Showing posts with label Karya Shusaku. Show all posts
Showing posts with label Karya Shusaku. Show all posts




Neraka bukanlah di sana atau di sini,
Melainkan di tubuh dan batin kita sendiri.
Hasrat yang tiada terpuaskan,
Itulah yang mengobarkan bara nafsu,
Yang membakar tubuh dan batin kita.


Kata-kata bijak dari Sang Budha di atas hendaklah mengingatkan kita, bahwa jika engkau mengijinkan nafsu mengendalikan dirimu, maka engkau akan terseret olehnya hingga sulit kembali, engkau akan terperangkap dalam sesuatu yang tiada pernah terpuaskan. Tiga bulan setelah menjadi budak seks Imron, kehidupan Syeni (baca Nightmare Campus 12: My Guilty Pleasure) banyak mengalami perubahan besar, terutama sejak diputus oleh pacarnya dengan cara yang menyakitkan. Imron memang telah sukses menggali hasrat liar dalam diri gadis berusia 23 tahun itu sehingga libidonya semakin tidak terkendali dari hari ke hari. Bagi Syeni, seks adalah pelarian dari hatinya yang hancur yang ia lampiaskan pada macam-macam orang dengan berbagai cara. Ia semakin menikmati tugasnya sebagai budak seks Imron dan teman-temannya yang dari golongan bawah, sementara pada golongan atas ia menjual tubuhnya. Dalam waktu singkat, ia sudah dikenal di antara para eksekutif muda dan om-om hidung belang yang berkantong tebal sebagai salah satu wanita panggilan termahal dengan service yang memuaskan. Hari itu, jam duaan, Syeni sedang melewati waktu luangnya, memang jadwal kuliahnya sudah sangat santai karena ia sedang mengerjakan skripsi, ke kampus pun paling hanya untuk mencari bahan referensi atau menemui dosen pembimbingnya. Ia berbaring menyamping di sofa ruang tengah sambil menonton film serial drama Korea dari DVD, di meja depannya telah tersedia snack dan air minum. Tubuhnya saat itu dibungkus kaos hitam lengan pendek dan celana pendek yang memperlihatkan sepasang kakinya yang jenjang dan putih mulus.



 Syeni


“Cinta?? Huh…emang kenyataannya seindah itu?” pertanyaan sinis terlintas di benak gadis itu
Adegan romantis di film itu membuatnya iri dan juga sinis karena dalam kehidupan cintanya, ia tidak mendapatkan cinta yang sebenarnya. Dicampakkan pria yang pernah dicintainya yang memakinya sebagai ‘lonte’ hingga akhirnya terjerumus dalam lembah kelam sebagai budak seks dan wanita panggilan. Aahh…tak pernah terpikir olehnya kalau hidupnya akan berubah seperti ini. Tiba-tiba mengalun nada musik dari bel pertanda ada tamu.

“Ya….siapa?” tanya gadis itu melalui alat dekat pintunya.
“Tukang ledeng, mau betulin pipa!” jawab suara di sana.
“Ohhh…ok silakan naik!”
Ia teringat dengan saluran air di apartemennya yang bermasalah sehingga air yang mengalir ke kamar mandi terganggu. Ia memberikan akses masuk pada orang yang hendak memperbaiki saluran air di kamarnya itu. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu depan. Syeni pun segera membukakan pintu untuk orang itu.
Dua orang pria berdiri di ambang pintu, yang satu pria setengah baya berumur awal 50an, berbadan tegap dan memiliki kumis yang menambah sangar wajahnya, pria ini bernama Sobri. Sedangkan yang satunya menenteng sebuah kotak perkakas, bertubuh kurus tinggi dengan tampang seperti Petruk, berusia 40an dengan gigi agak ompong, namanya Djafar. Syeni langsung mempersilahkan mereka masuk. Ia menyadari kedua pria itu sejak awal telah menatap kagum pada kecantikannya dan keindahan tubuhnya yang dibungkus pakaian rumah yang minim itu. Mereka tidak bisa tidak menelan ludah membayangkan yang jorok-jorok.
“Masalahnya gimana Non?” tanya Sobri sambil matanya jelalatan mengamati tubuh Syeni.
Syeni pun menjelaskan masalah yang terjadi sambil mengantarkan mereka ke ruang kecil yang memang berfungsi untuk penempatan saluran air dan water heater. Tanpa buang waktu lagi, Sobri dan Djafar pun melaksanakan tugas mereka. Sementara Syeni ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk kedua tukang ledeng tersebut.
“Semanget gua kerja kalau kaya gini Far!” kata Sobri sambil tangannya tetap bekerja.
“Nape…gara-gara ada yang bening-bening? Hehehe” sahut Djafar dengan suara dipelankan.
“Ssstt..janga keras-keras ntar kedengeran, emang cakep banget sih tapi ya kita Cuma bisa ngiler aja…kunci dong!!”
Djafar memberikan kunci inggris dari kotak perkakas pada temannya. Di dapur sana, entah dari mana, dalam diri Syeni terlintas sebuah ide sensual. Bagaimana kalau hari ini ia menggoda mereka untuk bercinta, di sini, di kamar apartemennya sendiri. Ia membatin, sungguh ia telah menjadi pribadi yang sangat berbeda dari yang dulu, nafsu liar dalam dirinya semakin mendominasinya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Tangannya meremas payudaranya sendiri dari luar kaosnya, benaknya sedang dipenuhi lamunan erotis bagaimana kedua tukang ledeng itu menggerayangi tubuhnya, menjilat dan menyetubuhinya sepuas mereka. Ia sampai tidak sadar air yang dituangkannya ke gelas sampai meluap dan ia segera merapikannya. Sesungguhnya:
Birahi, adalah hamba yang menyenangkan, namun tuan yang mengerikan

“Bagaimana Pak? Parah rusaknya?” tanya Syeni ke belakang dulu melihat kerja mereka, kelihatan ia masih gelisah dan nafasnya memburu karena lamunan erotis tadi.
Ia menghampiri mereka dan memperhatikan keduanya bekerja. Djafar yang jongkok di sebelahnya kebagian pemandangan indah berupa belahan dada Syeni yang terlihat jelas, bahkan ia bisa melihat bentuk payudaranya yang sedang itu.
“Ga apa-apa Non, Cuma ada pipa karatan aja, udah lama, makannya airnya suka mampet” sahut Sobri sambil mengencangkan baut mur.
“Hhhmmm…gitu ya, syukur deh pak kalau gitu” kata Syeni lalu ia kembali ke ruang tengah.
“Wuih, dahsyat!” kata Djafar setelah Syeni pergi.
“Apa…apaan?” tanya Sobri penasaran.
“Penampakan tuh tadi, dahsyat banget!”
“Penampakan apa sih? Ada tuyul emang?” Sobri menepuk lengan temannya itu
“Itu si Non, tadi nunduk sampe keliatan tokednya, edan putih mulus! Pengen ngeremes rasanya!” kata Djafar menggerak-gerakkan jarinya dengan wajah mesum.
“Yeee…ada barang bagus kok ga bilang-bilang lo!?” kata Sobri sewot tapi tetap menahan suaranya
“Lho situ yang lagi sibuk kan heehe…!”
Hasrat Syeni semakin bergelora ketika mencium bau keringat kedua tukang ledeng itu di ruang kecil tadi. Jantungnya berdegup semakin keras dan tubuhnya gemetar, sejenis gemetar yang nikmat. Obsesinya selama ini, yang kemudian dipicu oleh pertemuannya dengani Imron, si penjaga kampus bejat itu, benar-benar mematangkan hasrat libidonya. Mereka agaknya tidak lama lagi segera menyelesaikan pekerjaan mereka. Syeni segera mencari akal bagaimana caranya mewujudkan obsesinya. Akhirnya ia menuju ke kamar mandi dan membuka pakaiannya hingga tidak ada tersisa di tubuhnya. Kemudian diambilnya handuk berwarna kuning bergaris-garis orange yang tergantung di tempatnya untuk melilit tubuh telanjangnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, buru-buru ia ke kamarnya yang tepat di sebelah kamar mandi itu dan mengangkat telepon. Selama kurang lebih sepuluh menit ia mengobrol dengan temannya yang sama sama sedang skripsi dengannya hingga akhirnya terdengar suara Sobri memanggilnya dari luar sana.
“Non!! Non!! Ini udah beres!”
“Ohh…iya Pak, sebentar ya!!” Syeni menyahut dari kamar, “Eh….Da, udah dulu ya, lagi ada tukang benerin saluran air di tempat gua”
Setelah menutup ponselnya, ia menghela nafas panjang bersiap untuk keluar menemui mereka hanya dengan berbalut selembar handuk yang hanya menutupi dari bawah ketiak hingga sejengkal dari pangkal paha. Seperti yang diduga, Sobri dan Djafar terbengong melihat Syeni keluar dari kamar dengan hanya selembar handuk.
“Udah selesai ya Pak? Mari silakan diminum dulu!” Syeni bersikap sangat biasa seraya menawarkan baki yang di atasnya terdapat dua gelas sirup dingin yang disiapkannya tadi.
“Ehehe….makasih Non. Ada apa nih kok cuma pake handuk gitu Non?” sahutnya sambil terheran-heran melihat Syeni yang begitu seksi.
“Abis ini mau langsung mandi soalnya, airnya bener dah lancar lagi kan?”
Mereka menatap dirinya tanpa berkedip sedikit pun, bahkan ketika meminum air dari gelas pun mata mereka tidak pernah lepas darinya.
“Aahh…panas juga di sini ya Non” keluh Sobri pura-pura mencari alasan sambil mengipas-ngipas kerah bajunya.
“Apa AC-nya masih kurang dingin?” tanya Syeni pura-pura tidak mengerti
“Bukan AC sih Non, tapi ngeliat Non seksi gini saya yang jadi panas hehehe!” Sobri makin berani menggoda gadis itu melihat reaksinya.
Syeni hanya tersenyum seraya berkata, “Ah si bapak bisa aja, saya baru pake handuk aja udah genit, apalagi kalau gak pake apa-apa?”
“Emang boleh Non kita liatin Non gak pake apa-apa?” timpal Djafar makin antusias dan bernafsu.
“Hihihi…saya tau Bapak-bapak dari tadi udah pengen…jadi…tunggu apa lagi?”
Tiba-tiba Djafar meletakkan gelasnya dan berjalan ke arah Syeni diikuti oleh Sobri. Tentu saja Syeni merasa tegang tapi dia berusaha tenang. Kini mereka bertiga berdiri berhadap-hadapan, terpisah beberapa sentimeter satu sama lain. Jantung gadis itu berdetak kencang, ia tahu kedua pria itu telah mencaplok umpan yang dilemparkannya. Tatapan mereka berdua sudah dipenuhi nafsu, kelihatan sekali bahwa mereka berdua akan segera menggarapnya habis-habisan. Ia balas menatap mata mereka dengan ekspresi menggoda dan menantang. Kemudian ia gerakkan tangannya ke arah lipatan handuk di dadanya. Sekali tarik saja lepaslah lipatan itu dan handuk itu jatuh ke lantai sehingga terpampanglah tubuh telanjangnya yang indah di depan kedua tukang ledeng itu. Mereka terhenyak menyaksikannya.
“Wow… aje gile mulusnya!!” sahut Djafar menelan liur
Tanpa buang waktu lagi tangan pria itu meraba payudara Syeni dan langsung melumat bibirnya. Sementara Sobri berjongkok di hadapannya dan merenggangkan kakinya, lidahnya mulai menjilat dengan rakus vagina yang ditumbuhi bulu-bulu yang dicukur rapi itu. Mata Syeni terpejam dan mulutnya mendesah tertahan menikmati kedua bibirnya dicumbui mereka. Setelah beberapa saat berciuman, Djafar mulai mencium leher gadis itu sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, selain itu tangannya juga merambat meremas-remas payudara kiri Syeni dengan liar dan ganas.
“Di sofa aja Pak, lebar, empuk lagi, masa berdiri gini?” ajak Syeni setelah Djafar melepaskan pagutan dari mulutnya
Mereka pun memapah tubuh telanjangnya ke sofa dekat situ lalu membaringkannya.
“Hehehe…gua paling suka amoy kaya gini, bodi bahenol, wajahnya juga ayu banget kaya di film-film Hongkong. Gak nyangka, kesampean juga bisa main ama amoy!” komentar Sobri sambil membuka bajunya, penisnya yang sejak tadi terasa sesak di dalam celana panjangnya, menuntut untuk dikeluarkan.
Batang kemaluan itu mengacung tegak begitu dikeluarkan, lumayan panjang dan berurat di pinggirannya membuat Syeni terhenyak mengamatinya.
“Tul tuh…cewek amoy memang yang paling top deh. Lihat saja kulitnya, kayak porcelin. Gue pasti bakal ketagihan ama ini cewek,” tambah Djafar sambil menjlati bibirnya.
“Ayo Non, sedot kontol abang dulu. Pengen tau enaknya disepongin amoy cantik,” perintah Djafar sambil mengarahkan penisnya yang sudah ereksi ke wajah gadis itu.
“Siapa takut?” Syeni tak menolak sedikitpun karena dia memang sudah horny berat.



Sobri


Setelah menggenggam penis itu sambil berbaring menyamping, ia segera mengeluarkan jurus-jurus oralnya. Lidahnya menari-nari dengan lincah di penis pria itu, menyapu setiap centi permukaan batang itu. Penis Djafar memang lumayan besar, ujungnya bersunat, yang paling seksi adalah lubang kencingnya. Lubang itu selalu saja menganga sedikit, seakan menggoda untuk disedot. Tanpa merasa jijik, Syeni memainkan lubang itu dengan lidahnya. Djafar dibuatnya merem-melek sambil meracau menikmati betapa dahsyatnya lidah gadis itu “menyiksa” lubang penisnya. Bagi yang tidak biasa, lubang penis mungkin akan terasa sedikit perih jika dimainkan. Tapi dengan kemahirannya dalam melakukan oral seks, Syeni malah membuat pria itu melenguh-lenguh kenikmatan. SLURP! SLURP! begitu bunyi lidah Syeni yang tak henti-hentinya menjilati penis Djafar. Selama itu Sobri tidak tinggal diam, pria berkumis itu menggerayangi dan mencumbui tubuh Syeni, kini mulutnya tengah mencium dan menjilati bongakahan pantat gadis itu yang bulat sempurna sambil tangannya mengelusi vaginanya. Buah dada Syeni yang putih mulus itupun tak lepas dari remasan Sobri. Diremasnya payudara indah itu dengan penuh nafsu oleh tukang ledeng itu dari belakang sembari terus menjilati tubuhnya.
“HHhhhmmm…sedap, mulus dan wangi badannya Non, saya suka yang seger-seger gini!” sahut Sobri .
“Nyepongnya juga asyik nih, aaahhh…ueeenaakk…terus Non, yah disitu isep!” timpal Djafar lalu memaju-mundurkan penisnya di dalam rongga mulut Syeni dengan lebih cepat sampai nyaris saja gadis itu tersedak
“Akhhh…jilat disitu enak Pak…mmmhhhh…yah…disitu…jilat di bagian itu….akhhh…terus…Pak!” desah Syeni ketika lidah Sobri mengobrak-abrik liang kemaluannya.
Syeni mendesis tak karuan menahan rasa geli campur nikmat dari jilatan pria itu terutama ketika kumis tebalnya menyapu bibir vaginanya yang sensitif. Cairan kewanitaannya semakin banyak yang keluar dan meluber keluar sehingga membasahi kulit sofa di ruangan itu dengan tetesannya. Sobri mengintensifkan serangannya dengan memasukkan dua jadinya dan mengobok-obok liang kewanitaannya sehingga Syeni semakin melenguh merasakan kenikmatan, tangannya semakin cepat mengocok penis Djafar yang digenggamnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya menggelinjang hebat, Syeni akhirnya mencapai orgasme saat itu. Puas menjilat, Sobri kini menyedot vagina Syeni yang sudah banjir. Seperti vacum cleaner, pria itu menyedot cairan vagina gadis itu. SLURP! SLURP! Syeni menggeliat-geliat merasakan sensasi nikmat hisapan Sobri pada vaginanya.
“Aarrgghh.. Oohh…eeempphhh!” erangannya terhambat karena Djafar yang semakin birahi menjenggut rambutnya dan kembali menjejalkan penisnya ke dalam mulut Syeni sedalam-dalamnya, “aarrgghh.. Oohh yeaah…sedot Non.. Aahh.. Yyaa.. Jilatin kontol gue.. Aahh… Loe suka kan? Aahh!!”
Tidak sampai lima menit kemudian tiba-tiba Djafar menarik kepala seraya berkata,”Udahan dulu Non, kalo diterusin, bapak bisa KO duluan.”
“Bri…gua duluan yah, udah ngebet nih, ampir aja keluar tadi saking enaknya!” pinta pria ompong itu pada temannya.
“Okeh, gua juga pengen rasain dulu mulut si Non!” jawab Sobri mengiyakan
Syeni menggeser posisi berbaringnya agar nyaman, ia menaruh kepalanya pada sandaran lengan sambil berbaring telentang. Tangannya meraih penis Sobri yang berdiri di depan wajahnya dan mulai mengocok pelan penis itu. Melihat Djafar sudah mengambil ancang-ancang untuk menyetubuhi Syeni, Sobri makin bergairah apalagi saat itu Syeni sudah mulai menjilati kepala penisnya lalu memasukkan benda itu ke mulutnya. Kehangatan mulut Syeni dan permainan lidahnya sungguh memanjakan Sobri.
“Aahh…udah becek banget, anget mantep!” sahut Djafar menggesek-gesekkan penisnya pada bibir vagina Syeni untuk melumuri kepala penisnya dengan cairan kewanitaan gadis itu, agar lebih terangsang, pria itu membelai-belai payudara Syeni.
“Oohh.. Oohh…sedap Non!” desah Toni menikmati kuluman Syeni pada penisnya
“Aahh…siap ya Non, abang coblos nih sekarang!” celoteh Djafar saat menekan kepala penisnya ke lubang vagina Syeni, tanpa menunggu lebih lama lubang itu ditekannya kuat-kuat dengan penisnya yang sudah dilumasi lendir gadis itu sampai amblas.
“Aarrgghh!!” jerit Syeni menahan nyeri karena Djafar melakukannya agak kasar.
Selama beberapa menit, Djafar berjuang untuk mendorong penisnya yang baru masuk setengah agar semakin dalam sedikit demi sedikit. Kenikmatan tergambar jelas di guratan wajahnya yang amburadul. Dengan segenap tenaga pria itu melakukan sodokan untuk mempenetrasi vagina Syeni yang peret itu.
“NNnngghhh…eeeemmm!!” erangan Syeni tertahan oleh penis Sobri yang memenuhi mulutnya, matanya membelakak namun berangsur-angsur kembali sayu seiring kenikmatan yang menjalari tubuhnya..
“Memeknya masih seret banget Non, enak….dah pernah dientotin sapa aja nih?” tanya Djafar pada Syeni di antara pompaan penisnya yang sekarang sudah menancap penuh pada liang senggama gadis itu.
Syeni terus mengulum penis Sobri tanpa menghiraukan pertanyaan Djafar. Pria itu juga terus menggenjot vaginanya
“Ohh Non, uennaakk sekali memekmu…oh,” Djafar menyetubuhi Syeni dengan irama yang cepat dan tetap, dan Syeni juga mengimbangi gerakannya sambil melakukan oral seks.
Kini gadis cantik itu total melayani kebutuhan seks kedua tukang ledeng tersebut sekaligus memuaskan hasratnya yang menggebu-gebu.
“Non udah punya pacar belum Non, pasti sama pacarnya juga ngentot tiap hari ya?” tanya Djafar sambil terus menyodokkan batang kejantanannya semakin cepat ke liang vagina Syeni.
Mendengar pertanyaan itu, Syeni melepaskan penis Sobri lalu menengok ke arah Djafar dengan ekspresi setengah marah
“Tolong ya Pak jangan sebut-sebut pacar lagi….aahhhh…itu bukan urusan Bapak” sahutnya sambil terus mendesah sesekali mengaduh saat Djafar mempercepat sodokannya. “Jangan sampe saya kehilangan mood…ngerti…aaakkhhh!” ucapannya terhenti ketika kepala penis Djafar menghantam bagian dalam vaginanya yang merupakan G-spot sampai tubuh gadis itu menggelinjang.
“Iyah…iyah….maaf Non kalau abang menyinggung…yang penting sekarang kita ngentot dulu sampe puas…uuuhh!” sahut Djafar meminta maaf, ia tidak ingin mengungkit hal itu lebih jauh karena tak rela bila sampai gadis ini kehilangan mood dan mengusirnya.
“Hehehe…si Non tambah cakep aja biar lagi marah juga, yuk lanjut dong nyepongnya!” kata Sobri.
Tanpa diminta lagi, Syeni pun kembali memasukkan penis dalam genggamannya itu ke mulutnya dan kembali memainkannya dengan lidah dan hisapannya.
“Wwwaahh…enak banget…lobang memek amoy… Aahh…mana orangnya ayu banget lagi.. Aduh enaknya!!” ceracau Djafar terus menggenjot, kedua betis gadis itu ia naikkan ke bahunya.
Tubuh mereka mulai bersimbah keringat, Djafar menggenjot vagina Syeni sementara Syeni sendiri mengoral penis Sobri. Ritme genjotan Djafar semakin cepat dan bertenaga sehingga tubuh Syeni terguncang-guncang terutama sepasang gunung kembarnya, kedua pria itu tentu tak bisa tidak menggerayanginya. Seiring dengan semakin cepatnya sodokan pria itu, Syeni pun menjadi semakin lepas kontrol. Ia begitu larut menikmati permainan seks interacial itu. Wajah cantiknya bercampur dengan raut muka terangsang yang membuatnya terlihat sangat seksi. Syeni pun mencapai orgasmenya di tengah genjotan Djafar yang makin liar, tubuhnya menggelinjang dahsyat dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat sejadi-jadinya.
“Uuuhhh…keluar abang, Nonn!!” seru Djafar sembari menyemburkan seluruh cairan spermanya di dalam liang kemaluan Syeni.
Sperma yang dikeluarkan oleh pria ompong itu sangat banyak sehingga saat batang kemaluannya dicabut dari liang kewanitaan Syeni mengalirlah keluar cairan putih kental yang sangat banyak bercampur dengan cairan orgasme gadis itu. Bibir vagina Syeni pun tampak memerah akibat benturan dan gesekan keras batang penis Djafar. Dengan kemampuannya mendapatkan orgame beruntun/ multi orgasme, Syeni tidak membutuhkan istirahat lama-lama.



Djafar


Setelah Djafar menarik lepas penisnya dan ambruk kelelahan, Syeni menarik lengan Sobri yang disuruhnya duduk di sofa, ia sendiri lalu naik ke pangkuan pria itu berhadapan dengann, tangannya mengganggam penis yang masih tegang itu dan menempelkannya di bibir vaginanya yang sudah becek dan menganga tersebut.
“Akhh…Pak…puasin aku yah Pak…” desah Syeni saat menurunkan tubuhnya sambil memeluk tubuh kekar pria itu.
Memang sejak tadi ia sudah banyak berharap Sobri akan mampu memberinya kenikmatan yang lebih dahsyat dibanding rekannya yang kurus itu. Mata Syeni semakin sayu karena menahan gejolak nafsu yang terpendam. Ia semakin menurunkan tubuhnya di atas penis pria itu sehingga membuat batang penis yang telah siap di depan bibir vagina gadis itu menusuk masuk ke dalam liang vaginanya sedikit demi sedikit namun pasti. Bibir vaginanya terbelah makin lebar saat dilewati kepala penis pria itu hingga separuh tenggelam di dalam vaginanya. Payudaranya beserta putingnya dipilin, diremas dan dihisap oleh pria itu dengan sesekali lidahnya menyapu pelan ujung putingnya dengan gerakan melingkar.
“Pak…ohhh…udah masuk? Memekku sesak banget eeeenggghh!!” Syeni meracau lagi tak karuan kali ini tubuhnya menggelinjang hebat lalu menegang sembari tangan dan kakinya merangkul erat tubuhku.
“Udah Non tapi belum semua, enak ya Non, kontol Bapak gede” jawab Sobri sambil menekan tubuh gadis itu, “Bapak masukin lebih dalam ya Non?”
Syeni hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan pria itu barusan. Dan dalam beberapa hentakan ke atas akhirnya seluruh batang kemaluan Sobri berhasil masuk secara sempurna ke dalam liang senggama gadis itu.
“Aahhh…Pak…iyahh…aahh!” desah Syeni sambil naik turun merasakan liang kemaluannya disodok penis pria itu.
Sobri tersenyum kepadanya, “Bagaimana rasanya Non, mantap kan?” tanyanya sembari meremas-remas payudaranya yang indah itu.
Puting susu gadis itu sudah mengeras dan membesar dari ukuran normalnya dan buah dadanya yang putih itu sudah mulai memerah karena terangsang dan bukan hanya buah dadanya saja melainkan perut, leher, muka dan hampir seluruh bagian tubuhnya.
“Enak…sodok terus Pak…sshhh…terus jangan berenti…aahh!” desah Syeni lagi sembari menggoyangkan pantatnya perlahan.
“Non cantik banget, jago ngentot lagi!” kata Sobri kepada Syeni yang kemudian menjawabnya dengan pagutan panas ke bibir pria itu
Djafar yang baru memulihkan tenaganya tidak tahan hanya kebagian menonton saja. Maka dia pun mendekati mereka dan menggerayangi tubuh Syeni yang sedang berpelukan dengan Sobri.
“Eeemmhh” desah gadis itu menahan geli saat Sobri menjilat-jilat punggungnya yang mulus dan sudah mulai basah oleh keringat itu.
Tangan Djafar merayap ke depan meraih payudara kiri Syeni dan meremas-remasnya. Mulut Djafar kini mencupangi pundak dan leher gadis itu setelah menyibakkan rambut panjangnya ke sebelah. Tanda-tanda kemerahan bermunculan di sekujur tubuh Syeni, baik di dada, punggung, bahu dan leher.
“Kita main tigaan ya Pak!” kata Syeni menghentikan genjotan lalu berdiri hingga penis pria itu terlepas dari vaginanya
Kali ini tubuh Syeni membelakangi Sobri dan kembali duduk di pangkuan pria itu.
“Hehehe…si Non suka main belakan juga ya!” sahut Sobri kepada Syeni ketika gadis itu meraih penisnya dan mengarahkan ke lubang duburnya hingga tepat diatas ujung senjata Sobri
“Tapi pelan-pelan ya, jangan kasar!” kata Syeni memperingati
Dalam beberapa kali tarik dorong, batang kejantanan tukang ledeng itu akhirnya berhasil masuk ke dalam liang anus Syeni walaupun hanya bagian kepala penisnya saja.
“Hehehe…asyik nih main rame-rame sama cewek cantik lagi!” kata Djafar menyaksikan proses penetrasi itu ketika temannya menarik dengan keras pinggang Syeni hingga batang kejantanannya tenggelam seluruhnya ke dalam duburnya diiringi erangan panjang gadis itu.
“Uueedann…sempitnya…uuuhh!” desah Sobri sembari memompa anus Syeni dari bawah.
“Akhh…akhhh…sakit…akhhh….pelan…pelan…dong!” rintih Syeni di antara desahannya.
Mendengar protes Syeni, Sobri memelankan sodokannya dan sekarang lebih bervariasi karena diselingi gerakan memutar sementara dari mulutnya keluar ucapan-ucapan menggoda gadis itu yang membuatnya itu malu, risih tetapi juga membuatnya semakin bernafsu saja. Buktinya tak lama kemudian dia menyambut bibir Sobri yang menjelajahi tubuhnya dengan kecupan hangat.
“Ayo…Far!” ucap Sobri pada temannya sambil membuka lebar paha Syeni hingga bibir vaginanya terbuka lebar.
Tanpa buang waktu lagi, Djafar melesakkan batang kemaluannya menembus bibir vagina Syeni. Gadis itu mendesah pelan ketika merasakan bibir vaginanya kembali ditusuk oleh penis itu, ia merasakan di tubuhnya bercokol dua buah penis yang sedang mencari kenikmatan dengan membombardir kedua lubangnya dengan penuh gairah. Sesekali kepala kedua penis itu saling bertumbukkan karena dinding pemisah antara kedua lubang Syeni seolah tergencet sehingga seolah menjadi semakin tipis saja. Belum lagi jika kedua pria itu memompanya dengan irama yang sama saat menarik dan mendorong kejantanan mereka di liang vagina dan anusnya. Karena sudah biasa melakukan gangbang, Syeni dengan cepat sudah dapat menikmati threesome tersebut namun tetap saja terasa sakit dan perih di liang anusnya mengingat penis milik Sobri memang terbilang besar. Sekitar 10-15 menit kemudian Sobri merasakan kalau dia akan segera mencapai orgasmenya, lalu dia memompa dengan lebih cepat lagi dari sebelumnya. Melihat gelagat itu Djafar juga ikut mempercepat pompaanku ke dalam liang vagina gadis itu. Syeni terlihat sudah kewalahan karena dikeroyok dua pria secara bersamaan, namun ia masih tetap bertahan. Di tengah gempuran mereka, terngiang-ngiang kembali bagaimana dirinya yang tadinya hanya seorang gadis biasa dari keluarga baik-baik menjadi terjerumus dalam lembah nista seperti sekarang ini, rela merendahkan dirinya demi kepuasan seks. Ini semua gara-gara mantan kekasihnya yang tidak bertanggung jawab itu, juga gara-gara Imron si penjaga kampus bejat itu, atau gara-gara dirinya sendiri yang memilih menjadi seperti ini sebagai pelarian atas segalanya? pertanyaan seperti ini seringkali membuatnya gundah. Terlintas pula kenangan pada omanya yang telah meninggal dua tahun sebelumnya yang menganggapnya sebagai cucu kesayangannya, yang berharap ia masih bisa hidup untuk hadir dalam pernikahannya kelak bahkan sempat menggendong cicitnya. Harapan yang tidak pernah terpenuhi karena omanya sudah keburu meninggal dan entah apakah kelak masih akan terwujud mengingat kondisi dirinya yang sudah tercemar seperti sekarang ini. Tanpa disadarinya, dari matanya yang indah air mata meleleh membasahi wajahnya. Tangisnya sedikit mengganggu Djafar maka dia pun langsung mendaratkan sebuah ciuman maut pada bibir gadis itu. Dicium secara tiba-tiba Syeni tentu saja kaget dan buyar lamunannya. Nuraninya menyuruhnya untuk melepaskan diri dari ciuman yang najis itu namun apa daya sebab kini birahi lebih mendominasi. Lidah Djafar menyeruak masuk dan air liurnya tumpah ke dalam mulut Syeni. Sadar bahwa dirinya telah menjadi budak seks, Syeni pun akhirnya memasrahkan diri. Ia semakin membiarkan dirinya hanyut menikmati apa yang sedang dia rasakan. Sebuah puisi menjadi saksi,
Bunga yang tengah bersemi dengan segala keharumannya,
telah dicabuli tumbuhan rambat yang liar
Kemekaran yang lembut dengan segala putiknya,
telah didera hujan deras dan cipratan lumpur.
Betapa menyedihkan seorang gadis secantik bunga,
jatuh ke tangan orang yang salah.
Sungguh kepingan giok yang indah,
ternoda oleh kotoran yang menjijikan.
“Aarrgghh…ayo dong Pak sodok yang kencang…saya suka kontol kalian…puasin saya aaahhh!” erang Syeni tanpa malu-malu
“Hhohh.. Aarrgghh.. Gile, nih.. Aarrgghh.. Cewek ini doyan kontol ternyata.. Aarrgghh.. Oke deh.. abang bakal ngentotin lu.. Uugghh.. sampe menjerit minta ampun…uuuhhh….uuhhh!” sahut Djafar sambil menggenjot vagina Syeni makin bertenaga.
Keringat sudah membasahi sekujur tubuh ketiganya sehingga terlihat mengkilap. Suasana panas yang erotis begitu terasa di ruang tengah apartemen itu. Aroma persenggamaan terasa begitu tajam di sana.
“Aahh.. Ngentot! Aahh.. Rasakan kontol gue…perek…mampus lu!” penis Djafar dengan brutal mengobrak-abrik vagina Syeni.
Tak terelakkan lagi, Syeni pun semakin tak terkendali, belum lagi pompaan penis Sobri pada pantatnya dan gerayangan tangan mereka pada titik-titik sensitif di tubuhnya. Merasa sudah hampir klimaks, Djafar menarik lepas penisnya kemudian didekatkannya ke mulut gadis cantik itu.
“Isepin Non…ntar pejunya ditelen juga!” perintah Djafar membelai-belai rambut Syeni.
Dengan patuh, Syeni mengganggap penis yang sudah basah itu dan membuka mulutnya lebar-lebar.
“Gitu dong, sip!!” puji pria itu seraya mendorong penisnya masuk ke mulut Syeni.
Syeni mulai membersihkan penis yang telah belepotan cairan kewanitaannya sendiri itu. Rasanya agak asin dan terasa licin di lidah. Yang seperti ini bukanlah yang pertama atau kedua kali baginya sehingga ia sudah terbiasa dengan rasanya dan bahkan bisa dibilang sudah ketagihan. Satu-satunya cara agar precum bisa mengalir keluar adalah saat penis terangsang maksimal. Oleh karena itu, Syeni berusaha sekuatnya untuk merangsang penis Djafar. Dengan tekniknya yang sudah ahli, sambil naik turun perlahan di atas penis Sobri, Syeni menjilati seluruh bagian dari penis Djafar. Untuk menambah sensasi nikmat, ia juga tak lupa menyedot kepala penis itu agar sperma bisa tersedot keluar. SLURP! SLURP! SLURP! Demikian bunyi yang terdengar
“Aahh.. Oohh… Sedot terus, aahh..edan enaknya!” desah Djafar sambil meremasi rambut Syeni.
Cairan putih susu pun tercurah dari penis pria itu dan Syeni dengan rakus langsung melahapnya. Mm… dihisap dan dijilat bersih tanpa ada yang keluar dari mulutnya.
“Non, bapak keluar akhhh…akkhhh!!” seru Sobri yang sudah mencapai puncak sambil menyemprotkan seluruh cairan sperma yang sudah kutahan sejak beberapa menit tadi sehingga membasahi liang dubur Syeni.
Syeni hanya bisa menerima semprotan sperma itu dengan mendesah panjang dan mata merem melek karena dia sudah mencapai orgasmenya juga
Bersamaan kedua tukang ledeng itu mencabut penis mereka dari mulut dan pantat Syeni sehingga ia merasakan sensasi aneh karena tiba-tiba saja tubuh bawahnya yang sebelumnya penuh, tiba-tiba terasa kosong karena isinya menghilang. Beberapa detik kemudian terlihat dari pantat Syeni mengeluarkan sedikit cairan sperma kental dari dalamnya keluar dan membasahi selangkangan gadis itu mengalir menuruni pahanya yang putih mulus. Tubuh molek Syeni kini terbaring lemas di atas sofa. Buah dadanya terlihat naik turun mengikuti nafasnya yang tersenggal-senggal.
Kewanitaan Syeni masih terasa berdenyut-denyut, tubuhnya terasa melayang-layang. Dengan menggeser tubuhnya, ia menggapai tempat tissue yang terletak di atas meja kecil sebelah sofa itu. Dari sana ia mengeluarkan selembar tissue lalu dengan tissue itu ia seka selangkangannya yang belepotan. Setelahnya ia mengambil gelas dari mini bar dekat situ dan membuka kran dispenser hingga air mengalir ke gelas.
“Masih kuat Non?” tanya Djafar, “abang masih pengen nih!”
“Kita liat aja” jawab Syeni sambil duduk di sebelah Djafar
Tanpa malu-malu, ia meraih tangan pria itu dan meletakkannya di payudaranya lalu ia menciumi leher Djafar yang masih berkeringat. Pria kurus itu membalas perlakuan Syeni dengan menciumi rambut panjang gadis itu, dipeluknya tubuh mulus itu dan ditindihnya. Tidak itu saja, tangannya pun mulai menjelajah ke sana ke mari. Sekali waktu, tangan itu mengusap-usap payudara Syeni yang masih terasa sensitif, membuat gadis itu tertawa kegelian. Kadang, tangannya merayap ke bawah, menyelinap di antara kedua tubuh mereka, menggelitik selangkangan Syeni. Gadis itu menggeliat-menggelinjang, tetapi tak bisa melepaskan diri dari tindihan Djafar
“Si Nonn nafsunya gede banget ya hehehe” kata Sobri yang bersandar di sofa sambil meneguk minumannya.
“Iya nih gua suka yang kaya gini, seru!” sahut Djafar
Merasa kepala penisnya sudah bersentuhan dengan bibir vagina Syeni, Djafar menekan pinggulnya sehingga penisnya melesak masuk ke vagina gadis itu.
“Eeennggghhh!!” desah Syeni menerima hujaman benda itu pada vaginanya lagi.
Kali ini Djafar ingin berperan aktif sedangkan Syeni tinggal berdiam diri. Ia pun mulai menggerak-gerakkan pinggulnya menyetubuhi gadis itu.
“Oohh.. Enaknya..” desah Djafar dengan mata merem melek
Sambil berciuman dengan Syeni, Djafar memompa dengan penuh semangat. Syeni seringkali membelakakan mata saat penis pria itu menyodok terlalu keras. Namun, kenikmatan dari persetubuhan ini dapat mengalihkan rasa nyeri itu. Kedua kaki indah Syeni melingkari pinggang pria itu, terkadang menekannya seakan meminta ditusuk lebih dalam dan tidak boleh melepaskan tusukannya. Kedua tangannya juga memeluk tubuh si tukang ledeng sambil mulut mereka terus berpagutan, bermain-main lidah dan bertukar liur. Sungguh menggairahkan pergumulan interasial itu.
“Oohh.. Aahh.. Gue mau muncrat.. Oohh!!” erang Djafar.
Syeni memandang dengan penuh nafsu saat tubuh Djafar yang kurus dan sudah bermandikan keringat itu mulai mengejang-ngejang. Penis pria itu yang bersarang di dalam liang senggamanya terasa berdenyut-denyut hingga akhirnya memuntahkan lahar putih kentalnya.
“Aarrgghh!!” erang Djafar sambil menghujamkan penisnya dalam-dalam.
Syeni pun ikut berteriak karena pria itu meremas payudaranya dengan keras saat mencapai puncak. Siraman sperma hangatnya terasa memenuhi vagina gadis itu. Ccrroot!! Ccrroot!! Ccrroott!! Tukang ledeng itu terus-menerus melenguh sementara badannya berkelejotan di atas tubuh Syeni.
“Aarrggh!! ooohh!! Anjrit…enaknya!!” dengan desahan panjang, Djafar menarik penisnya keluar ketika tak ada lagi sperma yang dapat disemprotkan, penisnya nampak melemas dan menyusut.
Mereka akhirnya mulai berbenah diri setelah hampir dua jam menikmati threesome yang luar biasa tadi. Syeni kembali menutupi tubuhnya dengan handuk untuk mengantarkan mereka ke pintu.
“Kapan-kapan kita ngentot lagi ya Non, mau kan?” tanya Sobri antusias.
“Gak janji ya!” jawab Syeni seenaknya sambil menutup pintu hingga kedua tukang ledeng itu terbengong.
Setelah mengisi bathtub dengan air hangat dan menuangkan sabun secukupnya, Syeni membuka handuknya dan memasuki bathtub. Ia memejamkan mata menikmati kehangatan air yang menghilangkan rasa penat pada tubuhnya sambil merenungkan apa yang baru saja terjadi tadi.
#################################
Malam hari, pukul 19.30
Di sebuah hotel berbintang.



Koh Ayong


Debaran jantung Syeni semakin kencang ketika pria setengah baya itu menggandeng tangannya menuju kamarnya di lantai dua belas setelah sebelumnya menikmati makan malam di restoran hotel tersebut. Pria setengah baya berkacamata itu bernama Koh Ayong (54 tahun), pemilik beberapa pabrik tekstil yang sukses, ia telah membooking Syeni dan membayar tinggi untuk pelayanannya malam ini. Setelah pintu kamar dikunci dari dalam, Koh Ayong langsung merangkul tubuh gadis itu menuju ranjang. Ia mempersilakan gadis itu duduk di tepi ranjang dengan gentle, ditatapnya dengan tajam seluruh lekuk-lekuk tubuh gadis itu yang terbungkus gaun terusan berwarna ungu yang membuatnya nampak anggun dan seksi namun tidak murahan, pandangan mata pria itu menyapu dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah-olah dia hendak menelannya hidup-hidup saat itu, atau mungkin saja dia kebingungan harus memulainya dari bagian yang mana. Tapi kemudian, pria itu berhenti menatapnya, ia berjalan ke arah meja dan membuka botol red wine lalu menuangkannya ke dalam dua gelas.
“Kamu bisa minum kan?” katanya seraya menyodorkan gelas pada Syeni
“Asal ga terlalu banyak aja om” jawab gadis itu tersenyum sambil menerima gelas itu dan menyambut toast dari pria tersebut.
Tak butuh waktu lama efek hangat minuman itu langsung terasa pada tubuh mereka, kehangatan yang nikmat dan menambah suasa erotis dalam situasi seperti itu. Koh Ayong yang duduk di sebelah Syeni merangkul pundaknya dan mendaratkan ciuman bibirnya ke bibir gadis itu, makin lama makin ganas karena terbakar nafsu. Koh Ayong memutar-mutar bibirnya yang menempel di bibir Syeni seiring dengan permainan lidahnya yang sungguh buas. Syeni sendiri memejamkan mata sambil terus berusaha mengimbangi permainan pria itu. Perlahan-lahan, Koh Ayong mulai menindih tubuhnya sehingga Syeni pun kini rebahan di ranjang dengan kaki masih menjuntai. Tangan pria itu pun mulai bergerak-gerak nakal sambil menggerayangi tubuh Syeni, terutama meremas-remas payudaranya dari balik gaun terusannya. Tak cukup puas dengan meremasnya dari luar, Koh Ayong pun mulai memeloroti pakaian itu, mula-mula tali pundak sebelah kiri dan kemudian membuka restleting punggung. Begitu terbuka, ia pun langsung memeloroti gaun itu hingga sebatas perut sehingga tereksposlah payudara Syeni yang tertutup bra putih tanpa tali pundak. Tidak mau hanya pasif, gadis itu pun mulai memelorotkan celana Koh Ayong dan menanggalkan kemejanya perlahan dengan gerakan erotis, disertai elusan pada dada, sampai pria itu setengah telanjang dengan hanya mengenakan CD dan singlet. Kemudian keduanya saling memagut bibir lagi. Kali ini bahkan tak hanya bibir, Koh Ayong mengerayangi leher dan dada gadis itu dengan lidahnya sambil tangannya mulai menggerayangi paha mulusnya terus menyusup masuk ke dalam roknya hingga menyentuh celana dalamnya dan merabainya.
Perlahan Syeni mendorong kepala Koh Ayong untuk bergerak makin turun ke dadanya dimana pria itu bermain-main dengan payudaranya, mengenyot dan menjilat seperti layaknya bayi besar. Syeni mendesah-desah untuk memancing gairah Koh Ayong agar tak sampai surut, di samping karena ia sendiri memang merasa geli. Setelah sepuluh menitan menyusu sambil tangannya terus bergerilya, mulut Koh Ayong mulai turun ke bawah dan sampailah di area kewanitaan Syeni. Tak tahan ingin segera menghisap vagina gadis itu, dengan penuh nafsu, pria itu memelorotkan celana dalam putih yang dipakai Syeni. Matanya nanar memandangi vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan tercukur rapi itu dan tanpa babibu lagi, ia pun membenamkan wajahnya ke selangkangan Syeni. Ia melumat vagina gadis itu sambil mengedap-ngedipkan matanya. Syeni mendesah pelan dan tubuhnya menggeliat karena ia sedang berada dalam puncak kenikmatannya. Setiap kali melakukan hubungan seks, Syeni selalu merasa ada kenikmatan yang baru yang kurasakan, permainan pria keturunan ini berbeda dengan kedua tukang ledeng tadi siang, masing-masing mempunyai keunikannya sendiri. Entahlah, ia tak pernah bosan dengan seks, selalu ingin mencoba bermacam-macam variasi sehingga kalau boleh dikata, ia ketagihan. Imron lah yang patut dipersalahkan karena dia lah yang telah menggali keluar hasrat gadis ini hingga tercurah keluar tanpa terkendali.
“Ach, teruskan om!” pintaku pada sang bos tekstil itu.
Koh Ayong tambah liar saja memainkan sang Miss V, wilayah sensitif itu dihisapnya dengan rakus, lidahnya terus mengais-ngais lubang kenikmatannya dan akhirnya bertemu dengan daging kecilnya yang sensitif yang dikenal dengan nama klitoris. Vagina Syeni semakin basah saja baik oleh liur pria itu maupun oleh cairan kewanitaannya sendiri sehingga menimbulkan bunyi seruputan karena hisapan Koh Ayong. Selang beberapa lama, Syeni merasa vaginanya sudah tak sabar lagi untuk segera menumpahkan cairannya. Sejak tadi memang sudah keluar cairan precum yang sudah dinikmati terlebih dahulu oleh Koh Ayong. Namun sebelum benar-benar keluar, Syeni mendorong kepala pria itu menjauh dari vaginanya.
“Om…tolong winenya minta dikit lagi, boleh?” pintanya
“Boleh…boleh, biar tambah hot ya?” sahut Koh Ayong sambil mengambil botol wine itu dan menuangkannya ke gelas Syeni, “kamu emang pinter ya, minum sambil ginian emang paling enak loh!”
“Di sini sebentar ya om, biar ga ngebasahin ranjang!” Syeni turun dari ranjang dan membuka gaun terusannya yang masih menyangkut di perutnya hingga tubuhnya polos, kemudian ia duduk bersimpuh di lantai beralas kayu itu.
Koh Ayong terpana melihat yang dilakukan Syeni, wine di gelas itu tidak diminumnya melainkan ditumpahkan ke dadanya sehingga cairan merah itu terus turun dan tertampung di selangkangannya.
“Ayo Om, cepet diminum!” ajaknya dengan suara mendesah
Tanpa diminta lagi, pria itu segera ikut duduk di lantai di hadapan gadis itu. Mula-mula ia menjilati wine yang melumuri payudara Syeni, jilatannya terus turun ke bawah hingga ke selangkangannya dimana wine itu tertampung. Sssslllrrp…ssrrrlllpp…suara seruputan terdengar nyaring. Rasa wine itu kini bercampur dengan rasa kewanitaan, begitu nikmat sampai cairan itu habis pun, Koh Ayong terus menjilati vagina Syeni. Hal ini menimbulkan sensasi luar biasa bagi gadis itu dari dinginnya wine dan hangatnya lidah pria itu. Ia membuka pahanya lebih lebar sehingga Koh Ayong lebih leluasa menjilati vaginanya. Hingga pada puncaknya, tiga semprotan sekali muncrat yang langsung dijilat tak bersisa oleh Koh Ayong. Ia bahkan menghisap sampai habis sisa-sisa cairan vagina bercampur wine yang tersisa di wilayah selangkangan gadis itu. Setelah itu Syeni kembali naik ke atas ranjang empuk itu sambil menggandeng lengan Koh Ayong. Ia naiki tubuh pria itu dengan gerakan erotis, tangannya yang halus menyusup ke balik kaos singlet pria itu dan mengelusnya, jarinya memencet putingnya dan memainkannya hingga pria itu mendesah keenakan oleh pelayanannya. Tatapan matanya yang sangat menggoda membuat setiap pria normal tidak tahan menatapnya, tidak terkecuali Koh Ayong ini.
“Om udah ga tahan nih Syen, sekarang aja ya, ok?” tanya Koh Ayong kemudian sambil mengelus tubuh mulus Syeni.
“Pelan-pelan aja om, kalau keluar sebelum dinikmati kan sayang” jawab gadis itu, “sekarang buka dulu yah om bajunya” lanjutnya sambil membuka singlet pria itu lalu celana dalamnya.
Penis pria itu sudah mengacung tegak begitu celana dalamnya dipeloroti, ukurannya standar saja sih, tapi cukup keras. Syeni mengocok sebentar benda itu lalu ia membuka mulut dan memasukkan benda itu ke sana.
“Aahh.. Enak banget.. Syen!!” racau Koh Ayong merasakan penisnya dioral Syeni.
Sesekali kepala penis pria itu bersentuhan dengan gigi Syeni, ia hanya bisa mengerang tapi sambil mengelus rambut panjang gadis itu. Dimulai dengan jepitan erat bibirnya pada kepala penis, rasanya sukar dilukiskan, terutama waktu bibir Syeni masih dalam jepitan erat bergerak turun menyentuh lingkaran helm senjata pria itu. Koh Ayong merasa mau keluar saat itu tapi ia berusaha menahannya susah payah. Sensasi yang timbul saat bibir Syeni makin turun menjalari batang penis Koh Ayong yang keras dan penuh urat. Dan saat jepitan erat bibir gadis itu turun ke arah pangkal paha Koh Ayong yang berbulu, kepala penisnya menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan gadis itu.
“Syen… aduh.. enak sekaliii…” Koh Ayong merintih perlahan
“Hhmmm…keliatannya om udah siap ya!” kata Syeni setelah beberapa saat mengoral penis pria itu, ia lalu naik ke penisnya.
Koh Ayong berbaring telentang di tengah ranjang menanti pelayanan Syeni berikutnya. Dengan satu tangan memegang penis pria itu dan satu tangan lagi membuka celah liang kewanitaannya sendiri, Syeni perlahan-lahan menurunkan pinggulnya. Koh Ayong merasakan kepala penisnya telah menyentuh belahan hangat basah liang kewanitaan Syeni. Setelah pas posisinya, Syeni perlahan menurunkan pinggulnya hingga penis pria itu tertusuk ke vaginanya. Koh Ayong pun mulai mendesah-desah sambil menggigit-gigit bibir bawahnya, tangannya meremas kedua payudara gadis itu. Sementara itu, Syeni bukan hanya mendesah, melainkan mengerang menahan ngilu proses penetrasi itu.
“Goyang Syen!” perintah Koh Ayong
Tanpa disuruh lagi, Syeni pun segera menaik-turunkan tubuhnya, mereka berdua benar-benar menikmatinya saat itu.
“Gimana om? Enak? Aaaahh!!” tanya Syeni terlihat mesum.
Wajah gadis itu tampak bersemu merah karena sudah sangat terangsang dan pengaruh alkohol. Sesekali wajahnya meringis, menahan nikmat yang dirasakan dari hujaman-hujaman penis di bawah sana. Tangan Koh Ayong merajarela di sekujur tubuh telanjang Syeni, meremas-remas payudara, pantat, dan punggungnya.
Kali ini Syeni menundukkan badannya, mulutnya mencium mulut pria itu. Sambil berpagutan bibir ia tidak menghentikan gerakan turun naik pinggulnya.Gesekan batang kejantanan Koh Ayong pada dinding liang kewanitaan Syeni yang peret itu sungguh memberi kenikmatan luar biasa pada pria itu. Sensasi yang ditimbulkannya sampai menjalar ke seluruh tubuh, buktinya nafas pria itu semakin menderu-deru. Cukup lama juga Syeni memicu tubuhnya turun naik di atas penis Koh Ayong. Tiba-tiba saja ia menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan makin keras menghujam ke arah batang kejantanan Koh Ayong, bukan hanya itu, lidahnya juga menyedot kuat-kuat lidah pria itu. Koh Ayong juga turut menggoyang pinggulnya menyodok ke atas.
“Oohhh Om…gitu enakhh…enak sekali.. iya terus Om…” desah Syeni
Setengah jam lamanya penis Koh Ayong yang perkasa itu menghujam-hujam vagina Syeni hingga akhirnya bobollah pertahanan gadis itu. Diiringi desahan panjang, vaginanya banyak sekali mengeluarkan cairan bening dan hangat membasahi penis pria itu yang masih tertancap dalam vaginanya. Lemaslah tubuh Syeni menindih Koh Ayong yang sedang asyik mengenyot payudaranya yang putih, montok dan kenyal. Pria itu lalu mengubah posisi, kini batang penisnya masih tertancap di vagina Syeni hingga sekarang posisi gadis itu sekarang menungging dan ia berlutut di belakangnya. Batang penisnya yang masih menancap lalu ditekannya berkali-kali ke vagina gadis itu sambil kedua tangannya memegangi pantatnya. Kembali penis Koh Ayong yang keras keluar masuk ke vagina Syeni berkali-kali sampai kira-kira setengah jam kemudian Syeni pun kembali mencapai klimaksnya bersamaan dengan pria itu. Koh Ayong lalu mencabut penisnya kemudian menumpahkannya cairan spermanya yang hangat di perut gadis itu.
“Aaahhh.. aaahhh… ssshhh…Syen…bener-bener luar biasa deh… baru kali ini om geluarin cairan segini banyaknya…aahhh!” lenguh Koh Ayong.
Bagi Syeni, klimaks kali ini sungguh tak kalah dahsyat dari yang sebelumnya. Malah lebih dahsyat karena datang di saat tubuhnya masih dilanda kenikmatan sisa klimaks sebelumnya. Ia merasakan seluruh sendinya seperti mau copot akibat orgasme yang datang beruntun itu. Memang, letih karena orgasme adalah letih yang berbeda dibanding letih yang lain.
Keduanya benar-benar kelelahan sekali setelah pertempuran tadi itu. Syeni merebahkan diri di samping Koh Ayong di ranjang spring bed itu. Mereka saling merapatkan badan sehingga dapat merasakan dekapan hangat pasangan masing-masing. Koh Ayong masih menciumi dan mengecup leher belakang Syeni, sambil kakinya dilingkarkannya ke pinggang gadis itu seperti mendekap guling. Tangannya pun dilingkarkannya di perutku dengan erat seolah sedang menemani istrinya tidur. Syeni membalikkan tubuhnya dengan lunglai.
“Ah, boleh juga nih si enkoh…so gentle”, gumamnya dalam hati membandingkannya dengan kedua tukang ledeng siang tadi.
Dipandangnya pria setengah baya itu yang berbaring dengan kejantanannya yang tegak-keras.
“Hihihi…belum puas yah Om?” kata Syeni dengan suara pelan sambil menangkap penis pria itu dengan tangannya
“Puas kok Syen…om puas banget, tadi itu minum sedikit obat China makannya masih tegak nih hehehe” jawab Koh Ayong.
“Gitu yah…kalau gitu biar saya servis lagi, sekalian saya bersihin ya om” kata Syeni lagi seraya menggeser tubuhnya ke bawah, ke penis pria itu.
Ia menjilatkan lidahnya pada batang penis itu. Koh Ayong tersentak kegelian tapi segera pula tak berkutik ketika Syeni mulai menjilat. Sambil tetap berbaring, diperhatikannya Syeni seperti bayi kelaparan, berusaha memasukkan seluruh kejantanannya ke mulut mungilnya.
“Aaaahhh!” desah pria itu keenakan, penisnya serasa disedot-sedot mulut yang hangat dan basah.
Syeni berkonsentrasi, ia berusaha keras memberikan kenikmatan maksimal kepada pria yang telah membayarnya dengan harga tinggi ini. Ia sedang melakukan tugasnya seprofesional mungkin. Dengan lidahnya yang gesit, ia menyentuh-nyentuh ujung kejantanan Koh Ayong. Setiap sentuhan lidahnya membuat pria itu tersentak-sentak, apalagi kemudian lidahnya menjilat berkeliling. Tubuh Koh Ayong bergidik dan bergetar merasakan nikmat luar biasa, terutama saat Syeni meremas-remas lembut buah pelirnya. Pijatannya yang pelan dan lembut membuat pria itu seperti dilambung-lambungkan ke awan. Koh Ayong menggeliat-geliat merasakan penisnya seperti dipenuhi air yang mencari jalan keluar, bercampur geli yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Syeni tahu pria ini sebentar lagi akan mencapai klimaks. Maka ia memperkuat sedotan dan kenyotannya, kepalanya maju mundur sehingga penis di mulutnya keluar-masuk dengan suara berdecap-decap.
Syeni agak terkejut ketika kepalanya ditahan oleh Koh Ayong sehingga tidak bisa begerak, dan pria itu mencabut penisnya dari cengkraman mulutnya.
“Cukup Syen…udah mau keluar nih!” katanya, lalu ia kembali membaringkan tubuh gadis itu dan naik ke atasnya.
Koh Ayong memposisikan diri di antara kedua paha Syeni dan menempelkan kepala penisnya pada bibir vagina gadis itu. Setelah dirasa pas, dengan sekali gerakan ia menghujamkan kejantanannya dalam-dalam. Syeni setengah menjerit, kaget sekaligus keenakan. Syeni memejamkan mata kembali menikmati genjotan Koh Ayong dengan penuh penghayatan. Setelah birahinya dibangkitkan lagi oleh Syeni, Koh Ayong semakin bernafsu, permainannya yang tadinya lembut kini menjadi liar. Dengan ganas ia menghujam-hujamkan penisnya yang menyebabkan Syeni menggelepar-gelepar bagai sedang disembelih. Dengan sisa tenaganya, Syeni melingkarkan kedua kakinya di pinggang Koh Ayong sehingga tubuhnya kini terpaut ke tubuh pria itu. Keduanya lalu berpagutan bibir dan beradu lidah dengan penuh gairah sehingga desahan tertahan terdengar dari mulut mereka. Sensasi yang timbul dari pergesekkan penis pria itu dengan dinding dalam vaginanya benar-benar membuat Syeni serasa terbang, nikmat sekali..
“Aahh.. Aarrgghh.. Oohh…ooomm….mau keluar!!” tangan Syeni memeluk erat tubuh Koh Ayong, kukunya sampai mencakar punggung pria itu ketika di ambang klimaks
“Aahh.. Syen enak banget… ohh…!” Koh Ayong juga mengerang-ngerang dan genjotannya semakin bertenaga.
Mata Syeni merem-melek saat gelombang dahsyat itu menerpanya, tubuhnya mengejang hebat, gelombang kenikmatan itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhnya. Rasa nikmat yang dirasakannya itu begitu besar sehingga dia tak mau hal itu berakhir. Sengaja kakinya yang mengapit pinggang Koh Ayong ia pererat agar penis pria itu bisa masuk lebih dalam. Tak lama kemudian pria itu juga mencapai orgasmenya. Koh Ayong menekan dalam-dalam batang penisnya dalam vagina Syeni dan menyemburkan isinya. Cairan hangat itu tertumpah di dalam rahim gadis itu. Penisnya berangsur-angsur menyusut di dalam sana, lalu ia mencabut batang kemaluannya hingga akhirnya mereka terbaring bersebelahan.
“Syen, kamu benar-benar hebat. Sudah keluar beberapa kali tetap bisa siap tempur lagi hehehe…gak salah emang kenal sama kamu” puji Koh Ayong yang membuat gadis cantik ini mukanya bersemu merah.
Akhirnya setelah obrolan ringan beberapa saat, mereka pun tertidur bersama saling berpelukan.
###########################
Keesokan paginya
Gadis cantik itu terbaring seorang diri di atas ranjang, wajahnya terlihat begitu tenang dan begitu polos ketika dalam keadaan tertidur. Tubuh telanjangnya hanya terbalut selimut hotel yang hangat yang membuatnya tidur dengan nyenyak, sedangkan sosok Koh Ayong yang kemarin bercinta dengannya sudah tidak terlihat lagi di sana.
“Mmmhhh…”, beberapa saat kemudian ia terlihat mulai terbangun dari tidurnya yang tenang. Ia mendesah pelan sambil menggeliatkan tubuhnya yang indah, matanya membuka dan berkedip. Matanya memandang ke arah jam weker digital di bufet sebelah ranjang. Waktu telah menunjukkan pukul 9.43, sudah siang, ia tertidur cukup lama. Ia bergegas turun dari ranjang dan menuangkan air putih ke gelas lalu meminumnya. Matanya tertuju pada sebuah amplop hotel bertuliskan namanya di atas meja, ia ambil amplop itu dan mengeluarkan isinya, sebuah cek delapan juta rupiah dan secarik surat, dari Koh Ayong, isinya:
Maaf Syen…om harus berangkat pagi-pagi ke pabrik ninggalin kamu sendirian. Tadinya om mau bangunin kamu tapi keliatannya kamu capek sekali jadi om nggak sampai hati bangunin. Untuk sarapan silakan kamu silakan pesan saja di hotel, tagihannya masuk rekening om kok. Uang bayaran buat kamu sudah om sediakan dalam bentuk cek. Terus terang om sangat puas dengan pelayanan kamu jadi om lebihkan bayarannya sedikit. Lain kali om akan kontak kamu lagi ok.
Syeni termenung sejenak, dalam satu malam saja ia sudah bercinta dengan seorang pria berduit, ada rasa bangga dan gembira karena dengan pesonanya ia telah berhasil mendapat uang sebesar itu, namun juga ada rasa penyesalan dan bersalah karena semua ini harus dibayar dengan kehormatannya juga perasaannya sebagai wanita, semuanya kosong dan hampa, sehampa hatinya. Kini ia merasa benar-benar sendiri, di kota asalnya papa mamanya tidak pernah punya waktu memberinya kasih sayang, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan dan arisan, hanya tahu memberi uang dan materi pada puteri mereka, omanya yang dekat dengannya sudah tiada, pria yang pernah dicintainya telah mencampakkannya seperti samapah. Tak ada lagi orang yang menghiburnya di kala gundah, tak ada lagi laki laki pelindungku di kala susah, ia tinggal sendiri menjalani kehidupan ini yang belum tahu ke mana arahnya. Itulah manis, pahit dan getirnya menjalani profesi seperti ini. Tidak ingin lama-lama larut dalam perasaan tidak menentu, Syeni segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri di bawah shower. Setelah menghabiskan sarapannya ia segera meninggalkan hotel itu.
Karena hari itu tidak ada jadwal bimbingan, Syeni menyempatkan diri jalan-jalan di mall di depan hotel itu. Seperti gadis-gadis seumurannya di sana ia window shopping dan membeli beberapa barang yang memikat hatinya, juga bertemu beberapa teman dan mengobrol sebentar. Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah hampir jam makan siang lagi. Di suatu sudut di mall itu ia melihat beberapa warga Jepang yang tinggal di Indonesia tengah mengumpulkan sumbangan untuk korban tsunami di negeri mereka dengan bahasa Indonesia berlogat Jepang. Syeni melewati stan itu namun sepuluh langkah setelahnya tiba-tiba ia berbalik ke stan amal tersebut dan mengutarakan niatnya untuk menyumbang.
“Mereka lebih membutuhkan ini daripada aku” katanya dalam hati sambil mengeluarkan cek delapan juta yang diterimanya dari tasnya.
Pria setengah baya yang menjadi panitia sedikit terhenyak menerima sumbangan yang terbilang besar itu. Ketika mengisi buku daftar penyumbang, Syeni hanya mengisi nominal jumlah uangnya saja, sedangkan untuk nama ia hanya mengisinya dengan huruf ‘S’. Orang-orang yang berdiri secara bersamaan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jepang dan Indonesia dan seorang wanita memberikannya sebuah kertas lipat berbentuk burung-burungan sebagai tanda telah menyumbang. Kata wanita itu burung-burungan kertas dapat membawa berkat dan keberuntungan bagi yang percaya. Syeni tersenyum dan memasukkan benda itu ke tasnya dan meninggalkan stan itu. Ia tidak percaya hal-hal seperti itu, namun kehampaan hatinya sedikit terobati dengan berbuat amal dengan tulus tanpa ada niat cari muka ataupun pamer seperti yang dilakukan para politikus itu yang menyumbang sambil mengibarkan bendera partai mereka atau pejabat yang memberi sumbangan tapi harus diliput media yang tidak ada bedanya dengan ‘membeli’ dukungan. Ada tertulis dalam sebuah puisi klasik:
……….
Sebagaimana Liang Hongyu* dan Du Shiniang**,
beberapa pelacur bahkan lebih mulia daripada para munafik bertopeng moral.
Engkau dapat menipu dunia, tapi tak dapat mengelabui langit,
Engkau mungkin terlihat saleh di mata manusia,
namun langit mengetahui kebusukan hatimu.
………..
Saat keluar dari sebuah toko sepatu Syeni melihat seorang anak perempuan berumur sekitar 5-6 tahun yang sepertinya sedang kebingungan, kepalanya menengok kesana kemari seperti tersesat, matanya juga nampak sembab. Syeni melihat di sekitarnya, memang tidak ada orang dewasa lain yang menuntun anak ini, sepertinya ia memang terpisah. Ia sadar dengan kondisi seperti itu, anak itu sangat rawan penculikan, apalagi di tangan anak itu terdapat sebuah HP. Maka ia pun menghampiri anak itu.
“Dik? Kamu mau ke mana? Mama kamu mana?” tanyanya lembut.
“Papa…Amel mau papa? Papa mana?” anak itu terisak-isak ketika Syeni menanyainya.
“Oke…oke…Amel tenang ya, ini kan Amel punya HP, ayo kita telepon papa Amel aja ya” kata Syeni menenangkan gadis kecil itu.
“Tapi gak bisa nyambung Ci…Amel udah coba tapi ga nyambung terus…huuuu..!!” anak itu semakin menangis.
Syeni mencoba HP anak itu dan menghubungi nomor papanya. Ternyata masa aktif pulsanya telah habis sehingga tidak heran kalau tidak bisa dipakai untuk menelepon. Ia mengeluarkan BB-nya dan mencoba menghubungi nomor tadi. Kali ini tersambung, seorang pria menerima telepon.
“Ya…halo!” sapa suara di sana.
“Ia halo, ini ada yang mau bicara” Syeni lalu menempelkan Bbnya ke telinga anak itu.
Anak itu menangis di telepon dan ngomongnya tidak jelas sehingga Syeni menarik kembali BB-nya untuk bicara lebih jelas dengan ayahnya. Ia menjelaskan posisi mereka agar ayah anak itu dapat menemukan mereka dan menjemput anaknya.
“Oh…oke…oke…saya segera ke sana sebentar lagi!” kata pria itu segera menutup telepon.
“Mel…Amel tenang ya, papa Amel mau jemput kok sebentar lagi, udah ya udah!” Syeni memeluk anak itu dan mengelus-elus rambutnya.
Anak itu mulai tenang dan merasa nyaman dalam pelukan Syeni
“Eh…Mel, kamu haus ga? Tuh di sana ada yang jual minum, yuk cici beliin!” ajak Syeni setelah anak itu tenang.
Ia menggandeng tangan kecil itu dan membelikannya segelas bubble tea. Kemudian ia mengajak anak itu duduk di bangku dekat situ sambil menunggu ayahnya.
“Ci…cici malaikat ya?” tanya anak itu setelah menyedot minumannya, “kata laoshi di sekolah minggu malaikat itu cantik dan baik hati, selalu ngebantu kita”
“Ahh…apa…” Syeni terdiam tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia tidak percaya masih ada orang menyebutnya sebagai malaikat, bahkan orang tua dan mantan pacarnya pun tidak pernah menyebutnya seperti itu, apalagi mengingat keadaannya sekarang yang sudah sangat kotor, kepolosan anak ini membuatnya sangat terharu dan hampir meneteskan air mata, “bukan…cici bukan malaikat…nama cici Syeni!” lanjutnya dengan suara sedikit bergetar.
“Amel…nakal ya kamu…papa kan udah bilang jangan jauh-jauh mainnya!” seorang pria berambut belah tengah berumur awal tiga puluhan menghampiri mereka dari samping.
“Papa…papa…ini cici yang nolongin Amel nelepon papa!” Amel turun dari bangku dan memeluk papanya.
“Oooh…kamu, terima kasih…maaf ya ngerepotin, anak ini emang gini baru ditinggal sebentar udah keluyuran ke mana-mana” kata pria itu menggendong anaknya, “Oh ya, saya Stephen” ia mengulurkan tangannya.
“Syeni” gadis itu menyambut uluran tangan pria itu sambil tersenyum manis.
Setelah berbasa-basi sejenak, Syeni pun berpamitan dan hendak pergi.
“Oke deh, Amel jangan nakal lagi ya, cici pulang dulu!” katanya sambil berjongkok dan mengelus kepala anak itu, lalu berdiri dan membalik badan hendak pergi.
“Syen…tunggu dulu…saya punya kafe di mall ini dan kebetulan ini sudah jam makan siang. Kalau kamu gak keberatan, saya mau mentraktir kamu…ya sebagai tanda terima kasih” kata Stephen.
“Eenngg…tapi…”
“Ayo Ci, kita makan bareng, di kafe papa enak-enak loh makanannya!” Amel ikut mengajaknya dan menarik tangan gadis itu.
Ajakan Amel benar-benar membuat Syeni tidak bisa menolak, ia takut mengecewakan anak itu sehingga akhirnya ia pun mengiyakan ajakan ayahnya.
Sambil menggendong putrinya, Stephen membawa Syeni ke sebuah kafe di salah satu sudut mall itu. Ternyata posisinya tidak terlalu jauh dari tempat tadi Amel hampir tersesat, mungkin karena luasnya bangunan dan keramaian pengunjung membuat anak itu menjadi bingung. Sambil menunggu mereka pun mengobrol.
“Dia memang selalu merindukan figur seorang mama, makannya dia nempel ke kamu seperti tadi” kata Stephen menjelaskan sambil melihat ke arah putri kecilnya yang sedang asyik dengan mainannya di meja lain.
“Maaf kalau boleh tahu, mamanya….?”
“Sudah gak ada sejak dia lahir…pendarahan…” jawab pria bertampang kebapakan itu menjawab dengan berat.
“Oh maaf…saya turut berduka” Syeni turut berduka mendengarnya.
“Nggak…ga apa kok” Stephen kembali tersenyum, “ayo silakan diminum dulu!” ia mempersilakan Syeni meminum minuman yang baru saja diantar pelayan.
Stephen melanjutkan ceritanya bahwa ia sebagai single father membesarkan anaknya dibantu oleh kedua orang tuanya. Selama ini ia belum memikirkan untuk menikah lagi walaupun orang tua, saudara dan teman-temannya terus mendorongnya agar putrinya tidak tumbuh tanpa kasih sayang ibu. Masih banyak pergumulan dalam dirinya mengenai hal yang satu ini, juga karena selama ini ia belum menemukan wanita yang dirasanya pas sebagai pengganti almarhum istrinya maupun ibu bagi putrinya.
“Omong-omong, kamu sendiri masih kuliah? Atau sudah kerja?” pria itu mulai berusaha mengenalnya lebih jauh.
“Kuliah, lagi skripsi…di ********” jawab Syeni.
Selama menemani ngobrol mereka terus saling menatap wajah dan mata masing-masing. Entah ada kekuatan apa, baik Stephen yang telah lama menyendiri dan menutup diri dari wanita lain maupun Syeni yang sudah tidak percaya adanya pria baik, yang menganggap setiap pria hanya menginginkan tubuhnya, mulai merasakan adanya chemistry di antara keduanya. Hati keduanya yang telah membeku mulai sedikit mencair.
Di tengah menikmati hidangan utama, Stephen pamit ke dalam sebentar karena ada yang perlu dibicarakan dengan karyawannya. Syeni pun tinggal bersama dengan Amel. Keduanya tampak semakin cocok, makan sambil ngobrol dan bercanda. Sampai masuk sebuah pesan ke BB nya, dari Imron, si penjaga kampus bejat itu, yang mengajaknya untuk datang ke kampus sore ini atau dia yang akan datang ke apartemennya nanti malam. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya tiba-tiba rusak. Ia sadar dirinya adalah budak seks si penjaga kampus bejat itu yang menyimpan skandalnya juga budak seks bagi Pak Dahlan, si dosen mesum itu. Setelah makan, dengan alasan sedang buru-buru, Syeni pamit untuk pergi dari situ. Stephen bermaksud mengantarkan dengan mobilnya, tapi ia menolaknya dengan alasan sudah dijemput oleh seorang teman yang menunggu di depan mall. Setelah menurunkan Amel dari gendonganya, ia pun meninggalkan tempat itu.
“Syen…!” Stephen memanggilnya ingin meminta nomor HP atau pin BB agar bisa tetap berhubungan, tapi tidak meneruskannya, ia baru ingat nomor gadis itu telah masuk ke BB nya ketika meleponnya tadi.
Hati pria tampan itu berbunga-bunga, ia berharap masih dapat bertemu lagi dengan gadis itu. Namun tidak dengan Syeni, di satu sisi ia juga ingin bertemu pria itu lagi, namun di sini lain ia tidak ingin menyakitinya yang diyakininya akan terjadi bila mereka mengenal semakin dalam, juga bagaimana dengan Amel, bagaimana reaksinya bila orang yang dianggapnya malaikat itu ternyata penuh noda. Sungguh galau hatinya, semua ini seperti cerita Cinderella, kebahagiaan sejenak itu telah berakhir, kembali ke kehidupannya yang gelap, namun ‘sepatu kaca’ itu kini tertinggal, menunggu kelanjutan kisahnya. Sesungguhnya
Lahir dan mati, perjodohan dan perpisahan,
semua adalah kehendak langit.
Bila jodoh, berpisah ribuan li pun, akan kembali bersatu.
Tanpa jodoh, jarak sejengkal pun tiada pernah bisa bersatu.
Wahai pujaan hati, akankah kita bersua kembali?
Catatan:
• Liang Hongyu (1102-1135) adalah putri seorang perwira militer Dinasti Song yang terpaksa menjadi pelacur demi menyelamatkan ekonomi keluarganya setelah ayahnya meninggal. Belakangan ia bertemu dan saling jatuh cinta dengan pahlawan perang Song, Han Shizhong. Keduanya akhirnya menikah, sejak itulah nasib Liang berubah. Karena menguasai ilmu bela diri dan seni perang, juga atas rekomendasi suaminya, ia mendapat posisi dalam ketentaraan. Di sana ia membuktikan diri sebagai wanita pejuang yang tangguh. Bersama suaminya, ia memenangkan beberapa pertempuran melawan suku barbar Jurchen. Setelah ia meninggal namanya harum dan dikenang dari generasi ke generasi sebagai seorang pahlawan wanita China.
• Du Shiniang adalah tokoh dalam cerita rakyat China. Ia adalah seorang pelacur yang jatuh cinta pada seorang sarjana bernama Li Jia. Ketika Li memintanya untuk menjadi istrinya, Du sangat gembira dan mengiyakannya. Setelah Li menebusnya, ia pun memboyong Du ke kota asalnya. Namun dalam perjalanan, seorang saudagar bernama Sun Fu terpikat oleh kecantikan Du dan ia membujuk Jia untuk membatalkan niatnya menikahi Du. Sun juga menghasut bahwa keluarga Jia yang terpandang pasti tidak akan setuju mengambil menantu seorang bekas wanita penghibur. Jia yang plin-plan akhirnya menyetujui tawaran Sun senilai 1000 tael emas untuk menyerahkan Du padanya. Du Shiniang sangat kecewa pada Li setelah diberitahu tentang semua ini. Keesokan harinya di atas perahu yang mereka tumpangi ia melemparkan satu demi satu emas permata yang ia miliki. Ketika Li Jia menanyakan apa yang ia lakukan, Du menjawab, “semua ini adalah tabungan pribadiku yang akan kupakai untuk menempuh hidup baru setelah pensiun, tapi sekarang engkau telah menyia-nyiakan semuanya, jadi untuk apalagi semua ini?” habis berkata ia terjun ke sungai dan menenggelamkan diri demi membuktikan kemurnian cintanya.

###########################



© Karya Shusaku






Joane



Kilatan cahaya dan kelap-kelip lampu disco yang mengikuti irama musik underground memenuhi dance floor tempat para muda-mudi asyik melewati malam dengan berdansa, minum alkohol, ngobrol-ngobrol, dan kegiatan lainnya. Sebagian besar yang hadir malam itu adalah mahasiswa/i karena malam itu sedang acara campus nite. Di tempat clubbing elite itu mereka bersantai dan melupakan sejenak kesibukan dan stress mengenai masalah kuliah. Diantara mereka yang bergoyang mengikuti irama musik nampak Joane, Devi, serta beberapa teman wanita dan pria mereka. Setelah puas bergoyang Joane kembali ke sofa tempat teman-teman lainnya berkumpul, ia pun bersulang segelas kecil Jack Daniels. Ia nampak seksi malam itu dengan tank top kuning dan rok mini putih yang memamerkan pahanya, Ia pun larut dalam canda tawa dengan mereka, kadang untuk mengobrol mereka harus agak berteriak mengimbangi dentuman-dentuman speaker yang bising itu.
“Loh, Jo…bukannya itu si Yogi !” sahut Anna, seorang temannya.
“Hah ?? apa ?” tanyanya agak keras.
“Yogi…cowok baru lu tuh !” Anna mengeraskan suara sambil menunjuk.
Joane menengok ke belakang ke arah yang dimaksud temannya, senyuman di wajahnya mendadak hilang. Matanya memandang tajam ke arah seorang pria berambut spike yang sedang baru duduk di sofa lalu merangkul seorang gadis cantik, mereka sepertinya begitu akrab sampai-sampai si cewek mengecup pipinya begitu dia duduk.

“Bangsat !” makinya dalam hati sambil bangkit berdiri dengan tangan terkepal kuat.
Seorang temannya memegang pergelangan tangannya bermaksud menahan, namun ia menyentak tangannya dan tetap berjalan menghampiri pria itu. Orang-orang yang berkumpul di sofa itu memandang ke arahnya, begitu juga pemuda berambut spike yang baru datang itu, ia kaget dan langsung menurunkan tangannya dari bahu gadis itu begitu melihat Joane sudah berdiri disitu sambil melipat tangan, lalu ia segera membuang muka dan meninggalkan mereka. Seperti yang diharapkan, pria itu mengikutinya keluar ruangan. Joane menghentikan langkahnya di dekat toilet yang agak sepi dan jauh dari hingar bingar musik.
“Dasar laki-laki brengsek, lu tau kan gua paling gak suka diboongin !” ia langsung menyemprotnya dengan marah.
“Jo…Jo…please denger dulu dong, kita tuh emang abis bicarain urusan kerja, udah gitu baru temen-temen gua ngajakin ke sini” Yogi berusaha menjelaskan sambil meletakan tangan ke bahu Joane yang mulai uring-uringan.
“Terus cewek itu nyium lu juga disuruh temen lu? iya !?”
“Aduh Jo, itu kan cuma gitu aja…lagian dari sebelum jadian kita duaan juga udah ga perawan ini kan ?”
“Cuma gitu aja hah lu bilang !” Joane benar-benar marah mendengar jawaban itu, minta maaf pun tidak malah masih membela diri. Ia menepis tangan pemuda itu dari bahunya, lalu menamparnya dan berlari meninggalkannya.
Dengan hati hancur ia berlari ke mobilnya di basement parkir. Begitu masuk dan menutup pintu, ia mengeluarkan ponselnya dan menulis SMS, ‘Dev,ntar u sama si Anna plg ikut yg lain aja yah, sori gw hrs plg duluan’. Setelah mengirim SMS itu ia menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya. Sepanjang pejalanan pikirannya nerawang sampai diteriaki ‘goblok’ oleh seorang pengendara motor karena menyalip jalur dengan kecepatan tinggi. Untuk kesekian kalinya ia kembali menelan pil pahit dalam berpacaran. Memang ia mengakui dirinya bukanlah wanita baik-baik, ia seorang ayam kampus yang pernah terlibat macam-macam petualangan seks, namun setidaknya selama ini ia tidak pernah berbohong pada para pria yang menjadi pacarnya. Pada mereka yang pernah menjalin hubungan kasih dengannya ia selalu mengakui latar belakangnya yang suram dan kalau mereka mau menerima apa adanya ia akan berusaha memperbaiki diri. Namun selama ini kebanyakan laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya sehingga ia sudah terbiasa disakiti dan makin terjerumus dalam kehidupan yang kelam, terlebih ia kini telah menjadi budak seks Imron, si penjaga kampus bejat itu. Sebulan lalu ia baru saja mencoba hubungan serius dengan Yogi, eksekutif muda itu, yang berhasil menundukannya. Pemuda itu menjanjikannya segudang harapan bahwa ia menerima dirinya yang telah kotor itu apa adanya dan bersama mereka akan menghadapi masa depan yang lebih baik. Di pundak pemuda itu, Joane telah menaruh harapan besar tentang hari depannya setelah lulus nanti dan lepas dari cengkraman Imron. Namun baru sebulan saja janji-janji itu hanya tinggal janji, persis janji-janji para politikus setelah memenangkan kampanye, semua pria sama saja, hanya pintar mengobral janji dan bermanis mulut.
Sampai di kamar kostnya ia langsung membanting tubuhnya ke ranjang, dipeluknya bantal guling sambil menangis sejadi-jadinya. Pria itu bahkan belum menelepon untuk setidaknya minta maaf. Tak lama kemudian ia tertidur kelelahan tanpa sempat berganti pakaian. Ia baru bangun pagi hari jam sepuluh ketika matahari menerangi kamarnya. Setelah menyesuaikan matanya yang baru menyesuaikan diri dengan cahaya, ia turun dari ranjang dan melepaskan pakaiannya hingga bugil lalu memasuki kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Di kamar mandi, ia memutar kran dan mengucurlah air dari shower membasahi tubuhnya. Sambil menyabuni tubuhnya, dalam pikirannya masih terbayang-bayang kejadian semalam, apa gerangan yang sedang dilakukan lelaki itu sekarang, pasti ia juga baru bangun setelah tidur seranjang dengan gadis itu atau mungkin sekarang mereka sedang meneruskan babak selanjutnya di kamar mandi. Tapi…ah sudahlah ngapain juga harus memikirkan seperti itu terus, ini memang bukan pertama kalinya, tapi entah sampai kapan akan ada lelaki baik yang bukan hanya menginginkan tubuhnya dan serius mencintainya.
Sebagai ayam kampus ia juga tidak berharap terlalu muluk untuk mendapatkan lelaki yang perfect, penampilan tidak terlalu pentinglah, kekayaan pun ya bisa ditempatkan di nomor sekianlah karena keluarganya termasuk sangat berkecukupan, yang diperlukannya hanyalah kasih sayang tulus dan perhatian yang tidak pernah didapat dari orang tuanya sejak kecil, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan seringkali bertengkar bahkan tidak jarang di depan dirinya. Mamanya yang lebih sayang pada adik laki-lakinya sering mencubit dan memukulnya bila berbuat salah. Kurangnya kasih sayang dan perhatian inilah yang membuat Joane menjadi rusak. Sejak kehilangan keperawanan pada umur 16 tahun, hidupnya semakin tak karuan, terlebih saat itu ia telah tinggal di kost jauh dari keluarga. Ia mulai menjual diri dan kecanduan seks, predikat wanita nakal mulai melekat pada dirinya. Sebenarnya dalam hati kecil Joane, ia pun ingin merasakan cinta yang tulus dan kelak membangun keluarga bahagia, ia juga senang sekali dengan anak kecil, hal ini nampak dari hubungannya dengan keponakannya yang masih balita, ia begitu akrab bermain-main dengan mereka. Kepolosan dan kelucuan merekalah yang dapat membuatnya seperti meneguk setetes kebahagiaan di tengah hidupnya yang kelam. Sebagai manusia tentu ia tidak ingin berkubang dalam lumpur dosa selamanya, beberapa kali ia mencoba memperbaiki diri setiap ada lelaki yang dianggapnya benar-benar mencintainya, namun beberapa kali pula mereka mengecewakannya sehingga membuatnya terjerumus makin dalam.
Sejak Yogi menyatakan cintanya sebulan lalu ia telah mengurangi merokok dan menolak seks dengan pria lain selain pemuda itu dan tentu saja Imron yang telah menguasainya. Dengan segala rayuan gombalnya mampu membuat Joane yakin dialah ‘sang prince charming’ yang selalu dinantinya, terlebih keduanya memiliki latar belakang yang sama-sama kelam, Joane telah mendukung pemuda itu dalam usahanya lepas dari ketergantungan alkohol dan kesukaannya main perempuan. Ia melihat keseriusan pemuda itu yang mulai mengurangi minum dan tidak main perempuan, sehingga ia pun mulai memperbaiki diri juga, ia tidak lagi menerima panggilan untuk menjual tubuh dan meredam nafsunya yang liar dengan berolah raga dan kegiatan positif lainnya. Panggilan dari Imron adalah perkecualian karena si monster pemangsa wanita itu telah menjeratnya, ia hanya berharap segera lulus sehingga lepas darinya seperti yang dijanjikan Imron bahwa korbannya baru bisa lepas setelah lulus atau minimum dua tahun menjadi budaknya sambil menunggu mangsa baru dari angkatan berikutnya, pria itu selalu mengancam bila keluar dari kampus itu sebelum waktunya ia akan membeberkan foto-foto memalukan korbannya. Sepuluh menit kemudian, Joane menyudahi mandinya, ditutupnya kran hingga air berhenti mengalir. Ia mengelap tubuhnya yang basah dengan handuk lalu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Hari itu adalah hari Minggu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat. Ia membuka lemarinya untuk mengambil pakaian, dipilihnya pakaian yang santai berupa sebuah kaos pink tanpa lengan dan bawahannya hot pants yang sangat pendek sehingga mengekspos paha rampingnya yang putih mulus.
Setelah berpakaian ia mengambil ponselnya, hanya ada satu SMS yang masuk sejak semalam yaitu dari temannya, Devi. Isinya, ‘Jo, u gpp kan ? j5 sore ini kta jln2 ke mall aja yah, biar kita fun dikit’. Joane membalas SMS itu sambil berjalan keluar kamarnya untuk menggantung handuknya yang basah di jemuran. Ketika berjalan ke tempat jemuran, karena matanya melihat ke layar ponsel, ia hampir bertabrakan dengan Mumun, si kacung kost yang baru berusia 14 tahun yang biasa kerjanya bersih-bersih, membelikan barang titipan penghuni kost, atau pekerjaan-pekerjaan ringan lainnya. Ia bekerja disini membantu ibunya, Mbak Sarti, karena tidak punya biaya untuk meneruskan sekolah. Mbak Sarti sendiri lebih sering berada di rumah ibukost yang letaknya berdekatan dengan kost itu. Anak itu berambut cepak dan kurus, kulitnya gelap karena sering terkena panas matahari, dibanding Joane tinggi anak itu baru sebatas mulutnya, sifatnya pendiam dan pemalu. Joane tersentak pelan lalu mengelus dada karena agak terkejut anak itu hampir menabraknya dari samping, ia sedang mengepel lantai saat itu.
“Maaf Non” ujarnya sambil tetap menunduk dan meneruskan pekerjaannya.
Setelah menggantungkan handuknya di jemuran Joane langsung berbalik kembali ke kamarnya. Diam-diam Mumun memandangi sosoknya yang seksi itu, pria mana yang tidak menelan ludah melihat tubuhnya yang ramping itu dengan kostum yang minim, pahanya yang mulus membuat orang bernafsu membelainya, hotpants yang pendek dan ketat itu mencetak bentuk pinggulnya yang bulat indah. Sebenarnya Joane pun merasa dirinya sedang dipandangi, namun ia santai saja karena tatapan nakal pria bukan hal yang asing baginya.
Joane menyalakan TV lalu duduk berselonjor di ranjang sambil menonton. Tangannya meraih sekotak rokok A-Mild dan menyelipkannya sebatang diantara bibirnya yang indah. Pikirannya tentang pria itu masih terngiang-ngiang di benaknya walau ia berusaha melupakannya.
“Dasar laki-laki, dimana-mana sama aja! Di depan mulutnya manis, di belakang selingkuh, emangnya gua ga bisa gitu apa ?!” marahnya dalam hati sambil mengepulkan asap dari mulutnya.
Dalam kemarahannya, pikiran nakal melintas di benaknya, tiba-tiba saja ia teringat pada Mumun, si bocah pembantu kost yang barusan berpapasan dengannya. Ia ingin menggoda anak itu sebagai pelampiasan kekesalan terhadap pria yang telah mengkhianatinya. Nuraninya sempat berbicara sebentar, bagaimanapun ia telah berusaha memperbaiki diri apakah harus mengotorinya lagi demi membalas dendam ? Maka ia pun memendam hasrat itu sementara sambil menunggu pria itu menghubunginya lewat ponsel setidaknya untuk meminta maaf. Namun dua puluh menit ia menunggu tidak pria itu belum juga menelepon ataupun meng-SMSnya. Sungguh pria itu mengecewakannya, ia sama saja dengan yang lainnya, tidak pernah mencintainya dengan tulus. Habis sudah kesabarannya, sisi liar dalam dirinya mulai menggeliat, ia memutuskan untuk merayu anak itu. Setelah menghabiskan rokoknya yang kedua ia turun dari ranjang dan melepaskan bra yang dipakainya lalu keluar mencari anak itu. Suasana kost pada hari Minggu seperti ini biasanya lenggang karena kebanyakan penghuninya kelau tidak ke gereja ya bermain di luar. Irama musik rap terdengar dari sebuah kamar yang tertutup dan di kamar lain yang pintunya terbuka setengah nampak dua orang pemuda sedang asyik main Winning Eleven di PS2. Joane mendapati Mumun sedang menonton TV di ruang tamu kost itu.
“Mun…Mumun, bisa ke kamarku bentar ga? Ada perlu nih” ajaknya.
Joane naik terlebih dulu sementara Mumun mematikan TV. Ia menunggu kedatangan anak itu dengan jantung berdebar-debar. Tidak sampai semenit, Mumun sudah menyusul ke kamarnya.
“Ada apa Non ?” tanyanya canggung.
“Ayo masuk aja” ajaknya, “itu tolong kamu bukain tutup botol di meja itu, keras banget” katanya sambil menggerakan wajah ke arah botol Coca-cola Diet di atas meja yang kebetulan masih baru dan belum dibuka.
Ia menjatuhkan pantatnya di ranjang setelah menutup pintu dan diam-diam menggeser grendelnya. Dengan mudah Mumun memutar tutup botol itu hingga terbuka.
“Udah Non, ini !” katanya seraya menyodorkan pada gadis itu.
“Makasih ya, ayo sini minum dulu” tawar Joane sambil menuangkan ke gelas.
Anak itu menerima sambil tertawa malu-malu, mereka pun meneguk minuman di gelas masing-masing. Sambil minum, diam-diam matanya terus tertuju pada paha Joane yang indah dan dadanya yang agak rendah. Tingkahnya yang kikuk itu membuat Joane makin suka menggodanya.
“Eeenngg…udah Non, terima kasih ya, saya pergi dulu !” ucapnya seraya meletakkan gelas itu dimeja.
“Eh, sebentar Mun, kenapa gak temenin aku dulu sini, kita kan kebetulan lagi sendirian nih” kata Joane sambil menepuk tempat di sebelahnya.
Mumun makin salah tingkah karena tingkah genit gadis itu, wajahnya tertunduk tidak berani memandang wajah gadis itu yang sedang tersenyum nakal.
“Heh, kenapa ? kok bengong gitu sih ? sini dong…santai aja aku gak bakal ngegigit kok” ujar Joane sambil meraih pergelangan tangan anak itu dan mendudukannya di sebelahnya.
“Kamu udah berapa lama kerja disini Mun ?” tanyanya membuka percakapan.
“Baru setaun sih Non, abis gak cukup biaya nerusin ke SMP, ya udah sama Mak disuruh kerja aja deh” jawabnya jujur.
“Terus kamu betah kerja disini Mun ?” tanyanya lagi.
“Mmmm…ya betah juga sih Non, orang-orang disini baik-baik, ada juga sih yang agak sombong tapi gak banyak”
Joane tersenyum mendengar jawaban polosnya, pemalu sekali anak ini pikirnya sehingga ia makin tertantang.
“Kalau aku Mun, termasuk yang mana nih, yang baik atau yang sombong”
“Yah kalau Non sih baik banget, mau ngebagi Coca-cola ke saya gitu masa ga baik sih hehe” jawabnya sambil mengelus kepala yang semakin menampakan keluguannya.
“Hehehe…dasar kamu ah, ini lagi ngegoda aku yah ?” Joane tertawa renyah sambil mencolek lengan anak itu.
“Nggak Non, bener kok Non baik makannya saya omong terus terang”
“Ya udah sekarang kamu yang nanya dong Mun, masa dari tadi aku yang tanya terus sih”
“Eerrr…tanya apa Non ?” katanya “Mumun bingung mo tanya apa?”
“Apa aja lah, kan kita lagi ngobrol-ngobrol santai ini”
Walaupun sejak tadi tidak berani bertatap muka dengan Joane, namun mata anak itu selalu saja mencuri-curi pandang tubuh gadis itu, jantungnya deg-degan dan tak terasa penisnya menggeliat karenanya.
“Non…Non asalnya dari mana, kok logatnya agak Jawa-Jawa gitu ?” tanyanya
“Dari Semarang Mun, kamu pernah kesana ?” jawabnya tersenyum.
“Oohh…ga pernah sih” jawab anak itu menggeleng, “terus Non udah berapa lama disini”
“Ya dari kuliah aja, dua tahunan lah”
Setelah sepuluh menitan ngobrol-ngobrol, rasa canggung Mumun mulai berkurang apalagi Joane kadang mengajaknya bercanda sehingga mau tidak mau anak itu ikut tersenyum. Ia mulai berani mengangkat wajah menatap lawan bicaranya yang cantik itu. Tampak anak itu menelan ludah melihat puting Joane agak tercetak di balik tank kaosnya.
“Non udah punya pacar belum ?” tanyanya tiba-tiba membuat Joane terdiam sejenak.
“Belum” jawabnya singkat.
“Masa belum sih Non, Non kan cantik masa belum ada yang mau ?” tanyanya polos.
“Bener, emang belum kok, kalau kamu sendiri Mun ?” Joane balik bertanya
“Ya belum lah Non, saya kan masih kecil hehe” jawabnya sambil garuk-garuk kepala, “eeh, Non mo tanya juga nih, kalau pacaran itu emangnya ngapain aja sih ?”
Joane tersenyum lagi, kepancing juga nih anak pikirnya, Mumun sendiri merasa Joane semakin manis dengan senyumnya itu sehingga dia senang memandanginya terlebih dengan pakaian yang minim seperti itu.
“Ehm, gimana yah jawabnya, ya intinya sih antara pria dan wanita saling mendekati gitulah misalnya jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, nah dari situ timbul deh perasaan diantara mereka jadi makin mendalami pasangan masing-masing” kata Joane menjelaskan.
“Oohh gitu yah Non, kayanya asik juga yah Non” katanya mangut-mangut, “terus Non kalau yang namanya ngentot itu kaya gimana Non?”
Joane agak terkejut mendengar pertanyaan terakhir anak itu, tapi sekaligus senang juga, ini berarti umpan yang dilemparnya sudah semakin mengena.
“Kamu…kamu denger itu darimana Mun ?” tanyanya, ia melihat wajah anak itu sepertinya polos sekali waktu bertanya demikian, tidak tampak sedikitpun ekspresi mupeng.
“Ya itu Non, Mumun sering denger orang ngobrol-ngobrol di warung gitu, terus dari temen juga, katanya ntar kalau udah kawin kita tuh harus ngentot” katanya dengan lugu, “terus mereka bilang ngentot tuh enak, tapi saya ga dijelasin gimana, masih kecil katanya”
“Ok deh Mun, aku mau ngajarin kamu tentang apa itu ngentot, tapi kamu gak boleh cerita ke siapa-siapa, janji ?” Joane semakin bergairah karena itulah yang diharapkannya.
“Wah, bener nih Non, iya Mumun janji kok gak bakal ngomong ke siapa-siapa !” katanya antusias karena kepenasarannya sebentar lagi terjawab.
“Jadi gini Mun, ngentot itu bisa dibilang proses antara sepasang cowok sama cewek saling melepas nafsu birahi dengan berhubungan badan”
“Mmm, apa maksudnya tuh Non, ngelepas nafsu misalnya gimana ?” tanyanya belum terlalu mengerti.
Joane tersenyum sambil menggeser duduknya makin mendekati anak itu, selain itu digenggamnya juga tangan anak itu membuatnya semakin grogi.
“Nah prakteknya gini Mun, apa yang kamu rasain sejak berduaan sama aku tadi sama sekarang juga waktu berdekatan gini ?” tanyanya.
“Eeengg…ya deg-degan gitu Non, agak grogi jadinya” jawabnya.
“Kamu tau kenapa kamu ngerasa gitu ?” tanyanya lagi.
“Ya gimana ya…abis, abis Non kan cantik, seksi lagi jadi saya deg-degan” jawabnya gugup.
“Terus anu kamu tegang ga?” tanyanya yang dijawab anak itu dengan anggukan, “Nah itu yang namanya birahi, nah…terus kalau gini rasanaya gimana Mun ?” Joane meletakkan tangan yang digenggamnya itu di atas paha mulusnya.
“Mulus Non, kulit Non bagus banget !” jawab anak itu.
Joane mengusapkan tangan itu pada pahanya, ia merasakan darahnya berdesir dan tangan anak itu gemetaran. Muka anak itu memerah malu walau ia merasakan sesuatu dalam dirinya yang menggelegak, suatu perasaan yang luar biasa namun tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata.
“Kamu pasti belum pernah pegang-pegang cewek ya Mun ?” tanyanya nakal.
“Be…belum Non, mana berani saya” terlihat sekali ia semakin gugup.
“Kalau liat cewek telanjang ?”
“Pernah sih, tapi nggak sengaja di kampung dulu, lewat di sungai eh ada yang mandi, pernah juga sih ga sengaja mergokin emak saya mandi, itu juga ga sengaja” jawaban yang benar-benar apa adanya tanpa dibuat-buat.
Joane tertawa dalam hati melihat keluguan anak itu, seumur-umur baru pernah dia menggoda yang masih hijau dan usianya hampir tujuh tahun jauh dibawahnya seperti si Mumun ini. Seru juga nih sama yang bau kencur gini, nambah pengalaman, begitu katanya dalam hati.
“Mun, kamu berani nggak bukain bajuku ?” tantang Joane.
“Aduh…yang bener Non, Mumun malu nih” wajahnya tersipu-sipu.
“Yee…gapapa lagi, kan katanya mau diajarin ngentot, ya harus telanjang dulu dong !” katanya sambil meletakkan tangan anak itu di ujung bawah bajunya. “ayo Mun, angkat ke atas dong !”
Setelah didesak terus Mumun pun mengangkat kaos itu perlahan-lahan, Joane sendiri mengangkat tangannya membiarkan kaos itu lolos dari tubuhnya. Mata Mumun yang belo itu terlihat seperti mau keluar memandang tubuh Joane yang sudah setengah telanjang itu yang tinggal memakai hotpants saja. Tubuh itu begitu putih mulus tanpa cacat dengan payudara 34B nya yang mancung serta perutnya yang rata karena rajin berolahraga. Ketika Mumun sedang terbengong tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, Joane meraih tangannya dan meletakkannya pada payudaranya. Tangannya gemetaran ketika pertama kalinya menyentuh gundukan daging kenyal itu. Dibimbingnya tangan itu membelai dan meremas payudaranya yang montok itu.
“Mmhh…gitu Mun, remas pelan-pelan, rasain putingnya ngeras” katanya sambil membimbing tangan Mumun yang satunya membelai tubuhnya.
Joane memejamkan mata menikmati belaian tangan bocah pembantu kostnya itu, belaian itu kadang terkesan ragu-ragu tapi sangat mengusik birahinya.
Joane kemudian menaikan satu kakinya di pangkuan Mumun dan merangkul bahunya, tangan bocah itu juga ia lingkarkan pada tubuhnya. Wajah mereka sangat dekat sekali sampai hidungnya bersentuhan, Mumun dapat merasakan hembusan nafas gadis itu menerpa wajahnya.
“Kamu senang kan Mun ?” tanyanya dengan suara mendesah yang dijawab bocah itu dengan anggukan, “sekarang buka mulut yah, jangan ditutup, aku mau ajarin kamu ciuman”
Bibir keduanya saling berpagutan, Joane dengan agresif memainkan lidahnya di dalam mulut Mumun, ia menyapu langit-langit mulutnya dan mendorong-dorong lidah anak itu dengan lidahnya. Mumun pun tergerak untuk ikut memainkan lidahnya membalas lidah gadis itu yang seolah mengajaknya ikut menari. Sambil berciuman dengan penuh gairah tangan anak itu mengelusi punggung Joane yang mulus dan hangat. Joane merasakan pahanya yang dipangkuan anak itu menyentuh benda keras di selangkangannya. Beberapa saat kemudian mereka melepas ciuman setelah merasa nafasnya memburu dan butuh udara segar. Kemudian Joane berdiri di depan Mumun yang masih melongo dan melepaskan pakaian terakhir yang tersisa di tubuhnya, ia menurunkan sekaligus hotpants beserta celana dalam di baliknya. Mumun terpana menatap pemandangan indah di depan matanya itu, mata besarnya itu tak berkedip menatap kemaluan Joane yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat.
“Ayo Mun, kamu juga buka baju” kata Joane menyentuh bagian bawah kaos lusuhnya.
Mumun mengangkat tangannya, ia pasrah membiarkan gadis itu melucuti pakaiannya walau masih tegang. Setelah melemparkan kaos itu ke belakang, Joane menyuruhnya berbaring di ranjangnya.
“Ayo cepet, tunggu apa lagi !?” katanya tidak sabaran karena anak itu bengong saja.
Mumun pun berbaring telentang di ranjang itu, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya karena dia sama sekali buta soal seks, bahkan nonton film bokep atau lihat gambar porno saja belum pernah. Memang di usianya yang mulai puber itu ada rasa senang ketika melihat gadis-gadis penghuni kost itu lalu-lalang dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh mereka, tapi ia sendiri tidak tahu mengenai perasaan yang disebut ‘birahi’ itu. Anak itu kaget dan menahan celana pendeknya ketika Joane hendak menurunkannya, namun tangannya segera ditepis gadis itu yang terus menurunkan celana itu hingga lepas. ‘Wew’ serunya dalam hati melihat penis anak itu yang sudah tegang, ujungnya sudah disunat dan berbentuk seperti helm, memang ukurannya tidak sebanding dengan pria-pria dewasa yang pernah terlibat seks dengannya, namun lumayan juga untuk ukuran anak seusianya. Joane merunduk dan menggerakan tangan untuk menggenggam penis itu.
“Eh…Non, jangan ah !” katanya sambil menutupi penisnya dengan telapak tangan.
“Kenapa sih lu, katanya mau diajarin !” Joane jadi agak sewot “kalau cerewet terus ya udah, sana pake baju keluar!” dengan kesal ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang dan memunggungi anak itu, tangannya meraih hotpants dan celana dalamnya yang diletakkan di kursi dekat situ. Namun tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan kurus memeluknya dari belakang.
“Non, jangan marah dong, Mumun minta maaf, Mumun kan tegang baru pertama kali”
kata anak itu memelas.
Joane sengaja diam tak berkata apa-apa sehingga anak itu terus memohon dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Dalam hati ia tersenyum melihat reaksinya yang seperti anak-anak minta permen itu. Ia pun menengokan wajah memandang wajah anak itu lalu berkata,
“Iya, iya kali ini aku ampuni, tapi janji jangan banyak bacot lagi”
“Iya Non, Mumun janji kok bakal nurut ke Non aja” jawabnya dengan penuh harap.
Maka Joane pun menyuruhnya kembali berbaring dan dituruti tanpa pikir panjang oleh bocah itu. Joane kembali ke posisinya semula berlutut di samping anak itu, ia merunduk dan menggenggam penis itu. Tangannya yang lembut dengan jari-jari lentik mulai mengusap batang itu. Mumun memejamkan mata dan menelan ludah menikmati usapan lembut itu.
“Pernah Mun ininya diginiin ?” tanya Joane yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Pakai tangan sendiri juga belum ?” tanyanya lagi.
“Pakai tangan sendiri, emang buat apa Non, tapi iya juga enak sih tititnya dikocok-kocok gitu” jawaban itu membuat Joane tersenyum geli sambil terus mengocok penis itu.
Anak itu mendesah dan tubuhnya berkelejotan ketika Joane pertama kali mendaratkan bibirnya mengecup kepala penisnya, lidahnya lalu menyusul menjilati bagian yang bersunat itu sambil tangannya memijat pelan buah zakarnya. Tak lama kemudian Joane sudah memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Anak itu meremas-remas sprei dan mendesis merasakan hangatnya ludah gadis itu menyelubungi penisnya serta hisapan dan jilatannya yang berpengalaman itu.
“Aduh Non…sshhh…Mumun gak tahan…enakhh !” desahnya.
Sungguh sebuah sensasi luar biasa yang baru pernah dirasakannya dimana penisnya diemut-emut seorang gadis cantik seperti Joane. Terkadang Joane menggerakkan matanya untuk melihat reaksi anak itu, tatapan matanya saat itu membuat Mumun tak sanggup berlama-lama memandangnya. Tak lama kemudian saat kepala penis Mumun bersentuhan dengan daging lembut di langit-langit tenggorokan Joane, menyemprotlah spermanya tanpa terbendung. Tubuh anak itu menegang sambil menggigiti bibir bawahnya, kenikmatan ini tak terlukiskan dengan kata-kata, ia merasa seperti sedang kencing, tapi bukan kencing entah perasaan apakah ini namanya, demikian pikirnya. Penis itu banyak sekali mengeluarkan sperma yang langsung dihisap Joane dengan teknik menyedotnya yang telah membuat banyak pria serasa terbang. Meskipun cairan putih yang keluar cukup banyak namun tak setetespun keluar dari mulutnya, Joane mengisapnya hingga tetes terakhir dan penis itu menyusut dalam mulutnya.
“Gimana Mun, enak gak barusan ?” tanyanya begitu melepas penis itu dari mulutnya.
“Uenak banget Non, duh baru pernah ngerasain yang ginian” katanya puas.
“Itu tadi namanya orgasme, kalau udah sampai di puncak kenikmatan ya gitu tuh rasanya” Joane menjelaskan sambil membaringkan tubuhnya menyamping di sebelah anak itu.
“Oohh…ngerti jadi waktu kita orgasme itu kita ngeluarin pipis kaya tadi itu ?”
“Aduh Mun itu bukan pipis” Joane memutar mata dongkol, “cape deh !” katanya dalam hati, “tadi yang keluar itu namanya sperma, itu tuh yang bikin perempuan hamil kalau lagi subur Mun, aduuh”
“Sini, aku ajarin yang lain lagi !” suruhnya seraya menelentangkan tubuhnya dan menarik tangan anak itu sebelum dia harus memberi kuliah biologi padanya.
Diletakkannya tangan anak itu diatas kemaluannya yang berbulu lebat dan tangan satunya di payudaranya. Ia membimbing tangan Mumun pada vaginanya untuk membelai dan memasukkan jarinya memasuki liangnya.
“Gimana rasanya dibawah sana Mun ?”
“Hangat Non, becek-becek juga”
“Coba masuk lebih dalem lagi cari daging yang aahh !” desah Joane karena saat itu jari Mumun menyentuh klitorisnya yang sensitif.
“Oh, Non sakit yah, maaf Non, maaf !” katanya sambil mengeluarkan jarinya dari vaginanya.
“Heh siapa suruh keluarin ?” bentaknya memegangi lengan anak itu, “itu tadi yang namanya klitoris, titik sensitifnya cewek, coba kamu gosok pelan-pelan, yahh…ahhh…gitu”
“Jadi diginiin enak yah Non” kata Mumun tersenyum dan menggosokkan jarinya pada daging kecil itu.
Mumun kini telah menindih tubuhnya, mulutnya mengisap dan menjilati payudaranya sementara tangannya terus mengorek-ngorek vaginanya. Tanpa harus dibimbing lagi anak itu mengenyoti payudara montok Joane sampai pipinya kempot, lidahnya juga menyapu-nyapu putingnya menyebabkan Joane makin terangsang. Ia memegangi kepalanya dan menekan-nekan wajahnya ke payudaranya seolah memintanya terus melakukannya.
“Iyah Mun…terushh…gitu enak…ahhh…aahhh !” desahnya.
“Mun…Mun !” panggilnya menepuk-nepuk kepala Mumun yang sedang asyik menyusu, “udah dulu disitu, sekarang kamu jilatin memekku pakai cara ciuman yang tadi kuajari”
Mumun menurut saja apa yang disuruh Joane, ia menggeser tubuhnya ke bawah. Aroma kewanitaan yang harum karena rajin dirawat itu langsung tercium oleh Mumun begitu Joane membuka pahanya.
“Ayo Mun, jilati sepuasmu !” pintanya.
Mumun mulai menjilati bibir vagina Joane yang sudah basah, mula-mula ia agak canggung melakukannya namun lama-lama dengan dibimbing Joane ia semakin menikmati tugasnya.
“Iyah, disitu Mun, mmmhh…iyah disitu !” desahnya sambil mengarahkan Mumun menjilat daerah yang tepat.
Sedikit demi sedikit lidah Mumun mulai terlatih dalam melakukan oral seks. Lidah itu menyapu bibir vaginanya dan menggelitik klitorisnya sampai Joane menggeliat-geliat dan mendesah nikmat. Mumun sangat menikmati sari kewanitaan yang terus keluar dari vagina itu. Sedang enak-enaknya menikmati jilatan Mumun, tiba-tiba HP yang terletak di meja sebelah berbunyi.
“Terusin aja Mun, santai aja jilatinnya yah” katanya seraya meraih HPnya, ternyata yang menelepon temannya, Devi.
“Jo, kalau kita keluarnya jam dua aja gimana ? soalnya sorenya gua ada acara nih!” kata Devi di seberang sana.
“Jam dua, ya boleh juga lah, lu yang jemput gua kan?”
“Iya, ni hari gua aja yang bawa mobil, Jo lu gapapa kan kemaren ? kita udah watir loh sama lu, takutnya gimana-gimana gitu”
“Tenang aja lah Dev, udah biasa gua, yah ntar juga biasa lagi kok sshhh !” Joane menjawab telepon itu dengan nafas berat sambil menggigit bibir.
Joane harus melayani obrolan di telepon dengan Devi dalam keadaan vagina dijilati oleh Mumun. Lidah anak itu bergerak makin liar membuat gairah Joane semakin bergolak sehingga terkadang kata-katanya bergetar atau disertai desahan.
“Jo…lu kenapa sih ? kok ngomongnya aneh gitu sih ?” tanya Devi.
“Nggak…gapapa kok Jo gua cuma mmmhhh…sshhh…ok deh sampe nanti yah, lu jemput gua kan ?” Joane makin tak sanggup menahan desahannya karena Mumun makin bernafsu mengisap vaginanya.
“Hayo lu lagi ngapain nih ?” Devi menebak-nebak “lagi sama sapa tuh disitu, si Yogi dateng yah jangan-jangan…”
“Udah ah Dev jangan sebut-sebut bangsat itu, udah ya, see you !” Joane langsung menutup telepon itu dan kekesalannya bangkit lagi karena teringat lagi pria itu.
“Mun…sini !” panggilnya.
“Iyah Non, kenapa ?” ia merangkak di atas tubuh Joane hingga wajah mereka saling berhadapan, mulut anak itu nampak basah oleh cairan kewanitaan.
Tanpa banyak bicara lagi Joane langsung menarik kepala anak itu ke wajahnya dan melumat bibirnya. Mumun walaupun kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu pasrah saja, ia bahkan membalas pagutan Joane, lidahnya mulai berani menyapu-nyapu rongga mulut gadis itu dan bermain lidah dengannya. Joane menggulingkan badan ke samping sehingga kini ia berada di atas anak itu, dadanya yang montok dan hangat bergesekan dengan dada kurus Mumun. Joane menciuminya dengan ganas sebagai pelampiasan atas kekecewaannya pada pria yang pernah menjadi harapannya. Ketika mereka melepas ciuman tiga menit kemudian ludah mereka teruntai dan sedikit menetes.
“Sekarang waktunya Mun” katanya sambil menegakkan tubuh dan meraih penisnya.
Tangannya yang lain membuka vaginanya sendiri lalu secara perlahan ia menurunkan pinggulnya. Mumun merasakan kepala penisnya yang bersunat itu menyentuh daging yang hangat dan basah. Semakin Joane menurunkan pinggulnya semakin terbenam pula penis itu dalam vaginanya.
“Uuuhh…perih Non, perih !” erang Mumun yang kulit penisnya tertarik oleh himpitan dinding vagina Joane.
“Ssstt…jangan keras-keras, kalau ketauan orang di luar kita bisa gawat” kata Joane menempelkan telunjuknya ke bibir anak itu, “sebentar yah digoyang dikit dulu supaya pas” lalu ia menggoyang sedikit dan memaju-mundurkan pinggulnya.
Mumun merasakan sensasi dahsyat ketika penisnya tertanam seluruhnya dan bergesekan dengan vagina Joane yang bergerinjal-gerinjal, itulah saat pertama ia kehilangan keperjakaannya yang dirasanya tegang tapi nikmat dan akan bertambah nikmat.
“Nikmatin yah Mun, tapi jaga suaranya jangan terlalu rebut !” kata Joane sambil membelai pipi bocah itu.
Maka mulailah ia menaik-turunkan pinggulnya di atas penis anak itu. Nafas Mumun semakin menderu-deru merasakan kenikmatan yang baru pernah dirasakannya seumur hidup dimana penisnya serasa diperas di dalam rongga vagina gadis itu.
“Kamu remas-remas disini dong Mun !” kata Joane dengan manja sambil meletakkan tangan anak itu di payudaranya. “Aahh…ssshh…kerasan dikit Mun, gitu enak…iyahh…aahh !” desahnya.
“Auuuhh…, Non, ooohh…, enaakk… susu Non mantep banget, mm…,oooh goyangnya enak !” pujian jujur keluar dari mulut anak itu disertai desahan.
Joane melakukan gerakan naik-turun itu cukup lama juga, ada mungkin seperempat jam, tubuh keduanya sudah mulai berkeringat. Tangan Mumun yang mengusap punggungnya jadi ikut basah karena keringat yang keluar melalui pori-pori kulit seperti embun itu. Goyangan Joane yang semakin cepat menyebabkan rasa nikmat terus menjalar ke seluruh tubuh melalui penisnya. Kenikmatan itu membuatnya ikut menggerakan pinggulnya secara refleks menyambut goyangan gadis itu.
“Uuhh…tambah pinter yah kamu…bener gitu Mun, gerakin juga badan kamu…aahh…bagus !”
“Bangun sini Mun, aku ajari posisi lain !” katanya seraya menarik lengan anak itu hingga terduduk di ranjang, “nah, gini kan kamu bisa sambil nyusu !”
Ia meneruskan kembali goyangannya dan menekan wajah Mumun ke dadanya. Tanpa diperintah lagi Mumun mengenyoti payudara kanan Joane dan tangannya meremasi payudara yang lain. Kedua kaki Joane melingkari pinggang anak itu, sesekali ia menempelkan bibir mencumbunya agar desahannya tidak terlalu keras.
“Oohhh…Mun, jangan keras-keras !” Joane meringis dan menjenggut rambut pendek anak itu ketika putingnya digigit keras.
Kenikmatan yang semakin melambungkannya semakin membuat Mumun lupa diri hingga tak terasa puting Joane yang sedang dikenyotnya tergigit dengan kuat.
“Maaf Non, gak sengaja, abis enak banget…uuhh !”
Tak dapat disangkal rasa nyeri itu turut bercampur menjadi bagian dari kenikmatan persetubuhan itu. Joane merasakan vaginanya semakin banjir dan berkontraksi makin cepat. Ia pun menambah kecepatan goyangannya dan sesekali meliuk-liukan pinggulnya.
“Non….ooohhh…enak !”
“Aaahhh…aku…aku keluar Mun….mmhh…uummhh !”
Keduanya mencapai puncak kenikmatan secara berbarengan, Joane buru-buru memagut bibir Mumun agar erangannya teredam. Tubuh keduanya mengejang selama beberapa detik hingga melemas kembali dengan nafas terputus-putus.
“Kamu udah jadi laki-laki Mun, udah bukan perjaka lagi, ngerti kan yang namanya ngentot ?” tanya Joane membelai kepala anak itu.
“Asyik banget Non, baru pernah Mumun ngerasain yang gini, Mumun masih mau Non, boleh kan Non !?” pintanya.
Joane mengangguk dan tersenyum, sambil memulihkan tenaga ia membuarkan saja anak itu membelai dan mencium payudaranya.
Lama berpelukan Joane merasa semakin gerah, apalagi tubuhnya sudah keringatan begitu. Maka ia melepaskan pelukannya dari anak itu dan berbaring telentang.
“Ambilin minum dong Mun !” suruhnya.
Mumun langsung turun dari ranjang tanpa harus diperintah lagi, ia menuangkan Coca-cola Diet yang masih terletak di meja ke gelas Joane lalu memberikannya padanya. Setelah meneguknya, Joane menyodorkan sisanya yang setengah pada anak itu.
“Minum dulu Mun, kamu juga pasti haus kan !” katanya.
Mumun berterimakasih dan buru-buru meminumnya hingga habis. Setelah itu ia menaruh gelas itu di meja dan kembali ke Joane yang sedang berbaring. Tubuh kurusnya naik menindih Joane, mulutnya langsung nyosor ke payudaranya.
“Mmm…Mun, mulai gak sopan yah kamu” Joane mendesah genit dan meremas-remas rambut anak itu yang sedang mengisapi putingnya, “oohhh !” ia mendesah lebih panjang ketika jari anak itu memasuki vaginanya.
Cepat juga anak ini belajarnya, belum apa-apa sudah bisa merangsang seperti ini, pikirnya. Mumum melumat payudaranya secara berganti-ganti kiri dan kanan.
“Tetek Non mantap, bentuknya bagus, saya suka banget netek dari Non” katanya di sela-sela mengenyot payudara Joane.
Gairah Joane pun mulai bangkit lagi akibat rangsangan-rangsangan itu, demikian pula Mumun, penisnya kembali mengeras dan Joane merasakannya karena benda itu bersentuhan dengan pahanya. Disuruhnya anak itu berlutut diantara kedua pahanya dan menusuk vaginanya dengan penis yang sudah keras itu. Mumun mengikuti pengarahan Joane, ia menekan kepala penisnya ke vagina gadis itu.
“Ssshhh !” Joane mendesah meresapi proses penetrasi.
Sesaat kemudian Mumun sudah mulai bergoyang mencari kenikmatannya, tangannya perpegangan pada kedua betis Joane, ia mengikuti nalurinya tanpa pengarahan Joane lagi. Mumun yang baru pertama kali menikmati hubungan seks itu benar-benar menikmati penisnya keluar-masuk dalam vagina gadis itu. Pinggulnya bergerak maju-mundur menghujam-hujam vagina Joane menyebabkan tubuhnya tergoncang-goncang sehingga payudaranya pun bergetar hebat.
“Goyangnya cepetin Mun…aahh…enaknya, aku suka punyamu….aaahhh !” desah Joane sambil mengimbangi genjotan anak itu dengan menggoyang pinggulnya.
Setelah sepuluh menit anak itu maju menindih Joane tanpa melepas penisnya, persenggamaan itu terus berlanjut dalam posisi misionaris. Mumun menatap wajah seksi Joane yang sedang high itu, sungguh sangat menggoda pipinya yang bersemu merah dan sorot matanya yang dipenuhi hasrat itu sehingga Mumun tak tahan untuk tak menciumi pipinya dan bibirnya. Ciuman Mumun juga mengarah ke leher dan payudaranya membuat Joane sangat terbuai. Ia tak menyangka ABG kurus yang baru melakukannya pertama kali ini begitu cepat belajar dan mampu memuaskannya. Akhirnya ia tak sanggup bertahan lebih lama lagi, gelombang klimaks yang dahsyat kembali menerpa tubuhnya.
“Oohhh…oohhh…keluar lagi…aku gak kuat lagi Mun !” erangnya sambil memeluk erat tubuh anak itu, cairan kewanitaannya meleleh membasahi penis Mumun yang masih keras.
“Tambah enakhh Non…jadi tambah licin aja…uuhh…aahhh…nikmat Non !” desah Mumun merasakan ejakulasi Joane yang menghangatkan dan menghimpit penisnya lebih keras sehingga memberi kenikmatan ekstra.
Mumun menyusul tak lama kemudian dengan melenguh panjang dan menyemburkan spremanya di dalam vagina gadis itu.
Keduanya tergolek dalam posisi berpelukan, Joane menggeser tubuh Mumun yang menindihnya hingga terguling lemas ke samping, karena merasa berat dan panas. Namun Mumun kembali merangkul tubuhnya sambil terus meraba-raba tubuhnya, mulutnya menjatuhkan ciuman-ciuman ringan di pipi, bibir dan payudara gadis itu. Joane diam saja membiarkan anak itu berbuat semaunya.
“Non, Non cantik sekali, seksi lagi, lain kali boleh gak minta ginian lagi Non !” tanyanya.
“Boleh aja, tapi aku kasih tau ya, kalau di depan umum jangan macem-macem lu, jaga sikap, ngerti ?” katanya mewanti-wanti.
Mumun hanya mengangguk, ia juga sudah cukup lelah melayani keliaran gadis ini. Joane melirik ke arah weker di sebelahnya. Sudah jam 1.20, wah tak terasa lama juga persetubuhan ini, selain itu sepertinya Devi sebentar lagi akan datang menjemputnya.
“Mun, bangun, pake baju sana !” katanya.
Namun Mumun masih terus mengelusi payudaranya tanpa melepas rangkulannya sehingga Joane terpaksa menepis tangannya.
“Heh, bangun aku bilang, denger ga sih !” nadanya agak ketus.
“Tapi Non…”
“Cepet turun, masih ada kerjaan tau, jangan ngelunjak ah !” Joane mendorong dada anak itu sambil bangkit terduduk di ranjang.
Mumun buru-buru memunguti pakaiannya dan memakainya, takut dengan sikap Joane yang mulai judes itu.
“He…he…jangan asal keluar dulu dong, liat dulu dari jendela kalau sepi baru keluar !” katanya ketika anak itu menggeser grendel pintu.
“Sepi Non, biasa lah hari gini !” jawabnya terbata-bata setelah mengintip dari jendela.
“Ya dah keluar sana, tutup lagi pintunya !”
Sepeninggal Mumun, Joane membersihkan diri di kamar mandi. Dalam hati ia merasa puas, baik puas secara birahi, dan puas telah melampiaskan kekesalannya pada pria yang membohonginya itu, hatinya terasa lebih plong. Devi datang tak lama setelah ia selesai mandi dan berpakaian. Merekapun pergi menikmati hari Minggu dengan mobil Devi.
###
Yogi baru meneleponnya pada keesokan harinya.
“Jo…gua bener-bener sori kemarin itu, gua pengen ketemu aja buat minta maaf ke lu, gua benernya masih sayang kok ke lu”
“Masih sayang, dari kemaren ngapain aja lu ? udah puas sama tuh cewek baru nyari gua lagi” omelnya dalam hati sehingga ia terdiam beberapa saat tanpa menjawabnya.
“Jo…Jo…jawab dong, gua bener nyesel banget, gua sengaja nunggu sampai hari ini biar lu cooling down dulu, please kasih gua kesempatan sekali lagi”
“Emm, ya dah lu dateng kesini aja jam empat sore, gua ada kuliah sekarang” jawabnya lalu menutup pembicaraan.
Sorenya jam setengah empatan Joane memanggil Mumun ke kamarnya. Tentu saja anak itu senang sekali, apalagi Joane mengajaknya mandi bareng. Ia menyuruh Mumun masuk duluan ke kamar mandi dan menyalakan air hangat, tak lama kemudian ia menyusul ke dalam. Mata Mumun seperti mau copot melihat Joane yang masuk sudah dalam keadaan bugil, penisnya tambah mengeras melihat keindahan di depan matanya itu. Ia memeluk anak itu dibawah siraman shower yang membasahi tubuh keduanya, lalu menundukan kepala memagut bibirnya. Mereka berciuman beberapa saat sampai Joane menurunkan tubuhnya hingga berlutut di depan anak itu. Diraihnya penis yang telah menegang itu dan dikulumnya. Mumun melenguh dan wajahnya mendongak ke atas menggeleng-geleng karena merasa geli penisnya dipermainkan Joane dengan kuluman dan kocokan.
Lima menit kemudian, Joane melepas penis Mumun yang sudah mencapai ketegangan maksimal. Ia berdiri membelakangi anak itu dengan menunggingkan pantat dan menyandarkan tangan ke tembok. Dibimbingnya penis anak itu ke arah vaginanya, setelah tepat sasaran disuruhnya dia mendorong pinggulnya hingga penis itu memasuki vaginanya. Mumun harus sedikit berjinjit karena kaki Joane lebih panjang dari kakinya.
“Hhhshhh…entot aku Mun, entot sepuasmu !” desah Joane menikmati sodokan demi sodokan penis Mumun.
Sambil menggenjot, tangan Mumun menjelajahi lekuk-lekuk tubuh gadis itu, payudara yang menggantung itu diremas-remasnya dengan gemas. Joane turut menggerakan pinggulnya meyambut genjotan anak itu. Sepuluh menit lamanya mereka bersenggama dalam posisi demikian hingga keduanya orgasme dalam waktu bersamaan. Mumun menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma sambil melenguh panjang, demikian juga Joane yang tak mampu menahan desahannya dan matanya membeliak-beliak. Setelah mencapai orgasme Joane tersenyum pada anak itu dan menciumnya di bibir. Diambilnya sabun dan digosokannya ke tubuh kurus itu. Wajahnya masih malu-malu ketika tangan halus Joane dan sabun itu membelai tubuhnya, tapi yang jelas penisnya tampak tegang terutama ketika Joane menyabuninya, dengan nakal gadis itu sengaja mengocoknya pelan sehingga anak itu sedikit mendesah.
“Sini Mun sekarang kamu yang sabuni aku yah !” ujarnya seraya menyerahkan sabun.
Mumun mulai menyabuni tubuh Joane dengan tangan bergetar. Ketika sampai di vaginanya, Joane memegang lengannya dan mengeluskannya disana. ‘Emmmhhh !” desisnya sambil memejamkan mata. Ia memeluk anak itu dan menggeser tubuh ke bawah shower sehingga air menyiram dan membilas busa sabun di tubuh mereka. Mumun mengelus dan memasukkan jarinya ke vagina Joane sambil mengemut puting gadis itu. Joane terus mendesis menikmati jari-jari Mumun di vaginanya dan hisapan pada putingnya, air shower menyiram wajahnya yang menengadah dengan mata terpejam. Sedang larut-larutnya dalam birahi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Yogi muncul di ambang pintu, ia tercengang melihat pacarnya yang sedang bugil di bawah siraman shower sedang memeluk bujang kostnya yang umurnya jauh dibawahnya dan sedang mengenyot payudaranya.
“Jo ! heh…anjing lo, berani-beraninya !” bentak Yogi pada anak itu dan melangkah ke anak itu hendak menghajarnya.
Mumun yang terkejut langung melepas pelukannya dan sembunyi ke belakang tubuh Joane. Joane sendiri tidak nampak terkejut ketika Yogi muncul mendadak karena itu memang sesuai yang diharapkannya, sebelumnya ia telah mengirim SMS padanya yang berisi, ‘gua tunggu di kmr mndi yah yang, pintu kamar ga gua kunci kok, u lgsg msk aja’
Joane mematikan air dan menghalangi Yogi yang hendak menangkap Mumun dengan tubuhnya.
“Hei…hei kenapa sih lo, kesurupan yah, kalau berani jangan beraninya ke anak kecil dong heh !” kata Joane dengan ketus sambil mendorong dada pemuda itu.
“Minggir Jo…kurang ajar bener si tuyul itu, minggir biar gua hajar !” katanya dengan emosian.
“Kok lu nyalahin dia sih, orang gua yang mau kok” kata Joane santai sambil mengelap tubuhnya dengan handuk.
“Apa ? lu ini…apa-apaan sih maksudnya ? jadi lu ada main sama si tuyul sialan itu ?” tanya Yogi dengan suara bergetar seolah tak percaya pendengarannya
“Iya emang, so what gitu loh, apa peduli lu, cuma gitu aja kan ?” ia melilitkan handuk ke tubuhnya dengan sikap cuek, “sekarang lu tau kan perasaan gua waktu lu boongin gua bilang ada urusan bisnis terus gua liat lu ciuman sama cewek lain !”
Yogi langsung terpaku, ia sadar ini adalah pembalasan atas perselingkuhan yang dilakukannya, namun bagaimanapun ia tidak terima Joane membalasnya dengan cara demikian.
“Lu…lu…dasar perek, emang udah aslinya perek, lu juga sama aja belum berobah !” maki Yogi sambil menunding Joane.
“Iya, emang, gua tau gua seperti apa, lu juga udah tau kan, tapi seenggaknya gua ga pernah main belakang kaya lu tau !” balasnya sengit.
“Hhiiihh !” Yogi gregetan mengangkat tangan hendak menampar Joane.
“Kenapa ? mau nabok ? ayo…tabok aja kalau berani, biar heboh orang diluar sana tau, biar mereka tau lu tuh banci, ayo !” tantang Joane sambil memberi pipinya.
Joane melangkah maju menantangnya sementara Yogi hanya bisa mundur-mundur tak kuasa menggerakan tangannya ataupun berkata apapun lagi. Ia hanya bisa membalikan badan dan mendengus kesal.
“Tunggu dulu” sahut Joane ketika pria itu hendak melangkah ke pintu, “Ini nih, gua gak butuh ini lagi, kasih aja ke perek lu itu !” ia melepaskan cincin emas putih yang diberikan Yogi ketika menyatakan cintanya dan melemparnya ke kaki pria itu.
Yogi meneruskan langkahnya dan membuka pintu tanpa menengok ke belakang, setelah di luar ia membanting pintu itu agak keras. Sepeninggal Yogi, Joane menengok ke kamar mandi di belakangnya, Mumun masih meringkuk di sudut kamar mandi, ia nampak bingung melihat cekcok barusan. Ia mendekati Mumun namun ketika baru mau berjongkok dan menenangkannya pintu kamarnya ada yang mengetuk.
“Tunggu disitu yah ! jangan keluar dulu !” katanya lembut.
Ia menutup kamar mandi dan membukakan pintu untuk dua teman kostnya yang kebetulan dekat situ dan mendengar suara perang mulut di dalam dan melihat Yogi keluar sambil membanting pintu.
“Jo….kenapa tadi ? lu gapapa kan ?” tanya seorang gadis kurus berkacamata.
“Nggak, biasalah urusan cowok cewek, yah gitulah cape deh !” katanya menghela nafas.
Setelah berbasa-basi dan meyakinkan mereka segalanya baik-baik, iapun kembali menutup pintu.
Joane kembali pada Mumun di kamar mandi, ia memegang bahu anak itu untuk menengangkannya. Mumun tersenyum terpaksa membalas pandangan mata Joane.
“Maaf yah Mun barusan itu !” ucapnya lembut lalu mengecup ringan pipi Mumun.
Ia menyuruh anak itu segera berpakaian dan menunggu sebentar di kamarnya sampai di depan agak sepi sehingga bisa keluar. Mumun tidak berani bertanya apa-apa mengenai kejadian tadi pada Joane, demikian pula Joane ia nampaknya cuek saja merokok sambil sesekali memantau situasi di luar dari celah tirai. Mumun keluar meninggalkan kamar itu setelah disuruh Joane yang yakin situasi di luar sepi. Joane menyalakan CD-playernya dan menjatuhkan diri ke ranjang. Walau agak sedih karena sendiri lagi, secara keseluruhan ia merasa kelegaan dalam hatinya, lepas sudah beban pikirannya. Malam itu Joane menepikan mobilnya sejenak di tepi sebuah jembatan. Dari sana ia melempar jauh-jauh cincin dari bekas pacarnya itu hingga benda itu menghilang di tengah luasnya laut. Devi memandang Joane dan mengelus-elus punggungnya, ia mengerti perasaan sahabatnya itu dan berusaha menghiburnya. Seminggu kemudian, setelah melunasi tagihan bulanan, Joane mengepak barang-barangnya untuk pindah ke kost baru. Sebelum pindah ia berkata pada Mumun yang membantu membereskan barangnya.
“Makasih yah Mun, sori kalau selama ini ngerepotin kamu, jangan lupain yang pernah kita pelajari yah”
Mumun merasa kesepian setelah Joane pindah dari kost itu, ia tidak mana kemana gadis itu pindah karena Joane tidak mengatakannya, namun ia tidak akan melupakan pengalaman yang didapatnya dari gadis itu, pengalaman itu menjadi kesan tersendiri dalam kehidupannya.
###########################



© Karya Shusaku