Showing posts with label Karya Pemerkosa Artis. Show all posts
Showing posts with label Karya Pemerkosa Artis. Show all posts

Tubuhnya masih tergantung dengan tangan terikat ke langit-langit dan kakinya masih terbuka lebar. Kuda-kuda tadi dipindahkan, Dildo logam juga dikeluarkan dari vagina Widi. Ikatan pada kaki Widi dikendorkan, sedangkan tali pada pergelangan tangan Widi ditarik. Sekarang Widi tergantung terangkat dari lantai dengan kaki terbuka lebar dan seluruh berat badannya bergantung pada ikatan pada tangannya. Persis dengan posisi Lucy pada permulaan tadi. Widi baru berusaha mengumpulkan tenaganya kembali ketika Botak mendekati dirinya. Botak kemudian menuangkan minuman keras dari botol yang dipegangnya ke dalam mulut Widi.

Widi menelan cairan itu, lalu terbatuk-batuk ketika tenggorokannya terasa panas karena minuman itu.Kemudian ikatan pada tangan Widi dilepaskan dan Widi dibantu untuk berdiri di kedua kakinya. Botak terus menuangkan minuman keras ke mulut Widi, perlahan pucat dari wajah Widi mulai menghilang. Ketika kesadaran Widi pulih seluruhnya, ia melihat Lucy yang tergantung di dinding dan Nola yang digantung pada kedua tangan dan kakinya di tengah ruangan. Kedua polisi tadi telah melepaskan seluruh pakaiannya.

Botak kemudian mendorong tubuh Widi hingga jatuh berlutut.Kemudian Botak mendekatkan penisnya yang masih lemas ke mulut Widi dan memerintahkannya untuk mengulum penis itu. Widi teringat pada sebuah film dewasa yang pernah dilihatnya bersama Lucy dan Nola, dan ia menyadari apa yang diinginkan oleh polisi itu, Widi juga terlalu takut untuk menolak perintah itu. Widi kemudian memasukan penis itu dalam mulutnya dan mulai mengulumnya membuat penis itu mengeras dan membesar.Hitam berbalik mendekati Nola. Kepala dan vagina Nola tepat tergantung setinggi pinggang Hitam.

Hitam kemudian mendekati kepala Nola. Nola berusaha mengangkat kepalanya berusaha melihat semua yang dilakukan oleh kedua polisi tadi. Hitam menarik kepala Nola hingga terdongak ke atas lagi dan mendekatkan penisnya pada mulut Nola. Nola juga menuruti kemauan Hitam, mengulum dan menjilati penisnya, takut akan apa yang mungkin akan terjadi jika ia menolaknya.Kedua penis polisi tadi segera mengeras dan membesar. Keduanya sudah sangat bernafsu. Botak yang sedang memperkosa mulut Widi sedang bersiap-siap untuk memperkosa Lucy.
Karena tubuh Lucy yang tergantung tinggi dari lantai, Botak membutuhkan sebuah kotak untuk bisa menambah tingginya hingga penisnya bisa masuk ke vagina Lucy. Tapi ternyata kotak itu terlalu tinggi hingga terpaksa Botak menekuk kakinya untuk bisa mengarahkan kepala penisnya ke bibir vagina Lucy. Ketika Botak meluruskan kakinya, penis Botak terdorong masuk ke vagina Lucy yang terluka karena penyiksaan tadi. Lucy kembali mengeluarkan jerit kesakitan.

Kakinya yang terikat erat membuat ia tidak ikut terangkat ke atas ketika penis Botak mulai masuk ke vaginanya. Botak mulai bergerak keluar masuk, membuat vagina Lucy yang sudah terluka bertambah sakit dan nyeri. Botak terus bergerak selama beberapa menit sebelum akhirnya mengerang dan menyemburkan spermanya ke dalam vagina Lucy. Hitam sudah mulai memperkosa Nola. Dengan tubuh tergantung demikian, Hitam dengan mudah dapat berdiri di antara kedua kaki Nola dan memasukan penisnya ke dalam vagina Nola. Tali-tali yang mengikat Nola membuat tubuh Nola dapat berayun ke segala arah. Hitam berdiri tepat di depan selangkangan Nola. Ia memasukan dua jarinya ke dalam vagina Nola dan mulai menggerakannya keluar masuk sampai cairan keluar dari vagina Nola.

Hitam kemudian mendekat dan memasukan penisnya ke dalam vagina Nola. Tubuh Nola mulai berayun ke depan. Hitam memegangi pinggang Nola dan menariknya kembali ke belakang membuat penisnya terbenam makin dalam ke vagina Nola. Kemudian Hitam hanya perlu berdiri dan memegangi pinggang Nola sambil menarik dan mendorong tubuh Nola ke depan dan ke belakang membuat penisnya keluar masuk vagina Nola. Hitam terus menikmati vagina Nola untuk beberapa saat. Sedangkan Nola hanya bisa berteriak kesakitan setiap kali penis Hitam yang besar menerobos masuk ke vaginanya yang masih sempit.

Akhirnya setelah beberapa menit Hitam mencapai orgasme, dan menyemprotkan spermanya ke vagina Nola. Kedua polisi itu sudah puas dengan orgasme pertama mereka, dan mereka berdua bersiap untuk kembali mempermaikan ketiga gadis itu lagi. Widi, Nola dan Lucy masing-masing diberi minuman keras oleh mereka untuk menyadarkan mereka dari shock perkosaan yang baru mereka alami. Lucy dan Nola dibiarkan tergantung pada posisi mereka ketika diperkosa tadi.

Hitam mendekati lemari dan kembali dengan membawa sebuah alat kejutan listrik. Di ujung alat yang berbentuk seperti ketapel itu terdapat bulatan lugam. Jika bulatan logam itu ditempelkan pada tubuh seseorang maka tubuh orang itu akan disengat oleh aliran listrik yang kuat. Hitam mendekat pada Widi dan menempelkan ujung alat itu pada pantat Widi. Kejutan listrik yang terjadi membuat tubuh Widi terlompat dan mengejang disertai jerit kesakitan Widi. Kemudian Widi ditarik mendekat pada Lucy. Widi berlutut di hadapan Lucy.

Kemudian ia diperintahkan untuk memasukan jarinya ke vagina Lucy. Widi mulanya menolak, tapi ia berubah pikiran melihat ujung alat yang dipegang oleh Hitam mendekat ke buah dadanya. Widi mulai memasukan dua buah jarinya ke vagina Lucy yang baru saja diperkosa oleh Botak. Jari Widi dengan mudah masuk karena sperma Botak masih terlihat mengalir keluar dari vagina Lucy. Hitam kemudian memerintahkan agar Widi memasukan satu jari lagi. Tiga jari Widi masih dapat dengan mudah masuk ke vagina Lucy. Ketika Widi mendorong masuk keempat jarinya sekaligus, vagina Lucy mulai terasa sempit. Widi harus mendorong lebih keras agar jari-jarinya bisa masuk, yang mengakibatkan Lucy mengerang kesakitan. Akhirnya dengan dorongan keras keemapt jari Widi bisa masuk ke vagina Lucy.

Setelah itu Hitam akhirnya menyuruh Widi memasukan seluruh jari dan tangannya masuk ke vagina Lucy. Widi menarik jarinya dari vagina Lucy dan menggelengkan kepalnya menolak perintah Hitam. Ujung alat Hitam menempel ke buah dada Widi. Widi berteriak kesakitan, dan tubuhnya terlempar ke lantai. Hitam terus mendekati tubuh Widi. Alat itu selanjutnya menempel di selangkangan Widi. Widi kembali berteriak kesakitan. Widi kemudian merangkak mendekati Lucy yang tergantung di dinding. Ketika tubuh Widi kembali disentuh oleh alat tadi, Widi memasukan seluruh jarinya ke vagina Lucy. Lucy menjerit-jerit kesakitan. Widi berusaha keras agar dirinya tidak disakiti lagi oleh Hitam, berusaha memasukan tangannya ke vagina Lucy yang makin lama menjerit makin keras dan memilukan. Widi terus berusaha mendorong kelima jarinya masuk ke vagina Lucy, perlahan berusaha mengurangai rasa sakit yang diderita oleh Lucy.

Tapi tangan Widi adalah benda terbesar yang pernah berusaha masuk ke vagina Lucy. Dan ketika bibir vagina Lucy melebar berusaha dimasuki oleh tangan Widi, rasa sakit yang ditimbul semakin menjadi-jadi. Akhirnya dengan satu dorongan keras seluruh jari Widi masuk ke dalam vagina Lucy. Ketika pangkal ibu jari Widi masuk bersamaan dengan keempat jari Widi dan membuat bibir vagina Lucy membuka tambah lebar, Lucy berteriak dan menronta-ronta kesakitan. Ketika seluruh telapak tangan Widi masuk, bibir vagina Lucy menjepit erat pergelangan tangan Widi. Widi dapat merasakan bagian dalam vagina Lucy berdenyut-denyut. Sedangkan Lucy merasa dirinya seperti hamil merasakan tangan Widi masuk seluruhnya.

Hitam kemudian menempelkan kembali alat listrik tadi ke buah dada Widi. Ketika tubuh Widi terlompat kesakitan, tangan Widi tertarik dari vagina Lucy. Tangan Widi tertarik sebagian keluar dan tersangkutpadavagina Lucy. Lucy kembali menjerit kesakitan. Sedangkan Widi hanya bisa menangis. Perlahan Widi berhasil menguasai dirinya dan menyadari sebagian tangannya masih ada di dalam vagina Lucy. Widi kemudian berusaha menarik tangannya dan setelah beberapa saat tangan itu berhasil ditariknya keluar dari vagina Lucy. Lucy terus berteriak dan menjerit kesakitan sementara Botak dan Hitam menonton sambil tertawa senang melihat Lucy meronta-ronta kesakitan. Hitam kemudian mendekatkan alatnya pada vagina Lucy. Jeritan Lucy, terdengar seperti binatang yang sangat kesakitan, melolong tinggi. Lucy terus dibiarkan tergantung pada dinding.

Sementara itu Lucy sendiri masih terus menangis dan merintih kesakitan, merasakan vaginanya yang bagaikan terobek oleh masuknya tangan Widi tadi. Kedua polisi itu bersiap untuk menyiksa Widi sekarang. Pertama-tama mereka membawa Widi kembali ke tengah ruangan. Botak kemudian mengambil sebuah benda yang membuat wajah Widi memucat ketakutan. Benda itu berupa logam sepanjang satu meter dengan dua buah dildo logam dilas pada tengah-tengahnya. Dildo yang satu berukuran besar, sekitar 25 senti panjang dan berdiameter 10 senti. Yang satu lagi panjangnya 15 senti dan berdiameter sekitar 3 senti.

Tangan Widi kembali diborgol ke belakang. Kedua puting susunya dijepit oleh jepitan yang pernah dijepitkan pada puting susunya tadi. Jepitan yang akan menjepit makin keras jika kabel yang ada diujungnya ditarik. Kembali Widi menjerit ketika puting susunya yang sekarang berwarna ungu kembali dijepit oleh jepitan buaya itu. Kemudian kabel tadi ditarik dankemudiandiikatkan pada gelang besi yang ada di langit-langit. Sekarang puting susu dan buah dada Widi tertarik keatas sehingga Widi berusaha berjinjit untuk mengurangi rasa sakit yang timbul. Selanjutnya batang besi tadi diletakan diantara kedua kaki Widi dengan dildo yang berukuran besar di depan. Tali-tali dari langit-langit diikatkan pada kedua ujung batang logam tadi dan untuk kemudian tali itu ditarik hingga batang logam tadi terangkat ke atas, menuju ke arah vagina dan anus Widi. Dildo yang besar bersentuhan dengan bibir vagina Widi. Hitam mengarahkan agar ujung dildo logam itu tepat di liang vagina Widi.

Botak terus menarik tali yang mengikat batang tadi. Dildo itu mulai membuka bibir vagina Widi dan menerobos masuk. Widi menjerit kesakitan ketika vaginanya melebar berusaha dibuka oleh dildo logam tadi yang terus masuk karena batang tadi ditarik ke atas oleh Botak. Kemudian dildo yang lebih kecil mulai menempel ke liang anus Widi. Widi menjerit ketakutan menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika dildo kecil itu mulai menempel, tubuh Widi ikut terangkat ke atas. Liang anusnya tidak membuka untuk dildo yang kecil itu. Tapi berat tubuh Widi, membuat tubuh Widi yang pada mulanya ikut terangkat perlahan turun. Dan itu menyebabkan liang anus Widi mulai membuka perlahan dimasuki oleh dildo kecil tadi. Rasa sakit yang dirasakan oleh Widi tak terkira. Widi belum pernah merasakan satu bendapun masuk ke dalam anusnya yang kecil dan sempit. Tapi sekarang liang anus itu terbuka perlahan, diterobos oleh dildo logam itu. Untuk sesaat Widi melupakan dildo besar yang juga terus terbenam masuk ke vaginanya karena sakit yang terasa amat sangat terdapat pada anusnya.

Perlahan seluruh dildo tadi terbenam seluruhnya ke vagina dan anus Widi. Tapi logam itu terus terangkat membuat tubuh Widi juga ikut terangkat dari lantai. Dengan tangan terborgol ke belakang Widi tidak bisa menjaga keseimbangannya ketika tubuhnya terangkat dari lantai. Tubuh Widi mulai terjatuh ke depan, sampai akhirnya tertahan oleh kabel yang terikat pada jepitan di puting susu Widi. Widi menjerit-jerit ketika jepitan itu menjepit makin dalam karena tertarik oleh tubuhnya yang jatuh ke depan. Widi terus menerus menjerit sampai akhirnya tubuh Widi benar-benar terangkat dari lantai dengan tergantung pada kabel yang ada diputing susunya dan dua dildo yang masuk dan mengangkat tubuhnya dari lantai. Ketika selesai, tubuh Widi tergantung sekitar satu meter dari lantai.

Kedua polisi itu bergantian mendorong tubuh Widi hingga terayun-ayun membuat Widi menjerit kesakitan karena kabel jepitan yang ada di puting susunya ikut tertarik. Puting susu dan buah dada Widi tampak memerah dan kemudian berubah menjadi ungu karena terus menerus ditarik dan dijepit makin keras. Akhirnya mereka puas mendengar jerit kesakitan dari Widi. Mereka menurunkan batang logam tadi sehingga sekarang Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya tapi kedua dildo yang jepitan tadi masih ada di tempatnya masing-masing. Penyiksaan pada diri Widi membuat nafsu pada kedua polisi itu bangkit lagi. Satu-satunya gadis yang masih tersisa adalah Nola, yang masih tergantung terlentang pada kaki dan tangannya. Mereka berdua mendekati Nola.

Hitam mendekati kepala Nola sedangkan Botak berdiri di depan selangkangan Nola. Hitam memasukan penisnya yang masih lemas ke mulut Nola, sementara Botak memasukan tiga jarinya ke dalam vagina Nola dan melebarkan bibir vagina Nola. Nola meronta kesakitan, tapi ia hanya bisa berayun-ayun dalam ikatannya, sedangkan mulutnya sudah dipenuhi oleh penis yang terus membesar dan mengeras. Ketika penis telah mengeras seluruhnya, ia memberi tanda pada Botak dan mereka bertukar tempat. Mereka mulai memperkosa Nola secara bersamaan. Sebuah penis yang lemas kembali masuk ke dalam mulutnya dan penis Hitam yang keras dan tegang masuk ke dalam vaginanya. Kembali tubuh Nola berayun kedepan dan belakang. Dan ketika penis Botak telah mengeras seluruhnya ia mendorong penis itu makin dalam ke tenggorokan Nola.

Dalam sesaat vagina dan tenggorokan Nola mulai diperkosa oleh penis Hitam dan Botak. Setelah beberapa menit kedua polisi itu mencapai puncak dan keduanya menyemburkan spermanya ke vagina dan mulut Nola. Ketiga gadis itu tergantung kesakitan dalam ruangan itu. Lucy tergantung di dinding. Kakinya terikat pada lantai dan terbuka lebar. Tangannya terasa sakit karena terikat dan menanggung berat tubuhnya. Widi berdiri dengan tangan terborgol ke belakang. Jepitan pada puting susunya membuat Widi tidak berani bergerak sedikitpun. Dan di antara kedua kakinya terdapat batang logam dengan dua buah dildo logam yang terbenam masuk ke vagina dan anusnya. Nola terikat dan tergantung pada kedua kai dan tangannya. Vaginanya teluka karena dipecuti dan dirinya baru diperkosa secara bersamaan. Setelah beristirahat sejenak kedua polisi tadi mulai lagi membuat ketiga gadis itu saling menyiksa temannya masing-masing. Nola diturunkan dari ikatan.

Hitam memberinya minuman keras untuk memulihkan seluruh kesadarannya. Hitam kemudian menyerahkan pecut yang tadi dipergunakannya pada Nola sendiri. Sedangkan Lucy serta Widi masih terikat dan tergantung di ruangan itu. Hitam kemudian memerintahkan Nola agar mulai memecuti mereka, sampai mereka menyuruh Nola berhenti. Dan jika ia tidak menuruti perintah itu, Noal sendir yang akan merasakan pecut itu sekali lagi. Nola tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah itu. Nola mendekati tubuh Lucy yang masih tergantung. Seluruh tubuh Lucy terpampang dan dapat dipecuti oleh Nola. Nola berbisik mohon maaf ketika dirinya makin dekat dengan Lucy. Dengan ragu-ragu ia mengayunkan pecutnya ke paha Lucy. Lucy menjerit kesakitan, tapi Hitam berteriak agar Nola mengayunkan pecut itu lebih keras lagi. Kembali Nola mengayunkan pecutnya ke paha Lucy, yang membuat Lucy menjerit lebih keras lagi.

Hitam kemudian merampas pecut itu dari tangan Nola dan menyuruh Nola membungkukan badannya. Nola terdiam. Hitam mengancam akan menghukum Nola lebih menyakitkan jika Nola tidak menuruti perintahnya. Nola berbalik dan membungkukan badannya. Hitam mengayunkan pecut tadi sekuat tenaga mengarah pada pantat Nola. Nola menjerit dan jatuh tersungkur ke lantai, tangannya menutupi bekas merah yang timbul pada pantatnya. "Bangun!" Hitam berteriak. Tubuh Nola tidak bertenaga untuk bangkit setelah pecutan yang sangat menyakitkan tadi. Ketika melihat Nola tetap berbaring di lantai Hitam mulai mengayukan pecutnya lagi. Pecut itu mendarat di perut Nola kemudian pada punggung Nola. Nola berusaha bangkit untuk menghentikan pecutan tersebut. Dan ketika ia berhasil berdiri dengan sempoyongan, Hitam menghentikan pecutannya. Hitam menunggu hingga Nola membungkuk lagi. Pecutan yang datang lebih keras dari sebelumnya. Nola berusaha bertahan dengan menggigit bibirnya agar tidak tersungkur lagi. Ia terus menjerit kesakitan tapi tetap berdiri membungkuk.

Hitam kemudian menyerahkan pecutnya kembali ke Nola dan menyuruhnya agar menggunakan tenaganya. Nola mengambil pecut itu dan berjalan tertatih-tatih mendekati Lucy. Pantatnya terasa sangat sakit dan ia tidak ingin Hitam kembali memecutnya. Nola kemudian mengayunkan pecut pada paha Lucy sekuat tenaganya. Lucy kembali menjerit. Hitam mengangguk dan melihat Nola mengayunkan pecutnya lagi. Kembali jeritan Lucy terdengar. Hitam kemudian menyuruh Nola memecuti Lucy dari depan. Nola menangis selain karena sakit yang dirasakannya pada pantatnya, juga karena ia menyiksa sahabatnya Lucy. Nola mengayunkan pecutnya ke puting susu Lucy. Lucy menjerit dan mengejang. Kembali pecut itu mendarat di puting susu Lucy. Selanjutnya pecut itu mengarah ke vagina Lucy. Jeritan Lucy makin tinggi dan keras sekarang. Hitam membiarkan Nola memecuti puting susu dan vagina Lucy untuk beberapa saat. Hitam kemudian memerintahkan agar Nola memasukan gagang pecut yang berbentuk penis itu ke vagina Lucy. Nola memandang gagang itu ketakutan, tapi Hitam mendekatinya membuat ia segera melaksanakan perintah tadi.

Nola mulai mendorong gagang pecut tadi masuk ke vagina Lucy. Lucy mengerang kesakitan ketika dirasakannya ujung gagang itu mulai memasuki vagina yang terluka tadi. Nola perlahan berhasil memasukan sekitar 20 senti dari gagang itu ke dalam vagina Lucy. Sementara Lucy terus merintih kesakitan. Hitam kemudian menyuruh Nola menggerakan gagang pecut itu. Nola segera menggerakan gagang pecut tadi keluar masuk vagina Lucy. Lucy menrintih dan meronta-ronta ketika vagina yang telah terluka karena tangan Widi tadi kembali digesek-gesek oleh gagang pecut yang kasar. Nola terus menggerakan gagang tadi selama beberapa menit, sebelum Hitam menyuruhnya untuk berhenti. Botak kemudian mendekati Lucy dan melepaskan ikatannya.

Tubuh Lucy langsung ambruk ke tanah. Memau-memar dan garis-garis merah terlihat di sekujur tubuh Lucy. Botak kembali menuangkan minuman keras ke mulut Lucy untuk menyadarkannya. Setelah beberapa saat Lucy mampu berdiri di atas kakinya. Sementara itu Nola kembali diperintahkan untuk memecuti tubuh Widi. Nola mengayunkan pecutnya ke punggung Widi. Tubuh Widi terlonjak sehingga puting susunya makin terjepit dan membuat ia berteriak kesakitan. Nola memecut Widi sebanyak empat kali. Perut, pantat, dan buah dadanya mendapat pecutan dari Nola dan Widi menangis keras ketika akhirnya Nola berhenti. Widi kemudian dilepaskan. Jepitan dari puting susunya dilepaskan dan kedua tangannya juga dibebaskan dari borgol. Widi berusaha mengeluarkan kedua dildo tadi dari vagina dan anusnya tapi ia merasa kesakitan setiap kali ia berusaha menariknya keluar.

Akhirnya Botak dan Hitam secara bersamaan menarik batang loga tadi dengan brutal. Ketika mereka menarik batang logam tadi, kedua dildo itu tertarik keluar dan membuat Widi menjerit, dan terlihat darah melumuri kedua dildo tadi. Widi menutupi vagina dan anusnya denga tangannya berharap bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Sekarang ketiga gadis itu telah selesai disiksa oleh botak dan Hitam. Kelima orang di ruangan itu semuanya telanjang bulat. Ketiga gadis itu telah dibebaskan dari semua ikatan mereka. Boatk dan Hitam lalu berpakaian kembali, dan memakaikan pakaian penjara kepada ketiga gadis itu. Sekarang mereka bertiga terbaring lemah dalam sebuah sel yang terkunci. Botak dan Hitam akan mulai menanyai mereka lagi keesokan harinya.

Tamat

AB Three in Bondage 1


Widi, Lucy, Nola dari kelompok vokal AB-Three sedang berlibur di salah satu pulau di kepulauan Seribu. Mereka ingin sekali pergi dari hiruk-pikuk kota Jakarta, dan juga memanfaatkan waktu kosong selama tiga bulan karena sepinya panggilan untuk show. Akan tetapi ternyata liburan itu berubah menjadi sebuah mimpi bagi mereka bertiga. Mereka sedang beristirahat di pondok, setelah sehari penuh berlari-lari dan bersenang-senang di pantai, ketika terdengar ketukan di pintu. Widi membuka pintu.


Dan dengan segera tiga orang polisi masuk ke pondok itu. Ketiga gadis itu tidak mempunyai kesempatan bertanya apa yang terjadi karena dengan segera tangan mereka diborgol dan mereka digiring ke mobil tahanan yang menunggu di luar. Ketiga polisi itu juga mengemasi semua pakaian ketiga gadis itu dan membawanya pergi sehingga tidak ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di pondok itu. Kemudian mereka dibawa ke sebuah markas polisi. Setelah sampai mereka digiring ke ruang interogasi di bawah tanah.
Ketiga gadis itu dituduh menggunakan exctasy selama mereka berlibur di pulau itu. Mreka memprotes tuduhan itu tapi polisi itu tidak peduli atas sanggahan Widi, Lucy dan Nola. Ketiga gadis itu ditanyai secara bersamaan pada awal pemeriksaan. Mereka sangat ketakutan, tapi karena tuduhan itu sama sekali tidak benar, mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari para polisi itu.

Dua dari polisi tersebut yang satu berbadan besar dan hitam, sedang yang satu lagi berkepala botak. Kemudian Widi ditarik berdiri untuk digeledah. Sedangkan Lucy dan Nola masih terborgol dan duduk di atas kursi melihat penggeledahan tersebut. Hitam berdiri di belakang Widi dan memegangi bahunya. Tangan Widi masih terborgol ke belakang. Hitam mulai menggeledah seluruh tubuh Widi, mulai dari dada, pinggang kemudian turun ke paha dan kakinya. Ketika Hitam tidak menemukan apapun ia mengangguk kepada Botak dan melanjutkan pencarian secara lebih seksama. Botak mendekat dan mulai melepaskan kancing baju Widi. Widi ketakutan dan mulai berteriak dan meronta-ronta. Botak menutup mulut Widi dengan tangannya dan menyuruhnya untuk diam.Widi terus berteriak, Botak kemudian menjepit hidung Widi dan menutup mulut Widi. Widi mulai kehabisan nafas dan terus meronta-ronta.

Hitam menyuruhnya untuk diam. Botak melepaskan tangannya dan berkata "Diam, atau kamu mati!" Widi tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu. Botak melanjutkan menelanjangi Widi. Ia melepaskan kancing baju Widi dan melepaskannya hingga bagian depan tubuh Widi terbuka. Kedua polisi itu sejenak memandangi buah dada Widi yang tertutup oleh BH putih berenda. Hitam meraba buah dada Widi yang masih tertutup BH itu.
 Kemudian ia mulai melepaskan kancing dan restleting jeans Widi. Jenas itu dengan segera dapat ditarik turun. Hitam menarik sepatu Widi dan kemudian melepaskan jeans dan kaki Widi. Selangkangan Widi juga tertutup oleh celana dalam putih yang dihiasi oleh renda kecil. Hitam langsung menarik celana dalam itu membuat vagina Widi terlihat. Rambut vagina yang halus membuat kedua polisi itu masih bisa melihat samar-samar bibir vagina Widi. Keduanya memperhatian bibir vagina itu selama beberapa saat tapi tanpa menyentuhnya. Karena tangan Widi masih terborgol ke belakang, baju dan BH Widi tidak bisa dilepaskan. Botak mengambil kunci borgol dan melepaskan borgol itu dari tangan Widi.

Kemudian baju dan BH Widi segera dilucuti dari tubuh Widi. Itu membuat buah dada Widi yang bulat sedang terpampang dengan jelas dihadapan kedua polisi itu. Widi sekarang berdiri telanjang bulat ditengah ruangan dihadapan polisi itu. Kedua polisi itu seakan-akan lupa dengan tugas penggeladahannya dan mulai merabai tubuh Widi. Ketika Widi mulai meronta, Hitam memukul buah dada Widi dengan tangannya keras-keras. Jerit kesakitan Widi segera diredam oleh tangan Botak yang menutup mulutnya. Widi diperingati untuk tetap diam dan tidak bersuara. Widi denga putus asa diam ketika tubuhnya diraba-raba oleh tangan kedua polisi tadi. Sementara Lucy dan Nola melihat semua yang terjadi dan ketakutan menyadari mereka akan mendapat perlakuan yang sama.

Widi yang kadang masih meronta, membuat kedua polisi tersebut sadar tujuan mereka menelanjangi Widi. Mereka segera mulai menggeledah tubuh Widi secara seksama. Rambut Widi diperiksa diikuti dengan mulut kemudian kulitnya. Kemudian Widi dibaringkan di atas sebuah meja dan dipaksa untuk menangkat kakinya hingga menempel ke dadanya, membuat vagina terlihat jelas ke atas. Hitam memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Widi dan mulai mencari-cari dengan jarinya itu. Widi merasa sangat kesakitan, dan malu mendapati seseorang memasukan jarinya ke dalam alat kelaminya. Ketika tidak juga ditemukan sesuatu, kedua polisi tadi memutuskan untuk memeriksa anus Widi. Widi ditarik berdiri dan diperintahkan untuk membungkuk berpegangan pada meja tadi. Hitam membuka kaki Widi dan berjongkok di belakang Widi.

Kemudian ia mendorong jari tengahnya masuk ke dalam liang anus Widi. Widi mulai menjerit kesakitan lagi, tapi Botak mendekatinya dan mengancamnya akan memukuli Widi jika ia terus berteriak. Widi dipaksa untuk merasakan anusnya diperiksa secara brutal oleh Hitam tanpa mengeluarkan suara. Lucy dan Nola dapat mendengar nafas Widi tersentak dan tubuh Widi mengejang setiap kali jari Hitam berputar-putar di dalam anus Widi. Setelah mereka selesai memeriksa tubuh Widi, dengan tangan kembali terborgol ke belakang dan telanjang bulat, Widi dibawa mendekati Lucy dan Nola.
Widi didudukan di atas kursi sementara kedua polisi tadi membawa Lucy ke tengah ruangan. Proses pencarian pada Lucy sama dengan yang dilakukan pada Widi, tapi Lucy ditemukan membawa beberapa obat-obatan untuk dirinya. Ketika polisi menemukan itu, Hitam langsung segera menelanjangi Lucy kembali memeriksa tubuh Lucy secara seksama. Kedua polisi itu secara bergantian memasukan jari mereka ke vagina dan anus Lucy. Setelah mereka selesai air mata sudah meleleh di seluruh wajah Lucy. Selanjutnya Nola mendapat giliran untuk diperiksa. Dan tetap tidak ditemukan sesuatu.

Kedua polisi itu juga memeriksa vagina dan anus Nola dengan jarinya. Rontaan Nola hanya membuat mereka semakin brutal memeriksa vagina dan anusnya. Hitam memasukan jari tengah dan telunjuknya ke dalam vagina Nola, kemudian menekuknya dan memutarnya sehingga ia bisa memeriksa seluruh bagian dalam vagina Nola. Kemudian setelah mereka selesai mereka mulai menanyai ketiga gadis itu yang masih duduk terborgol, telanjang bulat. Karena obat yang ditemukan pada dirinya kedua polisi itu mulai menanyai Lucy. Ketiga gadis itu digiring masuk ke ruangan kedua. Ketika masuk terlihat bahwa ruangan itu kedap suara. Borgol pada tangan Widi dan Nola diikatkan pada rantai di dinding ruangan itu sehingga terikat di atas kepala mereka. Sedangkan Lucy dibawa di tengah ruangan. Tangan dan kaki Lucy diikat, pertama kedua tangannya ditarik oleh tali itu hingga tubuh Lucy terangkat dari lantai dengan hanya bergantung pada tangannya. Kemudian kaki Lucy dikat dan ditarik hingga terbuka dan kedua talinya diikat ke gelang besi di lantai.

Sekarang Lucy tergantung tanpa menyentuh lantai menyerupai huruf X, seluruh berat badan Lucy bergantung pada tangan Lucy yang terikat ke atas. Kedua polisi itu mulai menanyai Lucy mengenai obat yang dibawanya. Lucy berusaha keras menjelaskan itu adalah obat yang diberikan dokter pada dirinya dan bukan obat terlarang. Keterangan itu hanya membuat polisi itu semakin marah. Hitam mendekati lemari yang ada di ruangan itu dan kembali dengan membawa sebuah pecut. Pecutannya yang pertama tepat mendarat di puting susu Lucy. Sunyi sejenak selama Lucy berusaha menghirup udara, sebelum akhirnya sebuah jerit kesakitan terdengar dari mulutnya.

Lucy merasa puting susunya serasa terbakar. Pecutan kembali datang dan jeritan Lucy kembali membahana ke seluruh ruangan. Kedua polisi itu menyiksa Lucy dengan sekuat tenaga, tanpa peduli dengan aturan dalam menanyai seorang tersangka. Dua pecutan kembali diarahkan ke kedua puting susu Lucy. Kemudian Hitam berhenti sejenak menunggu hingga Lucy dapat mengumpulkan tenaga untuk berbicara lagi. Lucy memohon pada mereka untuk berhenti menyiksanya, tapi mereka tetap terus menanyai Lucy tentang obat yang ia punyai dan hubungannya dengan para pengedar exctasy. Botak kemudian berbalik menuju lemari, dan kembali dengan mendorong sebuah unit yang mirip dengan mesin las yang biasa dibawa oleh tukang las keliling.

Unit itu disambungkan dengan saluran listrik di dinding. Botak kemudian mengambil dua buah sambungan dari mesin itu dan mendekati Lucy. Diujung sambungan itu terdapat jepitan buaya berukuran besar yang biasa digunakan untuk mengisi sebuah aki. Botak kemudian memilin dan memijat puting susu Lucy hingga perlahan tapi pasti puting susu Lucy mengeras dan mengacung, yang dengan segera dijepit oleh jepitan buaya tadi. Kembali Lucy menjerit-jerit kesakitan. Botak kembali mengulangi itu pada puting susu Lucy yang lain. Lucy hanya bisa menjerit-jerit ketika rasa sakit menyerang kedua puting susunya sekaligus.

Mesin yang terletak dihadapan Lucy mempunyai tombol putar yang berguna untuk mengatur besar arus listrik yang mengalir ke kabel yang tersambung ke jepitan buaya tadi. Lucy melihat dengan mata ketakutan melihat Botak meletakan tangannya di atas tombol putar tadi. Botak memutar tombol itu sedikit dan jarum penunjuk tampak melompat sedikit. Lucy dapat merasakan getaran di kedua puting susunya. Kembali Botak menanyai Lucy tentang obat-obatan tadi. Dan ketika jawaban Lucy tidak memuaskan dirinya, Botak memutar tombol tadi lebih jauh. Lucy kembali menjerit kesakitan ketika getaran di puting susunya berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan dan terus menyebar hingga menyakiti seluruh buah dadanya. Akhirnya rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuhnya yang terkejang-kejang. Itu berlangsung selama beberapa menit, dan setiap kali Botak memutar tombol itu lebih jauh lagi setelah berhenti untuk beberapa detik. Dan setiap kali rasa sakit yang terasa membuat Lucy menjerit semakin keras.

Kemudian Botak melepaskan salah satu jepitan buaya tadi dari puting susu Lucy dan menjepitkannya ke clitoris Lucy. Lucy sangat berharap ia bisa pingsan saat itu juga tapi tidak berhasil, dan ia harus merasakan rasa sakit yang kali ini menyerang puting susu dan clitorisnya sekaligus. Lucy masih tetap tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan pada Botak. Dan ia hampir tidak bisa menahan rasa sakit karena aliran listrik yang dialirkan ke seluruh tubunya. Tetapi tetap saja kedua polisi tadi terus menyiksanya. Kaki Lucy terbuka lebar membuat vaginanya terbuka terlihat jelas dengan tubuhnya yang tergantung. Botak kemudian melepaskan jepitan buaya itu dari puting susu dan clitoris Lucy. Dan mengambil sebuah dildo –penis buatan- yang terbuat dari logam. Panjangnya sekitar 30 senti dengan diameter sekitar 5 senti.

Botak kemudian menyambungkan kabel yang tadi tersambung ke jepitan buaya tadi, ke pangkal dildo tadi. Botak kemudian mendekati Lucy. Ia mengacungkan dildo tadi di wajah Lucy sambil mengulangi pertanyaannya soal obat tadi. Lucy sangat ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ia sama sekali tidak tahu menahu soal obat-obatan terlarang yang selalu ditanyakan. Botak kemudian menyalakan mesin tadi. Botak memegang dildo tadi pada pangkalnya yang dilapisi oleh karet dan plastik keras. Dan ujung dildo tadi didekatkan pada vagina Lucy.Botak menyeringai ketika ia menempelkan ujung dildo itu pada clitoris Lucy. Dan arus listrik kembali mengalir dari dildo tadi ke clitoris Lucy. Tubuh Lucy kembali mengejang kesakitan ketika aliran listrik kembali mengalir ke seluruh tubuhnya. Lucy kembali menjerit kesakitan. Botak kemudian mengarahkan ujung dildo tadi ke bibir vagina Lucy dan memasukannya ke dalam vagina Lucy.

Rasa sakit karena aliran listrik tadi dan masuknya dildo besar tadi yang membuka vagina dan merobek selaput daranya dengan brutal, membuat Lucy tidak bisa lagi bertahan, setelah dua puluh detik Lucy jatuh lemas dan pingsan.Botak terus menggerakan dildo tadi keluar masuk vagina Lucy selama sepuluh detik lagi. Kemudian ia menarik dildo itu keluar dan mematikan mesin tadi. Ia membiarkan Lucy yang tak sadarkan diri tetap tergantung dan berbalik mendekati Widi dan Nola. Kedua gadis itu melihat semua penyiksaan pada diri Lucy dengan penuh ketakutan.

Mereka sangat ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi pada diri mereka selanjutnya.Kedua polisi itu sudah menyadari ketiga gadis itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengedar obat terlarang tapi mereka memutuskan untuk tetap menanyai Widi dan Nola. Giliran selanjutnya adalah Widi. Widi dibawa ke tengah ruangan tepat disebelah Lucy dan diikat dengan cara yang sama dengan Lucy. Tapi tangan dan kakinya tidak terlalu ditarik hingga Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya di lantai. Dan Widi kembali ditanyai, dan jawaban yang di dapat tetap tidak memuaskan.Hitam mengambil sebuah kuda-kuda dari lemari. Kemudian ia memasang dildo logam tadi pada kuda-kuda tadi hingga berdiri tegak dengan ujung menghadap ke atas.

Hitam kemudian mendorong kuda-kuda tadi hingga terletak diantara kedua kaki Widi yang terbuka. Hitam kemudian merendahkan kuda-kuda tadi untuk kemudian memasukan dildo tadi ke vagina Widi. Mesin tadi masih belum dinyalakan sehingga dildo tadi tidak dialiri oleh listrik. Ketika kuda-kuda tadi telah mencapai tingginya, dildo tadi telah masuk sekitar 20 senti ke vagina Widi. Widi dengan kesakitan berusaha berjingkat untuk mengurangi rasa nyeri di selangkangannya. Botak kemudian mengambil sepasang jepitan dan menjepitkannya ke kedua puting susu Widi. Jepitan itu mempunyai desain khusus, sehingga setiap kali kabel yang ada diujungnya ditarik, jepitan itu akan semakin menjepit dengan gigi-giginya yang tajam.

Widi menjerit kesakitan ketika kedua puting susunya dijepit oleh jepitan tadi. Botak kemudian memasukan kabel yang ada diujung jepitan itu pada gelang besi yang ada di langit-langit hingga sekarang setiap kali kabel itu ditarik Widi akan menjerit kesakitan karena gigi jepitan itu menancap makin dalam diputing susunya. Dan kedua polisi tadi mulai penyiksaan pada Widi. Hitam memulai dengan menanyai Widi. Dan setiap kali jawaban Widi tidak memuaskan, sebuah pemberat digantungkan pada ujung kabel tadi. Dengan pemberat tadi kabel itu langsung tertarik dan menyebabkan jepitan tadi makin menancap ke puting susu Widi. Dengan segera puting susu dan buah dada Widi tertarik oleh pemberat yang terus ditambah di ujung kabel tadi. Widi berusaha bergerak maju untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan, tapi kuda-kuda dan dildo yang dimasukan dalam vaginanya membuat ia tidak bisa bergerak.

Setiap pemberat ditambah semakin keras Widi menjerit-jerit minta ampun. Jeritan Widi makin lama makin keras, karena Widi merasa puting susunya seakan telah dijepit hampir putus oleh jepitan tadi. Akhirnya, Hitam mendekati mesin listrik tadi dan mulai menyalakannya. Tubuh Widi melonjak ketika aliran listrik tiba-tiba mengalir, membuat tubuhnya menarik jepitan itu mundur dan membuat puting susunya makin sakit. Setiap lima detik sekali sebuah kejutan listrik mengalir melalui dildo tadi. Dan Botak terus menambah pemberat di ujung kabel jepitan tadi. Hitam terus menanyai Widi, tapi Widi terlalu kesakitan untuk bisa menjawab setiap pertanyaan. Widi hanya bisa menagis dan menjerit-jerit, berteriak minta ampun setiap kali kejutan listrik itu mengaliri tubuhnya.

Kedua polisi tadi akhirnya memutuskan bahwa Widi tidak bisa memberikan keterangan apapun. Aliran listrik tadi mulai dilemahkan kekuatannya hingga tidak sekuat tadi, tapi Widi tetap dibiarkan tergantung pada posisi seperti semula, sementara kedua polisi itu mendekati Nola untuk mulai menanyainya. Lucy masih tergantung tak sadarkan diri, sementara Widi dengan kaki terbuka, dan dildo logam dengan aliran listrik dimasukan dalam vaginanya, dan Nola mulai dipersiapkan untuk mulai ditanyai. Kedua polisi tadi menurunkan Lucy dan memborgolnya untuk kemudian menggantungkan borgol tadi pada gelang besi di dinding dan kakinya yang tergantung diikat pada gelang besi di lantai. Borgol di tangan Nola dilepaskan dan Nola digiring ke tengah ruangan tepat di tempat Lucy tergantung tadi.

Nola diperintahkan untuk berbaring terlentang. Kemudian kedua pergelangan kakinya diikat dengan tali yang tergantung pada gelang di langit-langit. Kemudian tali-tali itu ditarik, menyebabkan Nola tergantung dengan kepala di bawah, dan kakinya di atas terbuka lebar. Kepala Nola tergantung sekitar 15 senti dari lantai, dan kedua tangannya diikatkan pada gelang besi yang ada di lantai.Hitam mulai menanyai Nola, masih tentang pengedar obat terlarang. Hitam menyadari Nola juga tidak akan bisa memberinya informasi, tapi ia dan Botak akan tetap menanyainya untuk memuaskan mereka.Botak mendekati Nola dari belakang. Dengan posisi tergantung terbalik dan kaki terbuka lebar, vagina Nola terlihat jelas oleh Botak. Botak kemudian mengambil pentung polisi yang dibawanya dan memasukkanya ke dalam vagina Nola. Nola menjerit-jerit kesakitan, berteriak memohon Botak berhenti menyakiti dirinya, tapi Botak tidak mempedulikannya. Botak malah terus menekan petungannya makin dalam ke vagina Nola. Nola meronta-ronta menarik-narik ikatan di tangannya tanpa hasil.

Botak mulai menggerakan pentungan itu keluar masuk vagina Nola, sementara Hitam melihatnya sambil tertawa senang. Botak akhirnya menarik pentungan itu keluar dan memasukan jarinya ke dalam vagina Nola untuk memeriksa apakah vagina Nola sudah mengeluarkan cairan.Botak melihat selain cairan menempel pada jarinya, darah perawan Nola yang terlihat melumuri jarinya. Hitam masih terus menanyai Nola tanpa bisa dijawab oleh Nola. Hitam kemudian mengambil sebuah pecut.
Pegangan pecut tadi adalah sebuah dildo dan pecut itu terdiri dari sepuluh jalinan sekaligus dengan panjang sekitar 40 senti. Hitam memperlihatkan pecut itu pada Nola, dan Nola kembali menjerit-jerit minta ampun.

Hitam hanya tersenyum dan kembali menanyainya. Ketika Nola masih tidak bisa menjawab, Hitam mendekati Nola dan mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sepuluh jalinan pecut tadi tepat mendarat di vagina Nola, berlanjut ke perutnya. Rasa sakit yang ditimbulkan membuat Nola tersentak dan tidak bisa bernafas selama beberapa detik. Selanjutnya jerit kesakitan Nola terdengar melengking. Hitam terus mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sebelum akhirnya ia berhenti sejenak beristirahat. Sedangkan Nola terus menjerit-jerit ketika rasa sakit di vaginanya terus menyegat menyakiti seluruh tubuhnya. Ketika jeritan Nola berhenti, kembali Hitam mengajukan pertanyaan. Ketika masih tidak bisa dijawab oleh Nola, empat ayunan pecut kembali diayukan ke selangkangan Nola. Jeritan Nola kembali terdengar. Nola tak berdaya melindungi dirinya. Dan ia tidak bisa menjawab pertanyaan Hitam untuk bisa menghentikan ia terus memecuti dirinya. Nola masih terus dipecut untuk beberapa menit kemudian.Akhirnya kedua polisi tadi berhenti dan menjauhi Nola sambil berdiskusi. Mereka berbisik dan menunjuk-nunjuk ketiga gadis itu, kadang tertawa senang, sampai akhirnya mencapai sebuah keputusan.

Botak mengambil sebuah botol minuman keras dari lemari. Kedua polisi itu masing-masing meneguk botol itu, sebelum mereka kembali mendekati ketiga gadis itu. Tangan Nola dilepaskan dari ikatan di lantai. Kemudian kedua pergelangan tangan Nola diikat dengan tali yang tergantung pada langit-langit. Ketika tali-tali itu ditarik dan dikencangkan, Nola sudah tergantung pada kaki dan tangannya. Posisi tubuh Nola tergantung dengan bagian depan menghadap ke atas, kepalanya terdongak tergantung, dengan ketinggian tepat untuk diperkosa. Sedangkan Widi hampir kehabisan nafas, setelah sekian lama disengat oleh aliran listrik setiap lima detik sekali. Setiap kali listrik itu mneyengat rintihan terdengar dari bibir Widi yang memucat. Hitam kemudian mematikan mesin listrik tadi, membuat tubuh Widi terjatuh lemah lunglai, membuat dildo logam tadi terbenam makin dalam ke vagina Widi, dan Widi mengerang kesakitan.

Malam itu, Asmirandah baru saja hendak beristirahat sepulang sekolah ketika ada ketukan dipintu rumahnya. Ia pun bergegas membukakan pintu. Ternyata bang Tagor yang ada didepan pintu.

“Eh bang Tagor, ada apa bang?”
“Gini Dah, pak Mardi minta non segera ke tempat syuting, katanya shoot kemarin ada beberapa adegan yang harus diulang” kata bang Tagor
“Tapi sekarang kan Andah libur bang, Andah mau istirahat” jawabnya sedikit kesal.
“Tapi mau gimana lagi, sinetron ini kan kejar tayang, jadi harus dibereskan secepatnya, lagian adegannya gak banyak kok” kata bang Tagor
“Ya udah, kalo gitu Andah mau panggil mama dulu buat nganter ke tempat syuting”
“Gak usah non, biar bang Tagor yang nganter, nanti aja mama non Andah suruh jemput kalo syutingnya sudah selesai”
“Ya udah, tunggu yah, mau siap-siap dulu” kata Andah sambil bergegas
Setelah bersiap-siap dan berpamitan pada mamanya, Asmirandah pun berangkat ke tempat syuting diantar bang Tagor, yang memang sudah dipercaya baik olehnya maupun mamanya.

Tetapi ketika sampai ke tempat syuting, Asmirandah merasa aneh karena kru yang terlihat amat sedikit, hanya 4 orang ditambah pak Mardi sang sutradara. Apalagi tak ada satupun cast sineton itu yang terlihat di lokasi.
“kok cuman sedikit orangnya pak?” tanyanya
“Yah kan syutingnya cuman sebentar jadi gak perlu banyak orang, udah deh kamu siap-siap, tapi make up sendiri aja yah, soalnya Mince telat nih” jawab pak Mardi.
Asmirandah pun lalu memasuki rumah besar yang dijadikan tempat syuting itu. Didalam kamar yang dijadikan ruang ganti pakaian, dia pun lalu berganti pakaian dengan baju yang telah disiapkan, ternyata baju yang disiapkan adalah baju seragam sekolah yang amat minim, iapun lalu memakai seragam itu dan berjalan keluar. Belum sampai keluar rumah, diruang tamu telah menunggu Bang Tagor.
“Ayo Dah syutingnya di kamar tidur utama”, kata bang Tagor
Dea pun mengikuti ke arah kamar tidur utama yang sangat luas, didalamnya tampak kamera, lighting, dan peralatan tata suara telah diset.
“Tapi ini adegan yang mana? Terus mana pemain yang lain” tanya Asmirandah
“Pokoknya kamu duduk dulu diatas ranjang, terus memandang ke kamera” jawab pak Mardi, sementara keempat orang kru, pak Mardi dan bang Tagor semua menatap sebagian paha Asmirandah yang terpampang mulus dengan tatapan yang membuatnya risih.

Ia pun mendapat firasat yang kurang enak, namun dia akhirnya menuruti perkataan sang sutradara. Namun baru saja pantatnya menyentuh ujung tempat tidur, tampak dua orang kru yaitu Heri dan Pardi menghampiri Andah, tampak banyak bicara, mereka mengerubuti dan memegangi kedua tangannya.
“Ada apa ini, lepasin!” teriak Andah sekuat tenaga
Namun bukannya menjawab, mereka malah mengikat kedua tangan dan kaki Asmirandah Dengan tali keujung ranjang besi tersebut, sehingga kedua tangan dan kakinya terpentang lebar membentuk huruf X. Ikatan itu sungguh ketat, sehingga jangankan melepasan diri, untuk bergerak saja sudah sulit.

“Pak Mardi ada apa ini?” tanya Andah yang mulai ketakutan.
“Tenang aja Dah, kami-kami ini sudah lama punya niat untuk membuat film spesial buat kamu, daripada kamu main sinetron remaja terus, mendingan kamu bikin film bokep aja, nama kamu pasti bakal makin terkenal” jawab pak Mardi sambil terkekeh.
Pucatlah muka Andah mendengar jawaban ini, ia tahu petaka apa yang bakal menimpanya.
“Tolong pak jangan, saya belum pernah gituan” ibanya
Tetapi bukannya menjawab, para kru justru malah menjalankan kamera dan lampu dan mulai menshoot adegan didepannya. Asmirandah melihat Heri dan Pardi yang telah telanjang bulat mulai menaiki kasur ukuran besar tersebut.

Dia merasa ngeri, baru kali ini ia melihat tubuh pria dewasa yang telanjang. Heri dan Pardi pun memulai operasinya. Tangan Heri mulai membuka kancing seragamnya satu persatu, dan begitu tebuka, iapun menggunting kaos dalam dan BH yang dikenakan Andah dan melepasnya dengan paksa, hingga yang menutupi tubuh bagian atasnya hanyalah seragam yang telah tersingkap lebar. Sementara Pardi menyingkap rok seragam Asmirandah hingga ke perut, dan membelai-belai vagina Andah dari luar celana dalam warna biru yang ia pakai. Kemudian jari-jari tanganya bagaikan ular menyelusup dari samping celana dalamnya dan mengelus-elus bibir vagina Andah.
“waah, toketnya montok banget, kenceng banget lagi, padahal masih cilik”, komentar Heri yang tepat berada di depan payudara kanan Andah.
“Iya nih, udah cantik, toketnya sekel banget, udah gitu putih banget “, tambah si Pardi.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Heri langsung menghisap payudara kanan, sedangkan Pardi menghisap payudara kiri Asmirandah. Asmirandah terus meonta-ronta berusaha melepaskan diri, iapun berusaha berteriak, namun Heri segera membenamkan sapu tangan kedalam mulutnya dan membekapnya. Andi, salah seorang kru mendekat, ia meraih gunting yang tadi digunakan Heri, dan mulai menggunting celana dalam Andah yang masih ia kenakan. Karena kedua kaki Andah terentang lebar, begitu ia selesai menggunting celananya, terpampanglah vagina yang merekah berwarna merah muda. Vagina itu tampak begitu menggoda, dan ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih jarang, sehingga semua orang yang ada di ruangan itu menelah ludah memandangnya. Pak Mardi pun menshoot close up kearah vagina Asmirandah, sehingga di monitor di samping kamera yang sengaja diletakkan menghadap ke arah ranjang, Andah bisa melihat bagaimana vaginanya di close up dan di rekam oleh pak Mardi.’
“Denger yah, kalo kamu macem- macem rekaman ini bakal saya sebarin di internet, jadi mendingan kamu turuti saja semua perintah kami” bentak Tagor dari belakang lampu.
Asmirandah pun mulai menangis, jika rekaman ini sampai tersebar, bukan hanya karirnya yang akan hancur, tetapi juga nama baiknya dan keluarganya akan hancur berantakan, mau ditaruh dimana muka ini. Sehingga dia pun lalu mengangguk menurutinya.

Melihat korbannya pasrah, Heri dan Pardi lalu membuka semua ikatan pada tangan dan kaki Andah, dan mengambil saputangan dari mulutnya, merekapun lalu membuka semua sisa pakaiannya, hingga ia telanjang bulat diatas kasur. Heri dan Pardi lalu melanjutkan kegiatannya, sementara Andi yang juga sudah telanjang bulat, mendekati vagina Andah, Kedua tangganya lalu membuka kedua kaki Andah lebar-lebar, dan menguak bibir vaginanya hingga bagian dalam vaginanya merekah dan terlihat. Pak Mardi tak menyia-yiakankan dan terus menshoot vaginanya.
“Gila bagus banget nih memek, baru kali ini gue ngeliat memek sebagus ini” kata Andi yang mulai menggosok-gosok bibir vagina Andah, hingga artis cantik yang merasakan serasangan dari berbagai arah ini mulai mendesah tak terkontrol.
Andi pun mulai sedikit memasukan jarinya kedalam vagina Asmirandah hingga membuatnya mendesah dan mengangkat selangkangannya kearah tangan Andi.
“Wuih liat men, dia kayaknya demen nih” ejek Andi.
Merah kuping Andah mendengar ejekan ini, namun tiba-tiba mulut Pardi langsung mencium mulutnya dan lidahnya menyeruak masuk kedalam mulutnya, sementara remasan tangannya pada payudara Andah makin mengeras, sedotan Heri pun makin kencang. Andi pun yang sudah tidak tahan langsung menjilati vagina Asmirandah dengan semangat. Belum pernah ia merasakan ciuman seperti ini sebelumnya, apalagi diserang oleh berbagai rangangan ini, membuatnya mau tak mau harus mengakui bahwa ia menikmati semua perlakuan ini.
Tak lama Pardi bangkit dan menyodorkan penisnya kemulut sang artis.
“Isep Dah” perintah Pardi

Sejenak ia hanya menatap ngeri melihat penis Pardi yang berdenyut-denyut, belum pernah Ia melihat penis orang dewasa sebelumnya, karena ragu-ragu, Pardi yang sudah tidak sabar langsung menghujamkan penisnya yang gemuk kedalam mulut Andah. Artis muda cantik yang telah terangsang berat karena jilatan-jilatan lidah Andi pada vaginanya mulai menghisap penis Pardi seperti menghisap eskrim, sehingga Pardi pun merem melek keenakan dan memaju-mundurkan pantatnya, seperti orang yang sedang mengentot. Asmirandah merasakan kepalanya mulai terasa ringan, apalagi ketika lidah andi menerobos masuk kedalam vaginanya dan mengobok-oboknya. Sehingga ia merasakan sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya, dan cairanpun membanjir dari vaginanya, ternyata ia telah merasakan orgasme untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa enak luar biasa. Tapi ia terus melanjutkan hisapannya pada penis Pardi, bahkan menyelinginya dengan jilatan-jilatan.

“Gila men, isapannya, ternyata dia ahli ngisep kontol” ejek Pardi
Andah tak mempedulikan ejekan itu dan terus menghisap, hingga akhirnya ia merasakan tubuh Pardi bergetar dan tak lama kemudian ia merasakan semburan cairan dalam mulutnya. Cairan itu tersa aneh, asin, gurih dan hangat, Andah pun menelannya dan ternyata ia menyukai rasanya, sehingga ia pun terus menyedot penis Pardi untuk menghisap cairan yang mungkin masih tersisa, hal ini membuat Pardi makin kelojotan.
Pak Mardi yang tidak tahan melihat semua ini segera membuka semua pakaiannya dan naik keatas kasur dan memposisikan dirinya diantara kedua kaki sang artis yang mengangkang.
“Awas, gue duluan yang memerawaninya, kan gua sutradaranya!” teriak pak Mardi
Iapun lalu menyangkutkan kedua betis Andah ke bahunya yang lebar sambil mengarahkan penisnya ke vagina artis cantik yang baru berusia berusia 18 tahun itu.
“Pak, tolong jangan, jangan dimasukkin pak” pintanya.
Memang meskipun pernah beberapa kali pacaran, ia belum pernah sampai berhubungan seks, apalagi sekarang ini, Andah lebih berkonsentrasi untuk membangun karirnya, daripada pacaran.
“Tenang aja Dah, yang penting enak kan” jawab Pak Mardi yang disambut tawa mereka.

Perlahan-lahan sutradara itu mulai menancapkan penisnya pada vagina Andah, namun sulit karena vagina yang masih perawan, terlalu sempit untuk menerima penis sebesar itu. Sementara Heri dan Pardi melotot menyaksikan bagaimana si sutradara gendut separuh baya itu memerawani sang artis cantik yang masih amat muda. Akhirnya Asmirandah merasakan sesuatu yang besar menyeruak kedalam vaginanya. Iapun hampir menjerit karena pedih dan sakit, namun pagutan Heri membungkamnya. Dia merasakan penis itu berdenyut-denyut dalam memeknya, yang dipaksa untuk membuka selebar-lebarnya,selangkangannya seakan terbelah dua.
“Tenang yah non, sakitnya cuman sebentar kok” kata pak Mardi.
Asmirandah mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang penis Pak Mardi membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke dalam vaginanya
.
Setelah terasa terbiasa, ia mulai memaju mundurkan penisnya dengan perlahan. Dengan menahan rasa sakit, Andah menatap penis pak Mardi yang keluar masuk vaginanyanya, disertai sedikit darah perawan. Tak lama kemudian, pak Mardi mempercepat genjotannya, Andah pun merasakan sedikit nikmat, namun rasa perih masih menguasai, hingga pun menjerit -jerit dan menitikkan air mata. Sementara itu, Heri naik dan mendekati wajah Andah sambil mengelus-elus wajahnya dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Andah menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Heri yang hitam.
“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Heri sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Andah.

“Kamu belum pernah ngerasain punya gue kan?Buka mulut kamu, brengsek!” bentaknya ketika melihat Asmirandah tak bereaksi.
Perlahan mulut Asmirandah terbuka sedikit, dan Heri pun langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut yang indah tersebut. Mulut Asmirandah terbuka agar semua batang penis itu masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan itupun mulai bergerak keluar masuk di mulutnya,.

“Sedot…iyah gitu…ohhh !” lenguhnya sambil meremas rambut gadis itu.
Ketika Pak Mardi masih terus menggenjotnya, Pardi dan Andi ikut menikmati tubuh Andah dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh indah Asmirandah. Mereka mulai dengan memainkan buah dada dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik puting susunya. Mau tak mau, Andah mulai merasakan nikmat, sehingga jeritannya berubah mennjadi erangan tak jelas.

Lima menit kemudian penis Heri menumpahkan lahar panas di dalam mulut Andah.
“Uuggghh…asyiknya!,” lenguh Heri sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.
“Anjing, sip banget nyepongnya, sampai gak tahan lama gue” katanya lagi.
Ketika Heri menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya.
“Julurin lidah kamu!” perintahnya
Asmirandah yang sudah setengah sadar kerana merasakan kenikmatan yang amat sangat, membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Heri kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Andah, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Andah. Saat itu, tiba-tiba Pak Mardi yang sedang menggenjot vagina Andah berteriak
“Ngentot!! Keluuarrhh nih…Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari vagina Andah, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi, menyemprotkan sperma masuk ke dalam rahim sang artis remaja. Andah berontak ketika menyadari sperma Pak Mardi mengalir masuk ke rahimnya.
“Pak Jangan keluarin didalam! Nanti saya hamil” Ibanya bercucuran air mata
“Ya udah, lain kali kita keluarin dalam mulut lu aja” timpal Andi sambil tertawa-tawa
Andi sekarang ada di antara kaki Andah dan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang vagina yang merekah indah itu. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Andi yang besar itu membuka bibir kemaluan Andah yang masih sempit.

Setelah seluruh penisnya masuk dengan sempurna, ia kemudian memegang pinggul Andah dan berguling kesamping, sehingga tubuh Andah menindih tubuhnya. Sementara bang Tagor yang dari tadi hanya menonton sambil mengoperasikan kamera, mulai bergabung. Ia mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Andah.
“Dah tau kan non mesti gimana.” dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Andah, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testisnya berada di wajah Asmirandah.
Tiba-tiba, ia merasakan ada jari yang mengorek-orek anusnya, ketika ia menoleh, ia melihat Pardi yang meludahi lubang anusnya. Asmirandah tersadar apa yang akan dilakukan Pardi pada dirinya, ketika dirasanya batang penis Pardi mulai menempel di lubang anusnya.
“Jangan Bang, jangan! Ampun Bang, ampun, jangan…”
Asmirandah menjerit-jerit ketika kepala batang penis itu berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajahnya pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan itu mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Pardi hanya mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Andah tanpa peduli jerit kesakitan gadis itu. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Andah. Hingga akhirnya seluruh batang penis itu masuk, Andah hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Pardi beristirahat sejenak, beradaptasi sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Andah menjerit-jerit, bahkan kenikmatan yang ia rasakan dari genjotan Andi pada liang vaginanya, tidak bisa meredam rasa sakit yang ia rasakan pada anusnya.. Pardi terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat sang artis. Jadilah tubuh seksi dan putih itu digarap dari tiga arah, oleh Andi, Bang Tagor, dan Pardi. Setelah beberapa menit, Andah sudah mulai dapat merasakan kenikmatan dari penis-penis itu dan secara tidak sadar mulai menggoyangkan pinggulnya.

Mulanya Andah digenjot secara perlahan-lahan, akan tetapi kecepatannya terus ditingkatkan sehingga sampai suatu titik tertentu yang dapat membuat perasaannya terbang ke langit karena nikmatnya. Hal ini berlangsung selama 15 menit, hingga akhirnya Pardi mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Andah, kemudian menyembur ke pantat dan mengalir turun ke pahanya. Setelah beberapa lama, Andah merasakan tubuh Andi mengejang dan erangan nikmat keluar dari mulutnya. Sperma laki-laki itu menyembur masuk sebanyak-banyaknya ke dalam lubang vaginanya. Sambil terengah-engah ia menarik batang kemaluannya yang berlumur sperma dan darah perawan keluar dari tubuh Andah.

Sebelum artis muda itu sempat menarik nafas, Heri mengambil giliran selanjutnya dan dengan kasar ia juga mendorong batang kemaluannya masuk ke liang anus Andah yang masih meneteskan sperma. Heri kemudian menarik tubuhnya hingga Asmirandah terbaring telentang menindih tubuh Heri. Rasa sakit itu sekarang sudah berkurang tapi tetap menyakitkan sementara Heri tanpa peduli terus mendorong dan menarik batang kemaluannya. Andah memejamkan matanya berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan ngilu yang menyerang seluruh tubuhnya.

Sementara Bang Tagor yang masih belum orgasme, berjongkok di hadapan Andah, batang kemaluannya sudah tegang dan keras ketika ia tersenyum menyeringai pada si artis, ia lalu mengarahkan batang penisnya ke belahan vagina yang terpampang indah didepannya. Dengan satu dorongan keras batang kemaluan itu merobek masuk ke lubang vagina. Tubuh Andah terasa tersobek-sobek menerima sodokan dari dua arah itu. Terutama ketika batang kejantanan itu masuk ke dalam lubang anusnya yang kering dan sempit. Penis yang bergerak keluar masuk itu terasa seperti besi panas yang membuat nafasnya terputus-putus. Hal ini membuatnya menjerit kecil karena merasa sakit dan nikmat sekaligus. Asmirandah pun mulai meracau, “Ahh…, ahh…, oh…, oh…,” Inginnya ia menjerit nikmat, tapi mana mungkin ia mengaku bahwa ia mulai menikmati perkosaan itu.

Mulutnya tidak berhenti-henti mengeluarkan suara erangan nikmat dan juga kata-kata yang menggambarkan kenikmatan yang tiada tara. Melihat si artis cantik yang sudah seperti orang yang kerasukan setan nikmat itu, semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.
“Gila, keenakan dia”
“Tau nih, tadinya pura-pura gak mau,sekarang malah ketagihan”
“Gue yakin abis ini dia malah bakal minta kita buat ngentotin dia!”
“Dasar artis, di depan aja sok alim, sok imut, padahal kalau udah gini sama aja sama perek!”
Kata kata yang entah diucapkan oleh siapa itu membuat kuping Andah terasa panas. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu yang terjadi kok. Andah bahkan mulai melingkarkan tangannya ke leher Bang Tagor yang ada di atas tubuhnya dan menariknya mendekat, lalu menciumi bibir laki-laki itu tanpa canggung. Ia juga melingkarkan kakinya ke tubuh laki-laki itu. Selain itu, Andah juga melingkarkan dan mengunci kakinya ke pantat dan menariknya hingga penis Bang Tagor itu masuk lebih dalam ke dalam vaginanya, dibarengi olehnya dengan mengangkat pinggulnya. Sebelah tangan Andah mengusapi rambut Bang Tagor itu sementara yang lainnya merabai pundak dan punggungnya. Ia menciumi dan mengulum lidah laki-laki itu sembari mengeluarkan erangan, ia benar -benar telah menikmati semuanya, naluri seks dalam dirinya telah bekerja sedemikian hebat membuatnya lupa akan rasa malu dan harga dirinya. Beberapa menit kemudian jeritan Andah hanya tinggal erangan dan rintihan tapi genjotan bang Tagor bukannya berhenti tapi justru bergerak makin cepat. Tak lama kemudian, Bang Tagor menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Andah, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga.

Kepala Asmirandah terdongak dan lenguhan keras terdengar panjang keluar dari mulutnya. Bang Tagor mengejang beberapa saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina si artis cantik.
“Uuggghh…asyiknya!” lenguh Bang tagor sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.

Heri pun akhirnya tak tahan juga, penisnya serasa diremas kuat oleh dinding anus yang bergerinjal-gerinjal dan sempit itu. Penisnya memuntahkan sperma hangat ke dalam pantat artis muda itu, ia menekan dalam-dalam penis itu selama mengeluarkan isinya hingga akhirnya penisnya menyusut lalu ditariknya lepas. Asmirandah sekarang tergeletak tak bergerak di atas ranjang dengan sperma mengalir keluar dari vagina dan anusnya. Tubuhnya kesakitan seperti baru saja dipukuli. Ia mengerang lirih ketika dua orang menarik tangannya dan melemparkan bajunya.

“Wuih makasih banget yang Dah, udah mau ngelayanin kita semua. Tenang aja, nih rekaman gak bakal kemana-mana kok, asal kamu juga mau tutup mulut soal semua ini.” kata Pak Mardi sambil tersenyum.
Tanpa menjawab, Asmirandah memakai kembali semua pakaian, yang ia pakai ke tempat syuting. Minus BH dan celana dalamnya yang telah digunting oleh para pemerkosanya. Sambil menahan isak tangis, ia berjalan keluar dari rumah tersebut, diiringi senyuman para kru sinetron bejat yang baru saja menggarap tubuhnya habis-habisan.
Diluar, masih ada seorang kru yang tidak ikut memperkosanya, namanya Fandi.

“Non Andah, maafin saya yah, gak bisa bantu. Saya udah coba mencegahnya, tapi saya diancam akan dipecat dan dibunuh kalo saya coba melapor” katanya sedih sambil membantu Asmirandah berjalan kearah mobil dinas PH tersebut.
“Sini non, saya anter pulang ke rumah” kata Fandi sambil membuka pintu belakang mobil tersebut
Asmirandah pun naik kedalam mobil berlogo tersebut, ia tidak bicara apa-apa karena pikirannya masih berkecamuk, antara sedih, marah, dendam, tapi anehnya ketika mengingat semua peristiwa yang baru saja terjadi itu, tanpa sadar sebuah senyum terpampang diwajahnya. Ia menyeka vaginanya yang hanya ditutupi oleh rok pendeknya sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja ia alami di sekujur tubuhnya.

Terasa benar ada cairan kental yang hangat dan sedikit gatal menggelitik memenuhi vaginanya. Ia menggerakkan tangan untuk menyeka bibir vagina itu dan tangannya pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana. Tanpa sadar ia kemudian memasukkan jemarinya tersebut kedalam mulutnya, dan merasakan sperma dari beberapa lelaki yang barus saja menggarapnya itu.
“ehhm, enakk…” desahnya dalam hati.

Sepertinya lain kali, ia tidak perlu dipaksa untuk melakukan gangbang lagi. Bahkan dengan senang hati akan melakukannya. Mobil itupun terus berjalan menembus malam, menuju rumah sang artis Asmirandah. Sejak itulah Asmirandah mulai menjadi budak seks Pak Mardi, Bang Tagor dan kru-kru lainnya. Pak Mardi bahkan bertindak sebagai germo yang menjualnya dengan harga tinggi ke para eksekutif dan pejabat-pejabat tinggi. Namun di depan publik, Andah tetaplah Andah yang memiliki imej sebagai cewek imut, alim, dan innocent, karirnya pun makin melesat dan mulai merambah layar lebar.