Showing posts with label Karya Aliah. Show all posts
Showing posts with label Karya Aliah. Show all posts




Sebagai seorang mahasiswi, aku selalu berhubungan dengan buku, apalagi ketika tugas menumpuk dan menjelang ujian. Ada yg kubeli sendiri dan ada juga yang dipinjam dari perpustakaantakaan. Untuk buku-buku teks aku selalu meminjam dari perpustakaantakaan karena lengkap. Terkadang aku juga meminjam skripsi tahun-tahun lalu untuk melengkapi referensiku.Tapi sejak bulan lalu mahasiswa jurusanku dilarang untuk meminjam atau menfotocopy skripsi maupun tesis. Hal itu karena banyaknya skripsi yang marak diplagiat. Aku tentu kurang suka dengan kebijakan tersebut, karena ku paling malas duduk lama-lama diperpustakaan hanya untuk baca buku ato mencatat.
Sebelumnya perkenankan aku memperkenalkan diri dulu. Namaku Aliah Kusuma. Umurku baru menginjak 21 tahun. Aku dikarunia wajah yang cantik. Aku tidak sombong tapi demikianlah pendapat orang-orang terhadapku. tubuhku putih langsing dengan perut rata, rambutku juga hitam panjang seperti layaknya model iklan shampo. Selain itu aku dikarunia tubuh yang sexy. Dengan kulitku yang putih mulus, ditambah lagi bulatan payudaraku yang cukup besar namun indah bentuknya, dan juga betisku yg bak pualam menjadikanku `incaran` cowo-cowo.
Oke deh, kembali ke cerita.

Hari itu hari jumat, perpustakaantakaan tutup jam 4 sore. Aku sengaja datang tepat jam 4 (jadi sebelum perpustakaan tutup). Kulihat lampu perpustakaan sudah sebagian dimatikan dan monitor komputer juga. Di dalam perpustakaan tinggal 1 orang lagi petugas sedangkan yang lain sudah pulang. Petugas itu Pak Yadi, Usianya sekitar 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. dia sedang membereskan buku-buku yang berserakan dimeja.
“Eh..mau tutup ya,Pak?”Tanyaku mengagetkannya.
Dia menatapku lalu berkata “Ya iya atuh,neng, kan sudah jam empat”.
“Aya naon?”katanya sambil mencuri-curi melihat ketubuhku. Sore itu aku memang memakai kaos oblong ketat dan semi transparan, sehingga lekuk payudaraku tercetak. Aku agak grogi juga dilihatin seperti itu.
“Ngggak, Pak….. mau minta tolong aja. Mo minjam buku. Masih bisa ga?” ujarku.
“Ya udah sok lah..tapi cepat ya. Bapak mau pulang ini!”
“Tapi pak saya mo minjam buku skripsi angkatan 96 judulnya xxx. Bisa ga,pak?tanyaku memelas kepadanya.
“Yah ga bisa atuh neng. Kan ada peraturannya dari ketua jurusan ga bisa minjam skripsi. Ntar kalo ketahuan saya dimarahin atuh”Ujarnya dengan logat sunda yang khas.
“Iya tapi gimana dong Pak. Ada tugas yang mo dikumpulin besok dan bahannya dari sana. Kalo ga ngumpulin nilai tugas saya bisa nol. Bisa ya pak”Rengakku manja sambilo menarik-narik tangannya.
Dia tetap menolak dengan tegas. Akhirnya aku utarakan bahwa ntar aku kasih rokok agar dia mau. Tapi dia menolak. Wah harus cara lain nih. Maka timbul ide gilaku. gimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dinikmatinya sehingga aku dapat meminjam buku maha penting itu. Aku yakin dia tidak menolak. Masa sih ada orang yang menolak bercinta dengan gadis muda dan cantik. Dan aku memang sudah lama ingin menggodanya.
“Pak ada ga cara lain agar aliah bisa pinjam skripsi itu?”tanyaku sambil lurus menatap matanya.
“Maksud neng naon?”tanyanya sambil duduk disebuah kursi.
“Bagaimana dengan ini?” tanyaku sambil melepaskan bajuku. Aku nekat melepaskan bajuku dihadapannya. Dia terkejut bukan main. Matanya hampir copot ketika memandang payudaraku yang masih ditutupi bra hitam tersebut.
“Ayolah Pak. Masa tidak bisa”Tanyaku sambil meremas payudaraku.
“Aliah.. ke..a……..” katanya terpatah-patah karena gugup.
Kemudian aku mendekat, kubuka kacamatanya. Wajahku mendekati wajahnya dan berbisik pelan setengah mendesah,
“Ayolah Pak, masa bapak tidak mau meminjamkan sebuah buku. Bagaimana kalo saya tukar dengan dada saya ini?”. Tanyaku makin membuatnya gemetaran. Dia mencoba meminum air putih yang ada dimeja didepannya.
Dia makin terperangah apalagi ketika aku mulai mencari kait bra hitamku dipunggung untuk melepaskannya. Kulepas braku sehingga payudaraku seperti mau meloncat keluar, karena tertahan BH yang kekecilan. Matanya melotot mengamat-ngamati payudaraku. Kemudian kugenggam tangannya dan kuarahkan kedadaku. Perlahan-lahan dielusnya dada montokku yang berukuran 34, dengan puting kemerahan serta kulitnya yang putih mulus.
“Nnngghhh… Pak” desahku menggodanya. Tangannya yang kasar sangat kontras dengan payudaraku yang halus,namun terasa nikmat.
“Tetekmu bagus juga yah Aliah, indah dan montok,” pujinya.
“Ayo,pak nikmati saja selagi bisa. Asal bapak mau minjamin buku itu, apa aja yang bapak minta akan saya berkan” bisikku lirih ditelinganya.
Mendengar itu dia lalu mendudukanku di meja perpustakaan itu. Posisiku menghadap kearahanya dengan payudaraku tepat didepan wajahnya. Dia lalu mendekatkan mulutnya ke arah payudaraku, sebuah jilatan menyapu putingku disusul dengan gigitan ringan menyebabkan benda itu mengeras dan tubuhku bergetar.
“Nnngghhh…ayo pak nikmatin sepuasmu..oh..oh…”
Puas menjilati dadaku, dia kemudian memelukku, sambil berpelukan mulut kami mulai saling memagut, lidah bertemu lidah, saling jilat dan saling belit, kuremas-remas penisnya dari balik celana hitamnya. Elusannya mulai turun dari punggungku ke bongkahan pantatku yang lalu dia remasi.
Sambil berciuman tanganku mulai melepas kancing-kancing kemejanya. Dadanya yang bidang membuatku makin bernafsu saja. Dia membantuku melepaskan ikat pinggang dan celananya. Segera kumasukkan tanganku kedalam celana dalamnya. Batanganya lumayan besar dan cukup kokoh dengan dihiasi sedikit urat. Kukocok-kocok dan keremas-remas benda itu. Tidak lama kemudian dia melepaskan CD nya sehingga terpampanglah kemalauannnya yang besar dan panjang itu. Penisnya mengingatkanku pada penis satpam rumahku. Besar dan kokoh walau tidak begitu panjang.
Aku sudah tidak sabar untuk mengoralnya. Maka kuturunkan badanku perlahan-lahan hingga berlutut di hadapannya. Penis dalam genggamanku itu kucium dan kujilat disertai sedikit kocokan. Batang hitam itu bergetar hebat diiringi desahan pemiliknya setiap kali lidahku menyapunya. Sekarang kubuka mulutku untuk memasukkan penis itu.
Hhmm.. nikmat sekali rasanya batang tuanya. hampir sedikit lagi masuk seluruhnya kemulutku tapi tidak kupaksakan karena sudah mentok di tenggorokanku. Dalam mulutku penis itu kukulum dan kuhisap, kugerakkan lidahku memutar mengitari kepala penisnya. Sesekali aku melirik ke atas melihat ekspresi wajah dia menikmati seponganku. Dia menikmati sekali permainan lidahku , dia terus merem-melek dan mendesah tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap-hisap. Lama juga aku mengkaraokenya, sampai mulutku pegal, akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak cepat-cepat keluar.
Dia lalu mengendongku keatas meja besar di perpustakaan itu. Disingkapkannya rok mini yang kugunakan berikut CD ku. Matanya tidak berkedip menatap tubuh telanjang seorang gadis cantik yang masih sangat muda.
Tiba-tiba dengan bernafsu dia bentangkan lebar-lebar kedua pahaku. Matanya seperti mau copot memandangi kemaluanku yang merah merekah diantara bulu-bulu hitam yang lebat. Sebentar kemudian lidahnya mulai menjilati bibir kemaluanku dengan rakusnya. Lidahnya ditekan masuk ke dalam kemaluanku dengan satu jarinya mempermainkan klitorisku, tangannya yang lain dijulurkan ke atas meremasi payudaraku.
“Uhhh.. .!” aku benar-benar menikmatinya, mataku terpejam sambil menggigit bibir bawah, tubuhku juga menggelinjang oleh sensasi permainan lidah dia. Aku mengerang pelan meremas rambutnya yang tipis, kedua paha mulusku mengapit erat kepalanya seolah tidak menginginkannya lepas. Lidah itu bergerak semakin liar menyapu dinding-dinding kemaluanku, yang paling enak adalah ketika ujung lidahnya beradu dengan klitorisku, duhh.. rasanya geli seperti mau ngompol. Butir-butir keringat mulai keluar seperti embun pada sekujur tubuhku.
Ruangan perpustakaan itu semakin panas saja, dimana pak Yadi sang Penjaga perpustakaan sedang menikmati kemulusan tubuhku.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Ayo pak, entot aku”Pintaku sambil menarik kepalanya dari vaginaku.
Kudorong tubuhnya untuk telentang diatas meja perpustakaan itu. Aku ingin aku yang memegang kendali dengan gaya woman on top. Perlahan-lahan kuangkat tubuku dan kududuki perutnya. Kemudian kuangkat pantatku dan mengarahkan vaginaku kepenisnya. Kuturunkan tubuhku perlahan-lahan kearah batangnya yang sudah sangat tegang. Dia memegang penisnya siap menerima jepitan vaginaku.
Penisnya kesulitan menerobih vaginaku yang masih sempit. Kepala penisnya yang besar itu mencoba menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. aku terus berusaha menekankan vaginaku yang memang sudah sangat basah ke dalam miliknya. Sedikit demi sedikit aku merasakan ruang vaginaku terisi Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku.
“Pak…aakkhh!” desahku dengan tubuh menegang. aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik. Sama sepertiku dia juga mendesah menyebut namaku saat penisnya amblas ditelan vaginaku.
“aliah……a…….nikmat sekali….” dia mendesah nikmat.
Lambat lain rasa nikmat mulai menjalar tubuhku. secara perlahan-lahan aku lalu menaik-turunkan tubuhku diatas penisnya. Kupacu kejantannya dengan goyanganku. Kadang cepat kadang lambat. Aku meliuk-liuk diatas batangnya yang besar itu. Ntah kenapa aku menjadi gadis yang liar saat iu. Biasanya aku hanya pasrah dan lawan mainku yang banyak `bekerja`, tapi sekarang aku yang aktif memcu kenikmatan diatas penis pak yadi.
Pak Yadi memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, mahaiswi dikapusnya, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan menikmati tubuh seorang gadis muda.
Tubuhku terlonjak-lonjak menahan persetubuhan yang sensasional ini. Badanku tertekuk sehingga membuat payudaraku semakin membusung ke depan. Kesempatan ini dimanfaatkan dia dengan baik. Sambil ikut mengoyangkan pantatnya dia juga meraih kedua payudaraku. Diremas dan dipilinnya benda kenyal itu hingga makin membusung tegak.
“Aaaahhkkkk…!”Aku semakin menjerit keras. remasannya membuatku merinding dan makin terbakar birahi.
Desahan-desahan nikmat menandai keluar masuknya batangnya. Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu
“ahh..ahhh…tersus pak….puaskan aku……ahhh……” jeritku seiring dengan naik-turunnya tubuhku. Sambil terus membantu menyodok-nyodok penisnya, dia juga terus memilin dadaku yang kanan sehingga kenikmatan yang kurasakan semakin bertambah.
Sekitar 15 menit lamanya kami berpacu dalam gaya demikian. Saling berlomba-lomba mencapai puncak. Sodokan-sodokannya makin lama makin cepat dan makin berirama. Tangannya yang tadi lembut mengerayangi dadaku sekarang cenderung kasar. Tapi aku tidak memeprdulikan kekasarnya Yang kurasakan hanya nikmat dan nikmat. Gesekan-gesekan diliang kewanitaanku serta remasan – remasan di dadaku membuat pertahananku sebentar lagi akan jebol.
Pandanganku kabur dan kurasakan lorong vaginaku mulai berkedut keras tanda aku mulai orgasme.
“Aaaahhkkkk…!” jeritku histeris, bersamaan dengan derasnya cairan cintaku mengalir diatas penisnya hingga habis. Aku lalu rubuh ditas tubuhnya yang kurus. Mataku sayu dan tenagaku lemas. Dia masih dibawahku dengan penis yg masih tegang.
Kemudian dia melepaskan penisnya. Aku rebahan diatas meja menatapnya yang sudah siap-siap melanjutkan ronde selanjutnya. Dielus-elusnya pahaku sambil matanya menatap wajahku. Puas merabai pahaku tangannya kini beralih kedadaku.
“kalo dari dulu saya tahu neng mau dientot seperti ini, sudah saya nikmati terus tubuh neng ini”Katanya sambil meremas-remas dadaku
“Berarti bisakan Pak, Aliah minjam skripsi itu” Tanyaku sambil bergetar menahan ransangangnya.
“Oh..bisa…bisa….jangankan 1, 10 skripsi juga bapak kasih. Asal neng mau bapak entot. He..he..”Katamya cengengesan. Kurang ajar pikirku emang aku pelacur murahan yang bisa dibayar, apalagi dibayar dengan buku. Ga sudi lah yauw. Ini juga gara-gara kepepet. Kalo ga gara-gara tugas dikumpul besok, mana mungkin aku mau.
“Neng bapak entot sekarang ya. Udah ga tahan pengen ngeluarin peju bapak di memek neng” katannyasambil merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar.
“Tapi pelan-pelan ya, pak. Aliah masih lemas nih. Tapi kunci dulu pintunya. Ntar ada masuk bisa berabe”Ujarku saat menyadari pintu perpustakaan masih terbuka.
Setelah mengunci pintu itu dari dalam dia lalu mengambil ancang-ancang. Dia berdiri didapanku, Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.
Sedetik kemudian, aku merasakan penisnya mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika benda panjang itu kembali masuk kerongga kenikmatanku.
“Aaakkhh…!” erangku lirih sambil menggigit bibirku saat penisnya melesak masuk ke dalamku. Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. Daging panas itu terus mendesak masuk. Dia lalu menggerakkan pinggangnya naik-turun. Penisnya menggesek-gesek vaginaku dengan pelan dan lambat. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekewnsi yang makin sering dan makin cepat. Pak Yadi makin cepat dan makin keras mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan nikmat yang terus-terusan mengalir dari dalam vaginaku. Payudaraku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku, keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing.
Kepalaku kugeleng-gelengkan ke kiri dan kekanan. Tangannya meraih kedua payudaraku dan diremas-remasnya dengan brutal. Keringatku bercucuran akibat sensasi nikmat.
Pak yadi menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku memekik keras setiap kali kejantanannya menyentak ke dalam. Sungguh nimat yang kurasakan. Aku sudah bisa menerima permaianan kasarnya.
“Oooh… Terus Pak , enak banget… Yahhh!” aku tak kuasa untuk tidak mengekspresikan kenikmatan yang kurasakan dengan leguhan dan desahan.
Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian dia membalik tubuhku. Tubuhku dibalikkan telungkup diatas meja dan kakiku ditarik hingga terjuntai menyentuh lantai, sehingga kini pantatku pun menungging ke arahnya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Aku yang masih lemas hanya bisa mngangkat pinggulku sedikit ,sedangkan kepalaku tetap tertunduk dimeja. Sambil meremas pantatku dia mendorongkan penisnya itu ke vaginaku. ia menyetubuhiku dari belakang.
Dalam posisi seperti ini sodokannya terasa semakin keras dan dalam, badanku pun ikut tergoncang hebat, payudaraku serasa tertekan dan bergesekan di meja perpustakaan. Dia menggenjotku semakin cepat, dengusan nafasnya bercampur dengan desahanku memenuhi ruangan ini. Mulutku mengap-mengap dan mataku menatap kosong ketumpukan buku-buku dilemari. Beberapa menit kemudian dia menarik tubuh kami mundur beberapa langkah sehingga payudaraku yang tadinya menempel di meja kini menggantung bebas. Dengan begitu tangannya bisa menggerayangi payudaraku.
Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Bahkan sesekali ditamparnya pantatku,sehingga aku tak kuasa untuk tidak mengerang. 10 menit kemudian dia bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.
“Paakk…, aakkhh…!”, aku mengerang nikmat, tubuhku mengejang hebat dan kedua tanganku mencengkram kuat pinggir meja itu.
Ya…aku telah orgasme. Cairan orgasmeku rasanya tertumpah semua membasahi selangkangan dan sebagian meleleh di pahaku. Lemas sekali rasanya, nafasku terputus-putus dengan posisi tubuh bagian rebahan di meja itu. Namun si penjaga perpustakaan itu masih bersemangat menggenjotku, tenaganya lumayan juga pikirku. Baru sekitar lima menit kemudian ia melenguh mencapai orgasemenya. Ia mencabut penisnya dari vaginaku dan cret…cret, kurasakan cairan hangat tertumpah di pantat dan punggungku.
“Uuuhh…puas Neng…memek Neng emang yahud euy!” ceracaunya sambil mengocok penisnya mengeluarkan sisa spermanya. “Ini Neng…ditelen biar ga mubazir, enak deh!” katanya sambil menyodorkan jarinya yang belepotan sperma.
Aku membuka mulut serta-merta mengulum jarinya dengan gaya yang nakal. Kami berpelukan sejenak sambil sesekali berciuman sebelum akhirnya berpakaian kembali dan pria itu menyerahkan buku yang kubutuhkan padaku.
“Pokoknya Neng, kalau mau pinjem apa aja tinggal bilang ke Bapak, pasti Bapak usahain” katanya mengobral janji.
“Huuu…dikasih daging mentah aja lu baru baik, dasar mental pejabat!” omelku dalam hati.
“Iya, makasih ya Pak, Aliyah pulang dulu yah!” aku pamitan dengan memasang senyum manis padanya.
Itulah sepenggal kisahku dengan pak Yadi penjaga perpustakaanku. Bisa ditebak, sejak saat itu aku ga kesusahan dalam meminjam buku skripsi diperpustakaan. Walau terkadang aku harus melayani nafsuny. Itu tidak masalah buatku karena aku memang suka sex. Malah penjaga perpustakaan lainnya juga ikut menikmati tubuhku. Kami pernah bercinta 3 orang sekaligus dimana aku Pak Yadi dan seorang penjaga perpustakaan yang lainnya. Aku mereguk kenikmatan yang tinggi dengan menjadi bulan-bulanan pelampiasan nafsu keduanya. Tunggu kisahku saat aku mengajak kedua penjaga perpustakaan itu beserta dua orang teman ceweku yang lain mengadakan pesta sex di villaku di puncak.
By: Aliyah



© Karya Aliyah




Sudah 2 hari ini air dirumahku mati. Aku ga tahu kenapa, mungkin karena penggalian pipa disebrang rumahku. Untung masih ada sisa di bak untukku mandi. Kalo tidak aku pasti uring-uringan ga mandi beberapa hari. Sebenarnya aku sudah mencoba untuk menhubungi petugas PDAM dari 2 hari yang lalu, tapi alasannya pekerja yang bertugas sedikit karena musim libur, jadi aku diminta bersabar.
Namaku aliah. Aku seorang mahaiswi di salah satu perguruan tinggi negri di Bandung. Aku dikarunia wajah yang cantik dan body yang sexy. banyak yang mengagumi keindahan dadaku yang berukuran 34 B,apalagi kalo aku pake baju yang kekecilan, pasti mengundang orang untuk melotot kearah dadaku. Selain itu aku punya pantat yang sekal,ditambah lagi dengan kulitku yang putih halus membuat banyak cowo-cowo menelan ludah jika melihatku. aku suka memakai pakaian yang pedek dan ketat untuk dapat memamerkan apa yang aku miliki, dan tentu saja indahnya tubuhku sering dipuji.

Umurku baru 20 tahun. Jangan tertipu dengan usiaku yang masih muda, sebab aku sudah merasakan nikmatnya dunia ini. Aku sudah sering melakukan hubungan badan. Aku suka sex. Terkadang orientasiku pacaran adalah untuk kepuasaan duniawi.
Sore itu aku sudah bersiap-siap mau mandi di kamar mandi kamarku. aku ingin hang out ke diskotik buat menghilangkan kepenatan semingu ini kuliah sekalian juga cari cowo cute yang bisa diajak kenalan. Aku tergolong cewe yang bebas dan kurang suka terikat dalam waktu yang lama.
Setelah pintu kamar kututup, kubuka bajuku dan celanaku, kemudian bra dan CD pink ku menyusul terlepas dari badanku. Kurasakan hembusan AC kamar menerpa tubuh telanjangku. Aku bersiap-siap masuk kamar mandi. Aku terkejut saat menatap bath up kamar mandiku. Airnya tinggal sedikit. Sialan…. batinku. Aku ga mungkin bisa mandi dengan air sedikit seperti itu. Maka kuputuskan untuk menelpon PDAM. Setelah ngobrol lama dan sedikit marah-marah, akhirnya petugas itu mengiyakan permintaanku untuk mendatangkan petugasnya yang kebetulan bekerja disekitar rumahku. Dengan sedikit marah kusuruh dia agar cepat.
Sambil menunggu petugas ledeng yang dijanjikannya, aku menyempatkan diri menatap cermin besar disudut kamarku. Kutatap tubuh telanjangku yang kukagumi. Aku tersenyum bangga akan apa yang kumiliki. Kulit halus, dada yang menantang dan pantat yang sekal. Kujamah dadaku yang putih mulus, Ntah sudah berapa orang yang sudah menjamahnya pikirku. Tanganku perlahan mengelus bibir vaginaku. Kemaluanku yang masih kelihatan indah walau sudah pernah dimasukin penis-penis (bahkan penis yang ukurannya membuat merinding bulu kuduk). Tanpa kusadarai aku mulai mngelus-elus bibir vaginaku. Ntah kenapa libidoku langsung naik. Belum puas aku menuntaskan hasratku, kudengar bel pintu berbunyi. mungkin petugas ledeng. Cepat juga dia batinku. Segera kuhentikan kegiatanku dan bersiap-siap untuk membukakan pintu. Kuambil daster biru ku yang berdada rendah untuk menutupi tubuh polosku. Aku turun ke bawah untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka nampaklah seorang lelaki berdiri didepan pintu dengan membawa seperangkat alat kerja.
“Sore Non” katanya menatapku. Matanya langsung mengarah kedadaku yang menyembul sedikit dibalik dasterku. Aku sedikit deg-degan manakala dia tahu dibalik dasterku sudah tidak memakai apa-apa lagi.
“Sore juga.Kok lama sih?langsung keatas aja ya. Kran dikamarku mampet,mas. Padahal mau mandi nih”ujarku mengalihkan pembicaraan.
“Ok non, mana yang mau diperbaiki”katanya sambil menikutiku dari belakang. Mungkin sambil berjalan dia pasti menatap pantatku yang bergoyang kesana-kemari. Mungkin dia tahu bahwa aku ga pakai CD dan bra, karena dasterku lumayan tipis. Aku sih cuex aja.
Setelah sampai dikamarku kusuruh dia untuk memeprbaiki kran dikamar mandiku.
“Non tadi mau mandi ya?”tanya
“Iyalah. Kalo ga mana mungkin manggil bapak”jawabku
“emang kenapa?”lanjutku heran.
“Enggak,… Beha dan Celana dalam, non diatas ranjang tuh. He..he..jadi pasti mau mandi”Katanya sambil menunjuk kearah ranjang tempat bra dan Cdku sambil cengengesan. Mati aku pikirku. Berarti dia tahu dong kalo aku ga pake apa-apa lagi. Tapi perlahan-lahan aku mulai menikmati suasanan ini. Malah ada perasaan senang kala tubuh indahku dikagumi orang lain.
“Ya udah, kenapa emang. Lansung aja kerja”ujarku pura-pura marah.
“Ok..ok..”Katanya sambil membuka bajunya sehingga badannya yang hitam mengkilat terlihat.
“Biar ga basah” katanya sambil melempar bajunya keranjang tempat bra dan Cdku tergeletak. Dia mulai bekerja memutar-mutar keran kamar mandiku. Aku menatapnya bekerja. Orangnya sedikit gendut, hal itu kulihat dari lemak yang ada diperutnya. Tapi badangnya cukup tinggi dan berisi. Umurnya sekitar 35 tahun. Dari otot-otot dilengannya aku tahu bahwa dia sering bekerja menggunakan otot.
Ntah kenapa nafsuku mulai naik. Mungkin karena sudah 2 minggu ini tidak ML atau karena masturbasiku yang terhalang tadi. Tiba-tiba Mulai timbul pikiran jorok dikepalaku. gimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dicicipinya dan aku juga dapat merasakan penisnya. Aku sudah pernah merasakan bercinta dengan pekerja kasar seperti dia (Baca kenanganku dengan penjaga kampusku), rasanya nikmat sekali karena staminanya yang kuat dan bisa membuatku melayang-layang.
Aku mulai memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan kesempatan itu. Aku yakin dia tidak akan menolak. Bodoh saja jika ada yang menolak bercinta dengan gadis muda yang cantik dan sexy sepertiku. Apalagi kondisi rumah mendukung, sepi dan sunyi tanpa orang kecuali kami berdua.
Aku lalu berpura-pura mendekat kerahnya dan berdiri dipintu kamar mandi.
“Sudah selesai belum pak”Ujarku sambil pura-pura menunduk dihadapanya. Dia bukannya menjawab malah matanya melotot kearah rongga dasterku. Aku tahu dadaku hampir setengah memcuat keluar.
“Oh..eh..sebentar lagi,non”katanya gugup sambil berpura-pura bekerja terus. Tapi sesekali diliriknya ke arahku. Aku makin menundukkkan tubuhku pura-pura mengerahkan pandangaku ke keran air yang dipegangangnya. Dia terbelalak melihat buah dadaku yang tergantung indah. Malah puting susuku sekilah tersingkap dari balik dasterku. Aku pura-pura tidak memeprhatikannya.
Perlahan-lahan kulihat tangannya bergerak kearah dadaku, dan langsung diremasnya dadaku itu. Aku pura-pura terkejut dan segera berdiri.
“Jangan Kurang ajar ya , pak. Nanti saya laporkan ke polisi” ucapku pura-pura marah.Dia bukannya takut malah dengan sigap ditanggapkapnya kedua tanganku. Lalu dibalikkannya tubuhku hingga aku dipeluknya dari belakang. Aku pura-pura meronta-ronta kala tangannya dengan kasar meremas-remas dadaku. Remasannya cukup keras sehingga aku menjerit.
“Hentikan..hentikan…..”teriakku.
“Sudahlah neng. Ga ada gunanya berontak. Kan non yang mencing-mancing saya”Katanya sambil mengarahkan ciumannnya keleher jenjangku. Aku mendesah tertahan kala bibirnya memagut salah satu titik sensitifku. Libidoku langsung naik. Apalagi tangannya mulai meraba-raba paha dan vaginaku yang sudah basah. Aku yang daritadi berpura-pura berontak mulai mendesah-desah. Meyadari aku yang pura-pura berontak membuatnya melepaskanku.
Aku tersenyum genit kearahnya.
“Nakal kamu ya…”ujarnya sambil menyergapku yang berdiri menantang. Dia lalu melumat bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu. Walaupun nafasnya bau namun naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.
Kemudian dia menurunkan dasterku dari kiri dan kanan pundakku sehingga payudaraku terpampang dihadapannya.Dia cukup kaget setelah melihat gumpalan daging yang bulat, besar dengan puting kecoklatan.
“hhmmmm…, susu non sungguh besar, sudah lama bapak tidak merasakan ini,” katanya sambil meremas-remas dadaku. Berbeda dengan awal tadi yang cenderung kasar, kali ini dia dengan lembut menikmati dadaku. Dielus-elusnya sambil putingku dipencet-pencet. Aku hanya memejamkan mata sambil bersandar ke dinding kamar mandi. Kedua payudaraku menjadi bulan-bulanan tangannya. Aku menikmatinya.
Mataku terbuka kala kurasakan sebuah benda basah menempel diujung putingku. Kulihat dia sudah mulai menggunakan mulutnya untuk melumat dadaku.
“Ouh..pak….terus……jilat dadaku…ouhhhh……..”. desahku sambil mengigit bibirku menahan gejolak didadaku.
“Senang ya bapak gigit seperti ini?”katanya sambil menggigit payudara kananku dengan pelan. Aku hanya mengangguk pelan dan makin kuat mengigit bibiku saking nikmatnya. Giginya yang bermain dipayudaraku membuatku makin melayang.
“hmmm…sungguh gempal dan padat, kencang sekali susumu…”katanya lagi sambil menarik-narik benda kenyal itu dengan mulutnya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Payudaraku merupakan titik paling sensitifku, jadi ketika memepermainkanya, kurasakan darahku mengalir dengan cepat. Puas mengerjai dadaku dia lalu melepaskan dasterku dari kakiku sehingga aku telanjang total. Matamya terbelalak melihat kepolosanku. Siapa sih yang tidak kagum melihat tubuh telanjang seorang gadis belia sepertiku. Apalagi kesexyan tubuhku kini terpampang jelas.
“Bagus ga, Pak tubuhku pak?” tanyaku sambil mengusap perutku. Dia hanya mengagguk pelan sambil matanya melotot kevaginaku. Aku yang memang gila pujian merasa senang sekali karena dia sangat menyukai keindahan tubuhku.
Karena melihat kondisi kamar mandi yang kurang kondusif untuk bercinta maka aku mengajaknya keranjang kamarku. Dia hanya mengikutiku dari belakang. Bra,CD dan bajuku dan juga bajunya yang tadinya terletak diranjangku, kubuang kelantai. Aku lalu naik ketempat tidur. Aku ingin memancing nafsunya sekaligus aku ingin melepaskan ke`liaran`ku. Maka kubuat tubuhku menungging kearahnya. Kuarahkan pantatku kearahnya seolah menantang untuk ditampar. Kepalaku kudaratkan dibantal, lalu pantatku kubuat lebih menungging. Posisiku yang menungging seperti itu membuat vaginaku bisa dilihatnya dari tempatnya berdiri. aku ingin melepaskan obsesiku yang telah lama kupendam, dimana aku dengan telanjang bulat memarkan keindahan tubuhku didepan orang lain. Kupamerkan vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus kearahnya. Matanya hampir copot melihat anak gadis berusia 20 tahun, cantik dan sexy menungging telanjang dihadapannya. Hal itu membuatku makin basah. Walau belum diapap-apain, tapi aku bisa merasakan kenikmatan yang tiada tara berpose bugil seperti ini.
Kugerakkan tanganku memanggilnya yang terbengong-bengong melihat kesintalan tubuhku yang siap menjadi santapannya. Seperti orang bodoh dia mendekat perlahan sehingga jarakku dan dia hanya tinggal setengah meter. Dia tidak tahu mau ngapain selain bengong melihat tubuh telanjangku.
“Pak…..”Desahku manja sambl menggigit bibirku kearahnya. Kuelus-elus pantatku sambil sesekali kuarahkan jariku menyelinap ke liangku. Aku berusaha menggodanya.
Kutarik tangannya untuk merasakan kehalusan kulit pantatku. Dia lalu mulai meraba-raba pantataku yang putih mulus bak pualam. Dielusnya juga kulit pahaku dengan tangannya yang kasar. Kasarnya tangannya sangat kontras dengan pantatku yang lembut. Punggungku pun kemudian menjadi persinggahan tangannya. Diraba dan dielusnya punggungku. Bahkan tangnya sesekali turun kebawah punggungku untuk meremas dadaku yang semakin ranum karena aku menungging. Bagian belakang tubuhku tidak ada yang luput dari rabaannya.
“sempurna sekali kulit,non”. Katanya sabil menepuk-nepuk pantatku yang montok.
“Ayo Pak nikmatin aku sepuasmu. Kapan lagi bapak bisa merasakan kenikmatan bercinta dengan gadis muda sepertiku”Ujarku.
Puas meraba sekarang giliran lidahnya yang merasakan kelembutan kulit pantatku. Kurasakan air liurnya dipantatku bagian kanan. Dia menjilat-jilat pantatku dari kanan kekiri. lama kelamaan jilatannya pada pantat mulusku semakin turun.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, aku bergetar seperti kestrum listrik saat lidahnya menerobos liang sengamaku.
“Oh….auw…….ohh………….”desahku tertahan. Aku makin melebarkan pahaku untuk memberikan keleluasaan pada mulutnya untuk bergerilya. lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku. Aku menggigit bantal kala ujung lidahnya masuk semakin kedalam ke liang kenikmatanku. Lidahnya bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, sehingga aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya.
Tidak berapa lama kemudian akhirnya aku orgasme dengan permainannya divaginaku.
“oh…h….aku keluar….arrrr……………………..”desahku mewarnai orgasmeku yang pertama.
Dia melepaskan tubuhku, aku membalikkan badan hingga telentang diranjang dengan sisa-sisa orgamesku. Kulihat matanya yang masih tak berkedit menatap tubuh polosku. Kami istirahat sebentar sebelum melanjutkan ronde berikutnya. Dia mendekat kearahku, Dadaku yang naik turun perlahan-lahan dijamahnya. Dielus-elusnya putingku lagi. Hal itu membuat libidoku perlahan-lahan naik lagi.
“Non,sangat cantik saat orgasme kayak gini”Katanya sambil tetap meraba dadaku.
Aku mulai berani, maka kuelus penisnya dari luar. Kurasakan benda bulat padat berada digenggamanku. Walau belum melihat penisnya, tapi aku tahu pasti ukurannya diatas rata-rata. Hal itu membuatku makin bernafsu. Aku penasaran dengan isi celana dalamnya.
“Pak,buka dong Celananya. Masa aliah sudah bugil total bapak masih pake celana”Rengekku manja.
“Tenang adik manis. Bapak akan buka, dan kamu pasti akan terkejut lihat kontol bapak”katanya sambil tersenyum.
Lalu dia membuka celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya.
“Pak sini, saya mau pegang.” Bujukku kepadanya. Dia lalu mendekat. Kusuruh dia berbaring telentang ditengah ranjang. Lalu Kugenggam penis besar itu. Sungguh panjang dan kokoh. Tangan mungilku sangat kontras dengan penisnya. Ukuranya kira-kira lebih dari sejengkal. Kuelus-elus penis itu sambil kukocok-kocok. Dia merem melak menikmati elusan jariku. Baru dielus aja udah merem-melek. Belum tahu aja dia saat merasakan isapanku, batinku.
“Pak.. aku kulum ya.. Pak!” desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu. Dia hanya mengangguk.Aku mulai menundukkan kepalaku, lalu mendekatkan wajahku kepenisnya. Penisnya tidak terlalu bau sehingga tanpa menunggu lama aku langsung memasukkannya kemulutku. Oohh.. batang itu begitu gemuk dan berdiameter lebar, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya. Kurasakan batangnya bergetar dibibir mungilku. mulutku yang kecil tidak sanggup menampung semua batangnya, masih ada sisia diluar mulutku kira-kira beberap centi lagi, tapi tak kupaksakan. Aku lalu mulai mengisapnya dan memijati buah pelirnya dengan tanganku. Dia mendesah-desah enak menikmati permainanku,
“Ah,non…enak sekali…da pengalaman ya?…ah..ah..” ceracaunya.
“Ehm…ehm….”Hanya itu yang keluar dari mulutku. aku tetap berkonsentrasi mengoralnya. Dia pasti tidak habis pikir bisa merasakan orak sex dari gadis belia yang cantik sepertiku.
Untuk menaikkan tempo permainan, Kemudian kami mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69. Aku naik ke wajahnya sehingga vaginaku tepat didepan mulutnya. Kemudian aku kembali membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah pelirnya kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya lagi.
Dia kembali mendesah-desah kenikmatan sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan tangannya mulai mengelus-elus kulit pantatku. Jarinya tidak tinggal diam. Tak berapa lama kemudian ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya. 1 buah jarinya dimasukkan lebih dalam kevaginaku sehingga aku makin melayang. Tak sampai disitu saja jari-jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klitorisku. Dan satu hal yang membuatku makin liar adalah saat lidahnya juga turut menjilati vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya.
Ruangan ini semaki panas saja, dimana terjadi pergumulan antara 2 orang yang beda umur dan beda status.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Ayo pak, entot aku”Pintaku sambil melepas penisnya dari mulutku.
Aku lalu tertidur telentang dengan vaginaku kubuka lebar-lebar siap menerima desakan penisnya. Dia ternyata mengerti, maka perlahan-lahan dia berdiri didepanku. Matanya dengan tajam memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu. Kemudian diarahkannya penisnya yang sudah tegang itu liangku. Aku memejamkan mata menikmati detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku. Walau bukan yang pertama kali bercinta, tapi Penisnya kesulitan menjebol vaginaku yang masih sempit itu. kepala penisnya yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.
“ahh……….ahhh…………..ah……hhhhhhhhhhhhhhhh……” Aku menjerit dengan panjang sama seperti pertama kali ada penis memasuki vaginaku. Dia bukannya mengerti malah dengan kecepatan tinggi mulai menggenjotku sehingga aku merasa kesakitan.
“pak…auw..pelan…….pela….n……. ohh….auw………” teriakku.
Dia tidak menghiraukan jeritanku yang meminta dia sedikit lembut. Dia malah dengan brutal menegesek-gesek vaginaku. Kuomeli dia untuk sedikit lebih lembut. Namun dia tidak menghiraukan, vaginaku dipompanya seperti orang kesetanan. Lambat laun rasa sakit mulai hilang digantikan rasa nikmat yang tiada tara.
“Ahh….ahhh……yes….nik….mat…….”desahku mulai bisa menimati kekasarnya.
Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia menggerakkan pantatnya kearahku, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukannya.
Payudaraku tergonyang-goncang ketas dan kebawah,mengikuti gerakan tubuhku. Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukurannya yang gede itu, dan ini makin membuatnya tergila-gila.
“Ohh….nikmat sekali jepitan memekmu”. Katanya….”Mimpi apa aku bisa ngentot dengan gadis cantik sepertimu..ahhh..hhhh”
“ayo,pak sodok terus. Nikmatin tubuhku..ahh..ah..”Jawabku sebisaku.
Aku kemudian menarik tangannya lalu kutempelkan di dadaku. tangannya lalu meremas-remas payudaraku yang bergoyang bebas. Diremasnya dadaku yang kanan dengan tangan kirinya. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras. Sodokannya yang liar serta remasannya didadaku membuat aku merasa vaginaku seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu duapuluh menit saja aku sudah dibuatnya orgasme panjang sementara dia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Aku menjerit sekuat tenaga merasakan cairan cintaku mengalir dengan derasnya. Dia masih terus menyodokku hingga orgasmeku makin panjang.
Lalu dia merubah posisi dibalikkannya tubuhku hingga nungging dengan kedua lututku bertumpu diatas tempat tidur. Aku yang masih lemas menurut saja apa kemauannnya. Blesss……Dia kembali menusukku, tapi kali ini dari belakang, posisi seperti ini membuat sodokannya terasa makin dalam saja. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati penisnya yang mulai keluar-masuk.. Sambil menyodokku dia meraih payudaraku yang berayun-ayun. Payudaraku dijadikannya pegangannya untuk memacu tubuhku. Kembali kenikmatan yang kurasakan.
Permainan nya sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya.Gesekan-gesekan penisnya dengan dinding vaginaku seperti menimbulkan getaran-getaran listrik yang membuatku gila. Mataku mebeliak-beliak keenakan. Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu. Suara springbedku berdenyit-denyit bercampur baur dengan erangan kami.
Tak lama kemudian aku kembali orgasme, tubuhku lemas sekali setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatku sudah menetes-netes di ranjang. Namun sepertinya dia masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih tegang. Dia cuman menarik penisnya dan duduk diranjang, lumayan aku bisa beristirahat sebentar karena dia sendiri katanya kecapekan tapi masih belum keluar. Kami menghimpun kembali tenaga yang tercerai-berai.
“Bapak kok belum keluar sih?Padahal saya sudah keluar 3 kali?”tanyaku heran sambil ngos-ngosan.
“Bapak memang punya stamina yang kuat non. Bapak kan pekerja kasar. Jadi tenaga bapak kuat. Jangankan seorang non, 10 orang juga bapak jabanin.he..he..”katanya.
Aku hanya tersenyum. Kemudian aku permisi kepadanya untuk mengambil air dikulkas. Kerongkonganku kering karena berteriak-teriak dari tadi. Aku lalu turun kelantai bawah ke arah dapur. Dengan masih telanjang (karena dirumah tiada siapa-siapa selain kami berdua), aku mendekati lemari es. Aku menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya. Lega rasanya saat air bening itu mengalir membasahi mulutku. Setelah menutup pintu kulkas aku membalik badan kulihat dia turun dari tangga dan menghampiriku. Aku melihat tubuh telanjangnya, badannya semakin mengkilat karena keringat. Kulirik penisnya masih dalam posisi tegang maksimal.
“Non lanjutin lagi,yuk. Bapak sudah tidak tahan lagi”Bujuknya kepadaku.
Sambil berkata begitu dia mengelus-elus penisnya. Sungguh aneh membayangkan seorang bapak-bapak mengocok-ngocok penisnya didepan seorang gadis belia. kemudian aku mendekatinya. Aku ingin memuaskannya. Lalu aku aku mendekatkan mulutku kewajahnya, mulut kami mulai saling memagut, lidah kami saling saling membelit. kugenggam penisnya dan kupijati. Kurasakan tangannya meraba punggungku. Elusannya mulai turun dari punggungku ke bongkahan pantatku yang lalu dia remasi. Kemudian kuajak dia ke ruang tengah lalu kupersilakan dia duduk di sofa. Aku ingin gaya woman on top.
“sekarang saya yang akan puaskan bapak”Ujarku sambil mendorongnya agar bersandar di sofa. Sofa ruang tamuku ini mengingatkanku akan Alan mantanku. Kami pernah bercinta disini. Bagaimana ya jika dia tahu bahwa sekarang seorang bapak-bapak menikmati tubuhku sama seperti dia menikmati tubuhku juga?
Kemudian kuangkat pantatku dan mengarahkan vaginaku kepenisnya. Kuturunkan tubuhku perlahan-lahan kearaha batangnya yang sudah sangat tegang. Dia memegang penisnya siap menerima jepitan vaginaku. Sedikit demi sedikit aku merasakan ruang vaginaku terisi dan dengan beberapa hentakan masuklah batang itu seluruhnya ke dalamku.
“Pa….k…..k……………ohhh………….!” desahku dengan tubuh menegang dan mencengkram bahunya. Aku tak kuasa untuk tidak menjerit pelan kala batangnya membelah bibir vaginaku. Sama sepertiku dia juga mendesah menyebut namaku saat penisnya amblas ditelan vaginaku.
“aliah……a………hhhhhhhhhhhhhhh” dia mendesah nikmat.
Kurasakan liangku penuh dan sedikit perih , tapi itu cuma sebentar karena selanjutnya yang terasa hanyalah nikmat. secara perlahan-lahan aku menaik-turunkan tubuhku diatas penisnya. Kupacu kejantannya dengan goyanganku. Kadang cepat kadang lambat. Aku meliuk-liuk diatas batangnya yang besar itu. Aku tiba-tiba menjadi gadis yang liar yang butuh kenikmatan. Aku sangat menikmati posisi ini,karena aku bisa mengendalikan permainan. Posisi ini pasti kulakukan jika bercinta dengan pasanganku.
Desahan-desahan nikmat menandai keluar masuknya batangnya. Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu
Dadaku yang sudah menegang maksimun terayun-ayun dengan indah dihadapannya. Dia juga mulai membantu menyodok-nyodok penisnya,sehingga kenikmatan yang kurasakan semakin bertambah. Sambil meyodokku dia meremas-remas pantatku. Malah terkadang dia mengangkat pantatku lalu menurunkannya lagi dengan cepat.
“ahh..ahhh…terus pak….puaskan aku……ahhh……” jeritku seiring dengan naik-turunnya tubuhku.
Tubuhku terlonjak-lonjak dan tertekuk menahan persetubuhan yang sensasional ini. Hal itu membuat payudaraku semakin membusung ke arahnya. Kesempatan ini dimanfaatkan dia dengan baik, dia langsung melumat dadaku yang kanan dengan mulutnya. Aku semakin menjerit keras. dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin terbakar birahi. Kuremas rambutnya dengan kuat. Malah dia semakin menyerangku dengan meremas-remas dadaku yang kiri serta memilin-milin putingnya. 25 menit lamanya kami berpacu dalam gaya demikian. Saling berlomba-lomba mencapai puncak. Sodokan-sodokannya makin lama makin cepat dan makin berirama. Mulutnya tak henti-henti mencupangi payudaraku yang mencuat di depan wajahnya, sesekali mulutnya juga mampir di pundak dan leherku. Payudaraku yg padat, kencang dan halus kiri menjadi kemerah-merahan akibat disedot-sedotnya.
Sungguh kenikmatan yang sangat sempurna. (Hal inilah yang membuatku ketagihan sex). Tangannya yang tadi lembut mengerayangi dadaku yang kiri, sekarang cenderung kasar. Aku sudah tidak merasakan kekasaran tanganya dan giginya yang menggit payudaraku. Yang kurasakan hanya nikmat dan nikmat. Gesekan-gesekan diliang kewanitaanku serta remasan – remasan di dadaku membuat pertahananku sebentar lagi akan jebol. Pandanganku kabur dan kurasakan kesadaranku hilang. Akhirnya akupun tak bisa menahan orgasmeku.
“Aaaahhkkkk…a….ku….ke….lu………ar…akhhhhhhhhhhh!”jeritku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku diatas penisnya.
Tapi dia belum juga selesai. Dia masih menggoyanggoyangkan tubuhnya. Aku yang sudah lemas hanya bias mengikuti irama goyangnnya. Harus kuakui sungguh hebat lelaki seperti dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali.Kemudian dengan kasar di dorongnya tubuhku keatas sofa sehingga aku telentang. Dia lalu naik ke dadaku. Di sana dia menjepitkan penisnya yang sudah licin mengkilap itu di antara kedua payudaraku, lalu dikocoknya. Payudaraku yang besar sanggup menjepit penisnya. Dia mengocok-ngocok penisnya sampai maninya menyempot dengan deras membasahi wajah dan dadaku.
Aku sudah kehabisan tenaga, kubiarkan saja maninya berlepotan di tubuhku, bahkan yang mengalir masuk ke mulut pun kutelan sekalian. Kemudian dia menempelkan penisnya pada bibirku dan menyuruhku membersihkannya. Kujilati penis itu sampai bersih dan kutelan sisa-sisa maninya. Setelahnya dia terduduk lemas disofa.
“Terimakasih Aliah. Tubuhmu sangat nikmat sekali”katanya puas.
Itulah kisahku dengan tukang ledeng. Pengalamanku dengan para pekerja kasar membuatku merindukan saat-saat bercinta dengan mereka. Sejak saat itu aku mulai berpetualang dari pekerja kasar yang satu ke yang lain.
By: Aliah



© Karya Aliah




Namaku Aliah. Umurku baru 20 tahun. Aku dikarunia wajah yang cantik (bukannya aku GR,tapi emang semua teman-temanku,keluargaku dan kenalanku juga mengakuinya). Diusiaku yang masih sangat muda, aku tumbuh menjadi gadis yang energik dan sexy seperti kebanyakan cewe bandung lainnya. Baju-baju ketat, semi-transparan dan tanktop adalah `seragam`ku. Sehinga kemolekan tubuhku makin ter-ekspose. Malah kalo dirumah aku tidak segan-segan untuk tampil sangat sexy. Toh ngapain punya tubuh sexy kalo ga dikasih tunjuk ke orang lain. Tapi aku masih punya batas-batas kewajaran.
Aku kuliah disalah satu perguruan tinggi di Bandung. Aku sebenarnya asli Jakarta, tapi aku lebih memilih untuk kuliah di Bandung. Di bandung papaku membelikanku sebuah rumah di kawasan setiabudi. Aku tinggal sendiri disana bersama pembantuku dan anaknya yang masih kecil. Terkadang aku harus sendirian dirumahku yang besar, jika pembantuku balik kerumahnya sekali seminggu. ITu sih tidak ada masalah, karena aku bisa mengajak teman-temanku nginap dirumah. Malah terkadang aku mengajak cowoku untuk nginap dirumahku. Tapi itu dulu, sekarang aku lagi jomblo. Aku mulai malas pacaran yang orientasinya hanya sex melulu. Mending aku bebas tanpa terikat dan bisa `berpetualang`.
–SEBELUM HARI-H–
Kisahku yang satu ini adalah lanjutan dari kisahku yang berjudul `Petualanganku bersama satpam dan temannya’. Sejak aku menyerahkan tubuhku pada Paimin, satpam rumahku di Jakarta, dia sering memintaku melakukannya lagi setiap kali ada kesempatan, bahkan terkadang aku dipaksanya melayani nafsunya yang besar itu. Bukan hanya itu aja , dia sering mengajak temannya, Yapto, untuk berbagi kebahagian dengan kami (Pesta Sex). Pernah malah ketika kedua orang tuaku keluar kota dan rumah sepi, mereka berdua menginap dikamarku. Dan sudah bisa ditebak, mereka mengarap tubuhku sampai habis-habisan. Walau awalnya menolak, tapi mereka sangat pintar memancing nafsuku, sehingga aku jatuh dipelukan mereka. Malah aku mulai menyukai adegan pesta sex tersebut. Ada perasaan yang hilang jika hanya pak paimin aja yang menggarapku, tapi lain hal jika mereka berdua yang sama-sama menggarap tubuhku, aku bisa mendapatka kenikmatan yang tak terlukiskan.

kali ini aku akan menceritakan kisahku yang lain bersama mereka. Waktu itu, bulan mei tahun 2004, laptopku rusak dan aku belum sempat memperbaikinya karena harus memperbaikinya di jakarta. Padahal saat itu lagi banyak-banyak tugas. Maka aku minta tolong ke papaku untuk meminjam laptopnya. Papaku setuju aja, mereka berencana akan mengirim satpam rumahku,Pak Paimin, ke Bandung akhir pekan ini untuk membawa laptop. Mendengar bahwa pak paimin yang akan mengatar laptop, ntah kenapa aku jadi senang. Terbayang petualangan-petualagan yang pernah kami alam, teringat dia menggenjotku sampai aku hampir mati karena lemas. Kenikmatan tersebut ingin terulang lagi, apalagi sudah 3 bulan ini aku ga balik ke jakarta (dan selama itu pula aku dan aimin tidak ML). oleh karena itu aku berancana akan mengulang kenikmatan yang pernah kami reguk di Bandung. Aku jadi horny membayangkan penis hitam pak paimin yang tegang dan berurat. Sehabis menelpon, aku libidoku naik, dan aku masturbasi membayangkan pak paimin.
Malamnya Pak Paimin menelponku dari wartel. Katanya dia sangat senang akan bertemu denganku di bandung. Dia ingin ML denganku. Malahan dia bilang ke orangtuaku bahwa dia akan mengeinap semalam di bandung, untuk menjenguk saudaranya (padahal akan menginap dirumahku). Aku juga senang. Malahan aku memintanya untuk mengajak pak Yapto.
– HARI-H –
Aku tak sabar menunggu kedatangan pak paimin dan temannya dirumahku di bandung. Aku sudah memepersiapkan semuanya. Malah pembantuku kukasih ijin pulang. Tepat jam 7 malam pak paimin tiba. Aku sangat senang melihatnya, tapi aku sangat kaget ketika yang datang bersamanya bukan pak yapto,melainkan seorang lelaki paruh baya.
“Hai, neng…… pa kabar?” ujarnya ketika baru keluar dari mobil.
“Baik,Pak. Silahkan masuk”senyumku sambil menerima laptop darinya.
” oh, iya kenalin nih teman bapak”katanya sambil menunjuk lelaki disebelahnya.
“aliah”ucapku sambil tersenyum.
“Baron”katanya sambil mengenggam tangnn halusku. Orangnya kira-kira seumuran pak paimin,40 tahun. badannya tinggi besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman, dan rambutnya agak beruban.
“Pak Paimin sudah banyak cerita tentang neng,Aliah. Ternyata benar, neng aliah sangat cantik.he..he..”katanya sambil terkekeh.
Aku hanya tersenyum saja menanggapi ucapannya.
“Emang Pak Paimin cerita apa aja?”Tanyaku, yang langsung dijawab sendiri oleh Pak Paimin.
“Aku bilang kamu ini suka isap anu bapak. Dan suka menjerit-jerit kalo lagi dientot ama saya. He..he…”Kata pak paimin terkekeh-kekeh. Aduh.. aku malu sekali. Kesanku jadi gimana gitu dihadapan Pak baron yang baru kukenal. Maka kucubit pinggang pak paimin.
“Ga usah malu,neng,Bapak juga mau kok muasin neng.he..he..”Pak baron menimpalin.
“Ah,ngaco bapak-bapak ini. Masuk dulu deh, mau makan ga?’ucapku menghentikan pembicaraan yang mesum ini.
“jangan marah ya neng. Bapak sengaja membawa teman bapak Baron untuk nemanin bapak. Bapak yakin neng pasti puas akan pelayan dia. Masa Yapto terus yang menikmati tubuh neng. Sesekali ganti orang,dong. He..he..”Bisik pak paimin kepadaku sambil menyerahkan laptopku.
Aku tidak marah, malah justru penasaran dengan ucapan pak baron. Apa benar dia bisa memberikan kenikmatan yang lebih bagiku. Walau baru kenal aku udah ga sabar ingin melihat penisnya seperti apa. Ntah kenapa libidoku memang lagi gampang naik. Sejak aku putus lagi dari cowoku, beberap minggu yang lalu, aku belum pernah mereguk kenikmatan dunia lagi. Ditambah lagi dari pengalamannku bercinta dengan lelaki paruh baya lebih mengasikkan. Mereka lebih bisa membuatku melayang.
Malamnya sehabis makan, kami ngobrol-ngobrol diruang tamu. Sudah tidak ada lagi kecanggungan diantara kami bertiga. Malah terkadang mereka becanda kelewatan sambil meremas dadaku atau mengusap pahaku. Aku sih cuek aja. Toh cepat atau lambat kami pasti akan merasakan tubuhku.
Kemudian aku permisi untuk kekamar atas sebentar. Baru aku masuk kekamar, aku dikagetkan dengan kehadiran merka berdua dibelakangku. Aku tahu maksud mereka, mereka pasti sudah tidak sabar lagi ingin menikmati tubuhku. aku tak menolak kala pak paimin mendekat kearahku, lalu mendudukkanku diranjang kamar. Mereka berdua mengapitku disisi kanan dan kiri. Aku agak gugup juga karena baru kenal dengan pak baron.
“Neng aliah cantik sekali…”kata paimin sambil mendekatkan mulutnya kebibirku. Mataku terpejam menikmati cumbuannya, lidahnya terus mendorong-dorong memaksa ingin masuk ke mulutku, lidahku secara refleks beradu karena dia selalu menyentil-nyentil lidahku seakan mengajaknya ikut menari. Suara desahan tertahan, deru nafas dan kecipak ludah terdengar jelas olehku.
Pak baron yang disebelahku tidak tinggal diam, dia lalu meremas dadaku dari luar. Remasanya cukup keras sehingga aku mendesah panjang. Dia dengan intens meremas-remas dadaku. Aku hanya terpejam mendengar pujiannya akan keindahan dadaku (padahal belum dilihatnya dalamnya). Mataku yang terpejam terbuka ketika kurasakan tangan kasar Pak Baron mengelusi paha mulusku, dan terus mengelus menuju pangkal paha. Jarinya menekan-nekan liang vaginaku dan mengusap-ngusap belahan bibirnya dari luar. Birahiku naik dengan cepatnya, terpancar dari lumatanku pada bibir pak Paimin yang makin liar dan vaginaku yang mulai becek.
Kemudian pak paimin melepas mulutku, lalu bibirnya bergerak dileher jenjangku. Diciuminya leherku sehingga membuatku makin menggelinjang. Sementara lidahnya menjilati leher jenjangku,dia juga perlahan-lahan tangannya mengerayanggi dadaku. Mulutnya dari bawah leherku naik ke atas terus menggelikitik kupingku dan menyapu wajahku yang mulus.
Aku makin mendesah panjang kala pak baron menaikkan tempo permainan. Tangannya sudah menyusup ke balik celana dalamku, jari-jarinya mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitorisku, benda seperti kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jarinya membuatku menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat, terlebih lagi jari-jari lainnya menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam liang itu.
“Oh..pak ..puaskan aku…”. desahku.
Pak paimin berdiri disampingku sambil membuka bajunya. Pria kurus itu juga membuka resleting celananya hingga penisnya yang sudah tegak menyembul keluar, lalu tanganku digenggamkan padanya dan disuruh mengocoknya. Penis itu kugengam sambil kuelus-elus, banda yang sudah lama tidak kusentuh.
Kemudian pak baron membuka kancing-kancing kemeja tipis yang kupakai beserta braku hingga payudaraku terpampang didepan mereka. Aku melepaskan penis pak paimin dari gengamanku dan membantunya melepaskan atasanku. Matanya melotot mengamat-ngamati dan mengelus payudaraku yang berukuran 34B, dengan puting kemerahan serta kulitnya yang putih mulus. Dia terbengong-bengong menyaksikan keindahan tubuhku. Tanpa menunggu lama diremasnya dadaku yang sebelah kanan.
“Indah sekali dadamu aliah…”Katanya sambil memilin-milin puting susuku.
Pak Paimin yang penisnya istirahat kukocok, kemudian mencaplok dada kiriku dengan mulutnya. Dia yang memang sangat menyukai payudaraku menjilatinya dengan liar dan ganas. Aku makin mendesah-desah hingga mulutku terbuka lebar.
“Nnngghhh… Pak” desahku dengan mendongak ke belakang merasakan mulutnya memagut payudaraku yang menggemaskan itu. Hal itu tidak disia-siakan pak baron.Bibir mungilku dipagutnya , kami berciuman dengan hot, lidahku dan lidahnya saling jilat dan belit.
Puas menyusu dariku, mulut Pak Paimin perlahan-lahan turun mencium dan menjilati perutku yang rata dan terus berlanjut makin ke bawah sambil tangannya menurunkan rok beserta celana dalamku. Kini aku telanjang bulat. Polos tanpa sehelai benang pun ditubuhku. Pak paimin berhenti sejenak menatap bulu vaginaku yang beberapa hari lalu kucukur. Nampak dia terbengong-bengong.
“cukur jembut yah,neng?” tanyanya terhadap bulu kemaluanku yang kurapihkan pinggir-pinggirnya. Aku melepaskan ciumanku sambil tersenyum. Pak Baron menghentikan ciumannya untuk sejenak menikmati pemandangan tubuh mulusku dibawah cahaya lampu kamar. Matanya melotot menyaksikan keindahan vagina seorang gadis muda berusia 20 tahun.
Kemudian tubuh polosku dibaringkan kasur dan mereka pun kembali menjarahnya. Kali ini Pak baron mendekat kearah vaginaku. Dijulurkannya lidahnya untuk merasakan kehalusan kulit pahaku. Dia menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku. Kurenggangkan kedua pahaku agar lidahnya bisa menjelajah lebih luas.Aku bergetar hebat saat lidahnya menerobos liang sengamaku. Seperti kena sengatan tawon kala lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku. Dia melakukan lebih dari sekedar menjilat, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku.
Bersamaan dengan itu Pak Paimin pun sudah melumat payudaraku, Mulutnya menjilat, mengisap, dan menggigit pelan putingnya. Sesekali aku bergidik keenakan kalau kumis pendeknya menggesek putingku yang sensitif. Tangan lainnya turut bekerja pada payudaraku yang sebelah dengan melakukan pijatan atau memainkan putingnya sehingga kurasakan kedua benda sensitif itu semakin mengeras. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan meremasi rambutnya yang sedang menyusu.
Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani kujambak rambut Pak Baron dan merengek-rengek meminta mereka untuk terus melakukannya.
“Aaahh…….teruss.. sshh.. enakk sekalii”
Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Pak Paimin-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.
“Aaagghh…. akuu.. oohh” jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai, terkapar tak berdaya di ranjang. Aku orgasme.
Kupejamkan mataku mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenagaku yang terkuras. Mereka lalu melepaskan tubuhku. dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan.
Belum pulih benar tenagaku, tiba-tiba kurasakan hembusan nafas dipayudaraku dan rasa tidak asing lagi…. bibir dan lidah Pak Baron mulai lagi. Kubuka mataku dan aku terkejut melihat Pak Baron yang sudah sama-sama polos sepertiku. Aku lebih terkejut lagi melihat penisnya yang besar itu. Panjangnya hampir sama dengan penis pak paimin, tapi ini lebih gemuk. Diameternya lebih lebar, warnanya hitam pula. Suatu pesona tersendiri bagiku menyaksikan batang berotot itu.
Puas menjilati payudaraku, dia lalu berdiri. Diangkatnya tubuh polosku agar duduk ditepi ranjang. Dia berdiri didepanku dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, bahkan semua lelaki ingin dilakukan seperti itu,oral sex. Maka aku bersimpuh dilantai, lalu perlahan-lahan kuraih kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu. Penisnya bergetar dalam genggamanku. Tanganku tidak cukup untuk menggengam penisnya yang besar itu. Perlahan-lahan kukocok-kocok batangnya itu keatas dan kebawah. Dia menatapku, seorang gadis muda yang cantik, sedang mengelus-elus penis tuanya. Aku ingin lebih memuaskannya maka kuarahkan mulutku ke penisnya. aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vitalnya ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda seperti pentungan satpam itu kukulum dan kujilati. Kukeluarkan semua keahlian yang pernah kudapat.
“Oh..neng Aliahh…sudah pengalaman ya….?” tanya sambil mendesah-desah kenikmatan.
“Ehm..ehmm…”hanya itu yang keluar dari mulutku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.
Pak Paimin yang dari tadi hanya melihat putri majikanya memeberikan kenikmatan, lalu mendekati kami. Dia meraih tanganku untuk menggengam kemaluannya. Kuraih penis hitam itu lalu secara perlahan-lahan kukocok. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tapi aku lebih sering mengoral punya pak baron (karena barang baru), sedangkan penis pak paimin lebih sering kukocok pakai tanganku. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Pak Paimin meminta untuk ambil posisi di tengah ranjang. Tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku diposisikan doggy style sambil mengulum penis pak baron.
Aku mulai merasakan ada jari yang merenggangka vaginaku, kemudian disusul dengan sebuah benda keras yang menyeruak masuk. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi penisnya memasuki vaginaku. walau sudah basah, aku masih merasakan sedikit nyeri di vaginaku. Karena memang ukuran penis pak paimin memang lumayan besar. Tapi rasa perih yang sedikit ditutupi oleh kenikmatan yang besar. Pak paimin juga merasakan nikmatnya jepitan vaginaku diujung kepala penisnya. Didorongnya penisnya itu lebih kedalam hingga amblas semuanya ditelan ronggaku. Kontan tubuhku bergetar hebat.
“Ooohh.. Pak.. ngghh”erangku sambil melepas penis pak baron dari mulutku. Pak paimin perlahan-lahan menggenjot vaginakau, tapi makin lama makin cepat sehingga desahanku menjadi erangan pankang. Pak baron tidak menyia-nyiakan mulutku yang terbuka lebar, diatancapkannya penisnya kemulutku, sehingga aku tidak bisa berteriak lagi.
Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepala pak Paimin merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokan dan kulumannku pada penis Pak Baron makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Pak baron ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat. Bahakan sesekali dia menjambak rambutku ketika aku menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu memenuhi mulutku yang mungil, malah masih ada sisaanya diluar. Hal itu membuat aku susah bernafas. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak baron. Bersamaan dengan itu pula genjotan Pak Paimin terasa makin bertenaga.
“Neng…neng say keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan. Aku melepaskan penis pak baron dan jatuh telungkup diranjang . Aku sangat lemas. Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat sangat banyak.
“Neng, bisa ga bapak tusuk sekarang? udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng” kata Pak baron sambil membalikkan tubuhku. Aku tahu itu hanya basa-basi, sebab jika aku menolak sekalipun dia pasti akan tetap memkasaku. Maka, walau masih lemas banget, tapi kuanggukan kepala merestuinya
“Tapi pelan-pelan ya….”kataku sambil menatap ngeri ke penis supernya.
Dia nampaknya senang, karena sebentar lagi akan merasakan kenikmatan gadis cantik yang masih muda lagi. Lalu dia mengambil posisi berlutut di depanku. dibukanya pahaku lalu diarahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian .
“Suka ga neng bapak ginikan?”Tanyanya sambil terus menggesek-gesek.Dia nampaknya tidak mau buru-buru. Dia senang melihatku tersiksa seperti ini.
“Aahh.. iya…senang…” desahku tak tertahankan.
Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Penisnya susah sekali menerobos vaginaku walaupun sudah dilumasi oleh lendirku. dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi.
“Wah.. sempit banget memeknya Neng” ceracaunya. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Dia yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.
“Oh..oh…”hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara. Malah kini aku juga ikut menggoyang-goyangkn pantatku secara aktif. Melihat aku ang sudah `in` dia makin bersemangat. Dia lalu ingin berganti posisi. dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan menaikkan tubuhku ke penisnya. Dia rupanya ingin memberiku kepuasan lebih dengan cara aku yang memegang kendli. Aku sangat senang dengan posisi ini. Maka Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda perlahan-lahan itu amblas ke dalamku. Aku merintih kesakitan sebentar kala penisnya makin dalam menyentuh liangku. Tanpa menunggu lama aku lalu menaik turunkan tubuhku perlahan-lahan. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari.
Mukanya yang memerah menambah sensasi sendiri bagiku untuk lebih liar lagi. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku terus-menerus diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi payudaraku yang bergoyang-goyang.
Pak Paimin menonton adeganku sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memncing adik kecilnya untuk `bangun`.
“Ayo…goyang neng…oohh!” Pak Baron sepertinya ketagihan dengan goyanganku. Tangannya tetap meremas-remas dadaku, bahkan sesekali dicondongkannya wajahna untuk melumat payudaraku. Kontan aku menjerit-jerit makin kuat.
Jeritanku membuat pak baron makin bernafsu begitu juga Pak Paimin, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku. Dia mengelus-elus pipiku yang putih mulus.
“Emut neng…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya kemulutku yang mendesah-desah. Dengan setengah memaksa dia menjejalinya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu kemulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, ntah kenapa aku tidak merasa jijik. Malah kupakai ujung lidahku untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Pak paimin blingsatan sambil meremas-remas rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak baron.
“ah uh ah..yes..”suara-suara itu membahana dikamarku. Untung pembantuku tidak ada sehingga aku puas untuk menjerit.
Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap penis Pak paimin makin keras. Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitifku, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme sudah diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Pak baron menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan juga. “Aaaahhhhh….!!” Dengan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langit-langit kamar. Kami orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalamku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku.
penis pak paimin yang sudah tegang benar kulepaskan lalu aku ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak baron. Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup keringat yang mengucur.
pak baron lalu melpas tubuhku yang sangat lemas. Dia mengambil air untuk minum. Penisnya sudah tidak setegang yang tadi. Aku telentang menghadap pak paimin yang sedang mendekat kearahku. Aku meminta waktu istirahat ke paimin yang sudah bersiap-siap ingin mengagahiku. Tapi sepertinya dia sudah on fire. Dia menyalakan AC kamar untuk mengurangi hawa panas. Kemudian dia mengambil handuk kecil dan membersihkan vaginaku yang belepotan sperma. Usapan ujung handuk di vaginaku cukup membuatku bergetar.
kemudian tubuhku dibalikkan dalam posisi menungging, walau susah tapi aku paksakan. dia menepuk-nepuk pantatku yang montok. Puas menepuk sekarang giliran lidahnya yang merasakan kelembutan kulit pantatku. Mulutnya dengan rakus menciumi pantatku. Lidahnya menelusuri vagina dari atas kebawah. Dan satu hal yang membuatku merinding adalah ketika lidah memjilati anusku. Pak paimin tanpa perasaan jijik masih terus menjulurkan lidahnya dia anusku sehingga memberiku sensasi geli.
Puas merasakan nikmatnya vagina dan anusku, dia kemudian meludahi bagian duburku beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. Aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati semoga dia tidak menyerang anusku, karena aku sudah membayangkan ngerinya kalau batangnya itu membobol pantatku yang masih perawan. aku belum pernah anal sex, dan tidak punya keinginanan untuk melakukannnya. Karena sakit. Sunguh aku lemas jika membayangkan rasa sakit jika penisnya menusuk-nusuk anusku seperti menusuk-nusuk vaginaku.
belum habis aku berfikir aku dikejutkan oleh sebuah benda lonjong dibibir lubang anusku. Aku kontan menarik pantatku. Tapi Pak paimin menarikku.
Aku terkejut dan mencoba berontak “Jangan pak…jangan di situ…. sakit” ibaku.
“Tahan dikit neng, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang. Dia perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anusku. Anusku kontan mengerut. Dia masih terus berusaha melicinkan jalan penisnya.
Aku merintih sambil menggigit guling menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada duburku yang lebih sempit dari vaginaku. Air mataku saja sampai meleleh keluar.
“Aduuhh… Sudah dong Pak… Aliah nggak tahan” rintihku kesakitan. Sungguh rasanya seperti ditusuk silet. Tapi dia tidak dihiraukannya. Maka dengan paksa terus dimasukkannya penisnya ke anusku.
“Uuhh… Sempit banget nih” dia mengomentariku dengan wajah meringis menahan nikmat.
Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penisnya. Bantal guling makin keras kugigit karena saking perihnya. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.
“Auhhh….sakit…”
Aku menjerit keras saat dia mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuhku pun ikut terhentak-hentak. Aku tidak bisa melukiskan rasa sakit yang aku rasakan. Tanpa menghiraukannku dia tetap mengengot duburku. Untuk merangsangku, tangannya meraih kedua payudaraku yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut. Tapi remasannya kalah dibandingkan rasa sakit yang kuterima.
“pak..u..da..ah….aliah..sa..kit” jeritku panjang. Keringat dan air mataku bercucuran. Jeritanku itu bukannya membuatnya kasihan malahan membuatnya makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan payudaraku yang menggantung diremas-remas dengan brutal. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan Lambat laun mulai kuraskan nikmat sedikit. Tapi walaupun begitu air mataku tetap bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tengah rasa perih dan ngilu. Rasa sakit itu kurasakan terutama pada dubur, aku mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, namun aku juga tidak rela dia menyudahinya. Terkadang aku harus menggigit bibir atau bantal untuk meredam jeritanku.
Lama-lama rasa sakit oleh sodokkannya mulai sirna berganti dengan rasa nikmat, apalagi waktu dia tarik wajahku dan memagut bibirku, diciumnya aku dengan lembut, rasanya seperti dicium seorang lelki muda. Sungguh suatu perpaduan keras-lembut yang fantastis, dia perlakukan anus dan dadaku dengan kasar, tapi di saat yang sama dia perlakukan mulutku dengan lembut.
Akhirnya ada sesuatu perasaan nikmat mengaliri tubuhku yang kuekspresikan dengan erangan panjang, ya aku mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuhku menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak bertulang. Pak paimin sendiri menyusulku tak lama kemudian, dia menggeram dan makin mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu dia mencabut penisnya dariku dan membalikkan tubuhku. Spermanya muncrat dengan derasnya dan berceceran di sekujur dada dan perutku, hangat dan kental dengan baunya yang khas
Aku lemas sekali. Kurasakan anusku terbuka lebar dan perih.
Malam itu mereka kembali menjarahku.
TAMAT
By: Aliah



© Karya Aliah




Aku memiliki seorang teman dekat, namanya Santy. Orangnya cantik dan sexy. Dia memiliki tubuh yang ideal, tinggi 170 cm, berat 42 kg lebih, kulit putih mulus dan pantat yang sexy. Dia sangat pintar merawat tubuh dan penampilannya, sehingga kecantikannya semakin terpancar. Kemana kami pergi kesitu juga mata orang-orang memandang kami. Kami memiliki kesamaan yang membuat kami makin kompak. Kami sama-sama suka ke salon, belanja dan dugem. Dia benar-benar teman sejatiku. Kami sering bertukar cerita tentang berbagai hal, yang paling sering adalah tentang SEX. Ya..kami berdua sama-sama cewe konservatif. Kami selalu berbagi cerita dan semakin lama cerita kami makin hot saja. Dia selalu ingin tahu pengalaman sex-ku demikian juga aku. Berbeda denganku yang masih jomblo, Santy sudah punya Cowo. Dia termasuk tipe cewek yang setia, buktinya dia sudah pacaran dengan Boy cowoknya lebih dari setahun. Selama itu pula mereka selalu mengeksplorasi kenikmatan duniawi. Tapi aku tahu sebenarnya Boy hanya mencintai tubuh Santy yang sexy, yang bisa dinimatinya setiap saat. Tapi walau pacaran dengan Boy, Santy sesekali juga mau selingkuh. Katanya sekedar cari pengalaman. Dia pernah cerita denganku bahwa dia ingin sekali merasakan nikmatnya pesta sex (bercinta dengan lebih dari 1 pria),tapi dia sendiri ga berani memulai. Takut ga tahan katanya. Maka timbul niat gilaku, aku ingin menjebaknya, agar dia bisa merasakan nikmatanya pesta sex.
Dikampus kami Santy lumayan banyak penggemar, mulai dari cowo tajir dan tampan sampai cowo brengsek dan urak-urakan. Salah satu yang naksir Santy adalah Rino, teman satu jurusanku juga. Oranganya biasa-biasa aja. Badannya kurus karena sering pake narkoba. Dia sudah lama ingin merasakan kenikmatan tubuh Santy. Maka aku berencana mengajaknya dalam rencanaku,yakni menjebak Santy. Setelah kuutarakan niatku, dia sangat setuju sekali. Mukanya penuh nafsu menerima tawaranku. Kusuruh dia mengajak 2 orang temannya juga. Kemudian Aku dikenalkan dengan kedua temannya yakni Losa dan Runtu, keduanya sama-sama dari ambon. Losa berperakan tinggi besar dengan otot-otot yang menonjol. Runtu badannya hitam dan berkepala plontos. Mereka berdua jauh dari kategori ganteng. Setelah semua sepakat kusuruh mereka mempersipakan `pekerjaan` ini.

Sore itu aku mengajak Santy ke rumahku. Tentu saja pembantuku sudah kusuruh keluar agar aku bebasa melaksanakan niatku. Rino, dan kedua temannya yaitu Losa dan Runtu sudah kusuruh sembunyi dikamarku.
“Emang mau ngapain sih al, gw kerumah lo?”tanya Santy di mobil.
“tenang aja,San,Gw ada kejutan buat lo.”jawabku sambil tersenyum simpul.
“kejutan apa?”tanyaya sambil menatapku yang senyum-senyum sendiri.
“POkoknya tenang aja. Kejutan yang ga akan lo lupaiin. Malahan lo pasti terimakasih deh ama gw”Jawabku sambil tertawa. Dia membalas dengan mencubit dadaku. Kontan aku menjerit,karena cubitanya didadaku lumayan keras.
“apa-apan sih lo,San?”tanya saking terkejut
“makanya jangan sok surprise”jawabnya terkekeh-kekeh. Awas loe ya, batinku, tunggu aja nanti sampai lo menjerit-jerit.
Setelah sampai dirumahku, kusuruh dia mengikutiku kelantai atas kamarku. Disana ketiga lelaki yang sudah penuh nafsu menunggu sambil bersembunyi. Begitu Santy masuk, ketiga orang itu menyergapnya. Rino mendekapnya dari belakang sambil memegang dia mendekap mulutnya. Losa memang tanganya yang meronta-ronta sedangkan Runtu menunduk kebawah sambil memegang kakinya. Santy memberontak sekuat tenaga. Tapi pemberontakan itu ternyata membuat ketiga laki-laki itu makin bernafsu saja. Mereka menggerayangi tubuh Santy yang sexy semaunya.
Losa langsung melepas baju yang dikenakan Santy berikut bra yang menutupi dadanya sehingga payudara Santy yang sexy terpampang dihadapannya. Dada Santy sangat indah dengan ukuran 36B dan puting kemerahan yang sangat sexy. Tanpa menunggu lama segera Losa menjamah payudara Santy. Diplintirnya puting Santy yang sebelah kiri.
Rino juga mulai beraksi, dilumatnya leher Santy dari belakang sambil tangannya merengkuh payudara Santy yang kanan. Dia juga sangat mengagumi keindahan dada Santy, sehingga dengan bernafsu terus-menerus dijamahnya.
Melihat temannya sudah mulai beraksi, Runtu juga tak mau kalah. Rok mini Santy diangkatnya keperut lalu diturunkannya CD pink yang membalut kemaluan Santy. Dibentangkanya kedua tungkai itu, lalu diarahkanya mulutnya kearah vaginanya. Lidah runtu menerobos kedalam rongga kemaluan Santy. Diperlakukan seperti itu membuat Santy mendesah-desah tertahan karena dekapan Rino dari belakang. Lambat laun rontaan Santy mulai melemah, dan dia mulai terbawa suasana. Sungguh Santy tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan oleh ketiga lelaki itu dengan gampang dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan mereka.
Rino lalu melepas tanganya dari mulut Santy, lalu beralih kedada Santy.Remasan tangan-tangan nakal diekujur tubuhnya membuat Santy tak kuasa untuk tidak mendesah
“OH..oh…..Tega banget sih lo,al”Katanya menatapku tajam.
“Nikmati aja,San, lo kan yang minta mau orgy sex. Harusnya lo terimakasihkegue.”ucapku sambil tersenyum
“Iya tapi…AHHH…..” Santy tak melanjutkan ucapannya. Dia berteriak karena Runtu sekarang sudah mengorek-ngorek vaginanya dengan 2 jarinya.
Aku lalu berjalan kearah lemari kamarku. Aku ingin mengabdikan persetubuhan ini, maka kuambil handycamku. Aku iseng-iseng ingin mensyuting adegan tersebut. Kuhidupkan handycamku dan kuarahkan ketengah ruangan kamarku dimana Santy sedang digerayangi oleh 3 lelaki.
“Apa-apan sih lo,Al….ohhh…h…..hh…”. Protes Santy melihatku laksana seorang sutradara mensyutingnya. “jangan macam-macam deh. Ntar kesebaran gimana”lanjutnya khawatir.
“tenang aja. Cuma kita yang punya back up nya. Ga akan kesebaran kok”jawabku sambil terus mengarahkan handycam ketubuh mulusnya.
Santy nampaknya mau protes lagi, tapi tertahan oleh lumatan Rino. Dia mulai membalas ciuman rino dengan liar. Dia nampaknya sudah sangat bernafsu sekali. Momen itu tidak kusia-siakan, kuarahkan handycamku kewajahnya yang asik melumat Rino.
Kemudian ketiga laki-laki itu mengiring dan mendudukkan Santy ditepi ranjang. Mereka semuanya sangat terpesona menatap tubuh telanjang Santy. Dada Santy yang besar nampak naik turun seiring desahn nafasnya.
Rino yang memang sudah sangat bernafsu langsung melepas dan celananya hingga telanjang. Walau badannya kurus namun penisnya lumayan besar juga. Dengan kasar ditariknya kepala Santy kearah kemaluannya. Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Santy, kepala penis Rino telah terjepit di antara kedua bibir mungil Santy. Santy dengan terpaksa mencoba membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu mulai mengulum alat vital Rino ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu itu melek merem keenakan.
Losa juga mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga bugil. Penisnya lebih besar dari Rino. Pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu Dipegangnya tangan Santy dan menempelkannya pada penisnya. Sambil mengoral rino,tangan Santy juga mengocok-kocok penis Losa hingga membuat pemiliknya mendesah merasakan kelembutan tangan Santy. Santy tampak sibuk, mulut dan tanganya bekerja denga cepat.
Aku kaget saat runtu melepas bajunya, penisnya jauh lebih besar dari kedua lelaki itu. Bentuknya panjang dan hitam dengan diameter yang besar.Segera kuarahkan handycamku kebatang super itu. Menyadari kekagumanku, runtu mengarahkan penisnya agar aku mendapat view yang pas untuk menyorot batanganya. Sambil tersenyum kearahku dikocoknya batang gede itu dengan perlahan-lahan.
Kemudian kuarahkan handycam kearah Santy. Dia tampak makin semangat mengoral Rino. Rino juga mendesah makin lama-makin keras. nampaknya dia akan segera orgasme. Dengan buru-buru ditariknya penisnya dari mulut Santy lalu tumpahlah spermanya membasahi karpet kamarku, Habis itu dia ambruk dikasur. Sial pikirku, bisa bau kamarku.
Kini tinggallah Losa dan runtu yang mengeliling Santy. Santy juga terkejut kala melihat penis super Runtu. Namun Santy tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu. Runtu menatap muka Santy yang sedang terpesona dengan mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu.
Lalu mereka memulai aksinya. Losa membaringkan tubuh Santy ditengah ranjang dan mulai berusaha memasuki tubuh Santy. Santy hanya bisa pasrah kala sebuah penis yang lumayan besar berusaha menerobos dinding kemaluannya. Tangan kanan Losa menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan Santy. Hal itu Santy merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Losa terus berusaha menekan senjatanya ke dalam kemaluan Santy yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Losa yang besar itu.
Momen itu kembali menjadi sasaran handycamku. Sengaja ku-zoom kearah vagina Santy yang sepertinya tidak sanggup menampung penis Losa. Beberapa saat kemudian, dengan pelahan-lahan kepala penis Losa itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan Santy. Ketika kepala penis lelaki Ambon itu menempel pada bibir kemaluannya, Santy bergetar hebat. Belum sempat dia mengkondisikan tubuhnya, tiba-tiba dengan kasar Losa menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Santy. “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh”, santy menjerit disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangannya mencengkeram dengan kuat sprei kamarku.
Tanpa membuang waktu Losa langsung memompa penisnya, seluruh batang penisnya amblas ke dalam liang vagina Santy. Rambut lebat pada pangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Santy yang makin membuatnya kegelian, Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Santy terdengar jeritan halus tertahan.
Runtu yang sedari tadi hanya menonton mulai ikut bergabung. Diremasnya dada Santy yang bergoyang-goyang, lalu dimasukkan kemulutnya. Dengan ganas runtu melumat dada Santy yang besar itu sehingga membuat pemiliknya makin mendesah kencang
“Oh…Aliah..nik..mat se..kali..”Ujarnya terbata-bata sambil memandangku. Aku yang hanya menjadi penonton mulai terangsang juga melihat adegan tersebut. Pahaku kugesek-geskkan untuk meraih kenimatan sendiri.
Kemudian Losa membalik tubuh Santy lalu ditariknya pinggulnya sehingga menungging. Butir-butir keringat sudah membanjiri tubuh mulusnya. Losa kembali mengenjot Santy dengan posisi doggystyle. Tak berapa lama kemudian,Losa menaikkan tempo permainannya, disodoknya Santy sesekali digoyangnya ke kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang montok. Santy semakin menggeliat keenakan, desahannya pun semakin mengekspresikan rasa nikmat bukan sakit.
“oh..teru..terus sodok aku…ohhhhh…….hhhhhhh”teriak Santy makin kuat. Runtu maju kedepan dan mengarahkan penis supernya kemulut Santy untuk menahan jeritan Santy. Santy membuka mulutnya dan melahap benda besar itu. Mulutnya yang kecil tidak mampu menampung ukuran penis Runtu yang memang luar biasa besarnya.Dia muju mundurkan bibir mungilnya dipenis runtu. Kamera kudekatkan ke wajah Santy yang tengah asyik mengulum penis Runtu, mulutnya penuh terisi oleh batang besar itu sehingga hanya terdengar desahan tertahan.
Aku benar-benar sangat terangsang berat menyaksikan tubuh putih mulus nya Santy diperlakukan dengan kasar oleh 2 orang lelaki ambon itu. Ntah kenapa nafsu ikut naik, tapi aku tidak mau langsung bergabung karena ingin menuntaskan rekamanku ini. Aku sibuk mondar-mandir diseputar ranjang untuk mengambil gambar.
Losa nampaknya sudah mulai mendekati puncak,dipercepatannya sodokannya sambil meremas pantat Santy dengan keras. Santy juga membalas sodokan itu dengan mengoyangkan pinggulnya makin cepat,dia juga mau orgasme. Tak sampai 10 detik Santy melepaskan mulutnya dari penis Runtu dan meleguh panjang : “Ah…aku keluar…rrrrrrrrrrrrrr……………….”
Losa masih terus memacu panisnya diantara orgasme Santy, remasan tanganya makin kuat kepantat Santy. Kemudian, sambil meleguh nikmat dicabutnya penis hitamnya dari vagina Santy, sehingga menyemprotlah spermanya kepantat Santy.
Habis itu dia menyingkir. Santy juga jatuh rebahan,didepan penis Runtu yang masih tegak berdiri. Tanpa memberinya kesempatan istirahat, runtu langsung menggarap Santy. Dibentangkannya paha Santy,lalu dia siap-siap penetrasi.
“Aduhh.. Runtu, nanti dulu dong, gue masih lemes nih…” pinta Santy memelas. Tapi Runtu tidak memperdulikannya dan mulai menghunjamkan batangnya kevagina Santy. Kasihan juga si Santy pikirku. Belum habis aku berpikir kudengar Santy teriak panjang,ternyata batang Runtu yang sangat besar itu sudah merebos kecelah-celah vaginanya.
“Aduh pelan-pelan dong. Sakit tahu…..aduhhhhhh…..” Santy memelas. Tapi hal itu membuat runtu makin gila,dengan paksa dimasukkanya penisnya keliang basah itu. Santy terus-menerus menjerit-jerit hingga batang itu menerobos masuk ke dalam liang vaginnya. Kemudian Runtu segera mendorong dengan sekuat tenaga sehingga seluruh barang miliknya amblas seluruhnya, sampai kedua pahanya yang hitam itu menekan dengan ketat paha putih mulus Santy yang terkangkang itu.
“Aadduuuhh…, sakiittt…!”, terdengar Santy menjerit saat batang itu menerobos masuk.
Setelah semua penis Runtu masuk dia tak kuasa mendesah “ohh…nikmat sekali vaginamu,Santy. Dari dulu aku sudah ingin memperkosamu.akhirnya kesampaian juga”. Namapaknya dia ga percaya bisa menikmati tubuh gadis pujaannya.
Lalu dengan perlahan disodoknya vagina sempit Santy tanpa mengenal belas kasihan, Runtu mulai memaju-mundurkan pantatnya, sehingga penisnya yang besar itu, keluar masuk berulang-ulang kedalam kemaluan Santy. Sambil melakukan itu ia berkata, “Waahh, eenaak niih masih sempit…!” Sementara kedua tangannya mulai mengelus-elus dan meremas-remas payudara serta membelai-belai seluruh badan Santy.
Aku tidak mau melepaskan momen tersebut, Maka aku semakin mendekat kearah ranjang sambil terus mengarahkan handycam. Aku berdiri ditepi ranjang disamping Rino yang tak berkedip menyaksikan Santy,cewe pujaanya, dikerjaiin batang Runtu. Rino nampaknya mulai terangsang. Hal itu dapat kupastikan dari penisnya yang sudah tegak berdiri. Dia menatap tubuhku dengan pandangan penuh arti. Aku tetap mengarahkan kameraku wajah Santy yang menjerit-jerit kesakitan.
Aku sebagai juru kamera sudah terlalu menghayati sampai tak sadar kalau ada tangan mulai menjamah tubuhku,dengan dilanjutkan remasan didadaku. Rino sudah berdiri didekatku,dengan kasar diremasnya dadaku. Aku berusaha mengelak remasan tangannya dan berusaha tetap fokus pada adegan didepanku. Tapi dia makin berani,diciumnya dadaku yang masih terbungkus kemeja putih ketat.
“aduh,jangan sekarang dong.tanggung nih.”ucapku. Dia bukannya mendengar malah makin melanjutkan aksinya dengan meraba-raba pantatku. Losa yang juga mulai on fire mendekat, lalu mengambil handycam dari tanganku. Diletakkannya handycam itu dimeja kamarku, lalu bergabung bersama kami. Rino dengan tergesa-gesa membuka kemeja ketatku dengan melepaskan satu-persatu kancingnya. Payudaraku tampak sesak ditutupi oleh bra yang kekecilan yang kugunakan.Dengan cekatan Losa melepaskan braku dengan membuka kaitnya dibelakang. Kini terpampanglah dadaku -yang putih mulus dengan puting mencuat tegak- dihadapan mereka berdua.
“Aliah, dadamumu gede juga yah.. kenapa sih ga kamu bilang dari dulu kalo kamu punya body yang indah?” Kata Rino sambil tangannya terus meremasi payudaraku.Puas meremas, Rino langsung melumat payudaraku. Aku mendesah saat mulutnya menyapu setiap inci dadaku yang sebelah kanan. Losa tak mau ketinggalan dicupanganya leherku dari belakang sambil satu tangannya merayap kedadaku yang satu lagi.
“Aaaghhh…, sshhhhh…, sshhhhh…, mmhhhh….!”. desahku. Sambil melumat dadaku,tangan Rino merayap kebawah dan menggosok-gosok vaginaku dari luar. Aku kontan mendesah makin panjang, apalagi jari-jarinya mulai merayap ke vaginaku yang sudah basah melalui celah-celah CD-ku. Keduanya dengan gemas melumat, menjilat dan meremas payudaraku.
Aku sudah bernafsu sekali mengikuti saja permainan mereka. Aku tak menolak kala mereka mengiringku ketepi ranjang tak begitu jauh dari Santy yang masih disenggamai Runtu. Losa duduk berselonjor diujung ranjang. Disuruhnya aku mengoral penisnya. Tanpa diminta dua kali, aku langsung menungging dihadapannya, lalu kurahkan bibir merahku kepenisnya yang lumayan besar itu. Kurasakan aroma sperma disana, tapi tak membuatku jijik. Malah dengan penuh nafsu kugenggam batangnya yang besar itu, lalu kukocok-kocok,sebelum kumasukkan kemulutku. Penisnya bergetar merasakan jepitan bibir mungilku. Mulutku tak mampu menampung semua penis itu,walau sudah mentok menyentuh tenggorakaku, tetap saja ada sisianya kira-kira satu jari lagi. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
“Eemmpp.. emmphh.. nngg.. !” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.
Dari belakang kurasakan Rino melepaskan celana dalamku,dimasukkannya jarinya kevaginaku sehingga membuatku bergetar. Lalu tiba-tiba kurasakan mulutnya mulai menyentuh bibir vaginaku. Aku bergetar hebat bagai tersengat tawon kala lidahnya mulai menjilati vaginaku yang sudah basah. Posisiku yang menungging membuatnya dengan mudah menjelajahi seluruh vaginaku.
“Ehm…ehm…ahmm….”hanya itu yang keluar dari mulutku yang masih dijejali oleh penis Losa. Tak kuperhatikan lagi suasana disebelahku,aku mulai fokus kedua orang yang mengerjaiku. Semakin kuat Rino menjilati vaginaku,semakin kuat pula aku menghisap penis Losa. Losa makin mendesah,lalu dia melepaskan penisnya dari mulutku.
“aku ga mau langsung keluar.Aku masih mau merasakn jepitan vaginamu”katanya sambil menopang tubuhku. Belum habis dia berkata,kurasakan sebuah benda lonjong mulai memasuki tubuhku,Penis Rino. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi setiap senti penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang dengan posisi doggy. Penisnya dengan leluasa menerobos dinding vaginaku,sehingga menimbulkan sensasi yang membuatku merinding.
“Eenghh.. terus Rino.. oohh!” desahku sambil ikut memacu pinggulku kearah batangnya. Dia makin bersemangat memacuku sambil sesekali diremasnya rambutku. Dari depan,losa mulai melumat dadaku yang bergoyang-goyang dihadapannya. Sambil menopang tubuhku diserangnya dadaku. Dia nampaknya sangat menyukai benda itu,sehingga tanpa henti diremas dan dihisapnya kuat-kuat.
Kuarahkan pandanganku kesamping, disana kulihat Santy dan Runtu akan berganti posisi. Kemudian Runtu melepaskan dirinya dari tubuh Santy. Santy membalikkan badan dan menungging lalu ia membelakanginya. Lalu Runtu kembali menyetubuhi Santy dengan posisi doggy style. Santy kembali mendesah-desah saat dikocok seperti itu sementara wajah Runtu agak memerah. Nampaknya Santy mulai menikmati penis Runtu yang besar itu mengaduk-aduk vaginanya. Kalo tadi dia menjerit-jerit minta berhenti, sekarang malah mendesah-desah sambil mengucapkan kata-kata:terus….teruss…… Runtu juga sama berisiknya dengan Santy. Dia mendesah-desah tak karuan sehingga ruangan kamarku menjadi gaduh. Sambil menyetubuhi, Runtu memegang-megang dan meremas-remas payudaranya. Walaupun kamarkumenggunakan AC namun tubuh mereka berdua terlihat basah oleh keringat. Sama sepertiku.
“Oh,nikmat sekali Al…”desah santi kearahku yang sedang menatapnya.
“Sama,aku juga…sodokannya mantap…ohh….oh….yes…..” jawabku sambil mendesah-desah menahan sodokan Rino. Rino makin brutal saja menyodokku. Pantat diremasnya dengan kasar dan pungungku sesekali dicakarnya.
“Da berapa kali,Santy?’. Maksudku ingin bertanya sudah berapa kali dia orgasme dibuat Runtu.
“Gila…da dua kali,Al…. tenaga kuat” jawabanya.
Pembicaraan kami berhenti saat Losa memalingkan wajahku dan melumat bibirku. Kubalas lumatannya untukmengurangi rasa sakit akibat kebrutalan Rino di pantat dan punggungku. Sambil melumat kuraih penisnya yang masih tegak mengacung menunggu giliran.
Hal itu berlangsung sekitar 5 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, aku akan orgasme oleh permainan Rino. Saat orgasme itu datang, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Losa erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya.. Rino juga memacu penisnya makin kuat dan berenaga,sampai akhirnya eranganku bergabung bersama erangnya sehingga membahana diseluruh kamarku. Kurasakan maninay menyemprot dengan deras kerahimku. Untuk saat itu bukan masa suburku,kalo ga bisa berabe. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas.
Tanpa memberiku waktu untuk istirahat, Losa langsung mangangkat tubuhku kepangkuannya dengan posisi aku membelakanginya.
“Sabar napa?Masih cape nih”. Pintaku.
“aku sudah ga tahan lagi al,melihat kesexy-an bodymu” katanya sambil mulai memasukkan penisnya kevaginaku dari bawah. Aku terpaksa mengalah menuruti kemauannya. Walau masih lemas, perlahan-lahan kuturunkan pingulku hingga vaginaku menyentuh penisnya. Sambil berusaha memasuki vaginaku, dia mencium punggungku yg membelakanginy. Sangat susah kepala penisnya menerobos vagiku, padahal sudah sangat basah. Tapi dia tetap memaksa, dengan sekali sentakan kasar,ditariknya tubuhku kebawah,hingga batangany amblas ditelan vaginaku.
“Aduh…pelan-pelan dong!” kuomeli dia agar lebih lembut. Dia bukannya medengar malah langsung menaik-turunkan tubuhku dengan kecepan tingi. Penisnya keluar masuk dari vaginaku sehingga menimbulkan bunyiplokk…plok….. Aku menjerit-jerit menahan rasa sakit akibat kebringasan penisnya.
“Auw..auw….pelan-pelan dong….auw…”
Dia bukanya mendengar malah masih terus melanjutkan aksinya. Aku ga bisa berbuat apa-apa lagi selain mengikutiiramannya. Sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas. Lambat laun rasa sakit mulai hilang digantikn rasa nikmat yang luar biasa. Vaginaku sudah mulai bisa beradaptasi dengan penisnya. Aku turut manaik-turunkan pantat.
Kulihat kesebelah,dimana Rino masih yang sudah pulih mulai bergabung dengan Runtu dan Santy. Runtu masih sangat prkasa memompa Santy yang sudah sangat kepayahan. Apalagi Rino yang tanpa pengertian bergabung dengan mereka dengan meremas-remas dada Santy. Nampaknya rino masih penasaran dengan vagina Santy yang belum disodoknya.
Aku kemabali fokus ke Losa yang masih kuat. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Kami kembali berciuman dengan liar. Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan.
Aku kaget saat Runtu mendekati kami. Penisnya masih kokoh seperti pedang,menandakan dia belum orgasme. Hebat benar dia. Padahal Santy sudah sangat kelelahan dibuatnya. Aku turut iba melihat Santy yang kembali dikerjai Rino. Aku bisa merasakan kecapaianya,yang berkali-kali orgasme. Dadanya terlihat naik turun dengan nafas memburu seakan-akan orang yang baru menyelesaikan lari cepat 100 m dan kedua matanya terkatup rapat. Bintik-bintik keringat menghias pelipisnya menandakan suatu pergulatan seru yang banyak memakan tenaga, yang baru saja diselesaikannya.
Melihat Santy yang ayu itu sudah terkapar lemas itu, Rino lalu memeluk badan Santy dan mengangkatnya dari ranjang. Sekarang badan Sexy Santy digendong oleh lelaki tersebut. Walau kurus,Ternyata Rino sangp menggendong tubuh mungil Santy. kedua tangan Rino memegang kedua bongkahan pantat Santy dan kedua kaki Santy melingkar pada pinggang Rino. Rino membawa tubuh Santy merapat ke tembok ruangan tersebut, menekannya di tembok dan mulai menggerakan pantatnya sendiri maju mundur menekan pantat Santy ke tembok.akibatnya penis Rino itu menerobos keluar masuk kemaluan Santy yang telah basah oleh cairan kenikmatan yang keluar pada waktu dia mengalami orgasme. Gerakan pantat Rino semakin lama semakin cepat dan tekanannya semakin dalam saja. Badan Santy menggeliat-geliat, “Oooohh… oooohh… eeehhmm…!” suara lirih terdengar keluar dari mulut Santy setiap kali lelaki tersebut menekan pantatnya dengan kuat.
Aku kaget saat Losa membalikkan badanku tanpa melepas penisnya. Ada perasaan geli yang luas biar saat penisnya memutar divaginaku. Kini aku berhadapan dengannya,tanpa menungu lama aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Maka kembali direngkuhnya payudaraku. Sungguh pengalaman yang mengairahkan.
Runtu,yang sudah berdiri diranjang, kemudian menarik mulutku dan menjejali penisnya kemulutku. Jadilah kedua ronggaku dijejali penis-penis besar. Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 1/2nya saja. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku harus bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya. Runtu meremas-rema rambutku sambil memacu mulutku dengan cepat. Hal itu membuatku hampir kehabisan nafas. Belum lagi sodokan Losa yang makin tak beraturan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam. Hingga saatnya
“ahh..aku keluar…….”Jeritku panjang sambil melepas penis Runtu. Tubuhku lemas setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatku menetes-netes. Namun sepertinya Losa masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih tegang. Aku cuma diangkat lalu dibaringkan telentang.
Aku makin lemas saj saat kulihat Runtu mendekat kearahku. Matanya yang bulat besar itu menatap tajam kearah vaginaku yang sudah basah. Diambilnya Cdku,lalu dilapnya vaginaku dengan CD tersebut hinga bersih. Tanpa perasaan sungkan diarahkannya mulutnya ronggaku. Aku hanya memejamkan mata,menanti apa yang akan terjadi. Walau badanku lemas,tapi percuma saja menyuruhnya berhenti,karena dia sudah sangat kerasukan. Seperti biasa tubuhku bergetar kala mulut tebalnya bermain-main divaginaku. Dijilatinya setiap bagian dari liangku. Malah terkadang lidahnya mengarah keanusku,sehingga menumbulkan sensasi geli yang takterkira.
Puas mempermainkan vaginaku,kemudian dia bersiap-siap penetrasi. Diranggangkanya pahaku. Mataku melek melihat saat-saat penisnya yang besar itu memasuki vagaku. Penisnya cukup susah memasuki ronggaku yang masih sempit(walau baru diobok-obok penis Losa), sehingga dia harus pakai cara tarik ulur, keluarin satu senti masukkan tiga senti sampai menancap cukup dalam dan setelah setengahnya masuk dengan paksa dia hujamkan batangnya kevaginaku hingga mentok. hingga mentok
“Akkhhh….aduh….pelan-pelan…sakit tau!” eranganku berubah jadi jeritan ketika dihujam seperti itu. Dia bukannya mendengar malah makin menjadi-jadi memompa penisnya.
Sementara itu terlihat vaginaku memerah menerima tekanan dan gesekan-gesekan dari penis Runtu yang besar itu. “Waaah…, gila sempit benar niihhh, “, kata Runtu. Sambil terus menyetubuhiku dengan ganas, Runtu berkata lagi, “Hey Al.., enak sekali lhhhoo, benar-benar nikmat tubuhmu..!ah..ahh” Sambil mendesah-desah dia mengocok tubuhku habis-habisan. Aku hanya bisa merintih-rintih dan menjerit-jerit. Suara jeritannya makin lama makin lemah, diganti oleh suara mendengus-dengus. Aku berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhku bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut ,dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan.
Losa yang semula tadi beristirahat ikut ambil bagian,diarahkannya penisnya kemulutku yang terbuka. Aku tak kuasa untuk menolak,aku hanya membuka mulut sedangkan dia yang asik meaju-mundurkan penisnya. Sambil menikmati mulutku bermain-main dipenisnya,tangannya tak pernah diam. Dadaku selalu menjadi bulan-bulanannya. Dadaku yang semula putih mulus,kini berganti warna menjadi kemerah-merah dengan cupang dimana-mana.
“Beruntung banget kita,Run, bis anikmati 2 cewe cantik sekaligus”Kata Losa ke Runtu.
“Iya gua ga habis pikir. Aliah dan Santy ternyata cewe binal juga.he..he..” kata Runtu.Sial batinku,masa aku disangka cewe binal. Kalo ga terpaksa aku ga akan maulah disetubuhi lelaki jelek macam mereka.
Kira-kira 10 menit kemudian mereka ganti posisi,kini aku dibuat menungging dengan wajahku pas didepan penis Losa yang belum keluar-keluar. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menutruti keinginan mereka. Losa kembali menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku yag sudah mulai pegal.
Kini aku lagi-lagi melayani dua orang sekaligus. Runtu yang sedang menyetubuhiku dari belakang masih perkasa dengan pensi besarnya yang masih kokoh. Runtu kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati kenyalnya payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak kala penis Losa menerobos sampai tenggorokanku.
Kami bercinta dengan posisi itu lebih dari 15 menit. Aku tak melihat Santy dan Tito dikamarku. Tapi dari kamar mandi kudengar suara erangan-erangan Santy. Mereka pasti sedang bercinta lagi dikamar mandiku. Aku juga ingin segera mandi,keringan dan rasa panas yang kualami sangat menyiksaku. Aku ingin cepat-cepat menyudahi percintaan itu. Memang benar sungguh lemas bermain sex secara massal seperti ini. Ntah sudah berapa kali vaginaku menyemprotkan cairan bening,tapi kedua laki-laki itu asik saja gonta-ganti posisi sesukanya tanpa memperdulikanku.
Tak sampai 2 menit kudengar Runtu melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Kurasakan semprotanspermanya di vaginaku. Sangat banyak sekali maninya itu,sampai-sampai meleleh keluar dari celah-celah vaginaku dan mengalir dipahaku. Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. Dan pada saat hampir bersamaan Losa juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangannya yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.
Aku ambruk diranjang dengan nafas ngos-ngosan seperti orang baru lari sprint. Mataku menatap-langit-langit kamarku yang sudah kelihatan hitam. Rasa perih dan sakit masih terasa divaginaku dan dada serta pantatku,sedangkan mulutku terasa pegal. Badanku terasa lengket oleh keringat dan sperma. Ingin rasanya mandi,tapi tenaga tak ada. Akhirnya ku tertidur pulas dengan keadaan telanjang.
Hari itu akhirnya mereka bertiga menginap dirumahku untuk melampiasakan nafsunya. Aku dan Santy tak kuasa menolak walau sebenarnya masih lemas. Maka kembali kami mengadakan pesta sex dirumahku. Kali ini Runtu sendiri yang menggarap tubuhku sampai dia puas. Dia menyetubuhiku Mulai dari sofa ruang tengah sampai kekamar. Dan diakhiri dikamarmandi. Santy sendiri dikerjaiin oleh Losa dan Rino didapur rumahku.
By: Aliah



© Karya Aliah