Showing posts with label Cerita SMA. Show all posts
Showing posts with label Cerita SMA. Show all posts

Namaku Andhika, aku seorang siswa Kelas 1 di SMU yang cukup top di kota Makassar. Pada hari itu aku ingin mengambil tugas kimia di rumah salah satu teman cewekku, sebut saja Rina. Di sana kebetulan aku ketemu sahabat Rina. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Laura, orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya sudah seperti anak kelas 3 SMU, padahal dia baru kelas 3 SMP. Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin menambah kesan payudaranya menjadi lebih besar. Ukuran payudaranya mungkin ukuran 32B karena seakan akan baju seragam SMP-nya itu sudah tidak mampu membendung tekanan dari gundukan gunung kembar itu.



Kami saling diam, hanya aku sedang mengamati dadanya dan pantatnya yang begitu montok. Wah serasa di langit ke-7 kali kalau aku bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku. Terkadang mata kami bertemu dan bukannya ke GR-an tapi aku rasa cewek ini juga punya perasaan terhadapku. Setelah satu jam berada di rumah Rina, aku pun berpamitan kepada Rina tetapi dia menahanku dan memintaku mengantarkan Laura pulang karena rumahnya agak jauh dan sudah agak sore dan kebetulan aku sedang bawa "Kijang Rangga" milik bapakku.

Akhirnya aku menyetujuinya hitung-hitung ini kesempatan untuk mendekati Laura. Setelah beberapa lama terdiam aku mengawali pembicaraan dengan menanyakan, "Apa tidak ada yang marah kalau aku antar cuma berdua, entar pacar kamu marah lagi..?" pancingku. Dia cuma tertawa kecil dan berkata, "Aku belum punya pacar kok." Secara perlahan tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok SMP-nya. Dia memindahkan tangannya dan tinggallah tanganku dengan pahanya. Tanpa menolak tanganku mulai menjelajah, lalu tiba-tiba dia mengangkat tanganku dari pahanya, "Awas Andhi, liat jalan dong! entar kecelakan lagi.." dengan nada sedikit malu aku hanya berkata, "Oh iya sorry, habis enak sih," candaku, lalu dia tersenyum kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu aku pun membawa mobil ke tempat yang gelap karena kebetulan sudah mulai malam, "Loh kok ke sini sih?" protes Laura. Sambil mematikan mesin mobil aku hanya berkata,
"Boleh tidak aku cium bibir kamu?"
Dengan nada malu dia menjawab,
"Ahh tidak tau ahh, aku belum pernah gituan."
"Ah tenang aja, nanti aku ajari," seraya langsung melumat bibir mungilnya.

Dia pun mulai menikmatinya, setelah hampir lima menit kami melakukan permainan lidah itu. Sambil memindahkan posisiku dari tempat duduk sopir ke samping sopir dengan posisi agak terbungkuk kami terus melakukan permainan lidah itu, sementara itu dia tetap dalam posisi duduk. Lalu sambil melumat bibirnya aku menyetel tempat duduk Laura sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun mulai mempermainkan payudaranya yang sudah agak besar, dia pun mendesah, "Ahh, pelan-pelan Andhi sakit nih.." Kelamaan dia pun mulai menyukaiku cara mempermainkan kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju seragam dan langsung menerkam dadanya yang masih terbungkus dengan "minishet" tipis serasa "minishet" bergambar beruang itu menambah gairahku dan langsung memindahkan mulutku ke dadanya.
"Lepas dulu dong 'minishet'-nya, nanti basah?" desahnya kecil.
"Ah tidak papa kok, entar lagi," sambil mulai membuka kancing "minishet", dan mulai melumat puting payudara Laura yang sekarang sedang telanjang dada.Sementara tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih dan bergambar kartun Jepang. Mulutku pun terus menurun menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan lidahku. Laura hanya menutup mata dan mengulum bibirnya merasakan kenikmatan. Sesekali jari tengahku pun kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia hanya menggenggam rambutku dan duduk di atas jok mobil menahan rasa nyeri. Setelah itu aku kecapaian dan menyuruhnya, "Gantian dong!" kataku. Dia hanya menurut dan sekarang aku berada di jok mobil dan dia di bawah. Setelah itu aku menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai membuka celana "O'neal"-ku dan melorotkannya. Lalu aku menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi mulai tegang.

Dengan inisiatif-nya sendiri dia mulai mengocok batang kemaluanku.
"Kalau digini'in enak tidak Andhi?" tanyanya polos.
"Oh iya enak, enak banget, tapi kamu mau nggak yang lebih enak?" tanyaku.
Tanpa berbicara lagi aku memegang kepalanya yang sejajar dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium kemaluanku. "Hisap aja! enak kok kayak banana split," dia menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan terkadang dihisapnya. Karena merasa maniku hampir keluar aku menyuruhnya berhenti, dan Laura pun berhenti menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang sedikit kecewa karena dia sudah mulai menikmati "oral seks". Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas jok dan aku di bawah dengan agak jongkok. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang gadis Laura yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap untuk menerobos lubang kemaluan Laura yang sudah agak basah, lalu Laura bertanya, "Mau dimasukin tuh Andhi, mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede pisang?" tanyanya polos. "Ah tenang aja, pasti bisa deh," sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu dan dia pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang kemaluannya, mungkin dia tidak mau ambil resiko lubang kemaluannya lecet.

Secara perlahan aku pun mulai memasukan batang kemaluanku, "Aah.. ahh.. enak Andi," desahnya dan aku berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat, "Ahh.. ahh.. ahh.. terus pompa Andi." Setelah 20 menit memompa maniku pun sudah mau keluar tapi takut dia hamil lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dan dia agak sedikit tersentak ketika aku mengeluarkan batang kemaluanku.
"Kok dikeluarin, Andi?" tanyanya.
"Kan belum keluar?" tanyanya lagi.
"Entar kamu hamilkan bahaya, udah nih ada permainan baru," hiburku.
Lalu aku mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup membelakangiku.
"Ngapain sih Andi?" tanya Laura.
"Udah tunggu aja!" jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang ketika tanganku menusuk pantat yang montok itu.
"Aahh.. ahh.. sakit Andhi.. apaan sih itu..?"
"Ah, tidak kok, entar juga enak."
Lalu aku mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang kemaluanku dan desahan Laura kali ini lebih besar sehingga dia menggigit celana dalamku yang tergeletak di dekatnya.

"Sabar yah Sayang! entar juga enak!" hiburku sambil terus memompa pantatnya yang montok. Tanganku pun bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan terkadang meremas belahan pantatnya. Laura mulai menikmati permainan dan mulai mengikuti irama genjotanku. "Ahh terus.. Andhi.. udah enak kok.." ucapnya mendesah. Setelah beberapa menit memompa pantatnya, maniku hendak keluar lagi. "Keluarin di dalam aja yah Laura?" tanyaku. Lalu dia menjawab, "Ah tidak usah biar aku isep aja lagi, habis enak sih," jawabnya. Lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya dan langsung dilumat oleh Laura langsung dihisapnya dengan penuh gairah, "Crot.. crot.. crot.." maniku keluar di dalam mulut Laura dan dia menelannya. Gila perasaanku seperti sudah terbang ke langit ke-7.
"Gimana rasanya?" tanyaku.
"Ahh asin tapi enak juga sih," sambil masih membersihkan mani di kemaluanku dengan bibirnya.

Setelah itu kami pun berpakaian kembali, karena jam mobilku sudah pukul 19:30. Tidak terasa kami bersetubuh selama 2 jam. Lalu aku mengantarkan Laura ke rumahnya di sekitaran Panakukang Mas. Laura tidak turun tepat di depan karena takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum dia turun dia terlebih dahulu langsung melumat bibirku dan menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya hendak aku belai dulu sebelum dia turun. "Kapan-kapan main lagi yach Andhi!" ucapnya sebelum turun dari mobilku. Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami karena tahun berikutnya dia masuk SMU yang sama denganku dan kami bebas melakukan hal itu kapan saja, karena tampaknya dia sudah ketagihan dengan permainan itu bahkan Laura pernah melakukan masturbasi dengan pisang di toilet sekolah. Untung aku melihat kejadian itu sehingga aku dapat memberinya "jatah" di toilet sekolah.

TAMAT

Setelah aku lulus SMA, aku melanjutkan studi di Surabaya. Kebetulanaku diterima di sebuah PTN yang terkenal di Surabaya. Mengenai hubungankudengan tante "U" di kota asalku sudah berakhir sejak kepindahankeluarga Oom U ke Medan, dua bulan menjelang aku ujian akhir SMA. Namun kamimasih selalu kontak lewat surat atau telepon.

Perpisahan yang sungguh berat, terutama bagiku; mungkin bagi tante Umi,hal itu sudah biasa karena hubungan sex buat dia hanya merupakan suatukebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnyadenganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya,karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut danmencintainya. Sejak aku mengenal tante Umi, aku mulai mengenal beberapa wanitateman tante Umi, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku.Wanita lain yang sering kutiduri adalah tante Hani; dan tante Anna seorangjanda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan tante Umi ke Medan, merekalahyang menjadi teman kencanku. Karena tante Hani dan tante Anna sudah berstatusjanda, maka tak ada ke-sulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami.


Hampir setiap hari aku menginap di rumah tante Hani, dengan tante Haniboleh dikata setiap hari aku melakukan hubungan intim tidak mengenal waktu, dantempat. Pagi, siang sore atau malam, di kamar, di ruang tamu, di dapur bahkanpernah di teras belakang rumahnya.Teradang kami main bertiga, yakni aku, tanteHani dan tante Anna. Di rumah tante Hani benar-benar diperas tenagaku. Sesekaliwaktu aku harus melayani temen tante Hani yang datang ke sana untuk menghisaptenaga mudaku. Aku sudah nggak peduli lagi rupanya aku dijadikan gigolo oleh tanteHani. Pokoknya asal aku suka mereka, maka langsung kulayani mereka.

Suatu saat aku bertemu dengan seorang gadis. Cantik dan sexy bangetbodynya. Dian namanya temen adik perempuanku. Dengan keahlianku, maka kurayudan kupacari Dian. Suatu hari aku berhasil mengajaknya jalan-jalan ke suatutempat rekreasi. Di suatu motel akhirnya aku berhasil menidurinya, Aku agakkecewa, rupanya Dian sudah nggak perawan lagi. Namun perasaan itu aku pendamsaja. Kami tetap melanjutkan hubungan, dan setiap kali bertemu maka kami selalumelakukan hubungan badani.

Rupanya Dian benar-benar ketagihan denganku. Tak malu-malu diamencariku, dan bila bertemu langsung memintaku untuk menggaulinya. Tapi aneh,Dian tak pernah menga-jakku bahkan melarang aku datang ke rumahnya. Kami biasamelakukan di motel atau hotel melati di kotaku, beberapa kali aku mengajak Dianke rumah tante Hani. Kuperkenal-kan tante Hani sebagai familiku, dan tentunyaaku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bercumbu dengannya di kamar yangsering aku dan tante Hani gunakan bercumbu.

Suatu hari, entah kenapa tiba-tiba Dian memintaku untuk main kerumahnya, katanya dia berulang tahun. Dengan membawa seikat bunga dan sebuahkado aku ke rumahnya. Aku pencet bel pintu dan Dian yang membukakan pintudepan. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Segera Dian bergegas masuk danmemanggil mamanya untuk diperkenalkan padaku. Aku terkejut dan tergugu melihatmamanya; sebab perempuan itu.. ya.. mamanya Dian sudah beberapa kali tidurdenganku di rumah tante Hani. Mama Dian nam-pak pias wajahnya namun segera mamaDian bisa cepat mengatasi keadaan. Mama Dian berlagak seolah-olah takmengenalku, padahal seluruh bagian badannya sudah pernah kujelajahi. Beberapasaat mama Dian menemani kami ngobrol. Dengan sikap tenangnya akupun menjaditenang pula dan mampu mengatasi keadaan. Kami ngobrol sambil bercanda, dannampak terlihat bahwa mama Dian benar-benar seorang Ibu yang sayang pada putritunggalnya itu.

Keesokan harinya, mama Dian menemuiku. Di ruang tamu rumah tante Hanimama Dian menginterogasiku, ingin tahu sudah sejauh mana hubunganku denganDian. Aku tak mau segera menjawab, tanganku segera menarik tangannya danmenggelandang tubuhnya ke kamar. Dia berusaha melepaskan peganganku, namun sia-siatanganku kuat mencekal, sehingga tak kuasa dia melepaskan tangannya darigenggamanku. Kukunci pintu kamar dan segera aku angkat dan rebahkan tubuhnya diatas kasur. Segera kulucuti pakaianku hingga aku telanjang bulat, dan segerakutindih tubuhnya. Dia meronta dan memintaku untuk tak menidurinya; namunpermintaanya tak kuindahkan. Aku terus mencumbunya dan satu persatu pakaiannyaaku lucuti, dan akhirnya aku berhasil memasukkan kontolku di vaginanya. Begitupenisku melesak masuk, maka mama Dian bereaksi, mulai memba-las dan mengimbangigerakanku. Akhirnya kami berpacu mengumbar nafsu, sampai akhirnya mama Diansampai pada puncak kepuasan.

Peluhku bercucuran menjatuhi tubuh mama Dian, kuteruskan hunjamankontolku di memeknya.. Mama Dian mengerang-erang keenakkan, sampai akhirnyaorgasme kedua dicapainya. Aku terus genjot penisku, aku bener-bener kesal danmarah padanya, karena aku tahu dengan kejadian itu maka bakalan usai hubungankudengan Dian, pada-hal cinta mulai bersemi dihatiku.

Sambil terus kugenjot kontolku di memeknya, kukatakan padanya bahwaDian juga sudah sering aku tiduri, namun aku sangat mencintai, menyayangibahkan ingin menika-hinya. Aku katakan semua itu dengan tulus, sambil takterasa air mataku menetes. Akhirnya dengan hentakan yang keras aku mengejankuat, menumpahkan segala rasa yang aku pendam, menumpahkan seluruh air manikuke dalam memeknya. Badanku tera-sa lemas, kupeluk tubuh mama Dian sambilsesenggukan menangis di dadanya. Air mata-ku mengalir deras, mama Dian membelaikepalaku dengan penuh rasa sayang; kemudian dikecup dan dilumatnya bibirku.

Tubuhku berguling telentang di samping kanan tubuhnya, mama Dianmerangkul tubuh-ku menyilangkan kaki kiri dan meletakkan kepalanya didadaku.Terasa memeknya hangat dan berlendir menempel diperutku, tangan kirinyamngusap-usap wajahku. Tak henti-hentinya mulutnya menciumku.

Sambil bercumbu aku ceritakan semua kisah romanceku, hingga aku sampaiterlibat dalam pergaulan bebas di rumah tante Hani. Dengan sabar didengarnyaseluruh kisahku, sesaat kemudian kembali penisku menegang keras. Segeratanganku bergerilya kembali di memeknya, selanjutnya kembali kami berpacumengumbar nafsu kami. Kami bercumbu benar-benar seperti sepasang pengantin barusaja layaknya. Seolah tak ada puasnya. Sampai akhirnya kami kembali mencapaipuncak kepuasan beberapa kali.

Setelah babak terakhir kami selesaikan, mama Dian bangkit danmenggandengku menuju kamar mandi, kami mandi berendam bersama di kamar mandisambil bercumbu. Sambil berendam kami bersenggama lagi. Setelah puas kamimenumpahkan hasrat kami, kami keringkan tubuh kami dan segera berpakaian.Nampak sinar puas membias di wajah mama Dian.

Dengan bergandeng tangan kami keluar kamar, kupeluk pinggangnya dankuajak menuju ke ruang tamu. Kami duduk berdua, kemudian berbincang mengenaikelanjutan hubunganku dengan Dian. Mama Dian ingin agar hubunganku dengan Diandiakhiri saja, walaupun kami sudah begitu jauh berhubungan, sekalipun Diansudah hamil karenaku. Dia memberikan pandangan tentang bagaimana mungkin akumenikahi Dian, sedangkan aku dan mama Dian pernah berhubungan layaknya suamiistri, sebab bagaimanapun kami akan tinggal serumah. Bagaimana mungkin kamimelupakan begitu sqaja affair kami; rasanya tak mungkin.

Aku bisa mengerti dan menerima alasan mama Dian, namun aku bingungbagaimana cara menjelaskan kepada Dian. Aku tak sanggup kalau harus memutuskanDian. Akhirnya aku ideku pada mama Dian. Selanjutnya selama beberapa hari akutak mene-muidan sengaja menghindari Dian. Mamanya memberitahu kalau Dian saatini dalam keadaan hamil 2 bulan akibat hubungannya denganku.

Pada suatu hari, aku di telepon mama Dian. Dia memberitahu kalau Diansedang menuju ke rumah tante Hani untuk menca-ri aku. Aku sudah tahu apa yangharus aku lakukan, saat itu tante Hani sedang menyiram tanaman kesayangannya dikebun belakang. Segera kuhampiri dia dan aku ajak ia ke kamar yang biasa akudan Dian pakai untuk berkencan.

Kulucuti seluruh pakaian tante Hani dan juga pakaianku sendiri,selanjutnya kami bersenggama seperti biasanya. Tak berapa lama Dian datang danlangsung menuju ke kamarku. Terdengar pekik tertahan dari mulut-nya saatmelihat adegan di atas ranjang; dimana aku dan tante Hani sedang asyikbersenggama. Terdengar pintu kamar dibanting, Dian pulang ke rumah dengan hatiyang amat terluka. Tante Hani merasa tak tega dengan kejadian itu, tante Hanimemintaku untuk segera menyusul Dian; namun tak kuhiraukan; bahkan aku semakinkeras dan cepat menghentakan penisku di memeknya. Tante Hani mengerang-erangkeenakan, mengimbangi dengan gerakan yang membuat penisku semakin cepatberdenyut. Kami mencapai orgasme hampir bersama, aku berguling danmenghempaskan badanku ke samping tante Hani. Mataku menerawang jauh menataplangit-langit kamar, air mataku bergulir membasahi pipiku. Inilah akhirhubunganku dengan Dian, akhir yang amat menyakitkan. Dian pergi dariku denganmembawa benih anaku di rahimnya.

Musnah sudah impian dan harapanku untuk membina rumah tanggadengannya. Tante Hani menghiburku; Dia mengingatkan aku bahwa aku sudah membuatkeputusan yang benar. Jadi tak perlu disesali. Didekapnya tubuhku, akumenyusupkan mukaku ke dada tante Hani; ada suatu kedamaian disana; kedamaianyang memabukkan; yang membangkitkan hasrat kelelakianku lagi. Sessat kemudiankami berpacu lagi dengan hebat, hingga beberapa kali tante Hani mencapai puncakkepuasan. Aku memang termasuk tipe pria hypersex dan mampu mengatur timingorgasmeku, sehingga setiap wanita yang tidur denganku pasti merasa puas danketagihan untuk mengulangi lagi denganku.

Beberapa hari kemudian aku terima telepon Dian, sambil terisak Dianpamit padaku karena dia dan mamanya akan pindah ke Surabaya. Aku mintaalamatnya, tapi Dian keberatan. Dari nada suaranya nampak Dian sudah tidakmarah lagi padaku; maka aku memohon padanya untuk terakhir kali agar dapat akumenemuinya. Dian mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur kerumahnya untuk Inilah saat terakhir akku berjumpa dengan kekasihku.

Kupencet bel pintu, mama Dian membuka pintu dan menyilahkan aku masuk.Nampak wajahnya masih berbalut duka dan kesedihan, dia amat merasa bersalahkarena menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian. Mama Dianmenggandengku menuju ruang keluarga, nampak Dian kekasihku duduk menungguku.

Melihat aku Dian bangkit dan menghampiri aku, tak kusangka pipikuditamparnya dengan keras. Kubiarkan saja agar rasa kesal dan tertekan dihatinyaterlampiaskan. Dian berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangan danpipiku bergantian seolah tak percaya akan apa yang dia lakukan. Tiba-tibaditubruk dan dipeluknya badanku, dibenamkan mukanya ke dadaku sambilsesenggukan menumpahkan tangisnya. Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambut-nya.

Agak lama kami demikian; kami menyadari bahwa saat inilah saatterakhir bagi kami untuk bertemu. Mama Dian mendekat dan merangkul kami berdua,dan membimbing kami untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambilberpelukan, mama Dian ditengah; kedua tangannya memeluk kami berdua.

Akhirnya kesunyian diantara kami terpecahkan dengan ucapan mama Dian.Mama Dian mengatakan memberi kesempatan pada kami untuk memutuskan, apakah akankami lanjutkan hubungan kami atau kami putuskan sampai disini saja.
Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berartiaku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkankeputusan akhir pada Dian. Sambil terisak Dian akhirnya memutuskan untukmengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku,Dian menjawab biarlah.., ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua.., Dian kantetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasihsayangnya.

Beberapa saat kemudian aku berpamitan, dengan berat Dian melepaskanpelukanku, namun sebelum kami berpisah sekali lagi Dian memintaku untukmenemaninya. Ditariknya aku ke kamarnya dan dengan penuh kasih sayang,dibukanya pakaianku dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kami berdiriberpelukan dnegan tanpa sehelai benang menempel pada tubuh kami.

Kucumbui Dian kekasihku untuk terakhir kalinya, aku genjot penisku dimemeknya dengan lembut dan penuh perasaan, aku khawatir kalau-kalau genjotankuakan menyakit-kan anakku yang ada dirahimnya. Semalam kami bercengkerama, padapagi keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang amat berat dilepaskepergianku, aku berpamitan pula pada mama Dian, aku cium punggung tangannyasebagai tanda kasih anak ke ibunya, ditengadahkan mukaku dan dikecupnyakeningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku pada Dian dan mohonpadanya agar memberi kabar saat kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhirhubunganku dengan Dian dan mamanya.

Beberapa hari setelah perpisahanku dengan Dian, aku merasa sepi dansedih. tante Hani yang senantiasa menghiburku, dengan gurauan, kemolekan,kehangatan tubuhnya, dan dengan kasih sayangnya Terkadang di dalamkesendirianku, aku terngat tante Umi, dengan segala kehangatan tubuhnya. Akuteringat moment-moment yang pernah kami jalani di salah satu kamar di rumah tanteHani.

Di salah satu kamar di rumah tante Hani itulah kami biasa mengumbarnafsu kami, saling menumpahkan rasa rindu kami, sudah tak terhitung lagi barapabanyak aku menyengga-mainya menumpahkan segenap rasa dan nafsuku, dan sebanyakitu kami berhubungan tak pernah sekalipun kami menggunakan alat kontrasepsi,baik itu kondom, spriral, tablet atau sebangsanya. Jadi kami melakukannyasecara alami saja, dan tentunya dapat dibayangkan akibatnya. Yach.. tante Umipergi dengan membawa banyak kenangan indahku, membawa cintaku dan membawa pulajanin dari benih yang kutanam di rahimnya..

Awal semester pertama sudah berjalan 2 bulan lebih 5 hari, jadi takterasa aku sudah menempati rumah petak kontrakanku selama itu. Setiap hari akuberjalan kaki ke tempat kuliah, yang memang tak jauh dari rumah kontrakanku.
Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selalu melewatisebuah rumah yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Ranidan Kak Rina, sedangkan si bungsu Sukma masih SMA kelas 1 (baru masuk).

Kak Rani dan Kak Rina anak kembar, hanya saja nasib Kak Rani lebihbaik ketimbang Kak Rina. Kak Rani bersuamikan pegawai Bank dan sudah memilikirumah serta dua anak perempuan, sedangkan Kak Rina bersuamikan seorangpengemudi box kanvas suatu perusahaan dan belum dikarunia anak, serta masihtinggal bersama ibunya. Bu Maman seorang janda yang baik hati dan sayang benarsama cucunya, yaitu anak Kak Rani.

Pada mulanya aku berkenalan dengan Sukma, Sukma termasuk gadis yangagresif dan aku juga sudah mendengar cukup banyak tentang petualangan cintanyasejak dia duduk di bangku SMP, jadi masalah sex buat Sukma bukan hal yang barulagi.

Perkenalanku terjadi saat aku pulang kuliah sore hari, dimana hujanturun cukup lebat. Pada saat aku berjalan hendak memasuki mulut gang,berhentilah sebuah angkot dan ternyata yang turun Sukma dengan seragam SMAnya.

Aku menawarinya berpayung bersama dan ternyata dia mau. Kuantar Sukmasampai rumahnya, setiba di rumahnya dipersilahkannya aku masuk dan duduk diruang tamu, sementara dia masuk berganti pakaian. Saat aku menunggu Sukma, KakRina keluar dengan membawa secangkir teh hangat dan kue. Mulutku secara taksadar ternganga melihat kecantikan Kak Rina. Mata nakalku tak henti melirik danmencuri pandang padanya. Padahal Kak Rina hanya berpakaian sederhana, hanyamengenakan daster motif bunga sederhana, namun kecantikannya tetap nampak.Kulitnya yang putih kekuningan dan badannya yang segar dengan buah dada yangmenonjol, semakin menambah kecan-tikan penampilannya sore itu.

Melihatku dia tersenyum, nampak sebaris gigi putih yang bersihberjajar. Aku tergagap dan segera kuulurkan tangan untuk berkenalan dengannya.Hangat tengannya dalam genggamanku, dan sambil menunggu Sukma selesai bergantipakaian dia menemaniku ngobrol. Dalam obrolan ku dengan Kak Rina sore itu, barukutahu kalau Kak Rina sering melihatku saat aku berjalan berangkat dan pulangkuliah. Itulah hari pertamaku berke-nalan dengan keluarga Sukma.

Pagi esok harinya, saat aku berangkat kuliah, aku bertemu Kak Rina dimulut gang. Kami bersalaman, tiba-tiba timbul kenakalanku, kugelitik telapaktangan Kak Rina saat kugeng-gam, ternyata dia diam saja bahkan senyum padaku.Sejenak kami berbasa-basi bicara, kemudian aku cepat bergegas kuliah.

Sore hari aku baru pulang kuliah, langit mendung tebal sepertinya mauhujan. Saat kubuka pintu rumah, kulihat Sukma dan teman kostku sedang ngobroldi ruang tamu., rupanya dia sengaja datang untukku. Tak lama kemudian temenkostku pamit mau kuliah sore sampai jam 19.00 WIB. Setelah aku berganti pakaiankutemui Sukma dan kami ngobrol berdua. Tiba-tiba aku teringat bahwa Sukma belumkusuguhi minum, cepat-cepat aku permisi ke dapur untuk membuat minuman buatnya.Saat aku beranjak ke dapur Sukma mengikutiku dari belakang, dan di dapur kamilanjutkan obrolan kami sambil kuteruskan membuat minuman.

Sukma berdiri bersandar meja dapur, aku mendekatinya dan isengkupegang tangannya. Agaknya Sukma memang mengharap suasana demikian, diatanggapi pegangan tanganku dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, sehinggamuka kami berjarak cuman beberapa senti saja. Hembusan nafasnya terasa menerpawajahku. Kesempatan itu tak kubiarkan lewat begitu saja, segera aku sambarpinggangnya dan kucium lumat mulutnya.

Kami berciuman agak panjang, lidah kami saling beradu dan memilin,sementara sigap tanganku menggerayangi dan meremas pantat Sukma. Tanganku tidakberhenti, terus bergerak menyingkap bagian depan roknya, dan segera tangankumengelus-elus memek Sukma yang masih tertutup celana tipis, sementara itumulutku menjalar dan menciumi lehernya. Sukma merintih lembut, dan semakinmempererat pelukannya.

Tangan kananku yang sudah terlatih segera melepas kancing depanbajunya, selanjutnya meremas-remas buah dadanya, kulepas tali Bhnya dan segerakujelajahi dua bukit kembarnya yang sudah mengeras. Kuhisap lembut putingsusunya, Sukma semakin menekan kepalaku ke dadanya.

Aku sudah tahu apa yang dikehendakinya, segera kutarik dia ke kamarku,dan segera kubuka resleting roknya, kulepas bajunya kemudian BHnya. Nampaktubuh Sukma polos tak tertutup kain, hanya CD tipisnya saja yang tinggalmelekat di badannya. Segera kuhujani Sukma dengan ciuman, kujilati sekujurtubuhnya, kuhisap puting susunya, dan terus mulutku bergerak ke bawah, sambilpelan-pelan tanganku melepas CD-nya.
Begitu CD-nya lepas segera kuserbu memeknya, lidahku menjilatimemeknya, sementara kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Sukmamerintih dan mengerang, dan sesaat kemudian ditariknya bahuku ke atas, sehinggakami berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semuapakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap kontolku, dijilati dan dikocoknyapelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.

Segera kudorong tubuhnya terlentang di atas dipan dan lidahku terusbergerilya di memeknya, juga ke dua jari tanganku ikut pula menjelajahimemeknya, ke dua pahanya mengangkang lebar dan nampak lobang memeknya sepertinyasiap melahap kontolku bulat-bulat. Sukma mengerang-ngerang dan memintaku segeramemasukkan kontol ke dalam memeknya. Mas.. ayo.. masukkan.. ayo maas..

Hujan di luar turun dengan deras, suara hujan mengalahkan erangan danteriakan Sukma, sehingga aku tak khawatir orang akan mendengar suaranya.Kubiarkan Sukma dalam keadaan begitu, sambil lidahku terus menjilati memeknya. Sukmamerintih dan mengerang.. sambil menghiba untuk segera memulai permainan kami.Bau memeknya, semakin membangkitkan gairahku, dan akhirnya akupun tak tahan..

Segera kutindih tubuhnya dan kebenamkan kontolku dimemeknya dengansatu sentakan yang sedikit agak keras. Segera kukocok memeknya dengan cepat dankeras. Sukma mengerang, merintih dan mengimbangi gerakan keluar masuk kontolkudengan pas.., sehingga kadang terasa kontolku bagai dihisap dan diremas didalam memeknya.
Terasa kontolku berdenyut-denyut, sepertinya hendak keluar air maniku;segear kuhentikan gerakan kontolku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dankumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku,tanpa rasa jijik. Setelah agak berkurang denyutan penisku, segera kubenamkanlagi dalam memek Sukma.

Bukan main, remasan dan sedotan memek Sukma. Aku jadi mengertisekarang beda antara memek seorang wanita yang masih gadis dan belum pernahmelahirkan dengan wanita yang sudah melahirkan seperti tante Umi. Kubalik tubuhSukma dan kuangkat pantatnya agak tinggi, sehingga Sukma dalam posisi nungging.Segera kutancapkan penisku ke memeknya dari belakang. Lagi-lagi Yanrtimengerang-erang kadang menjerit kecil Tiba-tiba diangkat dan diputar badannyake belakang, serta di raihnya kepalaku serta diciumnya mulutku, sementarapenisku tetap bekerja keluar masuk memeknya.

Berapa saat kemudian kuganti posisi, aku berbaring terlentang dan Sukmamenindih tubuhku. Dipegang dan dibimbingnya penisku masuk ke vaginanya, dansegera digoyang badanya naik turun di atas tubuhku. Kuremas payu daranya dankuhentakan pantatku ke atas, saat badan Sukma bergerak ke bawah menekan masukpenisku ke dalam memeknya. Tak lama kemudian gerakan Sukma makin menggila danmakin cepat. Dari mulutnya terdengar erangan yang semakin keras dan akhirnyabadanya menegang sambil dari mulutnya terdengar lenguhan Ughh.. Aaah.. Aaah..,kemudian tubuhnya menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat, mass.. aku sudah..,keluar..ooh.. Enak..
Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot memeknya cepat dankeras.., terlihat mata Sukma mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintihdan mengerang..
Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menitkemudian terasa penisku berdenyut-denyut. Kepala Sukma bergoyang ke kanan danke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku sehingga tak ada kemungkinanaku mencabut kontolku saat air maniku keluar nanti, dan akhirnya dengan suatusentakan yang keras kubanjiri liang memeknya dengan cairan maniku..

Kumarahi Sukma, karena dia tak memberiku kesempatan membuang airmaniku di luar liang kemaluannya. Aku khawatir hal ini akan berakibat fatal,yaitu Sukma hamil..
Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingakubahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, karena sudahsedemikian jauhnya pengetahuan dia tentang berhubungan sex dan menjaga diridari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya.Kami bercumbu, berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipankuukurannya lebar, sehingga kami leluasa bercumbu di atasnya.

Dua puluh menit berlalu, terasa penisku mulai menegang dan mengeras.Segera kumasukan lagi kontolku ke memek Sukma. Kembali kami berdua mengumbarnafsu sepuas hati, kali ini aku tetap menjaga posisi di atas, karena aku tahubahwa pada ronde kedua dan ketiga aku lebih bisa mengatur dan menahan klimakslebih lama. Sukma mengerang dan merintih, dan akhirnya pada puncak kepuasanyang kedua kusemburkan lagi benih-benih manusia ke dalam rahim Sukma.

Keringat kami telah bercampur dan membasahi tubuh kami, seprei tempattidur sudah berantakan nggak karuan, kami berbaring berpelukan, kepalanya didadaku, tangan Sukma memainkan penisku, dan sesekali kami saling berciuman.
15 menit kemudian kami ulangi lagi hal yang sama, hingga klimaks kamidapatkan lagi, Kembali kuguyur memeknya dengan caiaran maniku, sambil kamiberciuman panjang sekali.., seolah tak akan henti..

Setelah cukup beristirahat, segera kami berkemas dan berpakaian, dantidak lupa berjanji untuk mengulangi lagi apa yang kami lakukan sore ini.Menjelang maghrib kuantar Sukma pulang ke rumah, dan sebelum aku pamit pulang,sekali lagi kupeluk pinggangnya dan kucium bibirnya dengan mesra. Sejak hariitu resmilah Sukma menjadi pacar tetapku, alias pemuas nafsuku.

TAMAT

Namaku Desy, mahasiswi tingkat tiga di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Aku dan saudaraku empat bersaudara, aku anak nomor tiga. Kakakku yang paling besar, Mbak Ine sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta. Kakakku nomor dua, Mas Doni bekerja di Batam, dan adikku Danu yang paling bungsu masih kelas satu SMU negeri di Bandung.

Pertama kali aku melakukan hubungan seks dengan kakakku nomor dua saat aku masih kelas dua SMU. Saat itu kakakku sedang cuti dan pulang ke Bandung, aku sangat senang sekali. Kami bertiga pergi ke Cipanas dan kami menyewa sebuah pondokan di sana. Malam harinya saat aku sedang tertidur lelap di kamarku, aku merasa ada sesuatu di kemaluanku. Mula-mula rasanya enak sekali seperti ada yang membelai dan menghisapnya, tetapi tiba-tiba rasanya sangat sakit seperti ada yang menekan dan berusaha masuk, dan kurasakan juga seperti ada yang sedang menindihku.



Saat aku membuka mataku, aku melihat kakakku sedang menindihku dan berusaha memasukkan batang kemaluannya, aku mencoba berontak tapi tenagaku kalah kuat.
"Mas Doni jangan, aduh sakit Mas.., sakit..!"
"Ah diem aja dan jangan coba teriak..!" kata kakakku.
Malam itu kegadisanku diambil oleh kakakku sendiri. Tidak ada rasa nikmat seperti yang kubaca di buku, melainkan rasanya sakit sekali. Aku hanya bisa pasrah dan menahan sakit di bagian liang kewDesytaanku saat kakakku bergerak di atas tubuhku. Gerakannya kasar seperti ingin mencabik-cabik tubuhku. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu. Saat kulihat tubuh kakakku mengejang dan kurasakan ada sesuatu yang hangat menyemprot ke dalam liang senggamaku, semakin hancurlah perasaan hatiku.

Pagi harinya aku hanya terdiam di kamar, karena tubuhku rasanya lemas dan sakit. Saat kakakku mengajakku pergi, aku hanya memalingkan wajahku dan menangis. Sore harinya kakakku masuk ke kamarku, dia minta maaf atas kejadian semalam dan berusaha untuk memperbaikinya, tapi aku hanya diam saja. Malam harinya kakakku datang lagi ke kamarku. Aku sangat ketakutan, tapi dia hanya tersenyum dan mencoba mencium bibirku, aku kembali berontak. Aku memaki-maki kakakku, tapi dia tidak peduli dan kembali mencium bibirku sambil meremas payudaraku, lama-lama aku menjadi terangsang karenanya. Dan malam itu kembali aku dan kakakku melakukannya, tapi lain dari malam yang kemarin, malam ini aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kami melakukannya dua sampai kali.

Sebelum kakakku kembali bekerja di Batam, saat mengantar kakakku di Bandara, aku meminta hadiah perpisahan darinya.
Di kamar mandi Bandara kami melakukannya lagi, "Ah Mas Doni.., terus Mas.. akh.."
"Akh Desy, kamu cantik sekali, akh.. Desy, Mas Doni mau keluar, akh..!"
"Desy juga Mas.., akh.. Mas, Desy keluar Mas.., akhh..!"
Mas Doni memelukku erat-erat, begitu juga diriku. Setelah beberapa saat kami berciuman dan kembali lagi ke ruang tunggu dengan alasan habis dari kantin beli makanan. Aku hanya bisa menangis saat Mas Doni pergi, tapi aku juga sangat bahagia dengan hadiah yang diberikannya.

Sejak saat itu aku seperti ketagihan dengan seks, dan untuk melampiaskannya aku hanya dapat melakukan masturbasi di kamar mandi. Aku sudah punya pacar dan kami melakukannya sampai sekarang, tapi aku jarang merasakan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari kakakku. Dan saat adikku mulai beranjak dewasa, aku melihat sosok kakakku, tapi adikku lebih tampan dan gagah bila dibandingkan dengan kakakku. Aku sering merasa terangsang, tapi hanya bisa kutahan dan lagi-lagi hanya bisa kulampiaskan dengan jalan masturbasi. Entah berapa lama aku bisa menahan keinginan untuk melakukannya dengan adikku.

Sampai suatu hari, saat orang tuaku sedang tidak ada di rumah, adikku baru pulang sekolah dan aku menyiapkan makan siang untuknya. Karena hari itu terasa panas, aku hanya menggunakan celana pendek dan t-shirt tanpa memakai BH. Saat adikku kusuruh makan, Danu menolak karena sudah makan di luar bersama teman-temannya, dan akhirnya aku makan sendiri, sedangkan adikku asyik berenang. Selesai makan aku buatkan jus jeruk dan kuantarkan ke kolam renang. Sambil meminum jus jeruk, aku melihat adikku berenang. Saat Danu keluar dari kolam renang dan duduk di sebelahku sambil meminum jus jeruk dan berjemur, jantungku berdetak semakin cepat dan aku sangat tidak tahan untuk memeluknya.

Tidak kusangka adikku yang dulunya polos, sekarang sudah berubah menjadi seorang cowok yang gagah dan tampan terlebih lagi hobinya adalah berenang. Dadanya terlihat bidang dengan bentuk yang menggairahkan, tubuhnya atletis dan bisa kutebak kalau batangnya juga lumayan besar. Aku hanya dapat memandangnya, wajahnya ditutupi oleh handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan tubuhnya. Aku sudah tidak tahan lagi dan aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku membelai dada adikku dan Danu hanya menggelinjang kegelian.

"Mbak Desy.., apaan sih..? Geli tau..! Kurang kerjaan, mendingan bikinin aku roti bakar.."
Aku sedikit terkejut dan kucubit perutnya, Danu hanya tertawa.
"Emang aku pembantumu, enak aja." kataku agak jengkel.
Aku sudah benar-benar tidak tahan, tanpa pikir panjang lagi kutindih tubuh adikku dan kulempar handuk dari wajahnya.
"Mbak Desy mau ngapain sih..?" tanyanya.
Tanpa sepatah kata pun langsung kucium mulutnya dan kuremas-remas dadanya yang bidang itu. Adikku sangat terkejut dengan apa yang kulakukan dan mendorong tubuhku. Aku tidak peduli, kucium lagi bibirnya dan kali ini adikku tidak bereaksi apa-apa dan mencoba untuk menikmatinya. Aku tahu kalau Danu mulai terangsang, karena kurasakan diantara kedua pahanya ada sesuatu yang bertambah besar.

Kuciumi terus bibir dan lehernya, adikku sedikit kewalahan tapi Danu selalu mencoba membalas ciumanku walau terasa agak kaku.
"Baru pertama dicium cewek ya..?" tanyaku.
"Ah Mbak banyak omong, terusin aja Mbak..!" katanya tidak sabar lagi.
Mendengar ucapannya aku jadi semakin bersemangat, langsung kubuka kaosku, dan adikku hanya bisa melotot melihat payudaraku yang cukup besar.
"Wah susu Mbak bagus sekali, baru kali ini Danu melihat susu cewek." katanya.
Kusuruh Danu memegang dan meremasnya, "Aduh jangan keras-keras, sakit.. Coba sekarang kamu isep susu Mbak.."
Lalu kusodorkan payudaraku ke mulutnya, Danu mengulum dan menghisap puting payudaraku, "Akh enak sekali Ton, sshs.. akhh terus Ton.., enak sekali.."

Kusuruh Danu berhenti, lalu kuciumi lagi bibir dan lehernya, kemudian kuturun ke dadanya dan kuciumi serta kugigit pelan putingnya, Danu hanya bisa mendesah lirih, "Akh.. enak Mbak, akhh.."
Dengan tergesa aku turun kebawah, kulihat batang kejantanannya yang gagah sudah sedikit tercetak dan memperlihatkan kepalanya di celana renang adikku. Dengan penuh nafsu langsung kutarik celana renang adikku sampai ke lututnya.
"Wah.., Ton punya kamu Oke juga nih, lebih bagus dari punya Mas Doni.."
Adikku hanya tersenyum dan sepertinya tidak sabar dengan apa yang akan kulakukan. Aku pun lalu membuka celanaku dan sekarang aku telanjang. Danu bangun dari kursi dan duduk, lalu Danu meraba bibir kemaluanku, kemudian kusuruh Danu menjilati bibir kemaluanku. Danu kelihatannya kaget tapi langsung kutarik kepalanya ke arah kemaluanku, dan Danu mulai menjilati permukaan lubang senggamaku.
"Akh.., Ton enak sekali terus akh.. yaa disitu Ton, enak.., akhh.. terus Ton terus akkhh.." desahku.
Aku menggelinjang keenakan dibuatnya, rasanya enak sekali dan aku sangat suka jika ada yang menjilati kemaluanku. Aku sudah tidak tahan, kudorong tubuh adikku ke kursi lagi, kemudian kupegang batang kejantanannya dan kuarahkan ke liang senggamaku. Danu kelihatannya sedikit tegang saat kepala kejantanannya menyentuh permukaan bibir kemaluanku. Danu menahan nafas dan mengerang saat aku menekan tubuhku ke bawah, dan batang kejantanannya masuk seluruhnya ke liang kewDesytaanku.
"Akh.. Mbak.. enak sekali.. hangat.. yeah.. ayo Mbak terusin..!"

Aku lalu bergerak, menggoyangkan pantatku ke atas dan ke bawah, dan kadang kuputar-putar, tangan adikku kusuruh meremas-remas payudaraku dan Danu sangat bernafsu sekali. Aku bergerak semakin lama semaki cepat, tanganku memegang paha adikku untuk tumpuan. Beberapa saat kemudian, nafas adikku mulau memburu dan gerakannya mulai tidak karuan, kadang memegang pantatku, kadang meremas payudaraku, dan aku tahu kalau Danu sudah hampir sampai dan berusaha menahannya.

"Akh.. Mbak.., aduh.. Danu mau keluar Mbak..!"
"Tahan Ton.., Mbak sebentar lagi akhh..!"
Semakin kupercepat gerakanku, aku mulai liar. Kuremas dadanya dan saat kurasa kenikmatan itu, aku menekan tubuh adikku, dan tubuhku menjadi tegang sambil kuremas paha adikku.
"Danu nggak tahan lagi Mbak.. akh.. Mbak, Danu keluar Mbak akhh..!"
Pantatnya terangkat ke atas seperti ingin menusuk kewDesytaanku dan kurasakan semprotannya yang cukup keras beberapa kali di dalam rahimku. Begitu juga denganku, otot kemaluanku menekan batangnya dan kurasakan liangku semakin basah, baik oleh cairanku ditambah mDesy adikku yang menyemprot sangat banyak di lubang senggamaku.

Tubuh kami basah oleh keringat, dan kemudian kupeluk tubuh adikku menikmati sisa-sisa kenikmatan tadi. Nafas adikku mulai teratur dan kurasakan batang kemaluannya mulai mengecil di liang kewDesytaanku, namun pantatku masih tetap bergoyang di atas tubuhnya.
"Mbak, enak sekali.., makasih ya Mbak, baru pertama kali ini Danu merasakan nikmatnya tubuh perempuan dan nikmatnya melakukan hubungan badan."
"Mbak yang harusnya makasih sama kamu, ternyata adik Mbak cukup hebat walau baru pertama kali, tapi Mbak sangat puas sekali dan Mbak pengen sekali lagi, bolehkan Ton..?"
"Wah.., Danu juga mau Mbak..!"

Kucabut batang kejantanannya dari lubang kewDesytaanku dan kembali kurasakan orgasme saat mencabutnya. Batang kemaluan adikku sudah mengecil sekarang, tapi tetap telihat gagah. Danu lalu duduk di pinggir kursi dan aku kemudian menjilati batang kejantanannya, Danu kembali mendesah, "Ssshh.., enak Mbak..!"
Tangannya membelai rambutku dan kadang meremas payudaraku. Aku kembali terangsang dan batang kemaluan Danu dengan cepatnya kembali tegak dan kokoh. Aku lalu lari dan menceburkan diriku di kolam renang, Danu menyusul setelah membuka celana renang yang masih tertinggal di lututnya. Di kolam kembali kami berciuman, tapi sekarang Danu kubiarkan lebih agresif. Sambil duduk di tangga kolam, diciuminya bibir dan leherku, kemudian dihisapnya puting payudaraku.

Kemudian kurasakan Danu berusaha memasukkan batang keperkasaannya, tapi selalu meleset. Aku hanya tertawa kecil, lalu kubantu dia. Kupegang batangnya dan kuarahkan ke kemaluanku. Danu hanya tertawa kecil dan kemudian dia menekan rudalnya ke sarangku. Danu lalu menggerakkan pantatnya dan memompa senjatannya keluar masuk liang surgaku, nafasnya juga mulai memburu. Aku menikmati tekanan yang diberikan Danu dan rasanya nikmat sekali.
"Akh.., enak sekali Ton, yang keras Ton..! Akh..!"
"Akhh Mbak.., kita pindah di kursi ya..? Di sini nggak enak."
Danu lalu mengangkat tubuhku, kulingkarkan kakiku di pinggangnya sehingga aku masih bisa bergerak walaupun Danu berdiri dan berjalan ke arah kursi tempat kami tadi.

Di baringkannya tubuhku, lalu Danu mulai memompa batang kejantanannya lagi, semakin lama semaki cepat. Aku mengimbangi gerakakn Danu dengan mengerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan, kadang kuremas-remas pantat adikku yang kenyal. Nafas Danu mulai tidak teratur.
"Lebih cepat Ton.. akh..!"
"Mbak.., Danu mau keluar Mbak, akh..!"
Gerakan Danu semakin cepat, dan saat kulihat tubuh Danu mulai mengejang, kulingkarkan kakiku di pinggangnya. Danu menekan dan memasukan batang kemaluannya lebih dalam lagi.
"Akh.., Mbak, Danu keluar Mbak, akhh.., Mbak.. ngeakhh.."

Tubuhnya lalu rubuh di atas tubuhku. Tanpa mengeluarkan burungnya, kusuruh Danu berbalik dan aku mulai menggerakkan pantatku di atas tubuhnya. Batang kemaluan Danu memang mengecil, tapi lama-lama mulai mengembang lagi. Aku bergerak tidak karuan di atas tubuhnya, sampai beberapa saat kemudian aku orgasme, kupeluk erat-erat tubuh Danu. Setelah agak tenang, karena aku tahu kalau Danu belum keluar, kemudian aku turun dan mengulum batang keperkasaannya. Danu menggerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dan kadang menusuk ke dalam mulutku. Selang beberapa waktu kemudian, batang kemaluannya seperti mengembang di dalam mulutku.
"Akh.., Danu keluar Mbak.. akhh..!"
MDesynya menyembur di dalam mulutku dan kutelan semuanya, kemudian kami berpelukan dan berciuman. Tanpa sadar kami tertidur di kursi, kepalaku kurebahkan di dadanya dan tubuhku di atas tubuhnya.

Sore hari kami dikejutkan oleh suara klakson mobil dan kami buru-buru bangun. Aku memakai bajuku yang berserakan di pingir kolam dan Danu buru-buru mengambil celana renangnya dan berlari ke kamarnya. Saat makan malam, kakiku mengeranyangi kakinya dan jari kakiku menekan batangnya yang mulai mengembang. Kedua orang tuaku sedikit keheranan dengan kelakuan kami, tapi mereka tidak pernah tahu dengan apa yang telah terjadi di antara kami. Malamnya seusai makan malam aku langsung masuk kamar, begitu juga Danu. Tengah malam aku terbangun karena Danu menciumi bibirku dan malam itu kami melakukannya lagi.

Sejak saat itu, secara sembunyi-sembunyi kami melakukannya, bahkan setelah aku menikah dengan pacarku, kami pun masih sering melakukannya, terutama saat suamiku sedang dinas keluar kota. Rahasia ini sampai sekarang masih kami pegang dan bahkan cinta gelap kami ini membuahkan putra pertamaku yang sekarang sudah berusia 9 tahun.

Saat pernikahan Danu aku memberikan sebuah hadiah. Setelah malam pengantinnya, kami melakukannya di gudang belakang rumah saat semua orang sudah terlelap. Danu bilang walaupun istrinya sekarang masih gadis, tapi tidak ada yang menyaingi aku. Makanya suamiku sangat betah di rumah karena servisku yang sangat memuaskan, tanpa tahu kalau aku selingkuh dengan adik kandungku sendiri.

Sebut saja aku sebagai Sany. Aku masih duduk di sebuah SMU di Yogya kelas 2. Tinggiku sekitar 165 cm dengan berat sekitar 49 kg.

Aku sendiri sebetulnya bukan seorang lesbian. Hanya kenapa, ketika melihat video klip Nafa Urbach yang berjudul 'Lebih Baik Putus', mataku langsung tertuju ke kedua payudaranya yang indah. Yang sangat aduhai. Aku merasakan perasaan lain ketika melihatnya. Sejak saat itu sering sekali kulihat video klipnya dan kuperhatikan kedua payudaranya itu.



Tidak itu saja. Pada acara-acara televisi lainnya, yang kuperhatikan pasti kedua payudara pengisi acara cewek. Indah atau tidak. Terutama yang memakai pakaian ketat. Beberapa artis yang kusukai adalah Kris Dayanti, Dian Nitami, Denada, Shanti, AB Three dan beberapa artis lain. Artis dari luar negeri ada Britney Spears, Christina Aguilera, Jennifer Lopez, Alicia Keys, Anastasia, Pamela Lee (yang kedua payudaranya very big) dan beberapa artis lain.

Waktu aku pergi keluar pun, aku juga diam-diam memperhatikan kedua payudara cewek-cewek yang kutemui terutama yang berpakaian ketat. Malamnya sebelum tidur pasti aku masturbasi sampai orgasme sambil membayangkan tubuhku yang telanjang sedang dipermainkan oleh sesama cewek. Sering sekali kubayangkan seorang cewek dari belakang meremas kedua payudaraku yang berukuran 36. Sementara di depanku juga ada cewek lain yang menjilati vaginaku.

Waktu pergi ke warung internet pertama kali sejak video klip Nafa yang menggairahkan, kukopi ke disket semua cerita 17tahun pada bagian sesama wanita. Padahal sebelum itu aku hanya suka membaca bagian konvensional. Itu saja tidak kukopi ke disket. Hanya kubaca di warung internet. Sampai dirumah dari disket kukopi ke komputerku.

Aku punya komputer sendiri di kamarku. Kubaca satu persatu sambil membayangkan aku adalah pelaku dalam cerita tersebut. Aku sudah merasa basah ketika baru membaca satu cerita. Sehingga aku mengunci pintu kamarku dan melepas semua pakaianku. Kulanjutkan membaca sambil sesekali kuremas kedua payudaraku bergantian. Jari telunjukku juga masuk ke vaginaku. Kukeluarmasukkan. Aku mencapai orgasme ketika baru kubaca cerita yang ketiga. Aku hentikan kegiatanku itu. Dan kulanjutkan pada malam harinya sebelum tidur.

Disamping membuka situs 17Tahun2, aku juga membuka situs-situs yang menyediakan rangkaian gambar lesbian gratis. Situs-situs itu kutemukan dengan bantuan seorang chatter yang juga lesbian. Sayangnya aku dikira cowok iseng yang memakai nick cewek dengan masuk ke channel lesbi (yang sengaja kuketik ketika pertama masuk IRC). Padahal aku berharap dari dia supaya sudi menjadi girl friend pertamaku. Sejak saat itu aku juga curiga dengan cewek-cewek yang menjadi teman chattingku. Jangan-jangan mereka adalah cowok iseng. Sehingga aku tidak berani kasih data sebenarnya aku. Paling cuma e-mailku saja yang kuberi.

Pernah ada salah satu 'cewek' yang mengajak jumpa darat setelah beberapa kali berkirim e-mail. Kebetulan dia juga dari Yogya. Sebelumnya aku sudah waspada. Kuberikan identitas palsu. Pada waktunya di bawah sebuah pohon di lembah UGM yang kujanjikan untuk bertemu ternyata tidak muncul seorang cewek sesuai dengan ciri-cirinya yang diberikan padaku. Yang ada hanya seorang cowok. Aku yang mengawasi dari jauh menunggu sebentar. Aku berpikiran bahwa dia belum datang atau sudah datang.

Tetapi karena bawah pohon yang kujanjikan dipakai orang lain, dia menunggu di tempat lain. Kulihat di sekitarku ternyata dia tidak ada. Kulihat bawah pohon itu lagi. Cowok itu tidak ada lagi. Beberapa hari kemudian muncul e-mail darinya yang mengatakan kalau aku tidak datang. Kubalas dengan mengatakan kalau aku sudah tahu bahwa dia cowok lengkap dengan ciri-cirinya. Aku juga bilang kalau aku marah sekali dibohongi. Dia membalas lagi dengan kejujurannya bahwa dia cowok dan minta aku tidak marah serta mau menjadi temannya. Itu e-mail terakhir yang tidak kubalas. Aku sudah terlanjur marah.

Kembali ke situs-situs yang kusebut diatas. Rangkaian gambar-gambar itu sebagian yang menarik kukopi juga ke disket untuk kemudian kukopi ke komputerku dirumah. Tiap malam sebelum tidur kulihat gambar-gambar itu sambil bermasturbasi.

Sebetulnya aku mempunyai seorang teman cewek satu kelas yang menarik perhatianku. Lebih besar dari perhatianku pada cewek-cewek lain yang kukenal. Sayangnya dia bukan lesbian dan tidak mungkin jadi lesbian. Dia punya pacar seorang cowok. Dia sering memperlihatkan pahanya yang putih dihiasi bulu-bulu halus ketika duduk di dalam kelas atau di halaman sekolah meskipun rok seragam sekolah yang dipakainya tidak terlalu mini.

Kadang dia tidak memakai kaos dalam ketika memakai baju seragam sekolah. Sering kelihatan dia memakai bra berwarna hitam. Kadang sempat kulirik belahan payudaranya yang meskipun tidak besar tapi indah dari sela-sela kancing baju. Lengan bajunya yang agak ketat juga selalu dinaikkan ke atas memperlihatkan lengannya yang putih yang juga dihiasi bulu-bulu halus.

Ingin sekali aku membelai pahanya dan meremas kedua payudaranya. Sering kukhayalkan dia berhubungan seks denganku. Aku sendiri dalam memakai pakaian seragam sekolah kuusahakan rapi. Rok seragam sekolah yang kupakai meskipun diatas lutut, tetapi tidak termasuk mini. Hanya dalam hal pakaian dalam saja aku agak kelainan sejak melihat video klip Nafa yang sensual. Aku hanya memakai kaos dalam ketat warna biru tanpa memakai bra. Tetapi tonjolan kedua payudaraku tidak kentara karena baju seragam sekolahku termasuk longgar.

Kedua orangtuaku tidak atau belum mengetahui kelainanku ini. Kalau bisa jangan sampai tahu. Kecuali kakakku yang cowok. Kebetulan dia sering pakai komputerku untuk mengerjakan tugas kuSanyhnya. Suatu kali aku sedang membuka salah satu cerita 17tahun yang kusimpan di komputerku. Kebetulan kutinggal ke kamar kecil. Aku sendiri kaget melihatnya sudah di depan komputerku. Dia agak marah. Bukan marah karena aku membaca cerita seks. Marah karena kenapa aku membaca cerita sesama wanita. Waktu itu aku tutup-tutupi. Bahwa aku cuma iseng membaca itu. Tidak ada maksud apa-apa. Dan dia percaya.

Lain hari ketika aku sekolah dia cek semua directory komputerku. Waktu aku pulang aku disuruh jujur. Kalau tidak jujur kedua orangtuaku akan diberitahu. Terpaksa aku jujur. Dia juga coba menasihati aku supaya sadar. Aku berusaha untuk sadar dengan menghapus file-file yang berhubungan dengan lesbian seperti yang telah kusebut diatas sesuai dengan yang disarankannya. Tetapi itu tidak bisa. Waktu ke warung internet aku pasti membuka situs yang berhubungan dengan lesbian. Itu yang tidak bisa kuhindari. Aku kopi lagi. Kakakku tidak tahu lagi. Karena kulindungi file-file khusus ini dengan program proteksi yang kuambil dari internet.

Aku juga punya kakak cewek. Dia kuSanyh di salah satu universitas negeri di Bandung. Tiap dua pekan sekali atau sedang liburan dia pasti pulang. Gilanya. Kadang aku juga mengkhayalkan berhubungan seks dengannya. Kebetulan kedua payudaranya juga besar. Mungkin ukurannya sama denganku atau lebih besar. Tapi dia tidak pernah tahu tentang kelainanku. Aku sendiri berharap kakakku ini juga lesbian. Sehingga dapat mengajariku bagaimana berhubungan seks dengan sesama wanita.
Dibawah ini aku akan menceritakan salah satu khayalanku berhubungan seks dengan sesama wanita.

Begini ceritanya. Suatu hari aku duduk di kursi sofa sedang menonton televisi. Aku hanya memakai bra dan celana dalam saja. Dari dalam kamar keluarlah seorang cewek. Sebut saja Astrid. Dia juga hanya memakai bra dan celana dalam saja. Dia lalu duduk disampingku. Dia belai pahaku. Aku tahu maksudnya. Kumatikan televisi dengan remote control. Aku menggeser posisi dudukku dengan menyamping. Kugeser juga tubuh Astrid dengan memegang pundaknya. Kulepas kaitan bra yang dipakainya dari belakang. Pelan-pelan kuturunkan tali branya yang menggantung di pundaknya. Kedua payudaranya yang berukuran 36 (sama dengan punyaku) kini sudah telanjang. Lalu kubelai lengannya dengan lembut.

Astrid menolehkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya. Kusambut lidahnya dengan lidahku. Kami berdua saling menjilat lidah sambil tanganku tetap membelai pundaknya. Kami berhenti saling menjilat. Kemudian dari belakang kuremas kedua payudaranya. Astrid dengan setengah terpejam mengeluarkan desahannya. Lalu kudorong Astrid ke depan. Aku melepas bra yang kupakai. Aku lalu telentang di sofa dan kutarik pundak Astrid supaya telentang di atasku. Kini posisi pantatnya berada di selangkanganku sementara kakiku sendiri mengangkang. Pipinya hinggap di payudara kananku dan matanya melihat payudara kiriku. Kuremas lagi payudara kirinya dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku membenarkan posisi kaki kananku yang kurasa kurang enak.

Kuremas lagi kedua payudaranya. Sementara tangan kiri Astrid membelai paha kiriku. Dan tangan kanannya membelai vaginanya yang masih ditutupi celana dalam. Dibukanya sedikit celana dalam bagian bawahnya untuk dapat membelai vaginanya. Kami berdua tersenyum. Kemudian dia duduk dan melepas celana dalam yang kupakai. Kuangkat pantatku supaya mempermudah dia dalam melepas celana dalamku. Setelah itu dia berdiri mau melepas celana dalamnya sendiri. Aku cegah dia. Kupegang tangannya. Dia malah menarik aku untuk ikut berdiri. Ditempelkannya kedua payudaranya ke kedua payudaraku. Digesek-gesekkan. Kami berdua berpelukan sambil kedua tanganku meremas pantatnya yang besar.

Agak lama kami berpelukan dan merasakan sensasi pada masing-masing kedua payudara kami yang saling bergesekan. Kemudian aku didorongnya hingga aku terjatuh dan dengan cepat melepaskan celana dalamnya. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kembali kami saling menjilat lidah. Kupegang pinggangnya dan kutumpangkan paha kananku ke pinggangnya. Sementara paha kiriku dijepit kedua pahanya. Membuat apha kiriku menggesek vaginanya.

Lalu lidahnya turun ke bawah. Dijilatinya puting payudara kananku sambil tangannya juga meremas. Aku hanya bisa mendesah dan kedua tanganku meremas rambutnya. Kemudian disodorkannya payudara kanannya ke mulutku. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Kukulum puting payudara kanannya. Aku sendiri juga meremas payudara kananku sendiri. Sedangkan payudara kiriku diremas oleh Astrid.

Lalu kudorong Astrid sehingga dia ganti di bawah tubuhku. Kuremas kedua payudaranya dengan kedua tanganku. Sementara dia hanya kebagian remasan pada payudara kananku. Payudara kiriku sendiri menempel di bawah belahan kedua payudara Astrid. Astrid kembali mendesah sambil matanya setengah terpejam. Lalu aku menggeser tubuhku. Kudekatkan wajahku ke vagina Astrid. Astrid tahu maksudku. Kedua tangannya membuka vaginanya. Langsung saja kusedot vaginanya dengan lidahku sambil membaringkan tubuhku dengan posisi miring. Paha kirinya yang berada di antara kedua payudaraku diangkat ke atas pinggangku.

Posisi ini ternyata kurang mengenakkan bagiku. Kusuruh Astrid minggir sebentar. Lalu aku tidur telentang. Kusuruh Astrid mengangkangkan selangkangannya di depan mulutku dengan bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya. Kembali kubuka vagina Astrid dan kusedot dengan lidahku. Astrid hanya bisa menjerit perlahan. Jeritan kenikmatan. Astrid rupanya kelelahan. Aku sendiri juga sudah puas menyedot vaginanya. Dia membaringkan tubuhnya sejenak disampingku. Hanya sebentar. Lalu dengan setengah berbaring dia ganti menyedot vaginaku dengan lidahnya. Dibukanya vaginaku dengan tangan kanannya. Ganti aku yang menjerit kenikmatan.

Kami berdua telah puas. Kami dengan masih telanjang bulat beristirahat sambil saling membelai. Kemudian datang lagi soerang cewek. Sebut saja Niken. Juga hanya dengan memakai bra dan celana dalam. Kedua payudaranya yang berukuran 38 tampak ingin keluar dari bra yang dipakainya. Aku dan Astrid kemudian berdiri menghampirinya. Niken sedang melepas bra yang dipakainya. Payudaranya yang paling besar diantara kami bertiga tampak sudah lega. Kami berdua lalu setengah berdiri disamping Niken dengan bertumpu pada lutut. Aku disamping kaki kanan Niken sedangkan Astrid di samping kaki kiri Niken. Kami berdua melepaskan celana dalam yang dipakainya.

Kemudian aku berdiri dan dirangkul Niken. Sementara Astrid jongkok di depan vagina Niken. Dia lalu menyedot vagina Niken dengan lidahnya sambil tangan kirinya membelai paha kanan Niken. Tangan kananku juga membelai paha kanannya dan tangan kiriku memeluk pinggangnya. Tangan kiri Niken sendiri membuka vaginanya dengan tangan kanan tetap merangkul tubuhku. Niken hanya bisa mendesah. Lalu kuajak Niken untuk duduk di lantai. Dia lalu duduk dengan kedua tangannya bertumpu ke belakang. Aku ingin mencicipi vaginanya. Tetapi keduluan oleh Astrid yang rupanya masih belum cukup merasakan vagina Niken. Kudengar desahan Niken yang lalu kusumpal dengan ciumanku.

Rupanya Niken tidak merasa enak dengan ciumanku. Dia membalas ciumanku hanya sebentar. Dia lalu memegang payudara kananku dan diremasnya. Aku yang dari tadi ingin mencicipi vagina Niken hanya bisa membantu membuka vaginanya sementara Astrid masih asyik dengan sedotannya. Niken lalu menjilati puting payudara kananku dan tangan kirinya meremas payudara kanannya sendiri. Juga payudara kirinya bergantian. Astrid sudah puas dengan vagina Niken. Dia sedang menjilati jari-jari kaki kanan Niken yang diangkatnya. Aku segera mendaratkan lidahku ke vagina Niken untuk menyedotnya. Niken mendesah lagi. Dan seperti juga aku. Astrid lalu menciumnya. Niken keenakan dengan ciuman Astrid. Lama sekali mereka beerciuman sehingga aku bisa sepuasnya menyedot vagina Niken dengan lidahku. Kami bertiga akhirnya mencapai orgasme pada waktu hampir bersamaan. Karena kelelahan kami juga tertidur di lantai dengan keadaan telanjang.

Ketika aku bangun kulihat Astrid sudah tidak ada. Dan kudengar suara gemericik air dari kamar mandi. Kubangunkan Niken dan kami berdua menuju dikamar mandi. Di kamar mandi sudah ada Astrid. Kami berdua bersama-sama mandi di bawah pancuran sambil sesekali saling membelai. Kemudian Niken mematikan kran pancuran. Dia mengambil sabun. Karena sabunnya ada dua, yang satu diserahkan ke aku. Kemudian dia dari depan menyabuni tubuh Astrid. Sedang aku sendiri dari belakang juga menyabuni tubuh Astrid. Astrid kemudian berbalik menghadap ke aku. Dia mengambil sabun dariku dan menyabuni tubuhku. Sedangkan Niken menyabuni tubuhnya sendiri. Sambil sesekali menyabuni pantat Astrid.

Kupeluk Niken sehingga otomatis tubuh Astrid berada di antara tubuhku dan tubuh Niken. Tubuh kami yang penuh busa sabun menempel. Kedua payudaraku dan kedua payudara Astrid menempel. Sedangkan kedua payudara Niken menempel di punggung Astrid. Astrid lalu melepaskan diri dari jepitan kedua tubuh yang penuh busa sabun. Dia lalu membersihkan tubuhnya dari busa sabun dengan air dari ember sambil melihat aku yang sedang saling menempelkan payudara dengan Niken. Tangan kananku memegang payudara kananku yang kutempelkan ke payudara kiri Niken yang juga dipegang tangan kirinya. Setelah menempel lalu tangan kirinya mengangkat paha kananku sehingga vaginaku menggesek paha kirinya.

Kulihat Astrid sedang menghanduki tubuhnya sambil keluar kamar mandi sementara kami berdua sedang asyik dengan kedua payudara penuh busa sabun yang saling bergesekan. Aku lalu membuka kran pancuran kembali untuk membersihkan busa sabun yang memenuhi tubuhku dan tubuh Niken. Niken ternyata tidak setuju. Dimatikan lagi kran pancuran.

Lalu didorongnya dengan pelan ketubuhku sehingga aku bersandar ke dinding kamar mandi. Diremas-remas lagi kedua payudaraku yang juga kubantu dengan kedua tanganku yang memegang kedua tangannya. Tubuhnya lalu turun ke bawah dan disiramnya bagian vaginaku dengan air dari ember. Lalu tangannya membuka vaginaku. Disedotnya vaginaku dengan lidahnya. Kedua tangannya naik ke atas meremas kedua payudaraku. Agak lama dia melakukan itu. Dan ketika dia tidak meremas kedua payudaraku, aku meremas sendiri kedua payudaraku sambil sesekali mendesah.

Setelah puas menyedot vaginaku dengan lidahnya, dia membuka kran pancuran dan membersihkan tubuhnya dari busa sabun dengan bantuanku dengan membersihkan tubuhnya dari belakang. Dia berbalik sambil mematikan kran pancuran dan mengambil botol sabun cair. Dia kelihatannya belum puas bermain sabun.

Dikucurkannya sabun dari botol itu ke tangannya lalu diusapkan ke payudara kiriku. Tanganku minta bagian. Niken mengucurkan sabun ke tanganku dan lalu aku mengusapnya ke payudara kirinya. Kemudian Niken menjatuhkan botol sabun itu dan meratakan sabun ke kedua payudaraku. Kulakukan hal yang sama. Kami berdua lalu saling menempelkan kedua payudara. Dan digesek-gesekkan sampai dia puas.

Niken lalu membalikkan badannya dan membuka kran air. Dia membersihkan kedua payudaranya dari busa sabun. Aku dari belakang memegang bagian belakang kepalanya untuk menciumnya dari belakang. Dibawah kucuran air pancuran aku meraba bagian depan tubuh Niken dari belakang sambil lidahku menjilati lehernya. Kuremas juga kedua payudaranya. Akhirnya kami selesai bermain di bawah pancuran. Kami berdua keluar setelah menghanduki tubuh yang basah. Dilihatnya Astrid dengan masih telanjang sedang merapikan rambutnya. Dia duduk di pinggir tempat tidur. Niken menghampirinya sementara aku tetap berdiri untuk melihat apa yang akan dilakukan Niken terhadap Astrid.

Dari samping dia menjilati puting payudara kanan Astrid. Tangan Astrid memegang bagian belakang lehernya. Niken lalu duduk di paha kanan Astrid dan mencium bibirnya. Mereka berdua berciuman sambil saling menjilat lidah. Lalu Niken menelentangkan Astrid. Dengan setengah berjongkok dia menyodorkan vaginanya ke mulut Astrid. Astrid lalu menyedot vagina Niken dengan lidahnya.
Niken lalu agak mundur ke belakang. Sambil setengah berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya ditekannya kedua payudara Astrid yang kedua tangannya juga menekan kedua payudaranya sendiri. Sehingga kedua payudara Astrid yang ditekan dua pasang tangan saling menempel.
Setelah itu Astrid mendudukkan Niken kembali. Didudukkan di lantai pinggi tempat tidur.

Astrid sendiri duduk di pinggir tempat tidur. Dari belakang dijilatnya lidah Niken. Kedua tangannya dipegang kedua tangan Niken untuk meremas kedua payudara Niken. Astrid lalu menyodorkan payudara kanannya ke mulut Niken yang langsung menjilati puting payudara kanan Astrid. Tangan kirinya meremas payudara kiri Niken. Lalu ganti Astrid menyodorkan payudara kirinya ke mulut Niken yang juga langsung menjilati puting payudara kiri Astrid. Tangan kanannya meremas payudara kanan Niken.

Aku yang melihat hal itu langsung ikut bergabung. Kami bertiga bercumbu dengan lebih hebat lagi.
Demikian cerita khayalanku. Mungkin terlalu bagaimana. Terserah kaSanyn yang menilai. Aku terus terang saja bahwa cerita di atas merupakan terjemahan dari rangkaian gambar-gambar yang kuambil dari internet.
Bagi pembaca cewek yang ingin berkenalan dan berbagi pengalaman denganku bisa menghubungi e-mail putri_dahSany@plasa.com Tuliskan sedikit biodata (alamat, umur, berat badan, tinggi, sekolah dan lainnya yang sekiranya perlu) dan sertakan juga foto (kalau ada). Juga ceritakan pengalaman pertama ketika menjadi lesbian. Bikin aku 'basah' dengan ceritanya. Aku usahakan untuk membalas. Bagi pembaca cowok yang mengirim e-mail, tolong diurungkan saja. Jangan harap mendapat balasan dariku.

Bagi pembaca cewek yang menghendaki bercyber sex denganku bisa masuk ke #bluebaby setiap hari Senin atau setiap hari Sabtu pukul 16:30-20:30. Dijamin pelayananku memuaskan dan membuat ketagihan. Bagi pembaca cowok. Jangan masuk deh. Akan kutendang nanti. Terimakasih.