sekarang. Tepat pada pukul 11.10 Kijang Basri sudah meninggalkan rumahku. Aku tidak langsung mematikan lampu-lampu. Bahkan aku masih sempat berjalan-jalan di taman rumahku, seakan-akan memperhatikan tanaman-tanaman bungaku yang memang setiap hari kurawat dengan penuh kecintaan.

Tetanggaku, Pak Taslim baru saja lewat bersama anaknya dari warung sebelah. Setelah pintu halaman kukunci, pada pukul 11.30 malam baru aku masuk rumah. Pintu utama kututup dan kukunci. Lampu-lampu yang tidak penting kumatikan. Baru aku menuju peraduan dengan masih menyimpan sperma Basri dalam nonokku dan sebagian sperma kering yang masih belepotan di sekitar mulutku. Aku nikmati terus agar selalu merasa dekat dengannya. Selama 2 hari berselingkuh dengan 4 lelaki teman kantor suamiku, aku baru merasakan bahwa hanya dengan Basrilah aku mendapatkan keaslian sifatnya. Bayangkan, dengan pendidikannya yang hanya dapat membuatnya menjadi satpam, dia berani melakukan sesuatu loncatan keluar jauh dari 'orbit'-nya, dia entoti aku yang merupakan istrinya bossnya di kantor, Mas Adit.

Bogor, April 2003

Tamat

Aku mulai secara khusus memperhatikan pria yang ingin tidur denganku ini. Kali ini dia datang tanpa seragam satpamnya. Wow, ternyata kharisma kelelakiannya tak kalah dari penampilan Rendi maupun Burhan dan Wijaya. Dengan T-shirt Polo (mungkin merk imitasi) dan celana Valentinonya (barangkali juga imitasinya), di mataku Basri jadi tampak sangat tampan. Posturnya yang di atas 175 cm, membuatku hanya setinggi bahunya. Kekesalanku akan teleponnya tadi seketika lenyap. Bahkan kelelahanku dari perjalanan ke Bogorpun ikut lenyap. Dan untuk tetangga-tetangga sekitar yang kemungkinan usil karena aku telah menerima tamu pria di malam hari sementara suamiku berada di luar kota, persetan! Tidak akan semudah itu menuduhku berbuat macam-macam.

Dengan membiarkan semua pintu tetap terbuka lebar-lebar, pelan-pelan aku mengajak Basri menuju ruang makan yang tak nampak dari halaman depan dan jalanan. Di situ Basri langsung menubrukku. Dia langsung mencium kudukku dan tangannya memeluk dadaku, meremas payudaraku. Berani benar dia, batinku. Dan terus terang aku jadi sangat bernafsu menjalani sandiwara ini. Ini merupakan skandal terbesar sejak aku selingkuh dengan Rendi. Ini merupakan pertaruhan dengan risiko terbesar selama aku berani berkhianat pada Mas Adit, suamiku. Darahku terasa menggelegak. Jantungku berdegup keras. Aku gemetar sejadi-jadinya. Perasaan birahi yang menggelegak campur aduk dengan rasa takut tertangkap orang di kampungku, bercampur aduk.

"Bu Adit, kita keluar yuk".
"Nggak, ah. Di sini saja. Aman, deh. Tenang saja..", aku menjawab sambil tersenyum dan mendekatkan bibirku ke bibirnya.
Kami berpagutan dengan penuh nafsu. Aku sudah tidak tahan untuk tidak meraba selangkangannya. Aku mendesah. Tangan kiri Basri memeluk pinggangku, sementara tangan kanannya mulai bermain meremas-remas payudaraku yang masih terbungkus dalam blusku. Kuraba selangkangan itu.
"Waduuhh.. pentungan Satpam benaran nih..", batinku.

Aku meraba daging panas yang sangat besar dan panjang di balik celananya. Kuremas. Pantat Basri langsung menekan tanganku menahan gelinjang kontolnya.
"Jangan lebih dari 1 jam yang Mas Basri",
"Uuhh, cukup Bu, cukup Bu, cc.. cukkupp.. Bb.. Bu.. Jangan-jangan Ibu yang kurang nanti", mendengar jawabannya yang nakal aku tertawa geli sambil mencubit pantatnya.
Dia mengaduh, manis. Cukup lama kami saling berpagut dan meremas apa saja. Kubimbing Basri menuju kamar tidur pengantinku, tempat yang biasanya hanya aku dan Mas Adit -bossnya- yang tidur di atasnya.

Dan saat sampai di tepi ranjang, kudorong tubuhnya hingga telentang di ranjang. Aku menyusul menindihnya. Kami bergulingan. Dan dengan penuh ketidaksabaran kami saling melucuti pakaian. Aku melucuti pakaiannya, dia melucuti pakaianku. Kami telah siap untuk langsung menuju kenikmatan tak terhingga. Aku telentang di kasur dengan pahaku yang terbuka menjepit tubuhnya. Dia bergerak sedikit mengangkat pantatnya, tangan kirinya menggenggam kontolnya untuk diarahkannya ke memekku. Aku lebih melebarkan pahaku untuk bersiap menerima kontol itu menembus kemaluanku.
Saat bibir vaginaku tersentuh ujung kontol yang mirip pentungan itu, aku langsung memejamkan mataku dan jiwaku seakan melayang ke langit. Aku bergetar. Pantatku kuangkat-angkat sedikit kerena sangat merindukan kontol itu untuk secepatnya terbenam ke kemaluanku.

Seperti biasanya, Basri sangat ahli, ujung kontol itu dimainkan terlebih dulu di gerbang vaginaku untuk memancing cairan birahiku. Tetapi tak perlu memakan waktu lama, karena cairan itu sebenarnya telah mulai keluar sejak aku meremas celananya tadi. Dan tak ayal lagi, kurasakan betapa batangan besar dan hangat itu akhirnya tertelan seluruhnya hingga ke akar-akarnya, masuk dan menembus vaginaku. Seketika itu pula saraf-saraf peka pada dinding vaginaku bekerja menyambut batang itu. Diremas-remasnya kontol Basri. Mengencang dan mengendor bergantian.

"Dduhh, Ibuu.. Bu Aditt.. ennhakk bBHhaanngett.. Bbuu..".
Basri langsung memompakan kontolnya, suara pelirnya yang terayun-ayun memukuli akar kontolnya sendiri, akibat dari ayunan pompa kontol besarnya itu ke lubang memekku. Dan aku sendiri yang mendapat landa kenikmatan tak terhingga ini hanya bisa mendesah dan merintih sambil kepalaku bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti menggeleng-geleng, karena nikmat yang tak mampu kutahan itu.

Kami bersanggama penuh irama dan improvisasi yang mengalir. Sungguh hebat si Basri ini. Tubuhnya di jatuhkan miring. Tanpa mencabut kontolnya, dia angkat kaki kiriku melintasi tubuhnya dan tetap dipegang dengan tangan kirinya. Aku dientotnya dari arah belakang punggungku. Kemudian dengan posisi strategis itu yang membuat ketiakku tepat berada di dekat wajahnya, dia peluk tubuhku dengan tangan kanannya dan lebih didekatkannya ketiakku dan di ciuminya.

Paduan entotan pada vaginaku dan ciuman pada ketiakku ini benar-benar membuatku terlempar jauh melayang dalam gelombang nikmat tak terperikan. Pantatku langsung bergoyang-goyang untuk mempercepat tusukan kontol nikmat milik Basri itu. Aku berteriak kecil dan merintih.
"Mas Basrii.. Mas Basrrii.. Mas Bassrrii..", tidak tahu lagi aku mesti bicara apa.
Setelah posisi itu kami nikmati beberapa saat, Basri membisiki telingaku.
"Bu, nungging donk..", dan segera kurespon.
Aku bergerak menungging, mulai dengan tengkurap, kemudian pelan-pelan kunaikkan pantatku, kemudian lututku mengambil alih peran sebagai tumpuan pantatku. Hebatnya si Basri tetap tidak mau melepaskan kontolnya yang telah menancap pada vaginaku. Itu berarti dia harus mendukung tubuhnya hanya pada dengkulnya. Dan saat akhirnya sepenuhnya aku berhasil menungging, Basri sudah setengah bangkit, seperti anjing jantan, kontolnya masih menancap pada betinanya. Wow..

Kurasakan posisi ini membuat kontol Basri main merangsek dan meruyak kedalaman vaginaku. Titik-titik saraf peka birahiku mengelinjang. Ujung kontol itu mendesak gerbang rahimku. Aku, dengan kepalaku yang bertumpu pada bantal, jari-jari tanganku meremasi tepian bantal-bantalku. Aku merasakan kenikmatan itu seakan air bah yang menghanyutkan seluruh haribaanku. Kenikmatan ini sungguh tak bertara.

Aku mulai merasakan ada desakan ingin kencing dari dalam vaginaku. Ini bukan lagi untuk yang pertama kalinya. Sejak dua hari yang lalu aku sudah merasakan hal seperti ini 4 kali. Dan ini adalah untuk yang ke lima kalinya. Aku akan menyongsong kenikmatan tertinggi seorang wanita dari sanggamanya. Aku akan meraih orgasmeku.
"Acchh.. Mass Basrii.. tolonng akuu.. Basrii.. tolongg..".
Kontol Basri makin cepat memompa. Pantatku berusaha bergoyang untuk menangkap nikmat pompaan Basri. Kami mulai merasakan berada di gerbang kenikmatan puncak. Basri melepas payudaraku yang sejak aku menungging tadi diremas-remasnya. Kini dia bangkit dengan tangannya menekan pinggulku. Itu artinya nafsu Basri sudah tak mungkin dia bendung lagi.

Kocokan kontolnya makin cepat, "in & out" ke lubang vaginaku. Aku sendiri tak mampu menahan keinginan rasa ingin kencingku. Aku menggoyang-goyangkan pantatku dengan memepertegas desahan dan rintihanku untuk memacu nafsu Basri.
Dan akhirnya.. Bertetes-tetes sperma Basri terasa menghangatkan memekku. Sedetik berikutnya, orgasmeku datang. Cairan birahiku membanjir. Pompaan kontol Basri tidak langsung berhenti saat menembak lubang vaginaku dengan spermanya. Dan akibatnya dari celah ketat antara batang kontol dan bibir vaginaku nampak busa-busa cairan birahiku bercampur sperma Basri muncrat dan meleleh setiap kali kontol Basri masuk maupun keluar dari lubang kemaluanku.

Kemudian lama-lama melambat dan akhirnya diam. Kami bersama-sama rebah di ranjang. Kecuali nafas-nafas panjang yang terdengar, yang lainnya sepi. Terdengar anjing tetangga menyalak, seakan ada yang lewat. Terdengar kucing mengejar betinanya di genting. Terdengar tukang mie menawarkan dagangannya. Aku melirik ke Basri dan saling bertemu pandang. Kami masing-masing meraih kepuasan. Untuk sementara rasa penasaran Basri telah reda.

Jam menunjukkan pukul 10.40 malam. Basri bangkit dari ranjang dan turun ke kamar mandi. Kubiarkan saja dia, mungkin dia perlu buang air kecil. Aku masih menginginkan ada lanjutannya. Aku selalu belum tuntas kalau mulutku belum dientot lelaki yang mengencaniku. Dan Basri harus menyelesaikannya. Aku yakin dia akan menyelesaikannya dengan baik dan aku akan meraih kepuasan darinya untuk yang kedua kalinya.

Ternyata memang sekembalinya dari kamar mandi, kontolnya sudah terlihat tegak kembali. Aku yakin, lelaki seperti Basri ini tidak akan cukup dengan hanya sekali spermanya muncrat pada setiap bersetubuh dengan perempuan. Dia kembali mendekat ke ranjang. Aku cepat meraih kontolnya yang sebesar pentungan satpamnya. Kuelus dengan jari-jariku dan kulihat wajahnya. Dia menutup matanya menikmati sentuhan jari-jari lembutku. Aku senang dia menutup matanya itu. Bibirku mendekat, kuulurkan lidahku ke belahan lubang kencingnya. Kurasakan, lidahku merasakan sebagian air kencingnya yang masih tertinggal di belahan lubang itu. Aromanya mendekati bir yang baru terbuka botolnya. Keras dan ada sedikit pesingnya. Kujilati hingga bersih dari sisa-sisa tetesan air kencingnya. Aku sangat menikmati kesempatan langka ini.

Kulihat kembali wajahnya. Ternyata dia telah membuka matanya dan memperhatikan lidahku yang sedang menjilat-jilat.
"Bu Adit, enak banget ketika bibir Bu Adit menyentuh kontol saya. Dan ketika lidah Ibu menjilat.. aku tidak pernah membayangkan ada wanita secantik Ibu mau menjilat kontol saya. Bahkan sisa-sisa kencing saya, Bu", kata Basri sambil tangannya mengelus rambutku yang terurai panjang.

Mendengar pembicaraannya itu, terbit kenakalanku. Aku ingin melihatnya benar-benar blingsatan, ingin mendengar rintihan nikmatnya yang luar biasa, ingin melihat bagaimana jika tubuhnya menggeliat-geliat dengan penuh gelinjang karena merasakan jilatan dan kuluman nikmat dari mulutku. Kugenggam kontolnya, kunaikkan dan kupepetkan ke perutnya. Wow, panjangnya adalah hingga ujungnya menyentuh pusarnya.

Saat itu pelirnya berada tepat di depan bibirku. Tentu saja lidahku langsung bekerja dipadu dengan bibirku yang menyedot-nyedot biji pelirnya itu. Dia mulai gelisah. Pantatnya bergoyang, ingin menekankan pada mulutku. Kemudian aku mengubah posisi dengan turun dari ranjang. Dan Basri kudorong hingga telentang di kasur dengan kedua kakinya tetap terjuntai ke lantai. Kini aku sepenuhnya memegang 'komando'. Dengan tetap kugenggam kontolnya, lidahku mulai menjilat selangkangannya.

Bau keringatnya yang sangat alami karena telah seharian terjemur dalam tugasnya, sangat merangsang libidoku. Bau alami seperti ini terkadang jauh lebih merangsang dari pada para pria pesolek seperti Rendi dan teman-temannya yang suka dengan parfum, bedak atau pewangi lainnya. Benar juga. Lidahku di selangkangannya membuat Basri seperti orang tenggelam di laut, gelagapan dengan nafasnya yang terputus-putus memburu. Tangannya terus mengacak-ngacak rambutku yang istri bossnya ini.

Saat aku menjilat lebih ke bawah lagi dan mengarah ke anusnya, pantatnya dia angkat-angkat sambil kakinya di tekankan ke pinggiran ranjang menahan kegelian yang amat sangat. Ah, tanggung.. kubalik saja badannya hingga posisinya tengkurap, kemudian tanganku memberi isyarat agar Basri sedikit menungging. Dia patuh. Dengan lututnya sebagai tumpuan dia bukan lagi sedikit, tetapi benar-benar menungging. Inilah saatnya Basri akan merasakan bagaimana aku, istri Pak Adit atasannya akan menjilati duburnya.

Kusapu dulu bukit pantatnya dengan lidahku sambil hidungku berusaha menangkap aroma anusnya. Wow, dia langsung menggelinjang dengan suara rintihan yang menimbulkan rasa horny. Tangannya menggapai-gapai untuk berusaha meraih kembali rambutku. Dan lidahku tak lagi berputar-putar, tetapi langsung kubenamkan pada analnya. Basri benar-benar blingsatan. Kini tangannya yang telah meraih rambutku menariknya kencang-kencang hingga kulit kepalaku terasa pedih. Aku sangat menikmati hal ini. Aku semakin bersemangat menjilat dan menyedot-sedot pantatnya, sementara tangan kiriku meraba dan kemudian meraih kontolnya yang bergelantungan di bawah perutnya dalam keadaan ngaceng berat. Tanganku mengocok lembut kontol itu.

Setelah beberapa saat hal itu berlangsung, terdengar desahan dan rintihan Basri yang menandakan bahwa spermanya akan muncrat. Cepat kudorong kembali tubuhnya untuk telentang. Kucaplok kontolnya, kukulum dan kupompa dengan mulutku. Basri ingin aku memompa dengan cepat. Dan dengan lolongan seperti serigala di malam hari, Basri menjerit kecil dengan disertai tumpahnya sperma ke mulutku. Aku merasakan kehangatan adanya lendir-lendir yang menyemprot dan memenuhi mulutku. Aku kecap sperma Basri dan kutelan. Tak setetespun yang tercecer. Kami kembali rubuh ke kasur. Aku teramat sangat lelah. Ini mungkin adalah akumulasi kelelahan yang tak begitu kurasakan sejak kepergianku dari Bogor tadi. Aku terlena sesaat.

Saat Basri membangunkanku untuk pamit pulang, kulihat dia sudah rapi dengan pakaiannya kembali. Aku bergegas berpakaian. Aku sengaja tidak ke kamar mandi dulu. Nanti saja. Ada kenikmatan erotis tersendiri untuk menahan sperma yang masih mencemari tubuhku. Kuantarkan Basri ke pintu. Dia harus cepat pergi dari rumahku. Saat telah siap semuanya, aku mendekat dan memagutnya dalam-dalam. Sesaat kami saling bertukar ludah dan lidah.
"Mas Basri, ntar kita cari waktu lagi, ya. Aku ingin dientot terus menerus sama Mas Basri. Kontolmu ini sangat membuatku mabuk. Aku masih belum puas".

Kontol Basri yang masih kugenggam langsung berdiri kembali. Aku tahu, kalau saja kutahan dia, Basri akan dengan senang hati tinggal. Mungkin sampai pagi. Tetapi kubimbing saja dia ke pintu, karena dia memang harus pergi dari rumahku sekarang. Tepat pada pukul 11.10 Kijang Basri sudah meninggalkan rumahku. Aku tidak langsung mematikan lampu-lampu. Bahkan aku masih sempat berjalan-jalan di taman rumahku, seakan-akan memperhatikan tanaman-tanaman bungaku yang memang setiap hari kurawat dengan penuh kecintaan.

Tetanggaku, Pak Taslim baru saja lewat bersama anaknya dari warung sebelah. Setelah pintu halaman kukunci, pada pukul 11.30 malam baru aku masuk rumah. Pintu utama kututup dan kukunci. Lampu-lampu yang tidak penting kumatikan. Baru aku menuju peraduan dengan masih menyimpan sperma Basri dalam nonokku dan sebagian sperma kering yang masih belepotan di sekitar mulutku. Aku nikmati terus agar selalu merasa dekat dengannya. Selama 2 hari berselingkuh dengan 4 lelaki teman kantor suamiku, aku baru merasakan bahwa hanya dengan Basrilah aku mendapatkan keaslian sifatnya. Bayangkan, dengan pendidikannya yang hanya dapat membuatnya menjadi satpam, dia berani melakukan sesuatu loncatan keluar jauh dari 'orbit'-nya, dia entoti aku yang merupakan istrinya bossnya di kantor, Mas Adit.

Bogor, April 2003

Tamat

Aku mulai secara khusus memperhatikan pria yang ingin tidur denganku ini. Kali ini dia datang tanpa seragam satpamnya. Wow, ternyata kharisma kelelakiannya tak kalah dari penampilan Rendi maupun Burhan dan Wijaya. Dengan T-shirt Polo (mungkin merk imitasi) dan celana Valentinonya (barangkali juga imitasinya), di mataku Basri jadi tampak sangat tampan. Posturnya yang di atas 175 cm, membuatku hanya setinggi bahunya. Kekesalanku akan teleponnya tadi seketika lenyap. Bahkan kelelahanku dari perjalanan ke Bogorpun ikut lenyap. Dan untuk tetangga-tetangga sekitar yang kemungkinan usil karena aku telah menerima tamu pria di malam hari sementara suamiku berada di luar kota, persetan! Tidak akan semudah itu menuduhku berbuat macam-macam.

Dengan membiarkan semua pintu tetap terbuka lebar-lebar, pelan-pelan aku mengajak Basri menuju ruang makan yang tak nampak dari halaman depan dan jalanan. Di situ Basri langsung menubrukku. Dia langsung mencium kudukku dan tangannya memeluk dadaku, meremas payudaraku. Berani benar dia, batinku. Dan terus terang aku jadi sangat bernafsu menjalani sandiwara ini. Ini merupakan skandal terbesar sejak aku selingkuh dengan Rendi. Ini merupakan pertaruhan dengan risiko terbesar selama aku berani berkhianat pada Mas Adit, suamiku. Darahku terasa menggelegak. Jantungku berdegup keras. Aku gemetar sejadi-jadinya. Perasaan birahi yang menggelegak campur aduk dengan rasa takut tertangkap orang di kampungku, bercampur aduk.

"Bu Adit, kita keluar yuk".
"Nggak, ah. Di sini saja. Aman, deh. Tenang saja..", aku menjawab sambil tersenyum dan mendekatkan bibirku ke bibirnya.
Kami berpagutan dengan penuh nafsu. Aku sudah tidak tahan untuk tidak meraba selangkangannya. Aku mendesah. Tangan kiri Basri memeluk pinggangku, sementara tangan kanannya mulai bermain meremas-remas payudaraku yang masih terbungkus dalam blusku. Kuraba selangkangan itu.
"Waduuhh.. pentungan Satpam benaran nih..", batinku.

Aku meraba daging panas yang sangat besar dan panjang di balik celananya. Kuremas. Pantat Basri langsung menekan tanganku menahan gelinjang kontolnya.
"Jangan lebih dari 1 jam yang Mas Basri",
"Uuhh, cukup Bu, cukup Bu, cc.. cukkupp.. Bb.. Bu.. Jangan-jangan Ibu yang kurang nanti", mendengar jawabannya yang nakal aku tertawa geli sambil mencubit pantatnya.
Dia mengaduh, manis. Cukup lama kami saling berpagut dan meremas apa saja. Kubimbing Basri menuju kamar tidur pengantinku, tempat yang biasanya hanya aku dan Mas Adit -bossnya- yang tidur di atasnya.

Dan saat sampai di tepi ranjang, kudorong tubuhnya hingga telentang di ranjang. Aku menyusul menindihnya. Kami bergulingan. Dan dengan penuh ketidaksabaran kami saling melucuti pakaian. Aku melucuti pakaiannya, dia melucuti pakaianku. Kami telah siap untuk langsung menuju kenikmatan tak terhingga. Aku telentang di kasur dengan pahaku yang terbuka menjepit tubuhnya. Dia bergerak sedikit mengangkat pantatnya, tangan kirinya menggenggam kontolnya untuk diarahkannya ke memekku. Aku lebih melebarkan pahaku untuk bersiap menerima kontol itu menembus kemaluanku.
Saat bibir vaginaku tersentuh ujung kontol yang mirip pentungan itu, aku langsung memejamkan mataku dan jiwaku seakan melayang ke langit. Aku bergetar. Pantatku kuangkat-angkat sedikit kerena sangat merindukan kontol itu untuk secepatnya terbenam ke kemaluanku.

Seperti biasanya, Basri sangat ahli, ujung kontol itu dimainkan terlebih dulu di gerbang vaginaku untuk memancing cairan birahiku. Tetapi tak perlu memakan waktu lama, karena cairan itu sebenarnya telah mulai keluar sejak aku meremas celananya tadi. Dan tak ayal lagi, kurasakan betapa batangan besar dan hangat itu akhirnya tertelan seluruhnya hingga ke akar-akarnya, masuk dan menembus vaginaku. Seketika itu pula saraf-saraf peka pada dinding vaginaku bekerja menyambut batang itu. Diremas-remasnya kontol Basri. Mengencang dan mengendor bergantian.

"Dduhh, Ibuu.. Bu Aditt.. ennhakk bBHhaanngett.. Bbuu..".
Basri langsung memompakan kontolnya, suara pelirnya yang terayun-ayun memukuli akar kontolnya sendiri, akibat dari ayunan pompa kontol besarnya itu ke lubang memekku. Dan aku sendiri yang mendapat landa kenikmatan tak terhingga ini hanya bisa mendesah dan merintih sambil kepalaku bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti menggeleng-geleng, karena nikmat yang tak mampu kutahan itu.

Kami bersanggama penuh irama dan improvisasi yang mengalir. Sungguh hebat si Basri ini. Tubuhnya di jatuhkan miring. Tanpa mencabut kontolnya, dia angkat kaki kiriku melintasi tubuhnya dan tetap dipegang dengan tangan kirinya. Aku dientotnya dari arah belakang punggungku. Kemudian dengan posisi strategis itu yang membuat ketiakku tepat berada di dekat wajahnya, dia peluk tubuhku dengan tangan kanannya dan lebih didekatkannya ketiakku dan di ciuminya.

Paduan entotan pada vaginaku dan ciuman pada ketiakku ini benar-benar membuatku terlempar jauh melayang dalam gelombang nikmat tak terperikan. Pantatku langsung bergoyang-goyang untuk mempercepat tusukan kontol nikmat milik Basri itu. Aku berteriak kecil dan merintih.
"Mas Basrii.. Mas Basrrii.. Mas Bassrrii..", tidak tahu lagi aku mesti bicara apa.
Setelah posisi itu kami nikmati beberapa saat, Basri membisiki telingaku.
"Bu, nungging donk..", dan segera kurespon.
Aku bergerak menungging, mulai dengan tengkurap, kemudian pelan-pelan kunaikkan pantatku, kemudian lututku mengambil alih peran sebagai tumpuan pantatku. Hebatnya si Basri tetap tidak mau melepaskan kontolnya yang telah menancap pada vaginaku. Itu berarti dia harus mendukung tubuhnya hanya pada dengkulnya. Dan saat akhirnya sepenuhnya aku berhasil menungging, Basri sudah setengah bangkit, seperti anjing jantan, kontolnya masih menancap pada betinanya. Wow..

Kurasakan posisi ini membuat kontol Basri main merangsek dan meruyak kedalaman vaginaku. Titik-titik saraf peka birahiku mengelinjang. Ujung kontol itu mendesak gerbang rahimku. Aku, dengan kepalaku yang bertumpu pada bantal, jari-jari tanganku meremasi tepian bantal-bantalku. Aku merasakan kenikmatan itu seakan air bah yang menghanyutkan seluruh haribaanku. Kenikmatan ini sungguh tak bertara.

Aku mulai merasakan ada desakan ingin kencing dari dalam vaginaku. Ini bukan lagi untuk yang pertama kalinya. Sejak dua hari yang lalu aku sudah merasakan hal seperti ini 4 kali. Dan ini adalah untuk yang ke lima kalinya. Aku akan menyongsong kenikmatan tertinggi seorang wanita dari sanggamanya. Aku akan meraih orgasmeku.
"Acchh.. Mass Basrii.. tolonng akuu.. Basrii.. tolongg..".
Kontol Basri makin cepat memompa. Pantatku berusaha bergoyang untuk menangkap nikmat pompaan Basri. Kami mulai merasakan berada di gerbang kenikmatan puncak. Basri melepas payudaraku yang sejak aku menungging tadi diremas-remasnya. Kini dia bangkit dengan tangannya menekan pinggulku. Itu artinya nafsu Basri sudah tak mungkin dia bendung lagi.

Kocokan kontolnya makin cepat, "in & out" ke lubang vaginaku. Aku sendiri tak mampu menahan keinginan rasa ingin kencingku. Aku menggoyang-goyangkan pantatku dengan memepertegas desahan dan rintihanku untuk memacu nafsu Basri.
Dan akhirnya.. Bertetes-tetes sperma Basri terasa menghangatkan memekku. Sedetik berikutnya, orgasmeku datang. Cairan birahiku membanjir. Pompaan kontol Basri tidak langsung berhenti saat menembak lubang vaginaku dengan spermanya. Dan akibatnya dari celah ketat antara batang kontol dan bibir vaginaku nampak busa-busa cairan birahiku bercampur sperma Basri muncrat dan meleleh setiap kali kontol Basri masuk maupun keluar dari lubang kemaluanku.

Kemudian lama-lama melambat dan akhirnya diam. Kami bersama-sama rebah di ranjang. Kecuali nafas-nafas panjang yang terdengar, yang lainnya sepi. Terdengar anjing tetangga menyalak, seakan ada yang lewat. Terdengar kucing mengejar betinanya di genting. Terdengar tukang mie menawarkan dagangannya. Aku melirik ke Basri dan saling bertemu pandang. Kami masing-masing meraih kepuasan. Untuk sementara rasa penasaran Basri telah reda.

Jam menunjukkan pukul 10.40 malam. Basri bangkit dari ranjang dan turun ke kamar mandi. Kubiarkan saja dia, mungkin dia perlu buang air kecil. Aku masih menginginkan ada lanjutannya. Aku selalu belum tuntas kalau mulutku belum dientot lelaki yang mengencaniku. Dan Basri harus menyelesaikannya. Aku yakin dia akan menyelesaikannya dengan baik dan aku akan meraih kepuasan darinya untuk yang kedua kalinya.

Ternyata memang sekembalinya dari kamar mandi, kontolnya sudah terlihat tegak kembali. Aku yakin, lelaki seperti Basri ini tidak akan cukup dengan hanya sekali spermanya muncrat pada setiap bersetubuh dengan perempuan. Dia kembali mendekat ke ranjang. Aku cepat meraih kontolnya yang sebesar pentungan satpamnya. Kuelus dengan jari-jariku dan kulihat wajahnya. Dia menutup matanya menikmati sentuhan jari-jari lembutku. Aku senang dia menutup matanya itu. Bibirku mendekat, kuulurkan lidahku ke belahan lubang kencingnya. Kurasakan, lidahku merasakan sebagian air kencingnya yang masih tertinggal di belahan lubang itu. Aromanya mendekati bir yang baru terbuka botolnya. Keras dan ada sedikit pesingnya. Kujilati hingga bersih dari sisa-sisa tetesan air kencingnya. Aku sangat menikmati kesempatan langka ini.

Kulihat kembali wajahnya. Ternyata dia telah membuka matanya dan memperhatikan lidahku yang sedang menjilat-jilat.
"Bu Adit, enak banget ketika bibir Bu Adit menyentuh kontol saya. Dan ketika lidah Ibu menjilat.. aku tidak pernah membayangkan ada wanita secantik Ibu mau menjilat kontol saya. Bahkan sisa-sisa kencing saya, Bu", kata Basri sambil tangannya mengelus rambutku yang terurai panjang.

Mendengar pembicaraannya itu, terbit kenakalanku. Aku ingin melihatnya benar-benar blingsatan, ingin mendengar rintihan nikmatnya yang luar biasa, ingin melihat bagaimana jika tubuhnya menggeliat-geliat dengan penuh gelinjang karena merasakan jilatan dan kuluman nikmat dari mulutku. Kugenggam kontolnya, kunaikkan dan kupepetkan ke perutnya. Wow, panjangnya adalah hingga ujungnya menyentuh pusarnya.

Saat itu pelirnya berada tepat di depan bibirku. Tentu saja lidahku langsung bekerja dipadu dengan bibirku yang menyedot-nyedot biji pelirnya itu. Dia mulai gelisah. Pantatnya bergoyang, ingin menekankan pada mulutku. Kemudian aku mengubah posisi dengan turun dari ranjang. Dan Basri kudorong hingga telentang di kasur dengan kedua kakinya tetap terjuntai ke lantai. Kini aku sepenuhnya memegang 'komando'. Dengan tetap kugenggam kontolnya, lidahku mulai menjilat selangkangannya.

Bau keringatnya yang sangat alami karena telah seharian terjemur dalam tugasnya, sangat merangsang libidoku. Bau alami seperti ini terkadang jauh lebih merangsang dari pada para pria pesolek seperti Rendi dan teman-temannya yang suka dengan parfum, bedak atau pewangi lainnya. Benar juga. Lidahku di selangkangannya membuat Basri seperti orang tenggelam di laut, gelagapan dengan nafasnya yang terputus-putus memburu. Tangannya terus mengacak-ngacak rambutku yang istri bossnya ini.

Saat aku menjilat lebih ke bawah lagi dan mengarah ke anusnya, pantatnya dia angkat-angkat sambil kakinya di tekankan ke pinggiran ranjang menahan kegelian yang amat sangat. Ah, tanggung.. kubalik saja badannya hingga posisinya tengkurap, kemudian tanganku memberi isyarat agar Basri sedikit menungging. Dia patuh. Dengan lututnya sebagai tumpuan dia bukan lagi sedikit, tetapi benar-benar menungging. Inilah saatnya Basri akan merasakan bagaimana aku, istri Pak Adit atasannya akan menjilati duburnya.

Kusapu dulu bukit pantatnya dengan lidahku sambil hidungku berusaha menangkap aroma anusnya. Wow, dia langsung menggelinjang dengan suara rintihan yang menimbulkan rasa horny. Tangannya menggapai-gapai untuk berusaha meraih kembali rambutku. Dan lidahku tak lagi berputar-putar, tetapi langsung kubenamkan pada analnya. Basri benar-benar blingsatan. Kini tangannya yang telah meraih rambutku menariknya kencang-kencang hingga kulit kepalaku terasa pedih. Aku sangat menikmati hal ini. Aku semakin bersemangat menjilat dan menyedot-sedot pantatnya, sementara tangan kiriku meraba dan kemudian meraih kontolnya yang bergelantungan di bawah perutnya dalam keadaan ngaceng berat. Tanganku mengocok lembut kontol itu.

Setelah beberapa saat hal itu berlangsung, terdengar desahan dan rintihan Basri yang menandakan bahwa spermanya akan muncrat. Cepat kudorong kembali tubuhnya untuk telentang. Kucaplok kontolnya, kukulum dan kupompa dengan mulutku. Basri ingin aku memompa dengan cepat. Dan dengan lolongan seperti serigala di malam hari, Basri menjerit kecil dengan disertai tumpahnya sperma ke mulutku. Aku merasakan kehangatan adanya lendir-lendir yang menyemprot dan memenuhi mulutku. Aku kecap sperma Basri dan kutelan. Tak setetespun yang tercecer. Kami kembali rubuh ke kasur. Aku teramat sangat lelah. Ini mungkin adalah akumulasi kelelahan yang tak begitu kurasakan sejak kepergianku dari Bogor tadi. Aku terlena sesaat.

Saat Basri membangunkanku untuk pamit pulang, kulihat dia sudah rapi dengan pakaiannya kembali. Aku bergegas berpakaian. Aku sengaja tidak ke kamar mandi dulu. Nanti saja. Ada kenikmatan erotis tersendiri untuk menahan sperma yang masih mencemari tubuhku. Kuantarkan Basri ke pintu. Dia harus cepat pergi dari rumahku. Saat telah siap semuanya, aku mendekat dan memagutnya dalam-dalam. Sesaat kami saling bertukar ludah dan lidah.
"Mas Basri, ntar kita cari waktu lagi, ya. Aku ingin dientot terus menerus sama Mas Basri. Kontolmu ini sangat membuatku mabuk. Aku masih belum puas".

Kontol Basri yang masih kugenggam langsung berdiri kembali. Aku tahu, kalau saja kutahan dia, Basri akan dengan senang hati tinggal. Mungkin sampai pagi. Tetapi kubimbing saja dia ke pintu, karena dia memang harus pergi dari rumahku sekarang. Tepat pada pukul 11.10 Kijang Basri sudah meninggalkan rumahku. Aku tidak langsung mematikan lampu-lampu. Bahkan aku masih sempat berjalan-jalan di taman rumahku, seakan-akan memperhatikan tanaman-tanaman bungaku yang memang setiap hari kurawat dengan penuh kecintaan.

Tetanggaku, Pak Taslim baru saja lewat bersama anaknya dari warung sebelah. Setelah pintu halaman kukunci, pada pukul 11.30 malam baru aku masuk rumah. Pintu utama kututup dan kukunci. Lampu-lampu yang tidak penting kumatikan. Baru aku menuju peraduan dengan masih menyimpan sperma Basri dalam nonokku dan sebagian sperma kering yang masih belepotan di sekitar mulutku. Aku nikmati terus agar selalu merasa dekat dengannya. Selama 2 hari berselingkuh dengan 4 lelaki teman kantor suamiku, aku baru merasakan bahwa hanya dengan Basrilah aku mendapatkan keaslian sifatnya. Bayangkan, dengan pendidikannya yang hanya dapat membuatnya menjadi satpam, dia berani melakukan sesuatu loncatan keluar jauh dari 'orbit'-nya, dia entoti aku yang merupakan istrinya bossnya di kantor, Mas Adit.

Bogor, April 2003

Tamat


ini berawal dari suati Siang saat aku sendirian di rumah. Ayah, Ibu dan adik-adikku sedang ada acara masing-masing. Aku yang memang sedang tidak ada acara, bertugas untuk menjaga rumah. Daripada tidak ada kerjaan dan melamun sendirian, aku berniat untuk membersihkan rumah. Baca cerita dewasa daun muda tita mantan pacar adikku selengkapnya disini.
“Aku mau memberikan kejutan yang baik kepada orang-tuaku…” pikirku waktu itu.
Ketika aku sedang membersihkan kamarku (waktu itu aku masih tidur berdua dengan Dewi, adikku yang bungsu), aku menemukan foto Dewi dengan mantan pacarnya waktu SMU yang bernama Herland. Keluargaku dan Herland sudah cukup dekat, bahkan dia sudah aku anggap sebagai adik kandungku sendiri. Tapi sejak Dewi putus darinya dan sudah memiliki pacar baru, Herland mulai jarang main ke rumah.
Tiba-tiba aku yang kangen dengan Herland karena sudah jarang bertemu, sempat berpikir kenapa tidak aku undang saja dia main ke rumah. Kemudian aku mengirim SMS ke nomer Herland yang masih aku simpan di Handphone-ku. Aku sengaja tidak memberitahukan kalau keluargaku sedang tidak ada di rumah semuanya, termasuk Dewi. Takut saja kalau Herland nanti merasa segan untuk main ke rumah. Aku sebenarnya berencana mau menjodohkan lagi Dewi dengan Herland agar dapat berpacaran kembali. Siapa tau dengan mengundang Herland ke rumah semuanya akan sesuai dengan rencana.

Sesaat setelah mengirimkan SMS, aku melanjutkan membersihkan kamarku yang sempat terhenti sesaat, sambil menunggu balasan darinya. Sesekali aku melihat Handphone-ku apakah sudah ada balasan dari Herland atau belum, namun cukup lama menunggu aku belum juga mendapatkan balasan darinya. Sampai akhirnya aku lupa sendiri dan larut dalam pekerjaanku.
Ketika membereskan lemari baju di kamar adikku yang cowok, aku menemukan sekeping DVD tanpa cover. Karena penasaran aku mencoba menyetel DVD tersebut di ruang tengah.
Di layar TV sekarang terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke payudara. Si cewek tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Badanku gemetar dan jantungku berdegup kencang karena ternyata DVD tersebut adalah Blue Film.
Aku yang tadinya berniat menghentikan film tersebut dan mengembalikan ke tempatnya, memutuskan untuk melanjutkan saja. Di tengah-tengah film, pikiranku menerawang mengingat saat terakhir aku dan teman-teman kampus Dewi menonton DVD seperti itu yang dilanjutkan bersetubuh dengan mereka.
Birahiku tiba-tiba saja semakin tinggi. Aku memang sudah seminggu ini tidak melakukan masturbasi. Sehingga selama menonton, tanpa sadar bajuku sudah tidak karuan. Kaos berwarna hitam yang aku pakai, sudah terangkat sampai di atas payudara. Kemudian Bra-ku sudah dalam keadaan terlepas. Kuelus-elus sendiri payudaraku sambil sesekali kuremas. Sungguh enak sekali rasanya, apalagi kalau sampai terkena putingnya.
Celana pendekku sudah aku turunkan sampai sebatas mata kaki, lalu tanganku aku masukan ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya sungguh luar biasa! Semakin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tangan kananku semakin cepat menggosok klitoris, sementara yang satunya sibuk meremas-remas toketku sendiri.
“Oohh.. Ooohh..” desahku yang sudah merasa hampir mencapai orgasme.
Tiba-tiba, pintu depan diketok. Tentu saja aku gelagapan memakai pakaianku yang terbuka disana-sini. Setelah itu aku mematikan DVD player tanpa sempat mengeluarkan Disc-nya.
“Aduh gawat…!!” pikirku panik.
“Siapa ya? Apa jangan-jangan Ayah dan Ibu? Tapi kan baru sebentar…” aku mulai kuatir.
Dengan terburu-buru aku membukakan pintu. Ternyata di depan pintu berdiri sosok yang sudah aku kenal, yaitu Herland mantan pacar adikku.
“Halo Teteh! Tadi SMS Herland ya? Maaf ya udah lama gak main nih…” katanya dengan ceria.
“Kirain Herland gak bisa datang? Kok nggak jawab SMS Teteh dulu sih?” tanyaku.
“Emang sengaja Teh. Kan Herland mau ngasih surprise sama keluarga mantan pacar nih…” jawabnya sambil tersenyum cuek.
“Oh gitu? Teteh kirain Herland udah nggak mau lagi main ke rumah…” candaku sambil mempersilakan duduk di ruang tamu.
Herland tersenyum mendengar candaku, mungkin dia juga sudah sangat kangen dengan sikap akrab yang diberikan oleh keluargaku.
“Kok sepi banget sih Teh? Yang lain lagi pada kemana?” tanyanya bingung melihat suasana rumahku yang lengang.
“Sedang ada acara masing-masing tuh. Dewi juga lagi pergi sama temannya, jadi di rumah cuma ada Teteh doang. Maaf ya Teteh gak kasih tau Herland sebelumnya. Abisnya Teteh juga udah lama gak ngobrol sama Herland sih…” aku mencoba menerangkan dan berharap Herland dapat maklum.
Terus terang saja, aku sudah sangat kangen dengan Herland. Ternyata Herland pun mau mengerti maksudku. Apalagi dia juga sudah menganggap keluargaku seperti keluarga sendiri, dia saja memanggil namaku dengan ‘Teteh’ berbeda dengan kebanyakan teman-teman Dewi yang memanggilku dengan ‘Kakak’. Maklum saja keluarga Herland termasuk Broken Home, tapi tidak berarti dia nakal seperti layaknya anak yang tumbuh tanpa pengawasan orangtua.
Karena sudah lama aku tidak mengrobrol dengan Herland, kami berbicara banyak mengenai berbagai hal. Aku juga sempat memperhatikan di usianya yang menginjak 17 tahun, ia mulai tumbuh sebagai seorang pria dewasa. Walaupun secara fisik wajahnya yang terbilang biasa saja belum banyak berubah, tinggi badannya juga masih tidak berbeda denganku, hanya sekitar 160 cm. Tapi sikapnya yang sekarang sudah jauh lebih dewasa.
Setelah cukup lama mengobrol, aku baru sadar kalau tubuhku dalam keadaan kotor setelah berberes rumah. Aku kemudian pamit dengan Herland untuk mandi. Setelah aku selesai mandi dan berpakaian, aku mengajaknya untuk makan siang bersama. Di saat makan, aku merasa Herland terus memperhatikan tubuhku yang saat itu memakai kaos putih ketat dan hotpants warna kulit.
“Huh, dasar cowok! Dimana-mana sama aja…!” omelku dalam hati.
Namun aku bisa memaklumi dia, karena pasti tubuh mungilku saat itu terlihat sangat sexy dan menggiurkan.
“Ada apa Land? Kok ngelamun sih? Lagi mikirin Dewi ya?” aku berpura-pura menanyakan hal lain untuk menyadarkan lamunannya.
“Ah, enggak kok Teh. Dewi kan sekarang udah punya pacar baru…” ujar Herland sekenanya.
“Herland jangan pulang buru-buru yah. Tadi Teteh udah kasih tau ke Dewi kalau Herland sedang ada di rumah…” kataku berharap supaya Herland dapat lebih lama di sini.
“Iya deh Teh. Herland juga mau di sini dulu sampe semuanya pulang…” jawabnya.
“Ya udah, Herland nonton TV dulu aja. Teteh mau masuk ke kamar dulu. Mau istirahat sebentar…” lanjutku.
“Ya udah Teh, nggak apa-apa kok. Teteh istirahat aja dulu…” kata Herland.
Setelah pamit ke Herland, aku beranjak masuk ke kamar tidur. Setelah menutup pintu kamar, aku bercermin. Wajahku terbilang manis, kulit kuningku juga bersih dan mulus karena sering luluran. Walaupun badanku mungil, tapi terbilang proporsional. Bajuku kemudian aku lepas dan mencopot Bra-ku, karena aku terbiasa tidur tanpa menggunakan Bra. Kemudian aku memperhatikan payudara milikku yang berukuran kecil namun kencang, dan tentu saja semakin membuat tubuhku tampak indah, karena sesuai dengan postur mungilku.
Aku tersenyum sendiri melihat hotpants-ku yang memang membuat aku tampak sexy. Pantas saja Herland sampai memperhatikan tubuhku seperti itu. Aku yang dalam keadaan cukup lelah, merebahkan diriku sebentar di atas kasur tanpa memakai kaos dan mencoba beristirahat sejenak. Belum lama beristirahat, aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah yang tepat berada di depan kamarku. Astaga! Aku baru ingat, itu pasti suara dari DVD porno yang lupa aku keluarkan tadi. Apa Herland sedang menyetelnya? Penasaran, aku pun bangkit dari tempat tidurku, dengan terburu-buru aku memakai kaos tanpa sempat memakai Bra terlebih dahulu, kemudian dengan perlahan-lahan aku keluar dari kamarku.
Begitu aku membuka pintu kamar, aku melihat pemandangan yang mendebarkan. Herland sedang berada di karpet depan TV sambil mengeluarkan penisnya dan mengocok-ngocoknya sendiri. Ternyata penisnya cukup besar juga untuk anak seusia dia, kurang lebih sekitar 14 cm dan sudah tampak tegang sekali.
Aku berpura-pura batuk, kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Herland dan ikut duduk disampingnya. Dia tampak kaget menyadari aku sudah berada di sampingnya. Lalu dengan terburu-buru dia memasukkan penisnya ke dalam celananya lagi.
“Eh, Te…teh ga-ak jadi istira…hat ya…?” kata Herland salah tingkah.
Kemudian dengan wajah panik dia mengambil remote DVD dan hendak mematikan filmnya.
“Iya nih Land, gerah banget di dalam. Eh, filmnya nggak usah dimatiin. Kita nonton berdua aja yuk! Kayaknya seru tuh…” ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan payudaraku yang hanya terbungkus oleh kaos putih ketatku saja.
“Hah? Teteh mau i-ikut nonton…? Jangan Teh Herland malu…” katanya gugup.
“Kok Herland masih malu? Kayak sama siapa saja. Herland kan sudah seperti keluarga sendiri, masa masih malu sama Teteh?” kataku meyakinkannya.
“I-iya deh…” jawab Herland dan tidak jadi mematikan DVD-nya.
Dengan santai aku duduk di samping Herland sambil ikut menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga hotpants-ku semakin tertarik dan memperlihatkan paha mulusku. Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan bintang porno itu memang sungguh menakjubkan, mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik ke arah Herland yang sejak tadi bergantian antara memandangi adegan panas tersebut dan terkadang juga melihat ke arah paha dan payudaraku. Terlihat ia berkali-kali menelan ludahnya. Nafasku juga mulai memburu karena terangsang melihat Film tersebut.
“Land, kamu udah pernah bersetubuh?” tanyaku tiba-tiba.
“Eh, kok Teteh tau-tau nanya kayak gitu sih?” jawab Herland bingung.
Herland agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah puting payudaraku yang tercetak pada kaos putihku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga sekarang cetakan vagina pada Hotpants-ku terlihat jelas.
“Gak usah malu Land. Teteh bisa jaga rahasia kok…!” tanyaku semakin penasaran.
“Belum pernah kok Teh… Beneran deh!” jawab Herland tersipu.
“Tapi kamu udah sering nonton Film kayak gini kan?” pancingku.
“Lumayan sering sih Teh. Tapi paling Herland nontonnya rame-rame, atau kalo lagi nonton sendirian sambil ngocok deh…” jawabnya mulai santai.
“Land, menurut kamu Teteh cantik gak sih?” lanjutku terus menggoda Herland.
“Iya Teh! Sebenernya dari dulu Herland udah merhatiin kalo Teteh tuh cantik…” timpal Herland.
Merasa dipancing seperti itu Herland mulai memberanikan diri untuk memegang tanganku. Aku sedikit kaget, namun membiarkan tanganku dibelai oleh telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Herland basah oleh keringat karena gugup. Karena aku biarkan, dia terus membelai-belai bagian tangan seraya perlahan-lahan mulai naik untuk mengusap pergelangan tanganku. Aku pasrah saja ketika Herland memberanikan diri melingkarkan tangannya pada bahuku. Namun tampaknya ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil terus memeluk bahuku, tangan kanannya mulai berani memegang-megang payudaraku.
“Enak ya Teh diginiin…?” tanya Herland disela permainan tangannya.
“Emph… Emph…” aku hanya merintih menikmati remasan Herland pada payudaraku.
Sambil memegang payudaraku, dengan ganas Herland mulai menciumi bibir dan leherku. Akupun dengan tak kalah ganasnya membalas ciuman-ciumannya. Keganasan kami berdua membuat suasana ruangan ini menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Setelah beberapa menit kami berciuman, aku yang sudah terangsang berat berniat untuk melanjutkan ke bagian yang lebih jauh lagi.
“Land… Sebentar deh. Teteh buka kaos dulu ya…” kataku menghentikan pegangannya.
Herland hanya mengangguk mendengar kata-kataku. Tentu saja dia pasti sudah tidak sabar untuk melihat payudaraku yang tanpa terbungkus apa-apa.
“Land, payudara Teteh bagus gak?” ketika aku sudah mencopot kaos ketatku sehingga payudaraku sudah terpampang jelas di hadapannya.
“Ba-bagus Teh…!” jawabnya dengan terbata-bata.
Herland tampak melotot menyaksikan bagian atas tubuhku yang menggoda. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang dan melanjutkan perbuatanku. Merasa terus dipancing seperti itu, Herland tampaknya tidak tahan lagi. Ia langsung melumat bibirku sambil meraba-raba payudaraku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Aku memejamkan mata meresapinya, Herland semakin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya berusaha memainkan vaginaku dari luar. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku sehingga lidahku pun ikut bermain. Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk mengikuti arus permainan. Dengan kuluman lidah Herland yang agresif, ditambah remasan-remasan telapak tangannya pada kedua payudaraku, birahiku pun dengan cepat naik. Sementara di bawah sana kurasakan tangan Herland sudah mulai meraba pahaku yang mulus.
“Aaaaahh Herlaaand…. Aaaahhhhhhh….” aku mendesah panjang merasakan nikmat yang melanda diriku.
“Mulus banget paha Teteh! Bikin gemes Herland aja nih…!” sahut Herland sambil tangannya merayap naik lagi ke selangkanganku.
“Sekarang giliran Teteh yang liat badan Herland!” pintaku kepada Herland.
Herland yang tadinya malu-malu semakin salah tingkah mendengar permintaanku. Karena sudah sangat bernafsu aku memaksa Herland untuk mencopot seluruh pakaiannya hingga dia bugil. Aku semakin terangsang melihat tubuh bugil Herland dari dekat. Badannya walaupun agak kurus tapi cukup berotot. Penisnya sudah mengacung tegak dan membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalau waktu dulu ngebayangin bentuk penis cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.
“Wah penis kamu udah tegang banget Land! Bentuknya bagus… Teteh boleh isep ya…!?” tanyaku tidak sabar.
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang kemaluannya dengan semangat.
“Slurp… Slurp… Slurp… Mmmh! Slurp… Slurp… Slurp… Mmmh…” penis Herland terasa nikmat sekali di mulutku.
“Teh… Aaaah… Enaaakk…! Dari dulu emang Herland pengen banget ngerasain mulut Teteh ngisep kontol Herland. Akhirnya kesampaian juga…!” katanya sambil terus menikmati hisapanku pada penisnya.
Aku semakin bernafsu menghisap penisnya, terkadang aku juga menjilat buah zakarnya sehingga Herland mulai mendesah.
“Hmm… nikmat banget penis kamu Land!” kataku memuji kenikmatan penisnya.
“Aaaaahh.. Eeennakk banget! Teteh udah pengalaman yah?” ceracau Herland menikmati hisapanku.
Aku hanya melanjutkan hisapanku tanpa menghiraukan pertanyaan Herland. Setelah beberapa menit merasakan hisapanku pada penisnya, Herland akhirnya tak kuat lagi menahan nafsu. Didorongnya tubuhku hingga terlentang di karpet, lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam dan ikut bekerja meremas-remas payudaraku.
“Ahh… Mmmh.. Uuuh.. Eenak Land…” desahku keenakan.
Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.
“Auwh… Nikmaaaat bangeett… Aaah…!” desahanku semakin kencang.
Aku menggelinjang, tapi tanganku justru semakin menekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke arah vaginaku. Tangannya menarik Hotpants dan celana dalamku. Mata Herland seperti mau copot melihat vaginaku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
“Vagina Teteh bagus gak Land bentuknya..?” tanyaku penasaran.
“Bagus banget Teh! Herland suka banget memek yang nggak ada bulunya kayak gini. Mana masih rapet banget lagi…” jawabnya.
Sekarang tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Lalu dengan lembut Herland membelai permukaan vaginaku. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya meremas-remas dadaku.
“Sshhhh…” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya mulai menekan bagian tengah kemaluanku.
Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku sudah mulai naik, mengucurlah cairan pra-orgasmeku. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli sekaligus nikmat di bawahku sehingga tangan Herland terhimpit diantara kedua paha mulusku.
“Eemmhh… Enaaaakk bangeettt…!” aku terus mendesah membangkitkan nafsu Herland.
Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh cairan bening yang kukeluarkan. Dia jilati cairanku dijarinya itu, aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia cucukkan lagi tangannya ke kemaluanku, kali ini dia mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang mengelapnya.
Setelah puas memainkan jari-jarinya di vaginaku, kurasakan Herland mulai menjilati pahaku yang mulus, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Kemudian Herland membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar, aku hanya dapat bergetar saat kurasakan lidahnya menyusup ke pangkal pahaku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya sungguh nikmat, geli-geli enak seperti mau pipis. Herland terus menjilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil klitorisku atau terkadang dihisapnya dengan kuat. Tangannya juga terus mengelus paha dan pantatku yang mempercepat naiknya libidoku.
“Aaahh Herlaaannnd!! Uuuhh.. Eenak… Terus…!” jeritku.
“Slurp… Slurp… memek Teteh gurih banget… Mmmh… Slurrrppp…” katanya disela-sela menjilati vaginaku yang sudah mulai basah.
Herland terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi. Tidak sampai lima menit, tubuhku mulai mengejang, rasa nikmat itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku.
“Aaaaaaaaaahh…” aku menjerit panjang merasakan nikmat pada seluruh tubuhku.
Tampaknya aku mencapai orgasme yang pertama akibat permainan jari ditambah dengan jilatan-jilatan lidah Herland pada vaginaku.
Aliran orgasmeku diseruputnya dengan bernafsu. Aku mendesis dan meremas rambutnya sebagai respon atas tindakannya. Vaginaku terus dihisapinya selama kurang lebih lima menitan. Sensasi itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah kemudian Herland melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.
“Emang enak banget deh cairan memeknya Teteh…!!” puji Herland kepadaku.
“Herland jago banget sih bisa bikin keluar Teteh…” aku juga ikut memuji Herland.
“Teteh udah keluar kan? Sekarang giliran Herland yah…” pintanya.
“Herland mau Teteh apain?” tanyaku yang masih dalam keadaan lemas karena baru mencapai orgasme.
“Sepongin kontol Herland lagi dong! Abisnya bikin ketagihan sih!” jawab Herland.
Lalu Herland duduk di sofa sambil kembali memamerkan penis miliknya yang sudah sangat tegang. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis itu, pertama kukocok dengan lembut kemudian semakin cepat dan pelan lagi. Hal itu tentunya semakin memainkan birahi Herland.
“Aaaah… Teteeeeh…! Enaak bangeeet…” Herland semakin mendesah kencang.
Setelah puas mengocok-ngocok penisnya, aku mulai menjilati batangnya dengan pelan. Mungkin karena Herland sudah dikuasai hawa nafsu, dengan setengah memaksa dia mengarahkan batang penisnya ke mulutku yang dan kemudian menjejali penisnya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu ke mulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma khas pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya. Lalu kupakai ujung lidahku untuk menyeruput lubang kencingnya. Hal itu membuat Herland blingsatan sambil meremas-remas rambutku.
“Sluurpp… Sluuuurp… Mmmmmh..” desahku sambil menikmati setiap jengkal penisnya.
“Enak ya Land…? Hmm…?” tanyaku sambil mengangkat kepala dari penis Herland dan menatapnya dengan senyum manisku
“Enaaak banget Teh…” Herland mendesah-desah keenakan.
Herland mulai mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua payudaraku. Aku semakin bernafsu mengulum, menjilati dan mengocok penisnya. Kusedot dengan keras penis hitam itu. Kubuat pemiliknya medesah-desah, aku juga memakai lidahku untuk menyapu batangnya. Aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajah Herland akibat teknik oralku.
“Oooh… Terus Teehh… Herland hampir keluar…!” Herland semakin mendesah.
Karena Herland sudah hampir keluar, aku melepaskan hisapanku pada penisnya dan mulai mengocoknya. Aku semakin bersemangat memainkan penis miliknya yang kepalanya sekarang berwarna lebih kehitaman. Semakin lama aku semakin cepat mengocoknya.
“Aaahh… Herland keluaaaarrr Teeeh..!!” desahan Herland semakin kencang.
“Croot.. Croot..” tak lama kemudian penisnya menyemburkan sperma banyak sekali sehingga membasahi rambut mulut, wajah, payudara dan hampir seluruh tubuhku. Dengan sigap aku menelan dan menjilati sperma Herland seperti seorang yang menjilati es krim dengan nikmatnya. Aku benar-benar menikmati permainan ini.
“Eeehhmmm… Sluuurp…” aku terus menikmati menghisap penisnya.
Kemudian aku meneruskan untuk mengusap dan aku jilati semua spermanya yang berceceran di tubuhku sampai tak tersisa. Lalu aku hisap penisnya dengan kuat supaya sisa spermanya dapat kurasakan dan kutelan. Setelah aku yakin spermanya sudah benar-benar habis, aku melepaskan hisapan pada penisnya, kemudian benda itu mulai menyusut pelan-pelan.
“Nikmatnya sperma kamu Land…” bisiknya mesra seraya menjilat sisa-sisa spermanya yang masih menempel pada bibirku.
“Obat awet muda ya Teh…” kata Herland bercanda.
“Yaa begitulah… Makanya Teteh tetep awet muda kan?” aku ikut membalas candanya.
Walaupun sudah sempat mencapai orgasme, namun birahiku belum juga padam. Aku berpikiran untuk melanjutkan permainan kami ke tahap selanjutnya.
“Land.. Ayo sekarang masukin penis Herland ke vagina Teteh! Udah nggak tahan nih…” perintahku yang masih dikuasai hawa nafsu.
Tanpa pikir panjang lagi, Herland lalu mengambil posisi duduk, kemudian diacungkan penisnya dengan ke arah lubang vaginaku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan penisnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang penisnya itu ke dalam vaginaku.
“Uuhh… Nnggghhh…!” desisku saat penis yang sudah sangat keras itu membelah bibir kemaluanku.
“Teteh mau tau apa yang pengen Herland lakuin ke Teteh dari dulu? Herland pengen ngentot Teteh sampai ketagihan…!!” katanya sambil tersenyum nakal.
“Aaaauw… Pelan-pelan dong Land… Aaakh…” desahku sedikit kesakitan.
Walaupun sudah tidak perawan lagi, tapi vaginaku masih sempit. Mungkin juga karena penis Herland termasuk besar ukurannya.
“Auuhh.. Enaaak Land…” desahku yang semakin merasakan nikmat.
Herland tampak merem-melek menahan nikmat. Tentu saja karena Herland baru pertama kali melakukan ini. Lalu dengan satu sentakan kuat penisnya berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.
“Aaaahh… Nikmaat bangeett Laaand….” teriakku.
Aku melonjakkan pantatku karena merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kurasakan cairan hangat vaginaku mengalir di pahaku. Masa bodoh dengan status Herland yang adalah mantan pacar adikku! Sudah kepalang tanggung pikirku, aku ingin merasakan nikmatnya bersetubuh hingga orgasme dengan Herland. Sesaat kemudian Herland memompa pantatnya maju mundur.
“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!” suara penisnya sedang keluar masuk di vaginaku.
“Aakh…! Aaaakh…! Nikmaaat banget… Laand…” aku meneriakkan nama Herland.
Aku menjerit-jerit karena merasakan nikmat yang luar biasa saat itu. Vaginaku yang sudah basah sekarang dimasuki dengan lancar oleh penis Herland yang sangat tegang itu.
“Ooh… Lebih keras lagiii Laand… Lebih cepaaat…” jeritku kenikmatan.
Keringat kami yang bercucuran menambah semangat gelora birahi kami. Tapi Herland malah mencabut penisnya, mungkin ia lelah dengan posisi ini.
“Dasar ABG…!” umpatku dalam hati.
Aku jadi tidak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga telentang. Kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya, dengan birahi yang memuncak kuarahkan batang penis Herland untuk masuk ke dalam liang vaginaku.
“Ooooooh.. Herlaannddd…!!” aku menjerit keenakan.
Lalu dengan semangat aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.
“Ouuh.. Memek Teteh enak bangeeet…! Penis Herland serasa dipijat…” desahnya.
“Uggh.. Uuuh.. Penis Herlaaand… Juga nikmaat…” aku juga memuji keperkasaan penisnya.
Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat. Karpet di ruangan ini pun sudah basah oleh cairan sperma Herland maupun lendir yang meleleh dari vaginaku. Namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami, kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang. Aku menghujamkan vaginaku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh tubuhku bergetar hebat.
“Teeeh… Herland bentar lagi keluar nih…!” erangnya panjang sambil meringis.
Hal yang sama pula dirasakan olehku, aku tidak sanggup lagi menahan gelombang orgasme yang menerpaku demikian dahsyat.
“Aaaaaah… Teteeeh juga udah mau keluar Land…!! Kita keluar sama-sama Land…!!” aku berteriak kencang karena sudah hampir mencapai orgasme.
“Oooohh… Teeehhh… Aaaaaahh…!!” Herland berteriak panjang.
Goyanganku semakin kupercepat dan pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat. “Cret.. Cret..” kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada saat yang bersamaan. Aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, sedangkan vaginaku juga mengeluarkan cairan yang sangat banyak, tanda aku sudah mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya. Dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan kami. Aku memeluk erat-erat tubuh Herland sampai dia merasa sesak karena aku memeluknya dengan sangat kencang. Kami seakan sudah tidak peduli bila tetangga sebelah rumahku akan mendengarkan jeritan-jeritan kami.
Herland mencabut penisnya vaginaku dan akhirnya kami berdua hanya bisa tergeletak lemas di atas karpet dengan tubuh bugil bermandikan keringat.
“Aaahh… Land… kamu hebaaat banget Land…” pujiku sambil mengistirahatkan tubuh yang sudah lemas ini.
“Herland ju… ga Teh… Haaah…. Haaaah… Terima kasih untuk kenik… matan ini… Belum pernah Herland merasakan nikmat yang luar biasa seperti ini…” jawab Herland sambil terengah-engah seraya mengecup keningku dengan mesra.
Setelah merasa kuat untuk bangun, kami berdua beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sperma, keringat dan liur. Tapi di kamar mandi kami tidak melakukan persetubuhan lagi, melainkan hanya berciuman dengan mesra saja, karena kami takut tiba-tiba Dewi atau keluargaku yang lain akan segera pulang. Siraman air pada tubuhku benar-benar menyegarkan kembali pikiran dan tenagaku setelah seharian penuh ‘bermain’ dengan Herland.
Kami berdua pun membersihkan ruang di sekitar ‘medan laga’ tadi dengan menyemprot pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi. Setelah beres, kami pun sedikit berbincang mengenai kejadian tadi. Aku yang sempat ragu apa benar Herland belum pernah bersetubuh, karena dia sudah terlihat ahli, bertanya lagi kepadanya. Ternyata dari pengakuannya, memang Herland belum pernah melakukan persetubuhan dengan siapapun, termasuk Dewi. Herland mengaku melakukan ini hanya berdasarkan yang dia lihat dari DVD ataupun internet saja.
Di dalam pikiranku, aku juga merasa bersalah sekaligus kasihan kepada Dewi yang belum sempat merasakan nikmatnya penis Herland. Tentu saja kehilangan keperjakaan dengan kakak mantan pacarnya adalah pengalaman yang sangat mengesankan bagi Herland. Dia berharap kami dapat melakukannya lagi kapan-kapan. Aku pun juga berharap dapat menikmati penis Herland lebih sering lagi.


Sebut saja namaku Otong (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik & manis. Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Ita (tapi aku memanggilnya Tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang tahun ini baru masuk TK nol kecil. Warung Tante Ita buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya.

Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang…, apa ya..?, Oh ya rokok, tapi setelah aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), aku jadi ragu, apa warung Tante Ita masih buka ya…?, Ah…, aku coba saja kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Ita belum tutup, tapi kok sepi…, “Mana yang jualan”, batinku.
“Tante…, Tante…, Dik Krisna…, Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.
Ah kucoba panggil sekali lagi, “Permisi…, Tante Ita?”.
“Oh ya…, tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.
Yang keluar ternyata Tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas.
“Oh…, maaf Tante, Saya mau mengganggu nich…, Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?
“O…, Krisna sedang dibawa ama kakeknya…, katanya kangen ama cucu…, maaf ya Mas Otong Tante pake’ pakaian kayak gini… baru habis mandi sich”.
“Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk…, putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Ita tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.
Malam gini kok belum tutup Tante..?
“Iya Mas Otong, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu?
“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.
“Wah ngerepoti Mas Otong kata Tante Ita…, sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.
“Trimakasih lho Mas Otong…?”.
“Sama-sama…”kataku.
“Tante saya lewat belakang saja”.
Saat aku dan Tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Ita menjerit sambil secara reflek memelukku.
“Mas Otong…, tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.
“Mas Otong…, burungnya bangun ya..?”.
“Iya Tante…, ah jadi malu Saya…, habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante…”.
“Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar…”.
“Eh ngomong-ngomong Mas Otong kapan mo nikah…?”.
“Ah belum terpikir Tante…”.
“Yah…, kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho…, jangan kaya’ mantan suami Tante…, tidak bertanggung jawab kepada keluarga…, nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu…, tapi ada yang lebih menyiksa Mas Otong… kebutuhan batin…”.
“Oh ya Tante…, terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu…”, tanyaku usil.
“Yah…, Tante tahan-tahan saja..”.
Kasihan…, batinku…, andaikan…, andaikan…, aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin Tante Ita…, ough…, pikiranku tambah usil.
Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.
“Mas Otong burungnya masih bangun ya…?”.
Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Ita meraba burungku.
“Wow besar juga burungmu, Mas Otong…, burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom…?”.
“Belum…!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.
“Mas…, boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja…?”, belum sempat aku menjawab, Tante Ita sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.
“Oh…, sampe’ keluar gini Mas…?”.
“Iya emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku…?”, kataku sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Ita.
“Wah…, Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong pasti bakal seneng dapet suami kaya Mas Otong…”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh…, nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante Ita sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu karena burungku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.
“Ough…, Tante…, nikmat Tante…, ough…”, desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot…, ough…, seperti terbang rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak yang dua itu…, ough…, sesshh.
Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi burungku sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Ita naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.
“Mas Otong…, berbuatlah sesukamu…, cepet Mas…, cepet…!”.
Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut…, woow…, pemandangan begini indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak percaya kalau Tante Ita sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.
“Ough Mas…, ough…”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.
“Terus Mas…, Maas…”, aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.
Kemudian Tante Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.
“Ayo Mas Otong…, Tante sudah tidak tahan…, mana burungmu Mas… burungmu sudah pengin ke sarangnya…, woww…, Mas Otong…, burung Mas Otong kalau bangun dongak ke atas ya…?”. Aku hampir tidak dengar komentar Tante Ita soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.
“Aughh…”, teriak tante.
“Kenapa Tante…?”, tanyaku kaget.
“Udahlah Mas…, teruskan…, teruskan…”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.
“Tante…, sempit sekali Tante.?”.
“Tidak apa-apa Mas…, terus saja…, soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian…, ntar juga nikmat…”.
Yah…, aku paksakan sedikit demi sedikit…, baru setengah dari burungku amblas…, Tante Ita sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.
“Augh…, Mas…, ouh…, Mas…, nikmat Mas…, terus Mas…, oughh..”.
Begitu juga aku…, walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa…, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Ita. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.
“Oughh Mas…, ough…, luar biasa…, oughh…, Mas Otong…”, katanya sambil merem-melek.
“Kayaknya ini yang namanya orgasme…, ough…”, burungku tetap di vagina Tante Ita.
“Mas Otong sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Ita semakin mendesah, “Ough…, Mas…”, tiba-tiba Tante Ita memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
“Oughh Mas…, aku keluar lagi…”, kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Ita.
“Tante…, Aku keluarin dimana Tante…?, di dalam boleh nggak..?”.
“Terrsseerraah…”,desah Tante Ita. Ough…, aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Ita, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Ita orgasme kembali, dia gigit dadaku.
“Mas Otong…, Mas Otong…, hebat Kamu Mas”.
Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Ita masih tetap telanjang telentang di atas meja.
“Mas Otong…, kalau mau beli rokok lagi yah…, jam-jam begini saja ya…, nah kalau sudah tutup digedor saja…, tidak apa-apa…, malah kalau tidak digedor Tante jadi marah…”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.
“Tante ingin Mas Otong sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang…, baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Ita, aku di panggil tante.
“Rokoknya sudah habis ya…, ntar malem beli lagi ya…?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.