Sebelum memulai ceritaku, aku ingin berterimakasih karena cerita yang berjudul "Santi" ditampilkan di situs Rumah Seks ini.

Selanjutnya ingin kuceritakan pengalamanku yang kedua bersama dengan Santi dan temannya yang bernama Wati. Sebagai gambaran Wati ini adalah seorang wanita yang pendiam dan sangat sopan. Ok, akan kumulai cerita dimana aku berkenalan dengan Wati.

Sesudah aku dan Santi bersetubuh di WC dekat warnetnya (baca cerita Santi) maka kuputuskan untuk menemaninya sebentar, sehingga terpaksa aku harus memasuki warnet XX tersebut. Dan kami berdua disambut oleh senyum dari Wati, karena aku belum kenal dengannya maka aku pun berinisiatif memperkenalkan diri.

"Donny", sambil kuhampiri Wati yang sedang duduk.
"Wati", jawabnya.
"San, gimana tuh tadi di WC? asik nggak?" tanyanya kepada Santi.
Santi hanya tersenyum.

Kupikir sebelum aku menanggung malu lebih banyak lagi, maka aku berniat untuk pulang.
"San, Wati, aku pulang dulu yah. Dah malam nih, ngga enak ama teman sekamarku".
"Yah masa pulang sih, kan belum puas. Yah ngga San?" jawab Wati dengan senyumnya.
"Eh.. ehh, dah berani macam-macam yah kamu Wat, biasanya pendiem", jawab Santi lagi.
Lalu kami tertawa bersama-sama, dan untung user yang ada hanya tinggal 3.
"Iya deh, tapi ntar kalo pintunya digembok gimana nih. Mau tidur dimana nih?", tanyaku.

Sesaat kulihat Santi dan Wati berbisik-bisik, namun tak kuacuhkan bisikan mereka dan tidak akan kutanyakan, karena aku juga sudah lelah dan kupikir demikian juga Santi. Namun aku tersadar saat Santi menawarkan kamar kostnya untuk tempat tidurku malam itu. Setelah kupikir-pikir, daripada tidur di jalan lebih baik tidur di kamar cewe yang mungkin nantinya akan ada kelanjutan yang lebih lagi,:)

Setelah itu, kami bertiga akhirnya berbincang-bincang, dan kadang-kadang Santi selalu membahas kejadian di WC itu, sehingga membuat Wati terdiam dan membisu. Namun kulihat dia seperti terangsang. Perbincangan kami berakhir ketika jam menunjukkan pukul 12 malam atau memasuki subuh. Dimana kami pun bersiap-siap untuk pulang, dan digantikan oleh 2 orang pria yang bertugas menggantikan Santi dan Wati.

"Wati, ntar tidur dikamarku aja. Mau nggak?", tanya santi.
"Ngga ahh, ntar ganggu loe berdua", jawabnya.
"Ngga bakalan lha, iya kan Don", jawab Santi sambil mencium bibirku.
"Terserah kalian berdua sajalah", jawabku acuh.

Ternyata tempat tinggal Santi merupakan sebuah kost yang tidak jauh dari warnet tempatnya bekerja, singkat cerita aku dan Wati telah ada di kamar Santi. Kuperhatikan kamarnya, sangat rapi tidak seperti kamarku yang seperti kapal meledak. Setelah kami berada di kamar, aku pun berbaring untuk melepas lelah. Dan Santi masuk ke kamar mandi, setelah itu aku terlelap tidur. Namun tidak lama aku merasakan kalau ada yang sedang menjilat penisku dan terdengar suara erangan, spontan aku bangun dan tampak bahwa Santi sedang melahap penisku dan memperhatikan adegan dalam layar TV, ketika aku bangun dia hanya tersenyum.
"Wati mana San?" tanyaku menahan birahi
"Di kamar mandi, nggak tau lagi ngapain tuh", jawabnya

Tanpa pikir panjang kuturunkan celana pendek dan celana dalamnya, dan mulai kujilati vaginanya yang belum lama telah kurasakan melalui penisku. Sekitar 5 menit kami berdua melakukan gaya 69, dan akhirnya Santi membalikkan badannya dan duduk diatas pangkuanku serta berusaha memasukkan penisku kedalam liang vaginanya. Sleepp bless.

"Akhh, Donn koq makin enak aja yah", dan pada saat itu juga Wati membuka pintu kamar dan tampak terkejut. "Sorry yah", sambil mengambil posisi tidur.
Aku yakin bahwa Wati tidak bisa tidur karena perbuatan kami.
"Donn, gue suka banget deh ama kontol loe ini", bisiknya di telingaku.
"Gue juga suka ama memek kamu", jawabku.
Lalu aku membaringkan Santi tanpa membuat kelamin kami tercabut, dan mulai kugoyangkan pantatku secara berirama dan agar lebih terasa nikmat dengan tanpa mengalami kesulitan dan ketegangan seperti di kamar mandi.

"Akhh, Donn.. gue dah ngga kuu.. att..", dan sejurus kemudian Santi pun orgasme.
"Mau diterusin atau istirahat dulu Say?", tanyaku.
"Istirahat dulu yah", jawabnya.
Aku pun mencabut penisku, dan kulihat Wati yang sedang tidur.
"Tidur atau ngga yah" pikirku.
Kuhampiri Santi yang terengah-engah, "San, boleh ngga ML ama Wati?", tanyaku..
"Hayoo, satu memek ngga cukup yah Say" dicubitnya hidungku.
"Habisnya memek yang satu ini dah ngga kuat sih", candaku.
"Terserahlah, asal Watinya mau", jawabnya.

Lalu kuhampiri Wati yang terlelap dan mulai kulakukan aksiku dengan tanpa meminta ijinnya terlebih dulu. Kucium bibir Wati, nampak ada gerakan yang menandakan dia terkejut dan tidak tidur. Namun dia meneruskan untuk pura-pura tertidur, karena pertempuranku dengan Santi yang menyebabkan aku masih dalam keadaan hot, maka aku langsung meraba-raba selangkangannya yang dibalut celana dalam dan celana pendek. Kurasakan celananya telah basah dan kubisikkan, "Wat, boleh ngga aku ngentot ama kamu?", Wati hanya menjawab dengan membuka kakinya dan mempermudah gerakan tanganku untuk meraba selangkangannya.

Dengan adanya ijin dari Wati maka aku pun segera membuka celana pendek dan celana dalamnya, lalu aku mulai menjilati vaginanya yang sangat merangsang birahiku dan terciumlah aroma yang wangi sekali dari vaginanya.
"Shhtt, Donn.. eenakk", desahnya.
"Akhh, terus donk keatas dikitt.. iya disitu", jawabnya setelah aku menemukan klitorisnya dan segera kuisap dengan penuh nafsu.
"Donn, uudaahh.. guee mauu.. ekk..", terasa banjir vaginanya.
Dan akupun tersenyum puas, "Wati, boleh yah?" sambil kuarahkan senjataku ke liangnya.
Dia hanya mengangguk dan aku pun berusaha memasukkan senjataku, namun tampaknya sulit sekali.
"Apakah Wati masih perawan?" pikirku yang langsung terjawab seketika sesaat setelah kepala penisku telah dapat menerobos masuk.
"Akhh, Don.. jangan keras-keras", rintihnya.
"Iya Wat", kurasakan jepitan vaginanya yang lebih kuat dari Santi.

Kudorong dan kumainkan penisku berirama di dalam vaginanya, dan Wati tampak menikmatinya.
"Akhh, Donn masukkiinn lebih daleemm.."
"Iya say", jawabku dan kudorong penisku, "Bless..".
"Akhh", jeritnya dan kutahan penisku di dalam vaginanya.
"Wati, kamu rela diperawanin sama aku?", tanyaku.

Wati tidak menjawab namun kurasakan dia ingin merasakan penisku lebih lama, terlihat dari gerakan pantatnya yang masih kaku. Lalu aku pun mulai menggoyangkan pantatku dengan irama yang tetap dan pelan, karena aku tidak ingin menyakiti Wati yang baru pertama kali merasakan penis seorang lelaki. Sambil kugoyangkan pantatku, aku melihat Santi yang sedang memperhatikan kami dan kuberikan isyarat untuk mendekatiku, setelah ia mendekat langsung kumasukan jariku ke dalam vaginanya dan Santi menjerit tertahan karena birahinya yang sudah memuncak saat memperhatikan permainan kami.

"Shhtt.. akhh", terdengar desahan mereka berdua yang sedang di entot dengan jari dan penisku.
"Akhh, Donn.. gue mauu.. akhh..", jerit Wati dan kurasakan jepitan yang sangat nikmat.
Namun aku tidak ingin melepaskan kenikmatan remasan vaginanya sehingga kuteruskan menggenjotnya dengan lebih cepat.
"Donn, udahh..", rintihnya menahan ngilu dan sekaligus nikmat.
"Tahan dulu bentar Say, gue mauu kelluuaarr..", jeritku.
"Creett.. crott.. creett.. crott.. creett.. crott..", akhirnya, enam semprotan ke dalam vagina Wati.

Lalu kami pun berbaring dan aku menindih badan Wati yang masih terengah-engah.
"Ternyata enak yah dientot itu", ujarnya.
Kujawab dengan menggoyangkan pantatku sehingga penisku bergesekkan dengan vaginanya.
"Udah ahh, cape nih. Tuh liat Santi udah kerangsang", kata Wati.

Kucabut penisku dan kembali kuhampiri Santi.
"Dah siap terima serangan Say?", kulihat Santi dengan cemberut membuka kakinya dan terlihat sudah basah sekali vaginanya.
"Sleebb", dengan mudah penisku masuk ke dalam vaginanya dan kali ini Santi seperti ingin membalas perlakuanku atas Wati.
Dengan beringas dan bernafsu, Santi menggoyangkan pantatnya dengan cepat dan tak beraturan.

"Shh, Sann.. lebih cepatt.. lebih cepatt.."
"Akhh.. shh.. Donn.. kontol looee enakk.."
"Ahh.. ahh, hebatt kamu San.."
"Donn, rasaiinn orgasmee guee..", terasa jepitannya yang meremas-remas penisku.
"Don, kamu hebat deh, lain ama yang di WC lho".
Aku tidak menjawab, dan kuteruskan mengenjot vaginanya dengan sedikit kasar.

"Ahh, Donn lebih cepet Donn"
"Shh.. shh.. shh.. shh..", desah kami berdua dengan diperhatikan oleh Wati.
"Donn, guee mauu keluarr lagii.."
"Tahan Sann, barengan keluarrnyaa.."
"Ngga kuaatt lagii", kali ini jepitan dan remasannya membuatku tidak dapat menahan spermaku lebih lama lagi.
Crett.. crett.. crett.. crett.. crett.. crett..
"Akkhh..". teriak kami berbarengan.

Sungguh nikmat vagina mereka berdua dan dalam semalam aku pun mendapat dua vagina yang masih perawan, inikah surga dunia yang penuh dengan kenikmatan. Setelah itu, kami bertiga tidur dalam selimut dan saling berpelukan..

Tak terasa siang telah datang pada saat aku bangun, terlihat Santi dan Wati masih terlelap. Setelah itu aku pun bangun dan masuk ke kamar mandi yang berada di kamar Santi dengan bertelanjang bulat, ketika aku masuk kamar mandi, tanpa kusadari Santi ikut bangun dan masuk kamar mandi.

"Kepengen ngulang pertama kali ngentot ama kamu nih Don", katanya
"Boleh, tapi nungging dulu", candaku namun kata-kataku itu dilakukan juga oleh Santi.
"Ini yah yang bikin tiap cowo blingsatan", sambil kuelus-elus vaginanya.
"Shh, jangan dielus doank donk", rengeknya.

Tanpa berlama-lama kuisap clitorisnya dan membuat Santi mendesah dengan tidak karuan.
"Shh.. Donn.. enakk.. bangett"
"Diapaiinn sihh memek guee.."
"Dikerjain donk", jawabku sambil mengarahkan penisku ke lubang memeknya.
"Bless..", dengan tanpa mengalami kesulitan lagi penisku menerobos masuk ke memek Santi.
"Shh.. kooqq lebihh enakk"
"Iya Sann, nikmati dan rasain kontol gue", jawabku.
"Shh.. hh.. sshh..", desah kami berdua.
"Donn, cepetann.. lebih dalemm..", goyangan pantatnya pun membuatku blingsatan.
"Tahann.."
"Akhh..", akhirnya, sarapan kami berdua dimulai dengan saling "meludahnya" kelamin kami.

Sungguh nikmat permainan kami siang itu, dan tak lama kemudian Wati pun ikut bergabung bersama kami dalam memacu birahi. Perbuatan kami ini kami ulang sampai jam 6 sore dan terhenti hanya untuk makan. Dan sampai dengan saat inipun hal ini masih sering kami lakukan, kadang berdua, kadang bertiga, dan aku ketahui bahwa nafsu mereka semakin tinggi, sehingga frekuensi permainan kami pun meningkat.

Tamat

Perkenalkan namaku Irvan, sekarang berumur 21 thn. Wajahku sebenarnya sih biasa-biasa saja bisa dibilang cukup pendek malah tetapi mungkin aku sudah punya bakat alam untuk merayu cewek, mungkin ini juga salah satu pengaruh karakterku yang cenderung sanguinis, mudah bergaul. Pegalaman seksku tidak bisa dibilang banyak, cuma pernah bercinta dengan mantan pacarku aja. Kali ini aku mau bercerita salah satu pengalaman seksku dengan 2 kakak seniorku di perguruan tinggi.

Ceritanya bermula ketika aku mulai masuk perguruan tinggi pada saat OSPEK. Waktu itu salah satu senior yang menjadi mentorku adalah seorang cewek cantik, bentuk tubuhnya indah sekali, rambutnya panjang dan dikuncir di belakang. Orangnya sering memakai baju yang agak ketat jadi bentuk tubuhnya yang indah itu dapat kulihat, ingin rasanya tenggelam dalam pelukannya.

Diam-diam sewaktu dia pulang aku ikuti dia dari belakang biar tahu di mana rumahnya. Ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah kostku, dan yang membuat aku lebih kaget adalah yang membukakan pintu itu seorang cewek yang wajahnya juga mirip dengan dia, bentu tubuhnya juga sama-sama bagus, yang membedakan hanya model rambutnya, cewek yang membukakan pintu itu rambutnya hanya sebahu lebih dan tidak dikuncir, aku pikir mereka ini pasti saudara kembar.

Besok adalah hari terakhir OSPEK, aku sengaja meminta tanda tangan pada dia sambil sekalian berkenalan dengannya. Sesudah dia memberi tanda tangan, kutanya namanya, dia bernama Susanti, dan tidak lupa kutanya dia "Eh, omong-omong kemarin aku lagi lewat rumahmu, aku juga nggak sengaja ngeliat satu cewek yang ngebukain pintu buat lu, wajahnya kok mirip denganmu sih, punya saudara kembar ya, tapi kok sekarang orangnya nggak keliatan sih?".
"Ooo, jadi kamu juga udah melihat si Susanna nih, wah nggak seru nih.., lu jadi nggak ketipu dong kalo aku kibulin..!

Kami pun bercanda dan ngobrol. Sejak saat itu kami pun mulai akrab, aku juga sudah mengenal kembarannya yang bernama Susanna yang lebih tua beberapa menit dari Susanti. Mereka lebih tua 1 tahun dariku dan 2 angkatan di atasku. Aku sering pergi ke rumah mereka yang kebetulan tidak terlalu jauh dari kampus. Aku merasa ada sedikit hati pada Susanti karena kalau sedang ngobrol lebih klop rasanya. Mereka pun sering ke kostku dan aku kenalkan kepada teman kost yang lain.

Setelah beberapa bulan kira-kira jam 3 siang mereka datang ke kostku. Mereka bilang mau meminjam komputer buat ngetik, soalnya komputer di rumah mereka sedang rusak katanya. Aku pun mempersilakan mereka masuk ke kamarku yang juga ruang kerjaku. Sementara Susanti sibuk mengetik, aku ngobrol dengan Susanna, ternyata Susanna agak genit, obrolannya kadang-kadang suka nyerempet ke arah seks segala, beda dari adiknya yang sedikit tenang. Dia juga sibuk melihat majalah-majalahku.
"Wah, nggak seru nih kok majalah komputer sama sport semua nih", katanya.
Tanpa kusadari dia menemukan VCD blue yang aku sembunyikan antara halaman majalah.
"Wah ketahuan nih, bandel yah, sembunyiin barang kayak ginian".
Wajahku agak malu apalagi saat tertangkap basah di depan Susanti yang aku suka itu. Sebenarnya itu film lama dan aku juga sudah bosan nontonnya, makannya aku sembunyikan saja di sembarang tempat.

"Wah boleh juga nih", kata Susanna, "Aku juga udah lama nggak ngeliat lagi yang kayak gini, stel dong Van, boleh kan?".
"Wah, itu kan si Santi lagi sibuk, komputernya lagi dipake tuh".
"Ini bentar lagi selesai kok tinggal di save aja nih", jawab Susanti.
Aku agak heran mendengar jawaban Susanti, "Wah, ini kan film nggak baik Ti, masa lu mau liat juga nih", jawabku.
"Aku belum pernah liat tuh, sekali-kali kan aku juga pengen tau kayak apa sih film yang bisa bikin laki-laki tergila-gila tuh, ya nggak Van".
Tidak lama kemudian Susanti berkata, "Udah nih Van, udah aku save lagi, mana dong janjinya, stel dong VCD-nya. Mumpung masih belum terlalu malem nih".
"Iya, kita cewek juga boleh dong ngeliat, bukan cowok aja dong, kan emansipasi nih", Susanna menambahkan.

Akhirnya aku terpaksa mengalah setelah didesak mereka berdua dan menyetel VCD porno itu dan kami menontonnya. Kami duduk di ranjang saat menonton, aku duduk di sebelah Susanti dan Susanna di sebelah Susanti. Dalam film itu terlihat adegan seorang pria sedang menyetubuhi 2 orang wanita secara bergantian, adegan itu membuat nafsu seksku bangkit, ditambah lagi ada 2 cewek cantik di sini dan mereka berdua juga kelihatannya cukup terangsang juga.

Aku mulai memberanikan diri menggenggam tangan Susanti dan dia juga tidak menunjukkan reaksi menolak, tanganku mulai usil meraba pahanya yang pada saat itu cuma memakai celana pendek. Kemudian aku berkata pada Susanti, "Gimana Ti, filmnya bagus nggak?", dia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.
Entah apa yang merasukiku saat itu tahu-tahu tanganku sudah mulai menyelinap ke bawah baju kaosnya dan meraba punggungnya yang halus lalu membuka tali BH-nya. Setelah itu tanganku mulai meraba payudaranya yang indah, dan saat itu dia mendesah, "Aaahh!".

Susanna yang melihat kami berdua sedang diam-diam asyik langsung berkata, "Loh, kok mainnya cuma berdua aja sih, nggak ngajak-ngajak nih!".
Selesai berkata demikian dia langsung pindah tepat duduk ke sebelah kiriku, jadi sekarang aku dalam posisi diapit 2 orang wanita.
"Wah kaya surga aja nih", kata aku dalam hati.
Aku lalu berkata pada Susanti yang saat itu juga sudah tidak bisa mengendaikan dirinya.
"Aku buka aja yah bajunya, Ti, biar lebih nyaman".
Setelah dia mengijinkan, akupun langsung membantunnya untuk membukakan bajunya, sementara itu Susanna membantuku membuka celanaku. Aku semakin nafsu begitu melihat bentuk tubuh Susanti yang sudah polos pada saat itu, ditambah lagi Susanna juga membuka bajunya setelah dia membuka celana dalamku, kini kami bertiga sudah dalam keadaan telanjang bulat.

Susanti duduk di sebelahku dan kuraba payudaranya sambil beradu lidah dengannya, sementara Susanna duduk berlutut di antara kedua kakiku sambil mengemut dan menjilati adikku. Kepalaku sudah turun ke payudara Susanti dan kujilati putingnya yang indah berwarna merah muda itu dan tanganku yang satunya lagi meraba-raba kemaluannya yang berbulu lebat dan sudah mulai basah. Susanti yang pada saat itu sedang mabuk kepayang oleh nafsunya mendesah sambil berkata, "Uhh, terus Van, terusiin, udah mau keluar nih.., Ahh.!".
Lalu Susanna berkata, "Cepetan Van, kalo Santi udah puas aku juga mau digituin nih".
Setelah berkata begitu, dia meneruskan menjilati penisku.

Setelah beberapa saat aku mempermainkan klistoris Susanti, aku mulai merasakan keluar cairan hangat dari sana, dan Susanti mendesah panjang sambil memeluk erat badanku. Disaat yang sama pula aku mencapai kepuasan karena penisku dikulum Susanna. Spermaku muncrat membasahi muka Susanna, dan dia menelan spermaku yang masih tersisa, Susanti juga berlutut ikut menjilati spermaku yang masih belepotan di penisku.

Tiba-tiba kudengar pintu kamarku dibuka dari luar, dan yang masuk adalah Andry, teman kostku yang juga teman sekamarku. Deg, aku kaget sekali, pada saat itu bagai disambar petir. Aku baru sadar kalau Andry juga ternyata memegang kunci kamar ini dan yang lebih tolol lagi adalah grendel pintu lupa kukunci. Begitu dia masuk aku langsung mengambil bantal menutupi penisku. Si kembar juga kaget dan mengambil pakaian mereka menutupi bagian terlarang mereka, untung pada saat itu mereka cuma sedang menjilat penisku, kalau sedang mengemut kan gawat, bisa tergigit penisku.

Andry yang baru masuk menutup pintu lagi dan terdiam beberapa detik sambil memandangi kami yang hanya tertutupi oleh barang seadanya.
"Kalian lagi ngapain? kok nggak ngajak-ngajak sih?". Belum sempat ada yang menjawab dia sudah mendekati Susana dan mengambil tissue membersihkan cipratan maniku di wajahnya. Dan Sussana pun tanpa diperintah langsung membukakan baju Andry. Melihat itu rasa kagetku pun mulai pulih kembali, aku menarik Susanti duduk di pangkuanku berhadap-hadapan, dan kumasukkan penisku ke dalam vaginanya, ternyata Susanti masih perawan, terbukti ketika kumasukkan penisku agak sulit, akhirnya dengan sepenuh tenaga berhasil juga, dan kudengar juga suara sobekan selaput daranya disertai sedikit darahnya.

Lalu kugenjot tubuhnya dalam pangkuanku, aku semakin horny saat melihat payudaranya yang bergoyang naik turun, kumainkan kedua benda itu, lalu kubuka juga kuncir rabutnya sehingga rambutnya tergerai panjang, membuatnya bertambah seksi. Penampilannya mengingatkanku pada foto model bugil Jepang, Chisato Kawamura. Waktu itu kulihat juga Andy sedang melakukan anal seks dengan Susanna. Ternyata Andry adalah orang yang suka bermain seks secara kasar. Kulihat dia, sambil menggenjot Susanna, tangannya menjambak rambutnya dan tangan satunya lagi meremas-remas payudaranya.

Setelah Andry puas dengan Susanna, dia minta untuk berganti pasangan denganku. Aku sebenarnya agak keberatan soalnya Susanti itu kan gadis yang aku sukai, tapi kulihat Susanti mengangguk menandakan dia setuju, "Nggak pa-pa kok Van, ini kan cuma permainan aja, boleh ya". Kupikir-pikir ya benar juga, akhirnya aku juga setuju. Susanti pun meninggalkanku dan menuju ke Andry, aku berjalan ke arah Susanna, dan membaringkannya telentang di ranjangku dan kumasukkan adikku ke dalam vaginanya. Dia kelihatannya sangat menikmati permainan ini, dan kutahu bahwa Susanna sudah tidak perawan, tapi vaginanya masih kencang, sepertinya jarang dipakai. Pantas aja dia kelihatannya lebih berpengalaman saat oral seks sebelumnya tadi, selain itu juga sifatnya lebih agresif. Tapi mereka berdua memang sama-sama enak rasanya kok. Aku agak cemburu saat melihat Susanti dijilat-jilati tubuhnya oleh Andry dan sesudahnya disetubuhi olehnya.

Singkat cerita akhirnya kami berempat bermain sampai puas, si kembar akhirnya terbaring lemas bermandikan keringat dan air sperma, aku dan Andry pun sudah merasa puas dan cukup lelah. Kira-kira jam 6 sore si kembar pamit pulang, setelah sebelumnya beres-beres dan membersihkan diri dulu. Mereka tidak mandi di sini karena takut kelihatan penghuni kost lain. Jangan-jangan mereka jadi curiga, kan bakal runyam deh jadinya. Sekarang mereka sudah lulus dan Susanti sudah pergi ke luar negri mengambil S2, yang masih tinggal cuma Susana yang sudah mempunyai pacar. Aku sendiri pun sudah mempunyai pacar sendiri.

TAMAT

"Selamat pagii..", suara merdu itu menggema di ruangan tamu rumah kosku yang cukup lapang.
Selanjutnya terdengar suara batuk yang panjang, yang dikeluarkan dari kerongkongan yang sama.
Aku memandang si pemilik suara itu dengan rasa kasihan.
"Masih batuk Win?, kok kelihatannya semakin keras saja. Pergi ke dokter dong".
Wiwin, si pemilik suara, hanya tersenyum manis. Dia membuka lemari es dan mengambil sebotol air es, langsung diteguknya tanpa memakai gelas lagi.
"Enggak kok Mas No', ini mah sudah mendingan. Kemarin aku sudah konsultasi ke dokter katanya enggak apa-apa. Udah baik."
Tetapi kata-katanya itu dilanjutkan lagi dengan batuk yang beruntun, membuatnya tersedak-sedak dan terbungkuk-bungkuk.

Itulah si Wiwin, satu-satunya cewek di tempat kosku ini. Namaku Nano, dan bersama ketiga kawanku (Dwi, Deni dan Atok) tinggal di rumah kost ini sudah semenjak dua tahun yang lalu. Kami samasama kuliah di salah satu universitas swasta beken di Jakarta ini, dan rumah kost ini kami pilih karena jaraknya yang sangat dekat dengan kampus. Selain harganya tidak terlalu mahal, rumah ini lumayan luas dan terawat baik (ada satu pembantu yang datang pagi-pagi untuk memasak, mencuci dan membersihkan rumah). Bagi kami, mahasiswa perantauan yang tinggal sendiri di ibukota, kondisi ini cukuplah. Kami merasa nyaman dan kerasan di rumah ini.

Hingga kemudian, datanglah si Wiwin. Wiwin adalah keponakan dari Ibu Hidayat, pemilik rumah kost ini. Ayah dan ibunya tinggal di Bandung tetapi telah bercerai semenjak dia berusia 5 tahun. Wiwin adalah anak tunggal, tampaknya perkembangan hidupnya menjadi kacau setelah perceraian itu. Dia tinggal bersama ibunya (yang sudah kawin lagi dengan duda beranak tiga), tetapi tampaknya sangat kurang mendapatkan kasih sayang. Dia berkembang menjadi gadis super bandel yang semenjak SMP hidupnya lebih banyak dihabiskan untuk berkeliaran pada malam hari bersama gengnya dari pada belajar, selalu merokok seperti kereta api dan membuat berbagai ulah yang merepotkan orang tuanya.

Pada saat berumur 17 tahun, dia mendapatkan dua 'hadiah' sekaligus, hamil di luar nikah dan dikeluarkan dari SMA nya karena kedapatan mengkonsumsi narkoba. Untung saja kehamilannya dapat dihentikan dengan pengguguran kandungan, tetapi untuk persoalan sekolah rupanya sudah tidak tertolong lagi. Si Wiwin sama sekali mogok tidak mau sekolah. Dia memilih tinggal di rumah saja, dan meneruskan kegiatannya lontang-lantung bersama gengnya dan terus memberikan kontribusinya terhadap pendapatan cukai negara dengan terus menerus merokok, tidak henti-hentinya.

Orang tuanya tampaknya sudah angkat tangan betul-betul dengan ulah anak gadisnya itu, sehingga sejak empat tahun yang lalu dia dipindahkan ke rumah Ibu Hidayat, bibinya yang jauh lebih ketat dalam beragama (pak Hidayat mempunyai pesantren kecil yang dikelolanya sendiri). Tetapi keluarga Pak Hidayat yang alim inipun akhirnya angkat tangan terhadap ulah bandel si Wiwin, terutama karena keberaniannya menggoda para santri yang masih muda dan polos.

Akhirnya untuk mengurangi akibat buruk dari ulah begajulan keponakannya itu, Pak Hidayat menempatkan si Wiwin di rumahnya yang dijadikan rumah kosku ini. Si Wiwin (dengan setengah dipaksa) mengambil kursus sekretaris, meskipun mungkin dia datang kursus cuma sebulan sekali. Dia ditempatkan di kamar yang paling besar yang terletak di belakang rumah, sehingga diharapkan kalau dia mau amblas malam-malam hari akan lebih mudah dikontrol karena harus melewati kamar-kamar kost yang lain. Tetapi inipun tidak membantu. Si Wiwin tidak peduli dengan pandangan anak-anak kos, dia tetap dengan santainya meneruskan kebiasaannya setiap hari, berkelana dan merokok seperti kereta api.

Itulah sekelumit kisah hidup si Wiwin, teman kost kami. Dan inilah sekelumit fakta lain mengenai dia, dari segi fisik, si Wiwin (ini sungguhan) astaga-naga cantiknya.

Tubuh si Wiwin ini tinggi juga (+/- 168 cm), kulitnya putih mulus dengan rambut hitam tebal, mata seperti kijang dan mulut super sensual dengan bibir agak tebal. Buah dadanya berukuran 36 D (wuaah.., gede banget), dengan pinggul yang benar-benar membuat mata setiap lelaki melotot memandangnya. Dan hebatnya, tubuh bahenol itu kalau di rumah sering hanya ditutupi dengan selembar daster tipis yang hanya disangkutkan di bahu pemakainya dengan dua utas tali kecil, sehingga keindahan punggung dan lengannya tampak dengan jelas dan menjadi konsumsi gratis mata anak-anak kos.

Pokoknya, si Wiwin sungguh-sungguh top badannya. Lha, kenapa kami selama ini masih bisa menahan diri, tidak menubruk tumpukan daging indah yang setiap hari melintas di hadapan kami itu? Alasannya adalah, semenjak dia masuk ke rumah kost ini (kira-kira setahun yang lalu), si Wiwin sudah disamber si Roni, salah seorang teman sekampusku, dan dengan bangga diproklamasikan sebagai pacarnya. Mereka berkenalan ketika si Roni main ke tempat kost kami, dan dalam waktu seminggu mereka sudah lengket seperti permen karet.

Kami sudah mengingatkan Roni mengenai kabar kabur si Wiwin yang tidak begitu baik dan hobinya yang suka ngelayap dengan sembarang orang, tetapi teman kami itu tidak peduli. Mereka berpacaran dengan bersemangat, dan hebatnya kami melihat bahwa si Wiwin yang begajulan itu akhirnya tunduk juga. Dia sudah agak jarang pergi malam hari, kecuali diantar si Roni. Kalau pacaran mereka juga lebih banyak duduk saja di bawah pohon jambu di halaman rumah, sambil makan bakso yang sering lewat malam-malam. Sungguh romantis.

Nah, kira-kira dua bulan yang lalu, si Wiwin mulai sakit. Dia bilang tubuhnya sering lemas dan panas, ditingkahi dengan sesak napas dan batuk yang tidak ada hentinya. Kamipun dengan mudahnya memvonis, itu pasti akibat rokok yang tidak pernah lepas dari mulutnya. Wiwin sering terbaring lemas di kamarnya, meringkuk di balik selimut tebal. Bapak dan Ibu Hidayat sering menengoknya dan secara rutin membawanya ke dokter. Acara ke dokter ini tampaknya semakin lama semakin sering, tetapi mereka sungguh tutup mulut mengenai apa sakit si wiwin sebenarnya. Kalau ditanya pun, si Wiwin cuma menjawab, "Enggak tahu, TBC 'kali..", sambil mencibirkan bibirnya yang seksi.

Pada awal-awal sakitnya, Roni dengan rajin mengantar pacarnya itu ke rumah sakit. Hampir tiap hari dia datang, memijiti si Wiwin dan memberinya obat. Sunguh pacar kelas satu. Tetapi pada minggu-minggu terakhir ini, ada perkembangan drastis. Itu dimulai ketika suatu malam, Roni berbicara serius dengan bapak dan Ibu Hidayat di halaman depan rumah. Waktu itu si wiwin baru pulang dari dokter, sakitnya kumat dengan hebat dan dia meringkuk di kamarnya dengan tubuh menggigil. Hampir satu jam tiga orang itu berbicara di depan rumah, dan akhirnya si Roni masuk ke dalam dengan wajah yang sangat aneh, antara marah dan sedih, matanya berkaca-kaca. Dia mendatangi kamar Wiwin tetapi tidak masuk ke dalamnya. Dia hanya memandang tubuh pacarnya yang meringkuk di balik selimut dari balik kaca, berkali-kali menarik napas panjang dan akhirnya pergi tanpa pamit.

Dan ternyata itulah kali terakhir si Roni datang ke tempat kost kami. Waktu kami tanyakan ke Wiwin, dengan santainya dia menjawab, "Kami udahan kok.., putus! nggak cocok 'kali. Mana ada cowok macem Roni yang mau dengan cewek kaya gue". Meskipun dinyatakan dengan bercanda, ada nada kepedihan dalam suaranya. Waktu kami konfirmasikan ke Roni, dia selalu mengelak. Waktu kami desak, ia hanya berkata pendek, "Udahlah. Kami udah putus. Nggak ada apa-apa lagi." Tetapi pada akhir kalimatnya, ia memberikan peringatan yang aneh, dengan suara bergetar, "Kalian semua, jauhi si Wiwin itu. Dia sangat berbahaya." Dan tanpa menjelaskan lebih jauh maksudnya, si Roni cepat-cepat ngeloyor pergi.

*****

Nah, kembali ke depan, di pagi hari yang indah yang ditingkahi dengan batuk rutin dari si cantik. Ketika Wiwin selesai dengan batuknya, muncullah ketiga teman kosku yang lain dari kamar masing-masing. Ini hari minggu, jadi kami bangun telat banget. Si bibik pembantu sudah selesai masak, mencuci dan membersihkan rumah, dan sekarang dia sudah pulang. Jam menunjukkan pukul delapan pagi.

"Selamat pagi, Win", kata Dwi dengan hormat.
Salam yang juga diikuti oleh Deni dan Atok bersama-sama. Wiwin menjawab dengan hormat juga (basa basi), "Selamat pagi, kakak-kakakku sayang. Enak benar tidurnya? ngimpi apa ya semalam?" tanyanya dengan suara nakal.
"Eehh.., mimpi jorok", kata Dwi sekenanya.
Deni dan Atok hanya nyengir sambil menggaruk kepala, memandang tubuh Wiwin yang terbalut daster kebesarannya. Tubuh gadis itu sudah lebih kurus dari sebelum sakit, tetapi tetap sangat seksi. Wajahnya yang sedikit cekung malah tampak semakin merangsang bagi kami. Wiwin terkikik mendengar jawaban itu.
"Waa.., mimpi jorok apaan yah? Mas mimpi main jorok sama siapa hayoo?".
Dwi (yang tampaknya masih setengah ngantuk) menjawab lagi sekenanya.
"Yah, mimpi main jorok sama kamu Win.., sama siapa lagi. Wong kita tiap hari ketemu, ya pastinya kebawa juga dalam mimpi."
Kali ini mata Wiwin yang indah terbelalak, disusul tawanya yang berderai, "Mosok sich Mas? bohong ah".
"Bener", kata Dwi meyakinkan.
"Enak nggak?" tanya Wiwin menggoda.
Wah, ini mulai panas, pikirku.
"Enak dong", kata Dwi lagi.
Kesadarannya sudah kembali penuh dan sekarang dia memang siap main goda-godaan.
"Terutama waktu kamu lagi.., apa yaah..", katanya sambil pura-pura mengingat.
"Waktu lagi dicoblos kontol Mas ya?", tanya Wiwin.

Walah, kami semua tersentak kaget. Jorok banget mulut cewek ini! Meskipun kami tahu si wiwin ini cewek urakan, tetapi karena selama ini selalu menjaga jarak dengan dia maka kami tidak tahu bahwa dia punya mulut secomberan itu.
Dwi tersedak-sedak minumnya, berusaha menjawab dengan tenang.
"Iya, waktu itu juga, tapi paling hebat waktuu..", dia pura-pura mengingat lagi.
"Waktu kita main enam sembilan yach? waktu Mas jilatin memek saya dan waktu saya isep kontol Mas yach?", tanya Wiwin semakin menggoda.
Kami hampir pingsan mendengarnya. Blak-blakan banget! tetapi pada saat itu, nafsu kamipun mulai naik. Ini cewek jelas sedang menggoda kami. Dan kami saat ini memang sedang sangat siap untuk digoda!
"Hiyaa.., betullah itu", jawab si Dwi sambil berjingkrak.
"Kamu hebat sekali Win. Bisa saja kamu menebak."

Si wiwin sekarang berdiri di depan kami (kami berempat sedang duduk menggelosor di karpet, di depan TV). Dia memandang kami berganti-ganti dengan mata yang nakal.
"Teruuss.., bagaimana ini? Mas mau sebatas mimpi apa mau direalisasikan? Wiwin mau loh!", dia berkata dengan serius.
Dia menggoyang-goyangkan badannya mengikuti lagu dangdut dari TV, membuat buah dadanya yang super besar bergerak-gerak menggairahkan.

Aku yang pertama mencoba sadar.
"Udahanlah Win. Ini cuman bercanda kok. Lagian kamu lagi sakit, jangan pikir yang macem-macem deh. Gih sono kamu mandi dulu."
Kamar mandi kami memang cuma satu, jadi kami selalu antre mandi kalau pagi.

Tetapi si Wiwin malah membelalakkan matanya yang indah.
"Wii.., emangnya Mas Nano kira gua bercanda? Ini bener nih! Wiwin pingin dan mau!".
Dan tanpa diduga oleh kami semua, dengan cepat Wiwin meraih tali dasternya dan sekali sentak menariknya. Daster itu dalam sekejap jatuh ke lantai.

Kini, Wiwin telah berdiri telanjang bulat di depan kami. Ternyata dia tidak memakai baju dalam apapun. Dengan bebas kami melihat tubuhnya yang sangat bahenol, buah dadanya yang berukuran 36 D tergantung bebas dengan puting cokelat kemerahan. Meskipun sangat besar, buah dada itu tampak tidak merosot meskipun tidak disangga bra. Perutnya yang putih mulus, pahanya yang jenjang, dan sekumpulan bulu lebat yang menutupi selangkangannya. Bulu-bulu itu lebat sekali, sehingga aku tidak bisa melihat belahan kemaluannya sama sekali. Aku menelan ludah. Ini mimpi apa beneran?

Wiwin berdiri dengan tetap memutar mutar badannya pelan ke kanan kiri, mengikuti musik di televisi.
"Hayoo.., Wiwin sudah siap nih. Lihat dong badan Wiwin, nggak usah dibawa ke mimpi segala macam. Mas-Mas kan tiap hari melotot melihat Wiwin kan? Nih dia, sekarang Wiwin kasih gratis buat Mas-Mas."
Dan sambil berbicara dia mulai melenggak-lenggok, seperti penari striptease (tukang kelayapan macam dia pasti sudah tahu, apa malah dia pernah melakukan?).

Kedua tangannya menelusuri tubuhnya sendiri, dan meremas-remas buah dadanya yang menggelembung. Disangganya buah dadanya dengan telapak tangannya, dan dengan gerakan menggoda mendekatkan buah dadanya ke wajahku.
"Niih Mas Nano, nikmati deh.., ayoo, nggak usah malu-malu".
Aku masih terdiam karena kaget dan terpesona. Tetapi kini puting buah dada Wiwin mulai digesek-gesekkan ke wajahku, terasa hangat dan lembut.

Bersambung . . . . .

Aku mendesah. Godaan ini terlalu besar untuk dilawan. Aku memilih untuk menyerah. Kubuka mulutku, dan sekejap kemudian puting itu telah masuk ke mulutku. Kuhisaphisap dengan nikmat (dan memang sangat nikmat), mulutku mulai merambah dan menghisap lebih banyak lagi bagian buah dada yang besar itu. Kudengar Wiwin mendesah-desah.
"Aahh.., enak Mas. Isep terus Mas.., auuhh..", sambil tangannya meremas dan menarik-narik rambutku dengan gemas.

Ketika aku sedang asyik mengisap, kurasakan ada tubuh lain mendesak di sebelahku. Ternyata si Dwi, dia mengikuti langkahku dengan mengisap buah dada kiri si Wiwin. Dengan dua laki-laki yang menyusu dengan lahap itu, Wiwin tampak terangsang berat. Dia mengerang-ngerang dan mendesah, kedua tangannya memegang kepala kami seakan kuatir kami akan melepaskan hisapan kami.

Lima menit kami melakukan aktivitas kami, ketika aku merasa ada tubuh lain mendesak di bawah kami. Ternyata Deni, menyungkupkan wajahnya ke selangkangan Wiwin yang terbuka. Dengan ganas dia menjilat dan menghisap kemaluan Wiwin yang berbulu super lebat itu, begitu hebatnya sehingga aku mendengar suara berkecipak dari mulutnya. Wiwin semakin menggila. Digerak-gerakannya pinggulnya sehingga kemaluannya bergesekan semakin keras ke mulut Deni. Kedua insan itu saling merenggut dan merengkuh, erangan dan desahan keduanya terdengar saling bersahutan.

Tampaknya rangsangan yang dirasakan Wiwin lebih besar dari yang dapat ditahannya. Kulihat dan kurasakan tubuh dan kakinya bergetar, tubuhnya semakin melengkung ke depan dan akhirnya dia roboh.., kami bertiga (sambil tetap melanjutnya hisapan kami) menahan tubuh itu dan dengan perlahanlahan membaringkannya ke atas karpet. Kini dia tidur telentang, tetap bergoyang-goyang menahan rangsangan jilatan dan hisapan kami.

Tiba-tiba Dwi melepaskan hisapannya pada puting dada Wiwin, dan menoleh ke Atok yang masih duduk bengong di karpet.
"Ini Tok.., gantian lo yang ngisep. Enak bener rasanya. Kagak ada yang ngalahin", katanya sambil menjepit puting Wiwin dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"Rasain deh."
Atok (yang tampaknya juga sudah terangsang berat) segera menyerbu dan memasukkan buah dada bahenol itu ke mulutnya hingga kembali terdengar suara berkecipak dan sedotan dari mulutnya.

Kulirik ke bawah, tampak Deni tetap bersemangat menjilat dan mengisap kemaluan Wiwin yang kini tampak sangat basah. Pinggul gadis itu tetap bergerak-gerak dengan liar mengimbangi jilatan Deni, pahanya yang mulus terangkat ke atas dan menelikung kepala Deni. Aku sungguh ingin merasakan memek si Wiwin, tetapi kutahan dahulu nafsuku. Aku punya rencana lain.

Aku melepaskan hisapanku pada dada Wiwin, dan berdiri. Kulepaskan celana pendekku, sehingga kini kemaluanku tampak tegak berdiri siap tempur. Kemudian aku merendahkan tubuhku dan mendekatkan kemaluanku ke mulutnya.
"Isepin Win..", kataku penuh nafsu, "Kamu mau kan?".
Tetapi pada saat itu kurasakan tangan Dwi menepis lenganku.
"Gua duluan, brengsek" katanya parau.
"Gua udah ngimpiin sejak semalem", kulihat dia, ternyata Dwi sudah telanjang bulat dan juga mengarahkan kemaluannya yang super besar (paling besar di antara kami bertiga) ke mulut Wiwin.

Wiwin terkikik-kikik, pura-pura bingung.
"Aduuh.., bagaimana nih? Kok ada dua kontol rebutan minta diisep? Wiwin bingung dah".
Tapi sambil berkata begitu, kedua tangannya memegang kemaluanku dan kemaluan Dwi dan segera membetotnya ke mulutnya.
"Gih, masukin aja dua-duanya. Wiwin demen banget."
Dibukanya mulutnya lebar-lebar, dan dimasukkannya kepala kemaluan kami ke dalamnya. Tentu saja tidak bisa masuk semua, tetapi cukuplah bagi Wiwin untuk menyapu-nyapukan lidahnya ke kepala kemaluan kami. Aku mendesah. Seakan rangsangan listrik menjalari batang kemaluanku, rangsangan yang sungguh luar biasa. Jari-jari lentik Wiwin memegang batang kemaluanku dan batang kemaluan si Dwi serta mengocoknya dengan berirama. Kami berdua mengerang-erang menahan nikmat.

Akhirnya aku tak tahan lagi.
"Dwi, gua duluan yah. Gua udah mau muncrat rasanya."
Dwi menangguk, dan mencabut batang kemaluannya dari mulut Wiwin. Mulut Wiwin sekarang bebas, dan aku segera mengambil posisi. Dengan gaya anjing mau kencing, kukangkangi kepala Wiwin dan kusodorkan kemaluanku ke mulutnya. Wiwin dengan hangat menyambut dan langsung mengisap hampir separuh panjang kemaluanku. Kurasakan lidahnya berputar-putar di kemaluanku, dan sesekali giginya menggigit-gigit kecil dengan gemas. Sementara kulihat tangan kirinya tetap mengocok batang kemaluan Dwi dengan berirama.

Aku semakin menggila. Dengan setengah menelungkup, kugoyangkan pinggulku sehingga kemaluanku keluar masuk mulutnya. Ditingkahi dengan jilatan lidahnya di sekujur batang kemaluanku dan sedotan-sedotannya yang terasa semakin lama semakin kuat, aku merasa tidak tahan lagi. Aku menegangkan bagian bawah badanku, kutarik kemaluanku sehingga agak jauh dari kerongkongan Wiwin (supaya dia tidak tersedak, pikirku), dan croot.., croot.., muncratlah seluruh air maniku di dalam mulutnya. Hebat sekali, si Wiwin sama sekali tidak mengendorkan sedotan dan tarian lidahnya selama proses ejakulasiku berlangsung. Hanya kurasakan desahan napasnya kian memburu dan matanya kini sama sekali tertutup.

Setelah seluruh maniku keluar, aku tetap menelungkup di atas kepala Wiwin dan kemaluanku tetap berada di mulutnya. Meskipun senjataku terasa semakin mengecil, sepertinya Wiwin enggan melepaskannya. Kurasakan sedotannya masih berlanjut dan lidahnya (yang kini terasa sangat basah karena bercampur dengan air maniku) masih terus bermain menelusuri batang kemaluanku. Tetapi kenikmatan itu tidak berlangsung lama. Si Dwi yang sejak tadi dikocok-kocok kemaluannya oleh Wiwin, tampaknya sudah tidak sabar lagi. Didorongnya tubuhku sehingga hampir terjengkang ke kanan.
"Gantian lu, brengsek. Gua sudah nggak tahan."
Dan tanpa basa basi lagi didorongnya kemaluannya ke mulut Wiwin yang setengah terbuka dan masih belepotan air maniku.

Wiwin tampak sangat kewalahan dengan tindakan si Dwi yang tampak seperti kesetanan itu. Temanku yang biasanya pendiam itu sungguh berubah menjadi mahluk yang liar dan ganas. Digoyangkannya pinggulnya sekuat tenaga, tanpa memperhatikan apakah Wiwin tidak mati tersedak karena ulahnya tersebut. Kulihat juga wajah Wiwin tampak menahan serangan itu, mulutnya terbuka lebar disesaki oleh batang kemaluan Dwi yang super besar dan kudengar gumamannya, "Mmmpph.., mppff..", dengan nada memprotes.

Aku yang sekarang duduk menggelesot di lantai karpet melihat adegan itu, dan kulihat juga si Deni dan Atok juga menghentikan aktivitasnya dan memandang adegan ganas itu dengan mulut melongo. Aku hampir saja akan mengingatkan si Dwi supaya tidak terlalu ganas bekerja, ketika tiba-tiba dia menghentikan "goyang ngebor"-nya dan mengerang keras.
"Haagh.., gua kelu..", kata-katanya terputus ketika dia menegangkan badannya.
Tanpa melihatpun aku bisa mengetahui bahwa dia sedang melepaskan simpanan air maninya di dalam mulut Wiwin.

Kulihat wajah Wiwin memerah, matanya melotot dan karena dia dalam posisi telentang maka tidak ada air mani yang lolos keluar dari kerongkongannya. Tampaknya dia sudah tidak kuat lagi, dan didorongnya tubuh Dwi ke samping sehingga Dwi terguling di karpet. Wiwin membalikkan tubuhnya, dan dengan napas tersengal-sengal menundukkan kepala dan mengeluarkan sebagian mani di mulutnya ke karpet.
"Aduuh.., kalian keterlaluan deh. Kalo napsu ya napsu tapi inget dikit doong.., kan Wiwin bisa mati kesedak. Hi, hi, hi..".
Wah, aku kira dia akan marah tapinya malah terkikik-kikik ketawa. Dengan genit dicubitnya si Dwi.
"Itu burung isinya berapa liter sih? bisa bikin anak sekampung beneran."
Mendengar itu Dwi hanya diam saja. Napasnya masih tersengal-sengal.

Dengan gaya lemas si Wiwin berdiri dan berjalan gontai menuju kulkas. Diambilnya botol air es dan diminumnya dengan gaya khasnya, langsung ditenggak tanpa pakai gelas lagi. Setelah napasnya kembali teratur, dia memandang kami berempat yang masih duduk menggelosor di karpet dengan pandangan lucu (ingat, dia masih telanjang bulat lho. Untung kaca jendela masih tertutup gorden sehingga orang di jalan tidak bisa melihat tubuhnya yang bahenol).
"Udah puas nggaak..?" tanyanya lucu.
"Mas Dwi sama Mas Nano udah keluar simpenannya berliter-liter. Tapi Mas Deni dan Mas Atok kan belum. Mau diterusin nggak?", tanyanya sambil melihat kepada dua teman kami itu.

Deni dan Atok saling berpandangan, dan meskipun tidak berkata-kata keduanya tampak sepakat. Mereka berdiri dan dengan secepat kilat menyerbu tubuh Wiwin yang masih berdiri di sebelah kulkas. Deni memeluk dari depan, Atok dari belakang, keduanya dengan ganas menciumi wajah dan leher Wiwin. Tangan mereka berebutan meremas buah dada dan kemaluan Wiwin, sedemikian bernafsu dan kacaunya sehingga gadis itu (eh, memangnya dia masih gadis?) menjerit dan tertawa terkikik-kikik.
"Hi, hi, hi.., aduuh.., berhenti dulu.., stoop dulu deeh.., kalo main yang lembut doong..".
Dan dengan sekuat tenaga Wiwin melepaskan diri dari dekapan dua serigala kelaparan itu dan berdiri agak menjauh.
"Udaah.., udaah.., kalian kayak orang belum pernah pegang badan cewek saja", katanya sambil tersedak-sedak ketawa.
"Buka dulu baju kalian dong. Baru kita main beneran. Ayo!", perintahnya.
Deni dan Atok saling berpandangan, dan seperti dikomando mereka segera membuka baju dan celananya. Hanya dalam hitungan detik keduanya sudah telanjang bulat, kulihat kemaluan mereka mengacung ke atas karena sangat tegang. Namun keduanya tetap berdiri diam, seakan menunggu komando dari Wiwin lagi.

Wiwin tersenyum senyum menandang dua jagoan itu, seperti gaya cewek yang lagi memilih-milih barang di toko.
"Mmm.., lumayan juga kalian deh", katanya sambil terus melihat keduanya berganti ganti.
"Bukan wajah dan tubuhnya lho.., kalau itu mah kalian nilainya cuman dapet lima setengah. Tapi kontolnya itu lho.., sungguh menggairahkan."
Dan sambil berkata begitu, didekatinya Deni dan Atok, dipegangnya batang kemaluan keduanya dengan tangan kanan dan kiri dan dikocoknya lembut.
"Kita mulai yach..", desahnya penuh godaan.
Kemudian didorongnya Deni dengan lembut.
"Elo telentang deh Den.., kamu coblos memek gua sekarang."
Deni menurut seperti orang bego, sekarang dia telentang di karpet dengan batang kemaluannya mengacung ke atas seperti tiang bendera. Wiwin memandangnya seperti serigala kelaparan, diremasnya kemaluan Deni, dikocok dan akhirnya dikulum dengan buas.
"Gua tegakin dulu yach", gumamnya dengan napas memburu.
Semenit kemudian dilepaskannya kulumannya dan benar saja, kemaluan Deni sekarang sudah jauh lebih kencang lagi dan berkilat karena ludah si Wiwin.

Wiwin terkikik gembira dan segera melompat ke atas pinggul Deni. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya membuka bibir kemaluannya, sedang tangan kirinya memegang batang kemaluan Deni dan diarahkan ke lubang yang sudah terbuka itu.
"Masukkan kontolmu sayang, rasakan nikmatnya memek ini.", desisnya (astaga, mulutnya comberan banget!).
Direndahkannya tubuhnya, sehingga kepala kemaluan Deni mulai melesak ke dalam lubang kemaluannya.
"Aahh..", desahnya.
Aku sudah menduga kalau lubang memek si Wiwin ini pasti sudah agak longgar karena terlalu banyak dipakai. Dan ternyata benar. Tanpa terlalu banyak usaha, batang kemaluan Deni yang berukuran menengah itu langsung melesak seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Wiwin. Wiwin terkikik kecil dan akhirnya merebahkan tubuhnya ke atas tubuh Deni. Buah dadanya yang super besar menggantung bebas, tangan Deni segera menyambut dan meremasnya. Wiwin mendesah nikmat.

"Enak ya?", desahnya pada Deni.
"Hnggh.., enak" jawab Deni. Matanya terpejam.
"Kerasa longgar nggak? Apa sudah ngejepit?" tanya Wiwin, rupanya dia juga menyadari kalau dia sudah lama sekali tidak perawan dan sudah dicoblos entah berapa banyak laki-laki.
"Nggak kok Win, masih enak sekali", jawab Deni.
Matanya merem melek dan pinggulnya mulai bergerak-gerak. Wiwin mengimbangi gerakan itu dengan menaik turunkan pinggulnya yang besar dengan berirama. Napas mereka memburu, seakan lupa sama sekali dengan tiga laki-laki lain yang mengitarinya dan memandang adegan super porno itu dengan jelas. Karena aku kebetulan duduk di karpet dengan menghadap pinggul Wiwin, aku dapat memandang dengan jelas batang kemaluan Deni yang bergerak keluar masuk lubang kemaluan Wiwin dengan berirama. Sangat merangsang.

Bersambung . . . .

Lima menit adegan itu berlangsung, gerakan mereka semakin liar dan pinggul Wiwin semakin keras bergerak, ke atas ke bawah dan ke kiri kanan. Desahan dan erangan mereka terdengar semakin lama semakin keras. Tetapi tiba-tiba Wiwin mengentikan gerakannya. Kepalanya menengok ke arah Atok yang masih berdiri tegak di sebelahnya.
"Aduuh, Mas Atok yang malang", kata Wiwin dengan lucu.
"Masih nunggu giliran yach? Sini, masukin kontolmu ke Wiwin", katanya lagi.
Tangan kanannya meraih pinggulnya dan membuka belahan pantatnya, "Ayoo Mas, cepetan".

Atok tampak bengong, "Dimasukin ke mana Win?", tanyanya.
Wiwin pura-pura jengkel, "Ya dimasukin ke pantat, bego! Belum pernah main pantat ya?", tanyanya.
Atok garuk-garuk kepala, "Ee.., belum pernah Win. Gimana rasanya?".
"Pokoknya luar biasa deh. Ayoo, cobain sekarang. Nggak sembarang cewek mau beginian loh", Katanya setengah memaksa.
Atok dengan gerakan kikuk menuruti perintah itu, dan mengarahkan kemaluannya ke lubang pantat Wiwin yang sudah setengah terbuka itu, "Begini ya Win?" tanyanya meminta konfirmasi.
Wiwin mengangguk, "Iyaa.., begitu. Coblos saja sekarang yok. Jangan ragu-ragu."
Atok menurut, dan kulihat pinggulnya bergerak ke depan. Pelan tapi pasti, batang kemaluannya melesak ke dalam lubang pantat Wiwin. Sekarang Wiwin melepaskan tangannya dari belahan pantatnya, sehingga seluruh kemaluan Atok terjepit pantat yang bahenol itu.

"Aaah.., enaak" desis Wiwin.
Kepalanya menoleh ke belakang, "Kamu enak nggak Mas?", tanyanya.
Atok mengangguk sambil mulai menggoyang pantatnya ke depan dan ke belakang.
"Hiyaah nih.., enak banget. Gua belum pernah ngerasain Win. Peret banget..".
Sambil berkata begitu ia semakin memperkuat gerakannya, sedangkan kedua tangannya meremas-remas pantat Wiwin yang bahenol.

Wiwin terkikik senang, "Gitu doong. Sekarang kita mulai main kuda-kudaan ini yah", katanya.
Dan dia segera mulai menggerak-gerakkan pantatnya lebih kuat lagi sehingga kemaluan Deni semakin cepat keluar masuk lubangnya yang sudah tampak sangat basah. Ketiga orang di depanku ini sudah tampak sangat kesetanan, terbenam nafsu yang luar biasa, sama sekali lupa pada lingkungan sekitarnya. Sedemikian kuatnya mereka memompa, sehingga terdengar suara berkecipak ketika cairan kemaluan Wiwin muncrat tertekan batang kemaluan Deni. Sekali lagi posisi dudukku yang dekat dengan pinggul Wiwin menyebabkanku dapat melihat dengan jelas bagaimana kedua batang kemaluan itu merojok-rojok kedua lubang di tubuh Wiwin.

Sekali lagi, dalam kondisi yang sangat terangsang si Wiwin masih menyimpan kesadaran. Sambil bertumpu pada kedua belah tangannya menahan tubuhnya yang semakin kuat bergoyang-goyang ditekan goyangan si Atok dan Deni, wajahnya berpaling kepadaku yang sedang duduk bengong memperhatikan.
Mulutnya tersenyum nakal, "Mas Nano, mau diemut lagi nggak? Mulut Wiwin lagi kosong nih. Yok sini..", katanya sambil mengeluarkan lidahnya menggoda.
Aku, yang masih terpesona dengan segala keadaan yang serba tidak terduga ini, menggeleng.
"Nggak deh Win. Gua udah cukup duluan. Terusin aja sama sama si Atok dan Deni", kataku.
Wiwin tertawa nakal, "Wii.., diberi kesempatan kok malah nggak mau. Ya sudah", katanya.
Ia berpaling ke Dwi, mungkin maksudnya menawarkan hal yang sama, tetapi tidak jadi ketika melihat Dwi sudah tidur telentang dengan mata menerawang ke atas. Tampaknya dia sama denganku, masih shock menghadapi segala kejadian yang begitu tiba-tiba ini.

Permainan ketiga orang di depanku tampak semakin memanas. Kulihat Atok semakin melebarkan kedua kakinya, sehingga dia kini dalam posisi berdiri terkangkang lebar-lebar dan semakin keras merojok-rojokkan batang kemaluannya ke lubang pantat Wiwin. Demikian juga Deni dalam posisi telentang semakin kuat menggoyang pantatnya ke atas, mencoblos lubang kemaluan Wiwin yang tampak semakin basah.
Akhirnya, kulihat wajah Atok meringis, "Adduuh.., akuu..", erangnya.
Dan akhirnya dia mencabut kemaluannya dari lubang pantat Wiwin, dan muncratlah air maninya, banyak sekali, menyemprot ke arah pangkal dan biji kemaluan Deni yang masih menancap di lubang memek si Wiwin.
Wiwin terkikik, "Hii.., Bang Atok udah kalah nih. Puas nggak Mas?", tanyanya sambil menoleh ke belakang, sambil terus menggoyangkan pantatnya naik turun.
Atok mengangguk, "Enak banget Win. Belum pernah aku keluar mani sebanyak ini", ujarnya sambil bergerak menjauh.

Tapi Wiwin segera memanggil, "Eeh.., mau kemana Mas. Sini Wiwin bersihin kontol mas. Lihat tuh, belepotan banget", katanya.
Diraihnya kemaluan si Atok dan ditariknya ke arah mulutnya. Dengan paksa ditariknya batang kemaluan yang sudah lemas itu dan segera dimasukkan ke mulutnya. Terdengar suara seperti orang menyeruput air ketika ia menyedot dan membersihkan kemaluan Atok dengan lidahnya.

Atok mendesah, "Win, apa elo nggak jijik.., kan ini baru keluar dari lubang pantat kamu", katanya.
Kulihat Wiwin membelalakkan matanya, sekejap mengeluarkan kemaluan Atok dari mulutnya.
"Jijik apaan.., wong napsu banget kok. Kalau udah main begini jangan omong soal jijik. Gua aja pernah dikencingin kok. Malah nikmat banget", katanya sambil mulai lagi mengulum kemaluan Atok.
Temanku yang alim itu jadi diam saja.

Pada saat itu kulihat Deni semakin blingsatan gerakannya, napasnya semakin memburu dan tangannya semakin ganas meremas buah dada Wiwin yang seperti balon.
"Win, cepetin goyangannya. Aku mau keluar", erangnya.
Wiwin (sambil terus mengulum kemaluan Atok) semakin memperkuat goyangan pinggulnya, dan akhirnya dia ikut menjerit.
"Aduuh, Mas Denii.., aku juga mau keluaar".
Kulihat tubuhnya menegang, sebelum akhirnya melemah kembali. Kulihat ke arah kemaluannya, tampak cairan membanjir keluar dari sela-sela kemaluan Deni dan bibir kemaluan Wiwin. Campuran air kenikmatan kedua insan tersebut begitu banyak, mengalir ke arah bola kemaluan Deni dan bercampur dengan air mani Atok.

Wiwin tampak sangat menikmati orgasme itu. Dia menelungkupkan badannya ke tubuh Deni, matanya tertutup dan napasnya tersengal-sengal. Tangan kanannya masih meremas-remas kemaluan Atok yang kini duduk di dekat kepala Wiwin. Deni memeluk tubuh bahenol yang ada di atasnya itu.
"Kamu puas Win? Bagaimana pelayanan kami berempat?"
Wiwin mendesah puas, tetap menutup matanya.
"Asyiklah Mas, luar biasa kalian ini. Kalau tahu begini dari dulu aku nggak perlu bingung cari-cari laki-laki pemuas napsu."

"Kan ada Roni", kata Atok menimpali.
"Memangnya dia nggak pernah beginian sama kamu?"
Wiwin mencibir, "Uuh.., si Roni?" tanyanya.
"Boro-boro. Orang alim macem itu.., tiap kali pacaran kerjanya cuman kasih nasehat doang. Paling banter cium bibir. Pegang susu aja kagak berani".
Aku tertawa menimpali, "Bego banget si Roni ya. Ada barang begini indah dia ngak mau. Gratisan lagi", kataku sambil mengelus-elus punggung Wiwin yang masih tidur telungkup di atas tubuh si Deni.
Wiwin memukul tanganku, "Enak aja, gratisan.., emangnya gua apaan?", katanya sambil tertawa.
Dia kini berusaha berdiri, tetapi limbung dan akhirnya jatuh dan tidur telentang di sebelah tubuh Deni.
"Aduuh.., gua capek sekali nih. Maklum belum sehat", katanya.
Dan seperti dikomando, mulailah serangan batuknya yang sejak kami mulai main tadi entah kenapa sama sekali berhenti. Aku pergi ke kulkas dan memberikan botol air es padanya.
"Minum dulu Win", kataku.
Dia hanya minum seteguk.
"Udah ah, aku tadi udah minum mani kalian banyak sekali. Itu kan juga obat", katanya sambil berdiri.
"Udahan dulu ya, Wiwin harus pergi ke rumah temen sekarang. Tapi Mas-Mas mau maen kaya tadi lagi kan? Wiwin pengen sekali lho, Oke?"
"Oke Wiin", jawab kami seperti koor.
"Asyiklah kalau begitu. Sekarang gua sudah dapet dua, lainnya pasti menyusul", katanya.
Aku tidak mengerti maksudnya. Wiwin berdiri, menyambar daster kebesarannya, tersenyum manis dan masuk ke kamar mandi. Tinggallah kami berempat di ruang tamu, telanjang bulat dan sama sama terdiam setengah bengong memikirkan apa yang tadi baru kami alami.

Itulah awal dari segalanya..

Mulai hari itu, Wiwin menjadi "mainan" kami. Tidak peduli pagi, siang, sore atau malam, setiap ada kesempatan kami selalu menggerayangi dan menikmati tubuhnya. Wiwin tidak pernah mengeluh, tidak pernah menolak, bahkan anehnya dia tampak "setengah memaksa" agar kita mau menikmati tubuhnya. Aku sadar dia ternyata hiperseks yang luar biasa, sangat suka permainan oral ("main emut" istilah dia), dan tidak segan-segan melakukan segala cara yang tidak lazim untuk memuaskan nafsu seks kami.

Kuliah kami jadi kacau balau, karena kami lebih suka tinggal di rumah dan melakukan pesta seks dengan Wiwin daripada pergi ke kampus. Tidak ada rasa malu lagi bagi kami untuk bersetubuh secara bergiliran (kadang-kadang Wiwin duduk di kursi dengan kaki terkangkang di sandaran tangan kursi, dan kami bergiliran menyetubuhinya). Aku sudah mulai terbiasa bangun pagi dengan "jam weker" si Wiwin (dia memang kalong, paling telat tidurnya dan paling cepat bangunnya di antara kami). Caranya membangunkan kami adalah dengan mengulum dan menarik-narik batang kemaluan kami secara bergantian, sampai kami bangun.

Kalau sudah begitu, siapa yang masih punya pikiran untuk ikut kuliah pagi?

Di pihak lain, sakit si Wiwin semakin lama semakin parah. Batuknya semakin sering, tubuhnya semakin kurus dan frekwensinya ke dokter semakin sering. Pak dan Bu Hidayat semakin kuatir dengan kondisinya, dan akhirnya Wiwin menceritakannya pada kami.
"Mas-Mas, bulan depan Wiwin akan pergi ke Belanda, ke rumah Oom Wiwin di sana. Wiwin mau berobat lebih intensif".
Aku menjadi heran, "Sebetulnya kamu sakit apa sih, Win, kok sampai begitu seriusnya harus diobati di luar negeri?", tapi si wiwin jawabannya selalu dibuat ngaco, seakan tidak mau sakitnya diketahui.

Meskipun sakit, nafsu si cewek ini seakan tidak pernah habis. Di sela-sela serangan sakitnya dia tetap melayani kami, bersetubuh dengan sangat hot dan ganas di setiap waktu. Apapun yang kami minta dia bersedia melakukan. Kami semua sudah pernah merasakan lubang kemaluannya (itu mah harus), mencoba lubang pantatnya, mulutnya, orgasme dengan dijepit buah dadanya yang berukuran super.., apa saja! bahkan kami pernah memaksa dia "mandi lulur" dengan air mani kami, digosok merata ke seluruh tubuhnya. Tidak usah dibayangkan baunya, tetapi seperti dia katakan, kalau lagi nafsu segala kejorokan akan lenyap dari pikiran.

Tetapi sebenarnya aku semakin curiga dengan cewek ini. Kenapa dia begitu ngotot meminta kami menyetubuhinya? Bahkan kadang-kadang dia jelas sedang sakit berat, suhu badan panas, tetapi dia memaksa kami untuk bersetubuh. Meskipun enggan, kami mau juga melayaninya. Soalnya kalau kami menolak dia sering marah besar.

Pada suatu hari, aku lagi main dengan dia sendirian (yang lain sedang kuliah). Dalam permainan hot kami, aku menyungkupkan mulutku ke kemaluannya dan menghisap dan menjilatinya dengan bernafsu (Oh ya, dia sudah kami suruh cukur bulu kemaluannya supaya lebih enak ngisepnya. Dan dia menurut saja). Waktu itu aku melihat ada lingkaran kehitaman di pahanya, ada tiga yang cukup besar. Waktu aku melihat ke atas, tampak ada bulatan menghitam yang sama di bawah buah dadanya.

Aku menyentuhnya dan bertanya, "Apa ini Win?", tanyaku.
Tapi dia menjawab sekenanya, "Enggak tahu, kata nenek itu kan digigit setan. Iya toh, setan genit kali..", katanya terkikik.
Aku ingin bertanya lebih lanjut tetapi didahului olehnya.
"Ayolah, pakai diskusi segala macem. Wiwin udah mau keluar nih. Terusin dong ngisepnya", katanya.
Dan lupalah aku dengan segalanya. Kami mulai bermain lagi.

Hingga tibalah suatu hari yang mengubah segalanya..

Hari itu hari Senin malam, hujan seperti dicurahkan dari langit. Di malam yang sangat dingin itu, aku, Atok dan Dwi berkumpul dengan Wiwin di ruang tamu menonton TV (Deni sedang pergi keluar). Aku duduk di sofa, Wiwin tiduran di sofa yang sama dengan kepalanya menumpu ke pahaku sebagai bantal. Kami menonton sinetron di TV, sama sekali tidak menarik dan membosankan.

Di tengah keheningan itu, Wiwin mulai dengan rayuan mautnya.
"Ngewe yok", katanya to the point seperti biasanya.
Aku yang agak demam, terasa malas memenuhinya. Apa lagi kemarin malam kami baru saja pesta orgi gila-gilaan, full team (empat orang) menghabisi tubuh bahenol si Wiwin sampai dia terampun-ampun.
"Ngantuk ah, Win..", kataku.
"Besok aku harus pagi-pagi ke kampus, bayar SPP. Entar telat, mati aku".

Bersambung . . .