Showing posts with label lesbi. Show all posts
Showing posts with label lesbi. Show all posts

Semua berawal dari satu kebodohan. Aku mencuri sepeda motor di satu warnet karena aku ingin sekali memiliki sepeda motor. Di kelas 2 SMU tempatku sekolah hampir semua temanku punya sepeda motor dan walaupun aku berasal dari keluarga chinese, tapi keluarga kami bukan keluarga kaya jadi orang tuaku tidak bisa membelikan aku motor. Saat aku lihat satu motor yang terparkir di warnet dekat sekolah aku memutuskan untuk mencurinya.
Sayang sekali karena memang kebodohanku dan ketidakmengertianku, aku tertangkap dan harus masuk penjara. Persidangan berlangsung cepat dan dikarenakan aku sudah berusia 18 tahun aku akhirnya masuk ke lembaga permasyarakatan umum dan bukan penjara anak nakal. Aku dihukum dengan hukuman 3 tahun penjara, dan di sinilah semuanya semakin menjadi-jadi.
Saat baru masuk LP, aku sangat takut sekali. Aku bukan seorang pemuda yang berbadan besar dan kekar, bahkan dapat dibilang badanku kecil, kulitku putih dan perawakanku tidak besar. Banyak cerita beredar di LP bahwa orang seperti aku akan berakhir jadi pemuas nafsu untuk pria-pria di sini bahkan hari pertama aku tiba di LP sudah ada pria besar yang memandangiku dengan bernafsu bahkan bersuit-suit saat aku lewat, “pantat perawan” ujar mereka. Aku takut sekali dan berusaha mencari cara untuk menyelamatkan diriku. Para sipir di LP inipun tidak peduli dengan masalah ini yang penting tahanan tidak macam-macam, demikian pikir mereka.
Setelah seminggu tinggal di dalam LP, keadaan semakin menjadi-jadi. Puncaknya saat satu kali aku mau mandi ada pria-pria yang ingin memperkosaku untunglah saat itu ada seorang tahanan berperawakan besar yang menyelamatkanku. Akhirnya aku berteman dengan pria yang bernama Jacky itu.
Jacky menjelaskan bahwa di penjara hal seperti sodomi dan homoseksual adalah hal yang biasa karena para narapidana ini tidak memiliki sarana pelepasan secara sexual. Supaya dapat selamat, aku harus mendekati pimpinan napi dan memberikan “upeti” sebagai jaminan keselamatanku. Pimpinan napi ini adalah boss Jacky di napi ini. Seorang pria paruh baya yang dihukum 20 tahun karena kasus narkoba. Yang masyarakat tidak tahu adalah bahwa dengan tinggal di LP tidak menyurutkan bisnis narkobanya bahkan dia mengontrol semuanya dari dalam penjara. Nama boss napi di sini adalah boss Aheng, seorang WNI keturunan chinese yang memiliki banyak napi bayaran di LP ini. Ternyata boss Aheng-lah yang menyuruh Jacky untuk menjagaku dan sejak itu tidak ada napi lain yang berani mendekatiku dan menggodaku.
Aku bingung kenapa boss Aheng menyuruh Jacky untuk menjagaku tapi Jacky sendiri tidak memberitahuku dan menyuruh aku bertemu langsung dengan boss Aheng besok sekaligus memberikan “upeti”-ku padanya. Aku langsung bingung lagi karena aku tidak memiliki upeti apapun untuk diberikan padanya, tapi Jacky meyakinkan aku untuk tidak usah kuatir.
Keesokan harinya aku menemui boss Aheng. Ternyata dia tinggal di area LP yang lebih terpencil dan anehnya saat mendekati area itu aku menjumpai beberapa …. gadis di sana. Bukan sembarang gadis tapi gadis-gadis yang sexy-sexy. Aku tertegun memandangi mereka karena mereka memang sangat cantik luar biasa. Ternyata boss Aheng cukup berkuasa di LP ini sehingga bisa memasukkan beberapa wanita yang mungkin bertindak sebagai teman tidurnya. Tempat tinggalnya juga tidak berkesan seperti penjara. Tempatnya lebih berkesan seperti bungalow atau cottage yang furniture-nya cukup mewah.
Setelah menunggu 30 menit, boss Aheng kemudian memintaku untuk menemuinya di dalam ruangan yang berfungsi sebagai kantornya. Ia adalah seorang pria setengah baya berbadan agak gemuk dan berpenampilan bersih serta kelimis. Rambutnya sudah sedikit botak dan beruban tapi ada kesan wibawa dan sedikit kesan kejam di sorot matanya. Boss Aheng mengamatiku dari atas ke bawah dan tersenyum, “jadi ini pendatang baru yang jadi incaran anak-anak di sini?”
“Siapa nama kamu?”
Aku menjawab, “Andi, boss. Te…terima kasih udah nolong saya.”
Dia hanya tertawa kecil dan melanjutkan, “ah, saya cuma nggak tega aja ngeliat anak ganteng dan manis kayak kamu jadi jarahan para napi.”
“Boss Aheng, mm…maaf, Jacky kasih tahu saya masalah….m…upeti, tapi saya nggak punya apa-apa untuk diserahkan ke boss.” aku menjelaskan keadaanku padanya.
Boss Aheng tidak langsung menjawab tapi kembali memandangiku dari atas ke bawah untuk beberapa waktu. Dia kemudian berdiri dan menghampiriku, “ada Andi, ada yang kamu punya yang bisa kamu serahkan sebagai upeti ke saya.” dia berkata sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Begini ya Andi saya jelaskan seutuhnya ke kamu.” dia kemudian menyuruh aku duduk di sofa sambil dia sendiri duduk di sofa sebelahku.
Boss Aheng kemudian memandangku dan berkata, “begini ya Andi, saya mau kamu jadi istri saya.” ia berkata sambil tangan kirinya meraba-raba paha kananku.
Istri?! Hah! Aneh sekali! Aku khan cowok dia juga cowok koq dia mau aku jadi istrinya? Aku bertanya lebih jelas sambil tanganku berusaha mengalihkan tangannya dari pahaku, “I…istri? Maksud Boss bagaimana? Saya khan laki-laki. Boss juga. Maksudnya istri gimana?”
Boss Aheng tidak mau memindahkan tangannya dari pahaku, sambil terus mengusap-usap dia menjawab, “Andi, saya sebenarnya penggemar wanita-wanita special. Maksudnya adalah wanita-wanita pria alias waria. Saya senang waria, kalau tidak percaya gadis-gadis di depan tadi itu semua waria peliharaan saya.”
Hah! Aku terkejut sekali, semua gadis yang sexy dan feminin di depan tadi, semuanya waria? Aku sama sekali tidak menyangka karena mereka terlihat begitu cantik dan feminin tidak berkesan pria sedikitpun. Aku hanya bisa melongo.
Boss Aheng melanjutkan, “iya mereka semua waria, asalnya narapidana seperti kamu juga, ada yang awalnya bukan waria dan ada juga yang dari awal memang waria, mereka semua jadi waria peliharaan saya di sini untuk melayani semua keinginan saya. Tapi saya sendiri ingin punya seorang istri walaupun bukan wanita sejati, tapi saya ingin punya istri sungguhan.”
Boss Aheng terus mengelus pahaku bahkan sekarang makin naik ke pangkal pahaku. Ia kemudian melanjutkan, “Yang jadi masalah adalah karena kebanyakan dari mereka memang sudah berulang kali keluar masuk LP jadi saya nggak mau menikah dengan mereka. Mereka boleh jadi peliharaan saya tapi saya nggak mau lebih lanjut dari itu. Kemudian saya diberitahu tentang kamu. Kamu baru pertama kali masuk LP, badan kamu kecil mungil, putih dan kamu dan saya sama-sama keturunan chinese. Akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan kamu istri saya.”
Memutuskan untuk menjadikan aku istrinya?? Memangnya dia siapa bisa memutuskan seperti itu. Aku kemudian berdiri dan berkata, “maaf Boss Aheng, saya bukan homo, saya nggak tertarik dengan yang begituan.” Sambil sedikit marah aku meninggalkan dia.
“Berhenti!” Boss Aheng tiba-tiba berdiri dan berseru. “Jangan macem-macem lu! Udah gue baik-baikin elu berani kurang ajar! Oke keluar dari sini dan gue biarin semua napi perkosa elu! Bukan cuma gue biarin, gue suruh tiap napi di sini perkosa elu! Mau?!”
Aku berhenti dan berbalik. Betapa mengerikannya kalau hal itu benar-benar terjadi, jadi jarahan dari seluruh napi yang ada di LP ini semua memperkosa aku, menyuruh aku menghisap kemaluan mereka, lubang anusku diperkosa kemaluan mereka. Aku menjadi panik dan tidak terasa air mata sedikit meleleh di kedua pipiku.
“Bbb….boss, jj…jangan begitu, maaf boss, saya nggak bermaksud melawan, tapi saya memang bukan homo saya nggak pernah…..” aku tidak kuasa melanjutkan dan mulai menangis.
Boss Aheng kembali mendatangiku dan tiba-tiba membelai kepalaku, “jangan takut, kalau kamu jadi istri saya siapa yang berani ganggu kamu?”
“T…tapi boss, sa…saya khan bukan waria, saya nggak tahu gimana caranya” aku masih berusaha berkelit.
Boss Aheng menuju ke mejanya dan menekan tombol interkom, “Sisi, tolong masuk ke sini.”
Tidak lama kemudian seorang gadis yang cantik jelita masuk ke dalam dan bertanya, “ada apa boss?”
“Tolongin Andi, dia mau jadi waria, kamu ajarin dia semuanya,” Boss Aheng memberi perintah pada gadis yang bernama Sisi ini.
Sisi kemudian menghampiriku dan menggandengku, “Yuk ikut aku.”
Aku cuma bisa pasrah dan membiarkan Sisi membawaku. “Yang bener ya Sis, dia calon istriku.” Boss Aheng menambahi dan mendengar perintah itu mata Sisi berbinar, “Wow, pilihan tepat boss. Tapi ngomong-ngomong masak namanya tetep Andi, diganti siapa Boss?”
“Mmm, Jeanie aja Sis. Mulai sekarang namanya jadi Jeanie.” Boss Aheng memberi instruksi lanjutan, “Mulai sekarang semua harus panggil dia Jeanie.”
“Oke Boss,” Sisi tersenyum dan menuntunku, “Yuk Jen.”
Sisi membawaku ke satu ruangan di belakang ruangan Boss Aheng. Ternyata ini ruang tidur yang sangat mewah. Di sebelah ruang tidur ini ada satu ruangan tersendiri yang lebih mirip butik karena berisi bermacam-macam pakaian wanita lengkap dengan meja dan kursi rias. Sambil menuntunku Sisi memperkenalkan dirinya sendiri, “namaku Sisi. Kamu sekarang namanya Jeanie. Jangan bantah dan melawan ya. Kalau kamu nggak nurut Boss bisa marah lho.”
Aku cuma bisa menganggukan kepala pasrah. Sisi kemudian menyuruhku untuk melepas semua bajuku sampai tidak ada sehelai benangpun. Aku malu sekali dan berusaha menutupi kemaluanku. Sisi hanya tersenyum melihatnya. Dia kemudian menyuruhku masuk ke kamar mandi sambil menggunakan obat depilatori atau pembunuh rambut sehingga seluruh tubuhku mulus tidak berambut lagi termasuk rambut di kemaluan dan ketiakku juga hilang. Selanjutnya Sisi mengangsurkan celana dalam dan bh yang sexy sekali untuk aku kenakan. Setelah aku mengenakan pakaian dalam wanita tersebut, Sisi menyuruhku duduk di kursi rias.
Sisi mulai merias wajahku dengan pertama-tama mencabuti alisku sampai hampir habis, sehingga yang tersisa hanya alis tipis yang feminin. Kemudian dia menggambar alis yang lebih feminin dengan pensil alis, setelah itu ia membubuhkan foundation, bedak, eye shadow dan pemerah pipi serta diakhiri dengan lipstik pink pada bibirku. Hasilnya wajahku jadi cantik sekali seperti wajah gadis remaja belia.
Sambil meriasku Sisi mengajarkan aku tentang bagaimana merias wajahku sendiri, merawat rambut, merawat kuku, berjalan dengan high heels dan sebagainya. Ia kemudian memasangkan rambut palsu berwarna coklat yang panjangnya sebahu. Sambil mundur dan mengamati wajahku dia tersenyum puas, “lihat nih hasilnya Jen, cantik banget khan, Boss Aheng memang pinter milih istri.”
Setelah selesai dengan riasanku, Sisi mengajariku cara memakai stocking dan gaun wanita. Aku memakainya dengan gugup karena ini hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Akhirnya setelah hampir 2 jam aku pun selesai dirias dan mengenakan gaun. Sisi kembali membawaku menemui Boss Aheng.
“Boss, Jeanie udah siap nih.” Sisi melaporkan.
Boss Aheng memandangku dan seperti terpana menyaksikan kecantikanku, “wah luar biasa, cantik sekali seperti gadis remaja yang baru merekah. Kamu memang cantik sekali Jen, cantik sekali.”
Aku merasa risih mendengar pujiannya karena aku khan seorang cowok masak dipuji cantik sama cowok lain. Aku hanya bisa tertunduk.
Boss Aheng kemudian menggandengku menuju ke kamarnya sambil terus memuji-muji kecantikanku. Aku tahu apa yang akan terjadi di dalam kamar tapi aku tidak dapat bertindak apapun dan hanya bisa pasrah.
Di dalam kamar sambil terus memujiku Boss Aheng mulai melucuti pakaianku sampai aku benar-benar telanjang bulat. Boss Aheng menuntunku ke ranjang dan merebahkanku di ranjang. Dia mulai menciumi pipiku dan leherku. Aku merasa sangat geli dengan ciumannya. Ia kemudian mulai mengulum cuping telingaku sambil tangannya meraba putingku. Aku terkesiap merasakan ciuman di telingaku dan rabaan di putingku dan tidak terasa aku sedikit mendesah. Desahanku ternyata membuat Boss Aheng makin terangsang, aku sadari dari benjolan di celananya yang makin membesar.
Ia kemudian berdiri dan membuka celana serta bajunya sehingga kami berdua sama-sama telanjang bulat. Boss Aheng selanjutnya mulai menciumi dan menjilati puting susuku sambil tangannya terus meraba-raba seluruh tubuhku. Aku merasa geli sekali sekaligus merasakan kenikmatan yang aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Boss Aheng terus menciumi seluruh tubuhku dan perutku sampai aku tidak menyadari ikut menggelinjang dan mendesah mengikuti irama cumbuannya. Aku mulai memejamkan mataku dan mendesah, “Mmhmm…..aaaahh……mmmhm.” Tubuh kami seperti berirama seragam bergerak sesuai cumbuan Boss Aheng.
Tiba-tiba Boss Aheng berhenti dan mulai menciumi cuping telingaku sambil berbisik, “Jeanie sayang, saya akan membiarkan keperawanan lubang anus kamu untuk malam pengantin kita nanti. Untuk sekarang saya mau kamu memuaskan saya dengan mulut kamu. Kamu mau khan?”
Entah karena aku sudah terangsang hebat atau karena aku takut padanya aku cuma menganggukan kepalaku sambil mendesah, “emmhmmm….i..i.iya boss.”
Boss Aheng mulai mengangsurkan pinggulnya ke arah kepalaku, tanpa ragu aku mulai menjilati penisnya yang mulai terlihat basah oleh cairan kemaluannya. Aku merasa rasa anyir yang agak aneh dan entah karena insting atau rangsangan Boss Aheng sendiri aku mulai menciumi penisnya sambil tanganku memegang pangkal penisnya.
Lidahku mulai menelusuri penisnya mulai dari pangkal penis ke ujung kepala penisnya kemudian balik lagi ke pangkal penisnya sambil sesekali menghisap kepala penisnya. Boss Aheng mendesah merasakan kenikmatan yang aku berikan melalui mulut dan lidahku. Aku terus menjilati penisnya dan menghisapnya sesekali sambil tangangku bergerak maju mundur mengocok penisnya. Desahan Boss Aheng makin kencang begitu pula dengan goyangan pinggulnya maju mundur seperti sedang menyetubuhi mulutku, “Aaahhh…mhhmhh, enak sekali sayang.”
Aku merasa irama goyangannya makin cepat jadi akupun juga mempercepat hisapanku. Aku kemudian memasukkan seluruh penisnya ke dalam mulutku dan menghisap sambil menggerakkan kepalaku maju mundur mengikuti gerakan pinggulnya. Tiap kepala penisnya menyentuh pangkal tenggorokkanku aku mendengar Boss Aheng mendesah, rupanya ia menikmati saat kepala penisnya yang sensitif bersentuhan dengan pangkal tenggorokanku yang halus. Aku mulai merasakan bahwa penisnya makin bergetar dan membesar dalam mulutku dan aku terus memompa penisnya dengan tangan dan mulutku dan tiba-tiba aku merasakan cairan spermanya yang hangat menyemprot ke dalam mulutku. Aku berusaha menarik kepalaku dari selangkangannya tapi tiba-tiba tangan Boss Aheng sudah berada di belakang kepalaku menahan kepalaku sehingga aku harus menelan spermanya. Ia masih terus menahan kepalaku saat penisnya terus menyemprotkan spermanya ke dalam mulutku sementara aku terus menelan cairan spermanya.
Setelah selesai ia memerintahku untuk membersihkan penisnya menggunakan lidahku dan aku terpaksa menurutinya dengan terus menjilati kepala dan batang kemaluannya sampai bersih seluruhnya.
“Luar biasa Jeanie, nikmat sekali.” Boss Aheng memujiku dan entah kenapa aku merasa bangga sekali mendapat pujian darinya. Aku hanya tersipu malu sambil mengangguk.
Boss Aheng kemudian mengatur untuk mengadakan pernikahan sebulan lagi dan walaupun ia seorang keturunan chinese, ia menghendaki aku mengenakan kebaya pernikahan traditional sementara dia memakai jas pernikahan.
Hari-hari selanjutnya menjadi hari yang sibuk bagi aku dan staf-staf-nya yang ditugaskan mengurus pernikahan kami. Aku menjadi dekat dengan Sisi yang terus mendampingiku selama masa ini. Kami berdua menjadi sahabat dan dari dia aku diajari bagaimana caranya untuk lebih memuaskan Boss Aheng di ranjang. Ia juga menganjurkanku untuk mulai terapi hormon agar payudaraku mulai tumbuh. Kami berdua juga sering bercumbu dengan sepengetahuan Boss Aheng. Ia tidak merasa keberatan selama aku tidak melakukan anal-sex karena lubang analku hanya untuknya.
Aku sendiri pindah tidur di kamar Boss Aheng dan setiap malam aku terus melayani dia tapi seperti ucapannya dia tidak mau meng-analku sebelum hari pernikahan kami jadi aku hanya melayani dia dengan mulutku. Boss Aheng sendiri tidak main-main dengan masalah aku menjadi istrinya, ia menjadwalkanku untuk menjalani operasi payudara dan operasi wajah agar aku lebih feminin seminggu setelah pernikahan kami. Sementara itu aku dijadwalkan untuk melakukan elektrolisi yaitu membersihkan rambut-rambut dari tubuhku sehingga tidak mungkin lagi ada kumis atau bulu ketiak yang bisa tumbuh di tubuhku.
Akhirnya tiba hari pernikahanku dengan Boss Aheng. Sejak pagi aku sudah bersiap-siap dirias. Riasan wajahku menghabiskan waktu 3 jam tapi hasilnya sangat memuaskan karena Sisi dan para waria lain berkata bahwa aku tampak seperti bidadari yang turun dari khayangan. Saat mengenakan kebaya pernikahan baru aku mengerti kenapa Boss Aheng ingin aku mengenakannya. Aku tampak begitu feminin bahkan saat melangkan aku tidak bisa melangkah dengan cepat dan dengan langakah lebar. Aku hanya bisa melangkah perlahan dengan langkah-langkah kecil dan semua menyebabkan aku jadi tampil lebih anggun dan feminin.
Pernikahan kami dihadiri oleh sedikit orang termasuk sipir dan kepala penjara dan berlangsung dari pagi sampai malam. Malam harinya saat malam pengantin aku kembali agak panik karena aku tidak pernah merasakan di-anal sebelumnya dan dari yang aku dengar rasanya agak sakit.
Boss Aheng tidak menyia-nyiakan waktu untuk me-merawani-ku. Kami langsung membuka baju kami dan mulai menciumi tubuh lawan. Boss Aheng mulai meraba dan menciumi putingku dan aku kembali merasakan geli yang mengaliri seluruh badanku. Kami berciuman sambil tanganku mulai memainkan penisnya menggerakkan maju mundur. Boss Aheng mulai menciumi leher dan pundakku serta membalikan tubuhku dengan perlahan. Aku berpikir inilah saatnya tapi ternyata dia mulai menciumi punggungku dan kembali aku merasa sangat terangsang dengan ciuman-ciumannya.
Ia mulai menciumi pinggang dan pantatku sambil jarinya mulai meraba-raba lubang anusku. Aku merasa kegelian dan sedikit menggelinjang serta mendesah, “mhhmhhmm…..” nafasku mulai memburu merasakan ciuman dan belaiannya. Sambil mulai mengulum cuping telingaku dari belakang ia mulai mengarahkan penisnya ke lubang anusku. Kemudian aku merasa bahwa ada sesuatu yang mulai memasukiku. Penisnya mulai memasuki lubang anusku, tapi baru sedikit aku sudah merasakan kesakitan sehingga aku sedikit menjerit, “Aahh!….”
Boss Aheng buru-buru menarik penisnya dari lubang anusku dan kembali menciumi leher dan tengkukku. Ia mulai mencoba lagi dan kali ini penisnya masuk lebih jauh tapi kembali ditarik keluar. Boss Aheng mulai meraba putingku dengan kedua tangannya sambil mengarahkan penisnya kembali ke lubang anusku. Kali ini penisnya masuk lebih dalam dan aku merasakan lubang anusku seperti terbakar.
“Say, lubang kamu kencang sekali, masih perawan….” Boss Aheng menggodaku sambil terus menciumi tengkukku, tiba-tiba aku merasakan lubang anusku seperti dihujami sesuatu. “Aaaahh….” ternyata Boss Aheng langsung menghujamkan penisnya ke dalam lubang anusku. Setelah masuk seluruhnya ia membiarkan penisnya dalam anusku untuk beberapa saat. Kemudian dia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dan aku merasakan kesakitan saat penisnya mulai men-sodomi anusku, tapi aku berusaha menahan agar tidak mengeluarkan erangan. Ku gigit bibir bawahku untuk menahan suaraku.
Boss Aheng terus menggerakkan pinggulnya maju mundur dan aku mulai merasakan sensasi yang aneh. Seolah-olah penisku dielus-elus dari dalam. Kelenjar prostatku seperti dipijat-pijat dari dalam dan tidak terasa penisku mulai tegang karena rangsangannya. Boss Aheng menyadarinya dan mulai lebih sensual menciumi punggung dan leherku sambil jarinya meraba dan sedikit mencubit putingku.
Gerakan maju mundurnya menyebabkan sensasi aneh mulai timbul di selangkanganku aku merasa kenikmatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya dan tidak kusadari aku mulai mendesah dan mengerang, “mhhh….mhhh….aahhhh….mhhh” Boss Aheng sendiri juga mendesah dan mengerang.
Aku merasakan bahwa gerakan pinggul Boss Aheng semakin cepat dan seiring dengan gerakannya aku merasakan penisnya makin membesar dan mengeras dalam anusku. Aku berusaha mengikuti gerakannya dengan ikut menyorongkan pinggulku menerima gerakannya. Kami berdua mendesah makin cepat.
“Mmhh…mmhh…mmhhh….aahhh.”
“AAHHH…..AAHHH”
“AAAHH..AAHH”
“AAAAAH!”
Akhirnya aku merasakan penis Boss Aheng “meledak” dalam anusku dan tidak lama kemudian penisku sendiri menyemprotkan cairan sperma walaupun hanya sedikit. Saat cairan sperma Boss Aheng yang hangat menyemprot dalam tubuhku aku merasakan perasaan aneh yang timbul dalam hatiku. Aku merasa aku menjadi seperti wanita, menerima benih sperma dari suamiku dalam tubuhku. Boss Aheng sendiri masih menggerakkan pinggulnya sedikit sedikit seolah-olah ingin menghabiskan seluruh spermanya ke dalam tubuhku.
Setelah itu kami berdua terkulai kelelahan tapi Boss Aheng tidak menarik penisnya dari lubang anusku. Ia tetap memelukku dari belakang sambil menciumi tengkukku dan memujiku, “kamu luar biasa sekali Jen, nikmat sekali.” Aku merasa terharu dan hanya mengusap-usap tangannya yang memeluk pinggangku.
Sesuai dengan jadwal yang diaturnya, aku kemudian menjalani operasi payudara dan wajah untuk lebih menyempurnakan penampilanku. Setelah operasi tidak ada seorangpun yang akan berpikir bahwa aku seorang pria karena penampilanku sudah sangat sempurna seperti wanita. Hal ini membawa bencana bagi hubunganku dengan keluargaku saat orang tuaku tahu keadaanku, mereka langsung tidak mau lagi mengakui aku sebagai anak mereka. Mereka malu anak lelaki mereka ternyata kini menjadi pemuas nafsu dan istri dari laki-laki lain. Aku menerima keadaan ini dengan sedih tapi tabah.
Tak terasa hampir 3 tahun berlalu dan masa hukumanku hampir habis. Sepanjang masa itu aku benar-benar dimanjakan oleh Boss Aheng, kegiatanku sehari-hari hanya bersenang-senang dan mempercantik diriku untuknya bahkan beberapa kali aku sempat keluar dari LP untuk berjalan-jalan di mall. Saat masa hukumanku hampir habis aku kembali bingung apa yang akan terjadi denganku karena masa hukuman Boss Aheng masih sekitar 7 tahun lagi. Ternyata tidak terlalu lama aku bingung, suatu hari aku dipanggil oleh sipir penjara yang memberitahu bahwa masa tahananku diperpanjang selama 2 tahun dengan alasan aku menyimpan narkoba dan berkelakuan buruk. Aku mengerti bahwa ini semua ulah Boss Aheng yang tidak ingin kehilangan istrinya. Aku pasrah menerima ini bahkan sedikit gembira karena itu berarti aku bisa tetap bersama dengan suamiku. Pria yang mencintaiku selamanya….

Sejujurnya aku malu menceritakan cerita dewasa ini, sebuah kisah nyata hubungan sesama jenis (lesbian) yang sampai sekarang masih sering kulakukan. Namun karena dorongan untuk melepas beban dihati, kuberanikan diri untuk menceritakan kisah lesbianku disitus ini… Sebelumnya perkenalkan pembaca, aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan status janda. Kehidupanku cukup baik, karena peninggalan deposito dari suami dan kadang2 ada bisnis jual beli perhiasan dengan teman. Anak aku ada 2 orang dan mereka semua sekolah di Jogya, karena dekat dengan kakek neneknya. Dirumah aku cuma ditemani oleh Surti (pembantu) dan Remi, anjing herder peninggalan suami juga.
Suatu hari teman jual beli perhiasan aku yang bernama Tina datang kerumah. Teman bisnis aku banyak, dengan Tina aku baru kenal kira2 1 bulan yang lalu. Usia wanita itu sama dengan aku dan punya anak satu, wajahnya cukup cantik ditambah dengan make up yang pandai, dan Tina tahu cara merawat tubuh dengan baik, aku mendengar dari teman2 bahwa dia sangat pandai dalam berbisnis perhiasan, apalagi ditambah kepandaiannya berbicara merayu pembeli. Tina datang kerumahku hari itu untuk menitipkan perhiasan yang hendak dijual, biasanya kami suka bertemu direstoran padang langganannya, tumben hari ini dia datang mengunjungiku.
“Halooo Rin…….apa khabar nih???” aku tersenyum senang sambil membalas salam Tina.”Tumben, kok bisa nyasar kesini Tin?””Kangen aku tidak ketemu kamu 2 minggu””Ahhhh….bisa aja….ayo masuk, maaf ya rumah aku berantakan dan kecil” aku mempersilahkan Tina masuk keruang tamu.”Ah rumah kamu bagus kok, dilingkungan elite lagi” Komentar Tina sambil duduk disofa.”Seperti yg tadi kukatakan di telepon, aku ingin menitipkan perhiasan ini untuk kamu jualin, soalnya lusa aku akan keluar kota dengan suamiku” Kulihat Tina mengeluarkan kantong beludru hitam dari dalam tasnya.”Lebih baik dikamar saja Tin, soalnya si Surti ada di dapur” Ajak aku. aku selalu berhati2 dalam berbisnis di bidang ini. Tina mengikuti masuk kekamar aku. Lalu kami duduk diatas ranjang dan Tina mengeluarkan semua isi kantung beludru itu. Perhiasan bertahtakan berlian terpampang diatas ranjang, berkilauan. aku kuatir juga melihat perhiasan banyak begitu, aku mengambil salah satu kalung yang paling indah.
“Waah indah sekali kalung ini” Kataku, lalu aku mencoba memasangnya dileherku.”Sini aku bantu” Tina beranjak kebelakangku, lalu tangannya berusaha mengaitkan kunci kalung itu.”Leher kamu bagus sekali Rin” Ujar Tina, kurasakan leherku dibelainya, bulu romaku jadi berdiri, perasaanku jadi nggak enak. Lalu tangan Tina membelai pipiku, sementara tangannya yang lain menelusuri leherku terus merayap menuju dadaku.
“Tin….jangan gitu ah…..aku jadi geli nih” Tapi Tina tidak menjawab. Tiba2 aku merasakan pipi kiriku panas, aku menoleh, belum sempat aku sadar apa yang membuat panas pipiku, bibir Tina sudah menyambar bibirku. Aku gelagapan dan aku berontak berusaha menghindar, tapi Tina seperti kesetanan, ia terus menekan mulutnya ke mulutku. Dan kurasakan buah dadaku diremas olehnya. Aku benar2 terkejut sekali dengan perlakuan seperti itu, aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhnya sudah menindih tubuhku. Aku menendang dan Tina melepaskan pelukannya. Aku berusaha membetulkan letak buah dadaku yang tadi sampai keluar dari BH. Tina memandangku dengan mata yang redup.
“Sori Rin…..sejak kenal denganmu aku merasa kamu sangat merangsang sekali” Aku terdiam sambil menahan amarah.”Kok kamu gitu sih? Kan kamu sudah punya suami??? Teganya kamu….” Sergahku sambil memelototinya. Tina memandangku dengan pandangan yang makin redup.”Aku lebih bernafsu dengan wanita sepertimu, lagi pula suamiku tidak pernah bisa memuaskanku, belum apa2 sudah loyo sehingga selama perkawinan aku belum pernah merasakan kepuasan””Tapi dengan modal kecantikanmu kan kamu bisa cari laki2 lain utk memuaskanmu!””Aku tidak merasakan kenikmatan seperti kalau dengan wanita, aku ingin kamu juga mencoba merasakannya Rin” Jawab Tina sambil mendekatiku. Aku beringsut mundur kekepala ranjang.”Tapi aku tidak pernah lesbian begitu” Hatiku berdebar2 memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi bila Tina menyergapku seperti tadi.”Jangan takut Rin, aku tidak akan memaksamu, cuma aku ingin kamu mengijinkanku menciummu sekali saja, tolonglah…..” Hatiku makin tak keruan, sudah lama sekali aku tidak pernah dijamah oleh laki2 apalagi perempuan. Mendengar kata cium saja, aku sudah merasa tidak keruan. Lagi pula apa salahnya dicium Tina, apalagi mulutnya tidak bau. Aku tahu hati kecilku bersikap pasrah.”Baiklah…..tapi sekali saja, dan jangan macam2 ya” Jawabku. Tina lalu mendekatiku lalu tangannya merangkul leherku, lalu bibirnya mencium mulutku dengan lembut, perasaanku tak keruan merasakan ciuman itu, aku memberanikan diri membalas ciumanya. Lalu kurasakan lidah Tina menjalar masuk kedalam mulutku mencari2 lidahku. Yang kurasakan kemudian adalah perasaan aneh dan gamang yang tidak dapat dilukiskan. Kurasakan hembusan napas Tina yang panas dipipiku dan lumatan mulutnya yang begitu merangsang birahi.
Hampir 3 menit kami berciuman dan aku tahu kemaluanku sudah basah karena nafsu. Sekarang aku benar2 pasrah waktu Tina menjilati leherku dengan lembut, tangannya melepaskan tali daster dipundakku, lalu dengan lembut buah dadaku yang masih tertuutp bh diremas2.”Tiin…..jangan ah….malu Tin” Aku berusaha mencegah setengah hati. Dan Tina tahu aku tidak benar2 ingin menghentikan aktivitasnya.Aku merasakan tangan kirinya masuk kedalam celana dalamku, dan jari2nya memainkan klitorisku, kadang2 dicubit2 kecil, benar2 sensasi yang hebat sekali. Tanpa kusadari aku juga sedang meremas2 pantat Tina. Tubuhnya menindih tubuhku dan kurasakan buah dadanya yang berukuran sedang menekan buah dadaku yang memang dari dulu tergolong besar. Tiba2 aku baru sadar Tina sudah setengah telanjang, cuma memakai cd saja, sedangkan aku benar2 bugil total. Tubuh Tina berbau harum, entah parfum apa yang dipakainya, tapi wangi tubuhnya menambah getaran berahiku. Tanganku menjalar melepaskan celana dalamnya, lalu kulihat sekilas kemaluannya berkilat tanpa sehelai bulu, rupanya bulunya dicukur rutin. Jari2ku masuk kedalam lubang kemaluannya lalu kutusuk2 dengan lembut. Tina merintih keenakan, tangannya makin dalam beroperasi dilubang kemaluanku. Aku juga merintih keenakan. Aku tidak tahu ternyata wanita dengan wanita dapat saling memuaskan dalam urusan sex.
Sekarang Tina sedang menghisap puting buah dadaku, sementara tangannya yang lain terus bermain di klitorisku. Aku merasakan Tina mulai menciumi perutku, lalu memainkan lidahnya di pusarku, aku kegelian, tak lama kemudian lidahnya sudah menjilati kemaluanku.”Tin jangan disitu ah……kan jorok” Bisikku sambil berusaha mendorong kepalanya. Tapi Tina malah makin merenggangkan pahaku dan klitorisku dhisap2 olehnya, kadang2 lidahnya masuk keluar dalam lubang kemaluanku. Aku sudah tak dapat berpikir sehat lagi, yang kurasakan cuma kenikmatan yang tiada taranya. Tahu2 didepan wajahku sudah ada kemaluan Tina, kedua lututnya ada dikiri kanan kepalaku. Tina tidak menurunkan pinggulnya, jadi aku dapat dengan jelas melihat kemaluanya yang botak. Bibir kemaluannya berwarna merah kehitaman dan kulihat klitorisnya cukup besar menonjol bertengger diatas bibir kemaluannya. Aku menyibak bibir kemaluan Tina, dan kulihat kemaluannya basah sekali oleh lendir yang bening, aku lalu menusuk2 kemaluan itu dengan telunjuk, jari tengah dan jari manisku, kadang2 dengan kelingking juga. Lubang kemaluan Tina sudah agak kendur, mungkin punyaku juga sama. Aku ragu2 mejilat kemaluannya, soalnya aku belum pernah menjilat kemaluan sesama wanita. Tina terus mengeluar masukkan lidahnya dilubang kemaluanku, aku sudah tak tahan lagi.
“Tin….aku hendak keluarrrr…..” Tubuhku bergetar hebat, kurasakan lidah Tina masuk makin dalam kedalam kemaluanku, dan aku merasakan orgasme yang hebat sekali. Sepertinya ini yang paling enak semenjak aku menikah. Tina masih terus menjilati lendirku, aku juga tak perduli lagi, kuraih pinggul Tina lalu ketarik sampai wajahku terbenam disela2 pahanya. Tercium bau yang sama dengan bau kemaluanku. Kujilat2 klitorisnya lalu kumasukkan juga lidahku kedalam lubang kemaluannya, kurasakan lendir asin masuk kedalam mulutku. Aku tidak perduli lagi. Lalu kurasakan ada yang geli di lubang pantatku.
“Aduh Tin jangan disitu dong…..jorok kan?” Kurasakan lubang pantatku berkerut ketika lidah Tina berusaha menerobos masuk. Kemudian aku tak perduli juga, karena aku merasakan kenikmatan yang sama, aku juga melakukan hal yang sama dengan Tina. Kutusuk2 lubang pantatnya dengan lidahku, lubang yang kehitam2an itu jadi becek oleh air liurku dan lendir kemaluannya. Tiba2 Tina seperti tersentak lalu beku…….mulutnya mengeluarkan jeritan kecil, lalu kurasakan ia menekan lubang memiawnya makin dalam kewajahku dan menggoyang2kan pinggulnya sehingga hampir seluruh wajahku tersapu oleh kemaluannya.
“Aduuuuh riiin…..enak sekaliii….” Ia memeluk erat2 pinggulku, klitorisku digigit2 kecil olehnya. Tak lama kemudian tubuhnya melemas lalu betul2 lemas sehingga aku tidak bisa bernapas karena tekanan kemaluannya diwajahku. Keringatnya bergulir turun masuk kedalam mulutku. Aku juga benar2 puas sekali.
Kemudian Tina bangun lalu mencium mulutku, kami kembali bergelut sambil mendesah2. Tina menempelkan kemaluannya pada kemaluanku, lalu menggosok2nya. Kira2 15 menit kami berciuman sambil berpelukan erat sampai aku tak merasa kalau aku tertidur.
Entah berapa lama aku tertidur, samar2 aku seperti mendengar suara Remi. Aku membuka mataku dan……astaga!!! Kulihat Tina sedang bergelut dengan Remi dilantai kamarku yang beralaskan karpet biru. Kulihat Tina sedang menjilat2 kemaluan Remi yang sudah keluar dan berwarna merah sekali. Mulut Tina berlumuran cairan yang keluar terus dari kemaluan anjing itu, dan anjing itu bersuara kecil sepertinya keenakan kemaluannya dihisap oleh Tina. Kemaluan Remi cukup besar, mungkin karena anjing herder dan cairan seperti lendir itu terus keluar menetes netes, dan Tina mencerucup cairan itu……
“Tin!! Gila kamu……kok sama Remi sih???” Aku memberondong Tina. Tapi lagi2 Tina tidak menjawab, yang kulihat kemudian ia berusaha menuntun kemaluan Remi memasuki kemaluannya. Dan Kudengar rintihan Tina ketika kemaluan yang cukup besar itu masuk kedalam lubang kemaluannya. Kulihat Remi menggerakkan bokongnya dengan amat cepat, lalu tidak berapa lama kemudian terdengar Remi mendeking halus lalu dari sela2 kemaluan Tina kulihat cairan merembes keluar banyak sekali, seperti air kencing tapi juga seperti lendir yang encer. Kulihat Tina mengerang2 lalu tangannya meraih kemaluan Remi dan dimasuk keluarkan sendiri olehnya. Melihat pemadangan itu tubuhku kembali bergidik, ada perasaan aneh merayap kedalam jiwaku. Aku tahu bahwa aku terangsang oleh aksi Tina. Tanpa sadar aku juga turun kelantai dan kepalaku mengarah menuju selangkangan Tina. Kulihat dari dekat kemaluan Remi masih digerak2an Tina keluar masuk dalam kemaluannya, dan dari kemaluan hewan itu masih terus menetes lendir, sedangkan kemaluan Tina kulihat sudah merah sekali, juga kulihat lendir Remi memenuhi kemaluan Tina.
“Rin….dijilat Rin….tolonglah Rin” Rintihan Tina makin merangsang nafsuku. Seperti ada yang mendorong, kepalaku segera menyusup keselangkangan Tina. Pelan2 kujilat kemaluan Tina yang sangat banjir itu. Aku merasa cairan kemaluan Remi terasa asin sekali, tapi baunya tidak menyengat. Seperti kesetanan aku menghirup dan mencelucupi kemaluan Tina. Persis seperti Remi jika sedang minum air. Lidahku menguak bibir kemaluan Tina, lalu masuk menjelajahi seluruh dinding vaginanya.
“Riiiiiiinnnnnn……….” Tina merengek hebat,pinggulnya terangkat menekan mulutku. Aku tak perduli lagi. Kemudian aku berpindah menghisap kemaluan Remi, kumasukkan seluruh kemaluannya kedalam mulutku. Penis Remi terasa panas dalam mulutku dan aku mencium bau hewan itu, tapi pikiranku sudah gelap yang ada hanya nafsu yang selama ini terkubur dalam2 dan kini meledak tak terbendung.Aku tahu aku bakalan menyesali perbuatanku setelah ini.
Aku terus menjilat dan mengulum penis Remi. Anjing itu mendeking2 pelan, kadang2 berusaha menghindar, tapi Tina memegang kedua kakinya dengan erat. Tak lama kemudian dari penis Remi menyembur cairan panas kedalam mulutku. Kumasukkan seluruh penis Remi lalu kusedot2, anjing itu mencoba memberontak, entah kenikmatan atau kegelian. Tina memajukan wajahnya lalu kami saling berciuman, kukeluarkan sebagian cairan Remi kedalam mulutnya. Wajah kami sudah basah oleh cairan encer itu.
Sekarang aku berbaring dibawah Remi, kemudian Tina mulai menghisap kemaluan Remi agar nafsu Remi kembali. Setelah itu Tina mencoba memasukkan penis Remi kedalam vaginaku. Ternyata penis itu kebesaran untuk lubang vaginaku. Mungkin lubang vaginaku menciut sepeninggal suamiku yang meninggal 4 tahun yang lalu. Kepala penis Remi yang meruncing itu masuk sedikit, tiba2 Remi mendorong keras sambil menusuk2 cepat sekali. Aku merasa agak perih, tapi kemudian kurasakan kenikmatan yang tak terbayangkan, lubang vaginaku seperti ditusuk oleh mesin penggerak yang amat cepat. Aku tak tahu bagaimana melukiskannya sampai aku mencapai orgasme yang sangat hebat. Seluruh rambut ditubuhku seperti berdiri tegak membuatku merinding. Tak lama kemudian aku merasakan cairan panas menyemprot dalam vaginaku, aku berusaha mengeluarkan penis Remi, tapi hewan itu seperti tak perduli, aku pasrah membiarkan seluruh cairannya keluar dalam vaginaku. Kemudian Tina menyuruhku jongkok diatas wajahnya. Tina melumat vaginaku dengan penuh nafsu, kulihat dari vaginaku mengalir cairan Remi yang tersisa, mengalir seperti air kencing masuk dalam mulut Tina. Akupun tidak mau ketinggalan, kulumat juga vagina Tina yang sekarang sudah agak lembab dan lengket.
Hari itu aku dan Tina bersetubuh 3 kali, pagi, siang dan malam hari. Aku tak mengerti lagi apakah aku ini normal atau tidak. Yang pasti kebutuhan yang selama ini tak tersalurkan, kini menemukan muaranya. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku yang mungkin bertentangan dengan agama yang kuanut, tapi aku terus menerus melakukannya dengan Tina. Seolah2 kami sudah tak terpisahkan. Tina selalu mempunyai ide2 yang baru dalam setiap permainan kami. Aku juga tak tahu apakah aku harus berterima kasih padanya atau mengutuknya. Dan belakangan hingga cerita dewasa ini kutulis, Tina mengaku bahwa hampir semua ibu2 yang kukenal pernah diajak lesbi olehnya.