Kejadian ke dua dengan mas Hendra, kakak iparku.

Sepulang sekolah untuk kedua kalinya aku mereguk kenikmatan dengan mas hendra.
kedua buah dadaku yang sudah menyembul dari seragamku diremas-remasnya, bergantian
kedua putingku dilumatnya dengan gemas.

Tak lama tangannya membelai kemulusan kedua pahaku yang tersingkap. Diraihnya
celana dalamku dan melepaskannya dari selangkanganku. Aku rentangkan kedua kakiku
lebar-lebar dihadapannya.
"Memek kamu mulus banget rin...", pujinya.
"Mmmhhh....", aku hanya bisa melenguh saat mas hendra menjilati kemaluanku dengan
rakusnya. Daging kecil ku berdenyut-denyut. Lubang kemaluanku seakan ingin diisi
sesuatu.
"Mmmhhh... Masss...", rintihku terasa nikmat sekali. Aku sudah tak sabar menunggu
kemaluannya untuk menusuk kemaluanku.

"Isep rin...", pinta mas hendra seraya menyodorkan batang kemaluannya dihadapan
wajahku. Kubuka mulutku dan kumasukan
kulupat batang kemaluan itu dimulutku dengan kepala ku yang maju mundur.
"Eeshhhh... Terus riin...kamu pintar sekali...", pujinya.
kugenggam pangkalnya sementara kepala kemaluannya kuhisap kuat-kuat.
"Uuuuhh riiin...", lenguh mas hendra. Dicabutnya dari mulutku.
"Kamu sering isep kontol pacar kamu ya ...?", aku mengangguk tersipu, kubelai
kepala batang kemaluan itu yang berkilat basah oleh air ludahku. Dengan posisi 69 aku kembali
melumat batang kemaluannya yang besar dan panjang. Sementara mas hendra menjilati
belahan kemaluanku.

"Rin... Masukin ke memek ya..?", ujarnya. Aku terlentang dihadapannya dengan
kedua kaki mengangkang tak sabar ingin merasakan hujaman batang kemaluan besar itu.
aku menatap tak sabar batang kemaluan itu dalam genggaman tangan mas hendra
dihadapanku yang hanya tersenyum seakan menggodaku.
"Ini apa sayang...?", tanyanya seraya menunjuk batang kemaluannya, aku tersipu malu.
"Coba bilang...", ujarnya, mas pengen denger rini nyebut ini", sergahnya lagi.
"Mmmm... Kontol...", ujarku dengan malu-malu.
"Sekali lagi sayang...", pintanya.
"Kontol", sebutku lagi.
"Coba rini bilang, memek aku pengen di entot kontol...", ujarnya.
"Memek aku pengen di entot kontol...", ujarku tanpa malu-malu, karena aku benar-benar
sudah ingin merasakan benda itu.

"Eeehhsss...", desahku gesekan kepala kemaluan itu menyentuh daging kecilku.
kepala kemaluan besar itu mulai menyeruak mulut kamaluanku. Aku benar-benar
ketagihan kontol, bisik hatiku.
"Aaaaaaahhh....", aku mengerang, betapa nikmatnya batang kemalan itu perlahan
menyeruak semakin dalam dan menghilat di telan kemaluanku.
"Uuuggh...riiin...memek kamu masih sempit banget...", pujinya.

"Aaahhh...eeeshhh....", desahku menyertai setiap hujaman pinggang mas hendra.
sambil kedua buah dadaku diremas-remasnya. Aku menggeliat dan menggeliat,
hingga tubuhku mengejang, aku menjerit tertahan, kurasakan dari dalam kemaluanku
menyemburkan cairan hangat membaluri kemaluan mas hendra yang terus menghujam.

Aku terkulai lemas, dibaliknya tubuhku membelakanginya dan mengangkat pinggulku
hingga pantatku menungging dihadapannya.
"Eeeehhhmmm....", eluhku, batang kemaluannya kembali menyeruak. Mas hendra terus
memompaku hingga membuatku kembali terangsang.

"Naik rin...", pintanya sementara ia terlantang dengan batang kemaluannya yang
tegak berdiri. Aku berdiri mengangkang dan kuarahkan kepala kemaluannya pada
lubang kemaluanku kemudian kuturunkan tubuhku hingga batang kemaluan itu menghilat
didalam tubuhku.

Aku bergoyang, sesekali pinggangku memutar, kedua buah dadaku diremas-remasnya
dengan bebas. Aku tak dapat menahan hingga aku kembali mengejang. Aku terkulai
diatas tubuhnya. Mas hendra mendekapku dan membaringkanku, kini tubuhnya berada
diatasku.

"Sebentar lagi sayang...", gumamnya dengan gerakan pinggang semakin cepat dan
"Croootttt...", di semburkannya cairan dari kemaluannya di wajahku.
"Isep rin...", pintanya aku menurut menghisap batang kemaluan basah itu.

Aku terkulai lemas dalam pelukan mas hendra yang masih terengah. Aku merasa puas
dan menikmati. Aku merasa semakin menikmatinya saja.

Bersambung . . .