Showing posts with label cerita setengah baya. Show all posts
Showing posts with label cerita setengah baya. Show all posts

Aku Andy. Beberapa waktu lalu aku pernah bercerita tentang nenek Elsa yang cantik (istri dari adik kakekku). Setelah membuat affair dengan nenekku, aku juga merasakan kenikmatan adik dan sepupu nenek. Salah satunya dengan Tante Wine, usianya 38 tahun. Sekarang aku mau berbagi cerita nyata tentang affairku dengan Tante Wine ini.



*****

Sejak tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal duit. Sampai suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado, namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi agak kolot gitu. Tapi pas pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah desa dari Tante Wine. Raut muka yang cantik (nggak berbeda jauh dengan nenek Elsa) dengan postur yang semampai lagipula putih bersih membuat orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah wanita desa. Satu-satunya yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa adalah logat bahasanya yang bener-bener medok.

Akupun langsung akrab dengan Tante Wine karena orangnya lucu dan suka humor. Bahkan aku sering ngeledek karena dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya keliatan agak Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing, lebih langsing dari nenek Elsa, dan yang bikin pikiran kacau adalah buah dadanya yang lumayan gede. Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar untuk menyembul dari balik daster.

Pikiran kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah Tante Wine haus sex seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya. Pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan nenekku, (dan banyak wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.

Dirumah, nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku perlakukan Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi dengan kakek ke Surabaya selama dua hari. Sehari sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket rumah, biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti. Aku mengiyakan, aku bersusaha meyakinkan.

Setelah nenek dan kakek berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku, Tante Wine dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Bebeapa kali aku menggoda Tante Wine dengan cerita-cerita menjuurus porno tapi Tante nggak bergeming. Saking nggak tahan nafsu ingin menyetubuhi Tante Wine, malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang kamar mandi aku meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi.

Hari mulai malam ketika Tante Wine masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang dan mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi. Perlahan kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah jambunya dan menggantungkan di gantungan. Ups! Ternyata Tante Wine tidak memakai apa-apa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Wine membasuk wajahnya. Sejenak dia bengong dan tiba-tiba tangannya mengelus-elus lehernya, lama. Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat adegan sensual didalam kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal tubuhnya yang indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Wine bergetar dan dengan mata mengatup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan melemas. Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happy-ku juga sudah menggeliat-geliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan spermaku terbang jauh melayang.

Dalam beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka mata, wajah cantik Tante Wine sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih. Belum sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Wine memanggilku lirih.
"Andy, nggak baik mengintip," kata tante Wine.
"Ma ma maafin," jawabku gagap.
"Nggak apa-apa, dari pada disitu mendingan..," kata Tante Wine lagi sambil tangannya melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.
Aku paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah stand by di depan pintu kamar mandi. Smataku sedikit melongok sekeliling takut ketahuan pembantu. Hampir bersamaan pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat Tante Wine melilitkan handuk ditubuhnya. Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat, putih dan sangat menggairahkan.

"Kamu pake ngitip aku segala," ujar Tante Wine.
"Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku di tampar, hahaha," balasku.
Tante Wine memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan busanya dia mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas dari sapuan lidah dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Wine tuh orang desa. Ternyata keahlian nge-sex itu tak memandang desa atau kota ya.

Sekali sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari jangkauan kini bener-bener dekat, bahkat menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri kemudian Tante Wine membungkuk dan melahap Mr. happy yang sudah tegak kembali. Lama aku dihisapnya, nikat sekali rasanya. Tante Wine lebih rakus dari nenek Elsa. Atau mungkin disinilah letak 'kampungan'nya, liar dan buas. Bebrapa detik kemudian setelah puas mengisapku, tante Wine mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku. Kutau maksudnya. Segera kusibakkan rambut indah diselangkangannya dan bibir merah labia mayora menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Wine menggelepar. Erangan demi erangan keluar dari mulut Tante Wine.

"Andi kamu hebat, pantesan si Elsa puas selalu," cerocos Tante Wine.
"Emangnya Tante Wine tau?" jawabku disela aktifitas menjilat.
"Ya nenekmu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia wanti-wanti jangan menggodaku, dia cemburu tuh," balas Tante Wine.
Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap jengkal kulit putih mulus Tante Wine.
"Sedari awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan kusengaja aja tadi pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku belum keluar tadi, heheh kamu tertipu ya, tapi Ndy, sekarang masukin yuk, aku bener-bener nggak tahan mau keluar," kata Tante Wine lagi.
Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.

Masih dalam posisi jongkok di bibir bak mandi, kuarahkan Mr. happy ke vaginanya. Tante Wine mengerang dan merem melek setiap kuenjot dengan batang kemaluanku yang sudah besar dan memerah. Lama kami bertarung dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi dua-duanya berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet. Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke vaginanya. Dengan posisi ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga kuenjot keluar masuk. Kami berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep aktif keluar masuk.

Puas dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style. Sambil membungkuk, tante Wine menopangkan tangan di bak mandi dan dari belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya karena batang Mr. Happy seakan dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk tepuk pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Wine mendesis-desis seperti kepedesan. Lama kami mengeksplorasi gaya ini.

Dalam beberapa menit kemudian Tante Wine memintaku untuk tiduran di lantai kamar mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak bener-bener tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara kakiku selonjoran. Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy, sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah membengkak. Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Wine sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya menguat.

Lama kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan kumainkan pentil buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak tiba-tiba raut mukanya berubah rona.
Dia meringis, mengerang dan berteriak.
"Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya," erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.
"Ohh," ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.

Dalam hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih dalam posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa mencabut mr happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kuenjot lagi. Dia mengerang lagi mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Wine memang dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan irama seperti itu, kini giliranku mau sampai.
"Tante aku mau keluarin ya", kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.
"Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh".
Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun mandi bersama.

Selesai mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau. Kubiarkan Tante Wine yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul kemudian. Namun bukannya kami kekamar masing-masing, Tante Wine langsung menysul ke kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan babak babak berikutnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu membara. Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar bersama. Aku sendiri heran kenapa aku bisa orgasme sebanyak itu. Walaupun di ronde-ronde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi rasa puas karena multi orgasme tetap jadi sensasi.

Selama 2 hari nenek Elsa di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan Tante Wine. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Wine tinggal dirumah nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-kucingan bermain cinta. Aku harus melayani nenek Elsa dan juga bermain cinta dengan Tante Wine. Semua pengalaman itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani dua wanita STW yang dua-duanya punya nafsu tinggi karena aku juga menikmatinya.

TAMAT

Pertama kenalkan nama saya Sebastian (nama samaran), saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di ibukota Jawa Tengah. Usia saya 27 tahun dan belum menikah. Sejak membaca artikel yang ada di situs 17tahun2.com, saya tertarik untuk membagi pengalaman saya dengan pembaca yang lain.

Tentang wanita yang saya sukai, saya lebih menyukai orang Indonesia asli dan bahkan saya sering mengamati pembantu-pembantu yang ada di sekitar rumah saya tinggal dan juga wanita-wanita yang usianya lebih tua dari saya.



Kisah ini berawal 6 atau 7 bulan yang lalu, saat itu saya bermaksud menjemput pacar saya di rumahnya, namun sesampainya di rumahnya ternyata kosong, hanya ada pembantu bernama S yang ada di rumah. S yang berusia jauh lebih tua dari saya ini bertubuh kecil, hitam, berparas cantik dan mempunyai bentuk payudara yang menarik (walaupun kecil tapi bentuknya tegak ke depan).

Saat itu saya menunggu pacar saya pulang dari kerjanya, kemudian S minta tolong saya untuk mengangkat meja ke ruangan sebelahnya bersama dengannya. Untuk mengangkat tentunya kami harus membungkuk, dan pada saat itu S yang menggunakan pakaian batik membungkuk untuk mengangkat meja tersebut di hadapan saya. Saat itulah saya menyaksikan dua bukit kembar yang bergantungan di dalam BH berwarna hitam. Secara refleks, 'adik' saya langsung bangkit dan saya terus memperhatikan pemandangan tersebut sampai akhirnya S menyadari bahwa saya sedang memandangi payudaranya. Secara refleks S langsung menutup pakaiannya itu dan tersipu malu. Saya bersikap pura-pura tidak mengetahui kejadian tersebut.

Itulah awal dari cerita ini. Sejak saat itu apabila ada kesempatan S memperlihatkan payudaranya di depan saya, entah waktu dia sedang mengepel lantai atau sedang membungkuk selalu dengan secara sengaja dia memperlihatkannya di depan mata saya. Dalam pikiran saya sudah berkecamuk pikiran untuk dapat meremas payudara tersebut, namun kemudian rasa khawatir muncul lagi karena dia adalah pembantu yang bekerja di tempat pacar saya, bagaimana nanti kalau sampai ketahuan?

Persisnya, hari Sabtu bulan Oktober saya ke rumah pacar saya lagi untuk mengambil barang yang tertinggal di sana (pada waktu itu pacar saya dan keluarganya sedang ke kota S untuk acara pernikahan keluarga). Otomatis pada saat itu di rumah pacar saya hanya ada S seorang diri, saya pun segera masuk ke ruangan di mana saya meninggalkan barang saya. Kemudian saya bermaksud untuk segera pulang dan memanggil S untuk membukakan pintu bagi saya. Namun setelah saya panggil berulang kali tidak ada jawaban, saya beranikan diri untuk menuju kamarnya untuk memanggil dia.

Pada saat saya sudah berada di depan kamar dan berusaha mengintip ke dalam kamar, saya melihat dia sedang melepaskan baju atas yang dipakainya sehingga hanya memakai BH warna hitam dan rok warna coklat. S agak terkejut melihat saya sudah berada di depan kamarnya dan langsung berusaha untuk menutupi bagian depan dari tubuhnya. Saya yang sudah terlanjur di depan kamar pun tidak kalah kagetnya melihat S dengan pakaian yang minim. Kami saling berpandangan dan tanpa dapat berkata apa-apa satu sama lain.

Akhirnya saya beranikan untuk maju dan mencoba untuk menyentuh payudaranya, ternyata S hanya diam saja, sehingga akhirnya saya peluk dia dari belakang (bau tubuhnya sangat wangi karena kelihatannya S habis mandi dan keramas). Kedua tangan saya secara otomatis terarah ke payudaranya yang masih tertutup BH hitam, saya coba mengelusnya dan saya berusaha memasukkan tangan saya ke dalam. Ternyata sesuai dugaan saya, putingnya sudah mengeras dan memanjang. Saat saya pilin, S mengeluarkan suara, "Ah.. ah.. ahh.." sehingga menimbulkan rangsangan yang hebat bagi saya.

Saya terus memilin putingnya sambil menciumi tengkuknya dari belakang. Adegan tersebut berlangsung selama kurang lebih 5 menit, kemudian S melepaskan tangan saya dari payudaranya dan berbalik menghadap saya, kaos yang saya pakai mula-mula dilepaskannya, kemudian menyusul celana pendek yang saya pakai sehingga sekarang saya tinggal menggunakan celana dalam saja dengan gundukan di tengah yang cukup besar. Gundukan tersebut dielus dengan gerakan tangan yang sangat merangsang sehingga rasanya penis saya sudah berdenyut-denyut.

Kemudian setelah puas dengan elusannya, S melepaskan celana dalam saya dan berkata, "Untuk ukuranmu kontolmu cukup gede juga ya.." sehingga tampaklah penis saya yang sudah tegang.
Dengan posisi berjongkok, S terus mengocok penis saya dan kemudian memasukkan penis saya ke dalam mulutnya. Perasaan saya semakin berdebar-debar, apalagi ditambah dengan kenikmatan kuluman penis saya di mulut S. S masih terus mengulum penis saya dan kadang ditambah dengan meremas payudaranya sendiri.

Setelah kurang lebih 10 menit, saya angkat dia sehingga sekarang dalam posisi berdiri. Saya tidurkan dia di ranjang dan saya mulai menciumi dia di wajahnya, kemudian dilanjutkan dengan berpagutan, lidah kami saling memasuki mulut masing-masing, sehingga menambah gairah kami. Kemudian ciuman mulai saya turunkan ke arah leher dan payudara. Melihat puting yang tegak menghadap ke atas itu saya menjadi gemas dan segera saya kulum dan saya gigit dengan pelan, S kelihatan sangat terangsang, terlihat dari gerakan-gerakan dia yang mulai tidak teratur dan napasnya yang tersengal-sengal.

Putingnya masih saya gigit sampai 5 menit kemudian, dan tangan kanan saya mulai menuju ke bagian bawah. Rok yang masih digunakan saya minta untuk dilepas sehingga sekarang tampaklah celana dalam warna hitam dengan bentuk yang sangat kecil, sehingga menambah rangsangan bagi saya. Tangan kiri saya masih sibuk memilin putingnya, sedangkan tangan kanan saya mulai bergerilya ke bagian dalam celana dalamnya.

Begitu memasuki celana dalamnya, terasa ada rambut-rambut keriting yang sudah sedikit basah, saya coba gosok-gosok terus bagian tersebut sambil saya pilin putingnya.
S terus mendesah, "Ah.. shh.. shh.. enak sekali Mas..! Yang lebih cepat..!"
Saya tingkatkan gosokan tangan kanan saya di vaginanya.

Dan setelah beberapa saat saya berhenti, S yang kelihatannya hampir orgasme melihat saya dengan wajah kecewa. Tapi kemudian saya segera mengangsurkan mulut saya ke vaginanya setelah sebelumnya celana dalamnya saya copot. Tampaklah bagian V yang sangat indah, bulu-bulu kecil keriting dipotong dengan rapih mengikuti jalur V-nya. Saya segera menciumi bagian tersebut(sebelumnya saya merasa jijik untuk mencium vagina cewek) dan saya menuju ke daerah klitorisnya, saya temukan klitorisnya dan saya jilati dengan lidah saya dengan cepat.

S semakin tidak karuan. Menggelinjang ke sana kemari dan mengeluarkan suara-suara yang semakin keras.
"Lebih cepat Mas, lebih cepat..! Ah.. shh.. saya ndak tahan udah mau keluar..!"
Mendengat itu saya semakin bersemangat untuk menjilati klitorisnya sambil kadang meremas payudaranya. Tidak lama kemudian akhirnya menyemprotlah cairan kenikmatan dari lubang vaginanya dan S kelihatan sangat puas sekali.

Setelah itu S duduk dan saya diminta untuk tiduran di ranjangnya, dengan sangat seksi dia mulai menciumi dada saya, perut saya dan akhirnya sampai jugalah ke penis saya yang sudah ereksi sedemikian hebat. S mulai mengulum lagi penis saya, mula-mula dengan pelan namun lama kelamaan semakin bertambah cepat sehingga saya merasakan akan ada sesuatu yang muncrat dari penis saya.

"S saya mau keluar nih..! Ah..!"
S kemudian mengeluarkan penis saya dari dalam mulutnya dan mengepitkan penis saya di antara kedua dadanya. Dengan gerakan naik turun S mengocok penis saya dengan kedua payudaranya. Akhirnya pertahanan saya jebol juga.
"S.., saya keluar, ah..!"
Rasanya seperti terbang ke awang-awang, nikmatnya penis saya dipegang oleh cewek (biasanya saya hanya melakukan onani sambil melihat gambar atau film BF).

Setelah itu kami berbaring di ranjang karena kelelahan. S bercerita ke saya bahwa dia sudah lama ingin melakukan hubungan seks dengan saya, apalagi setelah dia bercerai dengan suaminya. Sambil bercerita, tangan S mulai meraba penis saya lagi sehingga mau tidak mau penis saya kembali tegak menantang.
Melihat itu S berkata, "Saya masukkan ke memekku ya Mas..? Mas mau di bawah atau di atas?"
Saya jawab saya di bawah saja, jadi dapat melihat dan meremas payudaranya.
S berkata, "Mas kok nakal sih..? Ntar kan sakit..!"

Kemudian S mulai bangkit dan pelan-pelan ke atas saya dan memasukkan penis saya ke dalam lubang vaginanya. Mulanya terasa seret sekali, namun akhirnya dapat juga penis saya (ukuran nya tidak terlalu panjang mungkin sekitar 14 cm saja) memasuki liang senggamanya. S mulai menggoyang pinggulnya di atas saya dan saya mulai merasakan kenikmatan itu. Saya sudah membayangkan kenikmatannya waktu melihat film BF, namun saya tidak berani mempraktekkannya.

Goyangan pinggul S membuat payudaranya tergoncang-goncang ke kiri dan ke kanan. Saya yang berada di bawahnya sangat terangsang melihat hal itu, tangan saya mulai meremasnya.
"S susumu kok bagus banget toh, belum pentilnya yang gede banget (waktu itu putingnya sudah dalam ukuran maksimal dan warnanya merah sekali, mungkin karena saya gigit tadi)"
Semakin lama goyangan S semakin cepat dan S sudah mendapat orgasmenya yang kedua.

Setelah itu kami berganti posisi, saya duduk di ranjang dan dengan posisi berhadapan saya minta S memasukkan penis saya ke lubang vaginanya.
"S cepet..! Aku udah ndak tahan nih..! Pentilmu gede banget..!" (bagian yang paling menarik saya dari tubuh wanita adalah payudara, terutama putingnya)
Kemudian S menggiring penis saya masuk ke dalam lubang vaginanya, saya mengeluarkan desahan tersebut dan juga S secara bersamaan juga mengeluarkan terus desahan-desahannya.

Goyangan yang kami lakukan semakin bertambah cepat. Sambil saya remas payudaranya, saya mencium mulutnya. Kami terus saling berpagutan sambil menggoyangkan pinggul masing-masing. Setelah 10 menit, saya merasa saya sudah mau sampai lagi.
"S aku udah mau keluar lagi nih..! Dikeluarin di dalam atau di luar..?"
"Di dalam aja, tunggu sebentar ya, aku juga mau keluar nih..! Ah.., sh..!"
"S aku udah ndak tahan nih..!"
"Aku juga Mas, ah..!"

Akhirnya pada saat bersamaan kami mengeluarkan cairan kenikmatan kami bersama-sama di dalam lubang vagina S. Setelah itu S mengeluarkan penis saya dari lubang vaginanya dan membungkuk untuk menjilati penis saya dan membersihkannya sampai sisa-sisa spema kami bersih.

Itulah pengalaman saya dengan S. Sampai saat ini kami masih kadang melakukan hubungan seks apabila ada kesempatan, bahkan saya sudah meniduri pembantu yang lain juga yang tubuhnya lebih behenol.

TAMAT

Membaca cerita-cerita di http://cerita19tahun.blogspot.com/ ini mengingatkan diriku pada 19 tahun yang lalu saat pertama kalinya aku merasakan nikmatnya seks. Saat itu usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang pertama yang menjadi pemuas nafsuku adalah Mama dan adikku sendiri.

Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun aku mempunyai keingintahuan dan hasrat yang kuat akan seks. Secara sembunyi-sembunyi aku sering membaca majalah dewasa milik orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat sekolah dan orang tuaku tidak di rumah. Saat membaca majalah tersebut aku juga beronani untuk memuaskan hasratku.



Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku akan pemuasan seks semakin besar, maklum saat itu adalah masa puber. Frekuensiku melakukan onani juga semakin sering, dalam sehari bisa sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan.

Pada suatu sore ketika aku duduk di kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang pun di rumah. Papa sedang bertugas keluar kota, sedangkan Mama dan adikku sedang mengikuti suatu kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk menonton blue film milik orang tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku putar dan sudah 4 kali aku melakukan onani. Namun hasratku masih juga begitu besar.

Ada adegan yang sangat aku sukai dan aku sering berkhayal bahwa aku menjadi pemeran pria dalam film itu. Adegan itu adalah saat seorang pria sedang berbaring sementara wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan pinggulnya dan wanita kedua duduk tepat di atas mukanya sementara sang pria dengan lahapnya menjilati vagina wanita kedua tersebut.

Aku segera menurunkan celanaku bersiap melakukan onani sambil menyaksikan adegan favoritku. Di tengah-tengah kegiatanku dan film sedang hot-hotnya, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00, ternyata Mama dan adikku sudah pulang. Segera aku kenakan celanaku kembali dan mengeluarkan video dari playernya kemudian meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku membukakan pintu untuk mereka.

"Eh Wan, tolong bantu masukkan barang-barang dong", Mama memintaku membantunya membawa barang-barang.
"Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja? Koq sepertinya capek banget sih?", aku menyapa adikku Shinta.
"Wah, banyak. Pagi setelah aerobik terus jalan lintas alam. Sampai di atas udah siang. Terus sorenya baru turun. Pokoknya capek deh.", Shinta menjelaskannya dengan bersemangat.

Setelah itu mereka mandi dan makan malam. Sementara aku duduk di ruang keluarga sambil menonton acara TV. Setelah mereka selesai makan malam, adikku langsung menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku menonton TV.

"Wan, ada acara bagus apa aja?", Mama bertanya padaku.
"Cuma ini yang mendingan, yang lainnya jelek", aku memberi tahu bahwa hanya acara yang sedang kutonton yang cukup bagus.

Saat itu acaranya adalah film action. Setelah itu ada pembicaraan kecil antara aku dan Mama. Karena lelah, Mama menonton sambil tiduran di atas karpet. Tidak lama sesudah itu Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam film tersebut ada jalan cerita dimana teman wanita sang jagoan tertangkap dan diperkosa oleh boss penjahat. Spontan saja penisku mengembang. Aku tetap meneruskan menonton.

Ketika film sedang seru-serunya, tanpa sengaja aku menatap Mama yang sedang tertidur dengan posisi telentang dan kaki yang terbentang. Baju tidurnya (daster) tersingkap, sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar karena nafsuku yang tiba-tiba meledak. Tidak pernah terpikir olehku melakukan persetubuhan dengan Mamaku sendiri. Tapi pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun, Mama masih terlihat sangat menarik. Dengan kulit kuning, tinggi badan 161 cm, berat badan 60 kg, buah dada 36B ditambah bentuk pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari bahwa sebenarnya Mama sangat menggairahkan.

Selama ini aku benar-benar tidak pernah punya pikiran aneh terhadap Mama. Sekarang sepertinya baru aku tersadar. Nafsu mendorongku untuk menjamah Mama, namun sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun dorongan nafsu memaksaku. Akhirnya aku memberanikan diri setelah sebelumnya aku mengecilkan volume TV agar tidak membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan mengambil posisi dari arah kaki kanannya. Untuk memastikan agar Mama tidak sampai terbangun, kugerak-gerakkan tangan Mama dan ternyata memang tidak ada reaksi.

Rupanya karena lelah seharian, ia jadi tertidur dengan sangat lelap. Dasternya yang tersingkap, kucoba singkap lebih tinggi lagi sampai perut dan tidak ada kesulitan. Tapi itu belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih dahulu aku pindahkan posisi kedua tangannya ke atas. Sekarang kedua buah dadanya dapat terlihat dengan jelas, karena ternyata Mama tidak mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan telapak tangan terbuka dan dengan perlahan aku remas. Setelah puas meremasnya, aku hisap bagian putingnya lalu seluruh bagian buah dadanya.

Tiba-tiba Mama mendesah. Aku kaget dan merasa takut kalau-kalau sampai Mama terbangun. Tetapi setelah kutunggu beberapa saat tidak ada reaksi lain darinya. Untuk memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan tetap tidak ada reaksi. Walau masih penasaran dengan bagian dadanya, namun aku takut jika tidak punya cukup waktu. Sekarang sasaran aku arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna kuning sehingga masih terlihat bulu kemaluannya.

Aku raba dan aku ciumi vagina Mama, tapi aku tidak puas karena masih terhalang CD-nya. Jadi kuputuskan untuk menurunkan CD-nya sampai seluruh vaginanya terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya yang terbentang menyulitkanku untuk menurunkannya. Jadi terpaksa aku rapatkan kakinya sehingga aku bisa menurunkan CD-nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina Mama dengan leluasa karena kakinya kini merapat. Apakah aku harus melepas semuanya? Tentu akan lebih leluasa, tapi jika Mama sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan cepat memakaikannya kembali.

Berhubung nafsuku sudah memburu, maka aku putuskan untuk melepaskannya semua. Lalu aku rentangkan kakinya. Sekarang vagina Mama dapat terlihat dengan jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh lagi, dengan kedua tangan kubuka bibir-bibir vaginanya dan aku jilati bagian dalamnya. Aku benar-benar semakin bernafsu, ingin rasanya aku telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi basah. Setelah puas mencium dan menjilati bagian vaginanya, penisku sudah tidak tahan untuk dimasukkan ke dalam vagina Mama. Aku kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di antara kedua kaki Mama dan aku bentangkan kakinya lebih lebar.

Dengan mengambil posisi duduk dan kedua kakiku dibentangkan untuk menahan kedua kaki Mama, aku arahkan penisku ke lubang vaginanya. Tangan kananku membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong penisku perlahan. Aku rasakan penisku memasuki daerah yang basah, hangat dan menjepit. Tubuhku gemetar hebat karena nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh penisku sudah berhasil masuk ke dalam vagina Mama dengan tidak terlalu sulit, mungkin karena Mama sudah melahirkan dua orang anak.

Mulailah kugoyangkan pinggulku maju mundur secara perlahan. Kurasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Aku memutuskan untuk memuaskan nafsuku, apa pun yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan semakin bernafsu, aku peluk tubuh Mama dan mengulum dadanya, sementara penisku terus bergerak cepat menggosok vagina Mama. Aku sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun terbangun aku akan terus menggoyangnya sampai aku puas.

Sungguh nikmat. Bahkan lebih nikmat daripada fantasiku selama ini. Setelah aku berjuang keras selama 6 menit, akhirnya aku sudah tidak tahan lagi hingga aku benamkan penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku mengalir bersamaan dengan sensasi yang luar biasa. Seakan melayang sampai-sampai terasa sakit kepala. Aku biarkan penisku beberapa saat di dalam tubuh Mamaku.

Setelah cukup rileks, aku cabut penisku. Aku puas. Aku tidak menyesal. Aku kenakan kembali celanaku. Sebelum aku kenakan kembali CD-Mama, aku puaskan diri dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan kembali daster Mama. Aku matikan TV dan naik menuju kamarku di atas. Aku langsung rebahan di atas kasurku. Walau aku merasa lelah tapi aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru saja aku rasakan. Pengalaman seorang anak SD yang baru saja melakukan hubungan seks dengan Mamanya sendiri.

Membayangkan hal tersebut saja membuat nafsuku bangkit kembali. Aku berpikir untuk kembali melakukannya dengan Mama. Aku berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang mengubah pikiranku. Aku berpikir, kalau Mama saja tidur sedemikian lelapnya maka tentu Shinta juga demikian. Apalagi selama ini Shinta kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan.

Perlahan aku buka kamarnya dan aku lihat Shinta tertidur dengan menggunakan selimut. Aku masuk ke kamarnya dan aku tutup lagi pintunya. Seperti yang sudah aku lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi Shinta adikku sendiri. Walaupun ia bangun aku juga tidak akan peduli.

Lalu aku singkap selimutnya dan aku lepaskan dasternya serta tidak CD-nya. Sekarang Shinta sudah benar-benar bugil. Karena Shinta belum memiliki buah dada, sasaranku langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum ditumbuhi rambut. Aku rentangkan kakinya lalu aku cium dan jilati vaginanya. Sekali-kali aku gigit perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya.

Setelah puas menciumi vaginanya, aku bersiap untuk menghunjamkan penisku ke dalam vagina Shinta yang masih mulus. Aku rentangkan kakinya dan aku tempatkan melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang memungkinkanku dapat menyetubuhi Shinta dengan leluasa.

Lalu kuarahkan penisku ke lubang vaginanya sementara kedua tanganku membantu membuka bibir vaginanya. Aku dorong perlahan namun ternyata tidak semudah aku melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena ia masih kecil (saat itu ia baru berusia 9 tahun) dan tentu saja masih perawan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Aku terus mendorong penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun untuk lebih jauh sangat sulit.

Nafsuku sudah memuncak tapi masih belum bisa masuk juga hingga membuatku kesal. Karena aku sudah bertekad, maka aku paksakan untuk mendorongnya hingga aku berhasil. Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata Shinta tidak bereaksi lebih jauh. Walaupun aku tidak peduli apakah Shinta akan tahu atau tidak, tetap saja akan lebih baik kalau Shinta tidak mengetahuinya.

Kemudian aku mulai menggoyang pinggulku, tetapi gerakanku tidak bisa selancar saat melakukannya dengan Mama, karena vagina Mama basah dan tidak terlalu sempit, sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan penisku di dalam tubuh Shinta semakin lama semakin cepat sambil memeluk tubuhnya. Ada perbedaan kenikmatan tersendiri antara vagina Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya dalam waktu 3 menit aku sudah mencapai orgasme.

Kubiarkan spermaku mengalir di dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu khawatir karena aku tahu Shinta belum bisa hamil. Aku tekan penisku dalam-dalam dan aku peluk Shinta dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru aku kenakan pakaianku sendiri. Aku berjingkat kembali ke kamarku dan tertidur sampai keesokan paginya.

Pada pagi harinya aku agak khawatir jika ketahuan. Tapi sampai aku berangkat sekolah tidak ada yang mencurigakan dari sikap Mama maupun Shinta. Sejak saat itu aku selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin mengulanginya. Dengan Mama kemungkinannya bisa dilakukan jika Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih besar kesempatannya jika melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat melakukannya, aku tidak peduli jika diketahui tetapi tetap akan lebih aman jika mereka tidak mengetahuinya. Maka hampir setiap malam, aku selalu bergerilya ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti pakaiannya. Setiap kali penisku mulai masuk, Shinta selalu terbangun.

Empat bulan sejak pengalaman pertama, aku belum pernah lagi melakukan sex. Pada bulan kelima, aku masuk SMP dan pada pelajaran biologi aku mengenal suatu bahan kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku langsung berpikir bahwa aku bisa menggunakannya bersetubuh dengan Shinta lagi.

Setelah pelajaran biologi, aku mengambil sebotol obat bius untuk dibawa ke rumah. Pada malam hari setelah semuanya tertidur, aku masuk ke kamar Shinta. Sebuah sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung Shinta. Setelah beberapa saat, aku angkat sapu tangan tersebut dan mulai melucuti pakaian Shinta. Dan setelah aku melucuti seluruh pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua kakinya.

Aku mengambil posisi favoritku dengan menempatkan kedua kakinya melingkari pinggangku. Aku masukkan penisku ke vaginanya dengan perlahan sampai keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai menggoyang tubuh Shinta. Aku memeluk tubuhnya dengan erat dan penisku bergerak keluar masuk dengan cepat. Karena aku yakin Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku. Seperti sebelumnya, saat pada puncaknya aku biarkan spermaku tertumpah di dalam vaginanya.

Sejak saat itu hampir setiap hari aku menyetubuhi adikku, Shinta. Sesekali jika Papa sedang di luar kota, aku juga menyetubuhi Mama. Alangkah beruntungnya aku. Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan dengan mudah.


TAMAT

Setelah aku lulus SMA, aku melanjutkan studi di Surabaya. Kebetulanaku diterima di sebuah PTN yang terkenal di Surabaya. Mengenai hubungankudengan tante "U" di kota asalku sudah berakhir sejak kepindahankeluarga Oom U ke Medan, dua bulan menjelang aku ujian akhir SMA. Namun kamimasih selalu kontak lewat surat atau telepon.

Perpisahan yang sungguh berat, terutama bagiku; mungkin bagi tante Umi,hal itu sudah biasa karena hubungan sex buat dia hanya merupakan suatukebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnyadenganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya,karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut danmencintainya. Sejak aku mengenal tante Umi, aku mulai mengenal beberapa wanitateman tante Umi, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku.Wanita lain yang sering kutiduri adalah tante Hani; dan tante Anna seorangjanda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan tante Umi ke Medan, merekalahyang menjadi teman kencanku. Karena tante Hani dan tante Anna sudah berstatusjanda, maka tak ada ke-sulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami.


Hampir setiap hari aku menginap di rumah tante Hani, dengan tante Haniboleh dikata setiap hari aku melakukan hubungan intim tidak mengenal waktu, dantempat. Pagi, siang sore atau malam, di kamar, di ruang tamu, di dapur bahkanpernah di teras belakang rumahnya.Teradang kami main bertiga, yakni aku, tanteHani dan tante Anna. Di rumah tante Hani benar-benar diperas tenagaku. Sesekaliwaktu aku harus melayani temen tante Hani yang datang ke sana untuk menghisaptenaga mudaku. Aku sudah nggak peduli lagi rupanya aku dijadikan gigolo oleh tanteHani. Pokoknya asal aku suka mereka, maka langsung kulayani mereka.

Suatu saat aku bertemu dengan seorang gadis. Cantik dan sexy bangetbodynya. Dian namanya temen adik perempuanku. Dengan keahlianku, maka kurayudan kupacari Dian. Suatu hari aku berhasil mengajaknya jalan-jalan ke suatutempat rekreasi. Di suatu motel akhirnya aku berhasil menidurinya, Aku agakkecewa, rupanya Dian sudah nggak perawan lagi. Namun perasaan itu aku pendamsaja. Kami tetap melanjutkan hubungan, dan setiap kali bertemu maka kami selalumelakukan hubungan badani.

Rupanya Dian benar-benar ketagihan denganku. Tak malu-malu diamencariku, dan bila bertemu langsung memintaku untuk menggaulinya. Tapi aneh,Dian tak pernah menga-jakku bahkan melarang aku datang ke rumahnya. Kami biasamelakukan di motel atau hotel melati di kotaku, beberapa kali aku mengajak Dianke rumah tante Hani. Kuperkenal-kan tante Hani sebagai familiku, dan tentunyaaku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bercumbu dengannya di kamar yangsering aku dan tante Hani gunakan bercumbu.

Suatu hari, entah kenapa tiba-tiba Dian memintaku untuk main kerumahnya, katanya dia berulang tahun. Dengan membawa seikat bunga dan sebuahkado aku ke rumahnya. Aku pencet bel pintu dan Dian yang membukakan pintudepan. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Segera Dian bergegas masuk danmemanggil mamanya untuk diperkenalkan padaku. Aku terkejut dan tergugu melihatmamanya; sebab perempuan itu.. ya.. mamanya Dian sudah beberapa kali tidurdenganku di rumah tante Hani. Mama Dian nam-pak pias wajahnya namun segera mamaDian bisa cepat mengatasi keadaan. Mama Dian berlagak seolah-olah takmengenalku, padahal seluruh bagian badannya sudah pernah kujelajahi. Beberapasaat mama Dian menemani kami ngobrol. Dengan sikap tenangnya akupun menjaditenang pula dan mampu mengatasi keadaan. Kami ngobrol sambil bercanda, dannampak terlihat bahwa mama Dian benar-benar seorang Ibu yang sayang pada putritunggalnya itu.

Keesokan harinya, mama Dian menemuiku. Di ruang tamu rumah tante Hanimama Dian menginterogasiku, ingin tahu sudah sejauh mana hubunganku denganDian. Aku tak mau segera menjawab, tanganku segera menarik tangannya danmenggelandang tubuhnya ke kamar. Dia berusaha melepaskan peganganku, namun sia-siatanganku kuat mencekal, sehingga tak kuasa dia melepaskan tangannya darigenggamanku. Kukunci pintu kamar dan segera aku angkat dan rebahkan tubuhnya diatas kasur. Segera kulucuti pakaianku hingga aku telanjang bulat, dan segerakutindih tubuhnya. Dia meronta dan memintaku untuk tak menidurinya; namunpermintaanya tak kuindahkan. Aku terus mencumbunya dan satu persatu pakaiannyaaku lucuti, dan akhirnya aku berhasil memasukkan kontolku di vaginanya. Begitupenisku melesak masuk, maka mama Dian bereaksi, mulai memba-las dan mengimbangigerakanku. Akhirnya kami berpacu mengumbar nafsu, sampai akhirnya mama Diansampai pada puncak kepuasan.

Peluhku bercucuran menjatuhi tubuh mama Dian, kuteruskan hunjamankontolku di memeknya.. Mama Dian mengerang-erang keenakkan, sampai akhirnyaorgasme kedua dicapainya. Aku terus genjot penisku, aku bener-bener kesal danmarah padanya, karena aku tahu dengan kejadian itu maka bakalan usai hubungankudengan Dian, pada-hal cinta mulai bersemi dihatiku.

Sambil terus kugenjot kontolku di memeknya, kukatakan padanya bahwaDian juga sudah sering aku tiduri, namun aku sangat mencintai, menyayangibahkan ingin menika-hinya. Aku katakan semua itu dengan tulus, sambil takterasa air mataku menetes. Akhirnya dengan hentakan yang keras aku mengejankuat, menumpahkan segala rasa yang aku pendam, menumpahkan seluruh air manikuke dalam memeknya. Badanku tera-sa lemas, kupeluk tubuh mama Dian sambilsesenggukan menangis di dadanya. Air mata-ku mengalir deras, mama Dian membelaikepalaku dengan penuh rasa sayang; kemudian dikecup dan dilumatnya bibirku.

Tubuhku berguling telentang di samping kanan tubuhnya, mama Dianmerangkul tubuh-ku menyilangkan kaki kiri dan meletakkan kepalanya didadaku.Terasa memeknya hangat dan berlendir menempel diperutku, tangan kirinyamngusap-usap wajahku. Tak henti-hentinya mulutnya menciumku.

Sambil bercumbu aku ceritakan semua kisah romanceku, hingga aku sampaiterlibat dalam pergaulan bebas di rumah tante Hani. Dengan sabar didengarnyaseluruh kisahku, sesaat kemudian kembali penisku menegang keras. Segeratanganku bergerilya kembali di memeknya, selanjutnya kembali kami berpacumengumbar nafsu kami. Kami bercumbu benar-benar seperti sepasang pengantin barusaja layaknya. Seolah tak ada puasnya. Sampai akhirnya kami kembali mencapaipuncak kepuasan beberapa kali.

Setelah babak terakhir kami selesaikan, mama Dian bangkit danmenggandengku menuju kamar mandi, kami mandi berendam bersama di kamar mandisambil bercumbu. Sambil berendam kami bersenggama lagi. Setelah puas kamimenumpahkan hasrat kami, kami keringkan tubuh kami dan segera berpakaian.Nampak sinar puas membias di wajah mama Dian.

Dengan bergandeng tangan kami keluar kamar, kupeluk pinggangnya dankuajak menuju ke ruang tamu. Kami duduk berdua, kemudian berbincang mengenaikelanjutan hubunganku dengan Dian. Mama Dian ingin agar hubunganku dengan Diandiakhiri saja, walaupun kami sudah begitu jauh berhubungan, sekalipun Diansudah hamil karenaku. Dia memberikan pandangan tentang bagaimana mungkin akumenikahi Dian, sedangkan aku dan mama Dian pernah berhubungan layaknya suamiistri, sebab bagaimanapun kami akan tinggal serumah. Bagaimana mungkin kamimelupakan begitu sqaja affair kami; rasanya tak mungkin.

Aku bisa mengerti dan menerima alasan mama Dian, namun aku bingungbagaimana cara menjelaskan kepada Dian. Aku tak sanggup kalau harus memutuskanDian. Akhirnya aku ideku pada mama Dian. Selanjutnya selama beberapa hari akutak mene-muidan sengaja menghindari Dian. Mamanya memberitahu kalau Dian saatini dalam keadaan hamil 2 bulan akibat hubungannya denganku.

Pada suatu hari, aku di telepon mama Dian. Dia memberitahu kalau Diansedang menuju ke rumah tante Hani untuk menca-ri aku. Aku sudah tahu apa yangharus aku lakukan, saat itu tante Hani sedang menyiram tanaman kesayangannya dikebun belakang. Segera kuhampiri dia dan aku ajak ia ke kamar yang biasa akudan Dian pakai untuk berkencan.

Kulucuti seluruh pakaian tante Hani dan juga pakaianku sendiri,selanjutnya kami bersenggama seperti biasanya. Tak berapa lama Dian datang danlangsung menuju ke kamarku. Terdengar pekik tertahan dari mulut-nya saatmelihat adegan di atas ranjang; dimana aku dan tante Hani sedang asyikbersenggama. Terdengar pintu kamar dibanting, Dian pulang ke rumah dengan hatiyang amat terluka. Tante Hani merasa tak tega dengan kejadian itu, tante Hanimemintaku untuk segera menyusul Dian; namun tak kuhiraukan; bahkan aku semakinkeras dan cepat menghentakan penisku di memeknya. Tante Hani mengerang-erangkeenakan, mengimbangi dengan gerakan yang membuat penisku semakin cepatberdenyut. Kami mencapai orgasme hampir bersama, aku berguling danmenghempaskan badanku ke samping tante Hani. Mataku menerawang jauh menataplangit-langit kamar, air mataku bergulir membasahi pipiku. Inilah akhirhubunganku dengan Dian, akhir yang amat menyakitkan. Dian pergi dariku denganmembawa benih anaku di rahimnya.

Musnah sudah impian dan harapanku untuk membina rumah tanggadengannya. Tante Hani menghiburku; Dia mengingatkan aku bahwa aku sudah membuatkeputusan yang benar. Jadi tak perlu disesali. Didekapnya tubuhku, akumenyusupkan mukaku ke dada tante Hani; ada suatu kedamaian disana; kedamaianyang memabukkan; yang membangkitkan hasrat kelelakianku lagi. Sessat kemudiankami berpacu lagi dengan hebat, hingga beberapa kali tante Hani mencapai puncakkepuasan. Aku memang termasuk tipe pria hypersex dan mampu mengatur timingorgasmeku, sehingga setiap wanita yang tidur denganku pasti merasa puas danketagihan untuk mengulangi lagi denganku.

Beberapa hari kemudian aku terima telepon Dian, sambil terisak Dianpamit padaku karena dia dan mamanya akan pindah ke Surabaya. Aku mintaalamatnya, tapi Dian keberatan. Dari nada suaranya nampak Dian sudah tidakmarah lagi padaku; maka aku memohon padanya untuk terakhir kali agar dapat akumenemuinya. Dian mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur kerumahnya untuk Inilah saat terakhir akku berjumpa dengan kekasihku.

Kupencet bel pintu, mama Dian membuka pintu dan menyilahkan aku masuk.Nampak wajahnya masih berbalut duka dan kesedihan, dia amat merasa bersalahkarena menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian. Mama Dianmenggandengku menuju ruang keluarga, nampak Dian kekasihku duduk menungguku.

Melihat aku Dian bangkit dan menghampiri aku, tak kusangka pipikuditamparnya dengan keras. Kubiarkan saja agar rasa kesal dan tertekan dihatinyaterlampiaskan. Dian berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangan danpipiku bergantian seolah tak percaya akan apa yang dia lakukan. Tiba-tibaditubruk dan dipeluknya badanku, dibenamkan mukanya ke dadaku sambilsesenggukan menumpahkan tangisnya. Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambut-nya.

Agak lama kami demikian; kami menyadari bahwa saat inilah saatterakhir bagi kami untuk bertemu. Mama Dian mendekat dan merangkul kami berdua,dan membimbing kami untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambilberpelukan, mama Dian ditengah; kedua tangannya memeluk kami berdua.

Akhirnya kesunyian diantara kami terpecahkan dengan ucapan mama Dian.Mama Dian mengatakan memberi kesempatan pada kami untuk memutuskan, apakah akankami lanjutkan hubungan kami atau kami putuskan sampai disini saja.
Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berartiaku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkankeputusan akhir pada Dian. Sambil terisak Dian akhirnya memutuskan untukmengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku,Dian menjawab biarlah.., ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua.., Dian kantetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasihsayangnya.

Beberapa saat kemudian aku berpamitan, dengan berat Dian melepaskanpelukanku, namun sebelum kami berpisah sekali lagi Dian memintaku untukmenemaninya. Ditariknya aku ke kamarnya dan dengan penuh kasih sayang,dibukanya pakaianku dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kami berdiriberpelukan dnegan tanpa sehelai benang menempel pada tubuh kami.

Kucumbui Dian kekasihku untuk terakhir kalinya, aku genjot penisku dimemeknya dengan lembut dan penuh perasaan, aku khawatir kalau-kalau genjotankuakan menyakit-kan anakku yang ada dirahimnya. Semalam kami bercengkerama, padapagi keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang amat berat dilepaskepergianku, aku berpamitan pula pada mama Dian, aku cium punggung tangannyasebagai tanda kasih anak ke ibunya, ditengadahkan mukaku dan dikecupnyakeningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku pada Dian dan mohonpadanya agar memberi kabar saat kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhirhubunganku dengan Dian dan mamanya.

Beberapa hari setelah perpisahanku dengan Dian, aku merasa sepi dansedih. tante Hani yang senantiasa menghiburku, dengan gurauan, kemolekan,kehangatan tubuhnya, dan dengan kasih sayangnya Terkadang di dalamkesendirianku, aku terngat tante Umi, dengan segala kehangatan tubuhnya. Akuteringat moment-moment yang pernah kami jalani di salah satu kamar di rumah tanteHani.

Di salah satu kamar di rumah tante Hani itulah kami biasa mengumbarnafsu kami, saling menumpahkan rasa rindu kami, sudah tak terhitung lagi barapabanyak aku menyengga-mainya menumpahkan segenap rasa dan nafsuku, dan sebanyakitu kami berhubungan tak pernah sekalipun kami menggunakan alat kontrasepsi,baik itu kondom, spriral, tablet atau sebangsanya. Jadi kami melakukannyasecara alami saja, dan tentunya dapat dibayangkan akibatnya. Yach.. tante Umipergi dengan membawa banyak kenangan indahku, membawa cintaku dan membawa pulajanin dari benih yang kutanam di rahimnya..

Awal semester pertama sudah berjalan 2 bulan lebih 5 hari, jadi takterasa aku sudah menempati rumah petak kontrakanku selama itu. Setiap hari akuberjalan kaki ke tempat kuliah, yang memang tak jauh dari rumah kontrakanku.
Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selalu melewatisebuah rumah yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Ranidan Kak Rina, sedangkan si bungsu Sukma masih SMA kelas 1 (baru masuk).

Kak Rani dan Kak Rina anak kembar, hanya saja nasib Kak Rani lebihbaik ketimbang Kak Rina. Kak Rani bersuamikan pegawai Bank dan sudah memilikirumah serta dua anak perempuan, sedangkan Kak Rina bersuamikan seorangpengemudi box kanvas suatu perusahaan dan belum dikarunia anak, serta masihtinggal bersama ibunya. Bu Maman seorang janda yang baik hati dan sayang benarsama cucunya, yaitu anak Kak Rani.

Pada mulanya aku berkenalan dengan Sukma, Sukma termasuk gadis yangagresif dan aku juga sudah mendengar cukup banyak tentang petualangan cintanyasejak dia duduk di bangku SMP, jadi masalah sex buat Sukma bukan hal yang barulagi.

Perkenalanku terjadi saat aku pulang kuliah sore hari, dimana hujanturun cukup lebat. Pada saat aku berjalan hendak memasuki mulut gang,berhentilah sebuah angkot dan ternyata yang turun Sukma dengan seragam SMAnya.

Aku menawarinya berpayung bersama dan ternyata dia mau. Kuantar Sukmasampai rumahnya, setiba di rumahnya dipersilahkannya aku masuk dan duduk diruang tamu, sementara dia masuk berganti pakaian. Saat aku menunggu Sukma, KakRina keluar dengan membawa secangkir teh hangat dan kue. Mulutku secara taksadar ternganga melihat kecantikan Kak Rina. Mata nakalku tak henti melirik danmencuri pandang padanya. Padahal Kak Rina hanya berpakaian sederhana, hanyamengenakan daster motif bunga sederhana, namun kecantikannya tetap nampak.Kulitnya yang putih kekuningan dan badannya yang segar dengan buah dada yangmenonjol, semakin menambah kecan-tikan penampilannya sore itu.

Melihatku dia tersenyum, nampak sebaris gigi putih yang bersihberjajar. Aku tergagap dan segera kuulurkan tangan untuk berkenalan dengannya.Hangat tengannya dalam genggamanku, dan sambil menunggu Sukma selesai bergantipakaian dia menemaniku ngobrol. Dalam obrolan ku dengan Kak Rina sore itu, barukutahu kalau Kak Rina sering melihatku saat aku berjalan berangkat dan pulangkuliah. Itulah hari pertamaku berke-nalan dengan keluarga Sukma.

Pagi esok harinya, saat aku berangkat kuliah, aku bertemu Kak Rina dimulut gang. Kami bersalaman, tiba-tiba timbul kenakalanku, kugelitik telapaktangan Kak Rina saat kugeng-gam, ternyata dia diam saja bahkan senyum padaku.Sejenak kami berbasa-basi bicara, kemudian aku cepat bergegas kuliah.

Sore hari aku baru pulang kuliah, langit mendung tebal sepertinya mauhujan. Saat kubuka pintu rumah, kulihat Sukma dan teman kostku sedang ngobroldi ruang tamu., rupanya dia sengaja datang untukku. Tak lama kemudian temenkostku pamit mau kuliah sore sampai jam 19.00 WIB. Setelah aku berganti pakaiankutemui Sukma dan kami ngobrol berdua. Tiba-tiba aku teringat bahwa Sukma belumkusuguhi minum, cepat-cepat aku permisi ke dapur untuk membuat minuman buatnya.Saat aku beranjak ke dapur Sukma mengikutiku dari belakang, dan di dapur kamilanjutkan obrolan kami sambil kuteruskan membuat minuman.

Sukma berdiri bersandar meja dapur, aku mendekatinya dan isengkupegang tangannya. Agaknya Sukma memang mengharap suasana demikian, diatanggapi pegangan tanganku dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, sehinggamuka kami berjarak cuman beberapa senti saja. Hembusan nafasnya terasa menerpawajahku. Kesempatan itu tak kubiarkan lewat begitu saja, segera aku sambarpinggangnya dan kucium lumat mulutnya.

Kami berciuman agak panjang, lidah kami saling beradu dan memilin,sementara sigap tanganku menggerayangi dan meremas pantat Sukma. Tanganku tidakberhenti, terus bergerak menyingkap bagian depan roknya, dan segera tangankumengelus-elus memek Sukma yang masih tertutup celana tipis, sementara itumulutku menjalar dan menciumi lehernya. Sukma merintih lembut, dan semakinmempererat pelukannya.

Tangan kananku yang sudah terlatih segera melepas kancing depanbajunya, selanjutnya meremas-remas buah dadanya, kulepas tali Bhnya dan segerakujelajahi dua bukit kembarnya yang sudah mengeras. Kuhisap lembut putingsusunya, Sukma semakin menekan kepalaku ke dadanya.

Aku sudah tahu apa yang dikehendakinya, segera kutarik dia ke kamarku,dan segera kubuka resleting roknya, kulepas bajunya kemudian BHnya. Nampaktubuh Sukma polos tak tertutup kain, hanya CD tipisnya saja yang tinggalmelekat di badannya. Segera kuhujani Sukma dengan ciuman, kujilati sekujurtubuhnya, kuhisap puting susunya, dan terus mulutku bergerak ke bawah, sambilpelan-pelan tanganku melepas CD-nya.
Begitu CD-nya lepas segera kuserbu memeknya, lidahku menjilatimemeknya, sementara kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Sukmamerintih dan mengerang, dan sesaat kemudian ditariknya bahuku ke atas, sehinggakami berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semuapakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap kontolku, dijilati dan dikocoknyapelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.

Segera kudorong tubuhnya terlentang di atas dipan dan lidahku terusbergerilya di memeknya, juga ke dua jari tanganku ikut pula menjelajahimemeknya, ke dua pahanya mengangkang lebar dan nampak lobang memeknya sepertinyasiap melahap kontolku bulat-bulat. Sukma mengerang-ngerang dan memintaku segeramemasukkan kontol ke dalam memeknya. Mas.. ayo.. masukkan.. ayo maas..

Hujan di luar turun dengan deras, suara hujan mengalahkan erangan danteriakan Sukma, sehingga aku tak khawatir orang akan mendengar suaranya.Kubiarkan Sukma dalam keadaan begitu, sambil lidahku terus menjilati memeknya. Sukmamerintih dan mengerang.. sambil menghiba untuk segera memulai permainan kami.Bau memeknya, semakin membangkitkan gairahku, dan akhirnya akupun tak tahan..

Segera kutindih tubuhnya dan kebenamkan kontolku dimemeknya dengansatu sentakan yang sedikit agak keras. Segera kukocok memeknya dengan cepat dankeras. Sukma mengerang, merintih dan mengimbangi gerakan keluar masuk kontolkudengan pas.., sehingga kadang terasa kontolku bagai dihisap dan diremas didalam memeknya.
Terasa kontolku berdenyut-denyut, sepertinya hendak keluar air maniku;segear kuhentikan gerakan kontolku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dankumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku,tanpa rasa jijik. Setelah agak berkurang denyutan penisku, segera kubenamkanlagi dalam memek Sukma.

Bukan main, remasan dan sedotan memek Sukma. Aku jadi mengertisekarang beda antara memek seorang wanita yang masih gadis dan belum pernahmelahirkan dengan wanita yang sudah melahirkan seperti tante Umi. Kubalik tubuhSukma dan kuangkat pantatnya agak tinggi, sehingga Sukma dalam posisi nungging.Segera kutancapkan penisku ke memeknya dari belakang. Lagi-lagi Yanrtimengerang-erang kadang menjerit kecil Tiba-tiba diangkat dan diputar badannyake belakang, serta di raihnya kepalaku serta diciumnya mulutku, sementarapenisku tetap bekerja keluar masuk memeknya.

Berapa saat kemudian kuganti posisi, aku berbaring terlentang dan Sukmamenindih tubuhku. Dipegang dan dibimbingnya penisku masuk ke vaginanya, dansegera digoyang badanya naik turun di atas tubuhku. Kuremas payu daranya dankuhentakan pantatku ke atas, saat badan Sukma bergerak ke bawah menekan masukpenisku ke dalam memeknya. Tak lama kemudian gerakan Sukma makin menggila danmakin cepat. Dari mulutnya terdengar erangan yang semakin keras dan akhirnyabadanya menegang sambil dari mulutnya terdengar lenguhan Ughh.. Aaah.. Aaah..,kemudian tubuhnya menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat, mass.. aku sudah..,keluar..ooh.. Enak..
Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot memeknya cepat dankeras.., terlihat mata Sukma mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintihdan mengerang..
Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menitkemudian terasa penisku berdenyut-denyut. Kepala Sukma bergoyang ke kanan danke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku sehingga tak ada kemungkinanaku mencabut kontolku saat air maniku keluar nanti, dan akhirnya dengan suatusentakan yang keras kubanjiri liang memeknya dengan cairan maniku..

Kumarahi Sukma, karena dia tak memberiku kesempatan membuang airmaniku di luar liang kemaluannya. Aku khawatir hal ini akan berakibat fatal,yaitu Sukma hamil..
Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingakubahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, karena sudahsedemikian jauhnya pengetahuan dia tentang berhubungan sex dan menjaga diridari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya.Kami bercumbu, berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipankuukurannya lebar, sehingga kami leluasa bercumbu di atasnya.

Dua puluh menit berlalu, terasa penisku mulai menegang dan mengeras.Segera kumasukan lagi kontolku ke memek Sukma. Kembali kami berdua mengumbarnafsu sepuas hati, kali ini aku tetap menjaga posisi di atas, karena aku tahubahwa pada ronde kedua dan ketiga aku lebih bisa mengatur dan menahan klimakslebih lama. Sukma mengerang dan merintih, dan akhirnya pada puncak kepuasanyang kedua kusemburkan lagi benih-benih manusia ke dalam rahim Sukma.

Keringat kami telah bercampur dan membasahi tubuh kami, seprei tempattidur sudah berantakan nggak karuan, kami berbaring berpelukan, kepalanya didadaku, tangan Sukma memainkan penisku, dan sesekali kami saling berciuman.
15 menit kemudian kami ulangi lagi hal yang sama, hingga klimaks kamidapatkan lagi, Kembali kuguyur memeknya dengan caiaran maniku, sambil kamiberciuman panjang sekali.., seolah tak akan henti..

Setelah cukup beristirahat, segera kami berkemas dan berpakaian, dantidak lupa berjanji untuk mengulangi lagi apa yang kami lakukan sore ini.Menjelang maghrib kuantar Sukma pulang ke rumah, dan sebelum aku pamit pulang,sekali lagi kupeluk pinggangnya dan kucium bibirnya dengan mesra. Sejak hariitu resmilah Sukma menjadi pacar tetapku, alias pemuas nafsuku.

TAMAT