Showing posts with label Cerita Seks. Show all posts
Showing posts with label Cerita Seks. Show all posts

Cerita Ngentot Pramugari .jpg

Ngentot asyik pramugari garuda cantik seksi – Aku lahir dari keluarga yang kaya, di Singapura. Usaha ayahku di bidang eksport/import makanan beku mengharuskanku untuk sering keluar negeri bertemu dengan klien.

Suatu waktu, aku harus terbang ke LA. Dan perjalanan selama 15 jam dari Singapura direct ke LA sangatlah panjang dan membosankan. Aku sudah menonton tiga film, makan dua kali dan masih ada sisa 7 jam perjalanan.

Karena aku duduk di bussiness class di upper deck, aku bisa leluasa turun ke lower deck. Karena dua-duanya adalah zone Bussiness Class. Sekitar lima menit, aku melihat pemandangan awan dari jendela kecil.

” Excuse me, sir… ” sebuah suara halus menyapaku dengan ramah. Ternyata seorang pramugari muda berwajah manis sedang tersenyum padaku. ” Are you from upper deck? ” Aku mengangguk, ” Yeah… why? ” aku mengintip name tag di dadanya.

Yuliana Sastri… wah nama indonesia nih ! ” I am just checking to see whether you need anything, because you have been looking out for quiet a long time… ” jawabnya dengan sopan. ” Dari Indonesia ya kamu? ” todongku. ” Lho… iya ! Bapak dari Indo juga? ” tanya lagi. ” Uh kok Bapak sih… belum juga tua, kok dipanggil Bapak… panggil nama aja… aku Joe… ” ” Oh… saya Lia… Bapak eh… kamu mau ke LA ya? ” kemudian kami ngobrol ngalor ngidul selama tigapuluh menit.

Ia sudah tinggal di luar negeri selama lebih dari empat tahun. Aslinya dari Bandung. Umurnya baru 23. Belum punya pacar katanya. Kami ngobrol sambil berdiri, lalu tiba-tiba seorang pramugari lain menghampirinya dan sementara mereka mengobrol, aku mengambil segelas wine yang disiapkan di galley (dapur) mereka.

” Yah… aku ditinggal sendiri deh, hehe… ” katanya setelah temannya pergi. ” Lho, kenapa? ” ” Jam istirahat… tadi aku uda istirahat 3 jam… dan habis ini giliran shift kedua istirahat. mestinya berdua-berdua, tapi supervisorku katanya migraine jadi dia istirahat di first class. Mungkin 2 jam lagi baru balik. Untung aja gak penuh… ” ” Oh… gitu… ya… gapapa deh… aku temani… aku bosen banget dari tadi di atas… sebelahku oom gendut yg ngorok melulu lagi… ”

Lia tertawa. Manis sekali wajahnya kalau tertawa. Dan aku mulai meneliti tubuhnya. Sekitar 165 cm, berat badannya mungkin 55 dan kulitnya putih sekali seperti orang Jepang. ” Kamu beneran nih belum punya cowok?” tanyaku iseng. ” Lagi ga ada… soalnya cowok terakhir membosankan banget. Dia ga fun dan old fashion… ”

Lalu ia mulai bercerita tentang mantannya yang masih menganut adat kuno, yang ga suka clubbing, pesta, minum dan tentu saja seks. Wajahnya memerah ketika ia bercerita. ” Maaf ya, aku kok jadi cerita kayak gini… hihi… habis memang mantanku itu orangnya aneh. Atau mungkin dia ga tertarik sama aku ya… mungkin aku terlalu jelek ya… ” katanya menerawang.

” Gak, kok… kamu cantik banget… dan… ” aku menatap matanya, ” seksi… bodi kamu seksi banget. Daritadi aku membayangkan bodi kamu di balik seragam itu… ” tambahku dengan berani. Mungkin aku mulai mabuk karena dua gelas white wine. ” Masa? Kamu boong ya… Joe… aku kan ga seksi. Toketku aja cuma 34B, hmmm ga seksi sama sekali deh… ” Aku menatapnya dengan penuh napsu. 34B, boleh juga… ” Kalau kamu kasi aku liat, aku mungkin bisa menilai apa bodi kamu seksi beneran atau gak… ” tantangku.

Lia tampak terkejut. Tapi ia lalu melihat ke kiri ke kanan, sekeliling kami agak gelap karena semua penumpang kelas bisnis nampaknya tengah terlelap. Ia tersenyum padaku ,” Beneran nih? ” ” Sumpah… ” Lalu Lia memberi isyarat agar aku mengikutinya. Ia lalu mulai berjalan ke arah toilet untuk orang handicapped, yang lebih luas daripada toilet biasa. Ia menarikku masuk dan mengunci pintunya dari luar. Di dalam toilet ternyata lebih bising daripada di luar, mungkin karena suara mesin.

Aku langsung membuka seragam pramugarinya yang bagian atas. Dan tampaklah dadanya yang indah menantang. Ia memakai bra seksi tanpa busa berwarna hitam, putingnya tampak tegang dari balik bra itu. ” Lia… kamu seksi banget… ” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum berlipstick pink. Lia membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding toilet. Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya dari luar bra nya. Lia mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Aku lalu berusaha menarik roknya sampai lepas, dan kini tampaklah tubuh ramping seksinya. Tinggalah celana dalam dan bra berwarna hitam transparan serta sepatu hak tingginya. Ia tampak amat seksi. ” God, u re so sexy, baby… ” bisikku di telinganya.

Cerita Dewasa – Lalu tanganku langsung sibuk membuka kaitan bra nya, dan menciumi lehernya yang indah.Lia mulai meraba bagian depan celana jeansku, dan tampak senang menyentuh bagian itu sudah tegang. Setelah branya lepas, aku langsung menciumi seluruh payudaranya. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena siapa saja bisa mengetuk pintu toilet, dan itu membuatku bergairah. Lia mulai berusaha membuka ikat pinggangku, dan kemudian melorotkan celanaku sampai ke lantai. Ia menyentuh kont*lku yang keras dari balik boxer kainku, dan mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Lia ke westafel dan kubuka celana dalamnya. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya. Bulu kemaluannya rapi sekali. Mungkin ia suka bikini waxing seperti cewek-cewek di luar pada umumnya. Kujilati mem*knya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat. Mungkin memang benar dia terlalu hyper, makanya mantannya bosan.

Kumasukan dua jari tanganku ke dalam mem*knya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam liangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan ada orang yg mendengar dari luar. Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati mem*knya. ” Ahhh… ahhh… I’m gonna come… Arghhhh… uhhh… yes… yes… baby… ” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2. Dan jari-jariku makin mengocok mem*knya. Semenit kemudian, Lia benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya. Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat.

Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, dan mencopot boxerku dengan cepat. Ia duduk bersimpuh dan mengulum kont*lku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. Lia melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku. Ia bergerak- gerak sendiri mengocok kont*lku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.

Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Lia tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,” Oh… gitu Joe… gigit seperti itu… I feel sexy… ” Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku. Tapi tampaknya Lia makin terangsang. kont*lku terus memompa mem*knya dengan cepat, dan kurasakan mem*knya semakin menyempit… ” gila… mem*k lo kok menyempit gini, sih Lia… Oh… gila… ” Ia tersenyum senang. Mungkin ia suka latian body language, soalnya dulu mantanku yang guru BL, bisa mengatur mem*knya jadi sempit jadi gini, dengan latihan rutin. kont*lku keluar masuk mem*knya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Lia merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku.

” Ah joe… You’re so… soo… Ohh… i am gonna come… i m gonna come… again… Arghhh… Ohhhhh uhhhhhh… ” Lia orgasme untuk kedua kalinya dan terkulai ke bahuku. Karena aku masih belum keluar, aku mencabut kont*lku dari mem*knya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap westafel. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Lia tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk kont*lku ke mem*knya dari belakang. Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan. Make upnya luntur karena keringat, tapi tubuh seksinya tampak sangat indah.

Aku mulai memompa mem*knya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya. ” yeah… I am your bitch… fu*k me real hard… please… ”

Cerita Panas – Buset… ga nyangka penampilan manisnya ternyata hanya di luar. Aslinya dia kasar dan gila seks, kaya bule di bokep aja, pikirku makin terangsang. kont*lku makin cepat menusuk2 mem*knya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan Lia naik turun sesuai irama kocokanku, dan aku semakin horny melihatnya menggumamkan kata-kata kasar. kont*lku semakin tegang dan terus menghantam mem*knya dari belakang. Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat. ” Ah… baby… yeah… oh yeah… ” kont*lku terasa makin becek oleh cairan mem*knya.

“Lia… aku juga mau keluar nih… ” ” oh tahan dulu… kasih aku… kont*lmu… tahan!!!!” Lia langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok kont*lku dengan rakus. Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya. ” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan. Lia menyedot kont*lku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung kont*lku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok kont*lku dengan gerakan makin pelan.

Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Lia berlutut dan menjilati seluruh kont*lku dengan rakus. ” Kamu takut gak, kalau aku bilang, aku suka banget sama sperma cowok ?” bisiknya dengan suara manis sekali. Di sela-sela engahanku, aku menggeleng penuh kenikmatan. Gila kali mantannya, ga mau sama cewek hot begini… !!

Setelah Lia menjilat bersih kont*lku, ia memakaikan celana jeansku, lalu memakai seragamnya sendiri. Ia membuka kompartemen di belakangnya, dan mengeluarkan sisir dan makeupnya dari sana. Dalam waktu 5 menit, ia sudah tampak seperti pramugari manis yang tadi pertama kulihat, bukan wanita gila seks seperti barusan. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu toilet.

Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang.

” Baiklah, Pak Joe… saya harus siap-siap untuk meal service berikutnya, mungkin Bapak mau istirahat sejenak? ” godanya dengan nada seksi. Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Sebelum aku ke upper deck, kucubit pantatnya dan ia memberiku ciuman yang sangat panas.

Habis flight itu, ia memberiku nomer telpon hotelnya di LA, dan kami ngeseks gila-gilaan tiap hari. Ternyata Lia sangat hyper sex dan bisa orgasme sampai sembilan kali seharinya. Sedangkan aku hanya mampu bucat 2 kali sehari. Dalam flight kembali ke LA, aku mengupgrade kursiku ke first class , karena ia bertugas di first class. Dan sekali lagi kami have sex di toilet, dan kali ini hampir ketauan teman kerjanya. Kami masih sering ketemu sampai hari ini. Kalau aku ke kota dimana dia tinggal.
Pacarku? Masih jalan juga lah… jadi punya dua cewek, deh…

Cerita hotku di bengkel mobil – Hari itu, sekitar jam tiga sore aku bersamasepupuku, Karina baru saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall.Setengah jam kami disana nonton VCD sampai pacarnya yang bernama Winstondatang. Memang sih hari itu aku bermain ke sini agar bisa sekalian sorenyamengambil mobilku yang sedang di service rutin di sebuah bengkel di daerahJakarta Timur yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Karina. Pas sekalisaat itu Winston datang untuk nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar kebengkel itu.
Kamipun berangkat dari rumahnya dengan mobil BMW-nya Winston.Walaupun tidak terlalu jauh namun kami sedikit terjebak macet karena saat itujam bubaran. Yang kukhawatirkan adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalaubegitu kan aku mau tidak mau harus tetap menumpang pada Winston padahal merekamau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tibajuga kami di bengkel itu tepat ketika akan tutup.
“Wah… sudah mau tutup tuh Ci, mendingan cepetan lari turun,siapa tahu masih keburu,” kata Karina.
“Tanyain dulu Ci, kita tunggu kamu di sini, kalau ternyata belum bisa ambil,kamu ikut kita jalan aja,” Winston memberi saran.
Akupun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yangsedang mendorong pintu.
“Mas… Mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobilsaya yang Hyundai warna merah yang dititip kemarin Selasa itu loh!” katakudengan terburu-buru.
“Tapi kita sudah mau tutup non, kalau mau besok balik aja lagi,” katanya.
“Ayo dong, Mas katanya di telepon tadi sudah bisa diambil, tolong dong bentaraja yah, saya sudah ke sini jauh-jauh nih!” desakku.
“Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol,” kata seorang pria yang muncul darisamping belakangnya.

Kebetulan sekali pria itu adalah montir yang menangani mobilkuketika aku membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk denganrambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahuibernama Aris, agaknya dia tergolong montir yang cukup senior di sini.
Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untukmengambil mobilku itu padanya. Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagibesok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikanbonus uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggudi dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisasaja kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahkudan macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan.
Aku melambaikan tangan ke arah Karina dan Winston yang menunggu dimobil pertanda masalah sudah beres dan mereka boleh pergi, merekapun membalaslambaianku dan mobil itu berjalan meninggalkanku. Pak Aris menjelaskan padakutentang kondisi mobilku, dia bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali adasebuah onderdil di bagian bawah mobil yang sebentar lagi tidak layak pakaikarena sudah banyak berkarat (sory… Aku tidak mengerti otomotif selainmenggunakannya, sampai lupa nama onderdil itu). Karena memikirkan kenyamananjangka panjang, aku menanyakan kalau bagian itu diganti sekarang memakan waktulama tidak, ongkos sih tidak masalah. Setelah berpikir sesaat dia punmengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu.
Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluarmeninggalkan tempat ini. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku denganPak Aris serta beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yangtanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yangsatu-satunya wanita.
“Masih banyak kerjaannya ya Mas?” tanyaku iseng-iseng padamontir brewok di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.
“Dikit lagi kok Non, makanya mending diselesaikan sekarang biar besoknya lebihsantai,” jawabnya sambil terus bekerja.
Tidak jauh dari tempat dudukku Pak Aris sedang berjongkok disebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yang cuma kelihatan kakinyasedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata pekerjaanitu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat situasiseperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu akumemakai kaos ketat oranye berlengan panjang yang dadanya agak rendah, lekuktubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yangmenggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yang aneh kalaupara pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku,apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku.
Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Aris,
“Masih lama ya Pak?”
“Hampir Non, ini yang susah tuh melepas yang lamanya, habis sudah berkarat,sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok”
“Perlu saya bantuin enggak? Bosen dari tadi nunggu terus,” tanyaku sambildengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri bertumpu di lantaisehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana dan celana dalammerahku juga terlihat jelas olehnya.
Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yangkelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangundan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa sajaseolah tidak mengetahui sedang diintip.
“Oohh… nggak… nggak kok Non,” jawabnya terbata-bata.
“Hhoii… Obeng kembang dong,” sahut montir yang dari dalam sambil mendorongkursi berbaringnya keluar dari kolong.
Begitu keluar diapun ikut terperangah dengan pemandangan indahdi atas wajahnya itu. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip.
“Kenapa? Kok bengong? Liatin apa hayo…?” godaku dengan tersenyumnakal.
Kemudian kuraih tangan si montir yang sedang berbaring itu dankuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang bekerjatapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh lagitangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga sampaidi pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yangmasih tertutup CD.
“Ooohhh…” desahku merasakan remasan pada kemaluanku.
Pak Aris menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku sertalangsung menempelkan bibirnya yang tebal dan kasar pada bibir mungilku.Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidakmau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang danmulai menciumi leher jenjangku, hembusan nafas dan lidahnya yang menggelikitikmembuat birahiku semakin naik. Payudaraku yang masih tertutup baju diremasidari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku sudah disingkapke atas. Kedua belah payudaraku digerayangi dengan gemas, putingnya terasa makinmengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin.
“Hei, ngapain tuh, kok nggak ngajak-ngajak!” seru si montirbrewok yang memergoki kami sedang berasyik-masyuk.
Montir di belakangku melambai dan memanggil si brewok untuk ikutmenikmati tubuhku. Si brewok pun dengan girang menghampiri kami sambilmempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membukaseluruh pakaiannya.
Wow… Bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan bulunyaturun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yang lebih membuatkuterpesona adalah bagian yang mengacung tegak di bawah perutnya, pasti takterlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitamdengan kepala penis kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rokdan celana dalamku.
“Wah, asyik jembutnya item lebat banget, gua paling suka vaginakaya gini,” si brewok mengomentari vaginaku.
Pak Aris dan temannya pun mulai melepasi pakaiannyamasing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah menegang,namun aku tetap lebih suka milik si brewok karena nampak lebih menggairahkan,milik Pak Aris juga besar dan berisi, namun tidak terlalu berurat dan sekerassi brewok, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja,standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos ketat danbra-ku yang sudah tersingkap.
Kaki kiriku diangkat ke bahu si brewok yang berjongkok sambilmelumat vaginaku. Teman Pak Aris yang dipanggil ‘Yos’ itu menopang tubuhkudengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas payudaradan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak Aris sendirikini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat danmendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tangankumenggenggam penis Pak Aris dan mengocoknya perlahan.
“Oookkhh… Jangan terlalu keras,” rintihku sambil meringis ketikaPak Aris dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secararefleks tanganku menjambak pelan rambutnya.
Sementara si brewok di bawah sana menyedoti dalam-dalam vaginakuseolah mau ditelan. Dia memasukkanlidahnya ke dalam vaginaku sehinggamemberi sensasi geli yang luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelandan digelikitik dengan lidahnya. Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengankata-kata betapa nikmatnya saat itu, jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis.Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Yos yang mau melumat mulutku.Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri ronggamulutku, nafasku seperti mau habis rasanya.
Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring dikolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu ^_^;). Yoslangsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak Arisyang menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk Yos punakhirnya mengalah dari Pak Aris yang lebih senior itu. Sebagai gantinya diamengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya padaku. Kumulaidengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambilmengocok batangnya.
Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu, akusenang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan kepalapenisnya. Pak Aris yang sudah selesai dengan pemanasan dengan menggesekkanpenisnya pada bibir vaginaku kini sudah mengarahkan penisnya ke liangsenggamaku. Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikitkasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiapdetil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula akumengemut penis si Yos, kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk menambahkenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yang memanjakan‘adik kecil’nya. Rambutku diremas-remas sambil berkata:
“Oooh… Terus Non, enak banget… Yahhh!”
Tanganku yang lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya sibrewok yang pada saat yang sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmatisetiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitanyang meninggalkan jejak merah di kulitnya yang putih. Sungguh kagum aku denganpenisnya dalam genggamanku, yang benar-benar keras dan perkasa membuatku tidaksabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada penis Yosdan berkata pada si brewok,
“Sini dong Mas, gua mau nyepong kontolnya!”
Si brewok langsung menggantikan Yos dan menyodorkan penisnyapadaku. Hmm… Inilah yang kutunggu-tunggu, aku langsung membuka lebar-lebarmulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat seluruhnya di mulutmungilku malah terasa sesak. Si Yos menggosok-gosokkan penisnya yang basah kewajahku. Sambil dioral, tangan si brewok yang kasar dan berbulu itu meremasipayudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak Aris melepaskan sepatu bersoltinggi yang kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke bahu kirinya, sambilmenggenjot dia juga menjilati betisku yang mulus. Aku benar-benar terbuai olehkenikmatan main keroyok seperti ini.
Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu dibuka dari dalam dan keluarlah seorang yang hanya memakai singlet dan celanapendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak Aris denganjenggot seperti kambing. Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinyapernah lihat sebelumnya, ooohh… Iya itu kan montir yang mendengar dan mencatatmasalah yang kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini.Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan.Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yang dia lihat tapi kemudian diamendekati kami.
“Weleh-weleh… Gua sibuk cuci baju di belakang, kamu-kamu malahpada enak-enakan ngentot,” katanya “Lho, ini kan si Non cantik yang mobilnyadiservis itu!”
“Sudah jangan banyak omong, mau ikutan nggak!” kata si brewok padanya.
Buru-buru si montir yang bernama Joni itu melepaskan celananyadan kulihat penisnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yangmelingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah beratdeh PR gua, demikian kataku dalam hati. Pak Joni mengambil posisi di sebelahkananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat. Payudarakananku dibetot dan dilumat olehnyasampai terasa nyeri. Aku mengerang sejadi-jadinya antara kesakitan dankenikmatan, semakin lama semakin liar dan tak terkendali.
Pak Aris dibawah sana makin mempercepat frekuensi genjotannyapada vaginaku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan cintaku yangsemakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan tangankusemakin kencang mengocok dua batang penis di genggamanku yaitu milik Pak Jonidan Bang Yos. Yos juga menggeram makin keras dan Crot… Crot… Cairan putihkentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara otot-ototkemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak terbendung lagi.Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi erangan panjangdari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku melemas kembali.Setelah dia cabut penisnya, diturunkannya juga kakiku.
“Gantian tuh, siapa mau vagina?” katanya.
Si brewok langsung menggantikan posisinya, sebelumnya diamenjilati dan menyedot cairan vaginaku dengan rakus bagaikan menyantapsemangka. Pak Aris menaiki dadaku dan menjepitkan penisnya yang sudah licindiantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yang dia lakukan terhadapvaginaku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaoskuyang tergulung juga ikut kecipratan cairan itu. Pak Aris mengelap spermanyayang berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilapoleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah.
Si brewok minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursimontir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liangsenggamaku dengan jari. Tanganku yang lain membimbing batang itu memasuki liangitu. Aku menggigit bibir dan mendesis saat penis itu mulai tertancap divaginaku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku,rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu,aku dapat merasakan urat-uratnya yang menonjol itu bergesekan dengan dindingvaginaku.
Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnyake atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkanpinggulnya ke atas sampai akupun ikut menggoyangkan tubuhku naik-turun. Matakumerem-melek dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraihpenis Pak Joni di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu jugadengan penis Pak Aris, batang yang sedang kelelahan itu kukocok-kocok agarbertenaga lagi, sisa-sisa spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada duajari memasuki anusku, mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, akumenengok ke belakang ternyata pelakunya Bang Yos yang entah kapan sudah dibelakangku.
Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Joni memegangikepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkanpinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepalapenis itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidakmengurangi keaktifanku menggoyang tubuhku dan mengocok penis Pak Aris dengantangan kiriku. Payudaraku yang ikut bergoyang naik-turun tidak pernah sepi darijamahan tangan-tangan kasar mereka.
Sepertinya Bang Yos mau main belakang karena dia melebarkanduburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan benda tumpul yang taklain kepala penisnya melesak masuk ke dalamnya. Ketiga lubang senggamaku penuhsudah terisi oleh tiga penis. Penis Pak Joni dalam mulutku makin bergetar danpemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya pada mulutku hingga akhirnyamenyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis semprotannya dia menarik keluarbenda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi) sehinggasisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yang sudah basah oleh sperma Bang Yosdan Pak Aris jadi tambah belepotan oleh spermanya yang lebih kental dari milikdua orang sebelumnya.
“Aahh… Aahh… Dikit lagi Bang!” desahku karena sudah akan klimakslagi.
Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-ronggakemaluanku bersamaan dengan penis si brewok yang terasa makin membengkak dansodokannya yang makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluardari mulutku akibat orgasme panjang bersama si brewok. Cairan hangat dan kentalmenyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang vaginaku. Akhirnya tubuhkukembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yang bidang berbulu itu denganpenis masih menancap, sementara dari belakang Bang Yos masih getol menyodomikutanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di anusku limamenit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak Aris mengangkat tubuhkudiatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yang adalah tempatpencucian mobil bersama teman-temannya.
“Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak?” tanyaku heran.
“Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau peju sih,” jawabnyasambil nyengir, kemudian memerintah si brewok untuk menyiapkan selang air.
Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggupberdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja dilantai marmer itu.
“Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah,” katanya sambilmembantuku melepaskan kaosku yang tergulung.
Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting, danseuntai kalung perak dengan leontin huruf C yang masih tersisa di tubuhku. Si brewok menyalakankrannya dan mengarahkan selang itu padaku.
“Awww… Dingin!” desahku manja merasakan dinginnya air yangmenyemprot padaku.
Pak Joni melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnyamendekati tubuhku yang masih disemprot si brewok, ketiganya mengerubungitubuhku sambil tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka,tangan-tangan mereka menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yanglengket di sekujur tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairanpembersih.
Beberapa menit lamanya si brewok menyirami kami dengan airdingin sehingga tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabungmenggerayangiku. Pak Joni mendekapku dari depan, setelah puas menciumi danmeremas payudaraku dia menaikkan kaki kananku ke pingggangnya dan memasukkanpenisnya ke vaginaku, mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri. Pak Arismerangkulku dari belakang dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dantengukku. Bang Yos berjongkok meremasi dan menjilati pantat montokku yangterangkat dengan gemasnya. Si brewok menggerayangi payudaraku yang lain sambil menggelikitiktelingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu.Beberapa menit kemudian Pak Joni klimaks dan menumpahkan spermanya di dalamvaginaku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku merekatelentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembaliaku disemprot dengan selang air hingga semakin basah.
Bang Yos membentangkan pahaku dan menancapkan penisnya kevaginaku. Mungkin karena sudah terisi penuh, maka ketika penis itu melesak kedalamku, nampak sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir vaginaku.Aku kembali orgasme yang kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kapmobil itu. Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut penisnya dan menumpahkanisinya di atas perut rataku. Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, akuterbaring lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karenabasah.
Mereka juga sudah kecapean semua, ada yang duduk mengatur nafas,ada juga yang mengelap badannya yang basah. Pak Aris memberiku sebuah Aquagelas dan handuk kering. Aku menggerakkan tangan menghanduki tubuhku yangbasah. Setelah Pak Aris dan Bang Yos selesai memasang onderdil yang tertunda,selesai pula perbaikan mobilku. Aku membayarkan biayanya pada Pak Aris yangternyata masih saudara dengan pemilik bengkel ini, pantas dari tadi montir laintunduk padanya. Aku juga memberi tambahan sepuluh ribu rupiah sebagai uangrokok untuk dibagi antara mereka berempat. Sampai di rumah aku langsung tidurdengan tubuh pegal-pegal, janji ke kafe dengan teman-teman pun terpaksakubatalkan dengan alasan tidak enak badan.

Lia sedang duduk menyelesaikan ceritanya di komputer waktu aku, Doni dan Ferry datang ke kamarnya. Tiba-tiba kami bertiga sudah ada di samping dan di belakangnya sambil ikut membaca ceritanya di monitor.

"Wah, ceritamu bikin horny loh..!" kataku yang diiyakan juga oleh Doni dan Ferry.
Yang membuat Lia kaget, Ferry dan Doni yang berdiri di samping kiri-kanannya membaca monitor sambil mengusap-usap celana bagian depannya yang nampak makin lama makin menonjol. Lia semakin kaget lagi sewaktu mereka secara bersamaan tiba-tiba membuka celana sekaligus CD-nya ke bawah, sehingga di kanan-kiri Lia muncul dua benda panjang menjulur ke depan. Rupanya mereka sudah tidak tahan membayangkan cerita di komputer Lia, apalagi melihat penampilan Lia malam itu yang hanya berdaster transparan. 

"Tuh kan, jadi keras nih punyaku.., ayo pegang..!" kata Doni sambil menarik tangan Lia dan ditempelkannya di batang penisnya sekaligus penis Ferry.
"Eh, ngapain nih pada..?" tanya Lia sambil agak meronta.
"Udah deh, pegang aja..!" kata Doni yang tiba-tiba menyusupkan tangannya ke daster Lia bagian atas terus ke bawah hingga menyentuh gundukan buah dadanya yang tak ber-BH itu.

Lia langsung menggeliat merasakan usapan tangan Doni pada bagian sensitifnya yang menimbulkan sensasi tersendiri, sehingga Lia tidak lagi meronta dan malah menikmati genggaman tangannya pada batang penis Ferry dan Doni. Ferry pun tidak mau kalah, tangannya ikut masuk menggerayangi buah dada yang kiri sambil memilin-milin lembut puting Lia yang semakin mengeras.
"Aaah.., sshh..," desahnya merasakan kenikmatan sambil tangannya terus menggenggam dan sesekali mengocok batang penis mereka.

Mereka serentak menghentikan kegiatannya, dan menyuruh Lia berdiri dari kursi menuju ke ranjangnya. Daster Lia yang sudah tidak karuan menyangga tubuhnya langsung terlepas bersamaan dengan tangan Ferry yang menarik cepat tali dasternya. Sambil memegangi tangan Lia, kini mereka dapat bebas melihat kemulusan tubuhnya yang tinggal berbalut CD mini itu.

Lia disuruh berhenti di dekat ranjangnya, dimana aku sudah duduk menunggu, duduk di pinggir ranjangnya tanpa busana. Lia semakin pasrah sambil berdiri waktu Ferry dan Doni merentangkan kedua tangannya, dan mulai menciumi dari mulai ujung jari hingga ke lengan bagian atas. Bulu-bulu halus Lia langsung berdiri menerima perlakuan ini. Kecupan dan permainan lidah Ferry dan Doni di sepanjang kulit tangan Lia membuatnya seperti terbang melayang. Rintihannya semakin menggila sewaktu mereka menaikkan tangan Lia ke atas dan menyusupkan bibir-bibir mereka ke ketiaknya.

Jilatan-jilatan Ferry dan Doni yang belum pernah Lia rasakan sebelumnya itu, membuat Lia menggelinjang kegelian penuh rangsangan. Kepalanya yang menengadah ke atas langsung disambut dengan ciuman Doni di samping leher dan telinganya, sementara Ferry meneruskan jelajahan bibir dan lidahnya yang liar ke samping pinggang Lia. Sementara tangannya di atas memegang kepala Doni yang asyik menyusuri telinga dan tengkuknya, aku berdiri dari ranjang dan tak kusia-siakan buah dadanya yang membusung itu dengan kukecup lembut di sekitarnya. Putingnya yang mencuat kujilat, kukulum dan kuhisap bergantian yang membuat tubuhnya bergetar hebat menahan nikmat.

Desahan dan erangannya yang semakin mengeras tidak terdengar lagi, karena tiba-tiba Doni membungkam mulut Lia dengan mulutnya yang liar sambil memiringkan kepala Lia. Mau tidak mau Lia melayani permainan bibir dan lidah Doni yang menari-nari di dalam rongga mulutnya.
"Mmph.. mmph..," erangnya di tengah hebatnya serangan kami bertiga.

Sementara itu Ferry sudah berada di bawah tubuh Lia yang asyik menciumi belakang batang kakinya mulai dari paha, betis hingga tumit kakinya. Tangan Ferry yang tadinya meremas-remas pantat Lia, tiba-tiba begitu cepat turun ke bawah bersamaan dengan CD-nya, hingga akhirnya tak sehelai benang pun menempel di tubuh Lia. Pemandangan indah gundukan vagina Lia tidak kusia-siakan dengan bibirku yang sudah turun dari melumat buah dadanya menjadi ke perutnya.

Setelah puas memutar-mutarkan lidahku di seputar perut dan pusarnya, aku kembali duduk di pinggir ranjang dengan posisi wajahku berhadapan dengan vagina Lia. Tanganku kemudian menarik pinggulnya lebih mendekat ke arah wajahku, dan bibirku langsung mengecup gundukan vagina Lia dengan lembut yang membuatnya menggeliat merasakan sensasinya.

Tidak puas dengan itu, makin kuturunkan tubuhku ke bawah dengan posisi berlutut. Tanganku kemudian merenggangkan kakinya, hingga vagina Lia terbuka bebas menggantung di depan wajahku. Tidak lama kemudian kubenamkan wajahku ke selangkangan Lia yang kemudian diikuti oleh usapan lidah Ferry di seputar pipi pantatnya. Lia semakin hebat menggelinjang, apalagi sewaktu aku sudah mulai menjilat dan mengisap klitorisnya dari bawah yang membuat vaginanya semakin basah.

Lia sudah tidak tahan dan mencoba meronta, tapi kami malah semakin menggila. Tubuh Lia kami dorong ke ranjang, dan kusuruh menungging di pinggir ranjang dengan posisi kakinya menggantung. Doni naik ke ranjang dan berlutut di depannya dengan penisnya yang mengarah ke wajah Lia. Tangan Doni kemudian memegang rambut Lia dan menengadahkan kepalnya.
"Buka mulutmu..!" perintah Doni yang segera diikuti, karena memang Lia sudah horny sekali, dan ingin melakukan apa saja.

Begitu mulutnya terbuka, masuklah batang penis Doni yang tegang itu sedikit demi sedikit. Lia mulai merasakan nikmatnya mengemut penis Doni dengan memaju-mundurkan kepala sesuai gerakan tangan Doni di rambutnya.
"Ayo isep dan jilat sepuasmu..!" perintah Doni lagi yang segera diikuti Lia dengan menjilati sepanjang batang penisnya yang divariasi dengan mengemut kepala penisnya.

Sambil terus menghisap, Lia merasakan ada sesuatu di bawah selangkangannya. Ternyata kepala Ferry sudah menengadah di antara kedua paha Lia dengan posisi badannya berada di bawah ranjang. Bibir dan lidah Ferry mulai beraksi dengan buasnya di vagina Lia. Yang membuat Lia semakin histeris adalah ketika aku menyambut goyangan-goyangan pantatnya yang mencuat ke atas dengan menyapukan lidahku ke belahan pantat Lia dengan sesekali menusukkan ujung lidahku ke lubang pantatnya.

Tanganku pun tidak mau tinggal diam, maju ke depan meremas-remas buah dadanya yang menggantung. Lengkaplah sudah bagian-bagian sentra kenikmatannya diserang habis-habisan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan indah ini. Kutarik kepalaku dari pantatnya, dan kugantikan dengan menusukkan penisku ke vaginanya dari belakang. Dan untuk mempermudah genjotanku, ferry memindahkan kepalanya dari selangkangan Lia ke bawah buah dadanya yang menggantung, dan mulai menggeluti puting Lia dengan mulutnya.

Bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan maju-mundur penis Doni di mulut Lia, kupercepat juga sodokan penisku ke lubang vaginanya sambil mencengkeram keras pinggulnya. Sampailah pada erangan keras Lia diikuti dengan mengejangnya tubuhnya tanda mencapai puncak. Terasa hangatnya cairan di lubang vagina Lia yang diikuti dengan kencangnya otot-otot di situ yang menjepit penisku.

Tanpa istirahat, Doni yang lalu mencabut penisnya dari mulut Lia, membaringkan dirinya dan menarik tubuh mulus Lia ke atasnya, hingga posisinya jadi berjongkok dengan vaginanya yang tepat berada di atas penis Doni yang masih tegak berdiri. Sesaat kemudian, terbenamlah penis Doni bersamaan dengan diturunkannya tubuh Lia. Erangan Lia terdengar cukup keras merasakan nikmat, dan semakin memacunya untuk mempercepat pompaan pada penis Doni.

Sementara itu, Ferry yang menunggu giliran mengambil inisiatif dengan berdiri di samping Lia, dan memasukkan penisnya ke mulut Lia dengan memutar sedikit kepalanya. Vagina dan mulut Lia kembali bekerja keras memompa, sementara aku juga tidak tinggal diam dengan menarik kedua tangan Lia ke belakang, lalu menjilat-jilat puting di buah dada kirinya yang terguncang-guncang seirama naik-turunnya tubuhnya.

Rupanya Doni mencapai puncaknya lebih cepat. Ia menekan tubuhnya ke atas yang diimbangi Lia dengan menahan ke bawah. Ferry yang sudah tidak tahan penisnya dilumat, langsung mengambil inisiatif dengan mendorong tubuh Lia ke samping hingga merebah di ranjang. Kedua tangan Lia direntangkan ke atas, hingga berpegangan pada ujung tiang ranjang, lalu kedua kakinya direntangkan, dan Ferry ambil posisi di antara kedua paha Lia. Vagina Lia yang terbuka langsung dihujam oleh penis Ferry yang masih basah bekas lidah Lia. Ferry mulai menyodokkan penisnya dengan lembut yang membuat Lia mengerang dan berusaha mengimbangi dengan memutar-mutar pinggulnya.

Sementara itu, Doni yang berada di samping Ferry membantu merangsang Lia dengan menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kaki Lia yang mulus itu. Bibir sensual Lia yang terus mengerang itu membuatku tidak tahan melihatnya. Aku bergerak maju dan kukangkangi wajahnya, hingga penisku yang masih tegang berada tepat di depan mulutnya. Kuangkat sedikit kepalanya dan kudorong masuk penisku. Lia pun menyambut dengan ganas perlakuanku ini. Dihisap dan dikulumnya penisku dengan bibir dan lidahnya.

Genjotan penis Ferry semakin cepat di bawah yang membuat Lia menggelinjang hebat.
"Mmmh.. mmph.. mmph..," teriak Lia tertahan penisku di mulutnya bersamaan dengan melengkungnya tubuh Lia ke atas.
Lia telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Ferry.
"Tunggu, aku juga mau keluar..!" kataku lagi sambil melepas penisku dari mulutnya dan mengocok penisku di depan bibirnya yang sengaja dibukanya lebar.
"Aaagghh..!" erangku yang bersamaan dengan semprotan maniku ke wajah dan mulut Lia.

Tak hanya itu, waktu semprotanku berhenti, langsung dikulumnya penisku lagi dalam-dalam yang membuatku terasa ngilu tapi nikmat sekali. Akhirnya kami berempat merebah jadi satu di ranjang dengan perasaan puas yang mendalam. Yang jelas kami semua merasakan 'asyiknya rame-rame', mirip dengan slogan iklan rokok di TV.

Bagi para pembaca yang belum membaca ceritaku terdahulu yang berjudul “Beli Mobil Berbonus Seks, perkenalkan namaku Wawan. Aku sedang kuliah di tingkat terakhir sebuah PTS di Jakarta. Sambil kuliah, aku berwiraswasta. Terimakasih untuk temanku yang dulu memperkenalkan aku pada bisnis ini, sehingga keadaan ekonomiku sudah sangat berubah. Aku merasa sangat bersyukur, di saat banyak sarjana yang masih menganggur, aku yang masih kuliah sudah mendapatkan penghasilan besar setiap bulannya.
Kejadian ini berlangsung beberapa minggu yang lalu. Saat itu, hari Jumat sore, aku sedang mengerjakan salah satu proyekku. Seperti biasa untuk refreshing, sambil menyeruput secangkir kopi, aku membaca email email yang masuk. Segera kubalas email permintaan proposal dari pelanggan, dan aku pun kadang tertawa geli membaca email-email joke dari teman-temanku. Tetapi ada satu email yang menarik perhatianku, yaitu dari temanku yang tinggal di Bogor, Andi. Dia sedang suntuk dan mengajakku untuk refreshing ke Puncak saat aku tidak sibuk. Kebetulan besok aku tidak ada acara, hanya perlu mengambil pembayaran ke salah satu klienku. Terlebih lagi Monika, pacarku, juga sedang keluar kota bersama keluarganya.

Aku segera mengambil HP-ku dan menelpon Andi, temanku itu.
“Di.., OK deh gue jemput lu ya besok.. Mumpung cewek gue sedang nggak ada
“Gitu donk.. Bebas ni ye.. Emangnya satpam lu kemana?
“Ke Surabaya.. Ada saudaranya kawinan
“Besok jangan kesiangan ya datangnya.. Jam 11-an deh
“OK
Setelah itu kunyalakan sebatang rokok, dan kuteruskan pekerjaanku.
*****

Pagi itu, aku berangkat ke Bogor. Dalam perjalanan, aku mampir ke tempat salah satu klienku di daerah Tebet, untuk mengambil pembayaran proyek yang telah kuselesaikan. Setelah mengambil cek pembayaran, segera aku menuju tol Jagorawi. Sialnya ban mobilku sempat kempes, untungnya hal itu terjadi sebelum aku masuk jalan tol. Akibatnya, sekalipun aku telah memacu mobilku, baru sekitar jam 12.30 aku sampai di rumah Andi.
“Sialan lu.. Gue udah tunggu-tunggu dari tadi, baru dateng. Andi berkata sedikit kesal ketika membuka pintu rumahnya.
“Sorry.. Gue perlu ke klien dulu.. Udah gitu tadi bannya kempes, mesti ganti ban dulu di tengah jalan
“Anterin gue tambal ban dulu yuk.. Baru kita cabut sambungku lagi.
“Bentar.. Gue ganti dulu ya. Andi pun kemudian ngeloyor pergi ke kamarnya.
Sambil menunggu, aku membaca koran di ruang tamu. Tak lama Siska, adik Andi, datang membawa minuman.
“Kok udah lama nggak mampir Mas?
“Iya Sis, habis sibuk.. Mesti cari duit nih jawabku.
“Mentang-mentang udah jadi pengusaha.. Sombong ya godanya sambil tertawa kecil. Siska ini memang cukup akrab denganku. Anaknya memang ramah dan menyenangkan. Kami pun bersenda gurau sambil menunggu kakaknya yang sedang bersiap.
Setelah Andi muncul, kami segera berangkat menuju tukang tambal ban terdekat. Setelah beres, aku membawa mobilku menuju sebuah bank swasta untuk mencairkan cek dari klienku. Antrian lumayan panjang hari itu, akibatnya cukup lama juga kami menghabiskan waktu di sana.
Saat keluar dari bank tersebut, jam telah menunjukkan pukul 14.00 siang, sehingga aku mengajak Andi mampir ke sebuah restoran fast food untuk makan siang. Di restoran itu, kami bertemu dengan dua gadis ABG cantik yang masih berseragam SMA. Yang seorang berambut pendek, dengan wajah yang manis. Tubuhnya tinggi langsing, dengan kulit agak hitam, tetapi bersih. Sedangkan yang satu berwajah cantik, berkulit putih dan berambut panjang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi yang paling menarik perhatian adalah tubuhnya yang padat. Payudaranya tampak besar menerawang di balik seragam sekolahnya. Kami tersenyum pada mereka dan mereka pun membalas dengan genit.
“Wan.. Kita ajak mereka yuk.. kata Andi.
“Boleh aja kalau mereka mau jawabku.
“Tapi lu yang traktir ya bos.., kan baru ngambil duit nih
“Beres deh
Andi pun kemudian menghampiri mereka dan mengajak berkenalan. Memang Andi ini pemberani sekali dalam hal begini. Dia memang terkenal playboy, punya banyak cewek. Hal itu didukung dengan perawakannya yang lumayan ganteng.
“Lisa.. kata gadis berambut pendek itu saat mengenalkan dirinya.
“Ini temannya siapa namanya tanyaku sambil menatap gadis seksi temannya.
“Novi kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya. Langsung kusambut jabatan tangannya yang halus itu.
Aku dan Andi lalu pindah ke meja mereka. Kami berempat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan masing-masing. Ketika diajak, mereka setuju untuk jalan-jalan bersama ke Puncak. Setelah selesai makan, waktu berjalan menuju mobil, kulihat payudara Novi tampak sedikit bergoyang-goyang saat dia berjalan. Ingin rasanya kulumat habis payudara gadis belia itu.
*****
Setelah berjalan-jalan di Puncak menikmati pemandangan, kami pun cek in di sebuah motel di sana.
“Lu kan yang traktir Wan.. Lu pilih yang mana? bisik Andi saat kami sedang mengurus cek-in. Memang sebelumnya aku yang janji akan traktir, karena aku baru saja menerima pembayaran dari salah satu proyekku.
“Novi jawabku pendek.
“Hehe.. Lu nafsu liat bodynya ya? bisik Andi lagi sambil tertawa kecil. Setelah itu, kamipun segera cek-in. Kugandeng tangan Novi, sedangkan Andi tampak merangkul bahu Lisa menuju kamar.
Setelah kukunci pintu kamar, tak sabar langsung kudekap tubuh Novi. Langsung kucium bibirnya dengan penuh gairah. Tanganku dengan gemas meremas gundukan payudaranya. Setelah puas menciumi bibirnya, kuciumi lehernya, dan kemudian segera kubuka kancing baju seragamnya.
“Iih Mas.. Udah nggak sabar pengin nyusu ya? godanya.
Tak kuhiraukan perkataannya, langsung kuangkat cup BH-nya yang tampak kekecilan untuk menampung payudaranya yang besar itu. Langsung kuhisap dengan gemas daging kenyal milik Novi, gadis SMA cantik ini.
“Ahh.. Ahh erangnya ketika puting payudaranya yang telah mengeras kujilati dan kuhisap. Tangan Novi mengangkat payudaranya, sambil tangannya yang lain menekan kepalaku ke dadanya.
“Enak Mas.. Ahh erangnya lebih lanjut saat mulutku dengan ganas menikmati payudara yang sangat menggoda nafsu birahiku.
“Jilati putingnya Mas.. pintanya. Erangannya semakin menjadi dan tangannya menjambak rambutku ketika kuturuti permintaannya dengan senang hati.
Puas menikmati payudara gadis belia ini, kembali kuciumi wajahnya yang cantik. Lalu kutekan bahunya, dan diapun mengerti apa yang aku mau. Dengan berjongkok di depanku, dibukanya restleting celanaku. Tak sabar, kubantu dia membuka seluruh pakaianku.
“Ih.. Mas, gede banget.. desahnya lirih ketika penisku mengacung tegak di depan wajahnya yang cantik. Dielusnya perlahan batang kemaluanku itu.
“Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?
“Belum Mas.. Punya cowok Novi nggak sebesar ini. jawabnya. Tampak matanya menatap gemas ke arah kemaluanku.
“Arghh.. Enak Nov.. erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.
Dijilatinya lubang kencingku, dan kemudian dikulumnya penisku dengan bernafsu. Sementara itu tangannya yang halus mengocok batang penisku. Sesekali diremasnya perlahan buah zakarku. Rasa nikmat yang tiada tara menghinggapi tubuhku, ketika gadis cantik ini memompa penisku dengan mulutnya. Kulihat kepalanya maju mundur menghisapi batang kejantananku. Kuusap-usap rambutnya dengan gemas. Karena capai berdiri, akupun pindah duduk di kursi. Novi kemudian berjongkok di depanku.
“Novi isap lagi ya Mas.. Novi belum puas.. katanya lirih.
Kembali mulut gadis belia ini menghisapi penisku. Sambil mengelus-elus rambutnya, kuperhatikan kemaluanku menyesaki mulutnya yang mungil. Ruangan segera dipenuhi oleh eranganku, juga gumaman nikmat Novi saat menghisapi kejantananku. Saat kepalanya maju mundur, payudaranya pun bergoyang-goyang menggoda. Kuremas dengan gemas bongkahan daging kenyal itu.
“Nov.., jepit pakai susumu Nov.. pintaku.
Novi langsung meletakkan penisku di belahan payudaranya, dan kemudian kupompa penisku. Sementara itu tangan Novi menjepitkan payudaranya yang besar, sehingga gesekan daging payudaranya memberikan rasa nikmat luar biasa pada penisku.
“Yes.. Yes.. akupun tak kuasa menahan rasa nikmatku. Setelah beberapa lama, kusodorkan kembali penisku ke mulutnya, yang disambutnya dengan penuh nafsu.
Setelah puas menikmati mulut dan payudara gadis SMA ini, kuminta dia untuk bangkit berdiri. Kuciumi lagi bibirnya dan kuremas-remas rambutnya dengan gemas. Tanganku melepas restleting rok seragam abu-abunya, kemudian kuusap-usap vaginanya yang mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalamnya. Kusibak sedikit celana dalam itu dan kuusap-usap bibir vagina dan klitorisnya. Tubuh Novi menggelinjang di dalam dekapanku. Erangannya semakin menjadi.
Aku sudah ingin menyetubuhi gadis muda ini. Kubalikkan badannya dan kuminta dia menungging bertumpu di meja rias. Kubuka celana dalamnya sehingga dia hanya tinggal mengenakan baju seragamnya yang kancingnya telah terbuka.
“Ahh.. jeritnya panjang ketika penisku mulai menerobos vaginanya yang sempit.
“Gila.. Memekmu enak banget Nov.. kataku ketika merasakan jepitan dinding vagina Novi.
Langsung kupompa penisku di dalam vagina gadis cantik itu. Sementara itu, tanganku memegang pinggulnya, terkadang meremas pantatnya yang membulat. Novi pun menjerit-jerit nikmat saat tubuh belianya kusetubuhi dengan gaya doggy-style. Kulihat di kaca meja rias, wajah Novi tampak begitu merangsang. Wajah cantik gadis belia yang sedang menikmati persetubuhan. Payudaranya pun tampak bergoyang-goyang menggemaskan di balik baju seragamnya yang terbuka.
Bosan dengan posisi ini, aku kembali duduk di kursi. Novi lalu duduk membelakangiku dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Kusibakkan rambutnya yang panjang indah itu dan kuciumi lehernya yang putih mulus. Sementara itu tubuh Novi bergerak naik turun menikmati kejantananku. Tanganku tak ketinggalan sibuk meremas payudaranya.
“Ahh.. Ahh.. Ahh.. erang Novi seirama dengan goyangan badannya di atas tubuhku. Terkadang erangan itu terhenti saat kusodorkan jemariku untuk dihisapnya.
Beberapa saat kemudian, kuhentikan goyangan badannya dan kucondongkan tubuhnya agak ke belakang, sehingga aku dapat menghisapi payudaranya. Memang enak sekali menikmati payudara kenyal gadis cantik ini. Dengan gemas kulahap bukit kembarnya dan sesekali kujilati puting payudara yang berwarna merah muda. Erangan Novi semakin keras terdengar, membuat aku menjadi semakin bergairah. Setelah selesai aku menikmati payudara ranumnya, kembali tubuh belia Novi mencari pelepasan gairah mudanya dengan memompa penisku naik turun dengan liar. Tak kusangka seorang gadis SMA dapat begini binal dalam bermain seks.
Cukup lama aku menikmati persetubuhan dengan gadis cantik ini di atas kursi. Lalu kuminta dia berdiri, dan kembali kami berciuman. Kubuka baju seragam sekolah berikut BH-nya sehingga sekarang kami berdua telah telanjang bulat. Kembali dengan gemas kuremas dan kuhisap payudara gadis 17 tahunan itu. Aku ingin segera menuntaskan permainan ini. Lalu kutuntun dia untuk merebahkan diri di atas ranjang. Aku pun kemudian mengarahkan penisku kembali ke dalam vaginanya.
“Ahh.. erang Novi kembali ketika penisku kembali menyesaki liang kewanitaannya.
Langsung kupompa dengan ganas tubuh anak sekolah ini. Erangan nikmat kami berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah panas suasana. Kulihat Novi yang cantik menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan nikmat. Tangannya meremas-remas sprei ranjang.
“Mas.. Novi hampir sampai Mas.. Terus.. Ahh.. Ahh jeritnya sambil tubuhnya mengejang dalam dekapanku.
Tampak dia telah mencapai orgasmenya. Kuhentikan pompaanku, dan tubuhnya pun kemudian lunglai di atas ranjang. Kuperhatikan butir keringat mengalir di wajahnya nan ayu. Payudaranya naik turun seirama dengan helaan nafasnya. Payudara belia yang indah, besar, kenyal, dan padat. Mulutku pun dengan gemas kembali menikmati payudara itu dengan bernafsu.
Setelah itu, kucabut penisku dan kembali kujepitkan di payudaranya. Kali ini aku yang menjepitkan daging payudaranya pada penisku. Novi masih tampak terkulai lemas. Lalu kupompa kembali penisku dalam belahan payudara gadis ini. Jepitan daging kenyal itu membuatku tak dapat bertahan begitu lama. Tak lama aku pun menyemburkan spermaku di atas payudara gadis SMA yang seksi ini.
*****
Kami akhirnya menginap di motel tersebut. Selama di sana, aku sangat puas menikmati tubuh sintal Novi. Berulang kali aku menyetubuhinya, baik di atas ranjang, di meja rias, di kursi, ataupun di kamar mandi sambil berendam di bathtub. Sebenarnya ingin aku menginap lebih lama lagi, tetapi hari Senin itu aku harus menemui klienku di pagi hari, sementara ada bahan yang masih perlu dipersiapkan.
Hari Minggu malam, kami pun kembali ke Bogor. Kali ini ganti Andi yang menyetir mobilku. Lisa duduk di kursi penumpang di depan, sedangkan Novi dan aku duduk di belakang. Dalam perjalanan, melihat Novi yang cantik duduk di sebelahku, dengan rok mini yang memamerkan paha mulusnya, membuatku kembali bergairah. Akupun mulai menciuminya sambil tanganku mengusap-usap pahanya. Kusibakkan celana dalamnya, dan kumainkan vaginanya dengan jemariku.
“Ehmm.. erangnya saat klitorisnya kuusap-usap dengan gemas.
Erangannya terhenti karena mulutnya langsung kucium dengan penuh gairah. Tanganku lalu membuka baju seragam sekolahnya. Kuturunkan cup BH-nya sehingga payudaranya yang besar itu segera mencuat keluar menantang.
“Suka banget sih Mas.. Nyusuin Novi ucapnya lirih.
“Iya habis susu kamu bagus banget bisikku.
Desah Novi kembali terdengar ketika lidahku mulai menari di atas puting payudaranya yang sudah menonjol keras. Kuhisap dengan gemas gunung kembar gadis cantik ini hingga membuat tubuhnya menggelinjang nikmat.
“Gantian dong Nov bisikku ketika aku sudah puas menikmati payudaranya yang ranum.
Kami pun kembali berciuman sementara tangan Novi yang halus mulai membukai resleting celanaku. Diturunkannya celana dalamku, sehingga penisku yang telah membengkak mencuat keluar dengan gagahnya. Novi pun kemudian mendekatkan wajah ayunya pada kemaluanku itu, dan rasa nikmat menjalar di tubuhku ketika mulutnya mulai mengulum penisku. Sambil menghisapi penisku, Novi mengocok perlahan batangnya, membuatku tak tahan untuk menahan erangan nikmatku.
“Ihh.. Gede banget.. Lisa juga pengen dong… Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara Lisa yang ternyata entah sejak kapan memperhatikan aktifitas kami di belakang.
“Pindah aja ke sini kataku sambil mengelus-elus rambut Novi yang masih menghisapi penisku.
Lisa pun kemudian melangkah pindah ke bangku belakang. Langsung kuciumi wajahnya, yang walaupun tidak secantik Novi tetapi cukup manis. Lidahku dan lidahnya sudah saling bertaut, sementara Novi masih sibuk menikmati penisku.
“Di.. Bentar ya nanti gantian.. kataku pada Andi yang melotot melihat dari kaca spion.
“Oke deh bos.. jawabnya sambil terus melotot melihat pemandangan di bangku belakang mobilku. Setelah puas berciuman, kucabut penisku dari mulut Novi.
“Ayo Lis.. Katanya kamu suka kataku sambil sedikit menekan kepala Lisa agar mendekat ke kemaluanku.
“Iya.. Abis gede banget.. katanya sambil dengan imutnya menyibakkan rambut yang menutupi telinganya.
“Ahh.. Yes.. desahku saat Lisa memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Dihisapinya batang kemaluanku seperti anak kecil sedang memakan permen lolipop. Rasa nikmat yang tak terhingga menjalari seluruh syarafku.
Cukup lama juga Lisa menikmati penisku. Sementara itu Novi kembali menyodorkan payudara mudanya untuk kunikmati. Setelah beberapa lama kuhisapi payudaranya, Novi kemudian mendekatkan wajahnya ke arah kemaluanku dan menciumi buah zakarku, sementara Lisa masih sibuk mengulum batang kemaluanku.
“Nih gantian Nov.. katanya sambil menyorongkan penisku ke mulut Novi yang berada di dekatnya. Novi pun dengan sigap kembali mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya. Sementara itu, kali ini gantian Lisa yang menjilati dan menciumi buah zakarku.
Saat itu aku merasa seperti sedang berada di surga. Dua orang gadis SMA yang cantik sedang menghisapi dan menjilati penisku secara bergantian. Kuelus-elus kepala gadis-gadis ABG yang sedang menikmati kelelakianku itu. Nikmat yang kurasakan membuatku merasa tak akan tahan terlalu lama lagi. Tetapi sebelumnya aku ingin menyetubuhi Lisa. Ingin kurasakan nikmat jepitan vagina gadis hitam manis ini.
Kuminta dia untuk duduk di pangkuan sambil membelakangiku. Kusibakkan celana dalamnya, sambil kuarahkan penisku dalam liang nikmatnya. Sengaja tak kuminta dia untuk membuka pakaiannya, karena aku tak mau menarik perhatian kendaraan yang melintas di luar sana.
“Ah.. desah Lisa ketika penisku mulai menyesaki vaginanya yang tak kalah sempit dengan kepunyaan Novi.
Lisa kemudian menaik-turunkan tubuhnya di atas pangkuanku. Novi pun tak tinggal diam, diciuminya aku ketika temannya sedang memompa penisku dalam jepitan dinding kewanitaannya. Goyangan tubuh Lisa membuatku merasa akan segera menumpahkan spermaku dalam vaginanya. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak ejakulasi terlebih dahulu sebelum dia orgasme. Sambil menciumi Novi, tanganku memainkan klitoris Lisa.
“Ah.. Terus Mas.. Lisa mau sampai.. desahnya. Semakin cepat kuusap-usap klitorisnya, sedangkan tubuh Lisa pun semakin cepat memompa penisku.
“Ahh.. erangnya nikmat saat mengalami orgasmenya.
Tubuhnya tampak mengejang dan kemudian terkulai lemas di atas pangkuanku. Aku pun mengerang tertahan saat aku menyemburkan ejakulasiku dalam vagina gadis manis ini. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri dengan tisu yang tersedia.
“Mau gantian Di?  tanyaku pada Andi yang tampak sudah tidak tenang membawa mobilku.
“So pasti dong jawab Andi sambil menepikan mobil di tempat yang sepi.
Kami pun berganti tempat. Aku yang membawa mobil, sedangkan Andi pindah duduk di jok belakang. Rencananya dia juga akan main threesome, tetapi Novi juga ikut beranjak ke bangku depan.
“Aku cape ah Mas.. katanya.
Andi tampak kecewa, tetapi apa boleh buat. Kami pun segera melanjutkan perjalanan kami. Kudengar suara lenguhan Andi di jok belakang. Lewat kaca spion kulihat Lisa sedang mengulum penisnya. Karena sudah puas, aku tak begitu mempedulikannya lagi.
Sesampainya di Bogor, kedua gadis itu kami turunkan di tempat semula, sambil kuberi uang beberapa ratus ribu serta uang taksi.
“Kalau ke Bogor hubungi Novi lagi ya Mas.. kata Novi manis saat kami akan berpisah. Kulihat beberapa orang memperhatikan mereka. Mungkin mereka curiga kok ada dua gadis berseragam SMA di hari Minggu, malam lagi he.. He..
“Wan.. Gue doain lu dapat banyak proyek deh.. Biar lu traktir gue kayak tadi lagi.. kata Andi ketika aku turunkan di depan rumahnya.
“Sip deh.. jawabku sambil pamit pulang.
Kukebut mobilku menyusuri jalan tol Jagorawi menuju Jakarta. Aku tersenyum puas. Yang dulu selalu menjadi obsesiku, kini bisa menjadi kenyataan. Ternyata hidup itu indah.