Mungkin karena merasa usahanya tidak mendapat respon, maka dia ingin segera ke Pavilliun, entah mau ngapain. Saat Mas Surya bilas di kamar mandi sebelah kolam, istriku menerobos masuk, langsung memeluk dan menciumnya, tentu saja Mas Surya kaget tapi segera membalas dengan penuh nafsu. Ketika istriku memegang kejantanannya yang sudah menegang di balik celana dalamnya yang masih basah, dia terkejut karena tidak sebesar yang dibayangkan, agak kecewa juga dia, apalagi dibandingkan punyaku, tapi ketika dikeluarkannya ternyata bentuknya yang lurus ke depan, berbeda dengan penisku, dia langsung bergairah, karena bentuk seperti itulah kesukaannya.

Istriku langsung jongkok di depan Mas Surya, menjilati sebentar kepala dan batang kemaluannya, lalu mengulumnya, penis kecil Mas Surya masuk semua ke mulutnya hingga hidungnya bisa menyentuh rambut pubic-nya. Mas Surya mendesis dan meremas rambut basah istriku sambil mengocokkan penisnya di mulutnya. Mata Mas Surya menatap tajam penuh kagum ketika istriku melepas pakaian basahnya, sama sama telanjang kembali mereka berpelukan dan berciuman, tangan Mas Surya tiada hentinya meremas buah dada istriku, begitu juga mulutnya seakan tak mau melepaskan putingnya.

Mulanya dia menolak ketika istriku minta jilatan di vaginanya, tapi istriku tak peduli, dia memaksa posisi 69 sehingga ketika dia mengulum penis Mas Surya, vaginanya tepat di atas mukanya. Diawali dengan kocokan jari di vagina, tatapi akhirnya lidah Mas Surya mampir juga di vaginanya, bahkan menari nari pada klitoris istriku. Mendapat jilatan di vagina, kuluman dan kocokan istriku makin menjadi, membuat Mas Surya sering kali menghentikan jilatannya untuk merasakan nikmatnya kuluman istriku pada penisnya.

Akhirnya mereka bercinta di kamar mandi, dengan hanya beralaskan handuk, istriku mengocok Mas Surya yang telentang di bawahnya, tangannya tak pernah bosan menjelajahi kedua bukitnya. Ada rasa aneh ketika penis Mas Surya memasuki liang vagina istriku, tidak biasanya dia merasakan penis yang kecil seperti itu, tapi lama kelamaan dia bisa menikmati juga gerakan liar dari penis itu di vaginanya, ada kenikmatan berbeda antara ukuran besar dan kecil.

Mereka kemudian berganti posisi, gantian istriku telentang, Mas Surya menindih dan mengocoknya, seperti kata istrinya, permainan suaminya tidak terlalu banyak improvisasi, justru istriku yang banyak mengambil inisiatif, kedua kakinya di tumpangkan ke bahu Mas Surya, penisnya lebih dalam masuk ke vagina istriku, tidak lebih dari 7 kocokan kemudian, Mas Surya menyemprotkan spermanya dalam vagina istriku, tanpa permisi lagi, seenaknya saja dia menyemburkan cairannya di dalam, denyutannya cukup kuat untuk membuat istriku menjerit kaget bercampur nikmat, lalu tubuh Mas Surya melemas terkulai di atas tubuh istriku, agak kecewa juga dia karena belum mencapai orgasme tapi Mas Surya sudah selesai terlebih dahulu, dan sialnya lagi dia tidak berhasil membangkitkan kembali gairah Mas Surya, tubuhnya semakin berat menindih badannya, apalagi di atas lantai yang keras.

"Kamu memang hebat, pintar dan liar" bisik Mas Surya ketika istriku mendorong tubuhnya turun.
"Baru segitu aja sudah memuji, kamu akan kaget bagaimana istrimu mendapatkan kenikmatan dari suamiku di sana" teriak batin istriku, tapi dia menutupi dengan senyuman.
"Ingin aku mengulangi lagi di tempat dan suasana yang lebih nyaman, entah kapan, kalau kamu nggak keberatan" lanjut Mas Surya ketika mereka mengenakan kembali pakaiannya.
"Boleh asal Mas dengan syarat dan aturan main yang kutetapkan, ntar aku kasih tahu bila saatnya tiba, kalau bisa ketika di puncak ini" jawab istriku nakal.

Akhirnya mereka berdua keluar kamar mandi, istriku melihat tirai sudah terbuka pertanda kami sudah selesai dan keadaan aman, tugas sudah diselesaikan dengan baik. Ketika menuju Pavilliun, istriku teringat kalau celana dalamnya tertinggal di kamar mandi, segera dia kembali, langsung saja dia masuk. Ternyata si Bobby salah satu adik tetanggaku yang baru tamat kuliah berada di dalam, mereka berdua sama sama kaget, apalagi terlihat Bobby memegang celana dalam istriku sambil meremas selangkangannya.

"Ada apa Bob?" Tanya istriku menutupi kekagetannya
"Aku tahu yang Mbak lakukan sama Mas Surya barusan, aku sudah intip sejak Mbak mengikutinya masuk sini, jadi aku tahu semuanya" kata Bobby dengan pandangan nakal
"Lalu?" Tanya istriku menyelidik
"Apa Mas Hendra atau Mbak Eliz tahu? bagaimana kalau mereka mengetahuinya?" ada nada ancaman.
"Jangan bilang mereka ya Bob, please" kata istriku pura pura terkejut dan takut untuk mengetahui apa maunya
"Aku akan tutup mulut kalau ada imbalannya" Bobby berkata dengan angkernya
"OK, berapa yang kamu mau asal keep this secret" tantang istriku
"Aku nggak butuh duit dari Mbak meski aku tidak punya duit, aku Cuma minta hal yang sama dengan Mas Surya" jawab Bobby, tentu saja mengagetkan istriku.
"Bobby!!, apa maksudmu" Tanya istriku pura pura bodoh
"Ya apa yang Mbak lakukan sama Mas Sur, aku minta yang sama, tapi aku nggak maksa kok, terserah Mbak Lily saja" jawab Bobby enteng menggoda.

Bobby sebenarnya tampan, hitam manis dan badannya atletis karena dia punya hobby aerobik, sebenarnya bisa saja istriku melayani kemauan Bobby, toh beberapa gigolo yang kami booking banyak yang usianya tak beda dari dia, bahkan lebih muda, masih kuliah lagi, tapi istriku tak mau merusak hubungan dengan kakaknya, ada rasa segan.
Istriku terdiam mempertimbangkan, sebenarnya bukan takut dia cerita ke aku atau Mbak Eliz, tapi lebih banyak pada etika berteman dan bertetangga.

"Mbak gak rugi deh, aku masih perjaka kok, belum pernah melakukan yang gituan, paling juga onani" bujuk Bobby
"Bobby, kalau kamu benar masih perjaka, Mbak malah nggak mau melayani, sebaiknya kamu berikan pada orang yang kamu cintai, istrimu kelak, tapi Mbak akan memberi imbalan tutup mulutmu dengan cara Mbak sendiri dan Mbak jamin kamu pasti menyukainya, tapi yang pasti bukan yang satu itu, asal kamu melupakan semua yang pernah terjadi di sini, baik antara aku dan Mas Surya maupun aku sama kamu, tidak pernah terjadi apa apa disini, oke?" istriku yang nakal mencoba bernegosiasi sambil mendekati Bobby.

Dia masih terdiam ketika istriku memeluk dan mencium kedua pipinya, terasa jantungnya yang berdetak kencang, apalagi ketika istriku mendekapnya erat, buah dadanya menempel rapat di dada Bobby. Dia diam saja dan membalas ketika bibir Bobby melumat bibirnya, tangan istriku segera menjelajah di selangkangan Bobby ketika Bobby mulai menjamah buah dadanya.

"Aku belum pernah melakukan ini" katanya terbata bata, tangannya agak gemetaran ketika meremas buah dada istriku.
Istriku bersandar di dinding, dia nurut saja ketika Bobby melepas kaosnya, bahkan dia mulai mendesis ketika Bobby meremas dan mengulum kedua buah dada dan putingnya. Terasa kaku dan kasar remasan dan kuluman Bobby, tapi istriku menikmati permainan perjaka ini, dibiarkannya Bobby menikmati seluruh tubuhnya, bibirnya, lidahnya, elusannya, tak sejengkalpun tubuh istriku luput dari jamahannya, kecuali bagian selangkangan yang masih tertutup celana pendek. Berulang kali Bobby berusaha melepasnya tapi istriku selalu menolak, dan terus mencoba lagi hingga akhirnya istriku menyerah.

"OK, kamu boleh melakukannya tapi tetap tidak yang satu itu" tegas istriku, dan tak lama kemudian istriku kembali telanjang di kamar itu, di depan orang yang berbeda, konyolnya lagi kini dia telanjang di depan orang yang masih berpakaian lengkap dan bersepatu cats. Rupanya Bobby Cuma mengelus dan menciumi paha dan pantat istriku, dia tidak melakukan jilatan di vagina maupun sentuhan di klitoris seperti perkiraan istriku semula.

Bobby paling suka menciumi pipi, leher dan melumat bibir istriku, juga meremas dan mengulum kedua buah dadanya.
Sambil saling melumat bibir, istriku membuka resliting celana Bobby dan mengeluarkan kejantanannya, terkaget dia mendapati kenyataan bahwa penis Bobby cukup besar, mungkin sama dengan punyaku, dia jongkok di depan Bobby dan mengocok dengan tangannya.

"It's show time" kata istriku, lalu dia mulai menjilati sekujur penis Bobby, jilatan nakalnya menjelajah ke seluruh bagian kejantanannya, membuat Bobby mendesis desis dan meremas rambut istriku.
"Ooohh.. sshh" desisan keluar dari mulutnya ketika istriku memasukkan penis itu ke mulutnya, penis yang besar itu makin tegang dan membesar dalam genggaman dan kocokan mulut istriku.

Kalau tidak mengingat siapa Bobby dan hubungan baik dengan kakaknya, ingin rasanya memasukkan penisnya ke vagina, untuk melampiaskan birahi yang tidak terselesaikan dengan Mas Surya tadi. Sambil mengocok dengan mulut, tanpa setahu Bobby istriku mempermainkan jarinya di klitoris, dia memerlukan sesuatu di vaginanya, ingin rasanya mengajak ber-69 supaya sama sama nikmat.

Belum lima menit istriku mengocoknya, tiba tiba Bobby teriak dan langsung menyemprotkan spermanya di mulut istriku, segera ditariknya keluar penisnya hingga beberapa semprotan sperma mengenai muka dan rambutnya, dimasukkannya kembali penis Bobby ke mulutnya, beberapa tetesan masih keluar mengisi mulut istriku, banyak juga sperma yang disemprotkan Bobby, maklum baru pertama kali melakukan seperti ini. Istriku bukannya mengeluarkan penis dari mulutnya ketika semprotannya habis, tapi justru mempermainkan dengan lidahnya, kontan saja Bobby teriak kegelian dan mencabut dengan paksa penisnya dari mulut istriku.

"Gimana? puas nggak?" goda istriku sambil mengusap sisa sperma yang ada di bibirnya.
"Gila, 100% mbak" jawab Bobby dengan nada puas
"Udah keluar sana, Mbak mau mandi bersihin spermamu yang ada di tubuh Mbak ini, lagian ntar mereka tahu" kata istriku sambil berdiri dan menyalakan shower.
"Aku di sini aja mbak, sambil lihat Mbak mandi" kata Bobby
"Ah nggak nggak nggak bisa, ini diluar perjanjian" jawab istriku ketus, sebenarnya dia khawatir kalau Bobby bisa segera recovery dan minta kelanjutannya, kan bisa berabe, maklum masih darah muda, disamping itu dia juga takut terhanyut emosi dan nafsu birahi dengan melayani permintaan Bobby untuk bercinta. Akhirnya Bobby keluar dan istriku melanjutkan mandi, itulah sebabnya ketika dia datang dengan menenteng pakaian, rambutnya basah dan hanya berbalut handuk.

Mendengar ceritanya barusan, kuceritakan juga pengakuan dari Mbak Eliz tentang keluarga yang saling selingkuh, kulihat pandangan isriku berbinar, entah apa yang ada dalam pikirannya. Nafsuku naik kembali ingin aku menuntaskan birahi istriku yang tak terselesaikan, tapi dia menolak.

"Jangan sekarang Pa, ntar aja, aku ingin ngerjain Mas Surya, kita bertiga, Papa setuju kan" pinta istriku, tak ada alasan bagiku untuk menolak karena dia sudah membantuku dengan Mbak Eliz.
"Sekarang kita harus pikirkan bagaimana menyingkirkan Mbak Eliz sementara, Papa ada ide nggak?" kata istriku.
"Aku bisa aja mengajak Mbak Eliz jalan jalan keluar, tapi kalau kamu minta kita bertiga ya kita harus pikirkan lagi alasannya" jawabku
"Kita pikir nanti deh, sekarang kita keluar cari makan, sekarang sudah hampir jam 1 saatnya makan, siapa tahu kita dapat ide" usul istriku setelah kami saling terdiam berpikir beberapa lama.

Bersambung ...

Setelah berpakaian sewajarnya kami keluar kamar, ternyata Mas Surya dan istrinya sudah berada di teras depan Pavilliun, kami saling menyapa seolah tidak pernah terjadi apa apa diantara kami, semuanya berjalan normal separti biasa, tak ada rasa canggung ataupun segan, padahal diantara kami sudah saling menikmati pasangan masing masing. Bedanya, kini seringkali Mbak Eliz memandangku dengan sorot mata yang penuh gairah, dan kubalas dengan senyum penuh arti, tentu hal ini hanya kami berdua yang tahu. Mungkin juga hal yang sama dilakukan Mas Sur dan istriku.

Kami berempat ke Bangunan utama yang letaknya di depan melintas kolam renang, berbaur dan ngobrol dengan penjaga dan mereka yang tidak ikut Tea Walk, ternyata 3 orang tidak ikut termasuk Bobby. Anak anak dan lainnya belum pada datang, mungkin mereka langsung makan siang.

"Pa, sepertinya susah menyingkirkan Mbak Eliz, nggak ada alasan yang kuat, bagaimana kalau kita ajak aja mereka bersamaan, kita berempat" usul istriku ketika kami berdua di dapur.
"Aku sih oke saja, toh kita sudah sering melakukannya, tapi gimana ngajaknya?" tanyaku
"Serahkan padaku, panggil Mbak Eliz kemari" jawab istriku meyakinkan, kutinggalkan istriku yang sedang membuat bandrek untuk kami semua, aku bergabung kembali dengan mereka di teras, dan Mbak Eliz segera ke dapur setelah kuberi tahu.

Kulihat mereka berbicara serius sambil berbisik, terkadang tertawa renyah, entah apa yang dibicarakan, aku yakin istriku sedang me-lobby Mbak Eliz dan percaya cara lobby istriku yang seringkali membawa hasil.
Tak lama kemudian kuhampiri mereka, ingin tahu hasilnya.

"Mulanya dia keberatan kalau suaminya ikutan, apalagi dengan aku, tapi setelah kubujuk akhirnya dia mau, asal aku yang memberitahu ke Mas Surya. Pa tahu nggak, ternyata dia pernah melakukannya dengan dua laki laki.."
Percakapan kami terhenti ketika salah seorang pembantu mendekat.
"Aku yakin Mas Surya akan menyetujui rencana ini, dia bukan halangan yang berarti" lanjutnya setelah pembantu itu pergi. Kami bergabung kembali sambil membawa beberapa cangkir Bandrek, kulihat Mbak Eliz duduk di samping suaminya dengan pandangan penuh Tanya. Kami terlalu asyik ngobrol sehingga istriku sepertinya agak kesulitan mencari kesempatan membicarakan rencananya dengan Mas Surya.
"Mas Surya, bisa Bantu aku sebentar" pinta istriku lalu meninggalkan kami menuju Pavilliun, Mas Surya mengikutinya, kulihat Mbak Eliz memandangku dan kubalas dengan senyuman dan anggukan. Entah yang lainnya curiga atau enggak, kenapa istriku minta bantuan Mas Surya dan bukan aku, suaminya.
"Mungkin istriku perlu bantuan lagi" kataku seraya beranjak meninggalkan ruangan.
"Aku ikut Mas" kata Mbak Eliz mengikutiku.
"Aku nggak yakin apakah Mas Surya mau menyetujui rencana istri Mas, aku juga masih ragu apakah bisa melihat kenyataan suamiku sedang mencumbu istri Mas" kata Eliz ketika kami melintas dekat kolam renang.
"Aku yakin kamu pasti bisa, terbukti kamu makin bergairah ketika melihat suamimu sedang bermain dengan istriku di kolam renang tadi pagi" jawabku meyakinkannya.

Pavilliun C seperti sebelumnya terlihat sepi, tirai kamar tertutup repat, kami curiga, kuberi tanda pada Mbak Eliz untuk masuk dengan cara mengendap endap, sayup sayup kudengar desahan istriku dari kamar Mas Surya yang sedikit terbuka. Berdua kami mendekati dan mengintip apa yang sedang terjadi, kami melihat Mas Surya sedang berlutut di depan istriku yang duduk di tepi ranjang, keduanya tidak mengenakan celana lagi, istriku sedang menggeliat menerima jilatan dari suami Mbak Eliz, tangannya meremas remas rambut Mas Surya, aku yakin istriku sudah memberikan kuluman penis padanya. Kurasakan Mbak Eliz menggenggam tanganku erat, entah dia cemburu atau makin bergairah.
"dia tak pernah melakukannya padaku" bisik Mbak Eliz, kuberi tanda supaya tidak bersuara.
Sambil menjilati vaginanya, tangan Mas Surya menjelajah ke daerah dada istriku yang ternyata sudah tidak mengenakan bra, desah istriku terdengar tertahan.

Kuelus pundak Mbak Eliz, untuk menenangkan gejolak emosinya, melihat suaminya memberi istriku apa yang belum pernah diberikan padanya. Dia membalas dengan elusan dan remasan di selangkanganku, kejantananku makin menegang. Mbak Eliz menarikku ke samping, aku bersandar di dinding, dia langsung melorotkan celana pendekku dan berlutut di antara kedua kakiku, dipegang dan dikocoknya sebentar kejantananku yang sudah menegang lalu dijilatinya dengan penuh nafsu, tak lama kemudian kejantananku sudah keluar masuk mulut Mbak Eliz. Aku tidak berani mendesah, sementara di dalam kamar desahan istriku masih terdengar penuh gairah meskipun lirih.

Kukocok mulut Mbak Eliz, dia jauh lebih bergairah mengulumku dibandingkan sebelumnya, mungkin karena cemburu atau dendam, makin cepat aku mengocoknya. Aku tak berani terlalu bernafsu, perhatianku sesekali tertuju keluar, takut kalau ada yang lewat pasti bisa melihat kami karena tirai ruang tamu belum sempat kami tutup.
Desahan istriku sudah berubah, aku hapal betul desahan itu, pasti Mas Surya sudah melesakkan penisnya ke vagina istriku. Sungguh berani mereka melakukannya tanpa melihat situasi, sungguh nekat tanpa perhitungan, pikirku.
Kuminta Mbak Eliz untuk pindah ke dapur, tapi dia tak mau, sepertinya ada rasa cemburu dan menikmati mendengar istriku mendesah bersama suaminya, ternyata aku mengalami hal yang sama, makin mendesah istriku makin aku bernafsu mengocok mulutnya.

Ingin rasanya kulesakkan segera penisku ke vagina Mbak Eliz, tapi keadaan tidak memungkinkan, Mbak Eliz tetap menolak ketika kuberi isyarat untuk pindah ke kamarku, dia masih menikmati desahan istriku yang kini sudah bergantian dengan desahan suaminya dari dalam kamar, jilatan dan kulumannya tak henti dari penisku.
Mbak Eliz melepaskan penisku, dia merangkak mengintip ke dalam kamar, begitu juga aku. Dugaanku benar, kami lihat Mas Surya sedang menindih tubuh istriku sambil menciumi lehernya, pantatnya turun naik mengocok vaginanya, sementara kaki istriku menjepit pinggang Mas Surya, mereka saling memeluk erat mengunci.

Mbak Eliz diam saja ketika kusingkapkan rok-nya, begitu asyik dia melihat suaminya sedang bersetubuh dengan istriku, aku tertegun sejenak melihat celana dalamnya hijau tua yang menutupi pantatnya, lebih tepat menghiasi pantatnya karena hanya seutas tali, celana dalam model String, sungguh sexy pantatnya yang mulus dan padat berhias itu. Tak perlu membukanya, hanya menyisihkan tali itu sudah cukup bagi penisku untuk mencapai vaginanya. Kuciumi dan kujilat pantatnya, dari lubang anus hingga ke vaginanya, dia menungging makin tinggi pantatnya. Mbak Eliz diam saja ketika kusapukan kepala penis ke vaginanya yang sudah basah, perlahan sekali aku mendorong masuk penisku, takut kalau Mbak Eliz menjerit, tapi tak luput juga dia menjerit kecil ketika penisku tertanam semua dan menyentuh dinding dalam vaginanya.

Untungnya jeritan kecil itu tertutup desah mereka hingga belum menyadari keberadaan kami di luar kamar. Pelan pelan mulai kukocok Mbak Eliz dari belakang, dogie style, aku bisa merasakan dia kurang enjoy karena harus bercinta tanpa desahan sedikitpun, tapi tetap menolak untuk berpindah ke kamar. Disamping itu aku harus tetap waspada dengan keadaan di luar, sebenarnya ini terlalu ceroboh, tak pernah aku melakukan seceroboh ini, tapi setelah beberapa menit berlalu, aku mulai menikmati ketegangan ini, baik ketegangan dari dalam kamar maupun dari luar. Seringkali Mbak Eliz menengok ke dalam kamar ketika kukocok, terutama ketika desahan istriku meninggi, aku tak tahu posisi apa di dalam.

Tiba tiba terdengar jerit orgasme dari Mas Surya, cepat juga padahal belum 10 menit mereka bercinta, mungkin karena terburu buru. Aku tak tahu harus berbuat apa, ingin menyelesaikan tapi takut mereka segera keluar, akirnya kucabut penisku dari Mbak Eliz, dia tidak protes berarti setuju untuk menghentikannya.
Kami merapikan pakaian dan duduk di ruang tamu menunggu mereka keluar. Tak lama kemudian Mas Surya dan istriku keluar kamar, tampak expresi terkejut dari Mas Surya tapi istriku hanya senyum senyum saja mengetahui keberadaan kami.

"Eh.. Mas Hendra, udah lama?" terlihat kegugupan pada pertanyaannya.
"Cukup lama untuk mengetahui Mas dan Mbak Lily di kamar" jawab istrinya ketus tanpa memandang ke arah suaminya, aku yakin cuma pura pura saja untuk memperkuat posisinya.
"Kami hanya.."
"Berdua dengan Mbak Lily dan memuaskannya" potong istrinya tetap dengan nada tinggi.
Mas Surya diam saja, memandang ke arahku seakan meminta bantuan, karena tidak tahu hasil pembicaraanku dengannya sebelumnya maka aku tak berani komentar dan kualihkan pandanganku keluar, istriku juga diam dan duduk di sebelahku melihat perlakuan Mbak Eliz pada suaminya, kami semua terdiam.

Mbak Eliz berdiri, menggandeng tanganku dan istriku, kami bertiga masuk kamar yang tadi dipakai Mas Surya dan istriku, pintu sengaja tidak ditutup, tanpa mempedulikan suaminya lagi dia memeluk dan menciumku. Mbak Eliz langsung jongkok di depanku dan mengeluarkan kejantananku, dijilati dan dikulum seperti yang dia lakukan tadi, kutarik istriku ke pelukanku dan kami berciuman sementara penisku sudah meluncur nikmat di mulut Mbak Eliz. Cukup demonstratif dia mengulumku di depan suaminya, sambil memeluk dan berciuman dengan istriku, kupegang rambut Mbak Eliz dan mengocoknya.

Mbak Eliz mendorongku hingga telentang di ranjang, setelah melepas rok dan celana dalam mininya, segera membuat posisi 69 di atasku, seolah dia juga ingin memberikan apa yang belum pernah diberikan pada suaminya, kusambut vaginanya dengan jilatan lidah penuh gairah, dan dia mulai mendesah lepas penuh kenikmatan. Istriku lalu ikutan Mbak Eliz mengulum penisku secara bergantian, dua lidah wanita cantik bekerja di daerah kejantananku, membuatku mendesis desis nikmat. Mas Surya berdiri di depan pintu melihat istriku dan istrinya menjilati kejantananku yang jauh lebih besar dari punya-nya. Dia tidak berani masuk, mungkin ada perasaan bersalah.
Desah kenikmatan dan gairah Mbak Eliz sungguh jauh lebih menggairahkan dibanding tadi, seolah dia ingin memamerkan kenikmatannya pada suaminya, bahwa dia bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih dari orang lain, suami dari wanita yang tadi disetubuhinya.

Bersambung ...

Mbak Eliz turun dari tubuhku, dikocoknya penisku yang masih dalam kuluman istriku, dia memandang suaminya sejenak lalu naik ke atasku, kembali dia menoleh ke suaminya sebelum menyapukan penisku ke vaginanya dan desahan keras keluar dari mulutnya tanpa tertahan ketika penisku masuk ke vaginanya.
"AAauugghh.. sshh..yess..enak Mass", desahnya sambil bergoyang pinggul dan turun naik di atasku sambil melepas kaos dan bra-nya. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang bergoyang goyang. Aku tak berani melihat ke arah Mas Surya, ada rasa kasihan dan perasaan bersalah mempermainkan dia seperti ini.

Istriku beralih ke kepalaku, aku menolak ketika dia mau mengangkangiku karena masih ada sisa sperma Mas Surya di vaginanya. Kutarik tubuh Mbak Eliz dalam pelukanku dan kudekap erat tubuh telanjangnya di depan suaminya, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya ketika aku mulai mengocoknya dari bawah, desahan demi desahan nikmat keluar dari mulutnya, kami saling melumat bibir, istriku mengelus kantong bolaku membuat aku makin bergairah mengocok.

Kami berganti posisi, dogie style menghadap ke Mas Surya sesuai permintaan istrinya, istriku memelukku dari belakang, ternyata dia sudah ikutan telanjang, bauh dadanya di gesek gesekkan ke punggungku sementara tangannya memegang penisku, yang sedang keluar masuk vagina Mbak Eliz. Sungguh nikmat dan ada sensasi yang tak terlukiskan bercinta dengan wanita di depan suaminya yang tak berdaya.

Aku mengocok dan menjamah seluruh badan Mbak Eliz, tapi masih tetap tak berani memandang ke arah Mas Surya, pandanganku justru aku fokuskan ke tubuh mulus Mbak Eliz.
"Ouuhh..yess..yaa..fuck me harder..yess..trus mas..ya..enak mass" desahnya demonstratif dan kuturuti dengan kocokan yang makin cepat dan keras, terkadang kuhentakkan penisku ke vaginanya membuat dia menjerit dalam kenikmatan yang tinggi.

Tak lama kemudian kurasakan tubuh Mbak Eliz menegang, dia lalu menjerit keras bersamaan denyutan dan remasan vaginanya pada penisku. Mbak Eliz mencapai orgasme yang tertunda dari tadi, kudiamkan sejenak menikmati remasan vaginanya lalu kuteruskan lagi, dia menggeliat, kutarik rambutnya kebelakang hingga kepalanya terdongak dan kukocok dengan keras. Aku tak mau menghentikan meskipun dia sudah orgasme, puncak kenikmatan sudah di depan mata, desahan Mbak Eliz tak kuhiraukan lagi, kocokanku makin cepat dan tidak beraturan, hingga akhirnya menyemprotlah spermaku di vaginanya.

Aku dan Mbak Eliz teriak hampir bersamaan, semburan spermaku membuat Mbak Eliz menggelinjang nikmat menerimanya, dia menoleh ke arahku dengan senyuman puas, lalu dicabutnya penisku dari vaginanya.
Tangannya meraih penisku, dipegangnya dan menoleh ke arah suaminya lalu dimasukkan ke mulutnya, dia mengulum penisku yang masih banyak spermanya, dikulum dan dijilatinya seperti membersihkan sperma dari penisku, aku kembali mendesis tak menyangka mendapatkan kenikmatan ini. Kuraih buah dada Mbak Eliz dan kuremas remas saat dia menjilati dan mengulum. Kami sama sama telentang dalam kelelahan yang nikmat.

Istriku yang masih telanjang turun dari ranjang dan mendekati Mas Surya.
"sekarang giliran kita" katanya sembari meremas remas di selangkangannya yang disambut dengan remasan di dada.
"jangan di sini, kurang aman, kita keluar saja, cari hotel yang lebih enak" usulku sembari turun dari ranjang mengambil pakaian, kulemparkan kaos dan rok Mbak Eliz tanpa pakaian dalam. Dia mengenakannya kembali sambil tersenyum ketika mengetahui tidak ada bra dan celana dalam di situ.
Pasangan Surya-Eliz sudah masuk perangkap kami.

*********

Berempat kami meninggalkan Villa, tentu saja tak ada yang curiga akan kepergian kami berempat, tak lama kemudian Carnival kami sudah berada dalam antrian kemacetan jalanan di puncak. Aku dan Mbak Eliz di depan sementara Mas Surya dengan istriku duduk di jok paling di belakang karena jok tengah memang di lepas, membuat ruangan menjadi lebih lapang, kaca film yang gelap ditambah tirai tertutup rapat sungguh cocok dengan keadaan kami yang sama sama dibakar birahi, dari kaca spion dalam bisa kulihat Mas Surya berciuman dengan istriku, tangannya meremas remas kedua buah dadanya. Melihat suaminya berciuman di belakang, Mbak Eliz menggapai penisku dan meremasnya, jalanan macet tidak memerlukan konsentrasi penuh, aku bisa menikmati remasan Mbak Eliz sambil memandang istriku dan Mas Surya di belakang. Remasan Mas Sur berganti dengan kuluman di puting istriku, dia mulai mendesah menikmati kuluman suami Mbak Eliz, tangannya meraih penis dan meremasnya.

Kubelokkan Carnival menuju salah satu warung sate, kudengar suara protes dari belakang ketika mengetahui mobil sudah parkir di depan warung itu, kami keluar saling bergandengan, tentu orang tidak menyangka kalau yang digandeng itu bukan pasangan resminya, sama sama mesra, buah dada Mbak Eliz yang montok tanpa bra terlihat jelas bagiku, entah orang lain. Selama makan Mbak Eliz memperlakukanku layaknya suaminya begitu juga istriku terhadap Mas Surya, Mas Surya sepertinya sudah menikmati permainan ini.

Sungguh sulit mendapatkan hotel atau villa yang masih kosong saat liburan seperti ini, dari hotel, cottage maupun orang sekitar yang biasa menyewakan villa, semuanya penuh, fully occupied. Setelah melewati Puncak Pass akhirnya kami mendapatkan kamar yang masih kosong, dengan terpaksa kami ambil kamar yang suite dengan 3 kamar yang harganya minta ampun mahalnya, apalagi hanya untuk dipakai dalam waktu yang tidak lama, sekedar pelampiasan nafsu liar kami, tapi uang bukanlah masalah kalau hati lagi senang, kami hanya ingin segera mencapai tempat dan melampiaskan hasrat masing masing. Kutinggalkan Mas Surya dan istriku yang sedang menyelesaikan administrasinya, aku langsung menggandeng Mbak Eliz menuju kamar mengikuti Room Boy.

Kami duduk di sofa menunggu kedatangan mereka, Mbak Eliz duduk di pangkuanku lalu merosot bersimpuh di depanku sambil melepas celana pendekku, dia meraih kejantananku dan mengusap usapkan di wajah sambil menciuminya dengan gemas.
"Ini penis kok segede ini, enak deh, sungguh beruntung Mbak Lily tiap hari bisa merasakannya" komentarnya sambil mulai menjilati kepala penisku.
"Kamu juga beruntung telah merasakannya" jawabku
Dia tidak menjawab karena mulutnya sudah penuh terisi penisku, meski hanya setengahnya yang bisa dia kulum, tapi dia berusaha dengan mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulutnya. Mbak Eliz sedang asyik mengocokku ketika suaminya datang menggandeng istriku.
"Wah sudah mulai duluan nih, udah nggak tahan ya" goda istriku.
Tanpa menunggu jawaban kami, istriku menghampiriku, kami berciuman, Mas Surya memeluknya dari belakang, menyelipkan tangannya ke dalam kaos istriku dan meremas remas kedua buah dadanya sambil mencium tengkuknya membuat istriku menggeliat.

Mbak Eliz hanya tersenyum sambil tetap mengulum penisku melihatnya, Mas Surya melepas kaos istriku, buah dadanya yang padat menantang langsung kukulum, tak kupedulikan tangan Mas Surya yang sedang meremasnya. Istriku menggeliat dan mendesah mendapat kuluman dan ciuman di tengkuk. Dia duduk di sampingku dan Mas Surya duduk di antara kedua kakinya, bersebelahan dengan istrinya. Kedua suami istri itu memainkan mulut dan lidahnya di daerah kenikmatan kami dengan cara yang berbeda, istriku melumat bibirku, sambil menikmati permainan lidah Mas Surya yang sedang lincah bergerak liar di vaginanya, kepala Mas Surya seolah tertancap di selangkangan istriku, begitu juga Mbak Eliz yang kepalanya terjepit di antara kakiku..

Tak lama Mas Surya dalam jepitan selangkangan istriku, dia lalu berlutut, melepas pakaian dan menyapukan penisnya ke vagina Lily, dengan sekali dorong masuklah penisnya mengisi liang kenikmatannya dan langsung mengocok cepat, membuat istriku mulai mendesah. Melihat suaminya sudah duluan menikmati istriku, Mbak Eliz berdiri melepas semua pakaiannya hingga telanjang, lalu ke pangkuanku, menyodorkan kedua buah dadanya ke mukaku yang langsung kusambut dengan kuluman penuh gairah, perlahan dia menurunkan tubuhnya, perlahan pula penisku memenuhi vaginanya. Kupeluk tubuh telanjangnya yang sexy ketika semua penisku tertanam ke dalam, dia membalas pelukanku dengan rapat sambil menggoyangkan pantatnya.

"Ouh yaa..yaa..enak mass" desahnya bersautan dengan desahan istriku yang sedang menerima kocokan Mas Surya. Aku diam menerima kocokan Mbak Eliz sambil mengulum kedua bukit montoknya, satu tangan meremas Mbak Eliz sedang tangan lainnya meremas buah dada istriku, sama sama kenyal dan padat meski punya Mbak Eliz lebih besar dan montok.
Mereka berganti posisi meniru kami, kedua wanita bergoyang di pangkuan pasangan masing masing, desah dan jeritannya seolah berpacu dalam birahi, kukulum dan kusedot puting Mbak Eliz, dia menggelinjang dengan jeritan nikmat tanpa menghentikan goyangannya, terkadang kedua wanita saling berpandangan dan tersenyum nikmat, tangannya saling berpegangan.

Mas Surya membenamkan kepalanya di antara kedua bukit di depannya, istriku meremas rambutnya.
Istriku memandang Mbak Eliz lalu mengangguk memberi isyarat, tiba tiba secara bersamaan mereka berdiri, kami tidak sempat protes, ternyata mereka bertukar tempat kembali ke suaminya masing masing. Sementara istriku harus menyesuaikan kembali dengan ukuran penisku pelan pelan melesakkan ke vaginanya, Mbak Eliz langsung melesakkan penis suaminya ke vaginanya dan bergoyang dengan liarnya. Istriku memelukku setelah berhasil memasukkan semua penisku ke vaginanya.

"Gila, sepertinya jauh lebih besar dari biasanya, terasa pennuh" bisiknya sambil mendesah
"Lebih enak kan, dia gimana?" balasku berbisik
"Punya Papa lebih besar tapi dia lebih keras dan tegang lurus, sama sama enak sih"
Kuraih dan kuremas buah dada Mbak Eliz yang bergoyang goyang di depan muka suaminya, kupermainkan putingnya membuat dia menggeliat dan mendesah sambil pantatnya turun naik di pangkuan sang suami. Kubiarkan istriku turun naik di pangkuanku sambil memandangi wajah Mbak Eliz yang makin cantik menggairahkan terbakar nafsu.
"Aku mau ngerjain Mbak Eliz, biar dia merasakan two in one dengan suaminya" bisikku pada istriku tak lama kemudian, dia memandangku dan turun dari pangkuan.

Bersambung ...

Aku tak tahu bagaimana Mbak Eliz bisa bercerita begitu polos dan terus terang tanpa basa basi seperti itu.
"Emang punya Mas Sur nggak gede?" pancing istriku
"Entahlah mbak, tapi punya Mas Hendra kelihatan begitu besar dan ah nggak tau lah mbak"
"Mbak Eliz pingin merasakannya?" pancing istriku penuh selidik, aku yakin dia sudah mulai keluar isengnya.
"Jangan marah mbak, aku Cuma berkhayal saja kok, lagian aku kan nggak mungkin selingkuh dengan suami teman sendiri, ntar aku dikira apa" Mbak Eliz terdengar canggung.
"Bagaimana kalo kuijinkan" benar sudah keluar gairah liarnya
"Maksud mbak?" Eliz terdengar kaget
"Ya kamu ngerasain yang kamu bayangkan, dari pada cuma dibayangkan dan membuatku berpikir yang negatif, lebih baik di wujudkan saja, iya kan" istriku sudah mulai nakal
"Mbak ijinin aku sama suami mbak? ah Mbak pasti bergurau nih, ah udahlah mbak, anggap pembicaraan ini nggak ada, sekedar iseng" Mbak Eliz mulai gugup.
"Mbak, tolong jawab dengan jujur, aku serius nih, Mbak Eliz mau apa enggak?"
Mereka terdiam, hanya pancuran air cucian piring yang kudengar, tiba tiba kudengar suara gelas jatuh berantakan, rupanya ada yang nervous.
"Mbak beneran nih? Mas Hendra sendiri gimana?" tanyanya kaget dan penasaran
"Udahlah, masalah itu serahkan padaku, jawab dulu kamu mau apa enggak?
Mereka terdiam lagi.
"Entahlah mbak, aku jadi malu nih" dia ragu ragu. "kalau Mas Hendra mau dan Mbak nggak keberatan, ..ya..aku sih.. emm.. malu ah"
"Ya jelas mau dong, dikasih enak kok nggak mau" tegas istriku
"Sekarang Mbak mau apa enggak? soal suami Mbak biar aku yang atasi, serahkan saja padaku, trust me, kalo emang oke ntar aku bilang ke Mas Hendra" lanjut istriku meyakinkan Mbak Eliz, entah apa yang ada dibenaknya.
Tak kudengar pembicaraan lebih lanjut, sepertinya Mbak Eliz masih ragu atau malu untuk meng-iyakan tawaran istriku.
"Tapi jangan bilang bilang Mas Sur ya mbak" kata Mbak Eliz berarti setuju tanpa meng-iyakan.
"Gila apa, emang kita mau cari perkara" suara istriku meninggi
"Temanin ya mbak"
"Ini orang, udah diijinin masih minta ditemenin lagi, kayak perawan aja" kata istriku sewot
"Bukan gitu mbak, aku kan canggung kalo langsung ke kamar Mas Hendra, ntar dikira ngajak selingkuh lagi, padahal kan seijin mbak"
"Ya udah deh, kalo gitu kita keroyok aja Mas Hendra rame rame, kita main bertiga aja, buruan ntar suamimu keburu datang dari servis mobil" jawab istriku.

Mendengar pembicaraan mereka kejantananku perlahan menegang, apalagi ketika membayangkan Mbak Eliz yang cantik dan mulus. Wanita keturunan Aceh itu umurnya 1 ? 2 tahun lebih muda dari istriku, tingginya sedikit dibawah istriku, mungkin 160, tapi body-nya sungguh menggetarkan birahi laki laki yang melihatnya, apalagi dadanya yang terlihat menonjol menantang, perkiraanku pasti tidak lebih kecil dari 36B, kulitnya yang putih mulus bak pualam, sungguh beruntung aku kalau memang ini terjadi, ingin rasanya aku segera menikmati tubuh sexy-nya. Tak lama kemudian kudengar langkah menuju ke kamar, aku pura pura tidur pulas ketika mereka masuk kamar dan mendekati tempat tidur, ranjang bergoyang ketika mereka naik.

Kudengar mereka berbisik bisik sebentar, tanpa bicara lagi tiba tiba istriku langsung menciumku, pura pura kaget kubalas kuluman bibir istriku. Sambil menciumku dia meremas remas kejantananku yang menegang dibalik celana pendek, kuremas buah dadanya dibalik sweater-nya, kejantananku makin menegang, aku masih menunggu sentuhan tangan lembut Mbak Eliz, kulepas sweater-nya hingga tampak bra ungu yang tak lama kemudian tanggal dari tubuhnya. Sekilas kulirik Mbak Eliz hanya berdiri mematung melihat kami berciuman. Tak lama kemudian kami sudah sama sama telanjang bulat berpelukan dan berciuman didepan Mbak Eliz yang masih berdiri di ujung ranjang.

Aku khawatir Mbak Eliz berubah pikiran, maka kuhentikan ciumanku dan menghampirinya, dia mundur selangkah menjauhiku, tampak keragu raguan di sikapnya, untunglah istriku membantunya, didekatinya Mbak Eliz diraihnya tangannya dan dituntun ke arah kejantananku yang menegang. Ragu ragu dia memegangnya tapi istriku berhasil memaksanya untuk meremas kejantananku, dia memandangku dengan sorot mata kagum, aku suka dengan cara pandangnya yang penuh gairah itu.

Ketika Mbak Eliz mulai meremas dan mengocok, kutarik tubuhnya dalam pelukanku yang telanjang, bisa kurasakan buah dadanya yang mengganjal di dadaku. Istriku ikutan memelukku, kini dua wanita cantik dalam pelukanku, satu telanjang dan satunya masih berpakaian. Tanpa membuang kesempatan lebih lama, kucium pipi Mbak Eliz yang mulus itu dan terus bergeser ke bibir manisnya, mulanya agak canggung dia melayani ciuman bibirku tapi kemudian dibalasnya ciumanku dengan tak kalah gairahnya, dilumatnya bibirku seakan tak mau melepaskan lagi. Tanganku mulai menyusuri dadanya, kuremas dengan lembut buah dadanya, seperti dugaanku, begitu montok dan kenyal, membuatku makin gemas untuk meremas remas. Remasan dan kocokan empat tangan di kejantananku makin liar, seliar ciuman dan remasanku pada buah dada Mbak Eliz.

Kulepas kaosnya, terlihatlah buah dada montoknya yang masih terbungkus bra merah berenda, sungguh sexy dan terlihat begitu padat, aku menelan ludah melihat kemontokan tubuh nan sexy itu, segera kudaratkan ciumanku ke leher Mbak Eliz, dia menggelinjang dan mulai mendesis pelan, remasanku makin leluasa menggerayangi kedua bukit yang menantang, kuselipkan tanganku di sela bra-nya, begitu didapati putingnya segera kupermainkan dengan nakal, gelinjang Mbak Eliz makin menjadi, desisnya makin jelas terdengar. Istriku yang dari tadi memelukku dari belakang bergeser ke belakang Mbak Eliz, ternyata dia melepas bra merah itu.

"Tadaa" kata istriku setelah menarik bra Mbak Eliz.
Aku kembali terpesona melihat buah dadanya yang polos padat menggantung di dadanya, belum hilang kagumku, istriku ternyata sudah melorotkan celana pendek sekaligus celana dalamnya, untuk kesekian kalinya aku melongo melihat ke-sexy-an tubuh telanjang tetanggaku ini, rambut pubicnya yang tertata rapi membentuk segitiga, begitu indah.
Tangan Mbak Eliz dari tadi tak pernah lepas dari kejantananku, bibir dan lidahku kembali menyusuri leher jenjangnya dan lidahku langsung menuju ke puncak bukit yang kemerahan, dengan liar kupermainkan puting yang kecil menantang, kukulum dan kusedot putingnya sambil mempermainkan dengan lidahku, geliat dan desis Mbak Eliz bertambah berani, rambutnya yang panjang tergerai bebas saat dia menengadah dan mendesah.

Puas melumat kedua bukit mulusnya, ciumanku turun ke perut dan berhenti di selangkangannya. Lidahku menyusuri kedua paha hingga lututnya, sengaja aku tak menyentuh daerah vaginanya, ingin kupermainkan dia lebih lama lagi, ingin kulihat dia menggeliat seperti cacing kepanasan. Dugaanku benar, dia kelocotan dilanda birahi, berulang kali tanganku dituntun ke daerah vaginanya, tapi aku tak mau melanjutkan.

"Pleeaasse..pleaasse" desahnya yang membuat aku tak tega mempermainkan lebih lama lagi.
Kutuntun dia ke arah ranjang dan kutelentangkan, kini tubuh telanjang dan sexy Mbak Eliz telentang penuh pasrah, aku menikmati saat saat seperti ini. Kutindih tubuh montok itu, kami kembali berciuman sebentar sebelum akhirnya aku jongkok di antara kedua kakinya.
"Ini yang kamu mau bukan?" kata istriku yang dari tadi telanjang berdiri menonton suaminya sedang mencumbu Mbak Eliz, istri tetangga.

Lidahku menyusuri pahanya yang mulus, lalu berhenti di selangkangannya. Aku mulai menjilati bibir vaginanya, dia menggeliat dan menjerit tertahan ketika lidahku menyentuh klitorisnya, tangannya digigitnya untuk menahan jeritannya. Istriku yang duduk di sampingnya tersenyum melihatnya, lidahku menari nari di vaginanya, sesekali kusedot liang vaginanya, tak jarang cairan vaginanya tertelan mulutku. Mbak Eliz menggeliat tanpa kontrol, pahanya menjepit kepalaku, tapi tak kuhiraukan. Dua jari tanganku sudah mengocok liang vaginanya sembari lidahku menyapu klitorisnya, dia menjerit penuh nikmat.

"Aaauugghh.. yess..yess.. truss" jeritnya lepas sambil meremas remas rambutku, seakan lupa bahwa dia sedang menikmati suami orang.
"Aaagghh..sshh..sshh..yess..yess.. yaa..aku keluaar" jeritnya tertahan, ternyata dia sudah orgasme hanya dengan jilatan lidah.
Aku tak mempedulikannya, terus kujilati dan kukocokkan jari tanganku.
"Aaaghh.. ssudah.. ssudah.. pleeaase" dia memohonku menghentikan jilatanku, tapi aku tak mau berhenti begitu saja.
"Mas, udah mas, kasih dia istirahat dulu" celetuk istriku.

Dengan berat hati aku beranjak dari selangkangan Mbak Eliz, telentang diantara kedua wanita itu, istriku segera bergeser ke selangkanganku, diremasnya kejantananku dan langsung dikulumnya, tak lama kemudian kejantananku sudah meluncur keluar masuk mulutnya. Kakiku diangkatnya dan dia menjilati kantong bola hingga ke lubang anusku, aku mendesis sambil meraba dan meremas remas buah dada Mbak Eliz yang masih telentang di sampingku. Mbak Eliz memiringkan tubuhnya, kini dia dipelukanku, kepalanya disandarkan di bahu ketika istriku sedang menjilati penisku. Mbak Eliz mulai kembali menciumi wajahku, terus beralih ke leher dan dadaku, dikulumnya putingku, aku menggeliat nikmat mendapat perlakuan kedua wanita cantik ini secara bersamaan.

"Mbak, aku duluan ya" pintanya pada istriku ketika ciumannya sudah sampai di perut.
"You are my guest, terserah, asal mau berbagi ini" jawab istriku sambil menyodorkan penisku ke muka Mbak Eliz. Dia meraih penisku dan mengocoknya dengan tangannya, sepertinya dia agak ragu untuk mengulum penisku.
"Terlalu besar mbak, nggak muat nih" katanya kemudian
"Coba aja dulu, ntar akan masuk sendiri" jawab istriku masih asik menjilati pangkal paha dan kantong bolaku.

Mbak Eliz mulai menjilati kepala penisku, lidahnya berputar putar di ujung penis, lalu turun ke batangnya hingga pangkalnya, terus naik lagi ke ujung, kepala kedua wanita itu berimpit di selangkanganku. Wonderful, dua wanita cantik bermain dengan kejantananku, I'm flying to heaven. Jari tanganku mengocok vagina Mbak Eliz yang basah, dia menjilat sambil mendesis.

"Ya gitu terus masukin, pelan pelan saja" istriku seakan mengajari Mbak Eliz, dan kepala penisku sudah berada di mulutnya. Kulihat dia kesulitan untuk memasukkan batangnya, istriku segera mengambil alih, diraihnya penisku dan langsung dimasukkan ke mulutnya dengan lahapnya, dia mengocok penuh gairah, lalu dikembalikan lagi ke Mbak Eliz, seperti anak kecil yang mengembalikan permainan yang dipinjamnya.

Mbak Eliz berusaha untuk memasukkan sebanyak mungkin penisku ke rongga mulutnya, hanya setengah yang bisa dia kulum, istriku menjilati batang penis yang tidak tertampung, penisku mulai meluncur keluar masuk mulut Mbak Eliz, kocokan jariku di vaginanya makin cepat, desahnya tertahan penisku.
Mbak Eliz beranjak menaiki tubuhku, sepertinya dia ingin segera merasakan penisku di vaginanya, tapi istriku mencegahnya.

"Jangan posisi ini dulu, pelan pelan saja, santai saja" kata istriku meminta Eliz telentang di sampingku.
Segera kunaiki dan kutindih tubuhnya, kucium dan kujilati leher mulusnya, istriku dengan setia menuntun kejantananku ke vagina Mbak Eliz, perlahan lahan kudorong masuk menguak liang sempit di selangkangannya.
"Aaagghh.. pe..lan.. pe..lan.. mas, sakiit, besar bangeet" desahnya seperti seorang perawan yang baru bercinta.
"Santai saja mbak, nggak usah tegang, Mas jangan kasar dong" kata istriku yang selalu bertindak sebagai sutradara dan pengatur laku.

Kudorong penisku memasuki liang sempit itu sebentar lalu kutarik lagi perlahan lahan, kudorong lagi dan kutarik lagi, makin lama makin dalam penisku melesak kedalam liang vaginanya, hingga akhirnya semua penisku masuk dalam vaginanya, kudiamkan sejenak dan kunikmati expresi di wajahnya yang bersemu merah. Mbak Eliz menggigit bibirnya, entah sakit entah nikmat, padahal liang vaginanya sudah basah, tangannya mencengkeram pantatku dengan kencangnya. Dia menahan tubuhku ketika aku mulai gerakan menarik, kudiamkan lagi sambil menciumi lehernya, buah dadanya masih terasa mengganjal di dadaku.

"Gila gede banget, penuh rasanya mas, tak kusangka bisa sepenuh ini" bisiknya ditelingaku. Istriku mulai mengelus kantong bola-ku, membuatku menggelinjang di atas tubuh Mbak Eliz, dia memelukku lebih erat lagi.
Perlahan aku mulai menarik dan mendorong penisku, makin lama makin cepat hingga akhirnya aku bisa mengocok Mbak Eliz dengan gerakan normal, desahan nikmat keluar dari mulut manisnya membuatku makin bernafsu menggoyangkan pantatku. Dia ikutan menggoyangkan pantatnya mengimbangiku, rupanya sudah bisa menyesuaikan diri.
Aku berlutut sambil mengocoknya, kuamati wajah Mbak Eliz yang sedang dilanda birahi, wajah cantiknya makin cantik ketika dia mendesah, membuatku semakin bernafsu.

"Egh.. egh.. egh.. enak mas, trus mass..yess..fuck me..yess" desahnya lepas seirama kocokanku.
Buah dada montok Mbak Eliz berguncang guncang, diremasnya sendiri kedua bukitnya itu sambil dia mempermainkan putingnya. Istriku meletakkan kedua kaki Mbak Eliz ke pundakku, membuat penisku makin melesak ke dalam.
"Ouhh..yaa.. makasih mbak,..trus mass" desahnya makin merasakan kenikmatannya, makin cepat kocokanku makin liar dia mendesah.
"Gimana? enak mbak?" goda istriku sambil mengelus elus rambutnya.
"Uff.. bu.. bukan enak lagii.. toop deh" jawabnya di sela sela desahan sambil meremas remas buah dadanya sendiri.
"Enak mana sama suami mbak?" tanyaku keceplosan, tak seharusnya aku membandingkan seperti ini.
"Tau ahh"
"Enak mana?" desakku sambil menyodoknya keras
"Aaauugghh.. ss.. en.. nak.. i.. nnii" jawaban atau desahannya, tentu saja dia akan menjawab begitu, mana mungkin dia menjawab lain kalau sedang menikmati yang ini.
"Aaagghh..shit..shit..yess" teriaknya sambil mencengkeram erat lenganku, dan bersamaan dengan itu kurasakan remasan otot vaginanya pada penisku, dia mencapai orgasme lagi, tak lebih sepuluh menit aku mengocoknya.

Bersambung ...

Kuhentikan gerakanku sejenak untuk merasakan denyutan vagina Mbak Eliz yang cukup kuat. Wajahnya makin cantik lagi dikala orgasme, semu kemerahan terlihat jelas di raut mukanya yang putih, sungguh berbeda dengan keseharian biasanya.

Tubuh Mbak Eliz langsung melemas seiring dengan habisnya denyutan itu, aku ingin mengocoknya lagi tapi istriku sudah menarik lenganku meminta giliran. Aku telentang di samping tubuh Mbak Eliz yang masih ngos-ngosan, istriku langsung mengatur posisinya di atasku dan melesaklah penisku ke vaginanya, vagina kedua di pagi itu. Jujur saja kurasakan vagina Mbak Eliz lebih nikmat dibandingkan istriku, tapi gerakan dan goyangan istriku jauh lebih erotik dari Mbak Eliz, dia langsung naik turun dan bergoyang pinggul di atasku, aku dan istriku sama sama mendesah nikmat. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang menggantung indah, lebih kecil dari punya Mbak Eliz, tapi sama sama padat dan kenyal.

Kupeluk tubuh istriku sambil mengocoknya dari bawah, dia mendesah dekat telingaku, kami saling berdekapan erat. Mbak Eliz sepertinya tak tahan melihat permainan kami, dia lalu mencium pipiku di sisi lain, kuraih tubuhnya, kuremas buah dadanya lalu kupeluk, sungguh nikmat memeluk dua wanita yang cantik dan sexy, sambil tetap mengocoknya.

Istriku kembali duduk di atas penisku sambil bergoyang pinggul.
"Mbak di atas sana gih" perintah istriku sambil menjulurkan lidah memberi kode untuk dijilati vaginanya.
Mereka saling berpandangan lalu tersenyum, Mbak eliz segera membuka kakinya tepat di atas mukaku, segera kusambut dengan lidahku. Kedua wanita ini saling mendesah di atasku, mereka saling berhadapan dan berpegangan tangan, ada kepuasan tersendiri bisa memberikan kenikmatan pada dua wanita cantik secara bersamaan, meski aku tidak bisa melihat expresi wajah keduanya, pandangan dan mukaku tertutup pantat Mbak Eliz.

Tiba tiba mereka turun secara bersamaan, aku kecewa, tetapi segera kekecewaanku berganti dengan kenikmatan lagi, ternyata berganti posisi, istriku di atas kepalaku sedangkan Mbak Eliz pada penisku. Goyangan Mbak Eliz tidak seliar istriku, tapi tetap saja nikmat, kembali mereka mendesah bersama sama.

"Dari belakang mbak" usul istriku tak lama kemudian
"Doggie??" Tanya Mbak Eliz yang masih turun naik di atas penisku.

Tanpa menjawab istriku langsung turun dan nungging di sebelahku, diikuti dengan Mbak Eliz nungging di sebelahnya, kini aku harus memilih diantara dua vagina yang menantang. Kuamati mereka sejenak, baru sekarang kusadari kalau pantat Mbak Eliz begitu sintal dan padat, indah dipandang, apalagi kalau digoyang. Tanpa piker panjang, aku berdiri di belakang Mbak Eliz, kusapukan sebentar lalu kudorong perlahan masuk hingga semua penisku tertanam ke vaginanya.

"Aaagghh.. pelaan" desahnya ketika penisku menguak liang vaginanya.
Istriku memandangku sambil tersenyum, tapi tak kupedulikan, aku sedang konsentrasi menikmati Mbak Eliz. Penisku mulai meluncur keluar masuk vaginanya, kupegang pantatnya yang padat berisi, kutarik dan kudorong seirama kocokanku, Mbak Eliz mendesah lebih liar. Buah dadanya ber-ayun ayun dengan bebasnya, kuraih dan kuremas dengan gemas penuh nafsu, kupermainkan putingnya, membuat dia makin mendesah dan mulai berani menggoyangkan pantat mengimbangiku, kenikmatanku bertambah apalagi ketika istriku memelukku dari belakang dan mengelus dadaku sambil menciumi tengkuk dan punggungku.

Kocokanku pada Mbak Eliz makin cepat dan liar, ketika istriku nungging di sebelahnya meminta giliran, agak berat aku melepas Mbak Eliz yang sedang dalam birahi tinggi, tapi aku tak bisa mengabaikan istriku. Kugeser tubuhku di belakang istriku, dengan sekali dorong melesaklah penisku ke vaginanya, langsung kukocok dengan cepat dan keras, aku tahu kesukaannya, makin liar makin suka dia.

"Mbak keluarnya di aku saja ya" pinta Mbak Eliz yang disambut senyuman oleh istriku di sela desahannya.
"Boleh asal setelah itu dibersihkan dengan mulut" jawab istriku nakal sambil mendesah nikmat
"Dengan mulut mbak??" tanyanya heran
"Iyyaa, mau nggak??" jawab istriku dengan nada tinggi, aku yang mendengarnya jadi tambah bernafsu, kuhentakkan makin keras penisku ke vaginanya.
"Mmm..iya deh" jawab Mbak Eliz sambil mengangkat dua jarinya lalu bergeser ke belakangku dan memeluk seperti yang dilakukan istriku tadi.
"Janji".

Belum sempat Mbak Eliz memberi jawaban, terdengar deru mobil melintas di depan pavilliun, Mas Surya telah datang. Sebelum kami sempat berpikir harus berbuat apa, istriku sudah mengambil inisiatif.
"Kalian lanjutkan saja, Mas Surya biar aku yang tangani, believe me" katanya langsung menarik keluar penisku dan turun dari ranjang, dikenakannya kaos dan celana pendeknya tanpa mengenakan pakaian dalam, entah sengaja atau terburu buru aku tak tahu.
"Ingat janjimu mbak" teriaknya sesaat sebelum pintu kamar tertutup.

Sepeninggal dia aku dan Mbak Eliz saling berpandangan seperti tak tahu harus berbuat apa. Masih tetap telanjang, kami mengintip ke jendela dari balik tirai, melihat keadaan, kulihat istriku berbicara dengan Mas Surya yang baru keluar dari mobil, digandengnya Mas Surya menuju kolam renang, tanpa berganti pakaian renang istriku langsung mencebur ke kolam, Mas Surya melepas pakaiannya, dengan memakai celana dalam dia mengikuti istriku masuk ke kolam, aku yakin Mas Surya akan segera tahu kalau istriku tidak memakai bra begitu kaosnya basah, putingnya pasti membayang di balik kaos basah itu, aku tidak tahu dengan pikiran Mbak Eliz.

Membayangkan mereka berdua gairahku kembali naik, aku bergeser ke belakang Mbak Eliz yang masih asik mengintip mereka. Kupeluk dan kuremas buah dadanya dari belakang, dia tidak memberi respon. Kubuka kakinya, dia menurut saja, ku usap usapkan penisku ke pantatnya lalu kusapukan penisku ke vaginanya, dia menoleh ke arahku dan kubalas dengan senyuman. Tubuhnya menegang ketika penisku meluncur masuk ke liang vaginanya, dia mendesah tapi matanya tetap tertuju pada istriku dan suaminya di kolam sana, aku tak peduli apa yang ada di benaknya. Kukocok dia dengan cepat, tangannya meremas tirai jendela, kami bercinta dengan berdiri, sambil memegang pantat dan meremas buah dadanya kukocok makin cepat, dia mendesah lepas, seakan melupakan mereka yang ada di kolam.

"Aduh mas, enak mas, teruss" desahnya lagi, tangannya tertumpu pada bingkai jendela, aku menyukai pandangan pantatnya yang mulus, sintal, padat berisi, apalagi saat bergoyang ketika kukocok, begitu indah dan menggairahkan.
Khawatir kami lepas kontrol dan tirainya tertarik, kami pindah ke sofa, sayup sayup kudengar tawa dan canda dari kolam. Mbak Eliz duduk di sofa, aku berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka, kupeluk dan kuciumi bibir dan lehernya, dia memegang penisku, mengocoknya sejenak lalu menyapukan ke vaginanya, masih saling melumat bibir, penisku kembali memenuhi rongga vagina Mbak Eliz, dia melepaskan lumatannya ketika semuanya sudah berada dalam vaginanya, dipandanginya mataku dengan sorot penuh gairah.
"Cumbui aku sesuka Mas Hendra, fuck me as you like, puaskan aku mas" bisiknya, ada nada marah pada suaranya, mungkin dia cemburu dengan yang di kolam, tapi aku tak peduli, yang penting aku bisa menikmati tubuh sexy Mbak Eliz sebanyak yang aku bisa.

Kami saling memeluk dan mengocok, berbagai posisi kami lakukan dari meja, karpet lantai hingga kembali ke ranjang dengan segala posisi yang ada di imajinasi kami, entah sudah berapa kali dia mengalami orgasme, tapi selalu berulang dan berulang lagi. Rasanya tak pernah habis kureguk kenikmatan dari Mbak Eliz.
Suara canda dari kolam sudah tak terdengar lagi, kami terlalu asik mengarungi lautan kenikmatan hingga tak perhatikan sejak kapan terhenti.

Tubuhku untuk kesekian kalinya di atas tubuh Mbak Eliz, mengocok dan menggoyang dengan penuh gairah dan nafsu, kakinya dikaitkan di atas pinggangku, kami saling mereguk kenikmatan, hingga sampailah aku ke puncak kenikmatan sexual, tubuhku menegang.
"Keluarin di dalam Mas" bisiknya, dan sedetik kemudian menyemprotlah spermaku di rahim istri tetanggaku yang cantik ini.
"Aaauugghh" dia menjerit spontan ketika semprotan pertama menghantam dinding rahim dan vaginanya, tubuhnya ikut menegang dan sebelum denyutanku habis vaginanya ikutan berdenyut lemah, kami orgasme hampir bersamaan, saling memeluk erat, napas kami menderu seiring deru birahi kami. Aku langsung lunglai di atas tubuh dan pelukan Mbak Eliz, kurasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. Kami berpelukan dan saling mendekap tanpa kata, seakan menikmati saat saat nikmat yang baru saja kami gapai.

"Udah dulu ya sayang, ntar suamimu tahu" kataku memecahkan keheningan, kuberanikan memanggil kata sayang, mengingat saat nikmat yang baru saja kami lalui.
"Thanks mas, ini the best sex I have ever had" katanya masih di pelukanku.
"Mas Hendra bukan satu satunya selain suamiku, aku memang beberapa kali selingkuh sama teman, tolong pegang rahasia ini ya Mas, tapi inilah yang terbaik dan punya Mas Hendra adalah yang terbesar yang pernah aku tahu selama ini, paling asik deh" katanya pelan tapi mengagetkanku. Sungguh beruntung laki laki yang telah menikmati tubuh sexy dan wajah cantik ini.
"Mas Surya tahu?" tanyaku sambil menutupi kekagetanku.
"Entahlah Mas, mungkin juga sudah tahu tapi dia belum memergoki secara langsung sih, mau Tanya juga nggak berani dia karena aku juga tahu dia sering selingkuh, bahkan sekali tertangkap basah"
Mbak Eliz terdiam sejenak.
"Kehidupan keluarga kami sih nggak ada masalah, selama masalah itu tidak dibawa ke rumah, dan kita juga nggak pernah mengungkit ungkit masalah itu, it just fun, selama ini kami happy-happy saja kok, nothing wrong with my family. Aku berkata sejujurnya bahwa inilah yang terbaik yang pernah aku alami, aku jadi pingin lagi lain waktu, terserah Mas Hendra apa dengan Mbak Lily atau Cuma kita berdua, aku sih oke oke saja, yang penting kita bisa menjaga keluarga kita masing masing" lanjutnya, dia menciumku, lalu turun dan berpakaian.

Kami lalu ke ruang tamu, kubuka tirai kamar pertanda kami sudah selesai, kolam renang terlihat sepi, dia membuatkan aku kopi lalu nonton TV bareng sambil menunggu kedatangan istriku dan suaminya yang entah sekarang dimana atau lagi ngapain. Sesekali kami berciuman dan kucuri remasan buah dadanya.

"Kamu belum memenuhi janjimu", kataku asal.
"Yang mana?"
"Sebelum istriku keluar"
"Emang dia pernah melakukannya?
"Bukan pernah lagi tapi setiap kali kami selesai bercinta" jawabku, melihat keadaan masih aman, kutarik Mbak Eliz ke dapur, aku bersandar di dinding dan kulorotkan celanaku hingga lutut dan kuminta dia jongkok. Agak ragu sebentar tapi akhirnya dia menurut, kembali bibir dan lidahnya menyusuri kejantananku, tak lama kemudian penisku sudah keluar masuk bibir mungilnya, makin lama makin menegang dan membesar. Kupegang rambutnya dan kukocokkan penisku di mulutnya.
"Eeegghh..eehhmm, gila, tak muat mulutku Mas"

Penisku makin cepat keluar masuk mulutnya, tak lebih dari tiga menit kemudian kusemprotkan spermaku ke mulutnya, tak banyak memang, tapi aku sudah bisa merasakan orgasme di mulutnya. Dia berusaha menarik keluar, tapi kutahan kepalanya, dan tertelanlah spermaku itu, dia seperti mau muntah tapi tak kupedulikan, takkan kulepas sebelum aku yakin dia sudah menelannya, kuusap usapkan penisku yang sudah lemas itu ke mukanya, dia menikmatinya.
Kami kembali ke ruang tamu menunggu kedatangan mereka, sepuluh menit kemudian muncullah Mas Surya dari balik pintu, sendirian dan masih mengenakan celana dalamnya yang sudah agak kering, berarti cukup lama dia keluar dari kolam renang, dia terlihat agak terkejut melihat kami berdua di ruangan itu.

"Eh, kirain kalian ikut Tea Walk" sapanya agak kaku langsung masuk ke kamarnya. Aku dan Mbak Eliz saling berpandangan, dia kemudian menyusul suaminya ke kamar meninggalkan aku sendirian di ruang tamu.
Cukup lama aku sendirian menunggu istriku sebelum akhirnya dia datang menenteng pakaiannya, hanya berbalut handuk dan rambutnya basah, padahal dia sudah lama keluar dari kolam. Dia tersenyum dan langsung masuk kamar, kususul dan kutarik handuknya hingga terlepas, ternyata dia tidak mengenakan apa apa dibaliknya, kupeluk dan kudorong dia ke ranjang yang baru saja aku pakai bercinta dengan Mbak Eliz.

Sambil berpelukan dia mulai bercerita apa yang telah terjadi. Ternyata dia membohongi Mas Surya bahwa kami ikut Tea Walk dan di kolam renang tak hentinya Mas Sur memandangi tubuhnya, sering tertangkap basah matanya memandang nakal ke arah buah dadanya yang memang menonjol di balik kaos basahnya, bahkan tak jarang Mas Surya berusaha menggodanya tapi istriku pura pura tak tahu.

Bersambung ...