Showing posts with label Cerita Bokep Umum. Show all posts
Showing posts with label Cerita Bokep Umum. Show all posts

Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.
Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”
Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”
Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”
Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang, saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!”
Tante Vida berkata, “Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.
Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante… lagi tanteee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.
Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “*********” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida

Sabtu sore itu sekitar jam 6 an setelah makan di salah satu resto di daerah tebet aku bermaksud mengantarkan Rea ke kosannya.Rea adalah karyawan perusahaanku. (untuk jelasnya baca ceritaku ?AKHIRNYA TIDAK BERAKHIR?).
Malam minggu itu dia terpaksa harus balik ke kost an nya karena sepupunya ada yang mau nginap di kost an nya padahal aku bermaksud mengajak dia jalan malam minggu itu, terpaksa aku malam mingguan seperti biasa lagi sendiri.
Tidak terasa kami sudah sampai didepan kost an nya rea, dan sebelum dia turun kami sempat fresh kiss sebentar didalam mobil sambil berpelukan,?sabar ya sayang?, senin malam abang boleh nikmati semua punya rea di Singapure?? katanya sambil tersenyum manja dan mencium pipiku sebelum turun dari mobilku,seninnya memang aku sudah berencana mengajak dia ke Singapure menemani aku tugas selama 5 hari seperti yang aku ceritaku terdahulu (judul:?akhirnya tidak berakhir?).
Aku melambaikan tanganku sambil melajukan kendaraanku meninggalkan kost an nya rea menuju ke rumahku di daerah slipi Jakarta Barat.
Sekitar jam 9 malam hpku berbunyi dan kulihat ada nomor yang gak aku kenal, tadinya aku malas untuk menjawabnya karena biasanya kalau nomor yang tidak aku kenal tidak pernah aku jawab.?Halo..,ini doni.??, terdengar suara perempuan diseberang sana,?iya,maaf ini siapa ya?, begitu kira-kira awal percakapan dan rupanya yang menelpon itu tika,dia adalah anak dari salah seorang relasi perusahaanku di Bali dan juga manager marketing di perusahaannya dan rupanya saat ini lagi berada di Bandung untuk urusan pribadi,katanya bokapnya mau transaksi beli rumah hari senin dan dia sengaja duluan ke Bandung karena mau jalan-jalan di Bandung,sedangkan bokapnya datang hari senin sekalian ada urusan sama bos aku di Jakarta, lama juga kami telphon-telphonan ,?eh gak apa-apakan tika telpon lama nih pak..??, tanyanya mungkin merasa gak enak dan pembicaraanpun masih sedikit formal disamping baru 2 kali ketemu juga belum terlalu akrab,?sampai pagi juga gak apa-apa kok?, jawabku,sambil mencoba untuk akrab,kudengar dia ketawa,?bener nih..,gak apa-apa?, emang bapak lagi dimana??, tanya dia lagi, ?kalau bapak aku ada di Menado,ada apa nanya bapakku..he..??, jawab aku berusaha untuk terus akrab,lumayanlah ada temen ngobrol malam minggu biarpun cuma di telphon,?tika nanyain pak doni,bukannya nanyain bapaknya pak doni..?? katanya lagi sedikit sewot tapi suaranya mulai terdengar manja,aku berfikir bisa nih diarahin buat lebih akrab lagi,?kalau gitu tika manggilnya mas doni aja ya..?boleh..??,sahut dia lagi,wah tambah mantab dikit nih buat ngobrol-ngobrol,?gitu dong biar enak ngobrolnya,eh tika sama siapa di Bandung?aku panggil tika aja ya,gak usah mbak tika lagi kan..??, dia ketawa mendengarnya dan suasanapun langsung menjadi akrab,ternyata dia sendirian di Bandung,tadinya dia mau nemuin beberapa orang temen di Bandung tapi gak ketemu sudah pindah alamatnya ,?sudah jalan-jalan keliling dong tika??, tanyaku, ?tika bingung disini sendirian,tika gak begitu mengenal daerah Bandung..!?, jawabnya lagi, ?eh mas doni kok gak keluar nih malam minggu?? tanya dia dengan nada sedikit menggoda, ?pengen sih,suntuk juga dirumah malam mingguan tapi gak ada teman nih?,sahutku sedikit memancing dia,?kasihaaan..,sama dong kita..!?,sahutnya sambil tertawa,?iya nih..,karena kita sama gimana kalau kita keluar aja jalan sekarang?mau gak??, aku mulai ceplas ceplos aja karena aku pikir cuma becanda sebab dia di Bandung sedangkan aku di Jakarta dan juga sekarang sdh malam jam 9 lewat, ?bener nih mas doni mau ke Bandung sekarang?, kalau bener mas doni mau kesini sekarang tika tunggu nih mas..??, jawabnya yang sungguh diluar dugaanku,?hee?,tunggu dimana?diwarung??, sahutku lagi pura-pura becanda, aku masih mau lihat serius gak dia minta aku keBandung malam-malam gini,kalau serius pasti secara tidak langsung dia minta dielus,he?he?,begitu pikirku.,?masa diwarung,mas doni langsung aja ke horizon,tahu kan?,?jawabnya menerangkan dan aku baru bener-bener yakin kalau dia serius,tanpa panjang lebar lagi langsung kubilang aku jalan saat itu juga.
Sepanjang perjalanan aku ke Bandung tika sering telpon aku,?sudah sampai mana mas..??Tanya dia saat aku sudah memasuki tol Bandung,?sudah mau masuk kota Bandung tika,10 menit lagi juga sampai??, jawabku ?ya udah,tika tunggu ya?hati-hati lho jangan ngebut-ngebut?, sahutnya untuk kesekian kalinya ingatkan jangan ngebut,?gimana gak ngebut,.dah kebelet nih??, jawabku tanpa sadar berani ngomong ke hal sedikit menjurus,aku lupa karena sudah merasa akrab dan dia juga selalu manja klo bicara sama aku di telpon,?ye?,kebelet apa sih..??sahutnya, cepat aja aku potong,?kebelet pipis nih..?? jawabku pura-pura nahan kencing, terdengar dia ketawa geli, gak tau karena membayangi punya aku atau menertawai keadaan aku,sepertinya dia membayangin punyaku, ?ditampung sama botol air mineral aja?, katanya lagi masih ketawa, ?tadinya mau gitu tapi dulu pernah kejadian sih, jadinya takut?, aku mulai berani mengajak dia ngobrol kearah begituan,?kejadian apa mas..??, katanya sedikit penasaran kali. ?dulu aku pernah kencing terus aku masukkan ke dalam botol air mineral,waktu masuk bisa karena masih kecil tapi setelah hampir selesai kencing dia membesar di dalam botol itu jadi gak bisa dikeluarin,nyangkut didalam?, terdengar dia tertawa ngakak sekali mendengar cerita bohonganku, aku yakin pasti sedikitnya dia ngebayangin penis cowok klo lagi ereksi.
Aku sudah sampai di hotel horizone tempat dia nginap tapi aku sengaja gak kasih tahu dia kalau aku sudah sampai dan kami masih aja telpon-telponan sambil aku langsung masuk lobi hotel dan berjalan menuju kamar dia,?terus gimana tuh..??, katanya masih penasaran, ?ya susah deh,aku tungguin kecil lagi pasti lamakan,malah semakin membesah karena kegencet lobang kepala botolnya soalnya lingkarannya punya aku lebih gede dari diameter kepala bolol itu,jadi terpaksa deh aku potong..??, kataku menerangkan dan akupun sudah didepan pintu kamarnya tapi aku tahan untuk nggak ngetok pintu kamarnya dulu,?hah..apanya yang dipotong mas?, ah..pasti mas doni bohongkan??, jawabnya sambil masih cekikikan,?beneran aku potong,kalau nggak gimana keluarnya?, jawabku berusaha sedikit serius biar dia penasaran,?pendek dong sekarang..??, katanya sambil ngakak lagi,akupun jadi ketawa mendengar reaksi dia ngebayangi burung aku,belum tahu dia pikirku,langsung aku ketok pintunya,aku pengen lihat wajahnya pasti bersemu merah kalau tahu aku sudah didepan pintu kamarnya,?eh bentar dulu ada yang ngetok pintu kamarku tuh mas..??, katanya kaget,dia gak tahu kalau aku yang mengetok pintu kamarnya,?eh tika ntar dulu,sorry nih,kalau itunya basah mendingan kamu ganti dulu ntar mana tahu tamunya lama ngobrol,kamu pasti merasa gak nyaman karena basah,?sahutku, ?basah apaan,enak aja,aku mau lihat dulu ya?mas doni sudah sampai mana??, tanya dia,?sampai depan kamar kamu?jawabku, ?hah?.,grrrr..,awas kamu mas..?!!ntar tika potong sekalian biar habis..!?,setelah itu langsung telpon dimatiinnya.
Perlahan pintu kamarnya terbuka dan kulihat wajahnya cantik sekali dan masih bersemu merah,mungkin sedikit malu habis becanda di telpon barusan, ?masuk mas..?, katanya sambil tersenyum,lalu aku berjalan masuk kamarnya yang sangat luas karena memang kamar suite room di hotel itu,?duduk mas..,cape ya?,mau minum apa nih..?!?, ternyata dia sangat ramah beda sekali dengan tika yang selama ini aku kenal, memang selama ini aku kenal dia cuma dalam urusan kerjaan saja tapi malam ini sangat lain, kuperhatiin dia sangat cantik sekali dengan rambut dibiarkan terurai sebahu dan di cat warna kuning mengenakan daster pakai tali seperti tanktop sehingga memperlihatkan bagian atas tubuhnya dan buah dadanya yang berukuran 34C itu menonjol sangat jelas belahan susunya,pikiranku langsung membayangkan seandainya burungku bisa aku jepitkan ditengah daging empuk itu pasti akan sangat nikmat sekali, tidak terasa burungkupun mulai bereaksi, betisnya dan pahanya yang putih mulus itu membuat aku menelan ludah berkali-kali karena dasternya itu sangat pendek dan tipis sehingga CDnya jelas kelihatan berwarna merah dari balik dasternya yang berwarna kuning terang itu, tampak dia tidak mengenakan BH sehingga tonjolan putingnya sangat jelas kelihatan walaupun dia sedikit menutup-nutupi dadanya dengan tangannya tapi aku lihat dari caranya menutupi dadanya dengan menurun naikkan tangannya di dadanya lebih kepada isyarat untuk aku supaya melihat kearah susunya yang putih mulus montok dengan puting sedikit menonjol dari dalam dasternya yang tipis itu.
?kok diem gitu sih mas?,jangan bengong gitu dong?, tegurnya mengagetkan lamunan jorokku, ?eh nggak..,gak apa-apa kok,cape aja dikit nih..?, jawabku ngasih alasan,?diminum mas..?, dia menawarkan minuman dingin kepadaku,huh segernya kerongkongan yang sejak melihat tubuhnya yang sexy dibungkus daster tipis jadi kering.
Lalu akupun membuka pembicaraan mengenai rencana dia buka butik diBandung sampai ke masalah kantor dan lain-lainnya yang jelas cuma sekedar kata pembuka aja bagi aku dari pada nyeruduk lansung kayak kambing mau kawin,he?,aku kan bukan kambing pikirku.
Mataku tidak henti-hentinya memperhatikan keindahan tubuhnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, kulitnya yang putih mulus dan tai lalat kecil di dekat belahan susunya, pikiranku sibuk membayangkan daging yang ditutupi daster tipis itu, pada mulanya aku cuma mencuri-curi aja melihatnya tapi karena aku merasa dia tahu kalau aku dari tadi memperhatikan tubuhnya,dia sekali-kali cuma tersenyum manakala aku sedikit bengong, (aku jadi berfikir kalau di cerita-cerita dewasa yang sering aku baca di salah satu situs, begitu gampangnya seorang cowok yg baru kenal cewek langsung ah..uh..oh,dan kalau aku langsung ah..uh..oh juga bisa aja nih tapi ketahuan banget bohongnya kali ya dan pasti bro-bro sekalian gak penasaran lagi kan?,hauhauha?.)
Gak terasa sudah jam 1.30 pagi, ?eh gak jadi jalan nih??, aku memotong pembicaraannya yang lagi asyik menceritakan tentang butiknya dan mataku juga sudah mulai ngantuk (klo aku rubah jalur ceritanya pake obat perangsang pasti bro-bro sekalian protes nih.huahuahaa.??).? oh iya,sampai lupa,habis keenakan ngorol nih.??, katanya juga sedikit kaget ketika melihat kearah jam tangannya, ?mau jalan kemana mas?dah jam setengah dua pagi nih?mau lihat orang jualan sayur jam segini?, katanya lagi, ?yah.. terus gimana?gak jadi nih??, tanyaku sambil menyenderkan badan ke sofa seperti orang yang mulai mengantuk, ?nah tuh kan mas doni aja dah ngantuk?gimana mau jalan lagi??, katanya dengan nada sedikit manja,aku cuma sedikit tersenyum melihat kearah dia dan dia sedikit malu waktu aku aku tatap matanya (bibirnya yang gemesin, sexy banget bro..), dia tidak berani lama-lama beradu tatapan denganku, sambil menunduk dia nawarin aku makan, ?mas doni laper gak?mau tika pesenin makan??, tanya dia ,?gak usah tika,mas doni mau balik aja ya?tika juga mau tidurkan ??, jawabku berbasa basi berharap ditawarin nginap sambil berfikir mungkin gak dia nawarin aku nginap disini,mustahil banget rasanya tapi ,?mas doni mau balik ke jakarta lagi??, tanyanya sedikit kaget dan ada nada bingung ,?belum tau nih,kalau gak kuat nyetir,ntar mas doni nginep dijalan aja?, jawabku sedikit di lemes-lemesin ngomongnya,?nginap disini aja mas?,besok katanya mas doni mau temenin tika jalan,besok malam aja pulangnya??, akhirnya dia nawarin juga tapi dia kelihatan juga bingung nawarin aku mungkin dia juga berfikir aku tidur dimana, sedangkan dikamar dia tempat tidurnya single bed walaupun berukuran besar.Melihat kesempatan itu aku gak mau menyia-nyiakannya, langsung aja aku becandain biar dia gak kaku karena bingung dengan keadaan malam itu ??gimana ya tika,mas doni bukan gak mau tapi takut aja sama kamu, ntar mas doni tidur kamu beneran lagi memotong habis, kayak ancaman kamu tadi?, jawabku sambil ketawa pura-pura lucu padahal konak habis ,?potong apa mas?,oh?he..he..?, katanya sambil ketawa, ?tadi becanda aja kok mas, melihatnya aja tika ngeri pasti pendek gitu?, sambungnya lagi dan kayaknya dia senang banget ngomongin masalah ginian dan dari ditelpon tadi selalu ditanggapinya, aku pikir kesempatan nih, ?siapa bilang pendek..?,eh ada minuman ya dikamar kamu??, jawabku sambil sedikit mengalihkan pembicaraan sambil melirik ke susunan botol minuman diatas kulkasnya,?ada mas,mas doni mau apa?suka chivas ga??, katanya sambil berjalan mengambilkan minuman, ?kita minum berdua sambil ngobrol ya?,tika biasa minum kan ?,? tanyaku sambil mataku melirik pantatnya yang montok lagi berdiri membelakangiku menuangkan minuman,?iya deh tika temenin minum tapi mas doni gak usah balik ke Jakarta ya?klo mas doni gak mau tidur disini ntar tika bukain kamar lagi aja disini?, katanya sambil berjalan memberikan minuman kepadaku dan tanganku sempat bersentuhan dengan tangannya waktu dia memberikan gelas dengan sengaja aku sentuh lembut jari tanganya.,?siapa bilang aku ga mau tidur disini?, jawabku , ?tadi mas doni bilang mau balik gak mau nginap disini takut dipotong??, dia bicara dengan nada sedikit manja,kuteguk minumanku dan kulihat dia kembali mengabil minuman dan menuangkan ke dalam gelas yang satu lagi,rupanya bener dia mau ikut temenin aku minum,akan aku bikin mabok nih dia pikirku.
Kami pun ngobrol sambil minum dan obrolan kami selalu menjurus ke hal-hal yang nyerempet sehingga membangkitkan nafsuku dan kulihat dia juga sudah sangat horny dan mulai gelisah duduknya,aku sengaja membahas masalah burungku biar pikirannya membayangkan dan penasaran,tapi aku tidak bisa terlalu kelihatan porno karena aku masih ingat status aku dan dia,dia adalah anak bos relasi perusahaanku,bagaimanapun kalau aku salah langkah pasti akan heboh nantinya,resikonya bisa di pecat bosku
Kulirik lagi jam tanganku sudah menunjukkan jam 3.30 pagi,sementara masih belum ada gerakan, dan burungku sudah keras banget karena sekali-kali aku dapat melihat kearah CD nya yang berwarna merah waktu dia sering merobah posisi duduknya dan dia juga belum kelihatan mabuk dari tadi belum nambah-nambah minumnya sementara aku dah beberapa kali nambah,mungkin pengaruh alkohol juga yang bikin aku sangat horny,aku coba berfikir keras bagaimana caranya yang halus dan seolah-olah tidak disengaja bisa kejadian dan dapat menikmati tubuhnya itu,otakku susah untuk diajak berfikir untuk membikin rencana.
Walaupun kepalaku sudah berat tapi aku masih sadar, aku tidak bisa mengontrol arah padanganku, mataku sering kali mengarah ke susu dan selangkangannya, ?mas doni ngantuk??, tanyanya sambil tersenyum sambil melirik dadanya karena melihat mataku melotot kearah susunya yang montok dan menantang tidak memakai BH sehingga kelihatan pentilnya sedikit menonjol itu, kelihatannya dia dari tadi tahu kalau aku selalu memperhatikan dada dan selangkangannya tapi dia tidak pernah membetulkan dasternya atau menutupinya, malahan kadang-kadang sedikit menarik kebawah membuat tonjolan bagian atas susunya semakin jelas dan aku juga tanpa sengaja beberapa kali menelan ludah.,?aduh kepala mas doni jadi berat banget nih,mas doni rebahan di kursi ini aja boleh??, tanyaku dan memang rasanya aku sudah gak kuat duduk lagi.?mas doni mulai mabok ya??, katanya lagi sambil bediri berjalan ke arah lemari kamarnya ,?ganti aja bajunya mas pake kaos sama celana hotpan tika nih,tapi celananya mungkin sedikit sempit gak apa-apa mas??, katanya sambil menyerahkan pakain ganti kepadaku dan aku diam saja gak mengikuti saran dia, dengan berat banget aku paksakan berdiri mengangkat badanku untuk mengganti bajuku,dia langsung memegang tanganku ketika melihat aku sedikit sempoyongan, disinilah rencanaku muncul, kalau dia gak bisa aku bikin mabok maka aku aja yang mabok pikirku dan rencana itu tiba-tiba saja terlintas diotakku,?aduh sorry nih tika,aku sudah berat banget,kamu sengaja ya bikin aku mabok ngasih aku minum banyak-banyak??sambil berdiri dipegangin tika, ?mas doni yang gak kontrol tuh klo minum?, sahutnya lagi sambil memapah aku yang berpura-pura mabok,tercium aroma parfumnya yang sangat sexy, kulitnya terasa sangat halus dan sengaja aku tempelkan langsung lenganku ke susunya terasa lembut sekali buah dada yang montok itu dan sedikit aku geser ketengah dadanya lenganku terasa jelas putting susunya dari luar dasternya, dia hanya diam saja karena sudah mengira aku bener-bener mabok dan dia berusaha menahan badanku supaya tidak jatuh,?kita kemana nih??, tanyaku ketika dia membimbing aku menuju kamar mandi,?mas doni ganti baju dulu ya dikamar mandi?,? jawabnya sambil menyerahkan baju ganti didepan pintu kamar mandi, aku langsung pura-pura gak kuat berdiri dan menjatuhkan tubuhku didepan kamar mandi,?aww..awas mas,hati-hati..!!,? teriaknya kaget melihat aku jatuh,?tika,aku lemes banget nih,? sahutku dengan mata sengaja aku sayukan seperti orang mabok berat.
Dia langsung membantu aku bangun dari lantai kamar mandinya dan ketika dia merunduk aku dapat melihat jelas buah dadanya dan aku sedikit kaget ternyata ada tatto bunga mawar di susu sebelah kirinya walau sekilas tapi aku lihat jelas, hampir saja aku mau nanya tapi langsung ingat kalau saat ini dia tahunya aku lagi mabok berat, langsung saja aku urungkan niatku untuk bertanya, susunya begitu putih mulus,doni kecilku sudah bener-bener dalam keadaan tengang banget dan nafasku mulai memburu,?mas doni mau muntah ya?.kok nafasnya nyesak gitu??, tanyanya ketika tahu nafasku cepat mulai ga beraturan, ?gak..!?,jawabku singkat sambil mengatur nafas takut dia curiga dan tahu aku konak, ?terus nafasnya kok nyesak dan jantungnya kok dag dig dug gini??, tanya dia lagi sambil memegang dadaku,kelihatan dia sedikit cemas dengan keadaanku dan mungkin dia takut kalau aku kenapa-kenapa akibat mabok berat, ini kesempatan lagi nih pikirku, ?mas doni nahan pipis dari tadi pengen pipis karena gak bisa pipis sendiri dikamar mandi takut kena celana dan takut jatuh??, sahutku dan kubiarkan aja nafasku memburu seolah-olah karena nahan pipis,? gimana ya..??, kulihat dia bingung banget,? ya udah tika bukain aja celananya ya,trus mas doni pipis aja??, aku hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun kearah dia, lalu levi menuntunku kearah closed dan berdiri dibelakangku sambil tangannya dari samping pinggangku dikedepankan membuka gesper dan kancing celana jins aku, aku menikmati sekali susunya yang menempel di punggungku,?sudah mas,pipis aja sekarang biar tika tahan badan mas doni biar gak jatuh lagi.?, katanya setelah selesai menurunkan resleting celanaku dengan hanya menarik kancing atas celana jeansku sehingga burungku yang sedang tegang tidak kesenggol tangannya.
Aku meraba-raba selangkanganku tapi dengan kepala menengadah keatas bergaya mabok,?mana nih?tika kok burungku gak ada ??, kataku sambil meraba-raba selangkanganku asal-asalan seakan-akan untuk memegang burung sendiri aja sudah gak bisa saking maboknya, ?gak ada gimana mas?,didalam celana dalam mas doni dong?.?,sahutnya sedikit terkejut dan aku dapat denger dia ketawa kecil mungkin sudah mulai lucu pikirnya kalau orang lagi mabok,aku semakin senang dan aku terusin aja tingkah mabok-mobokan itu,?karet celana dalamku kok keras banget nih,siapa sih yang beliin nih,? aku mulai aja bicara gak karuan, ?mas doni dong yang beli sendiri masa nanya lagi?,bener mabok berat nih,?sahutnya masih berdiri dibelakangku sambil memegangi tubuhku.Aku langsung membalikkan tubuhku dan kujatuhkan pantatku langsung duduk di closed menghadap dia,?kok duduk di closed,bangun dong?katanya mau pipis?, dia berusaha mengangkat lagi tubuhku dan sekali lagi aku dapat mengintip ke belahan susunya, aku sudah tidak tahan untuk merabanya tapi aku tidak mau ceroboh dulu, kemudian akupun berdiri dibantu dia dan langsung merangkul dia berlagak sempoyongan, kulihat dia sangat berat menahan tubuhku tapi kasihan juga aku melihatnya.Aku ga bisa pegang sendiri burungku tika, biar aku kencing dicelana aja atau aku tahan sampai pagi aja..??, kataku dengan nada orang teller,?ga baik ditahan lho mas,penyakit..?jawabnya, ?iya nih sakit sekali nahan pipis dari tadi.?, kali ini aku pura-pura bolot, ?penyakit mas..?bukan sakit ?, katanya sambil senyum melihatku.
Sebenarnya maksud aku bikin ribet untuk kencing ini biar bisa dia pegangin burungku saat aku kencing,makanya aku puter-puter terus pembicaraan menunggu kesempatan untuk nyuruh dia pegangin burung aku.,?tika bukain celana dalam mas doni ya?tapi mas doni yang pegang sendiri??, jawabnya sedikit pelan,aku langsung pura-pura kaget dan takut,?jangan vi,mas doni ga mau dipotong..,tadi cuma becanda kok tika..??jawabku sambil mendorong sedikit tubuhnya dan aku pura-pura sempoyongan dikit,langsung disambernya tubuhku biar ga jatuh sambil ketawa sedikit keras,?ha..he..,bukan dipotong mas..?tapi dipeganging eh..nggak maksud tika celana mas doni levi bukain biar mas doni bisa pipis..?? katanya sambil mencubit sedikit hidungku, dan dengan gaya mabok,badan sempoyongan,mata sayu,aku mengerutkan alisku sambil menatap dia pura-pura berusaha mikir dia ngomong apa barusan padahal aku melihat dia karena dia sangat cantik sekali dari jarak dekat, ?boleh levi pegang burung mas doni sebab cowok gak mungkin bisa pipis kalau burungnya gak dipegang tapi janji ga akan levi potong ya..??, jawabku ngaco sambil beri alasan kenapa dia harus pegang burungku dan seakan-akan tidak menyuruh dia megang cuma karena terpaksa aja.,?hah..,pegang..,gak mau ah.??, katanya, aku langsung sedikit kaget juga gak enak karena takut dikira sudah mulai gak beres sama dia, sebelum dia bereaksi aku duluan yang bereaksi,?gak mau ah,aku ga mau dipotong,kalau tika gak mau janji cuma megang doang biar mas doni tahan aja,? jawabku pura-pura takut dan berlagak bolot lagi, dan untung ide ini membantu aku dari situasi yang mengarah gak enak, tapi aku harus berhasil menyuruh dia megangin burungku pipis, itu target aku.Lalu aku pura-pura berusaha berjalan keluar kamar madi,?mas doni mau kemana..??,katanya dengan nada khawatir,? aku tidur di mobil aja ya tika,biar kalau aku kecing di celana biar didalam maobil aku aja.? Sahutku berusaha jalan kepintu dengan gaya sempoyongan, ?ya udah tika janji gak akan potong,suer..!?, katanya, aku langsung membalikkan badanku dan kembali kurangkul lehernya sambil aku tatap matanya dengan tatapan sayu pura-pura mabok,? janji ya..??, kataku seolah-olah bener-bener ketakutan dan ingin memastikan lagi,?iya?,tapi mas doni juga harus janji jangan cerita ke siapapun ya??, katanya lagi, ?jangan diceritain dong tika mas doni kecing dipegangin tika,malu mas doninya kalau ada orang yang tahu?,sahutku, aku sengaja bikin percakapan yang gak nyambung, sambil meyakinkan dia biar mau. ?udah mabok,nakal lagi..?, katanya sambil kembali mencubit hidungku kulihat dia sedikit tersenyum entah gemes atau apalah.
Aku dan tika berdiri berdampingan di depan closed, sambil kepalaku aku miringkan kekepalanya dan tangan kananku merangkul bahunya seperti gak kuat menahan tubuhku berdiri karena semponyongan padahal tidak sepenuhnya berat badanku aku tumpukan ke dia karena kasihan juga pasti berat dan biar dia bisa konsentrasi menikmati burungku nantinya.Perlahan lahan dia turunkan karet celana dalamku dan menarik celana dalamku kebawah,pelan sekali dia melakukan dan aku dapat merasakan dia juga sudah muali dag dig dug dan dia ngomong sendiri pelan-pelan?,gimana nih..,aduh.,gimana nih..??,katanya dan sangat jelas sekali aku dengar,aku yakin dia sudah mengira aku benar-benar mabok dan tidak dengar apa yang dia omongin, ?sudah bangun gitu gede banget kelihatannya karena nahan pipis kali nih?, katanya sambil ngomong sendiri pelan-pelan terus melorotkan celanaku,dari luar celana dalamku memang jelas kelihatan burungku bengkak,panjang tapi dalam posisi miring ke kiri karena kalau dalam posisi lurus keatas pasti sudah nongol keluar kepala bajanya.
Karet calana dalamku ditariknya terus kebawah dan ?aww..!?,dia kaget begitu melihat burungku berdiri dalam posisi bebas karena sudah keluar dari celana dalamku, aku lirik dia melihat aku sebentar dan kembali melotot melihat burungku yang sudah keras berdiri itu,?gila..,panjang banget,kok mabok bisa bangun ya burungnya??, kudengar dia ngomong sendiri tapi pelan banget, karena takut ketahuan kalau aku pura-pura mabok lalu aku bilang,?huh..dah keras banget burungku karena nahan pipis tuh tika,cepetan dong pegangin,aku mau pipis nih.?, aku bilang gitu biar dia kira burungku bangun karena kebelet pipis bukan karena ngaceng.
Tangannya gemetaran waktu dia pegang burungku dengan dua jarinya jempol dan telunjuk tapi sedikit ditekannya seperti dicubit,?aduh,jangan dicubit,sakit gak bisa pipis nih.!?, kataku tapi aku gak mau melihat ke arah dia ataupun kearah burungku yang dipegangya, biar dia gak malu itu pikirku, ?eh iya mas,sorry tika gak sengaja,gimana dong meganginnya kalau mau pipis?, tanyanya dan kulihat matanya gak lepas menatap burungku, nafasnya sudah tidak beraturan dan dadanya yang montok itu kelihatan turun naik, dengan posisi aku dan dia berdiri berdampingan dan dia sedikit membungkuk membuat aku jelas sekali melihat belahan susunya dari atas walaupun tidak kelihatan semua karena daster atau mungkin susunya yang kegedean sehinga dasternya kelihatan kekecilan menampung buah dada yang montok putih mulus dengan tatto bunga mawar di belahan dalamnya itu. ?digemgam yang bener dong tika..!?, pintaku sambil mencium rambutnya tanpa sepengatahuannya membuat burungku semakin keras dan nafaskupun sudah sangat memburu karena nafsu banget.
Aku merasakan tangan yang halus itu mulai menggenggam burungku dengan lembut dan tanpa aku sadari aku sedikit mendesah,? oh..ya gitu..?, kataku ketika semua jarinya sudah menggemgam penuh burungku, beberapa saat aku dan dia cuma terdiam dan kurasakan buah dadanya sedikit mengeras karena memang dengan tidak sengaja tanganku yang merangkul dia menarik dan menekan tubuhnya lebih rapat lagi ketubuhku.?eh..kok belum keluar pipisnya mas??, dia bertanya mengagetkanku,aku berusaha untuk pipis tapi emang sulit harus pipis disaat ngaceng berat gitu, aku coba cari akal lagi,?iya kelamaan ditahan,ditarik-tarik dikit biar cepet nih tika??, kataku lagi sambil merangkul dia sambil menjulurkan tanganku kedepan, tanganku yang tadinya melingkar memegang pundaknya sekarang sudah beralih melingkar di lehernya sehinggga tanganku berada tepat didepan dadanya dan menyentuh pas di susunya yang sudah terasa keras, ?ditarik gimana..??, tanya dia sambil matanya gak lepas memandangi burungku yang sudah mengacung keras dan tanganya yang menggemgam burungku mulai terasa lebih kuat mencengram burungku., ?ya ditarik tarik kedepan sambil diremas kayak orang memerah susu sapi itu,tahu kan tika?,cepetan dong dah gak tahan nih.??, aku mungkin bilang dikocokin karena pasti dia curiga kalau aku pura-pura mabok walaupun aku tahu banget dia sudah sangat horny, aku mau semuanya terjadi secara tidak sengaja dan tanpa aku minta dua kali dia langsung mengerjakan apa yang aku minta dan sebenarnya dia juga pasti sudah mengerti cara meng onani cowok tapi karena memang suasana yang jadi seperti saat itu membuat dia juga berlagak sedikit lugu, biasalah perempuan intelek kadang-kadang juga jaim,pikirku.
Tika terus menarik-narik burungku seperti memerah susu sapi dan kandang-kadang tanpa sadar dia sudah mengocok-ngocok burungku, aku dan dia masih dalam keadaan berdiri berdampingan menghadap ke toilet dan tanganku yang merangkul lehernya dipeganganya sama tangan dia yang satunya lagi dan ditekankannya ke susunya yang bener sudah keras itu sehingga telapak tangganku bener-bener menekan susunya tapi aku biarkan saja,aku tidak bereaksi,putingnya juga terasa sangat keras menonjol dari balik dasternya yang tipis.Tanpa dia sadari sudah 5 menit dia mengocok-ngocok burungku dan menarik-nariknya, nafasnya sudah sangat tidak beraturan.Aku menikmati semuanya apalagi melihat dia berusaha menahan nafsunya dan walaupun pela tapi cukup jelas sesekali dia menyebut namaku mendesah,?mas doni..!?, aku hanya diam saja juga berusaha untuk tidak bereaksi dan pura-pura ketiduran sambil berdiri, tubuhku ditahan dia dan kepalaku aku senderin ke kepalanya walaupun aku tidak dapat menyebunyikan nafasku yang juga sudah tidak beraturan,?kok gak keluar-keluar sih pipisnya mas.??, katanya pelan sekali sambil memalingkan mukanya ke wajahku, aku tidak menjawab malah aku bikin seolah-olah aku sudah ketiduran karena mabok.Kurasanyak nafasnya hangat dan memburu di mukaku yang menempel dengan muka dia,?mas..,kok jadinya tidur sih sa..?, omongannya terputus, aku yakin betul dia sudah nafsu dan mau memanggilku sayang tapi mungkin dia juga sedikit sadar jadi tidak menerusin omongannya.?ya udah,mas doni tidur aja ya?gak usah pipis,tika bantuin jalan ke tempat tidur ya mas..??, aku diam saja berpura-pura sudah gak sadar sama sekali dan kurasakan dia mencium pipiku walaupun dengan pura-pura membisikannya ketelingaku tapi aku merasa beberapa kali bibir yang lembut itu mengecup pipiku dan tangannya membelai rambutku sekali.
Karena celanaku kancing dan resletingnya sudah terbuka dan celanaku sedikit melorot kebawah membuat aku susah melangkah dan dia juga berat untuk memapah aku ke tempat tidur lalu aku rasakan dia menurunkan celanaku, aku tidak tahu caranya karena aku tidak mau membuka mataku lagi biar dikira sudah benar-benar ketiduran karena mabok tapi aku merasakan dia melorotkan celanaku dibantu kakinya menginjak celanaku agar lepas dari kakiku, juga celana dalamku dilepasnya.Sambil berjalan dipegangin dia aku merasakan dia memelukku erat sekali sampai kedekat tempat tidur.
Direbahkannya tubuhku diatas tempat tidur, dalam keadaan tanpa celana aku langsung telentang di atas ranjang berpura-pura tidur langsung pulas tapi burungku masih tetap berdiri.Aku deg degkan menunggu apa yang akan dia lakukan terhadapku,tiba-tiba aku rasa kamar menjadi sedikit gelap mungkin dia mengganti dengan lampu tidur dan aku merasakan dia menyelimuti aku dengan bedcover, selesai sudah nih pikirku dan sudah gak ada harapan kelajutannya lagi, pikiranku berkecamuk antara aku sikat langsung nih cewek atau aku terang-terangan bilang kalau aku kepengen atau selesai aja.Disaat aku bingung harus gimana tiba-tiba aku merasakan dia naik keatas tempat tidur dan masuk kedalam bedcover disampingku,aku sudah nekat untuk langsung memeluk dia tapi aku dengar dia tapi,?mas..,mas doni..?, dia memanggil namaku sambil menguncang sedikit tubuhku seperti membangunkan.?aku gak bisa kecing nih,kocokin dong biar gak sakit,please???, kataku seperti mengigau lalu,?kok dikocokin mas..??,aku denger dia bertanya tapi aku bikin pura-pura sedikit mendengkur pelan dan kemudian kudengar dia ngomong sendiri,?ih..,maboknya nakal nih bikin gw horny aja,he..?,katanya dan kurasakan dia merapatkan tubuhnya kedekat aku dan tangannya mengelus rambutku,aku ga tahu apa yang dipikirkannya tapi bener aku sudah gak bisa nahan lagi dan aku sudah putuskan kalau sekali lagi aku suruh dia kocokin aku dalam keadaan pura-pura mabok ini,aku akan langsung peluk dia dan biarinlah cerita ini jadi kayak cerita-cerita lainnya yang gak masuk akal seperti di situs-situs internet itu,gak bisa cara bohongan pakai cara militer aja begitu pikirku.
?Please..?, sambil pura-pura menggigau lagi dan kemudian pulas lagi,lalu terasa suatu yang lembut menyentuh bibirku dan hangat nafasnya yang memburu, dia mengecup lembut bibirku tapi aku diam tidak membalas walaupun sebenarnya aku pengen banget melumat bibir dan tubuhnya yang sexy itu.?please..?, kuulang lagi seperti mengigau dan langsung aku sibakkan kubuka badcover yang dia selimutkan ke tubuhku tadi maksudku biar dia melihat burungku yang sudah berdiri tegak, ?iya sayang..?, kudengar dia berbisik menjawab pelan dikupingku dan mencium pipiku, akhirnya berhasil juga nih pikirku tapi aku masih tetap ingin pura-pura tidur dan pura-pura mabok.Aku penasaran pengen tahu dan melihat bagaimana kalau seorang cewek cantik yang sudah horny terus sekamar dengan seorang cowok yang sudah gak sadarkan diri tidur atau mabok berat tanpa celana dan kemaluan yang sudah berdiri terpampang didepannya.
Perlahan dia merapatkan tubuhnya ke dekat tubuhku dan tidur disampingku sementara aku tetap diam saja telentang, tapi aku merasakan susunya sudah keras sekali menempel ketubuhku dari samping dan nafasnya sudah tidak beraturan, lalu perlahan dia mulai merebahkan kepalanya kepundakku dan kudengar dia sedikit berbisik sambil mendesah lirih dikupingku,?mas doni..!?.
Tangannya mulai meraba rambut kemaluanku dan perlahan mulai memegang burungku dari pangkal kemaluanku sampai kearah kepalanya, awalnya hanya sentuhan lembut tapi semakin lama semakin kuat dipegang dan dikocok-kocoknya kemaluanku, tubuhnya semakin dirapatkannya menempel ditubuhku, nafasnya sudah sangat memburu dan sekali-kali dia terdengar mendesah di telingaku sambil memanggil namaku, ?hm.,mas,mas doni..?, aku berjuang untuk tetap berpura-pura tidur dalam keadaan mabuk dan berusaha sebisa mungkin seperti sedang menggigau saja mengekspresikan kenikmatan yang sangat menggila itu, ?uh?hm..?, rintihku keenakan seperti tanpa sadar dan levi semakin menggila dengan aksinya, rupanya dia sudah tidak tahan dan mulai menggesek-gesekkan susunya ke tubuhku yang sudah sangat keras sekali apalagi putingnya sudah mengeras seperti sekeras kacang digesek-gesekkannya ketubuhku lalu perlahan tanggannya naik membuka kancing kemejaku sementara tangannya yang satu lagi yang tadinya mengusap-usap rambutku sekarang sudah meremas-remas rambutku, aku sudah sangat yakin sekali dia sudah gak bisa menahan nafsunya lagi walalupun dia sudah meremas dan menjambak rambutku dan kadang terasa sakit tapi aku coba tetap diam dan menikmati sensasi dari semua ini dalam keadaan berpura-pura tidur.
Kancing bajuku sudah dibukanya semua dan perlahan dia meraba-raba dadaku dan turun ke selangkanganku mengocok burungku beberapa kali kemudian naik lagi meraba-raba dadaku, itu dilakukannya berulang-ulang kali sementara dia sudah mulai mencium leherku dan tangannya yang tadi meremas dan menjambak rambutku sekarang berusaha mengangkat sebelah tanganku ke atas sehingga ketiakku yang berbulu lebat terpampang dekat kelapalanya, ? uh??, aku pura-pura melenguh saja sedikit ketika tiba-tiba dengan buas dia menciumi dan menjilati ketiakku, gila banget rasanya sampai nyaris aku gak tahan karena geli bercampur nikmat, cukup lama dia menciumi dan menjilat-jilati ketiakku sambil sesekali mengigit kecil dan aku rasa pasti ada bekasnya seperti bekas cupang.Tiba-tiba aku merasa dia sedikit menjauh tapi entah apa yang dia lakukan dan belum lagi sempat aku berfikir aku merasakan ada suatu yang lembut menyentuh burungku, aku bertahan untuk tidak membuka mataku walaupun aku penasaran pengen tahu diapakannya burungku sehingga begitu nikmatnya disentuh benda lembut itu,? uh.?, kembali aku berpura-pura mendesah sambil tidur seperti orang yang tidur nyenyak lagi mimpi enak ketika burungku terasa hangat tapi kemudian langsung terasa seperti diisap-isap burungku dan rupanya benar dia mem blowjob aku, tubuhku langsung seperti melayang menikmati di blowjob dia dan gak aku sangka ternyata jago banget dia untuk yang satu ini.Cukup lama dia menjilat,mengisep dan sekali-kali menggigit pelan burungku lalu terasa dia melepaskan burungku dari mulutnya beberapa detik kemudian burungku terasa seperti dijepit daging empuk yang halus aku coba menebak pastilah burungku dijepit sama susunya, rupanya barangkali dia sudah menanggalkan dasternya lalu terasa putingnya di gesek-gesekkan ke lobang pipisku, terasa sedikit ngilu dan geli-gali nikmat.
Aku sudah tidak kuat lagi untuk diam saja menerima serangan dia walaupun aku sudah mendesah hebat tapi aku masih pura-pura tidur dan bertahan untuk tidak membuka mataku sedikitpun,dan akupun sudah sangat keras mendesah keenakan dan badanku memberikan reaksi akibat dari cumbuannya tapi dia sepertinya sudah tidak memperdulikan aku lagi karena kelihatannya dia sudah sangat bernafsu sekali dan perlahan-lahan kurasakan dia mulai menindih tubuhku tapi ketika aku rasakan kakinya berada tepat di samping pinggangku sepertinya dia duduk dibadanku tapi aku belum merasakan berat badannya menindihku.
Burungku di genggamnya dan kemudian terasa digesek-gesekkan ke daerah yang daging yang basah,aku merasa nikmat luar biasa tapi aku sedikit heran karena itu pasti vegynya tapi kok gak terasa jembutnya,hanya sedikit banget rasanya dan itupun hanya sekali-kali ketika dia menggesekkan burungku kedepan saja kearah perutnya dan ketika dia menggesekkan di selangkangannya hanya rasa hangat dan berlendir, rupanya dia sudah sangat basah,tiba-tiba ?hah..!!?, aku sedikit kaget dan kepalaku sempat terangkat sedikit karena tiba-tiba burungku langsung dimasukinnya ke dalam vegynya secara tiba-tiba dan sekali hentakan dengan langsung mendudukit tubuhku sehingka burungku langsung terbenam semua sampai ke pangkalnya,kudengar dia juga terpekik hebat saat itu.Gila juga nih cewek main hantam habis aja begitu pikirku dan karena dia terpekik itulah mungkin makanya dia tidak menyadari kalau aku juga kaget dan kepalaku sempat terangkat sedikit dan secara reflek aku membuka mataku melihat dia sudah menduduki burungku.Tapi aku kembali pura-pura tidur dan dia mulai memompa burungku yang tadinya pelan-pelan makin lama makin kencang dan baru saja aku mulai menikmati cengkraman dinding-dinding vaginanya kuderngar dia menjerit dan langsung menindihku dan mencium bibirku dengan buas,aku sempat terkaget mendapat serangan itu dan sempat sepersekian detik secara reflek aku membalas ciuman nya tapi cepat aku hentikan dan hanya diam saja ketika dia terus mencium bibirku dengan buas dan tanganya menjambak rambutku dan dia tubuhnya seperti bergetar menindihku lalu tidak berapa lama kurasakan suatu yang hangat membasahi burungku didalam vaginaya kemudian terasa dia mulai lemas dan diam sambil memeluku dengan posisi dia diatas dan dengan nafas yang masih memburu dia memeluk tubuhku dan meletakkan kepalanya di dadaku sementara burungku masih tertancap di dalam vaginanya,diding vaginanya terasa berdenyut-denyut seperti mengurut burungku, aku merasakan sesuatu yang enak banget lalu aku buka mataku dan kulihat kepalanya diatas dadaku dan dengan posisi dia menindihku dia tidak tahu kalau sedang memperhatikannya.
Aku merasa puas dan merasa menang sekali akhirnya bisa menyuruh dia secara tidak langsung untuk memperkosa aku selagi aku tidur dan mabok(berpura-pura,he..he..).
Aku masih senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan dia kecapean tidur diatas dadaku,burungku masih berdiri keras didalam vaginanya,dia masih tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya lalu tiba-tiba dia menarik perlahan pantatnya sambil sedikit kudengar dia mendesah,?uh..hm..?, pantatnya ditarik keatas sambil tangannya memegang burungku sehingga burungku keluar dari vaginanya,?masih kuat aja nih si doni kecil?, kudengar dia ngomong sendiri,aku hanya tersenyum ketika mendengarnya.
Tiba-tiba dia menoleh kearah kepalaku dan..?sudah puas tika..??, tegorku sambil tersenyum,?Haaah..?, cuma itu yang pertama keluar dari mulutnya dan dia benar-benar kaget dan malu dan gak tau lagi lah gimana menggambarkan ekspresi kekagetan dia begitu aku tegur,Plak?, suatu tamparan keras mendarat di pipiku dan lumayan sakit,tapi aku tetap tersenyum puaaaaaaas.
?Aduh..,kenapa sih tika?kok aku ditampar..?, kataku menahan tangannya ketika aku lihat dia mau menampar aku lagi, ?jahaaaaaaat,tika ga terima di kerjain begini?, katanya dan tiba-tiba tangisnyapun meledak dan langsung aku rangkul tubuhnya yang masih telanjang dan ketika mukanya aku benamkan kedadaku langsung digigitnya dadaku,?aww…, sakit tika,kamu mau membunuh aku??, kataku tapi aku tidak berusaha melepaskan pelukanku ,aku biarkan dia mengigit tubuhku dan kutaha sekuat tenaga sakitnya,ketika dia menarik mukanya memandangku dan sambil menangis,?kenapa sih mas doni kerjain tika begini?, Tanya dia dan kulihat dibibirnya ada sedikit darah dan kulihat kearah dadaku yang digigit dia rupanya juga berdarah, gila nih cewek pikirku,ternyata dia bener-bener tidak terima dikerjain.Kembali aku rangkul dia dan dalam keadaan sama-sama telanjang kupeluk dia manariknya untuk berdiri dan berjalan kearah sofa panjang dikamar itu.
Aku bingung mau jelasin apa dan gimana untuk ngomongin semua ini, terpakasalah aku bikin kebohongan lagi untuk menenangkan dan mendamaikan keadaan, terpaksa kata-kata dewa aku keluarin sebagai ilmu pamungkasku dikolaborasikan dengan S3 (spik-spik setan),dan akhirnya dia tenang dengan kesimpulan dari jurus pamungkasku itu, yah.. apalagi kalau bukan bilang : aku cinta kamu atau aku sayang banget sama kamu atau I love you atau semacam itulah, pasti bro-bro sekalian tahulah gimana menjalankan dan merangkai kata-kata dewa yang diselingi dengan S3 untuk memuaskan dan menyalurkan keinginan arus bawah kan..???,he?he?
Sambil memeluk dia dan mulai fresh kiss dikit-dikit untuk ronde berikutnya menuju babak final pergumulan diranjang aku cuma bisa bergumam dalam hati doang,?huh..nambah lagi bokin gw,berarti nambah lagi masalah gw,pusiiing..!!!
Aku bersama tika di Bandung sampai Senin subuh baru aku balik ke Jakarta dan selama 2 hari itupun rea tidak henti-hentinya sering telpon dan sms aku yang aku bilang itu dari adek aku ke tika sebagai alasan walaupun gaya aku sedikit berdiri atau berjalan menjauh kalau lagi terima telpon rea, yah gitulah bro kalau colek sana colek sini, bohong sana bohong sini bikin pusing tapi aku gak pernah mau ambil pusing selagi gak terlalu musingin aku juga.
####Selamat membaca ,tunggu perjalananku ke Sin ama rea atau..??####

Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Surabaya di sana aku tinggal di rumah Pamanku. Aku tinggal di sana karena paman dan bibiku yang sudah 4 tahun menikah belum juga punya anak, jadi kata mereka biar suasana rumahnya bertambah ramai dengan kehadiranku. Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan juga ada lapangan tenisnya, maklum pamanku adalah seorang pengusaha yang kaya. Selain bibiku dan pamanku, di sana juga ada 3 orang pembantu 2 cewek dan 1 cowok. Bibiku umurnya 31 tahun tapi masih cantik dan bodinya seperti gitar spanyol, wajahnya mirip Meriam Belina. Dan ke-2 pembantu cewek tersebut yang satu janda dan yang 1 sudah bersuami, sedang yang cowok berumur 20 tahun.
Suatu hari ketika kuliahku sedang libur, paman dan bibiku sedang keluar kota, pintu kamarku diketuk oleh Trisni si janda tsb, “Den Eric itu ada kiriman paket dari Jakarta”. Lalu aku keluar dan menerima paket tsb. Karena tertarik kubuka isinya ternyata isinya alat-alat seks ada penis dari karet, ada oil pelumas dan juga ada 5 VCD. Waktu kubuka paket tersebut Trisni ada di sebelahku dan wajahnya memerah begitu tahu isinya.
“Wah ternyata Jeng Rini hot juga ya Den”, celetuknya Rini adalah nama bibiku.
“Entahlah mungkin aja paman udah loyo…, tapi gimana kalau nanti malam kita setel VCD ini mumpung yang punya lagi pergi..”, kataku sambil mengamati wajahnya yang manis.
“Itu film apaan sih”.
“Entahlah tapi nanti kita nontonnya berdua aja biar nggak dilaporkan ke paman ok”
Malamnya jam 21.00 setelah semua tidur Trisni ke ruang tengah, dia memakai pakaian tidur yang tipis sehingga kelihatan CD dan BH-nya.
“Eh, apa semua sudah tidur”, tanyaku.
“Sudah Den”, jawabnya.
Lalu aku mulai menyetel itu film dan ternyata itu film pribadi bibiku, waktu itu Bibi dan paman sedang bercumbu dengan alat-alat seks tersebut, penis karet yang panjang itu menancap di vagina Bibi dan penis paman diisap oleh Bibi tapi anehnya penis paman tetap kecil.
“Eh kok yang main film Jeng Rini dan Den Budi?”, gumannya setengah bertanya padaku.
“Wah kelihatanya paman itu impoten masa diisep begitu nggak berdiri”, sahutku sambil aku mengeluarkan penisku.
“Nih wong aku yang lihat aja langsing berdiri kok”.
“Ih, Aden jorok ah”, sahut Trisni ketika penisku aku dekatkan ke wajahnya. Aku berusaha memasukkan penisku ke mulutnya dan dia hanya mau menciuminya mula-mula di sekitar batangnya lalu dia mulai menjilati kedua telurku, wah geli sekali dan dia mulai mengisap penisku pelan-pelan, ketika asyik-asyiknya tiba-tiba Erni pembantu yang satunya masuk ke ruang tengah dan dia terkejut ketika melihat adegan kami.
Kami berdua jadi berhenti sebentar, “Erni kamu jangan lapor ke Paman atau Bibi ya awas kalau lapor”, ancamku.
“Iya Den”, jawabnya sambil matanya melirik penisku yang masih berdiri tegak.
“Kamu di sini aja lihat film itu”, sahutkku. Dia diam saja. Lalu tanganku melucuti semua baju Trisni dan dia diam saja. Kemudian dia kurebahkan di sofa panjang dan aku mulai menjilati vaginanya, ternyata vaginanya sudah sangat basah.
“Den…, oh den nikmat..”, rintihnya, aku melirik Erni dia dadanya naik turun melihat adegan kami.
Setelah Trisni puas, lalu aku berdiri dan kumasukkan penisku pelan-pelan. “Bles..”, amblas semua batangku dan Trisni berteriak kenikmatan. Kupompa pelan-pelan vaginanya sambil menikmatinya, licin sekali rasanya.
“Sini daripada bengong aja mendingan kamu ikut…, ayo sini”, kataku pada Erni. Lalu dengan malu Erni menghampiri kami berdua. Aku ganti posisi Trisni kusuruh nungging dan kugarap dia dari belakang sehingga ke dua tanganku bergerilya di tubuh Erni. Ketika sampai di CD-nya ternyata CD-nya sudah basah semua. Aku ciumi mulutnya, lalu aku isap putingnya. Dia kelihatan sudah sangat terangsang. Aku menyuruhnya melepaskan semua pakaian yang di kenakan. Saat itu aku merasakan penisku tersiram oleh cairan hangat. Oh, dia sudah orgasme pikirku dan gerakan Trisnipun melemah. Lalu kucabut penisku dan kumasukkan pelan-pelan ke vagina Erni dan ternyata lebih nikmat punya Erni, lebih sempit lubangnya. Mungkin karena jarang bersetubuh dengan suaminya pikirku.
Setelah masuk semua aku baru merasakan bahwa vagina Erni itu bisa menyedot dan mengisap, seperti diremas-remas rasanya penisku.
“Uh nikmat banget sih kamu apain itu memekmu heh”, kataku dan Erni cuma tersenyum, lalu kupompa dengan lebih semangat.
“Den ayo den lebih cepat nih”, dan kelihatan bahwa Ernipun mencapai klimaks.
“Ih…, ih…, ih…, hmm..” rintihnya. Lalu kudiamkan dulu penisku biar meraskan remasan vagina Erni, lalu kucabut dan Trisni langsung mendekat dan dikocoknya penisku dengan tangannya sambil diisap ujungnya, dan ganti Erni yang melakukannya. Kedua cewek tersebut jongkok di depankku dan aku merasakan sudah mau keluar.
“Aku nggak tahan lagi nih…”, lalu Erni mengocok dengan cepat dan, “Crooot…, crooot…, crooot…, crooot”, keluar semua maniku empat kali semprotan dan kelihatannya dibagi rata oleh Erni dan Trisni. Akupun terkulai lemas.
Selama sebulan lebih aku bergantian menyetubuhi mereka, kadang-kadang kami melakukannya bertiga. Dan pada hari itu paman memanggilku.
“Ric paman mau ke Singapore ada keperluan kurang lebih 2 minggu kamu di rumah saja nemanin Bibi kamu ya”, kata pamanku.
“Iya deh aku nggak akan dolan-dolan”, jawabku.
Bibi tersenyum padaku kelihatan senyumnya itu menyembunyikan sesuatu pikirku. Akupun sebenarnya ingin merasakan tubuh bibiku tapi karena tidak ada kesempatan selama ini aku tahan saja. Akhirnya aku punya kesempatan nih pikirku.Malam harinya selesai makan malam dengan Bibi, aku nonton Seputar Indonesia di ruang tengah dan Bibi menghampiriku dia berkata, “Ric, waktu aku pergi sebulan yang lalu apa kamu nggak dapat paket?”.
“Eh anu, aku nggak dapat kok”, jawabku dengan gugup.
“Kamu bohong…, ini buktinya”, sambil dia menunjukkan penis karet tsb. Ternyata penis karet tersebut sudah jatuh ke tangan bibi, karena barang tersebut sebetulnya di minta oleh Trisni.
“Anu kok Bi, waktu itu memang aku terima tapi”.
“Sudah kamu itu memang suka bohong ya lalu mana VCD-nya?”.
“Aku simpan kok Bi buat aku setel jika aku kepingin, habis Bibi hot banget sih di film itu”, jawabku.
“Dasar anak kurang ajar”, wajahnya langsung memerah.
“Kan Bibi saja belum lihat itu film, ayo kamu ke kamar ambil itu VCD” suruhnya, lalu aku ke kamar untuk mengambilnya.
“Ini Bi, tapi jika Eric pinjam lagi boleh kan Bi”, kataku.
“Kamu jika ingin lihat lagi langsung saja nggak usah pakai di film segala”.
“Ayo sini ke kamar Bibi nonton langsung saja” jawab bibi.
Akupun langsung masuk ke kamar Bibi dan di kamar itu, “Sebentar aku mau ganti baju dulu”, kata Bibi dan dengan enaknya Bibi telanjang di depanku. Aku yang sudah ereksi dari tadi langsung aku peluk Bibi dari belakang. Dan kubelai-belai payudaranya, dia diam saja lalu kupelintir putingnya dan dia kelihatan sudah mulai terangsang. Aku tahu bahwa puting dan clitoris bibiku tempat paling suka dicumbui. Aku mengetahui hal tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku satunya gerilya di daerah vaginanya.
“Eh Ric nikmat juga belaian kamu”, katanya.
Lalu kubalik badan Bibi dan kamipun saling berciuman. Bibir bibi aku lumat dan.., wow, lidah bibiku menari-nari di mulutku. Lalu akupun disuruh telanjang oleh bibiku.
“Eh gedhe banget barang kamu Ric?”, mungkin bibiku jarang melihat penisku yang berdiri tegak, habis pamanku impoten sih. Lalu dengan posisi 69 kami mulai bercumbu. Setelah puas langsung aku masukkan penisku ke dalam vaginanya “Bles”, masuk semua batangku dan bibikupun berteriak keenakkan, aku goyang pinggulku, kelihatan bahwa bibiku hampir mencapai klimaks. Dia bertambah semangat ikut menggoyangnya, kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai di bawah ranjang dan kulihat dari kaca pinggul bibiku, aku jadi semakin terangsang dan kamipun keluar bersama-sama.
Bibi tersenyum puas, “Ric jangan kapok lho…, pokoknya seminggu minim 4 kali harus dengan aku, Trisni dan Erni jangan kamu kasih lagi”.
“Iya bi…”, jawabku dengan malu-malu.
Sejak kejadian malam itu aku semakin lengket dengan bibiku. hampir tiap malam aku mengulangi lagi perbuatan itu, apalagi pamanku berada di Singapore selama dua minggu. Selama itu pula aku bermain dengan bibiku bak pengantin baru.

Ini kisah nyata dimana aku  menggauli sekaligus 4 orang dalam 1 keluarga. Kisah ini terjadi pada pertengahan tahun 2007. Aku pria yang sudah berkeluarga dan waktu itu berusia 43 tahun. Tinggal dan bekerja di Jakarta.
Pada suatu hari ketika sedang sibuk-sibuknya di kantor, datang sepucuk surat lewat perusahaan kurir yang ditujukan kepadaku dari kota asal kelahiran ku di jawa barat. Tanpa alamat pengirim. Dengan perasaan bingung campur penasaran aku buka surat itu. Surat itu ternyata dari mantan pacar (Wati, nama samaran) cinta pertama kami berdua sewaktu SMA tahun 1981. Hampir 26 tahun yang lalu. Isinya menyatakan bahwa dia sudah menikah namun selalu teringat aku,  mempunyai 3 orang anak berikut alamat lengkap dan no handphone.
Singkat cerita akhirnya kami bertelepon ria dan kenangan manispun timbul kembali. Aku berjanji jika ada libur panjang maka aku akan datang berkunjung. Ketika libur panjang datang dengan alasan yang dibuat-buat kepada istri akhirnya aku datang juga ke kota asalku. Aku sengaja tidak nginap di famili, namun di hotel. Dan pada sore itu pula aku datangi rumahnya.
Dengan rasa penasaran karena sudah lama tidak bertemu, aku mencoba mengira-ngira wajahnya saat ini seperti apa, ya?
Perlahan ku ketuk pintu sambil berucap : “permisi….”
” mas anto ,ya? ” sesosok wanita cantik muncul di balik pintu
“Iya” sambil aku masih menebak-nebak  ” wati ya……..”
“Bukan, saya Sri adiknya, masuk mas…. mbak Wati sebentar keluar, lagi di kamar”. Kuperhatikan wanita ini mirip Wati namun tampak lebih muda dari perkiraanku. Dulu waktu aku pacaran memang tidak pernah bertemu dengan Sri, karena dia ikut neneknya di Wonosari. Tak lama kemudian keluarlah Wati. Wajahnya tampak tidak sesuai dengan bayanganku, kerana memang saat itu  Wati sudah 42 tahun. Namun sisa kecantikannya masih terlihat jelas begitu pula bodynya masih terawat. Suaminya hari itu sedang mendapat tugas lembur (piket) di sebuah Rumah Sakit. Setelah basa-basi dan bernostalgia akhirnya sekitar jam 8 malam aku pamit, karena badanku letih.
Terus terang aku ingin memeluk dan menciumnya seperti dulu ketika tadi siang bertemu. Tapi karena suasana rumah tidak memungkinkan akhirnya perasaan itu terbawa sampai malam. Tidak lama aku  di Hotel, tiba2 HPku berdering, ternyata Wati yang telphon. Dia memaksa untuk datang mememuiku di hotel. Dengan rasa campur aduk antara senang dan galau aku mengiyakan permintaan itu. Hmmmm…… rupanya Wati memendam keinginan yang sama, pikirku.
Kujemput dia di lobby, turun dari becak Wati kelihatan sudah tidak sabar ingin segera berdua. Dengan segera ku bawa dia ke kamar. Benar saja…… baru juga aku menutup pintu Wati langsung menubruk aku dengan pelukan penuh kerinduan dan air mata. Kami lama berpelukan tanpa kata-kata. Terus terang waktu pacaran dulu kami hanya sebatas berpegangan tangan. Tidak lebih.
Pelan-pelan kehangatan menjalar ditubuhku, entah siapa yang memulai akhirnya  kami saling berciuman. Kurasakan kehausan dan kerakusan ketika bibir dan lidah kami saling terpaut. Lidahnya menjelajah relung mulutku. Lidahku membelai dan mengarahkan lidahnya untuk terus bergerak liar. Bersamaan dengan itu penisku menegang dengan sempurna. Bukannya  menghindar, Wati malah lebih menekankan dan  menggeser-geserkan pinggulnya sehingga penisku smakin mengembang. Dengan penuh nafsu akhirnya kami melanjutkan aksi. Sambil tetap bercium kutelusuri sisi tubuhnya dengan tanganku, sampai akhirnya mendarat di pantat. Kuremas kedua pantatnya dan sedikit semi sedikit kunaikan roknya, sehingga tanganku menyentuh kulit paha dan pantatnya yang halus itu.  Karena aku paham bahwa kami sudah sangat bernapsu, maka tanganku kananku langsung kuselipkan  dibalik celana dalamnya.  Kuremas pantatnya yang masih kenyal. Sementara tangan kiriku sudah bergerak menuju payudaranya. Rupanya Watipun sudah sangat terbakar,tangannya tidak segan-segan mengelus-elus penisku dari luar. Kami tetap berciuman.
Pelan-pelan tangan kananku bergeser dari pantat menuju memeknya. Ketika jariku mulai membelah dan menemukan clirotisnya  maka saat itulah dia melepaskan ciumannya, dia mendesah dan tubuhnya sedikit bergetar. Kuusap pelah-pelan clirotisnya, kujelajahi belahan memeknya dari bawah sampai atas. Basahnya sudah tak terbendung.
Aku merasa dia berusaha membuka resleting celanaku. Akhirnya aku lepas pelukannya, aku lepas memeknya. Dia agak terkejut dengan perbuatanku. Kutatap sambil kupegang kedua bahunya.
” kamu yakin akan melakukan ini…..? tanyaku. Dia cuma mengangguk pelan.
” Aku sudah memimpikan ini dari dulu” lirihnya.
Akhirnya ku bimbing dia ketempat tidur. Kami berciuman kembali. Satu demi satu pakaian terlepas. Kutelusuri tubuhnya yang tidak muda lagi. Sambil tetap berciuman kubuka pahanya dan tanganku kembali menyelinap lembut pada memeknya. Pada saat itulah tangannya mencari-cari penisku. Sambil digenggam diusapnya cairan yang keluar dari penisku dengan ibu jarinya. Rasanya sungguh luar biasa ketika ibu jarinya berputar-putar di ujung penis.
Tak lama aku merasa bahwa penisku di tarik-tarik pelan. Aku tahu dia sudah menginginkan penisku dimasukan. Tapi aku ingin melihat dulu bentuk memeknya. Maka ku lepas ciumanku dan aku turun kebawah. Sambil duduk diantara  kakinya kulebarkan pelah-pelan kedua pahanya. Dan memek itu merekah. Warna merah muncul diantara lebatnya bulu. Penisku makin berdenyut melihatnya.
“aku jilat ya…..” pintaku. Dia diam saja. Maka lidahku kubenamkan diantara rimbunnya bulu dan menelusuri setiap lekuk lubang basah, hangat dan beraroma khas. Kujilat dan kuisap  clirotisnya. Desahnya sudah berganti dengan erangan. Kedua tangannya mencengram lembut rambutku. Terus kumainkan lidah menelusuri lembah sampai ke dalamnya. Sementara penisku terus berdenyut. Dan ketika Wati sudah menarik-narik rambutku, maka aku paham dia sudah menginginkan penisku masuk ke dalamnya.
“ah…mas, masukin sekarang mas…….” lirihnya
Pelan-pelan aku merayap di atas tubuhnya, sambil tetap menciumi perut, dada dan lehernya. Ketika akhirnya kepala penisku menemukan lubang kenikmatan itu kasabaran Wati sudah hilang. Di dekapnya aku dengan satu tangan dan tangan lain menekan pantatku sambil pantat dia diangkat ke atas. AKhirnya penisku masuk dengan sempurna ke dalam memeknya. Bukan lagi erangan yang aku dengar tapi berubah menjadi  teriakan tanpa suara.
Malam itu kami menemukan kebahagian dan kenikmatan yang luar biasa. Kami saling menjelajahi tubuh dengan mata, bibir dan  lidah.  Saling pijat dengan tangan dan kemaluan kami.
Berminggu-mginggu kemudian kami rutin ke hotel. Baik di kota asalku atau di Jakarta. Dan yang mengherankan aku  adalah suaminya “merestui” hubungan kami. Belakangan aku tahu bahwa suaminya sudah lama tidak berfungsi.
Pada sekitar bulan ke 4 hubungan kami, sesuai dengan janji aku datang lagi ke rumahnya. Ku ketuk pintu seperti biasa.
” silahkan masuk, mas. ” kudengar bukan suara Wati, tapi suara Sri.  Aku pun masuk dan duduk di ruang tamu.
” mbak Wati nya lagi arisan mas, tunggu dulu aja ya.” kata Sri sambil pergi. Akupun mengiyakan. Tak lama kemudian dia muncul lagi dengan membawa teh hangat.
” minum mas” kata Sri. Aku pikir dia akan masuk kedalam lagi tapi ternyata duduk di hadapanku menemaniku ngobrol.  Kami ngobrol biasa, aku sama sekali tidak menggoda. Dan dari obrolan itulah aku tahu bahwa dia dulu nikah usia muda dan sekarang sudah menjanda selama 4  tahun dengan 2 0rang anak perempuan berusia 22 dan 19 tahun. Tidak berapa lama kami mengobrol basa-basi tiba-tiba Sri bertanya:
” jakartanya di mana mas?”  kusebutkan satu daerah di jakarta selatan.
“kalau sunter di daerah mana  mas? tanya Sri kembali.
“emang ada apa?” balasku bertanya.
“minggu depan saya ada undangan teman dekatku menikahkan anaknya, di sunter” ujarnya.
” oh…ya kalau kamu belum tahu daerahnya nanti saya antar deh, tinggal kasih tahu kapan berangkatnya, nanti saya jemput di statsiun gambir.” kataku. Sri tampak ragu-ragu menerima tawaranku.
“aku nggak enak sama mbak Wati” katanya.
“ya jangan kasih tahu mbak Wati” kataku. Akhirnya dengan sedikit ragu Sri mengiyakan tawaranku. Dan untuk memperlancar urusan kami saling bertukar nomor handphone. Tak lama kemudian datanglah 2 cewek cantik menerobos masuk. Sri langsung mengenalkan mereka padaku.
” ini anak-anakku. yang besar Yani dan adiknya Indah”  katanya. Aku hanya terpana melihat kemolekan mereka. Setelah bersalaman merekapun masuk ke dalam.
Tidak lama kemudia Wati datang bersama suaminya.
Singkat cerita malam itu saya dan Wati kembali bertempur di hotel sampai terasa lolos tulang-tulangku.  Besoknya ketika aku pulang menggunakan kereta,  masuk SMS dari Sri berbunyi : ” Mas, smalam diapain mbakku? hari ini keliatannya  lemes  banget tapi wajahnya cerah…”
Kubalas SMSnya dengan bahasa yang agak vulgar ” Ku jilat dari atas sampai bawah, yang paling lama di tengah2. main 3 ronde, mas juga lemes”.  Seketika itu juga datang balasannya ” Enak dong”.  Lalu ku balas ” Mau nggak?”. Tak ada balasan lagi.
Terus terang semenjak saat itu yang selalu lebih terkenang di benakku adalah Sri bukan Wati.  Kami lebih sering SMS an, aku sengaja memancing dengan bahasa yang “nyerempet2.”, namun Sri  menanggapi dengan dingin saja.
Pada waktu yang telah ditentukan dengan perasaan berbunga dan dengan rencana “jahat” di otakku, aku jemput Sri di Stasiun Gambir. Namun rencanaku terasa berantakan seketika. Ternyata Sri datang dengan anak sulungnya, Yani.  Entah perasaanku saja atau memang nyata demikian, aku melihat kerinduan di mata Sri ketika dia melihatku. Kami bersalaman dan langsung berangkat menuju salah satu daerah di Sunter. Ternyata rumah kerabat Sri berada di daerah padat penduduk. Rumah kecil di gang kecil. Karena suasana mau pesta, maka rumah kecil itu semakin sesak dengan famili dan kerabat yang lain. Aku melihat keraguan di mata Sri  ketika ditawari menginap di situ.
“tidurnya gimana ini?” lirih Yani yang sempat aku dengar.  Akhirnya aku berinisitif menawarkan  hotel yang dekat lokasi itu. Merekapun mau. “Ini kesempatan” pikirku. Selama dalam perjalanan aku menyusun lagi strategi agar malam itu aku bisa menikmati Sri. Peniskuku sudah tegang sejak memikirkan itu.
Ketika di hotel aku pesan 2 kamar. Sri dan Yani terlihat heran.
“Lho, kami satu kamar berdua aja, ga usah masing-masing satu kamar” ujar Sri.
“Ini buat aku, lagi malas pulang” kataku. Menjelang sore kami sudah masuk kamar masing-masing. Selama itu pula aku masih bingung memikirkan rencana “jahat” ku. Namun yang namanya setan sungguh tahu kehendaku. Selepas magrib pintuku di ketuk Yani.
” Om, Yani pamit dulu sebentar, ini teman Yani jemput” katanya sambil mengenalkanku pada seorang cewek sebayanya. Rupanya Yani janjian dengan seseorang.
” kemana?” tanyaku. ” Mau ke Salemba, om. kerumah teman” jawabnya. Hatikupun bersorak. ” nginap aja sekalian” dalam hati.
Nggak lama aku SMS Sri, ” Lagi ngapain nih? aku lagi bengong ga da teman ngobrol” Nggak ada jawaban sampai 30 menit. Cemas aku menduga-duga. Tak lama kemudian pintuku di ketuk. Kulihat Sri berdiri depan pintu dengan menggunakan pakaian santai.  Kaos dan celana selutut. Kupersilahkan dia masuk, dengan ragu-ragu dia melangkah dan duduk di kursi rias. Setelah sedikit berbasa basi aku melancarkan serangan.
” kamu masih cantik dan bodymu juga masih OK, kenapa ga nikah lagi?” tanyaku.
“aku masih senang sendiri, takut nikah nanti cerai lagi…..” jawabnya.
“tapi kan kamu masih muda, masih punya bebutuhan khusus yang harus dipenuhi” sambungku. Dia menunduk, paham maksudku. Kutunggu jawabannya beberapa saat. Sebelum dia sempat menjawab aku sudah menyentuh pundaknya dari belakang. Dia nampak terkejut tapi juga tidak menampik. Kugeser perlahan tanganku ke pipinya, saat itulah dia menampik tanganku. Aku bukannya berhenti malah ku genggam pergelangan tangannya, kutarik dia untuk berdiri. Dengan perasaan yang masih bingung ku cium dia di bibirnya. Berontak dia. Kucengkram rambut dan kepalanya agar dia tidak berontak dan melepas ciumanku. Beberapa saat kemudian aku merasa lengannya melinggkar di pinggangku, saat itulah kulepas cengkraman dirambutnya. Dia mulai membalas liarnya lidahku. Tanpa buang waktu tanganku sudah menelusuri dadanya sampai akhirnya berlabuh di memeknya. Dan  malam itu kami sempat bercinta 2 babak sampai pintu di ketuk dari luar. Tok….tok….tok. Kami semua terkejut dan terperangah. Yani sudah pulang. Kulihat jam di dinding 22.20. Dengan terburu-buru Sri mengenakan baju, begitupun aku. Tak lama kemudia Sri keluar.
Besoknya aku melihat perubahan di wajah Yani. Ia yang tadinya ramah mendadak menjadi sangar melihatku. Tak mau bicara baik ke ibunya apalagi ke aku. Rupanya ia tahu apa yang sudah kami perbuat. Sekitar jam 9 saya antar mereka menuju tempat pesta dan siangnya saya antar kembali mereka ke Stasiun Gambir, pulang ke kota asal.
Satu minggu kemudian aku kembali datang ke kota kecil itu. Terus terang aku lebih menginginkan Sri daripada Wati. Maka yang pertama aku hubungi adalah SRi. Dan malam itu saya menghabiskan waktu di hotel dengan Sri. Besoknya di hotel lain saya berduaan dengan Wati. Begitu terus setiap 2 minggu sampai kurang lebih 3 bulan aku menikmati pelayanan dengan 2 gaya dari kakak-adik.
Pada suatu saat ketika saya sedang di kantor di Jakarta, masuk no telphon yang tidak aku kenal.
” hallo….” jawabku. “Om…..” ku dengar suara ragu-ragu. Aku kemudian sadar bahwa ini suara Yani.
” ada apa Yan?” tanyaku setelah berbasa basi.
” tolong Yani, Om. Yani ada di jakarta tapi Yani kena razia narkoba. Sekarang ada di Polsek Jakarta ………” jawabnya  sambil menyebutkan satu wilayah jakarta. Sorenya aku kunjungi Yani. Dia nampak lelah namun tidak terlihat cemas. 3 hari Yani di tahan. Dan selama itu pula aku yang mensuplai makanan dan baju-baju. Pada hari ke 4 Yani di bebaskan karena tidak terbukti.  Sedangkan temannya terus ditahan karena terbukti. Aku bingung Yani mau dibawa ke mana. Ke rumahku jelas ga mungkin. Akhirnya aku cari hotel dekat rumah. Setelah aku ajak makan di hotel itu aku terus pulang, sedangkan Yani langsung masuk kamar.
Jam 8 malam itu aku coba telphon Yani untuk sekedar menanyakan kabar.
“Om, Yani perlu obat maag sama sikat gigi” katanya. ” Oke, ntar Om antar” jawabku. Dalam perjalanan ke hotel itulah pikiran kotorku muncul.  Ketika aku mengetuk pintu Yani hanya melongokan kepalanya di pintu. Dia nampak ragu-ragu mempersilahkan aku masuk ke dalam. ” Boleh Om masuk?. Om mau ngobrol sebentar ngomongin soal hubungan om dan mamahmu”. Akhirnya aku dipersilahkan masuk. Dan saat itulah aku dihadapkan pada pemandangan yang luar biasa. Yani hanya mengenakan tangtop tanpa BH dan celana jins pendek sekali hampir pangkal paha. Payudaranya menggelembung dengan sehat, pentilnya samar-samar menonjol keluar. Rupanya dia sadar aku memperhatikan dan cepat-cepat menutupnya dengan selimut.
” Yani…..om mohon  jangan di tutupi. Kamu punya tubuh luar biasa indah sayang kalo tidak ada yang menkmati” kataku langsung. Merah padam mukanya mendengarku berkata begitu. Antara malu dan marah menjadi satu. Tapi setan sudah terlanjur menguasaiku. Dengan segala rayuan dan bujukan akhirnya Yani mau melepaskan selimutnya. ” Boleh aku sentuh Yan? di luarnya aja…….” pintaku. Yani langsung menolak sambil menyilangkan tangannnya di dada. Juga dengan rayuan dan bujukan akhirnya aku di ijinkan memegang putingnya dari luar.
Sambil kami duduk di sisi tempat tidur,  aku mulai menyentuh putingnya. Dia tidak bereaksi dengan wajah menoleh jauh. Ku sentuh lagi putingnya yang sebelah kanan. Masih belum bereaksi juga. Ketika aku pilin putingnya dengan kedua jariku, mulailah ia sedikit menggelinjang dan kulihat putingnya mulai tegang. Kuputar jariku di kedua putingnya, semakin jelaslah tonjolan di kaosnya. Aku sudah tak tahan ini menyelusupkan tanganku ke balik tangtopnya. Namun tanganku di cegah ketika baru sampai perut. sementara tangan kiriku masih bergerilya di luar kaos tangan kananku mulai naik perlahan dari perut. Aku merasakan pegangan tangan dia mengendur, akhirnya sampailah tanganku kepuncak bukit kenikmatan dengan bebas. Ketika kudengar suara rintihan halus,  pada saat itulah aku yakin bahwa permainan ini bisa sampai tuntas. Maka mulaikah aku meremas, menjilat dan meghisap putingnya, perutnya, clirotisnya dengan lembut. Dan malam itu aku mendapatkan segalanya. Walaupun Yani sudah tidak perawan, namun dia masih merasa sakit ketika penisku masuk ke memeknya. Karena penisku adalah yang kedua kalinya  masuk memeknya setelah dia melakukan yang pertama dengan pacarnya 2 tahun yang lalu. Malam itu kami tidak tidur, aku mengajari teori dan praktek bercinta pada Yani. Selain memberikan pengertian bahwa hubunganku dengan ibunya adalah sebatas memenuhi kebutuhan sex.
Singkat cerita hari-hari selanjutnya aku disibukan oleh SMS dan deringan HP dari mereka bertiga Wati,  Sri dan Yani. Ketika aku pulang ke kotaku, maka ku gauli ketiganya dengan cara digilir dengan jadwal yang tersusun rapi sehinga tidak terjadi “tabrakan”.
Orang ke empat yang aku gauli sebenarnya bukan anggota keluarga Wati, tapi calon anggota keluarga. Sebut saja namanya Nancy.  Ia adalah pacar dari anaknya Wati yang bernama Roy. Kisahnya bermula dari kunjunganku ke rumah Wati. Pada saat itu tiba-tiba aku mendapatkan telephon dari kantor di Jakarta. Dikatakan aku harus menghubungi Mr.X.  No HP Mr.X ini ternyata CDMA. Karena perkiraanku pembicaraan akan panjang maka aku meminjam HP anaknya Wati (bernama Roy) yang kebetulan juga CDMA. Maka sore itu atas ijin Roy aku pinjam sampai besok CDMA nya.
Malam hari ketika aku sedang makan di luar, tiba-tiba HP Roy berbunyi.
” Hallo” Jawabku. Aku sudah siap-siap mendengar suara Mr. X. Namun ternyata yang kudengar suara merdu seorang perempuan.
” Hallo juga, ini siapa?” jawabnya ragu-ragu.  Setelah saling bertanya baru aku tahu kalau yang telephon itu adalah tunangan Roy. Aku menjelaskan bahwa malam itu HP Roy aku pinjam. Dengan segala caraku akhirnya kami berkenalan, bahkan ngobrol sampai panjang lebar. Rupanya obrolan kami nyambung sehingga kami berjanji akan saling menelephon lagi.
Singkat kata Nancy rupanya tipe orang yang penasaran akan sex namun takut untuk melakukannya.  Dengan Roy hanya sebatas bercumbu tidak mau lebih dari itu. Karena dia sadar bahwa dia mudah “panas” maka bercumbu dengan Roy hanya sebatas dada. Dia ingin lebih dari itu tapi takut kebablasan, katanya.
Nancy banyak bertanya kepadaku soal Sex, sampai akhirnya kami ber Phone sex. Namun lama-lama kami berdua penasaran juga. Akhirnya dengan suatu perjanjian aku bisa membawa Nancy ke hotel. Perjanjian itu adalah: aku boleh mengeksplorasi tubuh dia dan saling memberi kenikmatan namun aku tidak boleh memasukan penisku ke memeknya. Dia masih perawan!!. Ketika kutanyakan mengapa dengan aku, bukan dengan Roy?. Jawabnya adalah : Dia tidak yakin Roy mampu menahan penisnya masuk ke memeknya. Komitmen itu aku pegang teguh.
Ternyata dugaanku dan dugaan dia benar. Nancy sangat mudah terbakar. Ketika aku cium, bibirnya seolah magnet. langsung terpaut dengan bibirku, Tak mau lepas. Seolah kami  sudah mengenal  sejak lama, kami langsung melepaskan seluruh pakaian . Ketika aku akan melepaskan CDnya, kulihat bulatan basah sudah terpampang diCDnya. Kujilati seluruh tubuhnya, dia hanya bisa mendesah dan merintih. Kujilati pula clirotisnya, kujelajahi seluruh lekukan memeknya dengan lidahku. Kutempelkan kepala penis ku ke lubang memeknya, ke clirotisnya. Ku usap-usap clirotisnya dengan kepala penisku. Ku lihat ia beberapa kali orgasme. Hari itu aku berpesta dengan tubuhnya. Tapi aku tidak memasukan penisku ke memeknya!!!. Spermaku keluar dengan cara di kocok dengan tangan atau payudaranya. Bulan Maret 2010 kemarin Nancy sudah berani mengeluarkan spermaku di dalam mulutnya. Dia berjanji jika sudah menikah, kami akan selalu bertemu untuk menuntaskan rasa yang tertunda.

Aku punya teman SMU dulu. Hubungan kami sangat baik, karena kami sama-sama aktif di OSIS. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Australia, sedangkan aku, karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, puas menamatkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah. Setelah lulus, aku bekerja di Jakarta. Entah suatu kebetulan atau bukan, saat bekerja di salah satu perusahaan swasta, aku bertemu kembali dengan Anna, yang bekerja di perusahaan rekanan perusahaan kami. Kami bertemu waktu ada penandatanganan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan tempatku bekerja. Kami pun kembali akrab setelah tidak bertemu sepuluh tahun. Ia masih tetap cantik seperti dulu. Dari ceritanya, aku dapatkan informasi bahwa ia memperoleh master di bidang marketing. Selain itu, sama sepertiku, ia telah tiga tahun menikah, suaminya orang Jawa Timur, tetapi mereka belum dikaruniai anak; sedangkan aku ketika itu masih lajang. Usai kerja, kami suka pulang bareng, sebab rumahnya searah denganku. Kadang-kadang jika ia dijemput suaminya, aku ikut numpang mobil mereka.
Aku tak pernah terpikir kalau temanku Anna memiliki suatu rahasia yang suaminya sendiri pun tak pernah tahu. Suatu ketik – kuingat waktu itu hari kamis – aku ikut pulang di mobil mereka, kudengar Anna berkata pada suaminya,
“Pa, lusa aku ulang tahun yang ke-28, kan? Aku akan minta hadiah istimewa darimu. Boleh kan?”
Sambil menyetir, suaminya menjawab, “Ok, hadiah apa rupanya yang kau minta, sayang?”
“Hmmm, akan kusebutkan nanti malam waktu kita ….” sambil tersenyum dan mengerlingkan mata penuh arti.
Suaminya bergumam, “Beginilah istriku. Kalau ada maunya, harus dituruti. Kalau tidak kesampaian, bisa pecah perang Irak.” Kemudian tak berapa lama, ia melanjutkan, “Gimana Gus, waktu SMU dulu, apa gitu juga gayanya?”
Kujawab, “Yah, begitulah dia. Waktu jadi aku ketua dan dia sekretaris OSIS, dia terus yang berkuasa, walaupun program kerja aku yang nyusun.”
“Idiiiih, jahat lu Gus, buka kartu!” teriak Anna sambil mencubit lenganku pelan.
Suaminya dan aku tertawa. Sambil kuraba bekas cubitannya yang agak pedas, tetapi memiliki nuansa romantis, kubayangkan betapa bahagianya suaminya beristrikan Anna yang cantik, pintar dan pandai bergaul.
Aku kemudian turun di jalan depan kompleks perumahan mereka dan melanjutkan naik angkot ke arah rumahku yang letaknya tinggal 3 km lagi.
Aku sudah lupa akan percakapan di mobil mereka itu, ketika malam minggu, aku cuma duduk-duduk di rumah sambil menonton acara televisi yang tidak menarik, tiba-tiba kudengar dering telepon.
“Gus, kau ada acara? Anna dan aku sedang merayakan ulang tahunnya. Datanglah ke rumah kami. Dia sudah marah-marah, sebab baru tadi aku bilang mau undang kau makan bersama kami. Ok, jangan lama-lama ya?” suara Dicky, suami Anna terdengar.
“Wah, kebetulan Mas, aku sedang bete nich di rumah. Aku datang sekitar 20 menit lagi ya?” jawabku.
“Baiklah, kami tunggu,” katanya sambil meletakkan gagang telepon.
Aku bersiap-siap mengenakan baju hem yang agak pantas, kupikir tak enak juga hanya pakai kaos. Sepeda motor kukeluarkan dan segera menuju rumah Dicky dan Anna.
Setibanya di sana, kuketuk pintu. Anna membuka pintu. Kulihat gaunnya begitu indah membalut tubuhnya. Potongan gaunnya di bagian dada agak rendah, sehingga menampakkan belahan payudaranya yang sejak SMU dulu kukagumi, sebab pernah kulihat keindahannya tanpa sengaja waktu ia berganti baju saat olah raga dulu. Kusalami dia sambil berkata, “Selamat ulang tahun, ya An! Panjang umur, murah rejeki, cepat dapat momongan, rukun terus dalam rumah tangga”
Tanpa kuduga, tanganku disambut dengan hangatnya sambil diberikannya pipinya mencium pipiku. Yang lebih tak terduga, pinggiran bibirnya – entah disengaja atau tidak – menyentuh tepi bibirku juga. “Trims ya Gus,” katanya. Aku masuk dan mendapati Dicky sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi.
Dicky dan Anna mengajakku makan malam bersama. Cukup mewah makan malam tersebut, sebab kulihat makanan restoran yang dipesan mereka. Ditambah makanan penutup berupa puding dan beragam buah-buahan membuatku amat kenyang. Usai makan buah-buahan, Dicky ke ruang bar mini dekat kamar tidur mereka dan mengambil sebotol champagne. “Wah, apa lagi nich?” tanyaku dalam hati.
“Ayo Gus, kita bersulang demi Anna yang kita cintai,” kata suaminya, sambil memberikan gelas kepadaku dan menuangkan minuman keras tersebut. Kami bertiga minum sambil bercerita dan tertawa. Usai makan, kami berdua kembali ke ruang tamu, sedangkan Anna membereskan meja makan.
Dicky dan aku asyik menonton acara televisi, ketika kulihat dengan ekor mataku, Anna mendatangi kami berdua. “Mas, ganti acaranya dong, aku mau nonton film aja! Bosen acara TV gitu-gitu terus,” rajuknya kepada suaminya.
Dicky menuju bufet tempat kepingan audio video dan sambil berkata padaku, ia mengganti acara televisi dengan film, “Nah, gitulah istriku tersayang, Gus. Kalau lagi ada maunya, jangan sampai tidak dituruti.”
Kami tertawa sambil duduk bertiga. Aku agak kaget waktu menyaksikan, ternyata film yang diputar Dicky adalah film dewasa alias blue film. “Pernah nonton film begini, Gus? Jangan bohong, pria seperti kita jaman SMP saja sudah baca Playboy dulu, bukan?”
“He .. he .. he .. nonton sich jangan ditanya lagi, Mas. Udah sering. Prakteknya yang belum,” tukasku sambil meringis. Agak risih juga nonton bertiga Anna dan suaminya, sebab biasanya aku nonton sendirian atau bersama-sama teman pria.
“Anna kemarin minta kita nonton BF bertiga. Katanya demi persahabatan,” ujar suaminya.
“Ya Gus, bosen sich, cuma nonton berdua. Sekali-sekali variasi, boleh kan?” kata Anna menyambung ucapan suaminya dan duduk semakin rapat ke suaminya.
Kami bertiga nonton adegan film. Mula-mula seorang perempuan Asia main dengan pria bule. Lalu pria Asia dengan seorang perempuan Amerika Latin dan seorang perempuan bule. Wah, luar biasa, batinku sambil melirik Anna yang mulai duduk gelisah. Kulihat suami Anna sesekali mencium bibir Anna dan tangannya yang semula memeluk bahu Anna, mulai turun meraba-raba tepi payudara Anna dari luar bajunya. Cerita ketiga semakin panas, sebab pemainnya adalah seorang perempuan Asia yang cantik dan bertubuh indah dan dua orang pria, yang satu Amerika Latin dan yang satunya lagi bule. Si perempuan diciumi bibir lalu payudaranya oleh si pria bule, sedang si pria Amerika Latin membuka perlahan-lahan rok dan celana dalam si perempuan sambil menciumi lutut dan pahanya. Kedua pria tersebut menelentangkan si perempuan di sofa, yang satu menciumi dan meremas payudaranya, sedang yang lain menciumi celah-celah paha. Adegan itu dilakukan secara bergantian dan akhirnya si pria bule menempatkan penisnya ke klitoris si perempuan hingga si perempuan merintih-rintih. Rintihannya makin menjadi-jadi sewaktu penis tersebut mulai memasuki vaginanya; di bagian atas, payudaranya diremas dan diciumi serta disedot si pria Amerika Latin. Si perempuan kemudian memegang pinggang si pria Amerika Latin dan mencari penisnya untuk diciumi dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Si pria memberikan penisnya sambil terus meremas payudara si perempuan. Begitulah, penis yang satu masuk keluar vaginanya, sedang penis yang lain masuk keluar mulutnya.
Aku merasakan penisku menegang di balik celana dan sesekali kuperbaiki dudukku sebab agak malu juga pada Anna yang melirik ke arah risleting celanaku. Aku merasa horny, tetapi apa daya, aku hanya penonton, sedangkan Anna dan Dicky, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kukerling Dicky dan Anna yang sudah terpengaruh oleh film tersebut. Gaun Anna semakin turun dan payudaranya sudah semakin tampak. Benar-benar indah payudaranya, apalagi saat kulihat yang sebelah kiri dengan putingnya yang hitam kecoklatan, sudah menyembul keluar akibat jamahan tangan suaminya. Desahan Anna bercampur dengan suara si perempuan Asia di film yang kami saksikan. Mereka berdua tampak tidak peduli lagi dengan kehadiranku. Aku lama-lama segan juga, tetapi mau pamit kayaknya tidak etis. Kuluman bibir Dicky semakin turun ke leher Anna dan berlabuh di dada sebelah kiri. Bibirnya melumat puting sebelah kiri sambil tangan kanannya meremas-remas payudara kanan Anna. Gaun Anna hampir terbuka lebar di bagian dada.
Tiba-tiba Anna bangkit berdiri dan menuju dapur. Ia kemudian keluar dan membawa nampan berisi tiga gelas red wine. Ia sodorkan kepada kami berdua dan kembali ke dapur mengembalikan nampan.
Aku dan suaminya minum red wine ketika kurasakan dari arah belakangku Anna menunduk dan mencium bibirku tiba-tiba, “Mmmmfff, ahhh, An, jangan!” kataku sambil menolakkan wajahnya dengan memegang kedua pipinya.
Anna justru semakin merapatkan wajah dan tubuhnya dari arah atas tubuhku. Lidahnya masuk dengan lincahnya ke dalam mulutku sedangkan bibirnya menutup rapat bibirku, payudaranya kurasakan menekan belakang kepalaku. Aku masih mencoba melawan dan merasa malu diperlakukan demikian di depan suaminya. Rasa segan bercampur nafsu yang menggelora membuat wajahku semakin memanas, terlebih atas permainan bibir dan lidah Anna serta payudara yang ditekankan semakin kuat.
Kudengar suara suaminya, “Tak usah malu, Gus. Nikmati saja. Ini bagian dari permintaan spesial Anna kemarin. Kali ini ia tidak minta kado yang lain, tapi kehadiranmu.”
Aku berhasil melepaskan diri dari serangan Anna dan sambil terengah-engah kukatakan, “An, tolong … jangan perlakukan aku seperti tadi. Aku malu. Dicky, aku minta maaf, aku mau pulang saja.” Aku bergegas menuju pintu. Tapi tiba-tiba Anna menyusulku sambil memeluk pinggangku dari belakang. Sambil menangis ia berkata, “Gus, maafkan aku. Aku tidak mau kau pulang sekarang. Ayolah, kembali bersama kami.” Ia menarik tanganku duduk kembali.
Aku terduduk sambil menatap lantai, tak berani melihat wajah mereka berdua. Di seberangku, Dicky dan Anna duduk berjejer. Dicky berkata,
“Gus, tolonglah kami. Ini permintaan khusus Anna. Sebagai sahabat lamanya, kuharap kau tidak keberatan. Sekali lagi aku minta maaf. Kami sudah konsultasi dan berobat ke dokter agar Anna hamil. Ternyata bibitku tidak mampu membuahinya. Padahal kami saling mencintai, aku amat mencintainya, dia juga begitu terhadapku. Kami tidak mau cerai hanya oleh karena aku tidak bisa menghamilinya. Kami tidak mau mengangkat anak. Setelah kami bicara hati ke hati, kami sepakat meminta bantuanmu agar ia dapat hamil. Kami mau agar anak yang ada di dalam rumah tangga kami berasal dari rahimnya, walaupun bukan dari bibitku. Aku senang jika kau mau menolong kami.”
Aku tidak menjawab. Kucoba menatap mereka bergantian.
Kemudian Anna menambahkan kalimat suaminya, “Aku tahu ini berat buatmu. Jika aku bisa hamil olehmu, anak itu akan menjadi anak kami. Kami minta kerelaanmu,Gus. Demi persahabatan kita. Please!” katanya memohon dengan wajah mengiba dan kulihat airmatanya menetes di pipinya.
“Tapi, bagaimana dengan perasaan suamimu, An? Kau tidak apa-apa Dick?” tanyaku sambil menatap wajah mereka bergantian.
Keduanya menggelengkan kepala dan hampir serempak menjawab, “Tidak apa-apa.”
“Aku pernah cerita pada suamiku, bahwa dulu kau pernah punya hati padaku, tapi kutolak karena tidak mau diganggu urusan cinta,” papar Anna lagi.
“Ya Gus, Anna sudah ceritakan persahabatan kalian dulu. Aku dengar darinya, kau bukan orang yang suka jajan dan sejak dulu kau tidak nakal terhadap perempuan. Kami yakin kau bersih, tidak punya penyakit kelamin. Makanya kami sepakat menentukan dirimu sebagai ayah dari anak kami,” tambah suaminya. “Bagaimana Gus, kau setuju? Kau rela? Tolonglah kami ya!” pintanya mengiba.
Aku tidak menjawab. Hatiku tergetar. Tak menduga ada permintaan gila semacam ini dari sepasang suami istri yang salah satunya adalah sahabatku dulu. Namun di hati kecilku timbul keinginan untuk menolong mereka, meskipun di sisi lain hatiku, merasakan getar-getar cinta lama yang pernah timbul terhadap Anna.
“Gus, kau mau kan?” tanya Anna sambil berjalan ke arahku.
“Baiklah, asal kalian tidak menyesal dan jangan salahkan jika aku jadi benar-benar suka pada Anna nanti,” jawabku tanpa berani menatap muka mereka.
“Tak apa, Gus. Aku tak keberatan berbagi Anna denganmu. Aku tahu kau dulu tulus mencintai dia, pasti kau takkan menyakiti dia. Sama seperti aku, tak berniat menyakiti dirinya,” kata Dicky lagi.
Anna lalu duduk di lengan kursi yang kududuki sambil memegang daguku dan menengadahkan wajahku hingga wajah kami bersentuhan dan dengan lembut ia mencium kedua kelopak mataku, turun ke hidung, pipi dan akhirnya bibirku ia kecup lembut. Berbeda dengan ciumannya tadi, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa, sehingga kubalas lembut ciumannya. Aku hanyut dalam ciuman yang memabukkan. Sekelebat kulihat Dicky mengamati kami sambil mengelus-elus risleting celananya.
Anna mengajakku duduk ke sofa panjang, tempat Dicky berada. Kini ia diapit olehku dan suaminya di sebelah kanannya. Kami berdua terus berciuman. Adegan di video kulirik sekilas, suasana semakin panas sebab si perempuan Asia sudah disetubuhi oleh dua pria sekaligus, yang satu berada di bawah tubuhnya dengan penis menancap dalam vaginanya, sedangkan penis yang satu lagi memasuki analnya. Kedua penis tersebut masuk keluar secara berirama menambah keras rintihan dan jeritan nikmat si perempuan. Kami bertiga terpengaruh oleh tayangan demikian, sambil melihat film tersebut, aku terus menciumi wajah, bibir dan leher Anna, sementara suaminya sudah membuka gaun Anna, turun hingga sebatas pinggulnya hingga terpampanglah kini kedua payudaranya yang sintal.
Desahan Anna semakin liar ketika lidahku menggelitiki lehernya yang jenjang dan suaminya berganti memagut bibirnya. Bibir dan lidahku semakin turun menuju celah-celah payudaranya. Tangan kiriku meremas payudara kanannya sambil bibirku melumat puting payudara kirinya. Ia mengerang semakin kuat, ketika tangan kiriku turun ke pinggulnya dan mengelus-elus pinggul dan pinggangnya. Ciumanku semakin turun ke perutnya dan berhenti di pusarnya. Lama menciumi dan menggelitiki pusarnya, membuatnya makin menggeliat tak menentu. Suaminya kulihat berdiri dan membuka seluruh pakaiannya. Dicky kini dalam keadaan bugil dan memberikan penisnya untuk digelomoh Anna. Dengan bernafsu, Anna mencium kepala penis suaminya, batangnya dan akhirnya memasuk-keluarkan penis itu ke dalam mulutnya. Tangan kanannya memegang batang penis suaminya sambil bibir dan lidahnya terus melakukan aksinya. Kulihat penis suaminya agak panjang, lebih panjang dari punyaku, maklum suaminya lebih tinggi daripada aku, cocoklah Anna mendapat suami tinggi sebab tingginya 167 Cm, sama denganku.
Sambil terus memesrai penis suaminya, Anna mengangkat sedikit pantat dan pinggulnya seakan-akan memberikan kesempatan buatku melepaskan gaunnya sama sekali. Secara alamiah, kedua tanganku bergerak menurunkan gaunnya hingga ke lantai, sehingga tubuh Anna hanya tinggal ditutupi selembar kain segitiga di bagian bawahnya. Tangan kiri Anna bergerak cepat melepaskan celana dalamnya. Kini ia benar-benar telanjang, sama seperti suaminya. Anna duduk kembali sambil menelan penis suaminya, hingga pangkalnya. Ia sudah benar-benar dalam keadaan puncak birahi.
Aku mengambil posisi berlutut di celah-celah paha Anna. Kuamati sela-sela paha Anna. Vaginanya dihiasi rambut yang tipis, tapi teratur. Agaknya ia rajin merawat vaginanya, sebab rambut itu dicukur pada bagian labia, sehingga memperlihatkan belahan yang indah dengan klitoris yang tak kalah menariknya. Kuarahkan jari-jariku memegang klitorisnya. “Auuwww, aaahhh, enak Gus … terusin dong ….” Desisnya sambil menggeliatkan pinggulnya dengan indah.
Aku tidak menjawab, tetapi malah mendekatkan wajahku ke pahanya dan lidahku kujulurkan ke klitorisnya. “Ooooohhhh, nikmatnyaaaaa …..” desahnya sambil mempercepat gerakan mulutnya terhadap penis Dicky.
Kuciumi klitorisnya sambil sesekali melakuan gerakan menyedot. Klitorisnya sudah tegang sebesar biji kacang hijau. Indah sekali bentuknya, apalagi ketika kukuakkan labianya bagian atas klitorisnya. Kedua labianya kupegang dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar lalu dengan lembut kujulurkan lidahku menusuk ke dalam vaginanya. “Aaaaaahhhhhh …. Gusssss …. kau pintar banget!” rintihannya semakin meninggi. Aku melakukan gerakan mencium, menjilat, menusuk, menyedot secara bergantian, bahkan tak urung kuisap klitoris dan kedua labianya secara bergantian, hingga erangan dan rintihannya semakin keras. Cairan vaginanya mengalir semakin banyak. Kusedot dan kumasukkan ke dalam mulutku. Gurih rasanya. Kedua tangannya kini memegang belakang kepalaku dan menekankannya kuat-kuat ke pahanya sambil menggeliat-geliat seksi. Semakin lama gerakannya semakin kuat dan dengan suatu hentakan dahsyat, ia menekan dalam-dalam vaginanya ke wajahku. Agaknya ia sudah orgasme. Kurasakan aliran air menyembur dari dalam vaginanya. Rupa-rupanya cairan vaginanya bercampur dengan air seninya. Anehnya, aku tidak merasa jijik, bahkan kuisap seluruhnya dengan buas. Ia menolakkan kepalaku, mungkin merasa jengah karena kuisap seluruh cairannya, tanpa mau menyisakan sedikit pun. Aku tidak mengikuti perlakuannya, tapi terus menekan wajahku menjilati seluruh cairannya yang menetes dan mengalir ke pahanya.
Aku masih bersimpuh di celah-celah paha Anna, ketika ia mendekatkan wajahnya mencium bibirku. “Makasih ya Gus, kamu pintar banget bikin aku puas!”
Kulihat Dicky terpengaruh atas orgasme istrinya, ia berdiri dan berkata, “Ayo sayang, aku belum dapet nih!”
“Aaahh, aku masih capek, tapi ya dech. Aku di bawah ya,” sambutnya sambil menelentangkan tubuh di sofa panjang tersebut. Suaminya mengambil posisi di sela-sela paha Anna dan menggesek-gesekkan penisnya ke klitoris Anna. Anna kembali naik birahi atas perlakuan Dicky. Makin lama Dicky memasukkan penisnya semakin dalam ke dalam vagina Anna. Anna membalas dengan membuka lebar-lebar pahanya. Kedua kakinya dipentang dan dipegang oleh kedua tangan suaminya. Anna lalu mengisyaratkan aku mendekatinya. Aku jalan mendekati wajahnya. Ia lalu membuka celana panjangku hingga melorot ke lantai. Celana dalamku pun dibukainya dengan ganas dan kedua tangannya memegang penisku. Sambil menyentuh penisku, perlahan-lahan ia dekatkan wajahnya ke arah pahaku dan menjilat kepala penisku. “Ahhh, ssshhh, Ann …. Nikmatnyaaaa,” desahku sambil membuka bajuku. Kini kami bertiga benar-benar seperti bayi, telanjang bulat. Anehnya, aku tidak merasa malu seperti mula-mula. Adegan yang hanya kulihat dulu di blue film, kini benar-benar kualami dan kupraktekkan sendiri. Gila! Tapi akal sehatku sudah dikalahkan. Entah oleh rasa suka pada Anna atau karena hasrat liarku yang terpendam selama ini.
Anna semakin liar bergerak menikmati tusukan penis suaminya sambil melumat penisku. Kedua tanganku tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua payudara Anna dengan putingnya yang semakin mencuat bagaikan stupa candi.
Hunjaman penis suaminya kulihat semakin hebat sebab Anna semakin kuat menciumi dan menjilati bahkan menelan penisku hingga masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Kurasakan kepala penisku menekan ujung tenggorokannya, tapi Anna tidak peduli, air ludahnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah menelan penisku. Bahkan ketika seluruh penisku ia telan, lidahnya mengait-ngait lubang kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur nikmat. Aku ikut merintih tanpa kusadari. Kini desahan dan erangan kami bertiga sudah melampaui adegan di film yang sudah tak kami hiraukan lagi. Sekilas sempat kulihat adegan di video memperlihatkan pergantian adegan dari adegan si perempuan Asia berjongkok di atas pinggang si pria Amerika Latin memasuk-keluarkan penisnya sambil menggelomoh penis si pria bule. Kemudian si pria bule menempatkan diri di belakang si perempuan dan memasukkan penisnya ke dalam anal si perempuan sambil kedua tangannya meremas payudara si perempuan. Dari bahwa, si pria Amerika Latin menciumi bibir si perempuan. Rintihan si perempuan bertambah kuat sewaktu kedua pria tersebut mengeroyok vagina dan analnya dengan hebat. Erangannya berganti dengan jeritan nikmat ketika kedua pria itu semakin kuat menghentakkan penis mereka dalam-dalam. Terpengaruh oleh adegan tersebut, Dicky menancapkan penisnya sedalam-dalamnya ke vagina istrinya. Tangan kiri Anna mengelus-elus klitorisnya sendiri dengan kencang, sedang penis suaminya masuk keluar semakin cepat. Penisku disedot kuat-kuat oleh Anna dan gigitan gemasnya kurasakan pada batang penisku. Remasanku makin kuat di payudara Anna sambil sesekali kuciumi bibirnya.
“Ahhh, aku hampir sampai, An … Aaahhh vaginamu enak benar!” rintih Dicky.
“Sabar sayang, aku juga hampir dapat. Sama-sama ya? Oooohhhh, akkhhh … enak benar tusukan kont*lmu. Ayo sayang, yang dalam ….. aaauhhggghhhhh …. Ooouukhhhhh,” rintih Anna semakin tinggi hingga tiba-tiba ia menjerit.
Jeritan Anna membahana memenuhi ruangan bagaikan raungan serigala, ketika dengan hebatnya penis suaminya menghunjam dengan cepat dan berhenti saat orgasmenya pun menjelang. Kedua pahanya menjepit pinggul suaminya sedang mulutnya menelan penisku hingga ujungnya kurasakan menekan tekak tenggorokannya. Kuperhatikan tubuh Anna yang indah bergetar-getar beberapa saat, apalagi di bagian pahanya.
Suaminya menghempaskan tubuh di atas tubuh Anna, sementara kedua tangan Anna memeluk tubuh suaminya. Aku melepaskan diri dari Anna dan mengambil tempat duduk sambil mengamati mereka berpelukan sambil bertindihan.
Kulihat adegan film hampir habis. Berarti kami bertiga main satu setengah jam, sebab tayangan film tadi kulihat berdurasi dua jam, sedangkan waktu kami bercakap-cakap bertiga tadi, permainan film baru berlangsung setengah jam. “Luar biasa daya tahan Anna,” pikirku.
Kudengar Anna berkata dari balik himpitan tubuh suaminya, “Ntar giliranmu ya Gus. Kasihan kamu belum apa-apa, padahal aku dan suamiku sudah dapat!”
“Nggak apa-apa An. Santai aja. Aku kan cuma pelengkap penderita,” candaku.
“Jangan gitu dong say,” Anna menolakkan tubuh suaminya dan berdiri lalu mendekatiku. “Kamu kan orang penting, makanya kamu yang kami minta menemani saat istimewaku malam ini.” Ia cium bibirku lembut sambil melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
“Mas, kita main di kamar aja yuk, biar lebih enak,” pinta Anna pada suaminya.
Suaminya hanya mengangguk dan mematikan video lalu bergerak mengikuti istrinya ke arah kamar mereka. Aku masih duduk. Anna berhenti melangkah dan mengajakku, “Ayo dong Gus, kita di kamar aja, di sini kurang leluasa.” Aku berdiri dan mengikuti mereka.
Kamar tidur mereka cukup luas, kira-kira 5 X 6 meter. Ranjang yang terletak di tepi salah satu sisi ruangan berukuran besar. Hawa sejuk AC menerpa ketika kami bertiga bagaikan anak-anak kecil, bertelanjang badan, beriringan masuk kamar.
Anna langsung merebahkan tubuhnya di tengah ranjang. Suaminya mengikuti sambil melabuhkan ciuman. Aku masih berdiri memandangi mereka, ketika tangan Anna mengisyaratkanku agar mendekati mereka. Aku mengikuti ajakannya dan duduk di sisi lain tubuhnya sambil mengelus-elus lengan dan perutnya. Tangan Anna menarik pergelangan tanganku agar mengelus dan meremas payudaranya. Tanganku mulai beroperasi di bagian dadanya dan memainkan putingnya yang kembali mengeras akibat sentuhan jari-jariku. Kupilin-pilin putingnya dengan lembut dan kudekatkan mukaku ke dadanya. Lidahku kujulurkan menjilati puting payudaranya. Lama kugelitik putingnya, setelah itu kumasukkan putingnya ke dalam mulutku sambil melakukan gerakan menyedot. Saking gemasnya, kusedot juga payudaranya yang tidak begitu besar, tetapi masih kenyal karena belum pernah menyusui bayi. “Ooogghh, ya, yahh, gitu Gus, enak tuch …. ” desisnya sambil menyambut ciuman suaminya. Kedua payudaranya kuremas sambil terus mengisap, memilin, menyedot putingnya dengan gerakan bervariasi, kadang-kadang lembut, kadang ganas, hingga Anna menggeliat-geliat dilanda birahi.
Kuteruskan penjelajahan bibirku ke arah perutnya dan turun ke rambut-rambut halus di atas celah pahanya yang putih. Kembali lidahku bermain di klitorisnya dan celah-celah vaginanya yang mulai basah lagi. Ludahku bercampur dengan cairan vaginanya yang harum. Ciumanku semakin buas turun ke celah-celah antara vagina dan analnya. Ketika mendekati analnya, lidahku kuruncingkan dan kugunakan mengait-ngait celah-celah analnya. “Owww, apa yang kau lakukan Gus? Koq enak banget sich?” jeritnya sambil menaikkan pinggulnya akibat perlakuan lidahku pada analnya. “Tenang sayang, nikmati saja,” kataku sambil menciumi analnya dengan bibirku dan menggunakan jari telunjuk kananku untuk memasuki analnya. “Sssshhh, aaahhhh, terusin Gus! Yahhhh enakkkkk,” desahnya.
Dicky sudah menciumi payudara Anna dalam posisi terbalik, di mana dadanya diberikan untuk diraba dan diciumi oleh istrinya juga. Mereka berdua mendesah, tetapi kupastikan yang paling dilanda hasrat menggelora adalah Anna, sebab bagian bawah tubuhnya kuciumi habis-habisan, hingga semakin becek vaginanya akibat bibir dan lidahku yang tak berhenti melakukan aksinya.
“Sudah, sudah Gus. Ayo, sekarang giliran kamu!” tangan Anna menarik rambutku perlahan agar menghentikan aksiku pada vagina dan analnya. Lalu ia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar sehingga menampakkan vaginanya yang merona merah jambu dengan sangat indahnya. Rambut-rambut halus di atas klitoris dan vaginanya memberikan nuansa romantis yang tak terlukiskan. Tubuh Anna benar-benar bagaikan pualam. Geliatnya begitu erotis, membuat pria manapun takkan mampu menguasai diri untuk tidak menyetubuhinya dalam keadaan begitu rupa. “Ayo sayang, jangan ragu-ragu membagikan cintamu padaku,” rayu Anna sambil terus menciumi dada suaminya yang ada di atas tubuhnya, sedang dadanya masih berada dalam kuluman Dicky, suaminya.
Aku berlutut di antara kedua pahanya dan penisku kutaruh pelan-pelan menyentuh klitorisnya. Ia menggelinjang-gelinjang antara geli dan nikmat. “Ooouggghh, jangan siksa aku dong, masukkan sayangggg!” erangnya.
Aku tidak mengikuti permintaannya, melainkan terus memainkan penisku menggesek klitorisnya hingga kurasakan semakin tegang ditekan oleh kepala penisku. Dengan tangan kananku, kupegang pangkal penisku dan kusentuhkan juga ke labia vaginanya bergantian, kiri dan kanan, lalu sesekali mengusap celah-celah vaginanya dengan kepala penis dari arah klitorisnya ke bawah. “Ssshhh, ooohhhh, enak banget sayang …. Ayo dong, aku nggak tahan nichhh …. Masukin kont*lmu Gussss ……” Anna memohon.
Tak tahan mendengar permintaannya, kujejalkan kepala penis ke celah-celah vaginanya, tapi tidak semuanya kumasukkan. Tangan kananku masih kupakai untuk menggerakkan penisku merangsek masuk dan menjelajahi dinding-dinding vaginanya, kanan dan kiri. Ia menaik-turunkan pinggulnya menyambut masuknya penisku. “Ohhhh, nikmaatttt …..” desisnya. Suaminya memandang ke arahku sambil tersenyum. Kini ia berlutut di sebelah kanan kepala Anna dan memberikan penisnya untuk dikulum isterinya.
Dengan lembut kumasukkan penisku makin dalam, perlahan-lahan hingga penisku masuk sebatas pangkalnya. “Aaaahhh …… ” erang Anna lagi. Kedua tangan Anna menarik tubuhku menindih badannya. Ia melakukan hal itu sambil tetap mengulum penis suaminya.
Gerakanku menaikturunkan tubuh di atas Anna berlangsung dengan ritme pelan, tetapi kadang-kadang kuselingi dengan gerakan cepat dan dalam. Berulang-ulang Anna merintih, “Gila Gus, enak banget kont*lmu! Oooouugghhhh … yahh …. aaahhh … sedappppp!” Pinggulnya sesekali naik menyambut masuknya penisku. Semakin lama gerakan pinggulnya makin tak menentu.
Gerakanku makin cepat dan kuat. Desahannya makin kuat mengarah pada jeritan. Dengan beberapa kali hentakan, kubuat Anna bergetar semakin tinggi menggapai puncak kenikmatan. “Gusss, terusin ….. Aaaahhhh, aku dapet lagi, oooouuggghhh!” ia menggeram sambil mengangkat pinggulnya menyambut tekanan penisku yang kuhunjamkan dalam-dalam ke vaginanya. Jari-jari tangannya memeluk punggungku dengan erat, bahkan cengkeraman kukunya begitu kuat, terasa sakit menghunjam kulitku, tetapi perasaan itu bercampur dengan kenikmatan luar biasa. Kurasakan guyuran cairan kenikmatannya membasahi penisku sedemikian rupa dan dinding vaginanya berkejat-kejat memijat batang penisku, hingga tak kuasa kubendung luapan spermaku memasuki rongga vaginanya. “Anna!!!! Ogggghhh, enak banget, sayang!” desahku sambil memeluk erat-erat tubuhnya dan menciumi bibirnya rapat-rapat. Anna menyambut ciumanku. Kurasakan bibir kami berdua agak dingin, sebab aliran darah kami seakan-akan terdesak ke bagian bawah. Kedua belah pahanya menjepit kedua pahaku dengan kuatnya dan jepitan vaginanya seolah-olah ingin mematahkan batang penisku. Dinding vaginanya masih berdenyut-denyut memilin penisku. Tak terkatakan nikmatnya.
Suaminya tahu diri dan menarik tubuh menyaksikan permainan kami berdua. Lama kami berpelukan dalam posisi berdekapan. Ia tidak mau melepaskan tubuhku. Denyutan vaginanya masih terus terasa memijat-mijat batang penisku, hingga perasaanku begitu nyaman dan damai dalam pelukannya. Beberapa kali ingin kutarik tubuhku, tapi ia tidak mengijinkan tubuhku meninggalkan tubuhnya. Ia hanya membolehkan tubuhku miring ke kanan, hingga ia pun miring ke kiri. Dengan masih berpelukan dalam keadaan miring, mulutnya masih terus menciumi mulutku. Bibir kami berpagutan dan lidahnya masuk rongga mulutku menggapai langit-langit mulutku. Kulakukan hal yang sama bergantian dengannya. Beberapa saat kemudian kurasakan cairan kenikmatan kami mengalir di sela-sela pahaku, juga kuperhatikan menetesi pahanya. Penisku mengecil setelah melakukan tugasnya dengan baik. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berbaring di sebelah sebelah kiri tubuhnya. Suaminya menempatkan diri berbaring di sebelah kanannya. Anna kini diapit oleh dua pria. Aku menatap langit-langit kamar mereka sambil merenung, betapa gilanya kami bertiga melakukan ini. Aku tak tahu apa yang ada di benak mereka berdua. Elusan jari-jari Anna di tubuhku membuatku tak habis pikir, betapa dahsyat permainan perempuan ini. Ia memiliki kekuatan melawan dua pria sekaligus. Ia mencium bibir suaminya sambil berbisik. “Mas Dicky, makasih ya atas hadiah ulang tahunnya!” Lalu ia juga mencium bibirku, menatap dengan mata berkaca-kaca dan berkata, “Gus, trims buat kadomu. Kami benar-benar berterima kasih padamu.” Aku tak menjawab, merasa bodoh, tetapi haru menyambut ciumannya disertai tetesan air yang turun ke pipinya. Aku mengusap air matanya sambil memagut bibirnya lembut. Lama kami melakukan hal itu dan kembali berbaring. Anna bangun dan mengambil handuk kecil untuk melap vaginanya yang basah oleh cairan kami berdua. Lalu ia kembali berbaring di antara suaminya dan aku.
Suaminya membelai-belai payudara Anna dan memberi tanda agar Anna menaiki tubuhnya. Rupanya suaminya minta dilayani lagi. Anna lalu menempatkan diri di atas tubuh suaminya. Mula-mula ia berjongkok di atas pinggang suaminya dan memasukkan penis suaminya dengan dibantu oleh tangan kanannya. Setelah penis tersebut masuk, perlahan-lahan ia menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh suaminya. Suaminya menyambut gerakan Anna sambil meremas-remas payudaranya.
Beberapa saat kemudian Anna merebahkan tubuhnya di atas tubuh suaminya. Gerakan mereka makin kuat. Sesekali pantat suaminya terangkat ke atas, sedang Anna menurunkan tubuhnya dan menekan kuat-kuat hingga penis suaminya menancap dalam-dalam. Aku beringsut menuju bagian bawah tubuh mereka dan memperhatikan bagaimana penis suaminya masuk keluar vagina Anna. Kudengar suara suaminya, “Ann, analmu kan nganggur tuch. Gimana kalau dimasuki penis Agus seperti yang pernah kulakukan?”
Kudengar suara Anna, “Ya Mas, aku baru mau usul begitu. Tahu nich, kalian berdua begitu pandai memuaskan aku. Ayo Gus, tusuk analku dong!” pintanya memohon.
Aku heran juga atas kelakuan suami istri ini, tetapi kupikir mungkin karena Anna pernah di luar negeri, hal-hal begini tidak aneh lagi buatnya. Bagiku memang pengalaman baru. Main dengan perempuan beberapa kali pernah kulakukan, tapi main bertiga begini apalagi mengeroyok vagina dan anal sekaligus, ini benar-benar pengalaman luar biasa bagiku.
Kuamati kemaluan kedua suami istri itu. Perlahan-lahan kuelus-elus vagina Anna yang basah oleh cairannya. Jari-jariku kemudian mengarah ke analnya. Dengan cairan vaginanya kubasahi lubang analnya. Telunjuk jari kananku kumasukkan pelan-pelan ke dalam analnya. “Yaaah gitu Gus, enak tuch…. Lebih dalam lagi!!! Ayoooo!!!!” desahnya dengan suara yang serak-serak basah karena dilanda nafsu.
Jariku masuk makin dalam ke analnya membuat gerakan tubuhnya semakin tak menentu. Dengan vaginanya dirojok penis suaminya dan jariku memasuki analnya, Anna berkayuh menuju pulau kenikmatan. “Gusss, jangan cuman jarimu dong, sayang! Sekarang masukin penismu ….. Ayooo dong!!!” pintanya.
Kedua paha Anna berada di bagian luar paha suaminya, membuka lebar-lebar celah vaginanya bagi masuknya penis suaminya. Kutempatkan kedua pahaku menjepit paha Anna. Kepala penis kubalur dengan air ludahku dan kumasukkan perlahan-lahan ke dalam anal Anna. Mula-mula agak susah, sebab sempit, tetapi mungkin karena mereka sudah pernah melakukan hal itu, tak terlalu masalah bagi penisku untuk melakukan eksplorasi ke dalam analnya. “Sssshhhh, ohhhh enak banget Gusssss! Terusin yang lebih dalam sayang!” rintihnya.
Aku bergerak makin leluasa memasuk-keluarkan penisku ke dalam analnya. Sedang dari bawah, penis suaminya masuk keluar vaginanya. Anna berada di antara tubuh suaminya dan aku, melayani kami berdua sekaligus mengayuh biduk kenikmatan tak terperikan. Gerakan suaminya makin kuat, mungkin tak lama lagi ia akan orgasme. Anna pun semakin liar menggerakkan pinggul dan pinggangnya, apalagi dari bawah, suaminya menyusu pada payudaranya secara bergantian. Jeritan Anna yang begitu kuat seperti tadi kembali memenuhi ruangan kamar itu. Namun agaknya tak masalah bagi mereka, sebab rumah mereka begitu besar dan dengan konstruksi yang begitu bagus, suara rintihan dan jeritan kami dari dalam kamar tersebut takkan terdengar keluar.
Kedua tangan Anna memeluk tubuh suaminya erat-erat sambil menekan tubuhnya kuat-kuat hingga kupastikan penis suaminya telah masuk sampai pangkalnya, sedangkan penisku kugerakkan berirama ke dalam analnya. “Gus, lagi Gus, yang kuat!!” pinta Anna. Kedua pundak Anna kupegang kuat sambil menghentakkan penis sedalam-dalamnya ke dalam analnya. Aneh, kupikir ia akan kesakitan diserang demikian rupa pada analnya, ternyata sebaliknya, ia malah merasakan kenikmatan luar biasa menyertai kenikmatan hunjaman penis suaminya.
Kami bertiga secara cepat melakukan gerakan menekan. Suaminya dari bawah, Anna di atasnya menekan ke bawah, aku dari atas tubuh Anna menekan dalam-dalam penisku ke dalam anal Anna. “Massss, oooouggghhhh Gussss…. aku dapet lagi! Ouuuggghhhhhhhhhhhh ……… sssshhhhhh ……. akkkkhhhhh,” jerit Anna. Kurasakan betapa jepitan analnya begitu kuat, sama seperti vaginanya tadi, menjepit penisku. Denyut kenikmatan kurasakan begitu hebat. Tak berapa lama, Anna memintaku melepaskan diri dari suaminya. Ia lalu berlutut tepat di depanku. Semula aku tak mengerti maksudnya.
Kuelus-elus punggung, pinggul dan payudaranya dari belakang tubuhnya. Tangan kanannya ia mencari penisku dan mengarahkan penisku ke analnya lagi. “Wah, masih mau lagi dia?” kataku dalam hati. Penisku kembali memasuki analnya dalam posisi kami berdua berlutut. Lalu ia mengisyaratkan aku merebahkan tubuh ke belakang. Aku turuti permintaannya dan dengan penis tetap berada di dalam analnya, aku berbaring terlentang sedang Anna kini ada di atasku dalam posisi sama-sama terlentang. Ia mengambil inisiatif bergerak menaik turunkan tubuhnya hingga penisku masuk keluar dengan bebasnya ke dalam analnya. Dari atas sana kuamati suaminya bangkit mendekati kami berdua dan kembali mengarahkan penisnya ke vagina Anna. Kini gantian aku yang berada di bawah, Anna di tengah, dan suaminya di atas Anna.
Desahan, rintihan dan jeritan kami silih-berganti dan kadang-kadang bersamaan keluar dari bibir kami bertiga. Tanganku kumainkan meremas-remas payudara Anna dari bawah. Beberapa saat kemudian, di bawah sana, suaminya berteriak, “Ayo sayang, aku mau keluar nih!!!!”
“Tunggu sayang,” kata Anna, dan tiba-tiba ia bangkit hingga penisku terlepas dari analnya. Dengan cepat ia tolakkan tubuh suaminya, hingga jatuh terbaring, lalu ia berlutut di antara paha suaminya dan menggenggam penis suaminya sambil memasuk-keluarkan penis itu ke dalam mulutnya. Cairan sperma suaminya muncrat mengenai wajah dan mulut Anna, tetapi ia tidak jijik menjilati cairan yang keluar itu. Kuperhatikan ulah Anna terhadap penis suaminya. Penisku masih tegang menanti giliran berikut.
Anna menoleh ke arahku sambil berkata, “Gus, masih mau lagi, kan? Ayo, sayang!” Ia kemudian menungging di depan tubuhku sambil terus menjilati penis suaminya yang semakin lemas. Kutempatkan tubuh di belakang Anna lalu kumasukkan kembali penis ke dalam analnya. “Gus, ganti-gantian dong masukin penismu, jangan hanya analku. Bergantian mem*kku juga sayang!” katanya. “Wah, hebat benar Anna, masih juga ada permintaannya yang begini rupa?” pikirku.
Kucabut penisku dari analnya dan kumasukkan ke dalam vaginanya yang merah merekah. Cairannya masih banyak tapi penisku tetap dijepit kuat sewaktu memasuki vaginanya. Usai memasukkan penis ke vaginanya dalam 2-3 kali hunjaman, kucabut lagi dan ganti analnya kutusuk 2-3 kali. Begitu seterusnya, hingga kudengar kembali ia menjerit pertanda akan orgasme lagi. “Aaaaggghhh, nikmatnyaaahhhhh …….. Gussss!!!! Ooooogggghhhh ……..” Jepitan vaginanya begitu luar biasa saat jeritannya terdengar, hingga tak bisa lagi kutahan aliran spermaku kembali memasuki kepala penisku dan keluar tanpa tedeng aling-aling. “Aaaahhh, Annn ….. nikmat sekali sayang!” erangku sambil memeluk tubuhnya dari belakang dan meremas-remas kedua payudaranya. Tubuhku masih menghimpit tubuhnya dari belakang, sedangkan Anna masih terus menciumi dan menjilati penis suaminya. Tak bosan-bosannya ia melakukan itu. Benar-benar pemain seks yang hebat!
Kami bertiga berbaring lunglai dalam keadaan telanjang di ranjang berukuran king size itu. Sprey ranjang sudah kusut dan di sana-sini lelehan cairan kenikmatan kami bertiga bertebaran. Aku benar-benar lelah dan ngantuk hingga tertidur. Lewat tengah malam, kurasakan jilatan lidah pada penisku. Dengan mata berat, kutoleh ke bawah, kulihat Anna sudah menciumi dan menjilati penisku kembali. Di sebelahku suaminya tertidur nyenyak. Penisku yang lemas, kembali tegang karena perlakuan lidah dan mulut Anna. Melihat keadaan itu, Anna senang dan mengajakku main lagi. Anna menempatkan pinggulnya di tepi ranjang, kedua kakinya berjuntai ke bawah hingga terpampanglah belahan vaginanya yang merekah. Entah sudah berapa kali tusukan suaminya dan aku telah dialami vagina ini, tetapi seakan tak kenal lelah dan memiki kemampuan tempur yang dahsyat.
Sambil menempatkan diri di depannya, penisku kuarahkan kembali memasuki vaginanya. Anna yang berbaring kembali merintih saat penis kumainkan di klitoris dan vaginanya. Geliat pinggulnya begitu erotis menyambut hunjaman penisku. Gerakan kami berdua semakin cepat, hingga akhirnya tubuhku ia tarik kuat-kuat menjatuhi tubuhnya. Penisku masuk sedalam-dalamnya menikmati remasan dinding vaginanya. Aku belum dapat lagi, sehingga penisku masih tetap tegang. Kami berdua masih berpelukan dalam posisi tersebut. Anna berbisik di telingaku, “Gus, lihat nggak tadi. Suamiku bisa main beberapa ronde, padahal biasanya satu ronde saja ia sudah menyerah. Mungkin karena ada teman mainnya, jadi semangat dia.”
Aku tidak menjawab. Ia melanjutkan, “Ngomong-ngomong penismu koq kuat banget sih, main beberapa ronde, koq kuat betul? Kau suka minum obat kuat ya? Atau kau sudah pengalaman main sama perempuan nich?” desaknya.
“Ah, aku bisa kuat gini kan karena Anna. Abis kamu dulu tolak cintaku sih,” jawabku.
“Tapi sekarang kamu bisa menikmati tubuhku juga walau aku sudah bersuami, kan?” rajuknya.
“Iya, tapi bagaimanapun Dicky masih suami kamu? Kamu bukan nyonya Agus, kan?” balasku.
“Sudahlah, yang penting hatiku dan tubuhku bisa kau miliki juga di samping suamiku,” katanya menutup pembicaraan kami, sambil menciumi bibirku lagi. Aku terdiam dan bangkit berdiri. “Mau ke mana, Gus?” tanyanya melihatku berjalan keluar kamar.
“Aku mau duduk di luar dulu,” kataku sambil melangkah keluar. Aku memungut celana dalamku dan duduk di ruang tempat kami nonton video tadi. Beberapa saat kemudian kulihat Anna menyusulku, masih dalam keadaan telanjang. Ia duduk di sebelahku. “Ada apa, Gus? Kamu tersinggung atas kata-kataku tadi?” tanyanya.
“Nggak An. Aku cuma tak habis pikir, koq bisa-bisanya aku melakukan hal ini pada kamu yang sudah bersuami dan suamimu mengijinkan,” kataku sambil menatap wajahnya.
“Gus, hidup ini memang penuh misteri,” katanya berfilsafat. “Yang penting, kita menjalaninya dengan tenang dan damai; bahkan kamu dapat pahala dengan memberikan kebahagiaan buatku dan suamiku.” “Atau kamu nyesel atas kejadian ini,” desaknya sambil membelai wajahku.
“Tidak sayang, aku tidak menyesal. Yang kupikirkan bagaimana jika aku tak mampu melepaskan diri darimu sebab dulu pernah mencintaimu,” kataku sambil menciumi rambutnya.
Anna merebahkan kepalanya di pangkuanku dan jari-jarinya bermain lembut di pahaku, bisiknya “Aku hanya menjalani hidup ini Gus. Suamiku tahu kalau aku benar-benar ingin punya anak, tapi ia tidak bisa menghamiliku. Kami sudah lama membicarakan dirimu dan menimbang segalanya. Aku, kelak kau menikah dengan gadis baik, yang bisa memberikanmu kebahagiaan seutuhnya.” Jari-jarinya terus menelusuri setiap inci pahaku hingga kurasakan penisku kembali menegang.
“An, aku mau tanya satu hal. Kuharap kau tidak tersinggung,” kataku. “Koq kau begitu ahli main, sampai main anal segala?” tanyaku.
“Oh itu. Kamu tidak usah curiga. Jenuh menunggu anak tidak kunjung ada, kami berdua suka mencoba-coba berbagai posisi. Tadinya sih atas anjuran dokter, mana tahu bisa jadi. Lama-lama setelah suamiku mau periksa ke dokter, baru ketahuan kalau bibitnya lemah, sehingga tak bisa membuahi rahimku. Tapi kami sudah telanjur suka posisi macem-macem. Begitulah ceritanya Gus!”
Aku tidak menanggapi kalimatnya dengan kata-kata, tetapi mengangkat dagunya dan mencium bibirnya. Ciuman membara yang kembali terjadi di antara kami membuat kami berdua kembali hanyut dalam gelora asmara. Jari-jarinya bermain di dadaku sedangkan jari-jariku membelai tubuhnya. Ia berlutut ia antara pahaku dan kembali mencium dan menjilati penisku sehingga mencapai ketegangan puncak. “Gimana Gus, kamu mau main lagi kan?” tanyanya sambil memandang wajahku. “Ya sayang, tapi kamu tidak capek?” “Nggak Gus, demi kamu, aku mau lagi,” jawabnya.
Anna berbaring di sofa panjang dan ketika aku akan menindihnya dari atas ia melarangku. “Kenapa, An?” tanyaku tak mengerti. “Ntar dulu, kita coba posisi ini. Kau pasti suka deh!” katanya. Ia turun dari sofa ke karpet di bawah, lalu ia tarik kedua kakinya ke arah kepalanya, kedua tangannya menahan belakang lututnya hingga kembali vaginanya terpampang lebar-lebar menantikan kedatangan penisku. Aku memasukkan penis ke dalam vaginanya sambil menikmati posisi tersebut. Sambil memasuk-keluarkan penisku ke dalam vaginanya, kuamati Anna semakin menarik bagian bawah tubuhnya ke atas sedemikian rupa hingga pinggulnya agak terangkat. Aku mulai paham maksudnya. Dengan posisi berlutut, aku memasukkan penisku ke vaginanya. Hunjaman penis agak berat kurasa dengan posisi itu, tetapi nikmatnya tak terkatakan.
Beberapa saat kami mempertahankan posisi itu, lalu ia berkata, “Gus, pegang tanganku.” Kutarik kedua tangannya dan tubuhnya melekat erat di tubuhku hingga payudaranya begitu terasa kenyal menghimpit dadaku. “Gus, kamu kuat nggak jika berdiri sekarang?” bisiknya pelan di telingaku. Aku tidak menjawab, tapi berusaha berdiri sambil menapakkan kedua tanganku di belakang tubuh. Akhirnya kami berdua berdiri dengan posisi saling menempel. Tiba-tiba kedua kakinya ia angkat tinggi dan memeluk kedua pahaku. Untungnya tubuh Anna langsing, sehingga aku kuat dibebani oleh tubuhnya dengan cara demikian. Sambil memeluk leherku erat-erat, ia menaik-turunkan tubuhnya hingga vaginanya turun naik di atas penisku. Kupegang erat kedua bongkah pantatnya sambil menghunjamkan penis ke dalam vaginanya.
“Gus, jalan yuk,” bisiknya lagi. Aku menurut saja kata-katanya. Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah mengitari ruangan itu sambil menikmati naik-turunnya tubuh Anna menghunjam penisku. Baru kuingat, inilah yang disebut dalam Kamasutra sebagai posisi monyet menggendong anaknya. Kami melakukan hal itu agak lama dan kemudian ia berkata, “Gus, aku udah mau dapet lagi. Turunkan aku dong!”
Kuturunkan tubuhnya dan ia mengambil posisi berlutut menghadap sofa sambil memintaku memasuki tubuhnya dari belakang. Kuarahkan penis ke vaginanya lalu memaju-mundurkan tubuhku sambil meremas-remas kedua payudaranya dari belakang. Erangan Anna semakin kuat ketika hunjaman penisku semakin cepat masuk-keluar vaginanya. Aku tidak ingat sudah berapa lama kami melakukan itu, ketika tiba-tiba kurasakan dinding vaginanya kembali berdenyut-denyut tanda akan orgasme lagi. “Guuuussss …. Aaaauuuukhhhhhh nikmatnya sayanggggg!!!” jeritnya sambil menghempaskan pantatnya kuat-kuat ke arah pahaku. Cairan vaginanya begitu banyak kurasakan, “Ann, koq banyak banget cairanmu?” tanyaku heran. Masih dengan napas tersengal-sengal, ia menjawab, “Gus, akh, eeeh….. aku kadang-kadang bisa orgasme sambil keluar pipis. Kalau benar-benar horny, itu yang kualami. Dengan Dicky kejadian begini amat jarang, tapi denganmu koq bisa begitu mudah kurasakan? ” “Maaf ya Gus, jadi becek gini,” katanya. “Kamu jadi nggak bisa orgasme dengan beceknya mem*kku. Pake analku lagi dech,” katanya.
Kutempatkan tubuhnya di sofa dan kuangkat kedua kakinya ke atas sambil mengarahkan penis ke analnya yang basah akibat tetesan cairannya. Kepala penisku masuk sedikit demi sedikit. Kumasukkan hingga leher penisku. Pada tahap itu, kukeluarkan lagi penisku. Demikian seterusnya masuk keluar. Ia merengek, “Gus, masukkan lebih dalam dong! Jangan siksa aku, aku jadi mau dapat lagi nih karena kepandaian kamu main!” Kutekan penisku masuk keluar makin dalam ke analnya, sementara kedua tanganku menahan kedua kakinya yang terpentang lebar-lebar. Jari-jari tangan kanannya menampar-nampar labia vaginanya dan sesekali memilin-milin klitorisnya, sedangkan tangan kirinya meremas-remas kedua payudaranya bergantian. “Kasihan juga perempuan ini, andaikan suaminya bangun, ia sudah bisa membantu meremas payudara dan menyentuh vaginanya,” pikirku. Kami berdua semakin cepat melakukan gerakan, geliat pinggulnya begitu seksi ketika hunjaman penisku semakin cepat ke dalam analnya. Dengan suatu sentakan kuat, kumasuki liang analnya sedalam-dalamnya dan kunikmati denyutan analnya yang begitu kuat hingga kurasakan seakan-akan spermaku tertahan akibat jepitan hebatnya. Aku merasa tersiksa atas keadaan itu, dan dengan cepat kucabut penisku tanpa menghiraukan protesnya, “Ada apa, Gus? Keluarin aja di situ!” Cairan spermaku hampir saja muncrat di luar tubuhnya, karena aku sudah mencapai puncak kenikmatan. Kulihat vaginanya masih membuka lebar, kupentang kedua pahanya dan kembali penis kubenamkan dalam-dalam memasuki rongga vaginanya. Denyutan vaginanya masih terasa begitu kencang tetapi karena begitu banyak cairannya, jepitannya tak sekencang analnya. Sambil mengerang kuhunjamkan penisku sedalam-dalamnya. “Guuusss, gila kamuuuuu ….. enak banget sihhhhhh?” jeritnya sambil memeluk pinggangku kuat-kuat dan merasakan kukunya lagi-lagi menancap di bagian belakang tubuhku.
Tak terasa kami berdua main dua ronde lagi di ruang keluarga itu. Dan tertidur dalam keadaan berpelukan dengan bertelanjang di karpet. Kami baru terbangun ketika merasakan silau cahaya matahari memasuki celah-celah gordyn ruangan itu. Anna terbangun, hingga membuatku juga ikut terbangun. Kami berdua berdiri sambil berciuman lagi. Sambil menggandeng tanganku, Anna mengajakku menuju kamar tidur mereka dan kami menyaksikan suaminya masih tidur nyenyak. Anna mengajakku mandi berdua di kamar mandi di kamar mereka. Kami berdua mandi di bathtub saling menyabuni tubuh dan kembali main satu ronde di dalam air. Luar biasa. Entah sudah berapa kali orgasme yang Anna nikmati. Ketika kami keluar dari kamar mandi, suaminya masih tidur, sampai Anna membangunkannya dengan ciuman lembut.
Setelah suaminya mandi, kami sarapan bertiga. Suaminya minta maaf karena begitu nyenyak tidur. Anna menukas, “Nggak apa-apa koq Mas. Agus maklum dan ia bisa melayani permintaanku main lagi di ruang keluarga dan di kamar mandi.”
“Luar biasa. Kalian berdua benar-benar hebat,” puji suaminya tanpa rasa cemburu sedikit pun. “Gus, aku sangat berterima kasih atas kedatanganmu. Belum pernah kulihat Anna segembira ini,” lanjutnya. “Kuharap ini bukan yang terakhir kali kita bertiga, walaupun tadinya aku merasa aneh dengan ide gilanya Anna mengajak kamu main dengan kami. Setelah kualami sendiri, ternyata amat nikmat. Aku sendiri merasa seakan-akan menjadi pengantin baru kayak dulu lagi,” katanya lagi. Aku hanya tersenyum menanggapi percakapan itu.
Itulah pengalamanku pertama kali bertiga dengan Anna dan suaminya. Beberapa kali kami masih melakukan hal serupa. Kadang-kadang Anna memintaku tidur di rumahnya ketika suaminya tugas selama tiga minggu di luar negeri. Tiada hari tanpa persetubuhan yang kami lakukan berdua. Uniknya lagi, saat suaminya menelepon dari luar negeri, Anna sengaja mengaktifkan headphone agar suaminya dapat mendengar desahan dan rintihan kami. Entah apa yang dilakukan suaminya di ujung sana, tapi ia berterima kasih kepadaku yang mau membantu mereka. Hal itu kami lakukan cukup lama.
Pernah Anna mengajak aku dan suaminya main bersama seorang teman perempuannya waktu kuliah di Australia. Henny namanya, orang Sunda. Orangnya tidak secantik Anna, tetapi manis. Sudah menikah tetapi juga sama dengan Anna, belum punya anak. Akhirnya aku mengerti bahwa baik Anna maupun Henny adalah biseks. Mereka bulan lesbian murni, tetap menginginkan lelaki, tetapi tak bisa melupakan teman intimnya dulu. Kisah ini akan kuceritakan di saat berikut. Suami Anna sangat berterima kasih, ketika setahun kemudian meneleponku memberitahukan bahwa Anna sedang hamil dua bulan. Ia memintaku datang ke rumah mereka, tetapi aku mengelak dengan alasan sedang ada kerjaan kantor yang tak dapat ditinggalkan. Padahal, aku tak kuasa menahan gejolak di hati, bahwa benih yang dikandung Anna adalah anakku. Aku hanya dapat berharap mereka bahagia dengan kehadiran anak itu. Tiga tahun kemudian aku menikah dengan seorang gadis Jawa. Ia tidak secantik Anna, tidak juga semanis Henny, tetapi ia mencintaiku dengan tulus dan mau menerima diriku apa adanya. Pernah Anna meneleponku karena rindu lama tak bertemu denganku dan bertanya apakah aku tidak ingin melihat anakku yang pernah ia kandung. Aku katakan rindu, tetapi tak kuasa bertemu mereka. Hanya berharap mereka bahagia dan rukun selalu. Mendengar kata-kataku, Anna terisak di telepon dan berharap, jika suatu ketika aku mau bertemu dengannya, Dicky tak pernah cemburu, bahkan jika aku memintanya, ia akan melayaniku lagi.