Kuperhatikan setiap sudut ruangan. Tidak banyak yang berubah, hanya catnya kini tampak lebih baru. Dalam hati aku bergumam, "sudah dua setengah tahun aku tidak kesini."
Dari ruangan tengah, keluar seorang nyonya muda bersama gadis kecil berusia sekitar satu tahun sembilan bulan. Anak itu sangat manis dan lincah. Ketika dia hampir mendekatiku, dari mulut mungilnya keluar kata, "O.. om, o.. om ciapa..?"
Aku tersenyum seraya mendekatinya.
"Nama Oom, Johan, namanya ciapa..?" timpaku balik bertanya.
"Riani.." jawabnya.

Lalu karena rindu dengannya, kupeluk dia erat-erat dan kutempelkan bibirku di pipinya berulang-ulang. Viena, si nyonya muda tersebut memperhatikan setiap tingkah polahku. Nampaknya dia senang aku akrab dengan anaknya.
"Udah ya Riena, main sana sama bibi ya..?" tiba-tiba suara Viena terdengar.
Pipi anaknya dikecup, lalu diantarkannya ke pembantu.

Viena adalah seorang manager sukses di sebuah perusahaan swasta terkenal di Jakarta. Usianya kira-kira 29 tahun. Tingginya lebih kurang 165 cm, berkulit putih bersih. Wajahnya mirip Ida Iasha. Yang membedakan hanya ukuran dada. Dada Viena jauh lebih besar dan montok.

"Kok jarang main kesini bang..?"
"Lagi sibuk," jawabku sekenanya, "Oh ya, Mas Irvan kemana..?"
"Keluar kota Bang, ada tugas." kata Viena lagi.
Pembicaraan kami cukup akrab, maklum aku dulu sering main kesini. Saat kulihat, jam dinding menunjukkan pukul 22:00. Hujan yang turun setibanya aku di rumah tersebut belum juga reda, malah bertambah deras.

"Tidur disini aja Bang, nampaknya hujan nggak bakalan berhenti.." tawar Viena.
Karena memang aku tak dapat pulang, tawaran Viena kuterima. Viena melangkah ke kamar anaknya yang lagi tidur. Sedangkan aku menuju kamar yang sudah disiapkan. Kutanggalkan pakaianku satu per satu. Pikiranku mulai menerawang pada kejadian sekitar dua setengah tahun silam. Waktu itu Mas Irvan memelas kepadaku agar aku mau menghamili istrinya, supaya dia tidak terus-terusan diledek orang karena dia tak mampu. Awalnya aku menolak, tapi karena merasa kasihan padanya, permohonannya terpaksa kukabulkan.

Pada waktu yang sudah disepakati, aku menginap di rumah Mas Irvan. Tepat jam 21:00, aku menyelinap ke kamarnya. Rupanya mata Viena sudah ditutup dengan sapu tangan oleh Mas Irvan, terus dia bergegas keluar. Sekarang gantian aku yang berperan sebagai Mas Irvan. Viena yang tengah berdiri dekat tempat tidur kudekap dari belakang, lalu kucium tengkuknya. Dia sedikit menggelinjang. Jantungku mulai berdegup, tapi aku tidak memperdulikannya. Pelan-pelan kuangkat gaun tidur Viena sebatas pinggang, kulepas BH-nya, terus kuraih buah dadanya yang ranum. Benda yang kenyal tersebut kuremas-remas.
"Ouuch.. ouuch..," terdengar suaranya lirih.
Kini giliran tangan kiriku bergeser ke perut bawah. Terasa celana dalamnya belum dilepas. Dengan sekali sentakan, celana tersebut berhasil kulepaskan.

Sekarang pingulnya yang montok benar-benar bebas dari penghalang. Tanpa kompromi, senjataku mulai siaga. Sekali lagi tangan kiriku dengan cekatan melepaskan celana dan underwear-ku sendiri, sementara tangan kananku terus membelai payudaranya. Senjataku yang dari tadi siap tempur kian terdongak ke atas. Perlahan benda tersebut kutempelkan ke pinggulnya.
"Aaacch..," terasa empuk dan menggetarkan.
Nafsu kasih sayangku tambah gergolak. Zakarku yang dari tadi sudah mengeras, kutekan dan gesek-gesekkan di lipatan pinggul wanita itu. Terlihat sedikit rasa terkejut di tubuhnya.
"Oooh.., kok tambah gede Mas, masukkannya pelan-pelan ya Mas..!" pintanya.

Kemudian secara naluriah, Viena merenggangkan kakinya dan menunggingkan pinggulnya ke arahku agar benda yang dikelilingi urat-urat menonjol tersebut dapat terselip lebih dalam di pinggulnya. Sementara itu tangan kanannya meraih pinggulku dan ditekankan ke tubuhnya.
"Ouucch Mas.. terus tekan yang keras Sayang.." suara Viena terdengar berat.
Tubuh Viena menggelinjang sebagai respon dari permainanku. Pinggulnya berusaha diliukkan ke arahku, sedangkan kepalanya direbahkan ke pundakku. Tanpa basa basi lagi, kukecup pipinya dengan lembut.

Gerakan pinggulku kuhentikan ketika tangan kanan Viena berusaha meraih senjataku yang menempel di pinggulnya. Respon tubuhnya sedikit terkejut saat dia menggenggam sejataku. Selanjutnya sejataku yang berukuran gede diarahkan ke vaginanya. Gerakan maju mundurku hanya berselang beberapa menit, terus kulepaskan rangkulanku terhadapnya.

Kini tubuh wanita itu kubopong ke tempat tidur. Kami duduk sambil berangkulan. Kuraih kepalanya, lalu kukecup bibirnya cukup lama sampai nafasnya tersenggal-sengal. Kemudian kuarahkan senjataku ke wajahnya, terus memukul-mukulkan ke pipinya yang lembut.
Suara, "Oouuch.. ouuch.." kembali terdengar saat senjataku yang semakin membengkak itu kumasukkan ke mulutnya.
Dengan cekatan kedua tangannya meraih benda tersebut dan melingkarkan jarinya seolah ingin megukur diameter benda yang menggemaskan itu. Tapi lingkaran senjataku tersebut terlalu besar untuk genggaman jarinya, karena ukuran benda itu sedikit lebih besar dibanding pergelangan tanganku.

Setelah puas mempermainkan senjataku, kemudian benda tersebut dikulumnya kembali dengan rakusnya. Walau Viena telah berusaha semampunya, tetapi hanya sedikit kepala senjataku yang dapat dikulumnya. Perasaanku tambah tidak karuan saat benda kebanggaanku berdenyut di mulutnya, dan tak ayal lagi, sedikit rintihan kecil keluar dari mulutku.

Kuraih kepala Viena lalu kubelai manja. Kuluman mulutnya yang sensasional kulepaskan. Kini giliran aku yang mempermainkan buah dadanya yang ranum. Kedua benda yang kenyal tersebut kuremas dan elus bergantian. Putingnya kuhisap dan kupelintir-pelintir dengan lidahku dan kadang-kadang sedikit kugigit manja.
"Aaouuch.. eecchh.. ouucchh.." erangan Viena lirih, lalu dia memintaku menghisap payudaranya kuat-kuat.

Kini kecupanku kuteruskan agak ke bawah. Viena seakan-akan mengerti dan membaringkan tubuhnya. Pahanya dikangkangkan agak lebar, sehingga vaginanya tampak jelas dengan rambut vaginanya yang lebat. Perasanku tambah tak karuan saat melihat bibir vaginanya yang tebal. Kusentuh bagian tersebut, lalu kukuakkan belahannya. Kemudian dengan nakalnya kucelupkan jari tengahku ke lubang yang indah tersebut seraya membuat gerakan maju mundur.
"Eeemm.." suara Viena menahan nikmat.
Selanjutnya kutempelkan bibirku ke vaginanya yang tebal itu. Aroma khas yang keluar dari vaginanya membuat hasratku semakin bergelora. Hisapan demi hisapan kulakukan tak ubahnya seperti mengecup bibirnya.

Sementara itu tangan Viena membelai rambutku. Ketika kujulurkan lidah dan membenamkan dalam-dalam ke vaginanya, rintihan Viena tak henti-hentinya memelas.
"Tekan yang kuat, Sayang.., aacchh..!"

Setelah kurasa Viena siap untuk disetubuhi, aku merangkul tubuhnya dan menuntunnya menungging ke arahku. Aku bersiap jongkok di belakangnya. Senjataku kupukul-pukulkan ke vaginanya sebelum dimasukkan. Melihat perbandingan ukuran senjataku dengan vaginanya, aku sedikit khawatir, bisakah senjataku yang berukuran XXL menyelinap ke vaginanya. Tapi akhirnya pikiranku segera kutepis. Yang jelas aku ingin membahagiakan wanita yang cantik ini dan ingin memberinya keturunan.

Tubuh Viena kurangkul, dan senjataku kuarahkan tepat di lubang vaginanya. Pinggulku kutekan sambil membuat gerakan maju-mundur. Cukup lama gerakan ini kulakukan, tapi tak membawa hasil. Pertahanan Viena cukup tangguh. Keringat mulai membasahi tubuhku. Sayup-sayup terdengar suara wanita itu dengan manja.
"Ayo Sayang, beri aku kebahagiaan..!" permintaan ini menggugah rasa sayangku terhadapnya.
Tanpa berpikir panjang, kutekankan pinggulku pelan-pelan tapi kuat.
"Bleess..!" kepala senjataku terdorong masuk, bersamaan dengan itu terdengar suara, "Aaacckk.., tahan Mas..!"
Gerakanku kuhentikan sejenak.

Dengan masuknya kepala zakar tersebut, usahaku tidak begitu berat lagi. Perlahan tapi pasti, batang zakarku yang besar terbenam ke lubang surganya. Tapi karena panjangnya belum seluruhnya dapat masuk. Batang zakarku masih tertinggal seperempat lagi di luar, walau kapala zakarku telah menyentuh mulut rahimnya. Dalam hatiku aku jangan setengah-setengah menyayangi wanita, maka batang senjataku yang masih tertinggal, kutekan hingga amblas semua.
Erang tertahan keluar dari mulut Viena, "Aaacckk..!"
Sejenak gerakan pinggulku kuhentihan, lalu kulanjutkan kembali.

Gerakan pinggulku yang maju mundur memberikan perasaan yang tak terbayangkan buat kami berdua. Erangan demi erangan tak henti-hentinya keluar dari mulut kami.
"Aaacch.. oouucch..!" terdengar dari mulutku dan Viena.
Remasan dan denyutan otot vagina Viena terasa erat sekali pada zakarku, pertanda dia mau orgasme. Gerakan maju mundurku kuhentihan, tapi pinggulku kutekan erat ke tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Viena mengejang kuat, "Aaacchh..!" lalu terhenti.

Sekarang gejala yang menimpa Viena mulai merasukiku. Perasaan mau ejakulasi mulai terasa. Cepat-cepat senjataku kucabut dari vaginanya, terus kumasukkan ke mulutnya.
Lalu, "Ooouucckk..!" eranganku agak tertahan bersamaan muncratnya spermaku yang hangat di mulutnya.
Kuperhatikan tak ada setetes pun spermaku tumpah. Semuanya habis ditelan wanita yang manis tersebut. Setelah permainan yang panjang dan melelahkan itu, aku berbaring telentang. Kuraih Viena ke pangkuanku, lalu kepalanya kubelai manja sebagai tanda kasihku terhadapnya.

15 menit sudah Viena terbaring di dadaku. Tubuhnya yang tadi lemas mulai segar. Salah satu pahanya yang menyentuh zakarku digesek-gesekkan, sehingga membuat benda kesayanganku itu terbangun. Kini wanita tersebut mulai mengambil inisiatif permainan. Tubuhnya yang indah dengan dua buah gunung yang mengantung gemulai telah berada di atasku. Dengan tangkas kedua gunung tersebut kuraih dan mempermainkannya.

"Ayo Sayang, lakukanlah apa yang kamu suka untukku..!" pintanya.
Setelah itu terdengar desahan berat dari mulutnya yang sensual.

Remasan kedua tanganku terhenti saat Viena mengangkat pinggulnya, lalu duduk tepat di atas senjataku yang mengeras. Tangannya menjangkau dan menggenggam senjataku, lalu menuntunnya ke lubang surga miliknya.
"Ooouuchh..!" ringisan keluar dari mulutnya saat benda yang besar dan gagah itu menyelinap di vaginanya.
Selanjutnya dia mengerakkan pinggulnya naik turun berirama, dan sesekali membuat gerakan memutar sambil mengeluarkan desahan-desahan manja. Wanita yang cantik ini terlihat seolah-olah melampiaskan hasratnya yang selama ini terpendam.

Tiba-tiba Viena menghentikan gerakan pinggulnya. Vaginanya yang tadi meremas-remas erat senjataku kian bertambah erat genggamannya. Kini pinggulnya diturunkan sedikit demi sedikit hingga kepala zakarku menekan kuat di mulut rahimnya. Melihat gejala mau orgasme, dengan tangkas kurangkul tubuh molek tersebut, kemudian membaringkannya dalam keadaan kelamin kami saling berhubungan. Posisi Viena sekarang berada di bawah. Inisiatif menyerang sekarang berada di pihakku.

Tak berapa lama setelah gerakan maju mundur pinggulku, tubuh Viena nampak mengejang. Rangkulan pahanya ke pinggulku kian erat. Situasi ini tak kusia-siakan, gerakan pinggulku kuperlambat sambil membuat gerakan lembut tapi kuat ke pinggulnya. Setelah itu perasaan tak karuan mulai menimpa diriku.
Zakarku mulai berdenyut mau memancarkan sperma, sampai akhirnya, "Acchh.. oouucch..!" terdegar lagi suara dari mulut kami berdua.
Kemudian terasa genangan spermaku membanjiri mulut rahimnya.

"Terima kasih Mas.."
Ucapan Viena kubalas dengan mengecup pipinya.

"Tok.., tok.., tok.." tiba-tiba bunyi ketokan pintu terdengar.
Aku tersadar dari lamunanku lalu bergegas mengenakan pakaian seadanya.
"Ada apa Viena..?"
"Ini Bang, pakaian tidur buat Abang, tadi kelupaan menaruhnya di dalam kamar."
Melihat ada benjolan besar di selangkanganku Viena tersenyum.
"Lagi melamun apa Bang..?" tanyanya usil.
"Ach, nggak ada.." jawabku singkat.
Wajahku sedikit merah mendegar pertanyaannya yang menggoda.
Lalu dia berkata lagi, "Bang, kasian tuh Riani, kayaknya dia butuh teman buat bermain.."

Setelah itu, tahulah rekan pembaca apa yang terjadi antara kami berdua. Sejak kejadian itu hubunganku bertambah dekat dengan Viena.

TAMAT