Sebaik Kak Zai keluar bilik air, Man menghampiri Kak Zai.

“Ni lap dengan towel ni makcik,” Man menghulurkan towel, matanya merenung cipap Kak Zai yang masih basah lepas dibasuh.

Sambil tertunduk tunduk, Kak Zai mengelap cipapnya dan berjalan masuk biliknya. Selang lima minit, Man tiba-tiba masuk ke bilik dan memeluk Kak Zai dari belakang, dan mendorong Kak Zai meniarap atas katil.

“Man apa lagi ni? Dah la… jangan buat makcik macam ni,” Kak Zai merayu.

Man membetulkan dirinya berada celah kangkang Kak Zai dan mendatangi Kak Zai dari belakang. Dia menarik pinggang Kak Zai agar kedua peha Kak Zai berada atas pehanya.

“Saya nak sekali lagi makcik,” kata Man bernafsu.

Dalam keadaan meniarap, dan peha terkangkang atas peha Man, Kak Zai merasa Man mula meletak batangnya ke lubang cipapnya.

“Aaaahhhh… makcik… aahhh…” Man mengerang sambil menolak masuk batangnya.

Dan Kak Zai tahu, dia akan kena balun sekali lagi, memang batang budak muda cepat tegang semula. Sekali lagi Kak Zai kena tujah cipapnya, kali ini dari belakang pula.

“Aduh Man… pelan sikit Man…. teruk makcik macam ni,” keluh Kak Zai.

“Aahhh makcik… sedapnya makcik,” Man mengerang sambil henjut laju.

Dia semakin rakus bila merasa Kak Zai melawan menggoyang punggung ke belakang bila Man menujah batangnya. Tak sampai lima minit Man merasa badan Kak Zai tersentap sentap.

“Aarkk… aarkkk… arrkhhh… Man… aarrkkk… arkkk….” Kak Zai macam orang tercekik. Badannya tiba-tiba longlai.

Man makin rakus bila terasa batangnya dibasahi air Kak Zai.

“Makcik… aargghhhhh… makcik… sedap makcik!’ erang Man bila terasa cipap Kak Zai mengemut-ngemut batangnya.

Kak Zai sudah macam bersujud atas tilam, punggungnya terlentik menonggeng menahan tujahan batang Man dalam cipapnya. Longlai badan Kak Zai kerana tadi dia sampai kemuncaknya. Kak Zai tak dapat menahan diri dari merasa sedapnya kena batang muda.

Walau suaminya masih menyetubuhinya, tapi agak jarang sejak akhir-akhir ini kerana mungkin Abang Sahak dah jemu. Kini batang muda sedang menujah cipapnya, batang yang lebih panjang, besar dan keras. Sehingga dia tak mampu menahan klimaksnya tadi.

Kini Man mula menguli tetek Kak Zai yang masih bert-shirt. Sungguh bernafsu Man membalun cipap Kak Zai. Seksi sungguh Man melihat Kak Zai yang bebrbogel pinggang ke bawah, masih bert-shirt ini menonggeng menahan cipapnya. Melihat cipap Kak Zai yang bercukur licin, Man tau Kak Zai menjaga cipapnya dengan elok untuk dinikmati suaminya.

“Sedapnya makcik… Man nak pancut dah ni… aaagghhhh… agghhh… makcik…aagghh…” Man mengerang kuat.

“Aahhh… ahhhh… Man…. aarrkk… arrkkkk…” Kak Zai sekali lagi macam teresak-esak, cipapnya mengemut-ngemut.

“Aaaarrkkkkkk… aarrkkk…” Kak Zai sampai lagi.

“Makcik… Man nak pancutt ni… aarrghhhh…” spontan mendengar erangan itu, Kak Zai menghulur tangan melalui celah kangkangnya dan memegang telur Man, dan Kak Zai mengurut-urut buah zakar muda itu.

“AAAGGHHHH… MAKCIK… AAGGHHH!’ Man menekan batang santak dalam cipap Kak Zai, dan kedua kalinya meMancut airmani dalam cipap tua Kak Zai.

Kedua-duanya tertiarap, termengah-mengah macam baru lepas berlari. Man meniarap atas belakang Kak Zai. Batangnya masih berdenyut terendam dalam lubang cipap kecik Kak Zai.

Kak Zai lembik macam pengsan, cipapnya terasa penuh diisi batang besar Man. Punggung Kak Zai sesekali bergerak-gerak bergesel ari-ari Man, geli rasa punggungnya yang putih itu terkena bulu Man itu. Cipapnya pula sesekali mengemut batang besar Man. Sambil meniarap ditindih itu,Kak Zai teringat juga kata-kata suaminya yang bimbangkan Kak Zai menumpang rumah budak lelaki.

Walau budak muda dan anggap macam anak, suaminya tahu badan Kak Zai boleh menaikkan nafsu sesiapa juga. Cuma Kak Zai saja tak sangka nafsu mereka sehingga ingin menyetubuhinya. Kak Zai sangka paling tidak pun mereka akan melancap saja bila geram melihat tubuhnya. Tapi kini cipap Kak Zai dah pun diterokai batang lain dari suaminya.


...bersambung...



(kredit KCS)

Pembaca situs Cerita 17 Tahun Keatas, berikut ini adalah kisah kehidupan dan pengalaman sex aku selanjutnya. Setelah 5 pengalamanku sebelumnya sudah aku tuangkan di dalam situs ini (Kisah bersama wanita sebaya, Mantan anak ibu kost, Liarnya wanita setangah baya 1-2, Ica anak seorang pejabat, Nikmatnya bercinta di kantor 1-2), mungkin berikut ini adalah kisah selanjutnya dari beberapa kejadian yang mewarnai kehidupan sex aku.


kenapa, semakin aku sering melakukan Making Love dengan seseorang, membuat kehidupan sex aku bersama istriku semakin romantis saja. Dan entah semua itu semakin bisa aku nikmati. Mungkin semua ini adalah dampak dari terlalu tingginya libidoku sehingga saat aku lagi mood, tidak jarang setelah siangnya atau sorenya aku melakukan dengan teman kencanku, malamnya aku ganti menservice istriku.

Aku selalu bersyukur mempunyai kelebihan dalam urusan bercinta. Ditambah pengetahuan sex aku yang aku dapatkan dari film BF, buku-buku sampai obrolan-obrolan dengan teman di kantor, membuat aku semakin bisa menyelami tentang apa itu sex. Sehingga aku benar-benar fasih dalam menerjemah apa yang aku dapat dari pengetahuan tentang sex. Itu terbukti dengan keluarnya banyak pujian dari para teman making love aku. Rata-rata mereka sangat puas saat bercinta denganku, dan mereka menemukan, merasakan dan menikmati sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan dalam masalah sex.
*****

Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang ibu rumah tangga, yang entah bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui nomor cellulerku.

Siang itu saat aku sedang menikmati masa istirahatku di kantin, tiba-tiba cellulerku berbunyi.

"Hallo, selamat siang Dandy" suara perempuan yang manja terdengar.

"Hallo juga, siapa ya ini?" tanyaku serius.

"Namaku Maya" kata perempuan tersebut mengenalkan diri.

"Maaf, Mbak Maya tahu nomor HP saya darimana?" tanyaku menyelidik.

"Oya, aku temannya Via dan dari dia aku dapat nomor kamu" jelasnya.

"Ooo, Mbak Via" kataku datar.

Aku mengingat kembali kisahku sebelumnya yang berjudul Kisah bersama Ibu Muda. Via seorang sekretaris yang juga ikut 'mewarnai' kehidupan sex aku.

"Gimana khabar Mbak Via?" tanyaku.

"Baik, dia titip salam kangen sama kamu" jelas Maya.

Sekitar 5 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang yang sudah kenal lama. Suara Maya yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisik dari wanita tersbut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Maya membuyarkan lamunanku.

"Hallo.. Dandy, kamu masih disitu?" tanya Maya.

"Iya.. iya Mbak.." kataku gugup.

"Hayo mikir siapa, lagi mikirin Via ya?" tanyanya menggodaku.

"Nggak kok, malahan mikirin Mbak Maya tuh" celetukku.

"Masa sih.. Jadi GR nih" dengan suara yang menggoda.

"Dandy, boleh kan kalau aku mau ketemu kamu?" tanya Maya.

"Boleh aja Mbak.. Dengan senang hati" jawabku semangat.

"Oke deh, kita mau ketemuan dimana?" tanyanya semangat.

"Terserah Mbak deh, Dandy ngikut aja" jawabku pasrah.

"Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di excelso di Tunjungan Plasa" katanya.

"Oke, sampai nanti Dandy.. Aku tunggu jan 18.00" sambil berkata demikian, HP nya langsung off.

Waktu menunjukkan pukul 16.30, tiba saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke Tunjungan Plaza. Sebelumnya aku prepare di kantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari aku membawa karena memang aku sering olahraga setelah jam kantor.

Tiba di TP, aku segera memarkir mobil starletku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku menunjukkan pukul 18 kurang seperempat. Aku segera menuju ke excellso seperti yang dikatakan Maya.

Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa melihat orang hilir mudik di area pertokoan terbesar di Surabaya ini. Saat mataku melihat situasi di sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya yang duduk sendirian. Menurut tebakan aku, wanita ini berumur sekitar 35 tahun ke atas. Wajahnya yang lumayan putih, membuat aku tertegun. Mataku yang mulai nakal, berusaha menjelajahi pemandangan yang sangat menggiurkan di depanku. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih di balik rok mininya, membuat semakin aku gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya aku jika orang tersebut adalah Maya yang menghubungi aku siang tadi.

Disaat aku membayangkan sosok di depan mataku, tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdegup kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku.

"Maaf, kamu Dandy ya?" tanyanya sambil menatapku.

"Iy.. iyaa.. Kamu Maya?" tanyaku balik sambil berdiri.

Jarinya yang lentik menyentuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesir ketika tangannya yang halus meremas tanganku dengan halus.

"Silahkan duduk May" kataku sambil menarik satu bangku di depanku.

"Terima kasih" kata Maya sambil tersenyum.

"Dari tadi anda duduk disitu kok tidak langsung kesini?" tanyaku.

"Aku tadi sempat ragu, apakah kamu memang Dandy" jelasnya.

"Aku tadi juga berpikir, apakah wanita yang cakep ini kamu?" kataku sambil senyum.

Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling canda, saling menggoda dan sesekali bicara yang 'nyerempet' ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah sempurna saja wajahnya yang semakin matan.

Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Maya adalah seorang wanita yang sedang tugas di Surabaya. Maya adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya.

"May, kamu kenal Via dimana?" tanyaku mnyelidik.

"Via adalah teman chattingku di YM, aku dan via sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga untuk kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun." mulut mungil Maya menjelaskan dengan penuh semangat.

"OOo, begitu.." kataku sambil manggut-manggut.

"Ini adalah hari pertamaku di Surabaya dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku selesai" jelasnya tanpa aku tanya.

"Sebenarny tadi Via juga mau dateng tetapi karena ada acara keluarga, mungkin besok baru bisa dateng" jelasnya kembali.

"Memang Mbak Maya nginap dimana?" tanyaku.

"Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E.." jelasnya.

"Mmm, emang Mbak sama sapa sih?" tanyaku menyelidik.

"Ya sendirilah, Dandy.. Makanya saat itu aku tanya Via" kata Maya.

"Tanya apa?" tanyaku mengejar.

"Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di Surabaya" kata Maya.

"Dan dari situlah aku tahu nomor celluler kamu" lanjutnya.

Tanpa terasa jam tanganku menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mau tutup.

"Dan.. Kamu mau anter aku balik ke hotel?" tanya Maya.

"Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Maya sendirian balik ke hotel" kataku.

Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa.

Aku dan Maya bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Maya menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika aku berjalan di belakangnya.

"Silahkan duduk Dan, aku mau mandi dulu" kata Maya sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang.

Mataku menyelidik, apakah benar Maya sendirian dalam kamar. Dan memang benar kelihatannya dia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak hanya beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang. Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Maya, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang molek.

"Dandy, aku minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak bisa dibuang" kata Maya sambil tetap berdiri di muka pintu kamar mandi.

Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika aku melewati tubuh Maya, mataku yang nakal sedikit mencuri pandang di belahan dada Maya yang terkesan menyembul keluar karena terhimpit ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, aku segera menuju bathup yang dimaksud oleh Maya.

Aku menggunakan tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup bathup yang memang rapat sekali. Aku berusaha membuka secepatnya karena pikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan akhirnya"sswaasshh.." suara air langsung keluar ketika karet penutupnya sudah terlepas.

"Oke May.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya" kataku sambil masih membelakangi tubuh Maya yang sedang berdiri di belakangku. Ketika aku membalikkan badanku, betapa kagetnya aku dengan pemandangan di depan mataku. Tubuh Maya tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang melekat di tubuhnya tadi.

"Ma-Maaff.. Aku mau keluar May" kataku gugup.

Maya tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan memeluk tubuhku, dan merangkul leherku dengan erat.

"Dan, Via sudah ceritakan kehebatan permainan sex kamu" aroma bau mulutnya yang segar, membuat jantungku semakin berdetak kencang.

"Mmm, anu Mbak.. Mungkin Via terlalu berlebihan" kataku.

"Berikan aku kenikmatan itu Dan.." sambil berkata demikian, bibir mungil Maya langsung mendarat di bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku.

Lidahku yang sudah mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran lidah Maya. Tanganku yang tadi hanya berdiam diri, sekarang aku beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang montok mendesak dadaku yang bidang. Sesekali tanganku mulai semakin berani menjelajahi pinggul Maya, pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak 35 tahun. Aku meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu membuat nafsu Maya semakin naik.

Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang jenjang menjadi sasaran empuk bibirku yang mulai menari-nari di atasnya.

"Ooohh.. Dandy.. Geelli.." desah Maya.

Serangan bibirku semakin menjadi di leher Maya, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku.

Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku semakin terbawa dalam aliran birahi yang meledak-ledak, bibir Maya yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku.

Jari jemarinya yang lentik, sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang aku kenakan.

Disaat aku mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang semakin liar, sepertinya tidak ingin menyisakan sedikitpun dada bidangku.

Darahku mendesir hebat hingga membuat aku terangsang hebat, ketika lidahnya menari di puntingku. Daerah yang paling sensitif di tubuhku, yang bisa menggugah nafsu birahiku secara sepontan.

"Ohh.. May.. Aaakh" aku merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku.

Maya benar-benar sudah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa aku sadari ketika aku sudah merasakan kaki sudah dingin. Ternyata Maya sudah melepas jeans yang aku pakai sebelumnya, sehingga sekarang aku hanya menganakan celana dalam saja.

Lidahnya semakin lama semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua pantatku sehingga aku benar-benar terangsang hebat.

Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan mudah menarik CD ku dari belakang.

"Gila.. Pantes Via puas, habis penismu gede seperti ini" kata Maya memuji.

Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu CD yang membatasinya akhirnya bisa lepas. Aku melihat kebawah dan melihat Maya yang sedang tertegun dengan besarnya penisku. Penisku berdiri tegak sekali dan sesaat kemudian.

"Mmm.. Srup.. Srupp" mulut Maya yang mungil mulai mengulum batang penisku.

"Aakhh.. May.. Nikmmaat.. Sekkalii" rintihku.

Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Maya, utnuk memudahkan bergerak maju mundur dan ketika penisku benar-benar terlean dalam mulut Maya, kenikmatan yang luar biasa aku rasakan ketika ujung penisku menthok pada dasar mulut Maya.

"Sss.. Maayy.. Uhh" aku mendesah kenikamatan.

Maya tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, wanita itu denagn buasnya mengulum, menjilat, mengocok dan mengoral batang kemaluanku.

Sampai aku tidak kuat berdiri.

Setelah Maya puas dengan aksinya, Maya bangkit dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah selangkangan aku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga tubuh Maya terduduk di kloset. Aku langsung jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesir hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan bibir vagina.
Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya.

"Sss.. Dandyy.. Nikmaat sekali.. Ughh" rintih Maya.

Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku di ujung clitorisnya. Gerak tubuh Maya yang terkadang berputa-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin berani menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya.

"Daanndy.. Gilaa banget lidah kamu.." rintih Maya.

"Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan.." pintanya.

Lidahku bergerak keluar masuk dalam lubang vaginanya, sesekali aku memancing clitorisnya untuk segera keluar dari persembunyiiannya.

Paha Maya dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilat, mengulum, dan sesekali menghisap dalam-dalam clitorisnya. Aku perhatikan Maya merem melek menikmati nakalnya lidahku dan sesekali aku perhatikanl, wanita tersebut mengigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejolak di hatinya.

"OOhh.. Dandy, aku nggak tahan.. Ugh.." rintihnya.

Semakin Maya merintih, mendesah dan mengerang, semakin membuat nafsuku bergejolak. Sampai aku rasakan beberapa cairan yang terasa asin, dan aku semakin bernafsu untuk menjilatinya.

"Danddy.. Danddyy.. Ooogghh.." Maya merintih panjang.

Dibarengi dengan tubuhnya yang kejang-kejang, dan terasa pahanya menggapit kepalaku dengan kencang. Jari nya yang lentik meremas rambutkuyang sedikti gondrong.

Maya terpejam sejenak menikmati lelehnya cairan yang meluber dari lubang vaginanya, lidahku tiada henti menerima luapan cairan bening yang wangi tersbut. Seakan-akan aku tidak peduli dengan orgasme yang didapat Maya pertama kalinya. Dan ketika aku rasakan cairan tersebut sudah bersih, aku membimbing tubuh Maya yang masih lemas. Aku mendekap tubuh Maya dari belakang, kami berdua menghadap cermin.

"Ohh.. Dandy.." Maya mendesah ketika lidahku mulai menyentuh bagian belakang telinganya. Tangannya menggapai leherku, dan tanganku sepontan meraih buah dadanya dari belakang. Dengan sentuhan yang sangat halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang. Jari telunjuk kananku bergerak menggesek clitoris Maya yang sduah mulai basah kemabli.

"Danddyy.." Maya kembali mendesah.

Peralahan aku mengangkat kaki kanan Maya dan aku sandarkan di wastafel kamar mandi. Sehingga Maya hanya berdiri dengan satu kaki saja, batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaan Maya dan sekali hentak.

"Bleesst.." kepala penisku mengoyak vagina Maya.

"Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kamu" Maya merintih.

Perlahan aku beregark maju mundur di lubang vagina Maya, sampai akhirnya aku merasakan cairan yang cukup di lubang vagina Maya. Sekali tekan "bless" seluruh batang kemaluanku masuk dalam lubang senggama Maya dan bersama dengan itu, tubuh Maya sedikit terangkat.

"Hekk.. Danndyy.. Nikmatt sekalii.. Oooh" Maya merintih kembali.

Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Maya menggelinjang hebat dan sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa di batang kemaluanku.

"Danddy.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh" pinta Maya.

Nampak jelas di cermin aku lihat wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang kemaluanku semakin menjadi. Aku merasakan sekali ujung penisku bergerak masuk sampai di ujung kemaluan Maya.

Wanita tersebut menggoyang kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Kedua tanganku meremas kedua bukit kembar Maya dan sesekali membantu pinggul Maya utnuk berputar-putar.

"Danddy.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh" tangan Maya bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke atas kebawah, kesmaping kiri kanan seperti orang yang lagi triping.

Beberapa saat kemudian Maya seperti orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Maya semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyak dinding vagina Maya.

"Danddy.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti.." Maya meminta.

Permainanku tersebut benar-benar memancing birahi Maya untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Maya benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar hebat.

"Danddyy.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang" rintih Maya.

Gerakan penisku seperti goyangan anisa bahar yang patah-patah, membuat birahi Maya semakin tak terkendali.

"Dann.. Ddy.. Aaammppunn" rintih Maya panjang.

Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Maya. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku.

"Creek.. Crek.. Crek.." suara penisku masih bergerak keluar masuk di lubang vagina Maya. Aku semakin tidak peduli dengan Maya yang sudah mendapatkan kedua orgasmenya, karena aku sendiri lagi berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Perlahan, aku turunkan kaki kanan Maya yang pada posisi pertama aku naikkan ke atas wastafel.

Posisi Maya, sekarang sedikit menungging dengan posisi berdiri. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang vagina Maya.

"Ohh.. Dandyy.. kamu.. memang.. ahli.." kata Maya sambil merintih.

Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Maya dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya.

"May.. vagina kamu memang asyik banget" pujiku.

"Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?" tanyaku.

Maya hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijat oleh vagina Maya dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku benar-benar bisa diterima Maya karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku.

Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.

"May.. Aku mau.. Keluuar.." kataku mendesah.

"Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus.." Maya merintih.

"Dandyy.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu.." pinta Maya.

"Iya May.. Ooogh.. Akakhh.." rintihku.

Gerakan maju mundur dibelakang tubuh Maya semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama.

"Danddy.. Aku.. Aku.. Nggaak kkuaat.. Aaakhh" rintih Maya.

"Aku juga May.. Oohh.. Maayy" aku merintih.

"crut.. Crut.. Crut.." spermaku muncrat membanjiri vagina Maya.

Karena begitu banyaknya spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Maya. Setelah beberapa saat kemudian maya membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku.

"Dandy ternyata Via memang benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa" kata Maya merintih.

"Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja" kataku merendah.

"Kamu luar biasa.." Maya tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu.

Tanpa terasa kami berdua sudah naik di dalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air di pancuran shower membuat tubuh Maya yang molek seperti bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, aku menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya Maya. Aku mnggosok-gosokkan sabun ke seluruh tubuh Maya, sesekali jariku yang nakal memilin punting Maya.

"Ughh.. Danddy.." Maya merintih dan bergetar saat aku permainkan puntingnya yang memerah.

Untuk yang kesekian kalinya, kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali Maya seorang wanita yang sedang butuh kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berdua memburu birahinya yang tidak pernah kenyang.

Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 wib, dimana aku harus segera balik kerumah karena celullerku berapa kali tadi berbunyi.

Aku meninggalkan Hotel E.. Sambil menikmati sisa-sisa kenimatan yang sudah di tinggalkan oleh permainan tadi.

Nama saya Hendra (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester 5 di salah satu universitas katolik swasta di bilangan Jakarta Selatan, dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar satu tahun lalu.

Di kampus saya, terdapat banyak sekali Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu wadah untuk menyalurkan bakat dan hobi seperti UKM sepakbola, UKM Voli, musik, dll. Salah satu UKM yang menarik perhatian saya adalah UKM Renang dan Selam. Hal ini bukanlah dikarenakan saya hobi ataupun jago dalam berenang, tetapi semata-mata karena faktor cewek-cewek yang tergabung dalam UKM ini.



Bukan merupakan rahasia di kampus bahwa salah satu UKM yang paling diminati oleh mahasiswi-mahasiswi adalah UKM renang, dan itu adalah merupakan satu-satunya alasan saya untuk bergabung dengan UKM ini.

Setelah bergabung dengan UKM ini (saat itu saya di semester 3) dan sebagai anggota baru, saya wajib mengikuti acara konsolidasi/perkenalan baik dengan senior-senior maupun dengan sesama anggota baru. Acara ini merupakan agenda tahunan UKM ini dan untuk kali ini, acara akan dilakukan di daerah Pantai Carita. Kebetulan pula saya ditunjuk sebagai anggota panitia bersama dengan sekitar 10 anggota-anggota baru lainnya (4 cowok dan 6 cewek).

Jum'at, Jam 10.42

"Hendra, Mesei nih..", bunyi suara di HP ku.
"Oh, Dew, napa nih?", tanyaku.
"Gue mo nanya, loe pasti nggak ikut berangkat buat acara survei lusa?"
"Hmm.. jadi sih, tapi pakai mobil siapa, soalnya mobil gue dipake bokap"
"Iya gue tau, makanya gue udah nanya si Bobo, dia bilang bisa kok pake mobilnya"
"Ya udah kalo gitu, tapi selain elo ama gue, sapa lagi yang ikutan?"
"Selain lu ama gue, yang ikut nanti Sani dan Vita, total 5 orang" jawab Mesei.

Mulutku rasanya ingin berteriak senang waktu mendengar jawaban Mesei, langsung terbayang olehku Sani dan Vita yang walaupun keduanya tidaklah begitu cantik, tapi dengan kulit putih bersih dan dada yang montok dan aduhai itu membuatku tidak sabar untuk menanti tibanya hari Minggu.

"Oke deh Mesei, beres kalau begitu, See you Sunday then.."
"Pokoknya lu jangan telat yah, berangkatnya dari kampus Jam 7 pagi. Daag..", katanya lagi menutup pembicaraan.

Minggu, Jam 7.20

"Gila lu, dasar tukang ngaret!", cerca Mesei dan Vita hampir bersamaan.
"Sorry.. sorry.. temanku yang cantik, gue nunggu bis lama banget tadi", jawabku membela diri.
"Ya udah deh, langsung cabut yuk!", ajak Bobo dari balik setir mobil Honda CRV hitamnya.
"Hendra loe ditengah aja yah, gue ama Sani mau di tepi aja, mau Vitat pemandangan alam", pinta Vita yang turun agar aku bisa masuk ke mobil.
"Siap komandan!", jawabku sambil masuk ke dalam mobil dan langsung kuhempaskan pantatku ke jok mobil di sebelah Sani yang duduk persis di belakang Bobo.
"Berangkat Pak!", seru Mesei dari sebelah Bobo di depan.
"Sialan loe, emang gue supir?"

Jam 8.25
"Wah..katanya mau Vitatin pemandangan, kok malah tidur sih?", tanyaku pada Sani.
"Habis lama banget sih belum nyampe-nyampe juga"
"Supirnya payah nih", Vita menimpali sambil tertawa.

Aku dan Sani ikut tertawa mendengar canda Vita. Diam-diam kuperhatikan Sani di sampingku. Baju ketat warna putihnya membuat dadanya yang montok tercetak dengan sangat jelas dan sepertinya hendak meronta keluar dari balik bajunya. Celana jeans nya yang hanya sepaha juga membuat aku menelan air liurku beberapa kali dan hanya bisa membayangkan betapa nikmatnya bila tanganku dapat membelai paha mulusnya itu.

Jam 9.52
"Akhirnya tiba juga..", teriak Bobo membangunkan seluruh penumpang mobil.
"Bangun.. bangun..!", teriakku sambil menepuk pundak Sani dan Vita yang dari tadi terlelap.

Jam 10.17
Setelah selesai membereskan urusan administrasi dengan pemilik villa untuk pemakaian villa selama 3 hari untuk Minggu depan, aku menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar villa. Tempat yang cukup indah dengan taman yang luas, kolam renang yang bersih dan area villa sendiri yang tertutup oleh pagar tinggi sehingga dapat menutupi pandangan dari luar.

"Eh, berenang yuk..!!", tiba-tiba terdengar suara Mesei.
"Sani dan Vita udah di kolam renang tuh", timpalnya lagi.
"Bobo mana?", tanyaku sambil melongok ke arah dalam.
"Wah.. si gendut itu mah langsung aja molor pas ngeVitat ranjang..", jawab Mesei sambil berlari kecil ke arah kolam renang yang terletak di belakang villa.

Segera saja aku mengganti pakaianku dengan celana renangku, dan dengan melilitkan handuk kecilku di pundak, aku segera saja menyusul cewek-cewek tersebuat ke kolam renang. Sesampaiku di kolam renang, kulihat Mesei dan Vita sedang berenang dengan asyiknya sementara Sani tiduran di kursi panjang di tepi kolam. Aku terkesiap melihat busana renang Sani dan Vita yang lebih tepat disebut bikini karena hanya terdiri dari sepotong BH dan celana dalam yang tipis dan mungil dan menyerupai g-string saja.

Aku segera saja duduk di kursi yang terletak di sebelah Sani, sementara Mesei dan Vita masih asyik berenang, aku manfaatkan kesempatan ini untuk menikmati indahnya tubuh Sani dari balik kacamata hitamku. Dari lirikkan mataku, aku dapat melihat dengan jelas dada montok yang menonjol dengan indahnya. BH kecil itu seperti tidak dapat menutupi seluruh daerah payudaranya sehingga dari tepi BH itu dapat kulihat dengan jelas dadanya yang putih dan membuat penisku berdiri di balik celanaku. segera saja kututupi dengan handuk kecil yang kubawa.

"Loe berdua ikutan gabung dong..! Airnya hangat nih..!", teriak Vita dari dalam kolam.

Tanpa kusangka Sani segera berdiri dan langsung saja meloncat ke dalam kolam renang.
Aku tak mau ketinggalan, dan dengan penisku yang masih berdiri dengan cuek aku juga segera meloncat ke dalam kolam.

"Main polo air yuk, 2 lawan 2 kan pas nih", seru Mesei yang tak tau dari mana sudah memegang bola plastik di tangannya.

"Ayuk.. gue pasangan ama Hendra deh!", timpal Vita dengan cepat.
"Deal..!", kata Sani dan Mesei hampir bersamaan.

Singkat kata, acara main polo air itu membuat tanganku beberapa kali entah dengan sengaja ataupun tidak menyentuh dada, badan, maupun paha cewek-cewek itu ketika berebut bola dalam air. Penisku yang tegang itu juga beberapa kali bersentuhan bahkan kadang-kadang berhimpitan dengan badan mereka sewaktu saling berebut bola maupun ketika aku 'dikeroyok' oleh mereka.

Kira-kira setengah jam kemudian, permainan pun berakhir karena kami semua capek, dan hanya duduk-duduk saja di pinggir kolam renang. Bikini yang basah membuat lekukan tubuh mereka terpampang dengan jelas di depan mataku. Terutama Sani dan Vita yang lebih 'berani' dalam memakai bikini yang tipis dan kecil dibanding Mesei yang memakai baju renang yang standar.

Mataku seperti tak mau lepas dari dada Sani dan Vita yang sangat montok itu, entah sadar ataupun tidak bahwa puting susu mereka tercetak dengan jelas pula. Mataku bergantian menyusuri dada mereka satu persatu, kemudian turun ke daerah selangkangan mereka dimana dapat pula kulihat belahan vagina Sani dari balik g-string nya yang tipis itu. Penisku seperti hendak bersorak kegirangan menyaksikan pemandangan indah itu.

Cewek-cewek ini sangat 'berani' mempertunjukkan tubuh mereka di depan laki-laki sepertiku, bahkan beberapa kali Vita berjalan mondar-mandir di depanku yang duduk untuk sekedar mengambil lotion ataupun handuk yang diletakkan di sampingku. Dari posisi dudukku yang tepat di hadapan Vita yang sedang berdiri, sangat jelas pula pantatnya yang besar itu seperti menantikan penisku untuk dapat 'masuk' dan menari-nari di dalamnya. Benar-benar merupakan penderitaan bagiku karena penisku yang tegak berdiri terus rasanya seperti terjepit dalam celana renangku yang ketat.

Jam 11.13
"Udahan ah.. tempat bilasnya dimana sih?", tanya Sani sambil bangkit berdiri.
"Right behind you dear..", jawab Mesei sambil menunjuk ke arah belakangku.
"Ikutan dong..", timpal Vita pula sambil langsung berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Mesei.
"Lu nggak mau ikutan Hendra?", tanya Mesei kepadaku.
"Kamar mandinya ada dua kok.", tambahnya.

Aku tersenyum kepadanya dan tanpa menjawabnya lagi, aku segera bangkit berdiri dan berjalan ke ruang bilas menyusul cewek-cewek tersebut.

"Wah.. tempatnya cuma ada dua Hendra, ya udah deh.. gue joinan ama Vita aja deh..", kata Sani kepadaku ketika melihatku masuk.

"Ya udah..", sambil ngeloyor masuk ke ruang ganti yang terletak persis di sebelah ruang yang dipakai Vita dan Sani.

Ruang ganti itu sendiri merupakan tempat yang dibuat ala kadarnya mengingat dinding pambatasnya yang hanya dari triplek tipis bahkan di beberapa bagiannya sudah berlovbang kecil. Mungkin karena rayap yang menggerogotinya.

Instingku sebagai laki-laki segera menuntun mataku untuk mengintip dari balik lubang kecil itu. Setelah menyesuaikan dengan arah pandangan yang terbatas, penisku kembali tegang ketika mataku mendapatkan sesosok tubuh yang kini tanpa ditutupi oleh BH lagi. Aku tidak dapat mengenali apakah itu Sani ataupun dada Vita karena sama-sama besar dan montok. Apa yang aku tau adalah sepasang payudara yang bergoyang dengan indahnya ke kiri dan ke kanan ketika digosok oleh tangan yang menyabuninya.

Tanganku segera saja melepaskan celana renangku dan penisku yang sedari tadi telah menegang dengan hebat segera menyembul bebas. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menggenggam batangan itu dengan tangan kiriku dan mengocoknya dengan pelan sambil tetap mengikuti gerakan payudara yang sesekali bergantung dengan indahnya ketika pemiliknya membungkuk untuk mengambil sesuatu. Pentil susu coklat muda yang lumayan besar itupun membuat kocokanku pada penis semakin kuat.Apalagi ketika jari-jari mungil itu memilin dan menarik dengan pelan puting-puting itu, semakin membuat jantungku berdebar dengan kencang dan bergantian tangan kiri dan kananku menjalankan tugas mengocok penisku.
"Loe ngapain sih mencet-mencet puting sendiri?", suara Vita yang bertanya ke Sani hampir saja membuat jantungku copot karena kaget. Sekarang aku tahu bahwa susu yang mataku nikmati dari tadi adalah kepunyaan Sani.

"Iseng doang..", jawab Sani dengan nada suara yang cuek.
"Gila lu.. ntar malah terangsang lagi..", sahut Vita sambil tertawa.
"Kalo itu sih dari tadi juga udah. Vitat aja nih udah mengeras begini.."

Suara tawa segera pecah dalam ruang ganti itu. Sementara itu fantasiku semakin jauh mendengar kata-kata Sani barusan. Mataku yang masih mendapati puting-puting yang dipencet, dipilin memutar dan di tarik-tarik dengan pelan itu semakin membuat gemuruh nafasku kian memburu dan tak beraturan.

KupeJamkan mataku sambil membayangkan rasanya kalau saja penisku menerobos ke dalam vagina Sani sambil tanganku meremas-remas susu montok itu.Kubayangkan pula lidahku yang menari-nari di puting susunya.. menjilati tubuhnya yang putih dan mulus.. memagut bibirnya sambil terus menggoyangkan penisku di selangkangannya.

Imajinasiku pun berjalan terus bahkan sepertinya dapat kudengar suara erangannya ketika dia duduk diatas perutku dalam keadaan penisku masih tertancap dalam vaginanya. Kubayangkan goyangan pinggulnya yang melawan hentakan penisku yang naik turun dalam vaginanya yang rapat itu.

Kocokan yang semakin hebat oleh tangan kananku membuat penisku yang telah memerah itu akhirnya tak tahan lagi dan dengan derasnya kutembakkan spermaku ke dinding ruang bilas itu. Sekitar 5-6 tembakan lahar panas yang kumuntahkan membuatku terkulai lemas dan hanya dapat menyandarkan kepalaku ke dinding sambil tetap mengintip lewat lubang kecil itu.

Payudara mulus Sani beserta puting susunya yang telah selesai dibilas dari sabun serta canda tawa Vita dan Sani yang masih berlangsung membuat jantungku yang berdegub kencang apalagi setelah ejakulasi barusan.. pelan-pelan aku berdiri dan kemudian membilas tubuh serta 'pistolku' yang kini terkulai lemas..

Dalam hati aku tetap berharap suatu saat nanti aku semua imajinasi dan fantasiku tentang Sani dapat terwujud.
"Yah.. kalau nggak dapet Sani.. Vita juga nggak apa-apa..", pikirku dalam hati.

"Hendra.. lama banget sih.. gantian dong", teriak Mesei dari luar membuatku segera tersadar dari lamunanku dan cepat-cepat membilas tubuhku dan keluar dari ruang bilas itu.

Mimik heran dari Mesei ketika melihatku keluar dari ruang bilas dengan muka lemas tidak aku pedulikan dan sambil berjalan menuju ke villa kembali pikiranku melayang-layang dan membayangkan susu dan puting Sani tadi.
Aku tersenyum sendiri dan tetap akan berpegang teguh pada pandanganku bahwa selama cewek itu mempunyai dada besar dan montok, maka dapat dipastikan aku akan selalu berfantasi tentang dia sewaktu onani. Dimanapun dan kapanpun karena memang seleraku adalah wanita-wanita yang 'tege' (tetek gede) seperti mereka berdua..

*****

Demikianlah sekilas tentang pengalaman saya, dan apabila ada kesempatan lain, saya akan kembali mengirimkan cerita ke situs ini.Walaupun mungkin lain kali bukan merupakan pengalaman nyata seperti kisah ini.

Sebenarnya saya malu untuk menuliskan cerita ini, tetapi karena sudah banyak yang menggunakan media ini untuk menuliskan cerita-cerita tentang seks walaupun saya sendiri tidak yakin apakah itu semuanya fakta atau fiksi belaka. Memang cerita yang saya tulis ini cukup memalukan tetapi di samping itu ada kejadian yang lucu dan memang sama sekali belum pernah saya alami.

Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota-maaf, nama daerah tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya. Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan.



Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja.

Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain. Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya.

Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 30 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan.

Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua. Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, "Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?" (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku.
"Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa.. Aah benar-benar, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya."
"Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasalah, Jeng."
"Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal."
"Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ."
"Lho, mbok ya bilang saja sama suaminya. ee.. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya kan masih sama-sama muda."
"Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua saja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik saja sama kerjaannya. Terlalu sering capek."
"O, itu toh. Ya, mbok diberi tahu saja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. 'Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu."
"Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo' saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau dong masalah suami-istri 'kan."
"Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?"
"Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo' bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung saja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini 'kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng."
"O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu."
"Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo' lagi mau, yang langsung saja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo' Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng."
"Kalo' saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo' suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalau misalnya saya yang mau duluan.""Terus apa cuma gitu saja, Jeng."
"O, ya tidak. Kalo' saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep."
"ii.. Iih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya saja membayangkannya juga sudah geli. Hii.."
"Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya nikmat juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo' lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo' ngeliat, wah pasti kepengen, deh."
"Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo' suaminya duluan yang mulai begimana?"
"Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu.", kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa.
"Habis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, nikmat juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan. Dia juga pernah bilang sama saya kalo' punya saya itu semakin nikmat dan saya disuruh meliara baik-baik."
"Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng."
"Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan saja, toh."
"Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok."
"Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo' belum pernah merasakan sendiri." Lalu kami berdua tertawa.

Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, "Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?"
"Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin nikmat juga ya." Ucapnya sambil tersenyum.
"Apa perlu saya dulu yang coba?", tanyaku sambil bercanda dan tersenyum.
"Hush!! Jeng Mar ini ada-ada saja, ah", sambil tertawa.
"Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita 'kan juga sama-sama wanita."
"Wah, kayak lesbian saja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu' akh.", sambil tertawa.
"Atau kalo' nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni."
"Ah, Jeng ini."
"Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulu-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang merangsang. Kalo' boleh saya lihat sebentar gimana?"
"Wah, ya, gimana ya. Tapii.. ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, 'kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita.""Ya, 'kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi.""Kalo' gitu kita ke kamar saja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng."

Langsung kita berdua ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa. Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Soni dan suaminya dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yang menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja.

Setelah kita berdua di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku, "Bagaimana Jeng? Kira-kira siap?"
"Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang bulat saja?"
"OK, deh.", jawab Bu Soni dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita berdua mulai melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu kemaluan Bu Soni cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti miliku yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, "Lumayan juga, lho, Bu." Lalu Bu Soni pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, "Sama juga seperti punya Jeng." Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi.

Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi lumayan nikmat juga. Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. "Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga?""Silakan saja.", ijinku. Lalu Bu Soni pun melakukannya dan tampak sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal seks, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi.

Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di atas tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk melihat liang kewanitaannya lebih jelas, "Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut." Dengan agak malu Bu Soni membolehkan, "Yaa.. silakan saja, deh, Jeng." Aku menyuruh dia, "Rebahin saja badannya terus tolong kangkangin kakinya yang lebar." Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging kemaluannya yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah agak keluar dikelilingi oleh bulu yang cukup lebat dan keriting. mm.. Cukup merangsang juga penampilannya.

Kudekatkan wajahku ke liang kewanitaannya lalu kukatakan kepada Bu Soni bahwa bentuk kemaluannya sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila bulunya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti milikku. Lalu kusentuh-sentuh daging kemaluannya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia agak kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan alat kelaminnya dan dia mengeluh lirih, "Aduh, geli, lho, Jeng."
"Apa lagi kalo' dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba?"
"Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih."
"Makanya dicoba.", kataku sambil kuelus salah satu pahanya.
"mm.. Ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata saja, ah."

Lalu kucium bibir kemaluannya sekali, chuph!! "aa.. Aah.", Bu Soni mengerang dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, "Kenapa? Sakit, ya?" Dia menjawab, "Geli sekali." "Saya teruskan, ya?" Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Kuciumi lagi bibir kemaluannya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir kemaluannya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan memeknya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Soni, memekmu nikmaa..aat sekali.

Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati liang kewanitaan Bu Soni. Emm.., Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir kemaluannya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku. Tapi aku tak peduli, yang penting rasa kemaluan Bu Soni semakin lezat apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan kemaluannya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya. Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih, "aa.. Ah, ee.. Eekh, ee.. Eekh, Jee.. Eeng, auw, oo.. Ooh. Emm.. Mmh. Hah, hah, hah,.. Hah." Dan saat mencapai klimaks dia merintih, "aa.., aa.., aa.., aa.., aah", Cairan kewanitaannya keluar agak banyak dan deras. OK, nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya.

Tampak Bu Soni telentang lemas dan aku tanya, "Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?" "Lumayan nikmat, Jeng. Situ nggak jijik, ya."
"Kan sudah biasa juga sama suami." Kemudian aku bertanya sembari bercanda, "Situ mau coba punya saya juga?"
"Ah, Jeng ini. Jijik 'kan.", sembari ketawa.
"Yaa.. Mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. 'Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya." Kemudian Bu Soni agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu, "Boleh, deh, Jeng. Tapi saya pelan-pelan saja, ah. Nggak berani lama-lama."
"Ya, ndak apa-apa. 'Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?" tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung kukangkangkan kedua kakiku agar terlihat liang kewanitaanku yang masih indah bentuknya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan wajahnya ke liang kewanitaanku lalu berkata, "Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemas dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah." Aku hanya tertawa.

Tak lama kemudian aku rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh kemaluanku. Kepalaku aku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke liang kewanitaanku. Kuberi dia semangat, "Terus, terus, Bu. Saya merasa nikmat, kok". Dia hanya memandangku dan tersenyum. Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati liang kewanitaan saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emm.. Mmh. Bu Soni sudah mulai berani. oo.. Ooh nikmat sekali. Sedaa.. Aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, aku angkat kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti.

Lama-kelamaan semakin nikmat. Aku merintih nikmat, "Emm.. Mmh. Ouw. aa.. Aah, aa.. Aah. uu.. uuh. te.. te.. Rus teruu..uus." Bibir kemaluanku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa dia menciumi kemaluanku dengan bernafsu. Emm.. Mmh, enaknya. Untuk lebih nikmat Bu Soni kusuruh, "Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu." Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati liang kewanitaanku. Gerakan ke atas ke bawah melingkar ke seluruh liang kewanitaanku. Seolah-olah dia sudah mulai terlatih.

Kemudian aku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam liang kewanitaanku. Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir kemaluan saya. "Aaa.. Aakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku mulai naik dan terasa lubang kemaluanku semakin hangat, mungkin lendir kemaluanku sudah banyak yang keluar. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, "aa.. Aah, uuh". Sialan Bu Soni tampaknya masih asyik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, "Gimana, Jeng?" Aku berkata lirih sambil senyum kepadanya, "Jempolan. Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter." Dia hanya tersenyum.
Aku tanya kembali, "Bagaimana? Situ masih jijik nggak?"
"Sedikit, kok.", jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli.
"Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya."
"oo.., ya, ndak, toh, Jeng. Saya 'kan juga malu. Nanti semua orang tahu bagaimana?""Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik."
"Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo' kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?"
"Naa.., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo' situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya 'kan cuma kasih contoh saja.", jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum.

Kemudian aku cepat-cepat berpakaian karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan berprasangka yang tidak-tidak. Waktu aku pamit, Bu Soni masih dalam keadaan telanjang bulat berdiri di depan kaca menyisir rambut. Untung kejadian ini tak pernah sampai terbuka sampai aku tulis cerita yang aneh dan lucu ini. Soal bagaimana kemesraan Bu Soni dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi yang penting kelezatan liang kewanitaan Bu Soni sudah pernah aku rasakan.

Aku masih lagi bersekolah dan tinggal di rumah kakakku. Suaminya seorang tentera dan kakakku seorang jururawat yang selalu kerja shift pagi.
Aku pula bukanlah dara lagi kerja sudah selalu bersetubuh dengan kekasihku.

Pada suatu hari aku telah berpisah dengan kekasihku dan sudah hampir seminggu pukiku tidak diamput. Lubang pukiku sudah melolong-lolong minta disetubuhi. Hinggalah suatu hari aku mendapat idea untuk
menggoda abang iparku. Kakak seperti biasa balik pagi kerja dari malam hingga pagi. aku sengaja memakai baju tidur yang nipis tanpa bra
dan lalu di depan abang iparku yang sedang menonton TV. Aku rasa matanya terbeliak melihat aku tapi aku buat-buat tidak tahu saja.
Aku senggaja tidur lewat malam itu setelah semua anak buahku tidur. Tiba-tiba ketika aku sedang berada di dapur untuk membuat minuman, abang iparku datang dan meramas buah dadaku.

Aku pura-pura meronta dan mengatakan "jangan bang.." tapi abang ipar terus menyelak baju tidurku dari atas bahu dan menghisap puting susuku.
aku masih lagi berpura-pura menolak dan lari ke ruang tamu.
Abang iparku terus mengejar dan memeluk dan mengangkat aku ke atas meja makan. Dengan ganas dia terus menyelak baju tidurku dari bawah dan membuka seluar dalamku.
Dengan ganasnya dia membilak pukiku dengan tangannya dan menjilat lubang pukiku. Aku yang memang menunggu untuk dijilat lubang puki kerana inilah acara yang paling sedap
kalau aku di amput. Dia pun mengatakan" sedapnya lubang puki mu sayang" Aku yang tengah kesedapan terus membangkangkan pukiku seluas-luasnya dan lidahnya semakin ganas sambil dia
menghirup air-air yang keluar dari lubang pukiku. Lepas itu dia bangun dan menghisap puting susuku. Dia katakan susuku keras dan besar. Aku yang sudah tidak tahan menunggu di amput terus
merenggek-rengek "Abang lekaslah amput lubangku" Dengan sekali sentap sarungnya kerana dia tidak memakai seluar dalam, batangnyg yang besar dan keras terus menerja ke dalam pukiku yang menganga
dengan luasnya. "ABang, sedapnya butumu bang...amputlah lubang pukiku ini bang" meja makan itu berbunyi-bunyi tapi kami tidak peduli kerana anak-anaknya masih kecil lagi. Dia turunkan aku ke lantai dan
mengamput lagi dengan ganasnya. Dia katakan pukiku sungguh sedap dan lazat.
Dia terbalikkan aku dan mengamput aku seperti anjing. malam itu saja aku di amput hampir 10 kali. Abang iparku ini ganas dan kuat nafsu.
Kadang-kadang tengahari aku ponteng sekolah dan dia akan pulang untuk mengamputku. lain lagi dalam kereta, hampir runtuh kereta dibuatnya. Lubang puki sudah luas lubangnya kerna di kerjakan setiap malam.
"Abang..pukiku ini dah luas lubangnya abang asyik kerjakan" Dia ketika itu tengah mengerjakan lubangku dengan batang butunya hanya berkata "Lubang pukimu hanya untuk santapan batang butuku sayang"
Hari ini aku masih lagi tinggal bersama kakakku dan lubangku masih lagi ghairah dengan batang abang iparku.