Showing posts with label istri selingkuh. Show all posts
Showing posts with label istri selingkuh. Show all posts

Aku sedang menyantap makan siang di sebuah cafe yang terletak di lantai dasar gedung kantorku. Hari itu aku ditemani Pak Erwan, manajer IT perusahaanku dan Lia, sekretarisku. Biasanya aku makan siang hanya dengan Lia, sekretarisku, untuk kemudian dilanjutkan dengan acara bobo siang sejenak sebelum kembali lagi ke kantor. Tetapi hari itu sebelum aku pergi, Pak Erwan ingin bertemu untuk membicarakan proyek komputerisasi, sehingga aku ajak saja dia untuk bergabung menemaniku makan siang.

Aku dan Pak Erwan berbincang-bincang mengenai proyek implementasi software dan juga tambahan hardware yang diperlukan. Memang perusahaanku sedang ingin mengganti sistem yang lama, yang sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan perusahaan yang terus berkembang. Sedangkan Lia sibuk mencatat pembicaraan kita berdua.

Sedang asyik-asyiknya menyantap steak yang kupesan, tiba-tiba HPku berbunyi. Kulihat caller idnya.. Dari Santi.

"Hallo Pak Robert. Kapan nih kesini lagi" suara merdu terdengar diseberang sana.
"Oh iya. Nanti sebentar lagi saya ke sana. Saya sedang makan siang nih. Bapak tunggu sebentar ya" jawabku.
"He.. He.. Sedang nggak bisa ngomong ya Pak" Santi menggoda.
"Betul Pak.. OK sampai ketemu sebentar lagi ya" kataku sambil menutup pembicaraan.
"Dari klien" kataku.

Aku sangat hati-hati tidak mau affairku dengan Santi tercium oleh mereka. Hal ini mengingat Pak Arief, suami Santi, adalah manajer keuangan di kantorku. Kebetulan Pak Arief ini sedang aku kirim training ke Singapore, sehingga aku bisa leluasa menikmati istrinya.

Seusai menikmati makan siang, aku berkata pada Lia bahwa aku akan langsung menuju tempat klienku. Seperti biasa, aku minta supaya aku tidak diganggu kecuali kalau ada emergency. Kamipun berpisah.. Mereka kembali ke lantai atas untuk bekerja, sedangkan aku langsung menuju tempat parkir untuk berangkat mengerjai istri orang he.. He..

Setelah kesal karena terjebak macet, sampai jugalah aku di rumah Santi. Hari sudah menjelang sore. Bayangkan saja, sudah beberapa jam aku di jalan tadi. Segera kuparkirkan Mercy silver metalik kesayanganku, dan memencet bel rumahnya. Santi sendiri yang membukakan pintu. Dia tersenyum gembira melihat kedatanganku.

"Aih.. Pak Robert kok lama sih" katanya.
"Iya.. Tadi macet total tuh.. Rumah kamu sih jauh.. Mungkin di peta juga nggak ada" candaku.
"Bisa aja Pak Robert.." jawab Santi sambil tertawa kecil.

Dia tampak cantik dengan baju "you can see" nya yang memperlihatkan lengannya yang mulus. Buah dadanya tampak semakin padat dibalik bajunya. Mungkin karena sudah beberapa hari ini aku remas dan hisap sementara suaminya aku "asingkan" di negeri tetangga.

Kamipun masuk ke dalam rumah dan aku langsung duduk di sofa ruang keluarganya. Santi menyuguhkan orange juice untuk menghilangkan dahagaku. Nikmat sekali meminum orange juice itu setelah lelah terjebak macet tadi. Dahagakupun langsung hilang, tetapi setelah melihat Santi yang cantik, dahagaku yang lainpun muncul. Aku masih bernafsu melihat Santi, meskipun telah lima hari berturut-turut aku setubuhi dia.

Kucium bibirnya sambil tanganku mengelus-elus pundaknya. Ketika aku akan membuka bajunya, dia menahanku.

"Pak.. Santi ada hadiah nih untuk bapak"
"Apaan nih?" jawabku senang.
"Ini ada teman Santi yang mau kenal sama bapak. Orangnya cantik banget."

Lalu dia bercerita kalau dia berkenalan dengan seorang wanita, Susan, saat dia sedang berolahraga di gym. Setelah mulai akrab, merekapun bercerita mengenai kehidupan seks mereka. Singkat cerita, Susan menawarkan untuk berpesta seks sambil bertukar pasangan di rumah mereka.

"Dia ingin coba ini bapak. Katanya belum pernah lihat yang sebesar punya Pak Robert" kata Santi sambil meraba-raba kemaluanku.
"Saya sih OK saja" jawabku riang.
"Oh ya.. Nanti pura-pura saja Pak Robert suamiku" kata Santi sambil pamit untuk menelpon kenalan barunya itu.

Aku dan Santi kemudian meluncur menuju rumah Susan di kawasan Kemang. Untung jalanan Jakarta sudah agak lengang. Tak lama kamipun sampai di rumahnya yang luas. Seorang satpam tampak membukakan pintu garasi. Santipun menjelaskan kalau kami sudah ada janji dengan majikannya. Susan menyambut kami dengan ramah.

"Ini perkenalkan suami saya"

Seorang laki-laki paruh baya dengan kepala agak botak memperkenalkan diri. Namanya Harry, seorang pengusaha properti yang sukses. Santipun memperkenalkan diriku pada mereka.

Aku kagum pada rumah mereka yang sangat luas. Dengan perabot-perabot yang mahal, juga koleksi lukisan-lukisan pelukis terkenal yang tergantung di dinding. Bayangkan saja betapa kayanya mereka, karena orang sekelas aku saja kagum melihat rumahnya yang sangat wah itu.

Tetapi aku lebih kagum melihat Susan. Wanita ini memang cantik sekali. Terutama kulitnya yang putih dan mulus sekali. Ibaratnya kalau dihinggapi nyamuk, si nyamuk akan jatuh tergelincir. Disamping itu bodynya tampak seksi sekali dengan buah dada yang besar dan bentuk tubuh yang padat. Sekilas mengingatkan aku pada bintang film panas di jaman tahun 80-an.. Entah siapa namanya itu.

Merekapun menyuguhkan makan malam. Kamipun bercerita basa-basi ngalor ngidul sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ditengah makan malam itu, Santi pamit untuk ke toilet. Dengan matanya dia mengajakku untuk mengikuti dia.

"Pak, habis ini pulang aja yuk" kata Santi berbisik perlahan setelah keluar dari ruang makan.
"Kenapa?" tanyaku.
"Habisnya Santi nggak nafsu lihat Pak Harry itu. Sudah tua, botak, perutnya buncit lagi".

Aku tertawa geli dalam hati. Tetapi aku tentu saja tidak menyetujui permintaan Santi. Aku sudah ingin menikmati istri Pak Harry yang cantik sekali seperti boneka itu. Kupaksa saja Santi untuk kembali ke ruang makan.

Setelah makan, kamipun ke ruang keluarga sambil nonton video porno untuk membangkitkan gairah kami. Tak lama, seorang gadis pembantu kecil datang untuk menyuguhkan buah-buahan. Tetapi mungkin karena kaget melihat adegan di layar TV home theater itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas kristal sehingga pecah berkeping-keping. Kulihat tampak Susan melotot memarahi pembantunya itu, sedangkan si pembantu kecil itu tampak ketakutan sambil meminta maaf berkali-kali.

Adegan di TV tampak semakin hot saja. Tampak Pak Harry mulai mengerayangi tubuh Santi di sofa seberang. Sedangkan Santi tampak ogah-ogahan melayaninya.

"Sebentar Pak.. Santi mau lihat filmnya dulu"

Aku tersenyum mendengar alasan Santi ini. Sementara itu Susan minta ijin ke dapur sebentar. Akupun mencoba menikmati adegan di layar TV. Meskipun sebenarnya aku tidak perlu lihat yang seperti ini, mengingat tubuh Susan sudah sangat mengundang gairahku. Tak lama akupun merasa ingin buang air kecil, sehingga akupun pamitan ke belakang.

Setelah dari toilet, aku berjalan melintasi dapur untuk kembali ke ruang keluarga. Kulihat di dalam, Susan sedang berkacak pinggang memarahi gadis kecil pembantunya tadi.

"Ampun non.. Sri nggak sengaja" si gadis kecil memohon belas kasihan pada majikannya, Susan yang cantik itu.
"Nggak sengaja nggak sengaja. Enak saja kamu bicara ya. Itu gelas harganya lebih dari setahun gaji kamu tahu!!" bentak Susan.
"Gajimu aku potong. Biar tau rasa kamu.."

Si gadis kecil itu terdiam sambil terisak-isak. Sementara wajah Susan menampakkan kepuasan setelah mendamprat pembantunya habis-habisan. Mungkin betul kata orang, kalau wanita kurang dapat menyalurkan hasrat seksualnya, cenderung menjadi pemarah. Melihat adegan itu, aku kasihan juga melihat si gadis pembantu itu. Tetapi entah mengapa justru hasrat birahiku semakin timbul melihat Susan yang sepertinya lemah lembut dapat bersikap galak seperti itu.

"Dasar bedinde.. Verveillen!!" Susan masih terus berkacak pinggang memaki-maki pembantunya. Dengan tubuh yang putih bersih dan tinggi, kontras sekali melihat Susan berdiri di depan pembantunya yang kecil dan hitam.
"Ampun non.. Nggak akan lagi non.."
"Oh Pak Robert.." kata Susan ketika sadar aku berada di pintu dapur. Diturunkannya tangan dari pinggangnya dan beranjak ke arahku.
"Sedang sibuk ya?" godaku.
"Iya nih sedang kasih pelajaran ik punya pembantu" jawabnya sambil tersenyum manis.
"Yuk kita kembali" lanjutnya.

Kamipun kembali ke ruang keluarga. Kulihat Santi masih menonton adegan di layar sementara Pak Harry mengelus-elus pahanya. Aku dan Susanpun langsung berciuman begitu duduk di sofa. Aku melakukan "french kiss" dan Susanpun menyambut penuh gairah.

Kutelusuri lehernya yang jenjang sambil tanganku meremas buah dadanya yang membusung padat. Susanpun melenguh kenikmatan. Tangannya meremas-remas kemaluanku. Dia kemudian jongkok di depanku yang masih duduk di sofa, sambil membuka celanaku. Celana dalamku dielusnya perlahan sambil menatapku menggoda. Kemudian disibakkannya celana dalamku ke samping sehingga kemaluankupun mencuat keluar.

"Oh..my god.. Bener kata Santi.. Very big.. I like it.." katanya sambil menjilat kepala kemaluanku.

Kemudian dibukanya celana dalamku, sehingga kemaluankupun bebas tanpa ada penghalang sedikitpun di depan wajahnya. Dielus-elusnya seluruh kemaluan termasuk buah zakarku dengan tangannya yang halus. Tingkah lakunya seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.

Kemaluankupun mulai dihisap mulut Susan dengan rakus. Sambil mengulum dan menjilati kemaluanku, Susan mengerang,emmhh.. emhh, seperti seseorang yang sedang memakan sesuatu yang sangat nikmat. Kuelus-elus rambutnya yang hitam dan diikat ke belakang itu.

Sambil menikmati permainan oral Susan, kulihat suaminya sedang mendapat handjob dari Santi. Tampak Santi mengocok kemaluan Pak Harry dengan cepat, dan tak lama terdengar erangan nikmat Pak Harry saat dia mencapai orgasmenya. Santipun kemudian meninggalkan Pak Harry, mungkin dia pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya.

Sementara itu Susan masih dengan bernafsu menikmati kemaluanku yang besar. Memang kalau kubandingkan dengan kemaluan suaminya, ukurannya jauh berbeda. Apalagi setelah dia mengalami orgasme, tampak kemaluan Pak Harry sangat kecil dan tertutup oleh lemak perutnya yang buncit itu. Tak heran bila istrinya sangat menikmati kemaluanku.

Tak lama Santipun kembali muncul di ruang itu, dan menghampiriku. Susan masih berjongkok di depanku sambil mempermainkan lidahnya di batang kemaluanku. Santi duduk di sampingku dan mulai menciumiku. Dibukanya bajuku dan puting dadakupun dihisapnya. Nikmat sekali rasanya dihisap oleh dua wanita cantik istri orang ini. Seorang di atas yang lainnya di bawah. Sementara Pak Harry tampak menikmati pemandangan ini sambil berusaha membangkitkan kembali senjatanya yang sudah loyo.

Kuangkat baju Santi dan juga BHnya, sehingga buah dadanya menantang di depan wajahku. Langsung kuhisap dan kujilati putingnya. Sementara tanganku yang satu meremas buah dadanya yang lain. Sementara Susan masih mengulum dan menjilati kemaluanku.

Setelah puas bermain dengan kemaluanku, Susan kemudian berdiri. Dia kemudian melepaskan pakaiannya hingga hanya kalung berlian dan hak tingginya saja yang masih melekat di tubuhnya. Buah dadanya besar dan padat menjulang, dengan puting yang kecil berwarna merah muda. Aku terkagum dibuatnya, sehingga kuhentikan kegiatanku menghisapi buah dada Santi. Susan kemudian menghampiriku dan kamipun berciuman kembali dengan bergairah.

"Ayo isap susu ik " pintanya sambil menyorongkan buah dada sebelah kanannya ke mulutku. Tak perlu dikomando lagi langsung kuterkam buah dadanya yang kenyal itu. Kuremas, kuhisap dan kujilati sepuasnya. Susanpun mengerang kenikmatan.

Setelah itu, dia kembali berdiri dan kemudian berbalik membelakangiku. Diapun jongkok sambil mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang berambut tipis itu. Kamipun bersetubuh dengan tubuhnya duduk di atas kemaluanku menghadap suaminya yang masih berusaha membangunkan perkakasnya kembali. Kutarik tubuhnya agak kebelakang sehingga aku dapat menciumi kembali bibirnya dan wajahnya yang cantik itu.

"Eh.. Eh.. Eh.." dengus Susan setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Aku terus menyetubuhinya sambil meremas-remas buah dadanya dan sesekali menjilati dan menciumi pundaknya yang mulus.

Sementara itu Santi bersimpuh di ujung sofa sambil meraba-raba buah zakarku, sementara aku sedang menyetubuhi Susan. Terkadang dikeluarkannya kemaluanku dari vagina Susan untuk kemudian dikulumnya. Setelah itu Santi memasukkan kembali kemaluanku ke dalam liang surga Susan.

Setelah beberapa menit, aku berdiri dan kuminta Susan untuk menungging di sofa. Aku ingin menggenjot dia dari belakang. Kusetubuhi dia "doggy-style" sampai kalung berlian dan buah dadanya yang besar bergoyang-goyang menggemaskan. Kadang kukeluarkan kemaluanku dan kusodorkan ke mulut Santi yang dengan lahap menjilati dan mengulumnya. Benar-benar nikmat rasanya menyetubuhi dua wanita cantik ini.

"Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha.. That's right.. Aha.. Aha.." begitu erangan Susan menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Hal itu menambah suasana erotis di ruangan itu.

Sementara Pak Harry rupanya telah berhasil membangunkan senjatanya. Dihampirinya Santi dan ditariknya menuju sofa yang lain di ruangan itu. Santipun mau tak mau mengikuti kemauannya. Memang sudah perjanjian bahwa aku bisa menikmati istrinya sedangkan Pak Harry bisa menikmati "istriku".

Sementara itu, aku masih menggenjot Susan secara doggy-style. Sesekali kuremas buah dadanya yang berayun-ayun akibat dorongan tubuhku. Kulihat Pak Harry tampak bernafsu sekali menyetubuhi Santi dengan gaya missionary. Tak beberapa lama kudengar erangan Pak Harry. Rupanya dia sudah mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Santipun tampak kembali pergi meninggalkan ruangan. Sementara aku masih menyetubuhi Susan dari belakang sambil berkacak pinggang. Setelah itu kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia lagi, kali ini dari depan. Sesekali kuciumi wajah dan buah dadanya, sambil terus kugenjot vaginanya yang sempit itu.

"Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I love your big cock.." Susan terus meracau kenikmatan.

Tak lamapun tubuhnya mengejang dan dia menjerit melepaskan segala beban birahinya. Akupun sudah hampir orgasme. Aku berdiri di depannya dan kusuruh dia menghisap kemaluanku kembali. Sementara, aku lirik ke arah Pak Harry, dia sedang memperhatikan istrinya mengulumi kemaluanku. Kuremas rambut Susan dengan tangan kiriku, dan aku berkacak pinggang dengan tangan kananku.

Tak lama akupun menyemburkan cairan ejakulasiku ke mulut Susan. Diapun menelan spermaku itu, walaupun sebagian menetes mengenai kalung berliannya. Diapun menjilati bersih kemaluanku.

"Thanks Robert.. I really enjoyed it" katanya sambil membersihkan bekas spermaku di dadanya.
"No problem Susan.. I enjoyed it too.. Very much" balasku.

Setelah itu, kamipun kembali mengobrol beberapa saat sambil menikmati desert yang disediakan. Kamipun berjanji untuk melakukannya lagi dalam waktu dekat.

Dalam perjalanan pulang, Santi tampak kesal. Dia diam saja di dalam mobil. Akupun tidak begitu menghiraukannya karena aku sangat puas dengan pengalamanku tadi. Akupun bersenandung kecil mengikuti alunan suara Al Jarreau di tape mobilku.

"We're in this love together.."
"Kenapa sih sayang?" tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahnya.
"Pokoknya Santi nggak mau lagi deh" katanya.
"Habis Santi nggak suka sama Pak Harry. Udah gitu mainnya cepet banget. Santi nanggung nih."

Akupun tertawa geli mendengarnya.

"Kok ketawa sih Pak Robert.. Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi belum puas.. Tadi Santi horny banget lihat bapak sama Susan make love" rengeknya.
"Wah sudah malam nih.. Besok aja ya.. Lagian saya ada janji sama orang".
"Ah.. Pak Robert jahat.." kata Santi merengut manja.
"Besok khan masih ada sayang" hiburku.
"Tapi janji besok datang ya.." rengeknya lagi saat keluar dari mobilku.
"OK so pasti deh.. Bye"

Sebenarnya aku tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi malam itu. Hanya saja aku segan memakai Santi setelah dia disetubuhi Pak Harry tadi. Setidak-tidaknya dia harus bersih-bersih dulu.. He.. He.. Mungkin besok pagi saja aku akan menikmatinya kembali, karena Pak Arief toh masih beberapa hari lagi di luar negeri.

Kukebut mobilku mengarungi jalan tol di dalam kota. Semoga saja aku masih dapat melihat film bagus tayangan HBO di TV nanti.

TAMAT

Cerita Dewasa Khusus 17 tahun, memang mantapsss nih cerita. Andai saja aku berada dalam situasi itu sebagai Heru.

Heru melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. Ia menarik rokku dan membungkukkan badannya menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran CD ku


Heru, 32 th, adalah teman sekantor suamiku yang sebaya dengannya sedangkan aku berumur 28 th. Mereka sering bermain tenis bersama, entah mengapa setiap Heru datang kerumah menjemput suamiku ia selalu menyapaku dengan senyumnya yang khas, sorotan matanya yang dalam selalu memandangi diriku sedemikian rupa apalagi sewaktu aku memakai daster yang agak menerawang tatapannya seakan menembus menjelajahi seluruh tubuhku.

Aku benar benar dibuat risih oleh perlakuannya, sejujurnya aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku, walaupun aku telah menikah 2 tahun yang lalu dengan suamiku, aku merasakan ada suatu getaran dilubuk hatiku ditatap sedemikian rupa oleh Heru. Suatu hari suamiku pergi keluar kota selama 4 hari. Pas di hari minggu Heru datang kerumah maksud hati ingin mengajak suamiku bermain tenis, pada waktu itu aku sedang olahraga dirumah dengan memakai hot pant ketat dan kaos diatas perut.


Ketika kubuka pintu untuknya ia terpana melihat liku liku tubuhku yang seksi tercetak jelas di kaos dan celana pendekku yang serba ketat itu. Darahku berdesir merasakan tatapannya yang tajam itu. Kukatakan padanya suamiku keluar kota sejak 2 hari lalu, dia hanya diam terpaku dengan senyumannya yang khas tidak terlihat adanya kekecewaan diraut mukanya, tiba-tiba ia berkata "..Hesty mau tidak gantiin suamimu, main tenis dengan saya.." Giliran aku yang terpana selama menikah belum pernah aku pergi keluar dengan laki laki selain suamiku tetapi terus terang aku senang mendengar ajakannya, dimataku Heru merupakan figure yang cukup 'gentleman'.


Sementara aku masih ragu-ragu tiba tiba dengan yakin ia berkata "..Cepet ganti pakaian aku tunggu disini.." Entah apa yang mendorongku untuk menerima ajakannya aku langsung mengangguk sambil berlari kekamarku untuk mengganti pakaian. Dikamar Aku termangu hatiku dagdigdug seperti anak SMU sedang berpacaran lalu aku melihat diriku dicermin kupilih baju baju tenisku lalu ketemukan rok tenis putihku yang supermini lalu kupakai dengan blous 'you can see' setelah itu kupakai lagi sweater, wouw.. cukup seksi juga aku ini.., setelah itu aku pakai sepatu olahragaku lalu cepat cepat aku temui Heru didepan pintu "..Ayo Her aku sudah siap.." Heru hanya melongo melihat pakaianku. Jakunnya terlihat naik turun.


Singkat kata aku bermain tenis dengannya dengan penuh ceria, kukejar bola yang dipukulnya, rok miniku berkibar, tanpa sungkan aku biarkan matanya menatap celana dalamku, ada perasaan bangga dan gairah setiap matanya menatap pantatku yang padat bulat ini.


Saking hotnya aku mengejar bola tanpa kuduga aku jatuh terkilir, Heru menghampiriku lalu mengajakku pulang. Setiba di rumah, kuajak Heru untuk mampir dan ia menerimanya dengan senang hati. Heru memapahku sampai ke kamar, lalu membantuku duduk di ranjang. Dengan manja kuminta ia mengambilkan aku minuman di dapur, Heru mengambilkan minuman dan kembali ke kamar mendapatkan aku telah melepas sweater dan sedang memijat betisku sendiri. Ia agak tersentak melihatku, karena aku telah menanggalkan sweaterku sekarang tinggal memakai blous "you can see" longgar yang membuat ketiak dan buah dadaku yang putih mulus itu mengintip nakal, posisi kakiku juga menarik rokmini olahragaku hingga pahaku yang juga putih mulus itu terbuka untuk menggoda matanya.


Tampak sekali ia menahan diri dan mengalihkan pandangan saat memberikan minuman kepadaku. Memang "gentleman" pria ini. penampilannya agak kaku tetapi disertai sikap yang lembut, kombinasi yang tak kudapatkan dari suamiku, ditambah berbagai macam kecocokan di antara kami. Mungkin inilah yang mendorongku untuk melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang wanita yang sudah bersuami. Aku menggeser posisiku mendekatinya, lalu kucium pipinya sebagai ucapan terimakasihku. Heru terkejut, namun tak berusaha menghindar bahkan ia menggerakan wajahnya sehingga bibirku beradu dengan bibirnya. Kewanitaanku bangkit walaupun aku tahu ini adalah salah tetapi tanpa kusadari ia mencium bibirku beberapa saat sebelum akhirnya aku merespon dengan hisapan lembut pada bibir bawahnya yang basah.


Kami saling menghisap bibir beberapa saat sampai akhirnya aku yang lebih dulu melepas ciuman hangat kami. "Her.." kataku ragu. Kami saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberi jawaban dan keputusan yang sama dalam hati kami, lalu hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan Heru saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah.


Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Heru mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria bukan suamiku ini bisa menyentuh ragaku selembut ini, semakin kupejamkan mataku semakin melayang perasaanku, dan menikmati kelembutan yang memancing gairah ini. Kembali Heru yang melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dengan lembut namun tegas, ia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku.


Heru mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai barang milikku yang paling sensitif yang masih terbalut celana dalam itu dengan lembut namun pasti.


"Mmhh.. Heruu..sudah terlalu jauh Her.." desahku di sela-sela ciuman panas kami. Aku agak lega saat tangan kekarnya meninggalkan selangkanganku, namun ia mulai menarik blousku hingga terlepas dari jepitan rokku, lalu ia loloskan dari kepalaku. Buah dadaku yang montok dan puting susuku membayang menggoda dari BH-ku yang tipis dan seksi, membuatnya semakin penasaran. Ia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku.


Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bergairah, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali menyelipkan jarinya ke balik BH menggesek-gesek putingku yang saat itu sudah tegak mengacung. Tanpa kusadari aku mulai memainkan kaos bajunya, dan setelah bajunya kusingkap terlihat tampilan otot di tubuhnya. Aku melihat dada bidang dan kekar, serta perut sixpacknya di depan mataku. Tak lama ia pun memutuskan untuk mengalihkan godaan bibirnya ke buah dadaku yang masih terbalut BHku.


Diciumi buah dadaku sementara tangannya merogoh ke balik punggungku untuk melepas kait BH-ku. Sama sekali tidak ada protes dariku iapun melempar BH-ku ke lantai sambil tidak buang waktu lagi mulai menjilati putingku yang memang sudah menginginkan ini dari tadi. "Ooohh.. sshh.. aachh.. Heruu.." desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek putingku yang terasa sangat peka.


Heru menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini, "..Oooh Heru suuddhaah.. Herr.. stoop..!!" tetapi Heru terus saja merangsangku bahkan tangannya mulai melepas celananya, sehingga kini ia benar-benar telanjang bulat. Penisnya yang besar dan berotot mengacung tegang, karuan aku terbelalak melihatnya, besar dan perkasa lebih perkasa dari penis suamiku, vaginaku tiba tiba berdenyut tak karuan. Oh..tak kupikirkan akibat dari keisenganku tadi yang hanya ingin mencium pipinya saja sekarang sudah berlanjut sedemikian jauh.


Heru melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. Ia menarik rokku dan membungkukkan badannya menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran CD ku, semili lagi menyentuh bibir vaginaku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi, rasa penasaranku menginginkan lebih dari itu tapi akal sehatku masih menyatakan bahwa ini perbuatan yang salah.


Akhirnya, dengan menyibakkan celana dalamku, Heru mengalihkan jilatannya kerambut kemaluanku yang telah begitu basah penuh lendir birahi. "ggaahh.. Heeruu..stoop..ohh.." bagaikan terkena setrum rintihanku langsung menyertai ledakan kenikmatan yang kurasakan saat lidah Heru melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh klitorisku.

Kini kami sama-sama telanjang bulat. Tubuh kekar berotot Heru berlutut di depanku. Lobang vaginaku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut melihat batang penisnya yang tegang besar kekar berotot berbeda dengan punya suamiku yang lebih kecil. Oohh..betul betul luar biasa napsu birahiku makin mengebu gebu. Entah mengapa aku begitu terangsang melihat batang kemaluan yang bukan punya suamiku.Oooh begitu besar dan perkasa, pikiranku bimbang karena aku tahu sebentar lagi aku akan disetubuhi oleh sahabat suamiku, anehnya gelora napsu birahiku terus mengelegak.

Kupasrahkan diriku ketika Heru membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu Heru menurunkan pantatnya dan menuntun penisnya ke bibir vaginaku. Kerongkonganku tercekat saat kepala penis Heru menembus vaginaku."Hngk! Besaar..sekalii..Heer.." Walau telah basah berlendir, tak urung penisnya yang demikian besar kekar berotot begitu seret memasuki liang vaginaku yang belum pernah merasakan sebesar ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan hebat bercampur sedikit rasa sakit.

Tanpa terburu-buru, Heru kembali menjilati dan menghisap putingku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada putingku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah penisnya bergerak perlahan dan lembut menembus vaginaku. Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di vaginaku, melicinkan jalan masuk penis berotot ini ke dalam liang kenikmatanku tahap demi tahap.


Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu puting ke puting yang lain, membuat kepalaku terasa semakin melayang didera kenikmatan yang semakin bergairah. Akhirnya napsu birahikulah yang menang laki laki perkasa ini benar benar telah menyeretku kepusaran kenikmatan menghisap seluruh pikiran jernihku dan yang timbul adalah rangsangan dahsyat yang membuatku ingin mengarungi permainan seks dengan sahabat suamiku ini lebih dalam.


"Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. heeruu.. masukin penismu yang dalaam..!! oouch.. niikmaat.. heerr..!! Baru kali ini lobang vaginaku merasakan ukuran dan bentuk penis yang bukan milik suamiku, yang sama sekali baru ..besaar dan perkasaa.., aku merasakan suatu rangsangan yang hebat didalam diriku. Seluruh rongga vaginaku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding vaginaku digesek batang penisnya yang keras dan besaar..!


Akhirnya seluruh batang kemaluannya yang kekar besar itu tertelan kedalam lorong kenikmatanku, memberiku kenikmatan hebat, seakan bibir vaginaku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Heru mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, "..oouch.. niikmaat.. heeruu..!!" aku pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal-sengal diselingi desah desah penuh kenikmatan.


"hh.. sshh.. hh.. Heerruu.. oohh ..suungguuhh.. niikmmaat sahyangghh.." Heru membalas dengan pertanyaan "Ohh.. Hestyy nikmatan mana dengan penis suamimu..?" otakku benar benar terhipnotis oleh kenikmatan yang luar biasa..! jawabanku benar benar diluar kesadaranku "Ohh ssh Heruu. penismu besaar sekalii..! jauh lebih nikmaat ..!! Heru makin gencar melontarkan pertanyaan aneh aneh, "..hh..Hesty lagi diapain memekmu sama kontolnya Heru..?" aku bingung menjawabnya, "Bilang lagi dientot..!" Heru memaksaku untuk mengulangnya, tapi dasar aku lagi terombang ambing oleh buaian birahi akupun tidak malu malu lagi mengulangnya "hh.. hh.. sshh.. mmhh..lagi dientot sayaang.."


Terus menerus kami saling memberi kenikmatan, sementara lidah Heru kembali menari di putingku yang memang gatal memohon jilatan lidah kasarnya. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat makin menjadi jadi merebak berpusat dari vagina dan putingku, keseluruh tubuhku hingga ujung jariku. Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu dahsyat sehingga terasa seakan tubuhku melayang. Penisnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot vaginaku dan menggesek-gesek dinding vaginaku yang mencengkeram erat.


Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. Aku begitu menikmatinya sampai akhirnya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yang intensitasnya terus bertambah seakan tanpa henti hingga akhirnya seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan saat kenikmatan gairah ini meledak dalam seluruh tubuhku. Desahanku sudah berganti dengan erangan erangan liar kata kataku semakin vulgar. "Ahh.. Ouchh.. entootin terus sayaang.. genjoott.. habis memekku..!! genjoott.. kontolmu sampe mentok..!!" Ooohh.. Herruu.. bukan maiin.. eennaaknyaa.. ngeentoot denganmu..!!" mendengar celotehanku, Heru yang kalem berubah menjadi semakin beringas seperti banteng ketaton dan yang membuat aku benar benar takluk adalah staminanya yang bukan maiin perkasaa.., tidak pernah kudapatkan seperti ini dari suamiku.


Aku benar benar sudah lupa siapa diriku yang sudah bersuami ini, yang aku rasakan sekarang adalah perasaan yang melambung tinggi sekali yang ingin kunikmati sepuas puasnya yang belum pernah kurasakan dengan suamiku. Heru mengombang ambingkan diriku di lautan kenikmatan yang maha luas, seakan akan tiada tepinya.


Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku yang begitu dahsyatnya menggulung diriku "Ngghh.. nghh .. nghh.. Heruu.. Akku mau keluaar..!!" pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan kenikmatan dalam tubuhku, Heru mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan batang kemaluannya dalam dalam dengan memutar mutar keras sekalii.. Clitorisku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. "..aacchh.. Heruu.. niikmaat.. tekeen.. teruuss.. itilkuu..!!"


Ledakan kenikmatan orgasmeku terasa seperti 'forever' menyemburkan lendir orgasme dalam vaginaku, kupeluk tubuh Heru erat sekali wajahnya kuciumi sambil mengerang mengerang dikupingnya sementara Heru terus menggerakkan sambil menekan penisnya secara sangat perlahan, di mana setiap mili penisnya menggesek dinding vaginaku menghasilkan suatu kenikmatan yang luar biasa yang kurasakan dalam tubuhku yang tidak bisa kulontarkan dengan kata kata.


Beberapa detik kenikmatan yang terasa seperti 'forever' itu akhirnya berakhir dengan tubuhku yang terkulai lemas dengan penis Heru masih di dalam vaginaku yang masih berdenyut-denyut di luar kendaliku. Tanpa tergesa-gesa, Heru mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan merasa sangat disayangi. Ia sama sekali tidak menggerakkan penisnya yang masih besar dan keras di dalam vaginaku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.


Setelah aku kembali "sadar" dari ledakan kenikmatan klimaks yang memabukkan tadi, aku pun mulai membalas ciumannya, memancing Heru untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Sekarang aku tidak canggung lagi bersetubuh dengan teman suamiku ini. Gairahku yang sempat menurun tampak semakin terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan penisnya pada dinding vaginaku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan aku semakin berani melayani gairahnya yang memang tampaknya makin liar saja.


Genjotan penisnya pada vaginaku mulai cepat, kasar dan liar. Aku benar-benar tidak menyangka bisa terangsang lagi, biasanya setelah bersetubuh dengan suamiku setelah klimax rasanya malas sekali untuk bercumbu lagi tapi kali ini Heru memberiku pengalaman baru walau sudah mengalami klimax yang maha dahsyat tadi tapi aku bisa menikmati rangsangannya lagi oleh genjotan penisnya yang semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, hingga akhirnya ledakan lendir birahiku menetes lagi bertubi-tubi dari dalam vaginaku.


Lalu Heru memintaku untuk berbalik, ooh ini gaya yang paling kusenangi "doggy style" dengan gaya nungging aku bisa merasakan seluruh alur alur batang kemaluan suamiku dan sekarang aku akan merasakan batang yang lebih besar lebih perkasa oohh..! dengan cepat aku berbalik sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas "..Yeess..Herr..masukin kontol gedemu dari belakang kelobang memekku.." Heru pun menatap liar dan yang ditatap adalah bokongku yang sungguh seksi dimatanya, bongkahan pantatku yang bulat keras membelah ditengah dimana bibir vaginaku sudah begitu merekah basah dibagian labia dalamku memerah mengkilat berlumuran lendir birahiku mengintip liang kenikmatanku yang sudah tidak sabar ingin melahap batang kemaluannya yang sungguh luar biasa itu.


Sambil memegang batang penisnya disodokannya ketempat yang dituju ”Bleess.." ..Ooohh.. Heruu.. teruss.. Herr.. yang.. dalaam..!! mataku mendelik merasakan betapa besaar dan panjaang batang penisnya menyodok liang kenikmatanku, urat urat kemaluannya terasa sekali menggesek rongga vaginaku yang menyempit karena tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Hambatan yang selalu kuhadapi dengan suamiku didalam gaya 'doggy style' ini adalah pada waktu aku masih dalam tahap 'menanjak' suamiku sudah terlalu cepat keluar, suamiku hanya bisa bertahan kurang dari dua menit.


Tetapi Heru sudah lebih dari 15 menit menggarapku dengan gaya 'doggy style' ini tanpa ada tanda tanda mengendur. Oh bukan maiin..! bagai kesurupan aku menggeleng gelengkan kepalaku, aku benar benar dalamkeadaan ekstasi, eranganku sudah berubah menjadi pekikan pekikan kenikmatan, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras sekali menyambut sodokannya sehingga batang penis yang besaar dan panjaang itu lenyap tertelan oleh kerakusan lobang vaginaku. kenikmatanku bukan lagi pada tahap "menanjak" tapi sudah berada di awang-awang di puncak gunung kenikmatan yang tertinggi.


"Hngk.. ngghh..Heruu..akuu mau keluaar lagii.. aargghh..!!" aku melenguh panjang menyertai klimaksku yang kedua yang kubuat semakin nikmat dengan mendorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan penisnya yang besar sedalam-dalamnya di dalam vaginaku, sambil kukempot kempotkan vaginaku serasa ingin memeras batang kemaluannya untuk mendapatkan seluruh kenikmatan semaksimum mungkin.


Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukan Heru yang menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun Heru menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan yang maha nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan suamiku.


Heru memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. "Hesty aku belum keluar sayang..! tolongin aku isepin kontolku sayaang..!" Aku benar benar terkejut aku sudah dua kali klimaks tapi Heru belum juga keluar, bukan main perkasanya. biasanya malah suamiku lebih dulu dari aku klimaksnya kadang kadang aku malah tidak bisa klimaks dengan suamiku karena suamiku suka terburu buru.


Merasa aku telah diberi kepuasan yang luar biasa darinya maka tanpa sungkan lagi kuselomot batang kemaluannya kujilat jilat buah zakarnya bahkan selangkangannya ketika kulihat Heru menggeliat geliat kenikmatan, "..Ohh yess Hes.. nikmat sekalii.. teruss hes.. lumat kontolku iseep yang daleemm.. ohh.. heestyy.. saayaangg..!!" Heru mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja menyelomot batang kemaluannya yang besar, untuk makin merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan batang kemaluannya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak hentakan kebelakang, benar saja melihat gerakan erotisku Heru makin mendengus dengus bagai kuda jantan liar, dan tidak kuperkirakan yang tadinya aku hanya ingin merangsang Heru untuk bisa cepat ejakulasinya malah aku merasakan birahiku bangkit lagi vaginaku terasa berdenyut denyut clitorisku mengeras lagi.


Ohh.. beginikah multiple orgasme yang banyak dibicarakan teman temanku? Selomotanku makin beringas, batang yang besar itu yang menyumpal mulutku tak kupedulikan lagi kepalaku naik turun cepat sekali, Heru menggelinjang hebat, akhirnya kurasakan vaginaku ingin melahap kembali batang kemaluannya yang masih perkasa ini, dengan cepat aku lepas penisnya dari mulutku langsung aku merangkak ke atas tubuhnya kuraih batang kemaluannya lalu kududuki sembari ku tuju ke vaginaku yang masih lapar itu. Bleess.. aachh..aku merasakan bintang bintang di langit kembali bermunculan.


"..Ooohh..Hesty..kau sungguuh seksxyy.. masuukin kontolku..!!" Heru memujiku setinggi langit melihat begitu antutiasnya aku meladeninya bahkan bisa kukatakan baru pertama kali inilah aku begitu antusias, begitu beringas bagai kuda betina liar melayani kuda jantan yang sangat perkasa ini. "..Yess.. Heruu.. yeess.. kumasukkan kontolmu yang perkasa ini..!" kuputar-putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dengan derass sehingga batang penis yang besar itu melesak dalaam sekali..


"..aachh.. Heestyy.. putaar.. habiisiin kontoolku.. eennakk.. sekaallii..!!" giliran Heru merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya, tidak bisa kulukiskan betapa nikmatnya perasaanku, tubuhku terasa seringan kapas jiwaku serasa diombang ambing di dalam lautan kenikmatan yang maha luas kucurahkan seluruh tenagaku dengan memutar menggenjot bahkan menekan keras sekali pantatku, kali ini aku yang berubah menjadi ganas dan jalang, bagaikan kuda betina liar aku putar pinggulku dan bagai penari perut meliuk meliuk begitu cepat.


Batang kemaluannya kugenjot dan kupelintir habiss.. bahkan kukontraksikan otot-otot vaginaku sehingga penis yang besar itu terasa bagai dalam vacum cleaner terhisap dan terkenyot didalam liang vaginaku. Dan yang terjadi adalah benar benar membuatku bangga sekali, Heru bagai Layang-layang putus menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, sekali-kali ingin melepaskan tubuhku darinya tapi tidak kuberikan kesempatan itu bahkan kutekan lagi pantatku lebih keras, batang penisnya melesak seluruhnya bahkan rambut kemaluannya sudah menyatu dengan rambut kemaluanku, clitorisku yang lapar akan birahi sudah mengacung keras makin merah membara tergencet batang kemaluannya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, buah zakarnya kuraih dan kuremas-remas, "..Ooohh.. aachh.. yeess.. Heess.. yeess..!!"
Heru membelalakan matanya sama sekali tidak menyangka aku menjadi begitu beringass..begitu liaar.. menunggangi tubuhnya, lalu Heru bangkit, dengan posisi duduk ia menylomot buah dadaku... aachh tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua buah dadaku. "..selomot.. pentilku.. dua. duanya.. Herr..yeess..!! ...sshh.. ...oohh..!! mataku menjadi berkunang kunang, "..Ooohh.. Hestyy.. nikmatnya bukan main posisi ini..! batang kontolku melesak dalam sekali menembus memekmu..!" Heru mendengus-dengus kurasakan batang penisnya mengembung pertanda spermanya setiap saat akan meletup, "..Ohh.. sshh..aahh.. Heruu ..keluaar.. bareeng..sayaannghh..!! jiwaku terasa berputar putar..! "..yess..Hess..aku… keluarkan diluar apa didalam..?". "..Ohh.. Heru kontoolmu.. jaangaahhn..dicabuut..keluarin.. didalaam..!!

Tiba tiba bagaikan disetrum jutaan volt kenikmatan tubuhku bergetar hebat sekalii..! dan tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat di dalam rahimku, "..aachh. jepiit kontoolku.. yeess.. sshh.. oohh.. nikmaatnya.. memekmu Hestyy..!!" Heru memuncratkan air maninya di dalam rongga vaginaku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun mengelinjang hebat sampai lupa daratan "..Nggkkh.. sshh.. uugghh.. Heerru.. teekeen kontoolmu.. sampe mentookkhh.. sayaahng.. aarrgghh..!! gelombang demi gelombang kenikmatan menggulung jiwaku, ooh benar benar tak kusangka makin sering klimaks makin luar biaasaa rasa nikmatnya jiwaku serasa terbetot keluar terombang ambing dalam lautan kenikmatan yang maha luas. Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai batang penisnya pantatnya pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali.


Seluruh tetes air maninya kuperas dari batang kemaluannya yang sedang terjepit menyatu di dalam liang vaginaku. aarrgghh.. Nikmatnya sungguh luar biaasaa!! Oohh Heru aku kuatir akan ketagihan dengan batang penismu yang maha dahsyat ini!! Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, klimaks yang ketiga ini membuat tubuhku terasa lemas sekali, Heru sadar akan keterbatasan tenagaku, akhirnya ia membaringkan tubuhku di dadanya yang kekar, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa, kepuasanku terasa sangat dihargainya. Tiga kali klimaks bukanlah hal yang mudah bagiku untuk mendapatkannya didalam satu kali permainan seks.


Heru telah menaklukan diriku luaar.. dalaam..!! akan kukenang kejadian ini selama hidupku. Tiba tiba Heru melihat jam lalu dengan muka sedih ia mengatakan kepadaku bahwa ia harus menemui seseorang 10 menit lagi, akupun tak kuasa menahannya, aku hanya mengangguk tak berdaya.


Sepeninggal Heru dari rumah, aku termenung sendirian di ranjang. Suatu kejadian yang sama sekali tak terpikir olehku mulai merebak dalam kesadaranku. Aku telah menikmati perbuatan seks dengan sahabat suamiku bahkan harus kuakui, aku betul betul menikmati kedahsyatan permainan seks dengan sahabat suamiku itu. Tetapi aku telah mengkhianati suamiku. Aku mulai merasakan sesuatu yang salah, sementara di lain pihak, aku sangat menikmatinya dan sangat mengharapkan Heru melakukannya lagi terhadapku.


Hati dan akal sehat terpecah dan menyeretku ke dua arah yang berlawanan. Pergumulan batin terjadi membuatku limbung. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba melupakan Heru. Setelah beberapa minggu dalam kondisi seperti ini, hatiku makin tidak menentu, makin kucoba melupakannya makin terbayang seluruh kejadian hari itu, aku masih merasakan tubuhnya yang kekar berkeringat napasnya yang mendengus dengus terngiang sayup sayup terdengar suaranya memanggilku 'sayang'. Heru berhenti bertugas di kantor suamiku. Entah itu keinginannya sendiri atau memang ia dialih tugaskan, aku tidak tahu.

Namun hingga kini, pergumulan batin dalam diriku masih terus berlangsung. Di lain pihak aku tetap ingin mencintai suamiku, walaupun ia tak bisa memberikan apa yang telah diberikan Heru padaku. Aku masih merindukan dan menginginkan sentuhan tangan kekar Heru, dimanakah kau berada Heru..?

Pak Marsan mulai menekan pantatnya hingga batang kemaluannya amblas tertelan lubang kemaluanku. Ia diam beberapa saat untuk menikmati sensasi indahnya jepitan liang kemaluanku. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, Pak Marsan mulai menggenjot lubang kemaluanku dari arah belakang. Kembali terdengar suara tepukan beradunya pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marsan yang semakin lama semakin cepat mengayunkan pantatnya maju mundur.

Kurang puas dengan jepitan liang kemaluanku, kedua pahaku yang terbuka dikatupkannya hingga kedua kakiku berada diantara kedua paha Pak Marsan. Kembali ia mengayunkan pantatnya maju mundur. Aku merasakan betapa jepitan liang kemaluanku kian erat menjepit kemaluannya. Aku bermaksud menggerakkan pantatku mengikuti gerakanya, tetapi tekanan tangannya terlalu kuat untuk kulawan hingga aku pasrah saja. Aku benar-benar dibawah penguasaannya secara total. Tempat tidurku ikut bergoyang seiring dengan ayunan batang kemaluan Pak Marsan yang menghunjam ke dalam liang kemaluanku.
Nafsuku mulai terbangkit lagi. Perlahan-lahan gairahku meningkat saat batang kemaluan Pak Marsan menggesek-gesek kelentitku.
“Ugh.. Ugh.. Uhh..” terdengar suara Pak Marsan mendengus saat memacu menggerakkan pantatnya menghunjamkan kemaluannya.
“Terushh.. Terushh Pak.. Terushh.. Ahh..” kembali tubuhku bergetar melepas orgasmeku.

Kepalaku terdongak ke belakang, sementara Pak Marsan tetap menggerakkan kemaluannya dalam jepitan liang kemaluanku kini tubuhnya sepenuhnya menindihku. Kepalaku yang terdongak ke belakang didekapnya dan dilumatnya bibirku sambil tetap menggoyangkan pantatnya maju mundur. Aku yang sedikit terbebas dari tekanannya ikut memutar pantatku untuk meraih kenikmatan lebih banyak. Kami terus bergerak sambil saling berpagutan bibir dan saling mendorong lidah kami. Entah sudah berapa kali aku mencapai orgasme selama bersetubuh dengan Pak Marsan ini. Hebatnya ia baru sekali mengalami ejakulasi saat persetubuhan pertama tadi. Tubuhku terasa loyo sekali. Aku sudah tidak mampu bergerak lagi.
Pak Marsan melepaskan batang kemaluannya dari jepitan kemaluanku dan mengangkat tubuhku hingga posisi telentang. Aku sudah pasrah. Dibentangkannya kedua pahaku lebar-lebar lalu kembali Pak Marsan menindihku. Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin disekanya dengan handuk kecil yang ada di tempat tidur. Kemudian ia kembali menusukkan batang kemaluannya ke bibir kemaluanku. Perlahan namun pasti, seperti gayanya tadi dikocoknya batang kemaluannya hingga sedikit demi sedikit kembali terbenam dalam kehangatan liang kemaluanku. Tubuh kami yang sudah basah oleh peluh kembali bergumul.
“Pak Marsan.. Hebatthh..” bisikku.
“Biasa Bu.. Kalau ronde kedua saya suka susah keluarnya..” demikian kilahnya.

Kami tidak dapat berbicara lagi karena lagi-lagi bibir Pak Marsan sudah melumat bibirku dengan ganasnya. Lidah kami saling dorong mendorong sementara pantat Pak Marsan kembali menggenjotku sekuat-kuatnya hingga tubuhku timbul tenggelam dalam busa springbed yang kami gunakan. Kulihat tonjolan urat di kening Pak Marsan semakin jelas menunjukkan napsunya sudah mulai meningkat. Napas Pak Marsan semakin mendengus seperti kerbau gila. Aku yang sudah lemas tak mampu lagi mengimbangi gerakan Pak Marsan.
“Ugh.. Ughh.. Uhh..” dengus napasnya semakin bergemuruh terdengar di telingaku. Bibirnya semakin ketat melumat bibirku. Lalu kedua tangan Pak Marsan menopang pantatku dan menggenjot lubang kemaluanku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya. Aku tahu sebentar lagi ia akan sampai. Aku pun menggerakkan pantatku dengan sisa-sisa tenagaku. Benar saja tiba-tiba ia menggigit bibirku dan menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke dalam liang kemaluanku dan crrt.. Crrtt.. Cratt.. Cratt.. Crrat.. Ada lima kali mungkin ia menyemprotkan spermanya ke dalam rahimku. Ia masih bergerak beberapa saat seperti berkelojotan, lalu ambruk di atas perutku. Aku yang sudah kehabisan tenaga tak mampu bergerak lagi.
Kami tetap berpelukan menuntaskan rasa nikmat yang baru kami raih. Batang kemaluan Pak Marsan yang masih kencang tetap menancap ke dalam liang kemaluanku. Keringat kami melebur menjadi satu. Akhirnya kami tertidur sambil tetap berpelukan dengan batang kemaluan Pak Marsan tetap tertancap dalam liang kemaluanku. Paginya kami sempat bersetubuh lagi sebelum Pak Marsan pulang kembali ke kantor. Kami pun berjanji bahwa kami akan berlaku wajar seoalh-olah tidak terjadi apa-apa di antara kami.
Mulai Saling Merindu
Sudah hampir dua bulan sejak persetubuhanku dengan Pak Marsan kami tidak melakukannya lagi. Hal ini disebabkan karena suamiku selalu berada di rumah dan aku juga sempat dinas luar sehingga tidak ada kesempatan bertemu secara bebas. Lama-lama aku merasa kangen juga dengan ‘tongkat’ Pak Marsan. Aku sudah merindukan keliarannya, bau keringatnya dan juga kejantanannya.
Akhirnya kesempatan yang kutunggu-tunggu datang juga. Itulah yang namanya rezeki, tidak dapat dikejar dan tidak dapat pula ditolak. Kalau sudah waktunya pasti akan datang dengan sendirinya.
Hari itu hari Sabtu jadi kantor libur. Kebetulan pula suamiku sedang seminar di Pekanbaru dan pulang Minggu sore. Karena suntuk di rumah aku mencoba datang ke kantor siapa tahu ketemu dengan Pak Marsan. Tetapi sesampai di kantor ternyata dia tidak ada. Selidik punya selidik ternyata Pak Marsan sedang mengambil cuti tahunan, jadi ia libur selama satu minggu.
Terdorong kerinduanku aku memberanikan diri mendatangi rumahnya. Toh aku sudah biasa datang ke sana dan sudah kenal baik dengan istrinya. Setelah membeli biskuit dan gula serta susu buat bayinya aku meluncur ke rumahnya yang kalau kutempuh dari kantor kira-kira memakan waktu 45 menit. Lumayan jauh.
Suasana tampak sepi saat mobilku memasuki halaman rumah Pak Marsan yang sudah sangat kukenal. Aku mengenal seluk beluk rumah itu, seluruh penghuninya dan tetangganya karena aku memang sering datang ke situ.
Setelah memarkir mobilku di samping rumahnya aku mencoba memanggil si penghuni rumah.
“Yu.. Yu Sarni.. Ini aku Reni..” berulang ulang kupanggil nama istri Pak Marsan, namun tidak ada jawaban.
Rumah tidak terkunci namun tidak ada orang. Aku lalu memutuskan untuk memutar ke belakang rumah siapa tahu mereka berada di kebun belakang rumah. Tetapi tidak ada orang satu pun di kebun belakang rumah. Namun sayup-sayup kudengar suara berkecipak air di kamar mandi yang terletak di sudut belakang rumah Pak Marsan. Jangan berpikiran kalau kamar mandi di perkampungan sama seperti di kota-kota. Kamar mandi milik Pak Marsan hanya dibatasi anyaman bambu tanpa atap, sehingga bila hujan selalu kehujanan dan kalau panas selalu kepanasan. Untungnya lokasinya berada di bawah pohon rambutan sehingga agak terlindung dari panas.
Kudengar suara parau mendendangkan lagu ndangdut yang tidak begitu kukenal. Aku memang tidak suka sama musik dangdut jadi kurang begitu kenal dengan lagu yang dinyanyikan dengan suara fals. Itu suara Pak Marsan yang sangat kukenal di telingaku. Dengan rasa iseng kuintip Pak Marsan yang sedang mandi lewat celah-celah anyaman bambu yang agak longgar. Kulihat tubuh Pak Marsan yang kekar nampak mengkilat terkena busa sabun. Batang kemaluannya yang besar tampak menggantung dipenuhi busa sabun dan kelihatan lucu, seperti badut. Batang kemaluannya bergoyang-goyang seperti jam dinding kuno seiring dengan gerakan Pak Marsan yang menyabuni tubuhnya.
Pak Marsan yang hanya berbalut handuk tampak kaget melihatku sudah duduk di bangku panjang yang terletak di beranda belakang rumahnya.
“Lho.. Bu Reni.. Sudah lama datangnya?” ia melongo seolah tak percaya dengan kedatanganku.
“Enggak baru saja sampai kok. Orang-orang pada kemana kok sepi?”
“Em.. Anu Bu Sarni sedang ke Jawa menengok ibunya. Katanya ibunya kangen sama cucunya”
“Lho kok enggak bareng sama Pak Marsan?”
“Enggak soalnya biar irit ongkosnya Bu. Silahkan masuk Bu..”

Aku pun masuk ke rumah melalui dapur dengan diiringi Pak Marsan. Begitu pintu ditutup Pak Marsan langsung memeluk tubuhku dari belakang. Diciuminya tengkukku dengan ganas seperti biasanya.
“Saya.. Kangen sama Bu Reni..” bisiknya di telingaku. Aku sendiri juga kangen dengan Pak Marsan. Kangen dengan cumbuannya dan kangen dengan tongkatnya, tetapi aku tetap berpura-pura menjaga wibawaku.
“Ahh.. Pak Marsan bisa saja.. Kan sudah ada Yu Sarni..”
“Memang sih.. Tapi benar saya kangen sama Ibu..”

Tangannya bergerak ke belakang dan meremas buah pantatku. Sementara itu mulutnya terus turun ke arah perutku dan lidahnya mengosek-ngosek pusarku membuat aku kembali terangsang hebat. Tiba-tiba Pak Marsan melepaskan tanganku dari batang kemaluannya dan bersimpuh di depanku yang masih berdiri. Dengan serta merta digigitnya celana dalamku dan ditarik dengan giginya ke bawah hingga teronggok di pergelangan kakiku. Aku membantunya melepaskan satu-satunya penutup tubuhku dan menendangnya jauh-jauh.
Kini mulut Pak Marsan sibuk menggigit dan menjilat daerah selangkanganku. Dikuakannya kakiku lebar-lebar hingga ia lebih leluasa menggarap selangkanganku. Dengan bersimpuh Pak Marsan mulai menjilati labia mayoraku sementara tangannya meremas pantatku dan menekannya ke depan hingga wajahnya lebih ketat menyuruk ke bukit kemaluanku.
“Akhh. Terushh.. Ohh..” aku hanya bisa merintih saat lidah Pak Marsan menyeruak ke dalam liang kemaluanku yang sudah sangat licin.
Ditekankannya wajahnya ke selangkanganku hingga lidahnya semakin dalam menyeruak ke dalam liang kemaluanku. Aku semakin menggelinjang saat lidah Pak Marsan dengan nakalnya mempermainkan kelentitku. Sesekali ia menyedot kelentitku dan mengosek-kosek kelentitku dengan lidahnya. Gila.. Tubuhku mulai mengejang dan perutku seakan-akan diaduk-aduk karena harus menahan kenikmatan.
Pak Marsan sudah tidak peduli dengan keadaanku yang kepayahan menahan nikmat. Lidahnya bahkan semakin liar mempermainkan tonjolan di ujung atas liang vaginaku. Akhirnya aku tak mampu menahan gempuran badai birahi yang melandaku. Tubuhku berkelojotan, dan mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuhku melayang.
“Akhh.. Terr.. Ushh”
Tubuhku terus berkejat-kejat sampai titik puncaknya dan kurasakan ada sesuatu yang meledak di dalam sana. Tubuhku melemas seolah tak bertenaga. Aku hanya bersandar dengan lemas ke dinding kamar tanpa mampu bergerak lagi.
Pak Marsan lalu berdiri di hadapanku.
“Bagaimana Bu..?” bisiknya di telingaku.
“Ohh.. Luar biasa.. Pak Marsan hebb.. bathh” desahku.

Masih dengan posisi berdiri dengan aku menyandar dinding, Pak Marsan menyergap bibirku lagi. Pak Marsan menempatkan dirinya di antara kedua pahaku yang terbuka lalu dicucukannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku yang sudah sangat basah. Dengan tangannya Pak Marsan menggosok-gosokkan kepala kemaluannya ke lubang kemaluanku. Tubuhku kembali bergetar. Aku mulai terangsang lagi, saat kepala kemaluan Pak Marsan menggesek-gesek tonjolan kecil di lubang kemaluanku.
Dengan perlahan Pak Marsan mendorong pantatnya ke depan hingga batang kemaluannya menyeruak ke dalam liang kemaluanku.
“Hmmphh..” hampir bersamaan kami mendengus saat batang kemaluan Pak Marsan menerobos liang kemaluanku dan menggesek dinding liang vaginaku yang sudah sangat licin. Lidah kami saling bertaut, saling mendorong dan saling melumat. Tubuhku tersentak-sentak mengikuti hentakan dorongan pantat Pak Marsan. Pak Marsan terus menekan dan mendorong pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku dengan posisi berdiri.
Entah karena kurang leluasa atau kurang nyaman, tiba-tiba Pak Marsan mencabut batang kemaluannya yang terjepit liang kemaluanku. Ia membalikkan tubuhku menghadap dinding dan ia sekarang berdiri di belakangku. Tubuhku sedikit ditunggingkan dengan kedua tangan menopang tembok. Dipentangkannya kedua kakiku lebar-lebar, lalu ditusukkannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku dari belakang. Kali ini gerakanku dan gerakannya agak lebih leluasa.
Kedua tangan Pak Marsan meremas dan memegang erat pantatku sambil mengayunkan pantatnya maju mundur. Batang kemaluannya semakin lancar keluar masuk liang kemaluanku yang sudah sangat licin.
“Ughh.. Ughh..” kudengar Pak Marsan mendengus-dengus seperti kereta sedang menanjak. Aku pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pak Marsan dengan sedikit memutar pantatku dengan gaya ngebor.
Napas Pak Marsan semakin menderu saat kulakukan gaya ngeborku. Batang kemaluannya seperti kupilin dalam jepitan liang kemaluanku. Nafsuku yang sudah terbangkit semakin mengelora. Desakan-desakan kuat di dalam tubuh bagian bawahku semakin menekan. Kugoyang pantatku semakin liar menyongsong sodokan batang kemaluan Pak Marsan.
“Teruss.. Buu.. Terusshh” Pak Marsan mendesis-desis dan tangannya semakin kuat mencengkeram pantatku membantuku bergoyang semakin kencang.
“Arghh.. Arghh.. Akhh.. Say.. Saya.. Keluarhh buu..” kudengar Pak Marsan menggeram saat batang kemaluannya mengedut-ngedut dalam jepitan liang kemaluanku.

Aku pun merasa sudah di ambang puncak kenikmatanku. Kugoyangkan pantatku semakin liar dan akhirnya kuayunkan pantatku ke belakang menyongsong tusukan Pak Marsan hingga batang kemaluannya melesak sedalam-dalamnya seolah-olah menumbuk mulut rahimku dan kurasakan ada semburan cairan hangat dari batang kemaluan Pak Marsan di dalam liang vaginaku. Crat.. Crrtt.. Crutt.. Crtt.. Crott..!! Banyak sekali cairan sperma Pak Marsan yang tersembur menyiram rahimku, hingga sebagian menetes ke karpet kamar tidurnya.
Kami tetap terdiam sambil mengatur napas. Tangan Pak Marsan memeluk dadaku dan batang kemaluannya masih mengedut-ngedut menyemburkan sisa-sisa air mani ke dalam liang kemaluanku. Akhirnya kami berdua menggelosor ambruk ke kasur kumal yang biasa ditiduri Pak Marsan dan istrinya.
Kami berbaring dengan Pak Marsan masih memeluk tubuhku dari belakang. Batang kemaluan Pak Marsan yang sudah terkulai menempel di belahan pantatku. Kurasakan ada semacam cairan pekat yang menempel ke pantatku dari batang kemaluan Pak Marsan. Aku tak tahu dengan kain apa Pak Marsan menyeka lubang kemaluanku untuk membersihkan cairan sperma yang menetes dari labia mayoraku. Aku terlalu lemas untuk memperhatikan. Akhirnya aku tertidur kelelahan setelah ‘digempur’ habis-habisan oleh Pak Marsan.
Aku tidak tahu berapa lama aku telah tertidur di kasur Pak Marsan. Aku tersadar saat ada sesuatu benda lunak yang memukul-mukul bibirku. Saat kulirik aku terkejut ternyata benda yang memukul-mukul bibirku tadi adalah batang kemaluan Pak Marsan yang sudah setengah ereksi. Ternyata ia sedang berjongkok dengan mengangkangiku dan tangannya memegangi batang kemaluannya sambil dipukul-pukulkannya pelan-pelan ke bibirku. Begitu melihat aku terbangun, dengan serta merta Pak Marsan memegang bagian belakang kepalaku dan menyodorkan batang kemaluannya ke mulutku. Aku menjadi gelagapan karena bangun-bangun sudah disodori batang kemaluan laki-laki!! Gila.
Kurasakan ada sedikit rasa asin-asin yang agak aneh saat bibirku mulai mengulum batang kemaluan Pak Marsan yang disodorkan padaku. Sedikit demi sedikit batang kemaluan itu semakin mengeras dalam kulumanku.
Beberapa saat kemudian Pak Marsan membalikkan posisinya. Batang kemaluannya masih kukulum dengan liar kemudian ia menundukkan tubuhnya dan wajahnya kini menghadap selangkanganku. Dipentangkannya kedua pahaku kemudian lidahnya mulai bekerja menjilat dan melumat gundukan kemaluanku. Aku semakin gelagapan karena merasa kegelian di selangkanganku sementara mulutku tersumpal batang kemaluan Pak Marsan.
Aku ikut menyedot batang kemaluannya saat Pak Marsan menyedot kemaluanku. Kami saling menjilat dan menyedot kemaluan kami masing-masing dengan posisi Pak wajah Marsan menyeruak ke selangkanganku dan wajahku dikangkangi Pak Marsan.
Aku semakin menggelinjang liar saat lidah Pak Marsan mengais-ngais lubang anusku dengan menekuk kedua pahaku ke atas. Aku sangat terangsang dengan perlakuannya itu. Apalagi saat lidahnya dimasukkan dalam-dalam ke lubang vaginaku. Aku tak mampu menjerit karena mulutku tersumpal batang kemaluannya.
Tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan yang menyergapku. Pak Marsan dengan ganas menjilat-jilat tonjolan kecil di lubang kemaluanku dengan kedua tangannya membuka lebar-lebar labia mayoraku ke arah berlawanan. Aku tak mampu bertahan lama atas perlakuannya itu. Tubuhku mengejan dan berkelejat seperti cacing kepanasan. Lalu tubuhku tersentak selama beberapa saat dan akhirnya terdiam. Aku mengalami orgasme lagi dengan cepatnya.
Pak Marsan masih membiarkan batang kemaluannya menyumpal mulutku sambil sesekali lidahnya menyapu-nyapu dinding vulvaku. Setelah aku mulai dapat mengatur napasku, Pak Marsan menggulingkan tubuhnya ke samping dan menarik tubuhku agar naik ke perutnya. Ia bergeser ke arah dekat dinding dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggungnya hingga posisinya kini setengah duduk. Tubuhku ditariknya hingga menduduki perutnya lalu diangkatnya pantatku dan dicucukannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku.
Dengan pelan aku menurunkan pantatku hingga batang kemaluan Pak Marsan secara perlahan melesak ke dalam jepitan liang kemaluanku. Aku menahan napas menikmati gesekan batang kemaluannya di dinding lubang kemaluanku. Setelah beberapa kocokan yang kulakukan akhirnya amblaslah seluruh batang kemaluan Pak Marsan ke dalam lubang kemaluanku.
Kini aku duduk di atas perut Pak Marsan yang setengah duduk dengan punggung diganjal bantal. Dengan tangan bertumpu dinding tembok aku mulai bergerak menaik-turunkan pantatku secara perlahan. Sementara itu tangan Pak Marsan mencengkeram pantatku membantu menggerakkan pantatku naik turun, mulutnya sibuk menetek payudaraku.
Posisi di atas merupakan salah satu posisi favoritku. Karena dengan posisi ini aku dapat mengontrol sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifku dengan batang kemaluan laki-laki yang menancap di lubang kemaluanku.
“Akhh.. Shh.. Terushh.. Pak Mar.. Sanhh” aku mendesis-desis saat Pak Marsan ikut mengimbangi goyanganku sambil kedua tangannya menekan kedua payudaraku hingga kedua putingku masuk ke dalam mulut Pak Marsan. Kedua putingku dijilat-jilat dan disedot secara bersamaan hingga membuat nafsuku meningkat secara cepat. Aku semakin liar menggerakkan pantatku di pangkuan Pak Marsan. Tubuhku kembali mengejat-ngejat dan seperti terhantam aliran listrik.
“Terusshh.. Terusshh.. Ouchh..” aku semakin liar mendesis saat kurasakan sesuatu meledak-ledak. Tubuhku terasa terhempas ke tempat kosong lalu akhirnya aku ambruk di dada Pak Marsan.
Pak Marsan lalu bangkit dan berganti menindihku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan lubang kemaluanku. Bantal yang tadi mengganjal punggungku ditaruhnya untuk mengganjal pantatku hingga gundukan kemaluanku semakin membukit. Aku yang sudah lemas kembali dijadikan bulan-bulanan genjotan batang kemaluannya. Bibirnya tak henti-hentinya melumat bibirku dan pantatnya dengan mantap memompa batang kemaluannya menusuk-nusuk lubang kemaluanku. Kedua tangan Pak Marsan mengganjal bongkahan pantatku hingga tusukannya kurasakan sangat dalam menumbuk perutku.
“Ughh.. Ughh.. Putarrhh.. Buu.. Putarrhh ugghh..” kudengar Pak Marsan mendengus memintaku memutar pantatku. Aku menuruti permintaannya memutar pantatku dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.
“Terushh.. Terushh ter.. Oughh!!” Akhirnya dengan diiringi dengusan panjang tubuh Pak Marsan berkelojotan. Tubuhnya tersentak-sentak dan hunjaman batang kemaluannya serasa menghantam sangat dalam karena didorong sekuat tenaga olehnya. Batang kemaluannya berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku dan crott.. Crott.. Crott batang kemaluannya menyemburkan cairan kenikmatan ke dalam liang kemaluanku. Aku merasa ada desiran hangat menyembur beberapa kali dalam lubang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya.
Tubuh Pak Marsan masih berkelojotan untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam.
“Oughh.. Bu.. Ren.. Ni hebatthh” bisiknya di telingaku dengan napas yang masih ngos-ngosan. Tubuh kekarnya ambruk menindih tubuh telanjangku. Batang kemaluannya dibiarkannya tertancap erat dalam jepitan liang kemaluanku. Kami berdua sama-sama diam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih.
Hari sudah menjelang sore saat aku bangun dari kasur Pak Marsan. Aku kaget saat mau kupakai celana dalamku ternyata sudah basah oleh lendir yang masih menempel. Rupanya tadi Pak Marsan menyeka lubang vaginaku dengan celana dalamku! Sialan juga terpaksa aku tidak memakai celana dalam.
Dengan memakai celana dan baju atasanku aku keluar ke kamar mandi dan cebok membersihkan lubang kemaluanku dari sisa-sisa lendir sehabis persetubuhan tadi. Aku baru saja mau berdiri dan menaikkan celanaku saat tiba-tiba Pak Marsan yang hanya dililit handuk ikut masuk ke kamar mandi. Belum selesai membanahi celanaku lagi-lagi Pak Marsan merangsekku di kamar mandinya yang terbuka.
Diturunkannya lagi celanaku hingga sebatas lutut lalu didekapnya aku dari belakang. Bibirnya dengan gansa dan rakus menjilat dan mencumbu daerah belakang telingaku hingga gairahku mulai terbangkit lagi.
Melihat aku sudah dalam genggamannya dilepasnya lilitan handuknya hingga ia telanjang bulat. Batang kemaluannya yang sudah setengah keras menempel ketat di belahan pantatku. Aku sengaja menekan pantatku mundur hingga menggencet batang kemaluannya semakin terbanam di antara kedua belah buah pantatku. Kugeser-geser pantatku dengan lembut hingga lama-kelamaan batang itu mulai mengeras lagi.
Setelah keras dicucukannya batang kemaluannya ke celah-celah sempit di gundukan bukit kemaluanku lalu digosok-gosokannya ujungnya ke alur sempit itu yang sudah mulai basah.
Sekali lagi kami bersetubuh dengan hanya menurunkan celana panjangku sebatas lutut dan Pak Marsan menggenjotku lagi dengan posisi berdiri. Aku harus bertumpu pada bak mandi yang terbuat dari gentong tanah sambil setengah nungging sementara Pak Marsan menggenjot dari belakang. Gila. Pak satpam satu ini memang gila! Bagaimana tidak ia punya dua ‘tongkat’, yang satu dapat membuat orang kesakitan sedangkan yang satunya dapat membuat orang merem-melek keenakan!
***
Sampai di sini dulu kisah yang dituturkan pembacaku. Kisah ini kupersembahkan khusus buat ibu D di salah satu bank BUMN terkenal di kota Padang. Bila ada pembaca yang mempunyai pengalaman menarik dan merasa kesulitan menuangkannya dalam cerita bisa kontak saya. Mudah-mudahan saya dapat membantu merangkaikan pengalaman pembaca menjadi sebuah cerita yang dapat dibaca seluruh pecinta 17Tahun ini.

"Sayang cepatlah sedikit, pernikahannya setengah jam lagi," teriak Frank Hutapea sambil menggedor pintu kamar mandi. "Aku tak tahu bagaimana penuhnya parkiran di gereja nanti, aku mau sampai disana secepatnya biar dapat tempat," tambahnya sambil melirik pada jam tangannya.
"Lima menit lagi aku sudah selesai sayang. Kamu tunggu saja dibawah," jawab suara dari dalam kamar mandi.
"Ok tapi jangan terlalu lama," jawab Frank sambil pergi meninggalkan kamar mandi dan turun ke lantai bawah.

Annie Hutapea selesai menyisir rambut sebahunya dan mengoleskan lipstick ke bibirnya, kemudian dia mundur kebelakang untuk mengamati dandanannya dalam bayangan cermin. Mantan juara renang saat duduk di bangku kuliah yang sekarang berusia 33 tahun ini tetap memiliki bentuk tubuh yang terjaga berkat 25 lap yang dia lalap setiap harinya di club renang terdekat dan berkat pekerjaannya sebagai pelatih renang pribadi. You still have it girl, pujinya pada dirinya sendiri saat dia memandangi paha jenjangnya, pantantya yang masih kencang dan pinggulnya yang menggoda. Suasana hatinya sangat riang hari ini dan dia putuskan untuk memakai thong-nya yang berwarna hitam dan tercetak tepat pada bongkahan pantat bulatnya, beserta setelan bra-nya yang seakan tak mampu menampung kekenyalan buah dadanya.

Dia dan Frank bertemu dibangku kuliah dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Frank termasuk dalam team basket sedangkan dia adalah perenang paling dominan dalam team renang. Hingga suatu ketika keduanya berada dalam pesta liar bersama teman-temannya pada suatu malam dan pesta tersebut diekspos dalam koran kampus keesokan harinya. Pihak kampus yang merasa kejadian tersebut berdampak sangat buruk bagi nama baik mereka akhirnya memutuskan untuk menskors sementara nama-nama yang berada dalam pesta tersebut. Annie merasa sangat terpukul tapi kejadian tersebut membuat dia dan Frank semakin bertambah dekat, hingga akhirnya saat wisuda Frank melamar Annie untuk menjadi isterinya.

Annie menerimanya dengan sukacita dan 5 tahun berselang tanpa pernah ada rasa penyesalan dalam dirinya. Dengan jabatan Frank sebagai salah satu top direksi pada sebuah Bank terkemuka membuat hidup keduanya berada dalam bagian kota yang sangat nyaman. Bagian kota dimana setiap halamannya nampak hijau asri dan pada setiap garasi rumahnya terparkir mobil mewah.

Pesta pernikahan yang akan mereka hadiri kali ini adalah pernikahan salah satu sahabat Frank dimasa kuliah dulu dan Annie tahu apa yang akan menantinya dipesta nanti. Suaminya akan menghabiskan seluruh malam bercerita tentang team basket mereka dan dia akan duduk dan mendengarkan para isteri saling memperbandingkan tentang prestasi anak dan suami mereka. Hari ini akan lain ceritanya, dia yakinkan pada dirinya sendiri dan memutuskan untuk berpakaian seperti ini agar mendapat seluruh perhatian dari suaminya.

Dia berjalan menuju closet dan mengambil gaunnya lalu sekali lagi mengamati bayangan dirinya dalam cermin. Gaun merahnya menempel ditubuhnya seakan kulit kedua. Dengan belahan dada yang rendah membuat belahan dadanya yang membusung nampak sangat menggoda, sedangkan bagian bawah gaunnya yang hanya sampai diatas lututnya memperlihatkan keindahan lekuk pantatnya. Setelah merasa puas dengan dandanannya dia berjalan menuju ke lantai bawah untuk menyusul suaminya.

"Wow Annie you look beautiful. Kamu tahu kalau melihatmu memakai gaun ini selalu membuatku gila," puji Frank seraya tangannya meremas pantat isterinya dengan lembut.
"Yes I know lover, itu pointnya. Membuat semua pria merasa jealous karena tak dapat memilikiku," jawab Annie sambil tangannya mengelus selangkangan Frank.
Frank mulai merasa terangsang tapi sang waktu telah mendesak dan dia berbisik ditelinga isterinya "Akan kuurus kamu nanti."
Annie menggandeng lengan Frank saat keduanya berjalan keluar menuju mobil dan menjawab "Kupegang janjimu sayang."

Upacara pernikahannya digelar di gereja dipinggiran kota dan dihadiri tak kurang dari 200 orang pikir Annie saat dia duduk disamping suaminya. Gaun yang dia kenakan nampak berefek pada Frank dan setiap pria dalam pernikahan tersebut karena nampak mereka melirik kearahnya saat dia menaruh pantatnya di atas bangku gereja.

Upacara pernikahannya berlangsung kurang lebih selama 1 jam dan hampir diakhir acara AC dalam ruangan tersebut mengalami kerusakan. Membuat suhu di dalam ruangan memanas. Butiran keringat nampak mulai menetes didahi orang-orang dan booklet pernikahan sudah beralih fungsi menjadi kipas tangan. Siksaan tersebut akhirnya usai setelah rangkain upacara pernikahan tersebut rampung dan orang-orang berjalan keluar menuju ke mobil masing-masing untuk pergi ke gedung resepsi. Efek dari kondisi lembab pada gaun Annie membuatnya semakin melekat erat pada lekuk tubuhnya yang mana memancing rasa tak suka dari para wanita yang hadir. Membuat kebanyakan mereka menilai bahwa gaun yang dia kenakan terlihat murahan.

Pesta resespsinya digelar digedung yang terletak tak jauh dari gereja tadi dan saat Annie mulai memasuki ruangan tersebut, perhatian yang dia peroleh dari para pria sangatlah tergambar jelas. Para pria saling berlomba untuk memperkenalkan diri pada keduanya, beberapa teman Frank yang telah tak berjumpa selam 5 tahun lebih mendekati mereka dan bertingkah seakan sangatlah akrab pada mereka.

"Lihatlah sayang, mereka semua pikir kalau aku adalah wanita simpananmu. Setiap pria disini ingin naik ke ranjang denganku," bisik Annie ditelinga suaminya saat keduanya berjalan menuju meja.

Setelah acara minum berselang, tibalah kini saatnya sang pengantin memasuki ruangan dan orang-orang mulai berdansa. Annie telah minum beberapa gelas tadi dan sekarang tubuhnya merasa sangat hangat dan mellow kala dia berdansa dengan suaminya. Lagu yang diputar adalah up tempo dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya dan manari dengan sangat menggoda, tubuhnya meliuk naik turun bergesekan dengan tubuh Frank.

Hingga tibalah saat dinner dan semua orang kembali ke mejanya masing-masing. Acara dinner tersebut berlangsung kurang lebih sekitar 1 jam dan selama rentang waktu tersebut Annie sudah pergi ke bar lebih dari 3 kali dan saat nampan-nampan tiba gilirannya dibersihkan, kondisinya sudah lebih dari agak mabuk. Beberapa teman suaminya menghampiri mereka dan saat mereka saling asik bercerita tentang masa kuliahnya, Annie mendapati dirinya berada diluar percakapan. Suara musik berkumandang kembali dan Annie mencoba mengajak suaminya untuk berdansa lagi.

Setelah beberapa lagu berganti dan suaminya hanya mau menemaninya dansa sebentar saja, Annie mulai merasa sangat bosan, seorang pria muda mendekatinya dan menyapa "Boleh mengajak anda dansa Nyonya?"
Annie menatapnya dan menjawab "Kamu adik si pengantin pria. Billy?"
Dia tersenyum dan menjawab "Bukan, Bobby. Tapi anda hampir benar."
"Sorry Bobby, tapi aku dengan suamiku," jawabnya ramah.

Bobby menoleh ke arah suami Annie dan melihat kalau sang suami nampak sedang begitu asik dengan obrolan tentang kisah yang mungkin sudah terjadi 20 tahun lalu.

"Wow anda akan sangat membuatku kecewa dipesta pernikahan kakakku. Itu akan membuatku sedih," jawabnya seraya menyuguhkan mimik muka menghiba.
Annie menatap pria muda ini dan dengan cepat menjawab "Oh aku tak bermaksud begitu Bobby. I'm sorry, aku hanya bermaksud kalau aku sudah menikah. That's all."
Bobby membalas tatapan mata Annie dan tersenyum manis dan untuk beberap kejap Annie merasa tenggelam dalam tatapan matanya itu. Dalam hatinya berkata pria ini begitu muda.
"Aku cuma bercanda, tapi bolehkah aku berdansa dengan nyonya sekali saja? Nyonya boleh meminta ijin pada suami dan kalau dia tidak mengijinkan, lupakan saja."
Annie tertawa dan menjawab "Baiklah anak muda, tunggu disini."

Saat Annie meminta ijin pada suaminya, responnya hanya "Tentu saja boleh sayang, bersenang-senanglah."

Lalu keduanya berjalan ke lantai dansa dan setelah lagu pertama berlalu, lagu kedua berganti dengan irama yang slow.

Saat mereka berdansa Annie melempar pertanyaan pada Bobby "So Bobby, ceritakan padaku tentang dirimu dan jangan panggil aku nyonya atau ber-anda – saya denganku, itu membuatku merasa sangat tua. Panggil aku Annie saja."
Bobby membimbing Annie di atas lantai dansa dan menjawab "Ok Annie, umurku 18 tahun, disekolah aku ikut team basket, sepak bola dan sesekali ikut renang juga."

Hal terakhir tersebut menarik perhatian Annie dan dia menanyakan dalam gaya apa Bobby berenang seraya mereka terus berdansa.

"Oh 50, 100, and 400 freestyle and the 100 butterfly," jawab Bobby.
Mata Annie membesar dan dia mulai penasaran "Aku berenang di 400 freestyle dan 100 butterfly saat kuliah dulu. Record waktumu berapa?"
"Oh mungkin tak sebagus waktumu. Aku tak begitu bagus," jawabnya.
"Oh well kamu masih SMU. Kamu masih punya kesempatan untuk bertambah kuat dan memperbaiki waktumu," jawab Annie seraya meremas bahu Bobby dan dia sadari kalau bahu pria muda ini lumayan kekar.

Alunan lagunya usai dan berganti dengan lagu berirama cepat, Annie melangkah kembali ke mejanya, tapi Bobby berkata "Kamu sudah kecapaian, aku pikir kamu tadi bilang kalau kamu seorang perenang?"

Mendengar itu Annie berbalik arah dan mulai berdansa kembali dengan Bobby dan mulai berdansa dengan gerakan yang lebih dan lebih menggoda. Seorang pramusaji mendekat dengan membawa minuman dan Bobby mengambilkan minuman untuk Annie yang terus bergerak mengikuti irama lagu.

Dengan cepat Annie meneguk minuman yang disodorkan Bobby dan berkata "Ayo Bobby coba kalahkan aku."
Bobby meneguk minumannya dan mengambil dua gelas lagi untuk mereka dan keduanya menenggaknya dengan cepat pula.
"Hey kamu belum cukup umur," kata Annie saat mereka kembali berdansa. Lalu dia mendekatkan tubuhnya kea rah Bobby dan berbisik ditelinganya "Jangan takut Bobby. Aku tak akan bilang-bilang," bisik Annie sambil menggodanya dengan memberikan sebuah remasan ringan pada pantat Bobby.

Penis Bobby terlonjak tiba-tiba saat Annie melakukan hal tersebut dan semakin bertambah membesar saat dia melihat buah dada Annie terayun mengikuti lenggokan tubuhnya yang meliuk dengan sangat menggoda diatas lantai dansa. Gaunnya kini benar benar basah oleh peluhnya saat dia terus meliukkan tubuhnya dan mulai memegangi buah dadanya lalu menggesekkannya ke tubuh Bobby. Setelah lagu usai Annie merasa kelelahan lalu dia melangkah kembali ke mejanya, namun suaminya masih tersangkut dalam percakapan dengan para sahabatnya. Annie merasa sangat sangat bosan dan saat satu lagu baru berkumandang kembali dan Bobby mengajaknya untuk kembali berdansa dengannya, dia menerimanya.

Kali ini lagunya berirama slow dan kala mereka mulai berdansa Annie merebahkan kepalanya didada Bobby dan begitu Bobby menghirup parfum yang dikenakanAnnie serta sentuhan tubuhnya, batang penisnya kembali mulai membesar. Annie menyandarkan tubuhnya pada Bobby dan dia hirup aroma lelaki dari aftershave-nya, merasakan kekarnya lengan Bobby yang memeluk tubuhnya, dan dia mulai merasa bergairah. Sebuah lagu slow baru mengalun dan keduanya tetap berpelukan. Batang penisnya semakin bertambah membesar dan mulai menusuk tubuh Annie. Annie meresponnya dengan sebuah desahan pelan dan mulai menggesekkan rubuhnya ke tubuh Bobby, sambil tanganny mengelus punggung pria muda ini dengan lembut. Saat batang penisnya terus membesar, tangan Bobby bergerak turun ke pantat Annie dan mulai memberikan remasan pada daging kencang milik Annie tersebut.

Bobby mulai kehilangan kontrol sekarang. Batang penisnya terasa begitu tegang hingga dia merasakan seakan hendak menyembul keluar merobek celananya kala Annie terus menggesekkan tubuh bawahnya pada tubuhnya.

Akhirnya lagu tersebut usai dan Annie berkata "I'm sorry aku harus pergi, but thanks for the dance." Dia berjalan menuju mejanya kembali dan berkata pada suaminya kalau dia harus pergi ke kamar kecil, tapi dia tak tahu dimana tempatnya.

"Akan kutunjukkan padamu," kata Bobby.
"Oh baguslah, thanks kid," jawab suaminya saat keduanya berlalu bersama.

Antrian didepan kamar kecil wanita sangat panjang, lalu setelah memastikan kalau tak ada yang berada di dalam dan berjanji untuk menjaga situasi, Bobby mengajak Annie masuk ke dalam kamar kecil pria. Kamar kecil tersebut berukuran lumayan luas dan terlihat bersih dengan meja washtafel berukuran besar dengan cermin besar di atasnya, beberapa tempat kencing berdiri dan beberap bilik dengan pintu penuh di salah satu bagian dindingnya.

Annie bergegas memasuki salah satu bilik dan Bobby memakai tempat kencing yang berdiri. Setelah selesai melepas hajatnya Annie lalu keluar dari dalam bilik dan membasuh tangannya pada washtafel, dia melirik ke arah cermin dihadapannya untuk melihat bayangan Bobby yang terpantul didalamnya. Hanya punggung Bobby yang nampak di cermin namun benak Annie membayangkan seperti apakah bentuk dari batang penis milik pria muda ini, dan kenyataan saat ini bahwa dia berada dalam ruang ini hanya berdua dengan Bobby dan dia berada tak jauh darinya menjadikan thong yang dipakaianya yang telah agak basah itu semakin bertambah basah saja. Bobby membalikkan tubuhnya dan kemudian melangkah mendekati Annie untuk membasuh tangannya juga.

Annie melirik ke arah Bobby dan berkata "Bobby aku minta maaf soal kejadian dilantai dansa tadi. Aku sudah agak kelewatan."
Bobby menatap Annie dan tersenyum "Hey it's ok, tapi kita masih bisa mendengar suara musiknya dari sini, jadi bisakah kita menyelesaikan dansa tadi?"
Annie tertawa dan menjawab "Tentu saja."

Lalu keduanya kembali berdansa diiringi alunan musik yang terdengar, pelukan Annie kali ini begitu erat hingga Bobby bisa merasakan putting Annie yang mengeras dibalik pakaiannya. Hal ini ber-efek pada batang penis Bobby yang segera mengembang besar, namun kali ini sensasi yang dia rasakan berbeda dengan yang tadi. Annie bisa merasakannya mendesak pada tubuhnya dan kembali dia mulai mendesah pelan dan menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke tubuh Bobby seperti sebelumnya, namun dia rasakan desakan batang penis Bobby kali ini lebih intens. Terasa lebih focus pada satu area dan semakin dia gesekkan tubuh bawahnya maka tersa semakin menjadi keraslah itu terasa. Annie melirik ke bawah dan dia menjadi terkejut dengan pemandangan batang penis Bobby yang menyeruak keluar dari resleitingnya yang terbuka.

"Masukkan lagi Bobby," kata Annie dengan tegas, namun Bobby tak bergeming hingga Annie kembali mengulang perintahnya namun tetap saja pria muda ini tak mengacuhkannya.

Mau tak mau Annie melayangkan pandangannya ke bawah dan memandang dengan takjub menyadari pria muda berumur 18 tahun ini memiliki batang penis yang sedemikan besar . Yang membuatnya tercekat adalah kenyataan bahwa meskipun batang penis ini terlihat belum ereksi sepenuhnya namun masih tetap terlihat lebih besar dibandingkan dengan milik suaminya saat ereksi penuh. Suamiku!!!!!

Saat hal itu melintasi benaknya Annie segera berkata "Bobby hentikan ini sekarang. Masukkan punyamu ke dalam celana."

Kembali Bobby tak menjawab ataupun memberi respon. Dia hanya memandang Annie dengan tajam. Merasa frustrasi dan mencoba untuk mengontrol gairahnya sendiri, akhirnya Annie memegang batang penisnya dan mencoba untuk memaksanya masuk kedalam celananya lagi. Erangan Bobby langsung terdengar saat Annie mencoba meskipun sia-sia memasukkan batang penis Bobby kembali ke dalam celananya, dan pinggang Bobby bergerak kegelian saat Annie terus mencoba usahanya.

Annie merasa kagum selama usahanya untuk memasukkan batang penis Bobby kedalam celanana, batang tersebut terasa semakin bertambah membesar. Api diselangkangannya mulai berkobar saat dia sadari kalau dia ingin melihat seberapa besar lagi batang penis ini bisa berkembang. Akhirnya Annie hentikan usahanya untuk memasukkan batang tersebut dan gerakannya beralir sebuah kocokan pelan mengimbangi gerakan pinggang Bobby.

Cengkeraman tangan Annie sekarang berubah kencang dan kocokannya semakin cepat saat Bobby yang kini menyandarkan tubuhnya ke meja washtafel dan mulutnya semakin meracau "Oh G*d... Oh baby... Oh G*d Annie... yes!"

Annie semakin bertambah takjub mendapati betapa besarnya batang penis pria muda ini sekarang dan kocokannya semakin bertambah cepat dan cepat. Jauh lebih besar dari milik Frank, pikir Annie. Dahulu dia pernah mempunyai beberapa kekasih sebelum suaminya namun kesemua mereka tak memiliki batang sebesar yang dimiliki pria muda ini.

Tiba-tiba punggung Bobby meregang ke belakang "Oh G*d Annie... Oh YeSSSSSSSS," dia ejakulasi dengan semburan sperma yang terlontar keras berulang-ulang ke udara dan jatuh ke atas lantai.

Annie hanya mampu memandanginya dan merasa belum pernah melihat seorang pria yang berejakulasi sebanyak dan sedahsyat ini sebelumnya dan dia beri sebuah remasan sekali lagi untuk memastikan bahwa tak ada lagi yang tersisa. Bobby kemudian merengkuh tubuh Annie dan menciumi belahan dadanya, menjilati setiap tetes keringat yang berbaur dengan wangi parfumnya. Dia cengkeram bagian atas gaun yang dikenakan Annie dan menyentakkannya turun hingga sebatas pinggang, membuat buah dada terbungkus bra hitam milik Annie kini terekspos dihadapannya. Bobby meraba-raba dengan gusar kaitan bra dipunggung Annie hingga Annie menghentikan perbuatannya dan melepaskan sendiri kaitan bra yang dipakainya dari depan. Buah dada kencang nan kenyal tersebut segera melompat keluar begitu penutupnya terlepas dan Bobby langsung memasukkan salah satu putingnya yang sudah sedemikin mencuat keras ke dalam mulutnya lalu tangannya segera memberikan remasan pada buah dada yang satunya lagi.

"Oh Bobby... kamu sangat nakal anak muda… oh Bobby yeah baby... ya… disitu oh... pintar anak manis," Annie mengerang dan memjamkan matanya rapat sedangkan punggungnya meregang kencang ke belakang membuat buah dadanya semakin mencuat untuk dinikmati Bobby.

Bobby terus menghisap, melumat dan terkadang menggigit pelan putting Annie yang membuat isteri Frank ini menggelinjang tak karuan. Gemuruh ombak kenikmatan meletus dalam tubuh Annie dan dia memeluk tubuh Bobby dengan kencang dan menariknya semakin merapat ke tubuhnya. Hingga setelah ledakan kenikmatan tersebut mereda, Annie melepaskan tubuh Bobby dan bersandar tubuhnya pada meja washtafel, matanya nampak berbinar dengan gairah dan buah dadanya terlihat basah oleh keringatnya yang bercampur dengan air liur Bobby, bergerak naik turun seirama deru nafasnya yang memburu.

Kemudian Bobby mendudukkannya ke atas meja washtafel tersebut, tangannya bergerak keatas paha Annie dan menarik turun thong yang menutupi selangkangan Annie. Annie hanya memandangi apa yang dilakukan pria muda dihadapannya tersebut dan sedikit mengangkat pantatnya untuk mempermudah usaha Bobby. Mata Annie terus memperhatikan apa yang dilakukan Bobby selanjutnya, dia genggam thong tersebut dan mulai mendekatkannya pada wajahnya lalu mulai menjilatinya dihadapan Annie. Lalu Bobby berlutut didepan selangkangan Annie dan membenamkan wajahnya ke vagina isteri Frank ini.

"OH YESSSS…" Annie memekik nikmat kala Bobby mulai menggerakkan lidahnya keluar masuk dengan cepat, dia julurkan lidahnya sepanjang yang dia mampu tak menyisakan satupun area untuk dia eksploitasi, semakin dalam dan bertambah dalam dia membelah ke dalam vagina Annie.

"Oh Bobby... baby... terus Bobby… auww," dia memekik pelan, mendesis tak terkontrol kala Bobby melanjutkan serangannya. Kini dia bergerak ke atas untuk mencari kelentitnya dan begitu dia temukan langsung dia hisap dengan lembut pada awalnya namun segera berubah keras dan kasar.

"Aaarghh… Bobby... oh Bobby... oh jangan berhenti... lebih cepat... lebih cepat... Oh BOBBBBBBBBBY," teriakan Annie terlepas kala dia mencapai orgasme keduanya hari ini. Bobby menjilat habis seluruh cairan yang dikeluarkan Annie lalu dia bangkit dan menatap lekat ekspresi wajah Annie seusai mendapatkan kepuasannya.

Saat dunia terasa kembali kehadapan mereka berdua, tiba-tiba saja telinga mereka menangkap suara dan langkah kaki yang melangkah mendekat diantara suara musik yang terdengar. Keduanya tercekat dan mulai panik. Dengan tergesa keduanya menata diri dan bergegas masuk ke dalam salah satu bilik terdekat. Berbarengan dengan Bobby menutup pintu bilik dibelakangnya, pintu kamar kecil tersebut terbuka dan kakak Bobby bersama seorang temannya masuk. Kedua lelaki tersebut melangkah menuju washtafel, mencuci tangannya lalu membasuh muka dan terus asik mengobrol tak menyadari kehadiran dua orang lainnya di dalam salah satu bilik tersebut.

Bobby diam tak bergerak dengan celana yang melorot hingga lutut membuat batang penisnya yang mendongak dengan ereksi penuh nampak terayun seiring degup jantungnya yang berdetak kencang. Annie duduk di atas closet, suasana tegang tersebut tak menghalangi pemandangan batang penis Bobby yang tepat dihadapan matanya, seakan mengejek dan terus menggoda. Dia ambil thong-nya yang masih dalam genggaman tangan Bobby, lalu menaruhnya diselangkangannya dan menekannya rapat-rapat pada vaginanya untuk memastikan lebih banyak lagi cairan birahinya terserap dikaian thong tersebut.

Lalu dia menarik thong yang semakin bertambah basah tersebut dan memberi isyarat pada Bobby untuk duduk di atas closet duduk tersebut dan dia berbisik pelan ditelinga Bobby "Kita harus sangat tak bersuara. Aku ingin menghisap penismu Bobby. Buka mulutmu."
Bobby melakukan apa yang diperintahkan Annie dan kemudian Annie menyumpalkan thong basah tersebut ke mulut bobby, menarik pantat Bobby untuk semakin mendekatinya dan segera melahap batang penis Bobby yang terus menggoda birahinya tersebut.

Suara erangan Bobby tertahan oleh sumpalan thong milik Annie dimulutnya saat Annie mulai menggerakkan mulutnya maju mundur menghisap batang penisnya dengan cepat. Sedangkan kakak Bobby dan temannya tetap asik mengobrol sambil merapikan diri dihadapan cermin diluar bilik tempat Annie mengulum batang penis adiknya dengan rakus.

Tiba-tiba Annie menghentikan gerakannya dan menarik kepala Bobby turun mendekat dan berkata "Keluarkan dalam mulutku… biarkan aku merasakan spermamu Bobby," lalu kembali memasukkan batang penis Bobby ke dalam mulutnya, menekannya sejauh mungkin hingga sedalam tenggorokannya mampu mengakomodirnya.

Annie mulai memberikan deep throat pada Bobby dan mendengar suara erangan Bobby yang tertahan sumpalan thong dimulutnya, serta kehadiran kakak Bobby tepat diluar bilik tempat mereka berada begitu membuatnya merasa takut terpergok namun juga semakin membakar birahinya. Hingga akhirnya Bobby mencengkeram kepala Annie dan menekannya ke selangkangannya seerat mungkin kala semburan demi semburan spermanya tumpah ke dalam tenggorokan isteri Frank tersebut.

Setelah merasa tak ada lagi sperma Bobby yang bisa direguknya, Annie menarik kepalanya ke belakang dan bangkit, dia berbalik dan mendekat kepintu bilik untuk mendengarkan apakah kakak Bobby masih berada di sana atau tidak. Kak Bobby dan temannya telah keluar tepat sesaat sebelum Bobby menumpahkan seramnya dalam mulut Annie tadi yang tentu saja tak terdengar oleh keduanya yang sedang asik berada di dunia lain.

Kala tubuh Annie berbalik untuk mendekati pintu bilik, pantatnya yang tersuguh dihadapan wajah Bobby tak ayal membuat batang penis Bobby langsung mengeras kembali. Dia raih tubuh Annie dan menariknya ke atas pangkuannya. Tangannya segera bergerak menelusup ke bagian depan untuk mencengkeram kekenyalan buah dada dari isteri Frank, dan jemarinya langsung memilin putting kerasnya.

Annie tersenyum mendapati tingkah laku Bobby tersebut dan senyumnya semakin bertambah lebar sewaktu merasakan kerasnya batang penis Bobby yang menusuk pantatnya. Ah, stamina anak muda… pikirnya. Dia merespon dengan merebahkan tubuhnya ke belakang bersandar pada Bobby dan berbisik manja "Aku ingin kamu masukkan penismu ke dalam vaginaku sekarang Bobby. Tunjukkan padaku seberapa hebatnya staminamu anak muda."

Annie mengangkat pantatnya sedikit untuk mengatur posisinya, dia raih batang penis bobby dan menempatkannya tepat didepan pintu masuk vaginanya. Lalu dia turunkan tubuhnya dengan sangat pelan, menikmati setiap bagian dari batang penis bobby yang membelah vaginanya. Dia resapi setiap sensasi yang diberikan oleh Bobby yang membelah dan menyeruak dibagian yang belum pernah dijamah oleh suaminya maupun semua kekasihnya sebelumnya. Bobby membungkuk kedepan untuk memeluk Annie dan membelai buah dadanya. Annie melempar tubuhnya sepenuhnya ke pelukan Bobby dan kakinya terjulur ke atas bertumpu pada pintu bilik tersebut, lalu mulai mengangkat pantatnya kemudian menurunkannya lagi menyambut gerakan menusuk Bobby dari bawah.

"Ssshh… ahhh... oh baby... yeah... oh Bobby ... kamu begitu besar... oh fuck me Bobby," racaunya saat Bobby menguburkan dirinya ke dalam tubuh Annie.

Kemudian, tiba-tiba saja terdengar pintu kamar kecil tersebut dibuka lagi dan disusul oleh masuknya suara langkah kaki diiringi oleh suara dua orang pria. Kali ini suara dari salah satu pria tersebut terdengar sangat familiar di telinga Annie.

"Ya dia pergi ke kamar kecil sudah lama tadi, tapi kamu lihat kan panjangnya antriannya tadi. Dia mungkin masih berada didalam menunggu," Frank tertawa pada sahabatnya.

Annie tercekat, tubuhnya menegang! Itu suaminya!!! Dia ada diluar bilik, di dalam kamar kecil ini, tak jauh darinya. Dia harus menarik kakinya dan berhenti menekan pintu bilik ini, tapi reaksi tubuhnya yang tegang tersebut membuat otot vaginanya mencengkeram batang penis Bobby dengan demikian erat membuat Bobby menggelinjang dibawahnya. Tangan Bobby langsung begerak mengarah ke depan mencari kelentit Annie dan langsung memainkannya. Hampir saja Annie menjerit karena perbuatan Bobby ini, dengan cepat dia meraih ke belakang dan menarik thong-nya yang menyumpal mulut Bobby dan menyumpalkannya ke mulutnya sendiri.

Suara erangannya tertahan oleh sumpalan thong di mulutnya begitu Bobby tak hentinya mempermainkan kelentitnya dan disaat yang bersamaan seluruh batang penisnya terbenam seluruhnya dalam cengkeraman vaginanya. Dan suaminya saat ini berada tak lebih dari beberapa meter jauhnya. Bobby tetap memainkan jemarinya dikelentit Annie dan mulai mengatur kocokannya dalam irama yang pelan. Dengan bantuan Annie yang pinggangnya dicengkeram erat oleh kedua tangannya, Bobby mulai menusukkan batang penisnya sedalam yang dia mampu lalu menariknya hingga hanya tinggal kepalanya saja yang terbenam didalam vagina Annie hingga dia tusukkan kembali lagi. Gelora demi gelora kenikmatan mulai terbentuk didalam perut Annie yang dengan beusaha sebisanya untuk tak mengeluarkan suara dengan menutup mulut yang sudahtersumpal thong-nya sendiri dengan tangannya. Perlahan dia hampir mencapi batas pertahanannya hingga akhirnya telinganya menangkap suara pintu kamar kecil tersebut tertutup dibalik bilik tempatnya berada ini...

Dia renggut lepas thong yang menyumpal mulutnya dan seiring hentakannya kebawah untuk kali terakhir, dia raih batasnya seiring jeritan mulutnya"Aaaaarrrgggghhhh… oh Bobby... Bobby... sssshhhh," diraihnya moment pelepasan terindah dalam hidupnya yang membuat sekujur sendi ditibuhnya tergetar dan air mata keluar dari sudut matanya.

Tak lama berselang kemudian Bobby menggeram melepaskan gempuran orgasmenya sendiri yang menggempur batas kesadarannya " Arrrrggggghhh… Annie…," semburan disusul semburan berikutnya dia tuangkan ke dalam rahim isteri Frank di atas pangkuannya ini.

Tubuh Annie terhempas ke belakang di atas pangkuan Bobby yang juga merasa seluruh tulangnya seakan dilolosi dari tubuhnya. Annie menoleh ke belakang dan memberi sebuah ciuman yang dalam pada Bobby dan jemarinya bergerak menyusuri rambut pria muda ini.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, Annie bangkit membuat sebuah suar ‘plop’ sewaktu menarik keluar batang penis Bobby dari vaginanya. Keduanya kemudian keluar dari dalam bilik tersebut dan merapikan diri di depan kaca di atas meja washtafel yang baru beberapa saat lalu juga digunakan oleh kakak Bobby dan Frank beserta temannya untuk merapikan diri. Setelah merasa semua jejak terhapus keduanya dengan berhati-hati menyelinap keluar bergantian dari dalam kamar kecil pria tersebut. Hanya aroma seks yang masih tertinggal di dalam sana...

"Hey dari mana saja kamu " Tanya Frank pada isterinya begitu dia melihat Annie berjalan mendekat mejanya.
"Oh well, antrian di kamar kecil wanita terlalu panjang lalu Bobby mengajakku kamar kecil lainnya yang terletak dibagian," jawab Annie berusaha untuk terdengar senatural dan semeyakinkan mungkin.
"Ok well kita harus segera pulang sayang. Dan Bobby, terima kasih sudah menemani dan mengurus isteriku," kata Frank sambil menjabat tangan Bobby.
"Sama-sama Frank, tak usah sungkan," jawab Bobby sambil melirik ke arah Annie yang mengedip kepadanya…