'Enak pak? Puas?', aku ingin melihat wajahnya..
'Terus terang Pak, baru kali ini aku merasakan gituan sama lelaki', wow.., aku 'merjakain' dia dong..
'Jadinya saya merjakain Bapak yaa..'.
'Penginnya sih dari dulu.., tapi kesempatannya sulit.. lagian saya takut kalau ketahuan umum'.
'Iya, dong', aku menimpali muridku, binaanku.
'Kita khan ada karier..', supaya dia tahu juga sikapku.

Kami minum bir, setel TV, ngemil. Aku masih gatal. Biasanya pemula macam dia ini juga ingin lagi. Kulihat acara TV.
Berita tentara Amerika sudah memasuki Irak. Phil Collins sedang dikerubuti fansnya dan Srimulat di saluran lain. Kumatikan. Acaranya 'begitu-begitu saja'. Kembali aku meraih kakinya, betisnya. Kuelus dan kuremas daging gempalnya. Dia diam menikmati. Kuelus dan kuremas kontolnya yang masih setengah tegak. Kuhabiskan bir di gelasku. Dia langsung menuangkan botolnya, mengisinya lagi.

Dia bangkit ke kamar mandi. Mau buang air kecil mungkin. Aku jadi kembali bernafsu. Kuikuti dia ke kamar mandi. Saat kontolnya memancurkan air seninya ke kloset, segera kuraih. Aku berjongkok di depannya, 'pancuran' itu kuminum. Aku tahu, dia merasa jengah. Biarlah. Biar dia belajar. Biar dia tahu bahwa kencingnya pun aku suka. Aku nafsu. Aku doyan.

Saking banyaknya, aku tampak seperti mandi air kencingnya. Kubasuh mukaku dengan air seni itu, yang mengalir ke dadaku kuratakan. Kuminum lagi. Bir yang tadi diminumnya kini membasahi tenggorokanku, berpindah ke perutku.
Aku ngaceng beratt.. Kemudian aku mandi terlebih dulu..

Dia tetap bergolek telanjang. Rupanya melihatku minum kencingnya membuat kontolnya kembali ngaceng. Aku senang sekali. Kuraih dan kuisap-isap kembali. Kupompa, kujilat. Kembali dia mengaduh nikmat. Kali ini dia lebih 'galak'. Mungkin mulai ketagihan. Dia tarik aku ke bibirnya. Dia mencium bibirku. Kami saling melumat. Lumatan dengan lidah-lidah kami yang meliar, menari-nari, saling menyedot ludah. Kami berguling silih berganti saling tindih. Aku ngaceng berat.
'Pak.. mau nggak dimasukin ke sini..?', sambil jariku dengan lembut menusuk-nusuk lubang duburnya..
'Sakit nggaak..?'.
'Pelan-pelan kok. Ada minyak rambut tidak?, atau minyak lainnya..?'.
'N'tarr..'.
Dia bangun, diambilnya Brylcream dari meja rias, diserahkannya padaku. Kuolesi kontolku. Kuolesi juga duburnya. Kemudian jari-jariku menekannya agar Brylcream itu lebih masuk ke dalam. Kemudian kucoba mendorong-dorong kontolku pelan-pelan. Agar dia dapat merasakan dulu gatal birahinya di anal itu. Kudorong lagi sedikit, sedikit, dorong lagi, dorong lagi..

Dia menyeringai, tetapi tidak berusaha menghentikan. Aku dorong lagi sedikit, kemudian kutarik. Dengan pencapaian penetrasi yang masih baru sedikit di permukaan, kupompakan kontolku pada duburnya. Dia menyeringai.
'Sakiitt..', katanya, tetapi tetap membiarkanku meneruskannya.
Akhirnya sudah setengah kontolku menembus duburnya. Duburnya terasa mengembang menguncup, enak sekali..

Pompaanku berjalan terus. Dan dia sesekali menggerakkan pantatnya untuk menarik kontolku agar lebih masuk lagi. Hingga seluruh batangku tertelan. Aku mendiamkannya sambil menikmati ejanan urat-urat duburnya. Rasa hangatnya sangat nikmat terasa di sekujur batang kontolku. Kami meneruskan berciuman dan saling melumat. Bau mulutnya menjadi wangi rasanya. Rambut, kumis dan brewoknya yang tercukur kasar terasa mengasah-asah leher, pipi, dagu, lidah maupun bibirku.
Aku menggelinjang hebat. Kontolku kupompakan dengan hebat. Kukocok-kocok lubang analnya.
'Aduh, aduh, aduh, huh, huh, huh, panass, uhh panaass..'.
Aku menggila. Spermaku tumpah semakin banyak. Aku sangat puas. Aku rebah di sampingnya menghela nafasku satu-satu.

Dia bangun kembali menuju ke gelas birnya. Jam di kapal menunjukkan pukul 21.00. Sudah satu setengah jam kami berhubungan seks.
'Makan dulu yok Pak. Jadi lapar nih..'.
Dia benar-benar lapar rupanya. Dia pesan steak double. Bir hitam. Aku setengahnya dan bir hitam juga. Berkali-kali dia menatapku. Aku hanya senyum-senyum.
'Biar aku yang bayarin', dia yang mentraktirku.
Aku senang karena itu berarti menandakan bahwa dia puas denganku. Malam itu aku langsung kembali ke kamarku.
'Pak, boleh aku mampir ke kamar?', pukul 7 pagi dia sudah menelponku. Pasti dia kepingin lagi.
'Silakan saja, saya tunggu..', aku menyahutnya juga dengan bersemangat.

Aku tidak perlu buru-buru mandi. Siapa tahu dia lebih senang kalau aku tidak mandi. Aku berharap dia juga belum mandi. Begitu dia masuk dan pintu terkunci, kami langsung saling berpagut. Bermenit-menit kami berdiri berpagutan dengan punggungnya yang kupepetkan ke dinding. Tangannya meremas kontolku.
'Boleh menciumi ini yaa..', pintanya.
'He-eh', gumamku.
Dia langsung berjongkok. Dikeluarkannya kontolku dari samping celana dalamku. Langsung dikulumnya. Kemudian lidahnya menyusul menjilatinya. Sudah pintar dia rupanya. Apakah semalaman dia terbangun karena keinginannya untuk melakukan ini. Mungkin dia telah terobsesi.

Batang kontolku ditegakkannya ke perutku. Lidahnya menjilat kemudian bibirnya mengulum biji pelirku. Aku terus merangsangnya. Tanganku meremas rambutnya dan aku mendesah. Dia mulai memompa. Beberapa saat kemudian kami bergeser ke ranjang. Aku rebah dengan selangkangan terbuka. Dia langsung merangsek. Wajahnya ditenggelamkannya ke selangkanganku. Dia ciumi selangkanganku. Jembutku dia cium. Dia isap-isap. Dan tangannya dengan penuh gelora birahi meraba bagian tubuhku yang lain. Pahaku, perutku, Dadaku. Puting susuku pun dipelintirnya, wow.. nikmat sekali.

Tangannya juga meraba ketiakku, kemudian dengan sepenuh nafsunya, dia memompa kontolku. Uhh, anak didikku, binaanku, penemuanku.
'Aku mau keluar Pakk.. aku mau keluaarr..', tanganku menjambak rambutnya.
Persetan dengan sakitnya. Persetan rasa pedasnya. Kuremas dan kutarik-tarik rambutnya hingga.. crot, crot, crot, crot.., bergelombang-gelombang spermaku tumpah ke mulutnya. Dia sudah belajar banyak.. dia menelan semua spermaku.
'Enak Pak', katanya.
Dan aku tidak menunggu lama lagi. Dia pasti menungguku. Kudorong tubuhnya ke ranjang. Kutarik telentang, kakinya kulonjorkan ke lantai. Bokongnya persis di tepi ranjang hingga kontol itu tampak mengacung tegak ke arah langit-langit kamar klas 1 Lambelu ini.

Akulah sekarang yang memompa. Pelan kujelajahi selangkangannya. Lidahku menyisir. Tak semilipun pori-pori selangkangannya kulewatkan, kusedot-sedot, kuisap-isap. Kemudian kontolnya. Lidahku menyisir. Tak semilipun daging kontol itu terlewat dari lidahku. Kujilat-jilat, kusedot-sedot, kuisap-isap. Nafsuku kembali bangkit. Kontolnya makin mengeras, urat-uratnya keluar menonjol seperti relief lingga di Borobudur. Kepala kontolnya terdesak oleh darahnya, mirip helm Nazi, mengilap-kilap.

Nampak lubang kencingnya menganga, menunggu jilatan lidahku. Dan segera kudekati dan kujilat. Kudengar dia melenguh, kemudian tangannya menggapai-gapai kepalaku. Aku memompa. Yaa, dia ingin agar aku mulai memompanya.
Kali ini semprotan air maninya lebih banyak daripada kemarin. Lebih pekat dari kemarin. Lebih kental dari kemarin. Lidahku merasakan seakan lendir tersebut tak habis-habisnya. Dan rasanya, seperti kelapa yang masih sangat muda, hingga dengan tanpa sendok pun lapisan kelapanya luruh sendiri. Manis, gurih dan asinnya berbaur. Beginilah yang selalu membuatku ketagihan, ingin lagi, ingin lagi, ingin lagi..

'Pak, aku pesankan sarapan dari sini yaa..', dia ingin American Breakfast.
Aku pesan 2 porsi. Kemudian mengobrol sana-sini. Sebelum meninggalkan kamarku, sekali lagi kami bergelut. Dia rupanya juga ingin ngentot pantatku. Aku menyambutnya dengan gembira. Dia tumpahkan spermanya ke analku. Selama pelayaran yang 5 hari itu, kami mondar-mandir. Terkadang aku yang bertandang ke kamarnya. Terkadang dia ke kamarku. Pagi hari saat baru bangun adalah saat yang tidak pernah kami lewatkan. Variasinya semakin kaya. Dia cepat belajar. Dan cepat matang. Dia sudah 'jadi'.

Pada malam terakhir pelayaran, dia minta aku untuk berpindah ke kamarnya. Aku juga ingin menjadikan malam terakhir ini sebagai malam yang paling nikmat. Kami sama-sama menggebu. Kami sama sekali tidak keluar kamar. Kami siapkan minuman, 8 botol bir, 2 porsi steak, 1 pan besar pizza dan buah-buahan. Dia memang kuat makan. Sejak pukul 5 sore, sesudah masuk kamarnya, kami tidak lagi berpakaian alias bugil selama 14 jam hingga pukul 7 pagi harinya. Aku meminum setiap kencingnya. Dan sekali pada pagi harinya lidahku menceboki pantatnya. Dua hal yang dia belum dapat melakukannya. Peristiwa yang sungguh sangat mengesankan, hingga selalu aku catat dalam pengalamanku.

Kami saling memanjakan. Tidak ada pori-porinya yang kulewatkan, begitu juga dia terhadapku. Sepanjang malam itu aku meraih kepuasanku hingga 5 kali spermaku muncrat, 5 kali pula spermanya muncrat. Seluruhnya langsung ke mulutku dan tak setetespun yang tercecer, semua mengaliri tenggorokanku. Demikan pula, 5 kali spermaku langsung ke mulutnya, tanpa setitikpun yang tercecer, seluruhnya membasahi tenggorokannya, seluruhnya dia minum. Sungguh luar biasa.. 5 kali masing-masing.. sangat luar biasa..

Pagi harinya, sekitar pukul 8 pagi, saat Tanjung Priok telah muncul di cakrawala, kami telah bersiap di dek Lambelu.
'Pak, terima kasih banget. Saya besok sudah mulai bertugas. Rasanya kita tidak akan pernah berjumpa lagi. Saya lebih senang menghapus catatan perjalanan saya ini. Saya akan menganggap pertemuan kita ini tidak pernah ada. Saya anggap pengalaman selama 5 hari pelayaran ini tidak pernah terjadi'.
Pemikirannya sungguh sangat kuhargai. Dan memang sebenarnya sikap seperti inilah yang justru paling kusuka.

'Pak, saya sangat setuju dengan anda. Saya sendiri juga tidak tertarik untuk hubungan jangka panjang. Saya lebih suka hubungan sesaat tanpa ada ikatan emosioanl, rasa kangen, rindu dan semacamnya. Saya seperti angin yang mampir pada pucuk-pucuk pohon. Menggoyang pucuk-pucuk itu dan berlalu, menuju pucuk pohon yang lain. Saya sangat suka cinta kilat, habis bercinta pergi berikut seluruh kenangannya, lantas hilang. Saya akan kembali ke kegiatan rutin saya dan berharap pada kesempatan lain sang angin menemukan pucuk pohon yang lain untuk menggoyang-goyangkannya kemudian berlalu. Saya sangat setuju, pak!'.
'Lihat.. Tanjung Priok sudah di depan kita. Hingga hari terakhir ini, sejak kita jumpa lima hari yang lalu, dan menghirup kenikmatan birahi bersama sepanjang pelayaran, kita bahkan tidak saling mengenal nama. Saya tetap tidak tahu nama Bapak, dan saya rasa Bapak juga tidak tahu nama saya..'.

Bapak itu tersenyum puas. Untuk terakhir kalinya dia melepaskan senyum padaku. Tepat pukul 8.30 pagi bersama ratusan penumpang Lambelu lainnya, kami menuruni tangga kapal. Sesampainya di dermaga kedatangan, aku menoleh kesana kemari, tetapi dia tidak berhasil kutemukan lagi. Dan memang tidak akan pernah kutemukan lagi hingga kini..

Tanjung Priok, April 2003

TAMAT