Showing posts with label tante-tante. Show all posts
Showing posts with label tante-tante. Show all posts

Setelah aku lulus SMA, aku melanjutkan studi di Surabaya. Kebetulanaku diterima di sebuah PTN yang terkenal di Surabaya. Mengenai hubungankudengan tante "U" di kota asalku sudah berakhir sejak kepindahankeluarga Oom U ke Medan, dua bulan menjelang aku ujian akhir SMA. Namun kamimasih selalu kontak lewat surat atau telepon.

Perpisahan yang sungguh berat, terutama bagiku; mungkin bagi tante Umi,hal itu sudah biasa karena hubungan sex buat dia hanya merupakan suatukebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnyadenganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya,karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut danmencintainya. Sejak aku mengenal tante Umi, aku mulai mengenal beberapa wanitateman tante Umi, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku.Wanita lain yang sering kutiduri adalah tante Hani; dan tante Anna seorangjanda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan tante Umi ke Medan, merekalahyang menjadi teman kencanku. Karena tante Hani dan tante Anna sudah berstatusjanda, maka tak ada ke-sulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami.


Hampir setiap hari aku menginap di rumah tante Hani, dengan tante Haniboleh dikata setiap hari aku melakukan hubungan intim tidak mengenal waktu, dantempat. Pagi, siang sore atau malam, di kamar, di ruang tamu, di dapur bahkanpernah di teras belakang rumahnya.Teradang kami main bertiga, yakni aku, tanteHani dan tante Anna. Di rumah tante Hani benar-benar diperas tenagaku. Sesekaliwaktu aku harus melayani temen tante Hani yang datang ke sana untuk menghisaptenaga mudaku. Aku sudah nggak peduli lagi rupanya aku dijadikan gigolo oleh tanteHani. Pokoknya asal aku suka mereka, maka langsung kulayani mereka.

Suatu saat aku bertemu dengan seorang gadis. Cantik dan sexy bangetbodynya. Dian namanya temen adik perempuanku. Dengan keahlianku, maka kurayudan kupacari Dian. Suatu hari aku berhasil mengajaknya jalan-jalan ke suatutempat rekreasi. Di suatu motel akhirnya aku berhasil menidurinya, Aku agakkecewa, rupanya Dian sudah nggak perawan lagi. Namun perasaan itu aku pendamsaja. Kami tetap melanjutkan hubungan, dan setiap kali bertemu maka kami selalumelakukan hubungan badani.

Rupanya Dian benar-benar ketagihan denganku. Tak malu-malu diamencariku, dan bila bertemu langsung memintaku untuk menggaulinya. Tapi aneh,Dian tak pernah menga-jakku bahkan melarang aku datang ke rumahnya. Kami biasamelakukan di motel atau hotel melati di kotaku, beberapa kali aku mengajak Dianke rumah tante Hani. Kuperkenal-kan tante Hani sebagai familiku, dan tentunyaaku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bercumbu dengannya di kamar yangsering aku dan tante Hani gunakan bercumbu.

Suatu hari, entah kenapa tiba-tiba Dian memintaku untuk main kerumahnya, katanya dia berulang tahun. Dengan membawa seikat bunga dan sebuahkado aku ke rumahnya. Aku pencet bel pintu dan Dian yang membukakan pintudepan. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Segera Dian bergegas masuk danmemanggil mamanya untuk diperkenalkan padaku. Aku terkejut dan tergugu melihatmamanya; sebab perempuan itu.. ya.. mamanya Dian sudah beberapa kali tidurdenganku di rumah tante Hani. Mama Dian nam-pak pias wajahnya namun segera mamaDian bisa cepat mengatasi keadaan. Mama Dian berlagak seolah-olah takmengenalku, padahal seluruh bagian badannya sudah pernah kujelajahi. Beberapasaat mama Dian menemani kami ngobrol. Dengan sikap tenangnya akupun menjaditenang pula dan mampu mengatasi keadaan. Kami ngobrol sambil bercanda, dannampak terlihat bahwa mama Dian benar-benar seorang Ibu yang sayang pada putritunggalnya itu.

Keesokan harinya, mama Dian menemuiku. Di ruang tamu rumah tante Hanimama Dian menginterogasiku, ingin tahu sudah sejauh mana hubunganku denganDian. Aku tak mau segera menjawab, tanganku segera menarik tangannya danmenggelandang tubuhnya ke kamar. Dia berusaha melepaskan peganganku, namun sia-siatanganku kuat mencekal, sehingga tak kuasa dia melepaskan tangannya darigenggamanku. Kukunci pintu kamar dan segera aku angkat dan rebahkan tubuhnya diatas kasur. Segera kulucuti pakaianku hingga aku telanjang bulat, dan segerakutindih tubuhnya. Dia meronta dan memintaku untuk tak menidurinya; namunpermintaanya tak kuindahkan. Aku terus mencumbunya dan satu persatu pakaiannyaaku lucuti, dan akhirnya aku berhasil memasukkan kontolku di vaginanya. Begitupenisku melesak masuk, maka mama Dian bereaksi, mulai memba-las dan mengimbangigerakanku. Akhirnya kami berpacu mengumbar nafsu, sampai akhirnya mama Diansampai pada puncak kepuasan.

Peluhku bercucuran menjatuhi tubuh mama Dian, kuteruskan hunjamankontolku di memeknya.. Mama Dian mengerang-erang keenakkan, sampai akhirnyaorgasme kedua dicapainya. Aku terus genjot penisku, aku bener-bener kesal danmarah padanya, karena aku tahu dengan kejadian itu maka bakalan usai hubungankudengan Dian, pada-hal cinta mulai bersemi dihatiku.

Sambil terus kugenjot kontolku di memeknya, kukatakan padanya bahwaDian juga sudah sering aku tiduri, namun aku sangat mencintai, menyayangibahkan ingin menika-hinya. Aku katakan semua itu dengan tulus, sambil takterasa air mataku menetes. Akhirnya dengan hentakan yang keras aku mengejankuat, menumpahkan segala rasa yang aku pendam, menumpahkan seluruh air manikuke dalam memeknya. Badanku tera-sa lemas, kupeluk tubuh mama Dian sambilsesenggukan menangis di dadanya. Air mata-ku mengalir deras, mama Dian membelaikepalaku dengan penuh rasa sayang; kemudian dikecup dan dilumatnya bibirku.

Tubuhku berguling telentang di samping kanan tubuhnya, mama Dianmerangkul tubuh-ku menyilangkan kaki kiri dan meletakkan kepalanya didadaku.Terasa memeknya hangat dan berlendir menempel diperutku, tangan kirinyamngusap-usap wajahku. Tak henti-hentinya mulutnya menciumku.

Sambil bercumbu aku ceritakan semua kisah romanceku, hingga aku sampaiterlibat dalam pergaulan bebas di rumah tante Hani. Dengan sabar didengarnyaseluruh kisahku, sesaat kemudian kembali penisku menegang keras. Segeratanganku bergerilya kembali di memeknya, selanjutnya kembali kami berpacumengumbar nafsu kami. Kami bercumbu benar-benar seperti sepasang pengantin barusaja layaknya. Seolah tak ada puasnya. Sampai akhirnya kami kembali mencapaipuncak kepuasan beberapa kali.

Setelah babak terakhir kami selesaikan, mama Dian bangkit danmenggandengku menuju kamar mandi, kami mandi berendam bersama di kamar mandisambil bercumbu. Sambil berendam kami bersenggama lagi. Setelah puas kamimenumpahkan hasrat kami, kami keringkan tubuh kami dan segera berpakaian.Nampak sinar puas membias di wajah mama Dian.

Dengan bergandeng tangan kami keluar kamar, kupeluk pinggangnya dankuajak menuju ke ruang tamu. Kami duduk berdua, kemudian berbincang mengenaikelanjutan hubunganku dengan Dian. Mama Dian ingin agar hubunganku dengan Diandiakhiri saja, walaupun kami sudah begitu jauh berhubungan, sekalipun Diansudah hamil karenaku. Dia memberikan pandangan tentang bagaimana mungkin akumenikahi Dian, sedangkan aku dan mama Dian pernah berhubungan layaknya suamiistri, sebab bagaimanapun kami akan tinggal serumah. Bagaimana mungkin kamimelupakan begitu sqaja affair kami; rasanya tak mungkin.

Aku bisa mengerti dan menerima alasan mama Dian, namun aku bingungbagaimana cara menjelaskan kepada Dian. Aku tak sanggup kalau harus memutuskanDian. Akhirnya aku ideku pada mama Dian. Selanjutnya selama beberapa hari akutak mene-muidan sengaja menghindari Dian. Mamanya memberitahu kalau Dian saatini dalam keadaan hamil 2 bulan akibat hubungannya denganku.

Pada suatu hari, aku di telepon mama Dian. Dia memberitahu kalau Diansedang menuju ke rumah tante Hani untuk menca-ri aku. Aku sudah tahu apa yangharus aku lakukan, saat itu tante Hani sedang menyiram tanaman kesayangannya dikebun belakang. Segera kuhampiri dia dan aku ajak ia ke kamar yang biasa akudan Dian pakai untuk berkencan.

Kulucuti seluruh pakaian tante Hani dan juga pakaianku sendiri,selanjutnya kami bersenggama seperti biasanya. Tak berapa lama Dian datang danlangsung menuju ke kamarku. Terdengar pekik tertahan dari mulut-nya saatmelihat adegan di atas ranjang; dimana aku dan tante Hani sedang asyikbersenggama. Terdengar pintu kamar dibanting, Dian pulang ke rumah dengan hatiyang amat terluka. Tante Hani merasa tak tega dengan kejadian itu, tante Hanimemintaku untuk segera menyusul Dian; namun tak kuhiraukan; bahkan aku semakinkeras dan cepat menghentakan penisku di memeknya. Tante Hani mengerang-erangkeenakan, mengimbangi dengan gerakan yang membuat penisku semakin cepatberdenyut. Kami mencapai orgasme hampir bersama, aku berguling danmenghempaskan badanku ke samping tante Hani. Mataku menerawang jauh menataplangit-langit kamar, air mataku bergulir membasahi pipiku. Inilah akhirhubunganku dengan Dian, akhir yang amat menyakitkan. Dian pergi dariku denganmembawa benih anaku di rahimnya.

Musnah sudah impian dan harapanku untuk membina rumah tanggadengannya. Tante Hani menghiburku; Dia mengingatkan aku bahwa aku sudah membuatkeputusan yang benar. Jadi tak perlu disesali. Didekapnya tubuhku, akumenyusupkan mukaku ke dada tante Hani; ada suatu kedamaian disana; kedamaianyang memabukkan; yang membangkitkan hasrat kelelakianku lagi. Sessat kemudiankami berpacu lagi dengan hebat, hingga beberapa kali tante Hani mencapai puncakkepuasan. Aku memang termasuk tipe pria hypersex dan mampu mengatur timingorgasmeku, sehingga setiap wanita yang tidur denganku pasti merasa puas danketagihan untuk mengulangi lagi denganku.

Beberapa hari kemudian aku terima telepon Dian, sambil terisak Dianpamit padaku karena dia dan mamanya akan pindah ke Surabaya. Aku mintaalamatnya, tapi Dian keberatan. Dari nada suaranya nampak Dian sudah tidakmarah lagi padaku; maka aku memohon padanya untuk terakhir kali agar dapat akumenemuinya. Dian mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur kerumahnya untuk Inilah saat terakhir akku berjumpa dengan kekasihku.

Kupencet bel pintu, mama Dian membuka pintu dan menyilahkan aku masuk.Nampak wajahnya masih berbalut duka dan kesedihan, dia amat merasa bersalahkarena menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian. Mama Dianmenggandengku menuju ruang keluarga, nampak Dian kekasihku duduk menungguku.

Melihat aku Dian bangkit dan menghampiri aku, tak kusangka pipikuditamparnya dengan keras. Kubiarkan saja agar rasa kesal dan tertekan dihatinyaterlampiaskan. Dian berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangan danpipiku bergantian seolah tak percaya akan apa yang dia lakukan. Tiba-tibaditubruk dan dipeluknya badanku, dibenamkan mukanya ke dadaku sambilsesenggukan menumpahkan tangisnya. Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambut-nya.

Agak lama kami demikian; kami menyadari bahwa saat inilah saatterakhir bagi kami untuk bertemu. Mama Dian mendekat dan merangkul kami berdua,dan membimbing kami untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambilberpelukan, mama Dian ditengah; kedua tangannya memeluk kami berdua.

Akhirnya kesunyian diantara kami terpecahkan dengan ucapan mama Dian.Mama Dian mengatakan memberi kesempatan pada kami untuk memutuskan, apakah akankami lanjutkan hubungan kami atau kami putuskan sampai disini saja.
Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berartiaku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkankeputusan akhir pada Dian. Sambil terisak Dian akhirnya memutuskan untukmengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku,Dian menjawab biarlah.., ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua.., Dian kantetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasihsayangnya.

Beberapa saat kemudian aku berpamitan, dengan berat Dian melepaskanpelukanku, namun sebelum kami berpisah sekali lagi Dian memintaku untukmenemaninya. Ditariknya aku ke kamarnya dan dengan penuh kasih sayang,dibukanya pakaianku dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kami berdiriberpelukan dnegan tanpa sehelai benang menempel pada tubuh kami.

Kucumbui Dian kekasihku untuk terakhir kalinya, aku genjot penisku dimemeknya dengan lembut dan penuh perasaan, aku khawatir kalau-kalau genjotankuakan menyakit-kan anakku yang ada dirahimnya. Semalam kami bercengkerama, padapagi keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang amat berat dilepaskepergianku, aku berpamitan pula pada mama Dian, aku cium punggung tangannyasebagai tanda kasih anak ke ibunya, ditengadahkan mukaku dan dikecupnyakeningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku pada Dian dan mohonpadanya agar memberi kabar saat kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhirhubunganku dengan Dian dan mamanya.

Beberapa hari setelah perpisahanku dengan Dian, aku merasa sepi dansedih. tante Hani yang senantiasa menghiburku, dengan gurauan, kemolekan,kehangatan tubuhnya, dan dengan kasih sayangnya Terkadang di dalamkesendirianku, aku terngat tante Umi, dengan segala kehangatan tubuhnya. Akuteringat moment-moment yang pernah kami jalani di salah satu kamar di rumah tanteHani.

Di salah satu kamar di rumah tante Hani itulah kami biasa mengumbarnafsu kami, saling menumpahkan rasa rindu kami, sudah tak terhitung lagi barapabanyak aku menyengga-mainya menumpahkan segenap rasa dan nafsuku, dan sebanyakitu kami berhubungan tak pernah sekalipun kami menggunakan alat kontrasepsi,baik itu kondom, spriral, tablet atau sebangsanya. Jadi kami melakukannyasecara alami saja, dan tentunya dapat dibayangkan akibatnya. Yach.. tante Umipergi dengan membawa banyak kenangan indahku, membawa cintaku dan membawa pulajanin dari benih yang kutanam di rahimnya..

Awal semester pertama sudah berjalan 2 bulan lebih 5 hari, jadi takterasa aku sudah menempati rumah petak kontrakanku selama itu. Setiap hari akuberjalan kaki ke tempat kuliah, yang memang tak jauh dari rumah kontrakanku.
Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selalu melewatisebuah rumah yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Ranidan Kak Rina, sedangkan si bungsu Sukma masih SMA kelas 1 (baru masuk).

Kak Rani dan Kak Rina anak kembar, hanya saja nasib Kak Rani lebihbaik ketimbang Kak Rina. Kak Rani bersuamikan pegawai Bank dan sudah memilikirumah serta dua anak perempuan, sedangkan Kak Rina bersuamikan seorangpengemudi box kanvas suatu perusahaan dan belum dikarunia anak, serta masihtinggal bersama ibunya. Bu Maman seorang janda yang baik hati dan sayang benarsama cucunya, yaitu anak Kak Rani.

Pada mulanya aku berkenalan dengan Sukma, Sukma termasuk gadis yangagresif dan aku juga sudah mendengar cukup banyak tentang petualangan cintanyasejak dia duduk di bangku SMP, jadi masalah sex buat Sukma bukan hal yang barulagi.

Perkenalanku terjadi saat aku pulang kuliah sore hari, dimana hujanturun cukup lebat. Pada saat aku berjalan hendak memasuki mulut gang,berhentilah sebuah angkot dan ternyata yang turun Sukma dengan seragam SMAnya.

Aku menawarinya berpayung bersama dan ternyata dia mau. Kuantar Sukmasampai rumahnya, setiba di rumahnya dipersilahkannya aku masuk dan duduk diruang tamu, sementara dia masuk berganti pakaian. Saat aku menunggu Sukma, KakRina keluar dengan membawa secangkir teh hangat dan kue. Mulutku secara taksadar ternganga melihat kecantikan Kak Rina. Mata nakalku tak henti melirik danmencuri pandang padanya. Padahal Kak Rina hanya berpakaian sederhana, hanyamengenakan daster motif bunga sederhana, namun kecantikannya tetap nampak.Kulitnya yang putih kekuningan dan badannya yang segar dengan buah dada yangmenonjol, semakin menambah kecan-tikan penampilannya sore itu.

Melihatku dia tersenyum, nampak sebaris gigi putih yang bersihberjajar. Aku tergagap dan segera kuulurkan tangan untuk berkenalan dengannya.Hangat tengannya dalam genggamanku, dan sambil menunggu Sukma selesai bergantipakaian dia menemaniku ngobrol. Dalam obrolan ku dengan Kak Rina sore itu, barukutahu kalau Kak Rina sering melihatku saat aku berjalan berangkat dan pulangkuliah. Itulah hari pertamaku berke-nalan dengan keluarga Sukma.

Pagi esok harinya, saat aku berangkat kuliah, aku bertemu Kak Rina dimulut gang. Kami bersalaman, tiba-tiba timbul kenakalanku, kugelitik telapaktangan Kak Rina saat kugeng-gam, ternyata dia diam saja bahkan senyum padaku.Sejenak kami berbasa-basi bicara, kemudian aku cepat bergegas kuliah.

Sore hari aku baru pulang kuliah, langit mendung tebal sepertinya mauhujan. Saat kubuka pintu rumah, kulihat Sukma dan teman kostku sedang ngobroldi ruang tamu., rupanya dia sengaja datang untukku. Tak lama kemudian temenkostku pamit mau kuliah sore sampai jam 19.00 WIB. Setelah aku berganti pakaiankutemui Sukma dan kami ngobrol berdua. Tiba-tiba aku teringat bahwa Sukma belumkusuguhi minum, cepat-cepat aku permisi ke dapur untuk membuat minuman buatnya.Saat aku beranjak ke dapur Sukma mengikutiku dari belakang, dan di dapur kamilanjutkan obrolan kami sambil kuteruskan membuat minuman.

Sukma berdiri bersandar meja dapur, aku mendekatinya dan isengkupegang tangannya. Agaknya Sukma memang mengharap suasana demikian, diatanggapi pegangan tanganku dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, sehinggamuka kami berjarak cuman beberapa senti saja. Hembusan nafasnya terasa menerpawajahku. Kesempatan itu tak kubiarkan lewat begitu saja, segera aku sambarpinggangnya dan kucium lumat mulutnya.

Kami berciuman agak panjang, lidah kami saling beradu dan memilin,sementara sigap tanganku menggerayangi dan meremas pantat Sukma. Tanganku tidakberhenti, terus bergerak menyingkap bagian depan roknya, dan segera tangankumengelus-elus memek Sukma yang masih tertutup celana tipis, sementara itumulutku menjalar dan menciumi lehernya. Sukma merintih lembut, dan semakinmempererat pelukannya.

Tangan kananku yang sudah terlatih segera melepas kancing depanbajunya, selanjutnya meremas-remas buah dadanya, kulepas tali Bhnya dan segerakujelajahi dua bukit kembarnya yang sudah mengeras. Kuhisap lembut putingsusunya, Sukma semakin menekan kepalaku ke dadanya.

Aku sudah tahu apa yang dikehendakinya, segera kutarik dia ke kamarku,dan segera kubuka resleting roknya, kulepas bajunya kemudian BHnya. Nampaktubuh Sukma polos tak tertutup kain, hanya CD tipisnya saja yang tinggalmelekat di badannya. Segera kuhujani Sukma dengan ciuman, kujilati sekujurtubuhnya, kuhisap puting susunya, dan terus mulutku bergerak ke bawah, sambilpelan-pelan tanganku melepas CD-nya.
Begitu CD-nya lepas segera kuserbu memeknya, lidahku menjilatimemeknya, sementara kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Sukmamerintih dan mengerang, dan sesaat kemudian ditariknya bahuku ke atas, sehinggakami berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semuapakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap kontolku, dijilati dan dikocoknyapelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.

Segera kudorong tubuhnya terlentang di atas dipan dan lidahku terusbergerilya di memeknya, juga ke dua jari tanganku ikut pula menjelajahimemeknya, ke dua pahanya mengangkang lebar dan nampak lobang memeknya sepertinyasiap melahap kontolku bulat-bulat. Sukma mengerang-ngerang dan memintaku segeramemasukkan kontol ke dalam memeknya. Mas.. ayo.. masukkan.. ayo maas..

Hujan di luar turun dengan deras, suara hujan mengalahkan erangan danteriakan Sukma, sehingga aku tak khawatir orang akan mendengar suaranya.Kubiarkan Sukma dalam keadaan begitu, sambil lidahku terus menjilati memeknya. Sukmamerintih dan mengerang.. sambil menghiba untuk segera memulai permainan kami.Bau memeknya, semakin membangkitkan gairahku, dan akhirnya akupun tak tahan..

Segera kutindih tubuhnya dan kebenamkan kontolku dimemeknya dengansatu sentakan yang sedikit agak keras. Segera kukocok memeknya dengan cepat dankeras. Sukma mengerang, merintih dan mengimbangi gerakan keluar masuk kontolkudengan pas.., sehingga kadang terasa kontolku bagai dihisap dan diremas didalam memeknya.
Terasa kontolku berdenyut-denyut, sepertinya hendak keluar air maniku;segear kuhentikan gerakan kontolku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dankumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku,tanpa rasa jijik. Setelah agak berkurang denyutan penisku, segera kubenamkanlagi dalam memek Sukma.

Bukan main, remasan dan sedotan memek Sukma. Aku jadi mengertisekarang beda antara memek seorang wanita yang masih gadis dan belum pernahmelahirkan dengan wanita yang sudah melahirkan seperti tante Umi. Kubalik tubuhSukma dan kuangkat pantatnya agak tinggi, sehingga Sukma dalam posisi nungging.Segera kutancapkan penisku ke memeknya dari belakang. Lagi-lagi Yanrtimengerang-erang kadang menjerit kecil Tiba-tiba diangkat dan diputar badannyake belakang, serta di raihnya kepalaku serta diciumnya mulutku, sementarapenisku tetap bekerja keluar masuk memeknya.

Berapa saat kemudian kuganti posisi, aku berbaring terlentang dan Sukmamenindih tubuhku. Dipegang dan dibimbingnya penisku masuk ke vaginanya, dansegera digoyang badanya naik turun di atas tubuhku. Kuremas payu daranya dankuhentakan pantatku ke atas, saat badan Sukma bergerak ke bawah menekan masukpenisku ke dalam memeknya. Tak lama kemudian gerakan Sukma makin menggila danmakin cepat. Dari mulutnya terdengar erangan yang semakin keras dan akhirnyabadanya menegang sambil dari mulutnya terdengar lenguhan Ughh.. Aaah.. Aaah..,kemudian tubuhnya menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat, mass.. aku sudah..,keluar..ooh.. Enak..
Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot memeknya cepat dankeras.., terlihat mata Sukma mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintihdan mengerang..
Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menitkemudian terasa penisku berdenyut-denyut. Kepala Sukma bergoyang ke kanan danke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku sehingga tak ada kemungkinanaku mencabut kontolku saat air maniku keluar nanti, dan akhirnya dengan suatusentakan yang keras kubanjiri liang memeknya dengan cairan maniku..

Kumarahi Sukma, karena dia tak memberiku kesempatan membuang airmaniku di luar liang kemaluannya. Aku khawatir hal ini akan berakibat fatal,yaitu Sukma hamil..
Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingakubahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, karena sudahsedemikian jauhnya pengetahuan dia tentang berhubungan sex dan menjaga diridari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya.Kami bercumbu, berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipankuukurannya lebar, sehingga kami leluasa bercumbu di atasnya.

Dua puluh menit berlalu, terasa penisku mulai menegang dan mengeras.Segera kumasukan lagi kontolku ke memek Sukma. Kembali kami berdua mengumbarnafsu sepuas hati, kali ini aku tetap menjaga posisi di atas, karena aku tahubahwa pada ronde kedua dan ketiga aku lebih bisa mengatur dan menahan klimakslebih lama. Sukma mengerang dan merintih, dan akhirnya pada puncak kepuasanyang kedua kusemburkan lagi benih-benih manusia ke dalam rahim Sukma.

Keringat kami telah bercampur dan membasahi tubuh kami, seprei tempattidur sudah berantakan nggak karuan, kami berbaring berpelukan, kepalanya didadaku, tangan Sukma memainkan penisku, dan sesekali kami saling berciuman.
15 menit kemudian kami ulangi lagi hal yang sama, hingga klimaks kamidapatkan lagi, Kembali kuguyur memeknya dengan caiaran maniku, sambil kamiberciuman panjang sekali.., seolah tak akan henti..

Setelah cukup beristirahat, segera kami berkemas dan berpakaian, dantidak lupa berjanji untuk mengulangi lagi apa yang kami lakukan sore ini.Menjelang maghrib kuantar Sukma pulang ke rumah, dan sebelum aku pamit pulang,sekali lagi kupeluk pinggangnya dan kucium bibirnya dengan mesra. Sejak hariitu resmilah Sukma menjadi pacar tetapku, alias pemuas nafsuku.

TAMAT

Cerita berikut adalah cerita dari salah satu teman korespondensi saya,Nadia. Dia menceritakan kisah nyata dia tentang pengalaman dia berhubungandengan anak tetangganya sendiri. Cerita tersebut akan saya paparkan dengantambahan pernak-pernik sensual agar menarik untuk dibaca.


Nadia, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satuperusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Nadia sebetulnya biasa sajaseperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangatterawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuaidengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.


Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yangsedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi diperusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati dilingkungan kompleks mereka tinggal. Nadia pada dasarnya adalah istri yangsangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Hermandalam hati Nadia karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwayang menjadi awal berubahnya cara berpikir Nadia tentang cinta..

Suatu siang, Nadia sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakankedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Nadia langsung mengejarmereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Nadiaterjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Nadia langsung berjongkokdan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Darmawan, anak tetangga depan rumahNadia kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Nadia sedangjongkok sambil meringis memegang lututnya, Darmawan langsung lari ke arah Nadia.

"Kenapa tante?" tanya Darmawan.
"Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Wan..." ujar Nadia sambilmeringis.
"Bantu saya berdiri, Wan..." kata Nadia.
"Iya tante," kata Darmawan sambil memegang tangan Nadia dandibimbingnya bediri.
"Wan, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya,ya..." kata Nadia.
"Iya tante," kata Darmawan sambil segera menghampirianak-anak Nadia.

Sementara Nadia segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. WaktuDarmawan mengantarkan anak-anak Nadia ke rumahnya, Nadia sedang duduk di kursidepan sambil memegangi lututnya.

"Ada obat merah tidak, tante?" tanya Darmawan.
"Ada di dalam, Wan," kata Nadia.
"Kita ke dalam saja..." kata Nadia lagi sambil bangkit dantertatih-tatih masuk ke dalam rumah.

Darmawan dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.

"Ma, Donny ngantuk," kata anaknya kepada Nadia.
"Tunggu sebentar ya, Wan. Saya mau antar mereka dulu ke kamar.Sudah waktunya anak-anak tidur siang," kata Nadia sambil bangkit dantertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.

Setelah mengantar mereka tidur, Nadia kembali ke tengah rumah.

"Mana obat merahnya, tante?" tanya Darmawan.
"Di atas sana, Wan..." kata Nadia sambil menunjuk kotakobat.

Darmawan segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obatmerah dan kapas. Tak lama Darmawan segera kembali dan mulai mengobati lutut Nadia.

"Maaf ya, tante.. Saya lancang," kata Darmawan.
"Tidak apa-apa kok, Wan. Tante senang ada yang menolong,"kata Nadia sambil tersenyum.

Darmawan mulai memegang lutut Nadia dan mulai memberikan obat merahpada lukanya.

"Aduh, perih..." kata Nadia sambil agak menggerakkanlututnya.

Secara bersamaan rok Nadia agak tersingkap sehingga sebagian pahamulusnya nampak di depan mata Darmawan. Darmawan terkesiap melihatnya. TapiDarmawan pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Nadia menggodamata Darmawan untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Darmawan agak berdebar..Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Nadia.Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Nadia memakai celana pendek.

Darmawan biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Nadia sambilonani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Nadia sangat jelasterlihat. Nadia sepertinya sadar kalau mata Darmawan sesekali melirik ke arahpahanya. Segera Nadia merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Darmawanpunsepertinya terkesima dengan sikap Nadia tersebut. Darmawan menjadi malusendiri..

"Sudah saya berikan obat merah, tante..." kata Darmawan.
"Iya, terima kasih," kata Nadia sambil tersenyum.
"Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi," ujar Nadialagi sambil tetap tersenyum.

Darmawan, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Nadia. Masihduduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggunglainnya, Darmawan adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masapuber.

"Kenapa kamu nunduk terus, Wan?" tanya Nadia.
"Tidak apa-apa, tante..." ujar Darmawan sambil sekilasmenatap mata Nadia lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
"Ayo, ada apa?" tanya Nadia lagi sambil tersenyum.
"Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi sayasempat melihat secara tidak sengaja..." kata Darmawan sambil tetapmenunduk.
"Lihat apa?" tanya Nadia pura-pura tidak mengerti.
"Lihat.. Mm.. Lihat ini tante," kata Darmawan sambiltangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Nadia tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa-apa kok, Wan," kata Nadia.
"Kan hanya melihat.. Bukan memegang," kata Nadia lagi sambiltetap tersenyum.
"Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tantetadi," kata Nadia lagi sambil tetap tersenyum.
"Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat," kata Nadia.
"Benar tante tidak marah?" tanya Darmawan sambil menatap Nadia.

Nadia menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Darmawanpun jadiikut tersenyum.

"Tante sangat cantik kalau tersenyum," kata Darmawan mulaiberani.
"Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu..." kata Nadia.
"Saya berkata jujur loh, tante," kata Darmawan lagi.
"Kamu sudah makan, Wan?" tanya Nadia.
"Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belummakan," kata Darmawan.
"Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang," ajak Nadia.
"Baik tante, terima kasih," kata Darmawan.

Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedangmenikmati makan, tanpa sengaja kaki Darmawan menyentuk kaki Nadia. Darmawankaget, lalu segera menarik kakinya.

"Maaf tante, saya tidak sengaja," kata Darmawan.
"Tidak apa-apa kok, Wan..." kata Nadia sambil matanyanenatap Darmawan dengan pandangan yang berbeda.

Ketika kaki Darmawan menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatuyang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Nadia merasakan sesuatuyang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Nadia merasakan ada sesuatukeinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kakiDarmawan terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..

"Kamu sudah punya pacar, Wan?" tanya Nadia sambil menatapDarmawan.
"Belum tante," kata Darmawan sambil tersenyum.
"Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan," ujarDarmawan lagi sambil tetap tersenyum. Nadiapun ikut tersenyum.
"Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadapperempuan?" tanya Nadia lagi.
"Keinginan apa tante?" tanya Darmawan. Nadia tersenyum.
"Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara..." kata Nadia.

Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.

"Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saatini?" tanya Nadia.
"Tidak ada, tante," kata Darmawan.
"Tadi tante mau tanya apa?" kata Darmawan penasaran.
"Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud sayasuka kepada tubuh wanita?" tanya Nadia.
"Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara padasiapa-siapa kok," kata Nadia lagi.
"Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?" kata Nadialagi.
"Iya, tante," kata Darmawan.
"Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi..." kata Nadiasambil tersenyum.
"Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya jugasuka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus," kata Darmawan tanparagu.
"Maksudnya tubuh bagus apa," tanya Nadia lagi. Darmawan agakragu untuk menjawab.
"Ayolah..." kata Nadia sambil memegang tangan Darmawan.Tangan Darmawan bergetar.. Nadia tersenyum.
"Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga..Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuantubuhnya bagus..." kata Darmawan dengan nafas tersendat.
"Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja," kata Nadiapura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Darmawan yang terusgemetar.
"Mm.. Lihat orang sedang begituan..." kata Darmawan.
"Begituan apa?" tanya Nadia lagi.
"Ya, lihat orang sedang bersetubuh..." kata Darmawan.

Nadia kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahansesuatu di dadanya.

"Kamu suka tidak film begitu?" tanya Nadia.
"Iya suka, tante?" kata Darmawan sambil menunduk.
"Mau coba seperti di film, tidak?" kata Nadia.

Darmawan diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Nadiamendekatkan tubuhnya ke tubuh Darmawan. Wajahnya di dekatkan ke wajah Darmawan.

"Mau tidak?" tanya Nadia setengah berbisik.

Darmawan tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Nadiamembelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Darmawan. Darmawantetap diam dan makin gemetar. Nadia terus menciumi wajah Darmawan, laluakhirnya dilumatnya bibir Darmawan.. Lama-lama Darmawanpun mulai terangsangnafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Nadia.

"Masukkan tangan kamu ke sini..." kata Nadia dengan nafasmemburu sambil memegang tangan Darmawan dan mengarahkannya ke dalam baju Nadia.
"Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Wan.. Pegang buah dadasaya," kata Nadia sambil tangannya meremas kontol Darmawan dari luarcelana.

Sementara tangan Darmawan sudah masuk ke dalam BH Nadia dan mulaimeremas-remas buah dada Nadia.

"Mmhh.. Terus sayang..." kata Nadia.
"Tangan saya pegal, tante..." kata Darmawan polos.
"Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk..." ajak Nadia sambilmenarik tangan Darmawan. Sesampainya di dalam kamar..
"Buka pakaian kamu, Wan..." ujar Nadiapun melepas seluruhpakaiannya sendiri.
"Iya, tante..." kata Darmawan.

Nadia setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang ditempat tidur. Darmawan terkesima melihat tubuh telanjang Nadia. Seumur-umurDarmawan, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata.Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani.Kontol Darmawan langsung tegang dan tegak..

"Naik sini, Wan..." kata Nadia.
"Iya, tante..." kata Darmawan.
"Sini naik ke atas tubuh saya..." kata Nadia sambilmengangkangkan pahanya.

Darmawan segera menaiki tubuh telanjang Nadia. Nadia langsung melumatbibir Darmawan dan Darmawanpun langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementarasatu tangan Darmawan meremas buah dada Nadia yang tidak terlalu besar.Sementara kontol Darmawan sesekali mengenai belahan memek Nadia.

"Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus..." desah Nadia sambilmemegang tangan Darmawan yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan merekabersamaan meremas buah dadanya.
"Ohh.. Sshh..." kata Nadia. Darmawanpun dengan bernafsuterus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Nadia.
"Wan, jilati memek ya, sayang..." pinta Nadia.
"Tapi saya tidak tahu caranya, tante," kata Darmawan polos.

"Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilatibelahannya..." kata Nadia setengah memaksa dengan menekan kepala Darmawanke arah memeknya.

Darmawan langsung menuruti permintaan Nadia. Dijilatinya belahan memekNadia sampai tubuh Nadia mengejang menahan nikmat.

"Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang..." desah Nadia sambilmeremas kepala Darmawan.
"Wan, kamu jilati bagian atas sini..." kata Nadia sambiljarinya mengelus kelentitnya.

Lalu lidah Darmawan menjilati habis kelentit Nadia.. Nadia kembalimenggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.

"Teruss.. Sshh.. Ohh..." desah Nadia sambil badannya semakinmengejang.

Pahanya rapat menjepit kepala Darmawan. Sementara tangannya semakinmenekan kepala Darmawan ke memeknya. Tak lama..

"Ohh..." desah Nadia panjang. Nadia orgasme.
"Sudah, Wan.. Naik sini," kata Nadia.

Darmawan lalu menaiki tubuh Nadia. Nadia lalu mengelap mulut Darmawanyang basah oleh cairan memeknya. Nadia tersenyum, lalu mengecup bibir Darmawan.

"Mau tidak kontol kamu saya hisap," kata Nadia.
"Mau tante," kata Darmawan bersemangat.
"Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu," kata Nadia sambiltangannya meraih kontol Darmawan yang tegang dan tegak.

Darmawan lalu mengangkangi wajah Nadia. Nadia segera mengulum kontolDarmawan. Tidak hanya itu, kontol Darmawan lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknyasilih berganti. Darmawan tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramatsangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.

"Ohh.. Tantee.. Enaakk..." jerit kecil Darmawan sambilmemompa kontolnya di mulut Nadia.
"Masukkin ke memek, sayang..." kata Nadia setelah diabeberapa lama menghisap kontol Darmawan.

Darmawan lalu mengangkangi Nadia. Sementara tangan Nadia memegang danmembimbing kontol Darmawan ke lubang memeknya.

"Ayo tekan sedikit, sayang..." kata Nadia.

Darmawan berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Nadia sampaiakhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Darmawan berhasil masuk dan mulaimemompa memek Nadia. Darmawan merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara padabatang kontolnya.

"Bagaimana rasanya, Wan?" tanya Nadia sambil tersenyum danmenggoyang pantatnya.
"Ohh.. Sangat enakk, tanttee..." kata Darmawan tersendatsambil memompa kontolnya keluar masuk memek Nadia.

Nadia tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tibatubuh Darmawan mengejang. Gerakannya makin cepat. Nadia karena sudah mengertilangsung meremas pantat Darmawan dan menekankannya ke memeknya. Tak lama..Crott.. Croott.. Croott.. Croott..

"Ohh.. Hohh..." desah Darmawan. Tubuhnya lemas dan lunglaidi atas tubuh Nadia.
"Udah keluar? Bagaimana rasanya?" tanya tante Nadia sambilmemeluk Darmawan.
"Sangat enak, tante..." kata Darmawan.

*****

Itulah pengalaman nyata dari Nadia yang saya paparkan sesuai denganaslinya ditambah sedikit reka-reka sensual dari saya. Menurut Nadia, kejadianini baru berjalan mulai 2 bulan yang lalu. Sampai saat ini mereka masih seringmelakukan persetubuhan di rumah Nadia setiap ada kesempatan. Menurutnya lagi,dalam satu hari/sepanjang siang, mereka biasanya bisa melakukan 2 kalipersetubuhan, mungkin karena Darmawan masih muda. Perlu dijelaskan bahwamenurut Nadia, cintanya pada Herman tidak pernah berubah. Kejadian itu bermulatanpa ada niat dan keinginan. Terjadi begitu saja. Hanya saja menurut Nadia,ternyata cinta tidak selamanya membuat terikat pada sesuatu atau seseorang.Demikian.

TAMAT

Tante Yohana, wanita setengah baya yang masih lumayan seksi. Sudahdari waktu yang lama ia menjadi sasaran untuk "digoyang" olehkeponakannya sendiri, Doddy. Doddy yang berasal dari Bandung, sudah hampir limatahun tinggal dirumah Tante Yohana, karena ia kuliah di Jakarta. Dan sudah limatahun itu juga Tante Yohana menjadi fantasi seks-nya dikala ia bermasturbasi.Seringkali ia mengambil pakaian dalam Tante Yohana dari bak pakaian kotor yangterletak di dalam kamar mandi. Bh dan korset Tante Yohana merupakan primadona Doddydalam bermasturbasi.


Setiap kali bermasturbasi ia selalu menumpahkan airmaninya dicelanadalam maupun BH Tante Yohana. Bahkan tidak jarang ia mengambil celana korset TanteYohana yang sudah dicuci bersih, dan dengan sengaja memuntahkan spermanya dibagian selangkangan celana dalam tersebut, ataupun berkali-kali berejakulasi dicup BH Tante Yohana hingga berhari-hari, kemudian 'benda-benda tersebut'dikembalikannya ketempat semula. Dan berharap Tante Yohana segera memakai'perabotannya' tersebut.
Tidak jarang juga Doddy mencoba mengintip Tante Yohana pada waktutidak ada orang dirumah tersebut. Melalui lubang kunci pintu kamra Tante Yohana,Doddy sering kali melihat tubuh montok Tante Yohana tanpa busana, ataupun hanyadibalut pakaian dalamnya saja.

Dan biasanya aksi pengintipan tersebut diakhiri dengan beronanimemakai pakaian dalam Tante Yohana dikamarnya.
Doddy sering kali mengumpulkan airmaninya ketika selesai beronanididalam cangkir kecil, dan disimpannya didalam kulkas kecil yang adadikamarnya. Ketika cangkir tersebut sudah hampir penuh, ketika tidak ada orangyang melihat, ia mencampurkan 'airmani basi' tersebut kedalam soup atau punminuman yang biasa disediakan untuk Tante Yohana. Bahkan pernah juga iamencampurkan spermanya sebanyak dua sendok makan kedalam hamburger yangdisediakan untuk Tante Yohana. Dan secara diam-diam Doddy menyaksikan TanteYohana menikmati santapannya plus airmani miliknya didalam makanan tersebut.Dan biasanya libido Doddy langsung tinggi, dan cepat-cepat ia beronani dikamarnya.

Makin lama Doddy makin tidak tahan setiap kali melihat tubuh TanteYohana yang masih sintal itu, maka timbullah niat jahatnya untuk memperkosa TanteYohana. Berhari-hari ia merencanakan hal tersebut, dan mempersiapkan segalasesuatu yang dibutuhkannya.
Obat bius pun sudah dipesannya dari seorang teman yang entah dapatdari mana.
Maka pada malam hari itu ia mengajak teman-temannya untuk mengerjai TanteYohana disalah satu rumah temannya yang sedang kosong.

Teman-teman Doddy yang memang rata-rata maniac seks pun ikut bergairahmendengar rencana tersebut. Maka terkumpullah teman-teman Doddy sebanyak duapuluh lima orang. Dua puluh orang menunggu dirumah kosong, lima orang lagibertugas menculik Tante Yohana, termasuk Doddy. Maka pada hari itu merekaseharian mengikuti kemanapun Tante Yohana pergi, hingga pada malam harikesempatan itu datang juga.

Ketika Tante Yohana sedang menunggu lift diparkiran basement salahsatu restaurant, Empat orang teman Doddy pun ikut mengantri lift dengan TanteYohana. Ketika Tante Yohana lengah, salah seorang langsung mengeluarkansaputangan yang sudah ditetesi kloroform cukup banyak, dan dengan cepatdibekapkan kehidung dan mulut Tante Yohana, yang seketika itu juga langsungpingsan, dan keempat teman Doddy langsung membopong Tante Yohana masuk kedalamminibus yang sudah menunggu didepan lift tersebut.

Hampir satu jam mereka baru sampai kerumah kosong tersebut, danlangsung memasukkan mobil kedalm garasi. Tante Yohana pun langsungdigotong-gotong beramai-ramai kedalam ruang tamu. Dalam keadaan masih tidaksadar, Tante Yohana didudukkan dikursi sofa. Dan tanpa komano lagi merekabergantian meraba-raba serta meremas-remas tubuh Tante Yohana. Pakaian TanteYohana yang berupa baju terusan hingga sebatas mata kaki pun dilucuti dengantidak sabar, hingga akhirnya tinggal bra dan celana dalam saja yang menempelditubuhnya.

Gunung kembar Tante Yohana merupakan menu utama untuk 'diobok-obok'oleh Doddy dan teman-temannya. Beberapa tangan dengan brutalnya bergantianberada dibalik BH Tante Yohana yang berupa long torso tersebut. Cup BH yangberukuran 36B itu pun akhirnya dibetot kebawah hingga gunung kembar yang masihsintal itu tersembul keluar. Beberapa orang langsung bergantian mengisap-isapkedua puting susu Tante Yohana, sambil sesekali meremas-remas 'kontainer susu' TanteYohana tersebut. Salah seorang teman Doddy menggunting bagian selangkangancelana dalam Tante Yohana, dan dengan sangat bernapsu Tante Yohana dipindahkanke matras dan langsung saja diantri beramai-ramai.

Doddy mendapat giliran pertama menyetubuhi Tante Yohana, sedangkanyang lain sambil menunggu giliran memain-mainkan batang penisnya diwajah TanteYohana yang masih terlihat cantik itu. Mulut Tante Yohana dibuka paksa dan duabatang penis sekaligus masuk dan berusaha bergerak keluar masuk sebisa-bisanyasehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasanya bagi pelakunya. Satu batangpenis panjang dan besar milik Heri melintang dari atas dahi hingga diatashidung Tante Yohana, dan Heri pun dengan semangat 45 menggosok-gosokkan batangpenisnya maju mundur dengan cepat.

Vagina Tante Yohana yang masih lumayan 'kenceng' itu pun nonstopdigunakan untuk memuaskan napsu Doddy dan teman-temannya. Setengah botol babyoil sudah habis digunakan sebagai pelicin batang penis Doddy danteman-temannya. Batang Penis Doddy dengan lancarnya keluar masuk vagina TanteYohana, membuat teman-teman yang lain menjadi tak sabar menunggu giliran. TanteYohana yang tak sadarkan diri itu sudah hampir dua jam dikerjain para sexmaniac tersebut dengan berbagai aktivitas sex yang aneh-aneh. Berbagai posebugil Tante Yohana diabadikan oleh Bambang dengan digital camera sertahandycam, mulai dari oral sex hingga persetubuhan massal.

Hingga akhirnya adegan climak berejakulasi pun siap diabadikan. Doddymangambil kacamata baca dari tas Tante Yohana, kemudian memakaikan kaca matatesebut diwajah Tante Yohana yang cantik itu. Dan keduapuluh enam orangtersebut mulai bergantian berejakulasi diwajah Tante Yohana. Dimulai dengangiliran pertama oleh Doddy 'sang pencinta Tante Yohana'. Doddy dengan cepat mengeluar-masukkanbatang penisnya dimulut Tante Yohana yang seksi itu hingga akhirnya saatberejakulasi ia mengocokkan penisnya tesebut tepat diatas wajah Tante Yohanadan airmanipun muncrat berantakan diseluruh wajah Tante Yohana berupagaris-garis lurus putih kental hingga mengenai kacamata Tante Yohana.

Heri, Hendra, Feri dan Faisal berlutut diatas wajah Tante Yohana dariempat penjuru dan tisak sampai semenit airmani mulai bermuncratan secarabergantian membasahi wajah dan leher Tante Yohana dengan begitu derasnya. Limaorang teman Doddy yaitu Tumpal, Ade, Erik, Udin dan Ucok memilih berjakulasidimulut Tante Yohana, dan merekapun tidak sampai lima menit lima menit sudahmemindahkan isi kantung buah sakar mereka kemulut Tante Yohana, hingga luberhampir keluar dari mulut seksi tersebut.

Udin pun menggerak-gerakkan mulut dan wajah Tante Yohana hinggasedikit demi sedikit 'air peju' tersebut tertelan oleh Tante Yohana. Sedangkanyang lainnya melakukan hal yang pada Tante Yohana. Beberapa orang bergantianmenjepitkan batang penisnya diantara kedua gunung kembar Tante Yohana yangmontok itu. Beberapa tetes baby oil diteteskan didada Tante Yohana sebagaipelicin, yang membuat para lelaki tersebut mundur maja tak karuan, sementarapenis mereka dengan lancarnya ikut bergerak mundur maju pula disela-sela gunungkembar Tante Yohana yang sedang diremas-remas, dan akhirnya hanya beberapamenit saja batang kejantanan mereka berjantian muncrat diantara gunung kembar TanteYohana hingga bertetesan membasahi BH yang masih membalut tubuh Tante Yohanaitu.

Sementara itu yang lainnya bergantian berejakulasi diwajah dan mulut TanteYohana yang dibuka paksa dengan sebuah alat pengganjal sehingga tidak dapatdikatupkan. Air mani bermuncratan diwajah Tante Yohana dan sebagian lagi masukkedalam mulutnya. Bahakan beberapa orang teman Doddy, termasuk Doddyberejakulasi hingga tiga kali diwajah tante yang cantik itu karena sakingnapsunya.
Selesai pemerkosaan tersebut, Tante Yohana yang masih belum sadarkandiri itu dibersihkan oleh beberapa orang. Muka Tante Yohana yang blepotansperma hanya diseka dengan celana dalam Doddy yang kemudian disumpalkan kedalammulut Tante Yohana. Rambut Tante Yohana yang berantakan disisir rapi kembali,dan kacamatanya yang kotor karena airmanipun dibersihkan dan dipakaikan kembali,hingga akhirnya Tante Yohana bersih seperti sedia kala.

Tante Yohanapun akhirnya siuman sementara jam sudah menunjukkan pukulsatu malam, dan betapa kagetnya ia ketika melihat dirinya hanya memakai bra dancelana dalam korsetnya yang sudah putus dibagian selangkangan dan lebih kagetlagi melihat Herman dengan ganasnya menyetubuhi Tante Yohana sedari tadi.Batang penisnya keluar masuk dengan lancar sementara yang lainnya dengan wajahditutup sarung kepala menonton sambil mengocok penis masing-masing.

Doddy dan teman-temannya terpaksa memakai sarung penutup kepala karenatakut dirinya diketahui oleh Tante Yohana. Sekali lagi mereka mengerjai TanteYohana sebelum subuh tiba. Batang penis satu persatu bergantian mengocok vaginaTante Yohana, sementara itu seperti biasa yang lainnya merem melek memaksa TanteYohana mengisap serta mengulum penis mereka. Bahkan mereka bergantian memaksa TanteYohana mengulum-mgulum sepasang buah sakar mereka sambil menekan-nekan wajah TanteYohana diselangkangan mereka itu hingga akhirnya keduapuluh enam orang itukembali berejakulasi bersama-sama.

Satu persatu dari mereka kembali memuncratkan spermanya diwajah danmulut Tante Yohana. Salah seorang mengambil segelas airmani dingin dari kulkasdan memaksa siseksi Tante Yohana untuk menelan air mani tersebut sambilmengunyah-nguyah airmani tersebut terlebih dahulu sampai habis.

Airmani yang bertetesan diwajah Tante Yohana disendoki dan dicekokikemulut Tante Yohana hingga bersih. Selesai 'mandi peju' Tante Yohana kembalidirapihkan dan dipakaikan bajunya kembali, namun celana korset dan BH nyadicopot dari tubuhnya untuk kenang-kenangan buat mereka. Sebagai gantinyamereka memaksa Tante Yohana memakai celana dalam G-String berwarna merah yangsudah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan gunung kembar Tante Yohana dibiarkanbergelayutan tanpa BH, hingga puting susu Tante Yohana mencuat kedepan. TanteYohana diturunkan ditengah jalan dekat rumahnya, kemudian mereka pergi begitusaja.

TAMAT