Tamara Bleszynzki
Sudah beberapa hari terakhir ini tidur Tamara dihantui mimpi buruk. Silih berganti wajah Samy dan Robert muncul dalam mimpinya, mengejar-ngejar dirinya dan selalu berakhir dengan bayangan mengerikan bagaimana dirinya ditelanjangi secara paksa lalu diperkosa berulang-ulang. Tamara tidak pernah bisa memperkirakan kapan atau di mana salah satu dari kedua pria itu menghubunginya meminta dirinya untuk melayani nafsu birahi mereka. Tentu saja Robert adalah yang paling diuntungkan dengan posisinya sebagai satpam di rumah Tamara, karena dia yang sering berinteraksi dengan wanita cantik itu. Bagi Tamara, menghindari Samy tidaklah terlalu sulit. Tapi menghindari Robert adalah persoalan yang tidak bisa dianggap ringan. Bertahun-tahun robert bekerja padanya dan bertahun-tahun pula Robert hafal jadwalnya, teman-temannya, bahkan tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Yang agak melegakan Tamara barangkali adalah bahwa Robert hampir tidak pernah meniduri dirinya di rumah. Sepanjang ingatan Tamara hanya dua kali Robert memintanya melakukan hubungan seksual di rumah.
Terakhir persetubuhannya dengan satpam itu terjadi akhir pekan lalu, dimana selama satu hari satu malam penuh Tamara dipaksa menjadi pelacur gratisan di rumahnya sendiri yang membuat Tamara tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya setelah persetubuhan gila-gilaan itu selesai. Kesibukannya di luar jadwal syuting yang jauh lebih melelahkan ketimbang jadwal tetapnya membuat Tamara terpaksa menjaga kebugaran tubuhnya dengan ekstra hati-hati. Tamara sadar bahwa salah bersikap  terhadap dua bajingan tengik yang menjebaknya tersebut bisa berakibat fatal, tidak hanya akan menghancurkan karirnya, tapi juga hidupnya. Berulang kali menjadi pemuas nafsu seksual oleh dua orang pria berbeda secara bergantian mau tidak mau membuat Tamara memperhatikan kalau kedua orang itu menggunakan pola dan metode yang berbeda yang membawa sebuah kesimpulan bahwa kedua orang tersebut bekerja secara terpisah dan sangat mungkin tidak saling mengenal secara dekat. Tamara yang selama berhari-hari memutar otak mencari cara untuk melepaskan diri dari jerat setan yang ditebarkan oleh kedua orang itu seolah menemukan ide cemerlang.

Siang itu Tamara terlihat sedang sibuk melakukan latihan kebugarandi ruang fitness pribadinya. Mengenakan busana fitness putih ketat sepotong dengan celana model bike pants juga putih ketat  membuat tubuh Tamara yang putih jadi kelihatan makin terang. Bagian perutnya yang terbuka jelas memperlihatkan perut yang rata dan kencang. Rambut kecoklatannya yang diikat ekor kuda melompat kesana kemari mengikuti gerakan Tamara yang sedang berlari di atas treadmill. Payudaranya yang kencang terlihat berguncang lembut seirama hentakan kakinya. Seminggu ini Tamara tidak berlatih fitness di rumah. Dia memilih tinggal di apartemennya yang ada di kawasan Kuningan demi menghindari bertemu dengan Robert.. Hanya sesekali saja Tamara pulang, karena itu rumah besar itu lebih sering terlihat kosong. Pembantu-pembantu hanya datang jika dipanggil untuk membersihkan debu atau sekedar menjaga agar rumah itu tidak terlalu terkesan mati dan seram. Tamara baru saja selesai mandi di kamar mandi dalam kamarnya saat pintu kamarnya diketuk. Dengan buru-buru Tamara menyambar mantel mandinya yang berwarna putih dan menutup tubuhnya yang belum berpakaian dengan mantel itu. Rambutnya yang basah dibiarkannya tergerai membuat sebagian punggung mantelnya basah menyerap air yang menetes dari rambutnyanya yang kecoklatan. Dan seperti sudah dapat menebaknya, Tamara melihat Robert berdiri di depan pintu dengan senyum penuh arti. Tanpa dipersilakan masuk, robert menerobos ke dalam kamar dan langsung memeluk tubuh Tamara yang hanya terbungkus mantel mandi.
“Ohh...” Tamara mendesah saat Rober mulai mencumbui lehernya. “Pelan-pelan saja  Bob..” kata Tamara lirih. “nanti ada yang lihat..”
“Siapa yang akan melihat?” tanya Robert tanpa berusaha menghentikan usahanya mencumbui leher jenjang wanita bertubuh seksi itu. “Kan semua pembantu sudah pulang..”
Tamara terkejut mendengar itu. Dia baru ingatkalau pembantu-pembantunya sudah pulang beberapa puluh menit yang lalu, yang itu berarti sekarang tidak ada seorangpun yang ada di rumah kecuali dirinya dan satpamnya yang tengah menggeluti tubuhnya.
“Ohh.. Ohh..” Tamara mendesah dengan nafas yang mulai tidak teratur. “tapi jangan terburu-buru Bob..” ohh...” Tamara mencoba mengelak, meski penolakannya terkesan setengah hati karena saat Robert mulai mencium bibirnya, Tamara menyambutnya dengan semangat. Keduanya segera bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan tanpa merasa perlu untuk menutup pintu kamar. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Tamara untuk menyadari kalau mantel mandi yang dikenakannya sudah lepas dari tubuhnya, membuat tubuh mulusnya kini kembali telanjang bulat karena dia tidak sempat mengenakan pakaian barang selembarpun.
“Ohh...” Robert mendengus liar, tatapan matanya nyalang penuh kemenangan. “Sudah kebelet kepingin dientot ya Tam..?” kata Robert mengejek.. “Kok udah nggak pakai pakaian dalam?”

Tamara diam saja mendengar ejekan itu, seolah sudah memasrahkan dirinya untuk melayani nafsu bejat satpamnya tersebut, dan Robertpun tahu itu. Dengan buas Robert segera mencengkeram payudara Tamara yang mencuat tegak kemudian meremasinya dengan kekuatan penuh sambil menjilati payudara mulus itu dengan rakus.
“Oohh.. oohh..” Tamara mendesah penuh nikmat.
Kepasrahannya yang total membuat libidonya meningkat dengan cepat. Tubuhnya menggel;iat dan bergetar sambil sesekali melengkung ke atas membuat payudaranya yang membusung tegak kian mencuat dan mengeras. Robert mencaplok kedua ayudara montok itu dan meremasinya dengan remasan-remasan yang amat kuat. Payudara Tamara yang lembut itu dibuatnya tidak beda dengan adonan tepung pizza yang diuleni oleh juru masaknya. Jilatan-jilatan dan kenyotan Robert pada puting payudara Tamara makin membuat wanita cantik itu menggeliat tidak terkendali. Robert lalu melanjutkan jilatannya ke daerah perut Tamara yang licin. Lidahnya yang terjulur menelusuri perut yang kencang dan rata tersebut, meninggalkan jejak ludah yang berkilat-kilat saat tertimpa sinar lampu.
“Oohh... aahh...” desahan dan erangan Tamara kian keras saat jilatanlidah satpamnya itu mulai menelusuri wilayah vaginanya. Seperti ular, lidah itu mencoba menelusup ke dalam celah vagina Tamara. Kemudian lidah itupun menari-nari menyapu bagian dalam vagina Tamar. Dengan bantuan jari, Robert membuka bibir vagina Tamara untuk membuat ruang bagi lidahnya. Sentilan-sentilan ujung lidah Robert membuat tubuh Tamara bergetar seperti disengat aliran listrik. Tubuh mulus wanita cantik itu bergetar dan menggeliat-geliat merasakan bagian tubuhnya yang paling sensitif itu disentuh. Apalagi saat lidah Robert mencapai bagian klitoris Tamara, membuat wanita cantik itu makin megap-megap merasakan gelombang libido yang seolah-olah menekan kerongkongannya.
“OHHKK... OOHHH.. AHHKK...HH..” Tamara mengerang keras dengan tubuh menegang kuat. Tubuh mulus itu menegang dan melengkung begitu keras sehingga hanya kepala dan pantat Tamara saja yang menyentuh ranjang. Payudaranya yang mencuat tegak bergetar keras setiap kali tubuh mulusnya menggeliat. Secara tidak sadar Tamara menggerak-gerakkan sendiri pinggulnya maju mundur membuat daerah selangkangannya makin melekat ke wajah Robert yang sekarang sibuk menjilati cairan yang mengalir dari vagina wanita cantik itu. Selama beberapa detik tubuh Tamara mengejang-ngejang dan menggeliat-geliat.

Aliran libido yang meledak seolah memompa tubuh mulus itu dan menekannya ke segala arah. Selama beberapa detik lamanya nafas Tamara terhenti merasakan kenikmatan yang begitu hebat menggetarkan syarafnya. Dan selewat itu, pelan-pelan tubuh yang putih mulus itu kembali melemas dan tergolek tidak berdaya di atas ranjang. Terengah-engah, antara puas dan malu, Tamara hanya tergolek di ranjang, menunggu kelanjutan aksi Robert yang dilihatnya mulai menanggalkan seragam satpamnya. Hanya sepasang kaus kaki hitam yang kini dipakai satpam kekar itu. Tubuhnya yang hitam legam terlihat basah oleh keringat Penisnya yang hitam legam berdiri tegak seperti mengancam membuat Tamara sedikit mrinding meskipun penis berukuran super itu sudah berulang kali menggenjor vaginanya. Dengan amat tenang, Robert meneruskan aksinya. Dia menarik pergelangan kaki Tamara sampai pantat wanita cantik itu nyaris menyentuh bibir ranjang. Sepasang kaki mulus Tamara itu lalu disampirkan ke pundaknya. Kemudian dengan memegangi seapasang paha mulus Tamara tersebut, robert mulai mengarahkan penisnya ke liang vagina Tamara. Hanya butuh satu dorongan bagi Robert untuk membuat penisnya kembali amblas ke dalam liang vagina wanita cantik itu.
“Ehhkk...” Tamara mendesah  merasakan pedih pada vaginanya.
Tamara sendiri tidak habis mengerti, padahal sudah berulang kali Robert menggagahinya tapi tetap saja dia merasa kesakitan saat penis besar itu membenam di dalam liang vaginanya.. Penis itu seolah-olah mendesak vaginanya melar ke segala arah membuat otot-oto vaginanya melebar dengan paksa, sampai-sampai Tamara nyaris yakin kalau vaginanya tidak akan bisa kembali normal jika Robert terus-menerus menggagahinya. Meski begitu hanya butuh beberapa kali genjotan bagi Tamara untuk melupakan rasa sakitnya. Sodokan demi sodokan penis Robert kembali menimbulkan sensasi kenimatan yang harus diakui membuatnya ketagihan.
“Oohh....... oohh...... aaahh...... aahhh.............” Tamara mendesis-desis dengan tubuh menggeliat-geliat. Payudaranya yang kenyal terguncang-guncnag kesana-kemari mengikuti setiap gerakan tubuh mulusnya. Tangannya mencengkeram erat pada seprai sementra kepalanya bergoyang-goyang liar merasakan kenikmatan yang mendera tubuhnya.

Robert yang tanggap pada reaksi Tamara jadi makin bersemangat. Gerakan pantatnya yang menyodok-nyodok menjadi makin kuat dan temponyapun jaidi makin cepat. Robert bahkan membuat gerakan memutar membuat penisnya seperti mengaduk-aduk liang vagina Tamara. Untuk lebih membangkitkan gairah Tamar, Robert kadang-kadang menghentikan gerakannya selama beberapa saat dambil menekan penisnya dalam-dalam di liang vagina wanita seksi itu. Hal itu membuat respon Tamara jadi makin ganas. Tubuh mulus wanita cantik itu bergetar keras menahan desakan sensasi yang makin menggila, sampai tak sadar, tamara menggerakkan sendiri pantatnya maju mundur.
“Ohh...... ohh...... ahhkk....... aahhh....... aahhss... ahhhss...” Tamar mendesis-desis sambil menggigit bibirnya sementara tubuhnya melengkung ke atas membuat payudaranya kian membusung. Robert tidak tahan lagi untuk meremas-remas sepasang payudara mulus itu. Tangan kekar Robert mencengkeram sepasang payudara mulus itu dengan kuat seolah seperti mencengkeram tanah liat empuk.. Gabungan antara genjotan penis Robert pada vagina Tamara dan remasan tangan Robert pada payudaranya membuat birahi wanita cantik itu makin tidak terbendung. Tubuh putih mulus artis itu kembali menggeliat kuat, desahan dan erangannya makin keras, sampai pada puncaknya tubuh itu kembali mengejang bagaikan disengat listrik puluhan ribu volt.
“AHHHKKH........ AHHH.... OOOOHHH..........!!” Tamara meraung bagaikan srigala terluka, selama beberapa detik tubuhnya mengeras seperti batu, vaginanya berdenyut kencang membetot penis Robert yang masih membenam kuat di dalamnya.
Tidak ingin buru-buru, Robert mencabut penisnya dari cengkeraman vagina Tamara. Tubuh mulus wanita cantik itu terkapar lemas dengan kaki terjuntai ke lantai. Robert mendiamkan tubuh telanjang yang menggairahkan itu selama beberapa saat untuk memberi kesempatan beristirahat sebelum kembali menggarapnya. Kemudian dibimbingnya Tamara turun dari ranjang, lalu Robert memposisikan dirinya terlentang di lantai membuat penisnya yang tegang berdiri tegak. Disuruhnya Tamara untuk mengangkangi penisnya. Tamara yang paham maksudnya mulai membimbing penis legam itu menuju vaginanya sendiri, kemudian dengan satu gerakan, Tamara memaksa penis itu menembus vaginanya saat dia menggerakkan pantatnya.
“Ooohhh..” Tamara mengerang lirih, penis Robert melesak dengan mulus ke daam vaginanya, kemudian seperi sudah diprogram, Tamara mulai menggerakkan pantatnya naik turun membuat penis Robert yang keras itu kembali menggenjot vaginanya.

“Oohh... oohh... aahh... aahh.. ehhsss.. ehhss..” Tama kembali mengerang dan mendesah-desah nikmat, tubuhnya bergerak naik turun di atas tubuh Robert, penis Robert memompa keras vagina artis cantik itu. Bunyi berdecak muncul setiap kali Tamra menggerakkan pantatnya sebagai akibat dari gesekan sepasang alat kelamin yang menyatu ketat. Payudara Tamara yang kenyal dan montok berguncang-guncang setiap kali dia menggerakkan tubuhnya. Gerakan payudara mulus itu membuat Robert kian gemas, ditariknya tubuh Tamar sampai agak condong ke depan membuat satpam itu makin leluasa menjamah sepasang payudara indah tersebut. Sembari Tamara menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Robert, si satpam tersebut juga menikmati keindahan dan kemulusan payudara artis cantik itu dengan remasan dan cumbuan ganas.
“oohh.... yeahh.... ayoo.... teruss..... terus Tam..... ahh.... ahh..... ahh.... kencengan goyangannya...” Robert ertengah-engah sambil memberi komando pada Tamara yang makin mempercepat gerakan pantatnya, sementara penis Robert bagaikan sepotong karet yang tidak bisa lemas dan terus-menerus memompa vagina Tamara yang kian basah. Tamara melenguh-lenguh makin liar merasakan kenikmatan gesekan penis satpamnya tersebut pada dinding vaginanya, rasa yang muncul silih berganti antara pedih dan nikmat membuat Tamara kian frustrasi dan memaksa dirinya untuk mencapai orgasmenya  lagi.
Tapi di tengah serunya pergumulan itu, tiba-tiba HP Tamara berbunyi. Deringnya keras sekali membuat kedua orang yang sedang memacu diri dalam gelombang nafsu seksual itu terkejut.
“Sialan!” Robert memaki. Tamarapun terkejut mendengar HP nya berbunyi. Rasanya seperti anjlok dari lantai dua, gairah seksual mereka yang menggebu nyaris mencapai puncak langsung padam seketika seperti api unggun tersiram air. Robert merasa penisnya lansung mengerut ke ukuran normal, nafsunya seperti terbang entah ke mana, sementara Tamara langsung bangkit dan mengambil HP nya yang masih berbunyi dan bergetar keras.
“Dari siapa sih?” Robert bertanya dengan emosi meninggi, lebih tinggi ketimbang birahinya yang terputus di tengah jalan. Tapi Tamara tidak mempedulikannya, dia menyambar HP nya dan menjawab panggilan yang masuk.
“Sorry..” Tamara berkata pelan. “Hari ini gue nggak bisa..” tambahnya. “Ada yang harus gue kerjakan.” Ujarnya. Ada nada cemas tersirat dari caranya bicara. Robert mengamati Tamara terlihat gelisah dan ketakutan, seperti sedang bicara pada seseorang yang bisa menentukan nasibnya saja.

“Paling tidak elo tunggu gue dulu, jangan main paksa gitu.” Tamara berkata gugup pada peneleponnya. “Gue kan nggak bisa berada di dua tempat sekaligus.” Tambahnya kembali masih dengan nada gugup yang sama. Sejenak Tamara diam mendangarkan ucapan peneleponnya.
“Oh.. yah.. baiklah.. terserah elo..” kata Tamara sebelum mematikan HP nya. Robert mendekatiya dengan penuh curiga. Ditatapnya wanita cantik itu dengan pandangan menyelidik. Tamara tampak ketakutan melihat tampang Robert. Dia menundukkan wajah menghindari kontak mata.
“Dari siapa?” tanya Robert penuh curiga. Matanya masih menyelidik, tapi Tamara diam saja, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Dari Samy.” Jawab Tamara memecah kesunyian yang terjadi selama beberapa saat.
“Samy?” Robert berpikir sesaat. “Bukannya dia itu mantan sopir elo Tam?”
Tamara mengangguk. Dia memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Robert.
“jadi elo mau kan bantu gue Bob?” tanya Tamara dengan nada memohon, meskipun jelas sekali terlihat kalau itu hanya akting, rupanya Tamara baru saja menemukan sebuah ide cemerlang untuk mengadu domba kedua pria yang selama ini menjadi mimpi buruk baginya.
“Tenang saja Tam.” Robert tersenyum. “Asal.. yah.. tahu sendiri lah..”
Tamara tersenyum cerah, untuk pertama kalinya sejak dirinya dijebak dan dijadikan budak nafsu dia bisa tersenyum. Tanpa malu-malu dia segera menghambur ke dalam pelukan Robert yang langsung memeluknya dengan erat. Keduanya kembali tenggelam dalam pergulatan penuh gairah.
*
=======================
Suasana hati Tamara sedang riang hari itu. Puluhan scene sinetron terbarunya dilahap tanpa kesulitan berarti, membuat sutradara terlihat senang.
“And Cut!” teriak sang sutradara. Seluruh kru langsung bersorak senang setelah berhasil menyelesaikan scene terakhir yang dijadwalkan untuk hari itu.
“Well done Tam.”  Sang sutradara memberikan acungan dua jempol pada Tamara yang terlihat sedang meneguk air mineral. “Ini baru Tamara yang gue kenal.” Pujinya tanpa sungkan. Tamara tersenyum, dia bergegas menujuwardrobe untuk mengganti baju.
“Tam..” sutradara memanggil. “karena elo hebat hari ini, maka besok elo boleh libur dua hari.” Tambahnya setengah berteriak. Tamara yang sudah agak jauh membalas dengan teriakan terima kasih.
“Wah.. enak dong.” Komentar salah satu kru yang membawa kamera. Perwakannya kurus dengan rambut gondrong diikat ekor kuda. Wajahnya tirus dan cekung mirip seorang pecandu narkoba. Dia bertugas sebagai kru peralatan yang biasanya melakukan bongkar pasang kamera.
“Enak gimana maksud lo?” tanya sutradara sambil mengemasi kumpulan naskah yang bertebaran dan memasukkannya ke dalam tas.
“Ya enak lah Bos..” si kru peralatan menjawab santai sambil menggulung kabel panjang di depannya. “Mbak Tamara libur kan? Sementara kita?” Kerja berlangsung terus.”
“Yeah..” sutradara tertawa. “Besok kita musti lapor ke departemen tenaga kuda.” Guraunya, disambut tawa yang lain. Sesaat kemudian mereka melihat Tamara keluar dari bagian wardrobe dan bergegas menuju mobilnya. Derum halus mesin mengiringi mobil mewah itu meninggalkan lokasi syuting.
Baru beberapa puluh meter mobilnya melaju meninggalkan lokasi syuting tiba-tiba HP Tamara berbunyi keras. Agak gugup Tamara segera meraih HP nya. Konsentrasinya sedikit buyar saat melihat melihat nama peneleponnya, Samy.
“hallo cantik..” kata Samy tanpa basa-basi. Tamara langsung lemas mendengar suara pria yang paling dibencinya itu. Tak mau mengambil risiko kecelakaan, Tamara menghentikan mobilnya.

“Ada apa?” tanya Tamara ketus. Meskipun jantungnya berdegup kencang seperti dipacu tiga kali lebih cepat tapi dia berusaha untuk menguasai diri.
“Kok pakai tanya sih Sayang.” Samy terkekeh mendengar pertanyaan Tamara yang sama sekali tidak mengganggunya. “Biasa kan.. jatah.. jatah.. Sudah berapa hari ya gue nggak nyoblosin elo? Dua.. tiga.. empat hari..” Samy dengan gaya bloonnya menghitung. Tamara merinding dibuatnya, wajahnya merah padam menahan marah dan malu pada ulah Samy.
“Gimana Cantik?” Samy kembali bertanya. “Besok kamu libur kan?”
Tamara terperangah kaget  mendengar itu. Dia heran setengah mati bagaimana bisa Samy mengetahui kalau dia besok tidak syuting.
“Dari mana kamu tahu?” Tamara bertanya gugup, keringat dingin mulai mengalir membasahi tubuhnya, bulu kuduknya langsung meremang merasakan ada bahaya lain yang mengintainya. Tapi Samy hanya tertawa terkekeh mendengar partanyaan Tamara yang membuat wanita cantik itu makin gugup.
“Dari mana aku tahu?” Samy kembali tertawa. “Anggap saja aku punya mata-mata yang selalu mengawasi elo.”
Jawaban Samy tersebut, entah benar entah tidak, jelas membuat Tamara shock berat. Dia merasa hidupnya sekarang sepenuhnya sudah ada di dalam genggaman tangan Samy, tidak saja secara fisik tapi juga secara mental.
“Jadi gimana Sayang?” tanya Samy mengagetkan Tamara yang sedang kalut.
“Eh.. i.. iya.. gue mau..” Tamara menjawab dengan gugup dan asal-asalan. Tidak berdaya untuk menolak, Tamara mengiyakan saja saat Samy menyuruhnya datang ke villa di Puncak besok pagi-pagi sekali.
Sepanjang malam itu Tamara gelisah sekali. Setengah mati dia berusaha tidur tapi tidak sedikitpun matanya tmau terpejam, padahal dia sangat butuh tidur malam itu supaya besok tubuhnya segar mengingat besak akan menjadi hari yang sangat melelahkan baginya. Entah berapa kali Tamara mengganti posisi tidurnya. Miring ke kiri, miring ke kanan,telungkup, terlentang, tapi tetap saja matnya tidak mau diajak tidur. Baru saat menjelang jam 3 pagi dia bisa benar-benar terlelap.

Sedetik kemudian, atau rasanya begitu, alarm HP yang disetel sebagai jam beker berdering kencang sekali. Tamara tergagap bangun sambil menggapai-gapai ke segala arah untuk mencari HP nya yang terselip di balik selimut. Dengan jengkel dimatikannya alarm HP nya. Jam pada HP sudah menunjukkan pukul 06.30, membuat Tamara terpekik kaget.
“Setengah tujuh?” Teriak Tamara dengan kekagetan luar biasa, bagaimana dia bisa lupa menyetel alaramnya lebih pagi. “Mati gue..!” katanya gugup. Lalu dengan tergesa-gesa bagaikan dikejar setan, Tamara melompat bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Selesai mandi ala kadarnya, Tamara langsung berpakaian. Diapakainya pakaian yang longgar dan mudah dibuka, berupa kemeja gombrong dan celana panjang katun lebar warna hitam plus sepatu hak tinggi warna putih.. Secepat yang dia bisa, Tamara berlari sampai nyaris jatuh terguling menuju mobilnya.
“Gila..!” Tamara meruntuk cemas. “Mati gue kalau sampai telat.” Katanya sambil menyalakan mobilnya, dia makin gugup saat mobilnya seperti seret banget diajak kerjasama. Berkali kali Tamara mencoba menyalakan mesin mobilnya tapi tidak berhasil.. Baru setelah hampir sepuluh menit mencoba, mesin mobilnya mulai berderum.
Di jalan tol Tamara melesatkan mobilnya dengan kecepatan gila-gilaan. Beruntung jalan tol yang ke arah puncak sedang longgar membuat Tamara leluasa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dengan kecepatan rata-rata 100 km per jam, Tamara berhasil mencapai villa dalam hitungan duapuluh menit saja. Gerbang villanya sudah ada di depan mata. Dan tepat sebelum mobilnya mencapai pintu, pintu gerbang yang besar dan berat itu membuka. Seorang pria tua tersenyum lebar ke arahnya. Pak Abdul, penjaga villanya sudah menyambut dengan seringai seperti srigala.. Bulu kuduk Tamara meremang melihat wajah tua penuh keriput itu. Tamara masih sakit hati kalau ingat pria tua itu pernah menggagahinya secara brutal. Ingin rasanya Tamara mencekik pria itu sampai mati kalau tidak ingat dia masih berada dalam cengkeraman Samy yang jelas akan melindungi Pak Abdul.

“Pagi Mbak Tamara.” Sapa Pak Abdul dengan keramahan dibuat-buat yang amat kentara. Tamara jadi jengah melihat tatapan mata Pak Abdul yang menelusuri sekujur tubuhnya. Mata berkantong itu seolah-olah berkata akan menelanjangi dan memperkosa dirinya habis-habisan.
“Mbak Tamara udah ditunggu loh.” Tambah Pak Abdul lagi. Tamara diam saja dan mengarahkan mobilnya ke halaman, sementara Pak Abdul menutup pintu gerbang dan menggemboknya. Tamara melihat mobil butut Samy sudah nongkrong di halaman. Maka diapun segera bergegas menuju ke dalam villa.
Tamara baru berjalan beberapameter dari pintu ketika sepasang lengan kurus menyergapnya dan memeluknya dari belakang.
“Apa kabar Tamara cantik?” tanya orang yang memeluknya yang tidak lain adalah Samy. Tamara melengos dam mencoba melepaskan pelukan Samy, tapi Samy tidak mau melepaskan pelukan ketatnya dari tubuh indah artis cantik itu. Samy bahkan mulai melancarkan ciuman dan kecupan pada leher Tamara.
“Tidak perlu terburu-buru.” Tamara menukas ketus dan mengelak saat Samy berusaha menciumi lehernya. “Elo punya waktu seharian buat muasin nafsu bejat elo itu ke gue kan?”
“Ah. Elo memang pintar Tam.” Samy terkekeh. “Gue suka yang model begini. Tapi hari ini bukan Cuma gue lho yang musti elo puasin.”
Tamara terperanjat sesaat, dalam hatinya dia mengira juga harus melayani nafsu seks Pak Abdul sang penjaga villa. Tapi rasa terkejutnya langsung berubah menjadi kekagetan luar biasa saat Samy membawanya ke ruangan belakang, dimana di situ terdapat ruang santai tempat Tamara biasa menonton TV. Tamara mendengar suara TV ynag dinyalakan dengan volume keras. Suara yang terdengar hanyalah desahan-desahan nafas yang tidak teratur. Tamara agak jengah ketika melihat di TV sedang diputar film porno yang menampilkan rekaman seorang wanita bule berambut pirang berparas amat cantik sedang disetubuhi oleh pria kulit hitam dengan gaya Doggy Style. Tapi kejengahan Tamara tidak sebanding dengan kakagetannya saat mengetahui siapa yang sedang menonton film porno itu.

“Bob..?” Tamara sampai nyaris pingsan melihat siapa yang ada di ruangan itu. Robert satpamnya sedang menunggu dengan santai di sofa. Tamara menoleh berganti-ganti ke arah Samy dan Robert dengan tatapan campuran antara ngeri, bingung dan takut.
“Apa maksudnya ini Sam..? Kenapa kalian... “ Tamara geragapan dengan kejadian yang tidak terduga ini. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Samy dan Robert rupanya sudah saling kenal satu sama lain.
“Kaget ya Tam?” tanya Robert memecah keheningan yang terjadi.
“Tapi.. tapi.... ini...” Tamara makin gugup. Dia menoleh ke arah Samy. “Kita sudah sepakat kan Bob?”
“Yeah..” Robert tersenyum kejam. “Tapi rasanya kerja sama kita tidak semenarik kerja sama yang ditawarkan oleh Samy..” tambahnya yang langsung membuat Tamara bagaikan disambar petir. Tubuh Tamara langsung seperti mati rasa ketika menyadari apa yang sedang berlangsung.
“Kalau sendirian posisi gue tidak kuat Tam.” Robert menjawab kebingungan Tamara.. “Tapi kalau bersama dengan Samy, maka gue punya kekuasaan lebih terhadap elo.”
“Kata orang dua kepala lebih baik dari satu kepala.” Samy menyambung. “Gue juga diuntungkan dengan ini karena Robert orang yang tepat untuk memata-matai elo. Dia juga tahu persis jadwal elo, jadi gue bisa tahu kapan waktu yang pas buat ngentotin elo.”
Tamara hanya bisa tertunduk lemas mendengarnya. Rencana yang sudah disusunnya dengan rapi mendadak menguap begitu saja. Kembali wanita cantik itu merasakan tubuhnya seperti dijepit oleh tembok raksasa, kali ini bahkan dari dua arah. Tamara sama sekali tidak menyangka kalau kedua orang pria itu akan bekerja sama untuk menghancurkan hidupnya. Tamara merasa harapannya seakan sudah habis. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah mematuhi perintah kedua pria bejat itu sembari berharap keduanya tidak menyakitinya secara berlebihan. Tamara akhirnya menegakkan badannya dan menatap ke arah kedua pria itu.
“Sekaraang apa lagi yang harus gue lakukan buat kalian?” tanta Tamara putus asa. Serentak Robert dan Samy tertawa terbahak, yang mengisyaratkan kemenangan sudah ada di dalam genggaman mereka.

“Hehehe... tentu saja tubuh elo yang montok itu Tam, emang apa lagi..?” jawab Robert sambil terkekeh.
“Betul.” Samy menyambung. “Tapi kali ini nggak sekedar ngentot lho Tam..”
Tamara menatap Samy dengan tatapan merana, tidak terbayangkan olehnya apa lagi yang diinginkan Samy dan Robert darinya.
“Apa maksud kalian?”
“Elo lihat dong ke TV..” Robert menyambar. Tamara sekilas melirik ke arah TV dimana adegannya memperlihatkan si pria sedang menumpahkan sperma ke wajah wanita bule yang tadi disetubuhinya. “Elo kan bintang sinetron, jadi kami pingin ngentotin elo dengan gaya seperti film bokep, sambil sekalian kita buat film bokep dan elo sebagai bintang utamanya.” Samy menjawab santai.
“Tidak!” Tamara menjerit ngeri. “Jangan! Please! Jangan! Kalian boleh entot gue sepuasnya, tapi jangan suruh gue main film porno..” Tamara menangis ketakutan sambil memohon-mohon pada kedua pria itu.
“Oh, ya.. Justru kami pingin sekali Tam.” Samy menukas santai. “Elo kan bintang film, masa disuruh main film nggak mau..?” tambahn Samy mengejek penuh penghinaan.
“Tenang saja Tam.. pasti enak bisa ngetot di depan banyak orang, apalagi kalau kemudian filmnya kita tonton lagi..” Robert menambahi. Tamara langsung panas dingin mendengar komentar Robert. Dia merasa sangat terhina, sebagai seorang selebriti dan artis sinetron yang terkenal sekarang dipaksa untuk bermain dalam sebuah film porno kelas rendahan. Tapi Tamara tidak punya pilihan lain lagi selain menuruti kemauan mereka.
“Tapi.. bagaimana kalau filmnya jatuh ke tangan Rafly..?” tanya Tamara takut-takut, dia tidak bisa membayangkan seandainya film porno yang mereka buat jatuh ke tangan Rafly. Hal itu pasti akan membuat Rafly marah dan melarang dia bertemu dengan Rassya, bahkan untuk selamanya.

“hehehe.. tenang saja Tam..” Samy tertawa. “Kami juga nggak sekejam itu, kecuali kalau elo nggak mau menuruti perintah kami..” Samy tidak menyelesaikan kalimat yang bernada ancaman itu, tapi dari ekspresi wajah Tamara, jelas sekali wanita itu tahu apa yang dimaksud oleh Samy. Tamara diam, entah apa yang dipikirkannya, tapi jelas dia sedang mempertimbangkan segala sesuatunya. Membayangkan dirinya bermain dalam film porno, disetubuhi sambil direkam dan kemudian persetubuhannya ditonton oleh banyak orang membuatnya ngeri setengah mati. Tapi karena tidak punya pilihan lain, maka dengan menekan segala ketakutannya, Tamara akhirnya setuju. Meskipun demikian, dia masih merasa merinding juga ketika Samy menjelaskan skenarionya. Tidak seperti skenario sinetron yang sering diperankannya, Tamara hanya disuruh berenang beberapa saat sebelum kemudian melakukan hubungan seksual yang harus dia lakukan di tepi kolam renang terbuka. Tamara hanya diijinkan memakai bikini yang amat minim. Dengan keadaan nyaris telanjang itulah Tamara memulai perannya. Dia berenang beberapa kali negelilingi kolam renang dengan gaya punggung sempurna. kemudian dengan gerakan anggun, wanita cantik itu keluar dari kolam renang, bagaikan dewi laut yang muncul dari permukaan air. Tubuhnya yang putih mulus dan nyaris tidak tertutup apapun, kecuali bikini yang hanya bisa menutupi sebagian kecil payudaranya dan belahan vaginanya, tampak berkilauan tertimpa cahaya matahari.
“Ohh.. mulusnya..” terdengar suara seorang laki-laki yang tidak lain adalah Robert. Dialah yang beruntung mendapat giliran pertama untuk menyetubuhi Tamara, sementara Samy tampak merekam adegan yang berlangsung dengan menggunakan handycam.. Tamara menoleh ke arah Robert yang dilihatnya hanya memekai celana pendek selutut. Tubuhnya yang hitam dan kekar terlihat begitu menyeramkan. Meski begitu Tamara terlihat begitu tenang, dengan kematangannya sebagai seorang artis, dia mampu menjalankan perannya dengan sempurna. Dia lalu berjalan mendekati Robert dengan semyuman yang menggoda.
“Tubuhku mulus kan Tuan?” Tamara menggoyangkan pinggulnya sedikit dengan tatapan genit dan mengundang, Robert kian tak kuasa menahan luaan nafsunya yang meledak-ledak sampai tubuhnya gemetar. Robert memang sudah sering menikmati kemulusan tubuh artis seksi itu, tapi dalam situasi seperti ini dimana dia harus bisa menjalankan peranannya dengan baik, dia tidak mampu membendung desakan nafsunya yang tak terkendali. Kalau tidak ingat skenarionya, inin rasanya Robert segera menerkam tubuh mulus itu dan menggagahinya di tempat, tapi pria kekar itu mencoba menahan, meskipun darahnya serasa menggelegak memompa penisnya yang menegang keras. Apalagi ketika Tamara kian menggoda dengan gerakan tubuhnya yang binal.

“Kalau Tuan mau, ayo.. buruan entotin saya..” kata Tamara dengan senyum genit dan kedipan matanya yang menggoda.
“Beneran nih?” tanya Robert dengan gaya kaku ciri khas seorang pemula.
“Iya.. ayo buruan entotin saya..” jawab Tamara dengan senyum yang sama. Mendengar itu tentu saja Robert tidak buang waktu, dipeluknya tubuh mulus yang nyaris bugil itu dan tanpa basa basi lagi pria kekar itu mulai menggeluti tubuh putih itu dengan kasar. Sebentar saja bibir Robert sudah melumat erat bibir Tamara dan sesekali menelusuri pipi mulus artis cantik itu.
“Oohh... mmhh.. ohhh...” Tamara mendesah merasakan sentuhan bibir Robert yang mencumbuinya. Wanita cantik itu membalas dengan meremasi rambut Robert yang pendek keriting dengan kasar, meski begitu Robert justru kelihatan makin senang dengan reaksi Tamara, dia menyambut reaksi Tamara dengan menciumi dan melumat-lumat bibir wanita itu dengan keganasan berlipat ganda. Robert juga melancarkan French kiss dengan mendorongkan lidahnya ke dalam rongga mulut Tamara. Lidah pria itu menelusuri bagian dalam mulut Tamara dan menari-nari di dalamnya. Tamara menyambutnya dengan respon serupa. Selama beberapa menit keduanya terlibat dalam ciuman ganas. Lidah mereka saling membelit bagaikan sepasang ular yang berpagutan.
“Mh.. mhh... ohh..” Tamara melenguh tertahan, lidah Robert bergerak dengan ganas di dalam rongga mulutnya dan menyatu erat dengan lidahnya sendiri. Robert makin meningkatkan serangannya. Dengan kekuatan bagai mesin penyedot debu, Robert melumat bibir Tamara dengan ciuman dan lumatan yang seolah ingin mencaplok bibir wanita cantik itu seluruhnya.
Setelah puas menciumi bibir Tamara, Robert meneruskan gerilyanya ke arah leher dan belahan payudara wanita cantik itu. Ditelusurinya kulit tubuh Tamara yang putih dan halus itu dengan lidahnya sambil sesekali mendaratkan ciuman ringan dan kecupan-kecupan lembut yang membuat Tamara mulai terangsang. Tubuh mulus wanita cantik itu mulai gemetar merasakan sensasi birahinya yang mulai menggelora dan meninkat dengan cepat. Lalu dengan gerakan cepat, Robert menarik bikini yang menutupi payudara Tamara sampai melorot, membuat payudara wanita cantik itu mencuat bebas dan menggantung telanjang. Robert segera menikmati keindahan payudara Tamara dengan lilatan dan remasan-remasan gemas. Robert juga menjilati puting payudara wanita cantik itu dengan ujung lidahnya, sementara payudara Tamara yang sebelahnya diremas-remas dengan cengkeraman kuat.

“Nhhh... ooohhhhhh... oohhh.....” Tamara mendesah liar saat Robert menyentil-nyentil puting payudaranya dengan ujung lidah. Robert juga menggigit-gigit puting payudara berwarna pink itu dengan gigitan ringan, sesekali juga Robert mengenyot-ngenyot payudara yang membusung padat itu seperti seorang bayi yang menyusu pada ibunya.
“Oohh... aahhh... aahh...” Tamara menggeliat penuh nikmat. Sentuhan bibir Robet dan remasan-remasan pada payudaranya seperti sebuah pendorong yang sangat kuat mendesak gelombang birahi Tamara sehingga tubuh puih mulus itu mengeliat-geliat merasakan desakan birahi yang kian memuncak.
Pelan-pelan Robert membimbing Tamara untuk berbaring di kursi malas yang biasanya digunakan untuk bersantai di tepi kolam. Dibaringkannya tubuh mulus Tamara terlentang, lalu dilepaskannya sisa pakaian terakhir yang menutupi bagian vagina wanita cantik itu membuat Tamara sempurna telanjang bulat, kemudian diposisisikannya kaki Tamara supaya mengangkang sampai liang vaginanya terkuak lebar.
“Ohh.. vagina yang indah..” Robert meneguk ludahnya memandang tubuh mulus Tamara yang telanjang bulat mengangkang pasrah. Dia lalu mulai mengelus-elus daerah kemaluan Tamara yang licin tanpa bulu itu.
“Engghh... ooohhh....” Tamara mengerang tertahan merasakan sentuhan jari tangan Robert pada belahan vaginanya. Jari-jari kasar itu meraba dan meremasi daerah kemaluan Tamara dengan gerakan kasar. Robert mengelus-elus bibir vagina Tamara sambil sesekali menyusupkan jarinya ke dalam liang vagina wanita cantik itu. Tamara menggeliat dan merintih penuh nikmat merasakan sensasi rangsangan Robert yang gencar pada daerah kemaluannya. Tubuh Tamara yang putih mulus bergetar dan menegang menahan sensasi seksual yang kian menggebu  ketika Robert mengaduk-aduk dan mengocok-ngocok vaginanya dengan jari. Tangan Tamara erat memegang bagian atas kursi dengan cengkeraman kuat sementara kepalanya menggeleng ke kanan ke kiri.
“Ohh... oohh.. aahh.. ahhh..” desahan nafas Tamara kian tidak teratur, nafas wanita cantik itu memburu dan tersengal merasakan libido yang mendesak kuat di dalam tubuhnya, apalagi saat Robet menyentuh klitorisnya yang sangat peka rangsangan. Gesekan demi gesekan yang menerpa wilayah peka rangsangannya membuat Tamara tidak tahan lagi. Tubuhnya menegang keras, lalu dengan dorongan seperti orang akan melahirkan, Tamara mengejan kuat seolah mencoba mendorong sesuatu keluar dari tubuhnya.

“OOHHHHHHHH.... AAHHHHHH...” Tamara melenguh keras sementara tubuh mulusnya mengejang-ngejang dan bergetar keras seperti tersengat listrik puluhan ribu volt. Tidak tahan lagi, orgasme Tamara akhirnya meledak kuat. Seketika vaginanya langsung basah, cairang vaginanya sebagian mengalir keluar membasahi daerah kemaluannya.
“Ooohhh...” Tamara melenguh penuh kenikmatan. Kepuasan saat mencapai orgasme pertama membuat tubuhnya lemas dan berkeringat. Tubuhnya terengah-engah merasakan kenikmatan luar biasa yang baru saja diperolehnya. Nafas wanita cantik itu memburu dan tersengal seperti baru saja berlari puluhan kilometer membuat dadanya naik turun dan payudaranya bergetar dengan lembut menggemaskan.
Robert yang sudah tidak tahan untuk menyetubuhi Tamara segera melucuti selananya dan celana dalamnya sendiri sekaligus. Seketika penisnya yang memang sudah menegang keras langsung mencuat tegak. Kemudian Robert memposisikan kaki Tamara ke samping, membuat kaki mulus itu mengangkang seperti kaki kodok. Dengan posisi kaki membuka lebar seperti itu vegina Tamara membuka dengan lebar seolah menangtang untuk dijejali penis. Robert kemudian memegangi paha mulus Tamara dan menahan posisi kaki wanita cantik itu tetap pada posisi mengangkang, lalu dengan leluasa Robert mengarahkan penisnya pada kemaluan Tamara yang membuka lebar itu. Vagina Tamara yang sudah siap menerima penis Robert melebar sesaat ketika penis besar itu menerobos ke dalamnya. Tanpa kesulitan berarti, penis itu membenam di dalam liang vagina Tamara.
“Ohhkk..” Tamara mendeah pelan, tubuhnya menjengit ke atas dan menegang selama beberapa detik ketika penis hitam legam itu menusuk liang vaginanya dengan keras. Tamara merasakan liang vaginanya penuh sesak dijejali benda sebesar penis Robert.
“Uhh.. oohh.. “ Robert  mengejang merasakan jepitan vagina Tamara yang sangat ketat mencengkeram penisnya. “Ohh.. memek yang mantap.. Pas banget buat dijadikan lonte..” ujar Robert menghina. Tamara hanya diam saja, sebagian karena tidak bisa melawan, sebagian karena merasakan kenikmatan yang mengalir dari vaginanya. Konsentrasinya terpusat pada daerah kemaluannya. Apalagi saat Robert mulai menggerakkan pantatnya untuk menggenjot vagina Tamara.

“Anghh.. oohh... oohh... ehhss.. eehhsss...” Tamara menggigit bibirnya menahan kenikmatan yang melanda tubuhnya. Vaginanya terasa sangat perih tapi juga sangat nikmat saat Robert menggenjot penisnya. Tamara melenguh-lenguh liar merasakan kenikmatan persetubuhan yang dilakukannya, tubuhnya menggeliat-geliat dan bergetar hebat yang membuat Robert kian bersemangat dalam menyodokkan penisnya.Pelan tapi pasti satpam kekar itu meningkatkan sodokan penisnya pada vagina Tamara. Goyangan pantatnya makin kuat membuat sodokan penisnya makin keras memompa liang vaigna Tamar membuat wanita cantik itu tidak kuasa menahan desahan kenikmatannya yang kian keras.
“Ohhh... oohhh... fuck... ohh.. fuckk... aahh.. fuckk.. aahh..” Tamara mulai meracau penuh kenikmatan merasakan gempuran penis Robert yang kian menggila. Tubuhnya terguncang keras tiap kali penis Robert menyodok liang vaginanya. Payudaranya yang bulat padat bergoyang liar seirama dengan gerakan tubuhnya, membuat Robert kian bernafsu. Tanpa banyak bicara lagi dicengkeramnya payudara putih mulus yang padat itu kemudian diremas-remasnya dengan penuh nafsu sementara penisnya terus menerus menyodok liang vagina wanita cantik itu.
“Nhh... nhh.. ngentot.. ahh.. ngentoot.. ahh.. ayoo.... fuckk... ahh.. fuckk... ahhh....“ Robert mengumpat dan meracau liar tak terkendali kesadarannya sudah sepenuhnya hilang digantikan naluri seks yang kian menghantam tubuhnya. Gerakannya makin cepat memompa vagina Tamara dengan penisnya membuat tubuh wanita cantik yang sedang disetubuhinya itu bergerak kian liar.
“Aahh... aahhh... oohh... fuckk... fucckkkhh...... aahhh...... aahhh.....” Tamarapun mengerang dan meracau kian tak terkendali, hilang sudah kehormatannya sebagai seorang artis dan wanita terhormat. Tidak ada lagi Tamara Bleszynski yang terhormat, yang ada sekarang hanyalah seorang Tamara yang rela dijadikan sebagai seorang pemuas nafsu seks yang tubuhnya boleh dinikmati oleh orang-orang semacam Robert dan Samy yang jelas tidak selevel dengannya. Tapi Tamara tidak bisa menolaknya, disamping karena dia sudah dijebak, dirinyapun mengakui mendapatkan kepuasan seksual yang sangat hebat jika berhubungan badan dengan Robert maupun Samy.

“Oohhhhhhh... oohhhh... aahhhh.... aaaahh....” Tamara mengerang keras, sensasinya kian tak tertahankan, sodokan demi sodokan penis Robert yang memompa vaginanya terasa makin menggerus sekujur syaraf seksualnya dengan ganas. Wajah cantik wanita bertubuh seksi itu makin merah padam menahan desakan libidonya yang kian meningkat. Di pihak lain, Robert berusaha mengulur waktu selama mungkin. Dia mempermainkan gejolak nafsu Tamara dengan memperlambat sodokannya, genjotannya kadang dia hentikan tepat pada saat libido Tamara sudah mulai memuncak. Akibantnya gairah seksual Tamara kembali mengendor sebelum kemudian Robert kembali menggenot wanita cantik itu. Robert membuat libido Tamara seperti roller coaster yang naik turun dengan sangat cepat. Kadang Robert membuat Tamara mencapai puncak sebelum kemudian dihentikannya di tengah jalan dengan segala macam cara. Akibatnya Tamara menjadi fustrasi dan tidak tahan lagi. Dia kemudian menggerakkan pantatnya sendiri untk membuat vaginanya tersodok oleh penis Robert, bahkan Tamara tanpa sungkan melingkarkan tungkainya ke pinggang Robert untuk mempermudah gerakannya, membuat penis Robert kian leluasa menyodok vagina wanita cantik itu.
”Nnhh.. ngghh... ooohhh... aahhh... amm.. puunn.. Bob.. Oohh.. oohh.. udaahhh... aahhh... aahh..” tamara mengerang menghiba-hiba . “Gue mau keluar.. oohh.. oohh.. mau keluar.. aahhh.......” rintih Tamara, mengharap Robert membiarkannya melepaskan orgasmenya yang sedari tadi tertunda.
“Ohh... oohh.. Mau ngecrot ya Tam..?” Robert mengejek sambil terus menyodok-nyodokkan penisnya tanpa ampun. “Ngecrot saja Tam.... jangan ditahan-tahan...” Robert menjawab sambil terus menyodok liang vagina Tamara dengan gerakan kasar. Sodokannya kadang kuat, kadang pelan, kadang menghentak-hentak, membuat Tamara kian tidak tahan. Tubuh putih mulus itu menggeliat kuat mencoba mendesak seluruh orgasmenya keluar. Akhirnya setelah tidak tahan lagi menerima sodokan penis Robert, Tamara mengejang kuat, tangannya mencengkeram kuat pinggiran kursi, wajahnya mendongak, dan sambil menggigit bibir, Tamara melenguh keras.

“OOHHHKKHH......AAAAAAAAAHHHHKKKHH...!!” Tamara mengerang keras sampai jeritannya menggema ke segala arah. Tubuh mulus wanita cantik itu menggelepar di dalam cengkeraman tubuh Robert yang hitam dan kekar. Tamara meledakkan orgasmenya sekuat yang dia bisa. Bagaikan bendungan yang jebol, orgasme itu meluap menghajar syaraf seksual Tamara begitu kuatnya, membuat tubuh telanjang yang putih mulus itu menyentak-nyentak selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali melemas.
Terpuaskan oleh orgasme yang luar biasa membuat Tamara bagaikan kerbau dicocok hidungnya. Dia pasrah saja menuruti perintah Robert. Robert yang jelas belum terpuaskan menyuruh Tamara menungging di atas kursi malas. Tangan wanita cantik itu bertumpu pada sandaran kursi sedangkan kakinya yang kiri menumpu ke kursi pada lututnya sedang kaki kanannya menyentuh ke tanah, posisi seperti itu emmbuat pantat Tamara yang bulat padat terlihat kian padat dan menungging mengundang nafsu. Lalu tanpa buang waktu lagi, Robert segera kembali mengarahkan penisnya yang masih menegang keras ke liang vagina Tamara. Vagina wanita cantik itu sudah basah oleh cairan yang sekarang menetes –netes di sekitar kemaluannya.
“Oohhkk..” Tamara melenguh keras sambil mendongak saat penis Robert yang kokoh itu kembali membenam di kemaluannya. Tubuh wanita itu menggeliat menahan kenikmatan yang kembali melandanya apalagi saat Robert kembali menyodok-nyodokkan penisnya, wanita cantik itu kembali merintih-rintih dan mendesah-desah penuh nikmat. Tamara sekarang sudah tidak peduli lagi oleh keadaannya yang sedang diperkosa di tempat terbuka dan bahkan direkam oleh Samy. Tamara pun sudah tidak peduli lagi pada Pak Abdul yang sekarang terlihat menonton pemandangan yang mengundang nafsu yang tengah dilakukannya. Sodokan-demi sodokan penis Robert membuat syaraf seksual Tamara kembali bergetar dengan hebat.. Dalam sekejap saja tubuh wanita cantik itu sudah sepenuhnya dikuasai oleh nafsu birahi yang meledak-ledak tak tertahankan. Sementara Robert makin bersemangat menggenjotkan penisnya di liang vagina Tamara sambil sesekali dia juga meremasi payudara montok artis cantik itu dengan ramasan bruytal.
“Ohh... oohh..... fuckk..... aahh..... aahh.... fuckk..... ooohhhh..... ooohhh.....” Tamara mendesah-desah tidak karuan. Matanya yang kian sayu merem melek merasakan kenikmatan yang terus-menerus menghantam vaginanya dan mengalir ke sekujur tubuhnya. Bibirnya bergetar-getar merasakan sensasi seksual yang kian meningkat.

“Ohh... oohh.. yess.. yesss.. ah.. ah.. ayo Tam.. lebih kerass.. ayo.. teruss..” Robert menyemangati Tamara. Dia makin kuat menggenjotkan penisnya. Dipeganginya pinggul Tamara yang bulat lalu dengan kasar disentakkannya penisnya keras-keras di vagina Tamara membuat tubuh putih mulus yang telanjang bulat itu tersentak –sentak maju mundur, dan hal itu dilakukan Robert berulang ulang dengan tempo yang berubah-ubah, kadang cepat dan keras, kadang pelan tapi kasar. Tapi meski diperlakukan sedemikian kasarnya, Tamara justru makin merasa nikmat. Lenguhan dan desahannya terdengar makin manja dan kian merangsang. Dan meskipun terlihat kelelahan tapi Tamara tetap bersemangat melakukan persetubuhan dengan satpamnya itu.
Tanpa terasa sudah hampir setengah jam Robert menggenjot tubuh mulus Tamara. Beberapa kali sudah Tamara dibuatnya orgasme hebat tai tampaknya stamina Robert yang kuat bisa membuat satpam kekar itu bertahan begitu lama. Kemudian setelah Tamara mengalami orgasme lagi, disuruhnya wanita cantik itu berbaring terlentang di kursi malas, lalu Robert memiringkan tubuh mulus artis itu, kemudian diangkatnya satu kaki Tamara dan disampirkannya ke pundak, posisi itu membuat vagina Tamara terbuka sangat lebar, dan kembali dengan leluasa Robert membenamkan penisnya di dalam liang vagina wanita cantik itu.
“Oohhh... aahhh... aahhh... oohh.. oohh.. aahh.. aahh..” kembali erangan dan desahan terdengar dari mulut Tamara saat Robert kembali menggenjotkan penisnya. Vagina Tamara terasa melar disodok oleh penis Robert yang berukuran besar. Suara berdecak keras terdengar sebagai akibat dari gesekan dua alat kelamin yang menyatu ketat mengiringi erangan dan rintihan nikmat kedua insan yang berbeda status yang tengah melakukan persetubuhan itu.
“Ohh...  oohhh.. aahhh.” Tamara menggeliat saat merasakan Robert menjamah da meremas-remas payudaranya. Nafsu seksnya yang menggebu kian meggelegak hebat mendapat rangsangan yang sedemikian hebatnya.

“Ohh.. yeah.. enak kan Tam? Mau dientot terus?” Robert tertawa mengejek di tengah-tengah usahanya menggagahi wanita cantik da seksi itu. Tamara tidak mejawabnya, entah karena merasa pertayaan itu tidak perlu dijawab, entah karena tubuhnya yang terhimpit desakan birahi begitu kuat membuatnya tidak mendengar.
“kalau ditanya jawab dong Tam..” Robet menyentakkan sodokannya kuat-kuat membuat Tamara terhenyak ke depan dengan keras.
“Oohh..  iyahh... aahhh... aahh.. mau.. entotin gue sepuas elo... entotin gue sepuas elo..” jawab Tamara sedikit manja. Mendengar itu Robert tertawa keras dan genjotan penisnya kian kuat memompa vagina Tamara membuat tubuh telanjang wanita itu tersentak-sentak maju mundur  dengan keras. Beruntung kursi malas yang dinaiki Tamara teruat dari cor beton, kalau tidak, sedari tadi kursi itu pasti sudah patah karena tidak kuat menahan gerakan persetubuhan dua manusia yang sangat bertolak belakang itu.
Tamara benar-benar kehilagan akal menahan gelombang birahi yang makin keras melanda tubuhnya. Otaknya serasa macet tertutup oleh kenikmatan yang kian menggebu-gebu.
“OOHHKK....!! AAHHHH....!!” Tamara tidak bisa menahan diri lagi. Erangan keras meluncur begitu saja dari bibirnya yang seksi. Tubuhnya kembali menggeliat keras. Orgasme untuk kesekian kalinya menghantam syaraf seksualnya dengan begitu hebat. Kali ini bahkan lebih kuat dibanding sebelumnya.Tubuh mulus wanita cantik itu sampai mengejang-ngejang bagaikan tersengat aliran listrik puluhan ribu volt.
“Oohhkk.. ohh..” robert akhirnya tidak tahan lagi menerima desakan ejakulasinya. Dengan terburu-buru dia menarik penisnya keluar dari jepitan vagina Tamara kemudian dia segera menaiki tubuh telanjang Tamara. Robert menjepitkan penisnya yang masih tegang pada kedua belah payudara Tamara yang montok, dicengkeramnya sepasang payudara bulat padat itu lalu Robert menggerakkan pantatnya untuk mengocok penisnya yang terjepit pada kedua belah payudara Tamara.
“Crt.. crt.. crt...” sperma Robert memancar deras menyemprot wajah dan bagian dada Tamara. Robert mengejang keras menahan ejakulasinya sebisa mungkin, tapi energinya tak terkendalikan lagi, spermanya terus menyembur dengan deras menyiram wajah cantik Tamara yang gelagapan.
“Oooohhhh...” Robert melenguh keras merasakan kenikmatan ketika spermanya muncrat dengan deras. Dituntaskannya semprotan spermanya yang begitu deras. Akhirnya dengan senyum penuh kemenangan dia mengakhiri persetubuhannya. Ditainggalkannya Tamara yang masih terengah-engah telanjang bulat di atas kursi malas dengan wajah dan tubuh berlumuran sperma putih kental menjijikkan. Semantara Samy dilihatnya melakukan close up menyorot wajah cantik Tamara yang penuh sperma.

“Oke banget nih Tam...” Samy tertawa penuh kemenangan sambil menunjukkan handycam yang dibawanya. “Elo berbakat banget lho jadi bintang bokep..”Tamara diam saja mendengar ejekan dan hinaan Samy. Saat kesadarannya pulih dia mulai meneteskan air mata meratapi nasibnya yang terhempas dari seorang selebritis terhormat menjadi seorang yang begitu hina dan tidak punya kehormatan lagi, dipaksa untuk melacurkan diri dan menjadi pemain film porno, yang semuanya harus dia lakukan tanpa bayaran sedikitpun. Tapi dia tidak bisa berlama-lama meratapi nasibnya. Samy hanya memberinya waktu lima menit untuk membersihkan tubuhnya dari bekas-bekas persetubuhannya dengan Robert untuk kemudian kembali disetubuhi. Tanpa sempat berpakaian, Tamara terpaksa patuh saat Samy memaksanya mandi di shower. Tamara juga tidak bias membantah ketika Samy menggosok-gosok tubuh mulusnya yang telanjang dengan sabun mandi di bawah guyuran shower.
Gosokan disertai remasan-remasan tangan Samy rupanya kembali menimbulkan sensasi pada tubuh Tamara, apalagi saat tangan itu menggerayangi payudara dan vaginanya, tubuhnya langsung bergetar hebat.
“Oohh... aahhh...” Tamara melenguh lirih merasakan libidonya kembali naik. Samy yang melihat perubahan reaksi Tamarmakin gencar merangsang gairah seksual wanita cantik itu. Belaian dan remasan tangannya kian gencar mengaduk-aduk bagian sensitif tubuh putih mulus Tamara yang telanjang bulat. Tamara kian kewalahan menahan desakan libidonya yang entah kenapa jadi cepat sekali meninggi, tubuh mulusnya yang telanjang bulat kembali mengejang kecil dan menggeliat-geliat di bawah siraman air dingin dari shower. Air dingin yang mengguyur tubuhnya membuat libido Tamara terasa naik turun karena dinginnya air yang menyiram tubuhnya membuat gejolak seksualnya padam, tapi di lain pihak, tubuh telanjangnya terus-menerus menerima rangsangan akibat belaian tangan Samy.

“oohhh... aahhh... sudahh.. please.. aahhh... aahh... ooohhh... sudaahhh.. “ Tamara mengerang memohon-mohon pada Samy untuk menghentikan tindakannya. Tamara lega luar biasa ketika Samy menghentikan belaian dan remasannya.Tapi rupanya itu hanyalah taktik Samy untuk permainan selanjutnya. Samy tahu kalau saat ini Tamara sudah dalam keadaaan terangsang. Dia lalu menggiring wanita cantik itu, masih dalam keadaan telanjang bulat, ke dalam kamar. Di kamar itulah Tamara diperintahkan untuk melanjutkan pembuatan film pornonya.
“Sekarang elo musti beronani di atas ranjang Tam, sampai ada orang yang datang buat ngentotin elo..” kata Samy menerangkan skenarionya dengan singkat. Tamara yang sudah horny berat, antara mau dan tidak mau, mengangguk pelan. Wanit cantik itulalu naik ke ranjang dan memposisikan tubuhnya dengan posisi yang menantang. Kemudian ketika Samy memberi perintah, Tamara memulai onaninya, mula-mula dia membelai-belai dan meremasi sendiri kedua belah payudaranya sambil memainkan putingnya dengan gerakan lembut. Rangsangan yang tadi didapatnya dari Samy sekarang berlanjut oleh tangannya sendiri, secara cepat gairah seksualnya kembali meninggi. Bagaikan didorong oleh kekuatan aneh, tubuhnya kembali meledak oleh desakan libido yang menghantam sampai ke ujung kepala.
“Ooohh.. eennghhh... aahhh... aahhh....” Tamara mengdesah tertahan merasakan kenikmatan yang mengaliri tubuhnya, tidak seperti kebanyakan bintang porno yang hanya berpura-pura, desahan nafas Tamar benar-benar menunjukkan seorang wanita ynag sedang terangsang nafsu seksualnya. Pengaruh rangsangan itu membuat tubuh mulus Tamara yang telanjang bulat menggeliat-geliat  dan makin terlihat menggairahkan.
“Aaahhh..... aaahh..... oooohhhh...” lenguhan Tamara terdengar makin keras. Wanita cantik itu terlihat makin bersemangat menremas-remas payudaranya sendiri dan mengaduk-aduk kemaluannya yang kian basah. Dari vaginanya kembali mengalir cairan kenikmatan yang menunjukkan kalau wanita cantik itu sudah siap kembali untuk ditiduri.

“Nnnnhhh.... nnggggggghhh.... ooooohhhh.” Lenguhan Tamara terdengar kian liar, sambil menunggingkan pantatnya untuk mendapatkan posisi paling nikmat, dia mengaduk-aduk liang vaginanya sendiri dengan jari tangannya. Wajahnya yang putih sekarang kembali merah padam merasakan desakan libido yang meledak-ledak. Saking bersemangat melakukan onani, Tamara sampai tidak sadar kalau Pak Abdul sudah berdiri di depan pintu kamar yang terbuka dan tengah menyaksikan tubuh mulusnya yang telanjang bulat berkelojotan di ranjang seolah menantang minta disetubuhi.
“OOHH... AAHHH.... AAHHH...” Tamara mengerang keras, pantatnya bergetar naik turun dengan kuat saat gelombang orgasmenya mencapai puncak. Seketika cairan vaginanya membludak deras yang menjadi tanda kalau vaginanya sudah siap menampung penis laki-laki. Erangan wanita cantik itu berlanjut selama beberapa saat dan tubuhnya yang putih mulus menggelepar-gelepar di atas ranjang sebelum kemudian ambruk dan terengah-engah.
‘Wah wah wah.. masa main sendirian.. mana enak..?” Pak Abdul menyeletuk tanpa sadar. Tamara yang sedang dilanda orgasme seperti tersengat listrik saking kagetnya. Dia memang tidak menyadari kehadiran Pak Abdul, padahal sudah lama pria tua penjaga villa itu menikmati kemulusan tubuhnya yang sedang melakukan onani. Wajah Tamara merah padam karena malu melihat kehadiran pria tua tapi masih perkasa itu. Dia masih ingat bagaimana Pak Abdul yang sudah berumur tujuhpuluhan tapi mampu membuatnya orgasme berkali-kali. Tapi Tamara tampaknya sudah pasrah diperlakukan apa saja. Wanita itu tersenyum agak manja.
“Jadi Pak Abdul mau main sama saya?” Tamara bertanya dengan nada manja, kedipan mata dan senyumannya terlihat begitu genit menggoda. Pak Abdul terdiam sesaat, tidak bisa berkata apa-apa karena menyaksikan keindahan tubuh telanjang bulat Tamara yang begitu menantang.
“Kalau gitu ayo ke sini..” Tamara menggoda dan melambai sambil memposisikan kakinya mengangkang membuat vaginanya terpampang jelas. “Oh.. yess...” Pak Abdul tersenyum penuh kemenangan. Tanpa menunggu lebih lama lagi dia segera melucuti pakaiannya sendiri sampai telanjang bulat. Penisnya langsung mencuat tegang, sangat hebat untuk ukuran pria seumuran dia. Pak Abdul lalu maju mendekati Tamara.
“Sekarang elo emut dulu nih kontol gue..” perintah Pak Abdul tanpa basa-basi. Tamara langsung menurutinya. Dia segera mempoisisikan tubuhnya agak menungging di depan Pak Abdul, wajahnya yang cantik tepat menghadapi penis pria tua itu. Tamara lalu mulai menggenggam dan mengocok penis legam itu dengan lembut.

“oohh.. yeahh... aahh... aahh..” Pak Abdul mengejang dan mengerang penuh nikmat merasakan kelembutan kocokan tangan Tamara yang halus. “Ayo Tam.. terusss... kocok teruss..” perintahnya. Tamara menaikkan tempo kocokannya membuat Pak Abdul makin megap-megap merasakan sensasi seksualnya yang meledak.
“Nghh... oohh.. yess.. oohh.. emut dong Tam..” perintah pria itu lagi. Tamara tanpa sungkan-sungkan membuka mulutnya, dan dengan satu gerakan saja, penis legam itu meluncur masuk ke tenggorokannya.
“Oohh.. yeah.. aahh.. aahh..” Pak Abdul mengerang-erang sambil matanya merem melek merasakan kenikmatan luar biasa yang menjalari penisnya dan langsung menyebar ke sekujur tubuhnya. “Ayo sayangku.. ngemutnya yang enak ya..” perintah Pak Abdul dengan suara gemetar saking terangsangnya.
“Mmhh.. mmmhh..” Tamara hanya bisa bergumam tidak jelas sambil melirik ke arah wajah Pak Abdul yang meringis-ringis menahan gejolak seksual yang meledak-ledak. Bibir Tamara mengatup dan menjepit ketat penis legam yang menyumpal mulutnya itu. Tamara lalu mulai menggerakkan kepalanya maju mundur membuat penis Pak Abdul terkocok-kocok. Pak Abdul langsung melenguh-lenguh nikmat merasakan kuluman dan belaian lidah serta bibir wanita cantik itu pada penisnya.
“Aahh... yeaahh... ooohhh... ooohhh... terus Sayang.. teruss.. yang kuat.. aahh.. aahh..” Pak Abdul bergumam tidak jelas, dia yang kelihatan tidak sabar lalu mencengkeram kepala Tamara dengan ketat lalu pinggulnya bergerak maju mundur, membuat penisnya yang menyumpal mulut Tamara bergerak kencang memompa mulut wanita cantik itu. Tamara nyaris tersedak merasakan penis pria tua itu menyodok-nyodok kerongkongannya. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama, Pak Abdul rupanya sudah tidak tahan lagi untuk menusukkan penisnya ke liang vagina artis cantik itu. Dia segera menarik keluar penisnya dari kuluman mulut Tamara.

“Pelan-pelan saja ya Sayang, nanti mulut satunya nggak kebagian..” kata Pak Abdul santai melihat ekspresi Tamara yang kebingungan. Pak Abdul kemudian membaringkan tubuh telanjang Tamara di ranjang dan membuka kedua belah paha mulus wanita cantik itu membuat vagina artis itu terkuak lebar. Pak Abdul kemudian mulai merangkak menindih tubuh putih mulus yang terlentang pasrah itu.
“oh.. mh.. mh.. oh..” Tamara mendesah lembut ketika Pak Abdul mulai menciumi dan melumat bibirnya dengan ganas. Ciuman dan lumatan bibir Pak Abdul seolah ingin menelan bibir Tamara yang seksi itu bulat-bulat. Tamara yang sudah terangsang membalas ciuman itu dengan berapi-api. Lidah merekapun bertemu dan saling membelit seperti tidak mau dipisahkan. Sungguh sebuah pemandangan yang amat menimbulkan nafsu saat kedua tubuh yang bertolak belakang itu bergumul di atas ranjang. Tubuh telanjang Tamara Bleszynski yang putih mulus saling bertindih dan bergulat seru dengan tubuh kurus dan keriput Pak Abdul yang hitam legam, apalagi ditambah keduanya sekarang sedang bergulat bibir dengan bersemangat. Tamara sudah benar-benar melupakan jati dirinya sebagai wanita terhormat, dia bahkan seperti tidak peduli lagi siapa yang saat ini tengah menggauli tubuhnya. Kepasrahannya ditambah ancaman Samy membuat wanita cantik itu benar-benar tidak ada bedanya dengan seorang pelacur murahan yang tubuhnya bisa dinikmati oleh siapa saja.
Selang beberapa menit, penis Pak Abdul mulai bergerak menggesek bibir vagina Tamar. Dengan bantuan tangannya, Pak Abdul mengarahkan penisnya ke liang senggama wanita cantik itu dan dengan satu dorongan saja, penis legam itu langsung membenam di dalam kemaluan artis cantik itu.

“Oohhkk...” Tamara menggeliat dan mendesah lirih merasakan liang vaginanya kembali dijejali penis yang kali ini adalah milik seorang lelaki tua renta yang tidak lain adalah penjaga villanya sendiri.
“Oohh.. oohh..” Pak Abdul melenguh-lenguh seperti babi. Tubuhnya menegang merasakan vagina Tamara menjepit penisnya dengan ketat. Perlahan dia mulai menggerakkan pantatnya untuk menggenjot vagina wanita cantik itu. Tamara langsung bereaksi merasakan penis Pak Abdul mulai menyodok-nyodok liang vaginanya.
“Oohh... oohh.. aahhh.. aahh.. eehhsss... eehhsss... ahhss.. ahh..” Tamara mendesah dan mengerang-erang penuh nikmat tiap kali penis Pak abdul menyodok vaginanya. Penis hitam legam itu menyodok-nyodok vagina Tamara dengan gerakan tidak teratur, kadang pelan, kadang cepat dan kasar menyentak-nyentak, membuat tubuh mulus Tamara yang telanjang terguncang-guncang keras dan terdorong maju mundur. Sesekali sambil terus menyodokkan penisnya, Pak Abdul juga menciumi dan melumat-lumat bibir artis seksi itu dengan ciuman kasar dan sangat bernafsu.
Seiring dengan itu, setiap sodokan penis Pak Abdul pada vagina Tamar membuat libido artis cantik itu menjadi semakin terpompa kuat. Reaksi tubuh Tamara berubah, dia merespon setiap gerakan Pak Abdul dengan gerakan yang amat manja, desahan-desahannya pun berubah menjadi teratur dan amat erotis dan akhirnya tanpa sadar, Tamara mulai melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang Pak Abdul membuat pria tua itu jadi makin leluasa menyodokkan penisnya ke liang vagina artis cantik itu. Pak Abdulpun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sambil terus menyodokkan penisnya, tangannya yang kasar dan keriputpun sibuk mengelus-elus paha mulus Tamara yang sekarang membelit pinggulnya dengan ketat.
“Hgh.. oohh... ooohh...” lenguhan dan desahan Tamara makin terdengar berat dan cepat. Wanita itu makin liar menggerakkan pantatnya sendiri mengimbangi gerakan Pak Abdul yang terus menerus memenyodok-nyodok vaginanya. Wajah Tamara yang cantik jadi kelihatan seperti buah apel saking merahnya. Jelas sekali terlihat Tamara sedang berjuang menahan gelombang orgasmenya yang setiap saat siap meledak lagi.
“AAHHHKKK... OOOHHH...” Tamara akhirnya tidak tahan. Bendungan libidonya jebol digempur terus-menerus. Orgasmenya kembali meledak dahsyat, membuat tubuh mulusnya gemetar dan mengejang kuat di bawah himpitan tubuh kurus Pak Abdul. Vagina wanita cantik itu kian basah oleh cairan vagina yang kembali mengucur keluar.
Tidak mau terlalu cepat selesai, Pak Abdul mendiamkan penisnya selama beberapa detik. Pengalaman pria tua itu memang pantas diacungi jempol. Dia mampu menahan ejakulasinya sampai sekian lama karena tahu kapan saat yang tepat untuk menggenjot vagina Tamara dan kapan harus berhenti.

Dengan cepat Pak Abdul menarik penisnya keluar dari genggaman vagina Tamara. Kemudian dia menyuruh wanita cantik itu untuk menungging sambil mengangkangkan kaki lebar-lebar sementara posisi kepala Tamara dibuatnya lebih rendah ketimbang pantat sehingga posisi pantat Tamara yang bulat padat terlihat menungging begitu menggemaskan.
“Ohh.. pantatnya..” Pak Abdul meneguk ludah melihat pantat putih mulus Tamara yang menungging. Dielus-elusnya pantat mulus itu dan sesekali diremasinya dengan gemas. Pelan-pelan Pak Abdul mulai mengarahkan penisnya yang masih keras ke liang vagina Tamara yang membuka. Sambil tangannya mencengkeram pantat Tamara, Pak Abdul mendorongkan pantatnya sendiri membuat penisnya kembali menembus liang vagina wanita cantik itu.
“Ohh...” Tamara menjengit kecil dan mengerang penuh nikmat ketika merasakan penis pria tua itu membenam di liang vaginanya. Ada getaran-getaran luar biasa nikmat yang kembali mengalirdi tubuhnya yang putih mulus. Apalagi ketika Pak Abdul mulai menggerakkan pantatnya menyodok-nyodokkan penisnya, membuat wanita cantik itu kembali mengerang dan mendesah-desah penuh nikmat. Tubuhnya yang putih mulus bergoyang liar seirama genjotan penis Pak Abdul. Hanya dalam waktu singkat gairah seksual Tamara kembali meninggi. Tubuhnya seolah terpacu dengan ganas. Wanita cantik itu kembali menggeliat-geliat merasakan kenikmatan yang setiap saat siap meledak.
“Oohhh... oohh... aahhh.. eehhkk.. oohh...” erangan kenikmatan tidak henti meluncur dari bibir Tamara, deru nafasnya makin memburu seperti sedang berlari ribuan kilometer, keringat membasahi tubuhnya yang putih mulus membuat tubuh Tamara yang telanjang bulat seperti berkilau. Pak Abdulpun makin terlihat bersemangat. Irama sodokan penisnya makin kuat dan menjadi-jadi. Begitu kuatnya sodokan penis Pak Abdul memompa vagina Tamara sampai suaranya terdengar cukup keras. Tiba-tiba.
“PLAKK!” terdengar suara tamparan keras diiringi teriak kesakitan Tamara. Pak Abdul rupanya menampar pantat Tamara yang bulat padat dengan keras sampai berbekas kemerahan. Lalu sekali lagi tamparan keras mendarat di pantat mulus Tamara, membuat wanita itu berjengit dan mengaduh kesakitan. Dan selanjutnya Pak Abdul menampari pantat Tamara berulang-ulang sambil penisnya terus memompa vagina wanita cantik itu. Kegemasan Pak Abdul disalurkan pada pantat yang bulat padat itu.

“Ahh.. sakiitt..! Aduuhh.. Ampun Paak.. Aahh..! Aaahh..! Sakit!” Tamara mengaduh kesakitan merasakan tamparan Pak Abdul. Pantatnya terasa panas dan pedih. Bekas kemerahan tergambar jelas di pantat yang putih mulus itu. Tapi perlakuan kasar Pak Abdul ternyata justru meningkatkan gairah seksual Tamara. Kebrutalan Pak Abdul makin membuat libidonya terpompa kuat. Hanya dalam tempo beberapa menit saja orgasme Tamara kembali menggencet syaraf seksual wanita cantik itu, membuat tubuh bugilnya yang mulus kembali menggeliat dan mengejang. Tapi kali ini tampaknya Pak Abdul tidak mau membiarkan Tamara mencapai orgasmenya terlalu cepat. Dia segera menarik penisnya keluar dari jepitan vagina wanita itu. Hal itu membuat orgasme Tamara yang menggebu kembali mengendor. Dan begitu dilakukan Pak Abdul berulang-ulang tiap kali Tamara akan orgasme sebelum kemudian pria itu kembali menggenjot vagina artis seksi itu. Hal itu jelas membuat Tamara sangat frustrasi karena keinginannya untuk segera mencapai orgasme selalu gagal.
“Ohh... aahh.... am.... puunn.... Paak..... ooohhkk...... aahhh...... aaahhh..... ammpuunn.. aahhh....” Tamara sampai megap-megap merasakan tubuhnya seolah mau meledak mencoba mengeluarkan orgasmenya. Sambil menggigit bibirnya, wanita itu menggerakkan pantatnya maju mundur untuk terus mendapatkan kenikmatan genjotan penis Pak Abdul.
“Aaahhhkk..... oohhhh.....” Tamara melolong keras, sementara jemarinya mencengkeram seprai dengan remasan yang sanggup merobek kain itu. Wajahnya menengadah dan menegang seolah akan meledak. Wajah yang putih itu sekarang berubah merah padam. Entah berapa puluh menit lamanya vaginanya disodok-sodok oleh penis Pak Abdul. Hentakan libidonya kembali menegang kuat dan menghantam sekujur tubuhnya seolah cakar baja yang merobek-robek tubuhnya dari dalam. Tidak tahan lagi menahan desakan ergasmenya, akhirnya tubuh telanjang Tamara yang mulus itu kembali menegang dan melengkung keras.

“AAAHH......... AAAHHH...... OOHHH....” Tamara melenguh panjang, sekali ini Pak Abdul tidak bisa menahan orgasme wanita cantik itu. Tamara akhirnya melepaskan orgasmenya yang sedari tadi tertunda. Orgasmenya kali ini terasa jauh lebih menggelora karena tertunda beberapa kali. Tamara sampai merasakan seolah tubuhnya digencet oleh sebuah batu besar. Nafasnya jadi sesak dan tersengal-sengal akibat energinya semua terpusat pada orgasmenya. Sekujur tubuhnya bergetar hebat seperti menggigil. Energinya seolah terserap habis oleh orgasmenya kali ini.
Hebatnya, Pak Abdul belum juga mau selesai. Entah jamu atau obat kuat macam apa yang dia minum, tapi pria tua itu tampak masih kokoh, penisnyapun masih berdiri keras seolah tidak akan pernah melemas. Pak Abdul kemudian kembali menyuruh Tamara untuk terlentang, lalu ditariknya kedua kaki Tamara dan diposisikannya mengangkang ke udara seperti membentuk huruf V membuat vagina wanita cantik itu kembali membuka. Tamara hanya bisa pasrah sekaligus kagum pada stamina pria tua itu. Dirinya sudah mengalami orgasme berkali-kali, tapi tidak sedikitpun Pak Abdul menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dengan posisinya yang demikian, maka leluasalah Pak Abdul untuk kembali menancapkan penisnya ke dalam liang vagina Tamara. Tamara hanya bisa menggeliat pelan merasakan penis legam penjaga villanya kembali memenuhi liang kemaluannya, dibiarkannya pria tua itu menggagahinya, tubuh mulus artis cantik itu kembali terhentak-hentak mengikuti gerakan Pak Abdul yang bersemangat menyodokkan penisnya. Kembali rintihan kenikmatan meluncur dari bibir Tamara yang meskipun kelelahan tapi tetap merasakan gelora kenikmatan seksual yang kembali melanda tubuhnya.
“Nnhh…. ohhhhh… ooohh …… aahh…… aahhhhh…. “ Tamara merintih menahan kenikmatan yang terasa mendesak tubuhnya, sambil menggigit bibirnya, wanita cantik itu menggeliat merasakan dorongan libido yang begitu menggebu. Kepasrahannya yang total membuat tubuhnya menjadi rileks dan terhanyut total dalam menikmati persetubuhan yang dilakukannya bersama penjaga villanya sendiri yang sudah tua. Meskipun pria yang menyetubuhinya tidak sebanding dengannya, tapi Tamara merasa kenikmatan yang didapatnya benar-benar luar biasa, jauh melebihi yang pernah didapatnya dari mantan suaminya.
“AAHHH…. AAHHH….. OOOHHH…” Tamara melenguh panjang menikmati detik-demi detik orgasme yang kembali mengalir di tubuhnya. Seluruh ototnya seperti diregang kuat-kuat bagai tali busur yang menegang. Cengkeraman tangannya pada seprai kian kuat. Tubuhnya yang putih mulus menegang dan menggeliat kencang, gelombang orgasme yang melandanya meledak begitu keras membuat wanita cantik itu seolah mati rasa selama beberapa detik, hanay kenikmatan yang menggebu yang bisa dirasakan Tamara pada saat itu, membuat tubuhnya mengeras bagaikan patung batu. Pada saat yang bersamaan Pak Abdul terdengar melenguh keras. Seolah sudah menemukan titik kenikmatan paling puncak yang dia inginkan,
“OOOHHKKK… AAHH…” Pak Abdul mengejang, tubuhnya menandak-nandak dengan keras, wajahnya yang memerah menengadah sambil memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Buru-buru dia menarik keluar penisnya yang membenam di dalam liang vagina Tamara lalu dia  mengocok penisnya di depan wajah cantik artis itu. Dipaksanya Tamara untuk membuka mulutnya. Wanita cantik itu hanya bisa menurut pasrah dan membuka mulutnya lebar-lebar.

“OOOOOOHHH.. OOHHH……….” Dengan lenguhan keras pria tua itu mengejan menyemburkan spermanya. Cairan putih kental yang sedari tadi ingin dikeluarkannya sekarang menyembur dengan deras dan diarahkan tepat di dalam mulut Tamara yang membuka lebar. Tamara nyaris tersedak ketika merasakan cairan bau itu memenuhi rongga mulutnya, hal itu memaksanya untuk menelan sperma tersebut, meskipun jelas hal itu sangat tidak dia inginkan.
“Ohkkh.. glk.. glk..” Tamara nyaris muntah merasakan cairan kental mengalir di dalam kerongkongannya, dipaksakannya dirinya menerima muntahan sperma Pak Abdul meski itu sangat menjijikkan baginya.
“Oohh… oohh…” Pak Abdul mengejang selama beberapa saat, tubuhnya bergetar merasakan kenikmatan berejakulasi di wajah cantik Tamara. Samy yang memelototi aksi Pak Abdul lewat handycamnya benar-benar panas dingin menyaksikan adegan persetubuhan yang sangat ganas itu. Ada sedikit rasa iri di hatinya. Dia tahu dari bahasa tubuh Tamara, wanita cantik itu begitu menikmati persetubuhannya dengan Pak Abdul. Samy tidak habis pikir Bagimana mungkin Tamara bisa bertekuk lutut oleh Pak Abdul sehingga bisa mengeluarkan seluruh energinya untuk memuaskan pria tua itu.
“Memek elo emang luar biasa..” ujar Pak Abdul terengah-engah setelah menumpahkan seluruh tenaganya menikmati kemulusan tubuh wanita cantik itu. “Lain kali ngentot lagi ya.. “ kata Pak Abdul sebelum meninggalkan Tamara yang terkapar lemas di ranjang. Tamara hanya terdiam pasrah. Air mata meleleh dari sudut matanya sementara Samy meng close up wajah Tamara untuk merekam ekspresi artis cantik itu. Entah apa yang ada dalam pikiran Tamara sekarang, Tamara merasa dirinya sangat hina dan jatuh ke posisi yang lebih rendah daripada pelacur murahan, tapi pada saat yang bersamaan dia juga mendapatkan sebuah sensasi kenikmatan seks yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Dengan tertatih-tatih Tamara berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan bekas-bekas persetubuhan yang baru saja dilakukannya bersama Pak Abdul. Di kamar mandi Tamara melepaskan semua emosi yang menyumbat di hatinya, tangis wanita cantik itu meledak tak tertahankan. Di bawah guyuran shower dia menangis tersedu-sedu meratapi nasib buruk yang entah sampai kapan akan dijalaninya. Tangisnya baru berhenti ketika pintu kamar mandi digedor dari luar.
“Cepetan mandinya! Elo punya jadwal buat dientot sebentar lagi!” Samy berteriak-teriak menyuruh Tamara segera keluar. Tamara gelagapan mendengar suara Samy, buru buru dia menyambar pakaiannya dan mengenakannya asal-asalan. Dia hanya sempat mengenakan celana dalamnya dan membungkus tubuhnya dengan mantel mandi.

Di depan pintu kamar mandi, Samy sudah menunggu dengan wajah mupengnya yang jelas sekali sudah kebelet untuk berhubungan seks dengan wanita cantik yang berdiri di depannya. Dia memandangi tubuh Tamara yang terbalut mantel mandi putih.
“Buka tuh mantel mandi elo..” perintah Samy dingin. Tamara membelalakkan matanya dengan sedikit gemetar.
“Tapi.. tapi.. “ Tamara gelagapan mengingat dia hanya mengenakan celana dalam di balik mantel mandinya. “Tapi gue cuma pakai celana dalam..” Tamara berujar gugup, suaranya jelas sekali memohon agar Samy membatalkan perintahnya.
“Apa bedanya? Toh elo juga bakal gue telanjangi lagi.” Jawab Samy masih dengan nada dingin. Tamara terdiam mendengarnya. Seolah tidak menghiraukan ucapan wanita cantik itu, Samy dengan gemas merenggut mantel mandi Tamara, lalu dengan sekali tarik, dia memelorotkan mantel mandi itu dari tubuh mulus artis cantik tersebut. Seketika tubuh mulus Tamara kembali telanjang. Hanya sehelai celana dalam putih transparan yang masih melekat di tubuh putih mulus itu.
“Elo gila!” Tamara memaki sambil mendekap dadanya yang montok, tapi Samy hanya tertawa menanggapinya.
“Yah, gue emang gila, gila kepingin ngentot sama elo..” tambah Samy masih dengan tertawa, seolah pemandangan indah di hadapannya hanyalah lelucon.
“Sekarang jalan!” perintah Samy sedikit galak. “Dan nggak perlu ditutupi elo punya payudara.” Tambahnya ketika melihat Tamara mendekap payudaranya yang menonjol. Tamara menunduk malu mengingat dia dipaksa untuk memamerkan tubuhnya di tempat terbuka, tapi dia tidak bisa menolak, maka dengan terpaksa Tamara membiarkan payudaranya yang telanjang terbuka begitu saja. Celakanya, Samy menyuruhnya berjalan menuju ke arah halaman belakang, dimana di sana sudah menunggu Robert dan Pak Abdul yang cengar cengir. Cengiran mereka langsung berubah menjadi sebuah tatapan penuh nafsu melihat Tamara berjalan hanya mengenakan celana dalam tipis. Tubuh mulusnya yang nyaris telanjang bagaikan barang pameran yang bebas mereka pelototi dan mereka nikmati.
“Eits.. kali ini bagian gue..” Samy memotong begitu melihat dua pria itu dengan penuh nafsu bak srigala lapar menyerbu tubuh mulus Tamara yang telanjang. “Kalian berdua kembali ke tugas kalian.” Perintahnya.

Dan, meskipun dengan menggerutu, keduanya menurut. Rupanya Samy memerintahkan Robert dan Pak Abdul untuk mengabadikan adegan seks yang akan dia lakukan bersama Tamara. Di tangan Robert sudah siap sebuah handycam yang akan dipakainya merekam adegan Samy yang akan menggagahi wanita cantik itu sementara Pak Abdul memegang sebuah kamera digital.
Samy membawa Tamara ke dekat sebatang pohon rindang, di sanalah dia memulai aksinya dengan melumat bibir seksi artis cantik itu.
“Emh.. elo nggak keberatan kan kalau ngentot sama gue?” Samy bertanya basa-basi sementara Pak Abdul dan Robert dengan wajah menahan dorongan seksual sibuk merekam dan memotret adegan membangkitkan nafsu tersebut.
“emhh.. tentu tidak..” jawab Tamara dengan nada dipaksakan. “Gue malah senang sekali.” Tambahnya sambil membalas pelukan Samy. Kecupan demi kecupan terus didaratkan oleh Samy di bibir wanita cantik itu. Tamara membalasnya dengan melakukan french kiss dalam-dalam, selama beberapa saat keduanya beradu bibir. Ldah merekapun saling belit, bagaikan sepasang ular berkelahi, keduanya saling berpelukan dengan ketat.
Perlahan-lahan cumbuan Samy mulai turun ke menyerang leher dan pundak Tamara, dan perlahan cumbuan bibir Samy mulai mengarah ke sepasang payudara montok artis cantik itu.
“Oohh.. muluss.. mhh.. ohh.. montok banget nih pentil..” ujar Samy sambil sibuk mencumbui payudara putih mulus itu dan sesekali menjilati putingnya yang mencuat merah segar.
“Aahh… aahh.. ehhsshh.. oohhh…” Tamara mulai mendesah dan menggeliat merasakan cumbuan Samy pada payudaranya apalagi ketika lidah sopir kurang ajar itu mulai menyentil-nyentil puting payudaranya, membuat wanita cantik itu langsung menegang. Permainan seksnya dengan Pak Abdul beberapa menit yang lalu masih menyisakan kenikmatan yang luar biasa, maka begitu mendapat rangsangan pada titik peka di tubuhnya, syaraf seksual Tamara kembali menegang kencang membuat tubuhnya terasa panas dingin.
Sementara Samy makin menikmati permainan itu. Sebelah payudara Tamara dijilatinya dengan rakus sementara yang sebelah lagi diremas-remas dengan ganas membuat Tamara menggeliat kegelian dan sedikit nyeri, tapi makin membuat gejolak seksual wanita cantik itu makin terbakar. Gairahnyapun kembali menggelora menggetarkan syaraf seksualnya dengan hebat. Dan gempuran seksual yang mengebu itu membuat Tamara kembali pasrah.
“Oohh… oohh… aahh… aahh…” Tamara mengerang penuh kenikmatan merasakan cumbuan sopirnya yang makin ganas. Samy memperlakukan payudara indah Tamara dengan tingkat kebrutalan yang tinggi seolah tidak mempedulikan Tamara yang meringis-ringis merasakan nyeri akibat remasan brutal pada payudaranya.

Sambil terus mencumbui sepasang payudara indah Tamara, Samy mulai membaringkan tubuh mulus wanita cantik itu di rerumputan sambil menarik lepas celana dalam Tamara. Tubuh putih mulus artis seksi itupun kembali telanjang bulat, kontras dengan warna hijau rerumputan dimana dia terbaring. Tubuh telanjang bulat Tamara tak ubahnya seperti hidangan lezat yang tersaji di atas piring beralas sayuran yang siap disantap.
Samy meskipun sudah berulang kali menikmati kemulusan tubuh Tamara tetap saja merasa kagum menyaksikan tubuh yang putih mulus itu terlentang di hadapannya seolah mengatakan siap untuk diperkosa.+
“oohh.. mulus banget nih..” kata Samy sambil mengelus-elus daerah selangkangan Tamara yang terbuka lebar, pada saat itulah Pak Abdul dan Robert mendekat dan menyorot daerah kemaluan artis cantik itu dengan kamera yang ada di tangan mereka. Tamara mendesah pelan merasakan sentuhan kasar jari-jari Samy yang mengaduk-aduk daerah kemaluannya. Kemudian Samy memposisikan kaki Tamara sedikit menekuk seperti posisi akan melahirkan, dengan paha terbuka lebar yang membuat vagina Tamara terekspos dengan sempurna sehingga Pak Abdul dan juga Robert bisa dengan leluasa merekam daerah vital itu.
“Uohh.. vagina artis emang beda dengan vagina pelacur pinggir jalan..” komentar Robert spontan, membuat wajah Tamara memerah merasa terhina disejajarkan dengan pelacur murahan pinggir jalan. Tapi Samy tidak memberi kesempatan Tamara untuk berbuat apa-apa, dia segera membenamkan wajahnya sendiri ke daerah kemaluan artis cantik itu, lalu dijilatinya kemaluan wanita itu dengan bibir dan lidahnya.
“engghh.. oohh...” Tamara melenguh keras ketika lidh Samy yang basah menjilati bibir kemaluannya. Sensasi dingin dan geli mulai merambati bagian tubuhnya yang paling peka tersebut membuat tubuhnya kembali menegang. Libido wanita cantik itupun langsung meledak tinggi seolah mendesak tubuhnya yang mulus. Tanpa disadari, tamara merespon sentuhan lidah Samy sehingga ketika Samy menghentikan jilatanya, wanita itu berusaha menggerakkan pinggulnya sendiri untuk terus merasakan sentuhan pada kemaluannya. Sementara Samy makin gemas merasakan respon Tamara. Pelan-pelan dia mencoba menguak liang vagina wanita itu dengan jari tangannya dan mulai mengaduk aduk liang vagina itu dengan jari-jari tangannya yang kasar. Kocokan dan jilatan pada liang vaginanya membuat Tamara kian terangsang dan membuat gerakan tubuhnya kian liar. Tubuh putih mulus itu terlihat menggeliat-geliat di rerumputan sehingga membuatnya tampak seperti seekor belut yang kepanasan. Pak Abdul dan Robert yang merekam setiap adegan tersebut mau tidak mau kembali terangsang sehingga tanpa sadar merekapun mulai melakukan onani dengan mengocok penis mereka sendiri dengan nafas terengah-engah menahan desakan birahi yang tak tersalurkan.
“Engghh.. nnhh... oohh... “ Tamara melenguh penuh nikmat. Sensasi pada klitorisnya nyaris tak tertahankan, gelombang libidonya menggedor-gedor tubuhnya yang menggelepar menahan desakan nafsu birahi yang makin memuncak. Tamara bahkan sampai meremas-remas payudaranya sendiri supaya bisa mencapai orgasme secepatnya.
“Aahhh... oohh...” tamara mengerang sambil menggeliat keras. Vaginanya semakin basah, selain oleh ludah Samy, juga oleh cairan vaginanya yang mengalir keluar. Tubuh mulus itu akhirnya melengkung keras dan mengejang. Tamara melenguh keras melepaskan orgasmenya sekuat tenaga. Vaginanya makin basah ketika cairan vaginanya mengucur deras membasahi selangkangannya. Samy tanpa jijik sedikitpun langsung menjilati cairan vagina artis cantik itu.

“Nhh... oohh...” Tamara melenguh penuh kelegaan merasakan kenikmatan dari orgasmenya. Tubuhnya yang mulus pelan-pelan kembali melemas. Nafasnya terengah-engah membuat payudaranya yang montok bergetar turun naik. Kesematan itu digunakan Samy untuk membuka akaiannya sendiri sampai telanjang bulat. Penisnya yang memang sedari tadi sudah menegang langsung mencuat tegak. Dia lalu mengangkat kaki kiri Tamara dan menyangkutkan kaki mulus itu ke pundaknya, sementara kaki Tamara yang sebelah kanan dilebarkannya ke samping. Posisi itu membat liang vagina Tamara membuka lebar dan memaksa wanita cantik itu untuk menyesuaikan diri dengan menahan tubuhnya menggunakan tangan.
Pelan-pelan Samy mulai mendekatkan penisnya ke liang vagina artis cantik itu. Tamara mengerang sesaat ketika ujung penis itu menguak bibir vaginanya, dan dengan sekali dorongan, penis besar itupun amblas seluruhnya ke dalam liang vagina wanita cantik itu.
“Ooohhh...” tamara melenguh tertahan merasakan penis Samy mendesak dinding vaginanya. Penis itu teraa berdenyut membuat vaginanya ikut berkontraksi.
“Oooohhh... “ Samy mengerang nikmat. “Ketat banget vagina elo Tam..” ujar Samy puas. Ditatapnya wajah artis cantik itu yang menatapnya penuh kebencian tapi sekaligus merasakan kenikmatan. Samy kemudian mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur menngenjot vagina artis cantik itu dengan penisnya. Tubuh Tamarapun ikut bergoyang mengikuti setiap geraan Samy. Payudaranya yang mulus bergetar-getar menggemaskan membuat Samy tidak tahan untuk meremasinya.
“Ahh... aahh.. ooohh... oohh... ahhsss... aahhsss.. “ Desahan dan erangan Tamara terdengar teratur setalah beberapa lama menandakan kalau wanita cantik itu ikut menikmati persetubuhan yang dilakukannya meski awalnya dia tidak merelakannya. Samy memang hebat, dia mampu membuat Tamara benar-benar tak berdaya, bahkan saking tidak berdayanya, wanita cantik itupun bisa dibuatnya pasrah dan merelakan tubuhnya dinikmati, bahkan mampu membuat Tamara ikut menikmati persetubuhan terlarang itu.
Tamara kian tidak terkendali merasakan persetubuhannya yang makin menjadi-jadi. Sekilas dia melirik ke arah Samy yang menggenjotnya. Pria kurus itu tampak seperti seorang penunggang kuda yang memaksa tunggangannya berlari lebih cepat.
“oohh.. yeahh... oohh... ayoo.. terusss... teruss...” Samy mendesis dan meracaupenuh kenikmatan. Sodokan penisnya makin ganas membuat tubuh Tamara tersentak-sentak liar. Samy menggerakkan penisnya dengan gerakan tidak teratur. Kadang cepat dan keras, tapi kadang lembut dan pelan, kadang dia juga membenamkan penisnya dalam-dalam dan mendiamkannya cukup lama di liang vagina Tamara secara berulang-ulang.

Gerakan Samy yang tidak teratur itu membuat libido Tamara bagaikan roller coaster yang bergerak naik turun, memaksa wanita cantik itu untuk mempercepat orgasmenya sendiri dengan meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ennhhh... oohhh... oohhh....” Tamara mengerang liar, wajahnya merah padam mencoba mendorong orgasmenya sendiri. Beberapa menit Samy menggenjot vaginanya tapi pria itu mampu memaksa orgasme Tamara tertunda, dan itu terjadi setiap kali wanita cantik itu hampir mencapai puncaknya. Hal itu membuat Tamara nyaris frustrasi, sampai-sampai karena tidak tahan, Tamara akhirnya menggerakkan pantatnya sendiri memaksa penis Samy terus menggenjot vaginanya.
“Oohhh... oohh.. aahh.. ahh..” tamara mendesah liar. Usahanya untuk mendorong orgasmenya akhirnya berhasil. Tubuhnya mengejang-ngejang liar dan menegang keras.
“OOHHKKHH... AAHHH....” tamara melolong bagaikan srigala kelaparan, tubuhnya mengelepar liar melepaskan ledakan orgasmenya yang kedua. Kali ini bahkan lebih hebat dibanding orgasmenya yang pertama. Cairan vaginanya kembali membanjir membasahi kemaluan dan selangkangannya seperti buih putih yang terpompa oleh sodokan penis Samy.
Puas dengan gaya seperti itu, Samy kemudian memaksa Tamara untuk berposisi seperti anjing merangkak dengan pantat menungging lebih tinggi dari kepala sementara kedua paha mulus wanita cantik itu mengangkang lebar membuat liang vaginanya terbuka lebar.
“Ehhkkhh… “Tamara mengerang lirih ketika penis Samy kembali membenam di dalam kealuannya yang sekarang terasa perih. Sementara Samy melenguh-lenguh dan mengejang merasakan kenikmatan jepitan ketat vagina artis cantik itu. Jepitan vagina Tamara yang berkotraksi membuat sekujur syaraf seksual Samy terpompa hebat, nyaris saja Samy tidak kuat untuk melepaskan ejakulasinya, tapi dengan perjuangan keras, Samy berhasil menguasai dirinya. Selama beberapa saat samy membiarkan penisnya membenam di dalam liang vagina Tamara. Kemudian dia mulai menggerakkan pantatnya maju mundur untuk menggenjot liang vagina wanita cantik itu. Dicengkeramnya pinggul Tamara untuk mempercepat gerakannya. Selain menggerakkan pantatnya sendiri, Samy juga memaksa Tamara untuk menggerakkan pantatnya dengan menggerakkan pinggul wanita cantik itu maju mundur. Gerakan kedua orang itu terlihat serasi karena Tamara yang sudah terangsan berat ikut menikmati persetubuhan yang dilakukannya.

“Ehhkhh.. oohh... oohh.. aahh.. aahh...”Tamara kembali mendesis dan merintih-rintih penuh kenikmatan saat sensasi seksual yang luar biasa kuat kembali menghantam tubuhnya bagaikan gelombang pasang. Wajah antiknya merah padam merasakan libido yang mendesak-desak tubuhnya, bibirnya yang seksi terlihat bergetar menggemaskan.
“uuhhh... oohhh... yesss.. teruss.. teruss.. Ayo tam.. teruss... aahhh... aahh..” Samy terlihat makin bernafsu menggenjot tubuh putih mulus Tamara. Gerakannya terlihat makin kasar dan liar membuat tubuh mulus yag disetubuhinya tersentak-sentak maju mundur. Penisnya memompa vagina Tamara dengan kuat sampai menimbulkan suara berdecak sebagai akibat gesekan kedua alat kelamin mereka yang menyatu ketat. Samy terlihat begitu gemas melihat pantat putih mulus Tamara yng menungging. Dia tidak henti-hentinya meremasi pantat yang bulat padat itu. Saking gemasnya, Samy juga menampar pantat itu sampai meninggalkan bekas kemerahan.
“Ohh! Oohh..! Ahh..! Ahh..!” Tamara menjerit kecil tiap kali pantatnya terasa pedih akibat tamparan Samy. Tapi meskipun terasa pedih di kulitnya, tamparan samy pada pantatnya justru membuat Tamara kian bernafsu, membuat wanita cantik itu kian kuat menggoyangkan pantatnya sendiri maju mundur sehingga gerakan kedua insan yang sednag bersetubuh itu tampak serasi karena tiap kali Samy menghentikan gerakannya, giliran Tamara yag memajumundurkan pantatnya membuat penis Samy terus menerus menggenjot vaginanya.
“Ahh... aaahhh... nngghh... nnhhh... ooohhh.... ooohhh....” Lenguhan Tamara terdengar makinkeras dan teratur menandakan kalau wanita cantik itu sudah sepenuhnya dikuasai oleh birahi yang mamuncak. Tubuhnyapun kembali menegang saat orgasmenya memompa tubuhnya yang mulus. Wajah cantiknya menegang seperti balon mau meletus dan merah padam. Gerakan tubuhnyapun kian liar dan binal. Tidak ada lagi Tamara yang malu dan terpaksa, yang ada sekarang adalah Tamara yang tengah menikmati persetubuhan yang sedang dilakukannya bersama sopirnya, pria yang sama sekali tidak sebanding dengannya, secara tampang maupun status.
“OOHHKK... AAHHHKKHH.... AAHHH....!” Erangan Tamara meluncur tak tertahan dari bibirnya sementara tubuh mulusnya melengkung ke belakang membuat wajahnya mendongak ke atas dengan bibir tergigit, tampak seperti hendak mengeluarkan sesuatu yang besar dari dalam tubuhnya. Ekspresi wajahnya tergambar jelas sedang menikmati orgasme hebat yang tengah menghantam sekujur syarafnya Nafasnya tersengal menderu bagaikan kuda yang berlari puluhan kilometer. Tubuh mulus itu bergetar keras dan menandak-nandak liar.

Gelombang orgasme yang dahsyat seperti membuat wanita cantik itu kesetanan, hilang sudah akal sehatnya, yang diinginkan Tamara saat ini hanyalah menikmati orgasme yang tengah menghantam tubuhnya selama mungkin.

Cairan vaginanyapun kembali meluber membuat daerah kemlauannya kian basah seolah berbuih. Samy melenguh menahan ekjakulasinya yang hampir mencapai puncak, tapi kali ini tidak kalah saat vagina Tamara mengejang dan berdenyut keras meremas penisnya dengan kuat. Seperti cengkeraman seorang pegulat yang mencoba menarik penisnya sampai lepas, vagina Tamara yang ketat berdenyut-denyut merangsang orgasme Samy.
“AAHHKK... OOOHHH...” Samy tidak tahan lagi, dia segera menarik penisnya dari dalam liang vagina artis cantik yang sedang digagahinya itu, lalu dipaksanya Tamara untuk terlentang. Secepat yang dia bisa, Samy mengarahkan penisnya tepat ke wajah cantik Tamara sambil mengocok penis berukuran besar itu, dan seketika spermanya muncrat tepat di wajah cantik Tamara sampai wajah cantik itu basah kuyup oleh cairan putih kental menjijikkan tersebut.
“Ooohhhh.... oohh.....” Samy melenguh puas melepaskan ejakulasinya yang sedari tadi dia tahan-tahan. Sementara Tamara yang wajahnya penuh sperma hanya bisa terisak ketika kesadarannya pulih. Tapi dia tidak menyadari kalau tugasnya belum selesai. Tamara terkejut saat melihat Pak Abdul dan Robert yang ternyata sudah tidak memakai celana berdiri tepat di sisi kiri dan kanannya.
“Ayo kocok..!!” perintah Robert sambil menyodorkan penisnya. Mau tidak mau Tamara terpaksa menggunakan kedua tangannya untuk mengocok dua batang penis yang sama-sama mengerikan itu. Dan pada akhirnya dia terpaksa menggunakan wajahnya untuk menampung muntahan sperma kedua orang pria itu. Diiringi erangan dahsyat, Robert dan Pak Abdul melepaskan spermanya yang langsung menyembur di wajah Tamara. Wanita cantik itu hanya bisa pasrah menerima semburan sperma menjijikkan itu. Dia bahkan menelan begitu saja sperma yang mengalir masuk ke mulutnya.
Ketiganya tertawa penuh kepuasan menyaksikan bagaimana wanita cantik dan juga selebriti terkenal itu sekarang tidak ada bedanya seperti seorang budak pemuas nafsu seksual yang siap memuaskan birahi mereka.
“Hebat juga lonte kita satu ini..” kata Robert puas sambil memakai celananya.
“Iya nih..” Pak Abdul menimpali. “Tiga kali dientot tapi masih kuat saja.. Minum jamu apaan sih elo Tam..?” ejeknya. Tamara hanya diam saja menelan penghinaan itu bulat-bulat, sebab meskipun sakit hati bukan kepalang tapi wanita cantik itu sadar kalau posisinya dalam keadaaan terjepit, karena itu dia hanya bisa pasrah menerima nasibnya menjadi pemuas nafsu bejat ketiga pria itu.
Puas menikmati kemulusan tubuh Tamara, mereka menyuruh wanita cantik itu untuk membersihkan diri. Mereka juga membuat artis cantik itu menjadi pembantu di villanya sendiri, mulai dari memasak sampai mengepel lantai. Dan itu harus Tamara lakukan dalam keadaan telanjang bulat. Samy melarang Tamara berpakaian barang sehelaipun selama di villa supaya mudah kalau mereka bertiga ingin melakukan hubungan seksual lagi dengannya. Dan sepanjang hari itu Tamara harus merelakan tubuhnya menjadi pemuas nafsu bejat tiga pria jahat tersebut.


END OF PART 3

Aku berkenalan dengan Yuni sekitar 2 bulan. Waktu awal kenalan,aku tidak pernah mampir kerumahnya. Kami hanya bertemu diluar saja dan ngobrol-ngobrol saja. Tapi lantaran perasaan kami yang semakin akrab,maka suatu kali aku mampir juga kerumahnya, sekaligus berkenalan dengan keluarganya. Yuni punya seorang ibu tiri yang umurnya sekitar 38 tahun dan dua orang kakak perempuan,yang tertua namanya Linda, umurnya 28 tahun dan yang nomor dua namanya Shinta umurnya 26 tahun. Walaupun ibunya ibu tiri,tapi sangat baik. Mereka tinggal 3 orang satu rumah. Sedang kakaknya yang pertama sudah menikah,belum punya anak dan tinggal ditempat lain. Hubungan mereka sekeluarga sangat akrab.

Waktu kedatanganku yang pertama aku cuma duduk diruang tamu.Kedatanganku yang selanjutnya aku sudah biasa aja dirumahnya. Aku sudah bisa masuk keruangan yang lainnya. Suatu kali aku masuk kekamar Yuni,didalam kami ngobrol-ngobrol aja. Jarak antara kami makin dekat. Kupegang tangannya,kemudian perlahan-lahan kudekatkan wajahku kepadanya.Kami saling berciuman.Kulumat bibirnya yang berwarna kemerah-merahan dan Yuni membalas ciumanku. Cukup lama kami berciuman dan aku tidak berani menyentuh bagian yang lain. Sehabis itu kami main Play Stasion.

Minggu berikutnya aku main lagi ke rumah Yuni. Waktu itu kakaknya yang no.2 yaitu Shinta ada dirumah.Dia tidak masuk kerja.Setelah basa basi dengan kakaknya aku masuk kekamar Yuni.Didalam seperti biasa setelah kami ngobrol-ngobrol sedikit aku mendekati Yuni. Kami kembali berciuman,aku meremas tangannya,kemudian ciumanku menyusuri lehernya yang putih bersih.Nafas Yuni terdengar agak terengah-engah.Aku meneruskan ciumanku dengan meremas dadanya yang indah.kemudian satu persatu kancing bajunya kutanggalkan,sampai dia hanya pakai BH saja. BH nya yang berukuran 36B itupun kutanggalkan.
Payudaranya yang sekal dan indah itu pun habis kuciumi.Sementara tanganku meremas-remas dengan lembut payudaranya itu.Kemudian puting payudaranya yang berwarna agak kecoklatan kuhisap dan kujilati.Yuni makin menderu nafasnya.Aku terus asyik menghisap payudaranya yang sekal itu.Tapi secara tiba-tiba aku melirik ke pintu yang sedikit terbuka,disitu kulihat shinta berdiri termangu.Aku segera menghentikan gerakanku.

Shinta kemudian masuk kekamar Yuni.Tapi Yuni cuek saja melihat kakaknya masuk kedalam kamarnya.Dia tidak berusaha menutupi tubuhnya.Malah membiarkan saja tubuhnya dalam keadaan terbuka.Aku tentu saja merasa grogi.Aku takut Shinta marah kemudian melarangku main kerumahnya lagi.Tapi Shinta tidak marah malah tersenyum melihat aku yang salah tingkah.Kemudian Shinta bicara:
“Kamu mau kubuatkan teh Andrie?”
“Ya mbak,boleh ….eh..terima kasih…”jawabku agak gugup.

Dalam hati aku merasa senang karena Shinta tidak marah padaku.Kemudian aku keluar dari kamar dan Yuni memakai bajunya tanpa mengenakan BH lagi.Masih kelihatan payudaranya yang montok itu dibungkus baju kaos yang tipis.Aku diruang tamu ngobrol-ngobrol saja bersama Yuni dan kakaknya.Shinta sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi,dan bicara hal-hal lain.

Minggu berikutnya aku kembali datang kerumah Yuni.Setelah ngobrol-ngobrol dengan kakaknya Shinta,aku kembali masuk kekamar Yuni.Didalam kami kembali berciuman.Aku mencium bibir Yuni yang harum.Yuni membalas ciumanku.Berbeda waktu kemarinnya,kali ini Yuni agak agresif.Dia mencium bibirku dengan ganasnya. Aku juga semakin berani membuka pakaian Yuni,sehingga dia hanya memakai celana dalam saja.Aku segera menyapu lehernya yang jenjang dan putih bersih.Yuni terlihat menggelinjang membuat aku semakin bersemangat.Nafasnya mulai terengah-engah.Ciumanku terus kearah dadanya yang montok.Aku menghisap puting payudaranya.Sungguh sangat enak rasanya.Aku menghisap puting payudaranya bergantian.Yuni makin terengah-engah.

Lalu aku membuka celana dalamnya,sehingga sekarang dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Aku menjilati pahanya yang putih mulus.Jilatanku terus naik kearah vagina Yuni yang memancarkan hawa harum dan wangi.Aku menjilat klitorisnya yang sebelumnya aku menyibakkan bulunya yang belum begitu lebat.Lama aku menghisap klitorisnya.Sampai aku merasakan cairan yang khas,mungkin dia sudah semakin teransang.
Yuni lalu mendorongku,sehingga aku berada dalam posisi telentang. Dia langsung mengarahkan bibirnya yang mungil ke penisku.Wahhh…enak sekali … Yuni mengulum dan menghisap penisku .Aku semakin terengah-engah.Yuni pun semakin semangat mendengar desahan nafasku. Lalu aku mendorong Yuni dengan lembut agar dia segera telentang.Yuni pun mengerti dengan keinginanku. Penisku kuarahkan kearah vagina Yuni dan memasukkannya dengan perlahan-lahan.Yuni menjerit tertahan begitu penisku masuk semua kedalam vaginanya.Aku mengangkat pantatku perlahan-lahan,dan memasukkannya.Begitu seterusnya aku lakukan,memaju-mundurkan pantatku.Yunipun kelihatan sangat menikmatinya.

Lalu aku mengangkat kaki kiri Yuni dan tetap aku menggoyang pantatnya yang montok.Sampai akhirnya dia menjerit dengan suara yang agak keras.Dan akupun merasakan cairan hangat yang membasahi penisku didalam vaginanya.Rupanya Yuni sudah keluar.Sementara aku nampaknya masih lama untuk mencapai puncak orgasmeku. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang sudah aku kenal.
“Wah..kamu kuat juga ya Andrie…”
Rupanya itu suaranya Shinta kakak Yuni.Rupanya dia sudah dari tadi berdiri dibelakangku memperhatikan apa yang kuperbuat bersama dengan adiknya.Aku sangat kaget sekali,dan mencabut penisku yang masih tegang dari vagina Yuni.Kupikir tadi Yuni sudah mengunci pintu kamar.
Shinta segera menghampiri kami berdua.Kulihat Yuni cuek saja dan masih menikmati puncak orgasmenya.
Shinta duduk disamping kami dan memperhatikan punyaku yang masih tegang.Sementara aku sendiri masih jauh dari puncak orgasmeku.Melihat situasinya seperti itu aku jadi memberanikan diriku meraih tangan Shinta.Kutarik lembut tangannya dan aku segera melumat bibirnya yang lembut.Sementara tanganku langsung meremas-remas payudaranya.Sekilas aku melirik Yuni dan kulihat dia tersenyum melihat yang kuperbuat dengan kakaknya.Dia bilang,
“Nah…sekarang giliran saya yang nonton kakak ya…?”
Shinta hanya menjawab dengan tersenyum saja.Nampaknya Yuni ingin aku berbuat yang sama dengan kakaknya.

Tanganku terus saja meremas-remas payudaranya dari luar.Aku segera melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuhnya,sampai dia tidak mengenakan pakaian selembar benangpun alias bugil,seperti Yuni. Aku terus melumat bibirnya. Shinta pun tidak kalah membalas ciumanku.Ciumanku terus turun kelehernya yang putih bersih.Shinta mengelinjang membuat aku semakin bersemangat saja.Aku terus menciumi payudaranya yang montok,mungkin ukurannya ada sekitar 36,aku tidak tahu persis tapi sama dengan ukurannya si Yuni.
Aku menghisap puting payudaranya dengan lahap.Aku kembali melirik Yuni dan melihat dia tersenyum manis padaku.Aku jadi semakin bersemangat saja.Sementara Shinta terus saja menggelinjang keenakan.Aku terus saja menghisap puting payudara Shinta.Sementara tangan kiriku meraba-raba selangkangan Shinta.Aku merasakan bulu-bulu vaginanya yang lembut.Ciumanku terus kuturunkan kedaerah vaginanya.Aku menjilati klitoris Shinta dan Shinta terus saja menggelinjang.Aku merasakan cairan yang khas dari vaginanya,tapi aku yakin dia belum orgasme.

Aku lalu mendekatkan penisku kedalam mulut Shinta dan diapun melumat penisku dan menghisapnya.Sungguh sangat enak sekali.Lama Shinta menghisap penisku yang sudah sangat tegang sekali.Aku hampir tidak tahan lagi. Aku menyuruh Shinta supaya menungging.Aku lalu mengatur posisiku di belakang Shinta.Perlahan-lahan aku memasukkan penisku kedalam vaginanya.Tapi sebelum aku memasukkan penisku,Yuni bergerak mendekatiku dan tangannya menggenggam penisku.
“Biar kumasukin Ndrie…,”katanya.

Tapi sebelum itu dia masih sempat-sempatnya menghisap penisku.Setelah itu dia mengarahkan penisku ke kemaluan kakaknya.Dia tersenyum padaku.Shinta juga tersenyum padaku.Aku semakin tidak tahan dan segera memasukkan penisku ke vagina Shinta.shinta menjerit tertahan,
“Ahh…Andrie…punyamu enak sekhali…shayang…”
Aku semakin bersemangat menggoyangkan pantatku.Sementara Yuni duduk disampingku.Aku segera meraih tangan Yuni dan aku bilang,
“Yun, sini payudaramu aku hisap…”

Yuni segera menyodorkan payudaranya kemulutku.Jadi sementara aku menggoyang Shinta,mulutku menghisap payudaranya Yuni.Shinta semakin histeris menjerit-jerit keenakan kugoyang vaginanya dari belakang.Aku lalu menyuruh Yuni berdiri dan mengarahkan selangkangannya ke mulutku.Aku kembali menjilati klitoris Yuni.Yuni terdengar menjerit-jerit keenakan seperti kakaknya.
Tak lama tubuh Shinta menegang.Agaknya dia sudah mau keluar.Benar saja tak lama aku merasakan cairan hangat membasahi penisku yang masih menancap di vaginanya.Yuni juga masih menjerit-jerit.Aku lalu berdiri dan mengarahkan penisku yang masih tegang ke kemaluan Yuni yang berada dalam posisi berdiri dari depan.Aku mengangkat kaki Yuni dan meletakkan kakinya di pinggir tempat tidur.Aku memasukkan penisku kedalam vagina Yuni dari depan dan kugoyang-goyang,maju mundur.
Yuni kembali mendesah-desah,
“…Ahh…Andrie…kamu pintar juga juga pake gaya berdiri seperti dalam film …ahhh…akh..”mulutnya terus saja menceracau.

Aku terus saja menggoyangnya,sementara mulutku tidak berhenti menciumi payudaranya yang montok kiri kanan bergantian dan juga menghisapnya bergantian.Yuni semakin melayang-layang kenikmatan saja.Tak lama aku juga sudah ingin keluar.Tapi sebelum aku keluar,Yuni sudah keluar duluan dan badannya mendadak jadi lemas.Aku segera mencengkram pantatnya dan memeluk tubuhnya.”Akh…”akhirnya kau keluar juga dengan perasaan yang melayang-layang. Spermaku membasahi vagina Yuni.Aku tidak kuat lagi menahan tubuh Yuni dan membiarkan dia terduduk dan akhirnya penisku pun tercabut dari vaginanya.

Shinta yang dari tadi memperhatikan,kembali mendekatkan kepalanya ke penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Yuni pun tidak ketinggalan,juga menghisap penisku dan menjilati sisa sperma yang masih menempel disana.Kedua kakak beradik tadi masih dengan lahap menghisap penisku bergantian.
Akhirnya kami bertiga terbaring lemas.Aku berada ditengah-tengah mereka.Tanganku masih saja bergantian meremas-remas payudara Yuni dan Shinta bergantian.Mereka juga masih menikmati remasan tanganku di payudaranya.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Lama kami terdiam.
Tiba-tiba kami dikejutkan teriakan suara panggilan.
“Shinta,Yuni kalian dimana? Ini mbak Linda datang nih…kok nggak ada yang menyahutin?”
Rupanya kakaknya yang tertua datang.Shinta lalu berdiri dan berkata pada Yuni,
“Yun,biar mbak saja yang menemuin mbak Linda,kayaknya dia sendirian saja kesini.Suaminya kayaknya nggak ikut tuh…”
Lalu tanpa pakaian sehelai benangpun Shinta berdiri dan jalan keluar kamar.Aku kaget dan bertanya pada Yuni,
“Yun,kalau ketahuan mbak Linda bagaimana nih…?”kataku agak cemas.

Tapi Yuni hanya tersenyum saja dan mengecup bibirku sebagai jawabannya. Sementara diluar kamar,mbak Linda sangat terkejut melihat adiknya Shinta menyambutnya tanpa busana sehelai benangpun.
“Shinta…kamu ngapain..?Kok nggak pake pakaian…?”tanya mbak Linda.
Tapi Shinta cuma tersenyum saja dan berkata,
“Nggak apa-apa kok mbak…Mbak nggak usah banyak tanya deh…” sambil tangannya menggandeng tangan kakaknya kekamar Yuni.
Sesampai dikamar Yuni,mbak Linda kelihatan terkejut melihatku dan Yuni juga tanpa pakaian.Shinta segera menjelaskan,
“Mbak,itu Andrie pacarnya Yuni…Mbak udah kenal kan?”kata Shinta.
Sementara aku masih agak cemas,takut kalau-kalau mbak Linda marah besar.Tapi rupanya Yuni mengerti perasaanku.Dia berkata pada Linda,

“Mbak ayo duduk disini,ngapain berdiri disitu.Apa mbak nggak pingin merasakan punya Andrie yang perkasa ini..?Bukankah Mbak dulu bilang kalau nggak pernah puas kalau main sama suami mbak…?”
Mulanya mbak Linda ragu-ragu.Tapi Shinta segera menarik tangan kakaknya dan mengajaknya duduk didekatku yang juga sama-sama bugil dengan adik-adiknya.Akhirnya mbak Linda duduk juga didekatku.Shinta berkata,
“Ayo Andrie…kita teruskan,nih kakaknya Yuni yang paling tua udah datang.Dia nggak pernah puas kalau main.Mungkin kamu ketemu lawan tangguh…,”kata Shinta bercanda.
Mbak Linda dan Yuni kulihat hanya tersenyum saja.
“Sekarang aku dan mbak Shinta cuma nonton aja,kamu main sama mbak Linda…habis kami capek sih…”kata Yuni dengan manjanya.

Akupun nggak jadi takut dan ikut tersenyum.Aku jadi berani dengan situasi seperti ini.Aku merasa seperti diberi lampu hijau. Aku langsung saja mengarahkan tanganku ke payudara Linda dan meremas-remas payudaranya dari luar pakaiannya.Linda hanya tersenyum saja aku perlakukan begitu.Aku segera melumat bibirnya dan Linda membalasnya juga dengan ganasnya. Nampaknya dia benar-benar membutuhkan seks.Aku semakin senang.

Aku segera melucuti pakaian yang dikenakan Linda,sampai dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun seperti adik-adiknya. Aku merasa kaget juga,karena payudaranya mbak Linda lebih besar dibandingkan payudara adik-adiknya. Terus terang aku sangat senang dengan ukuran payudaranya yang besar itu.Aku segera menciumi payudaranya bertubi-tubi dan bergantian,maklum nafsu seksku mulai bangkit lagi.Linda sudah mulai terengah-engah menghadapi seranganku.Aku kembali melumat bibir mbak Linda yang indah.Mbak Linda juga kembali membalas ciumanku dengan bernafsu.

Sementara itu aku juga melirik Shinta dan Yuni dan mereka cuma tersenyum menatapku sambil mengelus-elus vaginanya masing-masing. Ciuamanku kembali kuarahkan keleher Linda yang putih bersih.Dan terus kuturunkan ke payudaranya yang montok. payudaranya kuciumi bergantian dan puting payudaranya kuhisap dengan lahap.Lama aku menghisap payudaranya.Linda berkata,
“akh…Andrie…terus hisap…sayhang..enakh..sekali.terus sayang…kamu sekarang jadi bayi…ya….terus hisap payudara Mbak…sayang…?”katanya menceracau.
Aku nggak peduli dengan rintihan dan erangan mbak Linda.Malah aku semakin bersemangat saja.Ciumanku kuturunkan keperutnya yang putih dan ramping dan terus turun kepahanya yang mulus.Pahanya kujilatin sampai basah semua.Jilatanku kunaikkan ke sela-sela pahanya yaitu ke vaginanya.
“Akh…apa ini Andrie…ohhh..terus Andrie…”kata mbak Linda.
Kayaknya dia juga tidak peduli lagi dengan sekitarnya.

Aku menjilati vaginanya.Aku mencari klitorisnya dan menghisapnya.Mbak Linda menjerit tertahan dan menekan belakang kepalaku,sehingga aku semakin mencium bau wangi dari vaginanya.Aku terus menjilati klitorisnya itu,sampai akhirnya aku merasakan cairan yang keluar dari vagina mbak Linda.Tapi mbak Linda sendiri belum keluar.Sementara punyaku sendiri sudah semakin tegang.Aku segera merubah posisiku dan menyodorkan penisku kemulut mbak Linda.Mbak Linda membuka mulutnya dan melahap penisku dan menghisap penisku dengan sangat bernafsu.Aku menyadari nafsu seks mbak Linda sangat tinggi.Tapi aku yakin bisa memuaskannya.

Akhirnya kusuruh mbak Linda telentang.Diapun menurut untuk telentang dan membuka kakinya lebar-lebar.Akupun segera mengatur posisiku untuk mengarahkan penisku kedalam lubang kemaluannya.Tapi sebelum aku memasukkannya,Yuni dan shinta mendekat dan berkata,
“Andrie…sebentar dulu..”kata Shinta.
Tanpa menunggu jawabanku dia langsung memegang penisku dan memasukkan kedalam mulutnya lalu menghisapnya. Setelah itu giliran Yuni yang menghisap penisku.Aku melihat mbak Linda sudah nggak sabaran untuk merasakan penisku.Akhirnya setelah Yuni menghisap penisku,dia membimbing penisku dan mengarah kan ke lubang vagina kakaknya.Setelah posisinya pas,aku segera menekan pantatku perlahan-lahan.
Terdengar desahan dan jerita kecil keluar dari mulut mbak Linda.Rupanya lubang vagina mbak Linda masih sempit seperti punya adik-adiknya.Aku sangat senang sekali.Aku segera menaik-turunkan pantatku ke vagina mbak Linda.Jeritan dan desahan nafas mbak Linda makin keras.Aku tidak peduli dan terus saja menggenjot dan menaik turunkan pantatku.Sama seperti vagina adik-adiknya,vagina mbak Linda seperti meremas-remas penisku.

Aku sudah hampir keluar,tapi aku berusaha bertahan selama mungkin.Dan kuperhatikan mbak Linda hampir mencapai puncak orgasmenya.
“…akh…akh..akh..terus andrie..akh…aku sudah mau keluar nih…akh..,”katanya terus menceracau.
” Aahh aku juga mau keluar mbak…”kataku sambil meremas dan menghisap payudaranya.
Akhirnya aku merasakan cairan hangat membasahi penisku.
“Ahh…Andriee..mbak sudah keluar…”kata mbak Linda.Rupanya dia sudah keluar.Bersamaan dengan itu akupun merasa sudah nggak kuat lagi.
“Mbak…akhu…jugha..mau keluar…h..”kataku dengan suara agak parau.
Akhirnya spermaku tumpah membasahi vaginanya.Aku tertelungkup lemas diatas tubuh mbak LInda.Kulihat Shinta dan Yuni tersenyum menatapku.Aku lalu mencabut penisku dari lubang vagina mbak Linda dan tidur menelentang.

Shinta dan Yuni segera mendekatkan melutnya dan kembali menghisap penisku bergantian.Begitu juga dengan mbak Linda bangun untuk menghisap penisku bergantian.Akhirnya kami kembali rebahan.Mbak Linda disebelah kananku,Shinta disebelah kiriku,sementara Yuni dengan manjanya telungkup diatas tubuhku.Kami sama-sama menarik nafas panjang.Sementara tanganku kembali bergerilya seperti tadi meraba seluruh tubuh kakak-adik itu dan meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang mereka juga bangun sebentar hanya untuk menghisap penisku.Kami sama-sama terbaring lemas.
Tak lama Shinta membuka pembicaraan,

“Wah…Andrie…kamu memang kuat bisa mengalahkan mbak Linda.penismu juga besar dan kuat lho Andrie.”
Aku hanya tersenyum saja dan meremas payudara Shinta dengan lembut dan memainkan puting payudaranya dengan ujung jariku.
“Baru kali ini aku merasa puas kalo main gini Ndrie..”kata mbak Linda.
Aku hanya tersenyum saja mendengar pujian mereka dan tanganku semakin nakal dengan memasukkan jariku kelubang vagina mbak Linda.
“Aww…Andrie…tanganmu nakal..aku lagi capek nih…”kata mbak Linda manja.
Aku lalu berkata,”Wah…Yuni,Shinta,mbak Linda,kayaknya kita harus berpakaian nih sebelum ibumu datang.”
Yuni segera menjawab,
“Nggak apa-apa kok Andrie.Kalau ibu datang dan melihat kita begini nggak bakalan marah kok…ya kan mbak?”kata Yuni sambil bertanya pada kakaknya.
Kedua kakaknya tersenyum saja dan Shinta berkata,
“Kalau kamu mau,kamu juga boleh main sama ibu Andrie…”
“Iya…ibu pasti senang sekali ya kan mbak Linda?”tanya Yuni sama mbak Linda.

Mbak Linda menganggukkan kepalanya.Sekarang aku sudah mulai tenang.Sekarang tenagaku sudah mulai pulih.Lama kami terdiam,tapi tanganku tetap tidak bisa diam dan selalu menggerayangi tubuh ketiganya.Tapi mungkin karena kecapean,mereka bertiga cuma diam saja ketika tanganku menggerayangi tubuhnya,walaupun jari tengahku mengorek-ngorek vaginanya.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar,
“Shinta,Yuni..kalian dimana?”
Rupanya ibunya sudah datang.
“Kami disini Bu…”sahut Yuni.
Lalu Yuni berkata padaku,
“Ayo Andrie…kamu boleh coba ibuku..katanya tersenyum.
Aku cuma mengangguk saja dan sekarang tenagaku sudah benar-benar pulih lagi.
Tak lama kemudian ibunya Yuni sampai di kamar dan terkejut,
“hai…kalian lagi ngapain?”katanya sambil menutup mulutnya.

Ibunya Yuni masih melotot tidak percaya menatapku.Setelah dekat tanganku langsung memeluk ibu Yuni dan
langsung meremas-remas payudaranya.Sementara itu dia masih setengah tidak percaya,tapi dia membiarkan tanganku meremas-remas payudaranya.Sambil berdiri aku menciumi bibirnya dan sekarang dia mulai membalas ciumanku.Aku tidak menduga ciuman ibunya ganas juga.Sementara tanganku masih terus meremas-remas payudaranya.Aku segera melucuti pakaiannya satu demi satu.Kulihat dia sekarang sudah bisa tersenyum dan berkata,
“Linda,Shinta,Yuni…kalian bear-benar nakalya…?tapi kalian baik juga mau mengajak ibu main sama Andrie.”
Linda,Shinta dan Yuni hanya tersenyum saja dan berkata,
“ya Bu..jangan malu-malu ya…ya…penis Andrie enak lho Bu…”
Setelah pakaian luarnya kulucuti,hingga hanya tinggal BH dan CD aja.Tanganku masih saja meremas-remas payudaranya.Nafas ibu Yuni mulai naik turun.Dia membiarkan saja apapun yang kulakukan pada tubuhnya dan menikmatinya.Aku mulai melepaskan BH nya dan aku kaget juga payudara dia masih kencang,putih dan montok dan besarnya hampir sama dengan payudara mbak Linda.Aku segera menyerbu payudaranya dengan ciuman-ciumanku.Aku menghisap puting payudaranya sambil berdiri.

Dia hanya merintih-rintih saja.Aku meremas-remas pantatnya yang montok,sementara mulutku tidak berhenti menghisap puting payudaranya kiri kanan.Setelah puas dibagian payudara,ciumanku kulanjutkan ke bawah.Ciumanku kuarahkan ke pahanya yang putih mulus dan terus naik keselangkangannya.Aku melepaskan CD nya sehingga dia tidak mengenakan apa-apa lagi,bugil seperti aku dan anak-anak tirinya.
Aku lalu menjilati vaginanya.Sambil berdiri, dia membuka kakinya agar mulutku leluasa menjilati vaginanya.Sementara tangannya menekan belakang kepalaku.Aku terus saja menghisap klitorisnya. Dia menjerit-jerit kecil dan kakinya kulihat agak gemetaran. Setelah puas menjilati vaginanya,aku lalu menekan tubuhnya supaya duduk jongkok menghadapku.Dia mengerti dan langsung saja mulutnya melumat penisku.Aku merasa sangat enak.Kayaknya Dia lebih berpengalaman dalam hal menjilat penis.Dia terus saja menghisap penisku dengan penuh semangat.

Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi,aku lalu menyuruhnya membelakangiku.Aku lalu mengatur posisi dan mengarahkan penisku ke lubang vaginanya dari belakang dan menekannya pelan-pelan.Dia menjerit tertahan.Tapi aku tidak peduli. sementara Linda,Shinta dan Yuni hanya menonton dengan bersemangat dari samping.Aku menggoyang pantatku maju mundur sambil berdiri.Tangan kirinya kutarik kebelakang dan tangan kananku meremas-remas payudaranya yang sebelah kanan.Dia kembali menjerit-jerit dengan desahan nafasnya yang memburu.
“Andrie…kamu…punyamu sangat enakh…akh…akh..”katanya menceracau.
Aku semakin bersemangat mendengar rintihannya.Lalu aku menarik tangan kanannya sehingga kedua tangannya kutarik kebelakang.Sementara pantatku tetap maju mundur menggoyang pantatnya.payudaranya yang besar terus saja bergoyang-goyang ke bawah.
Aku lalu merubah posisi dan menyuruhnya telentang.Dengan nafas memburu dia menurut saja dan telentang dengan membuka kakinya lebar-lebar.Aku segera mengarahkan penisku ke vaginanya. Penisku pun segera menusuk vaginanya dan pantatku naik turun menghujam vaginanya.vaginanya tidak kalah rasanya dibandingkan vagina anak-anaknya. Masih menggigit dan meremas-remas penisku. Nafaskupun semakin cepat seperti nafasnya.

Sementara penisku menusuk-nusuk vaginanya,aku selalu menghisap payudaranya bergantian Sekitar hampir satu jam kami main,sampai akhirnya dia berkata,
“Andrie…ahh…penismu sangat enakh…kuat…lubang vaginau jadi penuh oleh penismu…ahh…ahhh..terus sayang..aku sudah hampir keluarhh..ahh..ahhh..”
Dan tak berapa lama akupun segera merasakan penisku jadi hangat karena cairan dari vaginanya sebagai tanda dia sudah sampai puncak orgasmenya.Badannya yang tegang tadi mulai lemas.Aku masih saja menggenjot vaginanya dan akhirnya akupun merasakan sesuatu yang hendak keluar.penisku kubenamkan dalam-dalam kedalam vaginanya.Dan spermaku pun keluar membasahi liang vaginanya.Aku tertelungkup lemas dengan nafas tidak beraturan.

Dia juga begitu lemas dan nafasnya juga tidak beraturan.Aku lalu mencabut penisku dari vaginanya dan telentang sambil menarik nafas panjang.Aku memejamkan mataku.Walaupun sudah keluar tapi penisku masih ngaceng.Mbak Linda,shinta dan Yuni mendekat dan mereka bergantian menghisap penisku dan menelan sisa-sisa spermaku.Aku merasakan nikmatnya hisapan mereka bergantian.
Mereka bertiga akhirnya merebahkan badannyadisampingku.Lama kami terdiam karena kelelahan.Akhirnya Yuni berkata,
“Gimana Bu..?Enakkan penisnya Andrie..?”

Ibunya berkata,”Wah..Andrie…kamu memang luar biasa.penismu besar,kuat…wah…enak sekali…”
Aku menjawab,”Kalian juga sangat enak sekali.vagina kalian terasa meremas-remas penisku.Aku juga sangat suka dengan payudara kalian yang montok-montok ini.”kataku sambil meremas-remas payudara mereka bergantian.

Akhirnya aku tidak diperbolehkan pulang dan harus menginap malam itu.Kami kembali main bergantian.Aku kembali main sama mbak Linda,Shinta ,Yuni dan ibunya.Sungguh aku merasa sangat terpuaskan saat itu.Aku bisa menikmati tubuh mereka,tubuh kakak Yuni,tubuhnya sendiri dan tubuh ibunya.Aduh sangat enak sekali.Apalagi kulit tubuh mereka putih semua,maklum karena mereka adalah orang cina turunan.Apalagi payudara mereka sangat montok dan vaginanya juga bisa memijit-mijit penisku.

Setelah hari itu,tiap kali aku main ke sana,kalau baru sampai di rumah Yuni,aku selalu meremas-remas payudara mereka bergantian.Kadang-kadang aku langsung melucuti pakaian mereka dan langsung menghisap payudara mereka bergantian.mereka pun sangat senang dengan caraku waktu aku datang itu.Kadang-kadang kalau baru datang,aku langsung membuka celanaku dan menyodorkan penisku kedalam mulut Yuni,Shinta ibunya atau mbak Linda.Mereka pun sangat senang sekali.Sehingga tiap kali aku datang kesana pasti main dengan mereka bergantian.

Kadang-kadang Yuni,Shinta,mbak Linda atau ibunya juga memperkenalkan aku dengan teman-temannya dan akupun sering juga main dengan teman-teman mereka.Aku bilang pada mereka,kalau mau mengundang teman untuk main harus yang bersih.Rata-rata teman-teman mereka itu adalah wanita yang tidak bisa dipuaskan oleh suaminya.Ada salah satu temannya yang mau memberiku bayaran,tapi aku menolaknya karena aku melakukannya dengan suka sama suka.Karena aku sangat suka seks.

Orang boleh menilai apa saja tentang diriku, terutama para pembaca cerita dewasa seru wiro sableng, bagiku itu tidak masalah, karena memang kenyataan itulah yang pernah kualami selama ini. Kurasa banyak juga wanita di muka bumi ini, yang sebenarnya juga punya banyak petualangan sex, namun belum ada yang berani mengungkapkannya.

Kenapa mesti takut dan malu? Itu semua hak kita, memangnya hanya laki-laki saja yang punya hasrat dan libido? Wanita juga punya, hanya mereka biasanya malu dan takut mengungkapkannya, apa lagi untuk menyalurkannya. Lain halnya denganku, apa yang kumau kujalani saja apa adanya, yang penting aku belum mau ada ikatan.

Banyak juga yang mengatakan kalau hubungan antar suami istri pasti lebih nikmat, karena ada dasar saling mencintai, siapa bilang? Banyak juga kaum istri yang merasa tidak puas dan tidak mengalami orgasme karena sang suami melakukannya dengan cepat tanpa foreplay dan tidak peduli apakah lawan mainnya sudah puas atau belum, yang penting dirinya sudah orgasme. Akibatnya apa yang dilakukan sang istri? Mau nyeleweng juga takut, mau masturbasi malu, walau terkadang ada juga yang sembunyi-sembunyi melakukan masturbasi, Hi.. hi.. hii..! Kacian deh loe!

Kali ini akan kuceritakan pengalaman pertamaku melakukan hubungan sex atau make love (ML) yang sebenarnya. Ini kulakukan saat aku memasuki bangku kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Aku memang kuliah di sana mengambil jurusan kedokteran hewan. Di antara teman cowokku saat itu, yang paling akrab denganku adalah Charles, anaknya cukup ganteng dan pandai.

Namun sayangnya Charles akhirnya tidak meneruskan kuliahnya karena dia merasa patah hati denganku (bukan GR lho!). Charles memang merupakan cowok yang pertama kali merasakan mahkota kegadisanku, kulakukan semua itu dengan suka rela tanpa ada tuntutan.

Kuanggap saat itu kami memang saling suka sama suka dan saling membutuhkan, bukan berarti itu sebagai suatu ikatan yang mana aku harus bersedia menjadi istri Charles kelak. Hal inilah yang membuat Charles akhirnya harus terpukul dan patah hati, karena setelah kupersembahkan mahkota kegadisanku, Charles merasa harus bertanggung jawab dan akan menikahiku. Sedangkan aku tidak ingin mendapat ikatan apa-apa, maka akhirnya Charles patah hati dan berhenti kuliah, sejak saat itu aku juga tidak tahu dia ada dimana, kalau seandainya saat ini di manapun Charles berada dan sedang membaca kisahku ini, aku mohon maaf, bukannya aku bermaksud menyakiti hatinya, tapi begitulah aku, Natalia yang masih tetap seperti yang dulu.

Sejak awal perkenalanku dengan Charles, kami memang telah merasa saling cocok satu sama lain. Banyak hal yang kami selalu lakukan dan lalui bersama, entah bagaimana perasaan Charles padaku saat itu, namun aku menganggap Charles tak lebih sebagai seorang teman yang akrab dan enak diajak berbincang maupun bergaul, atau mungkin sebagai kakak yang bisa diajak curhat misalnya.

Hubungan kami makin hari makin dekat dan akrab, kami juga mengawali dengan saling berciuman, berpelukan sambil terkadang saling raba dan saling remas, tentunya di tempat-tempat sepi yang memungkinkan. Belakangan kami juga sering melakukan petting atau oral sex.

Kalau yang satu ini kami lakukan terkadang di rumahku saat tidak ada siapa-siapa, terkadang juga di tempat kost Charles, atau di losmen-losmen murah dengan membayar patungan, maklum Charles bukan asli anak Surabaya, kedua orang tuanya asli dan tinggal di Medan sana.

Kami gapai kepuasan itu melalui hubungan oral sex, kami saling cium, saling lumat dan saling cumbu. Tangan-tangan kami saling meraba dan mengelus daerah sensitif kami masing-masing, hingga pada puncaknya kami saling jilat dengan posisi 69. Kepala Charles membenam di selangkanganku, mengoral vaginaku dan menjilati klitorisku.

Sebaliknya aku juga sibuk mengocok batang kemaluan Charles sambil mulutku mengulum kepala batang kemaluannya, kujilat biji pelirnya hingga ke bagian kepala batang kemaluannya. Awalnya aku tidak mengizinkan sperma Charles tumpah keluar di mulutku, namun akhir-akhirnya sering kali kubiarkan spermanya menyembur di dalam mulutku.

Bahkan beberapa kali sperma itu yang awalnya tidak sengaja tertelan menjadi sengaja kutelan sampai habis. Memang awalnya aku merasa jijik dan hampir mau muntah rasanya, apa lagi kalau semburan spermanya muncrat dengan keras hingga langsung menyumbat kerongkonganku.

Memang pengalaman adalah guru yang terbaik, akhirnya aku pun terbiasa dan boleh dibilang piawai dalam melakukan oral sex sampai lawan mainku orgasme, dan spermanya menyembur keluar di mulutku, kemudian langsung kutelan habis sampai bersih kembali.

Hal yang sama justru sudah dilakukan Charles sejak dari awal kami melakukan hubungan oral sex, dan Charles pula yang mengawali mengoral vaginaku, jauh hari sebelum aku berani dan mau melakukan oral sex pada dirinya. Charles selalu tidak membiarkan cairan hangat yang keluar dari dalam liang vaginaku, tumpah begitu saja membasahi sprei tempat tidur yang kami pakai.

Charles selalu menjilat dan menelas habis semua cairan beningku saat aku mengalami orgasme saat dioralnya, soal kenikmatan yang kualami saat itu, sungguh sangat sulit kulukiskan dengan kata-kata, karena rasanya tidak ada kata atau kalimat yang dapat mengartikan bagaimana nikmatnya saat orgasme itu.

Suatu siang yang tanggal dan harinya aku sudah lupa, aku dan Charles pulang kuliah agak siang karena memang tidak ada kegiatan di kampus. Kuajak Charles mampir ke rumahku seperti biasanya, dan waktu itu di rumahku juga sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku sibuk dengan urusannya masing-masing, sedang adikku ada yang masih kuliah dan yang kecil juga belum pulang dari sekolahnya.

Suasana dan kondisi rumahku yang kosong dan sepi memungkinkan Charles untuk bebas mencumbuku, Charles mengawalinya dengan mencium lembut bibirku yang tipis dan mungil. Kami saling berciuman dan berpagutan, bibir kami saling mengulum, dan tangan kami saling meraba dan meremas daerah-daerah yang sensitif.

Cukup lama kami bergumul di tempat tidurku, sampai akhirnya kami saling menanggalkan busana kami masing-masing, seperti biasanya saat kami melakukan oral sex. Lalu kami sudah telanjang bulat tanpa sehelai pun benang yang menutupi tubuh kami.

Dan cumbuan dan ciuman tadi sudah berubah menjadi jilatan yang kami lakukan, kami saling menjilati hingga mencapai posisi favorit kami yaitu 69. Ternyata aku lebih dahulu mengalami orgasme saat melakukan oral sex kali ini, aku benar-benar hanyut dan terobsesi dengan permainan lidah Charles yang menyapu rata setiap bagian vaginaku.

Terus terang aku paling tidak tahan saat klitorisku dijilat apa lagi dikulum-kulum. Biasanya darahku seakan serentak secara bersamaan mengalir ke atas kepalaku dan berkumpul di ubun-ubun kepalaku, kalau sudah demikian bendungan pertahananku jebol diterjang badai dan gelombang birahiku yang dahsyat.

Namun kali ini rupanya Charles lebih lama bertahan daripada biasanya, memang tidak biasanya Charles mampu mempertahankan orgasmenya sebegitu lama saat kukulum batang kemaluannya. Kali ini rupanya lain, dan karena orgasmenya tak kunjung tiba, Charles mengubah posisinya dengan menindih tubuhku dengan posisi kami saling berhadap-hadapan.

Charles kembali mencium dan melumat bibirku, masih terasa sisi bekas lendirku yang menempel di mulut Charles, rasanya sedikit asin dengan aroma yang khas sekali, karena aku juga pernah menjilati jari-jariku setelah melakukan masturbasi, saat itu jari-jariku juga dipenuhi oleh cairan kenikmatan sisa orgasmeku.

Sambil menciumku, Charles memegang batang kemaluannya dan menggosok-gosokkan ujung kepala batang kemaluannya di antara celah belahan bibir vaginaku, aku merasakan geli yang bercampur kenikmatan, ada rangsangan tersendiri yang kurasakan saat itu, sehingga membuat liang vaginaku kembali basah dibanjiri oleh cairan birahi yang mengalir dari dalam rahimku.

Charles mulai menusuk-nusukkan ujung kepala batang kemaluannya di celah liang vaginaku, desakan batang kemaluannya terasa agak sakit saat memasuki terlalu dalam ke liang vaginaku, hingga terkadang aku sedikit tersedak dan mengaduh, namun lama kelamaan aku juga menjadi tidak tahan dengan perlakuan seperti itu, ingin rasanya aku merasakan batang kemaluan Charles dimasukkan lebih dalam lagi ke liang vaginaku.

Charles sepertinya juga tahu apa yang kumau, ia mulai menggosokkan batang kemaluannya masuk lebih dalam lagi ke liang vaginaku. Aku kembali merasakan sakit di dalam liang vaginaku yang memang belum pernah dimasuki benda apa pun, kali ini ada sedikit rasa perih dari dalamnya.

Charles rupanya juga mengerti akan hal itu, dan ia tidak melanjutkannya dengan gegabah, sambil sesekali meneruskan dorongannya agar batang kemaluannya masuk lebih dalam lagi, Charles juga memberikan aku waktu luang untuk menarik nafas menahan rasa sakit dan perih yang bercampur nikmat di vaginaku.

Akhirnya setengah dari batang kemaluan Charles berhasil menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku, dan Charles mulai memompanya pelan-pelan sambil terus melakukan tekanan hingga batang kemaluannya benar-benar dapat masuk secara utuh di dalam kemaluanku.

Rasa sakit dan perih yang kualami juga makin lama makin hilang berganti dengan rasa nikmat yang selama ini belum pernah kualami. Charles makin mempercepat pompaannya, batang kemaluannya digenjot keluar masuk di liang vaginaku, yang makin becek oleh lendir yang tak terbendung, keluar dari dalam rahimku.

"Oo.. Ooh! Aduu.. Uuh!"

Aku hanya bisa menyeracau tidak karuan, tanganku berusaha meraih apa saja yang ada di sekitarku, dan kain sprei tempat tidurku yang menjadi sasaran jambakan tanganku, kuremas kain spreiku hingga tempat tidurku makin acak-acakan. Tubuhku sedikit bergetar, kurasakan ada sesuatu yang aneh di dalam liang vaginaku, aku sepertinya sedang kencing namun bukan air seniku yang mengalir keluar, namun kutahu itu adalah semburan pelumasku, yang kembali membasahi liang vaginaku.

Vaginaku mengedut kuat meremas batang kemaluan Charles yang masih asyik terus memompa liang vaginaku, kedutan vaginaku itu akhirnya juga membuat pertahanan Charles ikut jebol juga. Dapat kurasakan semburan dahsyat di dalam liang vaginaku saat Charles melepaskan orgasmenya.

Cukup lama kami berpelukan sambil posisi batang kemaluan Charles masih tertancap di dalam liang vaginaku, kurasakan batang kemaluan Charles pelan-pelan kembali mengecil seukuran normal di dalam liang vaginaku. Cairan birahi kami berdua yang bercampur di dalam liang vaginaku merembes keluar melalui celah lipatan bibir vaginaku, belakangan baru kutahu diantara rembesan tersebut ada bercak merah yang membasahi sprei tempat tidurku.

Selamat tinggal mahkotaku, demikian bisikku dalam hati sambil mencium bibir Charles, orang pertama yang memberikan kepuasan sejati padaku.

THE END

Novi


Novy adalah seorang mahasiswi berusia 22 tahun di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Dia mempunyai tubuh yang sangat sempurna dan terawat. Tingginya 165 cm, dengan berat 55 kg. Rambutnya hitam sebahu dan dia mempunyai payudara yang sangat indah, bulat dan kencang berukuran 34B. Kulitnya putih dan wajahnya pun sangat cantik. Novy termasuk mahasiswi yang berprestasi di kampusnya. Tidak heran banyak sekali teman prianya yang tertarik kepadanya, namun sampai saat ini Novy masih belum punya pacar.
Pada suatu hari Novy terpaksa harus pulang sendiri agak malam dari kampusnya, karena ia harusmenyelesaikan tugasnya di laboratorium. Ketika dia sedang menunggu lift dari lantai 8, tiba-tiba Anto temannya datang.
“Hai, Novy.. mau pulang nih..?”
“Iya..”
“Bareng yuk turunnya..!” ajak Anto.
“Boleh..” tanpa rasa curiga Novy mengiyakan.
Nampaknya malam itu benar-benar sepi di kampusnya, hanya tinggal beberapa orang saja terlihat di tempat parkir di bawah. Ketika pintu lift terbuka, mereka berdua pun masuk. Saat berada di dalam lift, tiba-tiba sebuah benda keras menghantam tengkuk Novy dari belakang, membuatnya langsung tidak sadarkan diri.
“Dukk..,” Novy terbangun ketika kepalanya terantuk meja.
Dengan mata masih berkunang-kunang, dia melihat bahwa dia sedang berada di ruang kuliah di lantai 4 kampusnya. Tidak ada orang di situ. Dan ketika dia melihat jam di dinding, ternyata sudah pukul 10 malam. Ketika Novy mencoba bergerak, dia baru menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat. Dia mencoba melepaskan diri namun tidak berhasil. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan muncullah tiga orang dari pintu itu. Dua pria dan satu wanita. Mereka semua temannya, Anto, Angga dan Shanty.
“Shanty.. tolong gue Shan.., lepasin gue.. apa-apaan sih ini..? Kalian kalo bercanda jangan keterlaluan dong..!” dengan sedikit kesal Novy bicara dengan Shanty.
“Elo mau apa sih Nov..? Ini bukan bercanda tau..!” teriak Shanty.
“Apa maksud elo..?” Novy mulai panik.
“Kita mau buat perhitungan sama elo, Nov..! Selama ini elo selalu jadi pusat perhatian, tapi elo terlalu sombong untuk memperhatikan temen elo sendiri. Elo tau nggak kalo temen-temen tuh banyak yang nggak suka sama elo..! Sekarang saatnya elo untuk ngasih sesuatu sama mereka..!” Shanty mendekati dan kemudian menampar pipi kiri Novy.
“Elo mau apa sih..!” jerit Novy.
“Gue mau liat elo menderita malam ini, Nov. Karena selama ini elo selalu mendapat segala yang elo inginkan…” kata Shanty.
Selesai Shanty berbicara, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka kembali dan masuklah 15 orang lagi, 10 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Mereka semua temannya. Tetapi kelihatannya mereka semua senang melihat Novy terikat tidak berdaya seperti itu.
Tiba-tiba Shanty berteriak, “Teman-teman, inilah saatnya yang kita tunggu-tunggu. Malam ini kita boleh ngerjain si Novy sepuas kita.”
Semua berteriak kegirangan mendengar perkataan Shanty, kecuali Novy. Bulu kuduk Novy merinding mendengar itu, dia tidak dapat membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap dirinya, ketika Anto mendekati dirinya dan melepaskan ikatannya. Walaupun ikatannya sudah dilepas, namun Novy tidak dapat berdiri, karena kakinya lemas semua. Dia hanya dapat berlutut.
Shanty mendekati dirinya dan kemudian berteriak di telinga Novy, “Sekarang elo harus buka baju elo satu persatu sampai telanjang di depan kita semua..! Awas kalo berani melawan..! Gue tusuk perut elo..!” ancam Shanty sambil memegang gunting di tangannya.
Tidak percaya rasanya Novy mendengar itu, namun dia tidak berani menolak perintah Shanty, apalagi diancam dengan gunting tajam seperti itu. Akhirnya dengan tubuh gemetar, Novy mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan melepaskannya ke lantai. Selanjutnya dia mulai membuka kancing celana jeansnya dan menariknya ke bawah hingga sekarang Novy hanya mengenakan BH dan celana dalam yang berwarna hitam. Rupanya hari itu Novy memakai BH dan celana dalam yang sangat seksi. Novy memakai BH tanpa tali yang bagian depannya hanya menutupi setengah dari payudaranya. Dan celana dalam yang dipakai Novy lebih mirip dengan sebuah tali yang hanya menutupi belahan vaginanya, sedangkan pantatnya sama sekali tidak tertutup. Semua laki-laki yang berada di ruangan itu benar-benar terpesona melihat pemandangan indah di depan mereka itu. Novy gadis tercantik di kampus itu hampir telanjang bulat, sehingga penis mereka langsung menegang semua.
Melihat itu Shanty merasa senang dan kembali memerintahkan Novy untuk membuka BH dan celanadalamnya. Dengan tangan gemetar, Novy meraih kait BH di belakang punggungnya dan melepaskannya, sehingga BH Novy dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Ketika BH-ya sudah terlepas, payudara Novy yang bulat langsung mengacung tegak, mengundang decak kagum semua pria di ruangan itu. Puting payudara Novy berwarna coklat dengan lingkaran di sekitar putingnya berwarna coklat muda. Dan saat celana dalamnya juga sudah dilepas, terlihatlah bulu-bulu kemaluan tipis yang tumbuh rapih di sekitar vagina Novy. Novy memang selalu mencukur bulu-bulu kemaluannya dan merawat vaginanya sendiri. Baru pertama kali ini Novy telanjang bulat di depan orang lain dan saat ini dia berdiri dengan tubuh yang gemetar.
Shanty mendekatinya sambil mengacungkan gunting ke arahnya, dan mendorong Novy hingga jatuh terduduk.
“Sekarang elo harus buat seneng kita semua. Elo sekarang harus masturbasi disini. Cepat, kalo nolak gue potong nanti pentil susu elo..! Sekalian olesin nih badan elo pake minyak ini..!” kata Shanty sambil memberikan baby oil kepada Novy untuk dioleskan ke seluruh tubuhnya.
Dengan ketakutan Novy menerima botol tersebut dan menuangkannya ke atas payudara, perut dan juga ke atas vaginanya. Kemudian Novy mulai meraba-raba tubuhnya sendiri dan meratakan baby oil tersebut ke seluruh tubuhnya sambil tidur telentang di lantai. Sambil menangis karena takut dan malu, tangan kirinya memijat-mijat payudaranya sendiri dan memilin-milin puting susunya, sedangkan tangan kanannya meraba-raba vaginanya yang ditumbuhi oleh rambut tipis.
Lama kelamaan Novy mulai terangsang dan mengeluarkan suara erangan halus yang tidak dapat diatahan. Sementara itu, semua laki-laki di ruangan itu membuka bajunya hingga bugil dan mulai mengocok penis mereka sendiri sampai tegang. Sedangkan yang perempuan, kecuali Shanty meninggalkan ruangan itu. Shanty malah membawa kamera video untuk merekam kejadian itu dan dia mengancam Novy kalau dia berani melapor, Shanty akan menyebarkan rekaman itu ke seluruh kampus, dan bahkan ke luar kampusnya.
Tubuh Novy kini mengkilat karena minyak yang dioleskan ke tubuhnya tadi, membuat Novy kelihatan sangat seksi, dan ini menjadi pemandangan yang sangat menggairahkan untuk semua laki-laki di ruangan itu. Saat Novy semakin terangsang, Angga mendekatinya. Dengan dibantu empat orang lainnya yang memegang dan menarik kedua tangan dan kaki Novy sehingga tubuh Novy menyerupai huruf X, Angga berlutut di selangkangan Novy, dan mulai mengelus-elus vagina Novy dengan tangannya. Sesekali jari tangan Angga mencoba menusuk masuk ke dalam vagina Novy, membuat Novy merinding karena rasa geli yang timbul.
Kemudian Angga mulai menjilati vagina Novy dengan lidahnya. Aroma khas dari vagina Novy membuat Angga semakin bernafsu menjilati vagina Novy. Sementara itu kedua orang pria yang memegangi tangan Novy juga ikut menikmati sebagian tubuh Novy. Laki-laki yang memegang tangan kanan Novy menjilati dan mengisap puting susu Novy yang sebelah kanan, sementara laki-laki yang memegang tangan Novy yang sebelah kiri melakukan hal yang sama dengan payudara Novy yang satunya. Sambil meremas payudara Novy dengan keras, sesekali mereka juga menggigit dan menarik puting susu Novy dengan giginya, sehingga Novy merasa kesakitan. Kedua orang itu juga bergantian menciumi bibir Novy dengan kasar dan memainkan lidahnya di dalam mulut Novy.
Setelah puas menjilati vagina Novy, Angga kembali berlutut di selangkangan Novy dan mulaimenggosok-gosokkan penisnya di bibir vagina Novy. Sadar bahwa dirinya akan segera kehilangan keperawanannya, Novy berusaha melepaskan diri sekuat tenaga, namun dia tidak dapat melawan tenaga keempat orang yang memeganginya. Melihat Novy yang meronta-ronta, Angga semakin bernafsu dan dia segera menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Novy yang masih perawan. Walaupun vagina Novy sudah basah oleh air liur Angga dan cairan vagina Novy yang keluar, namun Angga masih merasakan kesulitan saat memasukkan penisnya, karena vagina Novy yang perawan masih sangat sempit. Novy hanya dapat menangis dan berteriak kesakitan karena keperawanannya yang telah dia jaga selama ini direnggut dengan paksa seperti itu oleh temannya sendiri.
Sementara itu Angga terus memompa vagina Novy dengan cepat sambil satu tangannya meremas-remas payudara Novy yang bulat kenyal dan tidak lama kemudian dia mencapai puncaknya dan mengeluarkan seluruh spermanya di dalam vagina Novy. Novy hanya dapat diam telentang tidak berdaya di lantai, walaupun tangan dan kakinya sudah tidak dipegangi lagi, dan membayangkan dirinya akan hamil karena saat ini adalah masa suburnya. Dia dapat merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Darah perawan Novy dan sebagian sperma Angga mengalir keluar dari vaginanya.
Setelah itu Anto maju untuk mengambil giliran. Kali ini Anto mengangkat kedua kaki Novy ke atas pundaknya, dan kemudian dengan tidak sabar dia segera menancapkan penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina Novy. Anto tidak mengalami kesulitan lagi saat memasukkan penisnya, karena vagina Novy kini sudah licin oleh sperma Angga dan juga cairan vagina Novy, walaupun vagina Novy masih sangat sempit. Kembali vagina Novy diperkosa secara brutal oleh Anto, dan Novy lagi-lagi hanya dapat berteriak kesakitan. Namun kali ini Novy tidak berontak lagi, karena dia pikir itu hanya akan membuat teman-temannya semakin bernafsu saja.
Tiba-tiba Anto mencabut penisnya dan dia duduk di atas dada Novy. Anto mendempetkan kedua buah payudara Novy dengan kedua tangannya dan menggosok-gosokkan penisnya di antara celah kedua payudara Novy, sampai akhirnya dia memuncratkan spermanya ke arah wajah Novy. Novy gelagapan karena sperma Anto mengenai bibir dan juga matanya. Setelah itu Anto masih sempat membersihkan sisa sperma yang menempel di penisnya dengan mengoleskan penisnya ke payudara Novy. Kemudian Anto menampar payudara Novy yang kiri dan kanan berkali-kali, sehingga payudara Novy berwarna kemerahan dan membuat Novy merasa kesakitan.
Selanjutnya dua orang, Leo dan Reza maju. Mereka kini menyuruh Novy untuk mengambil posisi seperti merangkak. Kemudian Leo berlutut di belakang pantat Novy dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Novy yang sangat sempit. Membayangkan kesakitan yang akan dialaminya, Novy mencoba untuk berdiri, tetapi kepalanya dipegang oleh Reza yang segera mendorong wajah Novy ke arah penisnya. Kini Novy dipaksa mengulum dan menjilat penis Reza. Penis Reza yang tidak terlalu besar tertelan semuanya di dalam mulut Novy.
Sementara itu, Leo masih berusaha membesarkan lubang anus Novy dengan cara menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang anus Novy. Sesekali Leo menampar pantat Novy dengan keras, sehingga Novy merasakan pantatnya panas. Kemudian Leo juga berusaha melicinkan lubang anus Novy dengan cara menjilatinya. Novy merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat lidah Leo menjilati lubang anusnya. Tidak lama kemudian Novy kembali menjerit kesakitan. Rupanya pertahanan anusnya sudah jebol oleh penis Leo yang berhasil masuk dengan paksa.
Kini Leo memperkosa anus Novy perlahan-lahan, karena lubang anus Novy masih sangat sempit dan kering. Leo merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan yang luar biasa saat penisnya dijepit oleh anus Novy. Saat Novy berteriak, kembali Reza mendorong penisnya ke dalam mulut Novy, sehingga kini Novy hanya dapat mengeluarkan suara erangan yang tertahan, karena mulutnya penuh oleh penis Reza. Tubuh Novy terdorong ke depan dan ke belakang mengikuti gerakan penis di anus dan mulutnya.
Kedua payudara Novy yang menggantung dengan indah bergoyang-goyang karena gerakan tubuhnya. Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya Leo dan Reza mencapai klimaks hampir secara bersamaan. Leo menyemburkan spermanya di dalam anus Novy, dan Reza menyemburkan spermanya di dalam mulut Novy. Novy terpaksa menelan semua sperma Reza agar dia dapat tetap bernafas. Novy hampir muntah merasakan sperma itu masuk ke dalam kerongkongannya, namun tidak dapat karena penis Reza masih berada di dalam mulutnya. Novy membiarkan saja penis Reza berada di dalam mulutnya untuk beberapa saat sampai Reza menarik keluar penisnya dari mulut Novy.
Kemudian Reza memaksa Novy untuk membersihkan penisnya dari sperma dengan cara menjilatinya. Leo juga masih membiarkan penisnya di dalam anus Novy dan sesekali masih menggerak-gerakkan penisnya di dalam anus Novy, mencoba untuk merasakan kenikmatan yang lebih banyak. Novy dapat merasakan kehangatan sperma di dalam lubang anusnya yang secara perlahan mengalir keluar dari lubang anusnya.
Setelah Leo mencabut penisnya dari anus Novy, temannya yang lain, Irvan, mengambil kursi dan duduk di atasnya. Dia menarik Novy mendekat dan menyuruh Novy untuk mengangkangi penisnya menghadap dirinya. Irvan kemudian mengarahkan penisnya ke vagina Novy, dan kemudian memaksa Novy untuk duduk di atas pangkuannya, sehingga seluruh penis Irvan langsung masuk ke dalam vagina Novy. Setelah itu, Novy dipaksa bergerak naik turun, sementara Irvan meremas dan menjilati kedua payudara dan puting susu Novy. Sesekali Irvan menyuruh Novy untuk menghentikan gerakannya untuk menahan orgasmenya. Irvan dapat merasakan vagina Novy berdenyut-denyut seperti memijat penisnya, dan dia juga dapat merasakan kehangatan vagina Novy yang sudah basah. Irvan tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Novy diperkosa oleh teman-temannya yang lain, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam vagina Novy. Novy kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.
Selanjutnya, Iwan yang mengambil giliran untuk memperkosa Novy. Dia menarik Novy dari pangkuan Irvan, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Novy disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Iwan. Kemudian secara kasar Iwan menarik pantat Novy turun, sehingga vagina Novy langsung terhunjam oleh penis Iwan yang sudah berdiri keras. Penis Iwan, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya yang memasuki vagina Novy, masuk semuanya ke dalamvagina Novy, membuat Novy kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Novy merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Iwan. Iwan memaksa Novy untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Iwan dapat bergerak keluar masuk vagina Novy dengan leluasa.
Kemudian Iwan menjepit kedua puting susu Novy dan menariknya ke arah dadanya, sehingga kini payudara Novy berhimpit dengan dada Iwan. Iwan benar-benar terangsang saat merasakan kedua payudara Novy yang kenyal dan hangat menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Shanty melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung Novy beberapa kali. Walaupun cambukan itu tidak terlalu keras, namun Novy tetap merasakan perih di punggungnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa gerakan Novy terhenti, Iwan marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah pantat Novy dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai akhirnya Novy menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks.
Ketika Iwan hampir mencapai klimaks, dia memeluk Novy dan berguling, sehingga posisi mereka kini bertukar, Novy tidur di bawah dan Iwan di atasnya. Sambil mencium bibir Novy dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Novy, Iwan terus menggenjot vagina Novy. Tidak lama kemudian gerakan Iwan terhenti. Iwan mencabut penisnya keluar dari vagina Novy dan segera menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Novy. Kemudian dia menarik tangan kanan Novy dan memaksa Novyuntuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan tangannya sendiri.
Setelah itu, seorang temannya yang lain, Eka, kembali maju mengambil giliran memperkosa vagina Novy. Hampir sepuluh menit Eka memompa vagina Novy dengan kasar, membuat vagina Novy semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai puncaknya, Eka mencabut penisnya dari vagina Novy dan memaksa Novy untuk menadahkan kedua telapak tangannya untuk menampung spermanya. Setelahitu, Eka memaksa Novy untuk mengusap sperma yang ada di telapak tangannya ke wajahnya dan meratakannya seperti orang mencuci muka. Semua temannya tertawa senang melihat itu, sementara Novy menahan jijik dan rasa malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Novy sudah rata oleh sperma milik Eka.
Kemudian lima orang lainnya secara bergantian memperkosa Novy di vagina, anus maupun mulut Novy. Mereka juga meremas-remas payudara Novy dan mencubit serta menggigit puting susu Novy keras-keras. Kini wajah, payudara, perut, punggung, vagina dan pantat Novy sudah penuh oleh sperma. Bahkan kedua buah payudara Novy kini berwarna kemerahan karena digigit dan diremas secara kasar oleh teman-temannya. Di punggung Novy juga tercetak jalur-jalur merah akibat dicambuk Shanty tadi.
Walaupun telah diperkosa berkali-kali, namun rupanya Novy tidak mencapai orgasme sama sekali, karena dia berusaha menahannya. Melihat itu Shanty merasa kesal dan memaksa Novy untuk mencapai orgasme dengan cara bermasturbasi sendiri.
“Gila elo.., lagi diperkosa aja masih sombong nggak mau orgasme. Sekarang elo harus orgasme.., cepat masturbasi lagi sambil nyukur bulu elo tuh sampai bersih..!” perintah Shanty.
Shanty memberikan pisau cukur kepada Novy dan menyuruhnya untuk mencukur bulu kemaluannya sendiri sambil bermasturbasi. Novy tidak berani berbuat apa-apa kecuali menurut. Sambil menutup matanya, tangan kiri Novy mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil meratakan sperma yang ada di payudara dan perutnya. Sementara tangan kanannya mulai mencukur bulu kemaluannya pelan-pelan sampai habis. Novy tidak memerlukan shaving cream lagi, karena vaginanya sudah licin oleh sperma dan juga cairan vaginanya.
Setelah selesai mencukur bulu kemaluannya sampai habis, Novy mulai memasukkan gagang pisau cukur itu ke dalam vaginanya dan menggerak-gerakkannya keluar masuk perlahan-lahan. Vagina Novy terasa panas dan perih saat Novy menyentuhnya. Rupanya dengan bermasturbasi sendiri, Novy lebih terangsang, dan akhirnya lima menit kemudian tubuhnya tiba-tiba mengejang, kakinya menekuk dan dadanya membusung memperlihatkan kedua payudaranya mengacung tegak dengan puting susu yang mencuat keluar, menandakan bahwa Novy sudah sangat terangsang. Novy mengeluarkan erangan yang tertahan sambil tangan kanannya terus menggosok vaginannya, dan tangan kirinya menjepit puting susunya sendiri. Akhirnya Novy mengalami orgasme yang luar biasa. Tubuh Novy kaku merasakan kenikmatan luar biasa yang menjalar di seluruh tubuhnya, dan cairan vagina Novy mengalir keluar dengan derasnya. Novy tidak dapat menutupi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, sehingga dia pun mengeluarkan suara mendesah yang keras. Bahkan dia lupa bahwa dia kini sedang diperhatikan oleh banyak orang dan untuk saat itu dia juga lupa akan kesakitan yang diderita tubuhnya.
Belum pernah sebelumnya Novy mengalami orgasme sehebat itu, walaupun dia sering bermasturbasi di rumahnya. Ini karena sebelumnya dia belum pernah berhubungan badan, dan saat ini dia baru diperkosa beramai-ramai. Dan selama diperkosa itu, walaupun sebenarnya Novy merasa terangsang, Novy menahan orgasmenya sekuat tenaga dan akhirnya semua ditumpahkan saat dia bermasturbasi.
Setelah mengalami orgasme, Novy hanya terdiam kecapaian. Kesadarannya perlahan mulai kembali lagi dan rasa sakit kembali terasa di seluruh tubuhnya. Kedua kakinya tertekuk dan mengangkang lebar memperlihatkan vaginanya yang sudah licin mengkilat tanpa ada bulu kemaluannya sehelai pun sehabis dicukur. Di sekitar vagina Novy terlihat bercak-bercak merah darah perawan Novy dan juga sperma. Tangan kanannya menjulur ke samping dan tangan kirinya terlipat menutupi sebagian payudaranya. Tubuhnya licin dan mengkilat karena keringat yang membanjiri dan juga karena sperma yang diratakan ke seluruh tubuhnya. Novy masih menangis pelan karena sakit dan juga karena rasa malu yang menyerang dirinya. Namun Novy juga tidak dapat menutupi kenikmatan luar biasa yang baru saja dirasakannya. Novy tidak mampu bergerak lagi.
Namun melihat itu, nafsu teman-temannya kembali muncul dan mereka kembali maju bersamaan untuk memperkosa Novy lagi. Kali ini Novy tidak mampu berontak sama sekali, karena dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Dia hanya terdiam dan tubuhnya mengikuti saja gerakan pemerkosanya. Novy seperti boneka yang sedang dipermainkan beramai-ramai. Kedua belas temannya kembali memperkosa vagina dan anus Novy yang sudah terasa lebih longgar setelah dimasuki banyak penis berkali-kali. Mereka juga memaksa Novy untuk mengulum dan menjilati penis mereka, dan menelan semua sperma yang disemburkan ke dalam mulutnya. Bahkan Novy diperkosa oleh tiga orang sekaligus yang memasukkan penisnya ke mulut, vagina dan anus Novy secara bersamaan, sementara dua orang lainnya mempermainkan payudara Novy.
Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh teman-teman Novy terhadap tubuh Novy. Kali ini Novy tidak kuat lagi menahan orgasmenya, dan dia mengalami orgasme beberapa kali, namun tidak sehebat yang pertama. Setelah kedua belas orang temannya selesai memperkosa dirinya untuk kedua kalinya, Novy akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Novy telah diperkosa secara habis-habisan selama tiga jam lebih oleh dua belas orang temannya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Shanty.
Ketika Novy terbangun, dia menyadari bahwa dirinya terikat ke tiang listrik dalam keadaan berdiri di tempat parkir kampusnya yang terbuka. Saat itu keadaan masih gelap dan masih belum ada satupun orang maupun mobil yang datang. Kedua tangan Novy terikat ke belakang dan kedua kakinya juga terikat ke tiang listrik. Tubuhnya masih telanjang bulat tanpa selembar benang pun dan dia tidak dapat bergerak sama sekali. Ketika Novy mencoba berteriak, dia baru sadar bahwa mulutnya ditutupi oleh lakban, sehingga dia tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Vagina dan kedua puting susu Novy juga ditempeli oleh lakban. Di dadanya tergantung kertas yang bertuliskan Silakan Nikmati Tubuh Saya. GRATIS. Ttd : NOVY.
Novy membayangkan bagaimana malunya dirinya kalau nanti orang-orang datang dan melihat keadaan dirinya yang telanjang bulat dan belepotan darah serta sperma kering. Dia bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana kalau nanti orang yang datang membaca dan menuruti tulisan di kertas itu, kemudian memperkosa dirinya.
Tidak lama kemudian, dia melihat tujuh orang datang. Rupanya mereka satpam dan tukang parkir kampusnya. Novy berusaha minta tolong dan mereka akhirnya datang menghampirinya. Novy sedikit merasa lega, karena dia berpikir pasti mereka akan menolongnya. Namun ketakutan Novy menjadi kenyataan, karena bukannya bantuan yang diberikan, ketujuh orang itu malah ingin menikmati tubuh Novy di tempat parkir itu. Sebelumnya seorang satpam menarik lepas dengan paksa lakban di vagina, puting susu dan mulut Novy, membuat Novy kembali merasakan kesakitan. Kini vagina dan puting susu Novy kembali terbuka dan dapat dilihat oleh orang.
“Wah, inikan si Novy, cewek paling cantik di kampus. Ngapain dia telanjang-telanjang begini di tempat parkir..?” kata salah satu dari mereka.
Dan orang lainnya menyahut, “Gile.., bodinya seksi banget. Gimana kalo kita cicipin aja bodinya sekalian. Liat tuh.., memeknya bersih nggak ada bulunya.”
“Iya nih, kita perkosa aja yuk sekalian.. lagian dia yang minta diperkosa, liat aja tulisan di kertas itu.”
“Ayo cepet kita perkosa aja… Gue belum pernah ngerasain punyanya cewek kuliahan nih..!”
Novy hanya dapat menangis dan memohon, “Tolong Pak, lepaskan saya… jangan perkosa saya lagi, sudah cukup penderitaan saya…”
Namun mereka tidak peduli dengan rintihan Novy dan tetap melancarkan aksinya.
Mereka tertawa bahagia dan mulai membuka baju dan celananya masing-masing. Melihat itu Novy hanya dapat pasrah dan berharap mereka tidak menyakiti dirinya lagi. Tidak mungkin baginya untuk berteriak minta tolong, karena tidak ada orang sama sekali di sekitar situ. Kemudian mereka mengambil selang air dan menyemprot tubuh Novy dengan air dingin sambil menggosok-gosoknya untuk membersihkan tubuh dan wajah Novy dari darah dan sperma kering yang menempel di tubuhnya. Disemprot air dingin seperti itu, Novy terkejut dan menggigil kedinginan. Namun itu tidak lama, karena kemudian dua orang laki-laki segera melepaskan ikatan Novy, mengangkat tubuh Novy dan mendekapnya dari depan dan belakang. Novy kini terjepit di antara tubuh dua orang laki-laki. Mereka mulai memasukkan penis mereka ke dalam vagina dan anus Novy secara bersamaan. Novy diperkosa di vagina dan anusnya dalam posisi berdiri.
Sementara itu orang yang berada di depan Novy menciumi bibir Novy dengan paksa, dan orang yang berada di belakang Novy meremas-remas kedua payudara Novy dari belakang. Beberapa menit kemudian kedua orang itu mencapai klimaks dan menyemburkan spermanya di dalam vagina dan anus Novy. Orang yang memperkosa vagina Novy menyemburkan spermanya berkali-kali di dalam vagina Novy, sehingga Novy dapat merasakan bahwa kini vaginanya dibanjiri oleh sperma orang itu yang sangat banyak dan tidak dapat tertampung lagi di dalam vaginanya.
Setelah itu, Novy dipaksa berlutut dan harus berkeliling menjilati semua penis laki-laki yang berdiri mengelilinginya secara bergantian. Novy juga terpaksa menelan sperma semua laki-laki itu satu-persatu. Setelah menjilati semua penis laki-laki yang ada di situ, Novy kemudian diperkosa lagi di vagina dan juga anusnya. Salah seorang diantaranya memiliki penis yang sangat besar dan panjang, sehingga ketika dia memperkosa anus Novy, penisnya hanya dapat masuk setengahnya. Namun orang itu terus mendorong penisnya masuk ke dalam lubang anus Novy dengan paksa, membuat Novy meronta-ronta kesakitan.
Selain menyemburkan spermanya di dalam vagina dan anus Novy, mereka juga menyemburkan spermanya di tubuh Novy dan memaksa Novy untuk meratakannya dengan tangannya sendiri. Novy tidak pernah membayangkan bahkan dalam mimpi terburuknya, bahwa dirinya benar-benar dinikmati oleh banyak orang dalam semalam. Dan kali ini Novy tidak dapat lagi menahan orgasmenya. Dia mencapai orgasme sampai berkali-kali, mungkin karena satpam-satpam ini lebih berpengalaman dibandingkan teman-temannya yang memperkosanya sebelumnya.
Setelah ketujuh orang itu kebagian mencicipi vagina, anus dan juga mulut Novy, Novy kembali diikat di tiang listrik dalam posisi semula, dan kembali ditinggalkan seorang diri dalam keadaan telanjang bulat. Tubuh Novy kembali belepotan oleh sperma dan kulit tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Sperma dan cairan vagina Novy yang tercampur menjadi satu menetes keluar perlahan-lahan dari vagina dan lubang anus Novy. Dari mulut Novy juga mengalir keluar sperma yang tidak dapat ditelan lagi oleh Novy.
Novy hanya dapat menggigil kedinginan. Namun penderitaannya belum berakhir sampai di situ. Novykembali diperkosa secara bergantian oleh orang-orang yang lewat, satpam, tukang parkir, temannya, dan bahkan dua orang dosennya ikut memperkosanya. Vagina, anus dan mulutnya dimasuki oleh penis-penis lain, dan dia dipaksa menelan sperma mereka semua. Sebagian meratakan spermanya di seluruh tubuh Novy. Ada yang iseng mencoret-coret tubuh Novy dengan spidol permanen dengan gambar-gambar dan kata-kata jorok. Bahkan orang terakhir yang memperkosa Novy memasukkan ranting pohon sepanjang 25 cm ke dalam vagina dan anus Novy sampai berdarah-darah dan meninggalkannya di situ.
Novy tergeletak di tanah dengan tubuh dan wajah yang kembali berlumuran oleh darah serta sperma, dan ranting pohon yang menancap di anus dan vaginanya. Payudara dan vagina Novy terlihat memar dan berwarna kemerahan. Bulatan pantatnya juga terlihat memar dan kemerahan. Novy sudah tidak dapat merasakan lagi vagina dan lubang anusnya. Akhirnya Novy kembali pingsan karena kesakitan dan kecapaian.
Total Novy telah diperkosa oleh lebih dari 30 orang dalam semalam, sampai akhirnya dia ditolong pada jam 05:30 pagi oleh seorang dosen wanita yang melihat keadaan Novy yang menyedihkan. Saat ditanya siapa yang memperkosa dirinya, Novy tidak berani menjawab, karena teringat ancaman Shanty yang akan menyebarluaskan rekaman video Novy yang telanjang bulat sedang bermasturbasi dan diperkosa oleh banyak orang. Novy lebih memilih bungkam. Dan setelah kejadian itu, Novy tidak dapat bergerak sama sekali sampai berhari-hari, dan dia merasa bahwa penderitaannya masih akan terulang lagi di kemudian hari.

Lusi & Rini
Sebelum aku cerita, kenalkan dulu namaku Ben. Ceritaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Riri. Si Lusi cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Riri paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara.

Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Lusi, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah. “Lus! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar,” teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Lusi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. “Ben, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!” katanya dengan suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.

“Lus..! nich bukunya, kemarenan aku udah nyatet,” kataku.
Lusi tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku.
“Lus.. kamu bengong aja!” kataku pura-pura tidak tahu.
“Eh.. iya, Ben kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!” kata Lusi.
“Eeh… kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,” balas aku.
“Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,” ajakku berusaha mencari peluang.
“Bener nich, kamu kagak bilang?” katanya ragu.
“Suwer dech!” kataku sambil mengambilkan dia kursi.

Lusi mulai serius menonton tiap adegan, sedangkan aku serius untuk terus menatap tubuhnya.
“Lus, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?” tanyaku.
“Pernah, noh aku punya VCD-nya,” jawabnya.
Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga.
“Kalau ML?” tanyaku lagi.
“Belom,” katanya, “Tapi… kalo sendiri sich sering.”
Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si “Beni Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang.

Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang.
“Lus, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.
“Iya nic Ben, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya.
“Eh… ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.
“Kasihanilah si Beni kecil,” kataku.
“Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.
“Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing.

Dan ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium bibirnya. Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati setiap permainan lidahku. “Kau akan aku berikan pengalaman yang paling memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh.

Perlahan ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. “Kita ke dalam kamar yuk!” ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,” kataku, “Yang penting kau akan kupuaskan.” Tak kusangka ia berani menarik penisku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan menuju kamarnya. “Ben, kamu tiduran dech, kita pake ‘69′ mau tidak?” katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, aku mulai mencium-cium vaginanya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya.

Tak lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya. “Jangan hentikan Ben… Ach… percepat Ben, aku mau keluar nich! ach… ach… aachh… Ben… aku ke.. luar,” katanya berbarengan dengan menyemprotnya cairan kental dari vaginanya. Dan kemudian dia lemas dan tiduran di sebelahku.

“Lus, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,” pintaku.
“Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya.
Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya.
“Lus, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan.
Kelihatannya Lusi sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Lusi masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.

“Jangan Ben… entar aku hamil!” katanya tanpa berontak.
“Kamu udah mens belom?” tanyaku.
“Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya.
Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya,
“Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.”
“Ach… ach… ahh…! sakit Ben, a.. ach… ahh, pelan-pelan, aa… aach… aachh…!” katanya berteriak nikmat.
“Tenang aja cuma sebentar kok, Lus mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya.
Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.

“Ach… a… aa ach…” teriaknya.
“Sakit lagi Ben… a.. aa… ach…”
“Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.
“Ben,. ach pengen… ach.. a… keluar lagi Ben…” katanya.
“Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku.
“Cepetan Ben, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang.
“A… ach… aachh…! yach kan keluar.”
“Aku juga Say…” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya.

Kucabut penisku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak.
“Lus kamu enggak perawan yach,” tanyaku.
“Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.
“Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.”"Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.”
“Siapa sih yang bisa nolak ‘Beni Junior’,” katanya mesra.

Setelah saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan Lusi, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Lusi yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar Lusi atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak ada orang di rumah.

Kali ini kelihatannya Lusi lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan ini. Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja kemauanku.

Ternyata sampai malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV, dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang malah aku yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga aku sesak napas dan kemudian terbangun.

“Lusi! apa Ayah sudah tidur?” tanyaku melihat ternyata Lusi yang menindihiku dengan keadaan telanjang.
“kamu mulai nakal Ben, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya.
“Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku.
“kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan penisku.
“Aku emut yach.”
Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan.
“Lus jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Beni Junior’ dong!”
“Aku udah kepengen berat Ben!” katanya lagi.
“Mending seperti biasa, kita pake posisi ‘69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.
Aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah basah sambil tanganku memencet-mencet payudaranya yang semakin keras, terus kuhisap vaginanya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya.
“Aach… achh…” desahnya ketika kutemukan klitorisnya.
“Ben! kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achh.. ahh..”
“kamu juga makin pinter ngulum ‘Beni’ kecil,” kataku lagi.
“Ben, kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah.
“Cukup sekali aja nembaknya, taapi… sa.. ma.. ss.. sa… ma… maa ac… ach…” katanya sambil menikmati jilatanku.
“Tapi Ben aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a… aahh…” katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari vaginanya.

“Kayaknya kamu harus dua kali dech!” kataku sambil merubah posisi.
“Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,” katanya lagi.
“Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,” kataku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya.
“Siap-siap yach!”
“Ayo dech,” katanya.
“Ach… a… ahh…” desahnya ketika kumasukkan penisku.
“Pelan-pelan dong!”
“Inikan udah pelan Lus,” kataku sambil mulai bergoyang.
“Lus, kamu udah terangsang lagi belon?” tanyaku.
“Bentar lagi Ben,” katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk sambil menciumnya.

“Sambil bercumbu dong Ben!”
Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir.
“Lus kamu udah punya pacar belom?” tanyaku.”Aku udah tapi baru abis putus,” katanya sambil mendesah.
“Ben pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.”
“Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan.
“Ach.. be.. ner.. kok Ben, a.. aa… ach.. achh,” katanya terputus-putus.
“Tahan aja, atau kamu mau udahan?” kataku menggoda.
“Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak enak kalau udahan, achh… aa… ahh… aku percepat yach Ben,” katanya.

Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya.
“Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung.
“Achh… ach… bentar lagi nih.”
“Tahan Ben!” katanya sambil mengeluarkan penisku dari vaginanya dan kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya.
“Aku juga Ben, bantu aku cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke vaginanya.
Sambil penisku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan…
“Achh… a… achh… achh… ahh…” desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya.
“Aku juga Ben…” katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya.
“Ach… ah… aa.. ach…” desahnya.

“Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku.
Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan aku. Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Lusi tidak pulang bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak Riri, dan anehnya siang-siang begini Mbak Riri di rumah memakai kaos ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu.

“Siang Ben! baru pulang? Lusi mana?” tanyanya.
“Lusi lagi les, katanya bakal pulang sore,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?”
“Aku pulang tadi malem jam tigaan,” katanya.
“Ben, tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?”
Wah gawat sepertinya Mbak Riri dengar desahannya Lusi tadi malam.
“Ach tidak kok, cuma ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar.
“Ben!” panggilnya, “Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,” katanya dari kamarnya.
“Bentar!” kataku sambil berjalan menuju kamarnya, “Ada film apa Mbak?” tanyaku sesampai di kamarnya.
“Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi.
“Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku.
“Mbak, lagi nungguin kamu kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.”

“Loh inikan…?” kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai mencium bibirku.
“Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Lusi.”
Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain.
“Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok vaginanya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet payudaranya yang super besar.
“Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,” katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan vaginanya.
“Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.”Kamu kagak sabaran yach, Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?” katanya sambil membuka bajunya.

Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat.
“Tubuh Mbak bagus banget,” kataku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih mulus dan sekal.
Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang penisku, dan mengarahkan ke vaginanya sambil berdiri.
“Aku udah enggak tahan Ben,” katanya.
Kuhalangi penisku dengan tangan kananku lalu kumainkan vaginanya dengan tangan kiriku.
“Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.”
“Ach… kamu nakal Ben! pantes si Lusi mau,” katanya mesra.

“Ben…! Mbak…! lagi dimana kalian?” terdengar suara Lusi memanggil dari luar.
“Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi.
“Masuk aja Lus, kita lagi pesta nich,” kata Mbak Riri.
“Mbak! Entar kalau Lusi tau gimana?” tanyaku.
“Ben jangan panggil Mbak, panggil aja Riri,” katanya dan ketika itu aku melihat Lusi di pintu kamar sedang membuka baju.
“Rir, aku ikut yach!” pinta Lusi sambil memainkan vaginanya.
“Ben kamu kuat nggak?” tanya Riri.
“Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Lusi udah terangsang,” kataku.
“Lus cepet sinih emut ‘Beni Junior’,” ajakku.

Tanpa menolak Lusi langsung datang mengemut penisku.
“Mending kita tiduran, biar aku dapet vaginamu,” kataku pada Riri.
“Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi.
Riri meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap vagina Lusi yang sedang mengemut penisku.
“Lus, aku maenin vaginamu,” katanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Lusi ia langsung bermain di vaginanya.Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Riri menegangkan pahanya, dan… “Ach… a… aach… aku keluar…” katanya sambil menyemprotkan cairan di vaginanya.

“Sekarang ganti Lusi yach,” kataku.
Kemudian aku bangun dan mengarahkan penisku ke vaginanya dan masuk perlahan-lahan.
“Ach… aach…” desah Lusi.
“Kamu curang, Lusi kamu masukin, kok aku tidak?” katanya.
“Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Lusi keluar kamu aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,” kataku.
“Yang cepet dong goyangnya!” keluh Lusi.
Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga.
“Kak, ach… entar lagi gant… a… ach.. gantian yach, aku.. mau keluar ach… aa… a… ach…!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya.

“Ayo Ben tunggu apa lagi!” kata Riri sambil mengangkang mampersilakan penisku untuk mencoblosnya.
“Aku udah terangsang lagi.”
Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya.
“Gimana enak penisku ini?” tanyaku.
“Penis kamu kepanjangan,” katanya, “tapi enak!”.
“Kayaknya kau nggak lama lagi dech,” kataku.
“Sama, aku juga enggak lama lagi,” katanya, “Kita keluarin sama-sama yach!” terangnya.
“Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi.
“Ach… a… aach… di.. dalem… aja…” katanya tidak jelas karena sambil mendesah.
“Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja… aah… ach… bentar lagi…”
“Aku… keluar… ach… achh… ahh…” desahku sambil menembakkan spermaku.
“Ach… aach… aku… ach.. juga…” katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi penisku dalam vaginanya.

Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan.
“Ben aku mandi dulu yach, udah sore nich.”
“Aku juga ach,” kataku.
“Ben, Lus, lain kali lagi yach,” pinta Riri.
“Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!” kata Lusi.
“Kapan aja kalian mau aku siap,” kataku.
“Kalau gitu kalian jangan mandi dulu, kita main lagi yuk!” kata Riri mulai memegang penisku.

Akhirnya kami main lagi sampai malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon dan mengatakan bahwa mereka pulangnya besok pagi, jadi kami lebih bebas bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering bermain saat situasi seperti ini, kadang tengah malam hanya dengan Riri atau hanya Lusi. Oh bapak tiri, ternyata selain harta banyak, kamu juga punya dua anak yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup ini.