Showing posts with label abg cantik seksi. Show all posts
Showing posts with label abg cantik seksi. Show all posts

Cerita hotku di bengkel mobil – Hari itu, sekitar jam tiga sore aku bersamasepupuku, Karina baru saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall.Setengah jam kami disana nonton VCD sampai pacarnya yang bernama Winstondatang. Memang sih hari itu aku bermain ke sini agar bisa sekalian sorenyamengambil mobilku yang sedang di service rutin di sebuah bengkel di daerahJakarta Timur yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Karina. Pas sekalisaat itu Winston datang untuk nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar kebengkel itu.
Kamipun berangkat dari rumahnya dengan mobil BMW-nya Winston.Walaupun tidak terlalu jauh namun kami sedikit terjebak macet karena saat itujam bubaran. Yang kukhawatirkan adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalaubegitu kan aku mau tidak mau harus tetap menumpang pada Winston padahal merekamau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tibajuga kami di bengkel itu tepat ketika akan tutup.
“Wah… sudah mau tutup tuh Ci, mendingan cepetan lari turun,siapa tahu masih keburu,” kata Karina.
“Tanyain dulu Ci, kita tunggu kamu di sini, kalau ternyata belum bisa ambil,kamu ikut kita jalan aja,” Winston memberi saran.
Akupun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yangsedang mendorong pintu.
“Mas… Mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobilsaya yang Hyundai warna merah yang dititip kemarin Selasa itu loh!” katakudengan terburu-buru.
“Tapi kita sudah mau tutup non, kalau mau besok balik aja lagi,” katanya.
“Ayo dong, Mas katanya di telepon tadi sudah bisa diambil, tolong dong bentaraja yah, saya sudah ke sini jauh-jauh nih!” desakku.
“Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol,” kata seorang pria yang muncul darisamping belakangnya.

Kebetulan sekali pria itu adalah montir yang menangani mobilkuketika aku membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk denganrambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahuibernama Aris, agaknya dia tergolong montir yang cukup senior di sini.
Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untukmengambil mobilku itu padanya. Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagibesok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikanbonus uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggudi dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisasaja kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahkudan macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan.
Aku melambaikan tangan ke arah Karina dan Winston yang menunggu dimobil pertanda masalah sudah beres dan mereka boleh pergi, merekapun membalaslambaianku dan mobil itu berjalan meninggalkanku. Pak Aris menjelaskan padakutentang kondisi mobilku, dia bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali adasebuah onderdil di bagian bawah mobil yang sebentar lagi tidak layak pakaikarena sudah banyak berkarat (sory… Aku tidak mengerti otomotif selainmenggunakannya, sampai lupa nama onderdil itu). Karena memikirkan kenyamananjangka panjang, aku menanyakan kalau bagian itu diganti sekarang memakan waktulama tidak, ongkos sih tidak masalah. Setelah berpikir sesaat dia punmengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu.
Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluarmeninggalkan tempat ini. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku denganPak Aris serta beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yangtanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yangsatu-satunya wanita.
“Masih banyak kerjaannya ya Mas?” tanyaku iseng-iseng padamontir brewok di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.
“Dikit lagi kok Non, makanya mending diselesaikan sekarang biar besoknya lebihsantai,” jawabnya sambil terus bekerja.
Tidak jauh dari tempat dudukku Pak Aris sedang berjongkok disebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yang cuma kelihatan kakinyasedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata pekerjaanitu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat situasiseperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu akumemakai kaos ketat oranye berlengan panjang yang dadanya agak rendah, lekuktubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yangmenggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yang aneh kalaupara pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku,apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku.
Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Aris,
“Masih lama ya Pak?”
“Hampir Non, ini yang susah tuh melepas yang lamanya, habis sudah berkarat,sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok”
“Perlu saya bantuin enggak? Bosen dari tadi nunggu terus,” tanyaku sambildengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri bertumpu di lantaisehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana dan celana dalammerahku juga terlihat jelas olehnya.
Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yangkelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangundan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa sajaseolah tidak mengetahui sedang diintip.
“Oohh… nggak… nggak kok Non,” jawabnya terbata-bata.
“Hhoii… Obeng kembang dong,” sahut montir yang dari dalam sambil mendorongkursi berbaringnya keluar dari kolong.
Begitu keluar diapun ikut terperangah dengan pemandangan indahdi atas wajahnya itu. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip.
“Kenapa? Kok bengong? Liatin apa hayo…?” godaku dengan tersenyumnakal.
Kemudian kuraih tangan si montir yang sedang berbaring itu dankuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang bekerjatapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh lagitangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga sampaidi pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yangmasih tertutup CD.
“Ooohhh…” desahku merasakan remasan pada kemaluanku.
Pak Aris menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku sertalangsung menempelkan bibirnya yang tebal dan kasar pada bibir mungilku.Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidakmau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang danmulai menciumi leher jenjangku, hembusan nafas dan lidahnya yang menggelikitikmembuat birahiku semakin naik. Payudaraku yang masih tertutup baju diremasidari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku sudah disingkapke atas. Kedua belah payudaraku digerayangi dengan gemas, putingnya terasa makinmengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin.
“Hei, ngapain tuh, kok nggak ngajak-ngajak!” seru si montirbrewok yang memergoki kami sedang berasyik-masyuk.
Montir di belakangku melambai dan memanggil si brewok untuk ikutmenikmati tubuhku. Si brewok pun dengan girang menghampiri kami sambilmempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membukaseluruh pakaiannya.
Wow… Bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan bulunyaturun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yang lebih membuatkuterpesona adalah bagian yang mengacung tegak di bawah perutnya, pasti takterlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitamdengan kepala penis kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rokdan celana dalamku.
“Wah, asyik jembutnya item lebat banget, gua paling suka vaginakaya gini,” si brewok mengomentari vaginaku.
Pak Aris dan temannya pun mulai melepasi pakaiannyamasing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah menegang,namun aku tetap lebih suka milik si brewok karena nampak lebih menggairahkan,milik Pak Aris juga besar dan berisi, namun tidak terlalu berurat dan sekerassi brewok, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja,standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos ketat danbra-ku yang sudah tersingkap.
Kaki kiriku diangkat ke bahu si brewok yang berjongkok sambilmelumat vaginaku. Teman Pak Aris yang dipanggil ‘Yos’ itu menopang tubuhkudengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas payudaradan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak Aris sendirikini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat danmendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tangankumenggenggam penis Pak Aris dan mengocoknya perlahan.
“Oookkhh… Jangan terlalu keras,” rintihku sambil meringis ketikaPak Aris dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secararefleks tanganku menjambak pelan rambutnya.
Sementara si brewok di bawah sana menyedoti dalam-dalam vaginakuseolah mau ditelan. Dia memasukkanlidahnya ke dalam vaginaku sehinggamemberi sensasi geli yang luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelandan digelikitik dengan lidahnya. Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengankata-kata betapa nikmatnya saat itu, jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis.Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Yos yang mau melumat mulutku.Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri ronggamulutku, nafasku seperti mau habis rasanya.
Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring dikolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu ^_^;). Yoslangsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak Arisyang menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk Yos punakhirnya mengalah dari Pak Aris yang lebih senior itu. Sebagai gantinya diamengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya padaku. Kumulaidengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambilmengocok batangnya.
Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu, akusenang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan kepalapenisnya. Pak Aris yang sudah selesai dengan pemanasan dengan menggesekkanpenisnya pada bibir vaginaku kini sudah mengarahkan penisnya ke liangsenggamaku. Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikitkasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiapdetil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula akumengemut penis si Yos, kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk menambahkenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yang memanjakan‘adik kecil’nya. Rambutku diremas-remas sambil berkata:
“Oooh… Terus Non, enak banget… Yahhh!”
Tanganku yang lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya sibrewok yang pada saat yang sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmatisetiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitanyang meninggalkan jejak merah di kulitnya yang putih. Sungguh kagum aku denganpenisnya dalam genggamanku, yang benar-benar keras dan perkasa membuatku tidaksabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada penis Yosdan berkata pada si brewok,
“Sini dong Mas, gua mau nyepong kontolnya!”
Si brewok langsung menggantikan Yos dan menyodorkan penisnyapadaku. Hmm… Inilah yang kutunggu-tunggu, aku langsung membuka lebar-lebarmulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat seluruhnya di mulutmungilku malah terasa sesak. Si Yos menggosok-gosokkan penisnya yang basah kewajahku. Sambil dioral, tangan si brewok yang kasar dan berbulu itu meremasipayudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak Aris melepaskan sepatu bersoltinggi yang kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke bahu kirinya, sambilmenggenjot dia juga menjilati betisku yang mulus. Aku benar-benar terbuai olehkenikmatan main keroyok seperti ini.
Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu dibuka dari dalam dan keluarlah seorang yang hanya memakai singlet dan celanapendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak Aris denganjenggot seperti kambing. Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinyapernah lihat sebelumnya, ooohh… Iya itu kan montir yang mendengar dan mencatatmasalah yang kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini.Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan.Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yang dia lihat tapi kemudian diamendekati kami.
“Weleh-weleh… Gua sibuk cuci baju di belakang, kamu-kamu malahpada enak-enakan ngentot,” katanya “Lho, ini kan si Non cantik yang mobilnyadiservis itu!”
“Sudah jangan banyak omong, mau ikutan nggak!” kata si brewok padanya.
Buru-buru si montir yang bernama Joni itu melepaskan celananyadan kulihat penisnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yangmelingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah beratdeh PR gua, demikian kataku dalam hati. Pak Joni mengambil posisi di sebelahkananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat. Payudarakananku dibetot dan dilumat olehnyasampai terasa nyeri. Aku mengerang sejadi-jadinya antara kesakitan dankenikmatan, semakin lama semakin liar dan tak terkendali.
Pak Aris dibawah sana makin mempercepat frekuensi genjotannyapada vaginaku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan cintaku yangsemakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan tangankusemakin kencang mengocok dua batang penis di genggamanku yaitu milik Pak Jonidan Bang Yos. Yos juga menggeram makin keras dan Crot… Crot… Cairan putihkentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara otot-ototkemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak terbendung lagi.Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi erangan panjangdari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku melemas kembali.Setelah dia cabut penisnya, diturunkannya juga kakiku.
“Gantian tuh, siapa mau vagina?” katanya.
Si brewok langsung menggantikan posisinya, sebelumnya diamenjilati dan menyedot cairan vaginaku dengan rakus bagaikan menyantapsemangka. Pak Aris menaiki dadaku dan menjepitkan penisnya yang sudah licindiantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yang dia lakukan terhadapvaginaku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaoskuyang tergulung juga ikut kecipratan cairan itu. Pak Aris mengelap spermanyayang berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilapoleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah.
Si brewok minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursimontir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liangsenggamaku dengan jari. Tanganku yang lain membimbing batang itu memasuki liangitu. Aku menggigit bibir dan mendesis saat penis itu mulai tertancap divaginaku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku,rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu,aku dapat merasakan urat-uratnya yang menonjol itu bergesekan dengan dindingvaginaku.
Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnyake atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkanpinggulnya ke atas sampai akupun ikut menggoyangkan tubuhku naik-turun. Matakumerem-melek dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraihpenis Pak Joni di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu jugadengan penis Pak Aris, batang yang sedang kelelahan itu kukocok-kocok agarbertenaga lagi, sisa-sisa spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada duajari memasuki anusku, mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, akumenengok ke belakang ternyata pelakunya Bang Yos yang entah kapan sudah dibelakangku.
Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Joni memegangikepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkanpinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepalapenis itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidakmengurangi keaktifanku menggoyang tubuhku dan mengocok penis Pak Aris dengantangan kiriku. Payudaraku yang ikut bergoyang naik-turun tidak pernah sepi darijamahan tangan-tangan kasar mereka.
Sepertinya Bang Yos mau main belakang karena dia melebarkanduburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan benda tumpul yang taklain kepala penisnya melesak masuk ke dalamnya. Ketiga lubang senggamaku penuhsudah terisi oleh tiga penis. Penis Pak Joni dalam mulutku makin bergetar danpemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya pada mulutku hingga akhirnyamenyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis semprotannya dia menarik keluarbenda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi) sehinggasisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yang sudah basah oleh sperma Bang Yosdan Pak Aris jadi tambah belepotan oleh spermanya yang lebih kental dari milikdua orang sebelumnya.
“Aahh… Aahh… Dikit lagi Bang!” desahku karena sudah akan klimakslagi.
Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-ronggakemaluanku bersamaan dengan penis si brewok yang terasa makin membengkak dansodokannya yang makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluardari mulutku akibat orgasme panjang bersama si brewok. Cairan hangat dan kentalmenyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang vaginaku. Akhirnya tubuhkukembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yang bidang berbulu itu denganpenis masih menancap, sementara dari belakang Bang Yos masih getol menyodomikutanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di anusku limamenit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak Aris mengangkat tubuhkudiatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yang adalah tempatpencucian mobil bersama teman-temannya.
“Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak?” tanyaku heran.
“Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau peju sih,” jawabnyasambil nyengir, kemudian memerintah si brewok untuk menyiapkan selang air.
Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggupberdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja dilantai marmer itu.
“Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah,” katanya sambilmembantuku melepaskan kaosku yang tergulung.
Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting, danseuntai kalung perak dengan leontin huruf C yang masih tersisa di tubuhku. Si brewok menyalakankrannya dan mengarahkan selang itu padaku.
“Awww… Dingin!” desahku manja merasakan dinginnya air yangmenyemprot padaku.
Pak Joni melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnyamendekati tubuhku yang masih disemprot si brewok, ketiganya mengerubungitubuhku sambil tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka,tangan-tangan mereka menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yanglengket di sekujur tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairanpembersih.
Beberapa menit lamanya si brewok menyirami kami dengan airdingin sehingga tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabungmenggerayangiku. Pak Joni mendekapku dari depan, setelah puas menciumi danmeremas payudaraku dia menaikkan kaki kananku ke pingggangnya dan memasukkanpenisnya ke vaginaku, mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri. Pak Arismerangkulku dari belakang dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dantengukku. Bang Yos berjongkok meremasi dan menjilati pantat montokku yangterangkat dengan gemasnya. Si brewok menggerayangi payudaraku yang lain sambil menggelikitiktelingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu.Beberapa menit kemudian Pak Joni klimaks dan menumpahkan spermanya di dalamvaginaku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku merekatelentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembaliaku disemprot dengan selang air hingga semakin basah.
Bang Yos membentangkan pahaku dan menancapkan penisnya kevaginaku. Mungkin karena sudah terisi penuh, maka ketika penis itu melesak kedalamku, nampak sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir vaginaku.Aku kembali orgasme yang kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kapmobil itu. Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut penisnya dan menumpahkanisinya di atas perut rataku. Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, akuterbaring lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karenabasah.
Mereka juga sudah kecapean semua, ada yang duduk mengatur nafas,ada juga yang mengelap badannya yang basah. Pak Aris memberiku sebuah Aquagelas dan handuk kering. Aku menggerakkan tangan menghanduki tubuhku yangbasah. Setelah Pak Aris dan Bang Yos selesai memasang onderdil yang tertunda,selesai pula perbaikan mobilku. Aku membayarkan biayanya pada Pak Aris yangternyata masih saudara dengan pemilik bengkel ini, pantas dari tadi montir laintunduk padanya. Aku juga memberi tambahan sepuluh ribu rupiah sebagai uangrokok untuk dibagi antara mereka berempat. Sampai di rumah aku langsung tidurdengan tubuh pegal-pegal, janji ke kafe dengan teman-teman pun terpaksakubatalkan dengan alasan tidak enak badan.

Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilakudi puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisamemarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelahseminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpaditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh darihiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Jokopulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko sudah bekerja ditempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengankeberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianyahampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitamterbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingatdia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku."Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok,tinggal dateng aja" pamitnya.

 
Setelah Pak Joko meninggalkanku, akumembereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafaspanjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itusangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoisehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenangrasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali,Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangkudan menuju ke kolam. Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitutenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin.Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau akuberenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain akulagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjanglagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasukarloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu barudilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, akulangsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil sepertiini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapagaya kecuali gaya kupu-kupu ( karena aku tidak bisa, hehe.. ) 20 menit lamanyaaku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar denganberjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku denganhanduk, setelah kuambil sekaleng coca- cola dari kulkas, aku kembali lagi kekolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamkusambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakarmatahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampakberkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasaaku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatuapapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saatitu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudahdiperkosanya habis- habisan.Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yangmeraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketikatangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsungterkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Akumelihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itudengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya,mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, diaadalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jeleksekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itutepat di depan wajahku. "Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah gaada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!" ancamnya Aku mengangguksaja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya padamulutku "Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ng***** sama Neng!"katanya sambil matanya menatapi dadaku "Ng***** ya ng*****, tapi yangsopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!" kataku sewot. Ternyatatanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vilamajikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang disini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekadmemanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untukngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifkumembuatku BT (birahi tinggi). "Heh, katanya mau merkosa gua, kok belumbuka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!" tantangku."Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupadeh" jawabnya seraya melepas baju lusuhnya. Badannya lumayan jadi juga,walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuransama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air,Listrik, dan Bangunan). Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedotpayudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengantanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesisnikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya."Eenghh.. terus Tar.. oohh!" desahku sambil meremasi rambut Taryoyang sedang mengisap payudaraku. Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawahdan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnyabermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk.Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidakkuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejangdan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambakrambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terussampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanyadari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku. Belum beres aku mengaturnafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aromacairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agakkewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnyaagak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisaberadapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit danmengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yanghalus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya. "Gua ga tahan lagiTar, sini gua emut yang punya lu" kataku. Si Taryo langsung bangkit danberdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring dikursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelumkumasukkan ke mulut. Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidakmenampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahkumengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilatilubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan.Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju- mundurkannya pinggulnya sehinggaaku gelagapan. "Eemmpp.. emmphh.. nngg.. !" aku mendesah tertahankarena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis ituberkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairanmemenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairanitu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluarpenisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamatahitamku juga basah kecipratan maninya. Kulepaskan kacamata hitam itu, lalukuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jarikukujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul darisana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempatkaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku."Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kaloNeng lagi gituan" katanya terbata-bata. Karena sudah tanggung, akupunnekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya. "Ah.. ga apa-apa Pak,mending Bapak ikutan aja yuk!" godaku. Jakunnya turun naik melihatkepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Akumengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang. Akhirnya dia mulaiberani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepaskancing bajunya dan meraba-raba dadanya. "Neng, tetek Neng gede juga yah..enak yah diginiin sama Bapak?" Sambil tangannya terus meremasi payudaraku.Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itusaya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitammenggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakanbenda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hinggaberjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamankuitu ke mulut, kujilati dan kuemut- emut hingga pemiliknya mengerang keenakan"Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!" seru si Taryoyang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku. Taryo lalumendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secarabergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu.Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah kebelakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulaimerasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa,mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasukivaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayapke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang takkaruan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis PakJoko makin bersemangat. Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadibegitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolahsedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatanuntuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrahsaja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunyamenyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguhsulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimkudan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadangmemainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layangdibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerittapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryoterasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapatmerasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkangankumeleleh cairan hasil persenggamaan. Setelah mencapai orgasme yang cukuppanjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku danmenghentikan kegiatannya. "Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak keitunya Neng?" tanya Pak Joko lembut. Saya cuma mengangguk, lalu dia bilanglagi, "Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih".Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkandiriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kirikudan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itutangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagiansensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya,lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok. "Neng, Bapakmasukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng"kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku. Dia kemudian membuka pahakusetelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dankeras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannyapada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penisTaryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku. "Aahh.. Pak cepetmasukin dong, udah kebelet nih!" desahku tak tertahankan. Aku meringissaat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh bendahitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasinikmat ke seluruh tubuh. "Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau giniudah dari dulu Bapak *****in" ceracaunya. "Brengsek juga lu, udahbercucu juga masih piktor, gua kira lu alim" kataku dalam hati. Setelah 15menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu dudukberselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupunmenggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas kedalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secarabersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baurdengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali,kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncangtidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnyasedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri,sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuhseorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya. Goyangan kamiterhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatkusemakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryomembuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana "Aduuh.. pelan-pelanTar, sakit tau.. aww!" rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya. Bagianbawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kamikembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan- lahan berubah menjadirasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryomenyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannyamendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku danmemainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal ituberlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti maumeledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Jokoerat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhkumenegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun merekamasih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yangkeluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan merekaterasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makindahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambakrambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dananusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Merekaberdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas.Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh..ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakansaja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram,menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan danpayudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir "Lho.. kok yangdisabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih"disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka,saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.

Sudah jadi kebiasaanku, aku selalu berolahraga dengantelanjang bulat, sehingga dapat kuperhatikan tubuhku sendiri lewat cermin ituyang kian hari kian tumbuh kekar dan indah. berkulit sawo matang gelap. Rambutkasar memenuhi hampir di seluruh kedua lengan tangan dan kaki serta dadaku yangmembidang ke bawah, lebih-lebih pada daerah kemaluanku. Rambutnya tumbuh suburdengan batang zakarnya yang selalu terhangati olehnya. Kuraba-raba batangkemaluanku yang mulai beranjak tegang ereksi ini. Hmm, ouh, mengasyikan sekali.Air keringatku turut membasahi batang zakar dan buah pelirku. Dengan sambilduduk di kursi plastik aku berfantasi seandainya ini dilakukan oleh seorangwanita. Mengelus-elus zakarku yang pernah kuukur memiliki panjang 20 centimeterdengan garis lingkar yang 18 centimeter! Mataku hanya merem melek sajamenikmati sensasi yang indah ini.

 
Perlahan-lahan aku mulai melumuri batangzakarku dengan air liurku sendiri. Kini sambil menggenggam batang zakar, akuterus menerus melakukan mengocok-ngocok secara lembut yang berangsur-angsur ketempo cepat.Aku tengah menikmati itu semua dengan sensasiku yang luar biasaketika tiba-tiba pintu kamar kost-ku diketok pelan-pelan. Sial, aku sejenakterperangah, lebih-lebih saat kudengar suara cewek yang cukup lama sekali takpernah kudengar."Mas, Mas Wid? Ini aku, Irma!"Irma? Adik sepupukudari Pekalongan? Ngapain malam-malam begini ini datang ke Jogja? Gila!Buru-buru aku melilitkan kain handuk kecilku sambil memburu ke arah pintu untukmembukakannya. "Irma?" ucapku sambil menggeser posisiku berdiri untukmemberi jalan masuk buat adik sepupuku yang terkenal tomboy ini. Irma terussaja masuk ke dalam sambil melempar tas ranselnya dan lari ke kamar mandi yangmemang tersedia di setiap kamar kost ini. Sejenak aku melongok keluar, sepi,hanya gelap di halaman samping yang menawarkan kesunyian. Pintu kembali kututupdan kukunci. Aku hanya menghela nafasku dalam-dalam sambil memperhatikan tasransel Irma.Tak berapa lama Irma keluar dengan wajah basah dan kusut. Rambutnyayang lebat sebahu acak-acakan. Aku agak terkejut saat menyadari bahwa kini Irmahanya memakai kaos oblong khas Jogja. Rupanya ia telah melepas celana jeansbiru ketatnya di kamar mandi. Kulit pahanya yang kuning langsat dan ketat ituterlihat jelas. "Ada masalah apa lagi, hmm? Dapat nilai jelek lagi disekolahan lalu dimarahi Bapak Ibumu?" tanyaku sambil mendekat dan mengelusrambutnya, Irma hanya terdiam saja. Anak SMU kelas dua ini memang bandel.Mungkin sifat tomboynya yang membuat dirinya begitu. Tak mudah diatur danmaunya sendiri saja. Jadinya, aku ini yang sering kewalahan jika ia datangmendadak minta perlindunganku. Aku memang punya pengaruh di lingkungankeluarganya.Irma hanya berdiri termangu di depan cermin olah ragaku. Walauwajahnya merunduk, aku dapat melihat bahwa dia sedang memandangi tubuhku yangsetengah telanjang ini."Lama ya Mas, Irma nggak ke sini.""Hampirlima tahun," jawabku lebih mendekat lagi lalu kusadari bahwa lengan dantangannya luka lecet kecil."Berantem lagi, ya? Gila!" seruku kagetmenyadari memar-memar di leher, wajah, kaki, dan entah dimana lagi."Irmakalah, Mas. Dikeroyok sepuluh cowok jalanan. Sakit semua, ouih. Mas, janganbilang sama Bapak Ibu ya, kalau Irma kesini. Aduh...!" teriak tertahanIrma mengaduh pada dadanya."Apa yang kamu rasakan Ir? Dimana sakitnya,dimana?" tanyaku menahan tubuhnya yang mau roboh.Tapi dengan kuat Irmadapat berdiri kembali secara gontai sambil memegangi lenganku."Seluruhtubuhku rasanya sakit dan pegal semua, Mas, ouh!""Biar Mas lihat, ya?Nggak apa-apa khan? Nggak malu, to?" desakku yang terus terang aku sudahmulai tergoda dengan postur tubuh Irma yang bongsor ketat. Irma hanya menganggukkalem."Ah, Mas Wid. Irma malah pengin seperti dulu lagi, kita mandibareng... Irma kangen sama pijitan Mas Wid!" ujar Irma tersenyummalu.Edan! Aku kian merasakan batang kemaluanku mengeras ketat. Dan itu jelassekali terlihat pada bentuk handuk kecil yang menutupinya, ada semacam bendakeras yang hendak menyodok keluar. Dan Irma dapat pula melihatnya! Perlahankulepas kaos oblong Irma. Sebentar dirinya seperti malu-malu, tapi kemudianmembiarkan tanganku kemudian melepas BH ukuran 36B serta CD krem berendaketatnya. Aku terkejut dan sekaligus terangsang hebat. Di tubuh mulusnya yangindah itu, banyak memar menghiasinya. Aku berjalan memutari tubuh telanjangnya.Dengan gemetaran, jemariku menggerayangi wajahnya, bibirnya, lalu leher danterus ke bawahnya. Cukup lama aku meraba-raba dan mengelus serta meremas lembutbuah dadanya yang ranum ini. "Mas Wid... enak sekali Mas, teruskan yaaa...ouh, ouh..!" pinta mulut Irma sambil merem-melek. Mulutku kini maju kedada Irma. Perlahan kuhisap dan kukulum nikmat puting susunya yang coklatkehitaman itu secara bergantian kiri dan kanannya. Sementara kedua jemaritanganku tetap meremas-remas kalem dan meningkat keras. Mulut Irma makinmerintih-rintih memintaku untuk berbuat lebih nekat dan berani. Irmamenantangku, sedotan pada puting susunya makin kukeraskan sambil kuselingidengan memilin-milin puting-puting susu tersebut secara gemas."Auuuh, aduhMas Wid, lebih keras... lebih kencang, ouh!" menggelinjang tubuh Irmasambil berpegangan pada kedua pundakku. Puting Irma memang kenyal danmengasyikan. Kurasakan bahwa kedua puting susu Irma telah mengeras total. Akumerendahkan tubuhku ke bawah, mulutku menyusuri kulit tubuh bugil Irma, menyapuperutnya dan terus ke bawah lagi. Rambut kemaluan Irma rupanya dicukur habis,sehingga yang tampak kini adalah gundukan daging lembut yang terbelah celahsempitnya yang rapat. Karuan lagi saja, mulutku langsung menerkam bibirkemaluan Irma dengan penuh nafsu. Aku terus mendesakkan mulutku ke dalam liangkemaluannya yang sempit sambil menjulurkan lidahku untuk menjilati klitorisnyadi dalam sana. Irma benar-benar sangat menggairahkan. Dalam masalah seks, akumemang memliki jadwal rutin dengan pacarku yang dokter gigi itu. Dan kalaudibandingkan, Irma lebih unggul dari Sinta, pacarku. Mulutku tidak hanyamelumat-lumat bibir kemaluan Irma, tapi juga menyedot-nyedotnya dengan ganas,menggigit kecil serta menjilat-jilat.Tanpa kusadari kain handukku terlepassendiri. Aku sudah merasakan batang kemaluanku yang minta untuk menerjang liangkemaluan lawan. Karuan lagi, aku cepat berdiri dan meminta Irma untuk jongkokdi depanku. Gadis itu menurut saja. "Buka mulutmu, Dik. Buka!"pintaku sambil membimbing batang kemaluanku ke dalam mulut Irma. Gadis itusemula menolak keras, tapi aku terus memaksanya bahwa ini tidak berbahaya.Akhirnya Irma menurut saja. Irma mulai menyedot-nyedot keras batang kemaluankusembari meremas-remas buah zakarku. Ahk, sungguh indah dan menggairahkan.Perbuatan Irma ini rupanya lebih binal dari Sinta. Jemari Irma kadangkalamenyelingi dengan mengocok-ngocok batang kemaluanku, lalu menelannya danmelumat-lumat dengan girang."Teruskan Dik, teruskan, yeeeahh, ouh...ouh... auh!" teriakku kegelian. Keringat kembali berceceran deras. Akuturut serta menusuk-nusukan batang kemaluanku ke dalam mulut Irma, sehinggagadis cantik ini jadi tersendak-sendak. Tapi justru aku kian senang. Kini akutak dapat menahan desakan titik puncak orgasmeku. Dengan cepat aku muntahkanspermaku di dalam mulut Irma yang masih mengulum ujung batang kemlauanku."Crooot...creet... crret...!""Ditelan Dik, ayo ditelan habis, dan bersihkanlepotannya!" pintaku yang dituruti saja oleh Irma yang semula hendakmemuntahkannya. Aku sedikit dapat bernafas lega. Irma telah menjilati dan membersihkanlepotan air maniku di sekujur ujung zakar."Maaasss, ouh, rasanyaaneh...!" ujar Irma sambil kuminta berdiri. Sesaat lamanya kami salingpandang. Kami kemudian hanya saling berpelukan dengan hangat dan mesra.Kurasakan desakan buah dadanya yang kencang itu menggelitik birahikukembali."Ayo Dik, menungging di depan cermin itu!" pintaku sambilmengarahkan tubuh Irma untuk menungging. Irma manut. Dengan cepat aku terusmembenamkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Irma lewat belakang danmelakukan gerakan maju mundur dengan kencang sekali. "Aduuh, auuh... ouh..ouh... aaah... ouh, sakit, sakit Mas!" teriak-teriak mulut Irmamerem-melek. Tapi aku tak peduli, adik sepupuku itu terus saja kuperkosa denganhebat. Sambil berpegangan pada kedua pinggulnya, aku menari-narikan batangkemaluanku pada liang kemaluan Irma."Sakiiit...ouhh...!""Blesep... slep... sleeep..." suara tusukanpersetubuhan itu begitu indah.Irma terus saja menggelinjang hebat.Aku segeramencabut batang kemaluanku, membalikkan posisi tubuh Irma yang kini telentangdengan kedua kakinya kuminta untuk melipat sejajar badannya. sementara keduatangannya memegangi lipatan kedua kakinya. Kini aku bekerja lagi untukmenyetubuhi Irma."Ouuh... aaahhk... ouh... ouh...!"Dengan menopangtubuhku berpegangan pada buah dadanya, aku terus kian ganas tanpa ampun lagimenikam-nikam kemaluan Irma dengan batang kemaluanku."Crrrooot... cret...creet...!"Menyemprot air mani zakarku di dalam liang kemaluan Irma."Maaas... ouuuh... aduh... aaahk!" teriak Irma yang langsung agaklunglai lemas, sementara aku berbaring menindih tubuh bugilnya dengan batangkemaluanku yang masih tetap menancap di dalam kemaluanya.

Berikut ini dipersembahkan beberapa foto ABG yang masih SMA jaman sekarang yang selalu ingin memperlihatkan lekuk tubuhnya, lagsung saja kita saksikan bareng-bareng:

Foto Cewek SMA Bugil


Foto Cewek SMA Bugil


Foto Cewek SMA Bugil


Foto Cewek SMA Bugil


Foto Cewek SMA Bugil


Foto Cewek SMA Bugil


Foto Cewek SMA Bugil


Foto Cewek SMA Bugil


SMU narsis toge 2

Ada-ada saja ulah anak smu jaman sekarang ini. Coba lihat siswi smu ini lagi pamet toket atau yang sering disebut toge di depan kamera. wuihhh...Siswi SMU jaman sekarang memang sangat berani. Setelah ada yang berani pamer toge di kolam renang, kali ini ada lagi siswi SMU pamer toge sambil bergaya narsis di depan kamera.

Seperti apa gaya-gaya yang dilakukan siswi SMU tersebut? Bagi yang penasaran, silakan lihat di bawah ini.

Cekidot deh gan...

SMU narsis toge
SMU narsis toge 2
SMU narsis toge 3
Busyet deh ini kelakuan siswi SMU jaman sekarang…

Koleksi foto seksi cewek SMA pada pamer paha mulus bikin kepala cenat-cenut..
anak SMA jaman sekarang memang super narsis. pake kamera hape atau kamera digital, pose-pose menantang pun dilakoni. gemes3