Showing posts with label Cerita ABG. Show all posts
Showing posts with label Cerita ABG. Show all posts

Sebelumnya perkenalkan namaku Paramitha dan cukup panggil saja Mitha. Umurku 20 tahun. Aku masih kuliah di sebuah PTS di Yogyakarta semester 5. Aku ingin menceritakan pengalamanku bercumbu untuk pertama kali dengan sesama wanita.

Kejadiannya dimulai pada suatu sore di akhir bulan Februari tahun 2000 lalu. Waktu itu kedua orang tuaku pergi keluar kota untuk beberapa hari. Kedua orang tuaku sudah meminta tolong kepada tante Layla untuk menemaniku. Sore itu tante Layla datang dengan temannya yang bernama tante Dewi yang berumur sekitar dua kali dari umurku.



Setelah berbasa-basi sebentar di ruang tamu, kupersilakan mereka untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Mereka berdua masuk ke kamar dan aku membereskan gelas minuman yang kusuguhkan kepada mereka.

Ketika aku melewati kamar mereka, kudengar suara tante Dewi, "Ayo kita mulai". Aku penasaran dengan perkataan tante Dewi sehingga aku sengaja mengintip melalui lubang kunci pintu kamar itu siapa tahu kelihatan. Memang benar kelihatan. Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan sedang saling berciuman dan saling melepas baju. Kulihat tante Dewi tidak mengenakan BH sedangkan tante Layla mengenakan BH. Mereka masih berciuman dan saling meremas payudara. Tante Dewi meremas kedua payudara tante Layla yang masih dilapisi BH sedangkan tante Layla dengan leluasa meremas kedua payudara tante Dewi yang sudah telanjang. Aku sudah terangsang dan tanganku tanpa sadar masuk ke kaos meremas kedua payudaraku sendiri.

Beberapa saat kemudian tante Layla menghentikan remasannya pada kedua payudara tante Dewi dan melepas BH-nya sehingga kedua payudara mereka yang lebih besar dari punyaku yang 36A sudah sama-sama telanjang. Mereka melanjutkan saling meremas serta saling mencium dan aku juga makin terangsang, ingin bergabung dalam permainannya.

Tiba-tiba kedua payudara mereka sedikit demi sedikit sudah saling menempel dan mereka berpelukan. Adegan selanjutnya aku tidak melihatnya karena posisi mereka bergeser dari lubang kunci pintu kamar yang aku intip.

Aku kemudian pergi ke kamarku dan melupakan hal tersebut. Aku pergi ke kamar mandi dan ketika aku tinggal melepas CD pintu kamar mandi diketuk oleh seseorang. Aku meraih handukku dan melilitkannya di tubuhku. Kubuka pintu dan kulihat tante Dewi hanya dengan memakai kimono.

"Kamu dipanggil tante"

Pikiranku kembali ke adegan yang kulihat dari lubang kunci sehingga kujawab, "Tapi saya baru mau mandi" Dengan harapan tante Dewi terangsang melihat keadaan tubuhku terlilit handuk kemudian mencumbuku. Ternyata tidak.

"Terserah kamu mau mandi. Tapi aku cuma disuruh"

Dia kemudian pergi dari hadapanku. Aku lalu masih berselimutkan handuk lalu masuk ke kamar tante Layla dan kulihat dia sedang tengkurap di tempat tidur hanya dengan memakai CD saja.

"Ada apa tante?"

"Kamu bisa mijit kan"

"Bisa"

Disuruhnya aku untuk duduk di atas tubuhnya dan aku mulai memijit. Aku memijit sambil membayangkan adegan yang kulihat dari lubang kunci. "Handuknya dilepas saja" Aku menoleh dan kulihat tante Dewi melepas kimononya. Dia yang juga memakai CD saja kemudian naik ke tempat tidur dan menarik handuk yang masih kupakai.

Sekarang kami bertiga sudah sama-sama setengah telanjang. Tante Dewi duduk di belakangku dan menempelkan kedua payudaranya ke punggungku. Digesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggungku dan tangannya juga maju ke depan meremas kedua payudaraku. Aku semakin berani dan tanganku yang memijit punggung tante Layla lalu turun ke bawah meremas kedua payudara tante Layla.

Setelah beberapa menit, tante Dewi lalu turun dari tempat tidur dan aku disuruhnya duduk di tepi tempat tidur. Tante Layla juga turun dan berdiri di belakang tante Dewi. Mereka melepas CD mereka masing-masing. Tangan tante Layla dari belakang meremas kedua payudara tante Dewi. Kemudian salah satu tangannya turun ke bawah. Jarinya masuk ke vagina tante Dewi yang sudah basah. Aku sendiri juga semakin basah sehingga kulepas CD-ku. Tapi aku tidak mau ikut bergabung. Takut keasyikan mereka terganggu.

Sekarang mereka sudah saling berhadapan dan berpelukan sambil berciuman serta saling meremas pantat. Jari tante Dewi dimasukkan ke pantat tante Layla begitu pula sebaliknya. Mereka serentak melepaskan ciumannya dan mendesah bersama-sama. Tante Dewi melepaskan pelukan tante Layla dan menyuruhku untuk tiduran. Dia kemudian mencium bibirku dan aku membalasnya. Lidahku masuk ke mulutnya dan saling menjilat. Tangannya meremas kedua payudaraku dan perlahan-lahan kemudian turun ke bawah. Dia menerima sesuatu dari tante Layla. Kulihat penis buatan ada di tangannya. Kemudian penis buatan yang besar itu perlahan-lahan dimaukkan ke vaginaku.

Pertama hanya dimasukkan 2 cm, kemudian ditariknya lagi. Lalu dikeluar-masukkan lagi lebih dalam sampai 7 cm. Dan dikocoknya vaginaku sedangkan mulutnya menghisap payudara kiriku. Aku menikmati perlakuan tante Dewi dan kulihat tante Layla ikut bergabung. Dia mulai mencium bibirku, kemudian turun ke bawah menghisap payudara kananku sedangkan tangannya yang juga memegang penis buatan memasukkannya ke mulutku dan dikeluar-masukkan.

Beberapa saat kemudian tante Dewi menghentikan mengocok vaginaku tetapi penis buatan itu ditinggalkannya. Tante Layla juga berhenti mengeluar-masukkan penis buatan ke mulutku. Tante Layla lalu tengkurap di atasku sambil penis buatan yang masih ada di vaginaku dimasukkannya ke vaginanya kemudian dia naik turun. Seolah-olah aku adalah laki-laki dengan penis besar.

Setelah beberapa menit dia terlihat lemas kemudian tidur di atasku. Kedua payudara kami saling menempel. Kurangsang dia dengan ciuman di bibirnya. Dia mulai terangsang dan memelukku sambil pindah posisi. Tante Layla di bawah dan aku di atas. Aku merasakan ada sesuatu masuk ke lubang pantatku. Ternyata tante Dewi telah tidur di atasku dengan penis buatan di vaginanya yang dimasukkan ke pantatku. Permainan ini berlanjut sampai tengah malam secara bergantian. Aku dengan tante Dewi, aku dengan tante Layla, tante Dewi dengan tante Layla, serta kami bertiga bercumbu bersama-sama. Kami bertiga sangat menikmati permainan ini terutama aku yang baru pertama kali melakukannya.

TAMAT

Namaku Andhika, aku seorang siswa Kelas 1 di SMU yang cukup top di kota Makassar. Pada hari itu aku ingin mengambil tugas kimia di rumah salah satu teman cewekku, sebut saja Rina. Di sana kebetulan aku ketemu sahabat Rina. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Laura, orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya sudah seperti anak kelas 3 SMU, padahal dia baru kelas 3 SMP. Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin menambah kesan payudaranya menjadi lebih besar. Ukuran payudaranya mungkin ukuran 32B karena seakan akan baju seragam SMP-nya itu sudah tidak mampu membendung tekanan dari gundukan gunung kembar itu.



Kami saling diam, hanya aku sedang mengamati dadanya dan pantatnya yang begitu montok. Wah serasa di langit ke-7 kali kalau aku bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku. Terkadang mata kami bertemu dan bukannya ke GR-an tapi aku rasa cewek ini juga punya perasaan terhadapku. Setelah satu jam berada di rumah Rina, aku pun berpamitan kepada Rina tetapi dia menahanku dan memintaku mengantarkan Laura pulang karena rumahnya agak jauh dan sudah agak sore dan kebetulan aku sedang bawa "Kijang Rangga" milik bapakku.

Akhirnya aku menyetujuinya hitung-hitung ini kesempatan untuk mendekati Laura. Setelah beberapa lama terdiam aku mengawali pembicaraan dengan menanyakan, "Apa tidak ada yang marah kalau aku antar cuma berdua, entar pacar kamu marah lagi..?" pancingku. Dia cuma tertawa kecil dan berkata, "Aku belum punya pacar kok." Secara perlahan tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok SMP-nya. Dia memindahkan tangannya dan tinggallah tanganku dengan pahanya. Tanpa menolak tanganku mulai menjelajah, lalu tiba-tiba dia mengangkat tanganku dari pahanya, "Awas Andhi, liat jalan dong! entar kecelakan lagi.." dengan nada sedikit malu aku hanya berkata, "Oh iya sorry, habis enak sih," candaku, lalu dia tersenyum kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu aku pun membawa mobil ke tempat yang gelap karena kebetulan sudah mulai malam, "Loh kok ke sini sih?" protes Laura. Sambil mematikan mesin mobil aku hanya berkata,
"Boleh tidak aku cium bibir kamu?"
Dengan nada malu dia menjawab,
"Ahh tidak tau ahh, aku belum pernah gituan."
"Ah tenang aja, nanti aku ajari," seraya langsung melumat bibir mungilnya.

Dia pun mulai menikmatinya, setelah hampir lima menit kami melakukan permainan lidah itu. Sambil memindahkan posisiku dari tempat duduk sopir ke samping sopir dengan posisi agak terbungkuk kami terus melakukan permainan lidah itu, sementara itu dia tetap dalam posisi duduk. Lalu sambil melumat bibirnya aku menyetel tempat duduk Laura sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun mulai mempermainkan payudaranya yang sudah agak besar, dia pun mendesah, "Ahh, pelan-pelan Andhi sakit nih.." Kelamaan dia pun mulai menyukaiku cara mempermainkan kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju seragam dan langsung menerkam dadanya yang masih terbungkus dengan "minishet" tipis serasa "minishet" bergambar beruang itu menambah gairahku dan langsung memindahkan mulutku ke dadanya.
"Lepas dulu dong 'minishet'-nya, nanti basah?" desahnya kecil.
"Ah tidak papa kok, entar lagi," sambil mulai membuka kancing "minishet", dan mulai melumat puting payudara Laura yang sekarang sedang telanjang dada.Sementara tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih dan bergambar kartun Jepang. Mulutku pun terus menurun menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan lidahku. Laura hanya menutup mata dan mengulum bibirnya merasakan kenikmatan. Sesekali jari tengahku pun kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia hanya menggenggam rambutku dan duduk di atas jok mobil menahan rasa nyeri. Setelah itu aku kecapaian dan menyuruhnya, "Gantian dong!" kataku. Dia hanya menurut dan sekarang aku berada di jok mobil dan dia di bawah. Setelah itu aku menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai membuka celana "O'neal"-ku dan melorotkannya. Lalu aku menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi mulai tegang.

Dengan inisiatif-nya sendiri dia mulai mengocok batang kemaluanku.
"Kalau digini'in enak tidak Andhi?" tanyanya polos.
"Oh iya enak, enak banget, tapi kamu mau nggak yang lebih enak?" tanyaku.
Tanpa berbicara lagi aku memegang kepalanya yang sejajar dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium kemaluanku. "Hisap aja! enak kok kayak banana split," dia menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan terkadang dihisapnya. Karena merasa maniku hampir keluar aku menyuruhnya berhenti, dan Laura pun berhenti menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang sedikit kecewa karena dia sudah mulai menikmati "oral seks". Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas jok dan aku di bawah dengan agak jongkok. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang gadis Laura yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap untuk menerobos lubang kemaluan Laura yang sudah agak basah, lalu Laura bertanya, "Mau dimasukin tuh Andhi, mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede pisang?" tanyanya polos. "Ah tenang aja, pasti bisa deh," sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu dan dia pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang kemaluannya, mungkin dia tidak mau ambil resiko lubang kemaluannya lecet.

Secara perlahan aku pun mulai memasukan batang kemaluanku, "Aah.. ahh.. enak Andi," desahnya dan aku berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat, "Ahh.. ahh.. ahh.. terus pompa Andi." Setelah 20 menit memompa maniku pun sudah mau keluar tapi takut dia hamil lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dan dia agak sedikit tersentak ketika aku mengeluarkan batang kemaluanku.
"Kok dikeluarin, Andi?" tanyanya.
"Kan belum keluar?" tanyanya lagi.
"Entar kamu hamilkan bahaya, udah nih ada permainan baru," hiburku.
Lalu aku mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup membelakangiku.
"Ngapain sih Andi?" tanya Laura.
"Udah tunggu aja!" jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang ketika tanganku menusuk pantat yang montok itu.
"Aahh.. ahh.. sakit Andhi.. apaan sih itu..?"
"Ah, tidak kok, entar juga enak."
Lalu aku mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang kemaluanku dan desahan Laura kali ini lebih besar sehingga dia menggigit celana dalamku yang tergeletak di dekatnya.

"Sabar yah Sayang! entar juga enak!" hiburku sambil terus memompa pantatnya yang montok. Tanganku pun bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan terkadang meremas belahan pantatnya. Laura mulai menikmati permainan dan mulai mengikuti irama genjotanku. "Ahh terus.. Andhi.. udah enak kok.." ucapnya mendesah. Setelah beberapa menit memompa pantatnya, maniku hendak keluar lagi. "Keluarin di dalam aja yah Laura?" tanyaku. Lalu dia menjawab, "Ah tidak usah biar aku isep aja lagi, habis enak sih," jawabnya. Lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya dan langsung dilumat oleh Laura langsung dihisapnya dengan penuh gairah, "Crot.. crot.. crot.." maniku keluar di dalam mulut Laura dan dia menelannya. Gila perasaanku seperti sudah terbang ke langit ke-7.
"Gimana rasanya?" tanyaku.
"Ahh asin tapi enak juga sih," sambil masih membersihkan mani di kemaluanku dengan bibirnya.

Setelah itu kami pun berpakaian kembali, karena jam mobilku sudah pukul 19:30. Tidak terasa kami bersetubuh selama 2 jam. Lalu aku mengantarkan Laura ke rumahnya di sekitaran Panakukang Mas. Laura tidak turun tepat di depan karena takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum dia turun dia terlebih dahulu langsung melumat bibirku dan menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya hendak aku belai dulu sebelum dia turun. "Kapan-kapan main lagi yach Andhi!" ucapnya sebelum turun dari mobilku. Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami karena tahun berikutnya dia masuk SMU yang sama denganku dan kami bebas melakukan hal itu kapan saja, karena tampaknya dia sudah ketagihan dengan permainan itu bahkan Laura pernah melakukan masturbasi dengan pisang di toilet sekolah. Untung aku melihat kejadian itu sehingga aku dapat memberinya "jatah" di toilet sekolah.

TAMAT

Setelah aku lulus SMA, aku melanjutkan studi di Surabaya. Kebetulanaku diterima di sebuah PTN yang terkenal di Surabaya. Mengenai hubungankudengan tante "U" di kota asalku sudah berakhir sejak kepindahankeluarga Oom U ke Medan, dua bulan menjelang aku ujian akhir SMA. Namun kamimasih selalu kontak lewat surat atau telepon.

Perpisahan yang sungguh berat, terutama bagiku; mungkin bagi tante Umi,hal itu sudah biasa karena hubungan sex buat dia hanya merupakan suatukebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnyadenganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya,karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut danmencintainya. Sejak aku mengenal tante Umi, aku mulai mengenal beberapa wanitateman tante Umi, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku.Wanita lain yang sering kutiduri adalah tante Hani; dan tante Anna seorangjanda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan tante Umi ke Medan, merekalahyang menjadi teman kencanku. Karena tante Hani dan tante Anna sudah berstatusjanda, maka tak ada ke-sulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami.


Hampir setiap hari aku menginap di rumah tante Hani, dengan tante Haniboleh dikata setiap hari aku melakukan hubungan intim tidak mengenal waktu, dantempat. Pagi, siang sore atau malam, di kamar, di ruang tamu, di dapur bahkanpernah di teras belakang rumahnya.Teradang kami main bertiga, yakni aku, tanteHani dan tante Anna. Di rumah tante Hani benar-benar diperas tenagaku. Sesekaliwaktu aku harus melayani temen tante Hani yang datang ke sana untuk menghisaptenaga mudaku. Aku sudah nggak peduli lagi rupanya aku dijadikan gigolo oleh tanteHani. Pokoknya asal aku suka mereka, maka langsung kulayani mereka.

Suatu saat aku bertemu dengan seorang gadis. Cantik dan sexy bangetbodynya. Dian namanya temen adik perempuanku. Dengan keahlianku, maka kurayudan kupacari Dian. Suatu hari aku berhasil mengajaknya jalan-jalan ke suatutempat rekreasi. Di suatu motel akhirnya aku berhasil menidurinya, Aku agakkecewa, rupanya Dian sudah nggak perawan lagi. Namun perasaan itu aku pendamsaja. Kami tetap melanjutkan hubungan, dan setiap kali bertemu maka kami selalumelakukan hubungan badani.

Rupanya Dian benar-benar ketagihan denganku. Tak malu-malu diamencariku, dan bila bertemu langsung memintaku untuk menggaulinya. Tapi aneh,Dian tak pernah menga-jakku bahkan melarang aku datang ke rumahnya. Kami biasamelakukan di motel atau hotel melati di kotaku, beberapa kali aku mengajak Dianke rumah tante Hani. Kuperkenal-kan tante Hani sebagai familiku, dan tentunyaaku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bercumbu dengannya di kamar yangsering aku dan tante Hani gunakan bercumbu.

Suatu hari, entah kenapa tiba-tiba Dian memintaku untuk main kerumahnya, katanya dia berulang tahun. Dengan membawa seikat bunga dan sebuahkado aku ke rumahnya. Aku pencet bel pintu dan Dian yang membukakan pintudepan. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Segera Dian bergegas masuk danmemanggil mamanya untuk diperkenalkan padaku. Aku terkejut dan tergugu melihatmamanya; sebab perempuan itu.. ya.. mamanya Dian sudah beberapa kali tidurdenganku di rumah tante Hani. Mama Dian nam-pak pias wajahnya namun segera mamaDian bisa cepat mengatasi keadaan. Mama Dian berlagak seolah-olah takmengenalku, padahal seluruh bagian badannya sudah pernah kujelajahi. Beberapasaat mama Dian menemani kami ngobrol. Dengan sikap tenangnya akupun menjaditenang pula dan mampu mengatasi keadaan. Kami ngobrol sambil bercanda, dannampak terlihat bahwa mama Dian benar-benar seorang Ibu yang sayang pada putritunggalnya itu.

Keesokan harinya, mama Dian menemuiku. Di ruang tamu rumah tante Hanimama Dian menginterogasiku, ingin tahu sudah sejauh mana hubunganku denganDian. Aku tak mau segera menjawab, tanganku segera menarik tangannya danmenggelandang tubuhnya ke kamar. Dia berusaha melepaskan peganganku, namun sia-siatanganku kuat mencekal, sehingga tak kuasa dia melepaskan tangannya darigenggamanku. Kukunci pintu kamar dan segera aku angkat dan rebahkan tubuhnya diatas kasur. Segera kulucuti pakaianku hingga aku telanjang bulat, dan segerakutindih tubuhnya. Dia meronta dan memintaku untuk tak menidurinya; namunpermintaanya tak kuindahkan. Aku terus mencumbunya dan satu persatu pakaiannyaaku lucuti, dan akhirnya aku berhasil memasukkan kontolku di vaginanya. Begitupenisku melesak masuk, maka mama Dian bereaksi, mulai memba-las dan mengimbangigerakanku. Akhirnya kami berpacu mengumbar nafsu, sampai akhirnya mama Diansampai pada puncak kepuasan.

Peluhku bercucuran menjatuhi tubuh mama Dian, kuteruskan hunjamankontolku di memeknya.. Mama Dian mengerang-erang keenakkan, sampai akhirnyaorgasme kedua dicapainya. Aku terus genjot penisku, aku bener-bener kesal danmarah padanya, karena aku tahu dengan kejadian itu maka bakalan usai hubungankudengan Dian, pada-hal cinta mulai bersemi dihatiku.

Sambil terus kugenjot kontolku di memeknya, kukatakan padanya bahwaDian juga sudah sering aku tiduri, namun aku sangat mencintai, menyayangibahkan ingin menika-hinya. Aku katakan semua itu dengan tulus, sambil takterasa air mataku menetes. Akhirnya dengan hentakan yang keras aku mengejankuat, menumpahkan segala rasa yang aku pendam, menumpahkan seluruh air manikuke dalam memeknya. Badanku tera-sa lemas, kupeluk tubuh mama Dian sambilsesenggukan menangis di dadanya. Air mata-ku mengalir deras, mama Dian membelaikepalaku dengan penuh rasa sayang; kemudian dikecup dan dilumatnya bibirku.

Tubuhku berguling telentang di samping kanan tubuhnya, mama Dianmerangkul tubuh-ku menyilangkan kaki kiri dan meletakkan kepalanya didadaku.Terasa memeknya hangat dan berlendir menempel diperutku, tangan kirinyamngusap-usap wajahku. Tak henti-hentinya mulutnya menciumku.

Sambil bercumbu aku ceritakan semua kisah romanceku, hingga aku sampaiterlibat dalam pergaulan bebas di rumah tante Hani. Dengan sabar didengarnyaseluruh kisahku, sesaat kemudian kembali penisku menegang keras. Segeratanganku bergerilya kembali di memeknya, selanjutnya kembali kami berpacumengumbar nafsu kami. Kami bercumbu benar-benar seperti sepasang pengantin barusaja layaknya. Seolah tak ada puasnya. Sampai akhirnya kami kembali mencapaipuncak kepuasan beberapa kali.

Setelah babak terakhir kami selesaikan, mama Dian bangkit danmenggandengku menuju kamar mandi, kami mandi berendam bersama di kamar mandisambil bercumbu. Sambil berendam kami bersenggama lagi. Setelah puas kamimenumpahkan hasrat kami, kami keringkan tubuh kami dan segera berpakaian.Nampak sinar puas membias di wajah mama Dian.

Dengan bergandeng tangan kami keluar kamar, kupeluk pinggangnya dankuajak menuju ke ruang tamu. Kami duduk berdua, kemudian berbincang mengenaikelanjutan hubunganku dengan Dian. Mama Dian ingin agar hubunganku dengan Diandiakhiri saja, walaupun kami sudah begitu jauh berhubungan, sekalipun Diansudah hamil karenaku. Dia memberikan pandangan tentang bagaimana mungkin akumenikahi Dian, sedangkan aku dan mama Dian pernah berhubungan layaknya suamiistri, sebab bagaimanapun kami akan tinggal serumah. Bagaimana mungkin kamimelupakan begitu sqaja affair kami; rasanya tak mungkin.

Aku bisa mengerti dan menerima alasan mama Dian, namun aku bingungbagaimana cara menjelaskan kepada Dian. Aku tak sanggup kalau harus memutuskanDian. Akhirnya aku ideku pada mama Dian. Selanjutnya selama beberapa hari akutak mene-muidan sengaja menghindari Dian. Mamanya memberitahu kalau Dian saatini dalam keadaan hamil 2 bulan akibat hubungannya denganku.

Pada suatu hari, aku di telepon mama Dian. Dia memberitahu kalau Diansedang menuju ke rumah tante Hani untuk menca-ri aku. Aku sudah tahu apa yangharus aku lakukan, saat itu tante Hani sedang menyiram tanaman kesayangannya dikebun belakang. Segera kuhampiri dia dan aku ajak ia ke kamar yang biasa akudan Dian pakai untuk berkencan.

Kulucuti seluruh pakaian tante Hani dan juga pakaianku sendiri,selanjutnya kami bersenggama seperti biasanya. Tak berapa lama Dian datang danlangsung menuju ke kamarku. Terdengar pekik tertahan dari mulut-nya saatmelihat adegan di atas ranjang; dimana aku dan tante Hani sedang asyikbersenggama. Terdengar pintu kamar dibanting, Dian pulang ke rumah dengan hatiyang amat terluka. Tante Hani merasa tak tega dengan kejadian itu, tante Hanimemintaku untuk segera menyusul Dian; namun tak kuhiraukan; bahkan aku semakinkeras dan cepat menghentakan penisku di memeknya. Tante Hani mengerang-erangkeenakan, mengimbangi dengan gerakan yang membuat penisku semakin cepatberdenyut. Kami mencapai orgasme hampir bersama, aku berguling danmenghempaskan badanku ke samping tante Hani. Mataku menerawang jauh menataplangit-langit kamar, air mataku bergulir membasahi pipiku. Inilah akhirhubunganku dengan Dian, akhir yang amat menyakitkan. Dian pergi dariku denganmembawa benih anaku di rahimnya.

Musnah sudah impian dan harapanku untuk membina rumah tanggadengannya. Tante Hani menghiburku; Dia mengingatkan aku bahwa aku sudah membuatkeputusan yang benar. Jadi tak perlu disesali. Didekapnya tubuhku, akumenyusupkan mukaku ke dada tante Hani; ada suatu kedamaian disana; kedamaianyang memabukkan; yang membangkitkan hasrat kelelakianku lagi. Sessat kemudiankami berpacu lagi dengan hebat, hingga beberapa kali tante Hani mencapai puncakkepuasan. Aku memang termasuk tipe pria hypersex dan mampu mengatur timingorgasmeku, sehingga setiap wanita yang tidur denganku pasti merasa puas danketagihan untuk mengulangi lagi denganku.

Beberapa hari kemudian aku terima telepon Dian, sambil terisak Dianpamit padaku karena dia dan mamanya akan pindah ke Surabaya. Aku mintaalamatnya, tapi Dian keberatan. Dari nada suaranya nampak Dian sudah tidakmarah lagi padaku; maka aku memohon padanya untuk terakhir kali agar dapat akumenemuinya. Dian mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur kerumahnya untuk Inilah saat terakhir akku berjumpa dengan kekasihku.

Kupencet bel pintu, mama Dian membuka pintu dan menyilahkan aku masuk.Nampak wajahnya masih berbalut duka dan kesedihan, dia amat merasa bersalahkarena menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian. Mama Dianmenggandengku menuju ruang keluarga, nampak Dian kekasihku duduk menungguku.

Melihat aku Dian bangkit dan menghampiri aku, tak kusangka pipikuditamparnya dengan keras. Kubiarkan saja agar rasa kesal dan tertekan dihatinyaterlampiaskan. Dian berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangan danpipiku bergantian seolah tak percaya akan apa yang dia lakukan. Tiba-tibaditubruk dan dipeluknya badanku, dibenamkan mukanya ke dadaku sambilsesenggukan menumpahkan tangisnya. Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambut-nya.

Agak lama kami demikian; kami menyadari bahwa saat inilah saatterakhir bagi kami untuk bertemu. Mama Dian mendekat dan merangkul kami berdua,dan membimbing kami untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambilberpelukan, mama Dian ditengah; kedua tangannya memeluk kami berdua.

Akhirnya kesunyian diantara kami terpecahkan dengan ucapan mama Dian.Mama Dian mengatakan memberi kesempatan pada kami untuk memutuskan, apakah akankami lanjutkan hubungan kami atau kami putuskan sampai disini saja.
Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berartiaku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkankeputusan akhir pada Dian. Sambil terisak Dian akhirnya memutuskan untukmengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku,Dian menjawab biarlah.., ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua.., Dian kantetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasihsayangnya.

Beberapa saat kemudian aku berpamitan, dengan berat Dian melepaskanpelukanku, namun sebelum kami berpisah sekali lagi Dian memintaku untukmenemaninya. Ditariknya aku ke kamarnya dan dengan penuh kasih sayang,dibukanya pakaianku dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kami berdiriberpelukan dnegan tanpa sehelai benang menempel pada tubuh kami.

Kucumbui Dian kekasihku untuk terakhir kalinya, aku genjot penisku dimemeknya dengan lembut dan penuh perasaan, aku khawatir kalau-kalau genjotankuakan menyakit-kan anakku yang ada dirahimnya. Semalam kami bercengkerama, padapagi keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang amat berat dilepaskepergianku, aku berpamitan pula pada mama Dian, aku cium punggung tangannyasebagai tanda kasih anak ke ibunya, ditengadahkan mukaku dan dikecupnyakeningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku pada Dian dan mohonpadanya agar memberi kabar saat kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhirhubunganku dengan Dian dan mamanya.

Beberapa hari setelah perpisahanku dengan Dian, aku merasa sepi dansedih. tante Hani yang senantiasa menghiburku, dengan gurauan, kemolekan,kehangatan tubuhnya, dan dengan kasih sayangnya Terkadang di dalamkesendirianku, aku terngat tante Umi, dengan segala kehangatan tubuhnya. Akuteringat moment-moment yang pernah kami jalani di salah satu kamar di rumah tanteHani.

Di salah satu kamar di rumah tante Hani itulah kami biasa mengumbarnafsu kami, saling menumpahkan rasa rindu kami, sudah tak terhitung lagi barapabanyak aku menyengga-mainya menumpahkan segenap rasa dan nafsuku, dan sebanyakitu kami berhubungan tak pernah sekalipun kami menggunakan alat kontrasepsi,baik itu kondom, spriral, tablet atau sebangsanya. Jadi kami melakukannyasecara alami saja, dan tentunya dapat dibayangkan akibatnya. Yach.. tante Umipergi dengan membawa banyak kenangan indahku, membawa cintaku dan membawa pulajanin dari benih yang kutanam di rahimnya..

Awal semester pertama sudah berjalan 2 bulan lebih 5 hari, jadi takterasa aku sudah menempati rumah petak kontrakanku selama itu. Setiap hari akuberjalan kaki ke tempat kuliah, yang memang tak jauh dari rumah kontrakanku.
Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selalu melewatisebuah rumah yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Ranidan Kak Rina, sedangkan si bungsu Sukma masih SMA kelas 1 (baru masuk).

Kak Rani dan Kak Rina anak kembar, hanya saja nasib Kak Rani lebihbaik ketimbang Kak Rina. Kak Rani bersuamikan pegawai Bank dan sudah memilikirumah serta dua anak perempuan, sedangkan Kak Rina bersuamikan seorangpengemudi box kanvas suatu perusahaan dan belum dikarunia anak, serta masihtinggal bersama ibunya. Bu Maman seorang janda yang baik hati dan sayang benarsama cucunya, yaitu anak Kak Rani.

Pada mulanya aku berkenalan dengan Sukma, Sukma termasuk gadis yangagresif dan aku juga sudah mendengar cukup banyak tentang petualangan cintanyasejak dia duduk di bangku SMP, jadi masalah sex buat Sukma bukan hal yang barulagi.

Perkenalanku terjadi saat aku pulang kuliah sore hari, dimana hujanturun cukup lebat. Pada saat aku berjalan hendak memasuki mulut gang,berhentilah sebuah angkot dan ternyata yang turun Sukma dengan seragam SMAnya.

Aku menawarinya berpayung bersama dan ternyata dia mau. Kuantar Sukmasampai rumahnya, setiba di rumahnya dipersilahkannya aku masuk dan duduk diruang tamu, sementara dia masuk berganti pakaian. Saat aku menunggu Sukma, KakRina keluar dengan membawa secangkir teh hangat dan kue. Mulutku secara taksadar ternganga melihat kecantikan Kak Rina. Mata nakalku tak henti melirik danmencuri pandang padanya. Padahal Kak Rina hanya berpakaian sederhana, hanyamengenakan daster motif bunga sederhana, namun kecantikannya tetap nampak.Kulitnya yang putih kekuningan dan badannya yang segar dengan buah dada yangmenonjol, semakin menambah kecan-tikan penampilannya sore itu.

Melihatku dia tersenyum, nampak sebaris gigi putih yang bersihberjajar. Aku tergagap dan segera kuulurkan tangan untuk berkenalan dengannya.Hangat tengannya dalam genggamanku, dan sambil menunggu Sukma selesai bergantipakaian dia menemaniku ngobrol. Dalam obrolan ku dengan Kak Rina sore itu, barukutahu kalau Kak Rina sering melihatku saat aku berjalan berangkat dan pulangkuliah. Itulah hari pertamaku berke-nalan dengan keluarga Sukma.

Pagi esok harinya, saat aku berangkat kuliah, aku bertemu Kak Rina dimulut gang. Kami bersalaman, tiba-tiba timbul kenakalanku, kugelitik telapaktangan Kak Rina saat kugeng-gam, ternyata dia diam saja bahkan senyum padaku.Sejenak kami berbasa-basi bicara, kemudian aku cepat bergegas kuliah.

Sore hari aku baru pulang kuliah, langit mendung tebal sepertinya mauhujan. Saat kubuka pintu rumah, kulihat Sukma dan teman kostku sedang ngobroldi ruang tamu., rupanya dia sengaja datang untukku. Tak lama kemudian temenkostku pamit mau kuliah sore sampai jam 19.00 WIB. Setelah aku berganti pakaiankutemui Sukma dan kami ngobrol berdua. Tiba-tiba aku teringat bahwa Sukma belumkusuguhi minum, cepat-cepat aku permisi ke dapur untuk membuat minuman buatnya.Saat aku beranjak ke dapur Sukma mengikutiku dari belakang, dan di dapur kamilanjutkan obrolan kami sambil kuteruskan membuat minuman.

Sukma berdiri bersandar meja dapur, aku mendekatinya dan isengkupegang tangannya. Agaknya Sukma memang mengharap suasana demikian, diatanggapi pegangan tanganku dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, sehinggamuka kami berjarak cuman beberapa senti saja. Hembusan nafasnya terasa menerpawajahku. Kesempatan itu tak kubiarkan lewat begitu saja, segera aku sambarpinggangnya dan kucium lumat mulutnya.

Kami berciuman agak panjang, lidah kami saling beradu dan memilin,sementara sigap tanganku menggerayangi dan meremas pantat Sukma. Tanganku tidakberhenti, terus bergerak menyingkap bagian depan roknya, dan segera tangankumengelus-elus memek Sukma yang masih tertutup celana tipis, sementara itumulutku menjalar dan menciumi lehernya. Sukma merintih lembut, dan semakinmempererat pelukannya.

Tangan kananku yang sudah terlatih segera melepas kancing depanbajunya, selanjutnya meremas-remas buah dadanya, kulepas tali Bhnya dan segerakujelajahi dua bukit kembarnya yang sudah mengeras. Kuhisap lembut putingsusunya, Sukma semakin menekan kepalaku ke dadanya.

Aku sudah tahu apa yang dikehendakinya, segera kutarik dia ke kamarku,dan segera kubuka resleting roknya, kulepas bajunya kemudian BHnya. Nampaktubuh Sukma polos tak tertutup kain, hanya CD tipisnya saja yang tinggalmelekat di badannya. Segera kuhujani Sukma dengan ciuman, kujilati sekujurtubuhnya, kuhisap puting susunya, dan terus mulutku bergerak ke bawah, sambilpelan-pelan tanganku melepas CD-nya.
Begitu CD-nya lepas segera kuserbu memeknya, lidahku menjilatimemeknya, sementara kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Sukmamerintih dan mengerang, dan sesaat kemudian ditariknya bahuku ke atas, sehinggakami berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semuapakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap kontolku, dijilati dan dikocoknyapelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.

Segera kudorong tubuhnya terlentang di atas dipan dan lidahku terusbergerilya di memeknya, juga ke dua jari tanganku ikut pula menjelajahimemeknya, ke dua pahanya mengangkang lebar dan nampak lobang memeknya sepertinyasiap melahap kontolku bulat-bulat. Sukma mengerang-ngerang dan memintaku segeramemasukkan kontol ke dalam memeknya. Mas.. ayo.. masukkan.. ayo maas..

Hujan di luar turun dengan deras, suara hujan mengalahkan erangan danteriakan Sukma, sehingga aku tak khawatir orang akan mendengar suaranya.Kubiarkan Sukma dalam keadaan begitu, sambil lidahku terus menjilati memeknya. Sukmamerintih dan mengerang.. sambil menghiba untuk segera memulai permainan kami.Bau memeknya, semakin membangkitkan gairahku, dan akhirnya akupun tak tahan..

Segera kutindih tubuhnya dan kebenamkan kontolku dimemeknya dengansatu sentakan yang sedikit agak keras. Segera kukocok memeknya dengan cepat dankeras. Sukma mengerang, merintih dan mengimbangi gerakan keluar masuk kontolkudengan pas.., sehingga kadang terasa kontolku bagai dihisap dan diremas didalam memeknya.
Terasa kontolku berdenyut-denyut, sepertinya hendak keluar air maniku;segear kuhentikan gerakan kontolku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dankumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku,tanpa rasa jijik. Setelah agak berkurang denyutan penisku, segera kubenamkanlagi dalam memek Sukma.

Bukan main, remasan dan sedotan memek Sukma. Aku jadi mengertisekarang beda antara memek seorang wanita yang masih gadis dan belum pernahmelahirkan dengan wanita yang sudah melahirkan seperti tante Umi. Kubalik tubuhSukma dan kuangkat pantatnya agak tinggi, sehingga Sukma dalam posisi nungging.Segera kutancapkan penisku ke memeknya dari belakang. Lagi-lagi Yanrtimengerang-erang kadang menjerit kecil Tiba-tiba diangkat dan diputar badannyake belakang, serta di raihnya kepalaku serta diciumnya mulutku, sementarapenisku tetap bekerja keluar masuk memeknya.

Berapa saat kemudian kuganti posisi, aku berbaring terlentang dan Sukmamenindih tubuhku. Dipegang dan dibimbingnya penisku masuk ke vaginanya, dansegera digoyang badanya naik turun di atas tubuhku. Kuremas payu daranya dankuhentakan pantatku ke atas, saat badan Sukma bergerak ke bawah menekan masukpenisku ke dalam memeknya. Tak lama kemudian gerakan Sukma makin menggila danmakin cepat. Dari mulutnya terdengar erangan yang semakin keras dan akhirnyabadanya menegang sambil dari mulutnya terdengar lenguhan Ughh.. Aaah.. Aaah..,kemudian tubuhnya menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat, mass.. aku sudah..,keluar..ooh.. Enak..
Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot memeknya cepat dankeras.., terlihat mata Sukma mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintihdan mengerang..
Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menitkemudian terasa penisku berdenyut-denyut. Kepala Sukma bergoyang ke kanan danke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku sehingga tak ada kemungkinanaku mencabut kontolku saat air maniku keluar nanti, dan akhirnya dengan suatusentakan yang keras kubanjiri liang memeknya dengan cairan maniku..

Kumarahi Sukma, karena dia tak memberiku kesempatan membuang airmaniku di luar liang kemaluannya. Aku khawatir hal ini akan berakibat fatal,yaitu Sukma hamil..
Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingakubahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, karena sudahsedemikian jauhnya pengetahuan dia tentang berhubungan sex dan menjaga diridari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya.Kami bercumbu, berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipankuukurannya lebar, sehingga kami leluasa bercumbu di atasnya.

Dua puluh menit berlalu, terasa penisku mulai menegang dan mengeras.Segera kumasukan lagi kontolku ke memek Sukma. Kembali kami berdua mengumbarnafsu sepuas hati, kali ini aku tetap menjaga posisi di atas, karena aku tahubahwa pada ronde kedua dan ketiga aku lebih bisa mengatur dan menahan klimakslebih lama. Sukma mengerang dan merintih, dan akhirnya pada puncak kepuasanyang kedua kusemburkan lagi benih-benih manusia ke dalam rahim Sukma.

Keringat kami telah bercampur dan membasahi tubuh kami, seprei tempattidur sudah berantakan nggak karuan, kami berbaring berpelukan, kepalanya didadaku, tangan Sukma memainkan penisku, dan sesekali kami saling berciuman.
15 menit kemudian kami ulangi lagi hal yang sama, hingga klimaks kamidapatkan lagi, Kembali kuguyur memeknya dengan caiaran maniku, sambil kamiberciuman panjang sekali.., seolah tak akan henti..

Setelah cukup beristirahat, segera kami berkemas dan berpakaian, dantidak lupa berjanji untuk mengulangi lagi apa yang kami lakukan sore ini.Menjelang maghrib kuantar Sukma pulang ke rumah, dan sebelum aku pamit pulang,sekali lagi kupeluk pinggangnya dan kucium bibirnya dengan mesra. Sejak hariitu resmilah Sukma menjadi pacar tetapku, alias pemuas nafsuku.

TAMAT

Lina sebelum bertemu denganku ternyata pernah berhubungan dengansesama wanita. Dia menuturkan kisahnya kepadaku. Aku sendiri adalah penuliscerita "Aku dan Tante-Tante", "Aku dan Chintya" dan"Aku, Lina dan Ully". Dan hasil penuturannya setelah kuketik dengankata-kataku akan kuceritakan seperti di bawah ini.

Lima tahun yang lalu. Lina masih duduk di kelas dua sebuah SMU diYogyakarta. Suatu hari dia pulang sekolah dan seperti biasanya dia naik motorsambil membonceng temannya yang bernama Eva yang kebetulan satu kos dengannya.Tapi kali ini lain dari biasanya. Eva menempelkan kedua payudaranya padapunggung Lina dan kedua tangannya diletakkan di paha Lina bagian atas. Linaterkejut dengan keberanian Eva, padahal jalan raya yang mereka lewati termasukramai. Ketika melewati jalan yang sepi, Eva malah menggesekkan keduapayudaranya dan tangannya turun ke bawah mengelus paha Lina yang mengenakan rokmini. Lina mendiamkan saja ketika tangan Eva naik ke atas dan meremas keduapayudara Lina yang sudah mengeras karena rangsangan Eva. Sedangkan Eva masihmenggesekkan kedua payudaranya sendiri ke punggung Lina. Lina menikmatiperlakuan Eva. Eva melakukannya sampai mereka tiba ke kos mereka.


Mereka berdua masuk ke kamar masing-masing. Lina masuk ke kamarnya danmelepas pakaiannya, hanya menyisakan pakaian dalamnya. Dia mengharap Eva akanmelanjutkan remasan pada kedua payudaranya. Sampai malam tiba harapan Linatidak menjadi kenyataan. Bahkan Eva dijemput pacarnya yang bernama Rico untukbermalam minggu. Lina akhirnya menghilangkan pikiran gilanya itu dan tidur.Menjelang tengah malam tiba-tiba pintu kamar Lina terbuka. Lina terbangun danmelihat Eva dan Rico sedang berpelukan di pintu kamar Lina. Entah masuknya Evadan Rico ke kamar Lina disengaja atau tidak, atau mereka berdua lupa.

Rico menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur Lina yang besar. Linapura-pura tidur sambil melihat Eva menghampiri Rico dan mencium bibirnya.Tangannya melepas celana Rico dan mengeluarkan batang kemaluan Rico yang sudahmenegang. Tangannya meremas-remas batang kemaluan Rico yang berukuran agakbesar untuk anak seusia 16 tahun sebaya dengan Eva dan Lina. Lina terangsangmelihat Eva dan Rico masih berciuman dan tangan Eva sudah mengocok kemaluanRico. Tetapi Lina masih pura-pura tidur.

Beberapa menit kemudian mulut Eva turun ke bawah dan langsung mengulumkemaluan Rico, mengeluarmasukkan batang kemaluan Rico di dalam mulutnya.Tangannya melepas bajunya sendiri. Begitu pula dengan Rico yang juga melepasbajunya sendiri. Kemudian tangan Eva meremas payudara Lina yang masih pura-puratidur. Lina yang kedua payudaranya mengeras kemudian terbangun dan disambutdengan perkataan Eva. "Mbar, ayo bergabung" Sambil tangannya masihmeremas payudara Lina yang hanya dilapisi daster tidur tanpa memakai BH. Linakemudian duduk dan melepas daster tidurnya sehingga dia kini tinggal memakai CDsaja. Sedangkan Eva sambil duduk sedang melepas celana panjangnya.

Lina terkejut melihat Eva ternyata tidak memakai CD di balik celanapanjangnya. Lina masih duduk melihat Rico yang telentang memegang sendiribatang kemaluannya dan Eva dengan perlahan-lahan memasukkan batang kemaluanRico ke dalam liang kenikmatannya. Eva sambil duduk mengeluarmasukkan kemaluanRico ke dalam liang kenikmatannya. Kemudian setelah agak lama, Eva akhirnyamenindih Rico dengan kemaluan masih berada dalam liang kenikmatannya. Melihathal itu Lina kemudian mengangkat tubuh Eva dan ditelentangkan di samping tubuhRico yang sudah kelelahan. Mulut Lina kemudian mencium mulut Eva yang dibalasdengan jilatan pada lidahnya. Tangan Lina kemudian melepas BH yang dikenakanEva dan kemudian menindih Eva sehingga kedua payudara mereka yang berukuran 34saling menempel.

Rico yang sudah selesai beristirahat kemudian melepas CD yangdikenakan Lina sehingga mereka bertiga sudah sama-sama telanjang bulat. Linamemeluk Eva dan membalik posisinya. Sekarang Eva menindihi Lina. Eva kemudianbangkit dan kedua tangannya meremas kedua payudara Lina sedangkan Ricomenyodorkan batang kemaluannya ke mulut Lina dan mengeluarmasukkannya.Kenikmatan Lina bertambah ketika tangan kanan Eva masih meremas payudarakirinya dan tangan kirinya turun ke bawah. Jarinya dimasukkan ke lubangkemaluan Lina dan mengocoknya perlahan-lahan. Sedangkan dalam waktu yang samatangan kanan Lina meremas payudara kanannya sendiri dan tangan kirinyamengeluarkan batang kemaluan Rico untuk dikocok. Tangan Rico pun tidakketinggalan berpartisipasi. Tangan kanannya membantu tangan kanan Lina yangmeremas payudara kanannya dan tangan kirinya meremas payudara kanan Eva.

Beberapa saat kemudian Rico menghentikan aktivitas Eva danmenelentangkannya. Rico kemudian memuntahkan spermanya ke atas kedua payudaraEva. Lina yang melihat itu langsung menyerbu tubuh Eva dan lidahnya menjilatisperma Rico pada kedua payudara Eva. Dan dari belakang Rico melanjutkanpermainannya lagi. Batang kemaluannya dimasukkan ke liang kenikmatan Lina lewatbelakang. Mulanya Lina merasa kesakitan. Tetapi setelah agak lama Linamenikmatinya disamping menikmati mulutnya yang menghisap payudara Eva danjarinya dimasukkan ke lubang kemaluan Eva dan mengocoknya perlahan-lahan.

Menjelang pagi Rico mengakhiri permainannya. Lina merasa kurang puassehingga melihat Eva masih terangsang, Lina langsung mencium bibir Eva danmulutnya kemudian turun ke bawah menghisap payudara Eva dan turun ke bawah lagiuntuk menjilati liang kenikmatan Eva. Lina melakukannya selama beberapa menitsampai dia merasa lemas dan jatuh telentang. Gantian Eva yang mencium bibirnyadan mulutnya kemudian turun ke bawah menghisap payudara Lina dan turun ke bawahlagi untuk menjilati liang kenikmatan Lina.

Setelah beberapa menit mulut Eva kembali naik ke atas dan menciumbibir Lina dan menindihinya. Mereka saling berpelukan dengan kedua payudarasaling menempel dan lidah saling menjilat dalam kedua mulut mereka. Kedua kakimereka saling menyilang sehingga lubang kemaluan mereka berdua salingbergesekan. Akhirnya mereka berdua sama-sama tertidur karena kelelahan.

Pagi harinya Lina terbangun dan melihat Rico sudah tidak ada di tempattidur. Lina hanya melihat Eva yang masih tidur dalam keadaan telanjang samaseperti dirinya. Lina meremas payudara Eva. Eva terbangun dan mendorong Linasehingga Lina terjatuh dari tempat tidur.

"Kenapa kamu Va?", tanya Lina.
"Malam tadi kamu begitu bergairah bercumbu denganku. Tapi kaliini disentuh sedikit saja marah. Kalau lelah bilang saja. Janganmendorong", kata Lina agak marah.
"Maafkan aku Mbar. Aku sebetulnya juga suka bercumbu denganmu,tapi itu kalau ada laki-laki yang ikut bergabung atau hanya melihat. Kalauhanya kita berdua aku tidak mau. Sekali lagi maafkan aku", Sambil berkatabegitu dia mengenakan pakaiannya dan kembali ke kamarnya. Lina merenungijawaban Eva. Dan ketika beberapa hari kemudian Eva mengajaknya untuk melayaniRico, Lina menolaknya. Lina sudah memutuskan untuk tidak bercumbu bertigadengan seorang laki-laki.

Begitulah kisah Lina yang dituturkan kepadaku. Buat para pembacawanita, yang ingin berkenalan denganku silakan kirim e-mail pada saya. Sertakanbiodata diri dan foto serta pengalaman pertama kali menjadi lesbi.

TAMAT