Showing posts with label Kunoichi Series. Show all posts
Showing posts with label Kunoichi Series. Show all posts





The Blue Serenade of a Kunoichi 5


An-Chan
Di sudut sebuah ocha-ya di Fujiwara, Saizo Kirigakure menenggak begitu banyak sake. Berpuluh-puluh botol kosong bekas sake tergeletak di samping Saizo yang mabuk berat. Andai ilmu hipnotis miliknya bisa dipakainya untuk mengobati luka hatinya sendiri, mungkin ia tak perlu menenggak berbotol-botol sake. Malam terkutuk ini adalah saksi bisu betapa dalamnya penderitaannya,... ya, pada malam terkutuk ini gadis yang paling dicintainya, gadis yang bisa membangkitkannya kembali dari kematian, seorang gadis yang demi kebahagiaannya Saizo rela memberikan nyawanya sedang ditiduri oleh saingan cintanya. Dan ialah yang telah dengan bodohnya memberikan keperawanan cinta sejatinya itu pada pria lain. Sikap sok ksatria-nya lah yang mendorongnya untuk melakukan tindakan tolol itu. Saizo tak berhenti mengutuki dirinya yang teramat bodoh. Tak peduli seberapa banyak sake yang telah melewati kerongkongannya, pikirannya tetap tak bisa melupakan An-chan dan pertanyaan sadis sang gadis yang menohok hatinya,


“Senpai, apakah aku bisa menjadi milik Sanada-sama?”

Saizo hanya bisa tersenyum pahit untuk kesekian kalinya sambil bergumam,

“Ya,.. hikss... kau hiks malam ini telah jadi hiks hiks milik Sanada Busuk itu!Hiks... hiks.” (maksudnya ini nangis sambil cegukan hiks hiksnya :-P)

Malam ini, An chan secara
 de facto telah menjadi wanita milik Sanada Yukimura...



***********

Takeda Katsuyori, putra dan penerus Takeda Shingen kalah dalam Pertempuran Nagashino. Klan Sanada khawatir akan keruntuhan kekuasaan mereka. Ayah Masayuki Sanada, Nobutsuna Sanada, adalah abdi setia Takeda Shingen. Ia adalah salah satu dari 24 jendral Takeda yang terbunuh pada waktu mengepung benteng milik Oda dan Tokugawa di Nagashino. Masayuki Sanada, sang pemimpin klan, memutuskan untuk bertekuk lutut di bawah kekuasaan super power kolaborasi klan Oda dan Tokugawa. Sebagai tanda penyerahan diri pada kekuasaan mereka, Masayuki mengirimkan Akamaru, kuda kesayangannya, kepada Oda Nobunaga. Proses diplomasi ini harus berjalan lancar. Jika sampai diplomasi ini gagal, keluarga Sanada terancam hancur lebur.

“Baiklah, aku akan mengirim Akamaru kepada Oda Nobunaga. Sanada Jūyushi, aku butuh beberapa orang dari kalian sebagai utusan. Siapa yang akan berangkat untuk misi ini?”tanya Masayuki.

“Sebaiknya kirim saja orang yang terlihat paling lemah di antara kami Tuan, agar Oda percaya bahwa kita benar-benar berniat untuk berdamai dengan aliansi Oda-Tokugawa.” ujar Uno Rokuro, sang ahli strategi dan bahan peledak.

“Siapa sebaiknya?” tanya Masayuki.

“Maaf kalau hamba lancang. Boleh hamba memberi usul?” tanya Miyoshi-dono.

“Seikai-chan, apa usulmu?”

“Pilihannya hanya saya atau An-chan, sebab kami berdua terlihat seperti seniman yang lemah gemulai daripada seorang petarung.” Ujarnya.

“Tidak Tuanku. Jangan kirimkan Seikai. Ia terlalu temperamental, hasrat membunuhnya pun tak terkendali. Ia malah akan mengacaukan diplomasi ini dengan pembunuhan yang tidak perlu.” Ujar kembarannya.

“Apa maksudmu, ani-kun? Aku bisa mengontrol emosiku.” Seikai membela diri dengan mimik kemayu.

“Bagaimana dengan pembunuhan penyusup tempo hari? Bukankah kau telah membunuh seseorang yang seharusnya bisa diinterogasi?” Isa mengcounter perkataan si Banci.

Banci kemayu itu pun langsung terdiam jengkel tak bisa lagi beralasan.

“An-chan, apa kau sanggup melaksanakan tugas ini?” tanya Masayuki Sanada.

“Sungguh merupakan sebuah kehormatan bagi saya Tuan.” An-chan menerima tugas beratnya.

“Baik, besok pagi Kosuke akan berangkat untuk mengantarkan Akamaru pada Oda Nobunaga.“ kata Masayuki sekali lagi.

“Maaf Tuanku, ijinkan saya pergi bersama Kosuke. Ia masih sangat hijau untuk melaksanakan tugas sepenting ini. Saya akan mendampingi dan mengawasinya dalam tugas ini. Saya mohon.” Saizo membungkuk sangat dalam. Dahinya sampai menempel di tatami. “Saya akan menyamar dan menyusup, kalau perlu saya akan bunuh diri jika tertangkap.” Saizo berusaha meyakinkan tuannya.

“Ya, kau boleh mengawasi Kosuke, Saizo. Tapi ada satu syarat, kembalilah kalian berdua dengan selamat.” Ujar Masayuki bijak.

“Terimakasih banyak Tuanku.” Saizo membungkuk dalam. Tuan Masayuki memang sangat bijaksana, itulah kenapa ia rela menjadi pengawalnya.



*** 

Pagi-pagi sekali Saizo dan An-chan berangkat dari Nagano ke Owari. Hari mulai gelap ketika mereka berada di kawasan Mino. Mereka berhenti di tepi sebuah danau untuk beristirahat. Akamaru pasti butuh makan dan istirahat. Jika kuda ini sakit, proses diplomasi ini bisa kacau. Langit cerah di awal bulan ke tujuh. Meskipun bulan menghilang, tapi bintang-bintang bersinar terang... Perayaan Tanabata harusnya jatuh pada hari ini. Hari ini semua orang di kastil Numata pastilah sedang menggantungkan si boneka penangkal hujan,
teru teru bozu, menyematkan kertas berisi permintaan ke batang bambu, dan melabuhkan kapal-kapal dari daun bambu... Indah sekali... Tak terasa An chan pun bersenandung,


Sasano wa sara sara
Nokiba ni yureru
Ohoshisama kira kira
Kin gin sunago
Goshiki no tanzaku
Watashi ga kaita
Ohoshisama kira kira
Sora kara miteru
(Perahu dari lipatan bambu berlayar cepat
Ujungnya bergoyang-goyang
Bintang berkelap-kelip
Bertaburan bagai emas perak
Warna-warni harapan dan doa
Yang aku tulis
Bintang berkelap-kelip
Dilihat dari langit)



“Wah, danaunya bersih sekali... aku jadi ingin sekali naik sebuah sampan dan mengelilinginya.” kata An-chan riang.

“Benar, pemandangannya juga indah.” Saizo setuju.

“Senpai, pernah membayangkan seperti ini tidak? Mengelilingi danau berdua dengan orang yang kita cintai... Menatap wajahnya lekat-lekat, menggenggam tangannya erat, dan menciumnya dengan mesra. Romantis kan Senpai?”

“Khayalan aneh, tidak bermutu.” Celoteh Saizo.

“Ah, Senpai memang tidak romantis... Pantas saja sampai setua ini belum menikah juga.” Cibir An-chan.

“Enak saja! Kesendirianku ini pilihan hidupku, tahu?! Bukannya karena aku nggak laku.” Saizo sewot.

“Hehehehehe... Masa’ sih? Eh Senpai, aku lapar sekali. Kita tangkap beberapa ekor ikan untuk santap malam yuk.” Ajak An-chan.

Saizo acuh. Ia pura-pura cemberut.

“Masih marah ya?” An-chan menghampiri Saizo.

Ia duduk di hadapan pria itu dan menarik sudut bibir Saizo untuk membentuk paksa sebuah senyuman di raut wajah cemberut Saizo.

“Kau selalu berbuat begitu kan kalau aku ngambek waktu kecil?” kedua mata beningnya menatap Saizo lugu. Saizo tersenyum dan mengangguk.



“Huh... lapar...” keluh An-chan.

Raut muka Saizo langsung berubah jahil melihat mimik kelaparan An-chan. “Bagaimana kalau kita bertanding? Yang kalah yang harus memasak ikannya?” tantang Saizo.

“OK, siapa takut. Tapi ada syaratnya, tidak pakai jurus ninja! Hanya pakai bambu, benang, dan kail saja.” tambah An-chan.

“Setuju.” Kata Saizo.

Mereka memancing menggunakan bambu, benang, dan jarum yang dibengkokkan menjadi kail. Setelah berjam-jam, tak ada seekor ikan pun yang mau menyantap umpan mereka. Saizo sudah tak bisa menahan lapar lebih lama lagi. Ia tarik bilah bambu yang ia pakai sebagai pancing. Tepat ketika ekor matanya menangkap bayangan seekor ikan yang berenang, ia lemparkan bambu tumpul itu sampai menembus tubuh si ikan. Ia tarik benangnya hingga bambu penusuk ikan itu mendekatinya, dan diangkatnya dengan bangga.

“Aku menang.”soraknya.

“Apa?! Enak saja, kau curang Senpai. Kau pergunakan jurus ninjutsu.”An protes.

“ Mana bisa dibilang curang? Aku kan hanya memakai bambu, benang, dan kail seperti persyaratanmu tadi.” Sangkal Saizo sambil mengerling jahil.

“Tidak bisa! Orang yang menang curang itu tetap seorang pecundang, orang yang kalah! Kau harus memasaknya Senpai.”

“Tidak mau.”

“Baiklah, Senpai.” An-chan tersenyum sambil mendekati Saizo. “Kau menang, tapi... Rasakan ini!” An-chan mendorong tubuh Saizo hingga terjatuh ke danau. Secepat kilat tangan Saizo menarik pergelangan tangan An-chan. An-chan ikut terjatuh bersamanya. Bibir An-chan mendarat tepat di bibir Saizo ketika tubuh mereka jatuh ke dalam air secara bersamaan.

Setelah keluar dari air, An-chan menunduk malu dan berkata, “maafkan aku Senpai. Aku benar-benar tidak sengaja.”

Saizo berpura-pura tak menggubris permintaan maaf An-chan. Ia ambil ikan yang tadi ditangkapnya, dan meninggalkan An-chan untuk membuat perapian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.



***

Malam itu An-chan tidur pulas di hadapan Saizo. Gadis impiannya itu memang sangat cantik, bahkan bintang-bintang gemerlapan di langit pun tak mampu menyamai kecemerlangan wajahnya. Bibir mungil merah jambu itulah yang tak sengaja ia kecup tadi sore... Andai saja ia berani meneruskan ciuman tak sengaja itu, pastilah malam ini ia tak akan menggigil kedinginan digigiti nyamuk seperti sekarang. Pastilah malam ini sudah jadi malam yang tak terlupakan,... Di samping bara api perapian yang menyala-nyala, ia cumbui gadis impiannya dengan panasnya. Amboy, asyiknya kalau ia berhasil melampiaskan hasratnya yang belum sempat tersalurkan pada gadis cantik yang sedang terlelap di hadapannya. Kalau saja ia bisa nikmati lagi puting keras dan kenyal yang bertengger angkuh di atas bukit padat putih mulusnya. Gua kemerahan nan sempit yang baru ia jelajahi bagian luarnya saja... Ahhh... An-chan, membayangkannya saja bisa membuat si buyung milik Saizo mengacung.

Sesuatu jatuh di pangkuan An-chan, membuyarkan khayalan erotis sang ninja mentalis (Peserta
 The Master ’kaliii :-P). An chan membuka matanya dan mengambil benda kecil itu. Ia amati sekilas dengan setengah mengantuk.

“Oh, laba-laba.”

Ia letakkan lagi benda itu di pangkuannya dan melanjutkan tidurnya.

“An-chan, kau sudah tak takut laba-laba ya?” tanya Saizo heran.

“Oahhm... jangan sebut-sebut binatang menjijikkan itu, Senpai. Aku mau tidur.”

“Tapi yang di pangkuanmu itu kan laba-laba.”

“Tidak lucu Senpai haaahhhmm....”

“Coba buka matamu kalau kau tidak percaya.” Tantang Saizo.

“Ah senpai, ini kan cuma laba-laba... eh,... laba-laba?” An-chan mulai sadar. Ia bangun dan terbelalak waktu melihat seekor laba-laba besar merambat di pangkuannya.

“Gyaaaaa!!! Tolooong!!! Senpai jahat, kenapa tidak membuangnya?!” ia lompat-lompat kalang kabut karena jijik pada binatang itu.

Saizo terbahak-bahak sampai sakit perut.

An-chan pindah tempat ke sebelah Saizo untuk melanjutkan tidurnya.

“Kenapa pindah ke sini?” tanya Saizo ketus.

“Supaya tidak diganggu laba-laba.”

“Bukannya sudah tidak takut?” ejek Saizo.

“Cerewet! Aku mau tidur.” Potong An-chan.

“Baiklah, aku pindah ke tempatmu tadi ya?” tanya Saizo.

“Jangan! Senpai di sini saja, berjaga-jaga kalau ada laba-laba lagi.”cegah An-chan sambil menarik bahu Saizo dan merapatkan wajah cantiknya yang gemetaran ke balik punggung Saizo.

Sejurus kemudian, An chan telah tertidur lelap. Kepalanya jatuh ke pundak Saizo. Saizo memperhatikan lagi wajah cantiknya, membelai rambut panjangnya, memeluknya erat, lalu ikut memejamkan mata.



***

Saizo dan An-chan akhirnya sampai ke basis pertahanan tentara Oda di Owari. Setelah melalui gerbang benteng dan melewati pemeriksaan yang ketat, kedua utusan Sanada itu dipersilahkan masuk. Kastil megah keluarga Oda menyambut mereka di pusat kota. Oda Nobunaga adalah seorang pria kokoh yang kekuatan militernya kondang ke seluruh penjuru Jepang. Di usianya yang sudah berkepala empat, sisa-sisa kegagahannya di masa muda masih jelas terlihat. Kumis hitamnya lebat menutup bagian atas mulutnya. Urat menyembul di bagian tertentu wajah, leher, dan tangannya. Tubuhnya cukup berotot untuk ukuran pria seusianya. Saizo dan An-chan diantar seorang pesuruh untuk menghadap Oda Nobunaga, sang penguasa hampir seluruh daratan Jepang. Keduanya membungkuk sangat rendah, menyadari posisi tak berarti mereka di hadapan sang dewa perang.

Oda berdehem, “apa yang membuat Sanada menyuruh utusan rendahan macam kalian kemari?” tanyanya dengan suara yang melecehkan.

“Maafkan kelancangan kami, Tuanku. Tuan Sanada menyuruh Kami mengirimkan Akamaru, kuda kesayangannya sebagai hadiah untuk Tuanku. Tuan Sanada tahu Anda sangat gemar berburu.”jawab Saizo.

“Kuda?” Oda memastikan.

“Benar, Tuanku. Kuda ini adalah peranakan kuda negeri seberang. Tubuhnya kuat dan kokoh. Kecepatan dan daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dari kuda lokal. Akamaru adalah kuda terbaik Tuan Besar yang selalu mendampingi beliau dalam setiap medan pertempuran. Sebagai itikad baik, Tuan Besar Sanada mempersembahkan kuda kesayangannya ini kepada Tuanku.” Saizo menerangkan panjang lebar.

“Hahahaha... Sanada akhirnya mengakui kalau dia hanya pecundang. Dia sama saja seperti kudanya, hanya pantas jadi tungganganku.” Oda menyeringai menyebalkan.

Kedua anggota Sanada Jūyushi itu telinganya memerah mendengar majikan mereka direndahkan.



“Baguslah. Memang tak ada seorang pun di dunia yang bisa melawan Oda Nobunaga.” lanjut Oda sombong.

Darah An-chan dan Saizo semakin menggelegak mendengar Tuan Besar mereka makin dilecehkan. Tapi, diplomasi ini tak boleh gagal karena trik pemancingan emosi yang dilakukan sang penguasa Owari.

“Ngomong-ngomong, kalian berdua sangat tak beruntung. Mengapa masih mau mengabdi pada keluarga pecundang seperti keluarga Sanada?... Kasihan.” Oda memang sengaja terus memancing amarah mereka berdua.

Mereka berdua tetap diam.

“Hahahaha... Kalau diberi kesempatan untuk memperbaiki nasib kalian, apakah kalian bersedia?”

“Maksud Tuanku?” tanya Saizo sopan.

“Aku akan membayar kalian dengan upah tinggi. Keluarga kalian pun pasti bangga pada kalian kalau kalian mau menjalankan tugas ringan dariku.”
 

“Tugas?” Saizo mengklarifikasi.

“Aku ingin kalian mengawasi keluarga Sanada untukku. Yah, paling tidak berikanlah sebuah peringatan keras pada keluarga itu kalau mereka coba-coba berkhianat padaku.”desis pria separuh baya itu.

“Kurang ajar... Bedebah tua ini ingin An-chan dan aku mengkhianati Tuan Besar...” batin Saizo. Meskipun dadanya terbakar, raut muka Saizo tetap tenang.

“Tak perlu menjawab sekarang. Masih ada banyak waktu. Sekarang pergilah beristirahat. Aku akan berlatih berburu di hutan. Cari saja aku di sana kalau kalian berubah pikiran.” Ia pergi berlalu meninggalkan kedua utusan Sanada itu.



***

An chan melompat dari sela-sela pepohonan ke hadapan Oda Nobunaga yang sedang mengendarai Akamaru. Akamaru terlonjak kaget, namun Oda dengan mudah berhasil menenangkannya. Sang gadis cantik berlutut memberi hormat.

“Tuanku, mohon percayakan tugas itu pada hamba.” Kata An-chan.

“Mengapa kau berubah pikiran?” Oda menyeringai penuh kemenangan.

“Hamba tidak bisa mengabdi terus-menerus pada keluarga lemah seperti keluarga Sanada.Tuanlah penguasa hampir seluruh daratan Jepang. Sudah sepatutnyalah hamba mengabdikan diri pada orang hebat seperti Tuanku.” Jawab An-chan.

Oda tertawa tergelak-gelak mendengar pujian An-chan. “Gadis Kecil, kau tak hanya cantik... Bagus, bagus, ternyata kau cukup pintar juga...”

“Hamba tidak pantas dipuji oleh seorang pria hebat seperti Tuanku...” An-chan merendah.

“Hmmm... jadi kau mau melakukan pengawasan pada majikan, maksudku mantan majikanmu itu, Nona Cantik?”

An-chan membungkuk dalam. “Tentu saja, maafkan kalau Hamba lancang, tapi ada satu syarat yang harus Tuan penuhi.”

“Apa itu?”

“Ijinkan Hamba melihat kehebatan Tuanku dalam bertarung. Tuan harus berhasil menangkap dan mengalahkan hamba. Hamba hanya mau mengabdi pada seorang majikan yang hebat.” Ujar An-chan.

“Oh, maksudmu aku harus melakukan perburuan dan mangsanya adalah kau, Cantik?”

An-chan mengangguk, “suatu kehormatan bagi Hamba jika Tuan bersedia memenuhi persyaratan yang Hamba ajukan.”

“Permainan yang menarik. Kalau aku menang, apa imbalanku?” tantang Oda.

“Apa saja yang Tuan inginkan dan bisa hamba penuhi.” Jawabnya.

“Nyawamu sekalipun?” tanya Oda.

“Bahkan nyawa Hamba pun boleh Tuan ambil.” Jawab An-chan.

“Boleh juga. Sekarang larilah! Aku akan mulai mengejarmu pada hitungan ke dua puluh.”
 



Kunoichi cantik itu menghilang dari hadapan Oda. Sosok langsingnya berlari menembus rimbunnya dedaunan.

“... delapan belas,....” Hitung Oda

An-chan memanjat ranting kokoh sebuah pohon besar.

“... sembilan belas,..”

An-chan melompat ke dahan pohon yang lain dengan keseimbangan luar biasa.

“... dua puluh.” Oda menghentikan hitungannya.

Waktunya beraksi. Ia pacu Akamaru yang ditungganginya untuk mengejar si kunoichi cantik itu. Kesempatan bagus, pikir An-chan, Oda tak akan menyadari kalau An-chan berniat membunuhnya dalam permainan ini. An-chan melemparkan sebuah shuriken ke leher Oda. Oda yang mempunyai refleks tubuh sangat bagus berhasil berkelit dari shuriken yang dilemparkan si ninja wanita itu. “Trang!” sebatang tombak dilemparkan pada An. Oda memergoki An-chan bersembunyi di sela-sela pepohonan. An-chan berkelit. Ia lemparkan lagi shuriken Iga-nya ke arah sang dewa perang. Pria kokoh itu dengan mudah menangkis shuriken An-chan. Ia berdiri di atas Akamaru dan membalas serangan An-chan dengan buluh berisi mata tombak. Ia menyusul An-chan naik ke atas pohon secepat kilat, ia sabetkan katananya ke tubuh mungil An-chan. Sabetan itu menggores bahunya dan mengoyakkan separo pakaiannya. Tato bergambar naga di punggung mulusnya tampak sebagian waktu ia melarikan diri.

An-chan terus berlari. Mata tombak yang dilontarkan buluh pelontar milik Oda di belakangnya terus menghujaninya, salah satu mata tombak menembus kakinya dan memperlambat laju larinya. Ketika An-chan kurang waspada, sebuah jaring penjerat babi yang dipasang di hutan itu menjeratnya. Ia berusaha melepaskan diri dari perangkap itu, namun terlambat. Sebuah anak panah Oda menembus punggungnya dan mengakhiri perlawanannya. Lalu, semuanya gelap.



***
 

An chan siuman. Ia telah berada di atas punggung Akamaru. Tubuh Oda menopangnya sambil mengendalikan Akamaru.

“Sudah siuman?” tanya Oda.

“Tuanku,... kita akan pergi ke mana?” tanya An-chan.

“Berkuda. Mengelilingi hutan ini... Oh ya, aku sudah bisa meminta imbalanku?”tanya Oda.

An-chan mengangguk lemah. “Apa yang Tuan inginkan?”

“Bagaimana kalau aku bunuh kau?” bisik Oda sambil menghunus katananya ke leher An-chan.

An-chan pasrah. Oda telah mengendus niatnya untuk menghabisi si penguasa Owari itu dalam permainan tadi. Ia pasrah. Ia pejamkan mata menyongsong kematiannya.

Bukannya menghabisi An, pria tua itu malah menyarungkan kembali katana ke pinggangnya. Tanpa banyak bicara, salah satu tangan Oda menyelusup ke balik kimono An chan dan pelan-pelan meremas-remas sebuah payudara padat miliknya.

An-chan langsung paham apa yang diinginkan oleh lelaki bangkotan itu. An chan menoleh dan tanpa ampun melumat bibir lelaki bangkotan itu. Ia semakin lihai membelit-belit dan menarik ulur lidah partnernya. Cumbuan An-chan makin ganas seiring makin intensnya Oda menarik-narik, memilin-milin, dan mencubiti pentil tegangnya. Ia memasukkan lidahnya dan menyapu langit-langit mulut Oda. Sang dewa perang mulai menyodok-nyodokkan senjatanya ke tubuh An-chan. Ia renggangkan paha mulus An-chan dan mulai mengobok-obok organ kewanitaannya dengan jemarinya. An-chan kewalahan menerima serangan bertubi-tubi di bibir atas, pentil, dan bibir bawahnya. Waktu guanya sudah basah dan becek, Oda mengangkat pinggul rampingnya dan mendudukkan An-chan di pangkuannya seraya menyarangkan senjatanya di lubang pertahanan sang kunoichi. An-chan membantu meregangkan lubang vaginanya dan memasukkan kejantanan Oda ke dalamnya. Ia merem melek nikmat waktu benda besar hitam itu masuk pelan-pelan ke organ intimnya.



Ketika sudah masuk seluruhnya, An-chan melakukan gerakan goyang ngebor yang wah. Barang milik Oda terjepit-jepit nikmat di rongga sempitnya. Sang dewa perang semakin membabi buta meremas-remas gundukan kenyal An-chan, menciumi bibir, punggung, tengkuk, dan ketiak gadis muda itu. An-chan yang terangsang berat bergerak naik turun menunggangi penis pria bangkotan yang perkasa itu. Makin lama gerakan An-chan makin liar dan cepat. An-chan melakukannya sampai tubuhnya menegang karena orgasme dan memuncratkan lava panas dari kawahnya. Ia lemas sekali setelah itu. Tapi permainan belum berakhir bagi sang dewa perang yang tangguh. Ia angkat tubuh mungil An-chan yang pakaiannya sudah tak lagi menutupi organ-organ intimnya itu. Ia balik badan An-chan hingga menghadap ke arahnya. Ia masukkan lagi kejantanannya ke liang senggama An-chan. Ia tepuk bokong gadis itu agar menunggangi penisnya seliar tadi. Tapi An-chan masih lemas, ia tak seberingas tadi. Ia hanya memeluk pria bangkotan itu, sambil melumat bibirnya ia naik-turunkan panggulnya pelan. Oda menepuk bokongnya agar An bergerak dengan lebih bertenaga lagi. An-chan yang telah berpeluh menuruti keinginannya. Ia naik-turunkan panggul aduhainya sampai tubuh sintalnya mengejang lagi.

“Aaaahhhkkkk.....” pekik An ketika ia orgasme untuk kedua kalinya.

Meskipun An-chan sudah dua kali mencapai puncak kenikmatan, senjata pria itu masih saja mengacung tegak. Sudah satu setengah jam sang daimyo Owari bercinta dengannya di atas kuda jantan gagah pemberian Masayuki Sanada, Akamaru. Stamina sang dewa perang memang jreng... Agaknya benar rumor yang mengatakan bahwa ia tidak hanya perkasa di medan perang. Oda menghentikan Akamaru di daerah rerumputan. Ia bopong tubuh An-chan turun dan ia baringkan An-chan di atas rerumputan halus. Ia langsung menyucup rakus pentil-pentil ranum milik An-chan. Jari-jarinya bergerilya di lubang nikmat An-chan. Ia memainkan rino-tama di dalam vaginanya. Genta kecil bergemerincing yang diletakkan di organ pribadi para geisha itu memang mainan yang mengasyikkan bagi para lelaki. An-chan menceracau tak karuan. Ia lebih tak karuan lagi waktu lelaki tua itu memasukkan lidah bergeriginya untuk memainkan mainan kecil di lubang surganya. Tiga kali sudah tubuhnya menegang. Cairan cintanya muncrat ke wajah Oda. Oda munyucup habis love juice gadis cantik nan rupawan yang sedang menggelepar-gelepar terangsang di hadapannya.



Oda menepuk pantat sang ninja jelita. Ia ingin ber-doggy style kali ini. An-chan menungging menyodorkan lubang merah menganganya yang berdenyut-denyut pada si bandot tua. Ia langsung mencoblos dan menghajar An-chan dengan pompaan-pompaan terdahsyatnya. Pompaan di miss V An- chan dan perahan gemasnya di kedua susu An-chan membuat An-chan kembali dilanda multiple orgasme. Setelah lava cintanya muncrat, si cantik sangat kelelahan. Saking lemahnya, An-chan tak sanggup lagi menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya. Oda mencabut lambang kelelakiannya yang masih kokoh berdiri dari Miss V kunoichi cantik itu.

“Apa kau benar-benar mau menuruti semua keinginanku?” Oda berbisik di telinga kunoichi cantik itu.

An-chan mengangguk pelan sambil mendesah-desah karena puting kakunya dipilin-pilin dan ditarik-tarik lagi oleh pria tua itu.

“Bercintalah dengan Akamaru... sepertinya ia iri melihat kita.” Seringai Oda licik.

An-chan bergidik mendengar permintaan tak manusiawi penguasa klan Odawara itu. “Tunjukkan bahwa kau setia padaku!” perintahnya.

An-chan tak punya pilihan lain. Kalau saja klan Sanada tidak terancam hancur karena pria berfantasi seksual mengerikan ini, ia pasti lebih memilih untuk mati menggigit lidahnya saja. An-chan mendekati Akamaru. Ia mengelus-elus kepala kuda jantan merah hitam berbadan besar itu. Pelan-pelan An-chan mengangkat ekornya. Kuda itu telah mengenal gadis cantik itu dengan baik jadi ia tidak menyepak sang kunoichi dengan kaki belakangnya waktu si kunoichi cantik itu mengangkat ekornya. Alat kelamin kuda jantan itu besar dan berwarna kemerahan. An chan meremas-remas dan memijat-mijatnya pelan. An menjilati dengan jijik dan menghisap-hisapnya sampai benda merah lonjong iu membengkak. Akamaru bersuara “hiieeeehhheeehhheehhh...” Mungkin pejantan itu terangsang. An-chan mengoles-oleskan benda mirip dildo itu ke mulut guanya.



Gadis cantik itu lalu merenggangkan lubang sempitnya dan mendorong pelan-pelan organ intim bengkak binatang itu ke dalam area paling sensitifnya. An memasukkannya dengan susah payah karena ukurannya yang jauh lebih besar dari milik manusia.

“Kyaaaaa...!!!” An-chan menjerit waktu binatang itu mendesakkan organ reproduksinya lebih dalam ke gua sempit milik gadis bermata coklat itu.

Setelah An-chan diam beberapa saat --agar terbiasa dengan miss P jumbo Akamaru—An-chan mulai memompa keluar-masuk dildo hidupnya dari dan ke dalam area kewanitaannya. Meskipun air matanya menitik, si cantik An-chan sangat menikmati masturbasi menggunakan dildo jumbo milik kuda jantan kesayangan Tuan Besar Sanada. Oda tidak bisa terus-terusan membiarkan kunoichi binalnya menikmati seks tanpa campur tangannya. Oda memeluk An-chan dari arah belakang. Ia elus-elus penis tegangnya sebentar. Kedua tangannya kemudian membelah bokong seksi An-chan sampai rongga sempit merah berdenyut-denyut di antara buah pantatnya menyambutnya. Ia tancapkan barang kebanggaannya ke lubang belakang An-chan yang jadi makin sempit karena lubang vagina An-chan didesak penis si kuda jantan dari depan. Ia menyodomi dubur An-chan yang masih perawan.

“Jangaaaannn... ngaaahhkkk... ngaaahhkkk... aaakkhhh...” An-chan menangis dan memekik-mekik kesakitan.

Oda tak peduli. Ia terus melanjutkan aksi sodominya. Penisnya terasa nyaman sekali karena terjepit-jepit di dalam sana. Dubur An-chan yang sempit dengan beringas dipompa olehnya. An-chan cuma bisa menangis ketika pria yang lebih kejam dari binatang itu memompa lubang pembuangannya sambil meremas-remas payudara indahnya tanpa belas kasihan. Bandot tua itu tahan lama juga. Hampir setengah jam ia menyodok-nyodok dubur An-chan. Akhirnya si bandot tua itu memekik dan menumpahkan semua muatan penisnya ke rongga dubur An-chan bersamaan dengan Akamaru yang juga menumpahkan benihnya ke liang rahim An-chan. Cairan kental menetes-netes dari bokong dan vagina An-chan. Cairan cinta itu meleleh melumuri kaki jenjang sang kunoichi. Si tua itupun akhirnya tumbang. Ia beristirahat dengan bersandar ke sebuah pohon.

“Bersihkan!” perintahnya sambil mengangkang dan menunjuk benda hitam mengkerut penuh lelehan sperma di bawah perutnya. An-chan yang masih kelelahan merambat mendekatinya dan menjilati, menghisap-hisap, serta menelan seluruh lelehan spermanya. Lubang-lubang cinta An-chan sudah perih dan sakit karena digarap oleh seekor kuda jantan dan disodomi oleh seekor bandot tua.

Setelah menerima oral service dari An chan, lelehan sperma di penis si bandot tua itu berhasil dibersihkan. Kabar buruknya, si buyung bangun lagi!!! Si tua itu menyeringai mesum pada gadis belia bugil di hadapannya. Ronde selanjutnya pasti tak kalah menyeramkan dari permainan 4 set tadi. Si bandot tua yang telah pulih staminanya pun bangkit dari duduknya dan menerkam An-chan dengan buas sekali lagi.

“Aaaaaakkkkhhhhhsssss.....aaahhhkkkksss......aaahhhkkksss....!!!!!!” rintihan An-chan yang malang tak terdengar oleh siapa pun.
 



***

Saizo menggendong An-chan di punggung bidangnya. Tugas mereka mengantarkan Akamaru telah selesai. Mereka telah pulang kembali ke Nagano Selatan, wilayah kekuasaan klan Sanada. Pasar kecil yang mereka lewati begitu ramai. Para pedagang menawarkan berbagai macam barang pada siapapun yang lewat.

“Senpai, maaf ya. Gara-gara kakiku terluka Senpai harus terus menggendongku sepanjang perjalanan.” Kata An-chan.

“Iya, kumaafkan. Kamu ini berat sekali tahu.” Ledek Saizo sang provokator.

An-chan menjitak Saizo, “Menyebalkan!” katanya.

“Aduh, dasar wanita tak tahu balas budi! Kau balas air susu dengan air tuba.” Seloroh si Gingsul menyebalkan itu.

“Baiklah,... kubalas budi baikmu dengan dango ya?”

“Masa cuma dango?” tawar Saizo.

“Baiklah, Senpai boleh bermalam bersamaku dan kita akan,...” si geisha genit menggoda kakak seperguruannya.

Saizo menelan air liur mendengar perkataan An-chan. Mimpinya akan jadi kenyataan... “Apa yang akan kita lakukan?”

“.... mmmhhh.... menghabiskan sekeranjang dango, Senpai-ku sayang.... Hehehehehe.... “ An-chan tergelak-gelak karena berhasil mengerjai si pria kurus bergingsul nan sukebei (mata keranjang) itu.

Saizo shock, kalau di dalam
 manga Jepang langsung menangis deras, emoticon di bubble dialognya jadi seperti ini: T_T

“Mau tidak kubelikan dango Senpai? Mumpung aku sedang baik hati.” Tawar An-chan sekali lagi.

“Ya sudah, daripada tidak dapat apa-apa.” Jawab Saizo pasrah.

An-chan membeli beberapa tusuk dango. Ia memakannya dengan lahap di gendongan Saizo.

“Enak Senpai.” Ia mengunyah-ngunyah manisan itu dengan riang.

Wajah cantiknya menempel ke pipi Saizo, tangan kanannya menyodorkan tusuk dango yang baru ia makan satu potong ke depan bibir Saizo, “...mmm... nyam... nyammm...” ia beri isyarat agar Saizo juga memakan dango itu bersamanya. Mulutnya terlalu penuh untuk bicara. Saizo menggigit dan mengunyah satu potongan dango. An dan Saizo bercanda sambil makan dango di sepanjang jalan yang dikelilingi persawahan itu. An-chan memeluk leher Saizo dan menyandarkan kepalanya ke punggung pria yang sudah seperti kakak laki-lakinya itu,

”Senpai baik sekali,... Kalau saja aku punya ayah seperti Senpai...” bisiknya.

“Maaf ya jadi mengingatkanmu pada ayahmu,” kata Saizo.

“Bagaimana mungkin bisa ingat. Aku belum pernah melihat ayah-ibuku sama sekali. Aku tak tahu di mana mereka berada. Aku bahkan tak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Sejak kecil aku hanya mengenal Rokuro-sensei sebagai pengganti ayahku dan Chihiro-dono sebagai pengganti ibuku.” An-chan bercerita panjang lebar.



“Berarti aku sedikit lebih beruntung darimu ya,” timpal Saizo.

“Ayah dan ibu Senpai masih hidup?”

Saizo menggeleng. “Mereka sudah lama meninggal. Meskipun begitu, aku masih sempat merasakan hidup bahagia bersama ayah dan ibuku.”

“Ya, aku iri pada Senpai... Ummm... Kenapa mereka meninggal?” tanya An-chan.

“Ayahku kalah bertarung dengan ninja Koga. Hattori Hanzo mengadu domba Iga dan Koga dengan sebuah pertarungan ambisius memperebutkan posisi sebagai pengawal pribadi Tokugawa. Setelah ayah meninggal, kami hidup terlunta-lunta. Kami dibuang dari Iga karena kemampuan mengerikan yang aku miliki menyerupai ilmu sesat aliran Koga. Sebenarnya cuma aku yang dibuang, tapi Ibuku pun ikut pergi meninggalkan desa Iga bersamaku. Ibu mati kelaparan dan kedinginan ketika kami berdua berlindung dari badai salju di sebuah kuil tua. Jenazah ibu melindungi dan menghangatkanku di malam berbadai salju itu. Sepeninggal ibu, aku mengemis dan mencuri untuk hidup di jalanan. Terkadang aku juga melakukan pertunjukan akrobat... Aku pada awalnya benci sekali dengan bakat alam mengerikan yang aku miliki, tapi belakangan ini aku baru menyadari bakat itu ada gunanya juga.” Pikiran Saizo menerawang jauh ke masa lalunya.

“Senpai, aku tak punya masa kecil kelam semacam itu. Yang aku tahu, tiba-tiba saja aku sudah jadi bagian dari Sanada Jūyushi. Masa kecilku begitu indah, biarpun aku tak punya orang tua... Tidak pahit seperti saat ini.” An-chan menitikkan air mata.

“An-chan, dango nya manis ya. Aku boleh minta lagi?” Saizo mengalihkan topik pembicaraan. Ia tak ingin bidadari mungil di gendongannya bersedih.

“Tidak boleh! Tinggal satu buah. Ini untuk Tuan Yukimura.”

“Yukimura?!...” Saizo tersenyum sinis mendengar nama perebut kesucian gadis pujaannya itu disebut.

“Bagaimana kabar Tuan Yukimura ya? Aku rindu sekali padanya.” Kata An-chan yang kembali riang.

“Ah, lagi-lagi Yukimura! Merusak suasana saja...” batin Saizo perih.



***

Seorang gadis cantik berambut panjang dengan kimono sutra mahal berlapis-lapis sedang duduk menenun di taman milik keluarga Sanada. Musim panas telah berlalu. Pohon-pohon momiji berwarna cerah menyemarakkan suasana taman, pertanda musim gugur telah datang. An-chan dan Saizo heran, mereka belum pernah melihat gadis cantik itu sebelumnya. Tak lama, pertanyaan di hati keduanya terjawab. Sanada Yukimura, yang tak tahu akan kedatangan dua ninja itu, memeluk sang gadis cantik berkulit pualam dari belakang. Bibirnya menelusuri leher jenjang sang gadis di pelukannya. Gadis itu meraih rambut Yukimura dan mereka pun berpagutan mesra.

Genggaman An-chan mengendor. Dango terakhir di tangannya meluncur jatuh ke tanah. Saizo menyadari apa yang telah terjadi. Ia menggendong An-chan pergi dari tempat itu secepat kilat.



***
 

An-chan yang patah hati bersandar lunglai sambil terisak-isak di bahu Saizo. Tangannya terkadang dipakai untuk menyeka air matanya.

“Ini,” Saizo menyodorkan selembar sapu tangan kepadanya.

An-chan mengambilnya. Ia menangis sekeras-kerasnya ditutupi sapu tangan itu.

Saizo meraih kepala An-chan dan menepuk-nepuknya pelan. Sinar bulan yang keperakan menerangi atap tempat kedua ninja itu melewatkan malam. Daun-daun momiji berguguran tertiup angin. Desiran angin musim gugur yang dingin menusuk hingga ke lubuk hati An-chan. An chan menangis sampai akhirnya jatuh tertidur karena letih. Saizo membaringkan gadis mungil itu ke atas pangkuannya. Ia pergunakan jubah terluarnya untuk menyelimuti bidadari cantiknya yang sedang terluka itu. Jinpachi dan Yuri tiba-tiba sudah berada di sebelah Saizo.

“Senpai sudah pulang? Mengapa tidak lapor pada Tuan Masayuki Sanada?” tanya Jinpachi.

“Ssstt... Jangan bicara keras-keras. Besok pagi saja aku melapor.” Jawab Saizo.

“Tadi Tuan Besar sudah menerima surat dari utusan Oda. Oda bilang ia sangat menyukai pemberian dari Tuan Besar. Syukurlah, tugas kalian berhasil.” Tambah Yuri.

“Siapa gadis yang tadi bersama Yukimura?” selidik Saizo.

“Oh ya, kami lupa. Ayah gadis itu seorang saudagar dari Kii. Ia ingin berdagang di sini. Untuk memperlancar diplomasi dengan Tuan Besar, ia mengirim putri keduanya untuk jadi pelayan keluarga Sanada. Ternyata Tuan Muda jatuh hati pada gadis itu dan ingin menikahinya. Tepat di malam perayaan tanabata, Tuan Muda Yukimura menikahi gadis itu. Pestanya meriah sekali, aku saja sampai repot sekali di dapur.” kata Yuri bersemangat.

“Dia cantik ya Senpai... Tidak heran Yukimura begitu tergila-gila padanya. Tak lama lagi ia pasti sudah mengandung... Tuan Muda rajin sekali bermalam di kamarnya dan...” Ujar Jinpachi dengan mimik mesum.



“Apa dia lebih cantik dari An-chan?” pancing Saizo.

“Hahahaha... Wanita itu jauh lebih dewasa dari An-chan...” jawab Yuri.

“Benar, gadis kasar seperti An-chan... mana bisa dibandingkan dengannya.” Jinpachi menambahi.

“Bagaimanapun An-chan lebih pantas untuk bersama Yukimura.” Kata Saizo lirih.

“Senpai, kau salah makan ya?” ledek Yuri.

“Ah, Senpai... Kenapa berkata begitu? Bukankah Senpai juga menyukai An-chan?” kata Jinpachi lagi.

“Tapi An lebih banyak berkorban untuk keluarga Sanada... Ia lebih pantas mendapatkan hati Yukimura.” Saizo berargumen.

“Tidak mungkin, An cuma kunoichi... keluarga Sanada memeliharanya hanya untuk menjadikannya seorang pembunuh dan pelacur yang bisa memanipulasi perasaan lawan.” Kata Yuri.

“Benar, Senpai. An-chan tak boleh punya perasaan seperti kebanyakan wanita lemah. Ia dilahirkan hanya untuk membunuh dan memanipulasi.”tambah Jinpachi.

“Aku tahu... tapi bukankah Sanada mencintai An-chan?”kata Saizo lagi.

“Mana mungkin Senpai, kalau ia mencintai An pasti ia takkan mengirim An pada Oda Nobunaga.” Kata Yuri.

“Iya, aku tak sengaja mencuri dengar waktu itu. Yukimura yang mengusulkan pada Rokuro-sensei agar An-chan memakai taktik psikologis dalam misi ini. Rokuro-sensei setuju untuk memerintahkan agar An-chan memakai apapun, termasuk tubuhnya, untuk memperlancar negosiasi kita.” kata Jinpachi.

Saizo kaget mendengar keterangan Jinpachi. “Kenapa tak kau katakan padaku?!” Saizo dengan marah menarik kerah kimono Jinpachi.

“Ssseeenn... pai, jangan!” cegah Yuri.

“Senpai, hentikan! Aku juga tak tahu... waktu itu kalian sudah pergi dan Rokuro-sensei mengirimkan pesan berisi tugas rahasia itu pada An dengan seekor merpati.” Jinpachi membela diri.



An-chan yang ternyata menguping pembicaraan mereka membuka matanya, menyingkap jubah Saizo dari atas tubuhnya, dan lompat dari atap. Ia berlari ke kamar Yukimura dengan tertatih-tatih karena luka di kakinya. Ia memang telah menerima surat perintah itu. Tapi semua ini pasti tidak benar. Yukimura tak mungkin tega mengusulkan untuk menjadikannya pelayan nafsu si penguasa Owari! Yukimura tak mungkin melakukan itu padanya, karena Yukimura pun pastilah sangat mencintainya! Wanita busuk itu tak boleh memiliki Tuan Mudanya setelah begitu banyaknya An berkorban demi Tuan Mudanya. Malam ini juga, An-chan harus melenyapkan wanita busuk itu untuk selamanya. An yang terbakar amarah tak lagi peduli pada luka di kakinya. Ia berlari dan terus berlari. Saizo berhasil mengejar An dengan mudah dan menahannya sebelum sampai ke pintu geser kamar sang tuan muda.

“Apa yang kau lakukan?” Saizo menahan tubuh An-chan yang kini telah memegang sebilah jutte (pisau).

“Biarkan aku membunuh wanita sialan itu.” Ia meronta-ronta.

“Hentikan!”perintah Saizo.

“Gara-gara dia Tuan Yukimura tak mempedulikanku...”

“An-chan! Berhenti!” perintah Saizo.

“Tidak! Aku... aku sudah lakukan semuanya untuk Tuan Yukimura... Mana bisa wanita itu merebut dia dariku.”protes An-chan.

“An-chan, hentikan!”

“Aku sudah berikan kesucianku pada Tuan Yukimura... aku sudah lakukan semua hal untuknya... aku sudah begitu kotor... aku tidur dengan Oda agar diplomasi kita berhasil... hiks hiks.... Pria bajingan itu bahkan memaksaku untuk bercinta dengan Akamaru... hiks hiks...” An-chan menangis histeris.

“Apa yang baru saja kau katakan?!” Saizo terbelalak mendengar pengakuan An-chan.

An-chan menggeleng.

“Katakan sekali lagi!” ia goncang-goncangkan tubuh An-chan, memaksanya untuk bicara.



“Akuuu... pura-pura mau jadi mata-mata Oda... pada awalnya aku berniat membunuhnya di hutan itu... tapi, tapi, aku kalah dan aku terpaksa melayani nafsu bejatnya... Itulah yang diperintahkan Rokuro-sensei padaku, bunuh Oda atau tidurlah dengannya, lakukan segala cara untuk membuat penguasa Owari itu percaya bahwa keluarga Sanada telah menyerah padanya...” tangis An-chan tumpah seketika.

Saizo memeluk An-chan yang menangis sejadi-jadinya. Jari-jarinya mengepal geram karena amarah.

Betapa teganya Yukimura pada gadis mungil yang selalu dipujanya ini, Setelah puas menikmati kegadisannya, ia campakkan An-chan. Bajingan itu bahkan tega memperalat An-chan demi kekuasaan keluarganya. Tiba-tiba dari balik pintu geser berlapis kertas yang berjarak beberapa meter dari mereka terdengar lenguhan nikmat seorang wanita “aaahhhhh..... nngaaahhhkkk..... aaahhhsshhh.....” Bajingan itu bahkan masih sempat-sempatnya berasyik masyuk dengan mantan pelayannya, membiarkan perasaan seseorang yang sangat mencintainya hancur berkeping-keping. Mendengar lenguhan nknmat dari dalam bilik berjendela kertas itu, An-chan menangis semakin keras, badannya terguncang-guncang hebat. Kepalan tangannya meninju dada Saizo sekeras-kerasnya. Setelah puas melampiaskan amarahnya, An-chan pergi meninggalkan tempat itu. Ia tak tahan untuk berlama-lama di tempat itu.

Saizo berlari mengejarnya.

An-chan masih terus menangis. “Jangan ikuti aku!” bentaknya dengan suara terisak-isak pada Saizo.

Saizo membiarkan An-chan pergi sendiri untuk meneneangkan diri. Saizo memandang iba pada An-chan yang sedang berlari terseok-seok meninggalkan mansion keluarga Sanada. Ia biarkan bidadarinya yang terluka berlari meninggalkannya.



***
 

Pulang dari sebuah kedai minuman keras, An-chan terhuyung-huyung memasuki sebuah kamar. Ia benar-benar berada di bawah pengaruh minuman keras. Di kamar itu ada seorang lelaki yang sedang meringkuk di atas futonnya. An-chan tak memedulikan keberadaan lelaki itu. Tubuhnya jadi panas akibat terlalu banyak menenggak sake. An-chan tanggalkan seluruh kain yang ada di tubuhnya. An-chan yang telanjang bulat tanpa pikir panjang meringkuk masuk ke selimut pria itu karena rasa kantuk dan pusing yang menderanya. Ia peluk tubuh pria itu dari belakang. Pria itu berbalik dan terperangah melihat tubuh mulus An-chan tergolek lemah tanpa dilapisi sehelai benang pun. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Di bawah selimut tebalnya dan remang-remang cahaya lilin, ia nikmati tubuh molek An-chan.

Ia cumbui gadis cantik di hadapannya. Ia kulum-kulum bibir mungilnya. Ia permainkan lidah gadis cantik itu. Rasa manis sake terasa sekali olehnya. Sama seperti sake, kecantikan dara belia itu teramat memabukkan. Puas bermain-main dengan bibir gadis cantik itu, lidah sang pria menelusuri dagu, leher, terus ke belahan dada, perut, dan daerah terlarangnya. Geisha cantik itu pasrah waktu lawan mainnya menggelitiki tepian gua berbulu tipisnya dengan lidahnya. Lidah liarnya menelusup lebih dalam dan mengebor kawah merah merekah milik sang gadis. Ujung lidah itu memainkan kelentit An-chan yang dipasangi rino-tama. “Cring... cring...cring...” semakin cepat irama dentingan rino-tama yang tergesek-gesek lidah si pria, makin intens pula rasa geli-geli nikmat yang dirasakan An-chan. Pria itu mengangkat kaki mulus An-chan ke bahunya. Ia perdalam penetrasi lidahnya ke lubang rahasia milik gadis berkulit mulus itu. An-chan yang setengah sadar mendesah-desah geli. Cairan cinta melumasi kawah merekahnya. Bak kehausan lelaki itu menyeruput cairan asin beraroma khas yang dikeluarkan bidadari binal itu. Ia lebarkan celah-celah antara dua paha An-chan, meletakkan salah satu kaki An-chan ke atas futon, mendorong masuk seluruh kejantanannya ke vagina An-chan, dan menegakkan kaki kanannya sebagai tumpuan. Ia bor rongga peret gadis cantik yang merekah di hadapannya. Ia mainkan payudara berukuran 36 B milik si gadis berperut rata itu sambil mempercepat laju pompaannya.



“Plokkk... plokkk... plokkk... plokk...” lalu “plokkk... plokkk... plokkk... plokkk....” kemudian “plokk... plokk... ploookk... plokkk...” dan “plokk.... plokk... lokkk... plokk...” hingga... “plokkk... plokkk.... plokkk... plokkk... plokk...” (lama banget sih ga selesai-selesai! Ditinggal tidur dulu ah sama yang ngetik :-P)

Biarpun kawah An-chan sudah basah kuyup, pria itu masih saja terus memompanya. Bosan dengan posisi misionari yang dimodifikasi itu, ia cabut penis tegangnya. Ia kulum-kulum, jilat-jilat, hisap-hisap, dan gigit-gigit kedua puting berujung pink dan berareola kehitaman milik An-chan secara bergantian. Pria kekar berperawakan sedang itu menepuk bokong An-chan, memerintahkannya untuk tengkurap dan menumpukan kedua kaki dan tangannya ke lantai. Tubuh An-chan membentuk posisi yoga yang disebut
 cat position (mirip-mirip nunggingnya doggy style gitu deh). Pria itu ingin posisi bercinta yang lebih menantang. Sepasang payudara An-chan menjuntai indah tertarik gaya gravitasi (wkwkwk... kaya apelnya Newton, jatuh tertarik gaya gravitasi ^^`). Sang pria mengangkat kedua kaki An-chan dan membiarkan kunoichi cantik itu menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya. Ia renggangkan paha mulus An-chan dan ia dorong kuat-kuat Mr. P nya hingga melesak seluruhnya ke dalam anus sang geisha yang sempit. Jadilah posisi... (tebak posisi apa coba?)... Ya, betul! Posisi becak-becakan (gyahahaha... nggak ding nama keren posisi ini sih wheelchair position). Pria itu lebih mudah mengontrol penetrasinya dengan posisi ini. Puyeng-puyeng dah tu si kunoichi! Gimana nggak pusing, aliran darahnya berbalik mengalir ke kepala! So, don’t try this at home...

Ia pompa terus, terus, dan terus, sampai... air maninya muncrat ke dubur An-chan. Ia jatuh terduduk karena kedua lututnya lemas, An-chan yang otot-otot tangannya jadi kaku pun terhempas ke atas futon. Keduanya terengah-engah. Pria itu menjilati sela-sela paha An-chan yang tidur dalam posisi tengkurap, lidahnya naik menelusuri bokong padat An-chan, punggung, leher, lalu bibirnya. Kedua insan itu mempraktekkan French Kiss yang panas. Ia lalu menyuruh An-chan tidur telentang lagi dan keduanya ber-sashimi for two sampai cairan cinta mereka muncrat membasahi wajah dan bibir lawannya... Cukup dua ronde saja kali ini, jempol penulis bisa bengkak berdenyut-denyut nanti kalau mereka kelamaan ML-nya.
 



***

“Selamat pagi, Sayang.” Kata seseorang waktu pintu geser itu terbuka.

Sinar matahari menyilaukan mata An chan. Ia terbangun dan melihat sosok kemayu Miyoshi Seikai di depannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” bentak Seikai.

An chan baru menyadari kalau tubuhnya telanjang bulat. Ada cairan asin lengket di bibir, rambut, dubur, dan juga vaginanya. Seketika ia sadar kalau kemarin malam ia

telah bercinta dalam keadaan mabuk dengan seseorang. Tapi siapa? An-chan sama sekali tak ingat siapa pria yang semalam membuang sperma berlebihnya ke dalam rongga rahimnya. Pria yang tidur di sebelahnya terbangun. Ia juga bangun dalam keadaan telanjang bulat seperti An-chan. Hanya secarik selimut yang menutupi tubuh-tubuh polos kedua manusia nista itu. An-chan terbelalak kaget, ternyata Sarutobi Sasuke-lah yang telah menidurinya tadi malam!

“Ohayō...” ucapnya datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kau lumayan juga tadi malam.” Tambahnya.

Miyoshi Seikai terbakar api cemburu karena kekasih gay-nya yang juga biseks itu tidur dengan kunoichi ingusan semacam An-chan. Parahnya lagi, Sasuke menyukai
 service plus plus si perempuan jalang nan dungu itu.

“Pelacur! Kubunuh kau!” Miyoshi Seikai telah berancang-ancang untuk melontarkan jarum besinya pada An-chan.

“Bergeraklah dan kau akan mati!” sebilah daisho sudah terhunus ke leher Miyoshi Seikai.

Sarutobi Sasuke cuek. Ia ambil pakaiannya sendiri dan bangkit dari futon tempat ia menggauli An-chan semalam. Ia tak ambil pusing dengan pertikaian tiga ninja yang disebabkannya. Ia duduk tenang dan menonton drama satu babak yang sayang untuk dilewatkan di hadapannya.

“Senpai,...”An-chan bahagia, dewa penyelamatnya telah datang menolongnya.

Saizo memandang An-chan sekilas, memalingkan wajahnya, dan melempar jubah luarnya ke pangkuan An-chan.

An chan meraih jubah hitam Saizo dan memakainya dalam sekelebat mata.

“Ayo kita pergi dari sini!” Ajak Saizo

To be continued...



By: Shirahime




© Karya Shirahime





The Blue Serenade of a Kunoichi 4
“Kokuro-senpai, mengapa Saizo-senpai begitu membenci ninja Koga?” tanya Kakei Jūzo sambil memakan kue beras di tangannya.

Mochizuki menenggak sakenya dan menjawab. “Ayah Saizo meninggal dikalahkan ninja Koga dalam duel perekrutan menjadi pasukan ninja Tokugawa.”

“Ya, dendam berabad-abad tak akan hilang dalam sekejap,..” gumam si tua Uno.

“Dendam?” Kakei bertanya heran.

“Ya, kami selalu bersaing memperebutkan kepercayaan Tokugawa. Tapi ternyata Tokugawa malah menghancurkan desa kami karena takut para ninja yang tak tergabung dalam pasukan Hattori memihak seteru Tokugawa. Hattori, yang lahir dan besar di Iga dan biasa berbagi onigiri denganku, sudah tak peduli lagi pada saudara-saudara sedesa kami. Ia telah dibutakan kesetiaannya pada Tokugawa dan ikut merencanakan penghancuran desa Iga Tsubagakure dan Koga Manjidani. Sahabatku meninggal karena mengorbankan jiwa untuk menyelamatkan sisa-sisa penghuni Tsubagakure...” Si tua Rokuro berkisah, mata tuanya berkaca-kaca memantulkan bayangan bulan penuh yang bergelayut di angkasa.

“Para ninja Koga mau bergabung dengan kita karena para Koga itu juga punya dendam pada Tokugawa?” Kakei memastikan.

“Ya,... musuh dari musuhku adalah sahabatku kan?” jawab Mochizuki filosofis.

“Ah, di sini rupanya kalian.” Jinpachi yang tiba-tiba datang menyela pembicaraan.

“Ya, melihat bintang sambil menikmati teh. Ini.” Uno menuangkan secangkir teh seduhannya dan menawarkannya pada Jinpachi.

Jinpachi meminumnya sedikit dan berkata, ”Ah ya,... ini Tanabata ya... apa kalian yang memasang teru-teru bozu?”

“Bukan,... Miyoshi Isa yang tadi melakukannya.” Ujar Uno Rokuro.

“Tadi kalian membicarakan para ninja Koga ya?... Ngomong-ngomong, apa semua Koga punya kelainan seksual?” tanya Jinpachi penasaran.




“Maksud Senpai?” Kakei si lugu bertanya.


“Aku dengar Sarutobi Sasuke itu biseksual, Miyoshi Isa lebih tertarik pada binatang daripada wanita... ya, aku pernah dengar gosip kalau ia suka menyetubuhi kuda-kuda betina keluarga Sanada... dulu waktu masih jadi biarawan saja kudengar ia lampiaskan nafsunya pada hewan-hewan peliharaan di kuilnya, dan Seikai, kalian tahu sendiri lah, homo tulen.” Jinpachi mulai bergosip.

Rokuro bersaudara terbahak-bahak, Kakei cuma bergidik ngeri.

“Ya, ya, ya... hal seperti itu cepat sekali menyebar ya Senpai.” ujar Mochizuki.

Uno mengangguk. “Iya, Sasuke memang biseks... Ia belajar ilmu sesat perubahan menjadi binatang... dan sebagian besar sifat binatang tertinggal padanya, seperti sifat hermaprodit itu di antaranya... Seikai pun belajar ilmu terlarang yang seharusnya hanya boleh dipelajari wanita, akibatnya orientasi seksnya berubah... Sedangkan Miyoshi Isa, itu cuma gosip yang dibesar-besarkan... Miyoshi mantan biarawan dan pengurus binatang yang baik. Ia ahli ramuan terbaik. Dulu ia bereksperimen dengan ramuan kuno pembuat awet muda ala Koga, namun racikannya belum tepat dan ramuan itu malah membuatnya mati rasa pada wanita, itulah yang benar... Di antara para Koga, Isa lah yang paling bersahabat.” komentar Uno.

“Memangnya Senpai tadi dari mana?”tanya Kakei pada Jinpachi.

“Menunggu Yuri berjam-jam di dapur. Semula aku ingin mengajaknya ke rumah minum teh. Gara-gara semangka sialan itu ia melupakan rencananya.” keluh Jinpachi.

“Semangka?” Uno jadi heran.

“Iya, di tengah jalan tadi kami bertemu Nenek Horii. Ia malah memberi Yuri sebuah semangka karena Yuri sering belanja di tempatnya. Yuri pun bukan main senangnya dan melupakan para yūjo (hostes) cantik di kedai teh. Ia bergegas pulang dan meracik semangka itu untuk dijadikan makanan enak katanya. Kurasa dia juga sama dengan para Koga itu, ia juga mengidap kelainan orientasi seksual... Ia pecinta bahan makanan yang mengerikan! Ia lebih suka semangka daripada wanita.” kata Jinpachi sebal.

Suasana jadi riuh-rendah gara-gara omelan Jinpachi yang konyol.

“Kenapa tidak mengajak Saizo?” tanya Mochizuki.

“Tidak bisa,... Biarpun pikirannya terkadang hentai, Saizo-senpai tidak suka ocha-ya (kedai teh). Ia langsung menutupi sekujur tubuhnya dengan mōfu (selimut Jepang) waktu aku datang mengajaknya mencari yūjo (pelacur) dan pura-pura mendengkur. Dasar pengkhayal...” ujar Jinpachi lagi.



“Mungkin dia benar-benar lelah.” Kata Mochizuki.

“Hah? Memakai mōfu tebal di hari panas bulan Juli begini? Hanya orang kurang waras yang melakukannya senpai.” Jinpachi berargumen.

“Darimana kau tahu ia suka berpikir hentai?” tanya Uno penuh selidik.

“Waktu dulu aku menyelinap ke kamarnya, aku pernah menemukan sebuah shunga (lukisan erotik) di lipatan futonnya... Ia pasti pura-pura tidur sambil mengamati buku kumpulan shunga” Bisiknya.

Uno menahan tawa. “Oh iya,... aku lupa kalau kau lah peraih nilai tertinggi shinobi-iri di antara teman-temanmu. Lain kali sepertinya kita semua harus lebih waspada pada kelihaian menyelinap Jinpachi ya hahahahaha.”

“Iya. Bahaya kalau sampai uang dua ryo terakhirku pun ia curi hehehehe...” ujar Mochizuki.

“Senpai, shunga itu apa sih?” tanya Kakei si lugu dengan tiba-tiba.

“Sudah, sudah, ayo makan kue beras saja...” Mochizuki mengalihkan pembicaraan.

“Kau juga ingin melihat bintang sambil mendengar Sensei mendongeng tentang Tanabata ya Senpai?” tanya Kakei lagi.

“Tidak,... aku ke sini justru ingin mengajak kalian ke hanamachi... Apa ada yang mau menemaniku? Katanya malam ini ada debut pertama imouto (adik asuh) nya Chihiro-dono. Pasti maiko (geisha magang) itu secantik onee-san (kakak asuh) nya. Ada yang tertarik?” Jinpachi berpromosi.

“Ah, aku lebih baik minum sake di sini saja.” Kata Mochizuki.

“Aku terlalu tua untuk berada di sana Jinpachi,” kata Uno Rokuro.

“Apa dia benar-benar cantik?” Kakei yang masih bocah, usianya masih sekitar 14 tahun, bertanya penasaran.

“Ayo ikut aku dan kita lihat langsung seberapa cantiknya imouto Chihiro-dono.”ajak Jinpachi.

“Baik, aku ikut.” Kakei tertarik.

“Hei, jaga bocah itu baik-baik ya Tuan Hidung Belang.” pesan Mochizuki.

“Benar, jangan kau biarkan ia keluyuran sendirian di sana, BERBAHAYA!” tambah Uno.

“Beres Sensei!” ujar Jinpachi sambil mengerling genit.



*****************************

Yoshiwara, distrik lampu merah Edo, memang sangat ramai malam ini. Para samurai mondar-mandir di jalan dan beberapa di antaranya singgah di ochaya-ochaya berbagai kelas di tempat itu. Pelacur biasa (yūjo) dan para pelacur kelas atas yang biasa disebut oiran berdandan menor memenuhi rumah-rumah minum teh. Jika dibandingkan dengan para oiran, penampilan geisha agak lebih sederhana. Namun, geisha berperilaku dan bertutur kata lebih elegan dibanding para pelacur kelas atas itu. Jinpachi dan Kakei duduk di atas zabuton (bantal duduk) di salah satu ochaya. Yūjo murahan menemani mereka. Para wanita nakal itu berharap Jinpachi atau Kakei mau menjadi konsumennya setelah mereka temani minum teh. Wanita langganan Jinpachi yang berparas lumayan manis pun terlihat sedang sibuk bermain tebak-tebakan dengan sekelompok saudagar kaya di sudut lain ochaya. Gadis-gadis lain yang lebih cantik dan tentu saja tarifnya lebih mahal dari si Manis tentu saja sudah dibooking oleh para pengunjung lain... Jinpachi yang tak punya pilihan terpaksa rela ditemani para yūjo murahan nan agresif di sekelilingnya.

“Aduh,... temanmu imut sekali, Jinpachi-sama.” Satu di antara para pelacur itu meraba lutut Kakei.

Kakei bergidik ngeri dan berusaha menepis tangan-tangan gatal para pelacur yang mencoba menjamahnya.

“Kudengar Chihiro-dono akan membawa imouto-san nya ya? Di mana aku bisa melihatnya?” tanya Jinpachi.

“Mmmhh... kenapa sih kalian selalu menanyakan tentang barang baru dan melupakan yang lama?” si pelacur mencoba merayu.

“Tidak, kami hanya penasaran saja. Mana mungkin kami ikut menawar barang mahal seperti dia,...” ujar Jinpachi.

“Di sana.” Si pelacur menunjukkan sebuah ruangan besar di ochaya itu. “Kalian bisa melihat debut perdana nya di dalam sana. Kurasa itulah alasan mengapa ochaya begitu ramai malam ini.” komentar si pelacur lagi.

“Terima kasih, Cantik. Ini sedikit uang untukmu.” Kata Jinpachi sambil bangkit meninggalkan Kakei yang masih diserbu para wanita jalang.

Jinpachi masuk ke ruangan itu. Kakei yang dandanannya kini jadi berantakan ikut berlari ketakutan menyusul Jinpachi ke dalam ruangan itu.



***********************

Chihiro-dono memainkan shamisennya dan seorang gadis berbedak tebal menari memainkan kipasnya. Kepala sang gadis disanggul ke atas, bibirnya merah menyala, ada bagian tak berbedak di antara dahi dan rambutnya... si gadis cantik jadi seperti memakai topeng tari Noh. Kosodenya berwarna putih, kimononya berwarna biru muda cerah dengan lengan panjang menjuntai ke lantai... pertanda mizuage (keperawanan)nya belum hilang. Rambutnya bergaya wareshinobu dengan kanzashi khas musim panas. Tsuyushiba kanzashi yang berbentuk menyerupai embun di atas rerumputan menjadi salah satu penghias sanggulnya. Kepandaiannya menari, keanggunannya waktu bergerak, dan obinya yang diikat di depan membedakan dirinya dengan para oiran. Ia adalah seorang maiko yang benar-benar cantik. Ia sangat cocok menjadi adik kandung Chihiro-dono. Pesona sang maiko terletak pada mata bening misterius berwarna coklat mudanya. Petikan shamisen Chihiro berhenti, sang gadis membungkuk elegan memberi hormat, diikuti tepuk tangan dan siulan para penonton debut pertamanya.

“Dōmo arigatō gozaimasu...” ucapnya lembut.

“Chihiro, siapa namanya?” tanya seorang samurai tua.

“Baik, imouto-chan, sebutkan namamu.” perintah Chihiro.

“Shirayuri...” jawabnya merdu.

Semua hadirin berdecak kagum melihat keelokan wajah dan tutur kata sang maiko.

“...suaranya tidak begitu asing,” pikir Jinpachi.



***********************

Pagi berikutnya...



“Bagaimana pengalamanmu tadi malam anak muda? Sudah jadi lelaki sejati kau, hah?!” tanya Jinpachi pada Kakei

Kakei malah berteriak jengkel, “Mereka benar-benar liar! Aku tak suka pada mereka. Aku lebih baik bersama si cantik Shirayuri daripada harus melewatkan malam bersama wanita-wanita jalang yang semalaman mengejarku. Aku harus memanjat atap ochaya agar mereka berhenti mengejarku!”

Jinpachi tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa ribut sekali sih?” tanya Saizo yang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih ia biarkan terurai dalam keadaan basah, yukatabira (kimono mandi) bagian atasnya pun masih ia biarkan terbuka.

“Saizo-senpai, aku kapok pergi ke ochaya. Jinpachi-senpai hanya tertawa terbahak-bahak waktu aku berjuang melepaskan diri dari para wanita brutal itu.”

Saizo menahan tawanya, “kalau kau tahu kedai teh itu begitu, kenapa kau ke sana?”

“Aku penasaran...” jawab Kakei singkat.

“Lain kali aku tak kan membawa anak manja ini ke sana lagi, Senpai. Aku malu sekali.” Kata Jinpachi. “Pasti lebih asyik kalau Senpai yang ada di sana bersamaku. Tapi semalam Senpai sedang apa ya?” tanya Jinpachi.

“Uuummhh,... aku sedang membaca... beberapa gulungan perkamen... lalu tidur.” Saizo beralasan. (Tentu saja ia tidak melanjutkan bahwa dalam tidurnya ia bermimpi bercinta dengan An-chan yang cantik).



“Setelah itu?” Jinpachi menginterogasi.

“Ya aku tidur...”

“Aku bisa mencium kebohongan...” desis Jinpachi.

“Aku tidak bohong!” Saizo berkelit.

“Kalau cuma tidur biasa... kenapa kau jemur futon (kasur)mu? Tumben,...” sindir Jinpachi.

“Teh hijauku tumpah ke kasur waktu aku membaca.”

“Oh... teh hijau? Kenapa nodanya tak berwarna hijau?” Jinpachi mencibir.

Saizo memalingkan wajahnya yang berubah merah.

“Pasti kasurmu basah gara-gara An-chan kan?” Jinpachi mengerling-ngerling menjengkelkan.

“Kok bisa? Waktu tidur An-chan menyiram Saizo-senpai dengan air ya?” Kakei bertanya lugu.

“Pasti gara-gara An-chan, ayo ngaku!” desak Jinpachi sambil mengacuhkan Kakei yang penasaran sendiri kenapa futon Saizo harus dijemur gara-gara An-chan.

“TIDAK!!!” tapi mata Saizo tak bisa berbohong.

“Bwahahahaaahaa... masih mau berkelit... Jangan bohong! Aku tahu kau jatuh cinta pada An-chan.”

“Mana mungkin,...”

“Aku bisa lihat kau kehilangan konsentrasi waktu rambut An terurai, Senpai. Tanganmu yang bergetar waktu menyentuh kulit lembut An-chan tak bisa berbohong.” Jinpachi berakting seolah-olah tangannya gemetar seperti tangan Saizo waktu di dōjo.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Jinpachi. Permisi!” Saizo membentak-bentak salah tingkah sambil pergi menghindar.

“Saizo-Senpai dan An-chan... ada apa sih Senpai?... Mereka kan tak pernah akur.” Komentar Kakei.

Jinpachi menatap lekat Kakei dan berkata sok bijak, “Jika kau beranjak dewasa nanti, kau pasti akan tahu apa arti cinta sesungguhnya, anak muda.”



************************


An Chan

Ekubo (yang pernah nonton Memoirs of a Geisha pasti tahu kue beras tanda seorang maiko sudah cukup umur untuk ditawar mizuage-nya ini) di telapak tangan An-chan adalah ekubo terakhir yang harus disampaikannya pada pria yang ia beri kehormatan untuk menawar keperawanannya. Chihiro-dono menyuruhnya untuk memberikan ekubo terakhirnya pada Tuan Masayuki Sanada agar ia benar-benar bisa dibebaskan dari hutang-hutangnya pada okiya (rumah penampungan geisha) nya dan mengabdi sepenuhnya pada keluarga Sanada. Ingin rasanya ia membantah onee-san nya itu. Ia ingin sekali memberikan ekubo ini pada sosok lelaki idolanya, Yukimura Sanada. Air mata An-chan perlahan-lahan membasahi pipinya.

“Hei, kamu menangis ya?”kata Saizo yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya.

An-chan menyembunyikan ekubo itu dari Saizo sambil menggeleng dan pura-pura tersenyum.

“Kau jelek sekali kalau menangis.” ledek Saizo.

Tak seperti biasanya, An-chan hanya mengacuhkannya.

“Kalungmu bagus ya, sejak kapan kau punya atribut Iga begitu?” Saizo mengalihkan topik pembicaraan.

“Bukan urusanmu!” jawab An ketus.

“Eh, ini pasti masalah serius... Ceritakan padaku.”desak Saizo.

“Tidak apa-apa,” ujar An lirih.

“Jangan membohongiku, An-chan... Siapa tahu aku bisa membantu.”

Tangis An-chan meledak. An tidak mampu menyembunyikan masalahnya dari Saizo lagi. Ia memeluk Saizo erat dan menangis tersedu-sedu.

Saizo menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya.

“Aku... tidak mau tidur dengan laki-laki yang tak pernah aku cintai...” tangis An-chan meledak.

“Apa maksudmu?”



“Seorang kunoichi harus melakukan itu dalam tugasnya kan?”

“Kau kan laki-laki, tidak mungkin jadi kunoichi.” goda Saizo.

“Tidak lucu!!” An tampaknya memang benar-benar serius.

“Mmmm...” Saizo kehilangan kata-kata.

“Iya ‘kan Senpai?” desaknya lagi.

“Tidak... aku tak akan membiarkan itu terjadi padamu.” Saizo menghibur An-chan.

“Sungguh?”An-chan memastikan.

Saizo mengangguk pasti.

“... aku rela kalau yang mengambilnya adalah pria yang paling aku cintai.” tambah An-chan sambil memeluk Saizo.

“Siapa dia?” Saizo memastikan.

“Mmmm...” wajah An-chan bersemu merah.

“Aku?”kerlingnya jahil.

“Hahahaha... Senpai memang orang paling konyol sedunia! Itulah kenapa aku sayang sekali pada Senpai...”

Kali ini pipi Saizo yang dihiasi semburat kemerahan.

“...Aku menyayangi Senpai seperti kakak laki-lakiku... Aku percaya Senpai pasti bisa menjagaku sampai aku menikah dengan orang yang paling aku cintai.” mata bulat An menatap lugu Saizo. Gadis itu tersenyum senang di hadapannya.

“Orang yang kau cintai itu... Yukimura Sanada maksudmu?” pancing Saizo.

An-chan mengangguk. “Apa menurut Senpai Tuan Yukimura akan menjadi milikku suatu hari nanti?” An-chan menatapnya sambil tersenyum.

“Mmmm... ya.” Jawab Saizo pahit.
 



**************************

“Tuan Besar Sanada, Hamba perkenalkan adik asuh Hamba. Namanya Shirayuri. Dia sangat pandai menari. Semoga Tuan Besar berkenan menikmati tarian adik Hamba ini.” kata Chihiro pada Masayuki Sanada.

Pria botak gemuk bermata sipit dan berkulit pucat itu mengangguk-angguk penuh martabat. “Baiklah, perlihatkan tarian terbaikmu, nona maiko (geisha magang). Sebab aku tidak suka tarian yang standar dan tidak bermutu.”

Berbeda dengan putra bungsunya yang tampan, Tuan Besar Yukimura memiliki sorot mata dingin dan watak yang keras. Shirayuri yang malam itu mengenakan kimono terbaiknya mementaskan sebuah tari kipas. Kipas merahnya kontras dengan kimono hijau muda yang dipakainya malam itu. Mata indahnya yang berwarna kecoklatan bak hazel nut menenggelamkan hati pria mana pun yang menatapnya. Ketika ia berbalik, lengan panjang kimononya berkibas anggun dan kerah rendah kimononya mengekspos tengkuk mulus bercat putihnya nan sensual. Mata Masayuki berhenti berkedip. Ia begitu terpana akan keelokan gadis muda yang lebih pantas jadi menantunya itu. Tubuhnya berliuk indah, bibir mungilnya yang tipis merah muda begitu ranum dan menggoda. Karena asyik mengamati kecantikan Shirayuri, tak terasa gadis itu membungkuk memberi hormat menyudahi tariannya. Ia duduk dengan anggun di sebelah Tuan Besar Sanada dan menuangkan pot kecil berisi sake ke gelas Tuan Besar Sanada. Ketika menuangkan sake, ia mempraktekkan trik umum pemikat lelaki yang biasa dilakukan oleh para geisha profesional. Ia mengekspos pergelangan tangan mulusnya sambil menyentuhkan pahanya ke paha Masayuki.

Ia pura-pura tak sengaja menyentuh bagian tubuh Tuannya dan mengucapkan “Maafkan kelancangan Hamba” sambil menunduk tersipu malu.

Keluguan si Cantik membuat Tuan Masayuki semakin gemas padanya. Masayuki langsung menggamit dagu Shirayuri untuk mengamati keelokan parasnya lekat-lekat. Shirayuri bergidik, ia takut Tuan Besarnya akan bertindak lebih jauh lagi. Chihiro berdehem untuk menyadarkan Tuan Masayuki dari pesona Shirayuri. Masayuki langsung menguasai dirinya dan melepaskan tangannya dari dagu Shirayuri. Ia memanggil pengawalnya untuk membawakannya sebuah kotak kayu. Masayuki membuka kotak kayu berisi kimono sutra kualitas terbaik di hadapan Shirayuri.

“Baiklah, aku berikan kimono ini sebagai penghargaanku atas tarian indahmu.”

Shirayuri dengan takjub mengamati kimono mahal di hadapannya.

“Ambillah.” kata pria tua itu lembut.

“Shirayuri, Tuan Besar Sanada memberikan kimono itu padamu. Berterima kasihlah pada Beliau.” ujar Chihiro, sang tamago (kakak asuh).

Shirayuri membungkuk sekali lagi sambil mengucapkan, “dōmo arigatō gozaimasu, Sanada-sama.” Ia pelan-pelan menyodorkan sebuah bungkusan bambu berisi ekubo padanya.



*******************************

Malam telah larut. Langit begitu bersih. Hanya sedikit bagian bulan yang terlihat di hamparan beludru malam. Seorang kusir mengemudikan kereta kuda mewah milik keluarga Sanada. Dua orang geisha cantik yang menjadi penumpang kereta kudanya akan diantarkannya kembali ke okiya mereka. Tiba-tiba sebuah sabit tajam yang melesat kilat nyaris tak terlihat menebas leher si pengemudi dan menghempaskan potongan kepalanya ke dalam kereta kuda. Chihiro-dono berteriak keras sebelum akhirnya terkulai lemas dan pingsan seketika. Shirayuri tak bergeming. Ia mulai waspada mengamati sekelilingnya, kalau-kalau sabit itu akan diarahkan kepadanya. Shirayuri berdiri dan keluar dari kereta kuda. Matanya berkeliling mencari sosok bajingan yang telah mengganggu perjalanan pulangnya ke okiya Chihiro-dono.

“Tampakkan dirimu, Pengecut!” teriak Shirayuri lantang.

Spontan saja sebilah sabit tajam melayang ke arahnya. Dengan lincah maiko cantik itu berkelit menghindar.

“Kunoichi... kau pasti seorang kunoichi ha... hahaha....” suara seorang laki-laki bergaung di udara. “Aku tak percaya Sanada menjadikan makhluk lemah sepertimu sebagai tameng.”

“Jangan hanya bersembunyi, Bangsat!” tantang Shirayuri.

“Baiklah, cantik. Kau tak memberiku pilihan lain selain menghabisimu terlebih dahulu sebelum menebas leher Bajingan Tua Sanada.”

Sesosok bayangan tubuh berkostum hitam, berpenutup kepala dan berpenutup mulut menampakkan diri. Sebilah katana digantungkan di punggungnya. Shirayuri yang berkurang kewaspadaannya karena memperhatikan sosok shinobi itu seketika menyadari sebilah sabit lain telah melesat ke arahnya. Ia raih tessen (kipas) berkerangka baja miliknya untuk melindungi dirinya. Sabit itu berhasil ditepisnya, namun ia terlambat menyadari kalau sebuah kusari (rantai besi) juga dilemparkan ke arahnya. Rantai itu membelit kaki jenjang Shirayuri dan menyeret tubuhnya mendekati si pelontar. Selusin jarum terbang dan menusuk saraf-saraf vitalnya.



Tubuh Shirayuri lumpuh seketika. Membuka kelopak matanya pun ia tak sanggup lagi. Ninja itu berjongkok di kaki kaku Shirayuri, menutup mata Shirayuri dengan ikat kepalanya, dan menelusuri hidung, bibir, dagu dan leher si cantik dengan jemarinya. Bibir ranum Shirayuri begitu menggoda untuk dinikmati. Ia sumpalkan lidahnya dengan paksa ke bibir Shirayuri dan meraba-raba dua bukit Shirayuri dari luar kimono hijau muda yang masih melapisi tubuhnya. Ia gigit bibir menggemaskan yang masih perawan itu hingga berdarah dan djilatinya dengan rakus.

“Baiklah, aku biarkan kau hidup. Setelah kuhabisi Masayuki Sanada, aku akan melanjutkan permainan kita. Semalaman akan kugarap kau, hehehehehe... “ seringainya mesum.

Ia bangkit untuk melanjutkan tugasnya. Namun, senar-senar tipis transparan membelit keempat anggota geraknya dari belakang. Kendali atas tubuhnya diambil alih oleh senar-senar yang membelitnya. Ia ambil katana dari balik punggungnya dan ia tempelkan ujung tajamnya ke pembuluh arteri di lehernya sendiri. Ia putuskan pembuluh nadinya dengan pedang di kedua tangannya sendiri, matanya membelalak meregang nyawa sebelum akhirnya ia tumbang menindih tubuh Shirayuri. Kucuran darah membasahi kimono hijau muda Shirayuri dan meninggalkan bercak-bercak merah di pakaian sang kunoichi. Sesosok tubuh gemulai berkimono merah darah dan berambut putih mengkilat mengangkat mayat si ninja hitam dengan satu tangan, ia mencabut dan membuang katana yang tertancap di leher mayat itu. Ia robek dada mayat si ninja dengan kuku-kuku tajam bercat merah miliknya. Ia raih benda merah berlumuran darah yang masih berdenyut di rongga dada pria itu. Ia cabut seketika benda berkedut-kedut itu dari tempatnya semula. Ia jilati benda berdenyut di genggamannya dan ia lahap dengan rakus. Rambutnya berangsur-angsur berubah warna menjadi hitam, kerut-kerut di dahi dan wajahnya perlahan menghilang. Bibir pucatnya jadi merah menyala dipenuhi lelehan darah. Wajahnya kembali cantik, eh tampan seperti pemuda berusia tujuh belas tahun.



“Seikai, ternyata kau sedang berpesta.” ujar seseorang di belakangnya.

Pria gemulai itu berbalik.

“Itu, ada noda darah di mulutmu.” ujar Sasuke rileks.

“Kau membunuh orang lagi, Seikai.” Isa, saudara kembar si banci juga telah berdiri di belakang Seikai.

“Dia penyusup yang ingin membunuh Sanada-sama,... dan kebetulan aku butuh jantung segar malam ini. Tidak salah kan aku bunuh dia.” Seikai berlalu dengan santai diikuti pasangan gay-nya.

“Namuamida, semoga ia tenang di alam sana,” Miyoshi Isa mendoakan mayat itu.

“Miyoshi-sensei...” tegur Jinpachi. Ia dan Saizo baru saja sampai di tempat pembantaian itu.

“Kalian berdua, urus mayat lelaki pengendara kuda dan wanita-wanita tak berguna itu. Aku akan membawa mayat penyusup ini kepada Rokuro-senpai untuk diperiksa.” perintah Isa.

“Baik Sensei.” kata keduanya.

“Senpai, lihat! Ini adalah maiko cantik adik asuh Chihiro-dono... Iya, dia Shirayuri yang di Fujiwara itu!” kata Jinpachi.

Saizo menghampiri Jinpachi. Ia angkat pergelangan tangan Shirayuri yang terbaring tak berdaya untuk memastikan apakah jantungnya masih berdetak.

“Antarkan Chihiro-dono ke okiya-nya. Tinggalkan saja mayat si pengendali kuda di sini. Biar aku yang urus.”

“Shirayuri?” tanya Jinpachi.

“Jarumnya beracun. Denyut jantungnya lemah sekali. Aku akan membawanya ke tempat Rokuro-senpai agar dia diobati dulu.”

Jinpachi mengangguk. Sejurus kemudian kereta kuda yang dikendarai Jinpachi meninggalkan tempat itu. Saizo memanggul tubuh Shirayuri. Sebuah benda keperakan berkilau jatuh dari sela-sela leher kimono Shirayuri, sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk miniatur shuriken Iga. Mengapa ia memiliki kalung yang sama dengan milik An-chan? Saizo rebahkan maiko itu kembali ke atas tanah. Ia tarik kain hitam yang menutupi mata sang calon geisha. Ia basahi kain itu dengan air dan ia sapukan kain basah itu ke wajah bak topeng sang maiko. Make-up yang dikenakan sang maiko luntur dan tampaklah raut wajah asli sang maiko.



******************************
 

“Cepat antarkan aku untuk menemui Chihiro-dono.” Saizo mendesak seorang shikomi yang menjaga pintu okiya milik Chihiro.

“Tuan, lebih baik Anda temui Chihiro-dono nanti malam di ochaya saja.”

“Tidak bisa, aku harus bertemu dia sekarang.”

“Kenapa ribut sekali?” tanya Chihiro yang mendekati mereka.

“Tuan ini ingin bertemu Anda, oneesan.” Kata si shikomi.

“Ah, Kirigakure-san... maafkan kelancangan Hikari tadi... Silakan masuk untuk minum teh.”

“Tidak, aku ingin bertanya di sini saja.”

“Ya?”

“Berapa aku harus membayar untuk mizuage Shirayuri?”

“Maksud Anda?”

“Katakan saja. Aku pasti akan membayarnya, dengan nyawaku sekalipun.”

“Ah, itu. Tapi aku masih punya gadis lain selain Shirayuri. Anda bisa memilih,...”

“Tidak!” potong Saizo. “Aku mau Shirayuri. Hanya dia.”

“Tapi Anda tidak mungkin mengalahkan penawaran Tuan Besar Sanada kan?”

“Cepat katakan saja Chihiro-san!”

“Tapi Tuan Besar sudah menawar 500 keping emas. Kau tak akan bisa mengumpulkan uang lebih banyak dari itu dalam dua hari kan?”

“Baik, lima ratus sepuluh keping. Akan kubawa dalam dua hari.” Saizo berbalik meninggalkan okiya Chihiro-dono.



***************************
 

Bruak! Seorang laki-laki terhempas menghantam hancur sebuah tembok. Ia memuntahkan darah dan tewas terbelalak dengan kondisi tubuh mengenaskan.

“Siapa selanjutnya?!” tantang laki-laki bercodet itu pada para penonton.

Hening seketika.

“Hahahahaha... Pertunjukan yang hebat Yoshida.” Seorang lelaki botak bertepuk tangan. “Katakan, apa yang kau inginkan sebagai hadiah?”

Sesosok tubuh kekar mengulum senyum bangga. Ia sangat tersanjung atas pujian pria setengah baya nan berwibawa di hadapannya.

“Tunggu Tuan Takeda! Saya pasti bisa mengalahkan dia.” teriak seseorang dari tengah-tengah kerumunan.

Semua mata mengarah ke pria kurus yang sesumbar itu. Mana mungkin pria gingsul kerempeng berkulit coklat cenderung hitam itu mampu mengalahkan Yoshida yang memiliki postur tubuh sebesar pesumo dan otot sekokoh body builder. Perbandingan senjata mereka pun tak seimbang. Yoshida menggunakan samurai panjang yang berat sebagai senjatanya, sedangkan si pria kurus hanya memakai daisho (pedang kembar) yang ringan.

“Wah, wah, wah... Semangatmu boleh juga anak muda. Kuperingatkan, Yoshida adalah jagoan di arena ini. Berhentilah sebelum kau terbunuh seperti dia.” si tua Takeda Shingen menunjuk mayat pria yang baru saja diangkat anak buah-anak buahnya.

Pria kecil itu tak gentar mendengar peringatan Takeda Shingen. “Ijinkan Hamba” ucapnya.

Yoshida gerah melihat kesombongan penantangnya.

“Tuan Takeda, Kunyuk Ingusan ini memang butuh diberi pelajaran. Tenang saja, aku tak akan membunuh makhluk lemah. Ayo, Kecil kerahkan semua kemampuanmu.” cemooh Yoshida.

Semua orang di tempat itu menertawakan Saizo dan menyuruhnya turun saja dari arena pertarungan. Saizo tak peduli. Beberapa orang bahkan melempari Saizo dengan telur dan sayuran busuk, juga sandal. (hiks... untung ga benjol :-P)

“Baiklah serang aku dari arah mana saja... Akan kutumbangkan kau dalam tiga jurus.” ujar Yoshida sesumbar.

“Aku bahkan bisa membunuhmu tanpa menyentuhmu.” balas Saizo dingin.



Tawa penonton menggelegar. Kedua orang itu memasang kuda-kuda. Mata elang Saizo mengunci erat targetnya. Posisi lawannya siap menyerang. Namun, Saizo tetap tak bergeming. Ia tunggu gerakan lawannya terlebih dulu.

“Kenapa tak menyerang? Kau takut ya Bedebah Kecil?” Yoshida memprovokasi.

Saizo diam.

“Heh, cepat serang aku!”

Saizo acuh.

“Kurang ajar, kau mengulur-ulur waktu! Cepat serang aku!”

Saizo tak menghiraukannya.

“Sial, kau tuli hah?!” hardiknya.

Saizo tetap memusatkan konsentrasinya.

“Lihat saja, kuhabisi kau Cecunguk Sombong! Heeeaaahhhh!” Ia menyabitkan katananya membelah tubuh Saizo.

Penonton berteriak ngeri melihat tubuh kurus yang terbelah itu.

“Hahahahahaha... Cuma segitu...!”ledek Yoshida. “Dasar bedebah kecil yang sombong. Bodoh sekali, menjemput ajalnya sendiri.”

Ketika Yoshida mengelap dahi dengan tangan kanannya, ia begitu terkejut. Tangan kanannya mendadak berubah menjadi seekor ular kobra yang mendesis-desis. Ia kaget bukan main dan berteriak-teriak panik. Tanpa pikir panjang ia ambil pedang pendeknya dan ia pakai untuk menebas ular ganas jelmaan tangan kanannya itu.

“Kau potong tanganmu sendiri heh?” suara seseorang mengagetkannya.

Ia lihat potongan tangannya sudah tergeletak di tanah. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ngeri sosok di hadapannya itu. Sosok pemuda kurus yang tadi ditebasnya. Cecunguk itu masih hidup... Tidak mungkin ‘kan dia bangkit dari kematiannya? Lantas, siapa yang tadi dibunuhnya?

“Jangan mempermainkan aku! Kau seharusnya sudah mati.” gertak Yoshida.

“Sayangnya, belum.” jawabnya datar. “Lihat saja siapa yang kau bunuh.” kata pemuda itu lagi.

Sesosok mayat wanita tua yang mati tertebas terbaring di hadapannya. “Ibuuu...!!!” teriak Yoshida histeris sambil memeluk mayat wanita tua di hadapannya. Beberapa detik kemudian, ratusan sosok yang berwujud sama persis dengan Saizo tertawa terbahak-bahak dan berputar-putar mengelilinginya. Ia tebaskan katana miliknya ke segala arah, namun sosok-sosok itu tak mempan ditebas katana. Mereka tertawa makin keras dan semakin cepat berputar mengelilinginya. Ia berteriak-teriak histeris dan memejamkan matanya.



Waktu ia buka kembali matanya, sosok-sosok itu menghilang. Namun, tiba-tiba saja ia merasa sangat mual. Ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Ketika ia tidak bisa menahan rasa mualnya, ia muntahkan sekawanan kelabang dan kecoa dari mulutnya. Ia semakin panik. Ia bekap mulutnya dengan robekan bajunya, tapi kelabang dan kecoa itu malah keluar dari hidungnya. Ia sumbat lubang hidungnya dengan tangan kirinya. Ia tak peduli walaupun ia jadi sama sekali tak bisa bernafas. Karena tak ada lagi pasokan oksigen yang tersisa di paru-parunya, ia tercekik kehabisan nafas dan tewas. Matanya membelalak nanar menyongsong ajalnya. Takeda Shingen berdiri dari tempat duduknya dan diam tertegun selama beberapa saat.

“Kenapa Yoshida bisa memotong tangannya, memeluk batang pohon yang ditebasnya, menebas-nebas seperti kesurupan ke segala arah, menjerit-jerit, dan akhirnya bunuh diri seperti itu? Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Takeda pada Saizo.

“Membunuhnya tanpa menyentuh tubuhnya, Tuanku.”jawab Saizo datar.

“Hipnotis yang hebat...” Takeda mengagumi kepiawaian si pemuda kurus.

Saizo membungkuk menghormat.

“Siapa namamu?”

“Shuichirou.” Saizo berbohong.

“Baiklah Shuichirou, maukah kau jadi salah satu pengawalku?”

“Hamba merasa terhormat atas kebaikan hati Tuan. Namun pengelana seperti hamba tidak suka terlalu lama berada di satu tempat Tuanku.”

“Kenapa? Lalu untuk apa kau ikut turnamen ini?” tanya Takeda bijak.

“Hamba hanya butuh lima ratus sepuluh keping emas.”

“Lancang!” kata para pengawal Takeda serempak sambil menarik katana mereka dari sarungnya.

“Tunggu!” perintah Takeda. “Aku suka pemuda ini. Aku akan berikan kau lima ratus sepuluh keping emas bahkan lebih kalau kau mau tinggal di tempat ini.”



“Maafkan Hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bisa.”

“Mengapa demikian? Negeri ini cukup nyaman untuk ditinggali. Aku akan memberimu kedudukan, harta, juga wanita. Tinggallah di sini.” Takeda bernegosiasi.

“Maaf yang Mulia, hamba hanya butuh lima ratus sepuluh keping emas itu saja. Hamba tidak menginginkan apapun selain itu.”

“Hahahaha, anak muda yang menarik. Baiklah kalau begitu. Aku sebenarnya tidak keberatan kau pergi begitu saja dari tempat ini, tapi para pengawalku sepertinya tidak sependapat denganku. Aku tidak punya pilihan karena kau telah membuat mereka begitu penasaran. Yah, terpaksa aku harus membiarkan para pengawalku menjajal kekuatanmu. Bagaimana?” Takeda tersenyum lebar.

“Hamba setuju. Tapi pegang janji Tuanku untuk memberikan lima ratus sepuluh keping emas itu bila Hamba berhasil mengalahkan mereka.”

Para pengawal Takeda melotot terpancing amarahnya karena melihat kelancangan anak ingusan kurus itu pada majikan mereka.

“Baik. Kupegang janjiku. Silakan menikmati pertempuran kalian.” Takeda duduk kembali.

Kelima pengawal Takeda tanpa dikomando langsung mengepung Saizo.

“Maju saja semuanya sekaligus, supaya aku cepat menyelesaikan urusan ini!” kata Saizo datar.

Para pengawal yang merasa dilecehkan langsung mengeroyok Saizo. Ia diserang dari berbagai arah. Tak seperti dugaannya, keempat pengawal ini jauh lebih hebat dari Yoshida. Agak kewalahan juga Saizo menghadapi mereka. Tidak mungkin baginya untuk menghipnotis mereka berempat tanpa punya waktu sedetik pun untuk berkonsentrasi. Para pengawal itu sangat gesit dan tangguh. Ia dengan susah payah menumbangkan mereka satu persatu.



Setelah mereka semua tumbang, seorang lelaki botak berotot yang memakai pakaian berwarna orange dan kalung semacam tasbih dalam ukuran besar melompat ke hadapan Saizo. Ia menenggak sake dari kendinya, lalu melemparkan kendi kosong itu sampai hancur berkeping-keping ke atas tanah.

“Kau akan bernasib sama dengan kendi itu.” Kata pria itu sinis. Ya, ia adalah Shin Uemon, kepala pengawal Takeda. Ia adalah seorang bhiksu mangkir bersenjatakan tombak yang sangat kuat.

Sekujur tubuh Saizo sudah memar dan penuh luka akibat tebasan pedang keempat bawahannya tadi.

“Trak, trak, trak,...” suara tangan Saizo yang beradu dengan gagang tombaknya. Pukulannya sangat bertenaga, beberapa kali Saizo merasa tangannya kebas dan mati rasa akibat menahan pukulan tombaknya. Memar di tubuh Saizo semakin banyak. Luka-lukanya pun semakin menganga. Saizo berusaha menghindari beberapa serangan, namun ia gagal. Bhiksu mangkir itu luar biasa cepat dan akurat. Tidak ada celah pada serangan-serangannya. Akhirnya, ia mengunci gerakan Saizo dan “plakk!” jurus pukulan tombak maut Uemon yang diarahkan tepat ke tengkuk lawannya berhasil menumbangkan sang lawan. Ia robohkan Saizo tanpa ampun dengan pukulan telaknya itu. Tubuh Saizo seketika terasa kaku karena rasa sakit yang teramat sangat. Matanya berkunang-kunang, suara-suara di sekitarnya beangsur-angsur meredup, tangannya mengepal gemetaran menahan sakit... Inikah yang dirasakan manusia menjelang kematiannya?...

“An- chan, maafkan aku...” desis Saizo sebelum semuanya berubah gelap.



*******************
 

Saizo membuka matanya. Tiba-tiba saja ia telah terbaring di sebuah padang rumput yang hangat. Beberapa langkah di hadapannya, air bergemericik mengaliri sungai yang jernih. Sebuah sampan merapat ke tepi sungai di hadapannya. Seorang pria menambatkan sampannya di depan Saizo. Lelaki itu,... Saizo nyaris tak percaya! Ia adalah ayahnya yang sudah lama meninggal. Ayah Saizo tersenyum kepadanya,

“Anakku.” sapanya.

“Ayah?” ia tak percaya pada indra penglihatannya.

Pria di atas sampan itu mengangguk.

“Aku... di mana ini?” tanyanya heran.

“Ini dunia orang mati.” Jawab ayahnya tenang.

“Jadi, aku sudah mati?”

“Yah, begitulah.”

Saizo masih memandang takjub pemandangan di sekelilingnya. Ia tak percaya kalau ia benar-benar sudah mati.

“Anak Bandel, kenapa kau datang ke sini sebelum kau balaskan dendamku hah?” ujar ayahnya lagi.

“Maafkan aku... Aku tak tahu kalau aku tak akan bisa membalaskan dendammu. Aku memang tak berguna.”

“Ah, sudahlah. Aku cuma bercanda. Tak ada yang pernah bisa menentukan takdirnya. Lagipula setelah ini, kita tak kan ingat dendam apapun dan penderitaan apapun di kehidupan sebelumnya.” Kata ayah Saizo lagi.

“Jadi, apakah aku benar-benar akan mati?”

“Itu pilihanmu, Anak Bandel. Sungai tiga arus ini akan membawamu ke akhirat. Jika kau siap, naiklah ke perahuku ini.” Ajak ayah Saizo.
 

“Senpai, aku sangat menyayangi Senpai.” Tiba-tiba suara An-chan bergaung di telinganya.

“Ayo, cepat naik.” ajak ayahnya lagi.

Saizo ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam sampan kecil itu.

“Kenapa?” tanya ayahnya.

“Apa setelah sampai di akhirat aku masih bisa mengingat kehidupanku yang lalu?” Saizo semakin sangsi akan pilihannya.



“Tidak, tak akan ada yang tersisa dalam ingatanmu. Kau akan lahir kembali tanpa pernah mengingat segala penderitaan dan kesedihan di kehidupanmu yang sebelumnya.” Jawab ayahnya.

“Artinya aku,... tak akan pernah mengingat An-chan lagi?”

“An-chan? Siapa dia?”

Saizo menggeleng.

“Ah, pasti ini masalah cinta. Sudahlah, lupakan saja! Cinta itu hanya menambah penderitaan, jadi lupakan saja.” Kata ayahnya santai.

“Bahkan namanya saja aku tak kan ingat lagi?” Saizo memastikan.

“Tentu saja, Anak Bandel. Ayo kita pergi.” Ajak sang ayah.

Saizo mundur beberapa langkah dari tepi sungai. ‘Tidak Ayah, aku tak bisa pergi sekarang. Maafkan aku.” Saizo berbalik dan berlari meninggalkan ayahnya menuju ke seberkas cahaya di kejauhan.

Samar-samar Saizo melihat sosok bhiksu botak bertombak sedang menenggak seguci arak. Ia bertengger di sebatang pohon besar di hadapannya.

“Ia sudah mati,...” “Iya, tubuhnya cedera parah.” “Seharusnya ia turuti keinginan Tuan Takeda.” “Kasihan...” kata orang-orang yang berkerumun.

“Angkat dan singkirkan mayatnya!” perintah Takeda.

Beberapa orang anak buah Takeda Shingen mulai mengangkat tubuh kurus Saizo. Saizo perlahan-lahan membuka matanya. Para anak buah Takeda kaget dan menghempaskan tubuh Saizo begitu saja. Saizo bangkit dan berdiri dengan terhuyung-huyung.

Uemon mengucek-ucek matanya tak percaya.

“Apa aku terlalu mabuk?”

Anak muda kurus yang kini pakaiannya telah begitu lusuh tercabik-cabik itu bangkit dari kematiannya. Takeda tertegun, begitu juga semua penonton.



Takeda spontan tertawa terbahak-bahak. “Hahaha... tidak Uemon. Anak muda tangguh itu masih bisa bangkit dari jurus pukulan mautmu. Turunlah dari pohon itu dan hadapi dia.” kata Tuan Takeda lagi.

“Heheheh... arwahmu belum bisa tenang sebelum kudoakan ya? Cuih! Menyusahkan saja.” Ujar si Bhiksu gusar sambil melemparkan kendi araknya.

Ia menghunuskan tombak sekali lagi kepada Saizo. Keduanya pasang kuda-kuda, lalu trang, trang, trang, trang, tombak Uemon beradu dengan daisho Saizo. Hingga,.. “Traanngg!!!” tombak si bhiksu terlempar dan salah satu daisho Saizo terhunus ke lehernya.

“Bergerak sedikit saja, kau akan mati.” ancam Saizo.

Takeda Shingen bertepuk tangan. “Bagus, bagus. Lepaskan Uemon, Anak Muda. Ini hadiahmu. Kau boleh pulang sekarang.” Ia lemparkan bungkusan berisi kepingan-kepingan emas ke arah Saizo.

Saizo memungut bungkusan itu sambil terus menodongkan daishonya kepada Uemon. Ia tendang Uemon hingga terjengkang kehilangan kewaspadaan, kemudian ia menghilang di balik kepulan asap tebal.

“Ninjutsu...” desis Takeda Shingen begitu pria yang mengaku bernama Shuichirou itu menghilang.



*********************

“Oneesan, ini banyak sekali.” Kata Shirayuri pada tamago-nya, Chihiro-dono.

“Tidak, itu cuma sebagian saja. Aku sudah mengambil sedikit untuk biaya pendidikanmu dan untuk okiya. Itu hakmu.”

“Tapi, siapa pria yang membayar sebanyak ini untuk mizuage ku?” tanya Shirayuri. “Tuan Besar Sanada?”

Chihiro menggeleng.

“Bukan dia.... Siapa?”desak Shirayuri.

“Nanti juga kau akan tahu. Pria itu tak mau aku memberi tahumu. Pergilah nanti kau bisa terlambat menemuinya. Ia akan sangat marah.”

Shirayuri mengangguk.

“Tunggu sebentar.” Kata Chihiro. Ia memantik api dengan dua batu kecil, “Untuk keberuntunganmu.”

“Terima kasih onee-chan.” Mata Shirayuri berkaca-kaca.

“Jangan menangis, Gadis Bodoh. Nanti riasanmu rusak. Hati-hati ya.”

Shirayuri membungkuk dalam kepada onee-sannya. Shirayuri naik ke sebuah becak yang telah menunggu di depan okiya Chihiro. Penarik becak itu mengantarkannya ke sebuah penginapan sederhana, bukannya mansion mewah seorang saudagar atau tuan tanah. Ia jadi semakin bertanya-tanya siapakah pria yang berhak atas mizuagenya. Pemilik penginapan menyambut kedatangan sang maiko dan mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar tempat pria yang berhak atas mizuagenya menunggunya.

“Silakan.” ujar wanita tua pemilik penginapan itu sambil membukakan dan menutup kembali pintu geser untuknya.

Sinar lilin samar-samar menerangi kamar nan sederhana itu. Kamar beralas tatami itu dilengkapi sebuah futon (kasur) dengan hamparan kain putih di atasnya. Sebuah shunga (lukisan erotis kuno khas Jepang) bergambarkan adegan persetubuhan seorang samurai dengan seorang maiko yang masih perawan tergantung di dinding kamar. Bau wangi dupa memenuhi seisi ruangan yang temaram. Seorang pria yang mengenakan hitatare (pakaian samurai) sedang duduk di atas zabuton sambil menikmati secangkir kecil sake dan hidangan lengkap (kaiseki) yang tersaji di hadapannya. Shirayuri bersimpuh dan membungkuk sambil mengucapkan salam kepadanya,

“konbanwa...”



“Jangan bergeser dari tempat dudukmu.” perintah pria itu.

“Ya...” Shirayuri mematuhi perintah lelaki misterius di hadapannya.

Lelaki itu memadamkan lampu dan menyuruh sang maiko berbaring di atas futon. (nemuin futonnya gimana coba, orang gelap-gelapan ^_^`) Shirayuri duduk di atas futon, menarik lepas tali pengikat obi dan seluruh kimono luarnya. Ia menyisakan kosode putihnya sebagai pertahanan terakhir untuk membungkus tubuh mulus semlohaynya. Ia baringkan kepalanya ke atas takamakura (bantal tinggi khusus untuk geisha).

“Bawalah aku bersamamu, Tuan...” ucapnya lirih.

Selanjutnya, terserah Anda... eh, sang lelaki bebas melakukan apa saja pada si cantik Shirayuri. Lelaki itu membuka belahan kosode Shirayuri. Tanpa basa-basi, ia langsung membenamkan wajahnya ke belahan dada Shirayuri. Dada mulus nan hangat itu berdegup kencang. Pria itu meraba payudara kiri Shirayuri. Lidah nakal si pria berpindah dari belahan dada si cantik ke puting kiri Shirayuri. Ia menjilati puting gadis impiannya dan menghisap-hisapnya penuh nafsu. Malam ini An-chan jadi miliknya seutuhnya,... Masa bodoh dengan perasaan An-chan pada Yukimura Sanada. Tangan kanannya yang menganggur ia selipkan ke balik nagajuban (secarik kain sutra penutup kemaluan) sang bidadari. Ia gosok-gosokkan jari-jarinya ke mulut miss V Shirayuri. Si Cantik menggelinjang nikmat. Ia makin berani memainkan area-area sensitif bidadarinya dengan lidah, mulut, dan jemarinya. Tapi, di sela-sela desahan nikmat sang maiko... Pria itu mendengar ia menangis sesenggukan. Ia menghentikan keasyikannya, ia seka air mata sang maiko, dan mengecup kening gadis bermata indah yang sangat dicintainya itu. Ia selimuti tubuh setengah telanjang sang maiko. Ia berdiri dan berjalan hingga ke ambang pintu.

“Tunggu aku di sini.” kata pria itu waktu memunggungi Shirayuri dan keluar dari kamar.



Sang maiko yang masih suci itu menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Ia tak bisa berhenti menangis. Waktu terasa begitu lama. Ia tak bisa memejamkan matanya karena perasaan yang aneh. Ia memang takut... Ia takut kalau diperlakukan seperti tadi... Tapi, kini kedua puting kemerahannya menegang, vaginanya pun becek akibat perbuatan lelaki tadi. Ia tidak bisa melupakan sensasi nikmat waktu pria itu menggosok-gosok vagina perawannya dengan jari-jarinya. Waktu ia pilin-pilin puting susunya, hisap-hisap, dan gigiti ujung pinknya... mmmhhh... perih dan sakit, tapi ia ingin lagi. Seketika pintu bergeser lagi. Lelaki itu masuk dan langsung menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri. Ia menghampiri Shirayuri yang sudah setengah bugil dan memeluknya erat. Pria itu mencumbunya dengan paksa dan menyorongkan lidahnya dengan kasar ke mulut Shirayuri. Ia tidak selembut tadi...tapi Shirayuri adalah maiko profesional, bagaimanapun sang pelanggan harus puas dengan kualitas servicenya. Ia langsung mempraktekkan teori seppun (teknik berciuman) yang diajarkan oneesan nya. Ia mendorong dan menarik lidah sang pria dengan belitan lidahnya. Lidahnya dengan lihainya menari-nari bersama lidah sang pria. Pria yang telah terbakar nafsu itu menarik paksa dan melemparkan kosode putih Shirayuri. Ia tarik lepas nagajuban sang maiko dan memainkan jari-jari nakalnya di area pribadi sang dara. Mulut guanya begitu becek dan sempit, tapi jari-jari nakal itu tetap memaksa masuk. Shirayuri looses her innocence... Ia begitu terangsang hingga nekat menjilati bagian belakang telinga pria misterius itu dengan rakus. Tangan dan lidah sang pria yang asyik memainkan manik-manik mungil di puncak kedua bukitnya semakin membakar birahi sang maiko. Gadis cantik itu melenguh menggemaskan,

“mmmhhh,... aahhhssshhh,... aahhhsshhhh...”

Pria itu udah nggak ku-ku... Si unyilnya sudah tak dapat dikendalikan lagi. Tapi sedikit lagi foreplay bolehlah... Ia dekatkan hidungnya ke gua sang dewi. Aroma semerbak penuh godaan birahi langsung menyergap indra penciumannya.Ia jilat daerah yang ditumbuhi bulu-bulu bercukur rapi itu.



Sang pemain cinta nan liar itu mengekplorasi lebih dalam dan menemukan sebuah benda mungil yang dapat dipakainya untuk bermain-main. Ia menjilat-jilat daging kemerahan di dalam gua sang bidadari. Ketika ia gigit perlahan, si cantik menjerit nikmat. Gadis itu mendorong kepala sang pria agar lidahnya masuk lebih dalam ke area pribadinya. Sang gadis belum pernah merasakan kenikmatan luar biasa ini sebelumnya. Cairan kental meleleh dari liang senggamanya. Gua perawannya jadi semakin licin dan becek. Pria itu menghisap dan menelan semua lelehannya serta mencumbui bibirnya dengan rakus sekali lagi. Ia mengakhiri cumbuan beringas si lelaki di bibirnya dengan cara menarik dan meraba-raba penis sang pria yang telah berdiri kaku. Shirayuri bangkit dan mempermainkan penis itu. Ia jilat ujungnya, ia hisap-hisap, dan gigit-gigit dengan genit. Si pria sudah tak tahan lagi dipermainkan oleh Shirayuri yang binal, ia dorong seluruh bagian kejantanannya ke mulut Shirayuri. Shirayuri nyaris tersedak. Setelah mengambil nafas sejenak, ia manjakan lagi si bungsu dengan jilatan, gigitan, dan sepongannya. Shirayuri seketika sadar bahwa ia telah membangunkan seekor macan buas yang tertidur. Masih dalam posisi duduk, pria itu merenggangkan kedua paha Shirayuri. Ia menopang kedua kaki mulus Shirayuri dengan bahunya, menopang pantat mulusnya hingga tubuh aduhai si cantik melengkung membentuk kurva. Ia posisikan penis tegangnya ke gua Shirayuri. Maiko cantik itu menjerit lemah waktu rasa sakit mulai menyergapnya. Ia meremas futon sekuat-kuatnya ketika belut sang pria mengeksplorasi guanya lebih dalam dan jauh lebih dalam lagi. Shirayuri memekik tertahan. Pria itu berhenti sejenak waktu seluruh batangnya telah tertanam dalam lubang cinta si cantik. Shirayuri menangis menahan sakit yang teramat sangat.



Si pria menarik pelan-pelan belutnya yang kini berlumuran cairan kental berwarna merah... Ya, darah keperawanan Shirayuri tumpah menodai secarik kain putih di atas futon tempat kedua insan itu berasyik masyuk. Setelah sebagian kejantanan si pria keluar dari guanya, Shirayuri merasakan sebuah kenikmatan saat kumpulan serabut sarafnya tergesek benda tegang itu. Si pria mencengkeram kedua bongkah pantat Shirayuri lebih erat dan menaik turunkan panggul Shirayuri agar ia bisa dengan leluasa mengeluarkan dan memasukkan belut laparnya ke gua si cantik yang kini becek dan licin. Kedua payudara berputing tegangnya berguncang-guncang sensual. Si maiko yang baru saja direnggut keperawanannya itu mulai menikmati pergumulan bernafsu pertamanya. Ia ikut memutar-mutar panggulnya sambil mendesis-desis penuh gairah.

“Aahhhkkksss.... nnggaahhhkkss.... aaahhhsshh.. aaahhhsshhh.... mmmhhhssshhh... aahhhhh.... aaahhh....” diiringi suara plokhhh... ploookh... plookkhh... yang membangkitkan birahi.

Shirayuri merasa guanya begitu penuh. Belut liar itu terus menari-nari memenuhi rongga guanya. Ia tahu kini bagaimana nikmatnya menjadi seorang wanita dewasa. Pria itu menancap-nancapkan senjata pamungkasnya tanpa ampun ke liang hangat Shirayuri. Sang maiko kini telah menjadi seorang geisha sejati. Ia sangat menikmati siksaan nikmat yang dilakukan sang pria terhadapnya. Sampai akhirnya, cairan cintanya tumpah ruah semakin memperlancar gerakan keluar-masuk si belut. Tak lama, belut nakal itu menyemprotkan cairan lengket yang memenuhi liang rahimnya, belut itu pun kemudian berangsur-angsur makin mengecil dan mengerut, sampai akhirnya ia keluar dari guanya. Setelah satu jam menggumulinya, pria perkasa itu jatuh lemas dan tertidur pulas di atas dada Shirayuri yang lembut, kenyal, dan hangat. Keduanya menikmati sisa-sisa orgasme mereka hingga akhirnya terlelap karena kelelahan.



To be continued...



By: Shirahime




© Karya Shirahime