Showing posts with label bdsm. Show all posts
Showing posts with label bdsm. Show all posts

Tubuhnya masih tergantung dengan tangan terikat ke langit-langit dan kakinya masih terbuka lebar. Kuda-kuda tadi dipindahkan, Dildo logam juga dikeluarkan dari vagina Widi. Ikatan pada kaki Widi dikendorkan, sedangkan tali pada pergelangan tangan Widi ditarik. Sekarang Widi tergantung terangkat dari lantai dengan kaki terbuka lebar dan seluruh berat badannya bergantung pada ikatan pada tangannya. Persis dengan posisi Lucy pada permulaan tadi. Widi baru berusaha mengumpulkan tenaganya kembali ketika Botak mendekati dirinya. Botak kemudian menuangkan minuman keras dari botol yang dipegangnya ke dalam mulut Widi.

Widi menelan cairan itu, lalu terbatuk-batuk ketika tenggorokannya terasa panas karena minuman itu.Kemudian ikatan pada tangan Widi dilepaskan dan Widi dibantu untuk berdiri di kedua kakinya. Botak terus menuangkan minuman keras ke mulut Widi, perlahan pucat dari wajah Widi mulai menghilang. Ketika kesadaran Widi pulih seluruhnya, ia melihat Lucy yang tergantung di dinding dan Nola yang digantung pada kedua tangan dan kakinya di tengah ruangan. Kedua polisi tadi telah melepaskan seluruh pakaiannya.

Botak kemudian mendorong tubuh Widi hingga jatuh berlutut.Kemudian Botak mendekatkan penisnya yang masih lemas ke mulut Widi dan memerintahkannya untuk mengulum penis itu. Widi teringat pada sebuah film dewasa yang pernah dilihatnya bersama Lucy dan Nola, dan ia menyadari apa yang diinginkan oleh polisi itu, Widi juga terlalu takut untuk menolak perintah itu. Widi kemudian memasukan penis itu dalam mulutnya dan mulai mengulumnya membuat penis itu mengeras dan membesar.Hitam berbalik mendekati Nola. Kepala dan vagina Nola tepat tergantung setinggi pinggang Hitam.

Hitam kemudian mendekati kepala Nola. Nola berusaha mengangkat kepalanya berusaha melihat semua yang dilakukan oleh kedua polisi tadi. Hitam menarik kepala Nola hingga terdongak ke atas lagi dan mendekatkan penisnya pada mulut Nola. Nola juga menuruti kemauan Hitam, mengulum dan menjilati penisnya, takut akan apa yang mungkin akan terjadi jika ia menolaknya.Kedua penis polisi tadi segera mengeras dan membesar. Keduanya sudah sangat bernafsu. Botak yang sedang memperkosa mulut Widi sedang bersiap-siap untuk memperkosa Lucy.
Karena tubuh Lucy yang tergantung tinggi dari lantai, Botak membutuhkan sebuah kotak untuk bisa menambah tingginya hingga penisnya bisa masuk ke vagina Lucy. Tapi ternyata kotak itu terlalu tinggi hingga terpaksa Botak menekuk kakinya untuk bisa mengarahkan kepala penisnya ke bibir vagina Lucy. Ketika Botak meluruskan kakinya, penis Botak terdorong masuk ke vagina Lucy yang terluka karena penyiksaan tadi. Lucy kembali mengeluarkan jerit kesakitan.

Kakinya yang terikat erat membuat ia tidak ikut terangkat ke atas ketika penis Botak mulai masuk ke vaginanya. Botak mulai bergerak keluar masuk, membuat vagina Lucy yang sudah terluka bertambah sakit dan nyeri. Botak terus bergerak selama beberapa menit sebelum akhirnya mengerang dan menyemburkan spermanya ke dalam vagina Lucy. Hitam sudah mulai memperkosa Nola. Dengan tubuh tergantung demikian, Hitam dengan mudah dapat berdiri di antara kedua kaki Nola dan memasukan penisnya ke dalam vagina Nola. Tali-tali yang mengikat Nola membuat tubuh Nola dapat berayun ke segala arah. Hitam berdiri tepat di depan selangkangan Nola. Ia memasukan dua jarinya ke dalam vagina Nola dan mulai menggerakannya keluar masuk sampai cairan keluar dari vagina Nola.

Hitam kemudian mendekat dan memasukan penisnya ke dalam vagina Nola. Tubuh Nola mulai berayun ke depan. Hitam memegangi pinggang Nola dan menariknya kembali ke belakang membuat penisnya terbenam makin dalam ke vagina Nola. Kemudian Hitam hanya perlu berdiri dan memegangi pinggang Nola sambil menarik dan mendorong tubuh Nola ke depan dan ke belakang membuat penisnya keluar masuk vagina Nola. Hitam terus menikmati vagina Nola untuk beberapa saat. Sedangkan Nola hanya bisa berteriak kesakitan setiap kali penis Hitam yang besar menerobos masuk ke vaginanya yang masih sempit.

Akhirnya setelah beberapa menit Hitam mencapai orgasme, dan menyemprotkan spermanya ke vagina Nola. Kedua polisi itu sudah puas dengan orgasme pertama mereka, dan mereka berdua bersiap untuk kembali mempermaikan ketiga gadis itu lagi. Widi, Nola dan Lucy masing-masing diberi minuman keras oleh mereka untuk menyadarkan mereka dari shock perkosaan yang baru mereka alami. Lucy dan Nola dibiarkan tergantung pada posisi mereka ketika diperkosa tadi.

Hitam mendekati lemari dan kembali dengan membawa sebuah alat kejutan listrik. Di ujung alat yang berbentuk seperti ketapel itu terdapat bulatan lugam. Jika bulatan logam itu ditempelkan pada tubuh seseorang maka tubuh orang itu akan disengat oleh aliran listrik yang kuat. Hitam mendekat pada Widi dan menempelkan ujung alat itu pada pantat Widi. Kejutan listrik yang terjadi membuat tubuh Widi terlompat dan mengejang disertai jerit kesakitan Widi. Kemudian Widi ditarik mendekat pada Lucy. Widi berlutut di hadapan Lucy.

Kemudian ia diperintahkan untuk memasukan jarinya ke vagina Lucy. Widi mulanya menolak, tapi ia berubah pikiran melihat ujung alat yang dipegang oleh Hitam mendekat ke buah dadanya. Widi mulai memasukan dua buah jarinya ke vagina Lucy yang baru saja diperkosa oleh Botak. Jari Widi dengan mudah masuk karena sperma Botak masih terlihat mengalir keluar dari vagina Lucy. Hitam kemudian memerintahkan agar Widi memasukan satu jari lagi. Tiga jari Widi masih dapat dengan mudah masuk ke vagina Lucy. Ketika Widi mendorong masuk keempat jarinya sekaligus, vagina Lucy mulai terasa sempit. Widi harus mendorong lebih keras agar jari-jarinya bisa masuk, yang mengakibatkan Lucy mengerang kesakitan. Akhirnya dengan dorongan keras keemapt jari Widi bisa masuk ke vagina Lucy.

Setelah itu Hitam akhirnya menyuruh Widi memasukan seluruh jari dan tangannya masuk ke vagina Lucy. Widi menarik jarinya dari vagina Lucy dan menggelengkan kepalnya menolak perintah Hitam. Ujung alat Hitam menempel ke buah dada Widi. Widi berteriak kesakitan, dan tubuhnya terlempar ke lantai. Hitam terus mendekati tubuh Widi. Alat itu selanjutnya menempel di selangkangan Widi. Widi kembali berteriak kesakitan. Widi kemudian merangkak mendekati Lucy yang tergantung di dinding. Ketika tubuh Widi kembali disentuh oleh alat tadi, Widi memasukan seluruh jarinya ke vagina Lucy. Lucy menjerit-jerit kesakitan. Widi berusaha keras agar dirinya tidak disakiti lagi oleh Hitam, berusaha memasukan tangannya ke vagina Lucy yang makin lama menjerit makin keras dan memilukan. Widi terus berusaha mendorong kelima jarinya masuk ke vagina Lucy, perlahan berusaha mengurangai rasa sakit yang diderita oleh Lucy.

Tapi tangan Widi adalah benda terbesar yang pernah berusaha masuk ke vagina Lucy. Dan ketika bibir vagina Lucy melebar berusaha dimasuki oleh tangan Widi, rasa sakit yang ditimbul semakin menjadi-jadi. Akhirnya dengan satu dorongan keras seluruh jari Widi masuk ke dalam vagina Lucy. Ketika pangkal ibu jari Widi masuk bersamaan dengan keempat jari Widi dan membuat bibir vagina Lucy membuka tambah lebar, Lucy berteriak dan menronta-ronta kesakitan. Ketika seluruh telapak tangan Widi masuk, bibir vagina Lucy menjepit erat pergelangan tangan Widi. Widi dapat merasakan bagian dalam vagina Lucy berdenyut-denyut. Sedangkan Lucy merasa dirinya seperti hamil merasakan tangan Widi masuk seluruhnya.

Hitam kemudian menempelkan kembali alat listrik tadi ke buah dada Widi. Ketika tubuh Widi terlompat kesakitan, tangan Widi tertarik dari vagina Lucy. Tangan Widi tertarik sebagian keluar dan tersangkutpadavagina Lucy. Lucy kembali menjerit kesakitan. Sedangkan Widi hanya bisa menangis. Perlahan Widi berhasil menguasai dirinya dan menyadari sebagian tangannya masih ada di dalam vagina Lucy. Widi kemudian berusaha menarik tangannya dan setelah beberapa saat tangan itu berhasil ditariknya keluar dari vagina Lucy. Lucy terus berteriak dan menjerit kesakitan sementara Botak dan Hitam menonton sambil tertawa senang melihat Lucy meronta-ronta kesakitan. Hitam kemudian mendekatkan alatnya pada vagina Lucy. Jeritan Lucy, terdengar seperti binatang yang sangat kesakitan, melolong tinggi. Lucy terus dibiarkan tergantung pada dinding.

Sementara itu Lucy sendiri masih terus menangis dan merintih kesakitan, merasakan vaginanya yang bagaikan terobek oleh masuknya tangan Widi tadi. Kedua polisi itu bersiap untuk menyiksa Widi sekarang. Pertama-tama mereka membawa Widi kembali ke tengah ruangan. Botak kemudian mengambil sebuah benda yang membuat wajah Widi memucat ketakutan. Benda itu berupa logam sepanjang satu meter dengan dua buah dildo logam dilas pada tengah-tengahnya. Dildo yang satu berukuran besar, sekitar 25 senti panjang dan berdiameter 10 senti. Yang satu lagi panjangnya 15 senti dan berdiameter sekitar 3 senti.

Tangan Widi kembali diborgol ke belakang. Kedua puting susunya dijepit oleh jepitan yang pernah dijepitkan pada puting susunya tadi. Jepitan yang akan menjepit makin keras jika kabel yang ada diujungnya ditarik. Kembali Widi menjerit ketika puting susunya yang sekarang berwarna ungu kembali dijepit oleh jepitan buaya itu. Kemudian kabel tadi ditarik dankemudiandiikatkan pada gelang besi yang ada di langit-langit. Sekarang puting susu dan buah dada Widi tertarik keatas sehingga Widi berusaha berjinjit untuk mengurangi rasa sakit yang timbul. Selanjutnya batang besi tadi diletakan diantara kedua kaki Widi dengan dildo yang berukuran besar di depan. Tali-tali dari langit-langit diikatkan pada kedua ujung batang logam tadi dan untuk kemudian tali itu ditarik hingga batang logam tadi terangkat ke atas, menuju ke arah vagina dan anus Widi. Dildo yang besar bersentuhan dengan bibir vagina Widi. Hitam mengarahkan agar ujung dildo logam itu tepat di liang vagina Widi.

Botak terus menarik tali yang mengikat batang tadi. Dildo itu mulai membuka bibir vagina Widi dan menerobos masuk. Widi menjerit kesakitan ketika vaginanya melebar berusaha dibuka oleh dildo logam tadi yang terus masuk karena batang tadi ditarik ke atas oleh Botak. Kemudian dildo yang lebih kecil mulai menempel ke liang anus Widi. Widi menjerit ketakutan menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika dildo kecil itu mulai menempel, tubuh Widi ikut terangkat ke atas. Liang anusnya tidak membuka untuk dildo yang kecil itu. Tapi berat tubuh Widi, membuat tubuh Widi yang pada mulanya ikut terangkat perlahan turun. Dan itu menyebabkan liang anus Widi mulai membuka perlahan dimasuki oleh dildo kecil tadi. Rasa sakit yang dirasakan oleh Widi tak terkira. Widi belum pernah merasakan satu bendapun masuk ke dalam anusnya yang kecil dan sempit. Tapi sekarang liang anus itu terbuka perlahan, diterobos oleh dildo logam itu. Untuk sesaat Widi melupakan dildo besar yang juga terus terbenam masuk ke vaginanya karena sakit yang terasa amat sangat terdapat pada anusnya.

Perlahan seluruh dildo tadi terbenam seluruhnya ke vagina dan anus Widi. Tapi logam itu terus terangkat membuat tubuh Widi juga ikut terangkat dari lantai. Dengan tangan terborgol ke belakang Widi tidak bisa menjaga keseimbangannya ketika tubuhnya terangkat dari lantai. Tubuh Widi mulai terjatuh ke depan, sampai akhirnya tertahan oleh kabel yang terikat pada jepitan di puting susu Widi. Widi menjerit-jerit ketika jepitan itu menjepit makin dalam karena tertarik oleh tubuhnya yang jatuh ke depan. Widi terus menerus menjerit sampai akhirnya tubuh Widi benar-benar terangkat dari lantai dengan tergantung pada kabel yang ada diputing susunya dan dua dildo yang masuk dan mengangkat tubuhnya dari lantai. Ketika selesai, tubuh Widi tergantung sekitar satu meter dari lantai.

Kedua polisi itu bergantian mendorong tubuh Widi hingga terayun-ayun membuat Widi menjerit kesakitan karena kabel jepitan yang ada di puting susunya ikut tertarik. Puting susu dan buah dada Widi tampak memerah dan kemudian berubah menjadi ungu karena terus menerus ditarik dan dijepit makin keras. Akhirnya mereka puas mendengar jerit kesakitan dari Widi. Mereka menurunkan batang logam tadi sehingga sekarang Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya tapi kedua dildo yang jepitan tadi masih ada di tempatnya masing-masing. Penyiksaan pada diri Widi membuat nafsu pada kedua polisi itu bangkit lagi. Satu-satunya gadis yang masih tersisa adalah Nola, yang masih tergantung terlentang pada kaki dan tangannya. Mereka berdua mendekati Nola.

Hitam mendekati kepala Nola sedangkan Botak berdiri di depan selangkangan Nola. Hitam memasukan penisnya yang masih lemas ke mulut Nola, sementara Botak memasukan tiga jarinya ke dalam vagina Nola dan melebarkan bibir vagina Nola. Nola meronta kesakitan, tapi ia hanya bisa berayun-ayun dalam ikatannya, sedangkan mulutnya sudah dipenuhi oleh penis yang terus membesar dan mengeras. Ketika penis telah mengeras seluruhnya, ia memberi tanda pada Botak dan mereka bertukar tempat. Mereka mulai memperkosa Nola secara bersamaan. Sebuah penis yang lemas kembali masuk ke dalam mulutnya dan penis Hitam yang keras dan tegang masuk ke dalam vaginanya. Kembali tubuh Nola berayun kedepan dan belakang. Dan ketika penis Botak telah mengeras seluruhnya ia mendorong penis itu makin dalam ke tenggorokan Nola.

Dalam sesaat vagina dan tenggorokan Nola mulai diperkosa oleh penis Hitam dan Botak. Setelah beberapa menit kedua polisi itu mencapai puncak dan keduanya menyemburkan spermanya ke vagina dan mulut Nola. Ketiga gadis itu tergantung kesakitan dalam ruangan itu. Lucy tergantung di dinding. Kakinya terikat pada lantai dan terbuka lebar. Tangannya terasa sakit karena terikat dan menanggung berat tubuhnya. Widi berdiri dengan tangan terborgol ke belakang. Jepitan pada puting susunya membuat Widi tidak berani bergerak sedikitpun. Dan di antara kedua kakinya terdapat batang logam dengan dua buah dildo logam yang terbenam masuk ke vagina dan anusnya. Nola terikat dan tergantung pada kedua kai dan tangannya. Vaginanya teluka karena dipecuti dan dirinya baru diperkosa secara bersamaan. Setelah beristirahat sejenak kedua polisi tadi mulai lagi membuat ketiga gadis itu saling menyiksa temannya masing-masing. Nola diturunkan dari ikatan.

Hitam memberinya minuman keras untuk memulihkan seluruh kesadarannya. Hitam kemudian menyerahkan pecut yang tadi dipergunakannya pada Nola sendiri. Sedangkan Lucy serta Widi masih terikat dan tergantung di ruangan itu. Hitam kemudian memerintahkan Nola agar mulai memecuti mereka, sampai mereka menyuruh Nola berhenti. Dan jika ia tidak menuruti perintah itu, Noal sendir yang akan merasakan pecut itu sekali lagi. Nola tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah itu. Nola mendekati tubuh Lucy yang masih tergantung. Seluruh tubuh Lucy terpampang dan dapat dipecuti oleh Nola. Nola berbisik mohon maaf ketika dirinya makin dekat dengan Lucy. Dengan ragu-ragu ia mengayunkan pecutnya ke paha Lucy. Lucy menjerit kesakitan, tapi Hitam berteriak agar Nola mengayunkan pecut itu lebih keras lagi. Kembali Nola mengayunkan pecutnya ke paha Lucy, yang membuat Lucy menjerit lebih keras lagi.

Hitam kemudian merampas pecut itu dari tangan Nola dan menyuruh Nola membungkukan badannya. Nola terdiam. Hitam mengancam akan menghukum Nola lebih menyakitkan jika Nola tidak menuruti perintahnya. Nola berbalik dan membungkukan badannya. Hitam mengayunkan pecut tadi sekuat tenaga mengarah pada pantat Nola. Nola menjerit dan jatuh tersungkur ke lantai, tangannya menutupi bekas merah yang timbul pada pantatnya. "Bangun!" Hitam berteriak. Tubuh Nola tidak bertenaga untuk bangkit setelah pecutan yang sangat menyakitkan tadi. Ketika melihat Nola tetap berbaring di lantai Hitam mulai mengayukan pecutnya lagi. Pecut itu mendarat di perut Nola kemudian pada punggung Nola. Nola berusaha bangkit untuk menghentikan pecutan tersebut. Dan ketika ia berhasil berdiri dengan sempoyongan, Hitam menghentikan pecutannya. Hitam menunggu hingga Nola membungkuk lagi. Pecutan yang datang lebih keras dari sebelumnya. Nola berusaha bertahan dengan menggigit bibirnya agar tidak tersungkur lagi. Ia terus menjerit kesakitan tapi tetap berdiri membungkuk.

Hitam kemudian menyerahkan pecutnya kembali ke Nola dan menyuruhnya agar menggunakan tenaganya. Nola mengambil pecut itu dan berjalan tertatih-tatih mendekati Lucy. Pantatnya terasa sangat sakit dan ia tidak ingin Hitam kembali memecutnya. Nola kemudian mengayunkan pecut pada paha Lucy sekuat tenaganya. Lucy kembali menjerit. Hitam mengangguk dan melihat Nola mengayunkan pecutnya lagi. Kembali jeritan Lucy terdengar. Hitam kemudian menyuruh Nola memecuti Lucy dari depan. Nola menangis selain karena sakit yang dirasakannya pada pantatnya, juga karena ia menyiksa sahabatnya Lucy. Nola mengayunkan pecutnya ke puting susu Lucy. Lucy menjerit dan mengejang. Kembali pecut itu mendarat di puting susu Lucy. Selanjutnya pecut itu mengarah ke vagina Lucy. Jeritan Lucy makin tinggi dan keras sekarang. Hitam membiarkan Nola memecuti puting susu dan vagina Lucy untuk beberapa saat. Hitam kemudian memerintahkan agar Nola memasukan gagang pecut yang berbentuk penis itu ke vagina Lucy. Nola memandang gagang itu ketakutan, tapi Hitam mendekatinya membuat ia segera melaksanakan perintah tadi.

Nola mulai mendorong gagang pecut tadi masuk ke vagina Lucy. Lucy mengerang kesakitan ketika dirasakannya ujung gagang itu mulai memasuki vagina yang terluka tadi. Nola perlahan berhasil memasukan sekitar 20 senti dari gagang itu ke dalam vagina Lucy. Sementara Lucy terus merintih kesakitan. Hitam kemudian menyuruh Nola menggerakan gagang pecut itu. Nola segera menggerakan gagang pecut tadi keluar masuk vagina Lucy. Lucy menrintih dan meronta-ronta ketika vagina yang telah terluka karena tangan Widi tadi kembali digesek-gesek oleh gagang pecut yang kasar. Nola terus menggerakan gagang tadi selama beberapa menit, sebelum Hitam menyuruhnya untuk berhenti. Botak kemudian mendekati Lucy dan melepaskan ikatannya.

Tubuh Lucy langsung ambruk ke tanah. Memau-memar dan garis-garis merah terlihat di sekujur tubuh Lucy. Botak kembali menuangkan minuman keras ke mulut Lucy untuk menyadarkannya. Setelah beberapa saat Lucy mampu berdiri di atas kakinya. Sementara itu Nola kembali diperintahkan untuk memecuti tubuh Widi. Nola mengayunkan pecutnya ke punggung Widi. Tubuh Widi terlonjak sehingga puting susunya makin terjepit dan membuat ia berteriak kesakitan. Nola memecut Widi sebanyak empat kali. Perut, pantat, dan buah dadanya mendapat pecutan dari Nola dan Widi menangis keras ketika akhirnya Nola berhenti. Widi kemudian dilepaskan. Jepitan dari puting susunya dilepaskan dan kedua tangannya juga dibebaskan dari borgol. Widi berusaha mengeluarkan kedua dildo tadi dari vagina dan anusnya tapi ia merasa kesakitan setiap kali ia berusaha menariknya keluar.

Akhirnya Botak dan Hitam secara bersamaan menarik batang loga tadi dengan brutal. Ketika mereka menarik batang logam tadi, kedua dildo itu tertarik keluar dan membuat Widi menjerit, dan terlihat darah melumuri kedua dildo tadi. Widi menutupi vagina dan anusnya denga tangannya berharap bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Sekarang ketiga gadis itu telah selesai disiksa oleh botak dan Hitam. Kelima orang di ruangan itu semuanya telanjang bulat. Ketiga gadis itu telah dibebaskan dari semua ikatan mereka. Boatk dan Hitam lalu berpakaian kembali, dan memakaikan pakaian penjara kepada ketiga gadis itu. Sekarang mereka bertiga terbaring lemah dalam sebuah sel yang terkunci. Botak dan Hitam akan mulai menanyai mereka lagi keesokan harinya.

Tamat

AB Three in Bondage 1


Widi, Lucy, Nola dari kelompok vokal AB-Three sedang berlibur di salah satu pulau di kepulauan Seribu. Mereka ingin sekali pergi dari hiruk-pikuk kota Jakarta, dan juga memanfaatkan waktu kosong selama tiga bulan karena sepinya panggilan untuk show. Akan tetapi ternyata liburan itu berubah menjadi sebuah mimpi bagi mereka bertiga. Mereka sedang beristirahat di pondok, setelah sehari penuh berlari-lari dan bersenang-senang di pantai, ketika terdengar ketukan di pintu. Widi membuka pintu.


Dan dengan segera tiga orang polisi masuk ke pondok itu. Ketiga gadis itu tidak mempunyai kesempatan bertanya apa yang terjadi karena dengan segera tangan mereka diborgol dan mereka digiring ke mobil tahanan yang menunggu di luar. Ketiga polisi itu juga mengemasi semua pakaian ketiga gadis itu dan membawanya pergi sehingga tidak ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di pondok itu. Kemudian mereka dibawa ke sebuah markas polisi. Setelah sampai mereka digiring ke ruang interogasi di bawah tanah.
Ketiga gadis itu dituduh menggunakan exctasy selama mereka berlibur di pulau itu. Mreka memprotes tuduhan itu tapi polisi itu tidak peduli atas sanggahan Widi, Lucy dan Nola. Ketiga gadis itu ditanyai secara bersamaan pada awal pemeriksaan. Mereka sangat ketakutan, tapi karena tuduhan itu sama sekali tidak benar, mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari para polisi itu.

Dua dari polisi tersebut yang satu berbadan besar dan hitam, sedang yang satu lagi berkepala botak. Kemudian Widi ditarik berdiri untuk digeledah. Sedangkan Lucy dan Nola masih terborgol dan duduk di atas kursi melihat penggeledahan tersebut. Hitam berdiri di belakang Widi dan memegangi bahunya. Tangan Widi masih terborgol ke belakang. Hitam mulai menggeledah seluruh tubuh Widi, mulai dari dada, pinggang kemudian turun ke paha dan kakinya. Ketika Hitam tidak menemukan apapun ia mengangguk kepada Botak dan melanjutkan pencarian secara lebih seksama. Botak mendekat dan mulai melepaskan kancing baju Widi. Widi ketakutan dan mulai berteriak dan meronta-ronta. Botak menutup mulut Widi dengan tangannya dan menyuruhnya untuk diam.Widi terus berteriak, Botak kemudian menjepit hidung Widi dan menutup mulut Widi. Widi mulai kehabisan nafas dan terus meronta-ronta.

Hitam menyuruhnya untuk diam. Botak melepaskan tangannya dan berkata "Diam, atau kamu mati!" Widi tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu. Botak melanjutkan menelanjangi Widi. Ia melepaskan kancing baju Widi dan melepaskannya hingga bagian depan tubuh Widi terbuka. Kedua polisi itu sejenak memandangi buah dada Widi yang tertutup oleh BH putih berenda. Hitam meraba buah dada Widi yang masih tertutup BH itu.
 Kemudian ia mulai melepaskan kancing dan restleting jeans Widi. Jenas itu dengan segera dapat ditarik turun. Hitam menarik sepatu Widi dan kemudian melepaskan jeans dan kaki Widi. Selangkangan Widi juga tertutup oleh celana dalam putih yang dihiasi oleh renda kecil. Hitam langsung menarik celana dalam itu membuat vagina Widi terlihat. Rambut vagina yang halus membuat kedua polisi itu masih bisa melihat samar-samar bibir vagina Widi. Keduanya memperhatian bibir vagina itu selama beberapa saat tapi tanpa menyentuhnya. Karena tangan Widi masih terborgol ke belakang, baju dan BH Widi tidak bisa dilepaskan. Botak mengambil kunci borgol dan melepaskan borgol itu dari tangan Widi.

Kemudian baju dan BH Widi segera dilucuti dari tubuh Widi. Itu membuat buah dada Widi yang bulat sedang terpampang dengan jelas dihadapan kedua polisi itu. Widi sekarang berdiri telanjang bulat ditengah ruangan dihadapan polisi itu. Kedua polisi itu seakan-akan lupa dengan tugas penggeladahannya dan mulai merabai tubuh Widi. Ketika Widi mulai meronta, Hitam memukul buah dada Widi dengan tangannya keras-keras. Jerit kesakitan Widi segera diredam oleh tangan Botak yang menutup mulutnya. Widi diperingati untuk tetap diam dan tidak bersuara. Widi denga putus asa diam ketika tubuhnya diraba-raba oleh tangan kedua polisi tadi. Sementara Lucy dan Nola melihat semua yang terjadi dan ketakutan menyadari mereka akan mendapat perlakuan yang sama.

Widi yang kadang masih meronta, membuat kedua polisi tersebut sadar tujuan mereka menelanjangi Widi. Mereka segera mulai menggeledah tubuh Widi secara seksama. Rambut Widi diperiksa diikuti dengan mulut kemudian kulitnya. Kemudian Widi dibaringkan di atas sebuah meja dan dipaksa untuk menangkat kakinya hingga menempel ke dadanya, membuat vagina terlihat jelas ke atas. Hitam memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Widi dan mulai mencari-cari dengan jarinya itu. Widi merasa sangat kesakitan, dan malu mendapati seseorang memasukan jarinya ke dalam alat kelaminya. Ketika tidak juga ditemukan sesuatu, kedua polisi tadi memutuskan untuk memeriksa anus Widi. Widi ditarik berdiri dan diperintahkan untuk membungkuk berpegangan pada meja tadi. Hitam membuka kaki Widi dan berjongkok di belakang Widi.

Kemudian ia mendorong jari tengahnya masuk ke dalam liang anus Widi. Widi mulai menjerit kesakitan lagi, tapi Botak mendekatinya dan mengancamnya akan memukuli Widi jika ia terus berteriak. Widi dipaksa untuk merasakan anusnya diperiksa secara brutal oleh Hitam tanpa mengeluarkan suara. Lucy dan Nola dapat mendengar nafas Widi tersentak dan tubuh Widi mengejang setiap kali jari Hitam berputar-putar di dalam anus Widi. Setelah mereka selesai memeriksa tubuh Widi, dengan tangan kembali terborgol ke belakang dan telanjang bulat, Widi dibawa mendekati Lucy dan Nola.
Widi didudukan di atas kursi sementara kedua polisi tadi membawa Lucy ke tengah ruangan. Proses pencarian pada Lucy sama dengan yang dilakukan pada Widi, tapi Lucy ditemukan membawa beberapa obat-obatan untuk dirinya. Ketika polisi menemukan itu, Hitam langsung segera menelanjangi Lucy kembali memeriksa tubuh Lucy secara seksama. Kedua polisi itu secara bergantian memasukan jari mereka ke vagina dan anus Lucy. Setelah mereka selesai air mata sudah meleleh di seluruh wajah Lucy. Selanjutnya Nola mendapat giliran untuk diperiksa. Dan tetap tidak ditemukan sesuatu.

Kedua polisi itu juga memeriksa vagina dan anus Nola dengan jarinya. Rontaan Nola hanya membuat mereka semakin brutal memeriksa vagina dan anusnya. Hitam memasukan jari tengah dan telunjuknya ke dalam vagina Nola, kemudian menekuknya dan memutarnya sehingga ia bisa memeriksa seluruh bagian dalam vagina Nola. Kemudian setelah mereka selesai mereka mulai menanyai ketiga gadis itu yang masih duduk terborgol, telanjang bulat. Karena obat yang ditemukan pada dirinya kedua polisi itu mulai menanyai Lucy. Ketiga gadis itu digiring masuk ke ruangan kedua. Ketika masuk terlihat bahwa ruangan itu kedap suara. Borgol pada tangan Widi dan Nola diikatkan pada rantai di dinding ruangan itu sehingga terikat di atas kepala mereka. Sedangkan Lucy dibawa di tengah ruangan. Tangan dan kaki Lucy diikat, pertama kedua tangannya ditarik oleh tali itu hingga tubuh Lucy terangkat dari lantai dengan hanya bergantung pada tangannya. Kemudian kaki Lucy dikat dan ditarik hingga terbuka dan kedua talinya diikat ke gelang besi di lantai.

Sekarang Lucy tergantung tanpa menyentuh lantai menyerupai huruf X, seluruh berat badan Lucy bergantung pada tangan Lucy yang terikat ke atas. Kedua polisi itu mulai menanyai Lucy mengenai obat yang dibawanya. Lucy berusaha keras menjelaskan itu adalah obat yang diberikan dokter pada dirinya dan bukan obat terlarang. Keterangan itu hanya membuat polisi itu semakin marah. Hitam mendekati lemari yang ada di ruangan itu dan kembali dengan membawa sebuah pecut. Pecutannya yang pertama tepat mendarat di puting susu Lucy. Sunyi sejenak selama Lucy berusaha menghirup udara, sebelum akhirnya sebuah jerit kesakitan terdengar dari mulutnya.

Lucy merasa puting susunya serasa terbakar. Pecutan kembali datang dan jeritan Lucy kembali membahana ke seluruh ruangan. Kedua polisi itu menyiksa Lucy dengan sekuat tenaga, tanpa peduli dengan aturan dalam menanyai seorang tersangka. Dua pecutan kembali diarahkan ke kedua puting susu Lucy. Kemudian Hitam berhenti sejenak menunggu hingga Lucy dapat mengumpulkan tenaga untuk berbicara lagi. Lucy memohon pada mereka untuk berhenti menyiksanya, tapi mereka tetap terus menanyai Lucy tentang obat yang ia punyai dan hubungannya dengan para pengedar exctasy. Botak kemudian berbalik menuju lemari, dan kembali dengan mendorong sebuah unit yang mirip dengan mesin las yang biasa dibawa oleh tukang las keliling.

Unit itu disambungkan dengan saluran listrik di dinding. Botak kemudian mengambil dua buah sambungan dari mesin itu dan mendekati Lucy. Diujung sambungan itu terdapat jepitan buaya berukuran besar yang biasa digunakan untuk mengisi sebuah aki. Botak kemudian memilin dan memijat puting susu Lucy hingga perlahan tapi pasti puting susu Lucy mengeras dan mengacung, yang dengan segera dijepit oleh jepitan buaya tadi. Kembali Lucy menjerit-jerit kesakitan. Botak kembali mengulangi itu pada puting susu Lucy yang lain. Lucy hanya bisa menjerit-jerit ketika rasa sakit menyerang kedua puting susunya sekaligus.

Mesin yang terletak dihadapan Lucy mempunyai tombol putar yang berguna untuk mengatur besar arus listrik yang mengalir ke kabel yang tersambung ke jepitan buaya tadi. Lucy melihat dengan mata ketakutan melihat Botak meletakan tangannya di atas tombol putar tadi. Botak memutar tombol itu sedikit dan jarum penunjuk tampak melompat sedikit. Lucy dapat merasakan getaran di kedua puting susunya. Kembali Botak menanyai Lucy tentang obat-obatan tadi. Dan ketika jawaban Lucy tidak memuaskan dirinya, Botak memutar tombol tadi lebih jauh. Lucy kembali menjerit kesakitan ketika getaran di puting susunya berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan dan terus menyebar hingga menyakiti seluruh buah dadanya. Akhirnya rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuhnya yang terkejang-kejang. Itu berlangsung selama beberapa menit, dan setiap kali Botak memutar tombol itu lebih jauh lagi setelah berhenti untuk beberapa detik. Dan setiap kali rasa sakit yang terasa membuat Lucy menjerit semakin keras.

Kemudian Botak melepaskan salah satu jepitan buaya tadi dari puting susu Lucy dan menjepitkannya ke clitoris Lucy. Lucy sangat berharap ia bisa pingsan saat itu juga tapi tidak berhasil, dan ia harus merasakan rasa sakit yang kali ini menyerang puting susu dan clitorisnya sekaligus. Lucy masih tetap tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan pada Botak. Dan ia hampir tidak bisa menahan rasa sakit karena aliran listrik yang dialirkan ke seluruh tubunya. Tetapi tetap saja kedua polisi tadi terus menyiksanya. Kaki Lucy terbuka lebar membuat vaginanya terbuka terlihat jelas dengan tubuhnya yang tergantung. Botak kemudian melepaskan jepitan buaya itu dari puting susu dan clitoris Lucy. Dan mengambil sebuah dildo –penis buatan- yang terbuat dari logam. Panjangnya sekitar 30 senti dengan diameter sekitar 5 senti.

Botak kemudian menyambungkan kabel yang tadi tersambung ke jepitan buaya tadi, ke pangkal dildo tadi. Botak kemudian mendekati Lucy. Ia mengacungkan dildo tadi di wajah Lucy sambil mengulangi pertanyaannya soal obat tadi. Lucy sangat ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ia sama sekali tidak tahu menahu soal obat-obatan terlarang yang selalu ditanyakan. Botak kemudian menyalakan mesin tadi. Botak memegang dildo tadi pada pangkalnya yang dilapisi oleh karet dan plastik keras. Dan ujung dildo tadi didekatkan pada vagina Lucy.Botak menyeringai ketika ia menempelkan ujung dildo itu pada clitoris Lucy. Dan arus listrik kembali mengalir dari dildo tadi ke clitoris Lucy. Tubuh Lucy kembali mengejang kesakitan ketika aliran listrik kembali mengalir ke seluruh tubuhnya. Lucy kembali menjerit kesakitan. Botak kemudian mengarahkan ujung dildo tadi ke bibir vagina Lucy dan memasukannya ke dalam vagina Lucy.

Rasa sakit karena aliran listrik tadi dan masuknya dildo besar tadi yang membuka vagina dan merobek selaput daranya dengan brutal, membuat Lucy tidak bisa lagi bertahan, setelah dua puluh detik Lucy jatuh lemas dan pingsan.Botak terus menggerakan dildo tadi keluar masuk vagina Lucy selama sepuluh detik lagi. Kemudian ia menarik dildo itu keluar dan mematikan mesin tadi. Ia membiarkan Lucy yang tak sadarkan diri tetap tergantung dan berbalik mendekati Widi dan Nola. Kedua gadis itu melihat semua penyiksaan pada diri Lucy dengan penuh ketakutan.

Mereka sangat ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi pada diri mereka selanjutnya.Kedua polisi itu sudah menyadari ketiga gadis itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengedar obat terlarang tapi mereka memutuskan untuk tetap menanyai Widi dan Nola. Giliran selanjutnya adalah Widi. Widi dibawa ke tengah ruangan tepat disebelah Lucy dan diikat dengan cara yang sama dengan Lucy. Tapi tangan dan kakinya tidak terlalu ditarik hingga Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya di lantai. Dan Widi kembali ditanyai, dan jawaban yang di dapat tetap tidak memuaskan.Hitam mengambil sebuah kuda-kuda dari lemari. Kemudian ia memasang dildo logam tadi pada kuda-kuda tadi hingga berdiri tegak dengan ujung menghadap ke atas.

Hitam kemudian mendorong kuda-kuda tadi hingga terletak diantara kedua kaki Widi yang terbuka. Hitam kemudian merendahkan kuda-kuda tadi untuk kemudian memasukan dildo tadi ke vagina Widi. Mesin tadi masih belum dinyalakan sehingga dildo tadi tidak dialiri oleh listrik. Ketika kuda-kuda tadi telah mencapai tingginya, dildo tadi telah masuk sekitar 20 senti ke vagina Widi. Widi dengan kesakitan berusaha berjingkat untuk mengurangi rasa nyeri di selangkangannya. Botak kemudian mengambil sepasang jepitan dan menjepitkannya ke kedua puting susu Widi. Jepitan itu mempunyai desain khusus, sehingga setiap kali kabel yang ada diujungnya ditarik, jepitan itu akan semakin menjepit dengan gigi-giginya yang tajam.

Widi menjerit kesakitan ketika kedua puting susunya dijepit oleh jepitan tadi. Botak kemudian memasukan kabel yang ada diujung jepitan itu pada gelang besi yang ada di langit-langit hingga sekarang setiap kali kabel itu ditarik Widi akan menjerit kesakitan karena gigi jepitan itu menancap makin dalam diputing susunya. Dan kedua polisi tadi mulai penyiksaan pada Widi. Hitam memulai dengan menanyai Widi. Dan setiap kali jawaban Widi tidak memuaskan, sebuah pemberat digantungkan pada ujung kabel tadi. Dengan pemberat tadi kabel itu langsung tertarik dan menyebabkan jepitan tadi makin menancap ke puting susu Widi. Dengan segera puting susu dan buah dada Widi tertarik oleh pemberat yang terus ditambah di ujung kabel tadi. Widi berusaha bergerak maju untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan, tapi kuda-kuda dan dildo yang dimasukan dalam vaginanya membuat ia tidak bisa bergerak.

Setiap pemberat ditambah semakin keras Widi menjerit-jerit minta ampun. Jeritan Widi makin lama makin keras, karena Widi merasa puting susunya seakan telah dijepit hampir putus oleh jepitan tadi. Akhirnya, Hitam mendekati mesin listrik tadi dan mulai menyalakannya. Tubuh Widi melonjak ketika aliran listrik tiba-tiba mengalir, membuat tubuhnya menarik jepitan itu mundur dan membuat puting susunya makin sakit. Setiap lima detik sekali sebuah kejutan listrik mengalir melalui dildo tadi. Dan Botak terus menambah pemberat di ujung kabel jepitan tadi. Hitam terus menanyai Widi, tapi Widi terlalu kesakitan untuk bisa menjawab setiap pertanyaan. Widi hanya bisa menagis dan menjerit-jerit, berteriak minta ampun setiap kali kejutan listrik itu mengaliri tubuhnya.

Kedua polisi tadi akhirnya memutuskan bahwa Widi tidak bisa memberikan keterangan apapun. Aliran listrik tadi mulai dilemahkan kekuatannya hingga tidak sekuat tadi, tapi Widi tetap dibiarkan tergantung pada posisi seperti semula, sementara kedua polisi itu mendekati Nola untuk mulai menanyainya. Lucy masih tergantung tak sadarkan diri, sementara Widi dengan kaki terbuka, dan dildo logam dengan aliran listrik dimasukan dalam vaginanya, dan Nola mulai dipersiapkan untuk mulai ditanyai. Kedua polisi tadi menurunkan Lucy dan memborgolnya untuk kemudian menggantungkan borgol tadi pada gelang besi di dinding dan kakinya yang tergantung diikat pada gelang besi di lantai. Borgol di tangan Nola dilepaskan dan Nola digiring ke tengah ruangan tepat di tempat Lucy tergantung tadi.

Nola diperintahkan untuk berbaring terlentang. Kemudian kedua pergelangan kakinya diikat dengan tali yang tergantung pada gelang di langit-langit. Kemudian tali-tali itu ditarik, menyebabkan Nola tergantung dengan kepala di bawah, dan kakinya di atas terbuka lebar. Kepala Nola tergantung sekitar 15 senti dari lantai, dan kedua tangannya diikatkan pada gelang besi yang ada di lantai.Hitam mulai menanyai Nola, masih tentang pengedar obat terlarang. Hitam menyadari Nola juga tidak akan bisa memberinya informasi, tapi ia dan Botak akan tetap menanyainya untuk memuaskan mereka.Botak mendekati Nola dari belakang. Dengan posisi tergantung terbalik dan kaki terbuka lebar, vagina Nola terlihat jelas oleh Botak. Botak kemudian mengambil pentung polisi yang dibawanya dan memasukkanya ke dalam vagina Nola. Nola menjerit-jerit kesakitan, berteriak memohon Botak berhenti menyakiti dirinya, tapi Botak tidak mempedulikannya. Botak malah terus menekan petungannya makin dalam ke vagina Nola. Nola meronta-ronta menarik-narik ikatan di tangannya tanpa hasil.

Botak mulai menggerakan pentungan itu keluar masuk vagina Nola, sementara Hitam melihatnya sambil tertawa senang. Botak akhirnya menarik pentungan itu keluar dan memasukan jarinya ke dalam vagina Nola untuk memeriksa apakah vagina Nola sudah mengeluarkan cairan.Botak melihat selain cairan menempel pada jarinya, darah perawan Nola yang terlihat melumuri jarinya. Hitam masih terus menanyai Nola tanpa bisa dijawab oleh Nola. Hitam kemudian mengambil sebuah pecut.
Pegangan pecut tadi adalah sebuah dildo dan pecut itu terdiri dari sepuluh jalinan sekaligus dengan panjang sekitar 40 senti. Hitam memperlihatkan pecut itu pada Nola, dan Nola kembali menjerit-jerit minta ampun.

Hitam hanya tersenyum dan kembali menanyainya. Ketika Nola masih tidak bisa menjawab, Hitam mendekati Nola dan mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sepuluh jalinan pecut tadi tepat mendarat di vagina Nola, berlanjut ke perutnya. Rasa sakit yang ditimbulkan membuat Nola tersentak dan tidak bisa bernafas selama beberapa detik. Selanjutnya jerit kesakitan Nola terdengar melengking. Hitam terus mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sebelum akhirnya ia berhenti sejenak beristirahat. Sedangkan Nola terus menjerit-jerit ketika rasa sakit di vaginanya terus menyegat menyakiti seluruh tubuhnya. Ketika jeritan Nola berhenti, kembali Hitam mengajukan pertanyaan. Ketika masih tidak bisa dijawab oleh Nola, empat ayunan pecut kembali diayukan ke selangkangan Nola. Jeritan Nola kembali terdengar. Nola tak berdaya melindungi dirinya. Dan ia tidak bisa menjawab pertanyaan Hitam untuk bisa menghentikan ia terus memecuti dirinya. Nola masih terus dipecut untuk beberapa menit kemudian.Akhirnya kedua polisi tadi berhenti dan menjauhi Nola sambil berdiskusi. Mereka berbisik dan menunjuk-nunjuk ketiga gadis itu, kadang tertawa senang, sampai akhirnya mencapai sebuah keputusan.

Botak mengambil sebuah botol minuman keras dari lemari. Kedua polisi itu masing-masing meneguk botol itu, sebelum mereka kembali mendekati ketiga gadis itu. Tangan Nola dilepaskan dari ikatan di lantai. Kemudian kedua pergelangan tangan Nola diikat dengan tali yang tergantung pada langit-langit. Ketika tali-tali itu ditarik dan dikencangkan, Nola sudah tergantung pada kaki dan tangannya. Posisi tubuh Nola tergantung dengan bagian depan menghadap ke atas, kepalanya terdongak tergantung, dengan ketinggian tepat untuk diperkosa. Sedangkan Widi hampir kehabisan nafas, setelah sekian lama disengat oleh aliran listrik setiap lima detik sekali. Setiap kali listrik itu mneyengat rintihan terdengar dari bibir Widi yang memucat. Hitam kemudian mematikan mesin listrik tadi, membuat tubuh Widi terjatuh lemah lunglai, membuat dildo logam tadi terbenam makin dalam ke vagina Widi, dan Widi mengerang kesakitan.

Kepala gadis itu terkulai lemah, tangannya terentang terikat di atas kepala dengan tambang rami ke arah langit-langit ruangan, pergelangan tangan gadis itu memar memerah dan tampak tergores dan rembesan darah membasahi pergelangan tangannya.
Posisinya berlutut di atas marmer, dengan lutut terbuka selebar bahu. Nampak genangan sperma tepat di bawah selangkangan sang gadis, sementara di pahanya nampak lelehan sperma yang mengering yang bersumber dari vagina dan anusnya yang memar dan menganga....

Sayup-sayup gadis itu mendengar suara sepatu yang menghampirinya dan samar dari mata yang tertutup lapisan sperma kering yang memenuhi wajahnya kini ia melihat sepasang high heel boot. Perlahan kepalanya mengangangkat ke arah tubuh yang berbalut gangster girl wardrobe, kepala gadis itu kembali terkulai, namun matanya berusaha menengadah ketika sosok itu berjongkok di hadapannya.

Ia merasa dagunya diangkat. Kini ia bisa, walau dengan samar, melihat sosok wanita di depannya.
'tolong....aku...' desis gadis itu dengan suara parau, tenggorokan dan kerongkongannya terasa panas, karena serbuan penis yang menginginkan deepthroath darinya.
Wanita di depannya memandangnya dengan mimik tertarik, dan dengan senyum iblis yang tak kentara ia berkata
'kamu kenapa sayang.... kenapa kondisimu seperti ini?', desah wanita itu dengan keprihatinan yang dibuat-buat....
Suara parau gadis itu kembli terdengar...
'mereka....memperkosaku...menyakitiku...menyiksaku...'
'siapa mereka sayangku...?'
'entah...entah...demi Tuhan... tolong aku... lepaskan aku...' suara parau itu bercampur dengan histeria....
'shhh...tenangkan dirimu.... kau tak mau mereka datang dan memperkosamu lagi kan?'
Peringatan wanita berambut pirang itu cukup dapat menenangkan gadis itu...
'ceritakan apa yang mereka lakukan padamu...'

Seperti bendungan yang jebol... tanpa menyadari kondisi tubuhnya yang masih berantakan, gadis itu menceritakan apa yang menimpanya...
'entah siapa mereka.... aku bahkan tak sempat mengenali mereka...mereka menyergapku dalam taxi yang aku tumpangi....'
gadis itu terisak, elusan di rambutnya yang kusut masai dan lengket oleh sperma menenangkannya...'mereka... mereka membawaku ke gedung ini....aku coba melawan.... namun mereka bertiga terlalu kuat buatku.....'
'mereka begitu kejam... mereka sama sekali tak memperdulikan diriku.... aku dianggap penampungan sperma.....'
kembali isak sang gadis mengisi hening ruangan itu.
'mereka menelanjangi aku, membakar pakaianku.....dan tanpa peduli memperkosaku....mereka melecehkan aku...menyamakan aku dengan pelacur bahkan merendahkan aku lebih dari pelacur... mereka buat aku bagai binatang....'

Wanita itu bergetar... kenangan masa lalunya kembali hadir......she knows....
'sakit sekali....' keluh gadis itu menghiba....
'mereka mengoyak-ngoyak vaginaku dengan penis-penis mereka, memaksaku menelan penis mereka....bau sekali bulu selangkangan mereka, masam.....dan mereka... mereka memaksaku menelan sperma mereka...'
mimik mual gadis itu nyata, terlebih menyadari perutnya terisi semprotan sperma yang berulang menyerbu lambungnya...
'dan anusku...mereka membuatku benar-benar bagai binatang.... mereka menyodomiku, lagi dan lagi dan lagi.... sakit sekali... dan mereka memaksaku membersihkan penis mereka....'
'aku....aku....aku makan kotoranku sendiri!'

ledakan tangis itu tak tertahan...
sang wanita berusaha tegar...walau getaran di tubuhnya makin jelas...memory yang mengerikan itu bersliweran....namun seketika itu ia mampu menghentikan sentimentil momment di pikirannya dan dengan sinisme yang tak dapat dideteksi gadis yang tersedu itu, sang wanita mampu membuat gadis itu kembali bercerita...

'dan mereka...mereka sepertinya tak ingin aku merasakan secuilpun kenikmatan... mereka menampari aku, mencambuki aku... meludahi aku..., bahkan mereka mengencingi aku....'
'oh...tolong aku... lepaskan aku....' kembali sang gadis berada dalam histeria....
'sakit sekali....perkosaan ini...hinaan ini....sakit sekali....'

Wanita itu berujar...
'perkosaan bukan untuk dinikmati sayang.... tak ada kenikmatan dalam tiap hujaman penis... perkosaan diciptakan untuk menyakiti....'
'aku tau...aku sakit... tolong.. lepaskan...lepaskan' gadis itu meronta, melupakan sakit di pergelangan tangannya yang makin tersayat....
'shhhh sayang....tenang....atau mereka akan kembali....'
'tolong aku.... selamatkan aku...' lirih sang gadis.....

Tangan wanita itu menelusuri leher jenjang sang gadis, turun ke dadanya yang memerah dan berisi jejak sabetan ikat pinggang... turun keperut hingga berada tepat di atas bibir vagina sang gadis yang masih saja mengeluarkan lelehan sperma....
Wanita itu berbicara bagai kepada dirinya sendiri....
'banyak sekali...bisa hamil...'

'tidak...ooh tidak... demi tuhan tidak.... aku tak mau... tolong keluarkan sperma ini dari dalam rahimku... aku tak mau hamil oleh mereka...' gadis itu panik menyadari fakta yang jelas...walau ini perkosaan, pembuahan tetap bisa terjadi... kembali gadis itu menatap penuh permohonan pada sang wanita....
'i'll do anything... just get this cursed seed off my body....'

Wanita itu tersenyum...
'kenapa? bukankan keindahan wanita dan keutuhan wanita bila bisa memberikan keturunan?'
'damn...' sergah sang gadis yang makin menjadi dalam kegalauannya....
'lebih baik aku mandul daripada hamil benih terkutuk ini, aku....'
'beware of what you're asking for....semuanya bisa terjadi...'

gadis itu menggolak....
'i'll do anything for you if you can make that happen.....'
mata sang wanita berkilat penuh kemenangan....
'oh you will sweetheart....you will...'

Lalu sang wanita melepaskan belenggu sang gadis, dan memapah tubuh lunglai itu menuju sebuah ruangan putih bersih, dengan sebuah meja periksa dokter kandungan.
wanita itu merebahkan tubuh lemah sang gadis, memposisikan penyangga lutut hingga kaki sang gadis mengangkan dan mengekspose vagina dan anus yang memar memerah dan menganga itu dengan bebasnya.
'ini untuk keselamatanmu sendiri' kata sang wanita sambil mengeratkan strap di paha, pergelangan tangan, pinggul dan di atas buah dada sang gadis yang nampak bertanya-taya namun terlalu lemah bahkan untuk menggeliat sekalipun.

Kemudian wanita itu menarik sebuah meja dorong dengan beberapa buah suntikan besar di atasnya, kemudian wanita itu mengambil sebuah suntikan, memandang sang gadis dan berkata...
'kamu benar-benar menginginkan ini?'
anggukan lemah sang gadis menjadi jawaban....
'siapa kamu....sebenarnya' desah sang gadis...
'aku Andrea, Andrea Lee....kamu mungkin tak kenal siapa aku...'
'aku....kenal...'
'shhhhh..'potong Andrea, 'tak usah bicara, aku tau siapa kamu Julie...., tapi kamu tak kenal aku....', lalu Andrea menyelipkan bantalan karet di gigi Julie hingga gadis itu tak lagi bisa bersuara.
Andrea meremas payudara kiri Julie, dan menyuntikkan cairan obat itu tepat melalui putingnya. Julie berjengit, dan membelalak ketika Andrea mengambil suntikan kedua dan meremas payudara kanannya...
Andrea meneruskan monolognya...
'aku tidak menolongmu sayang... aku justru akan menjadikanmu budakku....dan ucapanmu yang menyerahkan hidupmu dalam tanganku sudah menjadi segel...', kembali Julie berjengit karena payudara kanannya menerima injeksi...
'aku sudah melalui semua yang kamu rasakan tadi... itu belum sebeberapa sayang... kamu akan menerima lebih banyak lagi penis dan siksaan....'

Suntikan ke tiga
'kamu akan melayani banyak gelandangan....pengemis...orang-orang terpinggirkan....dan mereka hanya akan membuatmu jadi penampungan sperma.
Julie coba menggoyang tubuhnya dengan percuma ketika buah pantat sebelah kirinya diinjeksi....

'mereka juga akan menyakitimu, karena entah kenapa mereka makin terangsang ketika kamu kesakitan...namun akhirnya aku tau... rontaan tubuh, teriakan teredam. Semuanya menyebabkan kontraksi otot tenggorokan, mulut, vagina dan anus...and damn! they love that...'
Injeksi ke empat...

Kini tangan Andrea bermain di lubang anus Julie yang membuka lebar...
'anusmu tidak hanya akan menerima penis, lubang pembuanganmu ini akan merasakan benda asing lainnya seperti kayu, besi, sayuran, bahkan fisting....'
Andrea nampak sangat menikmati expresi kalut sang gadis ketika injeksi kelima dilakukan pada dinding dalam anusnya...

Julie menggelengkan kepalanya dengan frustasi ketika jemari Andrea membelai vaginanya yang perih itu dan membuka labianya...
'bahkan hewan-hewanpun akan menikmati vaginamu, tubuhmu... kamu akan jadi betina mereka...and that include stalion horses baby....'
Andrea merasakan tubuh Julie menegang ketika daging vaginanya ditembus jarum suntik....

'dan kini, aku memberikanmu berkah sekaligus kutukan. Berkah dan kutukan yang sama yang diberikan padaku....'
'suntikan di payudara dan bokongmu akan membuat keduanya padat dan sekal, tidak akan turun walau diremas, dibetot atau digigiti. sementara di anus dan vaginamu akan membuat kedua lubang penampungan spermamu itu akan rapat seperti perawan lagi bila satu jam kamu tidak menerima penis....'
Julie merasa pusing, pikirannya kacau... bagaimana bisa ia jatuh dalam genggaman wanita psycho ini

Seakan mengerti pikiran Julie, Andrea berkata...
'I'm the one who select you to be our sex slave.... to replace me...hihihi...' kikik Andrea geli...
'Jangan tanya salah kamu apa atau kenapa kami pilih kamu... murni karena ingin... nothing special, anggap saja ini nasib burukmu....'

Andrea lalu beringsut mundur menjauhi Julie yang mulai menggeliat merasakan sensasi kram disekujur tubuhnya...
'ahhh...efek obat mulai bekerja... enjoy...oh by the way... kamu ngga usah takut hamil lagi... semua cairan injeksi tadi mengandung sterilizer terkuat yang pernah ada....'
Suara Andrea mulai sayup dan tak terdengar oleh Julie yang merasakan kesakitan disekujur ubuhnya....
'indung telurmu sudah mati... kamu akan seperti aku Julie....mandul....'
'enjoy your life as slave bitch....'

Gaung tawa Andrea menggantung ditingkahi lenguhan kesakitan Julie yang makin tersiksa hingga tak sanggup lagi bertahan untuk kemudian jatuh pingsan....
********

Ketika Julie tersadar ia mendapati dirinya masih terikat di meja periksa itu, matanya nanar memandang sekeliling dan ia melihat banyak layar monitor yang kini mengekspose tubuh telanjangnya dengan bebas...
Benar... ia melihat vagina dan anusnya kembali rapat seperti saat dia perawan dulu..tapi apa inin yang diinginkannya? Juga bentuk pinggul, pantat dan buah dadanya yang sekal itu...Andrea benar... ini berkah sekaligus kutukan....

'ready sweet heart?'
Julie tersentak, Andrea yang kini telanjang hingga tubuh sexy bagai atlit aerobik profesional itu masuk dalam ruangan bersama tiga orang pria berwajah sangar dan dengan senyum penuh kepuasan dan nafsu....
'Perkenalkan tiga orang yang kemarin ber jam-jam menikmati tubuhmu...kekasihku Arman, dan ini kedua temannya... dan kini mereka akan menjadi tuanmu....'
Keempat orang itu mendekati meja periksa, dan melihat tubuh Julie yang menggeletar antara ngeri, tak percaya dan ketakutan....

Ketika mereka memperkosanya sebelum ini Julie tak menyadari sosok pemerkosanya, namun kini dalam ruangan yang terang benderang itu ia bisa melihat penis-penis tegang dan besar yang beberapa saat lalu merobek tubuhnya teracung dengan jelas...
Sedangkan Andrea tubuh moleknya hanya berbalut straped high heel, dan menggunakan gothick make up serta sebuah bullwhip digenggamannya.
Julie berusaha berontak, namun ikatan tubuhnya sangat erat...

Ketika penis Arman berada di bibir vaginanya, Julie tau kalau horor itu akan berulang kembali.....
'by the way slave...'kata Andrea dingin, 'kamu panggil aku nyonya...'
Jeritan teredam keluar dari mulut Julie ketika Arman menyentak penisnya ke dalam vaginanya yang masih kering itu...
Sakitnya bagai petama kali ia diperawani pacarnya dulu... bahkan lebih sakit karena sekarang ia diperkosa, tanpa cumbuan, hanya hujaman penis....
Benar-benar kutukan, terlebih ketika kedua teman Arman, satpam dan tukang kebun itu meremasi payudara Julie dengan kasar

Dengan tenang Andrea mendekati kepala Julie, ia benar-benar menikmati expresi wajah Julie yang bercampur antara takut, benci, sedih dan pasrah. Andrea menikmati linangan airmata keputusasaan Julie membasahi wajah gadis yang kini terhentak-hentak oleh sodokan Arman...
Andrea lalu menurunkan tingkap meja di bawah kepala Julie, hingga kepala sang gadis terjuntai...

Andrea merenggut gum shield Julie, lalu dengan kasar memasang dental gag di mulut gadis yang dengan lemah coba meronta.
Jerit kesakitan kini terdengar jelas dari mulut Julie yang merasakan mulutnya dipaksa membuka hingga maksimal, sementara vaginanya tetap disodoki dengan brutal...
Andrea tersenyum binal dan berbisik di telinga Julie....
'sekarang kita latih lagi tenggorokanmu....', lalu Andrea melirik tukang kebunya dan mengedip binal.

Suara kumur terdengar dari mulut Julie yang kini tenggorokannya menjadi batu asah untuk penis tukang kebun yang dengan kejam menghujamkan penisnya dalam tenggorokan sang gadis..
Julie gelagapan karena sang tukang kebun dengan sengaja menahan penisnya dalam-dalam hingga buah zakarnya menutup lubang hidung Julie hingga sang gadis kehabisan nafas dan tubuhnya berkontraksi liar yang malah memberikan kenikmatan lebih pada Arman, yang merasaka perasan vagina sang gadis di penisnya.
Tukang kebun itu juga dengan buas merojoki mulut sang gadis hingga sang gadis tersedak dan muntah hingga mengotori wajah cantiknya yang nampak sangat mengibakan...

Kemudian mereka melapaskan tubuh lemah Julie dari meja periksa namun bukan berarti perkosaan itu usai. Masih dengan penis Arman di vaginanya, kini Julie dipaksa berwoman on top dan kembali mulunya di jejali penis tukan kebun, hingga kini bukan buah zakar melainkan bulu kemaluan yang lebat dan masam yang menutupi hidung sang gadis yang nampak frustasi itu...

Dan teror itu bertambah ketika Julie merasakan penis sang satpam berada di mulut anusnya...
Jeritan teredam itu kembali memberikan sensasi kenikmatan bagi penis Arman yang bagai diperas, dan penis sang tukang kebun yang memperoleh bonus vibrator alami di tenggorokan Julie yang kini terasa perih akibat gesekan penis dan teriakan yang konstan terlontar.

Sementara Andrea dia nampak sangat gelisah... nafsunya menggelegak...tangannnya tak henti meremasi payudara dan vagunanya, bahkan melakukan fisting. Namun tetap ada yang krang, dan rasa itu membuatnya frustasi...
Tampak olehnya bullwhip yang kini teronggok di lantai, pandangannya beralih kepergumulan liar dan brutal di hadapannya....
Fuck....
Andrea sangat frustasi... ia ingin sekali merasakan memperkosa Julie... namun ia tak punya penis....
Ah... pantas saja dulu Susi menyiksanya dengan brutal.... itu semua pelampiasan, karena ia tak bisa merasakan sensasi para pria itu...
Memang, ia bisa meminta Julie untuk mengoral vagana dan anusnya hinga ia orgasme. Tapi... it's not the same...
Pantas saja Susi begitu membencinya, menyiksanya dengan kejam... memasukkan beragam barang dalam vagina dan anusnya....bahkan hewanpun menikmatinya...

Dari balik tubuh Julie, Arman memandang Andrea yang nampak bernafas berat, dengan bullwhip yang kini tergenggam erat di tangannya, dada sekalnya naik turun dengan liar...
Arman tersenyum sadis melihat transformasi Andrea...dan dengan anggukan persetujuan darinya...

Julie nyaris pingsan ketika cambukan itu datang, kemudian lagi dan lagi dan lagi....
Punggunya kini tak berbentuk lagi dihiasi jelujur merah ungu, bahkan kulit mulus itu mulai mengeluarkan darah akibat goresan cambuk...
Andrea betul-betul meluapkan emosinya, rasa dendam yang tertahan selama ini dilimpahkannya di tubuh Julie yang kini hanya bisa menggeliat lemah dan hanya sedikit berjengit bila cambukan Andrea mampir ke payudaranya...

Hentakan penis yang makin liar dan cambukan yang makin tak beraturan makin membawa julie ke ambang batas ketahanan dan kesadarannya, hingga akhirnya satu sentakan massal membuat gadis itu pingsan diiringi semburan sperma dan lolongan orgasme empat orang penyiksanya.....
*******
Julie terbangun dengan rasa sakit disekujur tubuhnya... tubuhnya meringkuk membentuk bola hanya untuk sekedar meringankan sakitnya...
Kemudian telinganya mendengar suara desahan, jeritan, siksaan...
Reflex matanya memandang sekeliling dan betapa terkejutnya ia mendapati adegan perkosaan yang dialaminya diputar di depan matanya sendiri...
Julie histeris...

'nice show eh, bitch?'
Julie menatap jalang pada Andrea yang berdiri bersandar di pintu sambil bersilang tangan di dada dan bersilang kaki...
Melupakan sakit ditubuhnya, Julie menerjang Andrea yang dengan mudah mengelakkan serangan sang gadis, malah balas membalas dengan hantaman dan tendangan bertubi-tubi, yang membuat Julie terkapar tak berdaya...

Bayangan Andrea tepat berada di atas tubuhnya...
'perlu seribu tahun sebelum kamu bisa mengalahkan aku, pelacur... terlebih lagi... apa kamu pikir aku tak punya persiapan lain untuk mengalahkanmu?'
Julie melihat remote yang dipegang Andrea dan...

Julie berkelojotan ketika arus listrik menyerang tubuhnya....
'aku sudah meminta agar dalam tubuhmu dipasang konduktor listrik....'
'it will be fun, bitch... i'l enjoy breaking you down and make you my bitch...'
Julie meraung-raung mohon pegampunan...

'relaks bitch... party just nearly begin....' kata Andrea sambil undur diri dari Julie yang bernafas berat mencoba melupakan sengatan listrik tadi...
'you'll lick my pussy...you'll lick my ass hole... and boy' i'll enjoy making you my toilet...really enjoying it...hahahahahaha'

Julie hanya bisa menangis mengingat kini dirinya sudah tak punya harga sama sekali, dan tangisnya makin keras demi melihat satpam dan tukang kebun masuk dengan penis teracung siap mengoyak tubuhnya.....
*****

Andrea memacu tubuhnya di atas penis Arman. Permainan keduanya liar dan brutal, karena kini Andrea hanya bisa merasakan kenimatan melaui sadomasochist...dan untuk tuannya Arman, Andrea ingn sekali merasakan kekasaran sang tuan demi memuaskannya.....
Dan persetubuhan itu makin liar dan brutal sambil ditingkahi raungan Julie yang mereka saksikan melalui layar yang terpasang di sekeliling kamar mereka...
Raungan frustasi ketika Julie diperkosa habis-habisan oleh satpam dan tukang kebun....
Raungan frustasi karena Julie melihat ada labrador, doberman dan herder yang siap menikmati tubuhnya...

Raungan frustasi karena Julie tau...sekarang ialah sang budak.....

End

Andrea kini merasa nasibnya menjadi lebih baik, semenjak ia berhasil memenggal kepala susi-bahkan ia tak perlu repot lagi memanggil nyonya- yang kini kepalanya menjadi hiasan dinding villa megah itu, ketiga tuannya memperlakukannya sedikit berbeda. Tetap kasar, tetap liar, tetap brutal. Namun ada respek dalam tiap hujaman penis mereka, kegairahan dalam tiap hujaman, bahkan dalam tiap gaya yang menyakitkan Andrea terdapat penghormatan di dalamnya.

Arman juga masih sering mengikat tangannya ke atas kepala, dan mengikat kedua kakinya dalam posisi mengangkang membentuk huruf Y terbalik, untuk sekedar mencambukinya dengan cemeti, rotan maupun sabuk kulit. Semuanya agar Andrea tidak merasa besar kepala namun selalu menyadari siapa dirinya yang tak lebih dari budak peliharaan tuan-tuannya dan lubang penampungan sperma bagi mereka.

Terkadang sesuatu seperti ini terkadang masih terjadi....
'Eh lonte...' Arman tak pernah merasa perlu mengubah panggilannya pada gadis yang kini sedang asyik mendeepthroath penisnya yang terimaksih pada profesor kini sepanjang 30cm dan diameter 5cm. Mata gadis itu memandang sayu namun bergairah ketika tuannya itu memanggil.
'Kita akan buat rekaman gangbang baru untuk situs kita... dan aku punya peran yang cocok buat kamu.'
Andrea yang mendengar itu merinding, wajahnya jelas memancarkan kesedihan karena tuannya belum bisa menerima dirinya seutuhnya hanya untuk menjadi milik pribadi, gadis itu sedih karena ia belum mampu memuaskan sang tuan hingga ia masih harus menerima hukuman ini.

Namun dalam kepatuhannya gadis itu tetap mengulum penis sang tuan, ditambah dengan rangsangan lambut di buah zakar sang tuan hingga.... glup...glup...glup...
'Terima kasih tuan,' desah Andrea setelah seluruh sperma sang tuan bersarang dengan nyamannya dalam perut sang gadis, lalu keduanya berjalan menuju halaman belakang kemudian Andrea memposisikan dirinya bagai seekor kuda tunggangan dengan menggenakan accesories yang memang tersedia dirumah itu, membiarkan tuannya menaiki punggunya, dan dengan sukacita membawa sang tuan berkeliling kemanapun kekang sang tuan menghendakinya.

Di sungai itu mereka berhenti, dengan sepenuh hati Andrea membersihkan sekujur tubuh sang tuan dengan telaten, seperti membersihkan guci dari dinasti Ming yang tak ternilai harganya, dan begitu tinggi nilai tuannya dimata Andrea, sebelum air sungai itu menyentuh sang tuan, lidah sensualnya terlebih dahulu membersihkan seluruh tubuh sang tuan, hingga ke lipatan ketiak, lipatan paha, lubang anus, penis, hingga ke sela-sela jemari kaki.

Bagai raja, Arman bersandar pada Andrea yang duduk mengangkan bersandar pada pinggiran sungai yang berbatu dan membiarkan tangan sang gadis menyeka tubuhnya, memijatnya, memanjakannya. Andrea sendiri entah mengapa tak ingin melepaskan diri dari sang penjajah, walau kesempatan itu ada. Namun ada rasa ketergantungan yang amat sangat dari sang gadis yang sudah meneyerahkan seluruh hidup dan dirinya untuk memuaskan sang tuan. Selain itu, gadis itu juga takut pada dua tuannya yang lain yang nampak iri dan ingin menyiksanya dengan brutal itu, terlebih dua remote yang selalu berada di pergelangan tangan Arman, membuatnya tak berkutik.
Mandi sore itu diakhirri dengan siraman kencing Arman di wajah Andrea, yang dengan tulus berterima kasih pada sang tuan karena begitu perhatian pada dirinya. Kemudian kembali nampak Arman menunggangi 'kuda betinanya' ke arah villa, dan pesta sex dan siksa untuk sang gadis di mulai....

************

Beberapa pemuda STM nampak duduk santai di gerbang sekolah sambil asyik menggoda perempuan muda yang lewat dan memalak beberapa anak yang bernasib sial.
Mendadak semuanya terdiam mata mereka memandang tak berkedip melihat seorang wanita dewasa cantik dengan menggunakan pakaian terusan ketat, blazer putih dan sepatu high heel datang menuju gerbang sekolah mereka, rambut wanita itu du gelung dan ditusuk dengan sumpit berhias, dan kacamata sexy mempermanis wajah oriental sang wanita yang kini berdiri di hadapan mereka, dengan memegang buku di tangannya.

'Aku Andrea Lee, guru pengganti yang dijanjikan...' aku yang akan mengajar ka...'
'Horeeeeee, akhirnya datang juga....'riuh murid STM itu tanpa membiarkan gadis itu menyelesaikan kalimatnya...

Mereka lalu setengah menarik Andrea ke dalam komplek sekolah dan menutup gerbang besi di belakang mereka.
Andrea lalu di bawa ke tengah lapang upacara di mana ratusan anak STM yang ada di sekolah itu berkumpul dengan liur yang berleleran.
Andrea melihat ada seorang anak yang duduk di kursi empuk, gadis itu segera tahu kalau pemuda itu adalah ketua rombongan STM yang beringas itu. Mata gadis itu memandang liar berusaha mencari guru lain atau siapapapun yang dapat memabantunya.
'Percuma lu cari guru di sini lonte' seru pemuda itu santai. Telinga andre jengah mendengar ucapan anak itu mukanya memerah
'Semua guru di sini udah pada ngacir dari kemaren. Begitu di kasi libur seminggu mereka semua langsung kabur, hahahaha....'
Hati Andrea mencelos mengetahui dirinya berada dalam kepungan begundal tanggung itu, aroma tubuh STM yang pekat membuatnya sedikit pusing. Namun kalimat lanjutan ketua geng itu membuat mata Andrea membelalak ngeri dan membuatnya bergetar histeris..
'Kami tau siapa kamu. Andrea Lee, presenter, artist. Budak sex, top three BDSM download.... Selama liburan ini... You're ass is ours!'
Ketakutannya nyata, mereka mengenalinya sebagai sex slave. Kini ia berharap mereka tak menyakitinya berlebihan.

Pemuda itu melanjutkan, 'Sekarang waktunya perkenalan, mendingan lu berdiri di tengah-tengah lapangan.'
Dengan langkah bergetar Andrea memposisikan dirinya di tengah lapangan yang panas, lalu entah siapa yang mmasang dentum lagu house menghentak, gadis itu mengerti apa yang diinginkan murid-murid STM itu, maka dengan perasaan galau gadis itu mulai mengimbangi dentum house music yang mengalun cepat.
Gerakan erotisnya membuat para siswa berseru riuh dan mengomentarinya dengan keterlaluan, dan kemudian ketua geng itu berteriak, 'striptease bodoh, kita mau liat body lu telanjang bulat....' dan gemuruh setuju segera membahana , 'buka...buka....buka!'

Andrea tak punya pilihan, ia mulai meloloskan blazernya, kemudian dengan liukan maut, gadis itu mengangkat pakaian terusannya ke atas kepalanya dan kemudian mencampakkannya begitu saja di lapangan itu.
Kini tubuh mulusnya hanya tertutup G-string karena payudara montoknya sama sekali tak tertutup sehelai benang. Mata gadis itu bisa melihat tonjolan penis di selangkangan para siswa. Liur yang menetes, mata yang melotot. Dan kini denga santaiya gadis itu menurunkan Gstringnya dengan posisi membungkuk hingga pantat indahnya mengacung jelas, memampangkan vagina dan liang anus yang selamayan akan rapat dan 'perawan' itu, thanks to the professor.
Dan kini terik matahari mulai menjamahi tubuh putih Andrea yang kembali menari binal, dengan sepatu higheel model stripper dengan hak sol transparan dan temali yang melilit hingga ke batas lutut. Peluh mulai deras mengalir di tubuh mulus itu, yang kini mulai kemerahan karena terpanggang matahari.

Lalu ketua geng itu mendekati Andrea, mengelilingi tubuh gadis itu, lalu dengan santai pemuda itu membuka celananya dan berkata, 'sekarang lu jongkok, lu kobel memek lo sendiri sampe bucat. Sementara mulut lo....'
Pemuda itu tak menyelesaikan kalimatnya, ia hanya memaksa Andrea berjongkok dan mulai mengaduk vaginanya sendiri, dan tanpa disangka Andrea, ketua geng itu menekan wajah sang gadis ke belahan pantatnya dan memaksanya menjilati anusnya.

Andrea gelagapan, ia merasakan kotoran sang pemuda yang sepertinya sengaja tidak cebok. Ketua geng itu tertawa terbahak bahak, 'kenapa? enak, ya? kebetulan air di sekolah lagi mati, ntar juga banyak yang pengen lu 'cebokin'. Hahahaha'
Airmata mengalir dari mata sang gadis yang segera merasa sangat terhina karena dalam waktu yang sangat singkat dirinya sudah dianggap toilet papper oleh para siswa. Dan contoh yang diberikan ketua geng itu benar-benar melecehkannya kare dengan kasar pemuda itu memaksa Andrea membuka mulutnya dan...

Gadis itu gelagapan menahan laju air seni yang menyerbunya, bahkan sebagian besar tertelan oleh dirinya. Dan segera saja para siswa yang lain maju dan mulai menjadikan sang gadis sebagai standing toilet.
Andrea tak bisa apa apa kecuali berharap penghinaan ini cepat selesai, tubuhnya kini sudah kuyup oleh air seni, dan lidahnya seakan sudah mati rasa, 'menceboki' banyak anus yang kotor itu.

'Wah... wah... wah, badan lu bau pesing, mulut lu juga bau tai,' hina pemuda-pemuda itu, ' lu sekarang harus di mandiin, karena kita udah pengen ngentot sama elu.' sambung pemuda lainnya, lalu mereka membawa Andrea ke sebuah tong yang berisi tampungan hujan. Gadis itu melihat banyak cacing, jentik dan berudu dalam tong itu.
'Ngga apa-apa, anggap aja sperma,' ejek salah seorang pemuda, yang kemudian beramai-ramai menceburkan Andrea ke dalam tong itu, bergantian mereka membenamkan kepala gadis itu dalam air hingga megap-megap, namun pelecehannya masih jauh dari selesai. Ketua geng itu menjambak rambut Andrea dan berkata, sekarang lu berendem dulu biar adem, dua jam lagi lu mulai ngajar.

Andrea menjerit panik ketika melihat mereka membawa tutup tong , kemudian dengan kejam menutup tong itu tanpa mengindahkan gedoran panik sang gadis yang kini meringkuk dalam kegelapan, dengan posisi air tepat berada di bibirnya. Dan kini selam dua jam Gadis itu berjuang menahan dingin, claustrophobia, dan serangan jentik serta berudu yang seakan ingin berlomba memasuki vaginanya.

Ketika dua jam berlalu, tubuh Andrea membiru menahan dingin namun hal itu sm sekali tak mengurangi kekejaman para pemuda itu, yang kini kembali menyeret ke tengah lapangan yang semakin panas. Lalu ketua geng itu berkata , 'sekarang lu harus praktek olah raga, lu kan guru. Lu harus contohin ke kita-kita, sekarang lari keliling lapangan!' bentak sang pemuda sambil mencambuk tubuh Andrea yang menggigil dengan sabuk yang dimodifkasi khusus untuk tawuran dengan gear menjadi kepala sabuknya.

Andrea menyeret kaki lelahnya untuk mulai berlari mengelilingi lapangan itu, tawa liar, suitan heboh dan kata-kata penghinaan mengiringi ayunan payudara montok Andrea yang bergerak seirama larinya, demikian juga pinggul dan bulatan pantat sang gadis yang mengayun seirama.
Gadis itu tersungkur karena tak sanggup melanjutkan larinya diputaran ke tigapuluh.
'Dasar guru lonte' geram sang ketua geng sambil mencambuki Andrea yang berguling-guling mencoba menghindar, 'Lu ngga pantes ngajar kita bitch... Sekarang lu push up, gua mau badan lu rontok.'

Tubuh gadis itu berjuangmati-matian menahan sakit yang mendera sekujur sendinya, perutnya yang kram, bisep dan trisepnya yang bekerja keras.
Dan tepat dihitungan ke seratus lima puluh gadis itu ambruk tak berdaya, namun para siswa itu nampak belum puas, mereka memasa Andrea melakukan pull-up tanpa lupa meletakkan beban berat di pinggang gadis itu, yang kini tanpa menahan diri, menjerit histeris dan mengucurkan airmata karena frustasi, namun justru cambukan bertubi yang menyerang sekujur tubuh sang gadis terutama di bagian vagina, anus dan payudaranya yang kini berubah keunguan.
Dan pandangan gadis itupun mengabur.....

Andrea mendapati dirinya berada dalam aula besar yang digunakan sebagai empat olehraga, dan ia melihat semua siswa berkumpul sambil mengocok penis mereka masing-masing, menanti dirinya untuk sadar.
Ketua geng kemudian memberikan pengumuman, 'Lonte kita sudah bangun, sekarang kita ancurin memek ama boolnya, serbuuuuuuu!' serunya sambil menerjang Andrea yang gelagapan menahan serbuan mendadak itu. Jerit kesakitan kelar dari mulut sang gadis ketika penis sang ketua geng menjebol vaginanya yang rapat itu.
Pemuda itu bergerak sangat kasar, seakan ingin menyiksa the best three BDSM download girl itu, dan kini pemuda itu berguling hingga Andrea berada dalam posisi woman on top, dan tanpa menunggu lama, jeritan kembali membahana keika satu penis besar mengaduk anusnya dengan kasar, bahkan kini jeritannya teredam oleh penis yang merangsek jauh hingga ke tenggorokannya.

Kemudian mereka mengikat paha Andrea ke tulang keringnya dan mengangkangkan paha gadis itu, dan kembali penisdemi penis mengisi vagina, anus dan mulutnya, Kemudian mereka mengikat pergelangan tangan Andrea menggantungnya ke atas, dan dalam posisi tergantung dua baris pemuda secara bergantian mengisi vagina dan anus gadis itu.
Lalu serangan satu lubang dua batang.... gadis itu tak berhenti menjerit menahan sakit dan perih ketika dua buah penis merangsek vagina dan anusnya, bahkan kemudian bergantian kepalan tangan para pemuda merangsek masuk ke vagina dan lubang anusnya.

Andrea hanya bisa terdiam lemah di tengah aula ketika bergatian mereka melakukan bukake hingga kini tubuhnya tertutup oleh lapisan sperma.
Bahkan dengan kejam mereka meninggalkan oleh oleh berupa stick baseball di vagina dan baseball di anusnya.
Dengan lemah Andrea mencoba bangkit, dengan tangan bergetar ia mencabut tongkat baseball yang dihujam sangat dalam hingga mentok ke rahim mandulnya, lalu dengan mengerahkan tenaga yang tersisa, Andrea mengejan mengeluarkan baseball itu dari anusnya yang memar memerah.. dan ketika bola itu keluar, noda darah dan kotoran menghiasinya.
'Bersihin tu bola, lonte... lu udah bikin kotor, sekarang lu bersihin...'
Mata Andrea nanar memandang ketua geng yang ternyata dari tadi memperhatikan dirinya, dan kini dengan pikiran hampa, gadis itu menjilati bola itu hingga bersih.

Kemudian ketua geng itu, mengambil rantai dan memasangkannya di leher Andrea. 'Nah, elu emang cocok kaya begini,', lalu dengan santai pemuda itu memaksa Andrea merangkak dalam posisi doggy menuju kamar mandi yang kumuh dan pesing. Kemudian pemuda itu mengikat tangan Andrea di sekeliling toilet duduk hingga kepala sang gadis berada tepat di atas lubang toilet yang berisi penuh kotoran yang belum di flush.
Andrea panik, sang pemuda menurunkan celananya. Namun sang gadis sedikit bersukur ketika sang pemuda menjambak rambut indahnya, memaksanya mendongak sebelum dirinya duduk ditoilet itu, lalu sambil memaksa Andrea mendeepthroatnya, sang pemuda mengeluaran deposit yang tersimpan di perutnya. Setelahnya teror itu terulang karena sang pemuda ingin merasakan lidah sang gadis untuk menceboki anusnya, dan mendadak wc itu menjadi tempat favourite para pemuda. Ketika pemuda terakhir selesai, hidung gadis itu berada hanya sekitar dua centimter dari onggokan kotoran, dan Andreapun hanya bisa pasrah ketika rambut indahnya mendapat higlite alami berwarna kuning kecoklatan.

Andrea berada antara sadar dan tidak ketika tengah malam, ia merasakan ada sesosok orang yang merabai punggungnya, meremasi payudaranya dan bokongnya... Tangan itu....
Ah tuan... desah sang gadis dalam hatinya, bahkan tanpa melihatpun Andrea tahu siapa yang menyentuhnya itu, tubuhnya menggeletar hebat menikmati jamahan itu, dan desah kepuasan menyerang sang gadis ketika penis sang tuan memasuki relung vaginanya yang sempit itu, Andrea memberikan pelayanannya yang terbaik, pinggulnya bergoyang, mengaduk, memutar, membuat sang tuan mendesah kenikmatan. Bahkan Andrea sendiri mendapat multiple orgase ketika dua ibu jari sang tuan membuka lubang anusnya untuk kemudian mengganti jari dengan penisnya.

Gadis itu serasa berada dalam surga, rasa masih dibutuhkan, rasa tidak ditinggalkan, rasa penyerahan diri seutuhnya membuat Andrea mendesah sangat hebat dalam ultimate orgasm yang menerpanya seiring benih sang tuan yang mengisi rahim mandulnya. Dan Andrea tersedot dalam pusaran kenikmatan yang membawanya ke alam mimpi...

Dan dorongan kasar dikepala gadis itu menyadarkan Andrea dari mimpi indahnya, wajahnya tertanam di onggokan kotoran.
'Bangun lonte..... kita mulai lagi hari kita!' desis ketua geng sambil tersenyum liar mendengar tegukan di teggorokan Andrea.
'Itu sarapan pagi elo' Kata sang pemuda sambil menjambak Andrea, dan membebaskan ikatannya,
Kembali sergapan dingin air tong menyerang tubuh Andrea, sebelum akhirnya tubuhnya di bawa ketengah lapangan untuk kemudian.

'Engkong gua paling seneng ngejemur burung pagi-pagi,' celoteh ketua geng dengan santai, 'Gua ngga tau apa serunya, sekarang gua mau tau...'
Andrea mendesis nyeri, ketika tubuh kedua tangannya diikat, dan kini terangkat jauh ke atas kepalanya seiring tubunya yang makin terangkat tinggi hingga ikatan tangannya mentok di ujung tiang bendera.

'Wah, pantesan engkong gua seneng banget, ternyata emang seru, ' kata begundal itu sambil tertawa, dan meninggalkan tubuh Andrea tergantung menahan sakit di pergelangan tangan dan bahu, serta sengatan mentari dan serangga yang merubung.
Dan ketika gadis itu diturunkan, rombongan penis sudah menanti, dan di lapangan itu kembali Andrea menerima perkosaan masal dari para siswa yang kesetanan itu.

Dan selama satu minggu Andrea menjadi 'guru pengganti yang baik' bagi para siswa, ia menjadi objek penelitian para siswa, yang pernah membawanya ke bengkel mereka, mengikatnya di atas blok mesin, dan membiarkan gadis itu menjerit ketika merasakan sengatan listrik mengaliri tubuhnya.
Atau ketika mereka mendudukkannya di sebuah thigh master yang sudah dimodifikasi dan menregangkan paha sang gadis selebarnya hingga sang gadis kesakitan dan kemudian memerkosanya bergatian.
Atau ketika ketua geng yang sadis itu mengaduk vagina dan anus sang gadis dengan kunci inggris, dan dengan santainya memaksa Andrea bermasturbasi dengan kunci-kunci itu selama dua jam hingga Andrea kepayahan.
Belum lagi Andrea harus membersihkan sekolah, mengepel menggunakan tangan, membersihkan kakus, memotong dahan pohon mangga yang penuh semut rangrang.

Ketika akhirnya Arman datang, Andrea langsung tersungkur, menciumi sepatu sang tuan sambil menangis tersedu-sedu, seakan ingin mengadukan kejahatan para siswa yang nampak terkekeh riang itu.
Memberanikan diri ia memandang mata Arman, dan tatapan tajam mata sang tuan membuatnya tertunduk kembali dan berkata lirih...
'Aku budak tuan... Apapun yang tuan inginkan, akan hamba laksanakan tanpa penolakan......'

Arman mengangat lengan Andrea, dan....
Dalam mobil itu ledakan tangis bahagia Andrera terdengar seiring mobil yang melaju meninggalakan sekolah terkutuk itu.
Kini Andrea duduk di sebelah tuannya.... maka dengan rasa syukur yang tinggi...
Mobil itu melaju sedikit tersendat, karena kini hidung imut Andrea tertanam di selangkangan sang tuan, penuh rasa syukur dan suka cita....

Waktu transisi sudah di mulai....
Waktunya mencari budak baru....

'Sembilan puluh satu... sembilan puluh dua...'
Andrea benar-benar kepayahan dipaksa push up seperti itu, dirinya bertumpu pada empat bangku di kedua tangan dan kakinya. Hanya saja nyala puluhan lilin besar di bawah tubuhnya membuatnya menderita, terlebh ketika panasnya itu menyengat vagina dan payudaarnya.
Dan nyona Susi benar-benar membantunya 'berolah raga', sesekali ia mengambil secanting lilin panas dan meneteskannya di punggung mulus Andrea, dan belahan pantatnya.

Tepat pada hitungan keseratus tubuh sexy Andrea bergetar dan terjatuh menimpa lilin-lilin itu. Gadis itu meringkuk menggeliat menahan sakit dan panas disekujur tubuhnya. Namun dengan santainya Susi menjambak rambut Andrea yang mengeluarkan bau hangus terbakar dan menyeretnya ke sebuah ruangan di mana ke tiga tuannya sudah menunggu.

'Gimana latihannya sayang?' kata Arman sambil mencium Susi denga bernafsu
'Dia siap untuk peregangannya....' desah Susi menikmati jemari Arman yang mengaduki vaginanya.
Lalu satpam dan tukang kebun merenggut Andrea dengan kasar dan membantingnya di meja bundar yang berada di tengah ruangan itu.
Kedua tangannya di belenggu di samping tubuhnya, kemudian mereka menelikung tubuh Andrea hingga kini lututnya mengapin kepalanya, lalu mereka mengunci pergelangan kaki gadis itu dengan pasung.

Arman kemudian mendekati Andrea yang sama sekali tidak nyaman dengan posisinya, dan kemudian keempat penjajahnya duduk dengan santai mereka tertawa dan bercanda. Kemudian Susi membawa dua buah lilin merah besar, dan mengedip kepada Arman, yang tersenyum dan mengangguk kepada dua rekannya.
Keduanya bersiul girang, dan terdengar lenguhan Andrea.

Gadis itu kembali merasakan kesakitan yang sama, yang walau sudah sering dterimanya ak pernah membuatnya kebal. Vagina 'perawannya kembali di perkosa
tukang kebun dengan brutal, bahu dan pundaknya sakit dengan posisi tubuhnya sekarang, terlebih ketika satpamnya mulai mengambil posisi dan mulai menyodominya dengan liar.
Gadis itu terbanting-banting dengan menyakitkan, tiap jeritan gadis itu disambut high five kedua pemerkosanya. dan seakan mau menambah penghinaan itu, Susi melepas celana dalamnya, dan menyumpalkannya ke mulut Andrea, kemudian menambahnya dengan celana dalam Arman, membuat mulut gadis itu menggembung hingga mengkilat.

Kedua pemerkosanya menggeletar puas membasahi rahim mandul, vagina yang terluka dan anus yang berdarah milik Andrea dengan sperma mereka. Kemudian dengan santai Susi membenamkan lilin besar itu ke vagina dan anus Andrea, lalu menyalakannya.
'Wah..' kata satpam itu sambil tersenyum mengejek, 'kontol kamu sekarang lebih besar dari punyaku...'
Dan para penjajahnya riuh tertawa membiarkan kata-kata hinaan itu menyerap dalam pikiran Andrea.

Andrea makin putus asa karea dengan santainya para penjajahnya makan dan minum di sekeliling tubuhnya yang kini menjadi pegangan lilin, terlebih ketika lelehan lilin panas kembali mengalir di tubuhnya yang mulai kram dalam posisi itu.
Dan perbincangan seru diiringi gelak tawa mengiringi penderitaan Andrea.
'Well bitch...' seru Arman dalam mabuknya , 'Besok kamu bertanding... kamu... dan pelacur lainnya'
'Kamu menang... kamu bisa terus hidup jadi budak kami.... kamu kalah..... bahkan ramuan profesor tidak akan mengembalikan vagina dan anusmu menjadi normal lagi...'

'Yaaaaaaa,' desah Susi, 'dan aku mau kamu kalah...., aku mau kang Arman hanya untukku....'
Dan kembali rokok menthol yang dihisap Susi menyentuh tubuh Andrea yang hanya bisa berjengit kecil.
Malam makin larut ketika akhirnya para penjajah Andrea undur diri meninggalkan gadis itu menderita oleh lelehan lilin dan dinginnya AC yag sengaja dinyalakan dengan kekuatan penuh.
Andrea antara sadar dan tidak ketika pada dini hari ada suara lelaki yang berkata kepadanya,
'Kalau kamu bisa sampai final, aku akan memberimu kesempatan untuk membalas dendam pada nyonyamu, dan bila kamu menang, kamu akan jadi nyonya baru....'

Keesokannya Andrea mendapati kalau profesor maniak yang telah membuatnya jai menderita dengan ramuannya berdiri di dekatnya, terkekeh melihat luberan lilin disekujur tubuh gadis itu, lalu dengan kasar menyentak lilin di vagina dan anusnya hingga bulu kemaluannya tercabut bersih dan meninggalkan bekas kemerahan.
Kemudian tanpa belas kasihan kembali vagina sang gadis dihujam suntikan kuda, kemudian di anusnya, profesor itu hanya tertawa dan berkata.
'Kamu akan berterimakasih padaku dan Arman nantinya...'
Dan kembali Andrea pingsan.....

Ketika terbangun ia mendapati kalau dirinya berada di sebuah ruangan dalam keadaan telanjang, hanya gelang besi, strap leher, dan boot bulu rubah yang menjadi aksesorisnya. Namun samar ia bisa melihat ada tanda memar hitam di sendi-sendi siku dan lututnya.
Kemudian Arman masuk ke ruangan itu, mambawa dua buah remote. Andrea mengenali salah satunya, dan reflex gadis itu menyentuh strap di lehernya.
Arman tersenyum sinis, lalu berkata, 'Ah, bagus kalau kamu masih ingat, nah yang satu lagi gunanya untuk...'
Andrea merasa seperti seluruh tubuhnya terbuat dari agar-agar dan jatuh menggelosor tanpa daya.
'Di semua sendimu terpasang chip yang mengontrol sensor motorikmu, hingga denga sekali tekan, kamu akan kehilangan tenaga. Nah, mau aku gabungkan dengan yang satu lagi?' kata Arman sambil menggoyang remote itu.

Andrea hanya bisa membelalak ngeri bersuarapun ia tak bisa, ia hanya bisa merasakan angin dingin masuk ke mulutnya yang sudah pasti menganga, dan merasakan lelehan liur turun ke pipinya.
Ia benar-benar tak bisa mengontrol tubuhnya.

Arman lalu menekan tombol itu ke posisi off, dan Andrea bisa merasakan kekuatannya kembali. Denagn limbung ia bersujud di kaki Arman dan menciumi kaki sang tuan.
'Hamba akan patuh, tuan... hamba ini milikmu....'
Arman tersenyum penuh kemenangan, lalu berkata, 'Sekarang bersiaplah, pertandinganmu sebentar lagi.' Lalu arman mengikatkan rantai di strap leher Andrea dan menariknya seperti menarik sapi.

Andrea terkejut megetahui kalau cukup banyak penonton yang hadir di perlombaan itu, gadis itu memandang sekeliling, takjub banyaknya slave owner yang berkumpul selain para BDSM mania.
Arman membawanya ke sebuah lapangan, Andrea membeliak melihat ada lima baris kuda di sana, masing-masing baris terdiri dari lima ekor kuda.
Kemudian matanya melihat ada empat orang budak sama seperti dirinya, dua orang ampak pasrah sementara yang dua lagi, tampak menyunggingkan senyum binal seakan menanti hari ini tiba.

Sekarang kelimanya berada di depan barisan masing-masing, segera Andrea mengerti pertandingan pertama yang akan mereka lalui.
Seorang wasit memawa pistol, mengarahkannya ke udara dan...
Kelima kontestan segera menghampiri kuda pertama, Andrea melihat peserta yang binal segera merangsang kuda mereka, sementara yang lainnya merasa jengah, risih, dan takut. Pikiran Andrea sendiri berkecamuk, ia ingin gagal sehingga ia bisa mati, namun bunuh diri bukan kematian yang baik, lagipua ia teringat tentang prosesi penyiksaan yang akan diterimanya sebelum ia mati.

Dan kuda pertama menerima kehormatan itu, Andrea menjilati lipatan paha sang kuda, menyentil lembut zakar besar itu sambil mengelusi penis yang kini mulai menegang, lalu mulut gadis itu berusaha sebisaya mengulum kepala penis kuda yang mulai menyentak tak karuan, membuat gadis itu kewalahan dan tersedak. Kini kuda ke dua... astaga satu orang gadis sudah pindah ke kuda ketiga. Andrea makin liar dan binal, dan...
Kuda keriga merasakan tit fuck, kuda keempat merasakan sempitnya vagina Andrea yang menjerit kesakitan, dan kuda ke lima menyodomi Andrea hingga muntah karena merasa perutnya sangat penuh.

Ia berada di tempat ke tiga, hanya selisih beberapa detik dengan posisi kedua. Badanya letih, tubuhnya terlentang mengambil nafas, namun tak lama karena mereka segera digiring ke arah kuda-kuda itu kembali. Andrea merasa semangatnya terbang kerena membayangkan harus memuaskan hewan-hewan itu lagi.
Namun dugaannya salah, perasaan sedih, miris, lega, takut jadi satu. Ternyata mereka dikumpulkan untuk memberi hukuman pada peserta yang selesai paling akhir pada perlombaan itu.
Peserta malang itu terkunci dalam posisi berdiri membungkuk, dengan pantat terangkat menungging. Andrea bisa melihat vagina terlka gadis itu akibat gempuran kuda.

Kemudian seorang pria kecil berjubah membawa kotak dan meminta mereka mengambil nomor undi.
Dan Andrea menjadi yang pertama memberikan hukuman. Dengan bergetar Andrea menuntun kuda dibarisannya, dan memang dirinya terpaksa kembali merngsang kuda itu, sebelum mengarahkan penis kuda itu ke vagina yang bengak, memerah dan membuka lebar itu.
Andrea memalingkan wajah dan berusaha menulikan telinganya ketika mendengar jeritan pili sang gadis, namun cengraman tangan seorang penjaga yang selama pertandingan mengawasi mereka membuatnya terpaksa menatap vagina sang gadis yang dibombardir kuda.
Andre tak berhenti meneteskan air mata ketika ia menuntun kuda ke dua, dan ketika ia tampak ragu melakukan hukuman, sabetan rotan bertubi-tubi bersarang ditubuhnya, hingga diiring permintaan maaf yang berulang, Andrea mengarahkan penis kuda itu dan...

Andrea bergidig ketika melihat peserta yang sepertinya menikmati pertandingan ini maju, tanpa belas kasihan ia menuntun kudanya dan menyodomi gadis itu, dan lagi, dan lagi...
Bahkan satu peserta dengan gilanya memaksa gadis itu mengoral kuda-kudanya. Andrea bisa melihat darah mengalir deras dari tubuh wanita yang entah masih hidup atau sudah mati itu.
Kemudian keempat peserta yang tersisa digiring ke tempat pertandingan berikutnya, meninggalkan gadis itu dengan kumpulan kuda yang kembali bergairah dan.....

Dingin ruang bawah tanah yang lembab dan dingin menemani istirahat mereka yang jauh dari menyenangkan, dengan tikus yang berkeliaran dan ransum berupa makanan anjing.

Keempat peserta tersisa berhadapan dengan batang pinus besar yang sudah rebah untuk masing-masing mereka. Andrea melihat kampak besar dan keranjang di sana. Dan ketika suara letusan terdengar, para peserta langsung berhamburan ke arah kampak masing-masing dan mulai menghajar batang pinus itu menjadi potongan kecil dan menyusunnya ke dalam keranjang, lalu mereka berlari ke arah penyimpanan kayu, dan kembali ke pinus mereka.
Sedikit banyak Andrea bersyukur karena siksaan yang selama ini dialaminya membuatnya terbiasa dengan pekerjaan berat seperti ini.
Tiba-tiba...
Derak pohon diiringi jeritan mengagetkan mereka. Salah seorang peserta binal yang ada ternaya salah memotong sisi pinus hingga pohon itu berguling dan menimpanya. Namun lecutan cambuk menyadarkan mereka, hingga tanpa banyak bicara mereka kembali berhadapan denganpinus mereka.
Andrea lega, ia selesai diurutan pertama. Cuma kini ia harus bersiap mengetahui hukuan yang harus ia terapkan pada pihak yang kalah.

Ternyata gadis lembut yang tersisa tak mampu melakuan tugasnya. Para pengawal menyeret tubuh mungil yang meronta lemah itu, dan mengikatnya di sebuah pasak.
Lalu para pengawal memaksa Andrea dan seorang kontestan yang tersisa untuk menyusun potongan pinus yang telah mereka potong sebelumnya mengelilingi gadis malang yang memohon belas kasihan pada kedua kompetitornya, bahkan kontestan binal yang tersisa meneteskan air matanya, namun cambukan, deraan serta sengatan cattle prod membuat keduanya tak mampu berbuat banyak, kecuali tanpa berani melakukan kontak mata menyusun potongan pinus itu di sekeliling sang gadis yang kini hanya tertunduk lesu.

Seorang pengawal menyiram bensin ke sekujur tubuh sang gadis, serta ke tumpukan pinus itu. Lalu seorang pria berjubah datang membawa dua obor. Tangan kedua gadis itu bergetar hebat....
Jeritan kesakitan gadis itu menyelingi derak api unggun raksasa itu. Obor terjatuh, tubuh Andrea dan gadis yang lain bergetar hebat melihat jasad terbakar di hadapan mereka. Terror yang sangat mengguncang...

Bayang gadis itu menghantui Andrea, hingga ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Keesokannya Andrea dan kontestan terakhir sama-sama dalam kondisi lemah, semangat yang tinggal separuh.
Mereka berniat menyerah, namun bayangan siksaan yang telah tersaji di hadapan mereka membuat mereka harus bertahan. Setidaknya walau mereka hidup dalam perbudakan, mereka berjuang demi kehidupan mereka.

Sepasang pedati besar menanti mereka berdua. para pengawal, memasang kekang di mulut mereka, memasang sepatu yang dirancang khusus hingga mereka terpaksa berjinjit., tangan mereka diikat dengan tali rami ke belakang punggung mereka dengan posisi telapak tangan mengarah ke kepala. Tali rami linnya diikan di sekeliling payudara mereka hingga menghambat aliran darah dan menyebabkan payudara keduanya menjadi keunguan, tali yang lain dilit melalui vagina dan anus, dan ditarik dengan sangat ketat hingga melukai vagina keduanya

Kemudian pedati itu dimuati beberapa ekor sapi besar. Dan ketika letusan terdengar, mereka mulai bergerak dengan menyakitkan, tertatih, perlahan.
Namun keinginan hdup Andrea nampak lebih besar, karena ia punya satu janji yang harus ia yagih, maka walaupun vaginanya makin teriris dengan hebat, ia mulai menarik dengan lebih kuat, lebih kuat lebih kuat.....
Tanjakan terjal di hadapannya membuat betisnya kram, ia melihat kompetitornya mulai menyusul, namun ia tak mau menyerah. Andrea memaksakan dirinya hingga dipuncak tanjakan, dan.. ia sengaja membiarkan tubuhnya terdorong pedati ketika berada di daerah turunan. hanya sesekali ia menahan agar pedatinya tak terguling.
Andrea hampir pingsan ketika akhirnya ia mencapai garis finish, tubuhnya babak belur.

Ia berhasil.

Samar ia melihat kompetitornya meronta hebat ketika para penjaga membawanya ke sebuah lapangan, melepaskannya di sana, dan melemparkan sebuah selendang.
Tu buh lemahnya diseret ke tepi arena itu, dan melihat semua sapi yang mereka bawa tadi dilepaskan dalam arena. Andrea bisa melihat bokong sapi-sapi itu berdarah...

Astaga....

Sapi-sapi itu mengamuk karena luka, dan terganggu oleh kibasan selendang, Kompetitornya berusha bertahan mati-matian, mengelak ke sana ke mari, namun akhirnya, tubuh gadis itu tercabik dan tertusuk tanduk-tanduk runcing itu, terseret-seret, terlempar bagai onggokan kain rombeng....
Andrea pingsan.

Wajah Arman begitu dekat dengan wajahnya, dan rasa di vaginanya...
Ia tahu Aman sedang menikmati tubuhnya, ada rasa bahagia melihat tuannya datang dan menyetubuhinya, rasa diperlukan, diinginkan, dirindukan.
Maka tanpa sungkan ia membalas tuannya, Ia memberikan sex terhebat yang pernah dilakuan Andrea pada Arman, sebagaimana seorang budak yang patuh menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi kemuliaan sang tuan.

Dan Andrea tertidur dengan nyaman....

Sorak sorai penonton di arena gladiator begitu gegap gempita. Andrea berada di tengah arena, dikedua lengannya terdapat pedang dan kampak. Pertarungan terakhir. Namun Namun Andrea bingung. Melawan siapa? Seluruh lawannya sudah mati....

Raung singa memenuhi gelanggang. Pertarngan di mulai.
Kedua senjata Andrea terlempar oleh terjangan singa. Cakar besarnya menghujam bahu sang gadis, yang berusaha bertahan sambil menahan rahang sang singa untuk tidak mengoyak tubuhnya.
Kaki sang gadis mengincar dan. Singa itu melompat merasakan sengatan di buah zakarnya. Andrea berlari berguling memungut senjata, sambil menghindari terjangan singa itu.

Ketika singa itu kembali menerjang, Andrea sudah siap. Ia membungkuk dan...
Auman kekalahan menandai tusukan pedang yang menghujam jantung sang singa...

Andrea mengangkat pedangnya, namun tak ada sorak gemuruh...

Reflex, Andrea mengelak dan sabetan kampak itu lewat tipis di samping tubuhnya, rambutnya sedikit terpotong.
Andrea berusaha menghindar sebisanya hingga ia terdesak di dinding arena, hantaman kampak lawannya, membuat tangannya sedikit pegal menahan gempuran itu.

'Pelacur..., kamu harus mati... mati.... mati....!'
Suara itu....,
Goresan di pipi menyadarkan Andrea
'Aku tak rela kalau dia kau rebut... kau harus mati....!'
Serangan itu membabi buta, hajaran, tinjuan, tendangan silih berganti menghampiri tubuh Andrea yang sudah begitu lemah dan banyak kehilangan darah akibat cakaran singa.

Namun ia terus bertahan, terlebih kini ia memiliki kesempatan untuk membalas sakit yang diberikan penyerangnya...
Maka Andrea berusaha sekuatnya untuk menghindar dan berusaha bangkit, hingga ketika Andre melihat kesempatan itu datang....

Pedang Andrea terpental oleh terjangan kampak itu...
Ia kini tanpa perlindungan....
Penyerangnya mengeluarkan pekik kemenangan dan menyerbu Andrea dengan deras...

Penyerangnya terkejut ketika ternyata Andrea memang sengaja melepaskan pedangnya...
Ia terkejut ketika Andrea bergerak memutar menghindar kampaknya, ia tak percaya ketika tangannya terkunci hingga Andrea bisa melolosi kampaknya, lalu ....

Gemuruh kemenangan akhirnya pecah ketika Andrea mengangkat tinggi kepala Susi yang terpisah dari badannya yang menggelepar seperti ayam baru disembelih...

Ia sudah menang.....
**********

Arman sedang duduk menontong ulang pertarungan itu melalui home theatre di villa megahnya, bunyi hisapan rakus dan gumaman di selangkangannya membuatnya bahagia.
Gadis itu sendiri merasa bahagia.

Andrea merasa bahagia, bisa kembali melayani tuan-tuannya yang kini nampak makin bernafsu padanya. Terlebih ketika kulit mulus tanpa cacadnya sudah kembali dengan bantuan profesor maniak, juga kemontokan tubuh jessica biel nya, yang makin terjaga. Bahkan di buat permanen oleh professor itu.

Dan kebahagiaan gadis tu bertambah ketika Arman berkata padanya....
'Mereka adalah calon budak kita yang baru... sudah saatnya kamu jadi nyonya....'
Mata Andrea berbinar antara gembira dan sadis... Pandangan yang membuat Arman bernafsu dan langsung meneytubuhi Andrea dengan brutal.

Andrea mengikuti hentakan Arman dengan birahi tinggi sambil membayangkan hukuan bagi budaknya...
'Hmmm... siapakah yang cocok jadi budakku?' gumam Andrea dalam hati sambil menikmati entakan penis Arman di vaginanya yang kemudian diikuti satpam di anusnya dan tukang kebun di tenggorokannya..
'Luna Maya? Aura Kasih? Kinaryosih? atau.......'

Raungan orgasme keempatnya membuat persoalan itu terlupakan.... setidaknya untuk sesaat.

Pagi itu dimulai dengan posisi Andrea yang berlutut di atas ranjangnya, tubuhnya berhimpit dengan tubuh satpam dan tukang kebunnya. Mulutnya sibuk ber frenchkiss ria dengan satpam yang melumat bibir sensual Andrea dengan rakus, sampai-sampai liur mereka berlelehan. Sementara tukang kebun, asyik mencupangi leher Andrea sampai merah-merah dan meremasi payudaranya dengan kasar.
Andrea sendiri tak bisa berbuat banyak, kecuali pasrah dengan perlakuan kasar keduanya, vagina dan anusnya mengeluarkan bunyi berdecak kecipak seiring expansi penis keduanya yang bergerak seirama, terkadang lembut namun lebih sering kasar dan brutal.
Andrea merasakan selangkangannya penuh, ia bisa merasakan penis keduanya yang hanya terhalang dinding antara vagina dan anusnnya hingga menimbulkan sensasi yang sebenarnya tak diinginkan Andrea.

Disela pergumulan liar itu Andrea dapat melihat Arman dan Susi asyik bersetubuh dengan tak kalah ganasnya. Dan nampak sekali Susi menikmati sodomi yang dilakukan Arman, serta tanpa ragu menikmati ass to mouth. Disaat yang sama Andrea merasakan genjotan kedua tuannya yang makin liar menandakan ejakulasi yang mendekat.Dan lenguhan berkepanjangan terdengar silih berganti di dalam kamar itu, ketika Arman dan Susi juga mengalami orgasme.

Kemudian dengan nafas yang masih berat Susi segera menghampiri Andrea yang tergolek lemas setelah dihajar penis satpam dan tukang kebun dengan brutal, nampak lelehan sperma mengalir dari vagina dan anus Andrea, bahkan tampak noda kekuningan dari cairan sperma yang meleleh dari anus Andrea.
Susi meminta kedua penikmat Andrea untuk menelentangkan budak mereka dan kemudian mengunci rahangnya hingga membuka. Dengan santai Susi mengangkangi mulut Andrea dan mengejan.

Andrea gelagapan menerima lelehan sperma yang bercampur cairan kekuningan dari anus sang nyonya. Namun dengan rahang yang dikunci tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menelan semua cairan busuk itu. Keempat penjajahnya tertawa melihat expresi Andrea yang kembali harus merasakan kotoran masuk ke dalam mulutnya.

Kemudian Arman merapihkan kamera video yang menyimpan rekaman mereka untuk kemudian di upload ke hardcore site, dan kemudian sebuah surat masuk ke alamat Arman. Arman menyeringai melihat isi surat itu.
'Heh pelacur.' cetus Arman santai, 'akan ada pertandingan antar budak, dan kamu akan mengikutinya'katanya ringan seakan Andrea sudah pasti setuju.
Lalu lanjutnya lagi dengan santai, 'Pemenangnya tidak akan dapat apa-apa kecuali kesempatan hidup untuk jadi budak lebih lama lagi...'
Arman sengaja berhenti sejenak agar Andrea meresapi perkataanya, Arman dapat melihat Andrea lemas, mendengar bahawa sebenarnya tak ada untungnya kalau dia memenangi 'pertandingan ajaib'itu. Namun kelanjutan kalimat Arman membuatnya ngeri.
'Untuk yang kalah, hanya ada kematian setelah mengalami perkosaan dan siksaan yang sangat lama dan menyakitkan.'

Tawa iblis keempat penjajahnya membuat Andrea sangat pucat, ternyata pilihan untuk dirinya hanya menang untuk bertahan hidup.
Arman kembali berujar,'sebaiknya kamu bersiap, karena mulai besok kamu akan menjalani pelatihan yang sangat berat sampai tiba waktu pertandingan.'

Andrea berharap keempatnya akan memberi sedikit waktu untuk beristirahat bagi tubuhnya yang letih, namun sayang sekali karena yang dikasud dengan istirahat adalah sepasang dilo super dengan vibrasi super yang dipasang sepanjang malam.

Keesokan harinya dengan tubuh yang sangat lemas karena orgasme berulang yang dirasakan Andrea juga dengan kondisi vagina dan anus yang memar memerah akibat gesekan konstan dildo itu. Dengan sedikit mengangkang menahan perih, Andrea dipaksa makuk dalam bagasi mobil, Arman kemudian menyentak lepas dua dildo tersebut, membiarkan vagina dan anus Andrea kembali normal, lalu membanting tutup bagasi dengan keras. Andrea kini berdesakan dengan banyak barang dan perkakas mobil dalam bagasi itu, ia merasakan kalau mobil mulai melaju.

Mata Andrea berkejap menahan silau ketika Arman membuka tutup bagasi itu. Arman menyuruh Andrea memakai sports bra dan hotpants sexy, serta sepasang sepatu olahraga, lalu menyeret Andrea ke balik dinding seng.

Andrea tercengang, ternyata Arman membawanya ke sebuah lokasi pembangunan gedung. Namun keterkejutannya segera berganti kengerian ketika melihat ada sekitar enam puluh kuli bergerombol ke arah mereka. Mador para tukang itu menghampiri Arman dan berkata, 'Jadi ini kuli barunya? Boleh juga.'
Arman berkata 'Kalian harus buat dia bekerja sangat keras, jangan beri ampun.'
'Tenang aja mas Arman, kebetulan kami perlu sedikit istirahat, jadi dia yang akan melakukan semua pekerjaan kasar, belum lagi kami perlu pembantu untuk ngurusin kami semua, baik di dapur dan di kasur, hahaha'
Andrea menggigil demi menyadari dirinya dikuasai enam puluh kuli yang akan memakainya dengan semena-mena.

Percuma ia menyembah Arman minta dilepaskan. Arman malah menendang wajahnya dan membiarkannya terisak di tengah kerumunan para kuli yang langsung beringas dan meneteskan liur demi melihat tubuh sexy Andrea yang hanya berbalut sports bra dan hotpants.
Mandor itu menghampiri Andrea dan berkata, 'Sekarang kamu milik kami, dan hidup kamu ada di tangan kami. kalau kamu nurut mungkin kamu akan keluar hidup-hidup, namun kalau tidak... kamu akan kami benamkan di salah satu tiang pondasi dan menguburmu dalam semen.'

Andrea terisak pasrah, ia sadar tak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri atau melawan, akhirnya Andrea hanya dapat memasrahkan dirinya. Mandor itu kemudian berkata,' sebagai perkenalan, mendingan kamu buka bh sama kolor kamu, kita-kita mau ngeliat kamu telanjang.'
Andrea menggigil, dengan perlahan ia membuka sports bra dan merasakan dengus nafas liar para kuli melihat payudaranya yang menggantung bebas, dan ketika hotpantsnya tercampak, para kuli itu tak tahan lagi untuk menyerbu, namun mandor membentak mereka, 'Gua dulu setan!'

Lalu Andrea dipaksa menungging, wajah gadis itu memerah karena malu vagina dan anusnya terekpos bebas ke arah para kuli. Andrea meringis ketika tiga jari mandor yang kotor penuh debu, semen serta cat mengaduk vaginanya, dan kemudian Andrea menjerit tertahan ketika penis sang mandor menggedor vaginanya yang kering.
Payudaranya yang bergayut dijadikan permainan tangan sang mandor, Andrea merintih dan meringis karena perlakuan kasar pada tubuhnya.
Dan ketika akhirnya sang mandor orgasme, Andrea sadar perkosaan itu baru dimulai.

Gerombolan kuli itu segera bergerak brutal, menjamah, menjarah dan menyakiti Andrea. Hidung gadis itu berulang kali tertanam di bulu kemaluan pemerkosanya, tangannya pegal mengocok banyak penis, payudaranya memerah keunguan diremas dengan kasar, dan bulatan pantatnya meninggalkan jejak remasan.
Vagina, mulut dan anusnya bekerja sangat keras menampung penis demi penis, dengan berbagai gaya barbar dipraktekkan pada Andrea.

Hari telah larut malam ketika perkosaan pertama itu selesai, tubuh Andrea bagai diselimuti sperma, tak ada satu bagian tubuhnya yang terlewatkan. Para kuli tertawa melihat Andrea yang terlentang pasrah kelelahan di atas tanah, lalu seseorang memberi ide gila yang segera disambut riang yang lainnya.
Andrea gelagapan ketika secara bergantian atau bersamaan para kuli mengencingi sekujur tubuhnya, mulutnya berkali-kali terpaksa menelan air seni para kuli bejad itu yang seakan puas telah merendahkan gadis itu hingga ke titik terendah.

Andrea terisak sedih, namun para kuli itu sama sekali tak memiliki rasa iba.Penghinaan mereka belum lagi usai, mandor itu memberikan 'pakaian' untuk Andrea berupa kaus singlet yang sangat dekil dan celana dalam merk hings yang longgar dan nampak belum dicuci untuk waktu yang sangat lama.
Dengan pakaian itu, Andrea dipaksa memasak untuk seluruh kuli. Bahkan di saat memasakpun Andrea kembali mengalami pelecehan, celana dalam yang sama sekali tak ada gunanya itu membuat bagian bawah tubuh Andrea terekspose bebas, dan memudahkan para kuli untuk memperkosa Andrea dan menyebabkan proses memasak menjadi lebih lama. Dan alasan itu membuat para kuli mempunyai kesempatan untuk menyiksa Andrea.

Setelah prosesi memasak, Andrea dipaksa menghibur mereka dengan menari erotis lalu memaksa Andrea untuk onani dengan bantuan sebuah terong besar. Andrea hampir pingsan kelelahan karena dipaksa onani selama dua jam tanpa henti, para kuli tertawa senang melihat Andrea bekubang di carian orgasmenya sendiri.

Hari belum lagi terang ketika mandor itu menjambak rambut Andrea. Ia memaksa gadis yang kelelahan itu untuk memasak sarapan para kuli, sementara dirinya sendiri hanya sarapan sperma dalam porsi besar.
Lalu Andrea diperintahkan memakai sports bra dan hotpantsnya kembali, dan sang mandor membawa Andrea ke area proyek.

Mandor itu memberi sebuah palu godam pada Andrea dan menunjuk pada sebuah bangunan dengan beberapa dinding yang telah berlubang.
'Aku mau bangunan itu roboh.'
Andrea terpana, namun sabetan cemeti di punggungnya menyentak Andrea, dengan tertatih Andrea menyeret godam yang berat itu dan mulai menggedor dinding beton bangunan itu.

Lima belas menit kemudian, tangan Andrea bergetar hebat, tapak tangannya melepuh. Namun mandor itu malah menghajarnya.
'Enak aja, kamu berhenti pelacur! bangunan ini belum roboh, kamu harus terus merubuhkannya.!'bentak mandor itu, 'Kamu terlalu manja, hanya merasakan kenikmatan dunia. Sekarang rasakan beratnya kerja para kuli.'

Andrea berguling-guling menghindari sabetan cemeti, lalu dengan lunglai kembali bangkit dan mulai menggempur dinding kokoh bangunan itu.
Keringat mengalir deras dari seluruh pori-pori tubuh Andrea, telapak tangannya terluka dan terasa sangat perih karena terkena peluh.

Tengah hari mereka beristirahat, namun buat Andrea istirahat hanya sebuah angan-angan. Sang mandor memaksanya melayani para kuli, menjamu mereka semua, menyuapi dan memijat para kuli, dan mengoral para kuli.
Kemudian pekerjaan dimulai lagi dan kembali Andrea dihadapkan gedung kokoh dihadapannya yang menanti dirobohkan.

Ketika hari mulai senja, kembali Andrea menjalani perannya sebagai 'istri' bagi para kuli. Ia diharuskan mencuci pakaian seluruh kuli, maka tampaklah pemandangan sensual, Andrea duduk di atas bangku kayu, mengangkang dengan vagina disumpal terong, mengucek baju, sementara kepalanya menoleh ke samping dan melakukan deepthroath untuk barisan para kuli. Andrea sendiri melakukannya dengan menahan perih dikedua telapak tangannya yang terkena detergen.
Setelah mencuci, Andrea harus memandikan para kuli. Mejilati anus mereka setelah buang air besar dan menjadikan mulutnya sebagai penampungan kencing.

Dan hari-hari berlalu dengan beragam jenis kerja rodi yang dialamatkan pada Andrea, Selain menggempur bangunan, Andrea dipaksa mengerek tumpukan bata untuk menyuplai kuli di lantai tiga. Atau dirinya dipaksa memanggul tiga sampai empat tumpuk sak semen, dan memanggulnya naik tangga sampai ke lantai lima bangunan itu.
Andrea juga dijadikan penarik beban ketika mereka memindahkan gerobak demi gerobak pasir untuk suplai adukan semen.

Sementara kerja kerasnya sendiri tak membuat siksaan berlalu. Pernah Andrea diikat pada sebuah tonggak, dan mereka bergiliran memecutnya hanya karena Andrea terlambat mengantarkan semen.
Atau pernah Andrea diikat pada katrol batubata dan dibiarkan tergantung semalaman, hanya karena Andrea berteduh menghindari panas.
Dan ketika pemilik bangunan melakukan inspeksi, Andrea disembunyikan dalam septictank.

Tuan dan nyonyanya, terkadang datang mengunjungi Andrea untuk melihat perkembangan kondisi fisik sang budak, Arman tersenyum melihat kondisi budaknya, dan Susi nampak semakin sinis.
Terkadang mereka memberi Andrea 'cuti', mereka membawa Andrea ke villa mereka untuk dipergunakan sendiri, dan kembali Susi 'menghadiahi' stalion untuk Andrea.

Setelah enam bulan menjalani 'kontrak kerja', Arman datang untuk mengambil pelacurnya.
Mata Arman nyaris meloncat keluar rongganya melihat transformasi tubuh Andrea.
Otot bertonjolan dari tubuh Andrea, sixpacknya makin terdefinisi jelas, betisnya indah.
Kulitnya sendiri menjadi sedikit gelap karena terbakar mentari, namun justru makin menjadikan Andrea exsotis.

'Pelacurku akan menang,' gumam Arman, 'Dia akan menang.'
Andrea pasrah ketika tubuhnya kembali dilingkupi kegelapan bagasi, dan kekalutannya bertambah ketika sebelum menutup bagasi Arman mengatakan kalau dirinya akan menjalani serangkaian 'latihan' lagi selama enam bulan kedepan sebelum pertarungan hidup dan matinya di mulai.

Andrea menggigil....
Perjalannannya masih sangat panjang