Showing posts with label Lainnya. Show all posts
Showing posts with label Lainnya. Show all posts




Hai teman-teman, jumpa lagi dengan saya Citra. Wah setelah sekian lama mengundurkan diri dari tulis menulis cerita dewasa, saya terhenyak ketika mendapati cerita dewasa Indonesia ternyata telah berkembang sedemikian pesat. Setelah situs kesayangan kita 17tahun.com wafat, ternyata banyak penulis-penulis kreatif yang bermunculan seperti contohnya ya situs Kisabb nya Bang Shusaku ini, yang katanya terinspirasi dari cerita-cerita saya, duh malunya, masa sih saya sampe segitunya. Makasih ya Bang, makasih juga atas dukungan para penggemar cerita saya yang masih mengalir sampe sekarang, terbukti dari email-email yang masih sering masuk padahal cerita saya sudah lama terkubur. Melihat perkembangan cerita dewasa Indonesia yang sangat pesat saya jadi tergoda untuk turut menyumbang tulisan lagi nih, maka di tengah-tengah kesibukan kerja saya sengaja menyempatkan diri untuk menulis lagi memenuhi permintaan teman-teman sekaligus meramaikan blog Mr. Shusaku ini. Makasih banget ya Bang karena telah berhasil ‘memaksa’ saya turun gunung menulis pengalaman saya lagi. Baiklah supaya tidak buang waktu lagi perkenankan saya memulai saja cerita saya kali ini, moga-moga berkenan di hati teman-teman.



Citra


Namaku Andani Citra, kini aku telah berusia 26 tahun dan telah bekerja di sebuah perusahan multinasional. Kehidupan seksku masih beraliran bebas (atau mungkin lebih tepatnya liar) walau setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja aku harus menguranginya seiring dengan kesibukanku di perusahaan dan tentunya harus lebih mampu membawa diri dong, jangan gara-gara nafsu sesaat berpengaruh buruk bagi karirku di perusahaan. Cerita ini terjadi tahun 2009 yang lalu ketika aku di Bandung, saat itu aku menghadiri sebuah resepsi pernikahan salah seorang anggota keluarga dari pihak mamaku. Karena kedua orang tuaku berhalangan hadir aku lah yang menghadiri undangan tersebut bersama Tante Linda, adik dari mamaku yang paling kecil atau bungsu dari 7 bersaudara keluarga mamaku. Beliau berumur 35 tahun dan telah menjanda sekitar lima tahun yang lalu dengan seorang anak perempuan yang telah berusia 8 tahun. Meskipun usianya telah kepala tiga dan pernah melahirkan, Tante Linda masih terlihat segar dan menggairahkan, terlebih dandanannya yang modis dan natural membuatnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Hubungannya denganku terbilang cukup akrab, obrolan kami saling nyambung satu dengan lainnya, mungkin karena usianya relatif masih muda sehingga masih bisa mengikuti gaya satu generasi di bawahnya seperti aku ini. Di Bandung kami menginap di salah satu hotel bintang tiga di jalan Pasirkaliki. Hari Sabtu malam kami berdua menghadiri undangan tersebut yang diselenggarakan di sebuah gedung serbaguna yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap. Dapat dibilang hari itu sangat melelahkan, bagaimana tidak begitu sampai di Bandung siangnya kami sudah dijamu oleh keluarga yang punya pesta (kami tidak sempat menghadiri pemberkatan nikah karena terlambat) lalu disusul harus ke salon untuk menata rambut dan make up kami, kemudian kembali ke hotel untuk bersiap-siap. Pesta pernikahan yang termasuk mewah itu berjalan lancar, kami pulang kembali ke hotel jam sembilan lebih. Setelah sikat gigi dan membersihkan make up aku langsung menjatuhkan diri ke ranjang, rasanya seperti surga saja setelah hari yang demikian padat. Aku sempat ngobrol-ngobrol sebentar dengan Tante Linda sebelum akhirnya terlelap di ranjang hotel yang empuk.
Keesokan harinya setelah sarapan di hotel, itulah saat yang kutunggu-tunggu, apa lagi kalau bukan belanja. Andre salah satu sepupuku mengantar kami berkeliliing kota Bandung yang terkenal sebagai sorganya belanja dan kuliner. Tujuan pertama kami adalah factory-factory outlet di sepanjang jalan Dago. Yang namanya berbelanja memang sering membuat orang lupa waktu, tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua siang, sudah lebih dari jam makan siang. Kami menenteng belanjaan kami memasuki sebuah kafe di sana dan makan dengan lahap. Kulihat belanjaan Tante Linda, wow ternyata tanteku yang satu ini gila belanja juga, beliau juga tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk pakaian atau aksesoris yang disukainya. Setelah Dago kami meneruskan perjalanan ke Rumah Mode di kawasan Setiabudi, kami tidak terlalu lama di sana sebelum akhirnya kembali ke hotel jam setengah enam sore. Acara selanjutnya adalah kumpul-kumpul bersama famili lagi. Aku cukup menikmati acara itu karena dapat bertemu lagi dengan saudara-saudara dan ngobrol-ngobrol sampai lupa waktu. Sepulangnya ke hotel jam 9 malam, aku baru sadar ternyata blackberry ku tidak ada di tasku. Alat komunikasi itu biasanya kutaruh di sebuah pouch berwarna merah muda, di dalamnya juga ada sedikit uang, beberapa kartu nama, serta beberapa benda kecil lainnya. Tentu saja aku panik setelah menyadari blackberry ku hilang karena di dalamnya ada nomor dan data-data penting. Aku mulai mengingat-ngingat di mana aku meletakkan benda itu sebelumnya. Apakah di restoran tempat acara keluarga tadi? Atau di tempat berbelanja atau tempat makan tadi siang?
“Kenapa ga hubungin langsung aja ke nomornya Ci?” usul Tante Linda melihatku yang mulai panik.
Benar juga pikirku, kenapa tidak kuhubungi saja, siapa tahu diterima oleh orang yang memungutnya yang kuharap orang jujur dan bersedia mengembalikannya. Tante Linda mengulurkan ponselnya padaku membiarkanku untuk memakainya menghubungi nomorku sendiri. Dengan harap-harap cemas aku menanti seseorang menerima panggilanku.

Tante Linda
“Ya…hallo!” terdengar suara pria di seberang sana menerima teleponku.
“Hallo, ini siapa ya?” tanyaku
“Ai neng siapa ya?” tanyanya lagi dalam logat Sunda.
“Saya…saya yang punya blackberry Pak, eemm…maaf Pak blackberry yang Bapak pegang sekarang itu punya saya”
“Oooh…jadi Neng yang punya hape ini teh?“
“Iya Pak, Bapak dapet barang itu darimana? Tolong Pak itu barang penting”
“ Bapak mah nemu hapenya di bangku depan Rumah Mode neng, kayanya si neng lupa bawa nya??? tanya pria itu

Rumah Mode…ya ampun aku baru ingat, setelah selesai berbelanja di sana, kami duduk-duduk dulu di bangku batu di depan FO itu sambil beristirahat dan menikmati snack. Ternyata di sana lah pouch berisi blackberryku tertinggal.
“Eeennggg…Pak apa kita bisa ketemu saya buat ngembaliin barang itu, itu penting Pak, saya bersedia ngasih imbalan kalau Bapak mau ngembaliin” ucapku penuh harap
“Bisa Neng…bisa…Bapak juga lagi nunggu yang punya nelepon ke sini, da dosa atuh nyimpen barang yang bukan punya Bapak mah!” jawab suara di sana, “Neng di mana? Biar nanti Bapak anterin hapenya besok?”
“Saya di Hotel D’batoe di Pasirkaliki Pak, Bapak tau ga? Bapak besok siang bisa anterin? Soalnya saya sorenya udah harus pulang ke Jakarta”
“Ooh…boleh Neng, jadi besok Bapak anter ke sana aja yah, jam 1an abis makan siang bisa Neng?”
“Bisa Pak, saya tunggu ya, nanti kalau udah dateng bilang aja ke resepsionis biar nanti dia panggil saya di kamar, bilang mau ketemu Citra dari kamar 2011”
“Iya Neng siap, Bapak pasti dateng besok!”
“Makasih ya Pak, saya tunggu besok, maaf ini dengan Bapak siapa ya?”
“Agus Neng”
“Ooh…ok deh Pak Agus, sampai besok ya”
Setelah selesai menelepon, hatiku sedikit lega dan mengembalikan ponsel itu pada Tante Linda. Semoga saja bapak itu menepati janjinya besok akan datang untuk mengembalikan blackberryku.
*********************
Keesokan harinya
Pagi setelah sarapan kami mulai membereskan barang-barang kami karena akan pulang sore hari jam 6.45. Aku bersama Tante Linda menyempatkan diri berjalan-jalan di Mall Istana Plaza dekat tempat kami menginap. Dasar wanita, dari yang tadinya cuma mau jalan-jalan menghabiskan waktu menunggu kereta berangkat malah akhirnya berbelanja juga, ga tahan deh lihat barang bagus hehehe…Jam 11an ketika masih di mall, saudaraku menelepon Tante Linda katanya akan menjemput kami untuk makan siang bersama. Mereka datang sekitar setengah jam setelahnya. Mereka menjamu kami makan siang di sebuah restoran Thai di mall itu. Di tengah makan dan berbincang-bincang, tiba-tiba aku teringat akan bertemu dengan Pak Agus di hotel tempatku menginap untuk menerima blackberryku. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul satu kurang sepuluh menit, astaga…bagaimana kalau dia sudah datang dan menungguku? Aku pun terpaksa harus mohon diri pada saudara-saudaraku untuk kembali ke hotel dan akan segera kembali kalau sudah selesai urusannya. Mereka pun nampaknya mengerti alasanku.
“Lain kali taro barang hati-hati Ci, untung ada orang yang baik mau ngembaliin” nasehat salah seorang tanteku yang sudah berumur di atas setengah abad.
Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya sebelum meninggalkan mereka. Hanya dengan berjalan kaki lima menitan aku sudah tiba ke hotel dan langsung ke meja resepsionis menanyakan apakah tadi ada orang mencariku.
“Belum ya Mbak, dari tadi pagi saya disini tapi belum ada” jawab si mbak resepsionis.
“O, ya udah deh Mbak, saya tunggu aja di kamar, nanti kalau sudah datang telepon aja ya, janjinya sih deket-deket jam segini” pesanku
Setelahnya aku pun kembali ke kamar dan menyalakan TV untuk menunggu kedatangan Pak Agus. Waktu terus berjalan, sebentar lagi sudah mau setengah dua, tapi belum ada juga yang menelepon ke sini. Kegelisahan mulai kembali menyelubungiku, jangan-jangan si bapak berubah pikiran tidak mengembalikan blackberry itu dan menjualnya, pikiran-pikiran negatif lain mulai membayangi pikiranku. Aku menelepon Tante Linda menanyakannya apakah akan sudah mau pulang ke hotel atau masih akan kemana lagi?
Tante Linda berkata bahwa selanjutnya mereka akan ke Kota Baru Parahyangan dan menyuruhku segera kembali ke Istana Plaza. Aku sempat agak bingung memilih apakah harus tetap menunggu atau pergi saja karena Pak Agus tidak akan datang mengembalikan blackberry itu. Tapi feelingku mengatakan aku harus menunggu sehingga kujawab sebaiknya mereka pergi saja tanpa aku karena masih belum datang, tidak enak pada yang lain, aku juga beralasan agak tidak enak badan, takutnya tambah parah.
“Ya ok deh Ci, kalau gitu kamu istirahat aja, Tante ga lama kok jam tiga udah balik katanya” jawab Tante Linda.
“Ok deh tante, sori nih jadi pada nunggu, sampe nanti ya!” kataku menutup pembicaraan.
Kini aku hanya berharap supaya tidak menyesal memutuskan demikian, kuharap Pak Agus akan datang sesuai janjinya kemarin. Omong-omong kalau dia benar datang akan kuberi apa sebagai imbalannya ya? Hhhmmm…tiba-tiba aku mulai mupeng nih, aku berpikir bagaimana kalau mengajaknya ML saja, kan mumpung cuma aku sendirian di kamar ini. Aku mulai terangsang membayangkan yang tidak-tidak, tanganku mulai meraba bagian selangkanganku dan membayangkan seperti apa Pak Agus orangnya, kalau dari suaranya sih sudah setengah baya, tapi itu tidak masalah, aku toh sudah mencoba berbagai jenis pria sebagai partner seksku. Baru saja tanganku hendak membuka resleting hotpants yang kupakai telepon di sebelah ranjangku berbunyi. Aku segera mengangkatnya, telepon itu dari resepsionis yang memberitahukan bahwa ada seorang pria mencariku dan kini sedang menunggu di lobby hotel. Thanks God, betapa lega hatiku karena orang itu akhirnya menepati janjinya sehingga aku tidak perlu kehilangan data-data di blackberryku, di saat yang sama aku juga berdebar-debar kalau aku harus memberi hadiah ‘nakal’ pada Pak Agus itu. Aku segera keluar dari kamar setelah memastikan diriku sudah rapi di depan cermin besar di dekat pintu. Saat itu pakaian yang melekat di tubuhku adalah sebuah kaos lengan pendek berwarna pink dan sebuah hotpants biru tua yang memamerkan sepasang paha jenjangku. Sejak di mall tadi memang penampilanku telah mengundang decak kagum para pria, aku dapat merasakan mereka ngiler melihat bentuk tubuhku ini. Aku melangkahkan kakiku menuruni tangga, di ruang tunggu lobby aku melihat seorang bapak setengah baya kira-kira berusia 50 tahun ke atas, berambut cepak hampir botak, sedang duduk di sofa, kutebak itulah Pak Agus karena tidak ada tamu lain lagi.

Pak Agus
“Ehehe…Neng Citra yah?” pria itu berdiri dan memberi salam sambil tersenyum ramah.
“Iya bener…siang Pak Agus, makasih ya udah repot-repot nih!” aku mengulurkan tangan padanya untuk bersalaman
Aku dapat memperhatikan matanya mencuri-curi pandang tubuhku, terlebih ketika aku duduk dan menyilangkan kakiku, pasti dalam otaknya sudah mulai mupeng tuh hehehe…
“Maaf yah Neng bapak terlambat, tadi di jalan macet, tempat bapak kan lumayan jauh, ke sini juga pake angkot!” katanya
“Gak papa kok Pak, justru saya yang maaf udah bikin Bapak datang jauh-jauh ke sini buat anterin barang saya!” kataku sambil tersenyum manis
“Ini Neng barang punya Neng, coba diperiksa aja dulu!” katanya seraya mengeluarkan pouch blackberry ku dari balik jaket lusuhnya.
Aku senang sekali melihat benda itu kembali, setelah menerimanya aku segera memeriksa isinya, kartu-kartu nama masih lengkap bahkan sedikit uang yang kuselipkan di situ tidak kurang sedikitpun. Dalam hati aku sangat bersyukur masih ada orang jujur di dunia ini.
“Duh makasih banget yah Pak, ini penting semua loh…Bapak nemuin ini gimana??” tanyaku
“Ya itu Neng, ketinggalan di bangku, bapak kan tukang parkir di situ, jadi pas ngeliat, langsung diamanin sama bapak teh” ia menjelaskan sambil pandangannya terus saja menyapu tubuhku.
“Iya nih Pak keasyikan belanja sampe ceroboh, bener Pak saya berterima kasih sekali ke Bapak” aku berterima kasih lagi, “Emm…sebagai balasannya saya sudah mempersiapkan hadiah buat Bapak, apa Bapak mau ikut saya ke kamar soalnya masih saya simpan di sana?”
“Oh gak usah Neng ga usah, Bapak gak ngeharap hadiah kok, cuma nolongin orang aja!” tolaknya halus, “Bapak punten dulu yah!” ia berdiri hendak pergi
“Pak tolong diterima ya, ini sebagai rasa terima kasih saya pada Bapak!” aku berdiri dan menatapnya dengan penuh harap.
“Eeemmm…kalau Neng maksa, ya udah tapi jangan lama ya Neng kan ga enak” ia akhirnya mengiyakan juga
Akupun berjalan kembali ke kamarku di atas dengan diikuti olehnya. Aku dapat merasakan ia terus memperhatikan tubuhku terutama saat naik tangga.
“Hehehe…ga enak, ga enak apanya? Nanti juga keenakan lo!” tawaku dalam hati.
“Duduk dulu Pak, mau minum apa?” tanyaku setelah masuk ke kamar.
“Ehehe…apa aja deh Neng” jawabnya masih agak grogi.
Aku membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol Pulpy Orange, kubuka tutupnya dan kutuangkan isinya ke dalam gelas.
“Diminum Pak!” kataku seraya menyodorkan gelas itu padanya.
Saat ia meneguk minumannya aku dengan gerakan menggoda membuka kaosku lalu hotpantsku. Pria itu hampir tersedak melihat pertunjukan erotisku tepat di hadapan matanya. Kini tinggal bra dan celana dalam ungu yang tertinggal di tubuhku. Matanya membelakak menyaksikan kemulusan tubuhku dengan mulut melongo.
“Eee…ehhh…apa nih Neng, kok kaya gini sih?” tanyanya tergagap-gagap.
Aku yakin perasaannya berkecamuk antara bingung dan tidak percaya, rasanya ia seperti sedang bermimpi, tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku mendekati dirinya yang sedang terpana, kuambil gelas yang isinya tinggal seperempatnya itu dan kuletakkan di meja di sebelahnya, lalu aku naik ke pangkuannya. Kuraih tangan kanannya dan kuletakkan di dadaku dan tanpa banyak bicara lagi, wajahku mendekati wajahnya hendak menciumnya. Tapi tanpa kuduga, ia menurunkanku dari pangkuannya dan buru-buru berdiri.
“Neng apa-apaan nih? Jangan gini ah, ga baik Neng, dosa…ga pantes Neng!” katanya gugup.
“Nggak Pak…nggak apa-apa, saya cuma ingin berterima kasih ke Bapak karena sudah membantu saya, Bapak boleh nikmati saya sepuasnya” kataku sambil merangkul lengannya, tapi ia segera menepiskannya
“Iyah tapi jangan gini Neng, Bapak udah punya istri sama anak, dosa atuh kalau selingkuh mah Neng!” katanya dengan logat Sunda yang kental.
Kulihat wajahnya serius dan nampaknya tidak ingin berbuat selingkuh, aku pun sempat kagum dibuatnya, baru kali ini ada yang menolak kenikmatan yang kutawarkan.
“Ya udah deh Pak, maaf ya kalau saya keterlaluan, kita anggap aja kejadian barusan itu nggak ada” kami sempat saling terdiam beberapa saat lalu aku melanjutkan, “kalau sudah tidak ada apa-apa Bapak boleh pergi, sekali lagi terima kasih dan maaf ya Pak”
Ia mengangguk, tapi matanya tidak lepas memandangi tubuhku yang tinggal memakai pakaian dalam.
“Bapak permisi ya Neng!” katanya seraya mengambil kembali topi petnya di atas meja lalu berdiri.
Aku berjalan dulu di depan untuk membukakan pintu baginya. Tapi tanpa kuduga-duga, bar u saja hendak membuka kunci, tiba-tiba tubuhku didekap dari belakang. Aku pun secara refleks meronta panik.
“Eeehhh…Pak, ngapain nih!” kataku sambil berusaha melepaskan diri.
Ia menghimpitku ke sudut ruangan sebelah pintu dan tangannya mulai menggerayangi tubuhku. Memang inilah yang sejak tadi kuharapkan, tapi aku sengaja bersikap seolah-olah menolak untuk menaikkan nafsunya dan juga menaikkan gengsiku akibat penolakkannya barusan.
“Jangan Pak…apa-apaan sih!” aku setengah berteriak dan menepiskan tangannya yang meremas payudaraku yang masih tertutup bra.
“Maaf Neng, kan Neng yang tadi ngajak duluan, Bapak jadi gak tahan nih ngeliat bodi Neng bahenol gini…masih boleh kan? Hehehe” tangannya kembali mencaplok payudaraku sementara tangan satunya mengelusi pahaku hingga ke pantat.
“Uuuh…jangan gitu Pak, ssshhh!!” desahku saat tangannya yang kasar dan sudah berkeriput menyusup ke balik cup bra ku dan bersentuhan langsung dengan payudaraku.
“Kok jangan Neng? Kan tadi Neng yang godain Bapak huehehehe…” sahutnya sambil memencet putingku sehingga aku seperti merasakan gelombang kenikmatan mengaliri tubuhku.
Perlakuannya membuatku langsung lemas terbuai kenikmatan sehingga rontaanku pun semakin lemah. Ia kini membalik tubuhku hingga saling berhadapan dengannya lalu bibirnya melumat bibirku dengan rakusnya.
“Eeemmm…mmmhh….ssllkk…ssssllrrp!” suara desahan tertahan terdengar dari mulutku saat berpagutan dengannya.
Selama beberapa menit lamanya kami bercumbu dengan penuh gairah, lidah kami saling belit dan saling jilat, air liur kami saling bertukar, aku juga dapat merasakan bau cengkeh pada mulutnya, agaknya ia lumayan perokok juga. Selama itu pula tangannya tidak pernah diam menjelajahi tubuhku, tangan satunya masuk ke celana dalamku bagian belakang dan meremasi bongkahan pantatku dengan gemasnya sementara tangan lainya memeloroti bra sebelah kiriku lalu mempermainkan payudaraku yang sudah terbuka.
Mulut Pak Agus kini turun ke bawah sambil mencium dan menjilati leherku terus menuju payudaraku. Lidahnya menjalar dan meliuk-liuk pada putingku yang makin mengeras, menghisap dan meremas-remas payudaraku. Sementara itu tangannya yang tadi meremasi pantatku kini mulai merayap ke depan menyentuh kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Jari-jari nakal itu mengelus-elus bagian sensitifku dari balik celana dalam. berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi aku sengaja pura-pura menolak agar ia semakin bernafsu padaku
“Udah ah Pak, jangan terusin!” tolakku dengan suara sedikit mendesah.
“Si neng ah, malu-malu mau gini malah bikin bapak tambah konak pengen ngentotin neng huehehehe…mmmm….slllrrpp!” katanya sambil terus mengenyot payudaraku
“Eenngghh!! Pak!” desahku dengan tubuh menggelinjang ketika dua jarinya membelah bibir vaginaku dan mulai mengorek-ngorek liang kenikmatanku.
Jari-jari itu bergerak liar dalam vaginaku seperti ular sehingga aku pun menggeliat dan mendesah merasakan kenikmatannya. Sebentar saja wilayah kewanitaanku sudah becek dengan lendir dibuatnya.
“Di ranjang aja Pak!” kataku sambil memegang pergelangan tangannya yang sedang mengaduk-aduk di balik celana dalamku dan kutarik ke arah ranjang.
Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang sementara ia berlutut di lantai di tepi ranjang dan menarik lepas celana dalamku. Matanya seperti mau keluar menatapi vaginaku yang sudah terbuka, dengan ditumbuhi bulu-bulu hitam dan bagian tengahnya yang merah merekah mengundang gairah.
“Ooohh…Pak!!!” desahku sambil meremas rambutnya yang sudah beruban ketika kurasakan nafasnya menerpa vaginaku disusul sapuan lidahnya pada bibir vaginaku yang menyebabkan tubuhku menggelinjang nikmat.
Aku berbaring dengan tubuh setengah terangkat dengan bertumpu pada kedua siku tanganku sehingga aku dapat melihat wajahnya yang mupeng berat saat melumat vaginaku.
“Aaaahhh…teruss Pak, disitu enak…yahhh!!” erangku ketika pak Agus dengan nakal menyedot klitorisku dan menyeruput cairan cintaku yang memang rasanya sejak tadi terus mengalir.
Dan yang bisa kulakukan hanya merintih dan mengejang keenakan tanpa mampu menyembunyikan rasa nikmat yang mendera tubuhku ini. Lidah itu…lidahnya yang kasap itu terus menyapu-nyapu kewanitaanku dan kadang masuk ke dalam menimbulkan sensasi geli yang menggelitik nikmat. Ooh…rasanya cairan cintaku mau tumpah semua dibuatnya. Bukan hanya lidahnya, jarinya pun ikut keluar masuk liang vaginaku menambah kenikmatan sensual ini. Ada sekitar sepuluh menitan ia mengulum dan mencucuk-cucukkan jarinya ke vaginaku membuatku menggelinjang dan mendesah tak karuan.
Puas melumat vaginaku, ia naik ke ranjang menindih tubuhku, bibirnya langsung menyosor bibirku. Kami berciuman dengan penuh gairah, sambil beradu lidah tanganku dengan lincah mempreteli kancing kemejanya lalu membuka kemeja lusuh itu. Kami berguling ke samping tiga kali hingga aku kini balik menindihnya. Tanganku bergerak ke bawah membuka sabuknya, dilanjutkan dengan resleting celananya. Baru meraba dari luar saja aku sudah merasakan penisnya yang menegang. Dadaku bergesekan dengan dadanya yang kurus dan tulangnya tercetak pada kulit keriputnya itu. Walau agak kurus tubuhnya masih cukup kokoh, masih memperlihatkan keperkasaan masa mudanya dulu. Setelah pakaiannya terlepas semua, aku mulai membuka celana dalamnya. Dengan hati deg-degan kuturunkan pelan-pelan pakaian terakhir yang masih melekat di tubuhnya itu. Wow…penis yang telah ereksi itu mengacung tepat di depan wajahku, lumayan keras dan panjang. Kugenggam dan kukocok pelan benda itu.
“Kenapa neng? Bogoh sama kontol bapak? Hehehe!” godanya karena melihatku terbengong mengamati penisnya itu.
Kujawab dengan membuka mulutku dan menelan benda panjang itu, hap! Mulailah aku mempraktekkan teknik oralku padanya. Pertama-tama aku mulai dari kepala penisnya dulu, bagian itu kujilati dan kuemut-emut sambil tanganku mengocok pelan batangnya. Pria setengah baya itu langsung mendesah nikmat sambil meremas rambutku. Kepalaku mulai naik-turun mengemuti penisnya yang keras itu. Tak lama kemudian aku merubah posisi, aku memutar tubuh dan menaiki wajahnya hingga kini kami dalam posisi 69.
“Jilat Pak!” perintahku sambil menengok ke bawah belakang, “ahhh!” tanpa kuperintah kedua kalinya lidah dan jarinya sudah menyerang vaginaku.
Aku juga merundukkan tubuh dan kembali memasukkan penis dalam genggamanku ke mulut. Kami saling jilat dan emut alat kelamin masing-masing. Pak Agus sangat bernafsu, ia memasukkan jari jarinya ke dalam vaginaku dengan agak kasar. Liang kenikmatanku memang sudah basah, karena orgasme barusan.
“Wah basah betul nih Neng, asyik ya? Nyepongnya juga Neng jago amat yah?” kata Pak Agus mengomentari, “mm…wangi lagi memeknya” sahutnya lagi sambil mengenduskan hidungnya ke vaginaku.
Ia sekarang mempermainkan klitorisku, ia gosok gosokkan jari dan lidahnya pada daging kecil yang sensitif itu. Tubuhku sampai bergetar ketika merasakan sapuan lidahnya pada klitorisku. Pijatan lembut telunjuk dan ibu jarinya pada klitorisku membuat pinggulku meggeliat-geliat. Semakin tidak tahan, akupun mengisap penisnya kuat-kuat. Jilatan dan coblosan jemari Pak Agus membuat tubuhku semakin bergetar menuntut pemuasan.
“Pakk..ohh. .sekarang yaaa…ohhh gak tahan nih!” aku mendesah tak karuan
“Apa yang sekarang Neng?”’ Pak Agus menahan senyum-senyum mupeng
“Ayo Pak…entotin saya, udah pengen nih!” ujarku tanpa malu-malu sambil menggeser tubuhku ke depan, pantatku kuangkat setinggi mungkin, kedua jariku menyibak bibir vaginaku seolah mempersilakannya menusuk lubang kenikmatanku
“Hehe…jadi Bapak ewe yang memeknya sekarang!” sahutnya sambil bangkit berlutut di belakangku.
Aku mengangguk dan nafasku makin terengah-engah menahan kobaran birahi, tidak sabar lagi aku menuggu vaginaku ditusuk oleh penisnya yang sudah keras itu
“Ooohh!!” aku mendesah merasakan kepala penisnya melesak masuk ke vaginaku.
Penis itu secara perlahan tapi pasti semakin memasuki kewanitaanku. Aku menggelinjang merasakan ganjalan di bibir vaginaku.
“Terus masukin Pak!” aku menarik nafas menahan ganjalan kejantanan Pak Agus yang terbilang keras itu.
Penis itu terasa sekali dalam vaginaku, begitu keras dan berdenyut-denyut. Tak lama kemudian penis itu pun mulai menyentak-nyentak, tangan kasar pria itu merayap ke arah payudaraku dan mulai meremas-remasnya. Aku pun mendesah-desah sambil meremasi kain sprei di bawahku. Pak Agus mengayuh dengan perlahan tapi kuat, sekitar dua detik selang tiap hujaman dan tarikan. Batang kemaluannya sengaja agak ditekan ke dinding kemaluanku.
“Ugghh…gitu Pak, tenagaan dikit…eemmhhh….eemmhh!” sahutku sambil turut menggoyang-goyangkan pinggul.
Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding vaginaku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan gerakan maju mundur membuat batang kemaluan pria itu seolah-olah diperas. Aku menengok ke belakang menyaksikan Pak Agus semakin tidak bisa menahan kenikmatan yang melandanya, gerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat meleleh dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai puncak kenikmatan. Pinggulku kuangkat sedikit dan kemudian membuat gerakan memutar saat ia melakukan gerak menusuk. Pak Agus nampaknya mendapat sensasi luar biasa dari jurusku ini, mimik mukanya yang memangnya culun itu bertambah lucu ketika menahan nikmat, batang kemaluannya tambah berdenyut-denyut, ayunan pinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut. Tidak sampai lima menit kemudian, pertahanannya pun bobol. Penisnya menghujam makin dalam ke vaginaku, lalu tubuhnya ambruk menindihku. Aku dapat merasakan tubuh kurus itu bergetar dan mengejang ketika spermanya keluar di dalam vaginaku berkali-kali. Semprotan-semprotan hangat itu mengisi liang kenimatanku hingga kurasakan penisnya makin menyusut di dalam sana, sungguh luar biasa rasanya.
Pak Agus mengeluarkan penisnya lalu rebah di sebelah kananku. Selama beberapa menit kami beristirahat memulihkan tenaga masing-masing. Kami ngobrol ringan sambil sesekali bercanda sambil istirahat, menurut pengakuannya baru kali ini dia berkesempatan ngeseks dengan wanita secantik diriku (bukan muji diri loh, ini kata beliau kok) dan dari kelas atas pula. Aku tersenyum mendengar pengakuannya.
“Bapak masih kuat? Saya belum puas nih soalnya” kataku dengan suara mendesah erotis sambil naik menindih tubuhnya.
“Weleh…weleh si Neng gede nafsu juga euy, masih Bapak masih bisa kok, tapi mainnya pelan-pelan aja Neng, Bapak kan udah tua hehehe” katanya.
Tanganku ke bawah meraih penisnya, benda itu sudah mulai bangkit lagi tapi belum sepenuhnya. Untuk membangkitkan kembali gairahnya aku menciumnya, tanganku yang satu membelai dadanya, kucubit dan kupilin putingnya yang berbulu. Ciumanku merambat turun ke lehernya, bahu hingga dadanya, aku dapat merasakan aroma keringatnya. Aku melakukan mandi kucing padanya hingga sampai di putingnya kujilati dan kuhisap. Penis dalam genggamanku pun terasa semakin mengeras. Aku memposisikan vaginaku di atas penis itu. Kemudian secara perlahan aku menekan batang kemaluannya yang sudah sangat keras ke bibir kemaluanku yang sudah sangat basah karena cairanku sendiri. Aku menahan napas saat benda itu menurunkan tubuhku hingga penisnya melesak masuk. Seinci demi seinci, batang kemaluan Pak Agus mulai terbenam ke dalam jepitan liang vaginaku. Ternyata si tukang parkir ini bukanlah orang yang hijau dalam hal seks, buktinya ia tidak terburu-buru melesakkan seluruh batang kemaluannya tapi dilakukannya secara bertahap dengan diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi hingga tanpa terasa seluruh batang kemaluannya sudah terbenam seluruhnya ke dalam liang kemaluanku. Kami terdiam beberapa saat untuk menikmati kebersamaan menyatunya tubuh kami. Bibir pria itu memagut bibirku dan akupun membalas tak kalah liarnya. Aku merasakan kedutan penis Pak Agus yang terjepit dalam
vaginaku.
“Aaakkhh!” erangku dengan tubuhku tersentak saat tiba-tiba Pak Agus menyentak pinggulnya ke atas.
“Asoy kan Neng?” katanya dekat telingaku
“Hihihi…nakal yahh…Ohh” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ia sudah menyentakkan lagi pinggulnya, kali ini lebih bertenaga hingga seolah-olah ujung kemaluannya menumbuk dinding rahimku di dalam sana.
Aku yang merasa tertantang mulai menggoyangkan pinggulku. Kulihat matanya membeliak-beliak ketika penisnya yang terjepit dalam liang kemaluanku kuputar dan kugoyang. Aku menegakkan tubuh sehingga semakin leluasa menaik-turunkan tubuhku agar penisnya terhujam lebih dalam ke vaginaku
“Shh.. Oughh.. Terushh.. Neng…enakkhh!” Pak Agus menceracau.
Tangannya yang kasar dan sudah keriput mencengkeram kedua payudaraku dan meremasinya. Napas kami pun semakin menderu-deru karena tubuh kami diterpa gelombang birahi yang dahsyat. Aku semakin tak dapat menahan diri lagi, tubuhku bergerak semakin liar dan kepalaku menggeleng-geleng. Dua puluh menit lamanya aku menaiki batang Pak Agus yang keras hingga benda itu merojok-rojok vaginaku hingga akhirnya keasyikan kami terganggu oleh suara pintu dibuka. Kontan aku pun menyambar guling untuk menutupi tubuh telanjangku, demikian juga Pak Agus, pria setengah baya itu nampak kalang kabut, ia meraih bantal di bawah kepalanya dan langsung menutupi selangkangannya.
“Citra…” ujar Tante Linda sambil melongo seolah tidak bisa meneruskan lagi kata-katanya, kami terdiam sesaat dan saling memandang.
“kamu…kamu apa-apaan ini? Siapa dia?” tanya Tante Linda dengan suara bergetar dan agak ditinggikan.
“Eeemmm…ini tante, Pak Agus, dia…dia yang nemuin BB Citra tante” jawabku masih agak tergugup.
“O gitu ya…ayo Ci kamu ikut tante sebentar!” kata Tante Linda seraya menarik lenganku sampai guling yang kupakai untuk menutupi tubuhku jatuh “Bapak tunggu disitu ya! Kita masih harus bicara!” hardiknya pada Pak Agus yang masih tertunduk sambil menyeretku.
Tante Linda menyuruhku masuk ke kamar mandi yang terletak di dekat pintu masuk sedangkan ia sendiri berdiri di ambang pintu sehingga bisa sambil mengawasi Pak Agus. Wah…habis deh pikirku, dia pasti bakal memarahiku dan nanti melaporkan ke orang tuaku.
“Ayo ceritakan ada apa ini sebenarnya, kamu benar-benar gila ya!” kata Tante Linda dengan melipat tangan.
Akupun akhirnya menceritakan dengan singkat kejadiannya.
“Tolong yah, Tante, jangan bilang-bilang ke mama papa, Citra cuma khilaf, ya namanya juga darah muda kan” aku memohon padanya setelah selesai menceritakan semuanya.
“Nakal banget sih kamu Ci, tante pasti akan lapor semua ini…kalau kamu gak ngajak-ngajak Tante” kalimat terakhir ia ucapkan dengan suara berbisik.
Tentu saja aku terkejut mendengar kata-katanya.
“What? Maksud tante?” tanyaku meminta kejelasan, kulihat sebuah senyum mengembang di wajahnya
“Tante bilang ngajak Tante….boleh kan Tante ikutan enjoy?” jawabnya pelan agar suaranya tidak terdengar Pak Agus di luar sana, “gak dihitung selingkuh kan? Tante kan udah lama sendiri, sekali-sekali boleh dong” lanjutnya dengan senyum makin lebar.
“Eh…Tante…mau apain sih!?” aku memegang lengannya ketika ia hendak beranjak dari ambang pintu.
“Pssstt…kamu liat aja Ci!” ia melepas tanganku lalu berjalan ke arah Pak Agus yang mulai memunguti pakaiannya, saat itu ia sudah memakai celana dalamnya.
“Oke Pak, saya rasa kita harus bicara dulu!” sahut Tante Linda sambil mendekatinya dengan nada tegas.
“Eh…iya iya….Bu, duh Bapak menta maaf banget, Bapak khilaf Bu, lagian Neng Citra juga yang godain Bapak, jadi gini deh!” Pak Agus terbata-bata dan tidak berani menatap wajah Tante Linda yang sengaja dibuat judes.
“Bapak kira bisa pergi begitu saja setelah main gila sama keponakan saya?” tanya Tante Linda sinis.
“Aduh…kan Bapak udah minta maaf, jadi Ibu mau apa dong!” pria itu makin bingung seperti maling yang tertangkap basah.
Aku melihat itu semua dari pinggir pintu kamar mandi, aku tertawa melihat ekspresi culunnya itu, culun-culun tapi bisa gila juga kalau sudah dikasih ‘daging mentah’
“Tolong ke sini Pak!” perintah Tante Linda seraya menjatuhkan pantatnya ke tepi ranjang, “Sini! Berdiri di sini!” sahutnya lagi karena pria itu bengong.
Pak Agus kini berdiri di depan Tante Linda yang duduk di tepi ranjang hanya dengan bercelana kolor.
“Bu… mau ngapain? Eeehhh…jangan Bu” Pak Agus kaget ketika tangan Tante Linda menjamah batang kemaluannya yang masih tersembunyi di balik celana dalamnya, dielusnya selangkangan pria itu dengan lembut.
“Saya minta tanggung jawab Bapak, gara-gara Bapak saya kan jadi horny nih, jadi Bapak harus muasin saya!” kata Tante Linda seraya menurunkan celana dalam Pak Agus sehingga batang kemaluannya yang sudah mulai mengeras lagi terpampang jelas di depan wajah tanteku dan ia mulai menggenggamnya serta mengocoknya pelan.
Pak Agus tidak meneruskan kata-katanya lagi selain melongo lalu mendesah merasakan penisnya dikocok oleh Tante Linda. Tante Linda mulai memainkan lidahnya menjilati penis pria itu. Bukan hanya melakukan service lidah, Tanteku itu mulai memasukkan penis itu ke dalam mulutknya sehingga Pak Agus makin mengelinjang, matanya pun merem-melek dan tangannya mulai meremas rambut tanteku.
Adegan itu berlangsung kira-kira 10 menit dan selama itu aku menontonnya dengan melongokkan kepala dari pintu kamar mandi. Tak sadar, tanganku ke bawah menggosok vaginaku sendiri. Aku merasakan vaginaku sudah berlendir lagi dan mulai serasa berdenyut-denyut ingin ditusuk. Aku pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri mereka di ranjang. Saat itu Tante Linda masih asyik memberi servis oral pada Pak Agus, kudekap tubuh pria itu dari belakang, kugesekkan buah dadaku di punggungnya dan paha kiriku yang mulus ke pahanya.
“Enak ya Pak, hihihi…!” kataku dengan suara mendesah di dekat telinganya
Mata Pak Agus seperti mau copot dan tidak berkedip ketika Tante Linda bangkit berdiri dan mulai melepaskan satu persatu kancing gaun terusannya dengan disertai senyuman menggoda. Tante Linda meloloskan pakaian itu hingga melorot jatuh ke lantai menyisakan bra dan celana dalam krem di baliknya yang membungkus tubuhnya yang masih langsing dan kencang. Karena tubuh kami menempel erat aku dapat merasakan detak jantung Pak Agus yang makin kencang saat Tante Linda membuka bra nya lalu melemparnya ke belakang. Payudaranya yang berputing coklat begitu bulat dan tegak menantang, padahal sudah punya anak dan pernah menyusui, aku jadi sirik dibuatnya apakah setelah punya anak nanti milikku masih sebagus punya tanteku ini. Tante Linda meraih tangan Pak Agus dan meletakkannya pada payudara kirinya.
“Ini yang harus Bapak pertanggungjawabkan, sekarang saya ingin Bapak selesaikan!” katanya
“Aaahhh!” erang Tante Linda begitu menyelesaikan kalimatnya, tanpa disuruh lagi tangan Pak Agus meremas kencang payudaranya dengan gemas.
Tangan pria itu yang satunya mendekap tubuh tanteku dan mendorongnya ke depan sehingga tubuh mereka pun terhempas ke ranjang. Sebentar saja Pak Agus sudah menjilati dan menggerayangi tubuh tante Linda. Slluurrp…ssllrrrppp…terdengar suara seruputan saat pria itu melumat payudara tanteku secara bergantian. Tangan kanan pria itu merayap turun ke bawah menyusup masuk ke balik celana dalam Tante Linda, tampak tangannya itu bergerak-gerak di balik celana dalam itu. Tak ayal, tubuh tanteku pun menggeliat-geliat, tangannya memeluk erat tubuh pria itu. Tangan pria itu kini menarik lepas celana dalam Tante Linda dibantu oleh tanteku yang menggerakkan kakinya. Akhirnya tubuh tanteku itu pun tidak tersisa lagi pakaian apapun, vaginanya tampak masih rapat dengan dihiasi bulu-bulu lebat yang dicukur rapi. Setelah melepaskan pakaian terakhir yang tersisa di tubuh Tante Linda, Pak Agus berlutut dan menaikkan kedua paha Tante Linda ke bahunya ditariknya hingga selangkangan tanteku tepat di mulutnya. Wajah pria itu kini terjepit di antara kedua paha mulus tanteku dan seperti memakan semangka…sslluurrp….ia mulai menjilati dan mengisap vagina tanteku. Desahan erotis pun keluar dari mulut Tante Linda tanpa tertahankan. Aku yang mulai birahi lagi berlutut di lantai berkarpet di pinggir ranjang dan memiringkan sedikit tubuhku dengan bertumpu pada siku, kuraih penis Pak Agus yang nganggur dan mulai kukocok. Kami saling hisap alat kelamin selama kira-kira beberapa belas menit lamanya.
Aku menyuruh Pak Agus berbaring telentang karena masih ingin meneruskan posisi yang tanggung tadi ketika Tante Linda tiba-tiba masuk. Aku pun segera kembali menaiki penis Pak Agus, kupegang benda itu dan kuarahkan ke vaginaku.
“Eeemmmhhh!” lenguhku sambil menurunkan tubuhku hingga penis itu terbenam dalam vaginaku.
“Diterusin Pak jilat-jilatannya!” sahut Tante Linda menaiki wajah Pak Agus dengan posisi berhadapan denganku.
“Ssshhh…Ci…kamu sering ya…eeemmm…gila-gilaan gini?” tanya Tante Linda terengah-engah.
“Iyah…Tante, apalagi….aahhh…waktu jaman kuliah dulu…aaahh!” jawabku sambil menaik-turunkan tubuhku.
“Dasar yah…mmmhhh…anak-anak jaman sekarang…aahhh…aahhh!”
Bibir dan lidah Pak Agus beraksi dengan buasnya di selangkangan tanteku. Yang membuat Tante Linda semakin histeris adalah ketika pria itu menjilat sambil mencucuk-cucukkan jarinya ke liang kenikmatannya. Decakan suara lidah pria itu yang bermain di vagina Tante Linda mengiringi desahan kami yang saling berlomba-lomba mencapai puncak kenikmatan. Sementara itu aku sendiri mulai merasakan kenikmatan dari vaginaku yang terasa semakin peret mencengkram penisnya. Telapak tanganku dan Tante Linda saling genggam erat, mengimbangi kenikmatan dari tusukan penis Pak Agus, aku memagut bibir tanteku itu, mulanya ia seperti kaget menyambut lidahku, tapi perlahan-lahan bibirnya mulai membuka dan ikut memainkan lidahnya bersamaku. Aku memeang tidak pernah membayangkan ber-french kiss dengan tante sendiri, tapi kalau dalam keadaan birahi tinggi begini apa pun bisa terjadi. Kini kami, dua wanita yang berada di atas tubuh pria setengah baya itu, saling bercumbu dan saling meraih buah dada dilanjutkan saling meremas membuat adegan di atas ranjang hotel ini menjadi semakin panas.
“oohh Taantee, saya…saya keluaarr.., oohh enaak, Pak terus sodok ke atas…aahh…aahh saya nggak kuat lagi oohh…enaakk!!”, aku mengerang panjang dengan tubuh mengejang dahsyat.
Sungguh orgasme yang luar biasa, vaginaku berdenyut keras dan cairan kewanitaanku meleleh deras dari dasar liang kenikmatanku. Akhirnya aku pun rebah di samping mereka dengan tubuh bercucuran keringat.
“Ayo Bu, kita lanjutin ngewenya.., Neng Citra istirahat aja dulu!”, sahut Pak Agus.
“Okeh, saya sekarang nonton kalian dulu aja!”, jawabku lemas sambil berbaring memandangi pria itu dan tanteku yang kini dalam posisi dogie siap untuk melanjutkan pergumulan.
Tante Linda bertumpu dengan kedua siku dan lututnya, ia membuka lebar-lebar kedua pahanya mempersilakan Pak Agus memasukkan penisnya ke liang yang sudah becek itu. Desahan mereka mengiringi proses penetrasi itu, tak lama kemudian mereka sudah saling memacu tubuh mereka. Adegan yang mereka lakukan sungguh hot hingga membuat aku terpana menyaksikannya. Goyangan tubuh tanteku yang begitu liar mengimbangi genjotan si tukang parkir itu sementara tangan Pak Agus meremasi payudara tanteku yang menggelanyut, terkadang ia juga meremas dan menepuk pantatnya yang montok. Suara desah nafas yang saling memburu dari keduanya terdengar sangat keras dan terpatah-patah akibat menahan kenikmatan dahsyat dari kemaluan mereka yang beradu keras saling membentur yang menimbulkan bunyi decakan becek. Daerah sekitar kemaluar mereka tampak telah basah oleh cairan kelamin yang terus mengalir dari liang vagina tanteku hingga semakin lama Pak Agus merasakan dinding kemaluan itu semakin licin dan nikmat.
“Gile juga nih bapak, culun-culun tapi kuat juga ternyata”, kataku dalam hati kagum pada stamina pria itu.
Aku dibuat heran melihat keperkasaan Pak Agus dalam bermain seks. Ia masih begitu bersemangat menggoyang tubuh tanteku, seperti tak tergoyahkan oleh lincahnya pinggul Tante Linda yang tak kalah liar. Bahkan liang vagina tanteku yang pernah melahirkan anak saja seperti tak cukup untuk menampung batang penis Pak Agus yang keluar masuk bak rudal. Dalam waktu kurang dari lima belas menit saja mereka bergumul, Tante Linda yang tadinya tampak dominan, sudah tampak tak dapat lagi menguasai jalannya permainan itu. Tubuhnya tergoncang-goncang mengikuti irama goyangan Pak Agus sambil enahan rasa nikmat yang begitu dahsyat dari liang vaginanya yang terdesak oleh penis pria itu.
“Auuhh.., oohh.., mati aku Ci…enaak.., oohh.., Pak…ooh remas terus tetek saya Pak!! Lebih dalem Pak…lebih dalem kontolnya aaahhh!”, erang tanteku tanpa risih berusaha menahan rasa klimaks yang di ambang puncaknya itu.
Setelah merasa tenagaku mulai terkumpul aku mencoba menggerakkan tubuhku, aku turun dari ranjang dan menuangkan air ke gelas lalu meminumnya sekali teguk. Aahhh…segar sekali rasanya.
“Gimana Neng? Udah seger, kalau udah kita ngewe lagi atuh!” sahut Pak Agus sambil tetap menggenjot tanteku.
Hasratku mulai bangkit kembali untuk mencoba lagi kenikmatan dahsyat dari permainan seks liar itu apalagi ajakan Pak Agus yang membuatku merasa tertantang. Tante Linda pun tampak begitu menikmatin hubungan seks itu dengan maksimal sampai sehisteris itu. Aku pun meletakkan gelas di meja lalu berjalan mendekati kedua orang yang tengah bersetubuh itu. Aku naik ke ranjang dan berlutut di sebelah Pak Agus, kudekap tubuh pria itu. Pria itu menyambutku dengan mengulurkan tangannya ke arah vaginaku, dirabanya permukaan vaginaku yang masih basah oleh cairan kelamin.
“Ahhh…Pak!” desahku ketika dua jarinya masuk ke liangku dan mengocok-ngocoknya hingga membuatku semakin birahi.
Aku membalas dengan memagut mulut Pak Agus hingga saling mengadu bibir dan menyedot lidah. Permainan itu memanas lagi oleh teriakan nyaring Tante Linda yang kini terlihat sedang berada menjelang puncak kenikmatannya. Goyang tubuhnya semakin liar dan tak karuan sampai kemudian ia berteriak panjang bersamaan dengan menyemburnya cairan hangat dan kental dari vaginanya.
“Ooouuhh…!!!”, tanteku menjerit panjang dengan tubuh yang tiba-tiba kejang kemudian lemas tak berdaya.
“Wew, masih belum keluar juga dia”, benakku kagum pada Pak Agus setelah berhasil membuat tanteku terkapar dalam kenikmatan.
Aku kemudian berbaring pasrah membiarkan Pak Agus menindih tubuhku. Ia memegangi kemaluannya yang masih tegang dan basah oleh cairan kewanitaan tanteku, lalu dengan perlahan ia tekankan ke dalam liang vaginaku. Kuangkat sebelah kakiku agak ke atas dan menyamping hingga belahan vaginaku lebih mudah dimasuki penisnya. Ia terhenyak dan mendesah panjang saat kembali menghujamkan penisnya masuk melewati dinding vaginaku yang terasa sempit dan basah.
“Ohh.., enaakknya Pak!”, desahku meresapi setiap milimeter pergesekan dinding vaginaku dengan penis pria itu.
Setelah diam sejenak meresapi himpitan vaginaku, ia mulai menggenjot pelan. Kedua kakiku melingkari pinggangnya dan memeluk dengan erat. Tak ayal gaya itu membuatku makin menggelinjang menahan nikmatnya penis Pak Agus yang terasa lebih dalam masuk dan membentur dasar liang vaginaku yang terdalam. Aku menggoyangkan pantat mengimbangi kenikmatan dari hujaman-hujaman pria itu yang kian menghantam keras ke arahku. Penisnya yang keras itu benar-benar memberi sejuta sensasi rasa yang beda dari yang lain. Kenikmatan dahsyat itu yang membuatku lupa diri dan berteriak seperti binatang disembelih.
Aku meliuk-liukan tubuhku karena kenikmatan dari genjotan pria itu. Sesekali tangan pria itu meremasi buah dadaku bibir kami berpagutan dengan liar. Setelah bosan dengan posisi itu, ia bangkit berlutut di antara kedua pahaku, dengan berpegangan pada kedua pahaku ia teruskan menyodok-nyodokkan penisnya ke vaginaku. Beberapa saat lamanya aku disetubuhi dalam posisi demikian, lalu kulihat Tante Linda menggeser tubuh telanjangnya ke sebelahku.
“Asik juga yah Ci, sekali-kali main gila gini” katanya tersenyum.
Lalu ia menundukkan kepala ke arah dadaku dan mulutnya menangkap puting kananku. Aaahhh…aku makin menggelinjang dengan bertambahnya rangsangan ini. Tante Linda melumat payudaraku secara bergantian dan juga meremas serta memilin-milin putingnya. Sungguh tak kusangka aku terlibat threesome dengan tante sendiri. Mulut Tante Linda lalu bergerak ke atas menciumi pundak dan leherku, hingga akhirnya bibir kami bertemu lagi. Aku memeluk tanteku dan beradu lidah dengan penuh gairah dengannya.
“Eeemmhhh!” tiba-tiba Tante Linda mendesah tertahan di tengah percumbuannya denganku, matanya juga membelalak.
Aku memilihat ke arah sana, ternyata Pak Agus mencucukkan jarinya ke vagina tanteku ini. Sambil terus menggenjot vaginaku, tangannya kini aktif mengerjai vagina Tante Linda. Kami melanjutkan percumbuan kami hingga lima menit ke depan, mulut kami saling berpisah dengan air liur bertautan. Tante Linda nungging di sampingku dan entah mengapa aku juga mengikutinya nungging seolah bersaing minta ditusuk pria itu. Tante Linda mengerang nikmat saat Pak Agus memasukkan penisnya, setelah lima menitan menggenjot tanteku, ia mencabut penisnya dan pindah ke vaginaku. Demikian ia menggilir vagina kami, dari satu vagina ke vagina lainnya, entah apa dia bisa merasakan perbedaan antara vagina kami. Desahanku saling bersautan dengan desahan Tante Linda terkadang diselingi jerit kenikmatan darinya, aku terpengaruh hingga ikutan mendesah keras. Mungkin lebih dari setengah jam Pak Agus merasakan nikmat tubuhku dan istrinya secara simultan, hingga akhirnya sampailah kami di puncak kenikmatan. Akulah yang paling awal keluar, mulutku menjerit bebas lepas tanpa beban. Kemudian pria itu beralih ke tanteku. Dia mengocok Tante Linda dengan lebih bertenaga seolah berpacu menuju puncak. Tampak wajahnya menegang dan keringatnya bercucuran pertanda ia pun akan segera keluar. Tak lama kemudian Tante Linda pun orgasme, sebuah teriakan keluar dari mulutnya, ya…teriakan orgasme yang tak tertahankan, kuharap tidak sampai terdengar ke kamar sebelah. Ia meremas tanganku merasakan kenikmatan itu. Dalam waktu berdekatan tiba tiba Pak Agus pun melenguh panjang. Ia memegangi kedua lengan tanteku dan memacu tubuhnya lebih keras seperti menaiki seekor kuda saja.
”Ooohhh Bu…saya mau ngecrot nih…ooh goyang yang keras…oohh goyang terus Bu…oohh memeknya legit banget.., oohh uenaakkk…oohh”, pria itu menceracau tak karuan meresapi kenikmatan tubuh tanteku.
Ingin merasakan semprotan spermanya pada mulutku, aku pun lalu bangkit dan memeluk tubuh Pak Agus dari belakang.
“Cabut Pak…sini keluarin di mulut saya, saya mau minum peju bapak”, kataku
“Beres Neng…oohh.., diminum ya.., oohh”, lenguh pria itu sambil berdiri di ranjang
Aku berlutut di hadapannya meraih penisnya dan mengocokinya. Tante Linda juga ikut berlutut di sebelahku. Tidak sampai semenit penis itu sudah menyemprotkan spermanya. Ada mungkin delapan kali penis itu menyemprotkan cairan putih kental ke mulut kami yang menganga dan membasahi wajah kami. Aku meraih batang penis itu dan mengocokkannya dalam mulut sehingga seluruh sisa cairan spermanya itu kutelan habis.
“Tante juga bagi dong!” sahut Tante Linda menarik penis yang masih kuhisap dengan mulutku lalu memasukkannya ke mulutnya. Akhirnya tergapai juga puncak kenikmatan tertinggi itu. Kami bertiga pun terkapar lemas dan tak sanggup lagi melanjutkan permainan itu. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara nafas naik turun. Setelah mengumbar nafsu birahi sampai puas kami pun tertidur kelelahan tanpa seutas benang pun di tubuh kami. Sebelum terlelap aku masih sempat mengatur alarm di BB ku agar bangun untuk bersiap pulang nanti. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi, kulihat waktu telah menunjukkan pukul 4 lebih. Untungnya tadi siang aku sudah beres-beres sebagian barang sehingga tidak terlalu buru-buru lagi sekarang. Aku hanya menemukan diriku sendirian di ranjang, Tante Linda dan Pak Agus pasti di kamar mandi karena terdengar kucuran shower dari sana. Seperti biasa sehabis bercinta, aku ke kamar mandi membersihkan tubuhku, sebelumnya aku minum dulu segelas air. Semakin mendekati kamar mandi yang pintunya tidak ditutup itu semakin terdengar suara desahan. Benar saja, aku menemukan Pak Agus sedang menyetubuhi tanteku dalam posisi berdiri berhadapan. Tante Linda bersandar pada tembok dengan kaki kiri diangkat oleh pria itu yang merojok-rojokkan penisnya ke vaginanya. Air shower yang hangat terus mengucur membasahi tubuh keduanya.
“Hai Ci!” sapa Tante Linda yang pertama melihatku.
Aku balas menyapa sambil berjalan ke arah shower, kusiram tubuhku dengan air hangat menghilangkan keringat yang menempel di tubuhku. Mereka masih terus bersetubuh sementara aku mandi. Aku menyelesaikan mandiku yang cukup singkat bersamaan dengan keduanya mencapai orgasme. Pak Agus mendekap tubuhku dari belakang tapi tidak sampai bersetubuh lagi karena sudah lelah hari ini. Setelah yakin semua telah beres, kami pun bersiap check out dari hotel ini. Sebelumnya Pak Agus keluar terlebih dahulu agar tidak mengundang perhatian. Jarak stasiun KA dengan hotel tidak jauh, hanya 15 menit saja kami tiba di stasiun. Dalam perjalanan pulang kami banyak mengobrol tentang kesan-kesan permainan seks tadi itu. Sejak itu aku semakin akrab dengan tanteku ini, ia bercerita bahwa ia pun sebenarnya masih melakukan hubungan seks dengan mantan suaminya bila bertemu untuk mengantar anaknya bertemu, tapi hanya sebatas seks, tak ada niatan untuk rujuk karena ketidakcocokan keduanya terlalu tajam. Menjelang malam kami pun tertidur di kereta, selamat tinggal Bandung yang memberi kenangan dalam kehidupan seksku!
****************



© Karya Andani Citra




Diantara empat sekawan geng-ku mungkin yang belum banyak diketahui pembaca adalah Ratna, aku memang belum sempat menuliskan pengalaman-pengalaman kami bersamanya. Ratna ini orangnya paling kalem diantara kami, juga paling pintar dalam pelajaran. Dibanding kami bertiga yang masih sendiri atau sering gonta-ganti pacar, perjalanan cintanya adalah yang paling mulus, cowoknya seorang liberal sehingga sehingga membiarkannya bebas bertualang dengan cowok lain, asalkan hatinya tetap untuknya, begitu kata cowoknya yang juga pernah terlibat ML denganku itu.
Dia mempunyai tubuh langsing dengan payudara sedang, berambut hitam sebahu. Wajahnya bersih serta bermata bening dan berbibir indah, membuat setiap pria terkesima oleh pesonanya. Karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya, kebersamaannya denganku lebih sedikit dibanding dua temanku lainnya.
Hari itu kami rencananya akan clubbing, sebelumnya aku harus menjemput Ratna dulu di rumahnya baru ke rumah Verna yang tidak terlalu jauh dari sana, barulah berangkat bareng dengan mobilnya Verna. Aku sampai ke rumah Ratna terlalu pagi agaknya, baru jam setengah delapan malam. Setiba di sana aku disambut mamanya yang mengatakan kalau Ratna sedang mandi, beliau mempersilakanku langsung saja ke kamarnya di lantai tiga.
“Hai, Ci, masuk aja dulu, gua belum beres nih!” ajaknya saat membuka pintu.
Jelas sekali dia baru mandi karena rambutnya basah dan cuma memakai handuk hijau yang melilit di tubuhnya.
“Walah, lu baru mandi lu malam gini!” kataku.

“Hehehe.. Tadi ketiduran lama abis nonton film, ya sekalian isi tenaga buat nanti lah!” jawabnya.
Dia duduk di ranjang dan mengoleskan body lotion pada pahanya, dipersilahkannya aku duduk di sebelahnya. Kuperhatikan tubuh montoknya yang cuma terbalut handuk dengan kulit putih mulus, kaki kanannya yang sedang diolesi lotion ditekuk sehingga memancarkan keindahannya.
“Ikutan Amway (salah satu usaha MLM) lu Na? Bukannya biasa lu pake Bodyshop?” tanyaku merujuk pada body lotion itu.
“Nggak, itu saudara gua nawar-nawarin terus sih, jadi aja gua beli deh, lumayan mahal loh!”
“Bagus nggak tapi?”
“Ya gitulah, kata gua sih nggak beda jauh, cuma bantuin saudara gua nambah poin aja sih,” jawabnya, “Nih.. Coba aja sama lu sini!” seraya menawarkannya padaku
Aku menjulurkan telapak tangan menerima sedikit cairan itu, lantas kuoleskan pada lengan dan betisku yang terbuka karena saat itu memakai celana jeans ketat sepanjang lutut.
“Ci, bisa tolong gosokin ke punggung sekalian nggak?” pintanya sambil melepas handuk yang membelit tubuhnya sehingga terlihatlah tubuh telanjang dibaliknya.
Ratna merebahkan tubuhnya tengkurap dan menaruh kepalanya pada kedua lengannya yang dilipat. Mulailah aku menggosok punggungnya, perlahan sambil memijat. Dia senyum-senyum kecil sambil dan memuji pijatanku yang katanya enak dan lembut.
“Eemmhh.. Enak Ci, kaya di salon aja, lu emang bakat mijat deh!”
“Enak aja.. Gua disamain tukang pijat, iihh!” kataku sambil menepuk pelan pantat montoknya.
“Aw.. Genit ah lu, tepuk-tepuk pantat segala” sambil tertawa cekikikan.
Mumpung tanganku sudah mendarat di pantatnya dan cairan itu masih tersisa sedikit ditanganku, akupun sekalian memijati pantatnya.
“Disini sekalian dioles juga yah, tanggung nih dikit lagi, sayang kan mahal-mahal mubazir” saranku yang lalu diiyakannya.
Ketika mengurut bongkahan pantatnya terdengar olehku dia mendesis pelan dan tubuhnya sedikit bergetar. Melihat reaksinya, iseng-iseng aku menyusupkan tanganku ke paha dalam lalu merambat perlahan ke pangkalnya.
“Oohh.. Ci!!” desisnya makin jelas begitu daerah sensitif itu kusentuh.
Entah secara disadari atau tidak, dia merenggangkan kedua pahanya seolah minta lebih. Karena dia menikmati yang kulakukan, akupun mulai horny dan terdorong meneruskan lebih jauh lagi.
Pinggiran vaginanya kuusapi dan sedikit demi sedikit jari tengah dan telunjukku mulai masuk ke lubang kemaluannya. Jempolku kususupi ke anusnya diiringi desahannya, oohh..! Baik aku maupun dia makin terangsang saja dengan suasana seperti ini. Tanganku yang sudah basah oleh body lotion jadi tambah basah bercampur dengan air kewanitaan Ratna. Sekitar sepuluh menit jari-jariku bermain pada anus dan vaginanya hingga akhirnya dia menggelinjang dan mendesah mencapai orgasmenya. Dua menit kemudian dia bangkit duduk di ranjang dan menatapku dengan senyum manis.
“Ok, sekarang giliran lu Ci” katanya.
Akupun mulai melepas tank-top dan BH-ku sehingga aku topless sekarang.
“Wah, tambah seksi aja lu Ci” sahutnya sambil memencet payudaraku.
“Sama lu juga, pantesan si Samuel betah sama lu” jawabku sambil balas mencubit putingnya.
Kami saling meraba payudara, pelan-pelan wajah kami semakin dekat, hidungku bertemu hidungnya. Hembusan nafas Ratna yang sudah memburu terasa di wajahku. Kulingkarkan tanganku pada lehernya dan bibir kami mulai saling mendekat hingga bertemu.
Aku mengeluarkan lidah menjilati bibirnya, dia juga ikut mengeluarkan lidahnya membalas perbuatanku. Lidah kami menari-nari dalam mulut pasangan masing-masing. Tangannya yang lembut membelai punggungku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Demikian pula halnya tanganku turut mengelus punggungnya, sementara tangan kananku meremas payudaranya sambil memilin-milin putingnya, puting itu makin mengeras karena terus kumain-mainkan. Tanpa melepas ciuman, kudorong tubuhku de depan sehingga menindihnya. Ciuman kami semakin hot seiring dengan gairah yang makin membara dalam diri kami. Suara-suara kecupan bercampur dengan erangan tertahan dan nafas kami yang makin menderu.
Tiba-tiba Ratna mendorong tubuhku dan berguling ke samping, kini posisi kami bertukar menjadi dia yang menindihku. Tangannya dengan sigap membuka sabukku dan memerosotkan celanaku berserta celana dalam dibaliknya. Aku turut menggerakkan kakiku membantu celana itu lepas dari tubuhku. Ratna melemparkan celana dan celana dalamku ke kursi rias yang tak jauh dari sini. Kembali dia menindihku hingga payudara kami saling menghimpit. Setengah menit kami berpelukan erat dengan mata saling tatap, kemudian kurasakan suatu gesekan pada bibir vaginaku yang membuatku mendesah secara refleks.
Ternyata Ratna mengelus vaginaku dengan pahanya. Aku membuka pahaku lebih lebar agar klitorisku juga merasakan belaian lembut itu. Gesekan itu membuatku menggelinjang, belum lagi sekarang Ratna sudah mulai menciumi telingaku. Hembusan nafas ditambah permainan lidahnya pada lubang dan daun telingaku menghanyutkanku lebih dalam.
“Eemmhh.. Nana.. Mm!” desahku dengan mata terpejam.
“Servis gua ok kan” katanya berbisik di telingaku.
Ciumannya merambat turun ke leherku, ssrr.. Lidahnya menyapu telak leher jenjangku disusul gigitan pelan dan cupangan yang dilakukannya dengan lembut dan mesra. Tangan kirinya menangkap payudaraku dan meremasnya lembut, jari-jarinya yang lentik menyentil-nyentil putingku hingga membuatnya makin tegang. Dari leher mulutnya turun lagi ke dadaku, lidahnya menjilati putingku yang kanan sementara tangan kirinya tetap memijat payudara kiriku.
“Terus Na.. Give me more!” kataku sambil menekan kepalanya karena tidak puas hanya dengan dijilati saja.
Tubuhku bergetar hebat merasakan payudaraku dikenyot dan diremas olehnya.
Tangan kanannya kini bercokol di kemaluanku menggantikan pahanya, jarinya membelai lembut diantara kerimbunan bulu-bulu kemaluanku. Dua jari lainnya masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding vaginaku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan titik rangsangan itu, semakin gencarlah dia memainkan benda itu sehingga tubuhku makin tak terkendali dengan mendesah dan menggeliat-geliat. Butir-butir keringat seperti embun sudah membasahi dahiku dan wajahku makin merah menandakan betapa terangsangnya aku. Kugerakkan tanganku ke bawah meraih payudaranya dan meremasinya sebagai respon perbuatannya.
Jilatan Ratna turun lagi ke pusar yang dia jilati sebentar membuatku tertawa kecil karena geli, kemudian turun lagi mencapai vaginaku. Diperhatikannya sejenak kemaluanku sambil mengelus bulunya yang lebat. Kedua jarinya membuka bibir vaginaku sehingga udara dingin dari AC menerpanya. Darahku makin bergolak ketika dia mulai membenamkan wajahnya ke daerah itu. Aahh.. Desisku begitu lidahnya menyentuh bibir vaginaku.
“Na.. Eenngghh.. Di situ.. Terus!” aku menggeliat merasakan lidah Ratna bergerak liar seperti ular merangsang setiap titik peka pada vaginaku. Sebagai seorang wanita, dia tahu betul bagaimana memanjakan tubuh wanita secara seksual.
Aku sungguh menikmati permainan oralnya. Kedua pahaku merapat mengapit kepalanya menahan rasa geli. Otomatis pinggulku ikut bergoyang akibat rangsangan itu, Ratna memegangi pinggulku untuk menahan guncangan agar tak terlalu keras. Birahiku pun makin memuncak yang berakibat tubuhku menggelinjang hebat. Akhirnya sebuah erangan panjang menandai orgasmeku, tubuhku mengejang dengan tangan kiri meremas payudaraku sendiri dan tangan kananku menekan kepalanya lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku merasakan vaginaku dihisap-hisap kuat olehnya, melahap setiap tetes cairan yang terus mengalir dari sana.
“Oohh.. Nana.. Bitch.. Aahh.. Akh!” erangku dengan mata merem-melek sambil meremas rambutnya.
Lalu Ratna pun mengangkat wajahnya dan kembali naik ke tubuhku, pada mulutnya yang belepotan cairan kewanitaanku itu tersungging sebuah senyum.
“Love it?” tanyanya dekat wajahku.
Aku cuma mengangguk dengan nafas masih kacau. Diciumnya bibirku dan kubalas dengan tak kalah bernafsu. Aroma vaginaku masih terasa tajam pada mulutnya, kami ber-French kiss sambil menikmati sisa-sisa cairan kemaluanku.
Setelah tenagaku terkumpul aku mencoba membalikkan tubuhnya hingga dia telentang di sebelahku. Kubelai rambut dan wajahnya sambil mendekatkan wajahku padanya. Putingnya yang terjepit diantara jariku kupencet dan kuplintir menyebabkan dia mendesah, saat itulah aku mencium bibirnya yang terbuka. Lidahnya kukulum dalam mulutku sambil menggerayangi payudaranya. Ratna menggeliat-geliat saat lehernya merasakan jilatan dan cupanganku, di saat yang sama tanganku sibuk memilin-milin kedua putingnya yang sudah keras. Dalam keadaan birahi tinggi seperti itu secara tidak sengaja, tangannya yang tadinya cuma mengelus punggung, tiba-tiba mencakarku.
“Aduh-duh.. Hati-hati dong Na, sakit tau, udah tau kuku panjang gitu!” protesku.
“Eehh.. Sory Ci, sory banget, habis lagi tegangan tinggi sih, cuma lecet dikit kan nggak akan berbekas!”
“Awas ya, gua bales nih!” puting kanannya kugigit agak keras sambil meremas payudaranya.
“Aakkhh.. Ci.. Pelan-pelan!” erangnya dengan tubuh mengejang.
Erangannya justru membuatku makin bergairah mengenyot kedua payudaranya secara bergantian. Selanjutnya aku mulai melakukan mandi kucing terhadapnya. Leher dan pundaknya kusapu dengan lidah, kedua tangannya kurentangkan ke atas sehingga aku bisa menjilati ketiaknya yang bebas bulu.
“Oohh.. Ampun Ci.. Geli..!” desahnya bercampur tawa kegelian, tubuhnya pun terhentak-hentak.
Aku terus menjilati ke bagian dada, perut, hingga sampai pada kemaluannya. Bulu-bulunya agak jarang, tidak selebat milikku, serta bentuknya dicukur rapih. Tanpa buang waktu lagi aku langsung menjilati belahannya dan menggesek-gesek klitorisnya dengan jariku, perbuatanku ini spontan membuatnya menggelinjang hebat.
“Aahh.. Gila.. Uuhh.. Uhh.. Disitu enak Ci!” demikian desah Ratna.
Lidahku menyusup lebih dalam menjilati dinding kemaluan dan klitorisnya, semakin kujilat semakin basah daerah itu. Klitorisnya kutangkap dengan mulut dan kuhisap sehingga pemiliknya makin berkelejotan tak karuan.
“Ci.. Citra, udah.. Gua keluar!” erangnya lebih panjang seiring dengan mengejangnya tubuhnya.
Cairan yang keluar dari kemaluannya semakin banyak serta merta kujilati dengan nikmat.
Ratna kembali melemas sementara aku masih saja menjilati tubuhnya sampai 2-3 menit ke depan. Akhirnya kamipun tergolek bersebelahan, beristirahat sejenak dengan obrolan dan canda ringan. Tiba-tiba HP Ratna berbunyi.
“Iya-iya, ntar lagi kita berangkat kok.. Udah Citra dah datang dari tadi, tunggu ya!” kata Ratna menjawab HP-nya.
“Verna tuh, udah ngomel-ngomel, yuk siap-siap!” katanya lagi setelah menutup HP.
Kamipun bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan handuk basah. Ratna berdandan dengan terburu-buru sampai hampir lupa meresleting bajunya.
“Ya ampun Na, dari tadi pintu nggak dikunci yah, gimana kalo ada yang kesini?” seruku ketika mau membuka pintu.
“Ups, lupa.. Heheh.. Rasanya sih nggak, cuma ada nyokap di bawah, untung si Vina (adiknya) lagi keluar, yuk let’s go!” dia menarik lenganku dan melangkah ke bawah dengan cepat.
Setelah pamitan pada mamanya, kamipun berangkat untuk menikmati hiburan malam.



© Karya Andani Citra




Hai, aku kembali menceritakan pengalaman seksku. Sebelumnya saya pernah menceritakan pengalamanku dalam kisah ‘Tukang Air, Listrik, dan Bangunan’.
Aku adalah seorang mahasiswi yang memiliki nafsu seks yang cukup tinggi. Sejak keperawananku hilang di SMA aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Kalau dipikir-pikir entah sudah berapa orang yang menikmati tubuhku ini, sudah berapa penis yang pernah masuk ke vaginaku ini, aku juga sangat menikmati nge-seks dengan orang yang belum pernah aku kenal dan namanya pun belum aku tahu seperti para tukang yang pernah aku ceritakan pada kisah terdahulu.
Suatu siang yang panas, kulihat seorang pengemis didepan rumahku sedang berteduh dari teriknya matahari yg panas. saat itu dirumah tidak ada siapapun, ibuku sedang keluar kota, ayahku selalu pulang malam hari, dan si bibi sedang pulang kampung karena saat itu sudah dekat Lebaran. Karena kasihan, aku berjalan kepagar depan dan kubuka pintu pagarnya. kupanggil dia untuk masuk ‘pak, ..pak.., mari masuk sini pak, diluar panas sekali loh..’ dia menoleh kearah suaraku, setelah kuperhatikan, ternyata dia buta. Jadi tambah iba aku padanya. ‘mari pak, aku tuntun masuk ya..’ kutuntun dia untuk masuk kedalam, ‘terima kasih ya nak..’
Perawakannya kurus, kotor dan bau. Dia hanya menggunakan sarung yg udah butut dan baju yg compang-camping, tangannya selalu memegang tongkat kayu dari potongan ranting pohon.
Sesampai didalam, kududukkan dia ruang tamu dan kuambilkan segelas air minum yg dingin, dia cepat-2x meminumnya. Pada saat duduk, posisi kakinya agak terbuka, sekilas kulihat penisnya yg terjulai lemas diantara kedua pahanya, meskipun sedang terkulai lemas tapi kulihat lumayan besar dan panjang juga. Langsung jantungku berdegub sedikit lebih kencang dari biasanya.
Otakku mulai berpikir yg jorok-2x, gimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dicicipinya dan aku juga dapat merasakan penisnya. Aku belum pernah merasakan bercinta dengan seorang pengemis tua yg buta, pasti nikmat bila rasanya.
Aku mulai memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan kesempatan itu. Aku iseng-2x bertanya padanya, ‘ Kapan terakhir mandi, pak? Bapak mau mandi disini? nanti setelah mandi aku beri pakaian bekas yg lebih baik, mau kan pak?’,'wah ya mau dong non..tapi apa nggak ngerepotin? ‘ tanyanya ragu. ‘tenang aja
pak, disini nggak ada siapa-2x koq, cuma aku dan bapak di rumah ini. nggak apa-2x, ayo sini aku bantu ya..’ jelasku.
Aku bimbing dia menuju ke kamar mandi tamu, kupeluk dia, dan kubimbing dia, tangannya kuletakkan di bahuku. Secara tak sengaja tangannya tersentuh buah dadaku yg gempal, tanpa BH. kulihat reaksinya, dia diam aja, juga tidak berusaha menjauhkan tangannya yg tersentuh susuku. Sambil berjalan dia bertanya padaku, ‘non ini umur berapa, koq rasanya sudah dewasa?’, ‘aku baru berusia 21 thn, pak. kenapa?’ tanyaku, ‘oh nggak, nggak apa-2x koq’ jawabnya. Aku bertanya lagi, penasaran, ‘ kenapa sih pak, koq tanya gitu? bapak ngomong gitu karena ..susuku gede yahh..’. ‘ I.. iya..’ jawabnya tersipu malu.
Sesampai didalam kamar mandi tamu, aku tutup pintu dari dalam dan berkata ‘saya bantu ya pak, bapak pasti nggak bisa mandi sendiri, kan bapak nggak tahu tempat-2x nya’, ‘tapi.., tapi.., non kan.., ahh.., nggak usah deh, non kan perempuan,..nggak baik non..’ jawabnya gugup karena tidak menyangka aku bakal menawarkan itu. ‘ah, nggak apa-2x pak, anggap aja aku ini cucu bapak yg sedang membantu bapak mandi. lagipula, nggak ada orang lain dirumah ini koq pak.., tenang aja..’ tegas ku. Tanpa menunggu jawabannya lagi, aku bantu dia mencopoti bajunya yg compang-camping, dan sarungnya yg butut. Tubuhnya benar-2x kurus kering, kecuali penisnya yg masih terlihat besar, meskipun agak kotor dan terjulai lemas. maklum, mana ada pengemis punya waktu untuk mandi setiap hari, apalagi mencuci bagian itunya. Dia diam aja, sambil menutupi penisnya, dia menduga-2x apa yg bakal kuperbuat. aku bertanya padanya ‘ kenapa koq ditutupin pak.., malu ama aku yaah..? hihihi..nggak usah malu pak! .., aku udah biasa liat kontol koq paak..’, setelah itu kulepas bajuku sendiri, sambil berdiri didepannya aku meremas-2x susuku dan menggosok-2x kemaluanku dengan bernafsu, sayang dia nggak bisa lihat tubuhku ini, pikirku.

Kupasang shower dan air mengucur dengan lembut ke tubuhnya dan tubuhku, setelah itu kubantu dia menggosok tubuhnya dengan sabun wangi, tubuhnya kelihatan lebih bersih dari tadi, dan baunya juga sudah tidak menyengat lagi. Dengan tidak sabar kugosok penisnya yg masih terjulai lemas itu, dia berkata
‘ah.., ah.. non, yg situ nggak usah non..biar aku sendiri aja..’ katanya malu. ‘nggak apa-2x pak, aku udah biasa koq, bapak nggak perlu malu sama aku, kan udah aku bilang, anggap aja aku ini cucumu yg sedang bantu bapak mandi.’ desakku tambah bernafsu setelah penis itu dalam genggaman tanganku. ‘wah, non
ini baik sekali, gimana caranya aku bisa balas budi baik non, aku nggak punya apa-2x untuk membalas perbuatan non yg mulia ini’ katanya,’balasannya gampang pak, aku pengen bapak memijiti dan menggosoki ..seluruh tubuhku, bapak diam aja, nanti aku kasih sesuatu yg paling enak deh.., kutanggung bapak pasti nggak pernah dapet dimanapun dan kapanpun’ jawabku enteng. ‘baik non, bilang aja bapak harus apa dan gimana’ kelihatannya dia udah tahu apa yg kuingini. dia kelihatannya mulai berpikir yg tidak-tidak.
Kubimbing kedua tangannya ke susu ku dan kuremaskan tangannya ke susu ku yg montok itu, 34B. Dia kaget banget setelah merasakan tangannya meremas suatu gumpalan daging yg padat, kencang dan halus, ‘hhmm.., susu non sungguh besar, sudah lama bapak tidak merasakan ini, hmm..sungguh gempal dan padat, kencang sekali susumu..’, ‘eh, non koq mau berbuat begini padaku? aku kan hanya seorang pengemis kotor, udah tua, buta lagi.., aku.. nggak ngerti non..’ tanyanya bingung. jawabku ‘ah.., bapak nggak usah ragu.., aku memang suka melakukan ini kepada orang yg belum pernah kukenal, aku pengen mencicipi kontol orang-2x kaya’ bapak ini. bapak mau kan melayaniku, aku ingin bapak puaskan nafsuku ini, aku ingin kontol bapak di mulutku, dimemekku..’, jawabku terengah-2x dilanda nafsu yg tambah membara.
sambil merem melek aku menikmati susuku diremas-remas dan sesekali putingku dicubit atau diplintir olehnya, sementara tangan satunya mulai turun meraba-raba kemaluanku yang berbulu tipis. Tanganku sendiri mengocok-2x penisnya yg masih terjulai lemas, kupikir, wah ini kontol kelihatannya harus pakai extra service baru bisa ngaceng, nih. ‘wah, kontol bapak koq masih lemas sih.., biar kumasukkan mulutku, kujilati dan kuhisap, ya pak..’ dia mandah aja sambil mulutnya terbuka, menanti pengalaman yg mungkin belum pernah dia dapatkan.
sambil tangannya meremas kedua susuku, aku jongkok didepan selangkangannya, ku genggam penisnya yg masih lemas, ku jilati mulai dari kepala penisnya, turun ke buah pelernya, kembali kebatang penisnya, kujilati terus sampai naik kekepala penisnya lagi, lalu kumasukkan penis itu kemulutku yg mungil. Dia
mulai bereaksi, ‘eenngghh..mmhh..’, dia mulai melenguh lemah, senjatanya mulai mengeras, terangsang oleh jilatanku. Masih belum keras, kusedot-sedot sambil ku keluar masukkan dimulutku, kukombinasi dengan menyedot buah pelernya, lama kelamaan benda itu semakin bertambah keras saja. Nah, ini dia, pikirku.’pak, coba kau jilatin susuku pak, cicipi tubuhku ini, nikmati tubuhku yg masih muda ini, kapan lagi bapak bisa menikmati tubuh seorang gadis muda seperti saya ini. jilati pentilku, sedot seluruh susuku. perbuat tubuhku sesukamu, pak’ kataku menahan nafsu.
Sungguh luar biasa, sambil meraba-raba, dia melakukan semuanya. Sungguh gila pikirku, koq bisa aku melakukan ini dengan seorang pengemis tua, buta pula. tapi, memikirkan hal ini membuat ku makin terangsang berat. Dia menjilati putingku dengan nafsu, disedotnya susuku dengan mulutnya yg
kempong krn giginya udah ompong semua. nikmat sekali rasanya, geli banget, ternyata enak juga kalo susu disedot dan dikulum oleh mulut yg ompong, coba kalian rasakan sendiri, deh.
Puncaknya, aku sudah tak tahan lagi, kusuruh dia berbaring telentang dilantai kamar mandi, aku jongkok diatas tubuhnya dan berusaha memasukkan penisnya yg sudah mengeras itu ke lubang vaginaku dari atas. kubimbing penisnya memasuki kemaluanku, aku menduduki senjatanya, dan..’sslluupp..’, benda itu langsung menancap dalam-dalam divaginaku, ‘rasakan nikmatnya ..memekku yg sempit ini.., pak’ ujarku tersendat-sendat menahan kenikmatan yg luar biasa. amblas masuk semua kontolnya ke memekku. ‘nngghh..aakkhh.., aduh sempit sekali memekmu non, sampai sulit masuknya..hhgghh.. adduuhh enaknnyyaa..nnoohh’ ‘Mmmhh..aakkhh..aahh..!!’ aku sendiri berteriak karena penisnya ternyata besar juga untuk vaginaku, benar-benar kunikmati gesekan-gesekan pada dinding kemaluanku.
Tubuhku mulai naik-turun diatas tubuhnya yg telentang itu, penisnya menghujam-hujam keluar masuk vaginaku. tangannya meremas-remas susuku, satunya lagi kadang memegangi bahuku, mengelus tubuhku, menjambak rambut panjangku. Lenguhannya keras sekali, dan parau suaranya ‘hhkk..aahhkk..ahh, enakk sekaalliihh noon..’ serunya.
Aku semakin menikmati persetubuhan lain jenis ini, persetubuhan yang sangat mencolok, lain kalangan, lain status sosial, dan lain usia. Aku tak bisa membayangka bila kedua ortu-ku melihat ini, dikamar mandi, anak gadis satu-satunya, yg semata wayang ini sedang bersetubuh dengan seorang pengemis yg sudah tua,
mungkin aku bisa dibunuh mereka apabila ketahuan.
Aku tak puas menggoyang pantatku, aku mengajaknya ganti posisi, dia diatas, aku dibawah, telentang dengan kedua kakiku terbuka lebar, aku ditindihnya, penisnya tetap keluar masuk dengan nikmatnya. Lidahnya tak henti2nya menjilatiku dan sesampainya dibibir, dia langsung melumat bibirku, lidahku dikulum olehnya lalu dikecupnya bibirku membuatku tidak tahan untuk membalas perlakuannya, aku sudah tidak peduli oleh bau nafasnya yang tidak sedap itu. Sambil disetubuhi aku terlibat permainan mulut dan lidah selama beberapa saat dengannya.
Beberapa saat kemudian, aku ajak ganti posisi lagi, aku menungging seperti anjing sambil berpegangan pada tepi wastafel dan dia menggenjotku dari belakang, persis seperti anjing yg sedang kawin. Nikmat sekali posisi ini, pikirku. Wah, kuat juga nih orang tua pikirku. Baru berpikir begitu, mendadak aku merasakan gejolak luar biasa yg nggak bisa aku tahan, aku mau keluar, eh, ternyata dia juga mulai bergetar tubuhnya, dia melenguh-lenguh lebih cepat, ‘oh..ookkhh..akuuhh maauu.. keluuaarr nnoonnhh..akkuu..nggaakk ttaahhaann..laaggiihh..aakkhh..’, dia berteriak kesetanan dan genjotannya makin bertambah cepat. ‘mmhh..aakkuu juuggaa ppaakk.. mmhh..eeh. eekkhh..’ aku pun mencapai orgasme bersamaan dengannya. aku merasa pejuhnya meluncur deras dalam vaginaku.
Kemaluanku penuh dengan pejuh seorang pengemis tua itu sampai sebagian meleleh keluar karena terlalu banyak yang keluar. Aku tak tahu andaikata aku hamil dan punya anak, aku pasti bingung siapa si bapaknya, habis begitu banyak penis yg pernah menancap divaginaku dan begitu banyak pejuh yg pernah keluar didalamnya.
Setelah itu, kami membersihkan tubuh dari sisa-sisa persetubuhan barusan, dan mengeringkan dengan handuk bersih. dia berkata seraya pamit, ‘terima kasih non.., atas segalanya.., non bener, aku nggak pernah merasakan seperti ini, seumur hidupku akan kukenang peristiwa ini sampai akhir hayatku’. Kemudian dia pun kutuntun keluar dari rumahku yg besar. pikirku, sudah cukup aku menikmati persetubuhan ini. Dia keluar dengan wajah berseri, puas dengan apa yang baru saja dialaminya.
TAMAT
###########################



© Karya Andani Citra




Ini adalah pengalamanku tahun 2002 lalu yang ingin kubagikan pada para pembaca. Aku mempunyai seorang teman kuliah cowok bernama Felix. Sedikit gambaran tentang dirinya, tidak terlalu tinggi, hampir sepantaranku, berkacamata dan pipinya agak tembem dengan kulit sawo matang. Wajah sih tidak termasuk ganteng, malah cenderung culun apalagi dengan kacamata bingkai tebalnya itu. Sifatnya juga tertutup dan kuper, tidak biasa gaul dengan cewek, kalau bertemu di perpustakaan, kantin atau di areal kampus lainnya pasti sendirian atau minimal bersama 1-2 temannya yang cowok. Dia berasal dari Padang dan nge-kost di di sekitar kampus ini. Karakternya yang unik ini membuatku ingin mengerjainya, aku ingin tahu apa orang seintrovert itu akan luluh oleh godaan wanita penuh gairah sepertiku.
Dalam prestasi dia memang biasa-biasa saja, IPK-ku saja lebih tinggi darinya (bukannya sombong loh). Namun dia mempunyai sebuah bakat yang menonjol yaitu menggambar, terutama menggambar manusia dan gambar-gambar versi anime Jepang, wajah dan proporsi tubuhnya pas sekali, aku tahu hal ini karena seringkali kalau kuliahnya boring dia sembunyi-sembunyi menggores-goreskan pensil pada kertasnya, di organizernya juga terselip beberapa hasil karyanya. Pernah suatu kali saking asyiknya menggambar dia tidak sadar kalau si dosen sedang berjalan di dekatnya, dan mengambil kertasnya dan mengamat-amati gambarnya lalu berkata
“Wah..wah anda ini lagi jatuh cinta sama siapa ya, sampai dibawa-bawa ke gambar begini, siapa nih di sini yang rambut panjang dengan kucir ke belakang” sambil memperhatikan semua mahasiswi di kelas ini.
Kontan satu kelas termasuk aku tertawa-tawa dan saling menunjuk siapa yang di dalam gambar itu, wajahnya jadi memerah karenanya. Kalau saja dosennya killer pasti dia sudah dikotbahi macam-macam atau bisa juga disuruh keluar, untung Bu Yani (si dosen itu) tidak segarang itu, beliau cuma menyindir dan menegurnya namun beliau juga memuji gambarnya itu bagus.
Suatu hari pada mata kuliah American Culture and Institution yang dosennya ‘obat tidur’ aku duduk di belakang dan kebetulan dia juga di sebelahku sehingga bisa ngobrol dengannya dengan suara pelan.
“Biasa lu nge-gambar dapat ide dari mana aja Lix ?” tanyaku sambil melihat-lihat gambar-gambar di organizernya.
“Kebanyakan sih dari film atau foto-foto Ci, kalo lagi iseng ya gambar, enjoy gitu !”
“Eh…yang ini bagus nih, mirip aslinya, Vivian Hsu kan ?”
“Iya hehehe, modelnya langsung dari orang aslinya tuh” katanya sambil nyengir
“Ciee…mimpi kali yee !” balasku menyikutnya pelan
“Emang lu pernah pakai model asli untuk gambar-gambar lu Lix ?” tanyaku lagi
“Emmm…pernah sih dulu saudara gua, tapi kebanyakan sih gua ambil dari foto ya, abis susah kan cari model”
“Kalau menggambar sampai selesai gini habis waktu berapa lama kira-kira ?”
“Itu tergantung mood juga sih, tapi rata-rata sih setengah jam lah”
“Gini Lix, kalau gua jadi modellu boleh ga ? pengen sih sekali-sekali dilukis gitu, gimana ?” tawarku
“Wah, bener nih Ci ? thanks banget kalau lu mau, kapan nih ada waktu ?”
“Gua sih abis ini ga ada apa-apa lagi, lu sendiri gimana ?”

“Ooo…bagus kalau gitu di kost gua aja gimana ?” jawabnya antusias dengan tawaranku
Singkat cerita, setelah selesai perkuliahan yaitu jam sebelas, aku mengikutinya ke kostnya, dari kampus kami jalan kaki sekitar sepuluh menit. Tidak banyak orang di sana, mungkin karena pada jam-jam seperti ini masih banyak yang kuliah, hanya nampak seorang anak muda sebagai pembantu, seorang ibu setengah baya yang juga pembantu dan dua orang penghuni kost lainnya yang semua pria. Kamar Felix bisa dibilang cukup rapi dibanding kamar pria pada umumnya, di dalam sebuah rak tersusun beberapa model robot rakitan dan patung-patung kecil tokoh anime, begitu juga di dindingnya tertempel poster-poster anime dan game.
“Typikal tukang gambar banget nih anak, kacamata dan anime maniac gini” kataku dalam hati sambil mengamati koleksi-koleksinya sementara dia sedang ke toilet.
“Ok, Ci bisa kita mulai ga ? Lu mau dilukis gimana ?” tanya Felix yang baru keluar dari toilet
“Oohh..iya tapi omong-omong lu bakal tegang ga kalo ngegambar pakai model nanti takutnya hasilnya jelek”
“Tegang ? ngga lah…emang kenapa harus tegang”
“Soalnya gua mau dilukis agak beda gitu loh”
“Bedanya gimana Ci ? kan lu cuma tinggal diam bergaya aja ya” tanyanya bingung
“Itu loh Lix, lu pernah nonton Titanic ga ? gua maunya digambar seperti itu tuh, gimana ?” jawabku dengan polosnya
Tentu saja dia langsung tercengang dengan permintaanku itu dan wajahnya memerah
“Hah…yang bener lu Ci, maksudlu bugil gitu ?”
“Hh-emm…wearing only this itu loh, gua yakin lu bisa kok” aku lalu melepaskan satu-satu kancing kemejaku dan memperlihatkan bra-ku
“Ci…lu serius nih, berani kaya gini ?” seakan tidak percaya apa yang dilihat di hadapannya.
Aku tertawa tertahan melihat reaksi amatirannya itu sambil terus melucuti satu demi satu pakaianku. Matanya seperti mau copot memandangku yang sudah telanjang di depannya, dari reaksinya aku yakin dia baru kali ini melihat perempuan bugil secara langsung.
“Nah…gimana Lix ? jangan tegang gitu dong, minum dulu aja deh”
Dia menerima gelas yang kusodorkan dan meminumnya lalu menarik nafas panjang
“Ok dah tenang kan, buktiin dong kalo lu profesional artist, masa ngeliat tubuh cewek aja nervous gitu hehehe” aku menenangkannya sambil tertawa kecil
“Ya tegang dong Ci, gua kan ga pernah gambar bugil sebelumnya” jawabnya terbata-bata, namun dia sudah lebih rileks dari yang tadi. Kulihat matanya tidak pernah lepas memandangi tubuhku
“Makanya lu harus cari pengalaman baru, supaya pandangan lu tambah luas”
“Gimana bisa kita mulai kan menggambarnya” kataku sambil membaringkan tubuh di ranjangnya
“Bentar Ci” sahutnya lalu mengunci pintu terlebih dulu “kalo ada yang masuk kan berabe”
“Posisi gini gimana ? bagus ga ?” aku berbaring menyamping dengan menopang kepalaku dengan tangan kanan ditekuk
“Kurang Ci, biasa aja, mending lu tumpuk itu bantal buat sandaran tangan terus duduk bersimpuh, kayanya lebih bagus” pintanya setelah mengamati sejenak.
“Gini ?” tanyaku mengikuti arahannya
“Ya, lebih tegak dikit Ci, ya gitu ok” aturnya
Dia duduk di kursi seberang ranjang sana memegang clipboard. Sebelum mulai dia minum dulu untuk menenangkan diri. Lewat lima menit, dia geleng-geleng kepala melihat kertasnya, lalu ditariknya kertas itu dan diremas-remas.
“Kenapa Lix ? gagal ?” tanyaku
“Sory Ci, belum biasa sih jadi ga bagus tadi, sekali lagi yah, sory ngerepotin”
“Ya udah, santai aja, lama-lama juga biasa kok”
Kali ini sepertinya dia sudah lebih enjoy melakukan aktivitasnya, tangannya bergerak dengan cepat diatas kertas, mengganti-ganti pensil, mengambil kapas dan penghapus, ibarat Leonardo yang melukis bugil Kate Winslet di film Titanic itu.
Ternyata jadi model lukisan gini capek juga loh, harus diam terus dan menjaga ekspresi wajah selama beberapa saat lamanya, semenit jadi seperti satu jam rasanya.
“Wuiihh…finally !” sahutnya dengan bernafas panjang setelah empat puluh menitan bekerja keras
“Udah Lix ? coba gua liat dong hasilnya sini” pintaku tak sabar ingin melihat hasilnya
Dia berjalan ke sini dan duduk di tepi ranjang memperlihatkan karyanya kepadaku
“Puas ga Ci ? sory yah kalo jelek kan baru kali ini”
Aku mengamat-amati gambar itu sejenak, harus kuakui hasilnya lumayan, walaupun mukaku terlihat lebih lebar di gambar itu, namun secara keseluruhan sudah ok. Aku tahu dia terus memandangi tubuh polosku sejak tadi, tapi kubiarkan saja dia menikmatinya sambil aku melihat gambarnya.
“Hhmm…ga nyesel kayanya gua cape-cape duduk telanjang selama ini yah, ya ga Lix ?” kataku sambil menolehkan wajah melihatnya yang sedang memperhatikanku yang tanpa tertutup sehelai benangpun dengan wajah memerah.
“Eh..kenapa lo Lix, kok ngeliatin gua sampai kaya gitu, belum pernah liat cewek bugil ya sebelumnya ?” ujarku dengan tersenyum nakal
“Liat aja sih sering Ci, tapi kalau yang beneran baru kali ini, pernah juga melihat adik gua baru keluar mandi itu juga ga sengaja” katanya sambil garuk-garuk kepala
“Jadi pegang-pegang badan cewek ga pernah dong ?” tanyaku memancingnya
“Walah apalagi itu Ci, pacar aja belum, mo sama siapa” dengan sedikit terkekeh
“Terus gimana reaksilu ngeliat gua ga pake apa-apa di depan lo gini ?”
“Wah…gimana yah, susah omongnya nih, ya agak shock juga tadi abis baru kali ini” jawabnya gugup
“Ada pikiran macam-macam gitu ngga waktu ngegambar tadi ?” pancingku lagi
“Emmm…macam-macam gimana contohnya Ci ?” tanyanya pura-pura bego atau memang bego nih, ga taulah, who care, lucu juga aku dengan tingkahnya ini
“Ya misalnya gini nih” seraya kuraih tangannya dan kuletakkan pada payudara kiriku.
Terasa sekali tangannya gemetaran memegang dadaku, mulutnya melongo tak sanggup berkata-kata dan mukanya tambah merah saja. Kubimbing tangannya meremas-remas payudara montokku.
“Mmhh…gitu remasnya, pakai perasaan…putingnya juga”
Dia menuruti apa yang kuajarkan walau masih diam terbengong. Setelah gemetarnya berkurang aku memulai aksi terusannya, kudekatkan bibirku padanya hingga saling berpagutan.
“Mulutnya dibuka Lix, jangan kaku gitu, gua ajarin lu cipokan” bisikku dengan nada manja
Dengan agresif lidahku menjelajahi mulutnya, menyapu ke segenap penjuru, menjilati lidahnya mengajak ikut bermain sehingga pelan-pelan lidahnya juga mulai aktif mengimbangiku. Tangannya pun tanpa kubimbing lagi sudah menikmati payudaraku dengan lebih semangat, bahkan kini dia lebih berani menjulurkan tangan satunya ke belakangku dan mengelusi punggungku.
Setelah puas berciuman, perlahan aku menarik mulutku, air liur nampak menetes dan berjuntai seperti benang laba-laba ketika mulut kami berpisah pelan-pelan.
“Itu tadi namanya Frech Kiss, Lix, udah bisa belum ?”
“Ho-oh, seru banget, lagi dong Ci !” pintanya
“Eiitt…sabar dulu, jangan buru-buru, masih banyak yang lebih seru” kataku sambil membukakan kaosnya dan melemparnya ke kursi “Lu berdiri dulu dong, gua bantu buka celananya !”
Dia bangkit dari duduknya dan berdiri di depanku yang duduk di pinggir ranjang. Kulucuti celananya tanpa menghiraukan reaksinya yang malu-malu, terutama ketika akan kubuka celana dalamnya.
“Iihh…rese amat sih, minggir sana tangannya, gua bugil di depanlu aja santai, masa lu yang cowok malu-malu kucing gini !” bentakku pelan
“Iya…iya Ci, sori habis baru pernah nunjukin anu gua ke cewek sih” katanya gugup membiarkan celana dalamnya kuturunkan.
Aku melihat penisnya yang sudah tegang lalu kugenggam dengan jari-jari lentikku.
“Wah, belum maksimal nih ngacengnya, liat aja nanti kalau udah ngerasain mulut gua, pasti ketagihan lu, hehehe…!” pikirku mesum
“Udah gede gini juga masih bilang malu, munafik lo ah !” ujarku sambil mengusapnya.
Kumulai dengan mengecup kepala penisnya dan memakai ujung lidahku untuk menggelikitiknya. Kemudian lidahku turun menjalari permukaan benda itu, sesekali kugesekkan pada wajahku yang halus, kubuat penisnya basah oleh liurku. Bibirku lalu turun lagi ke pangkalnya yang dipenuhi bulu-bulu, buah pelirnya kujilati dan yang lainnya kupijat dalam genggaman tanganku. Beberapa saat kemudian mulutku naik lagi dan mulai memasukkan benda itu ke mulutku. Kuemut perlahan dan terus memijati pelirnya.
“Aaa..ahhh..geli Ci…uuhhh !” desahnya bergetar
Kulihat ekspresinya meringis dan merem-melek waktu penisnya kumain-mainkan di dalam mulutku. Kujilati memutar kepala kemaluannya sehingga memberinya kehangatan sekaligus sensasi luar biasa. Semakin kuemut benda itu semakin keras dan membengkak. Aku memasukkan mulutku lebih dalam lagi sampai kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokanku. Setelah beberapa lama kusepong, benda itu mulai berdenyut-denyut, sepertinya mau keluar. Aku makin gencar memaju-mundurkan kepalaku mengemut benda itu. Felix makin merintih keenakan dibuatnya, tanpa disadarinya pinggulnya juga bergerak maju-mundur di mulutku. Tak lama kemudian muncratlah cairan kental itu di dalam mulutku yang langsung kusedot hingga tuntas. Kulirikan mataku ke atas melihatnya merintih sambil mendongak ke atas, tangannya mengucek-ucek rambutku.
Sisa mani yang belepotan di batangnya kujilati hingga bersih, lalu aku merebahkan diriku di ranjang dan menarik tangannya agar berbaring menindihku, gambar itu kubiarkan jatuh ke lantai, daripada kusut di ranjang tergencet tubuh kami nanti.
“Wah…sumpah enak banget tadi itu Ci !” katanya di dekat wajahku
“Itu tadi baru pemanasannya, sayang, kita masih belum beres” kataku sambil membelai lembut rambutnya
“Yuk, sekarang nyusu aja dulu sambil istirahat” suruhku memberi syarat padanya untuk melumat payudaraku
“Gua isep sekarang yah Ci” katanya dengan kedua tangan sudah mencaplok sepasang payudaraku.
Aku mendesis dan tubuhku menegang merasakan mulut Felix mulai beraksi di payudaraku. Bongkahan dada kananku dia jilati seluruhnya hingga basah, lalu dikenyot-kenyot di dalam mulutnya. Kepalanya kudekap erat pada payudaraku. Selesai dengan yang kanan kini dia melakukan hal yang sama terhadap yang kiri yang sejak tadi dia remasi dengan tangannya. Kedua payudaraku jadi basah oleh liurnya. Tangannya mulai berani menyusuri lekuk-lekuk tubuhku, pantatku yang sekal dia elus-elus sambil terus menyusu. Kuraih telapak tangannya yang lagi mengelus pantatku dan menggiringnya ke vaginaku.
“Disini lebih hangat kan, Lix ?”
“Iya hangat Ci, sedikit basah gitu”
“Coba lu masukin jarilu lebih dalam lagi ke situ, pelan-pelan aja”
Dua jadinya pelan-pelan memasuki liang kenikmatanku, melewati dinding yang bergerinjal-gerinjal.
“Sekarang coba lu gosokin daging kecil yang…ahhh !!” aku tak tahan untuk tak mendesah sebelum selesai menjelaskan karena sensasi yang ditimbulkannya, Felix sudah terlebih dulu mengepit benda itu diantara dua jarinya dan mengusap-usapnya
“Kenapa Ci ? sakit ?” tanyanya polos
“Nggak…enak terusin Lix, itu yang namanya klitoris, daerah rangsangan cewek, ayo gituin lagi !!”
Dia melanjutkan usapannya pada klitorisku dan semakin lama semakin nikmat. Mulutnya kembali mencaplok payudaraku. Aku menggelinjang keenakan dengan nafas makin memburu, tanganku mencengkram pundaknya dan membelai kepalanya.
“Oohh…yess…gitu, i like it…terus…terus !!” desahku sesekali menggigit bibir bawah
Lagi enak-enaknya terbuai tiba-tiba HP-ku berbunyi, sehingga Felix berhenti sejenak melihat asal suara
“HP lu tuh Ci, mau diangkat ?” tanyanya
“Udah ah biarin aja…ayo lagi tanggung nih !” kataku sambil membenamkan wajahnya ke dadaku lagi
Dari ringtonenya aku tahu itu pasti salah satu dari geng-ku, kalau tidak Verna, Indah, atau Ratna, paling-paling mau ngajak jalan atau ketemuan, nanti juga bisa.
“Ci, tapi itu…kalo penting…?” tanyanya lagi
“Cerewet, ayo terusin lagi, bukan urusanlu !” bentakku membenamkan lagi wajahnya ke dadaku
Kamipun kembali berpacu dalam nafsu, ringtone HP-ku terus berbunyi sampai berhenti beberapa saat kemudian. Dia kini lebih ahli melakukan tugasnya, hisapannya pada payudaraku semakin mantap, pipinya sampai kempot menghisapnya. Tangannya pada vaginaku bukan cuma mengusap-usap saja, namun sudah berani menusuk-nusuk sambil tetap memainkan klitorisku. Sebelum dia membuatku orgasme aku memegang pergelangan tangannya dan menyuruhnya menarik keluar dari vaginaku. Jari-jarinya basah sekali oleh cairan kewanitaanku.
Aku mencegahnya waktu dia mau mengelap jarinya itu.
“Jangan dibuang dong, mubazir” cegahku
“Hah, tapi lengket gini Ci, emang mau diapain ?” tanyanya heran
Aku tidak menjawabnya selain mendekatkan telapak tangannya ke mulutku, kemudian kumasukkan jari telunjuknya ke mulutku, kuemut dengan penuh perasaan merasakan cairanku sendiri. Tatapan mataku yang binal menatap wajahnya yang terbengong-bengong dengan tingkahku yang liar.
“Coba Lix, rasain deh sarinya cewek seperti gua tadi !” kudekatkan jari-jari basah itu ke mulutnya
Mulanya dia agak ragu-ragu dan risih mencicipi cairan itu, namun karena kubujuk terus akhirnya dia pun pelan-pelan menjilati juga cairanku yang belepotan di jarinya itu.
“Terus..lagi di sebelah sana tuh, belum habis” aku menyemangatinya karena dia ragu-ragu menjilatinya.
“Gimana rasanya ?” tanyaku dengan tertawa tertahan
“Aneh Ci, tapi lama-lama enak juga sih”
Setelah itu aku menyuruhnya rebahan lalu aku naik ke atasnya. Aku melepaskan kacamatanya lalu menaruhnya di meja kecil sebelah ranjang. Kami berpelukan erat dan kembali berciuman dengan penuh gelora. Sambil berciuman tangannya menjalar turun mengelus punggungku dan meremas kedua belah pantatku. Nafas kami sudah demikian memburu sehingga hembusannya terasa pada wajah masing-masing. Mulutku merambat ke bawah menciumi lehernya dan terus ke dadanya, putingnya kucium dan kugigit agak keras sambil menariknya.
“Aooww…Ci…nakal lu yah…kaget tau !” tersentak kaget dengan gerakan agresifku
Aku tertawa cekikikan karena reaksinya, dasar amatiran, lucu banget ML sama yang model ginian. Sesaat kemudian aku meraih penisnya dan mulai mengarahkannya ke vaginaku.
“Selamat yah sebentar lagi lu jadi pria dewasa” ucapku seolah menyalaminya yang sedang menuju saat-saat terakhir keperjakaannya.
Pelan-pelan aku menurunkan badanku hingga benda itu melesak ke dalamku diiringi desahan kami. Aku melihat wajahnya yang meringis antara rasa perih dan enak merasakan barangnya dijepit vaginaku. Setelah masuk setengahnya aku langsung menduduki penisnya dan bless…amblaslah benda itu seluruhnya ke dalamku. Aku mendesah panjang, begitupun Felix, matanya melotot dan mengerang merasakan jepitan dinding vaginaku pada penisnya yang merenggut keperjakaannya.
Aku sengaja mendiamkan sejenak penisnya tertancap padaku supaya dia bisa beradaptasi dan meresapi saat-saat pertamanya dulu. Kemudian aku mulai menggoyangkan pinggulku pelan-pelan.
“Enak say ?…eeemmhhh !” tanyaku lirih
“Iya Ci….oohh…enak abis…ughh, mantap !”
Gerakan naik-turunku bertambah cepat secara bertahap, payudaraku mulai ikut bergoyang-goyang seirama goyang badanku.
“Mainin toked gua Lix…ohhh !” pintaku manja sambil menaruh tangan kanannya ke payudaraku
“Aahh..ahhhh…yang keras pencetnya !” desahku makin gila bersamaan dengan birahiku yang makin tinggi
Hentakan badanku makin keras sampai kepala penis itu terkadang menyodok-nyodok rahimku. Keringat pun bercucuran pada tubuh dan wajah kami apalagi kamar ini tidak ber-AC, cuma dipasang exhaust van di atas pintu. Walaupun aku berusaha agar tidak terlalu gaduh mengingat hari masih terang dan banyak orang lalu lalang, namun sesekali aku tak kuasa menahan jeritan kecil kalau hentakannya kencang atau mengenai G-spot ku. Memang tidak nyaman melakukannya pada saat dan tempat seperti ini, tapi kalau sudah kebelet ya apa boleh buat, lagipula ada sensasi tersendiri juga bermain dalam keadaan tidak safe seperti ini.
Tak lama kemudian aku merasakan perasaan yang luar biasa sehingga secara alami goyangan badanku bertambah kencang, hal ini membuat erangan kami semakin terdengar. Tanpa mengurangi frekuensi genjotan aku menunduk melumat bibirnya dengan tujuan meredam suara kami agar tidak mengundang perhatian. Akhirnya ketika gelombang orgasme menerpa, yang terdengar hanya erangan tertahan, dengan refleks aku menekan vaginaku hingga penis itu tertancap maksimal, Felix jadi kelabakan karena aku menghisap lidahnya dengan kuat ditambah pelukanku yang makin erat. Akhirnya tubuhku melemas di atasnya dengan penis masih menancap di vaginaku. Dibelainya rambut dan punggungku dengan lembut
“Ci, itu tadi yang namanya orgasme yah ? gila banjir banget lu tadi, tapi enak, hangat !” komentarnya
“Kamu capek Ci ? udah lemas gini” tanyanya melihatku yang bernafas ngos-ngosan.
“Nggak, lu juga masih kuat kan, sekarang kita ganti gaya yah !” kataku sambil bangkit dan bertumpu dengan kedua tangan dan lututku
Pinggulku kutunggingkan seakan menantangnya memperlihatkan kemaluanku yang merah dengan bulu-bulunya hitam yang lebat. Tanpa harus kuajari lagi Felix menempelkan penisnya pada bukit kemaluanku yang becek. Dengan mesra dia membenamkan penisnya sedikit demi sedikit.
“Ooohh…yeahh ! fuck me like that…uuhh…i’m your bitch now !” erangku liar
Ronde berikutnya pun dimulai, kami saling memacu tubuh kami dalam posisi doggy. Sambil menggenjotku, tangannya memijati payudaraku yang bergelayutan dengan lembut, kupegangi tangannya agar remasannya ke payudaraku tambah keras, tubuhku kugoyangkan berlawanan arah dengan sentakannya sehingga sodokan penisnya makin terasa. Tidak sia-sia ajaranku, ternyata dia tidak mengecewakan seperti perkiraan dulu. Lima belas menit kemudian, kami berganti posisi lagi, aku telentang di tengah ranjang membuka lebar kakiku sementara dia tetap dalam posisi berlututnya diantara kedua pahaku. Sekarang dia yang memegang kendali tanpa arahan-arahan dariku lagi, kedua betisku dinaikkan ke pundaknya, tangannya turut aktif menjelajahi tubuhku. Yang kulakukan kini hanyalah mendesah, menggeleng-gelengkan kepala dan menggigit jari menikmati hasil pengajaranku. Aku lalu menurunkan kedua betisku itu dan meraih lehernya, mengisyaratkan agar dia maju menindihku. Kami sudah demikian hanyut dalam kenikmatan sampai dua SMS yang masuk ke HP-ku pun tidak mengusik kami. Sambil terus menggumuliku, dia menciumiku di mulut, pipi, telinga, dan leher
“Ahh-ahhh…Lix, kita coba keluar barengan ya, lu udah mau kan” desahku sambil mempererat pelukan ketika kurasakan perasan itu sudah mendekat
“Iyah Ci, gua juga udah mau !” jawabnya terengah-engah sambil mempercepat genjotannya.
Kembali aku mengalami klimaks bersamanya yang lebih panjang dari sebelumnya, tanpa peduli keadaan aku mengerang panjang melepaskan segala perasaan yang ada dalam diriku. Disaat bersamaan pula, Felix menyusul ke puncak dengan menyemburkan maninya yang kental ke vaginaku hingga bercampur dengan lendir kewanitaanku.
“Oouuughh…!” dia pun melenguh panjang mengakhiri permainan ini
Kami berciuman dalam pelukan menikmati sisa kenikmatan hingga akhirnya terkulai lemas bersebelahan namun masih tetap berpelukan, mata kami saling pandang satu sama lain tanpa berkata-kata karena masih lelah.
“Ci, lu bakal hamil ngga ntar, takutnya…” tanyanya dengan khawatir
Aku tersenyum dengan pertanyaan polosnya lalu menjawabnya sambil memegang hidung kecilnya
“Ah lu, udah ngelakuin baru tanya akibatnya, tapi tenang, cewek kan ada masa-masa suburnya dan sekarang gua lagi aman kok, masa gitu aja ga tau sih ? kaan dulu di biologi ada ?”
“Iya sih, tapi kan prakteknya gua belom gitu jelas, sekarang baru dijelasin ama lu hehehe” dia tertawa renyah
“Eh Ci, gambar yang ini buat gua aja yah, buat kenangan pertama kalinya gua ngelukis bugil, ntar kalau mau gua gambarin lagi buat lu, please” pintanya
Aku sih iya-iya saja, toh niatku menggodanya sudah tercapai.
Hari-hari berikutnya, kami beberapa kali bekerjasama membuat ‘karya seni’. Tidak jarang aku memberi saran mengenai latar dan pose. Kami saling berbagi pengalaman, aku mendapat pengalaman sebagai model lukisan, dia pun mendapat banyak wawasan untuk meningkatkan bakat seninya dan tidak ketinggalan pelajaran seks dan hubungan sosial dariku. Kini Felix sudah lebih pandai bergaul, tidak sekuper dulu lagi. Bahkan pernah dia mengutarakan perasaannya padaku, namun sayang aku harus menolaknya dengan halus, karena aku belum siap mendapatkan pacar lagi sejak hubungan cintaku di masa lalu kandas tiga kali. Kami tetap berteman baik hingga kini. Ketika aku lulus beberapa bulan lalu dia telah mempunyai pacar. Syukurlah, aku pun senang karena bisa membantunya belajar mengenai hidup dan membuatnya lebih terbuka.



© Karya Andani Citra