Nama saya Joko, saya terhitung baru terjun ke dalam Cerita Rumah Seks ini, site ini saya temukan secara tidak sengaja. Sejak kecil saya sering berpindah-pindah karena mengikuti ayah saya yang pegawai bank. Saya sekarang hampir menyelesaikan kuliah di salah satu universitas di ibukota, yang katanya kampus perjuangan orde baru. Umur saya 24 tahun, seharusnya saya sudah lulus setahun yang lalu, tapi karena saya sibuk kerja serabutan plus main saham jadinya baru sekarang sempat ikut ujian 'kompre' mudah-mudahan lulus, doain ya?

Saya mulai melakukan onani sejak akhir kelas 4 SD, diajarkan oleh teman saya yang bernama D. Katanya jika saya mengocok kemaluan saya akhirnya akan terasa nikmat. Pada awalnya saya sama sekali tidak terpikir apa yang dia maksud, bagi saya nikmat adalah apabila dibelikan mainan oleh ayah, atau dijajani bakso oleh ibu saya. Begitulah, akhirnya sampai sekarang saya masih rutin melakukannya dengan tangan saya atau dengan guling (bagi yang laki-laki dan punya guling pasti tahu bagaimana caranya). Sejak kecil saya selalu tertarik dan mengagumi perempuan, bahkan sebagian besar sahabat saya adalah perempuan. Saya pacaran (yang serius) sudah 18 kali, terus terang tadinya saya juga kaget dengan bilangan ini (walaupun toh saya yakin pasti ada yang jauh lebih dari itu, setelah membaca hampir semua kisah di site ini). Ini adalah kisah dari salah satu pacar saya (yang terakhir dan masih sampai sekarang).

Pacar saya bernama si A, saya kenal dia dari teman saya yang anak Tar-Q, singkatnya dalam satu minggu saya resmi jadi pacarnya (detilnya tak usahlah). Pada awalnya kami berdua hanya berani melakukan petting di mobil. Dengan CD yang masih melekat kami berdua saling menggesek-gesekkan kemaluan sampai keduanya terpuaskan, kami melakukannya di mobil Starlet saya. Pernah suatu malam saat kami sedang melakukan petting, ada tukang nasi goreng lewat dengan petromaks yang super terang, walaupun kaca mobil saya sudah 70% urung juga dia dapat melihat apa yang kami lakukan, tadinya saya mengira dia akan cuek bebek. Ternyata dia menggedor kaca mobil saya, saat saya hampir mencapai orgasme. Jika A tidak menahan saya seraya hampir menangis, tentu terjadi pertumpahan darah malam itu entah saya atau dia yang mati. A tinggal di Bogor bersama keluarganya, tak lama kemudian setelah A lulus, ia pindah ke Jakarta menetap di rumah dinas ayahnya di bilangan kompleks PH. Di rumah itu A tinggal bersama kakak tertuanya (yang 99% selalu berada di luar rumah) dan tantenya yang bekerja dan pulang jam 20.00. Akhirnya A diterima bekerja di salah satu bank asing yang tetap berdiri tegak ditengah krisis ini. Kami semakin leluasa melakukan petting di rumahnya yang praktis tidak ada orang.

Pernah suatu kali tantenya pulang ke Bogor dan kakaknya pergi ke luar kota, dan kami berdua benar-benar bebas. Seperti biasa, acara petting dimulai, dia mulai mendesah setiap kali penis saya yang menegang saya gesekkan pada clitorisnya bersamaan dengan jilatan-jilatan saya pada lubang telinganya. "Aahh.. Mas.. mmhh..", erangannya terdengar sangat merdu di telinga saya. Saya semakin bernafsu untuk melakukan apapun, jari-jari saya 'bergerilya' masuk kebalik CD-nya dan mulai meraba-raba clitorisnya dengan gerakan perlahan yang makin cepat.. makin cepat, "Aahh.. ahh.. ahh.. ahh.. ahh.. Jokkoo.. aahh", dia mengerang sambil memeluk saya erat-erat, sesaat saya kesulitan melakukan manuver dengan tangan saya, karena himpitan buah dadanya. Saya semakin giat mempermainkan clitorisnya, dan mulai meraba masuk kedalam dan dia terkejut sebentar, tapi kemudian membiarkan saya, sementara tangan saya yang lain mendekap dan memeluk punggungnya agar dia merasa aman dan tenang. Jari-jari saya mulai meraba masuk ke dalam vaginanya, saya merasakan lubang itu sangat basah dan menimbulkan bunyi "Clekk.. clekk.. clekk" tiap kali jari tengah saya keluar masuk (untuk beberapa saat, saya melupakan penis saya). Saya sangat excited dengan pengalaman pertama saya ini (walaupun banyak memiliki koleksi film VCD, VHS maupun BETA, tetap saja..). Saya berusaha memasukkan jari telunjuk saya dengan harapan A akan semakin terpuaskan dan dugaan saya benar! "aahh.." dia berteriak agak keras sebelum kemudian melanjutkan dengan rintihan-rintihan kecil yang susul-menyusul.

Saya memutuskan untuk menambah kenikmatannya lagi, saya mulai mempermainkan clitorisnya lagi dengan jempol saya, sementara kedua jari yang lain tetap mondar-mandir di dalam vaginanya. Saya sangat kaget karena A menggelinjang begitu hebat, sampai tangan kiri saya hampir tak kuat memeluknya. Beberapa menit kemudian ia mulai mengerang panjang "aahh.. aahh.." sebelum akhirnya tubuhnya terkulai lemas dipelukan saya. A kemudian tersenyum memandangi wajah saya, ia kemudian mencium bibir saya dengan sangat lembut sekali dan saya mulai teringat dengan penis saya (yang belum mendapat jatah). Kemudian saya mengeluarkan tangan saya dari balik CD-nya. Ia agak terhenyak kaget ketika kedua jari saya melepaskan diri dari vaginanya, seolah takut tidak akan mendapatkan kenikmatan itu lagi. Saya mulai memeluknya dengan kedua belah tangan saya, sementara tangan kanan saya yang basah oleh cairan vaginanya mulai menanggalkan kancing bajunya. A terlihat semakin bergairah mengetahui bahwa permainan yang lebih besar segera akan dimulai. Ia juga berusaha melepaskan kemeja saya dengan tergesa-gesa. Tubuh bagian atasnya hanya terbungkus BH sekarang, dan ia telah berhasil juga menanggalkan baju saya.

Saya berusaha melepaskan BH-nya dari belakang, dan akhirnya buah dadanya tidak ditutupi sehelai benang pun, ia mulai memeluk saya erat-erat, menggesek-gesekkan putingnya pada dada saya yang berbulu, saya mulai mengulum bibirnya, lidah kami saling berpagutan. Tak lama, lidahnya mulai menjilati bagian langit-langit mulut saya. Saya mengerang namun tak dapat berbicara apa-apa sementara A semakin buas mengetahui saya menyukai permainan lidah itu. Saya semakin tidak dapat mengontrol diri dan mulai membuka celana panjang saya dan jatuh berserakan di lantai ruang tamunya. Saya mulai mencabut roknya dengan gerakan tergesa-gesa. Celana dalamnya yang berwarna putih rupanya telah basah oleh permainan kami tadi, saya memelorotkan CD-nya dan melemparkannya ke sofa di ruang tamu bersama-sama dengan baju kami berdua. Kami berdua telanjang bulat di ruang tamu rumahnya. Akhirnya saya mulai membaringkan dia di sofa dan menciumi lehernya dan menjilati buah dadanya. Gigitan-gigitan saya pada puting payudaranya membuat A semakin bernafsu dan memeluk saya lebih erat dan mulai meraba-raba punggung saya dengan kukunya. Saya semakin tidak sabar, dan memasukkan dua jari sekaligus kedalam vaginanya. Ia kaget sebentar kemudian merasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat dari sebelumnya, ini saya rasakan dengan gerakannya yang makin kuat dan gelinjangannya yang makin banyak.

Ia mulai merintih dan melenguh dan saya mendengar dengus nafasnya yang makin memburu. Saya sudah tidak tahan lagi! Saya mengarahkan penis saya kedalam liang vaginanya, terasa sempit, sangat sempit! Ia kaget sekali ketika saya melakukannya, "Jangaan.. jangan..", ia menolak. Saya mengeluarkan penis saya yang sebagian telah masuk tadi, dan mulai menciuminya lagi. Saya sempat tersenyum padanya, dan ia membalas dengan pandangan mata yang campur aduk karena sadar bahwa keperawanannya akan hilang sebentar lagi. Saya menggendongnya ke kamar tidurnya yang tak jauh dari ruang tamu. Di atas kasur saya membuka lebar-lebar kedua belah pahanya sehingga vaginanya terkuak. Saya mulai menciumi bibirnya, lehernya, payudaranya turun ke perutnya. Ia melonjak sedikit ketika saya menciumi perutnya, kemudian saya mulai menjilati clitorisnya dan memasukkan jari tangan saya lagi. Vaginanya lebih basah dari yang tadi dan setiap kali jari saya menyeruak kedalam terasa ada cairan yang lumer keluar. Saya tak dapat membayangkan kenikmatan dia saat itu, karena kamarnya yang remang-remang hanya dapat melukiskan bola matanya yang indah mengerjap-ngerjap sambil mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan desahan-desahan panjang.

Teriakannya makin lama semakin keras pada saat vaginanya benar-benar basah, karena seprei di bawah selangkangannya telah basah pula saya mulai memasukkan penis saya, saat dia mencapai orgasmenya yang kedua. Dia kaget, kedua tangannya berusaha mendorong saya tapi saya pegangi kedua tangannya dan mulai memasukkan penis saya sedikit demi sedikit. Hanya sepertiga dari penis saya yang dapat masuk kedalam vaginanya, toh saya tetap melakukan gerakan memompa keluar masuk pada saat dia mulai merasakan kenikmatan dan mungkin ia berpikir saya tidak akan bergerak lebih jauh ia mulai mengendurkan tangannya, pada saat itu kedua tangan saya mengangkat pahanya ke atas mendekati payudaranya sehingga vaginanya terbuka maksimal, saat itu dengan seluruh kekuatan saya dorong penis saya kedalam, kini penis saya telah seluruhnya berada di dalam liang kemaluannya. Ia merintih dan melenguh nikmat, saya benar-benar menyukai rintihan kenikmatannya! Tapi sesaat saya kaget karena tidak melihat darah sedikit pun dimana-mana! Tapi saat itu otak saya tidak saya berikan kesempatan untuk berpikir lebih banyak. Saya mulai dengan gerakan perlahan, dia menggerak-gerakkan pinggulnya, penis saya seperti dipijat-pijat. Saya merebahkan diri ke badannya dan dia mulai menggerayangi punggung saya, kemudian telapak tangannya mulai memegangi pantat saya. Setiap kali saya mendorong masuk, kedua tangannya ikut mendorong pantat saya, seolah ia ingin menelan penis saya dalam-dalam. Rintihan dan lenguhan kami berdua saling bersahutan malam itu. Rintihannya semakin keras ketika saya berusaha memasukkan penis saya lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Akhirnya kedua tangannya tergelepar kesamping terlepas dari pantat saya dan ia mulai mendapatkan orgasmenya yang ketiga. Saya memandangi wajahnya yang memerah, saya pandangi putingnya yang mengeras dengan bercak-bercak merah diseputar putingnya, kemudian saya cium dia di pipi, kening dan mulai mengulum bibirnya. Saat itu saya kira dia sudah sangat kelelahan dengan ketiga ledakan kenikmatan yang dirasakannya, tangannya melemas dan nafasnya mulai teratur dan ia memeluk saya erat sekali. Pada saat itu saya mulai mempercepat hentakan penis saya kedalam vaginanya. Kedua kakinya menyilang di belakang pantat saya dan mulai membantu menekan kedalam. Rintihannya kembali terdengar dan kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya, saya tertawa kecil dan menutup bibirnya dengan telapak tangan saya, "Enak banget ya", bisik saya ke telinganya yang mungil, ia mengangguk dan berkata "Habis tadi dalem banget.." ia kemudian tersenyum dan kami berdua tertawa kecil. "Kamu belum dapet ya?" tanyanya, saya mengangguk sambil tetap mengayunkan pinggul saya perlahan. "Kamu mau dapet lagi nggak?" tanya saya dengan sedikit menggoda. Ia hanya tersenyum, ketika itu badan saya mulai terasa pegal karena paha yang mengangkang terus-menerus. Akhirnya saya kembali mempercepat tempo dan ia mulai membuka mulutnya sambil mendesis-desis "sshh.. ahh.. mmhh.. aahh.. ouuhh", saya tak kuasa menahan lebih lama lagi, penis saya serasa meledak di dalam vaginanya. Kemudian saya meluruskan kaki saya dan berusaha mengeluarkan sisa-sisa air mani yang mungkin masih tertinggal. Peluh di wajah saya jatuh menetes di pipinya yang putih mulus, ia menyekanya dan mengusap kening serta pipi saya. Dengan penis tetap berada di dalam vaginanya saya mencari-cari handuk yang tergeletak ditempat tidurnya. Saya seka pelipis saya, lehernya, dadanya serta ketiaknya. Saya melepaskan penis saya perlahan-lahan, dia memandangi wajah saya sambil membuka mulutnya, ketika penis saya terdorong seluruhnya keluar ia mengeluarkan rintihan pendek. Saya berbaring disampingnya, "Tetangga sebelah denger nggak ya?", ia cuma tersenyum genit seraya berkata "Yaa.. habis masukinnya dalem banget.." rengutnya manja sambil memegangi tangan saya. Kami berpelukan kemudian berguling-guling di kasurnya. Saya mulai menciuminya lagi, "Badan gue lengket nich..", tolaknya. Kemudian kita berpelukan lagi dan kembali berguling hanya kali ini karena terlalu ke bibir ranjang, saya terjatuh ke lantai dan kami berdua tertawa tertahan (khawatir para tetangga akan mendengar aktivitas kita berdua). Akhirnya ia mulai beranjak dan berjalan ke ruang tamu. Saya duduk di pinggir tempat tidurnya dan kembali berpikir, "Kok nggak berdarah, sih?" tanya saya dalam hati. Tak lama kemudian ia muncul dan bersandar di pintu kamarnya, rok dan bajunya sudah dikenakan tapi CD-nya berada dalam genggamannya. "Kenapa?" tanyanya, "Ah, nggak.. cuma capek saja.." jawabku. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dan saya berjalan ke ruang tamu untuk memunguti pakaian saya. Tapi saya tetap tak habis pikir.

TAMAT

Pasir putih dan angin pantai. Kedua kaki mungil itu berlari menelusuri garis buih-buih yang terhempas ke tepian. Tawa kecil penuh keriangan terdengar dari bibir gadis itu. Tangannya bergerak terayun di samping tubuhnya. Angin mengibarkan gaun putihnya dan menyibakkan rambutnya. Gadis itu tampak begitu ceria. Kulitnya yang putih seakan bercahaya diterpa sinar mentari.

Kedua kaki mungil itu terus berlari. Terjatuh, tapi segera bangkit kembali. Tawa kecil penuh keriangan masih terdengar walau semakin jauh. Gadis molek bergaun putih berhenti. Matanya menerawang ke lautan tanpa batas. Kedua kaki mungil bergerak kembali. Berlari dan terus berlari. Tertawa dan terus tertawa. Pasir putih dan angin pantai. Gadis molek bergaun putih menanti setia. Sampai sebuah perahu menepi dan mengajaknya pergi.
Atas nama cinta.

CHAPTER I

Bab I

"Dita, sudah waktunya sarapan."
Mama memegang pundakku lembut dan memaksa tanganku berhenti menari di atas tuts-tuts keyboard. Kutolehkan wajahku dan tersenyum. Mata mama terlihat begitu sayu. Kerutan di wajahnya semakin dalam hari demi hari. Tapi pengertiannya atas gelengan kepala dan senyumanku masih tetap tajam seperti biasanya. Dan juga air mata yang menitik di pipinya.
"Ayo, makan dulu. Tadi mama sudah suruh masakkan semur telur."
Lengan mama menyusup ke balik punggungku dan melingkarkan lenganku di pundaknya, "Hati-hati."
Ah, Mama. Aku tahu.

Kubiarkan Mama mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di atas tempat tidur. Kuangkat lenganku dan kusapu air matanya. Jangan menangis, Ma. Sudah cukup air mata untukku. Dan seperti biasanya, mama hanya tersenyum seolah mengatakan, "Mama baik-baik saja, kok."
Dan kubuka mulutku seperti burung kecil yang menunggu sang induk menyuapkan makanan ke mulutnya. Mama tertawa kecil melihat kemanjaanku.
"Bayi besar."
Bahuku berguncang. Dan beliau mengerti kalau aku tertawa. Karena ia mamaku. Dan aku anaknya.

"Siang ini teman Frans datang. Jadi mungkin Mama hanya punya waktu sedikit untuk menemani kamu," ucap mama setelah membersihkan noda makanan di bawah bibirku. Mama menatap wajahku yang berkerut lalu tersenyum dan mengecup dahiku.
"Tapi Mama janji, nanti Mama akan tidur bersamamu."
Secercah perasaan girang menjajak hatiku. Mama tertawa kecil melihat senyuman di bibirku lalu bangkit berdiri.
"Masih mau menulis..?"
Kugelengkan kepalaku dan mengacungkan lenganku ke arah balkon. Mama mengangguk dan memapahku bangkit berdiri.

Mama seorang wanita, dan sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaan seperti ini. Tapi beliau bahkan tak mengijinkan pembantu-pembantu itu yang mengerjakan segala sesuatu untukku. Katanya, ia masih punya banyak hutang yang harus dibayarnya untukku atas kepergiannya dua tahun yang lalu. Ah, Mama. Siapa yang mau menagih hutang itu? Tapi mama toh seorang wanita yang terlalu keras hati. Terbukti dari mendiang papa yang tak pernah bisa membawanya kembali, dan dari keinginannya untuk melayaniku. Dan itu membuatku semakin sayang padanya.

Mama mendudukkanku di atas kursi goyang, menggerakkan kursi itu sedikit ke pinggir supaya sinar matahari tidak terlalu menyilaukanku, lalu meletakkan kotak kristik itu ke atas pangkuanku.
"Nanti kalau ada apa-apa pencet bel, ya?" ucapnya seraya sekali lagi mengecup keningku.
Kuanggukkan kepalaku, tegas, berusaha meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja. Beberapa saat kemudian aku mulai sibuk dengan hobiku yang kedua. Menyulam, sebuah pekerjaan yang menyenangkan.

Bab II

Suara-suara itu membangunkanku. Matahari sudah menghilang di balik atap. Mungkin sudah pukul satu siang, kataku dalam hati. Hawa terasa sedikit sejuk dengan angin yang menghembus semilir. Kugerakkan lenganku menyibakkan rambut yang menutupi wajahku.

Kenapa begitu ramai di bawah? Suara-suara tawa dan canda terdengar sampai ke atas. Kulihat beberapa pemuda dan pemudi melintasi pagar depan rumah sambil tertawa-tawa. Kepiluan yang kurasakan membuat bibirku tersenyum. Aku ingin seperti mereka. Ingin kuliah. Ingin bertemu teman-teman. Salah. Ingin punya teman-teman dulu. Baru kemudian bersama-sama jalan-jalan ke mall seperti yang di TV. Bergurau, bercanda, saling mendorong. Hihihi.. sepertinya begitu menyenangkan. Tapi.. Kuletakkan kedua telapak tanganku ke lutut. Demi apapun yang ada di atas sana. Aku tak boleh meratapi nasibku seperti seorang cengeng. Aku gadis yang tegar. Jadi lebih baik aku tersenyum dan tetap menyimpan anganku dalam impianku. Kuangkat kepalaku, merasakan semangat Joan of Arc yang menggebu dan membuat pundakku berguncang geli. Dan saat itu kulihat dia.

Pemuda itu menatapku dengan alis berkerut. Beberapa saat kemudian kepalanya bergerak miring dan bibirnya tersenyum. Kurasakan wajahku memanas, kutolehkan kepalaku namun tak ada sesuatu yang bisa kuraih untuk melindungiku. Jadi kutarik saja tubuhku merapat ke sandaran kursi. Tapi pemuda itu. Senyumannya. Kucondongkan tubuhku pelan-pelan. Astaga, ia masih di sana! Dan kini ia bahkan melambaikan tangannya padaku sambil menyeringai, "Hai!"
Aku bisa membaca gerakan bibirnya. Dan mendadak aku mulai panik. Kubalikkan tubuhku dan berusaha menyingkir. Tapi aku lupa. Aku terjatuh dengan jeritan tertahan yang keluar dari bibirku dan suara gaduh dari kursi yang terbalik. Kugerakkan lenganku dan menarik tubuhku sebisa mungkin. Sikutku terasa nyeri dan aku seakan bisa memastikan luka yang menganga di situ. Kugigit bibirku dan menghela nafas lega saat punggungku tersandar di tembok kamar.

Suara-suara itu semakin gaduh di bawah. Kali ini derapan kaki di tangga dan jeritan mama yang tertahan.
"Kamu tidak apa-apa, Dita?"
Kugelengkan kepalaku dan tersenyum. Mama mendecakkan bibirnya dan terlihat begitu gusar melihat darah di sikutku.
"Dasar bandel. Kamu harus belajar menggunakan bel."
Dan bahuku berguncang lagi. Pemuda tadi benar-benar membuatku panik. Tapi senyumannya begitu menawan. Aku ingin kembali ke balkon. Tapi mama malah mengangkatku ke tempat tidur dan mengomeliku panjang lebar. Menyebalkan.

Bab II

Gadis molek bergaun putih itu membiarkan pemuda bersayap malaikat mengecup lembut bibirnya dan membaringkannya di atas permadani pasir putih. Lengan si pemuda menahan bobot tubuhnya dan bibir pemuda itu menelusuri leher jenjangnya dengan penuh kehangatan.
"Aku sayang kamu, selamanya."
Dan si gadis hanya melenguh saat lengan itu menelanjangi gaun atasnya dan bibir itu menyentuh kulit telanjangnya. Si pemuda membiarkan gadis dalam dekapannya mengerang dan terengah.

Perlahan lengan pemuda itu mengangkat sebelah paha si gadis dan membiarkan gadis itu merona jengah atas ketelanjangannya. Gadis molek bergaun putih mengigit bibir saat sesuatu menyesak memasuki liang kewanitaannya. Tangannya mencengkeram dada si pemuda, mencakar, menancapkan kuku-kukunya. Pinggul pemuda bersayap malaikat bergerak, menekan, menari dalam liang yang hangat. Kedua tubuh telanjang itu kini berbalut pasir putih, namun mereka tak perduli. Karena saat itu hanya ada mereka, gadis molek bergaun putih dan pemuda bersayap malaikat.

Crakk!!

Gadis molek bergaun putih terhenyak dan menjerit merasakan kehangatan darah yang menyembur dari leher yang buntung di atasnya. Gagang sabit itu bergerak terayun menggulingkan tubuh pemuda bersayap malaikat jauh-jauh. Si gadis menjerit melihat tengkorak yang menyeringai dari balik jubah hitam. Kakinya menjejak tanah, tangannya terulur berusaha menggapai tubuh pemuda tanpa kepala. Tapi tengkorak berjubah hitam lebih kuat, gagang sabit mengayun dan si gadis merasakan dingin yang luar biasa di kedua kakinya. Jeritan gadis molek bergaun putih membelah angkasa. Pita suaranya seakan tertarik putus dari tennggorokannya.

Tengkorak berjubah hitam menyeringai semakin lebar. Tengkorak itu mengangkat jubahnya dan menusukkan sesuatu ke liang kemaluan si gadis. Gadis berusaha meronta, namun kedua kakinya telah tiada, tak mampu memberikan tenaga untuk berguling lepas. Tengkorak tertawa, terkekeh, menggerakkan benda keras itu semakin cepat. Berulang-ulang. Darah semakin membanjir. Pasir putih berubah kemerahan. Tengkorak mengerang membahana, gadis terhenyak, tengkorak-tengkorak lain bermunculan terkekeh-kekeh.

Gadis molek bergaun putih ingin segera mati. Tapi tengkorak-tengkorak berjubah hitam menjilati darahnya dan menghembuskan nyawa-nyawa kehidupan ke rongga hidungnya. Membacakan mantera-mantera. Mati tidak, hidup tidak. Tengkorak-tengkorak menari dan memainkan benda-benda keras milik mereka. Berpesta. Girang. Bermain-main.

Pasir merah darah dan langit yang menghitam. Gadis molek bergaun putih tergeletak tak berdaya. Mati tidak, hidup tidak. Tengkorak-tengkorak berjubah hitam beristirahat dan tertawa-tawa. Tengkorak yang pertama tertawa paling keras. Gadis tak tahu harus memohon apa dan kepada siapa. Air mata sudah habis dari matanya. Hanya darah yang terus mengalir dari kedua kaki buntungnya, dan hawa kehidupan yang terus berhembus ke hidungnya.

"Kamu cipta-Ku. Dan tak ada cobaan yang terlalu berat dari-Ku."

Sebuah tangan api membelah angkasa, menarik tengkorak berjubah hitam pertama yang meronta-ronta. Tengkorak-tengkorak lain berlarian tercerai berai. Tangan api mengejar mereka. Kini gadis itu sendiri lagi. Pasir kemerahan dan langit kelam menyelimutinya.

"Tapi mengapa Kau meninggalkan aku lagi.."
Gadis molek bergaun putih meratap, kebencian dan kesedihan menyatu dalam dirinya. Membuatnya bisu akan kata-kata. Darah perlahan mulai berhenti mengalir. Hawa-hawa kehidupan semakin tipis berhembus. Dan kedua lengan kekar yang mengkilat mengangkatnya. Mendekap gadis molek bergaun putih dalam pelukan. Menempelkan kepala yang terkulai itu ke perisai dadanya. Setitik air mata jatuh ke pipi si gadis, membuatnya tersadar.
"Kau..kau.." tapi yang keluar hanya erangan dan desisan.
Pemuda berbaju besi mengangkat tubuh buntung si gadis dan membawanya berlalu. Gadis menoleh, menatap kepala pemuda bersayap malaikat yang seolah tersenyum dalam damai.

Aku terbangun dan merasakan angin dingin dari AC membuatku sedikit menggigil. Kunaikkan selimut itu menutupi tubuhku sampai ke mulut. Beberapa saat kemudian baru aku dapat mengingat mimpi itu. Begitu jelas. Membuatku terheran dan ingin menangis.
"Sebuah mimpi yang aneh." ucapku dalam hati.
Dan aku masih bersyukur karena air mata masih bisa mengalir di pipiku. Hanya mimpi. Jangan terlalu dipermasalahkan.

Bab IV

Kuselesaikan draft terakhir dengan sedikit kacau. Mimpi semalam ternyata benar-benar menghantuiku. Aku tak dapat berinspirasi dengan benar sekarang. Yang ada hanyalah pertanyaan-pertanyaan bodoh yang cenderung berbau fiksi. Padahal fiksi bukan gayaku. Kulirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Sebentar lagi mama akan naik ke atas. Kuayunkan lenganku dan menggiring kursi rodaku ke depan cermin.

"Mengapa aku masih tetap cantik?" ucapku dalam hati.
Kuraih sisir di atas meja rias dan mulai merapikan rambutku. Dalam hati aku mulai berdendang. Mungkin jika aku masih seperti dulu, aku akan berputar-putar di depan cermin untuk mengagumi kecantikanku. Tapi toh hidup terasa lebih menyenangkan sekarang. Kupasang jepit rambut merah muda itu di rambutku. Kulihat bibirku tersenyum dari pantulan kaca cermin. Pemuda kemarin. Apakah ia tersenyum karena aku cantik? Tapi kalau dia tahu aku seperti ini.. pasti dia akan lari. Memikirkan hal itu membuatku sedikit geli.

Alangkah bodohnya aku. Bukankah begini lebih baik? Aku tak ingin melihat pandangan penuh belas kasihan pada diriku. Cukup mama dan papa Frans yang demikian. Jangan ada orang lain. Apalagi pemuda bersenyum simpatik itu. Amit-amit deh. Aku Joan of Arc. Kubusungkan dadaku, menegakkan kepalaku dan menggerakkan bibirku tanpa suara.
"Aku gadis perkasa. Aku Joan of.."
"Hehehehe.."

Orang itu nyaris membuatku terguling untuk yang kedua kalinya. Tapi pemuda itu segera meletakkan nampan berisi makan siangku dan berlari memegangi pundakku. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, aku berusaha berteriak walau tak ada suara yang keluar.
"Whoa, tenang. Tenang dulu. Relaks."
Mana mungkin aku dapat relaks dengan rasa panik dan malu yang menjalar di seluruh sarafku. Kugerakkan lenganku dan berusaha melepaskan pegangannya. Tapi pemuda itu hanya terkekeh dan mengangkat tubuhku dengan kekuatan yang cukup mengejutkan.

"Mungkin kamu lebih tenang di sini."
Pemuda itu meletakkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku yakin wajahku memucat. Trauma masa lalu kembali terbayang. Jangan. Jangan lakukan.. jangan..
"Aku ambil makananmu dulu, oke." Hah?
"Lalu kamu biasa disuapin atau makan sendiri?"
Pertanyaan yang seperti sia-sia karena beberapa saat kemudian pemuda itu tertawa begitu lepas dan menyadarkan kebengonganku.
"Mukamu.. hahaha.. konyol."

Sial! Kulupakan semua rasa jengahku dan menamparnya sekuat tenaga. Pemuda itu terkejut. Kurasakan pundakku berguncang geli melihat wajah yang sebelah merah itu. Tapi aku sudah mulai lapar. Kuambil gagang sendok itu dan mengais-ngais makanan di depanku. Lewat sudut mataku aku dapat melihat pemuda itu mengusap-usap pipinya yang kemerahan. Tapi si menyebalkan itu tersenyum-senyum. Cuek, ah. Kuteruskan saja menyuapkan makanan itu ke mulutku. Aku lapar. Lagipula..
"Lagi dong."
Kok kepala itu sekarang ada di atas piring makanku?

Kuangkat sendok di tanganku dan melemparnya. Pemuda itu sudah lebih dahulu bangkit dan menghindar dengan gerakan konyol yang mau tak mau membuatku sangat geli.
"Nah, kan. Sekarang kamu malah tidak bisa makan."
Kuangkat daguku dan menyuapkan makanan itu dengan tanganku.
"Gadis keras kepala."
Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Nanti setelah makan. Kulempar piring ini ke kepalamu.Aku tidak takut padamu. Tidak sedikitpun.

Bab V

"Namamu Dita, kan?"
Kutatap matanya dan senyuman itu memberikan kesan tulus dalam nada bicaranya. Kuanggukan kepalaku.
"Aku Michael, tapi kamu bisa memanggilku Ronan."
Hah? Ronan? Jauh sekali? Hihihihi..
Pemuda itu tertawa, "Juz kiddin."
Mengapa aku merasa begitu cepat akrab dengannya? Apakah karena dia begitu kocak, bengal, memaksa,. Apakah..

"Kedua orang tuamu sedang keluar bersama orang tuaku."
Oh. Jadi itu sebabnya mengapa bukan mama yang mengantar. Tapi kenapa bisa pemuda ini yang..
"Aku bisa membuat mamamu percaya padaku."
Ternyata pemuda itu dapat menangkap tanda tanya lewat mataku. Bagaimana ia dapat membuat mama percaya? Aneh benar pemuda satu ini.
"Lalu? Enaknya kita ngapain sekarang?"
Aku hanya mengangkat bahu. Aku juga tak tahu. Sudah lama berselang sejak seseorang yang terlihat sebaya menemaniku.

"Aku tahu!" mendadak Michael berseru, "Ayo main petak umpet!"
Aduh. Kok petak umpet, sih. Kulirik kedua kakiku yng terkulai lemas. Michael sejenak terlihat gugup dan menggaruk-garuk kepalanya, "Waah, maaf.. maaf."
Dan gayanya yang polos justru membuatku merasa geli ketimbang marah. Kuangkat lenganku dan menunjuk komputer.
"Mau ke sana?"
Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum. Michael tanpa ragu menggendongku dan mendudukkanku di atas kursi komputer. Sekejap aku merasakan sebuah kehangatan yang mengalir di tubuhku.

"Aku panggil kamu Mickey, kaya si tikus."
Michael tertawa membaca tulisan di monitor, lalu mengetikkan beberapa kata, "Tulis Miki saja, biar ngga repot."
Dan sejak saat itu aku memanggilnya Miki. Sahabat baruku yang kocak dan konyol.

"Kamu anak temennya Papa?" tulisku kemudian.
"Yap," Miki menjawab di sebelahku, "temen lama Papamu."
"Papa tiriku," tulisku.
"Aku tahu. Aku sering ke sini kok dulu."
"Baguslah. Kamu bakalan sering ke sini?"
"Sepertinya begitu."
"Kok 'sepertinya'?"
"Sebab aku ngambil spesialis di sini."
"Asik."

Miki tertawa melihat kata yang terakhir kutuliskan.
"Bayi besar. Seperti kata Mamamu."
Dan pemuda itu tak mengelak saat kutampar pipinya. Miki malah tersenyum-senyum dan membuatku sedikit merasa bersalah.
"Maaf," tulisku kemudian.
"Ngga apa-apa. Bisa minta lagi?"
Sayang aku tak dapat menulis 'hihihihi' terlalu banyak. Sayang lagi, Miki harus pulang setengah jam kemudian untuk mengurus kepindahannya dari Jakarta.

Mama mengatakan padaku bahwa Miki seorang pemuda yang baik. Jadi tidak masalah untuk tinggal bersama kami serumah. Dan aku baru saja menyadari bahwa pemuda itu datang dan memasuki kamarku tanpa sepengetahuan mama. Dasar orang gila. Tapi aku tak mungkin menceritakannya pada mama, nanti beliau jantungan. Aku hanya dapat memaki-maki tipu dayanya dalam hatiku, tapi aku menyukai idenya untuk dapat berkenalan denganku. Dan akhirnya aku mempunyai seorang sahabat baru. Setelah sekian lama. Seorang pemuda konyol bersenyum simpatik.

Bersambung . . . .

Panas terik di jalan lurus beberapa kilometer memasuki kota Cirebon tidak menghalangiku untuk terus memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi dari arah ibukota pada siang hari itu.

..demikian, yach sambil istirahat setelah seharian nyangkul begitu, suara centil manja itu memancar dari frekuensi radio komunikasi yang terus kubuka dari tadi sambil menscan frekuensi yang sedang dipergunakan.

Segera kumatikan modul scan di pesawatku agar tetap dapat memonitor frekuensi tersebut..

Jadi sekarang sudah di 85 correct? suara seorang pria sejurus kemudian yang meminta konfirmasi apakah sudah ada di rumah
10-4, kembali suara manja itu menjawab yang berarti membenarkan
Wah.. wah.. wah.. wah.. sudah banyak duitnya nich siang begini sudah ada di rumah, kembali sang pria menimpali..
Ya ngga jugalah.. duit mach tetap butuh.
Break, sahutku menyela pembicaraan di antara spasi
Kirain sudah punya banyak duit.. ya dibagi-bagi ke sini, sahut pria tersebut
Mas, ada yang mau masuk tuch silahkan di handle dulu sayanya 10-23 sebentar, suara centil manja tersebut menginformasikan kehadiranku kepada rekannya..
Yang break silahkan masuk,
Selamat siang.. di sini Elmo Mas dalam line bergerak menuju Cirebon, sahutku segera memperkenalkan diri
Selamat siang juga yang handle di sini Boom.. darimana hendak ke mana Mas?
Dari Kotaraja menuju ke Cirebon gitu, penjelasanku padanya
Silahkan dipergunakan frekuensinya mungkin ada sesuatu yang ingin di sampaikan, sahutnya memberikan kesempatan padaku
Oh.. tidak ada Mas cuma ingin nimbrung saja, sehubungan klo ngga ada yang ada di ajak bicara sayanya suka ngantuk nich.
Emang berapa personil di gerobak dan dalam rangka apa nich? Liburan begitu..?
Negatif Mas.. dalam rangka dinas begitu dan di gerobak sendiri saja, makanya perlu teman ngobrol begitu
Mas Elmo.. Boom kembali di sana ada lowongan ngga Mas klo ada boleh donk ajak-ajak saya, pintanya
Hmm.. anda itu memakai kacamata ngga? apakah penglihatannya masih cukup jelas? tanyaku padanya
Masih.. masih jelas, tidak memakai kacamata.
Pendengaran gimana, baik atau sudah menggunakan alat bantu?
Masih baik.
Rambut.. apakah sudah memutih?
Ya.. Mas, rambut mach masih hitam semua belum ada yang putih umur juga baru kepala 2, sahutnya kembali menegaskan
Berarti masih kuat lari betul?
Betul.. ngomong-ngomong mau dikasih kerjaan apa sich koq bertanya begitu..?
Lha.. saya ini khan raja maling, makanya saya bertanya itu supaya memenuhi persyaratan.. mata harus awas, supaya saat kebagian tugas jaga bisa mengawasi klo-klo ada hansip atau ronda lewat, telinga harus baik biar saat tugas buka gembok atau kunci tetap bisa mendengar suara klo ada yang mau nangkap, rambut juga harus hitam biar bisa sembunyi dalam kegelapan ngga ketahuan.. dan terakhir ya harus bisa lari cepat klo ketahuan.. klo ngga khan ya ketangkep begitu.. dik jelasku padanya..
Hahaha.. hahahaha.. hahahaha.., suara centil manja itu kembali berkumandang
Ujug buneeng.., Boom tertawa kecil juga..
Ya.., salam kenal juga buat Mas Elmo yang sedang dalam perjalanan hati-hati semoga selamat sampai di tujuan, katanya menyalami ku..
Salam kenal juga semoga sehat selalu.. klo boleh tahu siapa nich yang handle? tanyaku pada pemilik suara centil manja itu..
Di sini Vera gitu Mas Elmo.
Vera.. Elmo kembali.., iya dach salam buat keluarga yang di rumah semoga sejahtera selalu.
Mas Elmo kayanya.. humoris yach.
hahaha.. yach tergantung situasi begitu neng Vera, kadang serius kadang bercanda juga, klo serius terus mach bisa mati muda nanti
Berapa lama begitu Mas di kota udang?
Rencana sich cuma seminggu aza, .. tapi lihat nanti aza dach.
Sudah sering ke Cirebon gitu Mas Elmo?
Jarang juga.., .. ngomong-ngomong apa yach makanan yang khas dan enak gitu?
Hmm.. di sana ada nasi lengko, ada juga nasi jamblang.. trus empal gentong juga enak.. sama tahu gejrot dach, sahutnya berpromosi
Klo siang-siang begini enaknya makan apa yach..?
Itu aza Mas Elmo.. nasi lengko yang ada di xx, informasinya..
Terimakasih atas informasinya.. mau ikut menemani? ajakku padanya
Lain kali dech Mas Elmo.. sekarang sich saya sedang sibuk.
Oh ya sudah.. mudah-mudahan lain kali kita bisa kopi darat begitu.
Harapan Vera juga begitu yach.. hati-hati sajalah.. jadi makan siang di sana?
Yup, .. dan terimakasih nich atas obrolannya siang hari ini yang telah menemani saya hingga masuk ke Cirebon.
Sama-sama.. Vera juga senang bisa ngobrol dengan dirimu dan silahkan masuk ke frekuensi ini lagi klo ada waktu, ajaknya manja..

Demikianlah sepenggal pembicaraan siang hari itu, dan sesungguhnya apa yang dikatakan Vera itu tidaklah salah memang tempat makan yang ditunjukkan adalah favoritku juga dan itu tidaklah asing oleh karena cukup sering saya mengunjungi kota Cirebon ini.

Nasi lengkonya 1 porsi Mas, pintaku di pintu masuk sesaat setibanya di sana
Kemudian kupilih salah satu meja yang kosong di tengah
Minumnya apa Mas Elmo? tanya suara halus dari belakang
Kontan saja aku terkejut oleh karena tidak banyak yang mengenal namaku demikian dan dalam diamku kemudian dia menyodorkan tangannya
Vera, seraya tersenyum manis
Oh.. ugh.. oh, aku tergagap mendapat kejutan seperti itu

Sungguh tak ku kira kini di hadapanku hadir seorang wanita berkulit putih dengan rambut tergerai sedikit melewati bahu dan postur tubuh yang cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia namun berimbang.

Koq.. bengong aza, ujarnya mengingatkanku
Abis.. ada bidadari sich.. yuk silahkan duduk, sahutku seraya menggeser tempat duduk dan mempersilahkannya untuk berada di sampingku
Koq tahu mengenai aku? tanyaku setelah dia duduk
Yach khan katanya jadi makan di sini terus tadi aku sudah tiba duluan dan lihat mobil kamu yang lengkap dengan antenenya trus plat nomornya juga B, sahutnya seraya memonyongkan bibir tipisnya..

Demikianlah siang itu akhirnya aku makan siang bersama denganVera yang hingga usai santap siang tersebut belum bersedia untuk mengungkapkan nama sebenarnya dan akupun tidak memaksanya, sebaliknya saat dia minta no HPkupun tidak kuberikan.. wah bisa berabe boo, kalau pas dia telp nantinya pada saat aku bersama istriku.. bisa perang dunia.. namun aku informasikan di mana aku bermalam nantinya.

Begitulah, ketika jarum jam menunjukkan pukul 23. 15 telp di kamarku berdering, ternyata Vera yang menghubungiku.. dan membuat janji untuk kembali berjumpa esok harinya..

Tanpa terasa beberapa hari telah berlalu dan hampir setiap santap siang kulakukan bersama dengan Vera, sedangkan malam hari tidak kulakukan sehubungan dengan tugas yang harus kukerjakan bersama anak buahku untuk mengunjungi klien. Pekerjaankulah yang menuntut demikian, yaitu sebagai sales manager dari sebuah perusahaan farmasi sehingga pada malam hari aku harus mengunjungi dokter dan berbicara banyak mengenai produk dan hal lainnya, terkadang baru usai lewat tengah malam terutama bila harus berkunjung kepada dokter yang memiliki pasien banyak sehingga baru usai pada dini hari.

Kapan kau kembali? tanyanya suatu saat setelah beberapa hari ini kita hampir selalu makan siang bersama
Lusa nich, besok masih masih ada beberapa urusan kantor lagi yang harus kukerjakan, sahutku
Oh.., ada nada kecewa yang dapat kutangkap..

Entah tanpa terasa dalam waktu yang demikian singkat hubunganku dengan Vera nampak sangat akrab dan dekat sekali, walaupun sesungguhnya akupun masih gelap mengenai kehidupan pribadinya yang kutahu hanya sosok dia yang aku kenal apa adanya tanpa melihat kehidupan pribadinya sebaliknyapun demikian, ..

Nanti malam masih kerja juga? tanyanya masih ada nada protes
Hgh.., aku terhenyak dengan pertanyaan semacam itu yang menurutku sudah terlalu dalam terbawa emosi

Sambil tersenyum menggoda, Kenapa.. mau ngajak kemana emangnya?
Jalan yuk.., ajaknya
Kemana..? tanyaku
Ada waktu ngga?
Ntar malam begitu? tanyaku bingung
Iyalah.. emangnya kapan lagi?
OK.. aku jemput di mana nich? tanyaku kemudian..
Hmm di sini dech.. jam 5an yach, jawabnya seraya menulis suatu tempat di atas kertas yang kemudian di serahkannya padaku..Nanti tunggu aza di halaman parkir ngga usah masuk, pintanya kemudian

Ternyata tempat yang diberikan adalah nama sebuah bank pemerintah yang cukup besar di kota ini, entah apa jabatannya di sana namun penekanannya yang terakhir memberikan arti bahwa dia adalah salah seorang karyawan di sana.

Sekitar jam 5 sore aku telah tiba di tempat kerja Vera dan lahan parkir sudah cukup lenggang, kemudian aku parkir di tempat teduh yang agak terlindung dari pandangan pos satpam maupun pintu keluar masuk gedung tepatnya dekat dengan bilik ATM sehingga tidak mengundang banyak kecurigaan orang lain.
Tak lama Vera keluar dan segera masuk ke dalam mobilku..

Yup.. jalan.., sesaat setelah masuk ke dalam mobil..
Kemana? tanyaku bego..
Bawalah daku pergi.., senandung centilnya keluar lagi..
Dari derita ini.., timpalku menyambut senandungnya.. dan kamipun tertawa tergelak pada sore hari itu.
Dalam keraguan itu akhirnya aku arahkan saja kendaraanku menuju ke arah kota Tegal masuk ke Jawa Tengah dengan kecepatan sedang, pemikiranku klo aku bawa dia masuk ke daerah Kuningan seperti Linggarjati misalnya rasanya terlalu riskan mungkin akan banyak orang yang mengenalnya oleh karena kota Cirebon ini khan kecil banget.. segala sesuatunya mudah tersebar.. bisa berabe nantinya..

Kemana..? tanyanya setelah kami sempat terdiam cukup lama dan sibuk dengan pemikiran masing - masing
Ke arah Tegal aza yach.., saranku
Hhhmm.. ok, sahutnya menyetujui saranku

Kembali kami tenggelam dalam lamunan masing-masing dan kemudian terbersit dalam ingatanku untuk mengajaknya ke Comal, di sana khan ada rumah makan dengan masakan khas kepitingnya yang sangat lezat.

Kita makan kepiting yach.., aku memecah keheningan
Boleh.. di mana?
Pernah ke Comal ngga..? di sana ada rumah makan yang masakan kepitingnya enak lho, promosiku..
Belum pernah nich.
Kenapa sich kamu.. sakit gigi yach? tanyaku dengan nada bergurau..Abis ngomong cuma sepotong-potong gitu.
Ach.. Mas Elmo bingung dan malu nich soalnya belon pernah pergi kaya gini nich, suaranya bergetar manja..

Aku hanya tersenyum saja dan sempat kuperhatikan kembali sebuah cincin melingkar di jari manis kanannya

Emang suami kamu ngga pernah ngajak pergi berdua untuk makan malam bersama gitu? tanyaku dengan gaya yakin yang seyakin-yakinnya
Pernah sich, akhirnya Vera mulai mengungkapkan kehidupan pribadinya..
Trus sekarang suami kamu mana? Koq ngga diajak sekalian?
Mas Bram.. masih di Jakarta, sudah seminggu.. mungkin lusa baru kembali.
Oh..
Dinas, lanjutnya kembali
Sudah punya putra berapa? lanjutku kemudian

Vera hanya menggeleng perlahan dan ada setitik air mata yang bergulir di sudut matanya, namun segera di hapusnya perlahan.. sambil menghela nafas panjang

Sudah berapa tahun sich kamu menikah?
Jalan 7 tahun, sahutnya perlahan dengan nada lembut dan bergetar menahan emosi
Hhmm.. sudah konsultasikan ke dokter? aku terus mengejarnya
Sudah.. dari diriku semuanya normal.
Trus suami kamu?
Tidak tahu, jawabnya singkat..

Kembali kami terdiam dalam renungan yang dalam sementara lampu penerangan jalan sudah mulai menyala menambah sendunya suasana sore hari ini.

Mas Bram adalah lingkaran dalam keraton Kxx, dan layaknya keluarga ningrat mereka selalu menyalahkanku yang tidak mampu memberikan keturunan buat mereka. Dahulu kami tinggal di dalam keraton, namun sekarang tidak lagi sebab saya tidak tahan dengan perlakuan mereka, namun saya juga tidak bisa memaksa Mas Bram untuk berkonsultasi ke dokter.., keluhnya dengan nada kelu dan tertekan..

Apakah kamu pernah meminta suamimu untuk memeriksakan dirinya? tanyaku melanjuti
Tidak mungkin Mas, dalam keluargaku istri harus tunduk pada suami dan yach itulah takdirku, bicaranya mulai tak jelas dan berakhir dengan ledakan tangisnya

Kubiarkan Vera menangis untuk menumpahkan kegundahannya hanya saja kuberanikan diri untuk mulai mengusap rambutnya dan berusaha menenangkannya.. usapan lembut dan penuh kasih sayang itu dapat menenangkan emosinya. Tanpa terasa kota Tegalpun sudah tertinggal di belakang dan 2 jam telah berlalu hingga kami tiba di tempat yang dituju dan suasana rumah makan yang temaram dengan lampu penerangan secukupnya menambah romantisnya suasana malam itu, sementara pikirankupun terus bermain entah apa maksudnya Vera menceritakan semua hal itu terlebih dengan upayanya untuk mengajakku kencan malam hari ini. Instingku mengatakan Vera menginginkan benih dariku untuk menyemai rahimnya yang tidak pernah tersentuh benih hidup yang membuktikan jati dirinya sebagai wanita.

Sikapku yang mesra dan gentle seperti membukakan pintu mobil tadi saat dia masih sibuk memperbaiki dandannya di mobil kemudian menarikkan kursi untuk Vera duduk, dapat sedikit menghilangkan kekakuan sikap kami bahkan sudah mirip seperti sepasang merpati yang sedang memadu kasih terlebih daerah yang kumasuki ini tidak banyak berhubungan dengan tempat tinggal Vera sehingga lebih memudahkan kami untuk beradapatasi.

Selesai santap malam, kembali sikap gentle kutunjukkan dengan membukakan pintu mobil baginya dan Vera membalas dengan senyum manisnya, dan sebuah kecupan tipis mendarat di pipiku sesaat setelah aku duduk di belakang kemudi.

Thanks yach, ucapnya lembut dengan mata sendunya
Aku hanya tersenyum dan membalas dengan mengusap lembut pipinya.. Kemudian kuarahkan mobilku untuk kembali menuju ke kota Tegal dengan satu tekad yang berkecamuk di benakku untuk dapat meniduri Vera malam hari ini. Tidak sulit bagiku untuk mendapatkan hotel yang terbaik di kota ini oleh karena memang bagian tugas dariku untuk harus berkeliling sehingga hubungan bisnis perusahaanku dengan hotel cukup baik sehingga tidak sulit untuk mendapatkan kamar yang kumau. Satu hal yang mendukung rencanaku juga adalah Vera tidak bertanya dan nampaknya diapun siap untuk menerima resiko tersebut, sementara pikiranku berencana demikian peniskupun sudah tidak mau kompromi lagi dengan mengembang maksimal sehingga ada juga rasa nyeri

Bersambung . . . .

Hari-hari mulai kulalui bersama Miki. Hari-hari yang menyenangkan walau pemuda itu tak henti-hentinya memohon tamparanku lewat keisengannya. Suatu hari, Miki datang membawa seikat bunga, menyerahkannya padaku seraya mengatakan, "Untuk dewiku." Dan saat aku berusaha mati-matian untuk tidak terlihat kegirangan dan tersipu-sipu, ia malah terkakak-kakak sambil memegangi perutnya.
"Sudah kuduga. Mukamu akan terlihat konyol."
Dan aku terpaksa melemparkan bunga itu ke wajahnya.

Di suatu saat yang lain, Miki akan menemaniku menulis berjam-jam lamanya sambil membaca literaturnya. Aku paling suka melihatnya saat ia serius, garis-garis wajahnya sebagai seorang lelaki tampak begitu nyata membayangkan kekokohan hati. Saat aku memperhatikannya dengan seksama, Miki pasti dapat merasakannya, tersenyum dan menutup wajahnya dengan buku. Untuk kemudian dimunculkan dalam bentuk tak karuan yang mau tak mau membuat perutku sakit kegelian.Hari-hariku berlalu bersamanya dalam keceriaan. Aku merasakan telah menemukan dunia yang selama ini hilang dari genggamanku.

Mama dan papa Frans merasa senang dengan perubahan yang kualami akhir-akhir ini. Badanku semakin sehat dan aku sendiri mulai jarang termenung-menung di depan balkon. Aku lebih sering menyulam menghabiskan waktuku menunggu kepulanganya dari kuliah untuk menemaniku. Miki juga terlihat menikmati menghabiskan waktunya denganku, berbincang lewat tulisan dan menggodaku.Pernah terbersit khayalan di benakku, bahwa aku seperti isteri yang menunggu kepulangan suaminya dari kerja apabila sedang asik menyulam. Dan khayalan itu terasa begitu menyenangkan.

Sabtu itu cerah sekali. Dan aku sudah bangun sekitar pukul tujuh, apalagi kalau bukan menunggu Miki menemaniku. Kupencet bel dan pembantu-pembantu itu datang untuk menolongku ke kursi roda. Mama sudah mengijinkan mereka masuk dan melayaniku. Mungkin karena aku lebih ceria sekarang. Aku sendiri sih lebih suka seperti ini. Mama tak boleh lagi terlalu keras hati untuk selalu berada di sampingku. Lagipula.. lagipula kan ada Miki yang memanjakanku. Hihihi..Dan pembantu-pembantu itu hanya nyengir kuda melihat pundakku yang berguncang. Jadi kusuruh saja mereka keluar. Lagipula hari ini aku ingin mencoba sesuatu.

Kugerakkan kursi rodaku ke depan cermin. Kusisir rambutku sambil mengagumi kecantikanku. Miki selalu tertawa apabila ia melihatku seolah berdendang dan tersipu-sipu sendiri di depan cermin. Kumiringkan kepalaku ke kiri dan ke kanan seperti apa yang biasa dilakukan pemuda itu. Dan aku tertawa melihat raut wajahku yang mendadak menjadi sok imut.

Kuputar knob shower di hadapanku dan membiarkan air hangat membasahi baju tidurku. Aku ingin mandi sendiri. Miki pasti akan girang mengetahui aku setidaknya dapat mandiri. Kutarik baju tidur itu dari betisku melewati kepalaku. Air hangat ini terasa lebih menyenangkan ketimbang handuk panas. Kubuka baju dalamku dan mendesah merasakan kenikmatan air itu menyapu ketelanjangan kulitku. Sabun itu terlalu jauh. Mungkin aku bisa..

Kuangkat tubuhku dan menyeretnya turun dari kursi. Lantai kamar mandi ini ternyata tak sehangat air shower. Kugapai kotak sabun cair itu dan menyemprotkannya ke telapak tanganku. Sejenak aku merasa geli melihat kedua kakiku yang terkulai seperti boneka di atas lemari. Perlahan kusabuni sekujur tubuhku. Dalam hati kudendangkan lagu-lagu long march yang menambah semangat. Mungkin orang-orang akan mengira aku gila. Membuka mulut tanpa bersuara. Cuek saja lah. Ini kan hidupku.

Tapi masalah datang setelah air hangat itu membasuh sisa sabun terakhir yang menempel di tubuhku. Bagaimana caraku keluar? Tunggu, mungkin begini. Kujulurkan lengan kananku meraih pegangan pintu, tapi lengan kiri yang menopang tubuhku malah tergelincir. Semua menjadi gelap. Pelipisku terasa sakit sekali. Miki..

Bab II

"Anak bodoh," Miki mencubit hidungku setelah mama dan papa Frans keluar dan menutup pintu kamar.
Semula aku ingin tersenyum menanggapi candanya, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pipiku terasa panas oleh air mata dan bibirku bergetar. Pemuda itu malah tertawa semakin keras. Tapi kemudian ia membungkukkan tubuhnya dan mengecup keningku.
"Lain kali jangan bertindak yang aneh-aneh, ya?"
Kuangkat kedua lenganku dan merangkul lehernya, kususupkan kepalaku ke dadanya dan menangis sekerasnya.

"Aku bodoh, aku tak berguna.." seandainya ia bisa mendengarku.
"Hush. Kamu gadis yang tegar. Kamu lebih baik dari gadis manapun yang pernah kukenal."
Ia bisa mendengarku? Ataukah ia benar-benar sudah mengerti aku?
Telapak tangan pemuda itu terasa hangat menepuk punggungku dan menenangkanku.
"Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku sendiri."
Apakah ia juga mendengar yang satu itu.
"Aku akan lebih sering menemanimu."
Bukan.. bukan yang itu. Yang pertama.

Esok paginya, pembantu-pembantu itu memandikanku seperti hari-hari yang lalu. Mama sempat mampir untuk menanyakan keadaanku dan apa yang kuperlukan hari ini. Beliau tampak lebih muda akhir-akhir ini. Mungkin kehadiran Miki dalam keluarga kami memberikan masukan yang begitu luar biasa bagi mama.

Malam itu mama memberikan sekotak baju baru. Dan aku merasa sangat senang dengan blazer hitam itu. Tapi, bagaimana aku akan mengenakannya? Dan untuk apa baju baru?"Ini kamu pakai ke pesta besok malam. Oke?"
Pesta?
"Pesta ulang tahunmu, ingat?"
Astaga. Ternyata aku akan berulang tahun besok.
"Whua, bagaimana kabar tuan putri?"
Mama tersenyum melihat kehadirn Miki yang sudah seperti keluarga sendiri, "Ini, Dita dapat baju baru."

"Miki! Miki!! Aku ulang tahun besok!"
Kurentangkan kedua lenganku ke arahnya. Miki mendekat dan membiarkan aku merangkulnya. Mama hanya tersenyum lalu melangkah keluar kamar. Pemuda itu mengangkat blazer dari dalam kotak dan membantangkannya di pangkuannya, "Indah sekali."
Hihihi.. kamu belum melihatku memakainya, bukan?
"Kamu pasti cantik sekali kalau memakainya, Tuan Puteri."
Mengapa pemuda ini selalu tahu apa yang kupikirkan?
Miki mengaduh saat kujepit lehernya dengan kedua lenganku.
Pemuda itu meletangkan tubuhku dan menatap mataku.

Kediaman sesaat membuatku terkesiap. Miki belum pernah memandangku setajam ini sebelumnya. Apakah ia akan..
"Bwahahahaah, mukamu tampak bego!"
Dan kutampar pipinya seperti biasa. Dan pemuda itu pun cengar-cengir seperti biasa.

"Dit, aku ingin membaca tulisan-tulisanmu."
Hah. Jangan dong, permintaan itu sama saja dengan membiarkanmu membaca kisah hidupku yang amburadul. Pemuda itu merasakan ketidak acuhanku dan mendekat.
"Ayo. Sedikit saja. Sebaris dua baris."
Tanpa sempat kusadari Miki sudah membopongku dan mendudukkan dirinya di kursi komputer dengan tubuhku di pangkuannya, "Kamu saja yang tunjukkan mana yang boleh kubaca."
Entah mengapa aku menurut saja dengan permintaannya. File demi file. Waktu yang mengalir.Desahan dari bibirnya. Topangan lengannya. Dada yang hangat. Bau lelaki.

Bab II

Pemuda berbaju besi merawat si gadis molek dengan penuh perhatian, membalut luka kakinya dan memberikan nafas kehidupannya pada si gadis. Gadis molek bergaun putih menangis dan meratap tiap hari tiada henti. Rindu untuk berlari menelusuri pasir putih dan berpacu bersama angin pantai. Tapi pemuda berbaju besi selalu bisa meredakan tangisnya, menyadarkannya dengan meyakinkan bahwa hidup masih seindah dahulu.

Gadis menghabiskan waktunya menambal pakaian yang koyak dan menikmati sinar mentari yang bercanda bersama angin di permukaan kulitnya. Pemuda selalu hadir setiap kerinduan itu mulai menyeruak. Perlahan sang waktu berlalu, mentari terbit dan tenggelam. Bilur-bilur luka itu mengering dan menghilang, berganti tunas-tunas cinta yang siap untuk dituai. Gadis molek bergaun putih menanti dengan sabar. Ia sudah menemukan pasir putihnya dalam tatapan mata pemuda berbaju besi. Dimana ia bisa berlari dan bercanda, menangis dan tertawa. Ia sabar. Ia tak ingin kehilangan lagi.

Pemuda selalu mendekapnya tiap malam, memberikan kehangatan yang luar biasa. Kehangatan yang menenangkan yang seakan mengatakan, "Aku mencintaimu." Dan itu lebih dari cukup bagi hati yang terkoyak. Gadis tetap sabar. Menunggu dalam dekapan, dalam kehangatan. Cinta menunggu dituai.

"Selamat tidur, Dita."
Kecupan itu menyadarkanku dari lelapku yang sekejap. Kulemparkan senyumku untuknya. Miki mengangkat tubuhnya dan hendak berlalu, tapi kupegang pergelangan tangannya. Kulirik ke arah jam yang bergantung di dinding. Miki menatap jam itu dan tertawa, memalingkan wajahnya padaku.
"Selamat ulang tahun, Dita."
Bibirnya menempel di keningku. Tapi ini belum cukup. Kutarik lehernya dengan lenganku dan mengecup bibirnya. Tubuh pemuda itu bergetar sesaat. Tapi ia membalas kecupanku. Lengannya menyusup ke balik punggungku dan mengangkat tubuhku, bibirnya melumat bibirku. Hangat. Kupejamkan mataku menikmatinya. Nafasku mulai terengah.

Miki melepaskan rangkulanku dan tertawa renyah melihat kegusaran yang terpancar dari wajahku.
"Tidur, Bandel. Besok kamu akan kelelahan."
Miki mengecup keningku sekali lagi. Menarik selimut sampai ke daguku dan menatap sekilas, tersenyum sebelum melangkah keluar kamar. Meninggalkanku kembali sendiri.

Aku menuai cintaku sendiri. Tidak salah, kan?

Kulirik komputer yang masih menyala. Astaga, sampai sejauh mana ia membuka file-file itu??Masa laluku.. Pemuda bersayap malaikat.. Tengkorak-tengkorak itu..

Bab IV

Aku berusaha menghindarinya seharian. Aku merasa malu untuk melihat wajahnya. Aku takkan sanggup menatap matanya. Tidak setelah ia membuka nyaris seluruh file-file itu. Mama sempat keheranan saat kutunjukkan tulisan "Aku tak ingin ketemu Michael" padanya.
"Kalian bertengkar?"
Kugelengkan kepalaku. Mama hanya mengela nafasnya dan menemaniku menyiapkan diri untuk pesta nanti malam. Dalam hati aku bersyukur karena Miki tidak muncul seharian. Yah, sebenarnya aku sedikit munafik. Aku mengharapkan ia datang dan memohon untuk masuk. Setidaknya akan ada sesuatu yang seru. Tapi Miki tidak muncul seharian, dan malah aku sendiri yang bertanya-tanya.Mungkin ia sudah memandangku hina.

Yah, mungkin saja. Dari pemikiran itu, kutarik nafasku dalam-dalam dan menempelkan kepalaku di atas meja komputer, membiarkan angin dari jendela balkon menghembus wajahku. Mana mungkin calon dokter itu tertarik pada gadis sepertiku. Ya, kan? Jadi lebih baik aku kembali menulis dan menulis, berteman dengan hantu-hantu yang tak mengenalku. Mungkin benar hanya mereka yang dapat mencintaiku. Karena mereka takkan tahu siapa aku.

Malam itu suasana rumah benar-benar ramai. Aku masih ada di kamar, mengagumi kecantikanku dengan blazer hitam yang membalut tubuhku. Aku tak ingin buru-buru turun walau mama sudah merasa tak sabar. Paling-paling juga tak satupun tamu yang kukenal selain penghuni rumah ini.Iya kan. Dugaanku tepat. Yang hadir hanya oom-oom yang biasa menyedot uang Papa Frans, dan tante-tante yang memandang sirik ke wajahku lalu tersenyum mencemooh ke kakiku. Tapi si putri harus tetap tersenyum. Jadi Papa Frans mengenalkanku pada semua kolega (benalu-benalu)-nya. Senyumanku terasa dibuat-buat. Tapi mana mungkin aku dapat berkonsentrasi pada setiap perkenalan, sementara mataku mencari-cari dan hatiku gelisah.

Acara tiup lilin sudah usai. Tapi pemuda itu belum datang juga. Para tamu yang tadi bertepuk tangan dan bernyanyi dengan suara sumbang sudah menyibukkan diri untuk memenuhi perut mereka yang pasti sejak pagi belum diisi. Miki, di mana kamu.. Tidak bahkan kehadiranmu? Alangkah sepinya di tengah keramaian ini.

Kamar ini gelap. Lebih gelap dari biasanya. Mungkin karena kehidupanku sudah kembali pada asalnya. Sendiri dan kesepian. Aku tak boleh kecewa akan semua ini. Semua ini wajar-wajar saja. Kalau Miki pergi juga wajar-wajar saja. Kugerakkan roda di kursiku ke depan kaca. Blazer ini indah sekali. Dan alangkah cantiknya aku. Tapi Miki takkan bisa melihatnya setelah aku melepasnya. Mengapa aku harus menangis di tengah tumpukan kado ini?

Alangkah bodohnya aku. Hey, aku kan sudah pernah menjalani hidup seperti ini. Bukan sebentar, tapi dua tahun. Lalu mengapa aku tak bisa menjalaninya sekali lagi? Tapi kecupan di bibir ini semalam.. Masa bodoh. Kuangkat kepalaku dan menatap pantulan wajah keangkuhan dan kekerasan kepalaku di cermin. Aku Joan of Arc. Kubusungkan dadaku, menegakkan kepalaku dan menggerakkan bibirku tanpa suara.
"Aku gadis perkasa. Aku Joan of.."
"Hehehehe.."

Bab V

Miki?
Dan pemuda itu bersandar di ambang pintu sambil menutupi mulutnya. Pemuda yang satu ini..
"Keluar..! Aku tak ingin melihat kamu!" ucapku lewat pandangan mataku.
Tapi pemuda itu malah mendekat. Kuraih botol parfum di sampingku dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tapi Miki sudah memegangi lenganku.
"Bayi besar yang emosionil." Dan ia mengecup bibirku.
"Miki," aku mendesah dalam hatiku dan memejamkan mataku, membiarkan bulir air mata itu menetes di pipi.
Kulingkarkan lenganku di lehernya, mendekapnya sebegitu erat memastikan itu bukan ilusi. Jangan pergi dariku. Temani aku. Selamanya.

"Aku punya sesuatu untukmu," Miki meraih lengan kiriku dan sejenak membuatku tersentak saat ia melepaskan cincin itu dari jari manisku. Jangan ambil cincin itu!
Kenangan pemuda bersayap malaikat begitu cepat bagaikan kilat terenggut dengan terlepasnya cincin itu. Kucoba meraih cincin itu tapi Miki menepiskan lenganku dengan sedikit kasar.Jangan, Miki.. please..
Kututup kedua wajahku dengan telapak tanganku. Bahuku berguncang dan nafasku tersendat di tenggorokan. Satu-satunya memori yang tersisa dari orang yang pernah kukasihi.

"Jangan menangis, Dita. Semua sudah berlalu."
Kurasakan lengan kiriku tertarik, dan sesuatu menyusup di jari manisku. Kubuka mataku dan Miki mengecup pipiku. Begitu mesra dan begitu hangat. Anganku melayang jauh.
"Selamat ulang tahun, kekasihku."
Ini mimpi. Ini mimpi. Hanya mimpi!
Tapi Miki benar-benar di depanku sekarang. Mengecup bibirku dan menghentikan isakku. Michael..
"Kamu sudah boleh bicara sekarang. Luka itu sudah lunas."
"Miki.." dan aku tak pernah lupa cara berbicara, "Aku mencintaimu."
Pemuda itu tersenyum dan dapat kulihat air mata yang menitik di pipinya. Tuhan takkan mencobai umat-Nya diluar batas kemampuannya.

Epilogue:

Pasir putih dan angin pantai. Pemuda berbaju besi berlari dengan gadis molek bergaun putih dalam gendongannya. Menelusuri garis buih-buih yang terhempas ke tepian. Tawa kecil penuh keriangan terdengar dari bibir gadis. Kebencian dan kesedihan yang menyatu dalam dirinya dan membuatnya bisu akan kata-kata sudah sirna. Dekapan kehangatan dan kemesraan pemuda berbaju besi menyapu awan-awan kelabu itu. Pemuda berhenti dan meletakkan tubuh gadis di atas pasir. Kepalanya menunduk dan mengecup mesra bibir gadis.

"Aku mencintaimu. Sekarang, selamanya."
"Tapi aku.."
"Apa adanya."

Gadis molek bergaun putih membiarkan bibir pemuda berbaju besi melumat bibirnya. Pasir putih dan angin pantai menjadi saksi dua tubuh yang saling menggapai kecintaan itu. Erangan, desahan, dan rintihan menyatu dengan debur ombak dan desau angin. Pemuda bercinta dengan si gadis bagaikan di alam mimpi. Sentuhan demi sentuhan, tekanan demi tekanan. Gadis merintih memuncakkan kenikmatan. Pemuda tersentak, mengejang dan terkulai. Matahari yang semakin tenggelam dan langit yang menghitam tersenyum dan tertawa riang. Tiang api turun dari angkasa, membelah langit, bergemuruh dan memamerkan eksistensinya. Gadis molek bergaun putih tersenyum dan terharu. Pemuda berbaju besi mengecup pipi gadis dan menatap tiang api yang perlahan membuyar.
"Ternyata Kau masih di atas sana.."

Cinta sudah dituai.
Apapun yang terhilang sudah kembali.
Seperti cakra, roda kehidupan yang berputar.
Tapi semoga sekarang terhenti dan tak berputar lagi.
Amin.

"Selamat malam, Sayang. Dan ingat, masa lalumu tidak seburuk yang kamu kira. Dan aku mencintaimu, karena aku mencintaimu."

Aku terlelap dalam bahagiaku.
Sayang masih terlalu singkat. Aku memang bukan penulis cerita yang baik. Maaf, maaf.. 1000 kali maaf. Tapi aku yakin cerita fiksi yang ditulis sepenuh hati bisa menjadi sebuah kenyataan.
"Life, oh life. Oh life.. must go on.. la la la la.."

TAMAT

Aku dan Lidya sudah lama sekali tak bertemu. Setelah sama-sama lepas dari pasangan masing-masing, keinginan bertemu besar sekali. Mungkin karena banyaknya kecocokan kami dahulu, dari mulai curhat sampai ML yang boleh dibilang sudah sama-sama hapal kesukaan masing-masing. Pada suatu kesempatan, kami bertemu kembali di telepon, dan langsung janjian bertemu di kantornya hari sabtu siang, yang kebetulan juga ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.

Meluncurlah aku kekantornya di sebuah building di jalan utama ibu kota. Karena hari itu hari sabtu, praktis sebagian besar kantor tutup. Demikian juga di lantai tempat kantor Lidya, hanya kantornya yang buka, itupun sudah tidak ada karyawan piket karena memang cuma setengah hari. Karenanya, Lidya sendiri yang membukakan pintu dan menyambutku dengan penuh semangat. Akupun demikian, walaupun sempat terpana sebelumnya melihat dirinya yang semakin cantik, sensual dan sexy, apalagi dengan penampilannya siang itu yang mengenakan blazer merah, rok mini ketat dan sepatu tinggi hingga menampakkan kejenjangan kakinya serta kemulusan kulitnya yang mulus, walaupun tubuhnya tetap tidak berubah, yaitu mungil dan ramping.

"Aku selesai'in kerjaanku dulu ya., abis itu baru kita jalan..",
Kata Lidya sambil mengajakku ke mejanya setelah kita ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Lidya lalu duduk di kursinya sambil menyelesaikan pekerjaan di komputernya.
"Aku pijetin yah..,"
Kataku sambil berdiri di belakang kursinya berbarengan dengan mampirnya kedua tanganku di pundaknya untuk memijat.
"Hmm.., enaknya.., udah lama ya kamu nggak mijet aku.., aku kangen sama tanganmu..," katanya lagi sambil menggeliat manja.
"Kangen sama bibirku juga nggak?," bisikku kemudian yang kubarengi dengan ciumanku di kupingnya.
Lidya langsung menggeliat, apalagi waktu kraag blousenya agak kusingkap dan ciumanku menjalar ke leher dan tengkuknya yang mulus. Aroma tubuhnya yang alami kurasakan lagi setelah sekian lama tak berjumpa dengannya.
"Ssshh.., kamu nggak berubah yah..,"
Rintih Lidya kenikmatan sambil mematikan computernya.
"Kaya'nya kita nggak perlu keluar dari sini deh.., sebentar ya, aku kunci dulu pintu depannya," katanya lagi.

Agak lama Lidya mengunci pintu depan, dan waktu balik ke ruang kerjanya, mataku terbelalak melihat Lidya hanya tinggal mengenakan blazer merahnya yang terkancing seadanya tanpa apa-apa lagi di dalamnya. Tanpa bicara, Lidya langsung menggandengku menuju ruang meeting kecil yang hanya berisi meja bulat dan beberapa kursi.
"Aku kangen melihat tubuhmu," katanya lagi.
Sementara aku buka pakaianku semua, Lidya mendekatiku dan tiba-tiba melumat bibirku yang langsung kusambut dengan meneroboskan lidahku dan menari-nari di dalam mulutnya sambil kadang-kadang mengulum lidahnya.

Begitu aku bugil total, Lidya meyuruhku duduk di kursi meeting, sementara dia ambil posisi berdiri dihadapanku sambil pelan-pelan membuka kancing blazernya dengan gaya erotis. Setelah itu, disingkapnya masing-masing ke samping sehingga muncullah pemandangan yang amat indah. Buah dadanya yang ranum, bulat, dan padat dengan pentilnya yang merah muda itu nampak mencuat menantang, apalagi dengan tubuhnya yang makin basah oleh keringat sehingga kulitnya yang mulus makin berkilat. Belum lagi aku terkagum-kagum melihatnya, Lidya langsung duduk dipangkuanku dengan mengangkangkan pahanya bertumpu di pegangan tangan kursiku sehingga posisi buah dadanya tepat persis di mukaku.
"Udah lama kamu nggak menyantap susuku, ayo dong isep",
Goda Lidya sambil meneruskan melepas blazernya dan menaruh kedua tangannya ke atas senderan kursiku dan menyodorkan dadanya hingga kepalaku terbenam di antara dua bukitnya yang kenyal itu.

Penisku mulai berdiri lagi dengan perlakuannya ini, apalagi aku bebas menghirup aroma tubunya yang bercampur antara parfum dan keringatnya itu. Muncul ideku untuk bermain-main dulu dengan menciumi lehernya yang jenjang dan terus ke belakang telinganya. Lidya menggeliat kegelian dan membuat hidung dan bibirku menjalar ke ketiaknya yang halus bersih itu, setelah sebelumnya menelusuri lengannya yang lembut. Disitu kuciumi sepuas-puasnya dan kujilat-jilat seputar ketiaknya yang merupakan salah satu kesukaannyaa juga.

Kegeliannya membuat kepala Lidya menengadah kebelakang sehingga buah dadanya siap dilumat dengan mulutku yang makin liar. Kujilati mulai dari bawah buah dadanya, terus kesamping dan berlama-lama di seputar putingnya yang makin mengeras. Lidya yang nggak sabar, mendorong putingnya ke mulutku yang langsung kusambut dengan jilatan panjang, gigitan kecil dan kemotan-kemotan halus di putingnya. Tubuhnya makin menggelinjang ketika tanganku juga beraksi mengusap-usap selangkangannya yang ternyata sudah basah dari tadi.

Jariku mulai menyusup ke vaginanya dan kugosok-gosok klentitnya. Tidak Cuma itu, jari-jarikupun menerobos masuk ke vaginanya yang terbuka bebas dengan gerakan maju-mundur yang makin lama makin cepat, dan ..
"Aaggh..sudah dong, sudaah",
Erang Lidya yang badannya mengejang sambil mendekap erat mukaku di buah dadanya sampai aku sulit bernafas, sementara jariku merasakan hangatnya cairan dari vaginanya. Rupanya Lidya baru saja mencapai klimaksnya dengan posisi kedua pahanya yang masih mengangkang dan masing-masing bertumpu pada sandaran tangan kursiku.

Tubuhnya lalu kuangkat dari kursi dan kurebahkan di meja bulat di depanku dengan posisi kedua kakinya, dari batas lutut menjuntai ke bawah, agar Lidya bisa beristirahat sebentar mengembalikan tenaganya. Sementara beristirahat, aku yang duduk kembali di kursi mengangkat kedua kakinya, melepas sepatu tingginya, dan menaruh di pangkuanku sambil kupijat lembut dari ujung kaki hingga betisnya. Kupandang sejenak kakinya yang bener-bener mulus bersih dengan jari-jari kakinya yang rapi dan tanpa kutek itu serta betisnya yang ramping berisi. Lidya menikmati sekali pijatanku, bahkan waktu kugantikan tugas tanganku dengan bibirku yang menelusuri seluruh permukaan kulit kakinya.
"Aawh..sshh,..geli sayang,"
Rintihnya lagi namun tetap pasrah menyerahkan kakinya untuk kuciumi dan kujilati dari mulai tumit, telapak kaki hingga jari-jari kakinya. Selain kumainkan lidahku, tak lupa kukemot satu persatu jari kakinya yang kutahu paling dia suka.

Lidya menikmati sekali permainanku ini sampai posisi kedua kakinya jadi tak beraturan karena menahan geli dan nikmat. Walaupun kedua kakinya masih kuciumi, pahanya mulai terbuka sedikit, sehingga satu tanganku bisa bebas menjamah kemulusan paha dan selangkangannya. Puas dengan kakinya, kulanjutkan ciumanku ke atas menelusuri betisnya yang indah, bagian dalam lutut, dan pahanya. Sempat kukecup-kecup lembut kedua paha dalamnya sambil tanganku terus menjelajah ke vaginanya. Lidya menggelinjang, tapi tanpa sadar malah memajukan duduknya ke pinggir meja dan kedua kakinya dikangkangkan ke masing-masing ujung meja, sehingga selangkangannya makin terbuka lebar membuatku makin bernafsu.

Tanpa tunggu lagi, kupindahkan mulutku ke vaginanya yang nampak basah, dan kedua tanganku menjamah buah dadanya di atas. Jilatan-jilatan dan isepan-isepanku di vagina inilah yang paling disukai Lidya. Dari menyusuri bibir vaginanya, kuarahkan kemudian lidahku ke clitorisnya dan kumainkan dengan ujung lidahku hingga Lidya mengerang hebat. Tak cuma itu, clitorisnya tak luput juga dari kuluman bibirku yang kubarengi dengan liukan lidahku yang makin liar.
"Mas, kencengin lidahnya mas",
Pinta Lidya sambil tangannya tiba-tiba menekan kepalaku lebih dalam. Aku tahu maksud Lidya yang minta lidahku dikerasin seolah penis dan ditarik maju-mundur ke liang vaginanya. Lidya meronta-ronta, apalagi ketika clitorisnya kujilat berulang-ulang lalu kujulurkan lebih dalam menembus liang vaginanya bersamaan dengan makin cepatnya gerakan maju-mundur pinngul Lidya, dan
"aghh"..aagh!!"
Tubuhnya melengkung dan mengejang. Kepalanya direbahkan kebelakang dan kedua pahanya dirapatkan sehingga menjepit kepalaku yang masih berada di selangkangannya sambil tangannya terus menekan kencang.

Tanpa istirahat lagi, dengan cepat aku berdiri dari kursi lalu mengangkat kedua kakinya tinggi ke atas dan kutumpangkan masing-masing di pundakku, sehingga posisi penisku tepat berada di depan liang vaginanya yang persis berada di pinggir meja.
"Ooowh ..," teriak Lidya begitu penisku yang tegak keras bak meriam masuk lurus ke liang vaginanya.
Langsung kugerakkan maju-mundur pinggulku yang membuat Lidya menjerit-jerit kecil karena menahan geli, setelah mencapai klimaks sebelumnya. Pinggulnya diputar-putarkan mengimbagi gerakan penisku yang makin lama makin cepat bergerak maju-mundur. Lidya makin pasrah waktu pergelangan kakinya kupegang dan kukangkangkan ke samping sambil terus menggenjot vaginanya. Baru sebentar Lidya tak tahan, dan lebih memilih melingkarkan kakinya ke pinggangku sambil terus menggoyang-goyang pinggulnya.

Kesempatan ini kupergunakan dengan merapatkan badanku ke tubuhnya yang indah itu, dan dengan tak henti menggenjot vaginanya, bibir dan tanganku ikut bekerja. Tanganku meremas gundukan buah dadanya yang ranum, dan bibirku merajalela di wajah dan lehernya. Penisku menghujam makin cepat ke liang vaginanya. Kedua tanganku kemudian menahan kedua tangannya dan bibirku kuturunkan ke putingnya untuk kujilat dan kukemot habis-habisn.., sehingga
" Aaagghh..!!," Teriak Lidya dan aku hampir bersamaan.
Kedua tubuh bugil kami sama-sama menegang. Kedua kakinya kencang sekali menghimpit pinggangku, dan tangannya beralih menekan kepalaku ke buah dadanya.

Kami sama-sama terdiam beberapa saat menikmati ledakan yang luar biasa. Keringat mengucur deras membasahi meja meeting itu walaupun AC terasa dingin. Kulepaskan tubuhku kemudian sambil memandangi tubuh Lidya yang indah mulus itu terlentang di atas meja. Tampangnya yang sensual itu masih tersenyum kepuasan, dan membuatku gemas. Lalu aku mulai lagi menjelajahi seluruh lekuk liku tubuhnya dengan jilatan-jilatan nakal, Lidya cuma bisa menggelinjang pasrah dan dengan manja berkata lagi,
" Coba deh kamu tiap hari ke kantorku."

TAMAT